Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Februari 2018

Gerakan Kelompok Intoleran Mengoyak Persatuan Bangsa

Jakarta, Siti Efi Farhati. Belakangan ini bergolak sebuah pertanyaan kritis di masyarakat: masih berfungsikah imaji kolektif kita sebagai bangsa? Fenomena gerakan-gerakan intoleran dari sekelompok orang akhir-akhir ini tampaknya ingin mengoyak-oyak persatuan dan kesatuan negeri ini.

Begitulah pertanyaan yang terlontar ketika Abdul Ghopur, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB), Selasa (31/10) memberikan sambutan pada Harlah Ke-5 LSB, Selasa (31/10) di Gedung PBNU Jakarta.

Gerakan Kelompok Intoleran Mengoyak Persatuan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan Kelompok Intoleran Mengoyak Persatuan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan Kelompok Intoleran Mengoyak Persatuan Bangsa

Dalam acara bertema Menggali Mitos, Membangun Etos ini, ia menjelaskan, bangsa Indonesia adalah “konsepsi kultural” dan “konsepsi politik” tentang sebuah entitas yang tumbuh berdasarkan kesadaran politik untuk merdeka dengan meletakkan individu ke dalam kerangka kerakyatan. 

“Dalam kerangka ini, setiap rakyat dipertautkan dengan suatu komunitas politik dalam kedudukan yang sederajat di depan hukum, dengan operasi atas prinsip kekariban, keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan bersama,” ujar Abdul Ghopur di depan para pemuda dan aktivis lintas pergerakan yang menghadiri acara tersebut.

Namun saat bersamaan, sambung Ghopur, Indonesia juga masih mengalami persoalan mendasar, yakni merosotnya nilai-nilai kebangsaan, nasionalisme dan semangat kemajemukan sebagai bangsa yang multikultural. 

Siti Efi Farhati

“Masih saja ada upaya pengingkaran terhadap pluralitas bangsa Indonesia yang setiap saat dapat saja muncul ke permukaan,” ungkapnya dalam kegiatan yang dibarengi dengan peluncuran buku Indonesia Ruma Kita dan Refleksi Sumpah Pemuda ke-89 ini.

Sebagai bangsa yang multietnis, ras, suku, budaya, bahasa dan agama, secara jujur kita masih belum bisa menghilangkan atau paling tidak meminimalkan apa yang disebut dengan barrier of psychology (batas psikologis/prasangka) terhadap sesama anak bangsa. 

Siti Efi Farhati

“Itulah yang kerap memunculkan konflik bernuansa SARA di negeri ini secara vertikal maupun horisontal,” tukas penulis Buku Indonesia Rumah Kita ini. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Makam, Kajian, Fragmen Siti Efi Farhati

Minggu, 11 Februari 2018

Ketua KPK Dorong Partisipasi Aktif Masyarakat Cegah Tindakan Korup

Jakarta, Siti Efi Farhati. Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo menjelaskan, KPK hanya memiliki personil yang sedikit jika dibandingkan dengan praktik yang terjadi di Indonesia. Setidaknya, KPK hanya memiliki 1600 orang pegawai.

“KPK itu kecil. KPK hanya sekitar 1600 orang pegawai,” kata Agus saat menjadi narasumber dalam acara Pelatihan Dai-Daiyah Kader NU 2017 pada hari kedua yang diselenggarakan atas kerjasama LD PBNU dengan Hidmat Muslimat NU di Lantai 8 Gedung PBNU, Selasa (30/5).

Ketua KPK Dorong Partisipasi Aktif Masyarakat Cegah Tindakan Korup (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua KPK Dorong Partisipasi Aktif Masyarakat Cegah Tindakan Korup (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua KPK Dorong Partisipasi Aktif Masyarakat Cegah Tindakan Korup

Karena itu, ia mengajak kepada masyarakat untuk bersama-sama melaporkan indikasi tindakan korupsi dan memberikan penyadaran kepada masyarakat akan dampak dari pada korupsi.

“Kita harapkan partisipasi bapak ibu untuk melaporkan dan menyadarkan banyak pihak, memberikan kontribusi paling tidak mengingatkan seseorang untuk tidak korupsi,” terangnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, tidak sedikit koruptor yang tertangkap oleh KPK. Agus mengatakan, sejauh ini ada 17 gubernur dan lima puluh delapan bupati walikota yang ditangani oleh lembaga anti rasuah itu.

Siti Efi Farhati

“Yang ditangani KPK 17 gubernur. Ini yang ditangani KPK saja, belum (yang ditangani) polisi dan jaksa,” ungkapnya.

Namun demikian, ia mengaku senang karena menurut salah satu survei internasional, persepsi korupsi Indonesia mengalami penurunan. “Di bidang korupsi, kita bergerak ke arah yang lebih baik. Yang ngukur lembaga internasional yang berada di Berlin (Corruption Perception Index),” urainya.

Data Corruption Perception Index menunjukkan, tahun 2014 Indonesia berada di peringkat ke-114 dari 174 negara yang disurvey. Sementara, tahun 2015 Indonesia menempati urutan ke-107 bersama dengan Argentina dan Djibouti. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Ubudiyah, Kajian, Pesantren Siti Efi Farhati

Rabu, 07 Februari 2018

Pmtoh Aceh untuk Gus Dur

Satu tangan tergenggam kartun SBY, tangan lainnya kartun Gus Dur. Agus Nuramal Pmtoh, si pemilik tangan itu, sedang membandingkan situasi kepemimpinan dua presiden yang dikartunkan tersebut. Terutama soal utang dan keberanian.

Agus, pegiat seni tutur Aceh, Pmtoh, tampil saat peringatan seribu hari wafat Gus Dur bertajuk Ziarah Budaya, di Taman Ismail Marzuki (TIM), akhir September lalu.  

Pmtoh Aceh untuk Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Pmtoh Aceh untuk Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Pmtoh Aceh untuk Gus Dur

Untuk mengetahui bagaimana Gus Dur di mata seniman kelahiran Sabang, 17 Agustus 1969, dan bagaimana ia memilih jalan pmtoh, Abdullah Alawi dari Siti Efi Farhati berhasil mewawancarainya, beberapa saat selepas  tampil.  

Siti Efi Farhati

Bang Agus, yang tadi itu pertunjukan apa namanya? 

Siti Efi Farhati

Pmtoh.

Pmtoh itu apa, bisa dijelaskan? 

Pmtoh ini nama salah satu tradisi bercerita yang ada di Aceh. Jadi banyak tradisi bercerita di Aceh. Salah satunya Pmtoh.

Kalau secara bahasa, apa artinya? 

Pmtoh itu sebetulnya perjalanan. Jadi, semacam tukang cerita berkeliling dari kampung ke kampung. Dari satu kampung ke kampung lainnya.

Biasanya menceritakan apa? 

Biasanya bercerita soal sejarah, sejarah Aceh, sejarah kerajaan, sejarah Nabi, sejarah kampung.

Bisa disebutkan contohnya?

Sejarah Nabi, misalnya ada Hikayat Nabi Bercukur. Ada hikayat raja-raja Pasai, dan hikayat-hikayat rakyat Aceh-lah. 

Biasanya kisahnya itu serius atau humor?

Serius. Menceritakan sejarah kerajaan. Misalnya cerita Sidang Deria, bagaimana sebuah daerah dibentuk oleh satu orang yang nama tokohnya Sidang Deria. Ceritanya serius, tapi ada bagian-bagian tertentu yang ada humornya.

Kesenian Pmtoh itu muncul sejak kapan?

Sejak zaman dahulu. Saya tidak tahu kalau dibilang abad, abad ke berapa. Tapi ini satu cerita lama, begitu ya. Satu tradisi, satu cara bercerita yang sudah ada sejak zaman nenek moyang. 

Kondisinya Pmtoh sekarang bagaimana? 

Sebetulnya di Banda Aceh sudah ada generasi Pmtoh-pmtoh ini. Tidak banyak; ada dua, tiga, atau lima orang. Tradisi Pmtoh ini yang modernnya diperkenalkan oleh Tengku Haji Adnan. Dia dengan gayannya bercerita, dijuluki Pmtoh. Jadi gaya ceritanya Pmtoh, begitu. Nah saat in ada generasinya di Banda Aceh. 

Sudah berapa lama jadi seniman Pmtoh?

Aku begini ini, sudah 25 tahun.

Kenapa memilih Pmtoh? 

Aku kuliah di jurusan teater di IKJ. Lulus, jadi alumni kan. Tapi kemudian aku pikir ada satu seni monolog atau solo performance yang belum banyak berkembang di tanah air pada waktu 25 tahun yang lalu. Nah, aku coba memberikan satu yang baru buat seni pertunjukan di Jakarta pada waktu itu, yaitu tradisi Pmtoh ini yang dibawakan dengan cara modern.

Kenapa jatuh hati kepada Pmtoh? 

Aku memulai Pmtoh sejak 25 tahun itu. Jadi sudah cukup lama. Tapi waktu kuliah sudah terpikir. Tapi baru dilaksanakan selesai kuliah. 

Penampilan di Peringatan Seribu Hari Wafat Gus Dur yang tadi itu apa judulnya? 

Kalau Gus Dur Ada Sekarang ini.

Berapa lama menggarap cerita itu? 

Sebenarnya, aku baru siap-siap jam-jam habis duhur di rumah. Jam duaan barulah aku cari-cari di internet mau membawa cerita apa tentang Gus Dur. Kemudian aku karang-kakrang-lah sedikit. Terus berangkatllah kemari.

Memangnya dikasih tahu sejak kapan oleh panitia? 

Dikasih tahu kira-kira tiga hari kemarin. 

Kenal Gus Dur, bagaimana ceritanya?

Kenal Gus Dur zaman-zamannya membaca Tempo tahun 80-an. Masih aku di kampung, membaca catatan-catatan Gus Dur di majalah Tempo. Kemudian ketika di Jakarta, ada Taman Ismail Marzuki; tahun 88, 89, kan banyak para reformis-reformis yang berkumpul di Taman Ismail Marzuki, ya orang-orang seperti mendiang Gus Dur, Amin Rais, Dawam Rahardjo dulu, kan. Kemudian tahun-tahun 90-an ada petisi 50. Pada umumnya kan intelektual-intelektual ini berkumpul di Taman Ismail Marzuki. Dan saya sebagai seniman, sering mendengarkan dialog dia orang. Di situ kenalnya. 

Pandangan pribadi terhadap Gus Dur bagaimana? 

Aku pernah bertanya sama Gus Dur, waktu zaman krisis ekonomi 1997, kalau aku nggak salah ya. Waktu itu aku baru  pulang dari salah satu kampung di daerah Jawa Barat. Aku menemukan ada seorang anak yang, maaf cakap, busung lapar begitu. Tinggalnya di sebuah kandang ayam, atau kandang kambing, kalau aku bilang. Sementara tetangga rumahnya naik haji, dipestakan; pesta satu kampung, pakai rebana. Aku datang ke sana, kemudian balik kembali ke Jakarta, ketemu dengan Gus Dur yang sedang dialog di Taman Ismail Marzuki, di warung makan. Kemudian aku tanya, ‘Gus, apakah orang-orang yang naik haji zaman krismon ini masuk surga atau nggak’, aku tanya begitu. Lalu jawaban Gus Dur. ‘Bagaimana mereka mau masuk sorga, orang tetangga mereka kelaparan, kok mereka naik haji, selesaikan dulu yang kelaparan. Barulah naik haji,’ itu kata Gus Dur. Itu teringat olehku.

Dari situ kesimpulan tentang Gus Dur? 

Gus Dur ini orang yang mencerdaskan indra-indra kita; indra pendengaran karena dia pandai berkata-kata, kata-kata yang cerdas, kata-kata yang membikin kayak apa namanya, perbendaharaan makna diisi kepala kita. Dia juga orang yang membuka mata dan hati seluruh bangsa ini tentang apa itu kejujuran, apa sih politik itu. Politik itu nggak ada sesuatu yang apa, begitu; sesuatu yang sederhana saja. Suatu yang bisa dipahami dan bisa diselesaikan. Itu menurut aku tentang Gus Dur. Dan dia membuka pancaindra bangsa ini.

Terkait sebagai seniman Pmtoh, apakah Pmtoh sebagai mata pencaharian atau sambilan? 

Sampai sekarang aku menjadikan Pmtoh sebagai matapencaharian. Utama malahan. Itu yang masih bisa dilakukan.

Sebagai mata pencaharian, mencukupi tidak?

Kalau dibilang cukup atau tidak. Dalam ukuran ekonomi sekarang, ya nggak cukup, begitu ya. 

Sebulan sering tampil berapa kali? 

Sebenarnya ini adalah tahun-tahun aku yang agak mundur panggilan seihingga bisa dikatakan tiap bulan tidak ada panggilan. Tapi kalau dalam dua tahun kemarin, bisa sampai sebulan tiga kali. 

Tampil sebulan tiga kali cukup ya? 

Alhamdulillah cukup kalau panggilan 3 atau 5 kali.

Sekarang, sudah jarang panggilan, untuk menutupi kebutuhan itu bagaimana? 

Kebetulan kemampuan saya cuma bermain ini. Jadi bagaimana bersiasat saja dengan keadaan.

Panggilan-panggilan itu di wilayah Jakarta atau Aceh? 

Saya main di wilayah Nusantara.

Berarti nggak hanya di Aceh?

Nggak. Karena sudah 25 tahun berprofesi sebagai pencerita monolog ini. Jadi, saya sudah keliling Nusantara, berbagai negara dunia juga sudah saya kunjungi.

Yang paling menyenangkan membawakan tema apa? 

Tergantung kepada panggilan. Tergantung kepada orang yang membuat acara, temanya apa. Tema lingkungan hidup misalnya. Seperti hari ini misalnya tema Gus Dur. Juga ada undangan ulang tahun perusahaan. Banyak perusahaan yang pernah saya main, di hajatan, perkawinan, panti asuhan, macam-macam-lah.

Sekali panggilan dibayar berapa?

Saya tidak menentukan harga. Bisa dua juta. Jika orang berkelebihan, bisa sampai 4 juta. Tapi kadang-kadang ada yang 1 juta juga. Tergantung kondisi ekonomi yang memanggil. 

Terkait pemerintah. Selama ini, menurut Bang Agus, perhatian pemerintah terhadap kesenian-kesenian daerah seperti Pmtoh bagaimana? 

Pemerintah kita dari dulu nggak ada perhatiannya sama sekali terhadap kebudayaan, begitu, ya. Kalaupun ada, sifatnya sangat karikatif ya. Kalau ada pesanan dari luar negeri, baru diperhatikan. Setelah itu ditinggal. Ada heritage, kebudayaan, wayang sebagai warisan peninggalan dunia. Baru sibuk wayang. Tari Saman peninggalan dunia, baru sibuk Saman. Habis itu setelah dilantik, tak ada program apa-apa.

Seharusnya bagaimana pemerintah itu? 

Soal pemerintah saya ngomong satu hal yang penting menurut saya. Orang pemerintah itu kan orang birokrasi. Sudahlah, kalian tak usah buat program-lah. Berpuluh tahun selama Orde Baru, mereka membuat program, nggak ada hasil-hasilnya. Mendingan kalian mempersiapkan diri untuk masuknya program dari masyarakat; dari para seniman, dari para budayawan. Itulah menurut saya yang mereka harus lakukan. 

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kajian Siti Efi Farhati

Selasa, 06 Februari 2018

Warga Nisam Bedah Bab Puasa Kitab I’anatut Thalibin

Aceh Utara, Siti Efi Farhati. Puluhan santri dan warga Nisam memperdalam wawasan ilmu Syar’i di masjid Dayah Darut Thalibin gampong Keutapang kecamatan Nisam, Jumat (4/7) sore. Mereka mengikuti pengajian kitab "I’anatut Thalibin" yang diinisiasi Ikatan Pemuda dan Santri (Ikapas) Nisam.

Warga Nisam Bedah Bab Puasa Kitab I’anatut Thalibin (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Nisam Bedah Bab Puasa Kitab I’anatut Thalibin (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Nisam Bedah Bab Puasa Kitab I’anatut Thalibin

“Kegiatan ini antara lain bertujuan menjalin ukhuwah para pelajar, pemuda, mahasiswa, santri, dan tokoh serta ulama setempat,” ujar ketua panitia pengajian Tgk Abdul Munir.

Ayah Nurdin Keutapang mengampu pengajian yang diadakan setiap Jumat sore mulai pukul 14.30-16.00. Ulama kharismatik Aceh ini ialah salah satu alumni terbaik LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga.

Siti Efi Farhati

Selama Ramadhan ini, materi yang dibahas ialah bab puasa dari kitab syarah Fathul Mu’in. Pengajian dibagi menjadi dua sesi, pemaparan materi kitab dan tanya-jawab.

Turut hadir, para tokoh masyarakat dari perangkat kemasjidan Mns Meucat, Imum Syik, Tgk Imum, sejumlah mahasiswa STAIN Malikus Saleh Lhokseumawe, dan mahasiswa Unsyiah Banda Aceh. (Sudi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati News, Cerita, Kajian Siti Efi Farhati

Selasa, 30 Januari 2018

Tradisi Pesantren, Tradisi Menulis

Semarang, Siti Efi Farhati. Pesantren sejak dulu merupakan lembaga pendidikan yang turut melahirkan karya tulis. Tak jarang, para kiai yang menekuni bidang tertentu mengabadikan gagasan dan wawasannya dalam bentuk sebuah kitab.

Tradisi Pesantren, Tradisi Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Pesantren, Tradisi Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Pesantren, Tradisi Menulis

"Tradisi pesantren adalah tradisi jurnalistik karena setiap yang ingin menjadi seorang ulama haruslah memiliki karya atau tulisan," kata salah seorang intelektual muda NU Zuhairi Misrawi saat mengisi pelatihan jurnalistik Majalah Santri di kampus IAIN Walisongo Semarang, Jawa Tengah, Jumat (15/2).

Kegiatan bertema ”Menegaskan Kembali Akar Jurnalistik Pesantren” ini diikuti dewan redaktur Majalah Santri dari 12 perguruan tinggi di Indonesia yang tergabung dalam Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSS MoRA). Hadir dalam acara ini, Sekretaris Pengurus Wilayah NU (PWNU) Jawa Tengah yang juga Ketua Prodi Ilmu Falak IAIN Walisongo KH Arja Imroni.

Siti Efi Farhati

Dalam kesempatan tersebut, Zuhairi menjelaskan tentang kuatnya akar pesantren dalam tradisi kepenulisan. Ulama-ulama Nusantara dapat produktif menulis juga disebabkan kegigihan mereka dalam hal membaca banyak literatur. Teladan ini, menurut Zuhair, perlu terus dilestarikan.

“Karena ketika mengiginkan menjadi penulis yang baik maka jadilah pembaca yang baik,” ujarnya.

Siti Efi Farhati

Pemimpin Umum Majalah Santri Surotul Ilmiyah menekankan pentingnya merawat budaya menulis dalam pesantren. Menurut dia, kegiatan menulis adalah tradisi positif yang diwariskan ulama sejak dulu. Pelatihan jurnalistik menjadi salah satu upaya merealisasikan dan membangkitkan semangat ini di lembaga pendidikan Islam tertua di Nusantara itu.

 

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kajian Siti Efi Farhati

Jumat, 26 Januari 2018

Persepsi Keliru tentang Surat Al-Ikhlas Menurut Al-Ghazali

Oleh Ahmad Khoiri

Al-Quran adalah kitab yang mengandung pesan (risalah) untuk manusia. Namun pensakralan (baca: proses chosifikasi/tasyyi) oleh umat Islam terhadap kitab petunjuk tersebut telah mengabaikan risalah yang dikandungnya. Di saat Islam mengalami kemandekan, Al-Quran sudah tidak lagi sebagai pedoman atau petunjuk hidup, tetapi sekadar "sesuatu" yang --meminjam istilah Nasr Hamid Abu Zayd-- menjadi perhiasan wanita, pengobatan bagi anak-anak dan hiasan yang digantungkan di tembok serta dipampang di samping benda-beda emas dan perak.

Al-Quran juga tidak didekati dengan kesadaran ilmiah namun terbatas pada seni musik dan seni lukis. Dalam kaitannya dengan seni musik, umpamanya, Al-Quran adalah serangkaian kata dan nada indah yang mendengarkannya saja sudah mendapat pahala dari Allah Swt. dan sambil mengikuti bacaan yang didengarkan akan mendapat dua kali pahala, yakni sebab mendengar dan membacanya. Praktis, pesan (risalah) yang dikandungnya pun sama sekali tersingkirkan.

Persepsi Keliru tentang Surat Al-Ikhlas Menurut Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)
Persepsi Keliru tentang Surat Al-Ikhlas Menurut Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)

Persepsi Keliru tentang Surat Al-Ikhlas Menurut Al-Ghazali

Kesadaran untuk membaca dengan iming-iming pahala memiliki implikasi yang cukup penting, yaitu munculnya umat yang cenderung kompetitif membaca Al-Quran, di mana yang terbanyak membaca akan memperoleh pahala sesuai banyaknya bacaannya. Dalil yang dipakainya pun, di samping hadis Nabi bahwa "satu huruf Al-Quran dibalas sepuluh pahala" juga hadis lain bahwa qul huwallahu ahad (al-Ikhlas) adalah sepertiga Al-Quran.

Secara literer hadis tersebut mengungkapkan sisi kuantitas pahala dalam setiap haruf Al-Quran, seperti pada hadis pertama. Yang kedua menunjukkan bahwa membaca satu kali surah al-Ikhlash sama pahalanya dengan membaca sepertiga Al-Quran. Ini adalah pemahaman masyarakat mainstream yang jelas-jelas hanya memprioritaskan kuantitas bacaan, bukan kualitas pesan kandungannya.

Secara kualitas, hadis tersebut merupakan hadis sahih yang diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dalam bab Keutamaan Al-Quran. Redaksi lengkapnya:

Siti Efi Farhati

Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh, telah menceritakan kepada kami bapakku, telah menceritakan kepada kami al-Amasy, telah menceritakan kepada kami Ibrahim dan al-Dhahhak al-Masyriqi dari Abu Said al-Khudri r.a, ia berkata; Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada para sahabatnya: "Apakah salah seorang dari kalian tidak mampu bila ia membaca sepertiga dari Al-Quran pada setiap malamnya?" dan ternyata para sahabat merasa kesulitan seraya berkata, "Siapakah di antara kami yang mampu melakukan hal itu wahai Rasulullah?" maka beliau pun bersabda: "Allahul Wahid ash-Shamad (maksudnya surat al-Ikhlash) nilainya adalah sepertiga Al-Quran".

Jika al-Ikhlas sebanding dengan sepertiga Al-Quran maka membaca tiga kali setara dengan mengkhatamkan Al-Quran. Kita telah melihat bagaimana orang-orang membaca surah ini sebanyak mungkin dengan harapan mendapat pahala khataman Al-Quran sebanyak-banyaknya. Tetapi benarkah demikian?

Seorang sufi masyhur Abu Hamid al-Ghazali dalam kitabnya, Jawahir al-Quran, secara tegas menolak pemahaman tersebut. Menurutnya, Nabi Muhammad tidak mungkin mengatakan bahwa memperbanyak bacaan al-Ikhlash setara dengan mengkhatamkan Al-Quran. Al-Ghazali memahami maksud sabda Nabi di atas sebagai penegasan bahwa kuantitas ayat tidak menentukan kualitasnya. Dengan kata lain bahwa sebagian teks (ayat) meskipun sedikit terkadang memiliki keutamaan dari yang lainnya. Ia mengatakan:

Saya melihat engkau tidak memahami aspek ini (nilai al-Ikhlash sepertiga). Mungkin engkau mengatakan: hal ini disebutkan hanya untuk memberikan dorongan agar gemar membaca, maksudnya bukan ukuran nilai. Kedudukan kenabian sangat tidak mungkin melakukan hal itu. Mungkin engkau (juga) akan mengatakan: hal ini sulit untuk dipahami dan di-tawil, sementara ayat Al-Quran lebih dari 6000 ayat, bagaimana mungkin jumlah yang sedikit ini sebanding dengan sepertiganya? Hal ini muncul karena pengetahuan yang sedikit tentang hakikat Al-Quran, dan pandangan secara zahir terhadap kata-kata Al-Quran sehingga engkau beranggapan bahwa ayat-ayat itu banyak diukur dengan panjangnya kata, dan pendek diukur dengan pendeknya kata. Hal ini bagaikan anggapan orang memilih uang dirham yang banyak daripada satu permata, hanya karena melihat banyaknya (dirham). (h. 47)

Siti Efi Farhati

Persepsi masyarakat bahwa "sepertiga" adalah indikasi kegemaran memperbanyak membaca al-Ikhlas bagi al-Ghazali jelas merupakan kekeliruan yang muncul akibat sedikitnya pengetahuan tentang hakikat Kitab Suci. Al-Quran sekadar dilihat dari segi banyak-sedikit, bukan dari hierarki maknanya.?

Selain itu dalam pernyataan di atas, al-Ghazali juga mengkritik jika ada yang meragukan hierarki teks hanya karena melihat sedikitnya ayat, hal itu diibaratkan mengabaikan permata karena sedikit dan memilih dirham karena banyak, padahal dari segi "nilai" jelas pertama lebih unggul. Dengan demikian al-Ikhlas semestinya tidak dipahami sebanding dengan sepertiga Al-Quran namun dengan sepertiga "kandungan" Al-Quran. Al-Ghazali melanjutkan:

Perhatikanlah kembali ketiga klasifikasi yang telah kami sebutkan mengenai hal-hal pokok Al-Quran, yaitu marifatullah, pengetahuan akhirat dan pengetahuan mengenai shirat mustaqim. Ketiga klasifikasi ini merupakan hal pokok, sementara yang lainnya berada di belakangnya (tawabi). Surah al-Ikhlas memuat satu dari ketiganya, yaitu marifatullah, baik tentang ketauhidan-Nya dan kesucian-Nya dari yang menyekutui-Nya, baik jenis (genus) maupun spesiesnya... Memang benar dalam surah ini tidak ada ungkapan mengenai akhirat dan shirat mustaqim. Telah kami sebutkan bahwa dasar-dasar yang penting dari Al-Quran adalah marifatullah, pengetahuan akhirat dan pengetahuan shirat mustaqim. Oleh karena itu, surah ini sebanding dengan sepertiga dasar-dasar (kandungan) Al-Quran sebagaimana yang disabdakan Rasulullah. (h. 48)

Jika demikian, bahwa maksud sepertiga dalam hadis Nabi adalah sepertiga kandungannya bukan sepertiga bacaannya, maka dapat dipahami bahwa membaca tiga kali surah al-Ikhlas tidak bisa dianggap setara dengan mengkhatamkan Al-Quran. Al-Quran, sebagaimana dalam pandangan al-Ghazali memiliki tiga pokok kandungan, yaitu marifatullah (seperti dalam kandungan surah al-Ikhlas), pengetahuan akhirat dan pengetahuan shirat mustaqim.?

Membaca satu, dua atau tiga kali surah al-Ikhlas tetap saja hanya membaca sepertiga kandungan Al-Quran, yaitu marifatullah, karena surah al-Ikhlas tidak memiliki dua kandungan pokok yang lain, yakni pengetahuan akhirat dan pengetahuan mengenai shirat mustaqim. Pemahaman ini secara otomatis meruntuhkan persepsi yang sudah menyebar di masyarakat bahwa pengkhataman Al-Quran dapat diringkas hanya dengan membaca tiga kali surah al-Ikhlas saja.

Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Ilmu al-Quran dan Tafsir (IQT) di STAIN Pamekasan. Pegiat di UKK Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Activita.

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kajian Siti Efi Farhati

Kamis, 11 Januari 2018

Kisah Pembela Israel yang Akhirnya Jadi Pengkritik

Kairo, Siti Efi Farhati. Seorang Belanda yang melawan Nazi dan membela hak orang-orang Yahudi untuk membentuk negara Israel telah berubah menjadi kritikus pada empat dekade kemudian setelah serangan udara Israel meratakan rumah di Jalur Gaza, menewaskan enam anggota keluarganya dari hubungan pernikahan. 

"Adikku kehilangan suaminya, yang dieksekusi di bukit pasir atas keterlibatannya dalam perlawanan," Henk Zanoli, 91, dalam sebuah suratnya kepada duta besar Israel yang dikutip oleh The New York Times. 

Kisah Pembela Israel yang Akhirnya Jadi Pengkritik (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Pembela Israel yang Akhirnya Jadi Pengkritik (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Pembela Israel yang Akhirnya Jadi Pengkritik

"Saudara saya kehilangan tunangan Yahudi yang dideportasi, yang tidak pernah kembali." 

Siti Efi Farhati

Zanoli melanjutkan, "Dengan latar belakang ini, sangat mengejutkan dan tragis bahwa hari ini, empat generasi pada keluarga kami dihadapkan dengan pembunuhan saudara kami di Gaza. Pembunuhan yang dilakukan oleh negara Israel. "

Siti Efi Farhati

Cerita Zanoli dengan orang-orang Yahudi dan Israel dapat ditelusuri pada 1943 ketika ia melakukan tindakan berbahaya untuk menyelundupkan seorang anak Yahudi dari Amsterdam ke desa Eemnes untuk menyelamatkan hidupnya dari Holocaust. 

Cucu perempuannya, seorang diplomat Belanda, menikah dengan seorang ekonom Palestina, Ismail Ziadah, yang kehilangan tiga saudara, adik ipar, keponakan dan istri pertama ayahnya dalam serangan itu. 

Zanoli berubah selama beberapa dekade dari pendukung menjadi seorang pengkritik negara Israel. 

Tidak hanya Zanoli, kasusnya mencerminkan pergeseran yang lebih besar di Eropa, di mana kesedihan atas peristiwa Holocaust menyebabkan banyak orang mendukung berdirinya negara Israel pada tahun 1948. 

Gairah ini telah berubah setelah pendudukan Israel di jalur Gaza dan Tepi Barat pada tahun 1967 dengan sejumlah serangan udara Israel yang menewaskan ribuan warga sipil Palestina selama beberapa dekade terakhir. 

"Saya mengembalikan medali saya karena saya tidak setuju dengan apa yang negara Israel lakukan untuk keluarga saya dan Palestina secara keseluruhan," kata Zanoli dalam sebuah wawancara pada Jum’at di apartemennya. Ia menambahkan bahwa keputusannya adalah pernyataan "hanya terhadap negara Israel, bukan orang-orang Israel." 

"Yahudi adalah teman-teman kita," kata Zanoli, seorang pensiunan pengacara yang menggunakan skuter bermotor tetapi tetap terlihat sehat, seperti yang muncul dalam arsip foto yang sudah menguning di tahun 1940-an, yang merupakan arsip peringatan Yad Vashem Holocaust di Yerusalem. 

Zanoli mengatakan ia belum pernah secara terbuka mengkritik Israel "Sampai saya mendengar bahwa keluarga saya adalah korban." 

Dari korban menjadi agresor 

Di Gaza, besan Zanoli yang kehilangan enam anggota keluarganya, memuji sikapnya sebagai respon yang pas atas untuk kerugian mereka. 

Hassan al-Zeyada, seorang konselor trauma psikologis, mengagumi Zanoli dan keluarganya atas perjuangan mereka dalam Perang Dunia II untuk melawan "diskriminasi dan penindasan secara umum terhadap orang-orang Yahudi pada khususnya." 

"Bagi mereka," ia menambahkan, "itu sesuatu yang menyakitkan bahwa orang-orang yang membela dan berjuang, berubah menjadi agresor." 

Dia melepaskan tanda kehormatan "dengan sedih," tulisnya, karena menjaga kehormatan dari pemerintah Israel akan "penghinaan ke memori ibunya yang pemberani" dan keluarga Gazanya. 

Dia menambahkan bahwa keluarganya telah "sangat mendukung orang-orang Yahudi" dalam pencarian mereka untuk "rumah nasional," tapi secara perlahan percaya bahwa "proyek Zionis" memiliki "unsur rasis di dalam cita-citanya untuk membangun negara khusus untuk orang Yahudi."

Dia mengacu pada perpindahan warga Palestina, termasuk anggota keluarga Ziadah, selama perang atas berdirinya Israel sebagai "pembersihan etnis" dan mengatakan Israel "terus menekan" dan menduduki wilayah Palestina. 

Israel telah meluncurkan serangan udara tanpa henti terhadap Gaza sejak 8 Juli di mana lebih dari 1.945 orang telah tewas dan ribuan lainnya terluka. 

Para pejabat kesehatan di Gaza mengatakan lebih dari 1.900 warga Palestina, kebanyakan warga sipil, telah tewas dan hampir 10.000 lainnya terluka sejak Israel melancarkan perang di jalur tersebut. 

Menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), sekitar 80% kematian di Gaza adalah warga sipil, termasuk puluhan anak-anak dan perempuan. 

Skala besar pemusnah massal di Gaza telah menghancurkan sekitar 5.510 rumah dan merusak sekitar 31.000, memaksa puluhan ribu orang meninggalkan rumah mereka yang terperangkap dalam serangan udara Israel. 

Pasukan pendudukan Israel memulai invasi darat mengepung Gaza, rumah bagi dua juta warga sipil, pada Kamis 17 Juli. (onislam.net/mukafi niam)

Foto: Henk Zanoli, kedua dari kanan

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kajian Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock