Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

Belajar dari Konflik di Timur Tengah

Oleh Imam Ma’ruf



Hari-hari ini, banyak orang menyebut dirinya nasionalis, cinta NKRI, slogan ‘saya Pancasila’ dan sejenisnya. Namun dalam praktiknya, nasionalisme yang dilakukan cenderung berbau sektarian. Nasionalisme minus atau setengah nasionalisme, nasionalisme sempit, dan ‘kurang’ menghargai perbedaan dan keragaman yang muncul di masyarakat. Bahkan lebih jauh, perilaku yang mengemuka cenderung barbar atau setidaknya intoleran.

Belajar dari Konflik di Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari Konflik di Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari Konflik di Timur Tengah

Kenapa fenomena semacam ini seolah muncul kembali? Apakah ini menunjukkan kegagalan demokrasi yang berujung pada istilah negara gagal (failed state)? Tentu kita semua perlu banyak melakukan refleksi secara mendalam. Melihat kembali kesepakatan berbangsa dan bernegara yang telah dilahirkan oleh para founding fathers negeri zamrud khatulistiwa ini. Bangsa ini pernah mengalami periode panjang dijajah dalam era kolonialisme, hingga melahirkan semangat bersama untuk merdeka. Kita juga pernah mengalami masa perpecahan dan banyak melahirkan gerakan separatis yang berbau sektarian dan SARA. Semua itu nampaknya masih belum cukup, sehingga tak jarang ‘bom waktu’ terkait sektarian begitu mudah meletup lagi.

Siti Efi Farhati

Contoh yang faktual yang layak menjadi perbincangan dan referensi adalah konflik yang terjadi di Timur Tengah. Sebuah kawasan gurun pasir yang panas, namun memiliki banyak sumber daya yang terus berpotensi menjadi lahan perebutan dan tarikan berbagai kepentingan, baik internal maupun pihak luar. Apakah ini juga masih kurang untuk menjadi penanda bahwa kalau konflik sektarian dan nasionalisme sempit yang terus berulang, bisa memicu kegagalan negeri ini?

Timur Tengah, Jalur Penghubung yang Terus Menegang

Siti Efi Farhati



Membincang fenomena konflik di Timur Tengah dari kacamata Indonesia memiliki respon yang sangat beragam. Tidak sedikit dari masyarakat yang salah paham, gagal paham, bahkan menggunakan model untuk di-copy-paste secara serampangan, meski tak sedikit pula yang memiliki cara pandang yang clear atau proporsional.

Jika di Timur Tengah, negeri asalnya, terjadinyakonflik yang memporak-porandakan negeri dilatari banyaknya kepentingan politik dan perebutan kekuasaan. Namun di Indonesia, konflikpolitikseperti di Timur Tengah itu bisa berubah menjadi sangat ideologis, dan sektarian antaragama, atau aliran keagamaan, semisal Sunni-Syi’ah atau Muslim-Kristen dan sekte serta kabilah-kabilah. Apakah ketika melihat konflik Timur Tengah harus menggunakan kacamata kuda begitu? Nampaknya perlu pembacaan lebih luas, sehingga kita bisa melihat banyak hal, yang pada gilirannya pandangan kita juga bukan hanya sektarian dan lebih jauh hanya hitam-putih.

Dari penelusuran KBBI, sektarian memiliki dua makna; pertama berkaitan dengan anggota (pendukung, penganut) suatu sekte atau mazhab; sementara makna kedua adalah picik, terkungkung pada satu aliran saja. Nah, penyempitan makna menjadi sektarian dalam membaca konflik Timur Tengah inilah yang ingin kita bahas lebih dalam.

Dari sisi sejarah, kawasan Timur Tengah memiliki akar dan menjadi salah satu peradaban tua di dunia. Sejak dulu, kawasan ini memang selalu menjadi pusat perhatian, bahkan Adam dan Hawa bertemu setelah diturunkan ke bumi juga di Timur Tengah yang dikenal, Jabal Rahmah. Muncul peradaban kuno yang populer, antara lain kebudayaan dan peradaban Mesir kuno di lembah sungai Nil, Babilonia dan Assiria di Mesopotamia yang dialiri oleh sungai Tigris (Iraq) dan Eufrat (Persia), Pegunungan Armenia (Turki), Laut Mati/Sungai Yordan dan lain-lain. Sistem-sistem sungai dan laut inilah yang memberikan nafas hidup kepada peradaban-peradaban besar itu jauh sebelum kedatangan Islam. Berikutnya ada banyak kisah yang muncul, selain Nabi dan Rasul, ada juga muncul nama-nama besar seperti Fir’aun, Namruj dan lainnya, atau versi berbeda menyebut Darius, Nebukadnezar, Sultan Saladin, dan lain-lain.

Jadi, ada banyak alasan mengapa kawasan ini dari dulu hingga kini menjadi penting, salah satunya adalah kawasan penghubung tiga benua, Asia, Afrika dan Eropa, terlebih setelah terbukanya terusan Suez. Dengan banyaknya peluang, termasuk sumberdaya, mineral, air, minyak, dan sumber transportasi serta lainnya, maka wilayah dan kawasan ini selalu menjadi perhatian. Keberagaman penduduk dan latar belakang, termasuk aliran keagamaan dan ideologi juga menjadi bagian yang begitu mudah digerakkan untuk melahirkan konflik dan tarik-menarik kepentingan. Dan pemantik sebagai ‘bensin’ paling mudah dan mungkin juga murah, di Timur Tengah sendiri adalah sentimen agama dan aliran keagamaan. Jika di Timur Tengah sudah ‘meledak’, maka efek ledakannya bisa dengan mudah merembes ke kawasan lain, termasuk tanah air, Indonesia Raya tercinta ini.

Jalur laut yang menunjukkan superioritas militer, termasuk pengangkutan ekspor minyak dari negara-negara Timur Tengah, juga menjadi cerita tambahan dari rentetan konflik. Jalur tersebut juga memberi pemasukan penghasilan negara karena hasil dari laut seperti ikan, mineral/gas, ataupun dari retribusi kapal-kapal asing yang melewati laut.

Faktor Pemicu Ketegangan



Dalam catatan Sidik Jatmika yang mengutip dari Gerald Blake soal Middle East, sebagian besar perbatasan darat di Timur Tengah sudah ditentukan sejak 1880 dan 1930, namun, soal perbatasan laut justru baru mulai ditentukan pada tahun 1960-an, dan hingga hari ini belum dapat diselesaikan secara tuntas. Berbagai perbedaan dan keragaman yang muncul, menyangkut perbatasan negara yang kecil dan besar, jalur laut yang kecil dan besar, kekayaan alam dan sumberdaya yang kecil dan besar, termasuk negara kaya-miskin, dan tingkat kemakmuran suatu negara, akan memiliki arah yang berbeda, baik secara politik maupun aspek lain dan tidak sedikit melahirkan ketegangan.

Ada banyak faktor yang menjadi pemicu ketegangan di kawasan Timur Tengah, baik secara internal kawasan, maupun pihak di luar kawasan yang juga berkepentingan. Dua poin utama bisa disebutkan: Pertama, posisi strategis kawasan ini yang menjadi penghubung bagi ekonomi, perdagangan, dan pertahanan global ketiga benua, yakni Asia, Afrika dan Eropa. Kedua, soal keanekaragaman yang memang dimiliki Timur Tengah. Beberapa keanekaragaman yang tergambar bisa disebut, antara lain:

1. Geografis Timur Tengah yang melahirkan perbedaan wilayah, ada yang luas dan sempit sehingga menjadi pemicu dominasi, termasuk juga kedekatan regional yang tak jarang memicu ketegangan, seperti kawasan Arab inti (bulan sabit); Saudi Arabia, Mesir, Kuwait, Irak, Palestina, UEA, Bahrain, Qatar, Oman dan Yordania. Kawasan Arab periferal; Libya, Sudan, Yaman, Suriah dan Libanon. Kawasan Arab maghribi; Maroko, Tunisia, Aljazair, dan Mauritania. Kawasan non-Arab; Turki, Iran, Siprus, Israel dan Afghanistan. Kawasan Asia Tengah yang merupakan eks Uni Soviet; Azarbaijan, Uzbekistan, Kazakstan dan Turkmenistan.

2. Problem kepemilikan air, baik air tawar maupun air laut. Pemicunya bisa keterbatasan akses air, semisal perbatasan, potensi kekayaan air laut, mineral, pulau-pulau, dan pendapatan yang muncul dari kepemilikan laut. Sementara air tawar bisa berupa akses air bersih, irigasi untuk lahan, juga pembangkit listrik.

3. Keanekaragaman agama, akar budaya dan suku atau kabilah. Ada warisan peradaban yang muncul di lembah sungai Nil, Tigris dan Eufrat, lalu muncul ras Semit yang melahirkan etnis Arab dan Yahudi, Aria dengan Persianya, dan Berber di Afrika Utara. Ada juga ras gabungan semisal Turki yang ada unsur Mongolia dan Kurdi yang Indo-Persia.Belum lagi pecahan dalam bentuk suku-suku dan kabilah yang juga beritu beragam. Dari sisi agama, ada Yahudi, Islam, dan Kristen, begitu juga aliran-aliran keagamaan lain. Keragaman yang bisa menjadi potensi baik sebagai sebuah kekayaan budaya ataupun sebaliknya, bisa menjadi sumber ketegangan dan konflik.

4. Keanekaragaman ekonomi dengan melihat tingkat kemakmuran suatu negara, kaya-miskin hingga kekayaan alam dan sumberdaya yang dimiliki, bisa melahirkan arah yang berbeda dan memicu ketegangan.

5. Keanekaragaman ideologi juga hadir, ada Pan Islamisme, OKIdan juga Liga Arab yang merespon munculnya negara Israel. Ada sekularisme, liberalisme, komunisme, dan juga zionisme. Ada juga ideologi yang berbasis pada ajaran agama, semisal Islam, Kristen dan Yahudi dan aliran keagamaan, semisal Sunni-Syiah dan lainnya.

Nah, berbagai keragaman, termasuk letak geografis yang berujung pada perbatasan di atas, sangat mungkin menjadi salah satu faktor pemicu ketegangan, meskipun ujungnya juga soal beda kepentingan dan sudut pandang yang bermuara pada ekpresi politik, baik perorangan, kelompok, maupun atas nama negara. Maka melihatnya tidak hanya sektarian. Ada banyak model dan kamuflase yang mengemuka dalam ketegangan di kawasan ini yang musti dibaca secara mendalam dan dari berbagai aspek. Adakalanya tidak peduli dengan agama, asal kepentingannya sama. Adakalanya ideologi menjadi basis penyatuan kepentingan. Yang jelas basis kepentingan menjadi lebih penting dan menarik untuk dilihat, sementara pemicu dan ‘bahan bakar’ konflik dan ketegangan bisa bermacam-macam.

Suasana batin atas perasaan ketidakadilan, diskriminasi atau peminggiran kelompok, ketimpangan ekonomi menjadi awal mula perasaan kecewa dengan situasi dan kondisi, dan akumulasinya bisa melahirkan protes, ketegangan dan konflik yang mencari sasaran dan target permusuhan. Dorongan pihak luar juga bisa menguatkan ketegangan, sehingga memperkeruh dan muncul pihak yang mengambil keuntungan dari situasi krisis.

Krisis Politik yang Berulang



Menurut Carl J Friedrich, politik merupakan suatu upaya atau cara untuk memperoleh atau mempertahankan kekuatan. Politik juga dapat diartikan cara untuk mencapai tujuan tertentu yang dikehendaki yang akan digunakan untuk mencapai keadaan yang diinginkan. Kehidupan berpolitik tak pernah lepas dari kehidupan sosial suatu negara. Dan masyarakat di Timur Tengah dengan didominasi oleh bangsa Arab memiliki kultur pemerintahan yang sebagian besar adalah diktator. Salah satu faktor historis yang melatari karena di wilayah tersebut dulunya bersistem kekerajaan.

Arab Spring menjadi pintu masuk berbagai pihak melakukan koreksi terhadap kepemimpinan di Timur Tengah, mulai dari Tunisia hingga menyebar ke berbagai negara di kawasan Timur Tengah. Beberapa tuntutan akibat reaksi ketidakpuasan publik Timur Tengah, ada yang menunjukkan hasil positif, namun tidak sedikit pula yang justru berakibat fatal dan melahirkan krisis dan konflik berkepanjangan. Kecepatan merespon dan kepiawaian negosiasi pemimpin di kawasan ini menjadi kunci, termasuk melihat berbagai efek dan dampak serta pengaruh para tokoh dan supporter yang menggerakkan aksi, baik secara internal maupun eksternal negara. Tidak sedikit para pemimpin yang tumbang dan harus menyerahkan mandat kepada desakan publik, semisal Tunisia, Libya, Mesir dan Yaman. Namun ada juga yang hanya melakukan reformasi internal tanpa penggulingan kekuasaan, semisal Saudi Arabia, Qatar, Bahrain dan juga Syuriah meski mengalami pergolakan yang masih berlangsung hingga saat ini.

Di Mesir misalnya, pasca tumbangnya rezim Hosni Mubarak, rakyat Mesir justru terjerumus ke dalam konflik sektarian. Konflik sektarian tersebut terjadi antara warga muslim dan kristen. Dalam konflik yang bernuansa SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan)tersebut, setidaknya terdapat beberapa orang yang menjadi korban akibat brutalnya aksi.Konflik sektarian di Mesir adalah satu contoh resistensi politik di kawasan Timur Tengah setelah revolusi berhasil dilakukan.

Pascarevolusi, umumnya tuntutan sederhana yang dikehendaki rakyat dan para elite politik adalah melangsungkan pemilihan umum secara demokratis untuk memilih kepemimpinan baru. Harapan baru tersebutlah yang menjadi suara mayoritas rakyat kawasan Timur Tengah, termasuk harapan kehidupan yang lebih baik dan demokratis.

Situasi yang sekarang terjadi di beberapa negara Timur Tengah ternyata juga berpengaruh pada kehidupan ekonomi di berbagai negara lain seperti Indonesia. Ada dua dampak yang dirasakan oleh Indonesia -dampak langsung dan tidak langsung. Kehidupan ekonomi suatu negara memang tidak pernah lepas dari hubungan antar negara. Hubungan antar negara diwujudkan dalam hubungan keilmuan, sosial, politik, diplomatik, ekonomi, budaya, pertahanan dan keamanan.

Krisis Timur Tengah juga melahirkan berbagai model dan varian yang juga sulit dibaca, kecuali pembacaan politik dan geopolitik yang melingkupi. Munculnya ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) adalah bagian dari kerumitan krisis di kawasan ini. Sebelumnya persoalan sengketa Israel-Palestina, muncul juga Al-Qaeda, hingga berbagai kelompok separatis semisal kelompok Houthi di Yaman dan gerakanseparatislain menjadi bagian dari varian krisis yang rumit.



Gelombang Demokrasi dan Nasionalisme SARA



Harapanperubahan yang lebihbaikadalahsuara yang berdengungmengiringigelombangrevolusi yang bergulir di kawasanTimur Tengah. Pemerintahan yang demokratis diharapkan mampu memberi ruang partisipasi publik yang lebih luas, meski dalam situasi transisi justru memiliki banyak kerentanan. Sebab, demokrasi yang berdampak positif membutuhkan prasyarat dan kondisi awal yang perlu diperhatikan. Kondisi dan prasyarat bagi demokrasi yang dibutuhkan antara lain; pengetahuan dan keterampilan politik yang memadai di antara penduduknya, dukungan elite politik terhadap demokrasi, tradisi rule of the law dan perlindungan terhadap hak asasi manusia yang kuat, tingkat perkembangan ekonomi tertentu, kebudayaan yang menunjang dan sebagainya.

Nah, jika prasyarat ini tidak terpenuhi, justru akan melahirkan kerentanan yang dimaksud, meski kebebasan menyatakan pendapat, pemilihan umum langsung yang jurdil (jujur dan adil) dan luber (langsung, umum, bebas, rahasia) bisa diselenggarakan. Kerentanan pada proses politik awal dan masa transisi demokrasi seringkali melahirkan berbagai konflik kepentingan,terlebih di kalangan elit. Sebab, suara demokrasi ditentukan melalui suara mayoritas, sehingga pihak minoritas akan tersingkir. Dan kaum elit yang di periode sebelumnya berkuasa, bisa jadi punya peluang yang sama, menjadi tersingkir, maka elit tersebut akan menggunakan sentimen nasionalisme SARA (suku, agama, ras dan antargolongan) untuk membangun kekuatan politik sesuai kepentingan elit. Dan cara-cara elit menarik sentimen SARA dalam proses pemenangan politik di era transisi demokrasi inilah yang mengganggu demokrasi yang diharapkan, bahkan tak sedikit melahirkan guncangan sosial-politik yang hebat.

Dalam bukunya, From Voting to Violence: Democratization and Nationalist Conflict, Jack Snyder mengungkapkan fakta keterkaitan antara demokratisasi dan konflik nasionalisme, dan itu banyak berhubungan dengan apa yang disebut nasionalisme SARA. Dasar legitimasinya diperoleh dengan cara benturan ras, agama, suku, golongan, bisa juga pengalaman sejarah, mitos dan seterusnya. SARA digunakan untuk memasukkan dan mengeluarkan orang dari term nasionalis, padahal ini bersifat rasis dan berangkat dari pemikiran yang sempit. Sementara perbedaan dan berbagai kesempitan dalam bentuk SARA tidak selayaknya menjadi basis demokrasi. Sebab demokrasi justru diharapkan melahirkan rasa nasionalisme yang tetap menghargai perbedaan dan tidak terkotak-kotak yang anti pluralisme.

Studi Snyder di atas menyebutkan, kebanyakan atau sebagian besar negara-negara yang tercebur dalam konflik SARA selama dasawarsa 1990-an adalah negara yaang sedang menuju tahapan transisi demokrasi. Lantas, bagi negara Indonesia yang dianggap sudah melampaui, tetapi masih menunjukkan situasi dan kondisi yang kurang lebih sama, adakah termasuk sebagian kecil dalam riset Snyder? Ada maksud yang disampaikan Snyder, bahwa dua tahun sebelum pecahnya konflik dan pertikaian SARA, umumnya dimulai dengan pra kondisi dengan menguatnya kemajuan parsial dalam hal kebebasan politik atau kebebasan sipil. Parsialitas yang merusak, menyempit dan rasis inilah yang menjadi penyubur bagi lahirnya nasionalisme SARA.

Beberapa contoh negara yang mengalami pecah SARA, antara lain di bekas Yugoslavia, antara orang Armenia dan orang bekas Soviet Azerbaijan, begitu juga di Burundi dengan minoritas Tutsi dan mayoritas Hutu. Begitu juga yang terakhir kasus SARA di kawasan Timur Tengah, semisal Mesir. Lantas bagaimana membuat nasionalisme SARA tidak muncul? Apakah demokrasi selalu melahirkan bahayanya yang juga semakin rumit dan membuat apriori? Nasionalisme sipil musti dikuatkan. Para elit, baik di level pemerintah (eksekutif, legislatif, yudikatif), maupun tokoh masyarakat dan ulama, bersama seluruh lapisan masyarakat saling menjaga situasi kondusif, tidak merasa terancam oleh proses demokratisasi, dan institusi politik (kelembagaan negara) yang ada juga saling menopang dan cukup kuat menampung proses ini.

Penguatan nasionalisme sipil, seperti digagas Kim Holmes misalnya, adalah upaya untuk membangun basis pemersatu bangsa dan menciptakan kesetaraan warga negara tanpa melihat jenis suku, ras, warna kulit, keturunan dan agama, sehingga demokrasi yang dijalankan akan memberi dampak positif dan mencapai cita-cita bangsa yang diharapkan. Dengan cara yang setipe ini pula, pemahaman dan cara pandang sektarian, dengan sendirinya juga akan memudar. Berbagai perbedaan kepentingan dan konflik bisa dilihat secara lebih utuh dengan mempertimbangakan berbagai faktor dan penyebab yang menjadi pemicu konflik, dari berbagai aspek dan latar belakang secara menyeluruh.

Akhirnya kedewasaan setiap warga, kesadaran berdemokrasi yang semakin dipahami, akan berujung pada kondisi check and balances dan menjadi pupuk untuk terwujudnya proses demokrasi yang terus membaik dan saling menjaga melalui kritik-konstruktif, sehingga melahirkan kran demokrasi yang menyehatkandan berujung pada kemakmuran negeri.



Penulis adalah Kepala Divisi Media dan Publikasi Lakpesdam PBNU



Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Habib, Lomba Siti Efi Farhati

Sabtu, 24 Februari 2018

Hadapi Persoalan Bangsa, Khofifah Ajak Perbanyak Munajat

Tasikmalaya, Siti Efi Farhati. Berkaitan dengan tugas keluarga, hukum Islam telah mewajibkan kepada bapak untuk mengurus semuanya, tapi bukan berarti ibu lepas tanggung jawab. Ini muhasabah kita bersama, namanya muhasabah berarti saling koreksi, saling introspeksi, saling refleksi, bukan beraksi. tidak kalah pentingnya menjaga pertahanan nasional harus dimulai dari pertahanan keluarga.?

Hadapi Persoalan Bangsa, Khofifah Ajak Perbanyak Munajat (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadapi Persoalan Bangsa, Khofifah Ajak Perbanyak Munajat (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadapi Persoalan Bangsa, Khofifah Ajak Perbanyak Munajat

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Umum PP Muslimat Khofifah Indar Parawansa di depan ribuan jamaah Muslimat NU dalam mauidzah hasanah-nya pada peringatan harlah ke-94 NU dan ke-71 Muslimat sekaligus peringatan Isra Miraj di Mesjid Agung Kota Tasikmalaya, Ahad (30/4).?

"NU punya tugas berat, Muslimat juga punya tugas berat, tugas berat kita menjaga bangsa, menjaga negara, menjaga umat. Jadi kalau ada TNI, maka Banser, warga NU, Muslimat ya jadi TNU, ya tentaranya NU," ujar Menteri Sosial RI ini.

Dengan mengutip Al-Quran surat al-Anfal ? Ayat 9, Khofifah mengatakan, “Hari ini kita bisa melakukan apa? Apakah ibu-ibu bawa senjata, bukan saatnya, senjata kita puasa kita, senjata kita adalah amaliyah kita, senjata kita adalah amal shaleh kita. kita bersama-sama munajat.”

Khofifah menjelaskan, hal ini dilakukan supaya Allah menurunkan bala tentara malaikat untuk membantu bangsa supaya rukun, untuk membantu bangsa agar tidak saling adu domba, untuk membantu bangsa supaya damai.

Siti Efi Farhati

"Kiai-kiai, ulama-ulama, dan ajengan-ajengan selalu menyampaikan bagaimana kita ini bisa menguatkan Ahlusunnah wal Jamaah. Di sisi lain ada ahli fitnah wal jamaah, ini PR kita. Saya pagi-pagi tadi saja terima hoaks, Kasihan kan rakyat disuguhi fitnah-fitnah seperti ini terus,” keluh Perempuan kelahiran 19 Mei 1965 ini.

Dia juga mengungkapkan soal keberagaman di Indonesia. "Hubungan intern umat beragama harus kita tata, hubungan antarumat beragama juga harus kita tata. Hubungan intern itu Islam dengan Islam, yang tahlil dan yang gak suka tahlil, yang mau Maulid dan yang anti-Maulid, yang mau manakib dan yang antimanakib, tidak boleh bertengkar. minna..minhum...wah berantakan bangsa ini," ungkapnya.

Siti Efi Farhati

Di akhir tausiyahnya, Khofifah mengingatkan supaya bercermin pada perpecahan di Timur Tengah, di mana persatuan dan kedamaian sulit dicapai karena kepentingan tertentu.

"Jangan sampai perpecahan terjadi di negara kita tercinta Indonesia. Semoga ahli fitnah itu diberi hidayah serta NU dengan usia yang hampir seabad, diiringi dengan kualitas juga, kualitas akademisi NU. Secara kuantitatif sudah, secara kualitatif, itu yang kita usahakan," tandasnya.

Hadir dalam acara tersebut, Rais Syuriyah KH Aban Bunyamin, Ketua Tanfidziyah PCNU KH Didi Hudaya, ? Mustasyar yang juga Walikota Tasik Budi Budiman, Ketua Muslimat Jawa Barat Hj Ela Giri Komala, serta para ketua badan otonom NU dan para tokoh Nahdlatul Ulama Kota Tasikmalaya. (Arif/Mukafi Niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Doa, Lomba Siti Efi Farhati

Kamis, 15 Februari 2018

Ulama Diminta Bimbing Eks Gafatar

Subang, Siti Efi Farhati

Setelah menjalani pembinaan di Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, Dinas Sosial Kabupaten Subang bersama Kepolisian setempat menjemput eks anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) asal Subang dalam empat tahap.

"Mereka dipulangkan ke tempat asalnya masing-masing di beberapa kecamatan yang ada di Subang," ungkap Kepala Satuan Bimbingan Masyarakat Polres Subang, AKP. H Sarjono usai mengikuti Rapat Reboan PCNU setempat, Rabu (17/2).

Ulama Diminta Bimbing Eks Gafatar (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Diminta Bimbing Eks Gafatar (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Diminta Bimbing Eks Gafatar

Sebelum dipulangkan ke tempat asal, kata dia, para eks anggota Gafatar yang berjumlah 44 orang ini tidak langsung dipulangkan ke tempat asalnya karena mereka akan kembali mendapatkan pembinaan.

Siti Efi Farhati

Ditambahkan, mereka punya kepercayaan yang cukup kuat sehingga mesti diberi pemahaman secara kontinyu agar mereka benar-benar bisa meninggalkan kepercayaan yang ada di Gafatar.

Siti Efi Farhati

"Saya sudah memberikan nama dan alamatnya kepada para kiai, diharapkan agar para ulama, kiai dan ustadz terdekat dapat membimbing dan memberi pencerahan kepada eks Gafatar ini supaya mereka tidak kembali lagi ke ajaran Gafatar atau sejenisnya," papar Polisi yang juga jadi pengurus PCNU Subang ini.

Sementara untuk memenuhi kebutuhan hidup, kata dia, para mantan anggota Gafatar ini sudah diarahkan untuk berbisnis seperti berdagang dan bertani. (Aiz Luthfi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Lomba, Anti Hoax, AlaSantri Siti Efi Farhati

Senin, 05 Februari 2018

Mun’im DZ: Rekonsiliasi Butuh Pijakan Sejarah yang Benar

Malang, Siti Efi Farhati. Silang sengkarut sejarah 1965, NU-PKI selalu menjadi perbincangan panas di Indonesia. Jika selama ini publik hanya mengkonsumsi Informasi dari media massa, dan beberapa wacana kiri saja, kini hadir buku putih “Benturan NU-PKI” yang menjadi jawaban dari kesekian pertanyaan penting terkait sejarah perjalanan bangsa.

Buku putih itu menjadi topik seminar di Malang, Kamis (1/5). Punulisnya Abdul Mun’im DZ hadir. Menurutnya, masyarakat yang melek sejarah akan mengetahui dengan sendirinya jika PKI bukan satu-satunya Korban. Meski gencar diberitakan NU sebagai pelaku pembantaian, sejatinya NU sendiri adalah korban tragedi 1965.

Mun’im DZ: Rekonsiliasi Butuh Pijakan Sejarah yang Benar (Sumber Gambar : Nu Online)
Mun’im DZ: Rekonsiliasi Butuh Pijakan Sejarah yang Benar (Sumber Gambar : Nu Online)

Mun’im DZ: Rekonsiliasi Butuh Pijakan Sejarah yang Benar

Beberapa data sengaja disajikan dalam perbincangan hangat tersebut. Pasalnya, kesimpang-siuran informasi selama ini sengaja dilakukan untuk mendeskriditkan NU. Salah satunya penggelembungan data korban. Data yang ada lebih banyak media membesar-besarkan jumlah yang tidak rasional. “Buku ini sengaja saya tulis, sebagai rekonsiliasi yang berpijak pada kebenaran,” kata Abdul Mun’im.

Siti Efi Farhati

Wakil Sekjen Pengurus Besar NU itu bahkan menjelaskan, pasca tragedi geger 1965, PKI-NU sebagai korban dirampas hak-haknya sebagai warga negara. NU tidak lagi boleh berpolitik, NU disingkirkan dan beberapa akses ditutup.

“Jadi yang paling berperan untuk menciptakan opini salah dan benar adalah media yang sudah disetting secara global,” paparnya di home-theater Fakultas Humaniora dan Budaya UIN Maliki Malang itu.

Siti Efi Farhati

Penulis berharap buku ini tidak hanya jawaban atas tudingan-tudingan miring pada NU, namun juga sebagai pijakan sejarah untuk anak bangsa. (Diana Manzila/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Lomba, Sholawat, AlaSantri Siti Efi Farhati

Beberapa Ciri Khusus Aswaja An-Nahdliyah

Jombang, Siti Efi Farhati

Ketua Aswaja NU Center Jombang, Ustadz Yusuf Suharto menjelaskan bahwa Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) an-Nahdliyah memiliki ciri khusus (khas) tersendiri. Ciri tersebut sebagai pembeda antara penganut Aswaja dari lainnya.

Beberapa Ciri Khusus Aswaja An-Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Beberapa Ciri Khusus Aswaja An-Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Beberapa Ciri Khusus Aswaja An-Nahdliyah

Di antara ciri-ciri khas tersebut, Yusuf menyebutkan yang pertama adalah secara teologis meyakini bahwa Allah tidak menyerupai segala sesuatu, ada tanpa tempat dan arah, Mahasuci dari bentuk dan ukuran, dan tidak dapat dibayangkan.

Terkait sejumlah ayat tentang tuhan di Al-Quran atau yang biasa disebut ayat mutasyabbihat (maknanya masih samar), Aswaja memakai metode tafwidl atau takwil. Ayat-ayat tersebut tidak boleh diartikan dan dipahami secara tekstual, melainkan harus ditafsiri dengan metode-metode tersebut.

Siti Efi Farhati

Ciri yang kedua meyakini bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu. Ketiga tidak mengafirkan seorang muslim dengan sebab dosa besar yang ia lakukan selama ia tidak menghalalkannya (meyakini kehalalannya).

Siti Efi Farhati



(Baca juga: Kriteria Khas Aswaja NU Rumusan Muktamar Ke-33 NU)


Sementara yang keempat, lanjut dia, adalah meyakini bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi dan Rasul yang terakhir. Kelima, Mengagungkan para sahabat Nabi secara keseluruhan, lebih-lebih khulafaur Rasyidin. Kemudian ciri yang terakhir meyakini bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar dan diridhai Allah.

Ahlussunnah wal Jama’ah adalah golongan yang senantiasa berpedoman pada ajaran Rasulullah dan para sahabat, dan selalu menjadi kelompok mayoritas di setiap masa. "Dalam? masalah akidah, Aswaja mengikuti madzhab Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan Imam Abu Manshur al-Maturidi," katanya, Ahad (31/72016).

"Pada saat ini, Ahlussunnah wal Jama’ah dikenal dengan sebutan Asy’ariyyah (para pengikut Imam Abul Hasan al-Asy’ari) dan Maturidiyyah (para pengikut Imam Abu Manshur al-Maturidi)," imbuhnya.

Di samping itu, golongan yang beraswaja tersebut sudah digambarkan oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu kelompok yang diistimewakan dengan memperoleh balasan surga di antara kelompok-kelompok yang lain.

"Rasulullah mengabarkan kepada kita bahwa umatnya akan terpecah belah menjadi 73 golongan. Sebanyak 72 di antaranya berhak masuk neraka, dan satu golongan akan masuk ke dalam surga, yang kemudian dikenal sbg Ahlussunnah wal Jama’ah," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Halaqoh, Lomba Siti Efi Farhati

Minggu, 04 Februari 2018

Ida Alimatun Pimpin Fatayat NU Trimulyo

Kendal, Siti Efi Farhati. Ida Alimatun Hidayat akhirnya terpilih menjadi ketua Fatayat NU ranting Trimulyo, Kec. Sukorejo, Kendal, Jateng setelah dalam rapat anggota yang digelar di gedung TK Muslimat NU setempat  berhasil menperoleh dukungan mayoritas dari sahabat-sahabatnya, belum lama ini.



Ida Alimatun  Pimpin Fatayat NU Trimulyo (Sumber Gambar : Nu Online)
Ida Alimatun Pimpin Fatayat NU Trimulyo (Sumber Gambar : Nu Online)

Ida Alimatun Pimpin Fatayat NU Trimulyo

Rapat Anggota yang juga dirangkai dengan Harlah Fatayat NU ke 58 itu  dihadiri oleh ketua Pengurus Ranting (PR) Muslimat NU Trimulyo Suwarti dan ketua Pengurus Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Sukorejo Fuadah.serta anggota Fatayat NU se-desa Trimulyo.

Dalam sambutannya ketua demisioner PR Fatayat NU, Romdlonah, S.Ag mengaku telah menyiapkan kader-kadernya untuk bisa meneruskan estafet kepemimpinan di tubuh Fatayat Trimulyo. Romdhonah yang juga menjabat wakil sekretaris PAC Fatayat NU Kecamatan Sujorejo  juga berharap siapapun yang mendapat amanat dalam rapat anggaota diharapkan dapat menerimanya dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab.

Siti Efi Farhati

Sedangkan Fuadah dalam pengarahannya selaku ketua PAC Fatayat NU kecamatan Sukorejo berharap agar pengurus Fatayat NU bisa pandai membagi waktu antar tugasnya sebagai ibu rumah tangga dengan tugasnya sebagai pengurus Fatayat NU. Keduanya tidak boleh menelantarkan satu sama lainya.

Siti Efi Farhati

Diakui oleh Fuadah,  usia-usia Fatayat adalah usia yang sangat rawan karena rata-rata anggota Fatayat masih memiliki Balita (bawah lima tahun) yang membutuhkan perhatian ektra. Oleh karenanya ia berharap jika mengikuti kegiatan Fatayat hendaknya semua pekerjaan rumah (PR ) sudah beres, sehingga baik anak maupun suami  akan ikhlas mengikuti kegiatan Fatayat, terang Fuadah yang juga bidan desa itu. 

Dalam sambutannya ketua baru Fatayat NU Trimulyo Ida Alimatun Hidayat berjanji akan meneruskan program-program Fatayat terdahulu dan  dan merealisasikan progaram dulu yang  belum sempat terealisasi.

Munculnya sebagai ketua fatayat NU ranting Trimulyo ini merupakan penampilan perdananya setelah sekian lama tidak aktif di organisasi di lingkungan NU karena urusan keluarga. Sebelumnya Ida Alimatun pernah menjabat sebagai ketua PAC IPPNU kecamatan Sukorejo. Kemudian sempat menenggelamkan diri karena untuk urusan pribadinya.(frj)Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kajian Sunnah, Pendidikan, Lomba Siti Efi Farhati

Minggu, 21 Januari 2018

Soal Krisis Yerusalem, Arab Saudi Tegaskan Dukungan untuk Palestina

Jeddah, Siti Efi Farhati. Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz kembali menegaskan dukungan negaranya terhadap Palestina. Arab Saudi mengakui secara penuh hak rakyat Palestina untuk mendirikan sebuah negara merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.

Hal itu ia sampaikan saat menerima kunjungan Presiden Palestina Mahmoud Abbas di Istana Al-Yamamah di Riyadh, Arab Saudi, Rabu (20/12), seperti dilansir Arab News. Kedua pemimpin tersebut juga mengeksplorasi perkembangan terakhir di wilayah Palestina.

Soal Krisis Yerusalem, Arab Saudi Tegaskan Dukungan untuk Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Krisis Yerusalem, Arab Saudi Tegaskan Dukungan untuk Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Krisis Yerusalem, Arab Saudi Tegaskan Dukungan untuk Palestina

Sehari sebelum deklarasi pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menelpon Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz Al Saud. Selama pembicaraan, mereka membicarakan soal hubungan bilateral kedua negara, juga sejumlah perkembangan terkini tentang isu regional dan internasional.

Ketika membicarakan rencana AS mendeklarasikan Yerusalem sebagai ibu kota Israel, Raja Saudi mengingatkan tentang bahaya keputusan ini terhadap proses perundingan damai. Menurutnya, deklarasi tersebut akan meningkatkan ketegangan di wilayah itu.

(Baca: Jelang Deklarasi soal Yerusalem, Donald Trump Telepon Raja Saudi)Kamis ini sebanyak 193 anggota Majelis Umum PBB mengadakan sidang darurat yang menyinggung soal veto Amerika Serikat atas keputusan 15 anggota Dewan Keamanan PBB yang memberikan suara dukungan atas draf resolusi yang menyerukan pencabutan pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota Israel. (Red: Mahbib)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Lomba Siti Efi Farhati

Selasa, 16 Januari 2018

Tim Dai Ramadhan NU Bertolak ke Hong Kong dan Macau

Jakarta, Siti Efi Farhati. Lembaga Dakwah Nadlatul Ulama (LDNU) ? melalui Tim Inti Dai Internasional dan Media (TIDIM) mengirimkan lima orang ustad yang tergabung dalam Dai Ramadhan yang akan berdakwah di Hong Kong dan Macau selama Ramadhan.

Tim Dai Ramadhan NU Bertolak ke Hong Kong dan Macau (Sumber Gambar : Nu Online)
Tim Dai Ramadhan NU Bertolak ke Hong Kong dan Macau (Sumber Gambar : Nu Online)

Tim Dai Ramadhan NU Bertolak ke Hong Kong dan Macau

Pemberangkatan kelima ustad Dai Ramadhan dilakukan Senin (29/5) siang melalui Bandara Internasional Soekarno Hatta. Kegiatan tersebut bekerja sama dengan NU Care LAZISNU.

Selama di Hong Kong dan Macau, para dai akan melakukan kajian keislaman; pembinaan muallaf dan pengenalan Islam; pengenalan dan dakwah tentang zakat infak sedekah dan wakaf serta mengajak jama’ah untuk melaksanakannya baik di bulan Ramadhan maupun hari-hari biasa.

Para dai juga akan membuat jurnal harian dan mendokumentasikannya, mengirimkan berita kegiatan-kegiatan mereka ke media NU; serta meramaikan kegiatan dengan media sosial dengan member tanda #tidim #lazisnu #ldnu dalam setiap postingan.

Pembina TIDIM LDNU KH Wahfiudin Sakam mengemukakan misi tersebut merupakan upaya dakwah Islam ala Ahlussunah wal Jamaah An-Nadliyah ke seluruh dunia.

Siti Efi Farhati

?

“Problem saat ini di mana-mana ada ketimpangan sosial dan ekonomi sehingga muncul ektrimisme, radikalisme, dan terorisme. Pengenalan tradisi keberagamaan yang ? wasatiyah, tawasuth, tawazun dan berkeadilan harus dikembangkan,” kata Kiai Wahfiudin.

Ia meminta kepada para Dai Ramadhan untuk mengajarkan Islam dengan penuh cinta dan kasih sayang.?

“Tebarkan dan perkenalkan Islam yang ramah, bahwa kita adalah muslim pengikut Nabi Muhammad SAW yang rahmatan lil alamin,” ujarnya.

Siti Efi Farhati

Ia juga berharap misi tersebut dapat menambahkan jaringan di mana warga Indonesia terus berdiaspora ke berbagai negara.

Bagi para ustad anggota Dai Ramadhan, ia mengatakan agar perjalanan tersebut dapat membuka wawasan dan memahami komunitas muslim di berbagai tempat., sehingga hal itu juga menjadi komitmen, motivasi dan keberanian untuk lebih tegas dalam menyebarkan ajaran Aswaja An-Nahdliyah melalui dakwah.

Sementara itu, Direktur NU Care LAZISNU Syamsul Huda, mengungkapkan kegiatan tersebut merupakan kerjasama pertama NU Care dengan LDNU. Ia ? berharap kegiatan serupa dapat berkembang lebih besar sehingga lebih banyak lagi dai yang bisa dikirimkan ke luar negeri.

Ia mengatakan NU Care dan PCINU Hong Kong tengah menggerakan “One Day One Dolar”. “Uang yang terkumpul lewat gerakan ini untuk keperluan di Hong Kong seperti kebutuhan logistic, membangun shelter dan Islamic Center di HongKong,” kata Syamsul.

Ditambahkan Syamsul, selain mengirimkan tenaga dakwah, NU Care juga memfasilitasi warga Indonesia di Hong Kong dan Macau untuk mengenalkan ? entrepreneurship.

“Sebagai bekal untuk mereka dalam mencari nafkah di luar negeri untuk kehidupan yang layak dan mulia,” kata Syamsul.

Menurutnya langkah tersebut juga merupakan perjuangan memperbesar NU untuk bekiprah di dunia internasional. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Lomba, Sejarah, Habib Siti Efi Farhati

Minggu, 10 Desember 2017

Ceramah Habib Luthfi di Brebes

Brebes, Siti Efi Farhati. Rais ‘Am Jam’iyah Ahlu Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyah (JATMAN) Habib Luthfi bin Ali bin Yahya mengajak kepada seluruh anak bangsa agar tidak kerdil, berkecil hati dalam menghadapi berbagai tantangan. Menurutnya, kekhawatiran itu sebetulnya wajar, namun jangan sampai mengecilkan hati dan takut dengan bayang-bayang sendiri.?

Ceramah Habib Luthfi di Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)
Ceramah Habib Luthfi di Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)

Ceramah Habib Luthfi di Brebes

“Tunjukan kalau kita menjadi anak bangsa yang kuat, berada dalam bangsa yang kuat, ketahanan nasional kita juga kokoh,” ajaknya saat berceramah di kegiatan istighosah di Brebes, Jumat (2/12).

Diakui Habib, saat ini banyak berusaha memecah belah bangsa yang tentunya membikin keresahan dan kegelisahan masyarakat, juga membuat kekhawatiran aparat keamanan. Tetapi upaya pemecahbelahan bangsa Indonesia tidak akan terjadi kalau kita semua menjaga persatuan, menguatkan barisan antara ulama dan umara.

“Kita harus malu pada Sang Merah Putih karena bendera bangsa Indonesia didapat dengan tetasan darah, nyawa bahkan anggota keluarga, akankah kita cuma lesu tak berbuat untuk mempertahankan NKRI?” tegasnya.

Kandungan merah putih, lanjutnya, menjadi kehormatan bangsa. Untuk itu perlu disyukuri dengan litaarofu, saling kenal-mengenal. Perbedaan menjadi berkah karena orang yang paling mulia yang di sisi Allah hanyalah yang paling bertakwa. Orang yang bertakwa tentunya menjadi pengayom, penyejuk, bukan pemecah-belah. “Mari kita perkokoh NKRI, dengan bangga menjadi bangsa Indonesia, NKRI Harga Mati,” teriak Habib disambut ribuan hadirin.?

Siti Efi Farhati

Habib menandaskan, ketika Allah memberi rasa kekhawatiran, ketakutan, maka pasrah pada Allah, dalam jaminannya harus ada usaha. Seimbangkan tawakal kepada Allah dan ikhtiar. "Kadang ketika memiliki istri muda, khawatir jangan jangan menjadi janda muda. Punya anak anak kecil, khawatir jangan jangan jadi anak yatim. Ketika Isroil datang memanggil, apakah kita sudah siap dengan bekal menghadap-Nya?"

Para aulia (wali Allah), kata habib asal Pekalongan tersebut, juga punya kekhawatiran. Tetapi berbeda dengan manusia awam seperti kita. Karena manusia awam hanya berpikir masalah perut dan duit. Sedangkan aulia, khawatir dengan selalu munajat kepada Sang Khalik untuk memerangi hawa nafsu, untuk menjernihkan nafsu dari bisikan setan yang memanjakan dan juga membanting.

Rasa khawatir, lanjutnya, juga kadang sebagai bekal untuk menjadi kekuatan. Tergantung bagaimana kita prasangka baik apa buruk. Kalau berprasangka baik maka akan memetik yang baik, demikian pula sebaliknya.

Siti Efi Farhati

Istighosah diprakarsai Polres Brebes sebagai upaya menjaga kebhinekaan dalam persatuan dan kesatuan bangsa. Karena ditengarai, menurut Kapolres Brebes Luthfi Sulistiawan, semangat persatuan dan kesatuan mulai luntur yang mengakibatkan menurunya semangat kebangsaan.

Kapolres juga menjelaskan, kalau sekarang Polri tengah mengembangkan polisi masyarakat. Dalam artian peran serta masyarakat sangat dikedepankan. Termasuk dengan peran ulama dan umara yang bersatu, akan memperkokoh sendi sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.?

Senada, Plt Bupati Brebes Budi Wibowo tidak dipungkiri ada potensi yang memecah belah NKRI. Untuk itu, Budi mohon doa restu kepada seluruh ulama dan pengunjung agar Brebes tetap aman, damai sejahtera dan berkeadilan.?

Dia juga mengingatkan agar masyarakat bersama-sama mensukseskan pesta demokrasi. “Memilih hukumnya wajib, untuk itu, hadir dan gunakan hak pilihnya. Walau berbeda pilihan, tetaplah menjaga persatuan dan kesatuan,” ajaknya. (wasdiun/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Lomba Siti Efi Farhati

Sabtu, 09 Desember 2017

Organisasi Pendidikan Perlu Manajemen dan Kepemimpinan yang Baik

Lamongan, Siti Efi Farhati. Peranan manajemen dan kepemimpinan dalam sebuah organisasi pendidikan sangat diperlukan guna menjadikan organisasi pendidikan tersebut mencapai arah, maksud, dan tujuan yang dicanangkan. Untuk itu, perlu diupayakan perencanaan yang baik terhadap sumber-sumber daya yang tersedia.



Organisasi Pendidikan Perlu Manajemen dan Kepemimpinan yang Baik (Sumber Gambar : Nu Online)
Organisasi Pendidikan Perlu Manajemen dan Kepemimpinan yang Baik (Sumber Gambar : Nu Online)

Organisasi Pendidikan Perlu Manajemen dan Kepemimpinan yang Baik

Pernyataan tersebut dikemukakan dosen Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surabaya, Dr Abdul Kadir Riyadi dalam sebuah seminar bertajuk: “Peningkatan Mutu Pendidikan Sekolah, Pesantren, dan TPQ” di Gedung MI Nurul Huda, Majenang, Kedungpring, Lamongan, Jawa Timur, Ahad (26/8).

Pria kelahiran Tuban itu mengatakan, sudah saatnya lembaga-lembaga pendidikan yang ada di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU)untuk lebih menata diri lagi dalam menentukan, arah, maksud, dan tujuan sebuah organisasi.

Siti Efi Farhati

“Selain itu, mereka juga perlu melakukan semacam perencanaan strategis dan evaluasi terhadap proses atau manajemen yang ada dalam sebuah organisasi,” terang Riyadi.

Dalam seminar yang terselenggara atas Kerjasama PBNU, British Council Indonesia, Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kedungpring, dan Yayasan Nurul Huda Majenang itu, Riyadi juga mengingatkan pentingnya seorang pemimpin atau manajer untuk memiliki kecakapan tinggi dalam menetapkan tujuan, menentukan visi, dan mampu memotovasi.

Siti Efi Farhati

Sementara, Ketua Panitia yang juga pembicara dalam seminar tersebut, Sudarto Murtaufiq, menekankan, sebuah organisasi pendidikan perlu memiliki kemandirian dalam mengambil sikap terutama bagaimana menentukan arah dan tujuan guna mencapai mutu pendidikan yang ideal.

“Antara lembaga pendidikan yang satu dengan yang lain memiliki “bahasa” yang berbeda dalam menerjemahkan kualitas (mutu) pendidikan itu sendiri. Karena itu wajar jika banyak kalangan/praktisi pendidikan yang hingga kini masih memahami secara berbeda—dan agaknya memang harus berbeda—mengenai prinsip-prinsip jaminan mutu pendidikan,” terang Murtaufiq.

Seminar yang mengundang para pimpinan lembaga pendidikan seperti sekolah, pesantren, dan Taman Pendidikan Alquran (TPQ) di wilayah Kecamatan Kedungpring itu selain dihadiri jajaran pengurus MWC NU Kedungpring, seperti Drs. Khamim Baidlowie, H. Sisyanto, Drs. Mubarok, Drs. Imam Sujono, seminar itu juga dihadiri sejumlah pengurus Yayasan Nurul Huda Majenang. (dar)Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati AlaSantri, Lomba Siti Efi Farhati

Jumat, 08 Desember 2017

Sukses Fatayat NU, Sukses Perempuan Indonesia

Jakarta, Siti Efi Farhati. Ketua Umum PP Fatayat NU Ida Fauziyah dalam kepemimpinannya selama lima tahun telah menegaskan visinya bahwa “Sukses Fatayat NU, Sukses Perempuan Indonesia”.

Hal ini disampikan dalam pidato ketua umum pada acara pelantikan pengurus PP Fatayat NU periode 2010-2015 yang diselenggarakan di Jakarta, Sabtu (7/8).

Sukses Fatayat NU, Sukses Perempuan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Sukses Fatayat NU, Sukses Perempuan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Sukses Fatayat NU, Sukses Perempuan Indonesia

Dikatakannya, saat ini masih banyak persoalan yang dihadapi oleh para perempuan di Indonesia, diantaranya adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang mana Indonesia menduduki urutan ke 107 dari 177 negara.

Siti Efi Farhati

Ini salah satunya dikarenakan masih adanya persoalan pada aspek kesehatan dan pendidikan yang dialami oleh perempuan. Sebagai gamparan, saat ini tingkat kematian ibu melahirkan masih 248 per 100 ribu, padahal negara lain sudah mampu menurunkan pada level yang sangat rendah.

Kejahatan terhadap perempuan juga menjadi persoalan serius karang trendnya terus mengalami peningkatan, seperti persoalan trafficking.

Siti Efi Farhati

Ia menegaskan, sebagai badan otonom NU, Fatayat siap melaksanakan program NU khususnya yang terkait dengan bidang pemudi perempuan. “Kami minta bimbingan dan siap dijewer jika tidak sesuai dengan visi dan misi NU,” katanya. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sholawat, News, Lomba Siti Efi Farhati

Rabu, 22 November 2017

IPNU-IPPNU Purworejo Salurkan Bantuan Kitab ke Korban Longsor

Purworejo, Siti Efi Farhati

Banjir dan tanah longsor yang beberapa hari lalu melanda beberapa titik di Kabupaten Purworejo menggerakkan para kader Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) untuk turut membantu.

IPNU-IPPNU Purworejo Salurkan Bantuan Kitab ke Korban Longsor (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Purworejo Salurkan Bantuan Kitab ke Korban Longsor (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Purworejo Salurkan Bantuan Kitab ke Korban Longsor

Mereka yang tergabung dalam Corp Brigade Pembangunan (CBP), badan semiotonom IPNU, bekerja sama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat focus menangani evakuasi. Sementara sebagian anggota IPNU-IPPNU lainnya melakukan pengumpulan dana bantuan dari masyarakat yang kini mencapai lebih dari 25 juta rupiah.

Di tiga hari pertama, hasil penggalagan dana telah disalurkan hingga ke 15 titik lokasi bencana, yakni di Donorati, Caok, Jelok, Sudimoro, Pacekelan, Sibatur, Ngesong, Jenar Wetan, Krandegan, Tangkisan, Gintungan, Berjan, Sucen, Tologrejo dan Sidomulyo.

Siti Efi Farhati

Relawan IPNU-IPPNU juga berkonsentrasi menyisir sungai untuk mendata rumah roboh dan madarasah-madarasah yang kehilangan kitab. "Alhamdulillah hari ini telah berhasil distribusikan bantuan alat-alat ngaji ke dua madasah di Sucen dan Gintungan," ungkap Muhammad Hidayatullah, Ketua Pimpinan Cabang IPNU Purworejo sekaligus koordinator relawan, dalam siaran pers, Sabtu (25/6).

Untuk selanjutnya, lanjut Hidayat, IPNU-IPPNU akan melakukan tindakan pascalongsor dan banjir yang terkonsentrasi ke anak-anak dengan anggaran bantuan sebesar 10 juta rupiah. (Red: Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Ubudiyah, Lomba Siti Efi Farhati

Jumat, 10 November 2017

PBNU Harapkan LKKNU Perluas Cakupan Baksos

Jakarta, Siti Efi Farhati

Ketua PBNU H Eman Suryaman mendorong agar penyuluhan kesehatan dan tes IVA (Inspeksi Visual dengan Asam Asetat) gratis, tidak hanya digelar oleh Lembaga Kemaslahatan Keluarga NU (LKKNU) di tingkat pusat, tetapi juga di seluruh wilayah di Indonesia.?

Demikian disampaikannya saat memberi sambutan sekaligus membuka acara bakti sosial yang dilaksanakan di Gedung PBNU 2, Jalan Taman Amir Hamzah, Menteng, Jakarta Pusat, Ahad (28/2).

PBNU Harapkan LKKNU Perluas Cakupan Baksos (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Harapkan LKKNU Perluas Cakupan Baksos (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Harapkan LKKNU Perluas Cakupan Baksos

Eman memberikan gambaran, di berbagai daerah masih banyak ibu-ibu yang terkena serangan kanker rahim. Tetapi karena kesederhanaan dan keterbatasan, mereka hanya bisa pasrah dan menyerah. Mereka pun datang ke rumah sakit ketika tingkat penyakit sudah berat dan sulit ditangani.

Menurut Eman, keluarga adalah sesuatu yang harus dijadikan kekayaan utama. Untuk menuju Indonesia maju dan bangkit, dimulai dari keluarga. Dalam keluarga ada harapan sakinah mawadah wa rahmah, dan di dalamnya ada kemaslahatan. Di dalam kemaslahatan ada lagi yang harus digarisbawahi dan merupakan sosok paling penting, yaitu ibu.?

“Apabila dalam keluarga ibu-ibunya tidak sehat maka dampaknya keluarga tidak sehat. Maka peran dan penghargaan untuk ibu besar sekali,” tutur mantan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Barat itu.

Siti Efi Farhati

Tes IVA adalah pemeriksaan terhadap ada tidaknya kanker serviks pada seorang wanita, dengan cara pemberian asam asetat. Setelah dilihat posisinya, leher rahim dioles dengan asam asetat 3-5%. Pemberian ini tidak menyakitkan dan hasilnya langsung saat itu juga dapat disimpulkan normal (negatif), atau positif.

Eman menambahkan sekarang ini ibu-ibu yang datang ke acara baksos, masih sehat perlu diperiksa kesehatannya. Diharapkan dengan tes IVA ini ibu-ibu sehat, dan menjadi keluarga yang maslahah.

“Tetapi ini bukan pertama dan terakhir, melainkan untuk berkelanjutan. Ke depan misalnya bisa dilakukan tes-tes lainnya. Karena semunya harus sehat,” kata Eman mantap.?

Dalam pelaksanaan tes-tes dan penyuluhan-penyuluhan kesehatan tersebut ke depan bisa dilakukan kegiatan yang menyeluruh se-Indonesia lewat cabang-cabang LKKNU di daerah dan bisa bekerja sama dengan Kemeterian Kesehatan.

Siti Efi Farhati

Untuk menunjang kesehatan, juga diperlukan sumber tenaga bagi tubuh. Tubuh tentu harus kuat agar bertenaga, sehat jasmaninya. Makanya dibagikan juga sembako murah yang dalam hal ini bekerjasama dengan divisi-divisi Bulog di berbagai daerah.

“Semoga kegitan ini (bakti sosial penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan gratis serta sembako murah) sukses dan berlanjut terus,” tutur Eman menutup sambutannya. (Kendi Setiawan/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Lomba, Doa Siti Efi Farhati

Minggu, 05 November 2017

Ketika Rasulullah Dihina dan Dilempari Kotoran

Perilaku dan akhlak yang baik adalah anjuran nabi yang selalu ditekankan pada umatnya, bahkan berbuat baik pada orang yang telah melakukan hal buruk sekalipun. Hal ini jelas sudah dicontohkan oleh sang pemuda padang pasir, Muhammad SAW dengan selalu menimpali perbuatan buruk orang lain terhadapnya dengan kasih sayang.

Syahdan, suatu hari Nabi SAW hendak pergi ke masjid dan melewati jalan yang merupakan akses satu-satunya untuk menuju masjid. Di situ Nabi selalu mendapat hinaan, cacian, bahkan dilempar kotoran. 

Ketika Rasulullah Dihina dan Dilempari Kotoran (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Rasulullah Dihina dan Dilempari Kotoran (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Rasulullah Dihina dan Dilempari Kotoran

Namun Nabi tidak pernah membalasnya walau hanya mengeluh. Justru Nabi bertanya dan khawatir terhadap orang yang melempar kotoran saat suatu hari dia tidak melakukan kebiasaan buruknya itu. Ternyata Nabi mendapat kabar bahwa dia sedang sakit. 

Meski mendapat perlakuan negatif dan keji, Nabi tidak segan-segan menjenguknya. Akhirnya, orang tersebut merasa malu karena ternyata manusia yang selalu dikerjainya tersebut mempunyai sifat baik dan tidak dendam sedikitpun. Perangai Nabi itulah yang membuat Islam diterima dan menyebar luas hingga sekarang.

Nabi Muhammad Saw pernah bersabda:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Siti Efi Farhati

“Barang siapa bangun pagi dengan maksud untuk tidak berbuat zhalim (Aniaya)kepada seseorang maka perbutan dosa yang dilakukan akan diampuni (oleh Allah). Dan barang siapa bangun dipagi hari berniat untuk menolong orang yang terzholimi, memenuhi kebutuhan orang muslim maka dia akan mndapatkan pahala seperti haji mabrur.” (Nashaihul Ibad, hal 21)

Berbuat baik (menolong orang yang terdzalimi)dalam arti di atas memiliki arti umum yakni “Madhlum” yang berarti orang yang teraniaya, artinya berbuat baik tidak pandang agama, golongan ataupun ras. Namun berbuat baik adalah anjuran yang harus melekat pada diri manusia. (Diana Manzila)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Lomba, Anti Hoax, Ubudiyah Siti Efi Farhati

Jumat, 03 November 2017

Wisuda Pesantren Miftahul Hikmah Berlangsung Meriah

Jembrana, Siti Efi Farhati. Suasana meriah mewarnai prosesi wisuda TPQ Pondok Pesantren Miftahul Hikmah, Cupel, Negara, Jembrana, Bali, Rabu (11/7) malam. Bersamaan dengan peringatan hari jadi pesantren ke-54, acara puncak ini dipadati aneka penampilan para santri.

Dengan iringan musik hadrah, puluhan santri usia tujuh tahunan berlenggak-lenggok di atas panggung melantunkan shalawat, qashidah, dan lagu-lagu khas komunitas Islam tradisional. Sorak-sorai ratusan pengunjung meningkat saat pengumuman pemenang lomba yang diselenggarakan empat hari sebelum acara puncak.

Wisuda Pesantren Miftahul Hikmah Berlangsung Meriah (Sumber Gambar : Nu Online)
Wisuda Pesantren Miftahul Hikmah Berlangsung Meriah (Sumber Gambar : Nu Online)

Wisuda Pesantren Miftahul Hikmah Berlangsung Meriah

Pesantren asuhan Mustasyar PCNU Jembrana KH Muhammad Yasin ini melombakan beragam ketrampilan, seperti lomba baca dan terjemah Kitab Melayu, Tartil Al-Qur’an, cerdas cermat, azan, praktik shalat, hafalan doa harian, dan menulis Arab. Perlombaan diikuti seluruh santri TPQ dan Madrasah Diniyah menurut ketentuan kelas dan materi lomba yang ada.

Sebelum prosesi wisuda dan pengajian umum dimulai, para santri juga menampilkan kebolehan lain menghafal Juz ‘Amma dan seni baca Al-Qur’an di atas panggung. Datuk Yasin, demikian sang pengasuh biasa dipanggil, mengungkapkan kegembiraannya atas prestasi para santri yang telah menyelesaikan pendidikan Al-Qur’an.

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati

Ia menyadari, pesantren rintisannya dalam berbagai segi tidak sebagaimana umumnya pesantren di Tanah Jawa. Populasi penganut Hindu yang mayoritas di Pulau Dewata cukup mempengaruhi jumlah santri dan tenaga pengajar yang dibutuhkan. 

Namun demikian, dengan modal kekuatan yang ada, pesantren di pesisir selatan ini terus berusaha menerapkan kurikulum kitab kuning yang sulit didapatkan di lembaga pendidikan Bali.

“Pesantren ini tujuannya menciptakan bibit unggul yang dapat dikembangkan lagi di luar secara maksimal. Di daerah ini susah mendapatkan pendidikan ala pesantren,” katanya kepada Siti Efi Farhati

Penulis : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pahlawan, Lomba, Tokoh Siti Efi Farhati

Minggu, 29 Oktober 2017

Meluruskan “NU Garis Lurus”

Oleh M. Alim Khoiri

--Menjelang muktamar ke-33 NU yang rencananya akan dilaksanakan di kota Jombang, 1-5 Agustur 2015, sudah banyak pekerjaan rumah yang menanti. Dengan jargon “NKRI harga mati”, NU tak hanya dituntut untuk mampu mengawal keutuhan dan kesatuan negeri tercinta, tetapi juga harus mampu mengatasi persoalan-persoalan kecil ‘rumah tangga’ yang jika terus menerus diabaikan justeru akan merusak kesatuan dan keutuhan internal NU.

‘Kerikil’ terbaru NU saat ini adalah munculnya fenomena “NU Garis Lurus”. Ini mengesankan bahwa ternyata ada juga NU yang tidak lurus. Mirisnya, kelompok yang mengatasnamakan “NU Garis Lurus” ini tak segan-segan mencaci kelompok NU lain yang tak sependapat dengan mereka. Tokoh-tokoh besar NU macam Gus Dur, Profesor Quraish Shihab dan Kang Said pun tak lepas dari serangan mereka.

Meluruskan “NU Garis Lurus” (Sumber Gambar : Nu Online)
Meluruskan “NU Garis Lurus” (Sumber Gambar : Nu Online)

Meluruskan “NU Garis Lurus”

Di dunia maya, “NU Garis Lurus” ini populer melalui media sosial facebook dan jejaring sosial twitter dengan nama akun “NU GARIS LURUS”. Mereka juga terkenal lewat situs pejuangislam.com yang diasuh oleh ust. Luthfi Bashori. Tak hanya mendaku sebagai pejuang Islam atau NU Garis Lurus, kelompok ini juga mengklaim sebagai etafet pemikiran dakwah Sunan Giri. Gerakan ini, boleh jadi merupakan semacam bentuk tandingan atau perlawanan terhadap faham-faham pemikiran yang mereka anggap sesat macam pluralisme, sekularisme, liberalisme atau faham “Syi’ahisme”. Menurut mereka, faham-faham tersebut tak boleh ada dalam NU, tokoh-tokoh NU yang dianggap memiliki prinsip-prinsip ‘terlarang’ itu tak layak dan tak boleh ada dalam NU.

Paradigma “NU Garis Lurus” yang berusaha untuk ‘meluruskan’ NU dari faham-faham yang mereka anggap bengkok ini, sebetulnya sah-sah saja. Hanya, masalahnya ada pada cara berdakwah. Jika kelompok “NU Garis Lurus” ini mengaku sebagai pewaris perjuangan dakwah Sunan Giri, maka mestinya mereka berkaca pada beliau dalam beberapa hal;

Pertama, sejarah mencatat bahwa, dakwah Sunan Giri banyak melalui berbagai metode, mulai dari pendidikan, budaya sampai pada politik. Dalam bidang pendidikan misalnya, beliau tak segan mendatangi masyarakat secara langsung dan menyampaikan ajaran Islam. Setelah kondisi dianggap memungkinkan beliau mengumpulkannya melalui acara-acara seperti selametan atau yang lainnya, baru kemudian ajaran Islam disisipkan dengan bacaan-bacaan tahlil maupun dzikir. Dengan begitu, masyarakat melunak hingga pada akhirnya mereka memeluk Islam. Kanjeng Sunan Giri tidak mengenal metode dakwah dengan cara mencela atau bahkan menghina.

Siti Efi Farhati

Kedua, dalam bidang budaya kanjeng Sunan Giri juga memanfaatkan seni pertunjukan yang menarik minat masyarakat. Beliau juga dikenal sebagai pencipta tembang Asmaradhana, Pucung, Cublak-cublak suweng dan Padhang bulan. Lalu tentu saja beliau masukkan nilai-nilai keislaman di dalamnya. Itu semua dilakukan kanjeng Sunan demi tersebarnya ajaran Islam yang damai. Kanjeng Sunan -sekali lagi- tidak mengajarkan metode berdakwah dengan saling mencemooh atau menghujat mereka yang tak sependapat.

Ketiga, di bidang politik, kanjeng Sunan Giri dikenal sebagai seorang raja. Dalam menjalankan kekuasaannya, beliau tak pernah berlaku otoriter dan semaunya sendiri. Beliau selalu menggunakan cara-cara persuasif untuk menarik minat masyarakat terhadap ajaran Islam. Beliau tidak mencontohkan strategi dakwah dengan cara mencaci maki mereka yang tidak sefaham.

Siti Efi Farhati

Wa ba’du, Terlepas dari apakah “NU Garis Lurus” ini memang betul-betul berasal dari kalangan nahdliyyin ataukah sekedar ulah oknum yang tak bertanggung jawab, yang jelas supaya betul-betul lurus, “NU Garis Lurus” mesti mengubah gaya dakwahnya yang cenderung ekstrim itu. “NU Garis Lurus” juga harus bisa memahami bahwa di dalam tubuh NU selalu penuh dinamika. Perbedaan pendapat menjadi sesuatu yang biasa dan berbeda jalan pemikiran adalah hal yang niscaya. Jika “NU Garis Lurus” terus bersikukuh dengan strategi kerasnya, maka yang terjadi adalah sebaliknya. Alih-alih mendaku sebagai kelompok “NU Garis Lurus”, yang ada mereka justeru menjadi “NU Garis Keras”. Wallahu a’lam.

M. Alim Khoiri, warga NU tinggal di Kediri

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati AlaNu, Lomba, Syariah Siti Efi Farhati

Rabu, 27 September 2017

Terinspirasi Sang Ibu, Tiga Saudara Ini Aktif Berfatayat

Jakarta, Siti Efi Farhati. Tidak banyak yang tahu jika di Fatayat ada tiga bersaudara kandung yang aktif di organisasi perempuan NU ini. Mereka bertiga menjadi pengurus Fatayat di tempat maupun jenjang struktur yang berbeda. Ada yang di daerah, pusat, maupun mancanegara.

Siti Efi Farhati berhasil mewawancarai ketiganya di sela-sela Kongres ke-15 Fatayat NU di Surabaya. Tepatnya ketika sarapan pagi di Hall A Asrama Haji Sukolilo, Senin (21/9) jelang sidang komisi.

Terinspirasi Sang Ibu, Tiga Saudara Ini Aktif Berfatayat (Sumber Gambar : Nu Online)
Terinspirasi Sang Ibu, Tiga Saudara Ini Aktif Berfatayat (Sumber Gambar : Nu Online)

Terinspirasi Sang Ibu, Tiga Saudara Ini Aktif Berfatayat

Siapa saja mereka? Pertama, Yuliana Mahdiyah Da’at Arina (Sekretaris PC FNU Jember). Kedua, Iklilah Muzayyanah Dini Fajriyah (Koordinator Advokasi Hukum dan Politik PP FNU), Ketiga, Ibanah Suhrowardiyah Shiam Mubarokah (Ketua PCI FNU Malaysia).

Siti Efi Farhati

Ketiga perempuan cerdas nan enerjik ini merupakan putri pasangan KH Abdul Hamid Hidlir dan Nyai Hj Faiqotul Himmah asal Jember, Jawa Timur.

Siti Efi Farhati

“Sebenarnya ada satu lagi. Kakak kami yang pertama, Eva Fahmadia Jilan Maulida, jadi Bendahara PCFNU Magelang. Sayangnya hari ini nggak bisa bersama kami di sini,” tambah Iklilah.

Menurut Iklilah, ibu mereka merupakan prototipe perempuan yang sukses menyiapkan kader Fatayat sejak dini. Kaderisasi di internal keluarga sangat efektif membentuk kader handal untuk masa depan.

“Buat saya, ibu kami adalah perempuan yang berhasil melakukan kaderisasi Fatayat. Karena kami semua bersaudara itu enam orang. Nomor 1 sampai 4 perempuan. Nomor 5 dan 6 lelaki. Nah, kebetulan keempat-empatnya aktif di Fatayat,” tuturnya.

Iik, sapaan akrabnya, bercerita, ibu mereka aktif di Fatayat sejak muda. Namun, ia tidak tahu persisnya kapan. “Yang jelas sejak kami masih kanak-kanak. Kebetulan memang adik kakek kami (KH Abdul Halim Siddiq) jadi Rais Aam Syuriah PBNU waktu itu, Mbah Ahmad Shiddiq,” ungkapnya.

Menurut Iik, sebenarnya ibu mereka tidak pernah mendorong para putrinya masuk ke Fatayat. “Karena kultur kami di NU ya, jadi aku tertarik aja aja masuk Fatayat. Kan waktu aliyah aku juga masuk IPPNU,” ujar bendahara LP Ma’arif ini.

Ibu, Sang Inspirator Sejati

Ketiga bersaudara ini sependapat bahwa ibu mereka menginspirasi anak-anaknya aktif di Fatayat. Bahkan, sejak kecil mereka sudah sering ikut ke acara pengajian Fatayat lantaran sang ibu seorang muballighah (penceramah agama).

Senada dengan Iik, Ibanah dan Rina merasa kenal Fatayat sejak kecil. “Perasaan, kami kenal Fatayat sejak kecil. Bahkan, kami yang masih kanak-kanak waktu itu juga hafal mars Fatayat. Padahal nggak ngerti maksudnya,” kata mereka bersamaan sembari tertawa riang.

Gambaran dan situasi kegiatan Fatayat sejak dari ibu mereka memang diramaikan oleh kehadiran anak kecil yang turut memeriahkan acara. “Jadi mungkin itu kaderisasi secara alamiah dan kultural ya,” ujar Rina menimpali.

Bagaimana ketiga srikandi asal Jember ini berfatayat? Simak cerita singkatnya berikut ini. (Baca: Dokter Gigi Pun Berfatayat Ria) (Musthofa Asrori/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Lomba, Daerah Siti Efi Farhati

Jumat, 18 Agustus 2017

Soal Pesta Seks di Surga, Mahfud MD: Saya Risih Dengar Dakwah Begitu

Jakarta, Siti Efi Farhati. Mantan Menteri Pertahanan di era Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Mohammad Mahfud MD merasa risih usai melihat cuplikan cermah Ustadz Syam. Mahfud menilai isi cermah yang disampaikan dai asal Kota Makassar itu tidak bermanfaat. Dia justru merasa aneh jika orang bisa bertaqwa lantaran dijanjikan pesta seks.

"Menurut saya isi ceramah seperti itu tak ada manfaatnya, mengasumsikan bahwa orang bisa bertaqwa kalau dijanjiin pesta seks di surga. Saya risih ada dakwah begitu," kata Mahfud membalas pengikut twitternya yang meminta tanggapan terkait video itu.

Soal Pesta Seks di Surga, Mahfud MD: Saya Risih Dengar Dakwah Begitu (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Pesta Seks di Surga, Mahfud MD: Saya Risih Dengar Dakwah Begitu (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Pesta Seks di Surga, Mahfud MD: Saya Risih Dengar Dakwah Begitu

Ustadz bernama lengkap Syamsuddin Nur Makka yang pengisi acara dakwah "Islam itu Indah" di stasiun televisi Trans TV ini dikecam lantaran melontarkan ucapan senonoh dan terkesan melecehkan ajaran Islam.?

Siti Efi Farhati

Dalam ceramahnya pada siaran Islam itu Indah, Sabtu (15/7), dai muda ini menjelaskan jika satu di antara kenikmatan bagi penghuni surga adalah adanya "pesta seks" karena nafsu seks selama di dunia harus dikendalikan.

"Salah satu nikmat yang ada di surga adalah pesta seks. Minta maaf, karena inilah yang kita tahan-tahan di dunia. Inilah yang kita tahan-tahan di dunia dan kenikmatan terbesar yang diberikan Allah SWT di surga adalah pesta seks," demikian kata Ustadz Syam di hadapan para jamaah yang mayoritas kaum perempuan.

Siti Efi Farhati

Mahfud yang juga mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini meminta semua stasiun televisi memiliki tim yang mengerti soal agama dan mampu menentukan narasumber maupun tema yang baik.

"Sy sarankan semua stasiun TV punya Tim yg kuat dan paham agama dlm program dakwah di TV. Ya, agar bisa memilih narasumber dan topik yg baik," kata Mahfud melalui akun twetter pribadinya @mohmahfudmd. (Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Lomba, Nahdlatul Ulama Siti Efi Farhati

Minggu, 30 Juli 2017

Keadilan dan Pemimpin yang Adil

Rasulullah Pernah bersabda "Satu waktu nanti akan tiba atas umatku penguasa seperti singa, para menterinya seperti serigala, dan hakim-hakimnya seperti anjing. Sementara itu umat kebanyakan bagaikan kambing. Bagaimana bisa kambing hidup diantara singa, serigala dan anjing?"

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ?. ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah

Marilah kita bersama-sama meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah Yang Maha Adil dengan menhindarkan diri dari kedhaliman dan berusaha mendekatkan segala keputusan kita pada keadilan. Walaupun itu bukanlah perkara yang sulit. Sesungguhnya demikianlah perintah Allah dan Rasul-Nya.

Keadilan dan Pemimpin yang Adil (Sumber Gambar : Nu Online)
Keadilan dan Pemimpin yang Adil (Sumber Gambar : Nu Online)

Keadilan dan Pemimpin yang Adil

Adil adalah kata sifat yang dapat dimaknai dengan bertindak sebagaimana mestinya, tidak berat sebelah dan tanpa keberpihakan. Adil adalah memberikan hak kepada pemiliknya, baik hak itu bersifat ganjaran bagi yang berjasa maupun hukuman bagi yang bersalah.

Jama’ah Jum’ah yang dirahmati Allah

Siti Efi Farhati

Kata adil dalam bahasa Indonesia seolah tinggal kenangan. Bagi bangsa ini sekarang, adil terkesan mewah dalam realita kehidupan. Popularitas kata adil pada saat ini masih jauh berada di bawah kata android, Iphone, caleg, partai dan lain sebagainya. Begitu pula adanya berbagai lembaga yang berkutat dalam hal putusan dan keadilan sama sekali tidak dapat memposisikan kata adil pada tempatnya, bahkan terkesan membelokkan makna adil itu sendiri.

Padahal adil adalah barang murah, adil tidak perlu dibayar mahal seperti halnya short curse atau studi S1, S2 atau S3. Karena potensi adil selalu terkandung dalam diri tiap insan sebagai pengejawantahan sifat Allah swt ‘al-‘adilu. Adil adalah kekayaan alami yang terkandung dalam diri setiap individu yang hanya memerlukan modal kemauan saja untuk menghadirkannya. Adil bagaikan barang tambang dalam bumi Indonesia yang telah lama tersedia, bahkan semenjak bumi pertiwi ini belum dinamai Indonesia. Kemauan adalah kunci membuka gudang keadilan.

Siti Efi Farhati

Oleh karena itu, dalam usahan merealisasikan potensi adil yang terkandung dalam diri individu inilah perlu latihan dan pembiasaan. Adil harus diterapkan dalam lingkup kehidupan paling kecil, dari individu, keluarga, dan dari pemerintahan tingkat RT hingga tingkat pusat. Sehingga para bapak bangsa ini menjadikan konsep “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” sebagai salah satu dari Pancasila sebagai Dasar Negara.

Jam’ah jum’ah yang berbahagia

Dengan demikian keadilan menjadi salah satu basicstruktur yang harus ada di Indonesia. Dengan bahasa lain Keadilan merupakan masalah ushuliyah yang keberadaannya sudah merupakan barang pasti yang tidak bisa diganti dengan yang lain, apabila bangsa ini ingin lestari. Bukankah demikian peringatan Allah kepada Nabi Daud yang tergambar dalam surat as-shad ayat 26:

?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan.?

Sudah jelas kiranya janji Allah dalam ayat tersebut. Bahwa keadilan adalah syarat mutlaq seorang pemimpin, karena keadilanlah yang akan menentukan arah keberlanjutan sebuah bahngsa. Demikian pentingnya keadilan hingga ada sebuah cerita tentang seorang darwis? yang dimintai pendapat tentang pemimpin yang dhazilim.

?

Sadi bercerita; Alkisah, Seorang raja yang zalim berkenan memanggil seorang darwis ke istananya untuk memberi nasihat. Ketika sufi itu datang, Raja Zalim berkata, "Berikan aku nasihat. Amal apa yang paling utama untuk aku lakukan sebagai bekalku ke akhirat nanti?"

?

Sang darwis menjawab, "Amal terbaik untuk baginda adalah tidur." Raja itu kehairanan, "Mengapa?" "Karena ketika tidur," jawab sufi itu, "baginda berhenti menzalimi rakyat. Ketika baginda tidur, rakyat dapat beristirahat dari kezaliman."

?

Namun manusia adalah insan yang sering lalai dan mudah tergoda dengan berbgai bujuk rayu setan yang menyesatkan. Karenanya hampir dalam setiap jangkah kehidupan ini kedhaliman hadir menggantikan posisi keadilan. Begitulah hingga Rasulullah saw pernah bersabda:

?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Akan tiba satu waktu kepada umatku penguasanya seperti singa, para menterinya seperti serigala, dan hakim-hakimnya seperti anjing. Sementara itu umat kebanyakan bagaikan kambing. Bagaimana bisa kambing hidup diantara singa, serigala dan anjing?

Apakah maksud penguasa seperti singa dalam konteks hadits ini? tidak, singa ditamsilkan dalam hadits ini bukan dalam hal keberanian, tapi dalam hal kerakusannya. Singa selalu saja memburu makanan dan demi kepentinga pribadi dan golongannya. Sementara serigala terkenal dengan sifat culas, gesit, dan licik. Ia bisa menggunakan berbagai cara demi menghasilkan buruan walaupun dengan jalan tidak ksatria. Adapun anjing yang suka menjilat pandai sekali menyembunyikan kebuasannya dibalik kejinakan yang dimilikinya. Begitulah Rasulullah saw menerang keberadaan umatnya. Apakah massa yang dimaksud dengan hadits tersebut telah tiba? Wallahu a’lam bis shawab.

Hadirin Rahimakumullah

Hanya saja sebagai garis petunjuk adalah? surat An-Nisa’ ayat 135 haruslah dipegang seorang pemimpin.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia[361] kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.

Demikianlah khotbah singkat kali ini semoga bermanfaat bagi kita semua. Ya Allah kami sungguh bersyukur atas potensi keadilan yang kau berikan kepada kami, tetapi kami sadar keadilah bukanlah hal yang mudah kami realisasikan. Namun dengan kebesaran-Mu apa susahnya Kau mudahkan keadilan itu hadir pada kehidupan kami ya Allah..

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Khutbah II

? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

(red. Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Tegal, Lomba Siti Efi Farhati

Rabu, 28 Juni 2017

Peringati Asyura dengan Santunan Yatim Piatu

Pati, Siti Efi Farhati. Yayasan Jamaah Pasrah Kabupaten Pati, Selasa (11/10) malam menggelar pengajian umum yang dimulai pukul 19.30 WIB di halaman sekretariat Yayasan Jamaah Pasrah Desa Kembang, Kecamatan Dukuhseti, Pati, Jawa Tengah.?

Peringatan tersebut, dilaksanakan dalam rangka "nguri-nguri" tradisi Islam Jawa yang sudah turun-temurun dilaksanakan.

Peringati Asyura dengan Santunan Yatim Piatu (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Asyura dengan Santunan Yatim Piatu (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Asyura dengan Santunan Yatim Piatu

? ?

Minanurrahman ketua panitia acara melaporkan bahwa panitia mengundang 1500 dari berbagai elemen dan ternyata dihadiri ribuan orang dan melebihi target undangan.?

Siti Efi Farhati

"Sesuai dengan tema pengajian dan santunan tahun ini adalah Indahnya Berbagi Bersama, ada 314 anak yatim piatu dan 84 kaum dhuafa/fakir miskin malam ini kita beri santunan, bingkisan, dan juga 145 doorprize," tandas Ketua GP Ansor Dukuhseti, Pati tersebut. Iringan rebana dan burdahan, serta tahlil juga menghiasai kegiatan santunan tersebut.

?

"Kami atas nama panitia, mengucapkan terima kasih kepada semua pihak dan donatur. Mudah-mudahan, amal kebaikan panjenengan semua dibalas Allah, dimudahkan segala urusannya, mendapatkan rida Allah SWT, amin," kata Minan.

?

Siti Efi Farhati

Sementara itu, Ngalimun, Ketua Yayasan Jamaah Pasrah Pati dalam sambutannya mengatakan bahwa santunan yatim piatu dan fakir miskin tersebut dilaksanakan dalam rangka "nguri-nguri" budaya Islam Jawa yang saat ini mulai luntur dan ditinggalkan generasi muda.?

"Sesuai Hadist Nabi Muhammad, yang menganjurkan berpuasa selama 3 hari tanggal 9, 10, dan 11 Muharram atau Syura, kita disuruh untuk berpuasa,” ujar Ngalimun dalam sambutan di acara Gebyar Santunan Akbar yang digelar dalam rangka peringatan Asyura bertepatan pada tanggal 10 Muharram 1438 Hijriyah tersebut.

?

Selain itu, anjuran di hari Asyura terutama pada hari kesepuluh juga umat Islam dianjurkan untuk menyantuni anak-anak yatim piatu.?

"Siapa yang mengusapkan tangannya pada kepala anak yatim di hari Asyura (tanggal 10 Muharram), maka Allah akan mengangkat derajatnya, dengan setiap helai rambut yang diusap satu derajat. Itu menjadi dasar kami melaksanakan santunan yatim piatu dan fakir miskin tiap 10 Asyura," beber dia.

?

Dijelaskannya, bahwa Yayasan Jamaah Pasrah merupakan yayasan yang bergerak di bidang sosial keagamaan di wilayah Pati dan sekitarnya yang berdiri sejak 2004 silam. Tiap tahun, khususnya di bulan Muharram, Yayasan Jamaah Pasrah menggelar pengajian dan sekaligus memberikan santunan kepada anak yatim dan fakir miskin.

?

Dikatakan dia, bahwa Yayasan Jamaah Pasrah sudah memberikan sumbangsih nyata kepada anak-anak yatim dengan bukti memberikan santunan kepada anak-anak yatim piatu yang tersebar di 5 kecamatan di wilayah Kabupaten Pati. ?

"Untuk sumber dana, kita mendapatkannya dari swadaya, para donatur, dan iuran anggota yang terdiri atas berbagai elemen, ada guru, petani, pengusaha, dan lain sebagainya," pungkas dia. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati News, Lomba Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock