Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Februari 2018

Gerakan Kelompok Intoleran Mengoyak Persatuan Bangsa

Jakarta, Siti Efi Farhati. Belakangan ini bergolak sebuah pertanyaan kritis di masyarakat: masih berfungsikah imaji kolektif kita sebagai bangsa? Fenomena gerakan-gerakan intoleran dari sekelompok orang akhir-akhir ini tampaknya ingin mengoyak-oyak persatuan dan kesatuan negeri ini.

Begitulah pertanyaan yang terlontar ketika Abdul Ghopur, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB), Selasa (31/10) memberikan sambutan pada Harlah Ke-5 LSB, Selasa (31/10) di Gedung PBNU Jakarta.

Gerakan Kelompok Intoleran Mengoyak Persatuan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan Kelompok Intoleran Mengoyak Persatuan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan Kelompok Intoleran Mengoyak Persatuan Bangsa

Dalam acara bertema Menggali Mitos, Membangun Etos ini, ia menjelaskan, bangsa Indonesia adalah “konsepsi kultural” dan “konsepsi politik” tentang sebuah entitas yang tumbuh berdasarkan kesadaran politik untuk merdeka dengan meletakkan individu ke dalam kerangka kerakyatan. 

“Dalam kerangka ini, setiap rakyat dipertautkan dengan suatu komunitas politik dalam kedudukan yang sederajat di depan hukum, dengan operasi atas prinsip kekariban, keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan bersama,” ujar Abdul Ghopur di depan para pemuda dan aktivis lintas pergerakan yang menghadiri acara tersebut.

Namun saat bersamaan, sambung Ghopur, Indonesia juga masih mengalami persoalan mendasar, yakni merosotnya nilai-nilai kebangsaan, nasionalisme dan semangat kemajemukan sebagai bangsa yang multikultural. 

Siti Efi Farhati

“Masih saja ada upaya pengingkaran terhadap pluralitas bangsa Indonesia yang setiap saat dapat saja muncul ke permukaan,” ungkapnya dalam kegiatan yang dibarengi dengan peluncuran buku Indonesia Ruma Kita dan Refleksi Sumpah Pemuda ke-89 ini.

Sebagai bangsa yang multietnis, ras, suku, budaya, bahasa dan agama, secara jujur kita masih belum bisa menghilangkan atau paling tidak meminimalkan apa yang disebut dengan barrier of psychology (batas psikologis/prasangka) terhadap sesama anak bangsa. 

Siti Efi Farhati

“Itulah yang kerap memunculkan konflik bernuansa SARA di negeri ini secara vertikal maupun horisontal,” tukas penulis Buku Indonesia Rumah Kita ini. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Makam, Kajian, Fragmen Siti Efi Farhati

Kamis, 01 Februari 2018

Trio Tebuireng dari Pulau Tidung

Jauh-jauh datang dari Pulau Tidung Kepulauan Seribu, Rasyad muda tak berhasil menemukan batang hidung orang yang dicarinya di Pesantren Modern Gontor Jawa Timur. Dari kampungnya ia sudah bertekad kuat belajar di pesantren yang mewajibkan setiap santri berbahasa Arab-Inggris itu.?

Waktu itu tahun di kalender Masehi tertulis 1957. Datang ke Gontor, ia diantar seorang guru asal Madiun yang mengajar di Pulau Tidung. Rasyad muda beruntung. Tak banyak orang pulau yang berkesempatan mengeyam pendidikan pesantren di Jawa Timur itu. Ayah Rasyad seorang gongsol nelayan yang cukup sukses. Dengan belajar di Gontor, ia berharap bisa mendapat pelajaran agama sekaligus umum selepas lulus dari sekolah dasar.?

Orang yang dicari Rasyad muda adalah Dja’far, pemuda sekampung yang usianya lebih tua beberapa tahun. Empat tahun sebelumnya Dja’far nyantri di Gontor. Rasyad tahu jika Dja’far sudah pindah pesantren dari beberapa santri Gontor yang ia temui. Salah satunya asal Banten. Kata mereka, Dja’far sudah pindah ke Tebuireng, pesantren yang didirikan Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdatul Ulama.?

Tinggal selama seminggu di Gontor, Rasyad muda lalu menyusul Dja’far ke Tebuireng. Ia tak sendiri. Beberapa santri asal Banten ikut pindah berangkat ke Tebuireng. “Mereka tak betah,” kata Ustad Haji Abdul Rasyad seperti dituturkan pada saya sore ini melalui telpon.

Trio Tebuireng dari Pulau Tidung (Sumber Gambar : Nu Online)
Trio Tebuireng dari Pulau Tidung (Sumber Gambar : Nu Online)

Trio Tebuireng dari Pulau Tidung

Di Jombang, dua orang sekampung ini bertemu di Pesantren Seblak, tak jauh dari pesantren Tebuireng. Sekarang ini Seblak diteruskan oleh keturunan Nyai Khoiriyyah, puteri KH Hasyim Asy’ari. Selama empat tahun, bersama ayah saya, Ustad Haji Rasyad nyantri di Seblak dan Tebuireng.?

Di Pesantren ini pula, Djafar dan Ustad Haji Abdul Rasyad muda bertemu dengan Abdul Ghani muda asal Banten. Sebelum di Tebuireng, seperti dituturkan Mawardi, putera kedua Abdul Ghani, ayahnya mondok di Pesantren milik ayah KH Maruf Amin, ketua MUI Pusat.

Saat Rasyad dan Dja’far kembali ke pulau, Ustad Haji Abdul Ghani berniat ikut serta dan hijrah ke Tidung. Di pulau Haji Abdul Rasyad memfasilitasi Ustad Haji Abdul Ghani mengajar di madrasah ibtidaiyah. Kelak trio Tebuireng ini yang mendirikan Madrasah Tsanawiyah Pulau Tidung bersama sejumlah tokoh lain pada 1969.?

Siti Efi Farhati

Kepala sekolah pertama madrasah tempat saya belajar itu adalah Ustad Haji Abdul Rasyad. Setelah itu digantikan Ustad Haji Abdul Ghani. Kini dua trio sudah “dipanggil” tuhan lebih dulu. Ustad Haji Muhammad Dja’far bin Haji Fathullah tahun 1997, Ustad Haji Abdul Ghani pada 2001. Muhammad Dja’far, Bapak saya. Abdul Ghani, kepala sekolah tsanawiyah saat saya belajar di sana sejak 1992.

Sekarang ini Ustad Haji Abdul Rasyad sehari-hari memimpin Yayasan Nurul Huda yang membawahi pengelolaan Masjid Nurul Huda, masjid utama di Tidung. Puteranya, Jihadi meneruskan kiprah ayahnya sebagai pengajar. Ia guru Sejarah Kebudayaan Islam saat saya belajar di Tsanawiyah ini.?

Puteri tertua Ustad Haji Abdul Ghani, Zakiah, juga demikian. Ia pernah menjadi guru dan kepala sekolah di Tsanawiyah dan sekarang pengawas di Madrasah Aliyah Yayasan PKU di Tidung. Seorang putranya, Ustad Mawardi, pernah memimpin Pengurus Cabang Nadhlatul Ulama Kepulauan Seribu. Ia mantan pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Ciputat (PMII) saat menjadi mahasiswa di IAIN Ciputat –sekarang UIN. Di organisasi ini pula saya pernah berkiprah. (Alamsyah M Djakfar)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Fragmen Siti Efi Farhati

Jumat, 19 Januari 2018

PMII Perkuat Kaderisasi

Pontianak, Siti Efi Farhati. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dikenal sebagai organisasi pencetak pemimpin hebat di negeri ini.?

PMII Perkuat Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Perkuat Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Perkuat Kaderisasi

Salah satu kadernya adalah, Menteri Tenaga Kerja, Muhaimin Iskandar. PMII terus mencetak pemimpin baru dengan cara memperkuat kaderisasi.

“Kita memperkuat doktrin kaderisasi. Mahasiswa yang telah melewati kaderisasi PMII, dia harus lebih peka terhadap masyarakat dan negeri ini. Kepekaan sosial inilah yang terus kita tanamkan agar kader PMII memberikan manfaat bagi negara dan bangsa,” kata Ketua Umum PB PMII, Addin Jauharuddin saat temu kader di Pondok Nelayan Pontianak, Jumat (10/5) lalu.

Siti Efi Farhati

Dijelaskan pria kelahiran Cirebon ini, PMII memiliki basis di kampus-kampus. Untuk itu, ada tiga hal yang saat ini diperkuat, yakni taat organisasi, kaderisasi, dan memperkuat basis di kampus. Masuk PMII itu berarti masuk dunia organisasi. Seorang kader PMII harus memahami seluk beluk berorganisasi.

“Kalau sudah memahami tata cara berorganisasi, di masyarakat akan mudah bergaul dan masuk ke dunia apa saja. Bukan tidak mungkin, kader PMII akan menjadi pemimpin di masyarakatnya,” ujar Addin.

Siti Efi Farhati

Salah satu kekuatan organisasi adalah militansi. Saat melakukan sebuah pergerakan untuk mencapai tujuan, diperlukan militansi dan kekompakan. Untuk mendapatkan militansi, diperlukan kaderisasi yang mantap.?

“Kemudian, kita memperkuat basis di kampus terutama yang umum. Maksudnya, PMII tidak lagi memiliki basis di kampus Islam, melainkan juga di perguruan tinggi umum. Tujuannya, PMII tak lagi membicarakan masalah agama an sich, melainkan persoalan apa saja yang dihadapi masyarakat,” beber pria yang sedang kuliah S2 di Universitas Nasional Jakarta.

Sosok kader PMII nantinya tidak hanya hebat dalam berbicara agama, melainkan juga politik, ekonomi makro, ekonomi mikro, kedokteran, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Dengan keragaman kader seperti itu akan membuat PMII semakin kuat di masyarakat.?

“Selain itu, kita juga meminta seluruh kader dalam melaksanakan agenda formal harus di kampus. Sebab, PMII basis utamanya di kampus. Jangan lari dari kampus,” instruksi Addin.?

PMII bisa dikatakan sebagai organisasi kemahasiswaan yang sangat besar di Indonesia. Hampir seluruh kampus di Indonesia ada PMII-nya. Wajar apabila pemerintah banyak menaruh harapan pada PMII untuk bisa mengkader mahasiswa jadi pemimpin hebat.

“Pemerintah telah mempercayai kita untuk menyelenggarakan ASEAN Youth Assembly. Kepercayaan tersebut sebagai wujud nyata PMII untuk pemuda dan Indonesia. Kita terus berkiprah agar bisa melahirkan pemimpin masa depan Indonesia,” tekad Addin.?

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Rosadi Jamani?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Fragmen, Kajian Islam Siti Efi Farhati

Minggu, 14 Januari 2018

Usai Bahtsul Masail, Kiai Ihya Sampaikan Amanat Ke-NU-an

Pamekasan, Siti Efi Farhati. Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kadur Kabupaten Pamekasan melangsungkan bahtsul masail, Jumat (15/12) siang. Kegiatan yang ditempatkan di Pesantren Karang Anyar Desa Pamoroh tersebut dihadiri oleh Rais Syuriyah KH Ihyauddin Yasin.

Usai Bahtsul Masail, Kiai Ihya Sampaikan Amanat Ke-NU-an (Sumber Gambar : Nu Online)
Usai Bahtsul Masail, Kiai Ihya Sampaikan Amanat Ke-NU-an (Sumber Gambar : Nu Online)

Usai Bahtsul Masail, Kiai Ihya Sampaikan Amanat Ke-NU-an

Usai bahtsul masail, Kiai Ihya menyampaikan satu amanat yang harus dijalankan oleh pengurus ranting NU yang tersebar di 10 desa yang ada di Kecamatan Kadur. Amanat tersebut berkaitan dengan kegiatan Pelatihan Kader Penggerak (PKP) NU yang diadakan oleh PCNU Kabupaten Pamekasan di Pesantren Miftahul Anwar, Jumat-Ahad (22-24/12) mendatang.

"Kami amanatkan kepada seluruh pengurus ranting untuk mengutus kader atau pengurusnya ikut PKP yang tempatnya di pesantren kami. Minimal 2 orang. Kalau bisa mendelegasikan 10 orang tiap ranting sebagai peserta PKP," tegas Kiai Ihya.

Wakil Ketua PCNU Pamekasan tersebut memohon dengan hormat kepada seluruh jajaran pengurus NU untuk bisa mengindahkan amanat tersebut. Hal itu dipandang sangat penting karena menyangkut organisasi jamiyah NU ke depan.

Siti Efi Farhati

"Agar nanti tercetak kader-kader militan dan menjadi ruhul jihad guna berjuang bersama NU," tegas Kiai Ihyauddin Yasin.

Untuk diketahui, kegiatan PKP berlaku untuk kader-kader atau calon kader-kader NU se-Kabupaten Pamekasan. Peserta nantinya tidak boleh pulang selama tiga hari.

Siti Efi Farhati

"Bagi yang sudah beristri, sampaikan dulu untuk izin menetap selama tiga hari di acara PKP. Bagi yang belum beristri, mohonlah restu kepada orangtua," tukasnya. (Hairul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Fragmen, Aswaja, Kiai Siti Efi Farhati

Sabtu, 06 Januari 2018

Peserta Bahtsul Masail Harap Berkah Masyayikh Pesantren Al-Munawwir

Yogyakarta, Siti Efi Farhati. Panitia Muktamar NU memilih pesantren Al-Munawwir Krapyak sebagai tempat forum musyawarah untuk pematangan materi bahtsul masail muktamar NU mendatang di Jombang. Mereka sengaja memilih tempat ini untuk mengambil semangat dan tabarrukan dari para kiai Krapyak.

Peserta Bahtsul Masail Harap Berkah Masyayikh Pesantren Al-Munawwir (Sumber Gambar : Nu Online)
Peserta Bahtsul Masail Harap Berkah Masyayikh Pesantren Al-Munawwir (Sumber Gambar : Nu Online)

Peserta Bahtsul Masail Harap Berkah Masyayikh Pesantren Al-Munawwir

Katib Syuriyah PBNU KH Yahya Cholil Staquf yang membuka forum bahtsul masail pra muktamar ini menyebutkan harapannya agar Allah menurunkan keberkahan para guru pesantren Al-Munawwir bagi forum penting di NU.

“Kita berharap berkah dari masyayikh ma’had Al-Munawwir ini. Pesantren ini ialah salah satu soko guru dari pesantren NU. Para kiainya cukup menentukan bangunan pemikiran NU hingga kini,” kata Gus Yahya dalam sambutan atas nama panitia di pesantren Krapyak, Sabtu (28/3) siang.

Siti Efi Farhati

Menurut salah satu pengasuh pesantren Al-Munawwir KH Hilmi Muhammad, penempatan bahtsul masail pra muktamar NU ini berawal dari insiatif santri ma’had Aly Krapyak. Mereka menginginkan pesantren mengadakan forum bahtsul masail.

“Kami sebagai pengurus pesantren lalu menyinergikan dengan PBNU yang merencanakan sidang pra muktamar. Alhamdulillah pengurus PBNU merespon positif,” kata Gus Hilmi dalam sambutan atas nama sohibul bait mewakili KH Najib Abdul Qodir

Siti Efi Farhati

Kepada peserta bahtsul masail pra muktamar, Gus Hilmi mengucapkan selamat datang. “Kami berharap forum ini mengeluarkan keputusan yang bermanfaat bagi NU dan Indonesia.”

Sementara Katib Aam PBNU KH Malik Madani mengingat pesantren Krapyak menempati posisi penting bagi kiai NU. “Bahtsul masail pertama dalam rangkaian Pra Muktamar di sini menjadi kehormatan bagi PBNU,” kata Kiai Malik yang mengakhiri sambutannya dengan surat al-Fatihah.

Peserta datang dari sejumlah pengurus cabang NU dan pengasuh pesantren di Yogyakarta dan sekitarnya. Tampak hadir Dirut BPJS, Dirjen Haji Kemenag RI yang akan memaparkan keterangan yang dibutuhkan peserta. Terlihat juga puluhan mahasiswa jurusan Perbandingan Madzhab Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Makam, Fragmen, Olahraga Siti Efi Farhati

Sabtu, 23 Desember 2017

Hadapi Ujian Nasional, Rajin Belajar Saja Tidak Cukup

Jombang, Siti Efi Farhati - Ibu Nyai Hj Mundjidah Wahab selaku Wakil Bupati Jombang memberikan wejangan kepada siswa dan siswi yang akan menghadapi Ujian Nasional (UN). Menurut dia, belajar yang rajin saja tidak cukup, tapi juga harus dibarengi dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meminta restu orang tua.

"Belajar saja kurang," kata Ibu Mundjidah, sapaan akrabnya. Para pelajar harus juga berdoa, mendekat kepada Allah SWT agar dimudahkan dalam menjalani UN, lanjutnya di hadapan ribuan pelajar yang berkumpul di Masjid Agung Baitul Mukminin, Kota Jombang, Selasa (29/3).

Hadapi Ujian Nasional, Rajin Belajar Saja Tidak Cukup (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadapi Ujian Nasional, Rajin Belajar Saja Tidak Cukup (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadapi Ujian Nasional, Rajin Belajar Saja Tidak Cukup

Bagi Ketua PC Muslimat NU Jombang ini, istigatsah maupun doa bersama sangat mendukung kesiapan mental dalam menghadapi UN. "Tapi doa dan istigatsahnya jangan berhenti sampai di sini, tapi nanti dilanjutkan di rumah, sukur rutin shalat malam," kata putri KH Abdul Wahab Chasbullah tersebut.

Siti Efi Farhati

Yang juga harus dilakukan pelajar adalah mohon ampun dan minta doa restu kepada kedua orang tua. Karena ridla Allah bergantung kepada ridla orang tua. "Jadi kalau orang tua sudah mendoakan dan memberikan restu kepada kita, maka Allah akan memberikan kemudahan dalam segala hal termasuk menghadapi UN," kata politisi PPP ini.  

Siti Efi Farhati

UN di Jombang digelar secara serentak 4 hingga 6 April dengan menggunakan dua model, yakni UN berbasis komputer yang diikuti 19 sekolah. Rinciannya, 12 SMK (Sekolah Menengah Kejuruan), 5 SMA (Sekolah Menengah Atas), dan 2 MA (Madrasah Aliyah). Sementara 162 sekolah lainnya, menggelar UN berbasis kertas atau manual.

Sedangkan untuk jumlah peserta UN tahun ini sebanyak 20.141 orang. Mereka berasal dari 58 lembaga SMK sebanyak 8.477 peserta, 46 lembaga SMA dengan 5.997 peserta, dan 77 lembaga MA yakni 5.667 peserta. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Humor Islam, Fragmen Siti Efi Farhati

Mengkritisi Atase Agama Kedubes Arab Saudi Soal NU dan Wahabi

Pada Senin 2 Mei 2016, saya mendapat undangan untuk menghadiri Seminar Internasional atas kerja sama Atase Agama Kedubes Saudi Arabia dan STAIN Pamekasan yang menghadirkan tiga nara sumber. Pertama, Dr. Ibrahim Sulaiman An Nughemsyi (Atase Agama Kedubes Saudi Arabia). Kedua, Prof. Dr. KH Ahsin Sakho Muahammad (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta). Ketiga, KH. Syukran Makmun (Pengasuh Pesantren Darur Rahman Jakarta).

Seminar ini dibuka oleh Ketua STAIN Pamekasan Dr. Taufiqurrahman, M.Pd. sebagai Open Speaker. Kemudian dilanjutkan pemateri pertama, Prof. Dr. Akhsin Sakha yang menjelaskan tentang pemikiran Hadratus Syekh Hasyim Asyari dalam mempertahankan NKRI yang dikenal dengan Resolusi Jihad.

Kemudian, pemateri kedua, KH. Syukran Makmun yang mencoba menyinggungg konflik di Timur Tengah akibat kesalahpahaman umat antara berbagai kelompok (firqah islamiyah). Beliau juga menekankan agar konflik di Timur Tengah jangan sampai terjadi di Indonesia. Oleh karena itu toleransi inter dan antar umat beragama harus lebih ditingkatkan.

Mengkritisi Atase Agama Kedubes Arab Saudi Soal NU dan Wahabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengkritisi Atase Agama Kedubes Arab Saudi Soal NU dan Wahabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengkritisi Atase Agama Kedubes Arab Saudi Soal NU dan Wahabi

Pemateri ketiga adalah Dr. Ibrahim Sulaiman, beliau menyampaikan beberapa poin penting bahwa wahabi dan NU tidak ada perbedaan. Menurut klaim Dr. Ibrahim, bahwa beliau adalah orang yang pertama kalinya mengkaji Hadratus Syekh Hasyim Asyari pada tahun kemarin di salah satu Universitas Islam di Malang. Bahkan beliau berpendapat Hadratus Syekh Muhammad Hasyim Asyari adalah paling Wahabinya wahabi. Karena menurut beliau, Hadratus Syekh Muhammad Hasyim Asyari menolak Syiah Zaidiyah, sedangkan Wahabi masih mentolerir Syiah Zaidiyah.

Pada sesi tanya jawab, sebenarnya penulis ingin bertanya dan memberi tanggapan terhadap para nara sumber. Namun, karena penulis tidak diberi kesempatan oleh moderator dengan alasan waktu terbatas, maka penulis menyampaikannya melalui catatan-catatan sebagai berikut:

Pertama, penulis sangat setuju dengan pernyataan Prof. Dr. Ahsin Sakho bahwa Hadratus Syekh Muhammad Hasyim Asyari memandang NKRI dari segi Maqashid Syariah dengan Resolusi Jihadnya.?

Siti Efi Farhati

Kedua, Konflik di Timur Tengah bukan disebabkan terpecahnya Umat Islam karena faktor kelompok agama (firqah Islamiyah), akan tetapi perpecahan di Timur Tengah yang disebut Revolusi Timur Tengah disebabkan Al-Harakah Al-Siyasiyah (Pergerakan Politik). Berdasarkan fakta yang terjadi di Syiria, Sunni-Syiah selama bertahun-tahun hidup damai berdampingan. Begitu juga di Yaman, Tunisia, Lebanon, dan lainnya. Sehingga yang harus diwaspadai di Indonesia adalah Al-Harakah Al-Siyasiyah (Pergerakan Politik) yang akan memecah belah NKRI.

Siti Efi Farhati

Ketiga, Klaim Dr. Ibrahim Sulaiman An Nughemsyi (Atase Agama Kedubes Saudi Arabia) bahwa beliau adalah yang pertama kali mengkaji pemikiran Hadratus Syekh adalah tidak benar. Karena para kader NU sejak sekitar 2007-an sudah intens mengkaji pemikiran beliau, sehingga lahirlah beberapa buku spektakuler dan film Sang Kiai.?

Keempat, penulis sangat tidak setuju dengan pernyataan Dr. Ibrahim bahwa Hadratus Syekh Muhammad Hasyim Asyari adalah paling wahabinya wahabi. Karena ada perbedaan mendasar antara Wahabi dan pemikiran Hadratus Syekh, yaitu Wahabi adalah firqah mujassimah merupakan kelompok yang menganggap Tuhan memimiliki jism/jasad.?

Wahabi adalah pergerakan politik, sedangkan Pemikiran Hadratus Syekh dengan NU-nya adalah murni pergerakan sosial keagamaan. Wahabi sering membawa masalah furu’iyah kepada aqidah, sedangkan Hadratus Syekh tidak demikian. Bahkan dalam kitabnya Hadratus Syekh “Risalah Ahlus Sunnah Wal Jamaah (hal 9)” beliau menyatakan dengan tegas bahwa beliau menolak pemikiran Syekh Muhammad ibn Abdul Wahab sebagai pendiri Wahabi. Sehingga tuduhan bahwa Hadratus Syekh Hasyim Asyari adalah paling wahabinya wahabi adalah tidak benar.

Kelima, Dr. Ibrahim telah melakukan tahrif terhadap kitab Irsyadu al-Syari (Kumpulan Kitab Hadratus Syekh Muhammad Hasyim Asyari) dalam Risalah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Hal. 10. Menurut Dr. Ibrahim Hadratus Syekh menolak Syiah Zaidiyah, padahal dalam kitabnya Hadratus Syekh menolak Syiah Rafidah, karena Syiah Rafidah jelas telah mencela sahabat.

Ala Kulli Hal, semoga catatan ini bisa memberi pencerahan untuk masyarakat Pamekasan pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.

?

Muhammad Taufiq, Kader NU dan Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pamekasan.

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Habib, Fragmen, Khutbah Siti Efi Farhati

Kamis, 07 Desember 2017

Radio NU Online Siaran Berita Perdana

Jakarta, Siti Efi Farhati

Radio Siti Efi Farhati yang beralamat di radio.nu.or.id terus berbenah dan berupaya meningkatkan kualitas siarannya. Usai menyediakan sejumlah rubrikasi yang kian memanjakan pendengar, kini radio berbasis internet ini mulai siaran berita.

Radio NU Online Siaran Berita Perdana (Sumber Gambar : Nu Online)
Radio NU Online Siaran Berita Perdana (Sumber Gambar : Nu Online)

Radio NU Online Siaran Berita Perdana

Siaran perdana bertajuk ”Warta Malam Nahdlatul Ulama” tersebut dimulai hari ini, Selasa (24/4), pukul 19.30 WIB, dari studio Siti Efi Farhati, gedung PBNU, Lantai 5, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat. Berita seputar NU dan lainnya akan dibacakan presenter Puti Hasni.

”Respon positif dari pendengar setia memang harus dijawab dengan peningkatan mutu. Kami merasa, selain pengajian dan hiburan, Radio Siti Efi Farhati akan lebih bermanfaat jika menyediakan pula kabar-kabar dalam bentuk suara,” kata manajer program, Mustiko Dwipoyono

Mustiko mengatakan, program siaran berita akan berlangsung rutin dalam satu minggu kecuali hari Sabtu dan Ahad. Sebagai usaha perbaikan kualitas, pihaknya akan melengkapi berbagai fasilitas dan tampilan Radio Siti Efi Farhati.

Siti Efi Farhati

Seperti diwartakan, sejak awal 2013 lalu Radio Siti Efi Farhati melengkapi tampilannya dengan sejumlah rubrik yang membantu pendengar untuk melihat program yang akan disiarkan. Kolom khusus juga dibuat guna memfasilitasi para pengunjung situs yang ingin mengunduh berbagai rekaman pengajian, video, gambar, musik, dan data lainnya.

”Kami mengajak seluruh pendengar untuk turut mendukung radio streaming ini. Saran dan kritik sangat dibutuhkan untuk kemajuan media kita bersama,”pungkasnya.

 

Siti Efi Farhati

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Makam, Fragmen, Pahlawan Siti Efi Farhati

Rabu, 06 Desember 2017

Jatman Sukoharjo Gelar Pengajian Keliling

Sukoharjo, Siti Efi Farhati. Selama ini teori-teori dalam beragama, baik di sekolah maupun di majelis pengajian telah banyak dipelajari, tetapi kadang masih bingung dalam prakteknya. 

Hal tersebut disampaikan KH Khoirul Anwar dalam pengajian selapan Idaroh Syu’biyyah Jam’iyyah Ahlith Thoriqah Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah (Jatman) Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah, Senin malam (11/2) di Masjid Al-Akbar Jetis Tawangsari Sukoharjo.

Jatman Sukoharjo Gelar Pengajian Keliling (Sumber Gambar : Nu Online)
Jatman Sukoharjo Gelar Pengajian Keliling (Sumber Gambar : Nu Online)

Jatman Sukoharjo Gelar Pengajian Keliling

“Kita sudah mengetahui teori-teorinya, lalu prakteknya seperti apa?” tanya Kiai Anwar kepada jamaah.

Siti Efi Farhati

Kemudian ia membacakan hadist tentang pertemuan Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad saw yang sedang bersama para sahabat. Jibril kemudian menanyakan tentang iman, Islam dan ihsan. Sampai pada keterangan ihsan yang bermakna ketika tengah beribadah seolah-olah melihat Allah.

“Disinilah pentingnya bertariqah, berguru kepada salah seorang mursyid. Agar kita bisa merasakan kehadiran Allah,“ terang Mudir Jatman Sukoharjo tersebut.

Siti Efi Farhati

Acara pembacaan ratibul hadad dan maulid simtudurar itu dihadiri beberapa unsur dari Aswaja di Sukoharjo diantaranya dari Majelis Al-Hidayah, Muslimat Thariqah, Jamuniro dan lain sebagainya.

“Ini menunjukkan persatuan unsur Aswaja,” kata Sekretaris Jatman Sukoharjo, Mukhlis Suranto.

Di akhir acara diumumkan agenda-agenda penting yang akan diselenggarakan diantaranya kegiatan Maulid Nabi di tempat Habib Luthfy Pekalongan dan Khatmil Quran di pesantren Almuayyad Solo. Kegiatan pengajian malam Selasa Pahing ini rutin diselenggarakan setiap 40 hari sekali, berkeliling ke desa-desa di daerah Sukoharjo.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Fragmen, IMNU, Sholawat Siti Efi Farhati

Rabu, 22 November 2017

Kang Said: Jika Pemahaman Benar, Agama Timbulkan Toleransi

Cirebon, Siti Efi Farhati. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menilai, konflik yang berkecamuk di beberapa negara merupakan akibat dari sikap intoleran. Radikalisme yang dikembangkan segelentir umat beragama di beberapa negara telah menimbulkan perpecahan dan kekisruhan di antara mereka.

“Padahal jika ajaran agama dipahami dan diamalkan secara benar, tidak akan menimbulkan kebencian terhadap siapapun, justru yang timbul adalah sikap toleran dan solidaritas,” jelasnya saat bertausiah pada haflah akhirissanah Madrasah Al Hikamus Salafiyah (MHS) Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (30/5).

Kang Said: Jika Pemahaman Benar, Agama Timbulkan Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Jika Pemahaman Benar, Agama Timbulkan Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Jika Pemahaman Benar, Agama Timbulkan Toleransi

Di hadapan ribuan hadirin, Kiai asal Cirebon ini bersyukur peristiwa tersebut relatif tidak ada di Tanah Air. Menurutnya, umat beragama di Indonesia mayoritas bersikap moderat dan hal itu merupakan jasa dari kiprah pesantren.

Siti Efi Farhati

“Alhamdulillah kalau di Indonesia, kita punya warisan sistem pendidikan keagamaan yang mampu mencetak generasi muslim yang moderat, menanamkan karakter bangsa yang luhur, serta mengedepankan akhlakul karimah. Sistem pendidikan tersebut adalah pondok pesantren,” lanjut Kang Said, sapaan akrabnya.  

Sementara itu, mudir Madrasah Al Hikamus Salafiyah KH Azka Hammam Syaerozi dalam sambutannya menegaskan bahwa lembaga yang dipimpinnya berorientasi pada pendidikan karakter berbasis pesantren, sehingga mereka diharapkan mampu menjadi figur khoiru ummah (teladan masyarakat), “Madrasah Al Hikamus Salafiyah merupakan lembaga yang memiliki kurikulum independen, mengacu pada pendalaman kitab kuning, mulai dari tingkat ibtida’iyah, tsanawiyah, aliyah dan ma’had aly”.  

Siti Efi Farhati

Bersama para kiai babakan, Kang Said Aqil juga diberi kehormatan untuk mewisuda siswa MHS dari seluruh tingkatan. Prosesi wisuda ini dipimpin langsung oleh KH Makhtum Hannan, sesepuh pondok Pesantren Babakan Ciwaringin.

Acara puncak haflah akhirussanah yang berlangsung di halaman utama Madrasah Al Hikamus Salafiyah itu, sebelumnya diawali dengan atraksi sepak bola api dan mandi petasan di lapangan bola Desa Babakan, Ciwaringin. Hal ini merupakan tradisi yang sudah berjalan puluhan tahun, dilakukan oleh para siswa kelas I Aliyah Madrasah Al Hkamus Salafiyah. Masyarakat sekitar pun menyambutnya dengan sangat antusias. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Ahlussunnah, Fragmen Siti Efi Farhati

Kamis, 16 November 2017

Yang Ada di Otak Para Jihadis Teroris Hanya Perang

Bandarlampung, Siti Efi Farhati. Nasir Abbas salah satu mantan pelaku terorisme yang sudah sadar dan insyaf mengatakan, bahwa yang ada di dalam otak dan pikiran para jihadis teroris hanyalah perang. Dia menyatakan, bahwa hal ini dilakukan kelompok teroris sampai tegaknya negara Islam atau khilafah Islamiyyah versi mereka.

Testimoni masa kelamnya ini diceritakan didepan para tokoh pemuda dan perempuan dalam rangka Sosialisasi Pencegahan Terorisme yang digelar atas kerjasama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Lampung dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Mencegah Paham Radikal Terorisme di Hotel Horizon Bandarlampung, Selasa (15/9).

Yang Ada di Otak Para Jihadis Teroris Hanya Perang (Sumber Gambar : Nu Online)
Yang Ada di Otak Para Jihadis Teroris Hanya Perang (Sumber Gambar : Nu Online)

Yang Ada di Otak Para Jihadis Teroris Hanya Perang

Ketika ditanya perasaannya setelah insyaf dan keluar dari kelompok terorisme Nasir Abbas menjawab bahwa sekarang Ia lebih merasa bermanfaat untuk orang banyak. "Kalau dulu saya hanya berkutat untuk satu golongan sekarang saya dapat berinteraksi dengan banyak golongan dan Ormas seperti NU, Muhammadiyah dan lain lain," terangnya.

Siti Efi Farhati

Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa orang orang yang sudah terpengaruh dengan pola pikir teroris memiliki ciri ciri khusus. Di antara ciri-ciri tersebut adalah mudah mengafirkan orang lain. "Mereka juga menutup celah perbedaan. Menganggap orang yang berbeda dengan mereka salah dan keyakinannya lah yang paling benar," terangnya.

Kelompok ini juga tidak mau makan daging yang disembelih oleh orang yang ada diluar kelompok mereka. Ketika mereka akan menikahi wanita, mereka menikahi wanita tersebut dengan mengangkat wali hakim karena orang tua wanita tersebut kafir dan diluar kelompoknya.

Siti Efi Farhati

Selain ciri tersebut, kelompok ini juga tidak mau melaksanakan shalat di Masjid selain milik kelompoknya karena Masjid tersebut dianggap masjid dhirar atau masjidnya kaum munafik.

Menurut Ketua FKPT Provinsi Lampung Abdul Syukur, kegiatan ini sangat penting karena Peranan pemuda dan perempuan saat ini cukup strategis dalam mencegah penyebaran paham Radikalisme dan Terorisme yang mengancam keutuhan NKRI.

Sementara salah satu tokoh Pemuda Pringsewu yang hadir pada forum tersebut, M Sofyan mengatakan bahwa kegiatan ini sangat penting untuk mengetahui motif dari para teroris dalam melancarkan aksinya. " Dengan mengetahui motifnya maka kita akan tahu bagaimana penanggulangannya " jelasnya

Menurut Ketua GP Ansor Pringsewu ini, kelompok ini jelas jelas mengajarkan ajaran yang tidak tepat. Oleh karena itu seluruh masyarakat harus mewaspadainya sehingga ketentraman dan keamanan dalam masyarakat akan selalu terjaga. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Fragmen Siti Efi Farhati

Rabu, 15 November 2017

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Sosok Pelayan Umat

Suasana langit pada pagi di hari kedua Lebaran, Sabtu (18/7) lalu, cukup cerah bahkan menjelang siang tergolong terik. Namun, keadaan tersebut tak membuat luntur semangat orang-orang untuk hadir ke Majelis Kanzus Sholawat yang terletak di Jalan Dr. Wahidin No. 70 Pekalongan. Mereka hadir untuk mengikuti pengajian dan acara halal bi halal yang diselenggarakan rutin setiap tahunnya.

Usai membaca dzikir bersama dan mendengarkan mauidhoh hasanah, satu-persatu jamaah berbaris dengan tertib, menunggu giliran mereka untuk bersalaman dengan seorang tokoh yang mereka anggap sebagai seorang mursyid, guru dunia dan akhirat. Dialah Habib Luthfi, salah satu tokoh ulama yang kini menjadi Rais ‘Aam Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah (JATMAN).

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Sosok Pelayan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Sosok Pelayan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Sosok Pelayan Umat

Ulama yang bernama lengkap Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya tersebut, dengan penuh kesabaran menerima tangan-tangan yang seakan tiada kunjung berhenti untuk bersalaman dengannya. Sesekali, seorang dari jamaah atau disebut para murid tersebut mengutarakan sesuatu kepada abah, panggilan akrab para murid kepada Habib Luthfi, entah mengemukakan sebuah pertanyaan atau meminta untuk didoakan.

Ketokohan Habib Luthfi di kalangan jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) ini tergolong begitu lengkap baik dari sanad keilmuan maupun nasab keturunan. Selain karena keilmuannya, ia mewarisi berbagai sanad thariqah mu’tabarah dari berbagai gurunya, secara nasab Habib Luthfi juga merupakan seorang keturunan tokoh pendiri NU, yang konon namanya tak mau disebut dalam sejarah pendirian NU.

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati

Disampaikan Habib Luthfi beberapa tahun lalu dalam sebuah pengajian Harlah NU di Pekalongan, kakeknya yang bernama Habib Hasyim bin Yahya merupakan ulama, selain Mbah Kiai Kholil Bangkalan, yang dimintai restunya oleh KH Hasyim Asy’ari ketika hendak mendirikan NU.

Pelayan Umat

Habib Luthfi adalah sosok pelayan umat sejati. Dalam kesibukannya sebagai Ketua MUI Jawa Tengah dan pendakwah, setiap hari, rumahnya di kawasan Noyontaan Gang 7, Pekalongan, Jawa Tengah, selalu marak oleh tamu yang datang dari berbagai daerah di tanah air. Hampir 24 jam, pintu rumah ayah lima anak itu selalu terbuka untuk ratusan orang yang datang dengan berbagai keperluan. Mulai dari minta restu, mohon doa dan ijazah, sampai konsultasi berbagai problematika kehidupan. Biasanya mereka akan merasa tenang setelah mendapat nasihat.

“Mereka kan tamu saya, sudah menjadi kewajiban saya untuk menghormati tamu. Karena itu, saya selalu terbuka,” demikian jawab Habib Luthfi ketika ditanya tentang para tamunya.

Habib Luthfi juga menularkan ilmunya melalui majelis taklim yang digelar seminggu dua kali. Selain kajian mingguan, setiap ba’da Subuh hari Jumat Kliwon, Habib Luthfi juga membacakan kitab Jami’ul Ushul fil Auliya’.

Di antara tiga majelisnya, pengajian malam Rabu dan Jum’at pagi itulah yang selalu dihadiri ribuan umat hingga menutup Jalan Dr. Wahidin. Meski banyak mengkaji tasawuf, majelis taklim tersebut terbuka untuk siapa saja.

Satu hal yang khas, biasa disampaikan Habib Luthfi dalam setiap kesempatan ia mengisi ceramah pengajian di berbagai daerah, ia mendorong masyarakat untuk mencintai bangsa ini dengan setulus hati, serta menumbuhkan kebangaan akan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ditegaskan olehnya dalam sebuah acara pengajian, bagaimanapun keadaan bangsa ini, sejelek apapun kita mesti bangga dan mengakuinya sebagai tanah air. “Indonesia tanah airku tanah tumpah darahku, ini lagu atau seremonial? Ini semestinya menjadi iqror, sejauh mana pengakuan kita terhadap Indonesia sebagai tanah airku. Tunjukkan Indonesia tanah airku, tidak hanya dalam lagu, tapi juga dalam perilaku,” tegasnya. (Ajie Najmuddin)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Doa, Fragmen, Internasional Siti Efi Farhati

Selasa, 14 November 2017

Kontingen Tubaba Siap Tarung Porsadin III Provinsi Lampung

Tubaba, Siti Efi Farhati

Kontingen Tulang Bawang Barat siap mengikuti pertandingan pada Pekan Olahraga dan Seni Santri Diniyah (Porsadin) tingkat Provinsi Lampung yang akan digelar pada tanggal 21 Oktober 2017 di Bandarlampung.

Kontingen Tubaba Siap Tarung Porsadin III Provinsi Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)
Kontingen Tubaba Siap Tarung Porsadin III Provinsi Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)

Kontingen Tubaba Siap Tarung Porsadin III Provinsi Lampung

Hal ini diungkapkan Ketua FKDT Tulang Bawang Barat Abdullah Nasir, saat pelepasan kontingen Porsadi III Tingkat Provinsi Lampung di komplek Islamic Centre Panaragan Jaya, Jumat (20/10).

Hadir dalam pelepasan tersebut Kepala Kemenag Tubaba yang diwakili Kasi Pendis Nuning Hermiyati, Ketua FKDT Tubaba Abdullah Nasir, Konsultan Hukum FKDT Sodri Helmi, para kontingen, dan tokoh agama setempat.

Kasi Pendis Kemenag Tubaba Nuning Hermiyati berharap para kontingen berangkat dengan semangat sebagai duta kemenag Tubaba dapat membawa kemenangan dan nama harum daerah.

"Semoga bisa menghasilkan prestasi yang membanggakan. Kalian adalah duta Kemenag dan Pemda Tubaba. Jaga nama baik Kabupaten Tubaba. Kendalikan emosi, jangan sampai berantem saat bertanding," ujarnya.

Siti Efi Farhati

Harapan ini digambarkan disetiap perlombaan maupun jenis pertandingan yang diikuti peserta dari Tubaba maka daerah lain sudah mengenal kemampuan santri-santri dari bumi ragem sai mangi wawai. 

Siti Efi Farhati

Ia menambahkan, kegiatan Porsadin tersebut adalah ajang silaturahmi untuk mempertemukan antara santri-santri seluruh Provinsi Lampung agar saling mengenal, karena santri-santri tersebut sebagai generasi penerus yang harus memiliki integritas dan memiliki keahlian dan ketrampilan supaya kelak menjadi pemuda harapan bangsa bukan saja ilmunya yang lebih banyak tetapi juga harus memiliki kemampuan fisik yang handal. (Gati Susanto/Kendi Setiawan).

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Habib, Kyai, Fragmen Siti Efi Farhati

Jumat, 10 November 2017

Menag: Kualitas Pendidikan Berada di Tangan Pergunu

Mojokerto, Siti Efi Farhati - Menteri Agama RI H Lukman Hakim Saifuddin atas nama pemerintah memberikan apresiasi kepada Pergunu yang telah membantu mendidik masyarakat Indonesia. Lukman berharap kerja keras para guru NU membuahkan hasil maksimal untuk melahirkan murid-murid berprestasi dan berakhlak.

“Kualitas pendidikan menjadi tujuan utama pemerintah, kami harap Pergunu bisa turut serta untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia,” kata Lukman mengawali sambutannya dalam kongres yang kedua di Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, Rabu (26/10).

Menag: Kualitas Pendidikan Berada di Tangan Pergunu (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag: Kualitas Pendidikan Berada di Tangan Pergunu (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag: Kualitas Pendidikan Berada di Tangan Pergunu

Menurut Lukman, kualitas pendidikan dari masa ke masa semakin maju. Kualitas pendidikan agama di Indonesia semakin membaik. Mulai dari kualitas kerukunan agama, kualitas lulusan madrasah atau pesantren.

Siti Efi Farhati

“Guru menduduki tempat strategis untuk turut andil dalam membangun negeri,” terangnya.

Saat ini pemerintah tengah memperbaiki lagi kualitas pendidikan dengan menetapkan standard indikator, isi, proses, dan lulusan. “Pergunu itu sudah satu misi dengan Kemenag,” katanya.

Siti Efi Farhati

Pendidik pesantren atau madrasah saat ini sudah diakui oleh negara dan disetarakan dengan pendidikan negeri. “Kita terus berupaya ada program-program guru. Tunjangan guru akan diupayakan di tahun 2017, telah memiliki sertifikasi sesuai ketentuan regulasi yang ada,” jelas Lukman memberikan angin segar kepada para guru madrasah.

Dengan ucapan basmalah Kongres Kedua Pergunu resmi dibuka oleh Menteri Agama RI. Hadir dalam pembukaan Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa, Pembina Pergunu H As’ad Said Ali, Ketua MUI Jawa Timur, pendiri dan pejuang Pergunu serta para pengurus Pergunu di berbagai wilayah dan cabang se-Indonesia. (Rof Maulana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Internasional, Fragmen, Pendidikan Siti Efi Farhati

Rabu, 08 November 2017

Puslitbang Lektur Kemenag Terus Kembangkan Tesaurus Manuskrip Islam Nusantara

Jakarta, Siti Efi Farhati - Seorang calon sarjana filologi sudah tinggal menanti sidang skripsinya. Namun, ia harus mengganti skripsinya, dalam arti membuat ulang sebab naskah yang ia kaji sudah lebih dulu dikaji orang lain. Untuk menghindari hal demikian terulang, Oman Fathurrahman berijtihad untuk membuat sebuah katalog naskah daring yang tidak saja memuat identitas naskah, tetapi sampai pada berapa kali judul naskah tersebut dikutip, di buku mana dan halaman berapa dan sudah diteliti siapa saja.

Hal tersebut diceritakan oleh Muhammad Nida Fadlan, narasumber pada kegiatan Persiapan Penyusunan Manuskrip Keagamaan yang digelar oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi Kementerian Agama di Hotel Takes Mansion, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat (19/5).

Puslitbang Lektur Kemenag Terus Kembangkan Tesaurus Manuskrip Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Puslitbang Lektur Kemenag Terus Kembangkan Tesaurus Manuskrip Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Puslitbang Lektur Kemenag Terus Kembangkan Tesaurus Manuskrip Islam Nusantara

Senada dengan Nida, Kabid Lektur dan Keagamaan Fakhriati menyampaikan, laman yang diberi judul Thesaurus of Indonesian Islamic Manuscripts ini dibuat pada dasarnya untuk mengumpulkan hasil-hasil penelitian tentang naskah.

Siti Efi Farhati

“Mengumpulkan hasil-hasil penelitian tentang naskah,” ujar Fahriyati.

Pada kesempatan tersebut, Nida yang juga dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menampilkan laman yang sudah lahir semenjak tahun 2010 itu, http://lektur.kemenag.go.id/naskah/. Laman tersebut sudah memuat 3118 judul. Sejak lahirnya, laman tersebut belum mengalami pembaharuan. Oleh karena itu, alumni Pondok Buntet Pesantren itu juga berharap kepada Puslitbanglektur agar laman yang sudah berusia 7 tahun itu dapat mengikuti zaman. Ia juga berharap agar thesaurus itu dapat lebih mudah diakses.

“Saya juga berharap agar thesaurus ini lebih handy. Misal dibuat aplikasinya di Playstore,” ujarnya.

Siti Efi Farhati

Laman yang juga dibidani oleh PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini masih membatasi pada naskah Islam Nusantara. Naskah yang dimaksud mencakup dua bidang, yakni naskah karya ulama Nusantara dan naskah berbahasa Nusantara. (Syakirnf/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Berita, Fragmen Siti Efi Farhati

Selasa, 07 November 2017

LTN PBNU: Media Amarah Harus Dilawan

Jakarta, Siti Efi Farhati



Lembaga Talif wan-Nasyr (LTN) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengajak sejumlah pengelola media Islam ramah untuk bersinergi melawan media amarah.

"Dewasa ini media radikal tumbuh subur menyebarkan amarah. Mereka dimodali bos besar mereka," ujar Ketua Konsolidasi Nasional Pengelola Media Islam Ramah, Abdul Malik Mughni, di Jakarta, Senin (21/8).

LTN PBNU: Media Amarah Harus Dilawan (Sumber Gambar : Nu Online)
LTN PBNU: Media Amarah Harus Dilawan (Sumber Gambar : Nu Online)

LTN PBNU: Media Amarah Harus Dilawan

Kelompok radikal tersebut, demikian Mughni menambahkan, bersemangat dalam menyebarkan opini radikal melalui beragam cara.

"Satu contoh melalui buletin radikal yang mereka sebar di tempat-tempat strategis. Kelompok radikal tersebut juga bersemangat menebarkan berita dusta," paparnya.

Ia berharap, melalui kegiatan tersebut, LTN PBNU bisa mengidentifikasi kekuatan, kendala dan peluang media Islam ramah dalam mengelola institusi medianya.

Siti Efi Farhati

"Bagi daerah yang belum memiliki media Islam ramah, semoga bisa masif menyebarkan semangat Islam ramah, sehingga apa yang kita lakukan memberikan makna bagi Indonesia," pungkasnya. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Fragmen, Humor Islam Siti Efi Farhati

Minggu, 05 November 2017

Kiai Afif: Belanjalah di Pedagang Kecil daripada Minimarket Waralaba

Jakarta, Siti Efi Farhati. Katib Syuriyah PBNU KH Afifuddin Muhajir memandang perlunya keberpihakan para kiai NU terhadap pedagang kecil. Menurut Kiai Afif, di tengah menjamurnya minimarket waralaba yang mendesak masuk hingga perkampungan, para kiai penting mengingatkan masyarakat untuk mengutamakan belanja di warung-warung kecil.

Kiai Afif: Belanjalah di Pedagang Kecil daripada Minimarket Waralaba (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Afif: Belanjalah di Pedagang Kecil daripada Minimarket Waralaba (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Afif: Belanjalah di Pedagang Kecil daripada Minimarket Waralaba

“Saya melihat bagaimana nasib-nasib pedagang kecil kita. Kita mesti tergerak untuk membela mereka,” kata Kiai Afif di Jakarta, Sabtu (28/2) pagi.

Pasalnya, uang yang masuk ke minimarket seperti Indomart, Alfamart, dan sejenisnya, tidak lagi kembali ke masyarakat tetapi menguap ke luar.

Siti Efi Farhati

Meskipun begitu, kata Kiai Afif, kita harus mengakui bahwa ketidakberdayaan pedagang kecil kita tidak semata kesalahan kebijakan negara tetapi juga kesalahan dari diri kita sendiri.

Siti Efi Farhati

“Kalau butuh rokok atau air mineral, saya sengaja menghindari toko-toko minimarket. Saya pilih lari ke warung kecil,” ujar penulis kitab syarah Taqrib, Fathul Mujibil Qarib. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Fragmen Siti Efi Farhati

Senin, 30 Oktober 2017

Koramil Bekali Pramuka SMA Maarif NU Wasbang

Tegal, Siti Efi Farhati - Pangkalan Gugusdepan (Gudep) SMA Maarif NU Jatinegara, Tegal menggelar Pelatihan Pengelolaan Dewan Kerja (PPDK), Ahad (8/10) di sekolah setempat.

Wakil Kepala SMA Maarif NU Jatinegara Inamul Auva mengatakan, kegiatan pelatihan dimaksudkan untuk mempersiapkan pengurus dewan kerja Ambalan yang baru dalam mengelola kegiatan di pangkalan Gugusdepan.

Koramil Bekali Pramuka SMA Maarif NU Wasbang (Sumber Gambar : Nu Online)
Koramil Bekali Pramuka SMA Maarif NU Wasbang (Sumber Gambar : Nu Online)

Koramil Bekali Pramuka SMA Maarif NU Wasbang

"Dalam kegiatan itu, kita sengaja menggandeng Koramil Jatinegara untuk menyampaikan tentang pentingnya wawasan kebangsaan dan nasionalisme," ujarnya.

Harapannya, lanjut Auva, pengurus baru Dewan Kerja Ambalan Syarif Hidayatullah dan Siti Khodijah SMA Maarif NU Jatinegara sejumlah 30 orang akan lebih siap, disiplin dan cakap dalam mengelola Ambalan.

Siti Efi Farhati

"Selain itu, rasa kebangsaan dan nilai-nilai Nasionalisme dan Cinta tanah air juga wajib dimiliki oleh Pramuka Maarif NU," tandasnya

Dalam pelatihan itu, selain materi wawasan kebangsaan, diberikan pula materi tentang praktek PBB oleh Babinsa Koramil Adiwerna dan tatakelola Administrasi Dewan Kerja oleh pengurus Kwartir Ranting Jatinegara. (Hasan/Alhafiz K)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Amalan, Fragmen, Olahraga Siti Efi Farhati

Jumat, 27 Oktober 2017

LPBI NU Bantu Korban Banjir dan Longsor di Sumbar dan Riau

Jakarta, Siti Efi Farhati - Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) menyerahkan bantuan kepada masyarakat terdampak banjir dan longsor di Sumbar dan Riau, Ahad (14/2). Bantuan yang diberikan berupa paket sembako untuk 475 kepala keluarga (KK) di Kabupaten Pasaman, Limapuluh Kuto di Sumbar, serta Kampar dan Rokan Hulu di Riau.

Empat daerah ini dipilih berdasarkan jumlah dan besarnya dampak yang ditimbulkan. Sedangkan pemberian bantuan ini dilaksanakan berdasarkan assessment yang dilakukan oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) setempat, yang menyebutkan bahwa saat ini kebutuhan utama masyarakat terdampak banjir dan longsor di Sumbar dan Riau di antaranya adalah makanan.

LPBI NU Bantu Korban Banjir dan Longsor di Sumbar dan Riau (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBI NU Bantu Korban Banjir dan Longsor di Sumbar dan Riau (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBI NU Bantu Korban Banjir dan Longsor di Sumbar dan Riau

Saat ini tak kurang dari 2.150 KK yang terdiri dari 8.660 jiwa korban bencana banjir dan tanah longsor mengungsi. Rata-rata rumah mereka terendam setinggi 1,5 meter. Banjir dan longsor yang terjadi di Sumbar dan Riau menyebabkan kerusakan parah di sejumlah wilayah. Sebanyak 9 jembatan terputus sehingga transportasi darat antarkabupaten lumpuh, ribuan rumah terendam, dan ratusan hektar sawah pun rusak.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan bahwa banjir dan longsor yang terjadi beberapa hari lalu di Sumbar dan Riau mengakibatkan 3.050 rumah terendam, dan sekitar 100 hektar sawah juga terendam setinggi 1 meter.

Siti Efi Farhati

BNPB bersama TNI, Polri, Basarnas, masyarakat dan berbagai pihak telah mendirikan sejumlah posko dan membagikan sejumlah bantuan. Tetapi terputusnya transportasi dan kondisi lapangan menyebabkan kesulitan untuk menjangkau masyarakat terdampak, terutama mereka yang berada di daerah yang terisolir.

Pengurus Pusat LPBI NU menurunkan bantuan berupa paket sembako melalui PCNU. Skema pemberian bantuan melalui perangkat organisasi NU di tingkat kabupaten ini diharapkan mampu menjangkau warga yang terdampak banjir dan longsor terutama mereka yang berada di kawasan yang sulit dijangkau karena keterputusan akses.

Siti Efi Farhati

Ketua PP LPBI NU Muhamad Ali Yusuf mengatakan bahwa bantuan yang diberikan LPBI NU ini dimaksudkan untuk membantu para korban terdampak bencana banjir di Sumbar dan Riau setelah dilakukan assessment. Lebih lanjut, Ali Yusuf mendesak semua pihak terutama pemerintah, masyarakat dan lembaga usaha di Sumbar dan Riau harus serius dan segera merumuskan rencana dan tindakan konkret untuk mengurangi risiko bencana yang sebenarnya sudah diketahui karena daerah tersebut yang sudah pasti teridentifikasi sebagai daerah rawan bencana.

Dengan upaya itu, Ali Yusuf berharap kejadian yang sangat merugikan masyarakat seperti ini tidak terulang lagi di masa yang akan datang.

Menyambut bantuan dari PP LPBI NU, Ketua PCNU Limapuluh Kuto Sahrul Isman yang mewakili penerima bantuan mengatakan, “Bantuan yang diberikan oleh PP LPBI NU ini sangat diperlukan? dan sangat membantu masyarakat yang terdampak banjir dan longsor.”

Ketua PCNU Kampar Purwadi mengucapkan terima kasih kepada PP LPBI NU, dan akan segera menyalurkan bantuan itu kepada masyarakat terdampak banjir di Riau. Masyarakat di beberapa daerah belum menerima bantuan akibat terputusnya jembatan menuju daerah mereka. Dengan bantuan dari PP LPBI NU yang diberikan langsung ke kabupaten, mudah-mudahan dapat mengurangi penderitaan masyarakat terdampak banjir dan longsor di Riau. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kajian, Fragmen Siti Efi Farhati

Selasa, 24 Oktober 2017

Bupati Jepara Lepas Kontingen Perwimanas II

Jepara, Siti Efi Farhati?

Bupati Jepara, H Ahmad Marzuqi secara resmi melepas kontingen Perkemahan Wirakarya Pramuka Ma’arif Nasional (Perwimanas) II Jepara di Pendopo Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, Jumat (15/9) pagi.?

Secara simbolis Marzuqi mengenakan kaos tim kontingen Jepara kepada Susilo Aji, MA NU Safinatul Huda 01 Sowan Lor, Kedung, Jepara dan Maulaya Arinal Khak dari MA Roudlotul Mubtadiin Balekambang Jepara.?

Di hadapan Kwarcab, Sako Ma’arif, LP Ma’arif NU Jepara dan wali kontingen, Bupati meminta kontingen untuk tetap menjaga kesehatan lahir dan bathin. Dengan menjaga kesehatan jasmani dan rohani akan dimudahkan oleh Allah memboyong tropi kemenangan.

Bupati Jepara Lepas Kontingen Perwimanas II (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Jepara Lepas Kontingen Perwimanas II (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Jepara Lepas Kontingen Perwimanas II

“Jaga diri kalian masing-masing dan bergaullah dengan kontingen yang lain. Sebab mereka memiliki adat yang berbeda. Maka, kolaborasikan dan integrasikan pada diri kalian masing-masing,” katanya.?

Pesan lain yang disampaikannya ialah jangan hanya bangga menjadi juara di daerah sendiri namun saat bertanding dengan kontingen lain tidak berdaya apa-apa.?

Siti Efi Farhati

“Jangan menjadi bunga putri malu. Saat belum disentuh tegar bugar. Namun saat disentuh pudar. Artinya, potensi dan skill yang ada menjadi pudar saat bertemu dengan kontingen yang lain,” imbau Marzuqi.?

Bupati yang pernah nyanti di Kajen Pati itu menitip doa dari sesepuh Kajen Syekh Mutamakkin kepada kontingen.?

“Allah wujud, Muhammad lagi wujud, opo meneh siro yen wujudo, la ilaha illalah muhammadur rasulullah, syekh abdul qadir waliyullah.” Doa yang dilafalkan dengan bahasa Jawa ini, sambungnya, tidak boleh dicatat baiknya langsung dihafalkan.?

Di akhir sambutan ia meminta kepada kontingen untuk ramah, suka menyapa dan tabassum, menebar senyuman. Jangan besengut (cemberut, red) kepada kontingen yang lain.?

Siti Efi Farhati

“Semuanya pasti bisa,” pungkas Marzuqi mengakhiri kata sambutan.?

Ketua Sako LP Ma’arif NU Jepara, H Hisyam Zamroni dalam prakata panitia mengungkapkan kontingen Jepara menerjunkan 74 personil yang terdiri dari peserta, bina damping dan pimpinan kontingen.?

Kontingen, lanjutnya terdiri dari 8 kelompok yang terdiri dari 32 putra dan 32 putri, pinkon 1 putra dan 1 putri serta bina damping 4 putra dan 4 putri.?

“Kontingen akan diberangkatkan Sabtu (16/9/2017). Adapun Perwimanas II dilaksanakan Senin-Sabtu (17-23/9/2017) di Lapangan Tembak Akmil dan Pesantren Tegalrejo Magelang,” jelas Hisyam. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Fragmen, Cerita Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock