Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Maret 2018

Peduli Sesama, Pelajar NU Bojonegoro Bagikan 300 Takjil

Bojonegoro, Siti Efi Farhati. Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulamadan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Kabupaten Bojonegoro membagikan 300 takjil di Pertigaan Jambean Jalan A. Yani Bojonegoro, Jawa Timur, paada Sabtu (3/8).

Peduli Sesama, Pelajar NU Bojonegoro Bagikan 300 Takjil (Sumber Gambar : Nu Online)
Peduli Sesama, Pelajar NU Bojonegoro Bagikan 300 Takjil (Sumber Gambar : Nu Online)

Peduli Sesama, Pelajar NU Bojonegoro Bagikan 300 Takjil

Ketua panitia pembagian takjil, Siti Masulah mengatakan, kegiatan tersebut sebagai ungkapan peduli sesama pelajar NU Bojonegoro terhadap umat Islam yang menjalankan ibadah puasa.

Ia menambahkan, aktivis pelajar NU Bojonegoro langsung terjun dengan masyarakat membagikan 300 takjil berupa es buah dan kurma. “300 paket takjil tersebut hanya berlangsung kurang 30 menit sudah habis dibagikan,” ungkapnya.

Siti Efi Farhati

Paket-paket itu, kata dia, dibagikan untuk pengguna jalan raya dan utamanya para tukang becak. Lokasinya di tiga lampu merah jurusan jalan A. Yani, Gajah Mada dan jurusan Driyen.

Siti Efi Farhati

"Tujuan barbagi takjil ini untuk berbagi dengan sesama, sesuai dengan tema Ramadhan bil Hikmah wal Barokah," ujarnya.

Sementara itu, ketua PC IPNU Bojonegoro Misbakhul Munir mengaku, memberikan takjil buka puasa untuk pengguna jalan yang kemungkinan tidak membawa bekal untuk terbuka. "Semoga ini bisa memberikan manfaat terhadap sesama," pungkasnya.

Redaktur    : Abdullah alawi

Kontributor: Muhammad Yazid

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sejarah Siti Efi Farhati

Rabu, 21 Februari 2018

Wisuda Ke-10, STAINU Pacitan Siap Bertransformasi Jadi Institut

Pacitan, Siti Efi Farhati. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Pacitan, Jawa Timur, Ahad (18/12) menggelar rapat senat terbuka dalam rangka wisuda sarjana strata satu (S1) ke X. Sebanyak 110 mahasiswa program Pendidikan Agama Islam (PAI) dan 27 mahasiswa program Manajemen Pendidikan Islam (MPI) dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd).

Wisuda Ke-10, STAINU Pacitan Siap Bertransformasi Jadi Institut (Sumber Gambar : Nu Online)
Wisuda Ke-10, STAINU Pacitan Siap Bertransformasi Jadi Institut (Sumber Gambar : Nu Online)

Wisuda Ke-10, STAINU Pacitan Siap Bertransformasi Jadi Institut

Ketua STAINU Pacitan, KH Imam Faqih Sudjak, dalam sambutnya menyampaikan rasa terima kasihnya kepada masayarakat Pacitan yang telah memilih STAINU Pacitan sebagai tempat menimba ilmu bagi putera-puterinya.

Sebagai wujud terima kasih atas kepercayaan dari masyarakat, katanya, tahun 2016 STAINU Pacitan terus mengembangkan diri dan tengah mengajukan alih status menjadi Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama, yang saat ini masih berproses di Dirjen Pendidikan Tinggi Agama Islam. STAINU Pacitan telah memiliki tiga program studi, yaitu Pendidikan Agama Islam, Manajemen Pendidikan Islam dan Ekonomi Syariah.

“Kami melangkah sudah cukup jauh. Kami akan beralih status menjadi IAINU Pacitan dan setelah itu akan terus berupaya hingga menjadi Universitas Nahdaltul Ulama atau UNU Pacitan dan itu adalah cita-cita kami,” kata Kiai Faqih dihadapan ratusan undangan.

Kiai Faqih yang juga Rais Syuriyah PCNU Pacitan itu memohon dukungan dari seluruh masyarakat, agar niat dan usaha STAINU Pacitan tersebut dapat segera tercapai. ”Semoga upaya kita selalu mendapat kemudahan dan ridho dari Allah SWT,” harapanya.

Siti Efi Farhati

Dalam kesempatan itu, Kiai Faqih berpesan kepada seluruh wisudawan agar senantiasa memiliki kematangan aqidah ahlussunnah wal jamaah dan memiliki budi pekerti yang luhur. Para wisudawan diharap dapat mempraktekkan serta mengembangkan ilmu yang telah diperoleh dari bangku perkuliahan.

“Kami mengucapkan selamat, dan mudah-mudahan ilmu kalian berguna dan bermanfaat untuk masyarakat, bangsa, fiddin wal akhirat,” tutupnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Pacitan, Suko Wiyono, yang mewakili Bupati Pacitan H Indartato, dalam sambutnya menyampaikan apresiasi yang tinggi atas kontribusi STAINU Pacitan dalam mencetak sarjana pendidikan Islam. STAINU, katanya, merupakan salah satu kampus unggulan. “Jadi tidak keliru, kalau anda kuliah di kampus STAINU Pacitan,” tuturnya disambut tepuk tangan oleh seluruh wisudawan.

Siti Efi Farhati

Sekda menyampaikan pesan dari Bupati Pacitan, agar para alumni STAINU tidak berhenti belajar dan diharap terus menimba ilmu serta mengembangkan keilmuanya. ”Masa depan kalian masih panjang dan luas. Jadi jangan pernah berhenti belajar,” pesanya.?

Hadir dalam acara wisuda yang digelar di Pendopo Kabupaten Pacitan itu, Alim Ulama dan para Kiai, pengurus PCNU Pacitan dan Banomnya, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Fokopimda) Kabupaten Pacitan, dan undangan lainya. (Zaenal Faizin/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sejarah, Nasional Siti Efi Farhati

Selasa, 13 Februari 2018

Dies Natalis Ke-13, STAINU Jakarta Angkat Tema Islam Nusantara

Jakarta, Siti Efi Farhati. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta akan menggelar peringatan hari lahir atau Dies Natalis yang ke-13 pada Ahad, (3/5) di Kampus Jl Taman Amir Hamzah No 5 Jakarta Pusat dengan mengangkat tema ‘Kita adalah Islam Nusantara’.

“Dengan tema ini, STAINU Jakarta ingin menegaskan komitmennya sebagai kampus yang istiqomah memperjuangkan dan menegakkan nilai-nilai Islam Nusantara,” tegas Pembantu Ketua (Puka) IV STAINU Jakarta, Aris Adi Leksono, MMPd saat dihubungi Siti Efi Farhati, Selasa (28/4) di Jakarta.

Dies Natalis Ke-13, STAINU Jakarta Angkat Tema Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Dies Natalis Ke-13, STAINU Jakarta Angkat Tema Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Dies Natalis Ke-13, STAINU Jakarta Angkat Tema Islam Nusantara

Aris menambahkan, untuk itulah STAINU Jakarta ke depan akan membuka program studi dengan ciri khas Islam Nusantara seperti Tasawuf, Ilmu Falak, Pariwisata Haji dan Umroh, dan lain-lain.?

Siti Efi Farhati

“Sebelumnya, STAINU Jakarta juga konsisten dengan mata kuliah khas NU dan Islam Nusantara, yakni Arummanis (Aurod, Rawatib, Mawalid, Manaqib, dan Istighotsah),” imbuhnya.

Siti Efi Farhati

Menurut keterangannya, acara puncak pada Ahad besok, akan digelar orasi ilmiah oleh Ketum PBNU Prof Dr KH Said Aqil Siroj dan Budayawan, Dr Radhar Panca Dahana tentang Islam dan Budaya Nusantara. Selain itu, rangkaian acara sebelumnya akan diadakan pembacaan manaqib, tahlil, shalawat, dan selayang pandang dari para pendiri STAINU Jakarta.

Kemudian, tambah Aris, STAINU Jakarta juga mengadakan rangkaian kegiatan seperti FGD Islam Nusantara, tanam 1300 pohon, Festival Islam Nusantara, Training Leader Campus, ToT Kerajinan Tangan, Baksos, dan Pengobatan gratis.

“STAINU juga akan meluncurkan kedai kopi Nusantara yang akan dipadukan dengan Taman Baca Masyarakat di sekitar Kampus,” pungkas Aris. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sejarah, Ubudiyah, Amalan Siti Efi Farhati

Sabtu, 10 Februari 2018

Ketika Nabi Zakaria Mengharap Kehadiran Anak

Pasangan suami istri itu sudah lama mengharapkan kehadiran anak. Namun, tanda-tanda kehamilan tak pernah kelihatan. Hari-harinya sebagai suami istri kian terasa sepi tanpa kehadiran seorang bayi.

Waktu terus berjalan. Suami sudah makin menua. Sementara sang istri, seperti disambar petir di siang hari, divonis mandul sejumlah ahli. Harapan itu seperti kian menjauh dari kenyataan. Harapan hanya tinggal harapan, gumamnya dalam hati ketika sedang sendiri.

Ketika Nabi Zakaria Mengharap Kehadiran Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Nabi Zakaria Mengharap Kehadiran Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Nabi Zakaria Mengharap Kehadiran Anak

Namun, laki-laki itu tak putus asa. Walau rambutnya terus memutih, ia tak henti berharap pada Sang Ilahi. Ia terus berdoa agar dirinya dikaruniai seorang anak yang kelak akan melanjutkan ajaran ketuhanan orang tuanya. Laki-laki itu bernama Nabi Zakaria Alaihissalam. Sejumlah buku menyebut Elizabith sebagai nama istri Nabi Zakaria.

Alkisah, pagi itu posisi matahari sudah agak meninggi. Seperti ada yang mendesak, Nabi Zakaria terdorong masuk ke mihrab salah satu kerabat dekatnya yang sedang bertapa, Siti Maryam atau Maria, Zakaria kaget. Ia menemukan makanan dan buah-buahan segar di kamar Maria. Kejadian ini tak hanya sekali, melainkan berkali-kali. Al-Qur’an mengisahkan, “setiap kali Zakaria memasuki mihrab Maria, ia selalu menemukan makanan di sisi Maria”.

Suara batin Zakaria mulai bicara. Bagaimana mungkin Maria yang tak pernah keluar dari mihrabnya bisa ada makanan di sisinya. Zakaria memberanikan diri bertanya, “dari mana makanan itu berasal?”. Maria menjawab, “itu dari Allah”. Jawaban Maria memotivasi Zakaria untuk berharap anugerah dari Allah.

Zakaria meminjam mihrab Maria untuk berdoa. Dalam al-Qur’an disebutkan, “hunalika da’a Zakariah rabbah” (di lokasi itu Zakaria mengadu pada Tuhannya). Ia berdoa, “Ya Allah, karuniakanlah kepadaku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa”.

Siti Efi Farhati

Zakaria masih berdiri dalam shalatnya, tiba-tiba Jibril datang membawa berita gembira, tentang akan lahirnya sang anak bernama Yahya yang akan menjadi pembenar firman Allah, menjadi panutan banyak orang. Bahkan, seperti ayahnya, Yahya juga akan diangkat menjadi seorang nabi.

Doa Nabi Zakaria dikabulkan Allah. Ia mempunyai anak bernama Nabi Yahya. Bagaimana doanya bisa dikabulkan? Dia berdoa dalam waktu mustajabah, yaitu ketika sedang berdiri dalam shalat, ketika tak ada lagi jarak antara hamba dan Allah. Dalam shalat kita, persis dalam momen iyyaka nabudu wa iyyaka nastain.

Tak hanya berdoa dalam waktu mustajabah. Nabi Zakaria juga berdoa di lokasi mustajabah, di mihrab tempat Maria berdoa.

Seperti Nabi Zakaria, sekiranya kita berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah di waktu mustjabah, di lokasi mustajabah seperti Multazam, Raudhah, dan rumah-rumah Allah lainnya, maka insyaAllah semua harapan akan menjadi kenyataan.

Siti Efi Farhati

Bulan ini adalah bulan Ramadan, momen dipenuhinya semua doa dan harapan. Semoga doa-doa kita dikabulkan. Bagi keluarga-keluarga yang mengharapkan keturunan, semoga akan segera menjadi kenyataan. Amin, ya mujibas sa’ilin.

KH Abdul Moqsith Ghazali, Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU.

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sejarah Siti Efi Farhati

Jumat, 02 Februari 2018

Gus Mus: Jangan Sampai Islam “Mahjubun bil Muslimin”

Amsterdam, NU Online. Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri menemui delegasi Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) dari berbagai negara di kawasan Eropa dan Mediterania usai melantik PCINU Belanda di Amsterdam, Ahad 18 Januari 2015 lalu.

Sehari sebelumnya delegasi PCINU menghadiri acara sarasehan dan rapat koordinasi yang mengusung tema “Globalising ‘Islam Nusantara’: Envisioning Indonesian Muslim Diaspora’s Role In The International Arena.”

Dalam kesempatan itu Gus Mus menyatakan dukungan atas pelaksanaan sarasehan dan rapat koordinasi PCINU ini. Gus Mus menekankan bahwa kerjasama regional semacam ini sangat penting agar dakwah Islam Nusantara lebih dikenal di dunia Barat.

Gus Mus: Jangan Sampai Islam “Mahjubun bil Muslimin” (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Jangan Sampai Islam “Mahjubun bil Muslimin” (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Jangan Sampai Islam “Mahjubun bil Muslimin”

Menurut Gus Mus, Islam Nusantara adalah manifestasi Islam yang otentik yang sanad keilmuan dan kerohaniannya bersambung langsung pada Nabi Muhammad SAW.

“Kalau Nabi bersabda, ‘alaykum bis-sawadil-a’zham (ikutilah mayoritas ulama yang agung), maka siapa lagi yang dimaksudkan jika bukan ulama pendukung Islam Nusantara?” tekan Gus Mus. Islam Nusantara inilah yang selalu Gus Mus sampaikan dalam banyak kunjungan ke berbagai negara dan pertemuan dengan para pemimpin dunia.

Namun ada pertanyaan yang kerap diajukan kepada Gus Mus dan sulit untuk dijawab: “Mengapa Islam Nusantara ini tidak banyak dikenal oleh masyarakat Barat? Mengapa Islam Nusantara tenggelam oleh suara-suara Islam radikal yang menggunakan cara kekerasan sebagai ekspresi utamanya?”

Siti Efi Farhati

Menurut Gus Mus, hal itu karena banyak umat Islam sendiri yang kerap menampilkan Islam yang justru bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad. “Kalau dulu ada ungkapan al-Islam mahjubun bil-muslimin (agama Islam dikaburkan oleh pemeluknya sendiri), maka yang kini terjadi adalah al-Islam mardudun bil-muslimin (agama Islam diingkari oleh pemeluknya sendiri).” Hal ini diperparah dengan gejala Islamophobia yang makin meningkat dewasa ini.

Untuk merespon hal tersebut, Gus Mus berpesan kepada semua delegasi PCINU agar merapikan aspek jam’iyyah NU dengan melakukan konsolidasi organisasi, tertib manajemen, dan pemetaan SDM.

“Jika para pengurus NU bisa merapikan aspek jam’iyyah ini, maka harapan dunia atas peran penting Islam Nusantara dapat diwujudkan. Kalau masalah ini bisa dijawab, maka NU akan bisa menjawab masalah dunia.”

Siti Efi Farhati

Di akhir pertemuan, para delegasi PCINU mendapat kesempatan untuk menyampaikan masalah yang dihadapi di negara masing-masing, juga usulan dan harapan terkait peran NU di pentas global.

Salah satu usulan penting yang diajukan adalah menjadikan negeri Belanda sebagai ujung tombak untuk dakwah Islam Nusantara di Eropa. Hal ini mengingat keberadaan Muslim Indonesia di Belanda yang cukup besar, dukungan organisasi masyarakat Muslim Indonesia yang cukup kuat, di samping banyak sekali manuskrip Islam Nusantara yang tersimpan di arsip dan perpustakaan perguruan tinggi dan museum di Belanda.

Salah satu bentuk konkrit upaya ini adalah dengan pengiriman ustadz yang berpaham ahlussunnah wal jamaah (Aswaja) dari Indonesia dan pengembangan lembaga pendidikan sejenis pesantren melalui kerja sama dengan organisasi Muslim Indonesia yang ada di Belanda.

Menanggapi hal ini, Rais ‘Am PBNU meminta agar usulan ini bisa dirumuskan lebih konkret untuk dibahas di forum muktamar NU yang akan datang di samping untuk disampaikan ke Pemerintah RI.

Alhasil, seperti sambutan perwakilan KBRI Danang Waskito, program-program yang bermanfaat bagi masyarakat Muslim Indonesia khususnya dan umat Islam pada umumnya sudah dinanti-nantikan dari PCINU Belanda yang baru dilantik ini. Selamat bekerja! (Mohamad Shohibuddin/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nasional, Sejarah Siti Efi Farhati

Minggu, 28 Januari 2018

PMII Temanggung Galang Dana untuk Korban Banjir Kendal

Temanggung, Siti Efi Farhati - Musibah banjir yang menimpa warga Dusun Kenjuran Desa Purwosari Kecamatan Sukorejo Kabupaten Kendal beberapa hari lalu menjadi perhatian aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Temanggung. Mereka menggelar aksi solidaritas dengan penggalangan dana bencana di persimpangan Jalan Suwandi Suwardi Kowangan Temanggung, Kamis (2/3) siang.

Puluhan mahasiswa tampak mengenakan jas biru (almamater PMII) dan menenteng kardus dengan sabar menyambangi satu per satu penggendara sepeda motor maupun mobil yang melintas atau berhenti di perempatan tersebut.

PMII Temanggung Galang Dana untuk Korban Banjir Kendal (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Temanggung Galang Dana untuk Korban Banjir Kendal (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Temanggung Galang Dana untuk Korban Banjir Kendal

Koordinator lapangan aksi penggalangan dana Muhammad Sirojul Umam? mengatakan, kegiatan penggalangan dana ini digelar sebagai respon keprihatinan terhadap sesama atas terjadinya bencana banjir bandang dahsyat yang melanda Dusun Kenjuran Desa Purwosari Kecamatan Sukorejo Kabupaten Kendal beberapa waktu lalu.

"Bencana di Kenjuran kami anggap cukup dahsyat karena mengakibatkan dua warga hilang dan belum diketemukan sampai sekarang. Selain itu terdapat kerugian material setelah 11 rumah hancur, 3 rata dengan tanah, serta 3 bangunan lain turut terseret aliran banjir," jelasnya, Kamis (2/3).

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati

Umam membeber, aksi galang dana sekitar tiga jam kemarin berhasil menggalang bantuan sebesar Rp.1.040.000. Dana yang terkumpul nantinya akan diserahkan kepada korban pengungsi yang mencapai 300 jiwa baik berupa uang tunai atau bantuan logistik barang seperti makanan, obat-obatan, dan pakaian. "Aksi galang dana ini? rencananya akan dilakukan selama tiga hari ke depan," ucapnya.

Ketua PMII Temanggung Arief Safrodin menambahkan, aksi galang dalang sepertinya bukan kali pertama. Ia bersama pengurus dan kader PMII Temanggung rutin menggelar aksi galang dana setiap ada bencana besar.

“Sebelumnya pernah melakukan aksi penggalangan dana untuk? gempa Aceh, longsor Purworejo, longsor Banjarnegara, bahkan peduli Palestina. Saya berharap, dengan bantuan ini, turut meringankan beban saudara kita warga Dusun Kenjuran Desa Purwosari Kecamatan Sukorejo Kabupaten Kendal yang saat ini tertimpa musibah," harapnya. (Ahsan Fauzi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sejarah Siti Efi Farhati

Jumat, 19 Januari 2018

PCNU Jember Tolak Sistem AHWA

Jombang, Siti Efi Farhati. Tidak semua sepakat dengan rencana akan digunakannya konsep Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) pada acara Konferensi Wilayah NU Jawa Timur mendatang. PCNU Jember adalah di antara yang menolak.

PCNU Jember Tolak Sistem AHWA (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Jember Tolak Sistem AHWA (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Jember Tolak Sistem AHWA

Hal ini disampaikan Ketua PCNU Jember KH Abdullah Syamsul Arifin usai acara launching kader Aswaja di Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang (23/3). Bagi Gus Aab, sapaan akrabnya, wacana yang digulirkan panitia Konferensi Wilayah NU Jatim tersebut akan menimbulkan persoalan baru pada suksesi kepemimpinan di NU, khususnya Jawa Timur.

“Menurut saya, rencana itu terlalu beresiko,” katanya. Karena itu, dosen STAIN Jember ini masih melakukan pengkajian secara intensif dengan beberapa PCNU se Jawa Timur.?

Siti Efi Farhati

“Kita terus melakukan komunikasi yang intensif dengan beberapa pengurus PCNU,” lanjutnya.?

Siti Efi Farhati

Catatan yang disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Arifin Jember ini adalah bahwa tafsir atas sejumlah pasal khususnya ART NU Bab XIV Pasal 42 ayat a yang berbunyi: Rais dipilih secara langsung melalui musyawarah mufakat atau pemungutan suara dalam konferensi wilayah setelah yang bersangkutan menyampaikan kesediaannya, serta poin b yang mengatur calon ketua, penerapannya bukan dengan Ahlul Halli Wal Aqdi atau AHWA.

Apalagi mekanisme Ahwa seperti disampaikan di sejumlah media ternyata dilakukan sebelum kegiatan konferensi. “Ini kan justru menyelenggarakan kegiatan sebelum konferensi?” katanya balik bertanya. Belum lagi mekanisme AHWA tersebut ternyata justru ditawarkan oleh panitia, bukan dari peserta.?

“Yang memiliki kedaulatan tertinggi adalah para utusan dari PCNU,” katanya. “Sehingga PCNU lah yang akan menentukan model dan mekanisme konferensi, termasuk pemilihan calon rais dan ketua tanfidziyah,” lanjutnya.

Karena itu, Gus Aab berharap mekanisme ini jangan dilemparkan secara terbuka sebelum dibicarakan secara intensif dengan PCNU se Jawa Timur.?

“Selama belum dibicarakan dengan PCNU, saya lebih baik tidak berkomentar lebih jauh,” pungkasnya.

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Daerah, Doa, Sejarah Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock