Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Maret 2018

Detik-detik Wafatnya Tokoh NU Subchan ZE

Hari Ahad 16 DzulHijjah 1392 bertepatan 21 Januari 1973, penulis mendampingi Subchan ZE keliling balad Jeddah. Di dalam mobil, penulis dengan lugu bertanya: "Di koran pak Subchan diberitakan akan kawin. Dengan siapa, Pak?". "Betul, tapi yang mau kawin itu pikiran Subchan dengan pikiran Soeharto", jawabnya.

Lalu tanya penulis: "Bagaimana dengan isu miring bahwa Pak Subchan punya hobi ke dumang, dunia remang-remang, klub malam. Kan bapak seorang tokoh NU?"

Jawabnya: "Subchan ZE Wakil Ketua MPRS-RI itu selalu berada di tempat tidak jauh dari mobil B 4 parkir. Termasuk di night club itu betul tetapi ingat, sebagai Wakil Ketua MPRS, petinggi NU, dan seorang Muslim pada dasarnya adalah Muballigh, yang harus menyampaikan pesan Rasul walau hanya seayat. Coba siapa dari para kiai dan atau dai yang berani tanpa sembunyi-sembunyi nyambang tempat remang-remang untuk antarkan nasihat, nanting kembali ke jalan yang benar. Bukankah dakwah justru lebih dibutuhkan di tempat seperti itu daripada di mesjid dan surau?”

“Harus diingat,” sambungnya, “bahwa apapun yang kita lakukan, niat adalah hal pokok. Maka bulatkan tekad bahwa segalanya diniatkan untuk ibadah pada Allah dalam berkhidmah melayani kepentingan umat. Serahkan diri artinya niatkan semuanya hanya untuk memperoleh ridlo Allah sehingga kelak bisa menemuiNya dengan hati yang damai.”

Detik-detik Wafatnya Tokoh NU Subchan ZE (Sumber Gambar : Nu Online)
Detik-detik Wafatnya Tokoh NU Subchan ZE (Sumber Gambar : Nu Online)

Detik-detik Wafatnya Tokoh NU Subchan ZE

Ia lantas mengutip ayat ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? laa yanfau maalun wa laa banuuna illaa man ata-Llaaha bi-qalbin saliim, yakni: tidak akan berguna harta dan anak keturunan kecuali siapa yang datang menemui Allah dengan hati yang damai. Dan menyampaikan petikan hadits ? ? Ad-Diinu nashiihah. Agama adalah nasihat.

“Maka nasihatku, jika nanti kamu berniat terjun kiprah di politik, tebalkan terlebih dahulu bantalanmu. Jangan heran dan jangan gamang, jika datang menerpamu isu masuk partai untuk memperkaya diri. Lihatlah nanti setelah saya istirahat panjang, apakah saya masuk NU untuk memperkaya diri ataukah benar untuk berkhidmat bagi kepentingan umat? Kini saatnya, kuingin bangun hotel di Mekkah. Kumau istirahat panjang."

Siti Efi Farhati

Subhanallah, Pak Subchan ZE ternyata bukan hanya politikus ulung, tetapi juga kiai yang mumpuni. Ketika ditanya, "Kenapa Pak Subchan tidak membalas balik serangan pihak yang mendiskreditkan?" Jawabnya: "Man satara musliman satarahulLaahu fid-dunyaa wal-aakhiroh. Siapa menutupi (cela/aib/keburukan) seseorang Muslim maka Allah menutupi (cela/aib/keburukan)-nya di dunia dan akhirat.”

Dari sejak pagi perjumpaan hari itu, penulis sudah menyampaikan keinginan teman-teman agar Pak Subchan berkenan singgah di gubuk kami di Baghdadiyah Jeddah, dekat Hotel AlAttas. Maka adalah sebuah "barokah", kebetulan ketika itu tak satu pun kamar hotel di Jeddah yang kosong, maka Pak Subchan tidak memiliki alasan untuk tidak singgah ke gubuk tempat kami para kerabat mahasiswa/alumni Timur Tengah kumpul-kumpul.

Selanjutnya, setelah qailuulah atau tidur siang sejenak, kemudian mandi sore dan shalat, seraya mengikat tali sepatu beliau bersenandung, "Yang hilang tak kan kembali..." Serta merta penulis bilang: "Wah, Pak Subchan, bisa-bisa ngalahin Bob Tutupoli!"Sambil tersenyum lebar beliau merespon: "Oh ya? Tapi janganlah.. Kasihan nanti para penyanyi bisa kehilangan job."

Siti Efi Farhati

Kemudian beliau berpamitan untuk ke Mekkah dan Medinah menggunakan mobil Mercides warna putih milik Pak Abdullah Sumbawa, didampingi Pak Faisal Rochlan (adik beliau) dan Pak Nur (pemilik Percetakan Menara Kudus). Penulis ingat persis, hari Ahad 16 DzulHijjah 1392 atau tanggal 21 Januari 1973, sudah berselang empat dasawarsa lebih, tapi rasanya seakan baru saja kemarin beliau tiga kali menoleh ke penulis dan teman-teman seraya berucap: "Selamat tinggal... Fii AmaanilLaah!"

Usai maghrib, ketika itu bersama keluarga Cak Bakrin Kafi, penulis sedang menjamu Kepala Inkopad, Pak Brigjen Djoko Basoeki sekeluarga, datanglah sahabat penulis bernama Yazid Ramli dari Mekkah membawa berita dukacita. Di luar pintu Yazid Ramli memeluk lunglai penulis yang dengan suara lirih bertanya: "Kenapa? Pak Subchan?!" Berbareng kami mengucap lirih: "Innaa lilLaahi wa innaa ilaiHi roojiuun".

Malam itu Cak Bakrin Kafi dan penulis tidak sampai hati untuk menginformasikan berita duka cita itu ke Pak Brigjen Djoko Basoeki, yang pamitan mau terbang ke Amerika untuk suatu tugas, dan keluarga terbang pulang ke Jakarta.

Musim haji tahun 1392/1973 itu Amiirul-Haj Indonesia adalah Pak Jenderal Amir Machmud, Menteri Dalam Negeri RI, Ketua Umum Golkar. Maka tentunya dapat dibayangkan, isu politik seperti apa yang sangat mungkin serta merta dapat mencuat menjelma menjadi malapetaka amat dahsyat di Indonesia. Khususnya di Jawa Timur, belahan Nusantara basis kaum santri dan Nahdliyiin. Karena itu, penulis segera mencoba-yakinkan Cak Bakrin Kafi, putra Kiai Cholil Bangkalan Madura, untuk melakukan tindakan darurat demi keamanan situasi negeri tercinta dengan menangkal kemungkinan hembusan fitnah. 

Alhamdulillah Cak Bakrin tanggap, maka malam itu juga bersama penulis ke Telkom Jeddah (musim haji buka 24 jam) mengirim dua telegram (isi berita sama, yaitu: "kilat":

"Innaa lilLaahi wa innaa ilaihi raajiuun, telah berpulang ke rahmatulah SWT almarhum haji Subchan ZE karena kecelakaan murni, ulangi karena kecelakaan murni, di Wadi Fatmah dalam perjalanan darat dari Mekkah ke Medinah. Semoga Allah SWT menerima amal ibadahnya serta mengampuni segala dosanya dan membangunkan tempat mulia di taman surgaNya, sementara ahli keluarga dan kita yang ditinggalkan tetap tabah, tawakkal dan tulus ikhlash mendoakannya disertai membaca al-faatihah. Demikian, Bakrin Kafi dan Muzammil Basyuni) masing-masing dialamatkan ke Kantor PBNU, Jl. Kramat Raya - Jakarta Pusat; dan

Keluarga Bapak Subchan ZE. AlMarhum, Jl. Banyumas No.4, Menteng, Jakarta Pusat.

Sopir Pak Subchan ZE, yaitu Syauqi Thohir Rochili, putra Pengasuh Ponpes AtTahiriyah  Kampung Melayu, Jatinegara, sempat ditahan di penjara, lalu dibebaskan atas permohonan keluarga AlMarhum. 

Subhanallah, Maha Suci Allah. Waktu itu dua sesepuh: Al-Mukarram KH. Bisri Syamsuri, Rais Aam NU (yang mengskors Pak Subchan ZE dalam kepengurusan struktural PBNU); dan Al-Mukarram KH Ali Maksum, Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogya, guru besar penulis, juga menunaikan haji bersama keluarga.

Sungguh amat mengharukan ketika di acara Tahlil di Bait Indonesia Jiyad Mekkah, Al-Mukarram Rais Aam NU meminta kesaksian para hadirin atas pernyataan beliau merehabilitasi nama harum Pak Subchan ZE rahimahullaah, dan secara eksplisit juga menyatakan mencabut keputusan skorsnya tersebut di atas. 

Dan penulis bersyukur bahwa pada malam itu Al-Mukarram KH Ali Maksum telah berkenan untuk melakukan Talqiin keesokan harinya bakda dluhur, pada acara pemakaman Almarhum di Mala Mekkah.

Allah Maha Besar lagi Maha Mendengar, Pak Subchan ZE telah memperoleh restuNya membangun "hotel"-nya di Mala Mekkah dan istirahat panjang.

 

                          ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. "Yaa ayyatuhan-nafsul-muthmainnah. Irjiii ilaa Rabbiki râdliyatan mardliyyah.. fadkhul fî ibâdî wadkhulî jannatî."

 

 

Muzammil Basyuni. Dubes RI untuk Rep. Arab Suriah 2006-2010.

Arinda, 21 Januari 2011.

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Doa, Humor Islam, AlaNu Siti Efi Farhati

Sabtu, 24 Februari 2018

Hadapi Persoalan Bangsa, Khofifah Ajak Perbanyak Munajat

Tasikmalaya, Siti Efi Farhati. Berkaitan dengan tugas keluarga, hukum Islam telah mewajibkan kepada bapak untuk mengurus semuanya, tapi bukan berarti ibu lepas tanggung jawab. Ini muhasabah kita bersama, namanya muhasabah berarti saling koreksi, saling introspeksi, saling refleksi, bukan beraksi. tidak kalah pentingnya menjaga pertahanan nasional harus dimulai dari pertahanan keluarga.?

Hadapi Persoalan Bangsa, Khofifah Ajak Perbanyak Munajat (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadapi Persoalan Bangsa, Khofifah Ajak Perbanyak Munajat (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadapi Persoalan Bangsa, Khofifah Ajak Perbanyak Munajat

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum PP Muslimat Khofifah Indar Parawansa di depan ribuan jamaah Muslimat NU dalam mauidzah hasanah-nya pada peringatan harlah ke-94 NU dan ke-71 Muslimat sekaligus peringatan Isra Miraj di Mesjid Agung Kota Tasikmalaya, Ahad (30/4).?

"NU punya tugas berat, Muslimat juga punya tugas berat, tugas berat kita menjaga bangsa, menjaga negara, menjaga umat. Jadi kalau ada TNI, maka Banser, warga NU, Muslimat ya jadi TNU, ya tentaranya NU," ujar Menteri Sosial RI ini.

Dengan mengutip Al-Quran surat al-Anfal ? Ayat 9, Khofifah mengatakan, “Hari ini kita bisa melakukan apa? Apakah ibu-ibu bawa senjata, bukan saatnya, senjata kita puasa kita, senjata kita adalah amaliyah kita, senjata kita adalah amal shaleh kita. kita bersama-sama munajat.”

Khofifah menjelaskan, hal ini dilakukan supaya Allah menurunkan bala tentara malaikat untuk membantu bangsa supaya rukun, untuk membantu bangsa agar tidak saling adu domba, untuk membantu bangsa supaya damai.

Siti Efi Farhati

"Kiai-kiai, ulama-ulama, dan ajengan-ajengan selalu menyampaikan bagaimana kita ini bisa menguatkan Ahlusunnah wal Jamaah. Di sisi lain ada ahli fitnah wal jamaah, ini PR kita. Saya pagi-pagi tadi saja terima hoaks, Kasihan kan rakyat disuguhi fitnah-fitnah seperti ini terus,” keluh Perempuan kelahiran 19 Mei 1965 ini.

Dia juga mengungkapkan soal keberagaman di Indonesia. "Hubungan intern umat beragama harus kita tata, hubungan antarumat beragama juga harus kita tata. Hubungan intern itu Islam dengan Islam, yang tahlil dan yang gak suka tahlil, yang mau Maulid dan yang anti-Maulid, yang mau manakib dan yang antimanakib, tidak boleh bertengkar. minna..minhum...wah berantakan bangsa ini," ungkapnya.

Siti Efi Farhati

Di akhir tausiyahnya, Khofifah mengingatkan supaya bercermin pada perpecahan di Timur Tengah, di mana persatuan dan kedamaian sulit dicapai karena kepentingan tertentu.

"Jangan sampai perpecahan terjadi di negara kita tercinta Indonesia. Semoga ahli fitnah itu diberi hidayah serta NU dengan usia yang hampir seabad, diiringi dengan kualitas juga, kualitas akademisi NU. Secara kuantitatif sudah, secara kualitatif, itu yang kita usahakan," tandasnya.

Hadir dalam acara tersebut, Rais Syuriyah KH Aban Bunyamin, Ketua Tanfidziyah PCNU KH Didi Hudaya, ? Mustasyar yang juga Walikota Tasik Budi Budiman, Ketua Muslimat Jawa Barat Hj Ela Giri Komala, serta para ketua badan otonom NU dan para tokoh Nahdlatul Ulama Kota Tasikmalaya. (Arif/Mukafi Niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Doa, Lomba Siti Efi Farhati

Sabtu, 17 Februari 2018

Dilantik, PCNU Aceh Besar Ingin Dirikan Universitas

Aceh Besar, Siti Efi Farhati. Meski baru dilantik Selasa malam (22/8) lalu, PCNU Kabupaten Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam telah bergerak jauh sebelumnya. Tak tanggung-tanggung, salah satu pergerakan mereka adalah mengupayakan pendirian Universitas Nahdlatul Ulama. Perguruan tinggi dianggap ujung tombak untuk kemajuan umat Islam secara umum, dan NU secara khusus. ?

Dilantik, PCNU Aceh Besar Ingin Dirikan Universitas (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilantik, PCNU Aceh Besar Ingin Dirikan Universitas (Sumber Gambar : Nu Online)

Dilantik, PCNU Aceh Besar Ingin Dirikan Universitas

Menurut Ketua PCNU Kabupaten Aceh Besar Tgk. Dhiauddin Idris mengatakan, NU harus turut serta dalam mengelola negara Indonesia. Syarat utama untuk melakukan itu butuh calon-calon penyelenggara negara yang berkualitas. NU memiliki kader warga yang secara kultur mayoritas.

“Kami optimis untuk jurusan-jurusan tertentu justru akan jadi minat utama calon mahasiswa, misalnya kedokteran atau keperawatan, dimana nantinya para alumni dapat mendedikasikan dirinya pada lembaga-lembaga amal usaha NU, bahkan masyarakat secara luas; mengingat begitu banyak anak-anak Aceh yang butuh perhatian khusus. Apalagi Aceh Besar merupakan daerah penyelenggaran pendidikan inklusif yang dicanangkan Kemdikbud,” jelasnya Jumat malam (26/8). ?

Siti Efi Farhati

Saat ini , tambahnya, pendirian universitas dalam tahap pengurusan lahan. Sementara taget berdiri, kalau memungkinkan, ingin tahun ini. “Kita berharap secepatnya. Kami baru ditugaskan PWNU Aceh untuk mengurus hibah lahan. Insyaallah kalau dalam dua bulan ini hibah lahan clear,” katanya.

Menurut dia, jika pengurusan hibah itu berjalan dengan lancar, maka tahun ini juga akan didirikan karena sudah ada yang menawarkan pendirian bangunan sederhana yang dapat difungsikan sebagai sekretariat panitia pendirian sekaligus sekretariat PCNU Aceh Besar. (Abdullah Alawi)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati AlaNu, Doa, Kyai Siti Efi Farhati

Rabu, 07 Februari 2018

Ketika Suami Izin ke Kiai Akan Bunuh Selingkuhan Istri

Seorang ulama atau kiai adalah tokoh yang bertanggung jawab dalam mendidik moral masyarakat. Tanggung jawab ini sering sangat berat karena watak dan karakter masyarakat tidaklah sama. Para kiai tidak jarang dihadapkan pada sebuah situasi sulit ketika ia harus menjaga agar prinsip-prinsipnya tidak terlukai.

Tak terkecuali Kiai Muhammad, seorang Kiai di Desa Bandungan Kecamatan Pakong Kabupaten Pamkesanan yang sangat alim dan menutupi dirinya dari keterkenalan oleh khlayak ramai. Kabarnya ia pernah nyantri di Pesantren Kiai Maksum Lasem. Ia juga rupanya memiliki hubungan yang baik dengan pesntren Tebuireng, Denanyar, Tambakberas dan Rejoso Jombang.

Ketika Suami Izin ke Kiai Akan Bunuh Selingkuhan Istri (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Suami Izin ke Kiai Akan Bunuh Selingkuhan Istri (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Suami Izin ke Kiai Akan Bunuh Selingkuhan Istri

Kiai Muhammad pernah menceritakan kepada penulis bahwa suatu hari datanglah kepadanya seorang warga desanya yang baru pulang bekerja dari luar negeri sebagai TKI. Dalam sowannya itu dengan nada memendam amarah yang memuncak, seorang warga meminta izin sang kiai untuk membunuh seseorang. Pasalnya, orang yang dimaksud ini telah main serong dengan istrinya selama ditinggal bekerja ke luar negeri.

“Saya minta izin kiai, saya minta restu dan doanya, saya mau carok.” Katanya.

Siti Efi Farhati

“Kenapa?” kata sang kiai.

“Istri saya diambil orang,” ungkapnya.

Siti Efi Farhati

Untungnya, sang kiai dapat meredam emosi warga tersebut. Sang kiai mengungkapkan bahwa tidak ada untungnya berkelahi dan bunuh-membunuh. Ia juga mengungkapkan bahwa jika seorang warga tersebut menang, ia akan dipenjara. Selama di penjara siapa yang tahu kalau istrinya akan dicuri orang lagi. Jika ia kalah dan harus mati, maka istrinya akan kawin lagi. Jadi sebaiknya carok itu jangan pernah terjadi.

“Menurut saya,” lanjut sang kiai dengan nada tenang dan hati-hati, “Sebaiknya jangan ada bunuh-bunuhan karena tidak ada untungnya baik buat yang kau bunuh maupun dirimu sendiri.”

“Lagian kamu sendiri juga agak keliru, masa istri ditinggal ke luar negeri, dalam hitungan tahun lagi,” kata Kiai Muhammad yang mengerti bahwa tamunya itu habis pulang dari luar negeri.

“Sebaiknya jangan ada carok itu, kamu lebih baik hidup tenang dan jaga istrimu baik-baik. Yang lalu biarlah berlalu sebagai pelajaran. Kalau harus ke luar negeri berangkatlah bersama jangan sendiri-sendiri,” tutur Kiai Muhammad sebagai pamungkas.

Warga tersebut langsung menyadari emosinya dan pulang dengan perasaan yang penuh kesadaran akan kesalahan dirinya telah meninggalkan istri ke luar negeri. Pertumpahan darah pun dihindarkan. Kiai Muhammad sukses memberi jalan tengah “menang sama menang” dan menghindarkan warga tersebut dari perbuatan yang mencelakakan orang lain dan dirinya. (R. Ahmad Nur Kholis)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Halaqoh, Doa, Kajian Sunnah Siti Efi Farhati

Selasa, 06 Februari 2018

Pesantren adalah Lembaga Pendidikan Unggulan, Bukan Alternatif

Jakarta, Siti Efi Farhati. Soft Launching Gerakan Nasional #AyoMondok telah diluncurkan di Gedung PBNU lantai 8 Jl Kramat Raya Jakarta Pusat, Senin (1/6). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) serta didukung oleh RMINU Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Pesantren adalah Lembaga Pendidikan Unggulan, Bukan Alternatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren adalah Lembaga Pendidikan Unggulan, Bukan Alternatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren adalah Lembaga Pendidikan Unggulan, Bukan Alternatif

Hadir dalam kegiatan ini, Ketua PP RMINU, KH Amin Haedari, Sekretaris PP RMINU, KH Miftah Faqih, Ketua RMINU Jawa Tengah, KH Abdul Ghoffar Rozien, Koordinator Nasional Gerakan Ayo Mondok, KH Lukman Haris Dimyati, serta Nahdliyin yang memadati tempat kegiatan. Peluncuran gerakan ini diresmikan langsung oleh Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj.

Dalam sambutannya, KH Lukman Haris Dimyati menjelaskan, bahwa gerakan ini adalah ikhitiar ini kalangan pondok pesantren di Tanah Air, khususnya yang tergabung dalam RMINU, mengajak masyarakat untuk menjadikan pesantren sebagai pilihan utama bagi pendidikan putra-putrinya.

Siti Efi Farhati

“Sejarah pesantren sangat panjang, sejak sebelum merdeka. Gerakan ini merupakan upaya serius dari para pengasuh pesantren untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa pesantren bukan sekadar pilihan alternatif,” jelas Gus Lukman, sapaan akrabnya.

Siti Efi Farhati

Sebaliknya, lanjut dia, adalah lembaga pendidikan unggulan, baik dari segi prestasi akademik maupun dari segi kemampuan manajerial, leadership, dan networking.

Sementara itu, KH Amin Khaedari, mengatakan, bahwa gerakan nasional ayo mondok merupakan usaha peneguhan Islam Nusantara. “Kearifan lokal Islam Indonesia dibangun melalui pesantren. Gerakan pesantren menyumbang jasa yang sangat luar biasa bagi bangsa dan negara,” ujarnya.

Dalam taushiyahnya, KH Said Aqil Siroj menegaskan, bahwa gerakan ini adalah bagian dari misinya dulu ketika terpilih menjadi Ketum PBNU, yaitu gerakan kembali ke pesantren. Pesantren selain sebagai benteng moral, juga sebagai benteng intelektual dan ideologi Islam Nusantara yang ramah, toleran, dan moderat.

“Dulu jaman NU berdiri, Wahabi yang radikal jauh di luar sana, di Arab. Kini wahabinya di depan kita. Ini tantangan buat pesantren,” tegasnya.?

Kang Said juga menuturkan, bahwa jangan sampai kita melahirkan generasi yang lemah. Pesantren harus melahirkan generasi yg kuat. Baginya, untuk menjdi ekstrem tidak butuh ilmu. Tapi untuk wasathon butuh ilmu. Karena harus menggabungkan (dalil) naqliyah denang (nalar) aqliyah.

“Oleh karena itu, PBNU sangat terharu sekaligus mendukung gerakan ini, serta meminta masyarakat, khususnya warga NU agar merespon gerakan ini dengan baik sehingga tercipta generasi berkualitas ala pesantren,” tukasnya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Doa, Anti Hoax Siti Efi Farhati

Minggu, 04 Februari 2018

Kajian Ar-Raudhah Lestarikan Aswaja di Kampus UNS

Solo, Siti Efi Farhati. Kajian Ar-Raudah menggelar kajian rutin Selasa sore pada pekan ke-2 dan ke-4 di selasar masjid Nurul Huda Universitas Negeri Sebelas Maret Solo (UNS), Jawa Tengah, Selasa, (26/11). Kajian bernafas Ahlussunnah wal Jamaah ini mengaji kitab Risalatul Jamiah karya Al-Habib Ahmad bin Zein Al-Habsyi.

Kajian Ar-Raudhah Lestarikan Aswaja di Kampus UNS (Sumber Gambar : Nu Online)
Kajian Ar-Raudhah Lestarikan Aswaja di Kampus UNS (Sumber Gambar : Nu Online)

Kajian Ar-Raudhah Lestarikan Aswaja di Kampus UNS

Puluhan jamaah yang terdiri dari berbagai fakultas di UNS turut hadir. Kehadiran Ar-Raudhah cukup membantu mereka yang berhaluan aswaja. Sebelumnya majelis taklim di sekitar kampus UNS cukup banyak. Namun, majelis ilmu model aswaja terbilang langka.

Para mahasiswa UNS dari kalangan Nahdliyyin terkadang menempuh jarak sekitar 7 km untuk mendapatkan siraman ilmu dari para ulama ataupun habib di daerah Pasar Kliwon, Solo ataupun di tempat lain. Namun, kesulitan itu kini sedikit terbantu dengan adanya kajian Ar-Raudhah UNS.

Siti Efi Farhati

Ar-Raudhah UNS sendiri merupakan majelis ilmu yang dirintis oleh Habib Novel al-Aydrus dan kemudian dilanjutkan oleh Habib Muhammad bin Husain al-Habsyi. Seiring perkembangannya, majelis ini kini semakin besar jamaahnya. Bahkan banyak dari kalangan mahasiswa ataupun dosen yang bukan dari Nahdliyyin pun tertarik mengikuti kajian ini.

Dalam kesempatan itu, Habib Muhammad menerangkan pentingnya meningkatkan iman dan membersihkan hati. “Bagaimana caranya? Di antaranya dengan duduk semacam ini (majelis ilmu). Meskipun sederhana, akan tetapi iman kita bisa meningkat,” tutur ulama yang juga aktif dalam kegiatan NU Solo itu.

Siti Efi Farhati

Lebih lanjut ia menjelaskan, cara lain untuk membersihkan hati yakni dengan pengakuan atau bertobat kepada Allah SWT. Dengan itu, kita juga dapat mengintrospeksi kesalahan kita untuk selanjutnya mengganti dengan perbuatan baik. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati IMNU, Ubudiyah, Doa Siti Efi Farhati

Minggu, 28 Januari 2018

Siswa SMK Plus NU dan BNN Sidoarjo Diskusi Seputar Narkoba

Sidoarjo, Siti Efi Farhati - SMK Plus Nahdlatul Ulama Sidoarjo mendatangkan pemateri untuk mendiskusikan bahaya narkoba dari Badan Narkotika Nasional (BNN) Sidoarjo di sekolah setempat. Kehadiran BNN ini untuk memberikan penyuluhan tentang bahaya hingga penanganan bagi pecandu narkoba.

Guru BK SMK Plus NU Sidoarjo M Zakariya menuturkan, maraknya kasus narkoba yang menyasar di kalangan pelajar membuat para guru menjadi prihatin. Agar kasus tersebut tidak masuk di lingkungan sekolah, pihaknya sengaja memberikan edukasi dan pemahaman seputar narkoba kepada para siswanya.

Siswa SMK Plus NU dan BNN Sidoarjo Diskusi Seputar Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Siswa SMK Plus NU dan BNN Sidoarjo Diskusi Seputar Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Siswa SMK Plus NU dan BNN Sidoarjo Diskusi Seputar Narkoba

"Agar peserta didik baru maupun para siswa SMK Plus NU Sidoarjo terhindar dari narkoba, kami sengaja menghadirkan tim dari BNN Sidoarjo. Diharapkan para siswa bisa mengantisipasi dan mencegah penyebaran barang haram itu. Tak hanya itu saja, supaya anak-anak dan orang lain bisa selamat dari bahaya narkoba," kata Zakariya, Kamis (28/7).

Siti Efi Farhati

Lebih lanjut ia mengatakan, untuk mempertebal keimanan para siswa setiap hari sebelum proses belajar-mengajar para siswa terlebih dulu shalat dhuha, membaca surah Yasin, istighotsah, dan kegiatan yang bersifat positif lainnya.

Siti Efi Farhati

"Para siswa kami ajarkan tatakrama dengan selalu senyum, salam, sapa dan tetap mengedepankan sopan santun. Pada saat pengenalan lingkungan sekolah yang kami adakan pada tanggal 18 hingga 20 Juli kemarin, kami juga meminta kepada anak-anak untuk menampilkan bakatnya masing-masing seperti qiroah, tari tradisional, nasyid, nyanyi, drama dan lain sebagainya. Hal ini untuk menghindari adanya penyalagunaan narkoba, salah satunya dengan melakukan hal-hal positif," tandasnya. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Doa, Meme Islam Siti Efi Farhati

Lagu Ya Lal Wathan Menggema di Universitas Indonesia

Depok, Siti Efi Farhati. Tak seperti biasa, lagu Ya Lal Wathon yang lazimnya sering didengungkan di pesantren, lembaga maupun jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) Sabtu (28/10) pagi, lagu semangat nasionalisme yang digubah oleh KH Abdul Wahab Chasbullah ini mengema di Gedung Auditorium Pusat Studi Jepang, Universitas Indonesia (PSJ-UI) dalam rangka 1st Santri Writer Summit serta merupakan rangkaian peringatan Hari Santri Nasional.

Menurut Desi Sulaiman, salah satu anggota paduan suara yang juga santri Umul Quro, Bogor, mengatakan, dengan dinyanyikannya lagu Ya Lal wathon pada kegiatan yang diikuti oleh ratusan santri dan pemerhati pesantren ini bertujuan untuk memupuk nasionalisme bersama dan sekaligus mengenalkan kepada khalayak bahwa pesantren merupakan basis yang selalu mengawal Negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Lagu Ya Lal Wathan Menggema di Universitas Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Lagu Ya Lal Wathan Menggema di Universitas Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Lagu Ya Lal Wathan Menggema di Universitas Indonesia

“Iya, untuk menumbuhkembangkan rasa Nasionalisme dan supaya dunia luar pesantren tahu tentang besarnya nasionalisme kaum pesantren,” tuturnya. 

Dalam acara yang diselenggarakan oleh Kementrian Agama bersama Komunitas Santri Nulis ini telah menyaring essay yang diikuti oleh 357 orang santri se-Indonesia, kemudian disaring menjadi 50 santri pilihan.

Sebagai bentuk penghormatan, santri yang lolos seleksi akan mendapatkan hadiah dari panitia berupa hadiah liburan ke Singapura. Demikian ungkap salah satu panitia, Nur Sehah. 

Siti Efi Farhati

“Peserta dengan performa terbaik akan mendapatkan tiket liburan ke Singapura sebagai apresiasi yang diberikan pihak penyelenggara,” tandasnya. 

Dalam seminar ini, lanjutnya, hadir sebagai narasumber budayawan Prie GS, Habiburrahman El-Sirazi, Abdul Wahab dari Santri Online serta beberapa narasumber lain. (Ahmad Mundzir/Fathoni)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati AlaNu, Nahdlatul, Doa Siti Efi Farhati

Kamis, 25 Januari 2018

Acara Masih Besok, Kursi Pertunjukan Malam Pembacaan Puisi Palestina Ludes

Jakarta, Siti Efi Farhati - KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) dan kawan-kawan akan menggelar Doa Untuk Palestina, malam pembacaan puisi-puisi Palestina di Graha Bakti Budaya, Kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat pada Kamis (24/8) malam. Tetapi beberapa hari sebelum acara dimulai, kursi penonton sudah habis dipesan di panitia penyelenggara.

“810 kursi habis,” kata Achmad Solechan, tim panitia penyelenggara, kepada Siti Efi Farhati, Selasa (22/8) sore.

Acara Masih Besok, Kursi Pertunjukan Malam Pembacaan Puisi Palestina Ludes (Sumber Gambar : Nu Online)
Acara Masih Besok, Kursi Pertunjukan Malam Pembacaan Puisi Palestina Ludes (Sumber Gambar : Nu Online)

Acara Masih Besok, Kursi Pertunjukan Malam Pembacaan Puisi Palestina Ludes

Menurut Solechan, panitia akan tetap memfasilitasi warga yang ingin mengunjungi pertunjukan malam puisi ini. Panitia akan berupaya agar pertunjukan di dalam ruangan tetap dapat disaksikan oleh mereka yang tidak kebagian kursi di dalam ruangan.

“Tetapi kita menyediakan di area pelataran teras Graha Bhakti Budaya, layar proyektor yang bisa dinikmati penonton di luar. Jadi setiap yang datang tetap bisa mengikuti acara berlangsung,” kata Solechan.

Siti Efi Farhati

Pertunjukan malam pembacaan puisi-puisi untuk Palestina ini didorong oleh keprihatinan Gus Mus dan kawan-kawannya atas nasib kemanusiaan warga Palestina yang teraniaya oleh Israel.

Siti Efi Farhati

“Mendengar berita-berita memilukan tentang Palestina dan saudara-saudara kita bangsa Palestina yang terus dizalimi penjajah Israel, justru di saat kita sendiri sedang dalam suasana merayakan kemerdekaan kita, aku dan kawan-kawan tergerak untuk menyelenggarakan lagi ‘Malam Palestina sebagai ungkapan rasa keprihatinan dan solidaritas kita kepada saudara-saudara kita yang tak kunjung merdeka itu,” kata Gus Mus dalam laman facebook-nya.

Mereka yang rencananya akan hadir adalah Gus Mus, Abdul Hadi WM, Sutarji Colzoum Bahri, KH M Quraish Shihab, Acep Zamzam Nur, Renny Djajusman, Fatin Hamamah, D Zawawi Imron, Butet Kertaredjasa, Slamet Rahardjo, Mahfud MD, Joko Pinurbo, Sosiawan Leak, Inayah Wahid, Najwa Shihab, Ratih Sanggarwati, Ulil Abshar Abdalla, Taufiq Ismail, Jamal D Rahman dan Anis Sholeh Basyin.

Acara yang diselenggarakan oleh Gus Mus dan kawan-kawan ini terbuka untuk umum dan gratis. Di acara ini nanti akan digelar perbincangan puisi-puisi Timur Tengah dan dimeriahkan oleh grup Laela Majnun dari Semarang.

Acara seperti ini, kata Solechan, bukan untuk kali pertama diadakan. Pada tahun 1982 acara malam Palestina pernah digelar. Gus Dur yang waktu itu menjadi Ketua DKJ meminta Gus Mus membaca puisi-puisi Arab. Di tahun itu pula Gus Mus pertama kali tampil membaca puisi di publik. (Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nusantara, Doa Siti Efi Farhati

Minggu, 21 Januari 2018

Silaturrahim Kiai Pesantren Dianggap Liar, Gus Mus Sikapi Dingin

Pekalongan, Siti Efi Farhati. Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Tholibien, Rembang, Jawa Tengah, KH Mustofa Bisri (Gus Mus) bersikap dingin atas penilaian bahwa acara silaturrahim ulama dan kiai pesantren adalah forum ‘liar’. Menurutnya, forum pertemuan para ulama dan kiai pesantren se-Indonesia yang ia gagas itu bertujuan baik.

“Ya, forum ini bisa dikatakan liar, juga bisa jinak,” ujar Gus Mus dalam acara bertajuk “Kiai Sebagai Simpul Panduan Utama Bangsa untuk Kemaslahatan Umat” yang digelar di Pondok Pesantren Al-Mubarok, Medono, Pekalongan, Jawa Tengah, Selasa (22/5) lalu.

Gus Mus yang juga Mustasyar PBNU itu menjelaskan, jauh sebelum kegiatan tersebut diselenggarakan hingga pertemuan ketiga, gagasan untuk mengumpulkan kiai pesantren telah disampaikan ke PBNU. Namun, katanya, ternyata hal tersebut tidak mendapat respon baik.

Silaturrahim Kiai Pesantren Dianggap Liar, Gus Mus Sikapi Dingin (Sumber Gambar : Nu Online)
Silaturrahim Kiai Pesantren Dianggap Liar, Gus Mus Sikapi Dingin (Sumber Gambar : Nu Online)

Silaturrahim Kiai Pesantren Dianggap Liar, Gus Mus Sikapi Dingin

Padahal, menurut Gus Mus, gagasan dan ide para pengasuh pesantren sangat baik untuk kemajuan bangsa. Maka, kegiatan temu pengasuh itu pun tetap dijalankan, meski PBNU tidak meresponnya.

Forum tersebut dianggap liar tidak terstruktur dalam PBNU. Forum tersebut berbeda dengan Robithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) atau asosiasi pondok pesantren se-Indonesia yang beradadi bawah naungan PBNU.

Siti Efi Farhati

Tidak diakuinya forum tersebut oleh PBNU, tak membuat Gus Mus kebakaran jenggot. Gus Mus dan kiai yang lainnya merespon semua itu dengan biasa-biasa saja.

“Kalau diakui, ya alhamdulillah, tidak diakui, ya tidak apa-apa. Tujuannya bukan untuk diakui atau tidak diakui, tapi bagaimana keinginan para pengasuh pesantren dan para ulama bisa menyampaikan gagasan dan idenya,” tutur Gus Mus.

Salah satu butir rekomendasi dalam pertemuan tersebut adalah hubungan antara kiai dengan politik dan partai politik perlu diperjelas. Seperti telah termaktub dalam Keputusan Muktamar NU di Yogyakarta, 1989 tentang Sembilan Pedoman Berpolitik.

Dalam keputusan tersebut dinyatakan politik ke-NU-an adalah Politik kebangsaan, membangun dan meneguhkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), politik kerakyatan, memihak rakyat, dan politik kekuasaan. Para Kiai diminta harus bisa mengendalikan diri agar tetap dapat mendampingi umat.

Siti Efi Farhati

Di akhir pertemuan peserta silaturrahmi berharap agar RMI memajukan mutu akademis di pesantren-pesantren untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. RMI perlu mengembangkan silaturrahim para kiai di daerah-daerah agar hasil pertemuan itu dapat terjabar ke dalam program-program pengembangan pesantren.

Di samping itu, kaderisasi kiai perlu diperkuat di tiap kabupaten dan kota; dapat dilaksanakan melalui pembentukan kelompok-kelompok kecil yang mandiri, terlatih, dan berkarakter yang kuat; yang diarahkan untuk menumbuhkan intelektualitas masyarakat atau membangun pengetahuan bersama masyarakat dengan berteladankan Walisongo. (muiz)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati News, Doa Siti Efi Farhati

Jumat, 19 Januari 2018

Pelajar NU Harus Jadi Generasi Emas Aswaja

Pamekasan, Siti Efi Farhati - Saat mengisi acara Daurah Aswaja di Auditorium STAIN Pamekasan, Kiai Marzuqi Mustamar mengapresiasi semangat Pengurus Cabang IPNU-IPPNU Kabupaten Pamekasan dalam menjalankan roda organisasi, Ahad (22/1). Kiai Marzuki mendoakan semoga para pelajar NU terus berkiprah dalam mencerdaskan diri dan bangsa ini.

"Kalian harus jadi generasi emas Aswaja, yaitu generasi yang selalu mengedepankan nilai-nilai kemoderatan, toleransi, adil, dan selalu menebar kebaikan dengan cara yang santun,"? tegas Pengasuh Pesantren Sabilurrosyad Malang tersebut.

Pelajar NU Harus Jadi Generasi Emas Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Harus Jadi Generasi Emas Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Harus Jadi Generasi Emas Aswaja

Menurutnya, NU insyaallah akan terus jaya mana kala para pelajarnya terus berada pada garis perjuangan ulama. Karenanya, pelajar NU harus fokus belajar keagamaan yang berhaluan Aswaja, tidak perlu nyelenih dengan aliran-aliran yang tidak jelas sanad keilmuannya.

Siti Efi Farhati

Dalam kesempatan itu, Kiai Marzuki membagikan ratusan kitab Muhtashor al-Muqtathofat li Ahlilbidayat kepada hadirin. Pihaknya berpesan agar kitab karangannya tersebut dikaji.

"Jika isinya baik, amalkanlah. Jika ada yang perlu diluruskan, kami selalu terbuka pada kritikan," tukas Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur tersebut.

Siti Efi Farhati

Sementara itu, Ketua PC IPNU Pamekasan Kadarisman mengungkapkan, peserta Dauroh Aswaja terdiri dari para pelajar NU se-Kabupaten Pamekasan. Selain itu, hadir pula para kiai, pimpinan kampus, sesepuh NU, dan petinggi NU di Kabupaten Pamekasan.

"Alhamdulillah acara ini mendapat sambutan hangat dari seluruh elemen warga nahdliyin," ujar pemuda asal Desa Kertagena Tengah, Kadur, Pamekasan tersebut.

Usai acara, tambah Kadarisman, nanti pengurus akan menindaklanjutinya dengan melangsungkan kajian kitab yang diberikan oleh Kiai Marzuki. Itu dipandang perlu supaya kegiatan PC IPNU-IPPNU Pamekasan tidak berhenti di seremonialnya saja. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nahdlatul Ulama, Doa, RMI NU Siti Efi Farhati

PCNU Jember Tolak Sistem AHWA

Jombang, Siti Efi Farhati. Tidak semua sepakat dengan rencana akan digunakannya konsep Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) pada acara Konferensi Wilayah NU Jawa Timur mendatang. PCNU Jember adalah di antara yang menolak.

PCNU Jember Tolak Sistem AHWA (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Jember Tolak Sistem AHWA (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Jember Tolak Sistem AHWA

Hal ini disampaikan Ketua PCNU Jember KH Abdullah Syamsul Arifin usai acara launching kader Aswaja di Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang (23/3). Bagi Gus Aab, sapaan akrabnya, wacana yang digulirkan panitia Konferensi Wilayah NU Jatim tersebut akan menimbulkan persoalan baru pada suksesi kepemimpinan di NU, khususnya Jawa Timur.

“Menurut saya, rencana itu terlalu beresiko,” katanya. Karena itu, dosen STAIN Jember ini masih melakukan pengkajian secara intensif dengan beberapa PCNU se Jawa Timur.?

Siti Efi Farhati

“Kita terus melakukan komunikasi yang intensif dengan beberapa pengurus PCNU,” lanjutnya.?

Siti Efi Farhati

Catatan yang disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Arifin Jember ini adalah bahwa tafsir atas sejumlah pasal khususnya ART NU Bab XIV Pasal 42 ayat a yang berbunyi: Rais dipilih secara langsung melalui musyawarah mufakat atau pemungutan suara dalam konferensi wilayah setelah yang bersangkutan menyampaikan kesediaannya, serta poin b yang mengatur calon ketua, penerapannya bukan dengan Ahlul Halli Wal Aqdi atau AHWA.

Apalagi mekanisme Ahwa seperti disampaikan di sejumlah media ternyata dilakukan sebelum kegiatan konferensi. “Ini kan justru menyelenggarakan kegiatan sebelum konferensi?” katanya balik bertanya. Belum lagi mekanisme AHWA tersebut ternyata justru ditawarkan oleh panitia, bukan dari peserta.?

“Yang memiliki kedaulatan tertinggi adalah para utusan dari PCNU,” katanya. “Sehingga PCNU lah yang akan menentukan model dan mekanisme konferensi, termasuk pemilihan calon rais dan ketua tanfidziyah,” lanjutnya.

Karena itu, Gus Aab berharap mekanisme ini jangan dilemparkan secara terbuka sebelum dibicarakan secara intensif dengan PCNU se Jawa Timur.?

“Selama belum dibicarakan dengan PCNU, saya lebih baik tidak berkomentar lebih jauh,” pungkasnya.

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Daerah, Doa, Sejarah Siti Efi Farhati

Minggu, 14 Januari 2018

Meziarahi Makam Pencipta Nama dan Lambang NU

Surabaya, Siti Efi Farhati

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Surabaya merayakan hari lahir (harlah) yang jatuh pada 16 Rajab 1437 H atau bertepatan dengan 24 April 2016 dengan berziarah makam para pendiri atau orang-orang yang berjasa besar terhadap NU.

Meziarahi Makam Pencipta Nama dan Lambang NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Meziarahi Makam Pencipta Nama dan Lambang NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Meziarahi Makam Pencipta Nama dan Lambang NU

Makam yang dikunjungi, antara lain Sunan Ampel, pencipta nama NU KH Mas Alwi Abdul Azis, Sunan Bungkul yang dikenal sebagai kakek Sunan Ampel, lalu pencipta lambang NU KH Ridlwan Abdullah di kompleks makam Tembok, Surabaya.

"Instruksi PBNU, peringatan Harlah ke-93 tahun ini digelar secara sederhana. Malam ini (Sabtu) ziarah ke makam Sunan Bungkul menjadi titik terakhir ziarah ke muassis. Di makam Sunan Bungkul sekalian digelar tahlilan," kata ketua PCNU KH Mubibbin Zuhri.



Siti Efi Farhati

Kisah Lambang NU

Siti Efi Farhati



Bersamaan Harlah ke-93 ini, Wakil Katib PCNU Surabaya Ustadz Maruf Khozin membuat catatan tentang penuturan Gus Saiful Halim, cucu KH Ridlwan Abdullah. Pada catatan yang dibagikan ke Nahdliyin ini disampaikan sejarah pendirian NU. Setelah malam didirikan, para kiai meminta Kiai Ridlwan membuat lambang NU. Mengapa Kiai Ridlwan yang ditunjuk?

Cucu KH Ridlwan, Gus Saiful Halim menceritakan bahwa setelah mondok di Syaikhona Kholil Bangkalan, Kiai Ridlwan pernah bekerja di rumah orang Belanda. Pemilik rumah tersebut adalah pelukis. Suatu ketika tanpa disengaja Kiai Ridlwan menumpahkan tinta di kanvas lukisannya. Kiai Ridlwan gugup dan sedih, namun memberanikan diri memperbaiki lukisan tersebut sebisanya.

Dan ternyata si tuan Belanda tersebut tidak marah karena hasil lukisan Kiai Ridlwan bagus. Maka sejak itulah bakat seni melukis Kiai Ridlwan terlihat.

Pada Kiai Ridlwan, para Kiai memberi syarat kriteria lambang NU. Hadratussyekh KH Hasyim Asyari ketika itu mengatakan, "Membuat lambang NU tidak meniru lambang lain, lambang tersebut harus punya haibah, tidak membosankan sampai kapan pun.”

Menurut Ustadz Ma’rif Khozin, tidak mudah di masa itu dengan membandingkannya di masa digital sekarang. Syarat pertama tadi karena sebelum berdirinya NU, sudah ada Muhammadiyah dan Persis yang juga memiliki lambang.

“Beberapa lambang telah beliau buat, beliau ajukan ke beberapa kiai, selalu ditolak dan tidak diterima. Seolah beliau sudah habis inspirasinya, maka beliau salat Istikharah meminta petunjuk kepada Allah, maka pada jam 3 sebelum Subuh setelah beliau merebahkan tubuh. Kiai Ridlwan bermimpi ada bumi yang dikelilingi 9 bintang,” katanya.

Ini membuatnya terperanjat dan menulisnya secara sederhana di atas kertas. Setelah salat Subuh Kiai Ridlwan menyempurnakan gambar tersebut. Paginya, ia sampaikan kepada beberapa Kiai, termasuk Rais Akbar. Kiai Ridlwan menyampaikan bahwa ini hasil istikharah.

Di lain pihak, Kiai Nawawi Sidogiri juga mendapat Istikharah Surat Ali Imran 103, yaitu tentang Tali Allah, yang oleh Kiai Wahab diilustrasikan dengan 2 tali terikat di bawah. Maka saat kongres NU pertama di Peneleh Surabaya lambang NU telah sempurna. (Maulana/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Doa, Tegal, RMI NU Siti Efi Farhati

Kamis, 04 Januari 2018

Nadirsyah Hosen: Salurkan Aspirasi Lewat Mekanisme Demokrasi yang Ada

Setelah sistem kekhalifahan runtuh pada tahun 1924, dunia Islam terbelah menjadi dua: ada kelompok yang ingin mendirikan sistem khilafah lagi dan ada juga kelompok yang memilih sistem lain –seperti republik, kerajaan, kesultanan, dan lainnya- dari pada menghidupkan kembali sistem khalifah. Masing-masing memiliki pendukung dan argumen. 

Selain itu, muncul pula terma Islam politik dan politik Islam. Di beberapa negara yang penduduknya mayoritas Islam, terjadi polemik antara Islam politik dan politik Islam. Begitupun di Indonesia. Meski memiliki cara yang ‘berbeda’, namun keduanya memiliki semangat untuk menerapkan nilai-nilai Islam di dalah kehidupan berpolitik dan bernegara.

Nadirsyah Hosen: Salurkan Aspirasi Lewat Mekanisme Demokrasi yang Ada (Sumber Gambar : Nu Online)
Nadirsyah Hosen: Salurkan Aspirasi Lewat Mekanisme Demokrasi yang Ada (Sumber Gambar : Nu Online)

Nadirsyah Hosen: Salurkan Aspirasi Lewat Mekanisme Demokrasi yang Ada

Di Indonesia, juga ada kelompok yang mengaku membela Islam dengan menegakkan hukum-hukum Islam, tetapi mereka tidak bersedia untuk ikut berdemokrasi. Mereka menggunakan cara-cara di luar parlemen untuk membela Islam.

Lalu, bagaimana sebetulnya praktik Islam politik dan politik Islam di Indonesia saat ini? Dan bagaimana keduanya mewarnai demokrasi yang ada di Indonesia? Bagaimana menanggapi kelompok yang ada di ‘jalan’ dan tidak ikut berdemokrasi? 

Untuk menguraikan itu, Jurnalis Siti Efi Farhati A. Muchlishon Rochmat berkesempatan mewawancarai Rais Syuriyah PCINU Australia-New Zealand yang juga menjadi Dosen Senior Hukum di Universitas Monash Australia Prof Dr Nadirsyah Hosen atau biasa disapa Gus Nadir. Berikut hasil wawancaranya:

Siti Efi Farhati

Sebetulnya, apa perbedaan Islam politik dan politik Islam, Gus?

Sebenarnya sudah banyak buku dan tulisan yang membahas tentang Islam politik dan politik Islam. Intinya, Islam politik lebih menekankan dan menerapkan simbol-simbol atau atribut Islam di dalam berpolitik. Sementata, politik Islam lebih mengedepankan Islam sebagai sebuah nilai. Mereka tidak melulu menggunakan atribut-atribut Islam dalam kegiatan berpolitik.

Bagaimana Gus Nadir melihat praktik dari keduanya di Indonesia dalam konteks hari ini?

Siti Efi Farhati

Sekarang, di Indonesia terjadi tarik menarik antara keduanya. Ada sebagian yang mengikuti sistem politik yang ada, ikut pemilu. Lalu, mereka memperjuangkan Islam dengan gerakan-gerakan politik. Itu sah-sah saja. 

Tetapi sekarang ada orang yang berada di luar mekanisme demokrasi. Dia ada di jalanan dan tidak bersedia untuk ikut proses demokrasi tetapi dia mengklaim bahwa sedang membela Islam. Kalau dia ikut berdemokrasi, maka dia bisa membela Islam dalam konteks meloloskan kebijakan-kebijakan yang pro Islam. 

Tapi ada semacam ‘ketakutan’ dari masyarakat kalau ada partai yang mengedepankan Islam politik. Bagaimana itu, Gus?

Kita lihat partai-partai Islam misalkan seperti PKS. Ketika pertama kali muncul PKS dulu banyak orang yang khawatir. Tetapi sekarang kita melihat semakin lama PKS itu semakin demokratis.

Apa yang menyebabkan kok bisa seperti itu?

Proses demokrasi mendemokratiskan mereka. Jadi, proses demokrasi tidak membuat mereka menjadi menguat, membuat mereka ‘semakin Islami.’ 

Nah, ini berbeda dengan orang yang berada di jalanan dan tidak ikut proses demokrasi. Dia akan semakin mengeras. Misalnya Hizbut Tahrir Indonesia, sekarang mereka dibubarkan tetapi kan bisa daftar lagi nanti. 

Tetapi kalau mereka memang tidak anti-NKRI maka mereka harus mengikuti proses demokrasi seperti pemilu. Mereka bisa bertarung di sana. Tetapi kalau teriak-teriak di jalan dan menganggap demokrasi itu toghut dan kufur itu tidak dibenarkan. 

Jadi Apakah bisa disimpulkan bahwa mereka yang mengikuti mekanisme demokrasi akan ikut demokratis?

Saya percaya bahwa orang yang mengikuti mekanisme demokrasi Pancasila, dia akan tertarik ke tengah. Karena moderasi itu menjadi sebuah keniscayaan di dalam politik. Dia harus negosiasi dan mempertimbangkan isu-isu lain. 

Yang repot adalah mereka yang ada di ‘jalanan’ karena tidak ada proses yang menarik ke tengah. Yang ada mereka selalu menguat dan mengeras.  

Bisa dibuatkan simplifikasinya, Gus?

Misalnya tujuh juta orang yang ikut demo itu kalau dihitung sebagai perwakilan untuk kursi DPR itu akan dapat berapa kursi. Di jalanan mereka memang banyak, tetapi karena ada mekanisme demokrasi dan pemilu, kalau misalnya orang-orang tersebut dihitung dari daerah saja maka mereka hanya akan mendapatkan satu kursi saja di DPR. Karena ada sebaran kursi dan mekanisme yang harus diikuti.

Kalau banyak-banyakan massa, ya banyakan massa PKB di Jawa. Ini yang saya maksud, kalau kita masuk mekanisme maka kita akan tertarik ke tengah. Itulah politik. Dan silahkan perjuangkan lewat jalur itu. Tapi kalau kita kita tidak proses itu dan berada di ‘jalan’, yang terjadi adalah kita mempolitisasi Islam. 

Untuk menyikapi mereka yang ada di ‘jalan’ seperti itu apa?

Selama itu tidak melanggar aturan dan ketertiban umum, itu adalah bagian dari demokrasi dan kita apresiasi. Tapi ada aturan main dan aturan inilah yang seharusnya ditaati. Masalahnya mereka yang ada di ‘jalanan’ adalah para penyelundup demokrasi. 

Maksudnya penyelundup demokrasi?

Mereka menggunakan kosakata demokrasi tetapi sebenarnya ingin membunuh dan menghancurkan demokrasi. Misalnya seperti ini, mereka turun ke jalan adalah sebuah kebebasan mereka masing-masing. Tetapi jika isu yang diangkat adalah untuk menggoyang pilar bangsa, maka itu tidak diperkenankan. Kalau tidak ada izin, mereka juga tidak boleh melakukan turun ke jalan seperti itu. 

Di luar negeri, kalau melakukan demonstrasi juga harus memiliki izin dan rute yang jelas. Hal itu diterapkan karena ketertiban umum tidak boleh terganggu.   

Gus Nadir melihat demokrasi di Indonesia itu bagaimana?

Demokrasi membutuhkan kedewasaan dan butuh proses. Demokrasi kita baru sebentar, yaitu mulai tahun 1998. Kalau kita bandingkan dengan negara lain, lima puluh sampai tujuh puluh tahun pertama berdemokrasi mereka perang saudara. Kita tidak ada perang saudara. 

Pelan-pelan kita kita akan bergerak ke demokrasi yang lebih dewasa. Tetapi itu butuh waktu dan kesiapan institusi sosial termasuk ormas-ormas Islam. Bagaimana akan berdemokrasi kalau misalnya ada ormas Islam yang tidak demokratis. Misalnya ormas FUI, sekjennya tidak pernah berganti karena dari dulu hingga sekarang masih dipegang Al-Khatthat. Oleh karena itu institusi sosial juga harus diperkuat untuk menuju demokrasi yang lebih dewasa.

Ada anggapan bahwa Perppu tentang ormas bisa digunakan untuk menghantam lawan politik. Bagaimana menanggapi itu?

Kalau untuk menghantam lawan politik berarti yang dibubarin siapa. FPI kan bukan. Ini kah HTI yang dibubarkan. Yang salah itu bukan Perppu tetapi yang salah adalah pemerintah yang sebelumnya yang menerima HTI sebagai ormas.

Itukan persoalannya. Kenapa yang tidak sepakat dengan Pancasila dan UUD 1945 diakui dan dikasih berbadan hukum. Kalau mau membenarkannya kan susah.

Terakhir Gus, Bagaimana Islam Indonesia ini ke depan?

Menurut saya Islam di Indonesia akan menjadi contoh dunia. Saya optimis bahwa Islam di Indonesia akan menjadi contoh bagaimana membangun peradaban dunia. Dan NU akan menjadi salah satu mercusuarnya karena sedang bergerak ke arah sana. Kita bicara secara spiritual maupun bicara secara hitung-hitungan normal, kita sudah bergerak ke arah sana. Tapi itu butuh waktu. 

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Doa, Pondok Pesantren, Amalan Siti Efi Farhati

Selasa, 02 Januari 2018

CBDRM Lakukan Strategic Planning Atasi Bencana

Jakarta, Siti Efi Farhati. Bencana yang datang bertubi-tubi di Indonesia telah menimbulkan korban yang jumlahnya sangat besar. Sampai saat ini belum terdapat upaya penanganan yang komprehensif yang melibatkan masyarakat dalam mengatasi dan menangani bencana.

NU sebagai ormas keagamaan terbesar di Indonesia merasa prihatin dengan kondisi tersebut dan merasa berkewajiban untuk turut terlibat dalam upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan bencana tersebut.

CBDRM Lakukan Strategic Planning Atasi Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
CBDRM Lakukan Strategic Planning Atasi Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)

CBDRM Lakukan Strategic Planning Atasi Bencana

“Dari keprihatinan itu, PBNU berusaha melibatkan pesantren dalam membantu upaya pencegahan dan penanggulangan bencana,” tandas Program Manager Community Based Disaster Risk Management (CBDRM) Avianto Muhtadi di Jakarta, Selasa.

Karena sebelumnya belum ada lembaga di bawah NU yang menangani bencana secara komprehensif, maka langkah pertama yang akan dilakukan adalah memberikan kesadaran akan bencana dan keberadaan CBDRM secara komprehensif ke lingkungan NU dan pesantren. Upaya ini akan dilakukan dengan menggelar workshop yang melibatkan pesantren, PBNU, PWNU, PCNU, badan otonom dan para ahli yang akan merumuskan strategi penanganan bencana.

“Sampai saat ini, potensi kerjasama swasta dan partisipasi masyarakat dengan pemerintah masih kurang. Penanganan bencana tak hanya bisa dibebankan pada pemerintah, dibutuhkan sinergi dan kerjasama yang intens antar kedua belah fihak,” tambahnya.

Siti Efi Farhati

Workshop yang akan diselenggarakan pada 13-14 September di Bandung  ini akan membahas seluruh aspek penanganan bencana mulai dari konsep manajemen bencana, masalah kesehatan, kerentanan sosial dan partisipasi masyarakat, perpektif NU dalam penanganan bencana sampai dengan konsep fikih bencana.

Program ini terselenggara atas kerjasama antara PBNU, Ausaid dan para tenaga ahli dari pust mitigasi bencana ITB yang nantinya akan berperan sebagai technical assistant. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Doa Siti Efi Farhati

Minggu, 31 Desember 2017

Tradisi Pesantren, Bisa Merasa Bukan Merasa Bisa

Pasuruan, Siti Efi Farhati. Budayawan asal Madura D Zawawi Imron menilai, pesantren menyimpan tradisi luhur yang lebih fokus pada instropeksi dan perbaikan diri sendiri ketimbang mencari dan mudah memvonis salah pihak lain.

Kiai berjuluk “Penyair Celurit Emas” ini menyampaikan hal itu dalam seminar kebudayaan yang diselenggarakan Pengurus Cabang Lemabga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Pasuruan, Jawa Timur di Aula BMT Pesantren Sidogiri Pasuruan, Ahad (01/12).

Tradisi Pesantren, Bisa Merasa Bukan Merasa Bisa (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Pesantren, Bisa Merasa Bukan Merasa Bisa (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Pesantren, Bisa Merasa Bukan Merasa Bisa

“Kebudayaan pesantren pada prinsipnya adalah tradisi rendah Hati, tidak menyalahkan orang lain, sebelum menyalahkan diri sendiri. Karena kemuliaan diri hanya Allah yang menilai,” ujarnya.

Siti Efi Farhati

Namun, karakter kebudayaan pesantren ada yang hilang, sebagai akibat kebijakan Orde Baru yang mencoba intervensi. Sembari menegaskan agar mencari tradisi pesantren yang hilang, Zawawi menyatakan bahwa pesantren harus menjaga sikap tawaduk.

“Contoh karakter yang harus tetap ada,  lebih bagus menjadi orang yang merasa tersesat, tetapi sebenarnya di jalan yang benar, daripada merasa benar tetapi di jalan yang sesat,” katanya.

Siti Efi Farhati

“Ini sebagai penerjemahan dari ajaran Sunan Kalijogo ‘Dadio wong sing iso rumongso, ojo dadi wong sing rumongso iso (jadilah orang yang bisa merasa, bukan merasa bisa, red),” lanjutnya dalam seminar bertajuk “Memaknai Keberagaman Budaya melalui Spirit Keagamaan dan Kearifan Lokal”, yang dihadiri jajaran syuriyah, tanfidziyah, utusan MWC, dan delegasi pesantren-pesantren.

Mengutip WS Rendra, Zawawi meminta para hadirin menghormati warisan budaya para leluhur. “Harus kita pertimbangkan untuk menghadapi era kini. Banyak yang baik, untuk kita pakai, tapi ada juga yang harus disesuaikan.”

Zawawi juga berbagi cerita soal bagaimana kiai di Madura mengubah tradisi kultus dan menyembah makam menjadi tradisi bertawassul. “Dengan kalimat sederhana: ‘Baca Fatihah sekali, lebih disukai bagi wali yang kau hormati ini daripada kamu menyembah seribu kali!"

Di akhir paparannya, Zawawi berpesan agar pesantren turut aktif di dunia seni. “Bila pesantren tidak lagi berkesenian, maka habislah pesantren. Tolong jangan jauhkan seni, budaya dan sastra dari Pesantren.”

Dalam kesempatan yang sama, penyair Binhad Nurrohmat yang juga menjadi narasumber mengungkapkan, kearifan lokal pesantren kini tengah menghadapi sebuah tantangan. “Fenomena dangdut koplo antara lain di Pasuruan, menunjukkan bahwa kearifan Lokal kalangan pesantren sudah memiliki musuh baru yang bernama ‘kebejatan Lokal’,” paparnya.

Menurut dia, kearifan lokal adalah sebuah rumus kehidupan yang tumbuh, dipahami dan diyakini oleh komunitas masyarakat tertentu, sehingga menjadi prinsip abadi. “Contoh orang Jawa punya prinsip ojo metani salahe liyan, ojo ngitung becike dewe (jangan mencari-cari kesalahan orang lain dan menghitung-hitung kebaikannya sendiri),” tuturnya. (Fajar Ardana/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Hikmah, AlaSantri, Doa Siti Efi Farhati

Minggu, 24 Desember 2017

PCNU Pringsewu Ingatkan Warga Waspadai Ajakan Makar

Pringsewu, Siti Efi Farhati - Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu, Lampung, H Taufiqurrohim mengimbau kepada seluruh warga NU khususnya di kabupaten setempat untuk waspada dan peka terhadap pergerakan kelompok-kelompok yang berniatan merongrong dan meruntuhkan keutuhan NKRI.

"Mari pertahankan NKRI dari rongrongan kelompok yang sekarang sudah sangat pintar memainkan peranan dalam mempengaruhi pemikiran masyarakat melalui berbagai media," ajaknya, Rabu (23/11) saat mendiskusikan pergerakan tersebut khususnya di Kabupaten Pringsewu.

PCNU Pringsewu Ingatkan Warga Waspadai Ajakan Makar (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Pringsewu Ingatkan Warga Waspadai Ajakan Makar (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Pringsewu Ingatkan Warga Waspadai Ajakan Makar

Menurutnya, beberapa gejala pergerakan dari kelompok yang ingin mengganti ideologi Pancasila dengan Ideologi yang mereka inginkan di berbagai tempat sudah mulai terlihat. Hal ini berdasarkan pemberitaan dan laporan dari warga. "Kita warga Pringsewu perlu lebih waspada apalagi sekarang ini masih hangat permasalahan terkait unjuk rasa lanjutan kasus yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok," katanya.

Ia berpendapat, bisa saja pergerakan dan unjuk rasa tersebut ditunggangi oleh kepentingan kelompok tersebut. "Dengan membakar semangat keagamaan umat Islam, kelompok ini bisa membenturkan umat Islam dengan Pemerintah sehingga mereka memiliki kesempatan untuk menyusupkan paham mereka," ujarnya.

Siti Efi Farhati

Oleh karenanya Ia mengimbau kepada masyarakat Pringsewu untuk tidak terpancing dengan isu-isu yang beredar yang dapat memperkeruh suasana. "Saya imbau kepada seluruh pengurus NU semua tingkatan di Kabupaten Pringsewu untuk peka dan menjaga kondusivitas lingkungan serta selalu memberikan pencerahan sehingga warga tidak mudah terpengaruh oleh ajakan-ajakan yang mengarah kepada makar," imbaunya.

Sesuai dengan Maklumat yang dikeluarkan PBNU, ia menyerukan kepada seluruh masyarakat untuk menjaga keutuhan bangsa dengan menyerahkan semua permasalahan kepada pihak berwajib. "NU dan ormas besar lainnya yang terbukti istiqamah mengawal NKRI, tidak ikut dalam unjuk rasa yang digelar. Jangan sampai kasus ini dimanfaatkan kelompok tertentu untuk memecah belah bangsa," tandasnya.

Siti Efi Farhati

Ia mengingatkan bahwa kondisi damai yang selama ini dirasakan oleh berbagai suku dan agama Indonesia harus dijaga. "Kita bukan bangsa arab. Kita memiliki budaya sendiri. Jangan sampai Perpecahan seperti di Negara Timur Tengah dibawa ke Indonesia. NKRI Harga Mati," tegasnya. (Muhammad Faizin/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Doa Siti Efi Farhati

Jumat, 22 Desember 2017

Kaligrafi Bisa Menjadi Jembatan Perdamaian

Jakarta, Siti Efi Farhati. Seni lukis kaligrafi bisa menjadi semangat keimanan, ‘jembatan’ perdamaian dan inspirasi kelestarian manakala manusia menyadari bahwa pena adalah senjata pemusnah keingkaran dan keinginan yang berlebihan, dengan kitab suci sebagai jendela pemandu akal dan keinginan.

Demikian dikatakan pelukis kaligrafi Jauhari Abd Rosyad saat menjadi narasumber pada diskusi “Multicultural Calligraphy by Jauhari Abd Rosyad” di Kantor The Wahid Institute, Jalan Taman Amir Hamzah, Jakarta, Selasa (22/5). Hadir pula sebagai narasumber pada acara tersebut, Pelukis dan Sastrawan Acep Zamzam Nur.

Kaligrafi Bisa Menjadi Jembatan Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaligrafi Bisa Menjadi Jembatan Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaligrafi Bisa Menjadi Jembatan Perdamaian

Jauhari, begitu panggilan akrab pria yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, itu, menjelaskan, karya kaligrafi yang ia buat seluruhnya bersumber dari ayat-ayat Al-Quran. Ia mengaku ingin menyampaikan pesan-pesan perdamaian dan toleransi yang ada dalam Al-Quran kepada masyarakat.

Karena itulah, tuturnya, seni lukis kaligrafi bisa menjadi jembatan bagi upaya perdamaian. Ajaran-ajaran suci Al-Quran akan bisa terwujudkan melalui karya seni menulis indah itu.

Tak hanya itu. Menurut Jauhari, seni melukis dengan tema utama ayat-ayat Al-Quran itu, sekaligus juga mampu menumbuhkan semangat religius pada penikmatnya. “Karena semua sumbernya adalah Al-Quran, maka semangat religiusitas itu akan muncul dengan sendirinya,” pungkasnya.

Senada dengan Jauhari, Acep mengatakan, kaligrafi dengan menggunakan ayat-ayat Al-Quran sebagai sumber inspirasinya, memang bisa menimbulkan semangat religius bagi penikmat maupun pelukisnya sendiri. Namun hal itu sifatnya sangat subyektif, tergantung pada penafsiran penikmatnya.

Siti Efi Farhati

“Dalam hal ini, saya punya teori ‘Bulu Kuduk’. Misal, ketika kita melihat sebuah lukisan, apapun temanya, kemudian bulu kuduk kita berdiri, maka di situlah muncul semangat religius. Artinya juga si pelukis cukup berhasil menyampaikan pesan religius yang dimaksud,” ujar Acep.

Meski demikian, dalam diskusi yang dipandu Direktur Eksekutif The Wahid Institute Ahmad Suaedy itu, Acep mengkritik pemahaman masyarakat Indonesia tentang kaligrafi yang ia nilai salah kaprah. Menurutnya, pada dasarnya, kaligrafi adalah murni seni menulis indah dan tidak ada hubungannya dengan ajaran agama tertentu.

Kaligrafi, tambahnya, tidak terpaku pada ayat-ayat Al-Quran yang ditulis dalam huruf dan Bahasa Arab. Melainkan bisa menggunakan huruf serta bahasa mana pun. “Bisa pakai huruf Cina, Jepang, Arab, Latin, dan sebagainya. Tapi di Indonesia, kaligrafi identik dengan Arab, identik dengan Islam. Seolah-olah kaligrafi adalah Islam,” paparnya. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Anti Hoax, Berita, Doa Siti Efi Farhati

Rabu, 20 Desember 2017

Membongkar Sejarah Santri Yang Tersinggirkan

Judul: Resolusi Jihad Paling Syar’i, Biar Kebenaran Yang Hampir? Setengah? ? Abad yang Dikaburkan Catatan Sejarah Terbongkar

Penulis: Gugun El-Guyanie

Penerbit: Pustaka Pesantren, Yogyakarta

Cetakan: I, 2010

Membongkar Sejarah Santri Yang Tersinggirkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Membongkar Sejarah Santri Yang Tersinggirkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Membongkar Sejarah Santri Yang Tersinggirkan

Tebal: xiv+128 hal.

Peresensi: Ahmad Shiddiq *

Siti Efi Farhati



Para ulama yang tergabung dalam Jam’iyyah NU, tentu memiliki pandangan dan ijtihad terhadap seluruh persoalan agama, termasuk dalam menafasirkan makna jihad secara kontekstual. Diskursus tentang jihad selalu menyita perhatian dari berbagai kalangan, baik Islam sendiri atau pun non muslim. Bagi kalangan Islam, ajaran jihad merupakan sesuatu yang inheren, sehingga setiap muslim secara otomatis adalah seorang mujahid. Dalam merespon situasi yang membahayakan kedaulatan, PBNU kemudian membuat undangan kepada konsul NU di seluruh Jawa dan Madura.

Siti Efi Farhati

Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari? langsung memanggil kiai Wahab Hasbullah, kiai Bisri Samsuri, dan para kiai lainnya untuk mengumpulkan para kiai se Jawa dan Madura, atau utusan cabang NU-nya untuk berkumpul di Surabaya, tepatnya di Kantor PB Ansor Nahdlatul Oelama (ANO) di Jl. Bubutan VI/2, bukan di kantor PBNU yang saat itu berada di jalan Sasak nomor 23 Surabaya. Hingga memutuskan hal penting bagi bangsa dan negara, yang dikenal Revolusi Jihad tanggal 22 Oktober. Lalu pertanyaannya kenapa dalam lembaran sejarah perjuangan kaun santri lenyap begitu saja.

Buku yang yang ditulis oleh Gugun El- Guyanie ini, sangat penting untuk diketahui bangsa yang sudah lebih setengah abad merdeka. Karena, Pertama, Resolusi Jihad yang perankan NU termajinalisasi bahkan terhapus dari memori sejarah bangsa. Tentu karena pergulatan dan manuver politik, ada upaya-upaya dari kelompok tertentu yang ingin menggusur NU dari dinamika percaturan politik kebangsaan.

Mengapa heroisme terjadi di Surabaya? Kota yang menjadi simbol kota santri, ibu kota NU, dan di ibu kota tersebut pula Jam’iyah NU didirikan tahun 1926? Mengapa dalam pembahasan Resolusi Jihad ini perlu mengungkap setting geosospol dan geokultur. Karena kota Surabaya memiliki khas yang unik, baik dari segi politik, budaya, maupun religiusitasnya. Dengan demikian, akan ditemukan titik sinkron antara Surabaya dan heroisme jihad dari para kiai dan santri dalam membela tanah air. Surabaya kota pesisir timur pantai utara Jawa yang terus berubah, sekarang telah menjadi sebuah metropolitan, dengan proses dan dinamika yang muncul didalamnya.

Maka wacana Resolusi Jihad NU harus dihidupkan kembali, direkontruksi dan tidak ditempatkan pada upaya politisasi sejarah. Tanpa Resolusi Jihad, tak akan ada NKRI. Kedua, pada lingkup internal, banyak kader-kader Muda NU yang tidak mengerti rangkaian sejarah Resolusi Jihad. Hal ini dapat dibuktikan, ingatan masyarakat tentang Resolusi Jihad NU 1945 yang memiliki mata rantai dengan peristiwa 10 November di Surabaya semakin punah. Jangankan masyarakat umum, generasi penerus NU dari pusat sampai ranting, Ansor, Fatayat NU, IPNU-IPPNU pun banya yang tidak mendapatkan transfer sejarah mengenai resolusi penting ini.

Dari fatwa Resolusi Jihad ini, yang keluarkan oleh NU, umat menyambut seruan tersebut dengan gegap gempita. Dimana-mana, peperangan berkobar. Puncaknya, pada pagi, dari ujung-ujung terjauh pulau Jawa, para mujahid berdatangan memenuhi kota Surabaya. Pekik takbir pun membahana, menggoncang jiwa-jiwa musuh yang durjana. Resolusi Jihad telah menggerakkan perang paling kolosal yang pernah ada dalam sejarah Nusantara, yang kemudian terkenal dengan peristiwa 10 November 45. Namun, sejarah tidak merekam perjuangan kaum santri dengan Resolusi Jihadnya. Artinya bahwa kontribusi NU yang begitu besar dalam mempertahankan kedaulatan NKRI ternyata dipandang sebelah mata oleh pemerintah dari zaman kemerdekaan sampai hari ini.

Seandainya saja Resolusi Jihad tidak ada, juga laskar-laskar yang berafilasi dengan? NU seperti Hizbullah dan Sabilillah bersama laskar-laskar rakyat lain tidak lahir untuk menentang sekutu, mungkin Indonesia yang merdeka tidak bisa dinikmati sampai hari ini. Hal inilah yang seharusnya menjadi perhatian para pengambil kebijakan, juga para sejarawan untuk memposisikan peran NU secara proporsional. Saatnya sejarah harus menampilkan peristiwa-peristiwa yang sebenarnya terjadi, bukan menutupi, mengurangi atau menambahi, memanipulasi atau mengkomoditinya.

Munculnya hari pahlawan, kota pahlawan, dan peristiwa 10 November serta para pahlawan yang gugur adalah bagian dari roh Resolusi Jihad yang ditiupkan oleh para kiai dan santri. Berapa pengorbanan jiwa dan raga yang harus dibayar oleh mereka untuk membayar kecintaannya pada bangsa, tetapi apa balasan pemerintah bagi mereka (warga NU)? Meminggirkan pendidikan pesantren, menuduh pesantren sarang teroris, menyinggirkan alumni pesantren dari dunia kerja?. Pada hal, dengan Resolusi Jihad berdampak pada dua hal penting terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia. Pertama, dampak politik, lahirnya resolusi jihad, secara politik meneguhkan kedaulatan Indonesia sebagai negara bangsa (nation state) yang merdeka dari penjajahan. Meski setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Indonesia selalu berdarah-darah untuk mengahadapi masuknya tentara sekutu, agresi militer Belanda pertama dan kedua. Kedua, dampak militer. Resolusi jihad, dengan tampilnya lascar Hizbullah dan sabilillah, berkontribusi besar melahirkan tentara nasional. Tanpa laskar-laskar tersebut, yang terkomando dalam Resolusi Jihad untuk mempertahankan kemerdekaan, rekrutmen tentara nasional akan mengalami kesulitan. (hal, 102)

Resolusi Jihad NU telah mengobarkan jiwa dan raga para pejuangnya. Namun sampai hari ini, banyak generasi bangsa yang tidak mengenal tragedy bersejarah itu, bahkan generasi NU sendiri. Hal ini dikarenakan, para sejarawan nasional, atas kepentingan penguasa tidak? mencatat Resolusi jihad NU dalam tinta emas sejarah. Oleh karena itu, sudah saatnya sejarah harus berbicara jujur, untuk mengajarkan kepada generasi bangsa bahwa Resolusi Jihad NU adalah pengorbanan yang besar dari para kiai dan santri yang setia, dan mencintai tanah airnya. Orang-orang pesantren selalu meyakini hadits Rasullah bahwa cinta tanah air adalah sebagian dari iman.

Untuk itu, buku ini penting dibaca oleh generasi bangsa, mahasiswa, akademisi (sejarawan), warga dan pengurus NU dari berbagai level, agar bangsa ini bisa menghargai jasa pahlawan yang telah mengorbankan jiwa-raganya, demi terwujud kemerdekaan yang hakiki dari tangan penjajah. Dengan demikian, bangsa ini tidak seperti kata pepatah “air susu di balas air tubah”. Waallahu a’lamu bi al-shawab.



*) Santri Pesantren Luhur Al-Husna Surabaya
Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kajian Islam, Doa Siti Efi Farhati

Tasywiqul Khillan, Satu Keunggulan Nahwu Ulama Nusantara

KH Muhammad Makshum bin Salim orang Indonesia yang menunjukkan keunggulan ulama Nusantara. Ulama asal Semarang, Jawa Tengah ini menulis kitab Tasywiqul Khillan. Dalam kitab itu, pengalaman membaca dan keahliannya mengenai Nahwu (tata bahasa Arab) terlihat jelas.

Dalam kitabnya, sejumlah rujukan digunakan. Secara jelas ia menyebutkan rujukan utamanya seperti hasyiyah Abu Bakar Asy-Syanwani atas Syarah Al-Jurumiyah karya Syekh Kholid, Syarah Kafiyah Ibnul Hajib karya Syekh Ridho Istrobadzi, dan Mughnil Labib, Syudzurudz Dzahab, Qathrun Nada karya Jamaluddin Ibnu Hisyam Al-Anshori.

Tasywiqul Khillan, Satu Keunggulan Nahwu Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Tasywiqul Khillan, Satu Keunggulan Nahwu Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Tasywiqul Khillan, Satu Keunggulan Nahwu Ulama Nusantara

Tasywiqul Khillan merupakan catatan panjang (hasyiyah) atas Mukhtasshor Jiddan, syarah Al-Jurumiyah karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan. Sayyid Ahmad Zaini Dahlan guru besar dan salah seorang Mufti Syafi’iyah abad 19 M di Mekkah.

Siti Efi Farhati

KH Muhammad Makshum merasa perlu memberikan uraian panjang atas Mukhtasshor Jiddan. Karena, para santri di Indonesia mengharapkan uraian lebih lanjut karya singkat Sayyid Ahmad Zaini Dahlan itu. Kitab itu diselesaikan di Semarang.

Siti Efi Farhati

KH Muhammad Makshum menyelesaikan kitabnya pada Jumadil Akhir 1303 H/1886 M. Meskipun begitu, karya yang berjumlah 222 halaman baru dicetak 54 tahun kemudian oleh penerbit Al-Maktabah Al-Ilmiyah pada Dzulqa‘dah 1358 H yang bertepatan dengan Januari 1940 M. Sebelum masuk cetak, Tasywiqul Khillan dibaca kembali oleh salah seorang guru besar Universitas Al-Azhar Ahmad Sa’ad Ali.

Sebagai ulama yang meneruskan tradisi ulama sebelumnya, ia memasukkan keberkahan di dalam karyanya. Misalnya ketika mengi‘rob ‘Bismillahirrahmanirrahim’, ia ingin menghindari pengulangan I‘rob yang sudah dijelaskan para ulama terdahulu.

“Uraian khusus mengenai bismllah sudah sering ditulis orang sehingga tidak perlu diulangi lagi di sini. Sayyid Ahmad Zaini Dahlan sendiri menulis uraian itu. Tetapi saya akan menyebutkan sebagiannya saja hanya untuk mengambil berkah darinya,” tulis KH M Makshum di halaman 3 karyanya.

Sementara perihal perbedaan pendapat mengenai huruf jarr ‘Rubba’ di halaman 219 KH M Makshum mengatakan, “Ulama Nahwu membahas Rubba sebagai huruf jarr kecuali Syekh Kafrawi dan Sayyid Ahmad Zaini Dahlan. Tetapi kami juga akan membahasnya hanya untuk mengambil keberkahan.”

Perbedaan pendapat ahli Nahwu disikapi KH M Makshum secara bijaksana. Bahkan ia bukan menegangkan otot syaraf mendukung satu pendapat atau membuang pendapat yang lemah, tetapi justru mengambil keberkahan darinya. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kajian Islam, Doa Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock