Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

Makna Idul Fitri dan Sebuah Kemenangan

Oleh Aguk Irawan MN

Dua baris kalimat; Mohon Maaf Lahir Batin, Minal Aidin wal Faizin merupakan sebuah idiom yang biasa kita ucapkan saat menjelang atau lebaran/hari raya Idul Fitri tiba. Bahkan kata ini tidak saja diucapkan banyak jutaan muslim di? Indonesia, tapi juga mungkin jutaan kali ditulis dan begitu cepat menyebar ke perangkat eloktronik seperti HP dan Android.

Makna Idul Fitri dan Sebuah Kemenangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Idul Fitri dan Sebuah Kemenangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna Idul Fitri dan Sebuah Kemenangan

Hanya saja seringkali kita mengucapkan rangkaian idiom “Minal Aidin wal Faizin” yang seakan-akan itu terjemahannya adalah “Mohon Maaf Lahir dan Batin.” Padahal kedua idiom ini tidaklah demikian arti atau maknanya dan boleh dikatakan memiliki pesan yang berbeda, meskipun bila ditelusur dan coba dihubungkan masih saling terkait.

Siti Efi Farhati

Tetapi, jika itu terpaksa dibedakan, maka “Minal Aidin wal Faizin” lebih menyimpan arti pencapaian seorang mukmin setelah berpuasa penuh dan melawan hawa nafsunya dengan beribadah kepada Tuhannya di bulan Ramadhan (vertikal), sedangkan “Mohon Maaf Lahir Batin” lebih mengisyaratkan apa yang sedang dilakukan mukmin pasca bulan Ramadhan yaitu pada hari raya Idhul Fitri memperetat kembali hubungan sosial dengan sesama (horisontal). Maka “Minal Aidin wal Faizin” “Minal Aidin” (Semoga termasuk orang yang kembali pada kesucian) dan “wal Faizin” (semoga beroleh kemenangan setelah berdamai dan saling memaafkan).

Lebih dari itu, menurut pakar bahasa, terutama dari Ibnu Mandzur, kata fithri (fa-tha-ra) setidaknnya mencakup enam hal penting, yaitu kesucian, kekuatan, jati diri, asal usul kejadian, memakai pakaian taqwa dan dinnul Islam. Maka bila digabung kata itu menjadi Idul Fitri, artinya kita berharap akan kembali ke kesucian diri kita, kembali ke asal usul kita, kembali ke jati diri kita, kembali memakai pakaian taqwa, kembali ke kekuatan kita dan kembali ke dinnul Islam. Untuk keenam arti ini mari kita bahas satu persatu dan kita renungkan maknanya:

Siti Efi Farhati

Pertama, kata fithri atau fitrah jika diartikan suci atau kesucian, maka ia harus memenuhi tiga unsur inti, yaitu keindahan yang menggetarkan, kebenaran yang bisa diterima dan kebaikan yang bisa dibuktikan. Dari konsekwensi ini, maka kembali ke fithri artinya kita harus menciptakan keindahan (seni), menerima kebenaran dengan menambah ilmu (sains) dan berbuat baik atau amal sholeh yang melahirkan akhlaqul karimah. Itulah makna idul fithri buah dari pendidikan Ramadhan untuk mengantarkan kita menjadi seniman, ilmuwan sekaligus budiman.

Kedua, kata fithri disebut sebagai kekuatan, karena sebulan penuh shaimin dan shaimat mempunyai kekuatan untuk mengendalikan hawa nafsu. Dengan kekuatan itulah kaum Muslimin melakukan jihad akbar mengendalikan hawa nafsunya? dan ia akan menjadi kuat, makanya begitu tiba Idul Fithri, diharapkan seorang mukmin dapat kekuatan baru.

Ketiga, pengertian fithri (fitrah) jika bermakna asal kejadian ini dikaitkan dengan manusia bisa diberikan beberapa contoh, antara lain manusia berjalan dengan kakinya, melihat dengan matanya, mendengar dengan telinganya, merasa dengan hatinya dan berpikir dengan akalnya. Konsekwensi dari pengertian ini, maka kita menjadi salah jika ingin berjalan dengan tangan, melihat dengan telinga dan berpikir dengan mulut, atau salah jika kita mengukur kesalahan dan kebenaran atau kesedihan dan kebahagiaan dengan alat timbangan atau alat ukur meteran dan seterusnya, itulah fitrah.

Masih dalam pengertian fitrah sebagai asal kejadian, maka kita pun harus menempatkan hati sebagai tempatnya iman, dan bukan di akal, karena akal selalu menolak hal-hal yang tak bisa dicerna oleh indrawi, dan tugas akal hanya untuk mengukuhkan iman.

Keempat, kata fithri secara maknawi ada juga yang mentakwil dengan arti memakai pakain. Tentu yang dimaksud memakai pakaian disini adalah pakaian taqwa, sebagaimana yang disyaratkan dalam surat al-Baqarah, ayat 183, bahwa tujuan berpuasa adalah supaya kita bertaqwa. Selama Ramahdhan kita sudah menenun sepanjang hari, dan saat idul fitri itulah kita memakai pakaian taqwa agar meningkat (Syawal) jati diri kita. Dalam konteks ini kita mengingat pesan Ilahi: Janganlah kita menjadi seperti seorang perempuan dalam cerita lama, ia mengurai kembali hasil tenunanya yang rapi sehelai benang demi sehelai sehingga tercerai-berai (an-Nahl, 92). Artinya madrasah puasa selama sebulan itu harus terus kita pakai (fithri) sampai setahun mendatang, bahkan lebih.

Puasa diibaratkan seperti menenun atau menjahit pakaian ini juga seperti yang sudah dicontohkan ulat yang bertapa dalam tenunannya (kepompong), setelah selesai menenun, ia memakai sayapnya yang indah untuk terbang (kupu-kupu), atau bisa juga diibaratkan sang laba-laba yang menenun rumahnya sehelai demi helai, kemudian ia memakai (fithri) agar ia menjadi tenang hidupnya.

Kelima, kata fithri berarti jati diri. Jati diri manusia adalah sebagai khalifah, yaitu makhluk termulia, penghuni surga, tetapi dalam waktu bersamaan juga makhluk yang berlumur dosa. Kenapa? Karena ia dibekali hawa nafsu, juga dibekali hati nurani, yaitu gabungan antara hati yang tajam dan pikiran yang jernih untuk menahan diri dari dorongan nafsu hewani. Sehingga seorang mukmin dikatakan “kembali ke fitrah” itu artinya ia kembali ke jati diri, karena ia sanggup menahan hawa nafsu dengan hati-nuraninya atau sebaliknya, seorang mukmin belumlah dikatakan kembali ke fitrah bila hawa nafsunya mendorongnya untuk bersikap liar dan tak terkendali.

Keenam, jika fithri diartikan dinnul al-islam, islam secara bahasa bentuk masdar dari sa-la-ma yaitu perdamaian atau ketertundukkan. Konsekwensi dari kata damai atau tunduk ini mengandung tiga unsur inti, yaitu kita sebagai hamba harus merasa damai dengan Tuhan, yaitu harus tunduk dengan cara meninggalkan semua larangan-Nya dan menjalankan segala perintah-Nya dengan (dan) tanpa paksaan apapun. Selanjutnya, kata damai berarti kita harus bisa merangkul kembali yang bercerai berai dari sesama, menghilangkan sekat-sekat dan api permusuhan, serta menepis perbedaan-perbedaan yang mengakibatkan percikan kebencian. Ketiga berdamai dengan alam, dengan tidak terlalu mengekploitasinya, sehingga mengakibatkan kehancuran atau bencana, itulah buah dari Ramadhahan sebulan penuh.

Selain keenam makna di atas ada yang berpendapat fithri berarti futhur artinya berbuka. Artinya saat nafsu perut terbuka dan kembali merajalela, hati-hatilah dengan jati diri anda. Hati-hatilah dengan rezeki yang tidak halal, hat-hatilah dengan sikap benci yang berlebihan dan permusuhan, yang semua itu mengarah pada kehilangan jati diri kita yang sesungguhnya. Itu berarti Idul Fitri berarti momentum yang baik buat berdamai dan saling memaafkan.

Lantas ada apa maksud dari kata Faizin? Menurut Ibnu Mandzur dalam Lisanul Arabi, juga kamus Munawwir dan Mauwrid, kata faizin tercerabut dari kata faza-fauzan-faizin, yang artinya adalah na-lahu bihi fauzan, yaitu memperoleh kesuksesan atau kemenangan, bisa juga halaka wa mata, seperti kalimat wafauza arrajulu, artinya adalah seseorang telah mengalahkan atau membinaskan, bisa juga berarti an-naja atau minal makruhi; selamat dan terhindar dari sesuatu yang bahaya, dan terakhir, bisa bermakna fauza at-thariq atau bada wa dhahara (sesuatu yang nampak terang atau berkilau). Mari kita bahas satu persatu.

Pertama, adalah bermakna kesuksesan atau kemenangan. Idul Fitri dapat disebut hari raya kemenangan. Pada hari itu, karena kaum beriman yang telah menunaikan ibadah Ramadhan meraih kemenangan dan seperti dengan terlahir kembali kepada fitrah kemanusiaan yang suci dan kuat hati. Mengapa harus ada yang menang dan ada yang kalah? Karena faktanya, kita diberi nafsu, dan ini punya pesan simbolik untuk dikalahkan dan hati nurani (hati-akal) itulah alat untuk mengalahkan atau sebagai senjata perjuangan, sebagaimana yang diajarkan selama Ramadhan.

Kedua, adalah bermakna mengalahkan atau membinasakan, ini semacam sinonim dari sebuah kemenangan, sebab tidak ada kemenangan tanpa mengalahkan. Kalah dan menang adalah lawan kata. Dua sisi yang bertentangan ini adalah sifat keunggulan manusia dari makhluk yang lain (akhsanu takwin) dan kedua ini diciptakan agar manusia menjadi lebih sempurna (insan al-kamil) sebagaimana terkandung dalam Q.S. Asy-Syams ayat 8 yang menjelaskan pentingnya tazkiyatu nafs (penyempurnaan jiwa) agar kita menjadi hamba yang bertakwa (berhati-nurani) dan jauh dari? "kefasikan" (hawa nafsu kebinatangan)” dan, memang selama Ramadhan kita diajarkan bagaimana terus membunuh nafsu dan menghancurkannya, termasuk menghancurkan lemak-lemak atau virus yang bisa menimbulkan penyakit dalam tubuh kita.

Ketiga, adalah bermakna selamat dan terhindar dari sesuatu yang bahaya, sehingga nampaklah atau berkilauanlah kebaikan, kebenaran dan keindahan itu. Untuk terhidar dari bahaya dan nampaklah cahaya Islam yaitu kebaikan, kebenaran dan keindahan dibutuhkan jihad atau usaha keras, hal ini terbukti pada catatan sejarah islam yang gembilang, di bulan inilah? musuh-musuh islam bisa terkalahkan. Jika merujuk pada fakta sejarah Islam, banyak kita jumpai peristiwa kemenangan? besar terjadi mendekati idul fitri atau sepanjang bulan Ramadhan, Misalnya runtuhnya Masjid Adh-Dhirar milik orang-orang munafik. Datangnya rombongan delegasi kaum Tsaqif yang ingin masuk Islam.

Pada Ramadhan tahun ke-2 Hijriyah, terjadi peperangan besar yaitu perang Badar Al-Kubra. Peperangan ini dimenangkan oleh kaum muslimin, inilah kemenangan agung pertama pejuang-pejuang Islam dalam menentang kemusyrikan dan? kebatilan.Pada Ramadhan Tahun Ke-1393 Hijriyah atau 1973 M, kemenangan muslim atas pasukan Salib dengan merebut? kembali tanah Palestina yang sebelumnya direbut oleh Zionis Yahudi. Masih banyak peristiwa besar lain lebih dari seratus, termasuk salah satunya adalah kemerdekan Bangsa Indonesia ini yang diraih pada bulan suci Ramadhan. Selamat hari Raya Idhul Fitri 1437 H. Minal Aidzin Wal Faizin. Amin.

*Sastrawan dan Pengasuh Pesantren Kreatif Baitul Kilmah, Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kiai, Sholawat Siti Efi Farhati

Rabu, 07 Februari 2018

Menag Mesir: Muslim yang Tewas saat Jaga Gereja itu Mati Syahid

Jakarta, Siti Efi Farhati - Menteri Agama Mesir DR Muhammad Mukhtar Jum‘ah menyampaikan bahwa seorang Muslim yang tewas ketika menjaga gereja mendapat derajat syahid di sisi Allah. Menurutnya, partisipasi umat Islam dalam pengamanan peribadatan umat Kristiani tidak berbeda dengan pengamanan peribadatan dalam agama Islam itu sendiri.

Demikian disampaikan Menteri Wakaf dan Urusan Agama Mesir DR Muhammad Mukhtar Jum‘ah dalam khutbah Jumat di Masjid Al-Abbasi, Port Said, Mesir, Jumat (22/12) siang.

Menag Mesir: Muslim yang Tewas saat Jaga Gereja itu Mati Syahid (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Mesir: Muslim yang Tewas saat Jaga Gereja itu Mati Syahid (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Mesir: Muslim yang Tewas saat Jaga Gereja itu Mati Syahid

“Orang yang tewas ketika menjaga gereja maka ia terkategori syahid di jalan Allah,” kata Mukhtar Jum‘ah dalam khutbahnya seperti dirilis al-yaumus sabi‘ dengan link youm7.com pada 22 Desember 2017.

Ia mengingatkan jamaah Jumat bahwa kini umat manusia tengah berada di gerbang tahun baru Masehi. Ia menganjurkan jamaah masjid tersebut dan umat Islam pada umumnya untuk bahu-membahu menjaga keamanan gereja sebagaimana umat Islam menjaga masjid.

Siti Efi Farhati

Menurutnya, partisipasi pengamanan gereja juga sangat sesuai dengan prinsip-prinsip kebangsaan. Dan ini, menurutnya, berdasar pada pemahaman yang sahih atas nilai-nilai Islam.

“Pemahaman yang benar atas ajaran agama yang menjadi prioritas utama kita saat ini adalah mencegah mereka yang tidak memiliki kualifikasi dan kapasitas ilmu agama yang memadai untuk mencederai nama baik Islam dan agama yang benar,” kata Mukhtar Jum‘ah.

Siti Efi Farhati

Dalam khutbah Jumat akhir tahun ini, ia juga mengajak jamaah untuk melakukan muhasabah dengan kutipan definisi muhasabah dari Imam Al-Mawardi. Ia mengajak jamaah untuk memeriksa perilaku keseharian masing-masing sesuai pertimbangan baik dan buruk menurut syariat Islam.

Menurutnya, mereka yang melakukan perbuatan terpuji patut bersyukur dan memuji Allah. Tetapi mereka yang melakukan perbuatan tercela menurut agama harus bertobat kepada Allah dan berusaha tidak akan mengulangi perbuatan buruknya karena segala sesuatu akan dimintakan pertanggungjawabannya di hari Kiamat kelak. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kiai, Bahtsul Masail, AlaSantri Siti Efi Farhati

Rabu, 31 Januari 2018

Yahya Staquf: Islam Nusantara itu Mu’tabar, Otentik dan Otoritatif

Jakarta, Siti Efi Farhati. Katib Syuriah PBNU KH Yahya Cholil Staquf mengatakan, dalam kajian NU, hal-hal yang menyangkut ekspresi Islam Nusantara seluruhnya adalah sah dalam pandangan ajaran agama. Dalam bahasa agama disebut mu’tabar, artinya otentik dan otoritatif.

“Ini memang Islam. Bukan bid’ah, bukan pula khurafat. Ini Islam berdasarkan kajian terhadap sumber-sumber ajaran agama. Ini sungguh-sungguh Islami,” kata Gus Yahya kepada wartawan usai memoderatori diskusi umum pra-Muktamar NU di kantor The Wahid Institute Jl Taman Amir Hamzah, Jakarta Pusat, Jumat (29/5).

Yahya Staquf: Islam Nusantara itu Mu’tabar, Otentik dan Otoritatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Yahya Staquf: Islam Nusantara itu Mu’tabar, Otentik dan Otoritatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Yahya Staquf: Islam Nusantara itu Mu’tabar, Otentik dan Otoritatif

Ditanya apakah kegiatan ini dalam rangka melawan isu Islam transnasional, semisal ISIS, Gus Yahya menjawab, sebetulnya ini mewakili perasaan publik yang terancam. “Sebetulnya itu bukan hanya ancaman bagi Indonesia. Kita merasa terancam karena kita akan kehilangan identitas dan pada saat yang sama terancam kehancuran sebagaimana yang terjadi di tempat lain,” tuturnya.

Siti Efi Farhati

Yang kedua, lanjut Gus Yahya, kekejaman ISIS merupakan ancaman global karena mereka melakukan kerusakan di berbagai tempat di mana mereka membuat propaganda. “Mana bangsa yang memperoleh kemakmuran oleh ideologi itu, semuanya hancur. Libya, Tunisia, Mesir, semuanya hancur. Kita tidak mau seperti mereka,” ujarnya.

Siti Efi Farhati

Gus Yahya berkeyakinan, bahwa sebetulnya mayoritas muslim di sana seperti muslim di Indonesia yang mengikuti madzhab Islam damai sebagaimana digambarkan utusan Grand Syeikh Al-Azhar Mesir. “Semuanya ini terancam karena ada kelompok yang memiliki ambisi politik tertentu kemudian mengatasnamakan agama yang menimbulkan kekacauan dan kerusakan,” terangnya.

Melalui diskusi tersebut, lanjut Gus Yahya, kita ingin menunjukkan Islam Nusantara untuk encourage kaum muslimin di tempat lain yang seperti kita berani menunjukkan diri. “Jadi, Islam bukan milik mereka yang radikal-radikal itu. Kita yang mu’tabar, bukan mereka,” tegasnya.

Ditanya bagaimana cara membumikan Islam Nusantara sementara berbagai gesekan masih kerap terjadi lantaran adanya pihak yang mempermasalahkan salah satu paham tertentu, bagi dia, tak paham sejarah. “Kita hidup di sini lima ratus tahun. Anda tau, Ahmadiyah itu hidup di Indonesia sudah lebih dulu daripada NU. Bahkan sejak Republik ini belum lahir. Dulu aman-aman aja. Sekarang kok ada yang teriak-teriak, siapa mereka itu,” ujarnya.

Menurut keponakan Gus Mus ini, para narasumber diskusi hendak mengkonfirmasi Islam yang mengedepankan kedamaian itulah Islam yang sejati. “Nah, Islam yang seperti itu benar-benar hidup di Indonesia,” ujarnya.

Diskusi umum bertajuk “Konsolidasi Dunia Islam Menghadapi Radikalisme dan Terorisme” tersebut menghadirkan tiga narasumber: Prof Dr Abdelmonem Fouad Othman (Utusan Khusus Grand Syeikh Al Azhar), Mohamed Aboelfadl Ahmed (Redaktur Senior Harian Al-Ahram), dan Prof Dr Rudiger Lohlker (Guru Besar Studi Islam Universitas Wina, Austria). (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Makam, Kiai Siti Efi Farhati

Minggu, 14 Januari 2018

Usai Bahtsul Masail, Kiai Ihya Sampaikan Amanat Ke-NU-an

Pamekasan, Siti Efi Farhati. Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kadur Kabupaten Pamekasan melangsungkan bahtsul masail, Jumat (15/12) siang. Kegiatan yang ditempatkan di Pesantren Karang Anyar Desa Pamoroh tersebut dihadiri oleh Rais Syuriyah KH Ihyauddin Yasin.

Usai Bahtsul Masail, Kiai Ihya Sampaikan Amanat Ke-NU-an (Sumber Gambar : Nu Online)
Usai Bahtsul Masail, Kiai Ihya Sampaikan Amanat Ke-NU-an (Sumber Gambar : Nu Online)

Usai Bahtsul Masail, Kiai Ihya Sampaikan Amanat Ke-NU-an

Usai bahtsul masail, Kiai Ihya menyampaikan satu amanat yang harus dijalankan oleh pengurus ranting NU yang tersebar di 10 desa yang ada di Kecamatan Kadur. Amanat tersebut berkaitan dengan kegiatan Pelatihan Kader Penggerak (PKP) NU yang diadakan oleh PCNU Kabupaten Pamekasan di Pesantren Miftahul Anwar, Jumat-Ahad (22-24/12) mendatang.

"Kami amanatkan kepada seluruh pengurus ranting untuk mengutus kader atau pengurusnya ikut PKP yang tempatnya di pesantren kami. Minimal 2 orang. Kalau bisa mendelegasikan 10 orang tiap ranting sebagai peserta PKP," tegas Kiai Ihya.

Wakil Ketua PCNU Pamekasan tersebut memohon dengan hormat kepada seluruh jajaran pengurus NU untuk bisa mengindahkan amanat tersebut. Hal itu dipandang sangat penting karena menyangkut organisasi jamiyah NU ke depan.

Siti Efi Farhati

"Agar nanti tercetak kader-kader militan dan menjadi ruhul jihad guna berjuang bersama NU," tegas Kiai Ihyauddin Yasin.

Untuk diketahui, kegiatan PKP berlaku untuk kader-kader atau calon kader-kader NU se-Kabupaten Pamekasan. Peserta nantinya tidak boleh pulang selama tiga hari.

Siti Efi Farhati

"Bagi yang sudah beristri, sampaikan dulu untuk izin menetap selama tiga hari di acara PKP. Bagi yang belum beristri, mohonlah restu kepada orangtua," tukasnya. (Hairul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Fragmen, Aswaja, Kiai Siti Efi Farhati

Kamis, 11 Januari 2018

Muslimat NU Berikan Pemahaman Islam kepada Daiyah di Kawasan Transmigrasi

Makassar, Siti Efi Farhati - Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI dan Pimpinan Pusat Muslimat NU menyelenggarakan Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Mental bagi Daiyah Pemukiman Transmigrasi Bina Lingkup Disnakertrans Provinsi Sulawesi Selatan di Hotel Kenari Makassar, Rabu-Sabtu (17-20/2).

Panitia Penyelenggara dari PP Muslimat NU Hj Nurhayati Said Aqil Siroj menuturkan, peserta terdiri 30 muslimah yang berasal dari daerah transmigrasi dan daerah tertinggal di Sulawesi Selatan yakni Luwu Timur daerah Mahalona, Luwu Utara daerah Lantangtallang, Waja daerah Pekkai, Soppeng daerah Watu, Toraja Utara daerah Rantekaroa, Tana Toraja daerah Supi masing-masing mengutus 5 peserta.

Muslimat NU Berikan Pemahaman Islam kepada Daiyah di Kawasan Transmigrasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Berikan Pemahaman Islam kepada Daiyah di Kawasan Transmigrasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Berikan Pemahaman Islam kepada Daiyah di Kawasan Transmigrasi

Kegiatan ini terselenggara atas kesepakatan PP Muslimat NU dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi terkait dengan pengembangan wawasan keagamaan para daiyah di daerah tertinggal dan pemukiman transmigrasi, tambahnya.

Siti Efi Farhati

Hj Nurhayati mengatakan, seluruh peserta akan mendapatkan beberapa materi yakni Aqidah Aswaja, Sirah Nabawiyah, Islam dan Wawasan Kebangsaan, Hakikat, Kedudukan, dan Fungsi Manusia, Fiqih Ibadah, Tajhiz Janaiz, Fiqih Perempuan, Praktik Memandikan Jenazah, Akhlak Daiyah, Fiqih Iktilaf, Prinsip Dakwah Rahmatan Lil alamin, Kebijakan Dinakertrans Sulsel dalam Pembinaan Dai di Pemukiman Transmigrasi dan Kepemimpinan.

"Tentunya materi-materi ini bertujuan memberikan pemahaman komprehensif bagi daiyah, khususnya warga pemukiman transmigrasi terkait wacana keislaman Ahlusunnah Wal Jamaah dan nilai-nilai kebangsaan," tambahnya.

Dirjen Pengembangan Kawasan Daerah Transmigrasi Roosari Tyas Wardani mengungkapkan bahwa dalam UU No 29 tahun 2009 tentang Perubahan atas UU No 15 tahun 1997 tentang Ketransmigrasiaan, telah diamanatkan bahwa penyelenggaraan transmigrasi bertujuan (1) meningkatkan kesejahteraan transmigran dan masyarakat sekitarnya; peningkatan dan pemerataan pembangunan daerah, serta memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.

Siti Efi Farhati

Tiga tujuan ini secara eksplisit menunjukkan bahwa transmigrasi diselenggarakan sebagai upaya mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera dalam bingkai NKRI, dalam konteks pemahaman seperti itulah maka upaya peningkatan kapasitas dan kapabilitas pembina pemukiman transmigrasi dan kader daiyah menjadi hal penting, kata Roosari Tyas.

Adapun pemateri ini adalah Ketua PP Muslimat Dr Sri Mulyati, Ketua PP Muslimat NU Dra Hj Nurhayati Said Aqil Siroj, Dra Hj Haniq Rafiqoh, Drs Haryono, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sulsel Simon S Lopang, dan Ketua PW Muslimat NU Sulsel Dr Hj Nurul Fuadi. (Andy Muhammad Idris/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kiai, Pesantren, Cerita Siti Efi Farhati

Rabu, 27 Desember 2017

Inilah Syiir Nyai Hj Maryam Ahmad Musthofa (1)

Solo, Siti Efi Farhati. Satu syair qasidah dilantunkan Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf dengan penuh penghayatan, pada acara haul seorang wanita ahli al-Qur’an dari Solo, Nyai Hj Maryam Ahmad Musthofa di kompleks Pesantren Alqur’aniyy Solo, belum lama ini.

Inilah Syiir Nyai Hj Maryam Ahmad Musthofa (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Syiir Nyai Hj Maryam Ahmad Musthofa (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Syiir Nyai Hj Maryam Ahmad Musthofa (1)

Syair tersebut berisi tentang petuah-petuah yang pernah ditulis oleh Nyai Hj Maryam, semasa hidupnya. Menurut salah satu santri Pesantren Alqur’aniyy, Andy Alfan Qodri, syair tersebut biasa dilantunkan para santri dalam berbagai kegiatan.

“Syair tersebut ditulis Nyai Hj Maryam dalam tulisan berhuruf Arab pegon. Kemudian salah satu santri, ada yang menulis kembali ke dalam huruf latin. Sholawat ini menjadi tambah populer, karena Habib Syech juga sering membacanya dalam beberapa majelis,” ujarnya saat ditemui Siti Efi Farhati, Senin (23/2).

Siti Efi Farhati

Berikut isi syairnya:

Siti Efi Farhati

Ilaahi lastu lil Firdausi ahlan # wa la aqwa ‘ala naril jahimi

Fahabli taubatan waghfir dzunubi # fainnaka ghofiru dzanbil ‘adhimi

Duh yaa Robbi kulo nyuwun diparingi # Lesan kathah nderes Qur’an ingkang suci

(Ya Robbi, mohon hamba dianugerahi # lisan untuk banyak membaca Al-Qur’an yang suci)

?

Lan sageto kulo nderek dawuh Qur’an # Pejah kulo nyuwun Islam sarto Iman

(Izinkan hamba mengikuti perintah-Mu dalam al-Qur’an # matikan hamba dalam islam dan iman)

Duh yaa Robbi kulo nyuwun remen nderes # Qur’an kelawan lahir batin ingkang leres

(Ya Robbi, mohon hamba diberi rasa cinta untuk mengaji # al-Qur’an dengan lahir batin yang baik)

Qur’an iku panutane wong muslimin # Wal muslimat wal mu’minat wal mu’minin

(Al-Qur’an itu panutan bagi muslimin # muslimat, mu’minat dan mu’minin)

Moco Qur’an agung banget paedahe # Namung kudu netepi toto kramane

(Membaca al-Qur’an amat besar manfaatnya # namun mesti menjaga adabnya)

Mergo akeh wong kang moco Qur’an tompo # Ing bebendu sebab ora toto kromo

(Sebab banyak orang membaca al-Qur’an # menerima azab sebab tanpa adab dan kesopanan)

Wus tumindak zaman kuno lan saiki # Moco Qur’an kito kudu ngati-ati

(Sudah terjadi sejak zaman dahulu hingga sekarang # membaca al-Qur’an mesti hati-hati)

Nggepok Qur’an ora keno tanpo wudlu # Mulo siro ojo podho grusa grusu

(Memegang al-Qur’an mesti dalam keadaan wudhu # makanya jangan terburu-buru)

Moco Qur’an kudu nanggo toto kromo # Ora keno sak penak’e lan sembrono

(Mesti memakai adab dalam membaca al-Qur’an # tidak boleh seenaknya dan sembarangan)

Biso ugo moco Qur’an nggo sembrono # Dadi jalarane kufur kapitunan

(Membaca al-Qur’an dengan sembarangan # menjadi sebab dapat kerugian)

Yen pinuju ono uwong moco Qur’an # Kito kudu ngrungokake kang temenan

(Jika ada orang yang membaca al-Qur’an # kita wajib sungguh-sungguh untuk mendengarkan)

Yen ngrungokake mesti oleh ganjaran # Nyepelekke mesti tompo ing pasiksan

(Siapa yang mendengarkan mendapat pahala # yang meremehkan mendapat siksa)

(Ajie Najmuddin/Mahbib)

Foto: Makam Nyai Hj Maryam Ahmad Musthofa

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kiai, Pahlawan, AlaNu Siti Efi Farhati

Senin, 25 Desember 2017

Ikut Ansor Yes, Narkoba No

Rembang, Siti Efi Farhati. Pengurus Gerakan Pemuda Ansor Cabang Rembang menyatakan "No" terhadap pemakaian narkoba. Mereka mengajak generasi muda untuk aktif di Ansor, daripada terjebak pemakaian narkoba. Ansor Yes, Narkoba No?

Dukungan GP Ansor Rembang terhadap gerakan anti narkoba dilakukan bersama dengan sejumlah ormas dalam deklarasi antinarkoba di depan Rumah Dinas Wakil Bupati Rembang Jumat (08/4) sore.?

Ikut Ansor Yes, Narkoba No (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikut Ansor Yes, Narkoba No (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikut Ansor Yes, Narkoba No

Salah satu pengurus Ansor Cabang Rembang ? Jasmani mengingatkan agar Kabupaten Rembang harus mulai waspada terhadap narkoba. Menurutnya di Rembang sudah mulai ada yang tertangkap mengedar dan menggunakan narkoba.

"Oleh karena itu, kami akan mendukung langkah pemerintah bersama dengan aparat yang berwenang untuk memberantas pengedar narkoba," katanya.

Siti Efi Farhati

Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama bersama dengan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama juga ikut hadir juga menyatakan berperang terhadap narkoba.

AKP Bambang Sugito, Kasat Narkoba Polres Rembang menyatakan bagi siapa yang membantu memberikan informasi pengedar narkoba di Kabupaten Rembang, dan dapat dipertanggungjawabkan akan mendapatkan honor 1,5 juta sebagai imbalan. (Ahmad Asmui/Mukafi Niam)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kiai Siti Efi Farhati

Minggu, 17 Desember 2017

PMII Pinrang Salurkan Bantuan untuk Pidie Jaya

Pinrang, Siti Efi Farhati?

Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kabupaten Pinrang melaksanakan aksi kemanusiaan selama dua hari dimulai pada tanggal 14-15 Desember. Bantuan itu untuk korban bencana alam di wilayah Aceh.

PMII Pinrang Salurkan Bantuan untuk Pidie Jaya (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Pinrang Salurkan Bantuan untuk Pidie Jaya (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Pinrang Salurkan Bantuan untuk Pidie Jaya

Bantuan diserahkan Ketua Cabang PMII Kabupaten Pinrang Suhardi melalui Bank BNI.?

Suhardi mengatakan aksi kemanusiaan PMII di laskanakan pada dua hari dan telah terkumpul dana sebanyak 3.500.000. Penyetoran dilakukan Jumat (16/12) untuk korban gempa bumi warga Pidie Jaya.

"Setelah dua hari dilaksanakannya aksi kemanusiaan penggalangan dana Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Pinrang untuk saudara kita yang mengalami musibah bencana alam gempa bumi di Aceh. Dan setelah minghitung jumlah sebanyak 3.500.000," jelasnya.

Siti Efi Farhati

Ia berharap saudara-saudara di Pidie Jaya menerimanya walaupun tidak begitu banyak.

"Semoga apa yang kami berikan ini membantu saudara kita. Semoga yang menyumbang mendapatkan rezeki dan yang ikut berpartisipasi dalam penggalangan dana akan menjadi amal ibadah di mata Allah SWT. Amin," tutupnya. (Husnil/Abdullah Alawi)?

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Humor Islam, Kiai, Olahraga Siti Efi Farhati

Gus Tutut: Semua Boleh Shalat Idul Fitri Asal Jangan Pakai Atribut HTI

Rembang, Siti Efi Farhati - Kabar Hizbut Tahrir Indonesia yang akan mengadakan shalat Idul Fithri pada Selasa (5/7) pagi di salah satu lapangan Desa Sumber Girang Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, menarik perhatian Ketum GP Ansor H Yaqut Cholil Choumas (Gus Tutut). Menurutnya, setiap Muslim berhak menunaikan pelbagai jenis ibadah yang disyariatkan hanya saja semuanya mesti tunduk pada UUD 1945.

Hal itu disampaikan Gus Tutut saat sarasehan bersama pengurus harian GP Ansor Rembang di Kantor PCNU setempat, Senin (4/7) petang.

Gus Tutut: Semua Boleh Shalat Idul Fitri Asal Jangan Pakai Atribut HTI (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Tutut: Semua Boleh Shalat Idul Fitri Asal Jangan Pakai Atribut HTI (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Tutut: Semua Boleh Shalat Idul Fitri Asal Jangan Pakai Atribut HTI

Gus Tutut mempersilakan semua umat Islam untuk menggelar shalat Idul Fithri di hari selasa dengan catatan tidak membawa atribut HTI yang menunjukkan identitas ormas pro dengan khilafah tersebut. Jika ada shalat yang dilengkapi dengan atribut HTI dan polisi tidak dapat mencegah, ia meminta Banser bertindak.

"Kabar ini baru info. Sekali lagi saya tegaskan, silakan kalau mau shalat Id. Tetapi jangan sampai ada simbol HTI baik itu bendera, atau simbol-simbol yang menunjukkan bahwa yang shalat di situ adalah HTI. Saya sudah tegaskan kepada Kapolres (Kapolres Rembang), kalau itu terjadi Selasa akan ada konflik horizontal. Kalau polisi tidak bisa mencegak itu, Banser yang akan mencegah,” kata Gus Tutut.

Siti Efi Farhati

Ia juga menyampaikan akan mendatangkan Banser dari Pati-Blora-dan sekitarnya jika dirasa Banser Rembang tidak cukup untuk menindak atribut HTI yang ada di Kabupaten Rembang.

"Karena saya sudah berkoordinasi dengan kepolisian untuk membatalkannya, pada hakikatnya itu adalah tugas kepolisian untuk mengamankan negara. Banser akan bertindak manakala aparat yang bertugas dan berkewajiban mandul,” kata Gus Tutut. (Ahmad Asmui/Alhafiz K)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kiai Siti Efi Farhati

Jumat, 15 Desember 2017

Bupati Dedi Mulyadi: Saya Pilih Surganya NU

Jakarta, Siti Efi Farhati. Bupati Purwakarta, Jawa Barat Dedi Mulyadi hadir sebagai salah seorang pembicara dalam Seminar Nasional Sarung Nusantara yang digelar Lembaga Takmir Masjid (LTM) PBNU, Kamis (6/4) di Gedung PBNU Jakarta. Dalam seminar tersebut, ia diplot sebagai seorang Budayawan yang lekat dengan sarung.

Dalam kesempatan seminar bersarung itu, Dedi Mulyadi yang juga mengenakan sarung bersama narasumber lain, KH Agus Sunyoto dan Prof Imam Suprayogo mengungkapkan kesannya setiap kali berada di tengah Nahadlatul Ulama (NU).?

Bupati Dedi Mulyadi: Saya Pilih Surganya NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Dedi Mulyadi: Saya Pilih Surganya NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Dedi Mulyadi: Saya Pilih Surganya NU

Baginya, NU memberikan pelajaran berharga tentang Islam secara menyeluruh tanpa harus menanggalkan identitasnya sebagai orang Sunda.

“Enaknya di NU itu, saya bisa belajar Islam secara menyeluruh dengan tetap menjadi orang Sunda. Jadi, saya memilih surganya NU, ringan, tidak berat,” ungkap Kang Dedi, sapaannya.

Siti Efi Farhati

Dalam kesempatan pemaparannya terkait sarung, Bupati yang dinilai berhasil dalam mengangkat budaya Sunda itu menjelaskan bahwa sarung juga telah lama menjadi identitas budaya dalam diri orang-orang Sunda dalam sejarah kosmologinya.?

“Tepatnya pada masa Kerajaan Galuh Pakuan sebelum lahirnya Kerajaan Padjadjaran,” jelas pria yang kerap memakai ‘udeng-udeng’ khas Sunda di kepalanya ini.

Dedi mengurai sarung secara filosofis, terutama dalam perspektif Budaya Sunda. Dia mengartikan sarung dengan mengurai kata “Sa” dan “Rung”.

Siti Efi Farhati

“Sa dalam bahasa Sunda berarti tidak terbatas, berlebihan. Ini sifat dasar manusia yang di dalam dirinya mengandung tanah, air, udara, dan api. Sudah mempunyai sertifikat tanah, tetapi manusia terus ingin memperlebar kepemilikan tanahnya,” ujar Kang Dedi, sapaan akrabnya.

Begitu juga dengan air, imbuhnya, manusia mempunyai kecenderungan memompa air sebanyak-banyaknya, padahal yang diminum hanya dua gelas. Menurutnya, udara dan api juga sama yang jika dimanfaatkan atau dikuasai secara belebihan akan mendatangkan bencana.

“Sebab itu diteruskan dengan kata ‘Rung’, artinya dikurung. Segala ketamakan manusia yang terdapat dalam keempat unsur tersebut berusaha dibatasi atau dikurung,” jelas Kepala Daerah yang mempunyai misi penguatan seni dan budaya Indonesia dalam tata kelola pemerintahannya ini. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Aswaja, Nahdlatul, Kiai Siti Efi Farhati

Kamis, 07 Desember 2017

Tujuh Ratus Peserta IIFIS Saksikan Pertunjukan Wayang Orang

Solo, Siti Efi Farhati. Sebanyak tujuh ratus peserta IIFIS, menikmati suguhan lakon wayang orang di panggung pentas Taman Balekambang, jalan Balekembang Lor nomor 3, Surakarta, Jawa Tengah, Selasa (17/7) malam. Lakon wayang orang tersebut memainkan cerita klasik ‘Subali-Sugriwa’.

Tujuh Ratus Peserta IIFIS Saksikan Pertunjukan Wayang Orang (Sumber Gambar : Nu Online)
Tujuh Ratus Peserta IIFIS Saksikan Pertunjukan Wayang Orang (Sumber Gambar : Nu Online)

Tujuh Ratus Peserta IIFIS Saksikan Pertunjukan Wayang Orang

Sekitar tujuh ratusan peserta IIFIS, The First International Islamic Financial Inclusion Summit ini, berasal dari pelbagai wilayah dalam dan luar negeri. Mereka adalah pengurus BMT, koperasi, lembaga asuransi, perbankan, dan segenap pihak yang terlibat dalam pengembangan perekonomian.

“Mereka harus mendapatkan penyegaran pikiran di sela workshop dan konferensi internasional IIFIS,” ungkap Fatkhul Maskur, Ketua Panitia IIFIS kepada Siti Efi Farhati usai pertunjukan berlangsung tepat 22.38 di gerbang wisata Taman Balekambang.

Siti Efi Farhati

Menurut Fatkhul, pada siang itu ratusan peserta hanya mengikuti sesi I workshop dan konferensi internasional IIFIS dengan tema ‘Akses LKM Syariah dengan Produk Non-bank’. Sedangkan panitia menyediakan empat sesi dimana ketiga sesi terakhir akan dilanjutkan pada hati berikutnya dengan tema yang berbeda.

Lepas santap malam, mereka bergerak menuju panggung pertunjukan pukul 20.30 malam. Dengan segera, mereka mengisi tribun kecil yang mengitari panggung. Mereka langsung menyaksikan pertunjukan wayang orang sesudah tiga seniman lawak, mengocok habis perut peserta dengan tingkah, logika, dan ‘kekonyolan’.

Siti Efi Farhati

Dalam mementaskan aksi konyol, tiga pelawak ini ditemani iringan grup ‘Ketoprak Ngampung’ yang dipimpin Ki Jeliteng,” kata Budi, anggota grup Ketoprak Ngampung kepada Siti Efi Farhati di tepi panggung usai pementasan.

Pertunjukan wayang orang berlangsung segera menyusul sesudah tiga seniman lawak menghilang di balik panggung. Manusia bertubuh kera dan sapi, membuka acara dengan meluapkan amarah satu sama lain. Berlanjut setelah itu, perkelahian besar saudara terjadi antara Subali-Sugriwa. Mereka diiringi oleh Metabudaya, grup  sendratari Surakarta.

Sebelum menyaksikan pertunjukan tersebut, para peserta disuguhi makan malam di pekarangan Taman Balekambang. Di meja bundar dan kursi yang tersedia, mereka menyantap hidangan yang tersedia. Alunan musik campur sari dan lagu Bengawan Solo, menemani makan malam itu.

Sejumlah pejabat daerah dan seniman meramaikan pagelaran pentas tersebut. Nusron Wahid, ketua umum PP GP. Ansor, Joko Widodo, walikota Surakarta, dan Ahmad Dhani tampak hadir di tengah keramaian peserta IIFIS.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Bahtsul Masail, PonPes, Kiai Siti Efi Farhati

Sabtu, 02 Desember 2017

Peluang dan Tantangan NU

Judul Buku : NU Untuk Siapa? Pikiran-Pikiran Reflektif Untuk Muktamar NU Ke-32

Penulis : Prof. Dr. H. Ali Maschan Moesa, M.Si

Editor : Ach. Syaiful A’la

Peluang dan Tantangan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Peluang dan Tantangan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Peluang dan Tantangan NU

Penerbit : Pesantren Luhur Al-Husna, Surabaya

Cetakan : I, Pebruari 2010

Tebal : xv+65? Halaman

Peresensi : Rangga Sa’adillah S.A.P.*

Siti Efi Farhati



Berbicara masalah NU tidak lepas dari proses panjang berdirinya, maksud dan tujuan organisasi keagamaan dan kemasyarakatan (jamiyah diniyah ijtimaiyah) terbesar di belahan bumi khususnya di Indonesia, yang motori oleh KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah, dengan semangat awal yakni mendirikan Kebangkitan Bangsa (Nahdlatu Wathan), kemudian Kebangkitan Pengusaha (Nahdlatut Tujjar), dan artikulasi pemikiran (Tashwirul Afkar). Ketiga hal tersebut merupakan tiga pilar berdirinya Nahdlatul Ulama.

Dalam sejarah perkembangannya, NU tidak bisa diremehkan hanya sebagai organisasi keagamaan yang berbasis kemasyarakatan. Kontribusi-kontribusi NU yang didarmakan untuk bangsa ini cukup besar. Pada masa awal kemerdekaan NU mampu memberikan sumbangsih pemikirannya dalam perumusan Pancasila sebagai dasar Negara. Melalui resolusi jihad dari KH Hasyim Asya’ari, tentara sekutu yang hendak mengusik keutuhan NKRI berhasil diusir oleh pejuang-penjuang dari kota Pahlawan (Surabaya).

Siti Efi Farhati

Era Orde Lama, NU mempertegas wujudnya dalam ranah kepemerintahan dan kebijakan-kebijakan yang bersifat konstruktif. Seperti penggagasan berdirinya Masjid Istiqlal oleh KH A. Wahid Hasyim, selaku Menteri Agama saat itu, dan disetujui oleh Soekarno. Penggagasan pendirian IAIN oleh KH Wahib Wahab. Realisasi penerjemahan Al-Qur’an kedalam bahasa Indonesia pada masa Depag dipimpin oleh menteri dari NU, Prof KH Syaifuddin Zuhri. Penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an diprakarsai oleh Menag dari NU, KH. M. Dahlan. Tegas kiprah NU pada saat itu tidak bisa dianggap remeh.

Ketika rezim Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto, NU lebih berkiprah pada pengembangan masyarakat tingkat bawah (grass root) untuk menciptakan civil society. Juga pada rezim inilah terlahir konsensus untuk kembali pada khittah 1926 melalui muktamar NU ke-27 di Sukorejo Situbondo, tahun 1984. Inti dari Khittah adalah keinginan untuk kembali pada semangat perjuangan awal, menjadi ormas sosial keagamaan. Keputusan penting lainnya adalah NU secara formal menerima Pancasila sebagai asas tunggal atau landasan dasar NU.

Sampai pada meletupnya reformasi yang pada era itu merupakan kemengan bagi warga nahdliyin. Gus Dur berhasil terpilih sebagai presiden RI ke-4 melalui kendaraan politik Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang mana kendaraan tersebut aspirasi warga nahdliyyin. Melalui Gus Dur sebagai Presiden tentu saja banyak sekali kontribusi yang disumbangkan terhadap bangsa ini. Kita lihat sendiri, testimony dari mayoritas khalayak memberikan laqab kepada beliau sebagai guru bangsa.

Namun, disisi lain, lahirnya PKB banyak yang mempertanyakan eksistensi Khittah 1926. Melalui buku NU untuk Siapa? Pikiran-Pikiran Reflektif untuk Muktamar NU ke-32, KH. Ali Maschan Moesa, menjawab bahwa jika NU membidani lahirnya sebuah partai politik, itu sebagai perantara untuk mewadahi warga yang ada kepedulian terhadap politik praktis dan bukan berarti NU melanggar tatanan khittah. NU melanggar khittah jika secara institusional terikat oleh organisasi politik tertentu (hlm. 1).?

Jika NU pada masa Orde Lama berkontribusi aktif terhadap eksistensi NKRI, kemudian pada rezim Orde Baru mentransformasikan wujudnya untuk menciptakan civil society dan melahirkan konsensus untuk berkhittah, maka bagaimanakah wujud NU pada Muktamar ke-32 yang akan berlangsung dekat ini?

Melalui buku ini, pembaca bisa melihat lebih jauh tentang apa yang harus dilakukan NU kedepan. Misalnya kita bisa membaca tantangan-tantangan NU (mulai tantangan agama, tantangan ekonomi, tantangan hukum, tantangan politik, tantangan ilmu pengetahuan, tantangan degradasi alam). Problem yang sedang dihadapi NU (Problem sumberdaya manusia, sumberdaya dana dan problem organisasi), Kekuatan-kekuatan NU (mempunyai kekuatan kiai dan pesantren, dana besar, banyaknya anggota), serta bagaimana men-design langkah-langkah yang harus ditempuh oleh NU kedepan.

Lain dari tersebut di atas, ada empat tantangan yang tidak kalah menariknya yang sedang dihadapi oleh organisasi Bintang Sembilan saat ini. Pertama, tantangan yang datang dari jurus kanan, yaitu merebahnya faham fundamentalisme dan radikalisme yang tidak bisa difahami secara utuh oleh warga NU. Kedua, tantangan dari sebelah kiri yang merupakan pemahaman keagamaan secara liberal yang hingga kini justru banyak diminati oleh kalangan muda NU itu sendiri. Ketiga, adalah tantangan yang datang dari atas, dalam hal ini kuatnya represi penguasa dalam politik praktis, dan yang terakhir – keempat – adalah tantangan dari bawah ditandai dengan semakin rendahnya loyalitas warga NU terhadap kiainya yang terkadang juga kalau kita lihat diinternal pun terjadi pertarungan para elit-elitnya. Ketika para elit mulai berkomplik dan kemudian akan diikuti oleh pengikutnya, maka tidak mustahil akan terjadi split personality yang tidak lama kemudian akan mengancam terhadap eksistensi jam’iyyah? dan atau bahkan jama’ah yang ada.

Maksud hadirnya buku ini diruang pembaca, ke depan (pasca muktamar) NU diharapkan mampu memberikan problem solving terhadap persoalan-persoalan yang tengah dihadapi bangsa seperti persoalan ekonomi, sosial, politik, dan pendidikan. Yang kalau tilik sejarahnya perkembangan bangsa Indonesia, NU tidak pernah absen untuk selalu aktif berperan bersama-sama dalam menyelesaikan persoalan yang tengah dihadapi bangsa.

Setidaknya NU dalam keadaan apapun dan bagaimanapun harus diposisikan sebagai jam’iyah diniyah yang memiliki kepedulian bagi semua pihak. Dengan ungkapan lain NU (Nahdlatul Ulama) untuk NU (Nahdlatul Ummah). Kebangkitan ulama pada dasarnya untuk membangkitkan dan mengentaskan ummatnya dari segala kesusahan dan kemelaratan. Selamat membaca! Sukses Muktamar NU ke-32 kali ini.

*Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) IAIN Sunan Ampel, Pengurus Pesantren Luhur Al-Husna Surabaya.

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kiai, Olahraga Siti Efi Farhati

Selasa, 28 November 2017

Mengikuti Upacara Pemakaman di Maqbaroh para Syuhada (4/Habis)

Madinah, Siti Efi Farhati

Sejak masa pemerintahan Dinasti Umawiyyah dengan pusat pemerintahan di Damaskus, Suriah, makam Baqi yang menampung lebih dari 10.000 sahabat, telah mengalami beberapa kali perbaikan dan perluasan. Hingga pada masa Abdul Aziz dari keluarga Saud berkuasa di hijaz yang memerintahkan untuk meruntuhkan kubah-kubah (cungkup/jawa) di makam Baqi pada tahun 1344 H. /1925 M. Tentu kita ingat, peristiwa ini melatarbelakangi dibentuknya Komite Hijaz oleh para ulama Jawa, yang kemudian disebut-sebut sebagai Embrio berdirinya Nahdlatul Ulama. Perluasan terakhir, seperti kondisinya saat ini, dilakukan oleh Raja Fahd bin Abdul Azis.



Mengikuti Upacara Pemakaman di Maqbaroh para Syuhada (4/Habis) (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengikuti Upacara Pemakaman di Maqbaroh para Syuhada (4/Habis) (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengikuti Upacara Pemakaman di Maqbaroh para Syuhada (4/Habis)

Dengan kondisi dan peraturan penguasa sekarang, jamaah perempuan tidak diperkenankan untuk memasuki area pemakaman Baqi. Karenanya, semua pengiring perempuan hanya dapat mengantarkan jenazah, suami, ibu, anak atau saudara-saudara mereka hanya sampai depan pintu gerbang. Bahkan sebenarnya mereka sudah tertahan sejak sebelum memasuki pintu gerbang. Bila ada perempuan yang mencoba nekad masuk areal makam, maka mereka akan berhadapan dengan askar/penjaga.

<br /> Begitu juga pun Askar-askar ini, melarang orang-orang berlama-lama di pekuburan. Bahkan para pengiring dari keluarga jenazah yang baru saja dikubur pun dilarang berlama-lama di sana. Begitu upacara pemakaman selesai, para askar akan segera mengusir para pelayat yang masih enggan beranjak.

Jadi jangan pernah Anda membayangkan dapat berlaku seperti di Indonesia, dapat sekaligus berziarah ke makam keluarga pada saat mengantarkan/melayat jenazah baru, sama sekali tidak akan bisa. Maka begitu pun pada beberapa keluarga yang sedang malayat itu, saya melihat mereka harus bersitegang dengan askar-askar sebelum akhirnya terusir dengan mata yang masih basah oleh air mata. Sementara saya, hanya bisa memandangi "pemandangan aneh" itu dengan senyum kecut saja. Kukira semua orang Arab Saudi tidak suka berlama-lama di pemakaman.

Siti Efi Farhati

Sementara udara malam mulai terasa dingin dan jam di Handphone menunjukkan pukul 10.15 malam waktu setempat. Dalam remang kegelapan, saya hanya bisa memandang beberapa pondasi batu membentuk semacam kotak atau pola-pola tertentu. Di bawah sinar lampu-lampu hotel berjarak sekitar 200 meter di luar pagar makam Baqi ini, saya hanya bisa menduga-duga, mungkin ini bekas-bekas cungkup/kubah makam para sahabat agung dan tokoh-tokoh Islam yang telah berjasa besar untuk agamanya. Atau bahkan mungkin di antara mereka yang berada di balik pondasi-pondasi itu, kemungkinan adalah para ummul mukmnin (isteri-isteri Rasulullah SAW) yang telah mendampingi Rasulullah hingga akhir hayatnya.

Tidak ada lagi seorang pun kini yang tahu, di mana letak persisnya jasad-jasad keluarga dan para sahabat Rasulullah SAW dikebumikan di Baqi. Tidak ada yang tahu dan tidak ada yang bisa ditanyai. Para penjaga hanya akan mengatakan, "Baz/Sudahlah, ruh/pergilah, wallahi maa arif/Saya tidak tahu," jika kita tetap nekat bertanya dengan detail. Hal yang paling mungkin terjadi selanjutnya adalah, para penjaga ini akan menunjuk ke enam papan pengumuman besar yang dipasang di depan gerbang Baqi. Papan yang sama persis seperti yang juga terdapat di Makam Syuhada Uhud. Papan ini berisi peringatan dan tata tertib ziarah kubur versi pemerintah Arab Saudi, lengkap dengan larangan merokok dan memotret dengan gambar dan simbol-simbol larangan yang sangat besar dan berwarna merah mencolok.  

Siti Efi Farhati

Padahal pada masa-masa menjelang akhir hayatnya, Rasulullah SAW sering berziarah makam yang terletak di sebelah tenggara Masjid Nabawi ini. Saat itu malam telah menapaki separoh perjalanannya. Malam itu Rasulullah Saw. sedang berada di rumah Aisyah binti Abu Bakar As Shiddiq. Mengira sang istri tercinta telah tidur pulas, tiba-tiba beliau mengambil jubahnya dan mengenakan kedua sandalnya pelan-pelan, lalu membuka pintu dan kemudian keluar pelan-pelan. Melihat hal itu, sang istri tercinta, yang ternyata belum tidur, dengan diam-diam bangun karena merasa cemburu, jangan-jangan beliau akan pergi ke rumah istri beliau yang lain, keluar rumah, dan mengikuti jejak langkah beliau yang sedang menapakkan kaki menuju Makam Baqi‘.

 

Setibanya di makam tersebut, Rasulullah Saw berdiri lama. Lalu, beliau berdoa dengan mengangkat kedua tangannya tiga kali. Ketika beliau membalikkan tubuh dan mulai menapakkan kaki menuju ke arah rumah, Aisyah pun kembali dan mendahului beliau. Dan, begitu beliau kembali ke rumah, Aisyah pun “menginterogasi” beliau, mengapa larut malam begitu pergi ke Makam Baqi‘.

“Aisyah!” jawab Rasulullah Saw. “Sesungguhnya Jibril a.s. datang kepadaku ketika engkau melihatku tadi. Dia lalu memanggilku dengan suara pelan, agar tidak engkau ketahui. Maka, aku menjawab dengan suara pelan agar tidak engkau ketahui. Dia tidak mau masuk ke dalam rumah, karena engkau melepas pakaianmu. Kukira engkau telah tidur pulas, sehingga aku tidak ingin membangunkanmu dan aku khawatir engkau terkejut. Jibrîl mengatakan kepadaku bahwa Allah Swt. menyuruhku untuk mendatangi penghuni Makam Baqi‘ dan memohonkan ampunan bagi mereka.”

“Bagaimana semestinya yang harus kuucapkan kepada mereka, wahai Rasul?” tanya Aisyah binti Abu Bakar As Shiddiq. “Ucapkanlah, ‘Semoga keselamatan tetap dilimpahkan kepada penghuni makam, kaum mukmin dan muslim. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada orang-orang yang telah mendahului kami dan orang-orang yang selepas kami. Dan jika Allah menghendaki, maka sungguh kami akan menyusul kalian.’” jawab Rasulullah Saw.

Imam Muslim ketika meriwayatkan dalam sahihnya dari Aisyah r.a. berkata: Pada suatu saat di larut malam Rasulullah saw. keluar dari rumahnya menuju ke Baqi’ dan bersabda, "Assalamu’alaikum wahai orang-orang mukmin pasti datang apa yg dijanjikan dan ditentukan kelak dan kami insya Allah menyusul kalian di belakang. Ya Allah ampunilah penghuni Baqi’ al-Gharqad’.

Nama Baqi‘ diambil dari nama akar tetumbuhan yang tumbuh di makam itu. Sedangkan Al-Gharqad adalah sejenis pohon berduri yang juga banyak terdapat di makam itu. Selain sering mengunjungi makam itu pada masa-masa menjelang akhir hayatnya, beliau juga pernah menyatakan, barang siapa berpulang di Madinah dan dikebumikan di makam itu, beliau akan memberi syafaat kepadanya.

Baqi juga berarti tanah yang lembut. Artinya bebas dari batu dan kerikil. Model tanah seperti ini dinilai amat cocok untuk pemakaman. Dan karenanya, sejak dahulu, Baqi dijadikan pemakaman bagi warga Madinah. (min/selesai/Laporan langsung Syaifullah Amin dari Arab Saudi).Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kiai, Habib, Sunnah Siti Efi Farhati

Rabu, 22 November 2017

PBNU Dukung Tito Karnavian sebagai Kapolri

Surabaya, Siti Efi Farhati. Presiden Joko Widodo telah menunjuk Komjen Tito Karnavian sebagai calon tunggal Kapolri menggantikan Badrodin Haiti yang akan masuk massa pensiun bulan depan. Keputusan Jokowi ini dinilai berani oleh beberapa kalangan karena Tito melompati empat angkatan di atasnya.

Meski demikian dukungan kepada Tito untuk menjabat sebagai Kapolri terus mengalir, tak hanya dari kalangan seniornya di jajaran Kepolisian saja namun dukungan untuk Tito mengalir dari kalangan politikus maupun pimpinan ormas.

PBNU Dukung Tito Karnavian sebagai Kapolri (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Dukung Tito Karnavian sebagai Kapolri (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Dukung Tito Karnavian sebagai Kapolri

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menilai penunjukkan kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) ini sebagai Kapolri sudah tepat.

"Penunjukan Tito Karnavian sebagai Kapolri sangat tepat sekali. Sebagai Perwira Polisi Tito telah menunjukan kinerja yang baik sekali dan profesional di setiap jabatan yang diembannya. Terutama mampu mengatasi terorisme di Ibukota beberapa waktu lalu tak kurang dari lima jam," ungkap Kiai Said, Kamis (16/6) di Surabaya.

Kiai Said menambahkan, selain seorang pekerja keras Tito juga pribadi yang taat kepada agamanya, merakyat dan mudah bergaul dengan semua kalangan. "Usianya yang masih muda dan berpikiran cerdas tentu sangat potensial sekali untuk bisa membawa Kepolisian lebih baik lagi," tambahnya.

Siti Efi Farhati

Kedepan, dengan jiwa kepemimpinannya, penegakan hukum di Indonesia diharapkan akan berjalan lebih baik lagi. Dan jika nanti sudah disahkan dan dilantik oleh Presiden Jokowi, Tito harus tetap melanjutkan penataan dan reformasi ditubuh Polri seperti yang diinginkan oleh Presiden.

"Dan kami berharap kepada Kapolri yang baru bisa melanjutkan kerjasama yang apik dengan PBNU dalam rangka pencegahaan terorisme dan deradikalisasi serta pemberantasan Narkotika. Insyaallah kerjasama apik dengan Kapolri yang baru nanti semakin memberikan jaminan rasa aman kepada masyarakat Indonesia umumnya dan warga NU khususnya," pungkas Kiai Said. (Red-Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Kiai, Amalan Siti Efi Farhati

Minggu, 12 November 2017

Hindari Korban, Pengusaha Sebaiknya Bayar Zakat Lewat Badan Amil

Jember, Siti Efi Farhati. Kendati sudah berkali-kali terjadi, namun ricuh saat pembagian zakat kembali terulang. Baru-baru ini kericuhan terjadi di Makassar, saat seorang pengusaha membayar zakat secara massal dalam bentuk uang Rp. 50.000-an. Untuk itu, pembayaran zakat melalui badan atau lembaga zakat lebih membawa maslahat tanpa mengurangi substansi.

Katib Syuriyah NU Jember M N Harisudin menganjurkan sebaiknya para pengusaha menyalurkan zakat melalui amil zakat yang resmi mendapat pengakuan dari pemerintah.

Hindari Korban, Pengusaha Sebaiknya Bayar Zakat Lewat Badan Amil (Sumber Gambar : Nu Online)
Hindari Korban, Pengusaha Sebaiknya Bayar Zakat Lewat Badan Amil (Sumber Gambar : Nu Online)

Hindari Korban, Pengusaha Sebaiknya Bayar Zakat Lewat Badan Amil

Pertama, di amil zakat resmi, zakat bisa tersalur tepat sasaran. Kedua, pada amil zakat resmi, kwitansi pembayaran zakat bisa menjadi pengurang pajak penghasilan sebagaimana disebut dalam UU Pengelolaan Zakat nomor 23 Tahun 2011,” kata Harisudin di Kantor PCNU Jember, Sabtu (4/7).

Siti Efi Farhati

Alumnus doktoral IAIN Sunan Ampel Surabaya di bidang Fiqih-Ushul Fiqih ini menambahkan bahwa penyaluran zakat melalui amil juga tepat guna karena amil zakat tidak hanya memberi zakat secara konsumtif, namun juga produktif.

Siti Efi Farhati

“Pasalnya, amil zakat berusaha menjadikan mustahiq sebagai muzakki suatu saat nanti,” kata penulis Kitab Fiqhuz Zakat li Taqwiyat Iqtishadil Umah.

Kalaupun pengusaha ngotot ingin menyalurkan langsung kepada mustahiq zakat, ia menyarankan agar penyaluran zakat harus diatur sebaik-baiknya agar lebih memanusiakan dan juga memartabatkan mustahiq (penerima) zakat.

“Jangan sampai mustahiq zakat itu berdesak-desakan, berhimpitan, saling injak, dan bahkan menimbulkan korban meninggal dunia,” kata pengasuh pesantren Darul Hikam, Mangli, Kaliwates Jember ini.

Memang utamanya penyaluran zakat ditampilkan di depan publik. Tetapi mengejar keutamaan tidak boleh melalaikan kewajiban, yaitu memelihara jiwa, tandas aktivis NU yang juga Wakil Ketua Alumni Ma’had Aly Situbondo. (Anwari/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kiai, Olahraga Siti Efi Farhati

Kamis, 09 November 2017

Tujuh Maklumat Kebangsaan Ulama-Cendekiawan di Jakarta

? Sarasehan nasional ulama dan cendekiawan yang diprakarsai Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi di Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Cilandak, Jakarta Selatan, 2-3 April 2014, melahirkan tujuh “maklumat kebangsaan”. Berikut adalah butir-butir lengkapnya:?

?

1. Pancasila:

Kenyataan kehidupan berbangsa dan bernegara pada dekade belakangan ini terasa telah menjauh dari nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara, jalan hidup bangsa (way of life), pemersatu bangsa, sumber hukum dan ideologi negara.Bahkan mulai ada yang menyangsikan efektifitas Pancasila sebagai dasar negara.

Tujuh Maklumat Kebangsaan Ulama-Cendekiawan di Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Tujuh Maklumat Kebangsaan Ulama-Cendekiawan di Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Tujuh Maklumat Kebangsaan Ulama-Cendekiawan di Jakarta

a. Ketuhanan Yang Maha Esa pelan tapi pasti telah bergeser menuju pandangan hidup materialistik dan pragmatis sehingga kekuasaan materi menggusur tata nilai spiritualisme di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini menggoyahkan? makna hakiki dari sektor-sektor kehidupan bangsa:? ekonomi yang kehilangan prinsip pemerataan dan keberkahan, hukum yang terpisah dengan prinsip keadilan, politik kehilangan kejujuran dan amanat, pendidikan yang kehilangan pembentukan karakter bangsa, budaya kehilangan martabat kebangsaan dan bahkan agama pun mengalami pendangkalan.

b. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab yang seharusnya merupakan titik temu agama-agama di Indonesia dan merupakan ketinggian harkat dan martabat bangsa telah dikotori dengan berbagai macam kekejaman, konflik, egoisme, kemunafikan dan kepalsuan.

Siti Efi Farhati

c. Persatuan Indonesia, secara idelogis, sosiologis, geografis, telah dibayang-bayangi perpecahan yang semakin hari semakin nampak kenyataannya.

d. Prinsip dan nilai kerakyatan yang? merupakan inti dari demokrasi Pancasila belum? bisa diwujudkan oleh sistem demokrasi yang kita anut saat ini? karena kurang sesuainya sistem demokrasi liberal bagi budaya Indonesia dan kurangnya pendidikan politik bangsa (civic education).? Sedangkan kepemimpinan untukpenyelenggaran negara dalamsistem demokrasi saat ini belum sepenuhnya menganut prinsip hikmah dalam kebijaksanaan. Terbukti banyaknya kebijakan-kebijakan yang tidak pro rakyat. Disamping itu, prinsip musyawarah mufakat telah berganti dengan demonstrasi dan politik tekanan (political pressure) sehingga rawan konflik dan sangat melelahkan.

e. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia sesungguhnya merupakan muara dan hasil dari prinsip-prinsip sila sebelumnya. Apabila sila-sila sebelumnya tidak mengalir secara wajar maka tidak akan sampai ke muara keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.?

Siti Efi Farhati

2. Sistem dan Penyelenggaraan Negara

Disadari bahwa prinsip, ideologi, dan tata nilai yang ada di dalam Pancasila tidak mungkin diharapkan tegak dengan sendirinya tanpa sistem dan penyelenggaraan negara yang menjamin terselenggaranya prinsip-prinsip tersebut baik dalam konstitusi, aturan perundangan, peraturan pemerintah dan? pelaksanaan kebijakan yang menyangkut kepentingan masyarakat. Karena itu, antara Pancasila dan UUD 1945, aturan perundangan dalam Undang-undang serta peraturan dan kebijakan pemerintah yang menyangkut kepentingan dan hajat hidup rakyat haruslah berada dalam satu garis yang bersambungan dan utuh (integrated system). Maka yang diperlukan adalah penelusuran kembali apakah sistem dan penyelenggaraan negara sudah segaris dan sejalan dengan Pancasila.Sejalan dengan ini, para penyelenggara negara adalah pelaksana sistem kenegaraan itu sendiri sehingga ada hubungan timbal balik antara keduanya maka perlu optimalisasi kerja penyelenggara negara dan pada saat yang sama memperbaiki sistem kenegaraan.

3. Politik dan Partai Politik

Politik berasal dari sesuatu yang mulia dan agama sendiri memuliakan politik. Pada hakekatnya politik adalah penataan masyarakat negara untuk mencapai tujuan kemuliaan hidup di dunia dan di akhirat. Politik akan mulia di tangan orang mulia? dan juga dilakukan dengan cara yang mulia. Sebagaimana di dalam perjalanan sejarah Indonesia rakyat memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada politisi/negarawan di awal kemerdekaan Republik Indonesia karena mereka melaksanakan fatsoen politik yang mulia. Kalau kemudian politik kehilangan kemuliaannya tentu hal ini karena cara berpolitik serta pelaku politik yang tidak mampu menjamin kemuliaan gerakan politik itu sendiri. Cara-cara yang pragmatis transaksional tentu akan merendahkan makna politik dan mengurangi kepercayaan publik terhadap para politisi.

Sebenarnya di alam reformasi dan demokrasi dewasa ini partai-partai politik mendapatkan anugerah Allah yang luar biasa. Partai-partai politik menempati peranan sentral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Parlemen yang mempunyai kekuasaan sangat besar baik di bidang perundangan (legislasi), penganggaran (budgeting), dan pengawasan (controling) sepenuhnya diisi oleh partai-partai politik secara dominan. Bahkan belakangan ini eksekutif pun diisi oleh personil yang diajukan oleh partai politik termasuk lembaga ad hoc dan pejabat negara juga dipilih oleh parlemen? sehingga partai politik tidak hanya menguasai parlemen tetapi juga mengambil kavling dalam kekuasaan eksekutif di tingkat pusat dan daerah.Akibatnya, sistem kabinet kita yang presidentil menjadi terasa parlementer karena kementerian-kementerian terkavling partai-partai politik.

Sekarang terpulang? kepada partai-partai politik itu sendiri, apakah mereka mensyukuri anugerah luar biasa dari Allah SWT tersebut dengan mengabdi kepada bangsa dan negara melalui sifat jujur, amanat, visioner, dan kopentensi (shiddiq, amanat, tabligh, fathonah) ataukah sebaliknya, sehingga terus terjadi jarak antara rakyat dan pemimpin yang dipilih dari rakyat. Sehingga dengan demikian terlihat tanggung jawab yang sangat besar menyertai anugerah Allah SWT tentang baik buruknya negara ini di tangan partai-partai politik.?

4. Partai Politik Islam

Banyak keluhan di kalangan masyarakat luas bahwa elektabilitas partai-partai Islam atau yang berbasis umat Islam cenderung menurun dari waktu ke waktu. Kenyataan ini kadang merembet dengan asumsi menyalahkan Islam sebagai agama. Padahal Islam sebagai agama yang benar (dinulhaq) tidak akan luntur kebenarannya sepanjang zaman. Kalau kemudian partai Islam menurun maka hal itu bukan karena kesalahan Islam sebagai agama, tetapi? karena keterbatasan partai berbasis Islam untuk menampilkan keluhuran nilai ajaran Islam itu sendiri dalam bidang politik. Untuk mengatasinya, harus ada upaya sungguh-sungguh agar pelaksana politik Islam menunjukkan keluhuran nilai Islam itu sendiri dalam prilaku politik. Partai berbasis Islam tidak cukup hanya menampilkan simbolisme Islam tapi harus bekerja keras untuk keadilan, kemakmuran, kemanusiaan, dan kesetaraan di dalam masyarakat luas sebagai realisasi Islam rahmatan lil alamin.

5. Kembalikan Indonesia untuk Indonesia

Kenyataan menunjukkan bahwa banyak kebijakan yang dihasilkan dalam bentuk Undang-undang yang berujung pada judicial review untuk membatalkan undang-undang itu karena tidak sesuai dengan semangat Undang-Undang Dasar 1945. Bahkan dalam tingkat tertentu Undang-Undang ini tidak berpihak kepada kepentingan Indonesia dan justeru berpihak pada kepentingan asing seperti undang-undang pertambangan,energi,air? dan pertanahan dan lain-lain. Bentuk kebijakan yang merugikan ini adalah produk dari kepemimpinan nasional yang terdiri dari kepala negara (eksekutif) dan anggota legislatif yang dihasilkan dari proses pemilu sebelumnya? yang menelan biaya yang tidak sedikit. Karena itu, siapapun pemimpin dan anggota legislatif yang dihasilkan oleh pemilu yang akan datang? harus mampu menghasilkan produk kebijakan yang berpihak pada kepentingan bangsa Indonesia. Jika tidak, maka bangsa Indonesia akan terjebak pada siklus kehancuran untuk lima tahun yang akan datang. Untuk dapat membuat kebijakan yang berpihak pada kepentingan bangsa Indonesia memang tidak mudah karena proses untuk menghasilkan pemimpin dan anggota legislatif ini belum mampu menjamin lahirnya sosok pemimpin yang berpihak pada kepentingan bangsa. Karena itu baik presiden maupun parlemen harus bersatu dalam kepentingan nasional sekalipun berawal dari visi yang tidak sama.

6. Wilayah Kepartaian dan Wilayah Kenegaraan

Dominasi partai politik dalam kekuasaan yang terjadi selama ini berakibat padakaburnya antara wilayah kepartaian dan wilayah penyelenggaraan negara. Kader-kader parpol yang terpilih menjadi penyelenggara negara lebih sering tampil mewakili parpol masing-masing ketimbang menjadi penyelenggara negara yang seharusnya melayani kepentingan semua warga bangsa.? Dalam kondisi seperti ini sering terjadi kerancuan apakah para pejabat dari partai politik ini mewakili kepentingan partainya atau mewakili kepentingan bangsa yang lebih luas. Karena itu, diperlukan peraturan perundangan yang mengatur pembagian tugas yang jelas antara wilayah kepartaian dan wilayah penyelenggara kenegaraan.Dengan demikian, jika seorang kader partai memegang jabatan sebagai penyelenggara negara maka dia harus menanggalkan baju kepartaiannya dengan mengabdikan diri untuk kepentingan bangsa yang lebih luas.

7. Mengembalikan Ulama kembali kepada moral ulama

Dalam perjalanan sejarah kehidupan bangsa ulama selalu tampil dalam menyelesaikan problem-problem yang mengiringi kehidupan bangsa dan bernegara. Dalam kondisi carut marut kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini ulama hendaknya tetap kokoh berpegang? pada? moral ulama sebagai tonggak dan panutan umat dan tidak larut dalam suasana pragmatisme sesaat.Untuk menjadi panutan umat di tengah kegoncangan seperti ini ulama harus tetap berpegang pada moral ulama dan memiliki informasi yang cukup tentang kondisi yang terjadi dewasa ini.

Demikianlah semoga Allah memberikan perlindungan dan maunah Nya kepada kita dan akan dilanjutkan dengan maklumat kebangsaan serupa.

?

Jakarta, 3 April 2014

?

Penanggung Jawab: KH A Hasyim Muzadi

Tim Perumus: KH Abdurrahman Nafis (Jawa Timur), KH. Sofyan ( Jawa Barat), KH. Dr. Fadlalan Musaffa’ (Jawa Tengah), KH. Dr. Cholil Nafis (Jakarta), Dr. H. Rahmat Hidayat (Jakarta), Dr. Arif Zamhari (Jakarta)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kiai, Sejarah Siti Efi Farhati

Selasa, 07 November 2017

Warga NU Bersepeda Keliling Dunia (III)

Jakarta, Siti Efi Farhati?

Hakam Mabruri dan Rofingatul Islamiah akan berkeliling dunia dengan mengendarai sepeda. Sebagai warga NU, pasangan suami istri itu, sebelum berangkat, meminta doa restu kepada Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Kiai Said pun mendoakannya pada 21 Maret lalu.?

Selain doa, PBNU juga membekali Hakam semacam surat jalan dari PBNU ke tempat-tempat yang akan dilaluinya. Jika di sebuah negara terdapat Pengurus Cabang Istimewa NU, Hakam dan Rofingah bisa berkomunikasi dengan mereka.?

Surat jalan berbentuk sertifikat yang dikantongi Hakam dan Rofingah itu bernomor 1244/A.II. 03/03/2017. Isinya adalah menyatakan bahwa keduanya adalah benar anggota NU di wilayah Jawa Timur yang akan melakukan perjalanan dengan sepeda dengan mwmbawa misi perdamaian. Sebelumnya, Hakam dan Rofingah juga telah mendapat surat Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor.?

Warga NU Bersepeda Keliling Dunia (III) (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga NU Bersepeda Keliling Dunia (III) (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga NU Bersepeda Keliling Dunia (III)

Kepala Satuan Koordinasi Nasioal Banser H. Alfa Isnaeni mendukung penuh apa yang akan dilakukan mereka. “Saya selaku Kasatkornas, ada anggota GP Ansor Kabupaten Malang, mendukung perjalanan keliling dunia yang direncanakan sampai Kairo, Mekkah,” katanya pada Januari lalu ketika menerima Hakam di kantor PP GP Ansor, Jakarta.?

Alfa menambahkan, ada misi yang ditambahkan kepada Hakam dan Rofingah, jadi tidak sekadar perjalanan, tapi membawa misi Banser, yaitu mengembangkan Islam rahmartan lil alamin, sekaligus mendakwahkannya.?

“Kita juga sampaikan komitmen Ahlussunah wal Jamaah itu dalam perjalanan supaya apa-apa yang dicita-citakan tidak hanya perjalanan secara fisik, tapi ada makna batiniyah, sekaligus napak tilas sebauah perjalanan Ahlusunah wal Jamaah tokoh-tokoh sebelumnya,” jelasnya. ?

Siti Efi Farhati

Hal itu, lanjutnya, penting dilakukan agar ouputnya bisa terlihat bahwa Ansor dan Banser mengemban misi memperkenalkan Islam Nusantara menjadi peradaban dunia.

Gairah dua orang itu, kata dia, harus diapresiasi karena tidak semuanya mau dan mampu melakukannya. Suatu saat Banser juga ingin melakukan hal sama seperti Hakam melakukan syiar peradaban Islam Nusantara di tengah globalisasi.

“Saya berharap meminta ke seluruh kader Ansor, Banser mendoakan Hakam dan Rofingah agar selalu sehat, diberi kemudahan di tiap titik di negara yang dilewati, bisa pulang kembali dengan selamat,” pintanya. (Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Nahdlatul Ulama, Kiai, Nasional Siti Efi Farhati

Senin, 02 Oktober 2017

Katib Aam PBNU: NU Kutuk Praktik Suap

Jakarta, Siti Efi Farhati

Nahdlatul Ulama (NU) mengutuk praktik suap-menyuap dalam pencalonan pejabat publik. Atas praktik itu, sikap tegas diambil NU terhadap pencalonan wakil rakyat, bupati, gubernur, maupun pencalonan kursi presiden.

Katib Aam PBNU KH Malik Madani menyampaikan perihal itu saat dihubungi Siti Efi Farhati, Selasa (7/5) siang. Menurutnya, praktik suap itu merupakan perbuatan yang patut dikutuk karena dampak kerusakannya sangat luas.

Katib Aam PBNU: NU Kutuk Praktik Suap (Sumber Gambar : Nu Online)
Katib Aam PBNU: NU Kutuk Praktik Suap (Sumber Gambar : Nu Online)

Katib Aam PBNU: NU Kutuk Praktik Suap

“Selain merusak moral masyarakat, praktik suap dalam pencalonan juga berisiko menimbulkan korupsi yang kini tengah diberantas aparat hukum,” kata KH Malik Madani.

Siti Efi Farhati

Kata Kiai Malik Madani, Praktik suap dalam pencalonan dibahas secara khusus dalam Sidang Komisi Bahtsul Masail Diniyyah Al-Waqi‘Iyyah pada Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama, Munas-Konbes NU di Pesantren Kempek Cirebon, Jawa Barat, September 2012 lalu.

Siti Efi Farhati

Para kiai NU dalam Munas-Konbes NU 2012, lanjut Kiai Malik Madani, menyebut praktik suap pencalonan itu dengan istilah “risywah politik”. Mereka dengan jelas mengharamkan praktik risywah itu.

Dinyatakan atau tidak, risywah politik tetap haram. Hukum haram berlaku baik bagi calon atau tim sukses yang menyuap maupun penerima yang mengerti maksud penyuap. Sedangkan penerima suap wajib mengembalikan bentuk suap itu kepada penyuap, tegas Kiai Malik.

Para kiai perlu memutuskan persoalan itu dengan garis hitam-putih dalam Munas-Konbes NU mengingat praktik suap sangat meresahkan masyarakat. Celakanya, praktik itu dinilai lazim, pungkas KH Malik Madani.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kiai, Internasional, RMI NU Siti Efi Farhati

Rabu, 16 Agustus 2017

Di Baitul Maqdis Menjadi Imam Para Nabi dan Rasul

Pemeberhentian terakhir dalam perjalanan malam itu adalah Baitul Maqdis. Dalam sekejap mata setelah Rasulullah saw sampai di Baitul Maqdis para nabi, rasul dan malaikat berkumpul . Kemudian dikumandangkanlah adzan dan iqamat. Mereka yang datang berbaris rapi bershaf-shaf. Lalu Jibril mempersilahkan Rasulullah saw menjadi imam. Begitulah setelah shalat dengan berjama’ah para nabi dan rasul memuji kepada Allah atas karunia dari-Nya. Begitu juga Rasulullah saw mengucap tasbih atas karunia yang istimewa yang tidak diperoleh nabi dan rasul lainnya.

Baitul Maqdis adalah merupakan pelabuhan terakhir isra’nya (perjalanan malam)Rasulullah saw sebelum kemudian dimi’rajkan Allah ke shidratil muntaha. Baitul Maqdis seolah memiliki jalur utama yang dapat menghubungkan dunia ini dengan pintu langit. Dikatakan demikian karena di sanalah para nabi dan rasul itu turun, dan dari sanalah Rasulullah saw akan memulai mi’rajnya.

Adapun mengenai shalat Jama’ah bersama para nabi dan rasul dan Muhammas saw sebagai Imamnya merupakan sebuah bukti bahwa mereka para nabi dan rasul itu menjadikan Rasulullah saw sebagai wasilah menuju Allah swt. Mereka para nabi dan rasul itu menjadikan Rasulullah saw sebagai penghubung kepada Allah swt, sebagaimana yang disebutkan dalam surat al-Maidah ayat 35:

Di Baitul Maqdis Menjadi Imam Para Nabi dan Rasul (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Baitul Maqdis Menjadi Imam Para Nabi dan Rasul (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Baitul Maqdis Menjadi Imam Para Nabi dan Rasul

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.

Demikianlah kepemimpinan Rasulullah saw sebagai imam dalam shalat ini menunjukkan pengakuan para nabi dan rasul itu akan syariat islam yang sempurna yang dibawa oleh Rasulullah saw, nabi sekaligus rasul pungkasan. Mengenai jama’ah itu sendiri sungguh tidak dapat dipungkiri fadhilannya, jika para nabi, rasul dan malaikat saja berjama’ah. (red.Ulil H) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Anti Hoax, Kiai Siti Efi Farhati

Rabu, 31 Mei 2017

IPPNU Kudus Ajak Pelajar-Santri Bentengi Diri dari Radikalisme

Kudus, Siti Efi Farhati. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kudus, Jawa Tengah, secara tegas menolak keberadaan paham radikalisme dan ISIS di bumi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

IPPNU Kudus Ajak Pelajar-Santri Bentengi Diri dari Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Kudus Ajak Pelajar-Santri Bentengi Diri dari Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Kudus Ajak Pelajar-Santri Bentengi Diri dari Radikalisme

Menurutnya, paham radikalisme telah merongrong pemikiran setiap orang dan merusak keyakinan ideologi agama dan bangsa.

"Kami pelajar NU menolak radikalisme dan ISIS karena ajaran doktrinnya tidak sesuai ajaran Islam yang diajarkan Nabi Muhammad SAW," tegas Ketua PC IPPNU Kudus Futuhal Hidayah, Jumat (3/4).

Siti Efi Farhati

Hidayah mengatakan, penganut paham radikalisme telah keliru memahami makna jihad dengan kekerasan berkedok agama. Hal ini sangat berlawanan dengan Islam yang hadir sebagai penyebar kasih sayang bagi semua (rahmatan lil alamain).

"Jihad itu bukan iming-iming get list masuk surga semata namun bagaimana memperjuangkan ajaran Islam yang kita lakukan tetap dalam koridor agama dan berpedoman Al Quran," tandasnya.

?

Siti Efi Farhati

Oleh karenanya,? Hidayah mengajak mengajak pelajar, santri, dan semua kader IPPNU meningkatkan ketaqwaan dan keimanan guna membentengi diri dari paham radikalisme atau ISIS. Kader IPPNU, pesannya,? supaya selalu merapatkan diri dengan alim ulama,? para ibu nyai dan habaib dalam berjamiyyah, khususnya di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

?

"Dengan kedekatan berjamiyyah (IPPNU) di lingkungan keluarga diharapkan fungsi keluarga sebagai tempat pendidikan pertama dapat memberikan pembekalan ilmu secara intensif," ujarnya lagi.

?

Lewat organisasi di IPPNU, tegas dia,? pelajar dan santri? akan terbuka cakrawala dunia karena mereka akan ditempa berbagai wawasan keislaman, keilmuan, kebangsaan. "Tak kalah pentingnya, mengaji? di surau, langgar, pondok, mushala dan masjid," imbuh Hidayah. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kiai, Internasional, Habib Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock