Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Februari 2018

Bagikan 1000 Takjil, PMII Sidoarjo Ajak Masyarakat Tingkatkan Ibadah

Sidoarjo, Siti Efi Farhati

Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sidoarjo, Jawa Timur, membagikan seribu takjil gratis kepada para pengguna jalan di perempatan Jalan Ahmad Yani Sidoarjo, Senin (27/6).

Selain membagikan takjil, aktivis muda NU ini juga mengajak masyarakat Sidoarjo serta para pengguna jalan untuk tetap meningkatkan ibadah pada 10 hari terakhir Ramadhan.

Bagikan 1000 Takjil, PMII Sidoarjo Ajak Masyarakat Tingkatkan Ibadah (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagikan 1000 Takjil, PMII Sidoarjo Ajak Masyarakat Tingkatkan Ibadah (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagikan 1000 Takjil, PMII Sidoarjo Ajak Masyarakat Tingkatkan Ibadah

Ketua Umum PC PMII Sidoarjo Muhammad Mahmuda menyatakan, melalui momentum malam Lailatul Qadar, seluruh kader dan pengurus PMII yang masih berproses di komisariat agar senantiasa berbagi kepada sesama.

Siti Efi Farhati

"Kami ingin mengingatkan masyarakat supaya terus beribadah di bulan Ramadhan khususnya pada malam Lailatul Qadar. Dan bagi-bagi takjil ini semoga bisa membantu para penggunan jalan yang belum menyempatkan berbuka puasa dan masih berada dalam perjalanan," terang Mahmuda.

Siti Efi Farhati

Salah satu pengendara, Mulyono mengatakan bahwa dengan adanya takjil yang dibagikan oleh mahasiswa ini, dirinya bisa menyegerakan berbuka puasa. "Alhamdulillah, terima kasih takjilnya. Akhirnya saya mendapatkan kesunnahan berbuka puasa," puji Mulyono. (Moh Kholidun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Anti Hoax, Aswaja, Sholawat Siti Efi Farhati

Mengenal Lebih Dekat KH Said Aqil Siroj

Tak kenal maka tak sayang. Barangkali peribahasa itu tepat untuk menggambarkan keadaan Indonesia akhir-akhir ini, dimana orang tak hanya tak kenal dan tak sayang, tetapi bahkan justru memfitnah, membenci dan memaki, dengan orang yang belum dikenalnya di media. Tak terkecuali, berbagai fitnah, berita palsu (hoax) dan makian yang dialamatkan kepada Prof Dr KH Said Aqil Siradj, MA, Ketua Umum Ormas Islam terbesar di dunia: Nahdlatul Ulama (NU).

Untuk itu, tulisan ini sedikit mengupas profil beliau, sosok santri yang dulu pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia (MWA UI) itu dinobatkan oleh Republika sebagai Tokoh Perubahan Tahun 2012 karena kontribusinya dan komitmennya dalam mengawal keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan berperan aktif dalam perdamaian dunia, khususnya di kawasan Timur Tengah.?

***

Mengenal Lebih Dekat KH Said Aqil Siroj (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenal Lebih Dekat KH Said Aqil Siroj (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenal Lebih Dekat KH Said Aqil Siroj

Ketika usia negara ini masih belia – delapan tahun – dan para pendiri bangsa baru beberapa tahun menyelesaikan “status kemerdekaan” Indonesia di Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 1949, di sebuah desa bernama Kempek, Palimanan, Cirebon, Jawa Barat, senyum bahagia KH Aqil Siroj mengembang. Tepat pada 3 Juli 1953, Pengasuh Pesantren Kempek itu dianugerahi seorang bayi laki-laki, yang kemudian diberi nama Said.

Siti Efi Farhati

Said kecil kemudian tumbuh dalam tradisi dan kultur pesantren. Dengan ayahandanya sendiri, ia mempelajari ilmu-ilmu dasar keislaman. Kiai Aqil sendiri – Ayah Said – merupakan ? putra Kiai Siroj, yang masih keturunan dari Kiai Muhammad Said Gedongan. Kiai Said Gedongan merupakan ulama yang menyebarkan Islam dengan mengajar santri di pesantren dan turut berjuang melawan penjajah Belanda.?

“Ayah saya hanya memiliki sepeda ontel, beli rokok pun kadang tak mampu. Dulu setelah ayah memanen kacang hijau, pergilah ia ke pasar Cirebon. Zaman dulu yang namanya mobil transportasi itu sangat jarang dan hanya ada pada jam-jam tertentu,” kenang Kiai Said dalam buku Meneguhkan Islam Nusantara; Biografi Pemikiran dan Kiprah Kebangsaan (Khalista: 2015).

Setelah merampungkan mengaji dengan ayahanda maupun ulama di sekitar Cirebon, dan umur dirasa sudah cukup, Said remaja kemudian belajar di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur yang didirikan oleh KH Abdul Karim (Mbah Manaf). Di Lirboyo, ia belajar dengan para ustadz dan kiai yang merawat santri, seperti KH Mahrus Ali, KH Marzuki Dahlan, dan juga Kiai Muzajjad Nganjuk.

Siti Efi Farhati

Setelah selesai di tingkatan Aliyah, ia melanjutkan kuliah di Universitas Tribakti yang lokasinya masih dekat dengan Pesantren Lirboyo. Namun kemudian ia pindah menuju Kota Mataram, menuju Ngayogyokarta Hadiningrat. Di Yogya, Said belajar di Pesantren Al-Munawwir, Krapyak dibawah bimbingan KH Ali Maksum (Rais Aam PBNU 1981-1984). Selain mengaji di pesantren Krapyak, ia juga belajar di IAIN Sunan Kalijaga, yang ketika itu KH Ali Maksum menjadi Guru Besar di kampus yang saat ini sudah bertransformasi menjadi UIN itu.

Ia merasa belum puas belajar di dalam negeri. Ditemani istrinya, Nurhayati, pada tahun 1980, ia pergi ke negeri kelahiran Nabi Muhammad SAW: Makkah Al-Mukarramah. Di sana ia belajar di Universitas King Abdul Aziz dan Ummul Qurra, dari sarjana hingga doktoral. Di Makkah, setelah putra-putranya lahir, Kang Said – panggilan akrabnya – harus mendapatkan tambahan dana untuk menopang keluarga. Beasiswa dari Pemerintah Saudi, meski besar, dirasa kurang untuk kebutuhan tersebut. Ia kemudian bekerja sampingan di toko karpet besar milik orang Saudi di sekitar tempat tinggalnya. Di toko ini, Kang Said bekerja membantu jual beli serta memikul karpet untuk dikirim kepada pembeli yang memesan.

Keluarga kecilnya di Tanah Hijaz juga sering berpindah-pindah untuk mencari kontrakan yang murah. “Pada waktu itu, bapak kuliah dan sambil bekerja. Kami mencari rumah yang murah untuk menghemat pengeluaran dan mencukupkan beasiswa yang diterima Bapak,” ungkap Muhammad Said, putra sulung Kang Said.

Dengan keteguhannya hidup ditengah panasnya cuaca Makkah di siang hari dan dinginnya malam hari, serta kerasnya hidup di mantan “tanah Jahiliyyah” ini, ia menyelesaikan karya tesisnya di bidang perbandingan agama: mengupas tentang kitab Perjanjian Lama dan Surat-Surat Sri Paus Paulus. Kemudian, setelah 14 tahun hidup di Makkah, ia berhasil menyelesaikan studi S-3 pada tahun 1994, dengan judul: Shilatullah bil-Kauni fit-Tashawwuf al-Falsafi (Relasi Allah SWT dan Alam: Perspektif Tasawuf). Pria yang terlahir di pelosok Jawa Barat itu mempertahankan disertasinya – diantara para intelektual dari berbagai dunia – dengan predikat Cumlaude.

Ketika bermukim di Makkah, ia juga menjalin persahabatan dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). “Gus Dur sering berkunjung ke kediaman kami. Meski pada waktu itu rumah kami sangat sempit, akan tetapi Gus Dur menyempatkan untuk menginap di rumah kami. Ketika datang, Gus Dur berdiskusi sampai malam hingga pagi dengan Bapak,” ungkap Muhammad Said bin Said Aqil. Selain itu, Kang Said juga sering diajak Gus Dur untuk sowan ke kediaman ulama terkemuka di Arab, salah satunya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki.?

Setelah Kang Said mendapatkan gelar doktor pada 1994, ia kembali ke tanah airnya: Indonesia. Kemudian Gus Dur mengajaknya aktif di NU dengan memasukkannya sebagai Wakil Katib ‘Aam PBNU dari Muktamar ke-29 di Cipasung. Ketika itu, Gus Dur “mempromosikan” Kang Said dengan kekaguman: “Dia doktor muda NU yang berfungsi sebagai kamus berjalan dengan disertasi lebih dari 1000 referensi,” puji Gus Dur. Belakangan, Kang Said juga banyak memuji Gus Dur. “Kelebihan Gus Dur selain cakap dan cerdas adalah berani,” ujarnya, dalam Simposium Nasional Kristalisasi Pemikiran Gus Dur, 21 November 2011 silam.

Setelah lama akrab dengan Gus Dur, banyak kiai yang menganggap Kang Said mewarisi pemikiran Gus Dur. Salah satunya disampaikan oleh KH Nawawi Abdul Jalil, Pengasuh Pesantren Sidogiri, Pasuruan, ketika kunjungannya di kantor PBNU pada 25 Juli 2011. Kunjungan waktu itu, merupakan hal yang spesial karena pertama kalinya kiai khos itu berkunjung ke PBNU – di dampingi KH An’im Falahuddin Mahrus Lirboyo. Kiai Nawawi menganggap bahwa Kang Said mirip dengan Gus Dur, bahkan dalam bidang ke-nyelenehan-nya.?

“Nyelenehnya pun juga sama,” ungkap Kiai Nawawi, seperti dikutip Siti Efi Farhati. “Terus berjuang di NU tidak ada ruginya. Teruslah berjuang memimpin, Allah akan selalu meridloi,” tegas Kiai Nawawi kepada orang yang diramalkan Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU di usia lebih dari 55 tahun itu.

Menjaga NKRI dan mengawal perdamaian dunia

Pada masa menjelang kemerdekaan, tepatnya pada tahun 1936, para ulama NU berkumpul di Banjarmasin untuk mencari format ideal negara Indonesia ketika sudah merdeka nantinya. Pertemuan ulama itu menghasilkan keputusan yang revolusioner: (1) negara Darus Salam (negeri damai), bukan Darul Islam (Negara Islam); (2) Indonesia sebagai Negara Bangsa, bukan Negara Islam. Inilah yang kemudian menginspirasi Pancasila dan UUD 1945 yang dibahas dalam Sidang Konstituante – beberapa tahun kemudian. Jadi, jauh sebelum perdebatan sengit di PPKI atau BPUPKI tentang dasar negara dan hal lain sebagainya, ulama NU sudah terlabih dulu memikirkannya.

Pemikiran, pandangan dan manhaj ulama pendahulu tentang relasi negara dan agama (ad-dien wa daulah) itu, terus dijaga dan dikembangkan oleh NU dibawah kepemimpinan Kang Said. Dalam pidatonya ketika mendapat penganugerahan Tokoh Perubahan 2012 pada April 2013, Kiai Said menegaskan sikap NU yang tetap berkomitmen pada Pancasila dan UUD 1945. “Muktamar (ke-27 di Situbondo-pen) ini kan dilaksanakan di Pesantren Asembagus pimpinan Kiai As’ad Syamsul Arifin. Jadi, pesantren memang luar biasa pengaruhnya bagi bangsa ini. Meski saya waktu itu belum menjadi pengurus PBNU,” kata Kiai Said, mengomentari Munas Alim Ulama NU 1983 dan Muktamar NU di Situbondo 1984 yang menurutnya paling fenomenal dan berdampak dalam pandangan kebangsaan.

Sampai kini, peran serta NU dalam hal kebangsaan begitu kentara kontribusinya, baik di level anak ranting sampai pengurus besar, di tengah berbagai rongrongan ideologi yang ingin menggerogoti Pancasila sebagai dasar negara. Hal ini tercermin dalam berbagai kegiatan dan program NU yang selalu mengarusutamakan persatuan dan kesatuan bangsa. Dalam konteks ini, Kiai Said sangat berpengaruh karena kebijakan PBNU selalu diikuti kepengurusan dibawahnya – termasuk organisasi sayapnya.

Salah satu peran yang cukup solutif, misalnya, ketika beliau menaklukkan Ahmad Mushadeq – orang yang mengaku sebagai Nabi di Jakarta dan menimbulkan kegaduhan nasional – lewat perdebatan panjang tentang hakikat kenabian (2007). “Alhamdulillah, doa saya diterima untuk bertemu ulama, tempat saya bermudzakarah (diskusi). Sekarang saya sadar kalau langkah saya selama ini salah,” aku Mushadeq. Disisi lain, Kang Said juga mengakui kehebatan Mushadeq. “Dia memang hebat. Paham dengan asbabun nuzul Al-Qur’an dan asbabul wurud Hadits. Hanya sedikit saja yang kurang pas, dia mengaku Nabi, itu saja,” jelas Kiai Said seperti yang terekam dalam Antologi NU: Sejarah, Istilah, Amaliah dan Uswah (Khalista & LTN NU Jatim, Cet II 2014).

Kiai yang mendapat gelar Profesor bidang Ilmu Tasawuf dari UIN Sunan Ampel Surabaya ini bersama pengurus NU juga membuka dialog melalui forum-forum Internasional, khususnya yang terkait isu-isu terorisme, konflik bersenjata dan rehabilitasi citra Islam di Barat yang buruk pasca serangan gedung WTC pada 11 September 2001. Ia juga kerapkali membuat acara dengan mengundang ulama-ulama dunia untuk bersama-sama membahas problematika Islam kontemporer dan masalah keumatan.

Pada Jumat, 7 Maret 2014, Duta Besar Amerika untuk Indonesia Robert O. Blake berkunjung ke kantor PBNU. Ia menginginkan NU terlibat dalam penyelesaian konflik di beberapa negara. “Kami berharap NU bisa membantu penyelesaian konflik di negara-negara dunia, khususnya di Syria dan Mesir. NU Kami nilai memiliki pengalaman membantu penyelesaian konflik, baik dalam maupun luar negeri,” kata Robert, seperti dilansir Siti Efi Farhati. “Sejak saya bertugas di Mesir dan India, saya sudah mendengar bagaimana peran NU untuk ikut menciptakan perdamaian dunia,” imbuhnya.

Raja Yordania Abdullah bin Al-Husain (Abdullah II) juga berkunjung ke PBNU. Ia ditemui Kiai Said, meminta dukungan NU dalam upaya penyelesaian konflik di Suriah. “Di Timur Tengah, tidak ada organisasi masyarakat yang bisa menjadi penengah, seperti di Indonesia. Jika ada konflik, bedil yang bicara,” ungkap Kiai Said.

Selain itu, menguapnya kasus SARA di Indonesia belakangan juga kembali marak muncul ke permukaan. “Munculnya kerusuhan bernuansa agama memang sangat sering kita temukan. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia harus terus belajar pentingnya toleransi dan kesadaran pluralitas. Sikap toleransi tersebut dibuktikan oleh Kaisar Ethiopia, Najashi (Negus) ketika para sahabat ditindas oleh orang-orang Quraisy di Mekkah dan memutuskan untuk hijrah ke Ethiopia demi meminta suaka politik kepadanya. Kaisar Negus yang dikenal sebagai penguasa beragama Nasrani itu berhasil melindungi para sahabat Nabi Muhammad SAW dari ancaman pembunuhan kafir Quraisy,” tulis Kiai Said dalam Dialog Tasawuf Kiai Said: Akidah, Tasawuf dan Relasi Antarumat Beragama (Khalista, LTN PBNU & SAS Foundation, Cet II, 2014).

Menghadapi potensi konflik horisontal itu, NU juga tetap mempertahankan gagasan Darus Salam, bukan Darul Islam, yang terinspirasi dari teladan Nabi Muhammad dalam Piagam Madinah. Dalam naskah tersebut, nabi membuat kesepakatan perdamaian, bahwa muslim pendatang (Muhajirin) dan muslim pribumi (Anshar) dan Yahudi kota Yastrib (Madinah) sesungguhnya memiliki misi yang sama, sesungguhnya satu umat. Yang menarik, menurut Kiai Said, Piagam Madinah – dokumen sepanjang 2,5 halaman itu – tidak ? menyebutkan kata Islam. Kalimat penutup Piagam Madinah juga menyebutkan: tidak ada permusuhan kecuali terhadap yang dzalim dan melanggar hukum. “Ini berarti, Nabi Muhammad tidak memproklamirkan berdirinya negara Islam dan Arab, akan tetapi Negara Madinah,” terang Kiai Said.

Selain itu, menurutnya, faktor politis juga kerapkali mempengaruhi, bukan akidah atau keyakinan. “Seperti di masa Perang Salib, faktor politis dan ekonomis lebih banyak menyelimuti renggangnya keharmonisan kedua umat bersaudara tersebut di Indonesia. Dengan demikian, kekeruhan hubungan Islam-Kristen tidak jarang dilatarbelakangi nuansa politis yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan agama itu sendiri,” ungkapnya, dalam buku Tasawuf Sebagai Kritik Sosial: Mengedepankan Islam sebagai Inspirasi bukan Aspirasi.

***

Ditengah agenda Ketua Umum PBNU yang sedemikian padat, Kiai Said dewasa ini diterpa berbagai fitnah, hujatan dan bahkan makian dari urusan yang remeh-temeh sampai yang menyangkut urusan negara. Ia dituduh agen Syiah, Liberal, antek Yahudi, pro Kristen, dan fitnah-fitnah lain oleh orang yang sempit dalam melihat agama dan konsep kemanusiaan dan kebangsaan.?

Meski demikian, ia toh manusia biasa – yang tak luput dari salah, dosa dan kekurangan – bukan seorang Nabi. Artinya, kritik dalam sikap memang wajar dialamatkan, tetapi tidak dengan hujatan, fitnah, dan berita palsu, melainkan dengan kata yang santun. Terkait hal ini, dalam suatu kesempatan ia memberi tanggapan kepada para haters-nya. Bukannya marah, Kiai Said justru menganggap para pembenci dan pemfitnah itu yang kasihan. Dan sebagai orang yang tahu seluk beluk dunia tasawuf, tentu dia sudah memaafkan, jauh sebelum mereka meminta maaf atas segenap kesalahan. Wallahu a’lam.

Ahmad Naufa Khoirul Faizun, Kader Muda NU dan Kontributor Siti Efi Farhati asal Purworejo, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Jadwal Kajian, Kajian Sunnah, Aswaja Siti Efi Farhati

Minggu, 28 Januari 2018

Rembug Nasional Guru Madrasah

Malang, Siti Efi Farhati. Dirjen Pendidikan Islam Kementrian Agama RI Prof Dr H Nur Syam,M.Si mengakui, bahwa hingga saat ini sekolah berbasis agama atau madrasah masih kekurangan guru yang berstatus negeri. Harapan akan terpenuhinya persoalan ini dinilai sangat sulit diatasi. Pasalnya, terdapat banyak aspek yang harus dipenuhi.

Demikian disampaikan Nur Syam saat menghadiri acara pembukaan Rembug Nasional Guru Madrasah, di lapangan Rampal Kota Malang, Selasa (10/7).

Rembug Nasional Guru Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
Rembug Nasional Guru Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)

Rembug Nasional Guru Madrasah

Menurut Nur Syam, masalah pengangkatan guru madrasah masih bergantung pada kebijakan pemerintah secara umum. “Untuk merekrut guru apalagi yang berstatus PNS, pemerintah masih perlu mempertimbangkan soal ketersediaan anggaran serta formasi pegawai yang dibutuhkan,”terang mantan Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Siti Efi Farhati

Meski demikian, pihaknya berharap di Jawa Timur bisa mendapatkan penambahan guru madrasah berstatus negeri. Sebab guru berkaitan erat dengan kualitas madrasah. Keberadaan madrasah akan diakui masyarakat ketika para pendidiknya memiliki kualitas dan profesionalitas sebagai seorang pengajar. Tentu saja yang dipertimbangkan tidak hanya peningkatan standar nasional pendidikan, tetapi juga pembentukan karakter dan moral siswa.

Sebenarnya, kata Nur Syam, keberadaan guru yang berkualitas juga tidak akan memberikan andil maksimal terhadap hasil pendidikan di madrasah ketika tidak ditunjang program lainnya. Adapun beberapa langkah lain itu seperti pengadaan infrastruktur, program kelas percepatan atau akselerasi, serta penggunaan bahasa asing untuk kegiatan sehari-hari.

Siti Efi Farhati

Diakui Nur Syam, hingga kini keberadaan madrasah masih dipandang sebelah mata dibandingkan sekolah umum lainnya. Oleh karena itu, Nur Syam berjanji, Kementrian Agama akan mengupayakan peningkatan kualitas madrasah sehingga mampu bersaing dengan dengan sekolah-sekolah umum lainnya.

Untuk itu, kata Nur Syam, pihaknya berencana meningkatkan kualitas dengan melakukan akreditasi bagi madrasah di Indonesia yang belum terakreditasi. "Dari 63 ribu lebih madrasah di Indonesia, sudah 53 persen yang terakreditasi dan dikatakan berkualitas. Sementara sisanya sebanyak 47 persen belum terakreditasi," tegasnya.

Menurutnya, akreditasi tersebut penting untuk dilakukan, dalam rangka peningkatan kualitas madrasah. "Selama ini peringkat kualitas madrasah masih dianggap kelas dua, sehingga madrasah jangan mau kalah dengan sekolah umum," ujarnya.

Meski demikian, keberadaan madrasah banyak tidak boleh dipandang sebelah mata. Sebab, lanjut Nur Syam, di luar Jawa ada madrasah yang dalam melaksanakan kegiatan belajar-mengajar mempergunakan tiga bahasa asing. “Ini bisa menjadi program yang inovatif sehingga mampu mengangkat madrasah bisa go internasional," kata Nur Syam bangga.

Kontributor: Abdul Hady JM

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Budaya, Ahlussunnah, Aswaja Siti Efi Farhati

Kamis, 25 Januari 2018

Menelusuri Jejak Sejarah Islam Nusantara Melalui Eyang Santri di Sukabumi

Sukabumi, Siti Efi Farhati. Dalam rangka peningkatan mutu dan pengembangan penelitian tesis, Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta menyelenggarakan Program Visitasi Dosen ke lokasi penelitian mahasiswa.

 

Menelusuri Jejak Sejarah Islam Nusantara Melalui Eyang Santri di Sukabumi (Sumber Gambar : Nu Online)
Menelusuri Jejak Sejarah Islam Nusantara Melalui Eyang Santri di Sukabumi (Sumber Gambar : Nu Online)

Menelusuri Jejak Sejarah Islam Nusantara Melalui Eyang Santri di Sukabumi

Salah satu dosen pembimbing tesis, Deny Hamdani, mengunjungi aktivitas penelitian salah satu mahasiswa pascasarjana yang sedang meneliti budaya masyarakat Nusantara, Kamis (21/9) lalu di Padepokan Girijaya-Sukabumi, Jawa Barat.

Terletak di ketinggian 800 mdpl, padepokan peninggalan tokoh spiritual Jawa ini memberikan kesan magis dan historis. 

Siti Efi Farhati

“Interaksi Eyang Santri dengan kaum intelektual zaman kemerdekaan dan kontribusinya terhadap pembentukan Indonesia modern perlu kita dorong untuk diteliti lebih lanjut,” ungkap Hamdani dalam kunjungannya ke kediaman salah satu keturunan Eyang Santri. 

Hal tersebut terlontar setelah Hamdani terlibat dialog dengan Raden Ayu Ahdiyati, cucu KPH. Djojokoesoemo, yang dikenal masyarakat dengan sebutan Kiai Muhammad Santri atau Eyang Santri. 

Menurut Ahdiyati, yang akrab dipanggil dengan Bu Hajah Tito, keberadaan Eyang Santri yang memilih tempat terpencil di lereng Gunung Salak sesungguhnya adalah upaya lari dari kejaran Belanda pasca kalahnya Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa. 

Namun pelarian ini, masih menurut Ahdiyati, membawa hikmah yang cukup besar dalam proses perkembangan negara Indonesia di kemudian hari. Ibu dari ketiga anak ini menjelaskan bahwa banyak sekali tokoh kemerdekaan yang menjalin hubungan dengan cucu dari Pangeran Sambernyawa tersebut. 

Siti Efi Farhati

Ia pun menyebut nama-nama penting dalam sejarah Indonesia, seperti Soekarno, Tjokroaminoto, Soetomo, Sosro Kartono, Ki Hajar Dewantoro, Muhammad Yamin. Bahkan tokoh spiritual dan filosof India seperti Rabindranath Tagore pernah berinteraksi dengan Eyang Santri.

Dalam kunjungan tersebut, Hamdani ditunjukkan sejumlah buku yang berkaitan dengan pemikiran Eyang Santri. Tokoh yang lahir tahun 1771 dan meninggal tahun 1929 itu ternyata banyak disebut dalam berbagai karya baik yang berbahasa Jawa maupun Belanda. 

“Pelan-pelan memang pemikiran kakek saya mulai terkuak, meskipun masih banyak hal yang belum disentuh” ujar Ahdiyati. 

Ia kemudian menceritakan sebuah disertasi dari mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang mengulas pemikiran Eyang Santri dari aspek Tasawuf. 

Disertasi yang berjudul Penafsiran Martabat Tujuh Kiai Muhammad Santri Sufi Agung Mangkunegaran tersebut ditulis oleh Ali Abdillah (2017), dosen Pascasarjana Unusia Jakarta. 

Dengan program kunjungan ke lapangan tersebut, Habibullah, mahasiswa pasca yang sedang mengoleksi data merasa bahwa perhatian kampus terhadap penelitiannya ini patut diapresiasi dengan baik. 

“Perhatian dosen pembimbing buat saya menjadi penyemangat sekaligus pengarah bidang akademik yang sangat diperlukan,” ujar komentar mahasiswa tingkat akhir Pascasarjana Unusia Jakarta yang sebentar lagi menghadapi para penguji dalam munaqosah tesis ini. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Santri, Aswaja Siti Efi Farhati

Sabtu, 20 Januari 2018

Rasulullah yang Tak Pernah Menimbun Harta

Sebagai pengemban risalah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam selalu memberikan tuntunan dan panutan kepada seluruh umatnya. Terutama terkait dengan harta. Nabi sama sekali tidak pernah memikirkan harta-harta yang ia miliki. Bahkan beliau selalu berusaha untuk membagi-bagikan harta yang ia miliki kepada orang lain.

Dr. Nizar Abazah dalam karyanya yang berjudul Fi Bayt Rasul menceritakan beberapa kisah tersebut. Pernah suatu hari Nabi memiliki sepotong emas yang disimpan di rumahnya. Emas tersebut selalu teringat di kepala saat Nabi sedang menunaikan shalat. Akhirnya, setelah shalat, Nabi pulang ke rumah dan membagi-bagikan emas itu kepada orang lain.

As-Suyuti dalam kitab ad-Durarul Mansur yang mengutip riwayat Ibnu Masud misalkan, tiba-tiba datang seorang anak laki-laki kepada Nabi. Saat itu anak tersebut diminta oleh ibunya untuk menghadap Nabi dan meminta sesuatu kepadanya.

Rasulullah yang Tak Pernah Menimbun Harta (Sumber Gambar : Nu Online)
Rasulullah yang Tak Pernah Menimbun Harta (Sumber Gambar : Nu Online)

Rasulullah yang Tak Pernah Menimbun Harta

“Wahai Nabi, aku datang kemari membawa pesan dari ibuku. Ibuku meminta ini dan itu.”

“Maaf, hari ini aku tidak memiliki apa-apa,” jawab Nabi.

Hal seperti ini jamak diketahui, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah menimbun atau menyimpan sesuatu untuk hari esok. Ketika Nabi mendapatkan emas atau harta yang lain, Nabi jarang menyimpannya. Nabi selalu membagi-bagikan kepada para sahabatnya, khususnya untuk sahabat ahlus suffah.

Siti Efi Farhati

“Kata ibuku, baju yang sedang engkau pakai juga boleh,” pinta anak laki-laki itu kembali.

Nabi selalu memberikan apa yang diminta oleh para sahabatnya, walaupun itu baju yang dipakai. Tanpa berpikir panjang, Nabi melepas baju yang ia kenakan. Baju itu lalu diberikan kepada anak laki-laki yang memintanya.

Anak itu akhirnya kembali tanpa tangan kosong. Wajahnya tergores senyum setelah permintaannya dikabulkan oleh Nabi.

Siti Efi Farhati

Nabi kemudian masuk ke rumah dan tak keluar lagi, karena saat itu baju itulah satu-satunya baju yang dimiliki Nabi.

Ketika waktu shalat tiba, para sahabat mencari beliau. Umar terheran-heran ketika melihat kondisi Nabi yang seperti itu.

Umar kemudian menyempatkan bertanya. “Apakah ini perintah Allah?”

Lalu turunlah firman Allah: “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya, karena dengan begitu kamu jadi tercela dan menyesal.” (Q.S. Al-Isra: 29).

Tampaknya ajaran mendahulukan orang lain yang telah dicontohkan oleh Nabi ditiru oleh istri-istrinya. Aisyah misalnya, suatu hari ditemui seorang perempuan. Perempuan itu mengaku tidak memiliki apa pun untuk dimakan. Saat itu Aisyah hanya memiliki kurma. Tanpa berpikir panjang, ia langsung memberikan seluruh kurma yang dimilikinya kepada perempuan itu.

Tak hanya itu, ketika ia mendapatkan jatah nafkah, sedangkan saat itu ia sedang berpuasa, ia pun memanggil pembantunya agar membagikan semua jatah itu kepada seluruh fakir miskin. Saat tiba waktu buka, ia meminta pembantunya untuk mengeluarkan makanan. Namun sayang, tidak ada makanan lagi yang tersisa.

“Coba engkau tadi sisakan sedikit, mungkin itu akan menjadi lebih baik,” pinta pembantunya.

“Coba dari tadi engkau ingatkan, pasti aku akan menyisakannya,” Jawab Aisyah. Wallahu A’lam. (M Alvin Nur Choironi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Aswaja Siti Efi Farhati

Minggu, 14 Januari 2018

Usai Bahtsul Masail, Kiai Ihya Sampaikan Amanat Ke-NU-an

Pamekasan, Siti Efi Farhati. Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kadur Kabupaten Pamekasan melangsungkan bahtsul masail, Jumat (15/12) siang. Kegiatan yang ditempatkan di Pesantren Karang Anyar Desa Pamoroh tersebut dihadiri oleh Rais Syuriyah KH Ihyauddin Yasin.

Usai Bahtsul Masail, Kiai Ihya Sampaikan Amanat Ke-NU-an (Sumber Gambar : Nu Online)
Usai Bahtsul Masail, Kiai Ihya Sampaikan Amanat Ke-NU-an (Sumber Gambar : Nu Online)

Usai Bahtsul Masail, Kiai Ihya Sampaikan Amanat Ke-NU-an

Usai bahtsul masail, Kiai Ihya menyampaikan satu amanat yang harus dijalankan oleh pengurus ranting NU yang tersebar di 10 desa yang ada di Kecamatan Kadur. Amanat tersebut berkaitan dengan kegiatan Pelatihan Kader Penggerak (PKP) NU yang diadakan oleh PCNU Kabupaten Pamekasan di Pesantren Miftahul Anwar, Jumat-Ahad (22-24/12) mendatang.

"Kami amanatkan kepada seluruh pengurus ranting untuk mengutus kader atau pengurusnya ikut PKP yang tempatnya di pesantren kami. Minimal 2 orang. Kalau bisa mendelegasikan 10 orang tiap ranting sebagai peserta PKP," tegas Kiai Ihya.

Wakil Ketua PCNU Pamekasan tersebut memohon dengan hormat kepada seluruh jajaran pengurus NU untuk bisa mengindahkan amanat tersebut. Hal itu dipandang sangat penting karena menyangkut organisasi jamiyah NU ke depan.

Siti Efi Farhati

"Agar nanti tercetak kader-kader militan dan menjadi ruhul jihad guna berjuang bersama NU," tegas Kiai Ihyauddin Yasin.

Untuk diketahui, kegiatan PKP berlaku untuk kader-kader atau calon kader-kader NU se-Kabupaten Pamekasan. Peserta nantinya tidak boleh pulang selama tiga hari.

Siti Efi Farhati

"Bagi yang sudah beristri, sampaikan dulu untuk izin menetap selama tiga hari di acara PKP. Bagi yang belum beristri, mohonlah restu kepada orangtua," tukasnya. (Hairul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Fragmen, Aswaja, Kiai Siti Efi Farhati

Senin, 08 Januari 2018

Ada atau Tidaknya Regulasi, Mahad Aly Harus Tetap Berkembang

Pacitan, Siti Efi Farhati. Mudir (Direktur) Mahad Aly Attarmasi Pacitan KH Luqman Harits Dimyathi mengatakan, ada atau tidak adanya Peraturan Menteri Agama (PMA) tentang satuan pendidikan Mahad Aly, lembaga perguruan tinggi berbasis pesantren ini harus terus berkembang dan istiqamah dalam mencetak kader-kader ulama.

Ada atau Tidaknya Regulasi, Mahad Aly Harus Tetap Berkembang (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada atau Tidaknya Regulasi, Mahad Aly Harus Tetap Berkembang (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada atau Tidaknya Regulasi, Mahad Aly Harus Tetap Berkembang

Hal tersebut dikatakanya saat menanggapi pertanyaan dari salah seorang Mahasantri Mahad Aly Tebuireng Jombang saat acara Halaqah Kunjungan Studi Banding ke Mahad Aly Attarmasi Pondok Tremas Pacitan, Sabtu (31/10) lalu.?

Terkait belum disahkanya PMA tentang satuan pendidikan Mahad Aly, Kiai Luqman memberi pesan bahwa sebenarnya undang-undang atau regulasi merupakan sebuah perantara dalam proses pendidikan. Artinya, Mahad Aly tanpa regulasi pun sebenarnya mampu berjalan baik dalam mencetak kader yang siap berkontribusi untuk pembangunan umat.

Siti Efi Farhati

Namun demikian, para pengasuh pesantren yang mengelola Mahad Aly sepakat sebagai lembaga pendidikan yang berbasis kitab kuning perlu segera diberikan regulasi yang jelas. "Kepada pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama, regulasi terus kita perjuangkan. Karena ini merupakan hak kita," jelas Katib Syuriah PBNU itu.

PMA yang diperjuangkan oleh pengelola Mahad Aly nantinya merupakan turunan dari Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, yang juga mendapatkan afirmasi dari Peraturan Menteri Agama Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam.?

Siti Efi Farhati

Menanggapi seperti apa idealnya Mahad Aly yang dikembangkan dipesantren, Kiai Luqman memaparkan bahwa Mahad Aly harus mempunyai spesialis khusus pada bidang kajian tertentu, seperti kajian Fiqh dan Ushul Fiqh, Ilmu Falak dan Hadits. Ma’had Aly harus berbeda dengan perguruan tinggi lainnya, semacam UIN, IAIN, Sekolah Tinggi Agama. "Mahad Aly Is Mahad Aly," ujarnya.

Kunjungan Studi banding yang diikuti oleh seratusan Mahasantri Mahad Aly Tebuireng ke Mahad Aly Attarmasi Pondok Tremas Pacitan merupakan kunjungan balasan dari kunjungan ke Tebuireng yang dilakukan oleh Mahasantri Pondok Tremas beberapa tahun lalu. Turut mendampingi dalam kunjungan kali ini, KH Nur Hanan, Mudir Mahad Aly Tebuireng.?

Mahad Aly Attarmasi dan Mahad Aly Tebuireng sama-sama mengembangkan Kajian Fiqh dan Ushul Fiqh. Kedua lembaga ini pun telah mewisuda mahasantrinya dengan gelar Syahadah Alimiyah atau SA. (Zaenal Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Aswaja Siti Efi Farhati

Senin, 01 Januari 2018

Hadroh Bukan Sekedar Pemanis Acara

Blitar, Siti Efi Farhati. Hadroh selama ini merupakan kesenian khas pesantren dan NU. Seni shalawat ini tumbuh kembang sangat baik di wilayah Jawa Timur.?

Hadroh Bukan Sekedar Pemanis Acara (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadroh Bukan Sekedar Pemanis Acara (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadroh Bukan Sekedar Pemanis Acara

Untuk mengikat para anggota NU telah membentuk organisasinya yakni Ishari (Ikatan Seni Hadroh Indonesia), termasuk di Kabupaten Blitar. Maka tidak jarang, setiap acara acara NU, hadroh selalu ditampilkan sebagai pemanis acara.?

Bahkan saat Bupati Blitar dipegang oleh H Imam Muhadi, hadroh sangat diberdayakan. Setiap acara pemerintahan yang sifatnya massal.Pasti hadroh ditampilkan. Bahkan pada acara larung sesaji di Pantai Tambakrejo, hadrah juga mewarnai acara.

Siti Efi Farhati

Belakangan ini, posisi hadroh mulai berkurang gairah. Akibat hadirnya beberapa kesenian serupa yang terkesan lebih modern. Namun demikian, kalangan pengurus Ishari tidak gentar. Karena, hadroh memiliki pangsa pasar sendiri dan anggotanya.?

“Untuk itu kedepan NU harus memfasilitasi kesenian hadroh ini agar bisa tumbuh kembang dengan baik," ujar H Rohman Salim, salah seorang tokoh hadroh di Kabupaten Blitar.

Siti Efi Farhati

Diakui oleh Rahman Salim, di Blitar dua tahun belakangan ini aktifitas hadroh terkesan menurun, karena beberapa sebab. Selain hadirnya kelompok salawat yang terkesan modern. Juga lantaran terjadi perpedaan pendapat ditingkat pengurus ISHARI Blitar.

“Untuk itu senyampang pengurus NU ini masih baru. Maka kedepan kami mohon NU mau peduli dengan ISHARI dan mengembangkannya," pintanya.

KH Masadain Rifai, ketua terpilih NU Kabupaten Blitar, sangat mengapresiasi dengan keinginan anggota ISHARI tersebut. Karena keinginan itu sesuai dengan visi misi program kerja NU Kabupaten Blitar hasil dari Konfercab bulan lalu.?

“Salah satu butir hasil konfercab dari komisi program kerja adalah ? memperjuangkan kebudayaan (baik sebagai khazanah pengetahuan, nilai, makna, norma dan kesenian NU, termasuk ISHARI," tandas Kiai Dain.

Selain itu, lanjut Kiai Dain, NU akan memfasilitasi dan memberi perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atas berbagai karya seni para seniman ? NU. “Jadi Ishari sudah masuk di dalamnya," tambahnya.

Redaktur ? ? : Hamzah Sahal

Kontributor : Imam Kusnin

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Aswaja, Jadwal Kajian, Pahlawan Siti Efi Farhati

Sabtu, 30 Desember 2017

Menimbang Semifinalis Liga Santri Nusantara 2016

Bantul,Siti Efi Farhati. Manajer Kompetisi Liga Santri Nusantara Kusnaeni berrcerita materi empat kesebelasan yang lolos ke semifinal yang akan berlangsung siang ini di lapangan sepak bola Sultan Agung, Bantul, Yogyakarta (29/10).

Ia memulai dengan kesebelasan Al-Falah. Tim asal Bandung tersebut menurutnya, memiliki kerja sama yang lumayan baik. Kemampuan pemain-pemainnya merata. Bisa dikatakan tidak ada indvidu yang menonjol.

Menimbang Semifinalis Liga Santri Nusantara 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
Menimbang Semifinalis Liga Santri Nusantara 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

Menimbang Semifinalis Liga Santri Nusantara 2016

Namun, kata dia, tim yang pertama kali mengikuti liga santri ini, kalau mengadapi penyerang-penyerang cepat, pertahanannya sering kerepotan. Juga tak punya penyerang mematikan.

Siti Efi Farhati

Sementara kesebelasan Nur Iman, menurut pria yang akrab disapa Bung Kus, ini memiliki kualitas pemain yang merata di semua lini belakang, tengah, dan depan.

Siti Efi Farhati

“Apalagi mereka juga sudah cukup lama jadi tim karena tahun kemarin juga sudah ikut di Liga Santri dan mencapai semifinal. Jadi, kombinasi pemain yang merata sama pengalaman ikut Liga Santri, membuat tim ini tahun ini solid, apalagi dukungan penonton paling banyak tentunya karena tuan rumah,” jelasnya.

Meski demikian, problem kesebelasan tersebut belum teruji dengan lawan yang betul-betul tangguh.

Nur Iman, siang ini akan berhadapan dengan kesebelasan Al-Falah Kabupaten Bandung pada laga pertama di stadion Sultan Agung sekitar pukul 13.30.

Bung Kus kemudian bercerita kesebelasan Al-Asy’ariyah. Menurutnya, tim ini sebetulnya punya karakter lebih defensif, tapi serangan baliknya lebih cepat dengan pemain depannya sangat berbahaya. Juga mereka memiliki stamina yang kuat untuk menekan pemain lawan yang menguasai bola.

“Saya melihat mereka tidak pernah membiarkan lawan menguasai bola lebih lama. Pressingnya bagus,” katanya.

Kelemahannya, kata dia, pertahanan finalis tahun lalu ini tidak sekuat lini depannya. Meski demikian tertolong gelandang-gelandang yang rajin membantu ke belakang.

Sementara tim terakhir, Walisongo, menurut Bung Kus, coraknya hampir sama dengan Nur Iman. Tim asal Sragen, Jawa Tengah, ini memiliki materi pemain yang merata, dan berpengalaman di Liga Santri tahun lalu dengan capaian cukup berprestasi.

“Sekarang kelihatan makin matang dari segi permainan mereka. Mereka bisa sering sekali memancing lawan keluar. Kemudian dengan cepat melakukan serangan balik. Mereka punya pemain depan yang cepat,” pungkasnya.

Al-Asy’ariyah akan berhadapan dengan Walisongo di laga kedua semifinal Liga Santri Nusantara di stadion yang sama, Sultan Agung Bantul. (Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Aswaja, Pondok Pesantren Siti Efi Farhati

Rabu, 27 Desember 2017

Jokowi: Teladani dan Teruskan Perjuangan Syekh Nawawi Al-Bantani

Jakarta, Siti Efi Farhati. Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menghadiri dan memberikan sambutan dalam acara peringatan Haul ke-124 Al-Maghfurlah Syekh Nawawi Al-Bantani di Pesantren An Nawawi Tanara di Serang, Banten, Jumat (21/7) kemarin.?

Jokowi: Teladani dan Teruskan Perjuangan Syekh Nawawi Al-Bantani (Sumber Gambar : Nu Online)
Jokowi: Teladani dan Teruskan Perjuangan Syekh Nawawi Al-Bantani (Sumber Gambar : Nu Online)

Jokowi: Teladani dan Teruskan Perjuangan Syekh Nawawi Al-Bantani

Jokowi mengatakan, sepanjang sejarah negeri kita ini, ada tiga ulama yang pernah menjadi Imam Masjidil Haram di Makkah. Satu di antaranya ulama kelahiran Serang, Syekh Nawawi Al-Bantani yang hidup di abad ke-19.

“Di perhelatan haul itu saya mengajak seluruh rakyat Indonesia, khususnya umat Islam, untuk meneladani dan meneruskan perjuangan Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujar Jokowi di halaman Facebook miliknya, Sabtu (22/7).

Ia mengakui bahwa Syekh Nawawi adalah seorang ulama sekaligus intelektual. Ia mewariskan lebih dari 100 buku karyanya dalam berbagai disiplin ilmu, dari ilmu tafsir, ilmu kalam, tauhid, hadits, dan lain-lain.

“Murid-muridnya banyak yang menjadi ulama besar dan berjuang untuk bangsa ini. Di antaranya adalah pendiri Nahdlatul Ulama KH Muhammad Hasyim Asyari dan pendiri Muhammadiyah KH Achmad Dahlan,” terang mantan Wali Kota Solo, Jawa Tengah ini.

Siti Efi Farhati

Ulama produktif

Keterangan tentang Syekh Nawawi Al-Bantani ini juga dijelaskan KH Cholil Nafis, Pengurus MUI Pusat. Ia menerangkan, Syekh Nawawi al Jawi al-Banteni itu ulama besar. Imam Masjidil Haram, Syyid Ulama Hijaz, al Allamah al Fahhamah ad Daqqiq wal Muahhaqiq, Ulama terkemuka pada abad XIV Hijriyah, serta predikat mulia lainnya.?

Syekh Nawawi al-Banteni adalah murid Syekh Ahmad Khothib Sambas (1803-1875) yang menjadi Imam Masjidil Haram dan kemudian diwarisi oleh Syekh Nawawi,” ujar Cholil Nafis yang juga mengungkapkan lewat akun Facebook miliknya, Sabtu (22/7).

Syekh Nawawi, jelasnya, tergolong ulama yang produktif. Karangan kitabnya dalam bahasa Arab lebih dari 115 kitab. Menurut hasil penelitian Martin Van Brunissen, seorang peneliti Indonesianis asal Belanda bahwa dari 46 pesantren terkemuka di Indonesia sebanyak 42 pesantren mengajarkan kitab-kitab Syekh Nawawi.

Siti Efi Farhati

Hal ini, tandas Cholil, sesuai dengan beberapa tokoh dan pendiri pesantren yang menjadi murid Syekh Nawawi sehingga kitab-kitabnya menjadi rujukan dan buku ajar di banyak pesantren.?

Di antara murid Syekh Nawawi al-Banteni yaitu Syekh Ahmad Khotib al Minangkabawi (1860-1916), Syekh Mahfudz Termas (1868-1820), Syekh Kholil Bangkalan dan Hadlratussyekh Muhammad Hasyim Asyari (1875-1947 M) pendiri NU, dan Kiai Haji Ahmad Dahlan (1868-1923) pendiri Muhammadiyah. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Aswaja, Pondok Pesantren, Nusantara Siti Efi Farhati

Soal Investasi Dana Haji, MUI: Pandangan Menag Sejalan Fatwa MUI

Tangerang Selatan, Siti Efi Farhati?

Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Asrorun Niam Sholeh menegaskan, pandangan Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin tentang bolehnya penggunaan dana setoran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) untuk hal-hal yang produktif sudah sesuai dengan Fatwa MUI.?

Menurut Niam, MUI telah membahas permasalahan investasi dana haji itu di dalam Forum Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa Se-Indonesia IV yang diselenggarakan di Cipasung Jawa Barat tahun 2012. Ia mengaku memimpin sidang pleno penetapan Fatwa tersebut bersama dengan KH Ma’ruf Amin.

“Forum Ijtima’ Ulama menyepakati bolehnya memproduktifkan dana haji yang disetorkan jama’ah untuk investasi sepanjang dilakukan sesuai syariah dan ada kemaslahatan,” kata Niam kepada Siti Efi Farhati di Tangerang Selatan, Sabtu (29/7) malam.

Soal Investasi Dana Haji, MUI: Pandangan Menag Sejalan Fatwa MUI (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Investasi Dana Haji, MUI: Pandangan Menag Sejalan Fatwa MUI (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Investasi Dana Haji, MUI: Pandangan Menag Sejalan Fatwa MUI

Dalam salah satu poin Keputusan Forum Ijtima’ Ulama tersebut disebutkan bahwa dana setoran jama’ah haji yang berada dalam daftar tunggu boleh digunakan atau di-tasharruf-kan untuk hal-hal yang poduktif atau memberikan keuntungan.

Namun demikian, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menambahkan, pemanfaatan setoran dana haji tersebut harus mengedepankan kepentingan dan kemaslahatan umat. “Akan tetapi harus dipastikan dilakukan sesuai ketentuan syariah dan manfaatnya kembali kepada jama’ah,” jelasnya.

Sebelumnya, Menag menyampaikan bahwa dana setoran haji boleh digunakan untuk investasi infrastruktur selama investasi tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip syariah, sesuai dengan Undang-Undang yang ada, serta memberikan kemaslahatan kepada jama’ah haji dan juga masyarakat umum. Terkait pandangan Menag ini, ada yang mendukung dan juga ada yang mempertanyakan keabsahannya baik secara Undang-Undang maupun hukum Islam. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Aswaja, Berita Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati

Jumat, 15 Desember 2017

Bupati Dedi Mulyadi: Saya Pilih Surganya NU

Jakarta, Siti Efi Farhati. Bupati Purwakarta, Jawa Barat Dedi Mulyadi hadir sebagai salah seorang pembicara dalam Seminar Nasional Sarung Nusantara yang digelar Lembaga Takmir Masjid (LTM) PBNU, Kamis (6/4) di Gedung PBNU Jakarta. Dalam seminar tersebut, ia diplot sebagai seorang Budayawan yang lekat dengan sarung.

Dalam kesempatan seminar bersarung itu, Dedi Mulyadi yang juga mengenakan sarung bersama narasumber lain, KH Agus Sunyoto dan Prof Imam Suprayogo mengungkapkan kesannya setiap kali berada di tengah Nahadlatul Ulama (NU).?

Bupati Dedi Mulyadi: Saya Pilih Surganya NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Dedi Mulyadi: Saya Pilih Surganya NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Dedi Mulyadi: Saya Pilih Surganya NU

Baginya, NU memberikan pelajaran berharga tentang Islam secara menyeluruh tanpa harus menanggalkan identitasnya sebagai orang Sunda.

“Enaknya di NU itu, saya bisa belajar Islam secara menyeluruh dengan tetap menjadi orang Sunda. Jadi, saya memilih surganya NU, ringan, tidak berat,” ungkap Kang Dedi, sapaannya.

Siti Efi Farhati

Dalam kesempatan pemaparannya terkait sarung, Bupati yang dinilai berhasil dalam mengangkat budaya Sunda itu menjelaskan bahwa sarung juga telah lama menjadi identitas budaya dalam diri orang-orang Sunda dalam sejarah kosmologinya.?

“Tepatnya pada masa Kerajaan Galuh Pakuan sebelum lahirnya Kerajaan Padjadjaran,” jelas pria yang kerap memakai ‘udeng-udeng’ khas Sunda di kepalanya ini.

Dedi mengurai sarung secara filosofis, terutama dalam perspektif Budaya Sunda. Dia mengartikan sarung dengan mengurai kata “Sa” dan “Rung”.

Siti Efi Farhati

“Sa dalam bahasa Sunda berarti tidak terbatas, berlebihan. Ini sifat dasar manusia yang di dalam dirinya mengandung tanah, air, udara, dan api. Sudah mempunyai sertifikat tanah, tetapi manusia terus ingin memperlebar kepemilikan tanahnya,” ujar Kang Dedi, sapaan akrabnya.

Begitu juga dengan air, imbuhnya, manusia mempunyai kecenderungan memompa air sebanyak-banyaknya, padahal yang diminum hanya dua gelas. Menurutnya, udara dan api juga sama yang jika dimanfaatkan atau dikuasai secara belebihan akan mendatangkan bencana.

“Sebab itu diteruskan dengan kata ‘Rung’, artinya dikurung. Segala ketamakan manusia yang terdapat dalam keempat unsur tersebut berusaha dibatasi atau dikurung,” jelas Kepala Daerah yang mempunyai misi penguatan seni dan budaya Indonesia dalam tata kelola pemerintahannya ini. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Aswaja, Nahdlatul, Kiai Siti Efi Farhati

Jumat, 08 Desember 2017

Islamophobia dalam Perspektif Komunikasi

Oleh Hagie Wana



Akhir-akhir ini kita sering menjumpai kampanye melawan Islamophobia di media sosial. Gerakan ini giat disuarakan oleh kelompok yang merasa menjadi “sasaran” dari Islamophobia tersebut. Kini muncul kampanye berupa meme, foto, atau bentuk posting-an lainnya yang sedang digandrungi masyarakat cyber yang mengajak masyarakat Muslim, khususnya generasi muda untuk tidak ragu mengenakan jilbab syar’i, memanjangkan janggut, memakai celana cingkrang atau sebagainya dan menegaskan bahwa hal-hal tersebut bukanlah pakaian teroris.

Islamophobia dalam Perspektif Komunikasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Islamophobia dalam Perspektif Komunikasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Islamophobia dalam Perspektif Komunikasi

Fenomena yang menjangkiti sebagian besar masyarakat, bahkan termasuk umat Islam sendiri adalah memberikan stigma negatif terhadap mereka yang kental berpenampilan syar’i (seperti cadar, gamis, atau janggut panjang). Misalnya saja seorang muslimah yang berhijab syar’i—apalagi bercadar—sulit untuk diterima bekerja di dunia perkantoran. Di bank yang berlabel “syariah” pun rasanya tidak pernah kita jumpai teller/karyawan yang berhijab syar’i. Atau ada seorang pria yang mengenakan peci dan berjanggut lebat kadang mendapat “perhatian lebih” dari orang-orang di sekelilingnya apabila sedang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan. Kemudian ada orang yang sungkan dan ragu untuk membeli makanan hanya karena penjualnya memakai gamis dan sorban. Di beberapa negara maju, konon mereka yang memiliki nama dengan unsur bahasa Arab yang kental, agak sulit untuk mengurusi dokumen administrasi di wilayahnya. Seperti yang dialami rekan penulis, ia menceritakan pernah sampai diintrogasi oleh otoritas sebuah bandara karena memiliki nama yang kearab-araban. Atau berbagai contoh lain yang menggambarkan Islamophobia.

Fenomena ini sudah umum terjadi, atau bahkan mungkin kita sendiri terlibat didalamnya, entah sebagai orang yang menaruh curiga terhadap mereka yang berpenampilan syar’i, ataupun sebagai pihak yang menjadi sasaran dari kecurigaan tersebut. Kemudian banyak pula kita dapati postingan berbagai teori-teori yang mencoba menjelaskan fenomena ini. Ada yang mengatakan bahwa Islamophobia adalah bagian dari konspirasi zionis. Ada juga yang mengatakan bahwa Islamophobia adalah isu yang diembuskan oleh Barat untuk menghancurkan generasi Muslim, dan lain sebagainya.

Siti Efi Farhati

Lalu betulkah Islamophobia adalah bagian dari konspirasi? Betulkah ketakutan terhadap simbol-simbol Islam yang kerap diidentikan dengan terosisme adalah isu yang diembuskan oleh Barat? Dan teori lainnya yang menunjukkan bahwa ketakuan terhadap simbol-simbol Islam dimunculkan orang-orang non Islam.

Siti Efi Farhati

Berbicara kemungkinan, teori-teori di atas mungkin saja betul. Dan memang dapat diterima secara logis. Namun tidakkah kita sadari bahwa terkadang ketakutan terhadap simbol agama Islam terkadang dibuat oleh orang Islam itu sendiri? Ada pihak yang tidak terima ketika simbol-simbol Islam seperti cadar dan lain-lain disebut sebagai kostum teroris, namun di sisi lain “ketidakterimaan” mereka tidak dibarengi dengan langkah yang konkret. Hal ini bisa kita amati dari sikap mereka yang terkadang apatis atau bahkan cenderung mendukung aksi-aksi teror di saat masyarakat luas mengutuk aksi terorisme, atau sikap lainnya yang “melawan arah” lalu balik menuduh bahwa yang tidak sejalan dengan mereka adalah anti-Islam, perilaku kafir dan lain sebagainya.

Dalam perspektif ilmu komunikasi, apa yang kita tampilkan adalah pernyataan kita. Kemudian penampilan kita akan dipersepsi berbeda-beda oleh orang lain. Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi (Rakhmat:2015) dan persepsi seseorang boleh jadi sesuai, boleh juga tidak sesuai dengan kepribadian aslinya.

Mereka (orang non-Muslim atau mungkin umat Islam sendiri) yang phobia dengan simbol-simbol Islam tidak sepenuhnya salah karena itu persepsi mereka berdasarkan pengalaman yang mereka alami sendiri. Oleh sebab itu upaya nyata melawan Islamophobia adalah dengan cara menampilkan perilaku pribadi muslim yang humanis, fleksibel, atau istilah santri mengatakan shahih likulli zaman wa makan (relevan dengan segala kondisi) kemudian membuktikan bahwa pakaian syar’i bukanlah pakaian teroris dapat direfleksikan dengan upaya menolak segala bentuk kekerasan/aksi teror yang mengatasnamakan agama. Jika sudah berada di barisan depan dalam menolak aksi teror, akankah publik masih mencap bahwa yang berpenampilan syar’i adalah teroris?

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Dakwah Dan Komunikasi UIN SGD Bandung



Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Ulama, Nasional, Aswaja Siti Efi Farhati

Kamis, 07 Desember 2017

Banom dan Lembaga NU NTB Santuni Yatim

Mataram, Siti Efi Farhati

Gabungan badan otonom dan lembaga Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat (NTB) menyantuni anak yatim di Aula PWNU NTB Jalan Pendidikan No 6 Kota Mataram Sabtu (02/07) sore.

Banom dan Lembaga NU NTB Santuni Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Banom dan Lembaga NU NTB Santuni Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Banom dan Lembaga NU NTB Santuni Yatim

Banom yang tergabung dalam santunan ini adalah PW GP Ansor NTB, Lakpesdam NU NTB dan PC GP Ansor Mataram.

"Ini bertujuan untuk membangun kebersamaan dan memperkuat silaturrahim serta berbagi dengan anak yatim," kata Viken Madrid, koordinator acara sekaligus ketua Lakpesdam NU NTB ini.

Pihaknya ingin berbagi saja, tambahnya, agar anak-anak yatim merasakan rezeki dari NU melalui badan otonomnya.

"Semoga ke depan kami bisa berbagi tidak hanya di bulan Ramadhan, tapi di bulan-bulan biasa juga penting karena ini anak yatim," harapnya.?

Siti Efi Farhati

Puluhan pengurus banom tampak hadir dan puluhan yatim dari Panti Asuhan Al-Amin Kota Mataram juga tampak semangat. (Hadi/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Kajian, Aswaja Siti Efi Farhati

Rabu, 06 Desember 2017

Membela Kehormatan Nusantara di Timur Tengah

Orang-orang Nusantara pada abad 17 hingga19 banyak menimba ilmu di Haramain. Tak sedikit para santri itu di kemudian hari mencapai keilmuan yang setaraf ulama internasional. Mereka menjadi khatib, imam, memimpin pengajian dengan murid dari berbagai negara. Tak hanya itu, keilmuan mereka ditunjukkan dengan menulis banyak karya. Di antara ulama yang mencapai taraf seperti itu adalah Syekh Mukhtar Atharid Al-Bughuri.?

Meski demikian, komentar miring kadang sering dilontarkan orang Arab kepada orang Nusantara dengan perkataan “Ya Jawah-jawah baqar. Ya jawah, ya jawah ya’kul hanasy, hai orang Jawa, hai orang jawa yang seperti sapi. Hai orang Jawa, hai orang Jawa yang memakan sejenis ular. (hal.93)

Membela Kehormatan Nusantara di Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)
Membela Kehormatan Nusantara di Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)

Membela Kehormatan Nusantara di Timur Tengah

Konon pada masa Syekh Mukhtar Atharid Al-Bughuri berkiprah di Masjidil Haram, terjadi polemik tentang hukumnya belut yang sering dikonsumsi orang-orang Nusantara. Pada masa tersebut, ulama Timur Tengah ada yang mengharamkan memakan belut karena dianggap sebagai bagian dari jenis ular. Syekh Mukhtar Atharid mengatakan:

“Pada permulaan tahun 1329 H, terjadilah debat di antara orang yang disandarkan kepada ilmu dengan orang selevelnya dari para ulama Jawa mengenai masalah belut. Di antara mereka terjadilah korespondensi tanya jawab. Salah satu di antara mereka berdua berkata mengenai keharaman belut. Dia menyandarkan hal tersebut dengan beberapa hal samar yang akan saya terangkan serta sanggahannya, tanpa menukil pendapat ulama madzhab dan kitab-kitab mereka. Sedang pihak lain menyanggah jawaban tersebut dan berkata mengenai kehalalan belut itu dengan bersandar bahwa belut termasuk dalam keumuman halalnya hewan laut, di mana yang dikehendaki adalah air secara mutlak seperti keterangan yang akan datang, dengan menukil dari kitab-kitab tafsir dan tidak mampunyai hewan itu hidup di daratan.” (hal. 1-2)?

Sebagai orang Nusantara yang pernah memakan dan menyukai belut, Syekh Mukhtar Atharid Al-Bughuri memberikan penjelasan dalam bentuk karya “As-Shawa’iqul Muhriqah lil Auhamil Kazibah fi Bayani Hillil Baluti war Raddu ‘ala man Haramahu”. Karya yang diselesaikan pada 8 Muharram 1329 H itu kini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Amirul Ulum dan Khairul Anwar. Pada kitab itu, ia membela kehormatan orang-orang Nusantara.?

Kitab tersebut disusun ke dalam 10 bagian. Bagian pertama pengantar dari pengarang yang menjelaskan asal-mula polemik masalah belut tersebut. Bagian kedua membahas hal-hal yang berkaitan dengan belut yaitu pembagian jenis-jenis hewan. Bagian ketiga membahas tentang makna lautan yang disandarkan pengarang kepada ulama-ulama lain.?

Siti Efi Farhati

Pada bagian ini, pengarang menyebutkan, bahwa firman Allah dalam surat Al-Maidah: 96, sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Jamal yang mengutip Tafsir Khazin; yang dimaksud lautan adalah semua air, baik yang tawar maupun asin, sungai, lautan, ataupun kolam. (hal. 29).?

Pada bagian keempat, pengarang menjuduli babnya dengan “Ancaman Terlalu Mudah Memberi Hukum Halal atau Haram atas Suatu Perkara Tanpa Dalil Syar’i”. ?

“Bagi orang yang tidak memiliki kemampuan berfatwa, tidak diperkenankan berfatwa mengenai perkara yang tidak dia temukan tertulis dalam kitab. Walaupun dia menemukan satu perkara yang sama, atau beberapa perkara. Orang yang ahli dalam faqih adalah orang yang ahli dalam kaidah ushul imamnya, semua bab dari ilmu Fiqih. Sekiranya dia mampu menganalogikan suatu perkara yang tidak dinash oleh imamnya. Ini adalah suatu kedudukan yang sangat agung, dan tidak ditemukan pada saat ini. Karena itu adalah kedudukan para Ashab al-Wujuh, dan mereka telah terputus sejak masa 400 tahun.” (hal. 33)

Bagian lima, pengarang menukil penjelasan Imam Ibnu Hajar dalam kitab “Fatawi Kubra” yang menukil Imam Nawawi dalam kitab “al-Majmu” yang berkaitan dengan cara berpendapat dalam hukum agama. Bagian keenam membahas pendapat para imam mengenai kehalalan hewan seperti belut dan belut itu sendiri. Bagian ketujuh membahas bentuk dan dingkah laku belut. Pada bagian kedelapan, menyebutkan bahwa belut adalah hewan yang hidup di air. ?

Siti Efi Farhati

Pada bagian kesembilan, barulah pengarang menetapkan hukum belut. Pada bagian ini, pengarang mencantumkan berbagai pendapat ulama yang mengatakan haramnya belut. Kemudian pengarang membantahnya dan menjelaskan argumentasinya. Sementara bagian kesepuluh, pengarang menjelaskan hukum memakan beberapa jenis hewan seperti remis, keong, tutut.?

Pada versi terjemahan Amirul Ulum, dicantumkan naskah asli “As-Shawa’iqul Muhriqah lil Auhamil Kazibah fi Bayani Hillil Baluti war Raddu ‘ala man Haramahu”, tapi sayangnya tidak terlalu jelas.?

Peresensi adalah Abdullah Alawi





Data Buku

Judul asli : As-Shawa’iqul Muhriqah lil Auhamil Kazibah fi Bayani Hillil Baluti war Raddu ‘ala man Haramahu

Penulis : Syekh Mukhtar Atharid Al-Bughuri

Judul terjemahan : Kitab Belut Nusantara

Penerjemah : Amirul Ulum dan Khairul Anwar

Tebal : xii+98 halaman

Cetakan : Juli, 2017

Penerbit : CV. Global Press

ISBN : 978-602-61890-0-4

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Syariah, Aswaja, Ubudiyah Siti Efi Farhati

Senin, 04 Desember 2017

Keluarga Besar KHA Wahid Hasyim Gelar Peringatan 100 Tahun

Jakarta, Siti Efi Farhati. Keluarga besar KHA Wahid Hasyim menggelar peringatan 100 tahun KHA Wahid Hasyim tahun ini. Peringatan digelar dalam skala nasional karena karena KH Abdul Wahid Hasyim adalah tokoh nasional.

Demikian dinyatakan oleh puteri KH Abdul Wahid Hasyim, Aisyah Hamid Baidhowi kepada Siti Efi Farhati di Jakarta, Jumat (25/2). Menurut Aisyah , peringatan digelar dalam berbagai agenda, mulai dari seminar, diskusi ilmiah hingga pengajian umum.

Keluarga Besar KHA Wahid Hasyim Gelar Peringatan 100 Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)
Keluarga Besar KHA Wahid Hasyim Gelar Peringatan 100 Tahun (Sumber Gambar : Nu Online)

Keluarga Besar KHA Wahid Hasyim Gelar Peringatan 100 Tahun

"Kita memang mengagendakan acara di berbagai kota. Dari Jakarta hingga Jombang Jawa Timur," tutur adik kandung Gus Dur ini.

Siti Efi Farhati

Lebih lanjut Aisyah menjelaskan, kepanitiaan dikoordinir oleh keluarga dan melibatkan berbagai pihak dari unsur-unsur masyarakat NU. Keluarga membuka diri kepada pihak-pihak yang ingin bergabung dalam peringatan 100 tahun KHA Wahid Hasyim tahun ini.

"Peringatan 100 tahun ini dihitung dengan tahun qomariyah (tahun Hijriyah). Sedangkan jika dihitung dari tahun syamsiyah (Masehi), mestinya tiga tahun ke depan," tandas Aisyah.

Siti Efi Farhati

Kiai Haji Abdul Wahid Hasjim (lahir di Jombang, Jawa Timur, 1 Juni 1914 – meninggal di Cimahi, Jawa Barat, 19 April 1953 pada umur 38 tahun) adalah pahlawan nasional Indonesia dan menteri negara dalam kabinet pertama Indonesia. Ia adalah ayah dari presiden keempat Indonesia, Abdurrahman Wahid dan anak dari Hasyim Asyarie, salah satu pahlawan nasional Indonesia. Wahid Hasjim dimakamkan di Tebuireng, Jombang. (min)Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Aswaja Siti Efi Farhati

Kamis, 30 November 2017

Alumni PMII Ini Rintis MTs Pertama di Desa Toblongan

Tasikmalaya, Siti Efi Farhati. Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Tasikmalaya Eris Zam Zam Noor berkiprah di masyarakat dalam bidang pendidikan dengan merintis pendirian sekolah dan memajukan pesantren di Kampung Datarpetir Desa Toblongan Bojongasih Tasikmalaya, Jawa Barat.

Alumni PMII Ini Rintis MTs Pertama di Desa Toblongan (Sumber Gambar : Nu Online)
Alumni PMII Ini Rintis MTs Pertama di Desa Toblongan (Sumber Gambar : Nu Online)

Alumni PMII Ini Rintis MTs Pertama di Desa Toblongan

Sekolah yang ia rintis bernama Madrasah Tsanawiyah Tholabul Hidayah didirikan 9 Juni 2013. MTs ini adalah MTs pertama dalam sejarah Desa Toblongan. MTs ini berada dibawah naungan Yayasan Pesantren Tholabul Hidayah. Sebuah Pesantren yang didirikan pada 9 Juni 1922 oleh Ajengan Ahmad Syaepudin ? yang merupakan santri dari KH Zainal Musthafa Sukamanah, dan ia juga adalah salah seorang santri yang ikut bertempur pada masa penjajahan Jepang bersama KH Zainal Musthafa ? dan Wafat ? pada 1 Syawal 1433 H.

Eris Berkiprah di PMII Sebagai Anggota Kemudian Menjadi ? Sekretaris Komisariat PMII Institut Agama Islam Cipasung Pada Tahun 2008 – 2011. Saat ditemui di Kediamannya Di Kampung Datarpetir Toblongan Bojongasih, ? Tasikmalaya Kamis (24/09). ? Eris menuturkan bahwa Madrasah ini didirikan Karena Sekolah dengan Jenjang yang Sama Sulit dijangkau oleh Masyarakat, Karena akses yang Jauh, apalagi Mayoritas Masyarakat disini Petani.

Siti Efi Farhati

“Madrasah ini juga untuk memajukan pesantren yang didirikan kakek saya yang kian hari dan kian lama susah berkembang karena tidak adanya pendidikan formal, dan ? masyarakat sekarang ? cenderung mengutamakan pendidikan formal, dan usia SLTP disini banyak ? meninggalkan desa Untuk bekerja di luar kota atau sebagian sekolah di luar desa sehingga pesantrenpun susah berkembang, untuk mengimbangi itu harapan saya dengan MTs ini Pendidikan Masyarakat bisa meningkat dan memajukan Pesantren Tholabul Hidayah,” papar Eris.

Siti Efi Farhati

Madrasah ini, lanjutnya, memiliki visi Melahirkan peserta didik yang yang cerdas, berkarakter keislaman, kebangsaan serta berwawasan budaya. Oleh karena itu ke-NU-an dan ke-Aswaja-an menjadi mata pelajaran di MTs ini agar siswa paham nilai dari Islam, Indonesia dan hubungan budaya dengan fikih sejak dini.

Pemuda 26 tahun itu melanjutkan, Madarasah ini dibiayai dengan swadaya karena belum menerima Bantuan Oprasional Sekolah (BOS). Karena itu, dirinya selalu memberikan semangat ? kepada para pengajar bahwa mendidik adalah tugas besar yang diemban secara terhormat oleh orang-orang terhormat dan kita disini membangun bangsa bersama sama dengan mendidik. (Husni Mubarok/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nahdlatul Ulama, Aswaja Siti Efi Farhati

Selasa, 28 November 2017

Baanar, Tameng Api Neraka dari Narkoba

Bondowoso,Siti Efi Farhati. Kepala Nasional Baanar (Baanar) Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Idy Muzayyad mendukung hukuman tegas untuk pengedar dan bandar narkoba. Bahkan, menurut dia, Baanar? setuju memberlakukan hukuman mati.

“Kami mendukung hukuman mati. Mereka tidak mau dihukum mati, tapi mereka menghukum membunuh rakyat kita 30 orang lebih setiap hari. Ini tidak adil, maka hukuman mati sebagai ketegasan,” katanya pada Deklarasi Badan Ansor Anti Narkoba (Baanar) dan Pemuda-Santri Bondowoso Anti Narkoba di Pondok Pesantren Mambaul Ulum Desa Tansil Wetan Kecamatan Wonosari Kabupaten Bondowoso Sabtu (27/8) sore.

Baanar, Tameng Api Neraka dari Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Baanar, Tameng Api Neraka dari Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Baanar, Tameng Api Neraka dari Narkoba

Idy mengemukakan, menurut data dari Badan Narkotika Nasional (BNN), setiap hari ada 30 hingga 40 orang meninggal gara-gara narkoba. Menurut sumber yang sama pengguna narkoba saat ini ada sekitar 5,9 juta.

Siti Efi Farhati

Narkoba, tambahnya, sudah memasuki ke segala lini dengan mudahnya. Bahkan pesantren sekalipun menjadi tempat potensial untuk menjadi tempat peredaran barang berbahaya itu.

"Kalau pesantren saja potensial, apalagi lembaga yang lain. Karena itu tidak bisa pemerintah bekerja sendirian dan masyarakat juga tidak bisa sendiri. Harus ada sinergi dengan pihak lain. Kami sebagai pemuda mendukung ketegasan aparat keamanan dalam menghadapi peredaran narkoba ini," jelasnya.

Siti Efi Farhati

Baanar itu Badan Ansor Anti Narkoba. Logo berbentuk tameng, di dalamnya ada pemuda sehat tanpa narkoba yang warnanya putih, adalah hasil istikharah. "Artinya Baanar menjadi tameng khususnya kalangan muda dan umumnya warga NU dari bahaya narkoba," kata dia menjelaskan organisasi baru di tubuh Gerakan Pemuda Ansor? tersebut.

Baanar ini, tambah pria yang pernah Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama, yaitu kependekan dari “waqina adzaa baanar”. Artinya jauhkan kami dari api neraka gara-gara narkoba.

Deklarasi tersebut dihadiri Wakil Bupati Bondowoso Salwa Arifin, para Muspika dan Muspida Bondowoso, Pengurus NU Bondowoso, banom-banom NU Bondowoso, santriwan-santriwati Mambaul Ulum, PKH se-Kabupaten Bondowoso dan wali santri PP Mambaul Ulum. (Ade Nurwahyudi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kyai, Aswaja Siti Efi Farhati

Sabtu, 25 November 2017

Ini Klarifikasi Aksi di Lumajang soal Teriakan ‘Bunuh Menteri’

Jakarta, Siti Efi Farhati. Aksi damai yang dilakukan oleh Aliansi Masyarakat Peduli Pendidikan Indonesia (AMPPI) soal penolakan kebijakan lima hari sekolah, Senin (14/8) di Lumajang, Jawa Timur dikejutkan oleh sebuah video viral para anak-anak yang meneriakkan ‘bunuh menteri’.

Video berdurasi 1:03 menit tersebut menjadi sumber pemberitaan sejumlah media sehingga AMPPI perlu melakukan klarifikasi terhadap pemberitaan miring yang beredar berdasarkan video tersebut.

Ini Klarifikasi Aksi di Lumajang soal Teriakan ‘Bunuh Menteri’ (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Klarifikasi Aksi di Lumajang soal Teriakan ‘Bunuh Menteri’ (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Klarifikasi Aksi di Lumajang soal Teriakan ‘Bunuh Menteri’

Berikut klarifikasi AMPPI sebagai penanggung jawab aksi yang ditandatangani oleh Gus Nawawi (Koordinator Umum Aksi) dan Khoirun Nasichin (Koordinator Lapangan Aksi) yang diterima Siti Efi Farhati pada Senin (14/8/2017):

Kronologi aksi:

Siti Efi Farhati

1. Pukul 08.00 WIB pada Senin, 7 Agustus 2017, seluruh pimpinan aksi sudah berkumpul di tempat utama aksi. Tidak ada acara long march. Karena acara utamanya adalah istighotsah.?

2. Setelah pimpinan aksi berkumpul, peserta aksi mulai berdatangan dan aparat keamanan berseragam lengkap juga sudah berjaga di lokasi.?

3. Sekitar pukul 08.30 WIB, peserta aksi dari beberapa Pondok Pesantren Sekitar lokasi Aksi (depan gedung DPRD Kabupaten Lumajang) berjalan kaki. Sebelum masuk arena Aksi, peserta aksi ini meneriakan yel-yel yang tidak jelas karena banyaknya massa yang hadir. Apakah yel-yel itu berbunyi cabut menterinya, kubur menterinya, mundur menterinya, atau bunuh menterinya. Semua tidak jelas.?

4. Melihat Situasi itu Korlap Aksi Bersama Keamanan dari Polres Lumajang berupaya untuk mengendalikan massa dengan meminta peserta aksi untuk bergabung kedalam barisan Istighosah.?

Siti Efi Farhati

5. Pukul 08.45 WIB Semua massa terkendali dan mengikuti acara istighosah dengan khidmat yang dipimpim oleh KH Ahmad Hanif dan KH Ahmad Qusairy dari Syuriyah PCNU Lumajang.?

6. Pukul 09.30 WIB dilanjukan dengan orasi oleh Korlap yang berisi tuntutan pencabutan Permendikbud no 23 tahun 2017. Dilanjutkan dengan statement Ketua Komisi D DPRD Kab. Lumajang (Sugianto) dan diiringi pernyataan sikap oleh Kordum aksi, Gus Nawawi.

7. Pukul 10.15 WIB acara Doa Bersama dan peserta aksi membubarkan diri dikawal oleh Polsek masing-masing Kecamatan.

8. Pukul 24.00 WIB dilaporkan oleh pihak keamanan Polres Lumajang bahwa seluruh peserta aksi sampai ke rumah masing-masing dengan selamat.?

?

Kesimpulan:

1. Bahwa acara aksi damai menolak kebijakan FDS Lima hari sekolah oleh AMPPI telah mendapatkan izin dari pihak Polres Lumajang No: STTP/02/VIII/2017/SAT.IK.

2. Konten acara Aksi Damai Tolak FDS Lima Hari Sekolah di kabupaten Lumajang Tanggal 07 Agustus 2017 berisi doa Bersama dan Istighotsah yang dipimpin oleh Katib Syuriyah PCNU Lumajang.

3. Terkait Anak-anak yang hadir pada acara tersebut adalah santri yang diajak oleh orang tua (wali santri).?

4. Tidak ada instruksi untuk mengeluarkan kalimat-kalimat yang tidak pantas seperti yang di-upload dan disebarkan oleh media yang tidak suka dengan aksi tersebut.?

5. Kalau pun benar, pasti di luar tempat istighotsah, dan tidak termasuk dalam rangkaian aksi, dan pastinya kita akan ingatkan dan bina selanjutnya.?

6. Meminta pemerintah, tidak defensif menghadapi aspirasi soal FDS yang hanya akan ciptakan kebrisikan baru.?

7. Terkait press release yang dikeluarkan oleh KPAI tidak berdasarkan fakta yang sebenarnya, karena hanya didasarkan pada video, dan pihak KPAI tidak melakukan klarifikasi terhadap penanggung jawab aksi.?

8. Kepada semua pihak, kami mohon untuk tidak terpancing dan tidak memberikan informasi apapun terkait aksi damai tolak FDS lima hari sekolah tersebut sebelum mengklarifikasi kepada pananggung jawab aksi.?

(Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Aswaja, AlaSantri, Olahraga Siti Efi Farhati

Selasa, 21 November 2017

Inilah Ciri Khas Pendidikan Pesantren

Pati, Siti Efi Farhati - Rais Syuriyah NU Kabupaten Pati KH M Aniq Muhammadun memaparkan sejumlah karakter khusus pendidikan pesantren. Pesantren, menurutnya, lembaga pendidikan yang unik. Selain menyampaikan ilmu pengetahuan, pesantren juga mendidik perilaku santri.

Demikian disampaikan Kiai Aniq dalam bedah buku Peran Pesantren Dalam Kemerdekaan dan Membela NKRI karya Ketua Program Studi Zakat dan Wakaf IPMAFA Dr Jamal Mamur Asmani di Pesantren Darun Najah Ngemplak Kidul, Margoyoso, Pati, Jumat (15/4).

Inilah Ciri Khas Pendidikan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Ciri Khas Pendidikan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Ciri Khas Pendidikan Pesantren

Menurut Kiai Aniq, pesantren berbeda dengan pendidikan lain. Pesantren mendidik para santri, tidak hanya lewat teori dan ucapan, tapi dibuktikan dalam tindakan. Sehari-hari para santri hidup bersama kiai melihat dan merekam perilaku kiai sebagai teladan. Apa yang diajarkan kiai diamalkan kiai sehingga sinar ilmunya menembus hati dan jiwa santri.

“Transformasi keilmuan di pesantren diikuti dengan transformasi moral dan semangat juang,” kata Kiai Aniq.

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati

Dalam konteks perempuan misalnya, menurut Kiai Aniq, pesantren memunyai aturan yang jelas sehingga perempuan dijaga kehormatannya seperti menutup aurat dan adanya pelindung saat bepergian, apakah mahram atau sekelompok wanita yang tepercaya.

Jika ini dilakukan, kecil kemungkinan santri terjebak dalam trafficking yang sedang ramai sekarang ini. Santri-santri putri tetap aman dan terhindar dari kemaksiatan, kata Kiai Aniq.

Pengasuh Pesantren Darun Najah KH Muslich Abdurrahman berharap bedah buku ini bermanfaat untuk para santri sehingga mereka termotivasi untuk belajar dan berlatih menulis untuk meneruskan tradisi ulama-ulama zaman dulu.

Sementara Dr Jamal Mamur mengemukakan, pesantren mampu mengemban tugasnya, baik di bidang agama dengan membangun karakter, pendidikan dengan mengajari berbagai ilmu keagamaan dan kemasyarakatan, sosial-ekonomi dengan memberdayakan masyarakat, budaya dengan melakukan islamisasi budaya sehingga terjadi integrasi agama dan budaya, dan politik kebangsaan dengan peran-peran kebangsaan pra dan pascakemerdekaan.

Kemampuan pesantren mengemban tugas besar ini tidak lepas dari kemampuan para kiai memahami agama secara mendalam dan memahami psikologi-antropologi masyarakat sehingga strategi dakwahnya disesuaikan dengan kultur masyarakat.

Peran pesantren ini harus terus digalakkan ke depan. Semangat intelektualitas santri harus didinamisasi supaya lahir pemikir-aktivis santri dengan kapasitas dan mobilitas tinggi seperti para kiai NU.

Selain itu, visi sosial dan politik kebangsaan santri juga harus diasah dengan pemberdayaan ekonomi kerakyatan, peningkatan kualitas pendidikan, dan perlindungan kepada orang-orang yang membutuhkan, khususnya kaum miskin-papa. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pesantren, Sholawat, Aswaja Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock