Tampilkan postingan dengan label Tegal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tegal. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Januari 2018

Banser Jatim Dikerahkan untuk Amankan Natal dan Tahun Baru

Jombang,Siti Efi Farhati. Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jombang Jawa Timur mengerahkan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) untuk membantu pengamanan malam Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2014 di sejumlah titik. Pengamanan ini bertujuan agar masyarakat bisa merasa nyaman.

Ketua GP Ansor Jombang Zulfikar Damam Ikhwanto mengatakan, instruksi tersebut sudah diberikan kepada Kepala Satkorcab Jombang untuk membantu dalam pengamanan Tahun Baru dan Natal. "Untuk teknisnya kami berkordinasi dengan pihak kepolisian selaku penanggung jawab. Sedangkan Banser hanya membantu saja," kata Zulfikar, Ahad (21/12).

Banser Jatim Dikerahkan untuk Amankan Natal dan Tahun Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Jatim Dikerahkan untuk Amankan Natal dan Tahun Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Jatim Dikerahkan untuk Amankan Natal dan Tahun Baru

Ia menjelaskan, Banser akan diterjunkan dalam beberapa titik. Di antaranya, Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), Gereja Bethani, Gereja Pantekosta. Semuanya masih menunggu kordinasi dengan pihak Polres Jombang. Pada intinya, Banser siap untuk membantu pengamanan. Teknis pengamanannya adalah melibatkan Banser di masing-masing PAC GP Ansor se-Kabupaten Jombang.

Siti Efi Farhati

"Nanti di PAC-PAC Ansor akan mengamankan beberap titik. Intinya di PAC Ansor yang ada gereja. Rata-rata per PAC di Jombang ada gerejanya. Dan bagi yang tidak ada gerejanya diminta untuk merapat ke gereja terdekat," jelasnya.

Zulfikar merinci, masing-masing PAC akan mengerahkan 10 Personel Banser, di Kabupaten Jombang terdapat 21 PAC atau Kecamatan. Total se-Kabupaten Jombang terdapat 210 personel pengamanan. Personel itu untuk pengamanan malam Natal.

Siti Efi Farhati

Sedangkan untuk Tahun Baru akan diterjunkan 60 Personel Banser. "Selain yang stand by ada personel Banser yang disiagakan secara mobile sebanyak 15 hingga 20 personel," jelasnya. Banser Mobile ini akan berkeliling menggunakan mobil Banser dan sepeda motor selama malam Natal dan Tahun Baru.

Zulfikar juga mengatakan, upaya tersebut dilakukan untuk menjaga toleransi antarumat beragama di Jombang. Terlebih, Jombang sendiri merupakan daerah yang majemuk. Meski didominasi oleh umat Islam namun umat? beragama lain dapat menjalankan agama dan kepercayaan masing-masing dengan tenang. Banser sebagai benteng ulama harus menjaga nuansa toleransi itu.

"Kami berharap Natal dan tahun di Kabupaten Jombang khususnya dapat berjalan kondusif," pungkas pria bertubuh tambun ini. (Syaifullah/Abdullah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Cerita, Tegal, Bahtsul Masail Siti Efi Farhati

Minggu, 14 Januari 2018

Meziarahi Makam Pencipta Nama dan Lambang NU

Surabaya, Siti Efi Farhati

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Surabaya merayakan hari lahir (harlah) yang jatuh pada 16 Rajab 1437 H atau bertepatan dengan 24 April 2016 dengan berziarah makam para pendiri atau orang-orang yang berjasa besar terhadap NU.

Meziarahi Makam Pencipta Nama dan Lambang NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Meziarahi Makam Pencipta Nama dan Lambang NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Meziarahi Makam Pencipta Nama dan Lambang NU

Makam yang dikunjungi, antara lain Sunan Ampel, pencipta nama NU KH Mas Alwi Abdul Azis, Sunan Bungkul yang dikenal sebagai kakek Sunan Ampel, lalu pencipta lambang NU KH Ridlwan Abdullah di kompleks makam Tembok, Surabaya.

"Instruksi PBNU, peringatan Harlah ke-93 tahun ini digelar secara sederhana. Malam ini (Sabtu) ziarah ke makam Sunan Bungkul menjadi titik terakhir ziarah ke muassis. Di makam Sunan Bungkul sekalian digelar tahlilan," kata ketua PCNU KH Mubibbin Zuhri.



Siti Efi Farhati

Kisah Lambang NU

Siti Efi Farhati



Bersamaan Harlah ke-93 ini, Wakil Katib PCNU Surabaya Ustadz Maruf Khozin membuat catatan tentang penuturan Gus Saiful Halim, cucu KH Ridlwan Abdullah. Pada catatan yang dibagikan ke Nahdliyin ini disampaikan sejarah pendirian NU. Setelah malam didirikan, para kiai meminta Kiai Ridlwan membuat lambang NU. Mengapa Kiai Ridlwan yang ditunjuk?

Cucu KH Ridlwan, Gus Saiful Halim menceritakan bahwa setelah mondok di Syaikhona Kholil Bangkalan, Kiai Ridlwan pernah bekerja di rumah orang Belanda. Pemilik rumah tersebut adalah pelukis. Suatu ketika tanpa disengaja Kiai Ridlwan menumpahkan tinta di kanvas lukisannya. Kiai Ridlwan gugup dan sedih, namun memberanikan diri memperbaiki lukisan tersebut sebisanya.

Dan ternyata si tuan Belanda tersebut tidak marah karena hasil lukisan Kiai Ridlwan bagus. Maka sejak itulah bakat seni melukis Kiai Ridlwan terlihat.

Pada Kiai Ridlwan, para Kiai memberi syarat kriteria lambang NU. Hadratussyekh KH Hasyim Asyari ketika itu mengatakan, "Membuat lambang NU tidak meniru lambang lain, lambang tersebut harus punya haibah, tidak membosankan sampai kapan pun.”

Menurut Ustadz Ma’rif Khozin, tidak mudah di masa itu dengan membandingkannya di masa digital sekarang. Syarat pertama tadi karena sebelum berdirinya NU, sudah ada Muhammadiyah dan Persis yang juga memiliki lambang.

“Beberapa lambang telah beliau buat, beliau ajukan ke beberapa kiai, selalu ditolak dan tidak diterima. Seolah beliau sudah habis inspirasinya, maka beliau salat Istikharah meminta petunjuk kepada Allah, maka pada jam 3 sebelum Subuh setelah beliau merebahkan tubuh. Kiai Ridlwan bermimpi ada bumi yang dikelilingi 9 bintang,” katanya.

Ini membuatnya terperanjat dan menulisnya secara sederhana di atas kertas. Setelah salat Subuh Kiai Ridlwan menyempurnakan gambar tersebut. Paginya, ia sampaikan kepada beberapa Kiai, termasuk Rais Akbar. Kiai Ridlwan menyampaikan bahwa ini hasil istikharah.

Di lain pihak, Kiai Nawawi Sidogiri juga mendapat Istikharah Surat Ali Imran 103, yaitu tentang Tali Allah, yang oleh Kiai Wahab diilustrasikan dengan 2 tali terikat di bawah. Maka saat kongres NU pertama di Peneleh Surabaya lambang NU telah sempurna. (Maulana/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Doa, Tegal, RMI NU Siti Efi Farhati

Jumat, 12 Januari 2018

245 Calon Mahasiswa Baru Ikuti Bimtes PMII UIN Bandung

Bandung, Siti Efi Farhati - Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menyelenggarakan Bimbingan Tes (Bimtes) sebagai bentuk kepedulian terhadap calon mahasiswa baru yang hendak mengikuti tes masuk melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) Mandiri.

Sedikitnya 245 calon mahasiswa baru mengikuti Bimtes ini di SMK KIfayatul Akhyar Cibiru, Bandung, Jawa Barat, 28-29 Juni 2016. Menurut Ketua Pelaksana Farhan mengatakan, agenda ini diadakan sebagai kepedulian terhadap mahasiswa baru yang sedang bingung menghadapi testing.

245 Calon Mahasiswa Baru Ikuti Bimtes PMII UIN Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)
245 Calon Mahasiswa Baru Ikuti Bimtes PMII UIN Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)

245 Calon Mahasiswa Baru Ikuti Bimtes PMII UIN Bandung

“Bimtes ini seperti apa yang dikatakan Soekarno ketika berangkat tanpa persiapan maka siap-siap pulang tanpa penghormatan,” ujar Farhan.

Siti Efi Farhati

Senada dengan Farhan, Ketua Pengurus Komisariat PMII UIN Sunan Gunung Djati Bandung Agus Taufik Habibie mengatakan bahwa calon mahasiswa baru (camaba) perlu dibimbing dan diberikan arahan sebab mereka berasal dari berbagai daerah yang jauh.

Siti Efi Farhati

“Nantinya calon mahasiswa baru ini tidak terlalu gagap dan kaget melihat soal-soal, karena bukan dari Aliyah saja, ada yang dari SMK, STM sangat perlu bimbingan dari PMII,” ujar Habibi.

Habibi pun menambahkan bahwa camaba bukan hanya diberikan kisi-kisi mengenai materi-materi yang akan diujikan tetapi bimtes PMII ini pun memberikan materi tentang keislaman dan keindonesia yang memuat nilai perdamaian dan toleransi.

“Kami juga tidak hanya bimbingan, try out dan testing saja, tapi kami menyelundupkan ajaran bersifat adem, damai dan toleran serta memperkenalkan juga (apa itu) PMII,” ujarnya.

Fasilitator bimtes ini didatangkan dari alumni PMII, kalangan profesional dan dosen UIN Sunan Gunung Djati. (Bakti Habibie/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati AlaNu, Internasional, Tegal Siti Efi Farhati

Kamis, 04 Januari 2018

Berdiri Ketika Mendengar Suara Adzan

Suara adzan menempati posisi istimewa dalam hati umat Islam. Bunyi yang dipantulkannya sangat berbeda dari suara-suara lainnya. Setiap orang memunyai ekspresi tersendiri ketika adzan dikumandangkan. Ada yang berdiri hingga adzan selesai. Orang yang tidur tiba-tiba langsung duduk ketika ? mendengar suara adzan. Orang yang sedang beraktivitas langsung berhenti dan terdiam sampai adzan selesai digemakan.

Ekspresi berdiri, duduk, dan lain-lain ini merupakan bentuk penghormatan seseorang akan suara adzan karena suara adzan terbilang sakral. Hal ini juga tidak hanya terjadi di zaman sekarang, sejak dulu masyarakat sudah terbiasa melakukan hal ini.

Berdiri Ketika Mendengar Suara Adzan (Sumber Gambar : Nu Online)
Berdiri Ketika Mendengar Suara Adzan (Sumber Gambar : Nu Online)

Berdiri Ketika Mendengar Suara Adzan

Namun apakah ekspresi semisal ini merupakan kewajiban, kesunahan, atau bagaimana? Terkait masalah ini al-Suyuthi dalam Hawi al-Fatawa menjelaskan:

Siti Efi Farhati

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. Sebenarnya berita yang beredar tentang orang yang berdiri tidak boleh langsung duduk dan orang yang duduk harus tetap duduk ketika mendengar suara adzan, tidak ada landasan dalam hadits Nabi, baik hadits shahih maupun dhaif. Bahkan tidak seorang pun ulama fikih menyebutkan permasalahan ini. Maka orang yang mendengar suara adzan sementara ia dalam posisi berdiri diperbolehkan langsung duduk. Orang yang sedang duduk diperbolehkan untuk berbaring. Orang yang berbaring diperkenankan juga untuk tetap berbaring.

Pendapat as-Suyuthi ini paling tidak bisa dijadikan argumentasi bahwa berdiri ketika mendengar suara adzan bukanlah sebuah kewajiban. Begitu pula dengan orang yang duduk dan berbaring juga diperbolehkan melanjutkan posisinya, tanpa harus mengubah posisi ketika menyimak suara adzan.

Siti Efi Farhati

Namun kita juga tidak boleh menyalahkan bila ada orang yang berdiri ketika mendengar suara adzan. Sebab bisa jadi itu bentuk dari penghormatannya dan ekpresinya. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati IMNU, Tegal, Syariah Siti Efi Farhati

Rabu, 03 Januari 2018

Jaga Situasi Kondusif, Polisi Rembang Sowani Para Kiai

Rembang, Siti Efi Farhati



Pihak Kepolisian Resor Rembang mengeluarkan kebijakan dengan menyebar para perwira di setiap kepolisian sektor atau Polsek, untuk berkunjung kepada ulama setempat guna mengantisipasi pergerakan massa menuju Jakarta, terkait aksi damai 25 November dan 2 Desember yang akan datang.

Jaga Situasi Kondusif, Polisi Rembang Sowani Para Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Jaga Situasi Kondusif, Polisi Rembang Sowani Para Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Jaga Situasi Kondusif, Polisi Rembang Sowani Para Kiai

Seluruh Kapolsek di setiap Kecamatan, secara serempak mendatangi ulama di wilayah setempat. Pada hari Rabu 23 November 2016 pagi seluruh Kapolsek dipastikan sowan ke sejumlah ulama yang ada di Kabupaten Rembang.?

Menurut Kapolres Rembang AKBP Sugiarto menjelaskan, hal tersebut dimaksudkan untuk mencegah massa di Kabupaten Rembang, untuk bergabung di Jakarta. Ia mengajak, kepada warga Kabupaten Rembang, untuk berdoa bersama agar Indonesia diberikan keamanan dan ketenteraman, terutama wilayahnya sendiri.?

"Terkait dengan rencana aksi 25 November atau 2 Desember mendatang, akan lebih baik warga mendoakan situasi Indonesia di rumah atau kediaman masing-masing agar wilayah tetap aman dan kondusif, demi tegaknya NKRI," ujar Kapolres Rembang AKBP Sugiarto.

Menurut Kapolres, berdasarkan apa yang disampaikan oleh Kapolri, rencana aksi susulan pada 25 November atau 2 Desember nanti potensi ditunggangi oleh kepentingan lainnya.

Siti Efi Farhati

Komandan Kodim 0720 Rembang, Letkol Inf Darmawan Setiady mengungkapkan, berdasarkan data intelejen yang didapatnya, sejauh ini masih belum terdeteksi adanya organisasi massa di daerah ini yang berencana akan gabung dalam aksi demo susulan mendatang.

"Lebih baik tidak perlu datang ke Jakarta. Jika masalahnya untuk menuntut proses hukum atas dugaan penistaan agama, biarlah aparat penegak hukum yang menanganinya," tegasnya.

Sebagaimana diberitakan sejumlah media nasional, aksi bertajuk "Bela Islam III" akan difokuskan untuk menuntut penahanan terhadap Basuki Tjahaja Purnama terkait kasus dugaan penistaan agama. Aksi akan dilakukan dengan shalat Jum’at di jalan.

Siti Efi Farhati

Seperti yang dilakukan Kapolsek Gunem AKP Yuliadhi, yang mendatangi Syuriah MWCNU Gunem Kiai Nursalim di Desa Trembes.

Lalu Kapolsek Sedan AKP Joko Purnomo yang mengunjungi salah satu jajaran pengurus MWCN KH Dimyati di Dukuh Pesantren-Sedan dan Kapolsek Lasem AKP Eko Budi S yang berkunjung ke Gus Qoyyum di Pesantren An-nur Soditan.

Kemudian, Kapolsek Kragan AKP Siswanto yang berkunjung ke Kiai Faqih di MA Nahjatus Sholihin Kragan dan Kapolsek Pamotan AKP Kisworo yang mengunjungi KH Fauzi dan KH Amir Mahmud di Pesantren Al-Falah Pamotan.

Selanjutnya, Kapolsek Sale AKP Isnaeni yang berkunjung ke sejumlah tokoh agama dan takmir?

masjid di Desa Gading, Mrayun, dan Wonokerto serta Kapolsek Sluke AKP Bibit AS yang mengunjungi KH Ansori di Kalimalang-Trahan.

Ada juga Kapolsek Sumber AKP Suhaendi Tirta yang berkunjung ke Kiai Rosyidi di Desa Kedungtulup dan Kapolsek Bulu AKP Riwayat Susianto yang mengunjungi Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Bulu Kiai Syarkowi.

Sedangkan Kapolsek Sulang AKP Haryanto berkunjung ke Pesantren Alhamdulillah Kemadu bertemu Nyai Hj Rahmawati Syahid istri Almarhum Kiai Syahid Kemadu yang juga mantan Mustasyar PCNU Rembang, serta Kapolsek Kaliori AKP Sukiyatno dan Kapolsek Kota Rembang Sunarmin, juga sowan ke sejumlah kiai yang ada di wilayah setempat. (Ahmad Asmui/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Tegal Siti Efi Farhati

Di Kongres, Fatayat Jember Akan Tampilkan Produk Unggulan

Jember, Siti Efi Farhati. Pimpinan Cabang Fatayat NU Jember sedang serius mempersiapkan diri menyambut Kongres Fatayat NU yang akan berlangsung di Surabaya, 18-22 September mendatang. Fatayat NU Jember melakukan koordinasi dengan pimpinan anak cabang dan ranting guna menggalang aspirasi dari bawah untuk disampaikan pada perhelatan berskala nasional itu.

Di Kongres, Fatayat Jember Akan Tampilkan Produk Unggulan (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Kongres, Fatayat Jember Akan Tampilkan Produk Unggulan (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Kongres, Fatayat Jember Akan Tampilkan Produk Unggulan

Fatayat NU Jember juga mengajak anak cabang dan ranting yang berpotensi untuk menampilkan produk unggulan masing-masing pada stan pameran yang disediakan oleh panitia Kongres. Diharapkan, secara ekonomi dampaknya akan meluas, bukan hanya untuk pengurus dan anggota Fatayat NU Jember, tetapi juga bagi masyarakat Jember secara keseluruhan.

“Kami ingin memanfaatkan momen kongres ini sebagai ajang untuk mengenalkan produk unggulan Jember kepada sahabat-sahabat Fatayat yang datang dari berbagai wilayah Indonesia,” ungkap Roihatul Jannah, bendahara sekaligus manager usaha garment Fatayat NU Jember.?

Siti Efi Farhati

Persiapan telah mulai dilakukan oleh PC Fatayat NU sejak jauh-jauh hari, termasuk dengan workshop pendataan anggota yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi potensi dan kebutuhan di bidang ekonomi, politik, kesehatan, pendidikan, dan lainnya dari anggota dan pengurus Fatayat di tingkat Ancab dan Ranting.?

Selain itu pengurus Fatayat NU Jember juga mengunjungi beberapa anak cabang dan ranting untuk mengetahui kondisi langsung anggota Fatayat. Dari kegiatan tersebut terekam bahwa di tingkat desa, kondisi anggota dan pengurus Fatayat NU masih jauh dari yang diharapkan.?

Siti Efi Farhati

“Banyak anggota Fatayat yang bahkan urusan administratif saja masih belum tuntas, seperti tidak memiliki KTP dan KK, sehingga kesulitan untuk mengakses layanan pemerintah yang membutuhkan KTP dan KK,” ujar Erma Fatmawati, Ketua 2 PC Fatayat NU Jember.

Menurutnya, banyak anggota yang belum mendapatkan layanan kesehatan yang layak, tidak bisa menyekolahkan anak-anaknya, bahkan masih banyak yang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasar.?

Oleh karenanya, menurut Ketua Ketua PC Fatayat NU Jember Rahmah Saidah, kongres ini menjadi penting karena merupakan forum terbesar ? yang akan menentukan jalannya organisasi selama lima tahun ke depan. Fatayat NU Jember berharap Kongres nanti benar-benar menjadi forum yang akan mewadahi kepentingan anggotanya, dan bukan sekadar menjadi ritual lima tahunan yang justru menjadi alat politik bagi beberapa pihak saja. (Linda/Robi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nahdlatul, Tegal Siti Efi Farhati

Kamis, 14 Desember 2017

Perkemahan Pramuka Madrasah Ajang Perkuat Cinta Tanah Air

Jakarta, Siti Efi Farhati. Perkemahan Pramuka Madrasah Nasional yang ke-3 oleh Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama menjadi ajang untuk memperkuat karakter bangsa, terutama menguatkan rasa patriotisme dan cinta tanah air.

Perkemahan Pramuka Madrasah Ajang Perkuat Cinta Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)
Perkemahan Pramuka Madrasah Ajang Perkuat Cinta Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)

Perkemahan Pramuka Madrasah Ajang Perkuat Cinta Tanah Air

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI Kamaruddin Amin menegaskan Perkemahan Pramuka Madrasah (PPMN) ke-3 ini menjadi salah satu program strategis Kemenag dalam menginternalisasi nilai-nilai kepramukaan.?

Menurutnya, hal ini tidak terlepas setelah seruan Menag tentang ceramah di rumah ibadah dan Deklarasi Aceh yang dikeluarkan para pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), PPMN III menjadi upaya Kemenag dalam ikut menyiapkan generasi bangsa yang cinta tanah air.

Guru Besar UIN Alauddin Makassar ini menegaskan, PPMN relevan dan penting di tengah tantangan kampanye ideologi transnasional yang merambah ke seluruh lapisan masyarakat, termasuk kalangan pelajar, dan dikhawatirkan merongrong persatuan dan kesatuan bangsa. PPMN III juga strategis karena akan dikuti lebih dari 800 pramuka penegak siswa Madrasah Aliyah dari 34 Provinsi di seluruh Indonesia.

Siti Efi Farhati

"Mereka adalah generasi masa depan bangsa dan karenanya rasa cinta Tanah Air harus ditanamkan sejak dini," terang Kamaruddin dalam konferensi pers, Selasa (9/5) didampingi Direktur KSKK Madrasah M. Nur Kholis Setiawan.

Mengangkat tema Kreatif, Terampil, dan Berkarakter, PPMN III didesain sebagai ajang kreasi dan unjuk keterampilan pramuka madrasah. Sejumlah kegiatan telah diagendakan untuk mencapai tujuan bersama menanamkan nilai dan karakter jujur, setiakawan, patriotik, serta cinta tanah air.

Siti Efi Farhati

"Mereka harus paham bahwa pendiri bangsa ini telah bersepakat untuk menjadikan Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar bernegara dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika," sambungnya.

Selain melalui aktivitas kepramukaan, internalisasi tema PPMN III dilakukan melalui talkshow wawasan kebangsaan, lomba bercerita tentang Jasa Pahlawan Islam Indonesia, Pionering Aplikatif Budaya Nusantara, lomba pembuatan film cinta Tanah Air, pemecahan Rekor MURI tentang Pantun Melayu Talibun, Karnaval Budaya, Outing Kebangsaan, Ikrar Pramuka Madrasah Cinta NKRI, Bakti Sosial.

"Sementara kreatifitas dan keterampilan diperlukan dalam merespon modernitas, karakter kebangsaan yang kuat akan menjadi pondasi kehidupan berbangsa dan bernegara para calon pemimpin masa depan," ujar Kamaruddin.

Kegiatan PPMN III 2017 ini juga merupakan wujud komitmen Kemenag mengawal pelaksanaan Gerakan Nasional Revolusi Mental dan Program Nawa Cita untuk menyiapkan tunas bangsa dan generasi masa depan lebih baik dalam mengisi kemerdekaan dan membangun peradaban dunia. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Tegal, RMI NU, Nasional Siti Efi Farhati

Minggu, 26 November 2017

LPTNU Wajib Kembangkan Prinsip NU dalam Pendidikan

Jakarta, Siti Efi Farhati. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menekankan supaya Lajnah Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama menjalankan misi NU dalam dunia pendidikan, khususnya di perguruan tinggi yang akan dikelolanya.

Hal itu disampaikan Ketuan Umum PBNU KH Said Aqil Siroj pada rapat koordinasi Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama se-Indonesia yang berada di bawah payung Lajnah Pendidikan Tinggi NU (LPTNU), di kantor PBNU, Jakarta, Kamis (9/8). 

LPTNU Wajib Kembangkan Prinsip NU dalam Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
LPTNU Wajib Kembangkan Prinsip NU dalam Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

LPTNU Wajib Kembangkan Prinsip NU dalam Pendidikan

Di antara misi NU yaitu menjalankan prinsip melestarikan tradisi lama yang baik dan mengambil kebaikan, inovasi dan perkembangan baru. 

Siti Efi Farhati

“Prinsip itu telah diterapkan di pesantren-pesantren NU. Itu sudah tahan uji, sejak sebelum kemerdekaan hingga kini,” ujarnya.

Prinsip lain, sambung Kiai Said, yaitu prinsip sebagaimana diterapkan di pesantren, yaitu  kesederhanaan, kebersamaan, toleran, dan sebagainya.

Siti Efi Farhati

Menurut Kiai Said, selama ini pendidikan formal NU, khususnya perguruan tinggi sangat terpinggirkan. Hal itu tidak terlepas dari kebijakan politik. “Menteri Dikbud bertahun-tahun dari non-NU, maka NU dipinggirkan,” katanya. 

Pada saat ini, tambah Kang Said, Mendikbudnya NU, mudah-mudahan rencana mendirikan 10 UNNU di Indonesia terlaksana.

Rapat koordinasi Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama se-Indonesia yang digelar Lajnah Perguruan Tinggi NU (LPTNU) ini membahas dan menyusun langkah dan strategi pengembangan perguruan tinggi NU, rapat koordinasi dilakukan untuk menghadapi Undang Undang tentang perguruan tinggi yang baru.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis    : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Tegal, AlaSantri, News Siti Efi Farhati

Sabtu, 25 November 2017

Cahaya Bagi Amaliyah NU yang Dipertanyakan

Amaliyah yang gampang dikerjakan dan mendatangkan pahala yang besar itu sebenarnya banyak. Seperti Yasinan, Tahlilan, Ziarah Kubur, Shalawatan, dzikir, dan lain-lain. Amaliyah yang demikian mayoritas warga NU yang mengamalkan. Namun dewasa ini, dari beberapa amaliyah yang gampang itulah ternyata menuwai banyak kritik dari berbagai golongan. Bahkan kritikan terkadang datang dengan sedikit keras. Meraka terlalu gampang menyalahkan seseorang, mensyirikkan seseorang, bahkan mengkafirkan seseorang. Memang sebuah ironi. Mereka seakan lupa bahwa Islam itu sebagai agama yang rahmatal lil’alamin.

Zaman sudah dipola sedemikian rupa. Yang benar terkadang jadi salah dan yang salah terkadang jadi benar. Baik dalam konteks pemerintahan maupun agama. Beragam aliran baru dalam beragama bermunculan. Akhirnya, hal inilah yang menggoyah jalannya organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) itu. Sebagian ulama NU mengatakan bahwa sekarang keadaan NU sama dengan waktu dulu semenjak NU baru dilahirkan. Kondisi NU sekarang lebih pada mempertahankan diri.

Cahaya Bagi Amaliyah NU yang Dipertanyakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Cahaya Bagi Amaliyah NU yang Dipertanyakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Cahaya Bagi Amaliyah NU yang Dipertanyakan

Bagi warga NU yang pengetahuan agamanya sudah luas, mungkin problematika yang seperti ini tidak sampai menimbulkan permasalahan atau murusak amaliyahn yang sudah mentradisi dalam NU. Namun, bagi warga NU yang hanya mengamalkan amaliyahnya tanpa tahu dalil-dalil yang menjelaskan tentang amaliyahnya, disinilah bahayanya. Saya mengibaratkan hal ini dengan orang yang berjalan yang hanya berjalan. Ia tidak tahu atas dasar apa ia berjalan dan ia tidak mengerti mengapa ia berjalan. Maka, orang itu bisa jadi ditengah perjalanan nanti akan mengalami kejenuhan, bosan, dan malas. Apalagi dalam perjalanan itu ada orang yang mengolok-olok bahwa perjalanan yang sedang dijalani itu membawa kesesatan. Kemungkinan besar orang yang melakukan perjalanan itu kembali pulang dan akhirnya dia tidak mau melakukan perjalanan lagi.

Nah, terbitnya buku yang berjudul Dalil-dalil Praktis Amaliyah Nahdliyah (Ayat dan Hadits Seputar Amaliyah Warga NU) itulah seolah menjadi cahaya yang menyinari amaliyah-amaliyah  warga Nahdlatul Ulama (NU). Dengan cahaya itu, dasar-dasar atau dalil-dalil tentang amaliyah NU menjadi tampak dan jelas. Sehingga bisa dipahami bahwa amaliyah yang dilakukan oleh warga NU tidak asal buat. Semuanya bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits.

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati

Beberapa amaliyah yang ditentang keras oleh beberapa golongan antara lain adalah seperti Tahlilan, Shalawatan, Ziarah Kubur, dan Maulid Nabi, juga di sajikan penjelasannya dalam buku yang setebal 245 itu. Misalnya tentang Tahlilan, Zainuddin Fanani, MA dan Atiqa Sabri Daila, MA mengungkapakan bahwa Tahlilan itu adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan keagamaan umat Islam. Tahlilan adalah media yang sangat penting untuk dakwah dan penyebaran Islam. Dari segi sejarah, Tahlilan sudah ada sejak dahulu sebelum berdirinya Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Perbedaan dan pertentangan dalam tradisi Tahlilan hanya terjadi di antara pemimpin intlektual NU dan Muhammadiyah. Sementara umat mengamalkan tradisi ini.

Tradisi Tahlilan memiliki dua aspek, ketuhanan (hubungan dengan Allah) dan kemanusiaan (hubungan sesama manusia). Tahlilan adalah masalah khilafiyah, maka tidak boleh menjadi penghalang persatuan dan kesatuan umat Islam setelah mengesahkan Allah. (hal 198)

Yang menarik, permaslahan yang terjadi setiap tahun seperti penetapan awal Ramadan  dan Syawal (hal 126), bahkan  ringkasan kitab Risalah Ahlusunnah wal Jama’ah (Karya Hadratus Syaik Muhammad Hasyim Asy’ari) juga ada dalam buku yang ditulis oleh ketua PCNU kota Malang itu. (hal 179). 

Dari sisi lain, membaca buku yang ditulis oleh KH. Marzuqi Mustamar itu mencerminkan bahwa beliau mempunyai tanggung jawab besar dalam membantengi dan menjaga warga NU. Menjaga bagaimana Warga NU tetap dalam jalan yang telah dibina oleh NU. Beliau takut warga NU menghentikan langkah dan tidak mau meneruskan lagi perjalanannya. Maka dari itulah, buku yang ditulis oleh dosen di UIN Maulana Malik Ibrahim itulah sangat dianjurkan untuk dibaca oleh semua masyarakat terutama warga NU. Wallahu a’lam.

Data buku

Judul : Dalil-dalil Praktis Amaliyah Nahdliyah (Ayat dan Hadits Pilihan Seputar Amaliyah Warga NU)

Penulis : KH. Marzuqi Mustamar

Penerbit : Muara Progresif Surabaya

Cetakan : I, Maret 2014

Tebal : xi + 245 hal. 14,5 x 21 cm

Peresensi : Moh. Sardiyono, alumnus PP. Nasy-atul Muta’allimin Gapura  Sumenep Madura dan Mahasiswa di UIN Sunan Ampel Surabaya

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Syariah, Nusantara, Tegal Siti Efi Farhati

Jumat, 24 November 2017

Dilobi Australia, PBNU Keukeuh Dukung Hukuman Mati Duo Bali Nine

Jakarta, Siti Efi Farhati. Anggota Senat Australia, Nick Xenophon, Selasa (10/3/2015) datang ke Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ? (PBNU) untuk meminta dukungan atas keinginan pemerintahnya agar hukuman mati terhadap duo Bali Nine ditunda.?

"Kami sadar (pemberlakuan) hukuman mati ini hak Pemerintah Indonesia. Oleh karena itu kami tidak meminta dibatalkan, tapi mohon untuk itu ditunda, agar ke depan juga bisa menjadi pembelajaran bagi masyarakat Australia bahwa narkoba membawa bahaya yang sangat besar," kata Imam Masjid Afghan, Adelaide, Australia, Syech Kafrawi Abdurrahman Hamzah, peterjemah sekaligus pendamping kedatangan Nick Xenophon ke PBNU.?

Dilobi Australia, PBNU Keukeuh Dukung Hukuman Mati Duo Bali Nine (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilobi Australia, PBNU Keukeuh Dukung Hukuman Mati Duo Bali Nine (Sumber Gambar : Nu Online)

Dilobi Australia, PBNU Keukeuh Dukung Hukuman Mati Duo Bali Nine

Dua orang delegasi dari Australia itu diterima oleh Syuriyah PBNU KH. Masdar F. Masudi, Sekretaris Jenderal PBNU H. Marsyudi Syuhud, Bendahara Umum PBNU H. Bina Suhendra, Ketua PBNU H. Mohammad Maksoem Mahfudz, H. Slamet Efendi Yusuf, H. Iqbal Sullam, dan H. Kacung Marijan.?

Siti Efi Farhati

"Jadi kami ingin mengetuk hati PBNU sebagai organisasi umat Islam terbesar di Indonesia, dan juga umat agama lain di sini, termasuk Pemerintah Indonesia, bahwa Andrew Chan dan Myuran Sukumaran sudah menunjukkan keinginan bertobat yang kuat. Islam adalah agama rahmat, mengedepankan pengampunan, maka sudah sewajarnya dua warga Australia itu mendapatkan pengampunan," tambah Kafrawi.?

Siti Efi Farhati

Lebih lanjut Kafrawi mengatakan, pihaknya khawatir jika hukuman mati tetap diberlakukan terhadap duo Bali Nine maka yang terjadi adalah permusuhan antara Australia dan Indonesia.?

Menjawab keinginan yang disampaikan delegasi Australia, Sekretaris Jenderal PBNU H. Marsudi Syuhud menegaskan sikap PBNU yang mendukung hukuman mati terhadap pengedar dan bandar narkoba.?

"Tidak semua hukuman mati kami dukung. Ketika Pemerintah Mesir akan mengeksekusi mati tahanan politik, kami bersurat ke PBB agar bisa menghentikan itu. Tapi kalau narkoba beda, karena narkoba sudah membunuh 50 orang di Indonesia setiap harinya," tegas Marsudi.?

Nick Xenophon mengaku bisa menerima sikap keras PBNU terhadap rencana hukuman mati duo Bali Nine. Meski tetap berharap hukuman mati ditangguhkan, dia mengaku tak bisa mengintervensi hukum yang diterapkan di Indonesia. (Samsul Hadi Karim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Hadits, Tegal, Olahraga Siti Efi Farhati

FDS dan Bungkus Penguatan Pendidikan Karakter

Oleh Ruchman Basori

Polemik Full Day School (FDS) melalui kebijakan Lima Hari Sekolah (5HS) terus berlanjut. Masyarakat semakin kecewa dengan ngototnya Mendikbud Muhadjir Effendy atas kebijakannya itu. Sepintar-pintar Mendikbud Muhadjir Effendy membungkus 5HS atau FDS, masyarakat akan dengan jeli melihatnya hanya sebuah kedok untuk memperkuat pendidikan karakter. Bahkan lebih dari itu merupakan upaya sekularisasi pendidikan di Indonesia.

FDS dan Bungkus Penguatan Pendidikan Karakter (Sumber Gambar : Nu Online)
FDS dan Bungkus Penguatan Pendidikan Karakter (Sumber Gambar : Nu Online)

FDS dan Bungkus Penguatan Pendidikan Karakter

Fakta bahwa pendidikan karakter hanya sebagai alasan atau layaknya bungkus, dapat dibaca kenekatan kalangan Kemdikbud yang tetap akan menjalankan kebijakan 5HS pada tahun ajaran baru yang dimulai pada tanggal 17 Juli 2017 mendatang. Alih-alih membatalkan kebijakan 5HS yang tertuang dalam Permendikbud 23 Tahun 2017 tersebut malah akan ditingkatkan lagi menjadi Peraturan Presiden.

Di berbagai tempat dan kesempatan, Menteri Muhadjir mengatakan bahwa kebijakan 5HS yang didasarkan pada Permendikbud 23/2017 adalah untuk penguatan pendidikan karakter anak bangsa. Padahal hasil penulusuran penulis, dari 11 pasal dalam Permen itu tidak ada yang secara spesifik membahas tentang pendidkan karakter. Pasal demi pasal membahas tentang pemenuhan beban kerja guru. Tapi anehnya Permendikbud itu yang selalu dijadikan argumen untuk penguatan pendidikan karakter.

Pertanyaannya, apakah produk Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT), Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) dan Pondok Pesantren yang selama ini menjadi gawang pendidikan karakter bangsa ini kurang hebat dengan pendidikan karakter yang ada di sekolah? Bukankah masyarakat Islam itu sudah dengan legowo menyempurnakan pendidikan agama dan karakter yang selama ini sangat kurang pada sekolah yang hanya dua jam seminggu?

Sekularisasi pendidikan

Siti Efi Farhati

Secara substantif kebijakan 5HS atau FDS yang ditolak oleh masyarakat tidak mencerminkan ikhtiar serius Kemdikbud untuk penguatan pendidikan karakter. Malah sebaliknya peran masyarakat yang telah berpartisipasi ikut memperkuat karakter, moral dan akhlak selama ini malah dinihilkan.

Siti Efi Farhati

Melalui MDT, TPQ dan Pondok Pesantren, masyarakat selama ini telah menanamkan saham yang tak ternilai harganya untuk tumbuh dan berkembangnya masyarakat yang religius, berkarakter serta loyal terhadap bangsa dan negaranya. Negara nyaris tidak mengeluarkan dana yang sebanding dengan output yang dihasilkan lembaga pendidikan keagamaan Islam itu. Karena mereka lahir, tumbuh dari oleh dan untuk masyarakat secara mandiri.

Kementerian Agama dengan keterbatasan anggaran yang ada telah memfasilitasi bagi pengembangan pendidikan keagamaan Islam dan diikuti dengan sejumlah regulasi. Terutama saat ini ketika dipimpin oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Kalau demikian agaknya ada agenda terselubung dari orang-orang tertentu di balik kebijakan FDS. Lebih tepatnya ingin memisahkan antara pendidikan nasional dengan agama. Peserta didik lambat laun tidak akan dikenalkan agama dengan baik tergantikan dengan pendidikan karakter yang belum jelas wujudnya. Dengan kata lain akan terjadi sekularisasi pendidikan di negara kita.?

Adalah Peter L. Berger mendefinisikan sekularisasi adalah sebuah proses di mana sektor-sektor dalam masyarakat dan kebudayaan dipisahkan dari dominasi institusi dan simbol-simbol religius. Berger menegaskan sekularisasi merupakan fenomena global masyarakat modern.

Pada waktu itu akibat dominasi gereja maka di belahan bumi Eropa terhadap pandangan ingin memisahkan antara agama di satu sisi dengan urusan dunia di sisi lainnya. Namun penulis kira beda dengan di Indonesia. Di mana agama telah menjadi dasar fundamental, sumber nilai dan inspirasi untuk berpikir, bersikap dan berperilaku dalam hampir di semua sektor pendidikan.?

Amanat Undang-Undang Dasar 1945 dan produk-produk turunannya sudah sangat jelas mengatakan bahwa pendidikan nasional sangat religius. Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3 misalnya dengan jelas menyebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.?

Memisahkan pendidikan nasional dengan dasar religius, tidak saja akan mengkhianati cita-cita para pendiri bangsa (founding fathers) ini, tetapi juga pengkhianatan terhadap amanat undang-undang. Selain dari itu pengabaian atas hak-hak kemanusiaan sebagai bangsa yang beragama. Jangan semua urusan hajat bangsa ini akan ditangani oleh pemerintah, namun harus mampu berbagi dengan baik dengan rakyat sebagai model pembangunan yang berbasis partisipatif.

Bukan sentimen organisasi, tapi kepentingan anak bangsa

Penolakan atau bahasa halusnya peninjauan kembali atas kebijakan lima hari sekolah (5HS) atau FDS akan terus digelorakan oleh kalangan masyarakat terutama yang terkena dampak langsung yaitu MDT, TPQ dan Pondok Pesantren. Ini bukan masalah konflik Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama sebagai dua organisasi besar yang selama ini menjadi rujukan penting pendidikan Islam. Tapi ini masalah fundamental dasar-dasar pendidikan bangsa ini.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan harus jujur, kalau ikhtiarnya memperkuat pendidikan karakter, tidak harus dengan kebijakan Lima Hari Sekolah. Namun dengan mengoptimalkan pendidikan nasional yang berbasis karakter dan kecakapan hidup sebagaimana inti dari Kurikulum 2013 (K13).

Kenapa misalkan tidak dengan cara menambah jam pelajaran Pendidikan Agama yang hanya dua jam seminggu. Itu jauh lebih realistis dan pasti akan didukung oleh masyarakat. Tuntutan agar pemerintah menambah jam pelajaran agama sudah lama disuarakan, namun pemerintah tetap kekeh sampai hari ini. Dengan tambahan jam pelajaran agama, tidak saja akan menambah porsi yang cukup bagi pengembangan karakter peserta didik, namun juga pendidikan agama akan semakin mendapat porsi yang semestinya. Masyarakat mulai lega dengan penambahan jam pendidikan Agama di K13 namun Dikbud pada masa Anis Baswedan malah meninjau ulang pemberlakuannya dan berlanjut sampai hari ini.?

Masalah moral, karakter dan akhlak erat kaitannya dengan keteladanan (uswah hasanah). Mestinya pemerintah melalui Kemdikbud, Kemenag dan Ristek Dikti mampu mencetak guru dan calon guru yang mampu menjadi tauladan bagi peserta didiknya, tidak saja di sekolah namun juga di masyarakat. Tak kalah pentingnya adalah profil para pemimpin dan tokoh negeri ini harus menjadi contoh (modelling) bagi anak-anak bangsa yang kini sedang tumbuh besar menyambut Indonesia yang lebih baik.

Hal lainnya yang tak kalah penting adalah revitalisasi kurikulum pendidikan nasional. Seluruh mata pelajaran harus diarahkan pada penciptaan peserta didik yang mempunyai keluhuran budi dan kemualiaan akhlak. Belajar Bahasa, Matematika dan Teknologi tidak melulu pemindahan pengetahuan dan ketrampilan (transfer of knowledge) namun juga pemindahan nilai (transfer of value). Agaknya cita-cita ini sejalan dengan konsep K13 sebagai kurikulum yang terintegrasi (integrated curriculum).

Terakhir agar pendidikan karakter tidak sekadar 5HS maka penciptaan suasana dan kultur sekolah perlu diciptakan. Guru yang menjadi teladan, peserta didik yang mempunyai semangat belajar, perpustakaan yang mendukung, kepemimpinan sekolah yang berpihak pada perubahan serta masyarakat yang mencintai sekolah dapat terejawantahkan dengan baik.

Sekali lagi pendidikan karakter bukan Lima Hari Sekolah tetapi ikhtiar serius membenahi pendidikan nasional. Tujuan berdimensi jauh ke depan menciptakan para pemimpin yang mencintai dan dicintai rakyatnya. Mengerti masalah dan tahu bagaimana mengatasinya. Rakyat kita makin cerdas maka susunlah kebijakan yang cerdas pula dan berpihak kepada masyarakat bukan malah mengebiri kepentingan-kepentingannya. Wallahu alam bisshowab.

Penulis adalah Ketua Bidang Organisasi Dewan Pengurus Pusat Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah dan Ketua Bidang Kaderisasi Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor.

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Tokoh, Sejarah, Tegal Siti Efi Farhati

Minggu, 19 November 2017

PP LAZISNU Terima Kunjungan Institut Zakat Sudan

Jakarta, Siti Efi Farhati. Pada Jumat (15/4) Pimpinan Pusat Lembaga Zakat, Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (PP LAZISNU) menerima kunjungan ? Ketua Institut Zakat Sudan, Ali M Ali ? Baidowi dan Abdul Ilah M Ahmad Namr, Koordinator Hubungan Luar Negeri pada institusi yang sama.?

PP LAZISNU Terima Kunjungan Institut Zakat Sudan (Sumber Gambar : Nu Online)
PP LAZISNU Terima Kunjungan Institut Zakat Sudan (Sumber Gambar : Nu Online)

PP LAZISNU Terima Kunjungan Institut Zakat Sudan

Ali M Ali Baidowi mengutarakan pihaknya sudah lama ingin mengunjungi Indonesia. “Kunjungan kami ini dalam rangka mengetahui lebih detail tentang pengelolaan zakat di Indonesia khususnya yang ditangani PBNU, karena zakat merupakan hal yang sangat penting dalam ajaran Islam,” ujar Ali.

Di samping itu, NU juga bukan hal yang asing bagi Sudan, karena di Sudan ada warga Indonesia yang kebanyakan mahasiswa dan berkultur NU bahkan ada PCINU Sudan. Mahasiswa asal Indonesia yang berada di Sudan sering mengikuti pertemuan yang diadakan oleh Pemerintah Sudan, maupun institusi zakat yang dipimpin Ali.

Islam di Indonesia juga bukan hal yang asing bagi mereka, karena Islam masuk ke Indonesia salah satunya melalui perdagangan. Dan ada ulama asal Sudan yang seratus tahun lalu datang ke Indonesia, dan memiliki keluarga di Indonesia.

Siti Efi Farhati

Selain diisi saling perkenalan, pada kesempatan itu kedua lembaga juga saling memaparkan program dan pengelolaan zakat yang mereka tangani. Abdul Ilah juga menyampaikan bahwa institusi zakat mereka membuat kurikulum zakat yang diajarkan di sekolah mulai tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Selain kurikulum untuk pelatihan.

Pihak Institut Zakat Sudan memberikan buku dan modul pelatihan zakat yang dikelola di Sudan. Ali mengatakan, buku dan modul tersebut bisa digunakan di Indonesia termasuk bila LAZISNU menghendakinya, tentu saja dengan penyesuaian kondisi yang ada di Indonesia. (Kendi Setiawan/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Kajian Sunnah, Sunnah, Tegal Siti Efi Farhati

Jumat, 17 November 2017

Tuntut Ilmu Jangan Hanya Berorientasi pada Kepintaran dan Gelar

Pringsewu, Siti Efi Farhati - Dewasa ini banyak orang yang memiliki niatan tidak benar dalam mencari ilmu. Karena kesalahan niat ini akhirnya banyak orang di zaman sekarang hanya mendapatkan kepintaran. Padahal yang lebih penting dari hal kepintaran ini cahaya dan hidayah ilmu.

Demikian disampaikan Mustasyar NU Pringsewu KH Anwar Zuhdi (Abah Anwar) saat mengupas materi tentang pelurusan niat dalam mencari ilmu di depan Jamaah Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) yang memenuhi aula Gedung NU Pringsewu, Ahad (8/5) pagi.

Tuntut Ilmu Jangan Hanya Berorientasi pada Kepintaran dan Gelar (Sumber Gambar : Nu Online)
Tuntut Ilmu Jangan Hanya Berorientasi pada Kepintaran dan Gelar (Sumber Gambar : Nu Online)

Tuntut Ilmu Jangan Hanya Berorientasi pada Kepintaran dan Gelar

Abah Anwar memberikan contoh bentuk orang yang salah niat dalam menuntut ilmu seperti ingin merasa hebat dan mengharap dihormati orang lain. "Jika niatan seseorang dalam mencari ilmu itu biar ia bisa hebat, berharap dihormati orang lain apalagi diniati mencari materi dunia, maka orang tersebut tidak akan mendapatkan hidayah ilmu," jelasnya dengan referensi Kitab Bidayatul Hidayah.

Orang seperti ini tidak hanya akan kehilangan hidayah ilmu, namun dapat menghancurkan dirinya sendiri dan agamanya. "Orang tipe ini sama saja menukar akhirat dengan dunia," tegasnya.

Siti Efi Farhati

Abah Anwar menambahkan, hidayah itu sangat penting dalam proses mencari ilmu. "Jangan berorientasi kepada kepintaran dan gelar dalam mencari ilmu. Carilah hidayah Allah SWT. Kalau Allah sudah memberikan hidayah ilmu kepada kita, ilmu dan hidup kita akan menjadi berkah," imbaunya.

Siti Efi Farhati

Ia mencontohkan, bagaimana seorang ulama, kiai atau tokoh yang memiliki keilmuan mumpuni dengan pesantrennya yang besar dan terkenal tetap saja menitipkan putra-putrinya kepada ulama lain dalam mencari Ilmu.

"Kalau niatan hanya untuk mendapatkan ilmu, bisa saja para kiai mendidik anaknya sendiri bersama santri-santrinya di pesantren masing-masing. Namun yang dicari mereka bukan hanya ilmu, namun hidayah dan barokahnya," tegasnya.

Ia mengajak seluruh umat Islam untuk menata niat dengan benar dalam menuntut ilmu dan dengan giat dalam melakukannya. "Semakin banyak mendalami ilmu maka kita akan merasa bodoh. Jangan merasa puas dengan ilmu yang dimiliki karena orang yang merasa pintar hakikatnya adalah orang bodoh," ujarnya. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Tokoh, Nahdlatul Ulama, Tegal Siti Efi Farhati

Rabu, 15 November 2017

Solusi Krisis Rohingya Menurut Rohingya

Coxs Bazar, Siti Efi Farhati. Selagi Antara asyik berbicara dengan seorang pria Bangladesh yang berada di sekitar pengungsi Rohingya di kamp pengungsi Ukhia, Coxs Bazar, dalam Bahasa Inggris seadanya, Hafez Ullah antusias menyimak apa pun isi perbincangan kami.

Pria kurus kering itu sesekali tersenyum, terlihat jelas ingin mengutarakan sesuatu.

Solusi Krisis Rohingya Menurut Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
Solusi Krisis Rohingya Menurut Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

Solusi Krisis Rohingya Menurut Rohingya

Begitu Antara mengakhiri perbincangan dengan si pria Bangladesh, Hafez langsung mendekat untuk menumpahkan banyak hal mengenai Rohingya, Rakhine, Myanmar dan Aung San Suu Kyi.

"Saya belum pernah bertemu dan berbicara dengan orang asing sebelum ini," kata dia setelah Antara menanyainya soal nama dan asalnya, Kamis menjelang malam 28 September kemarin.

Hafez adalah orang Rohingya. Tidak seperti umumnya pengungsi-pengungsi Rohingya lainnya, dia dapat berbicara dalam Bahasa Inggris.

Juga tidak seperti umumnya pengungsi Rohingya yang lain, Hafez termasuk pengungsi terdidik.

Siti Efi Farhati

Memperkenalkan diri sebagai sarjana filsafat jebolan Universitas Rakhine State, Myanmar, Hafez mengaku berasal dari Maungdaw Myo. Ini adalah daerah yang menjadi episentrum konflik di Rakhine belakangan ini.

Siti Efi Farhati

Di daerah inilah, ratusan orang yang disebut teroris oleh Myanmar tetapi patriot oleh sebagian orang Rohingya, melancarkan serangan terkoordinasi ke beberapa pos polisi dan sebuah pangkalan militer Myanmar.

Fatal bagi mereka, tentara Myanmar membalas jauh lebih fatal dari serangan mereka, sampai akhirnya memaksa lebih dari separuh penduduk Rakhine lari tunggang langgang ke daerah-daerah yang dianggap aman, terutama melintasi Sungai Naf untuk mencapai Bangladesh.  Dan Hafez adalah salah satu dari mereka.

"Saya lari ke Bangladesh bersama istri dan kedua anak saya dengan berjalan kaki berhari-hari. Tiba di sini (Ukhia) sebelum Idul Adha lalu," kata Hafez.

Dia kini bergabung dengan puluhan ribu orang Rohingya lainnya di Ukhia di dekat perbatasan Bangladesh-Myanmar.

Mengembalikan martabat

Hidup di kamp pengungsian tidak lebih memedihkan dari hidup di Maungdaw.  "Tetapi martabat kami di sana (Myanmar) lebih rendah ketimbang jadi pengungsi di sini (Bangladesh)," kata Hafez.

Hafez tidak tahu kapan dia dan ratusan ribu pengungsi Rohingya lainnya bisa kembali ke Myanmar. Bagi dia, Rakhine, Arakan atau apa pun nama tempat ini disebut, adalah tanah airnya, tak ada yang bisa menggantikan itu.  

Pada 20 September, pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, mengutarakan rangkaian janji kepada dunia dan komunitas yang hanya disebutnya dengan  nama "muslim Rakhine". Salah satu janji dia adalah merepatriasi pengungsi Rohingya ke Myanmar.

"Yang dia katakan itu bohong," kata Hafez. 

Hafez skeptis janji itu diwujudkan oleh pemimpin Myanmar peraih Hadiah Nobel Perdamaian tersebut.

Sembilan hari lalu Suu Kyi berkata, "Kami sudah siap untuk memulai proses verifikasi (untuk repatriasi Rohingya), kapan pun itu."

Tetapi seperti umumnya pengungsi Rohingya, Hafez menilai janji itu kosong belaka. Dia menganggap apa yang dijanjikan Suu Kyi itu dilakukan di bawah aturan yang sebelumnya juga pernah dilakukan, dan terbukti tidak berdampak apa-apa. 

"Saya mengakui dia (Suu Kyi) punya niat untuk menyelesaikan masalah Rohingya, tapi sayang dia bukan penentu utama kebijakan," kata Hafez.

Bagi Hafez, penguasa nyata di Myanmar, termasuk untuk semua hal yang berkaitan dengan Rakhine dan Rohingya, adalah "tatmadaw" atau militer, yang saat ini dipimpin Jenderal Min Aung Hlaing.

"Min Aung-lah yang penguasa sesungguhnya di Myanmar," kata Hafez.

Pria satu istri dua anak ini melihat Suu Kyi terborgol oleh militer. Di mata Hafez, Suu Kyi hanya suar Myanmar kepada dunia, yang sebenarnya tak punya banyak kekuasaan, apalagi sampai tingkat paling praktikal.

Oleh karena itu Hafez pesimistis dengan rencana repatriasi yang digagas Aung San Suu Kyi. 

"Masalah Rohingya tidak sebatas memberikan kartu identitas penduduk, lalu dianggap selesai. Tidak! Masalah kami di Myanmar adalah soal mengembalikan martabat yang terinjak-injak," kata Hafez meninggikan intonasi bicaranya untuk menegaskan artikulasi pesannya kepada Myanmar dan dunia.

"Kunci mengatasi masalah Rohingya adalah bagaimana Myanmar mengembalikan dan menumbuhkan harga diri orang Rohingya," ulang Hafez.

Sumpah anak Rohingya

Harga diri memang menjadi hal prinsip bagi sebagian besar orang Rohingya, apalagi setelah mereka menyeberang ke Bangladesh dunia menjadi tahu betapa terinjak-injaknya harga diri dan martabat mereka.

Terlalu banyak cerita mengenai wanita-wanita yang diperkosa, anak-anak yang terpaksa menyaksikan orang tua mereka dibunuh di depan mata mereka sendiri. 

"Sampai-sampai ada seorang anak usia 12 tahun, baru 12 tahun!...yang bersumpah di depan saya bahwa suatu saat dia akan membalaskan dendam atas kematian orang tuanya," kata Aiman Ul Alam yang menjadi pemandu sekaligus penerjemah untuk misi-misi kemanusiaan Indonesia di Coxs Bazar.

Setiap hari Aiman mengantar orang asing, termasuk wartawan-wartawan luar negeri, untuk menemui para pengungsi Rohingya, sampai jauh ke pedalaman perbatasan Myanmar-Bangladesh.  Dari sinilah Aiman mendapatkan begitu banyak cerita mengenaskan soal Rohingya.

Dan itu tak dipungkiri oleh Hafez Ullah, kendati dia mengakui hidup di tempat pengungsian juga sangat menyulitkan.

"Tapi di sini kami punya tempat berteduh, tidak ada orang yang diperkosa, tidak ada orang yang dibunuh," kata Hafez.

Sulit untuk memverifikasi pengakuan Hafez dan umumnya pengungsi Rohingya, karena pemerintah Myanmar menutup rapat-rapat Rakhine seolah ingin mencegah dunia tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana.

Tetapi ribuan pengakuan dan testimoni dari pengungsi terdokumentasi di mana-mana, baik di dalam maupun luar negeri.

Selama sekitar satu setengah jam berada di kamp pengungsian bersama tim Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar, Antara juga beberapa kali menjadi sasaran curhat pengungsi, tanpa tahu apa yang mereka omongkan.

Seorang di antaranya adalah perempuan berwajah teramat susah, dan tergoncang, yang terus berbicara dalam Bahasa Bengali-Rohingya.

Setelah memanggil Aiman, diketahui perempuan ini punya nama Hashina Ulfa.

"Sudah sepuluh hari di kamp ini. Suami saya dibunuh di depan mata saya sendiri dan kedua anak kami," kata Hashina. "Tolonglah kami."

Tolong, selain kata lapar, adalah yang kerap terlontar dari mulut para pengungsi Rohingya.

"Tolong, kabarkan keadaan kami ini kepada dunia, kepada negaramu, Indonesia," kata Hafez. (Antara/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Amalan, Nahdlatul Ulama, Tegal Siti Efi Farhati

Selasa, 31 Oktober 2017

Ceramah Pada Pengumpulan Dana Pembangunan IIC di Melbourne

Kunjungan Safari Ramadan Wakil Rois ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Tolchah Hasan ke Australia berikutnya adalah kota Melbourne. Kira-kira satu jam perjalanan dengan menggunakan pesawat dari Canberra.

Kunjungan mantan Menteri Agama di era pemerintahan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu ke kota tempat digelarnya balap mobil Formula 1 dan Tenis Australia Open itu disponsori Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU Australia-New Zealand ANZ, berkerja sama dengan KJRI Melbourne, IMCV dan seluruh kelompok pengajian di Melbourne seperti MIIS Monash Uni, Pengajian HANIF Brunswick, Pengajian Al-Ikhlash, Pengajian Laverton, YIMSA, dan Pengajian KITA.

Agenda pertama Kiai Tolchah—demikian panggilan akrabnya—di ibukota negara bagian Victoria ini adalah ceramah agama dalam sebuah forum shalat tarawih. Acara dilanjutkan dengan fund raising (penggalangan dana) untuk pembangunan Indonesian Islamic Center (IIC) Victoria.

Dalam kesempatan yang dihadiri sekitar 250-an jama’ah itu, panitia berhasil menghimpun dana sebesar A$1800 dan U$100. Pada saat itu juga Kiai Tolchah dititipi proposal panitia pembangunan untuk disampaikan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Menteri Agama.

Ceramah Pada Pengumpulan Dana Pembangunan IIC di Melbourne (Sumber Gambar : Nu Online)
Ceramah Pada Pengumpulan Dana Pembangunan IIC di Melbourne (Sumber Gambar : Nu Online)

Ceramah Pada Pengumpulan Dana Pembangunan IIC di Melbourne

“Mudah-mudahan siapapun yang menyambung kepengurusan NU di Melbourne ini bisa memonitor proses proposal ini,” Kata Su’aidi Asy’ari, salah seorang Ketua PCINU ANZ perwakilan Victoria.

Keterlibatan PCINU ANZ Victoria secara intensif dalam proses pembangunan IIC bukannya tanpa alasan. Sebab, dengan berdirinya IIC di Victoria, diharapkan dapat menjadi representasi wajah Islam alternatif, selain wajah Islam Timur Tengah.

Siti Efi Farhati

“Di lembaga ini NU bisa memberi warna Islam yang moderat ala Islam Indonesia,” ujar Su’aidi yang juga mahasiswa S3 University of Melbourne ini.

Pagi harinya acara Kiai Tolchah di Melbourne dilanjutkan dengan kuliah subuh dan diskusi seputar Islam, toleransi dan perbedaan paham aliran keagamaan di Masjid Westol, Clyton dekat Monash University. Dalam ceramahnya, Kiai Tolchah menyinggung luasnya konsep sedekah dalam Islam. Menurutnya, sedekah tidak hanya bersifat kebendaan. Sedekah antara lain bisa berarti mendamaikan dua pihak yang bertikai, juga bisa berarti mendekatkan hubungan antara dua golongan.

Siti Efi Farhati

Mantan Rektor Universitas Islam Malang itu juga menyayangkan hilangnya dimensi etis dan humanis dalam keberagamaan umat Islam Indonesia akibat semangat yang berlebihan dari beberapa kelompok umat Islam. Mereka tidak tahu bahwa sikap yang demikian justru melanggar ajaran Islam itu sendiri. Contohnya sungguh ironis, mereka bermaksud menegakkan ajaran Islam, namun mereka lakukan dengan menggunakan cara kekerasan. 

“Oleh karena itu, di tengah situasi yang demikian, saat ini perlu adanya komunitas Islam yang ramah, damai dan bisa hidup dengan siapa saja tanpa kehilangan jati diri sebagai muslim, tandas Kiai Tolchah.

Dalam forum diskusi, salah seorang peserta bertanya mengenai respon umat Islam setelah jatuhnya mantan Presiden Irak Saddam Husein yang tidak berdampak pada perbaikan ekonomi rakyat Irak sendiri.

“Saya tiga kali ke Irak, sebelum dan sesudah Perang Teluk. Dalam sebuah Konferensi negara-negara Islam, saya berdialog dengan seorang akademisi Irak—yang sebenarnya tidak sepaham dengan Saddam—tetapi  mereka berkata, setidaknya Saddam tidak pernah menjual Islam dan Arab, tidak seperti Raja Fahd,” jawab Kiai Tolchah diplomatis.

Irak adalah negara yang sangat kaya minyak dan memiliki rasa nasionalisme yang sangat tinggi, maka Amerika Serikat bependapat, negara tersebut harus segara dihancurkan sebelum jadi ancaman nyata baginya. Invasi Amerika bukan hanya menginjak-injak harga diri sebagai bangsa, tetapi juga telah menginjak-injak harga diri sebagai manusia, Oleh karena itu tidak heran invansi tersebut menimbulkan banyak sikap radikal untuk menentangnya. (Arif Zamhari/Bersambung)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pondok Pesantren, Internasional, Tegal Siti Efi Farhati

Sabtu, 28 Oktober 2017

Ada Unsur Penipuan dalam Pembelian Lahan Pabrik Semen

Rembang, Siti Efi Farhati. Tanah yang rencananya akan dibangun untuk digunakan lahan berdirinya pabrik semen PT Semen Indonesia menurut pengakuan Sutinah, peserta aksi penolakan berdirinya pabrik semen, dibeli dengan cara tidak benar.

Pasalnya, menurut Sutinah, para perangkat Desa yang menjadi makelar pembelian tanah itu menjelaskan bahwa lahan seluas 900 hektar itu, akan menjadi tempat yang akan digunakan pengembangan pohon jarak. Hal itu diungkapkan Sutinah, Sabtu (28/6).

Ada Unsur Penipuan dalam Pembelian Lahan Pabrik Semen (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Unsur Penipuan dalam Pembelian Lahan Pabrik Semen (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Unsur Penipuan dalam Pembelian Lahan Pabrik Semen

Sutinah menjelaskan, bahwa perangkat Desa Tegaldowo turun kerumah warga untuk mencari lahan dengan menjelaskan lahan di beli untuk ditanami pohon jarak, dan warga Desa Tegaldowo sebagai pengelolalnya, bukan orang lain.

Siti Efi Farhati

"Lahan itu nanti akan digunakan untuk menanam pohon jarak, yang juga kalian yang akan menjadi pengelolanya, tutur Sutinah dalam bahasa Jawa, menirukan perkataan salah seorang perangkat yang menjadi makelar tanah untuk meyakinkan para warga agar bersedia merelakan tanahnya.

Selain itu, mereka memberikan harga yang menurut warga yang menggelar aksi, tidak pantas sama sekali. Padahal menurut warga lain yang ada ditempat aksi menambahkan, sebagian perangkat yang tidak di sebutkan namanya mendatanginya dengan mengatakan bahwa tanah tetangganya sudah dijual, padahal itu tidak. “Saya merasa dibohongi,” terangnya kepada Siti Efi Farhati.

Siti Efi Farhati

"Ada pejabat Desa, yang mendatangi saya dengan meyakinkan saya bahwa tanah milik tetangga saya sudah di jual. Sayapun percaya dengan apa yang dikatakan Mas" setelah mengetahui itu tidak dilakukan sayapu menyesal karena telah di bohongi perangkat Desa saya sendiri.

Ada juga pernyataan warga yang menyatakan, bahwa ada perangkat yang menyatakan, ? jika warga tidak menjual tanahnya, maka tanah mereka akan hilang terkena dampak proyek. (Ahmad Asmui/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati PonPes, Tegal Siti Efi Farhati

Sabtu, 30 September 2017

Dai Muda Indonesia Serukan Aksi Berjalan Damai

Jakarta, Siti Efi Farhati. Forum Komunikasi Dai Muda Indonesia (FKDMI) menyerukan seluruh elemen masyarakat yang tergabung dalam Aksi 4 November 2016 agar menjaga kedamaian dan keutuhan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, menjunjung tinggi akhlakul karimah dalam menyampaikan aspirasi, serta menghindari kekerasan dan provokasi yang melanggar koridor hukum dan dapat mencederai demokrasi.

Dai Muda Indonesia Serukan Aksi Berjalan Damai (Sumber Gambar : Nu Online)
Dai Muda Indonesia Serukan Aksi Berjalan Damai (Sumber Gambar : Nu Online)

Dai Muda Indonesia Serukan Aksi Berjalan Damai

Seruan tersebut disampaikan Sekjen Pengurus Pusat FKDMI, Moh. Nur Huda setelah mencermati kondisi yang berkembang di tengah masyarakat saat ini. Menurut Huda, Keutuhan kita sebagai sesama anak bangsa harus senantiasa dijaga.?

"Sampaikan aspirasi dengan cara yang baik dan santun,” ujarnya. Yang penting juga, menurut Huda adalah menghindari aksi anarki yang dapat mencederai demokrasi dan melukai ukhuwah di tengah masyarakat. Karena sejatinya Islam selalu menyerukan kedamaian dalam situasi dan kondisi apapun.

Terhadap isu dan tujuan gerakan dari aksi damai bela Islam ini, FKDMI mendesak penegak hukum untuk bertindak tegas dan cepat dalam memproses tindakan dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaja Purnama guna menjaga stabilitas dan keamanan NKRI.?

Penegakan hukum yang adil dengan prinsip sama rata terhadap semua orang, tanpa memandang status dan jabatan, akan menghadirkan keyakinan masyarakat terhadap penegak hukum dan pemerintah.

Siti Efi Farhati

"Aksi damai ini merupakan reaksi masyarakat muslim atas dugaan penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama, karenanya penegak hukum harus dengan cepat dan tepat dalam memproses kasus ini secara adil dan tuntas,” tegas Huda.

Aksi damai merupakan ciri dalam berdemokrasi dan dilindungi oleh konstitusi negeri ini. Aksi juga salah satu bentuk penyampaian aspirasi secara langsung kepada Pemerintah, dalam mendukung proses penegakan hukum agar dilakukan dengan tegas dan proporsional. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Tegal, Syariah Siti Efi Farhati

Jumat, 22 September 2017

Kemenag Rekrut Serentak Penyuluh Agama Islam Non-PNS Se-Indonesia

Jakarta, Siti Efi Farhati - Kementerian Agama RI menggelar ujian tertulis dalam rangka perekrutan penyuluh agama non-PNS serentak se-Indonesia, Ahad (20/11) pagi. Pihak Kemenag RI mengadakan ujian terbuka untuk calon penyuluh agama yang dikoordinir oleh Kementerian Agama kabupaten dan kota se-Indonesia.

Kementerian Agama RI melakukan rekrutmen terbuka bagi penyuluh agama honorer untuk 2017 dengan masa kontrak tiga tahun. Penyuluh agama merupakan kepanjangan tangan dari Kantor Urusan Agama (KUA) di setiap kecamatan untuk melakukan bimbingan dan penyuluhan di masyarakat.

Kemenag Rekrut Serentak Penyuluh Agama Islam Non-PNS Se-Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Rekrut Serentak Penyuluh Agama Islam Non-PNS Se-Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Rekrut Serentak Penyuluh Agama Islam Non-PNS Se-Indonesia

Per 2017 penyuluh agama Islam non-PNS berjumlah delapan orang di setiap kecamatan. Hal ini ditetapkan oleh Dirjen Bimas H Machasin dengan surat keputusan terkait juknis pengangkatan penyuluh agama Islam non-PNS dengan nomor DJ.III/432 tertanggal 15 Juni 2016.

Siti Efi Farhati

“Kemenag Kota Jakarta Selatan membawahi sepuluh kecamatan. Dari banyak calon peserta ujian penyuluh agama Islam honorer, yang lolos 187 berkas. Tetapi dari 187 itu, yang diterima hanya 80 orang,” kata Hj Raudhoh, salah seorang penyuluh agama fungsional KUA Kebayoran Lama, Sabtu (19/11) malam.

Peserta ujian penyuluh agama Islam non-PNS untuk Kemenag Kota Jakarta Selatan mengikti ujian tertulis di Madrasah Aliyah Negeri 4, Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Ahad (20/11) pagi. Mereka menjawab 100 soal pilihan ganda yang dibagikan tim enguji dan pengawas.

Rekrutmen terbuka penyuluh agama Islam non-PNS ini bertujuan menetapkan kualifikasi dan kriteria yang digunakan dalam proses pengangkatan penyuluh agama Islam non-PNS. Selain itu rekrutmen terbuka ini bertujuan untuk merumuskan prosedur, tahapan-tahapan, dan mekanisme pengangkatan penyuluh agama Islam non-PNS. (Alhafiz K)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Tegal, Berita Siti Efi Farhati

Senin, 18 September 2017

Kisah Pengalaman Anak Pendeta Wukuf di Arafah

Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya bersabda:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Kisah Pengalaman Anak Pendeta Wukuf di Arafah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Pengalaman Anak Pendeta Wukuf di Arafah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Pengalaman Anak Pendeta Wukuf di Arafah

Artinya: “Haji itu adalah Arafah (wukuf di Arafah) maka barang siapa yang datang sebelum shalat Subuh dari malam jama’ (malam Mudzdalifah yang mengumpulkan semua jamaah haji di sana) maka sempurnalah hajinya...” (HR Tirmizi, al-Nasa’i, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Siti Efi Farhati

Maksud penggalan hadits tersebut adalah bahwa wukuf di Padang Arafah sedemikian penting melebihi pentingnya rukun-rukun haji lainnya, seperti thawaf mengelilingi Ka’bah di Masjidil Haram, sa’i dari Shafa ke Marwah, dan sebagainya. Seseorang tidak bisa disebut telah melaksanakan ibadah haji jika tidak melaksanakan wukuf ini. Maka mereka yang sakit pun harus datang ke Arafah untuk wukuf meski harus ditandu.

Siti Efi Farhati

Selain itu, wukuf di Arafah merupakan pertemuan manusia terbesar di dunia yang berlangsung setiap tahun karena pada hari itu seluruh jamaah haji dari seluruh penjuru dunia berkonsentrasi di Arafah. Di Padang Arafah inilah mereka bertemu dan berdoa memohon ridha dan ampunan Allah SWT. Mereka bersimpuh di hadapan Allah dengan harapan-harapan yang sama meskipun mereka berbeda dalam warna kulit, ras, suku, dan bahasa. Di padang Arafah ini pula mereka berbaur menjadi satu dalam kebesaran Allah SWT.

Maka sejatinya esensi dari ibadah haji adalah kesamaan derajat diantara manusia yang disimbolkan dalam pakaian ihram yang tak terjahit. Sedangkan warna putih dari baju ihram itu sendiri menggambarkan kesucian mereka di hadapan Allah SWT. Oleh karena esensi ibadah haji adalah persamaan derajat, maka tidak mengherankan pengalaman spiritual ibadah haji bisa mengubah cara pandang seseorang. Sebagai contoh adalah Malcolm X yang semula sangat rasis kemudian berubah menjadi anti-rasis setelah mendapat pengalaman berharga dari wukuf di Padang Arafah.

Pengalaman tersebut meyakinkan Malcolm X bahwa semua orang adalah sama. Artinya setiap orang adalah setara. Mereka harus saling menghormati dan menghargai satu sama lain meskipun mungkin mereka berbeda dalam hal-hal duniawi, seperti status sosial, warna kulit, budaya, asal usul keturuan dan sebagainya. Hal yang membedakan diantara mereka hanyalah ketakwaan masing-masing kepada Allah SWT. Orang-orang yang telah melaksanakan ibadah haji diharapkan memiliki kesadaran tinggi akan makna kesetaraan ini. Tidak sebaiknya mereka justru lupa akan makna baju ihram yang pernah dipakainya.



Siapakah Malcolm X?



Malcolm X adalah seorang kulit hitam Amerika, anak seorang pendeta Kristen Baptis, yang kemudian memeluk Islam setelah bergabung dengan sebuah organisasi bernama The Nation of Islam. Ini terjadi setelah ia banyak berdiskusi dan membaca buku-buku Islam di balik jeruji besi. Ia dijebloskan ke penjara karena kasus perampokan yang dilakukannya pada tahun 1946 ketika berusia 20 tahun.

Di dalam penjara, ia sangat tertarik terhadap konsep-konsep ajaran Islam. Ia hidup di zaman rasisme Amerika yang berlangsung dari abad 17 hingga tahun 1964 dimana pada waktu itu orang-orang kulit hitam dilarang berbaur dengan orang-orang kulit putih. Mereka diperlakukan secara diskriminatif baik secara sosial, politik, budaya maupun ekonomi.

Sekeluarnya dari penjara pada tahun 1952, ia terus mendalami Islam dan tetap bergabung dengan The Nation of Islam. Organisasi ini terutama beranggotakan orang-orang Afro-Amerika Muslim yang berjuang untuk melepaskan diri dari Amerika Serikat dan berdiri sendiri sebagai negara yang terpisah. Di dalam organisasi ini ia terpilih menjadi juru bicara dan sering memberikan ceramah atau pidato dalam berbagai forum termasuk dalam Konferensi Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955.



Pengalaman Wukuf di Arafah


Pada tahun 1964, Malcolm X menunaikan ibadah haji di Makkah dan mendapatkan pengalaman yang sangat berharga sewaktu menjalankan wukuf di Arafah. Malcolm X adalah orang yang sangat benci kepada orang-orang kulit putih sebagai reaksi keras atas sikap diskriminatif mereka terhadap orang-orang kulit hitam. Namun, ia terbengong-bengong di Makkah ketika mendapati banyak orang yang sedang menunaikan ibadah haji ternyata berkulit putih, berambut pirang dan bermata biru.

Kenyataan tersebut sangat mengejutkan dirinya sebab di Amerika hal seperti ini tidak ia jumpai. Hal yang ia ketahui sebelum keberangkatnnya ke Tanah Suci adalah bahwa Islam itu bukan agama untuk orang-orang kulit putih, tetapi untuk mereka yang berkulit hitam seperti dirinya dan orang-orang berkulit warna seperti orang-orang Asia.

Puncak kebingungan Malcolm X yang kemudian memberinya pencerahan adalah ketika berwukuf di Padang Arafah di mana ia makan sepiring dengan orang-orang kulit putih. Ia minum dengan gelas yang sama dengan orang-orang kulit putih. Ia istirahat dan tidur sebantal dengan orang-orang kulit putih. Ia sholat berjamaah dengan orang-orang kulit putih. Ia berdoa bersama orang-orang kulit putih.

Orang-orang kulit putih yang ia jumpai sedang beribadah haji itu adalah orang-orang paling putih diantara yang putih. Mereka bermata paling biru diantara yang bermata biru. Mereka berrambut paling pirang diatara yang berambut pirang. Namun mereka semua beragama Islam.

Di sinilah di Padang Arafah Malcolm X menyadari bahwa apa yang ia pahami tentang Islam sebagaimana yang diajarkan di dalam The Nation of Islam belum atau tidak sesuai dengan Surat Al Hujurat ayat 13 sebagai berikut:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, lalu menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan besuku-suku agar kalian saling mengenal.

Kata ? dalam ayat di atas artinya “supaya saling mengenal”. Kata ? itu sendiri berasal dari akar kata ? yang artinya mengenal. Disinilah ada hubungan yang jelas mengapa padang tempat wukuf itu disebut Padang Arafah, yakni karena di padang ini umat Islam seluruh dunia berkumpul menjadi satu pada hari dan tanggal yang sama untuk saling mengenal dengan cara berinteraksi satu sama lain.

Puncak wukuf di Arafah adalah khutbah wukuf. Dalam setiap khutbah wukuf, selalu diperdengarkan khutbah Rasulullah SAW yang pernah beliau sampaikan pada saat melaksanakan Haji Wada` sekitar tahun 10 Hijriyah. Diantara isi khutbah Rasulullah adalah sebagai berikut:

"Wahai manusia, Tuhanmu hanyalah satu dan asalmu juga satu. Kamu semua berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah. Keturunan, warna kulit, dan kebangsaan, tidak menyebabkan seseorang lebih baik dari yang lain. Orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling takwa. Orang Arab tidak lebih mulia dari yang bukan Arab, sebaliknya orang bukan Arab tidak lebih mulia dari orang Arab. Begitu pula orang berkulit terang dengan orang berkulit hitam; dan sebaliknya orang berkulit hitam dengan orang berkulit terang, kecuali karena takwanya kepada Allah.”

Isi khutbah Rasulullah SAW di atas menyadarkan Malcolm X bahwa Islam yang dia pahami dalam The Nation of Islam belum sesuai dengan Islam yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Islam ternyata adalah agama universal untuk seluruh bangsa tanpa memandang warna kulit. Maka sekembalinya Malcolm X ke Amerika Serikat dan berganti nama menjadi El-Hajj Malik El-Shabazz, ia menyatakan keluar dari organisasi itu dan mengikuti paham Islam Sunni.

Dikenang sebagai Tokoh Perdamaian



Keluarnya Malcolm X dari The Nation of Islam ternyata justru menaikkan reputasinya sebagai tokoh yang menyerukan persaudaraan diantara sesama manusia tanpa rasisme. Ketokohannya hampir menyaingi popularitas Presiden John F. Kennedey pada waktu itu. Ia tampil sebagai tokoh yang bisa diterima banyak kalangan termasuk mereka yang berkulit putih. Di kemudian hari ia mendapat pengakuan dari pemerintah Amerika Serikat sebagai tokoh perdamaian setelah berakhirnya politik rasisme di negara itu.

Nama Malcolm X pun diabadikan menjadi nama sebuah jalan di kota New York setelah ia tewas tertembus peluru pada tanggal 21 Pebrauri 1965 ketika sedang berpidato. Penembakan itu dilakukan oleh sebuah konspirasi politik yang tidak menginginkan reputasinya terus menanjak menyaingi tokoh-tokoh lainnya di Amerika Serikat, termasuk tokoh-tokoh dalam The Nation of Islam sendiri. Tokoh muda Muslim ini wafat dalam usia 39 tahun. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Tegal Siti Efi Farhati

Senin, 04 September 2017

Hukum Puasa Hari Jumat

Selain puasa wajib di bulan Ramadhan, Islam juga menganjurkan puasa sunah bagi umatnya. Berbeda dengan puasa wajib, puasa sunah ada yang ditentukan waktunya dan ada pula yang boleh dilakukan kapanpun selama tidak dilakukan di hari yang diharamkan untuk berpuasa, seperti Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha, hari Tasyriq, dan lain-lain.

Bagaimana dengan hari Jumat? Apakah boleh mengerjakan puasa pada hari tersebut atau tidak? Pasalnya, selain Idul Fitri dan Idul Adha, Allah SWT juga menjadikan hari Jumat sebagai hari spesial bagi umat Islam. Dalam hadits riwayat Ibnu Abbas dijelaskan, Rasulullah SAW berkata, “Ini (Jumat) adalah hari Id yang dijadikan Allah SWT untuk kaum Muslimin,” (HR Al-Thabarani).

Hukum Puasa Hari Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Puasa Hari Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Puasa Hari Jumat

Sebab itu, menurut sebagian ulama, puasa hari Jumat dimakruhkan karena hari tersebut dianggap sebagai hari raya. Kemakruhan puasa di hari Jumat ini berlaku bila sebelum atau sesudahnya tidak puasa. Pendapat ini merujuk pada hadits riwayat Abu Hurairah, Rasulullah SAW berkata:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Siti Efi Farhati

Artinya, “Janganlah kalian puasa hari Jumat melainkan puasa sebelum atau sesudahnya,” (HR Al-Bukhari).

Siti Efi Farhati

Sebetulnya ulama masih berbeda pendapat terkait kemakruhan puasa hari Jumat. Perbedaan ulama ini dijelaskan oleh Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam Nurul Lum’ah fi Khashaishil Jum’ah. Dalam kitab ini, Imam An-Nawawi, sebagaimana dikutip As-Suyuthi, menjelaskan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Pendapat yang paling shahih menurut madzhab kami dan ini termasuk pendapat jumhur ulama bahwa puasa hari Jumat makruh kalau tidak puasa sebelum dan sesudahnya. Sebagian pendapat mengatakan tidak makruh kecuali bagi orang yang terhalang ibadahnya lantaran puasa dan tubuhnya lemah.”

Berdasarkan pendapat di atas, jumhur ulama mengatakan makruh puasa hari Jumat bila tidak dibarengi puasa hari Kamis atau hari Sabtu. Ada juga pendapat yang mengatakan puasa tidak makruh kecuali bagi orang yang fisiknya lemah dan dikhawatirkan puasa membuatnya malas ibadah.

Selain perbedaan dalil, perbedaan pendapat di kalangan ulama terkait hukum puasa hari Jumat disebabkan oleh perbedaan mereka dalam memahami larangan puasa hari Jumat.

Ada yang mengatakan puasa dimakruhkan pada hari itu karena hari raya; ada pula yang mengatakan puasa dimakruhkan karena hari Jum’at dianjurkan memperbanyak ibadah. Ini disamakan dengan wukuf di Arafah; ada juga yang mengatakan puasa dimakruhkan karena untuk berbeda dengan kaum Yahudi. Orang Yahudi puasa pada hari raya mereka, sementara umat Islam dianjurkan untuk tidak puasa pada hari raya. Wallahu a‘lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Santri, Tegal Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock