Tampilkan postingan dengan label Pemurnian Aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemurnian Aqidah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Maret 2018

Beri Penguatan Aswaja, Kiai Agus Ungkap Kalam Hikmah Imam Syafi’i

Tasikmalaya, Siti Efi Farhati. PAC GP Ansor Kawalu, Tasikmalaya, Jawa Barat mengadakan Pendidikan Penguatan Pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), Ahad (19/2) lalu di Yayasan Al-Marufi Cibeuti Kota Tasikmalaya. Kegiatan ini dihadiri oleh Rais NU Kawalu KH Agus Harun Ghoni, didampingi Ketua PC GP Ansor Kota Tasik Ricky Assegaf.

Beri Penguatan Aswaja, Kiai Agus Ungkap Kalam Hikmah Imam Syafi’i (Sumber Gambar : Nu Online)
Beri Penguatan Aswaja, Kiai Agus Ungkap Kalam Hikmah Imam Syafi’i (Sumber Gambar : Nu Online)

Beri Penguatan Aswaja, Kiai Agus Ungkap Kalam Hikmah Imam Syafi’i

Dalam sambutannya, KH Agus Harun Ghoni mengutip mutiara dalam Kitab Ar-Risalah halaman 71 karya besar Imam as-Syafii yang berbunyi:

"Barangsiapa yang mempelajari al-Qur`an maka agunglah kedudukannya, barangsiapa yang berpikir (belajar) fiqih maka mulialah kehormatannya, barangsiapa yang menulis al-Hadits maka kuatlah argumentasinya, barangsiapa yang berpikir (belajar) tata bahasa maka lembutlah perangainya, dan barangsiapa yang tidak menjaga dirinya maka ilmunya tidak dapat memberi manfaat baginya."

Kiai Agus berpesan kepada Kader Ansor dan kiai muda NU agar jangan berhenti mencari ilmu walaupun sibuk dan gudangnya ilmu agama itu ada di pesantren.

Siti Efi Farhati

"Ansor harus kenal pasantren, jangan berhenti ngaji sesulit dan sesibuk apapun. Karena sudah semestinya sebagai pergerakan pemuda Islam mewarisi tradisi keilmuan pesantren. Belajar dengan kesabaran, membaca dengan ketekunan, kemudian mencatat dengan ketelitian. Ingat nasihat Imam Syafii Barangsiapa yang tak pernah mengecap kehinaan dalam mencari ilmu walau hanya sebentar, akan meminum kehinaan kebodohan pada sisa hidupnya,” kata Kiai Agus.

Pada kesempatan ini, Pimpinan Pondok Pesantren al-Marufi Cibeuti ? itu juga memotivasi agar mencari ilmu itu jangan hanya dipahami, akan tetapi harus mulai diabadikan dalam sebuah karya yang tercatat.

"Belajarlah kemudian sampaikan! Perhatikan Ulama terdahulu, mereka harus menempuh perjalanan panjang untuk mencari ilmu. Setelahnya mereka ikat (ilmu itu) dalam bentuk karya tulisan pada lembaran-lembaran kertas menggunakan pena yang dicelupkan ke tinta persis yang diadopsi santri di pesantren. Akan tetapi lihat hasilnya, sampai saat ini ilmunya dalam bentuk kitab dimanfaatkan terus oleh kita semua,” ujarnya.

Disamping taat pada semua fatwa para ulama, tambahnya, Ansor juga harus bisa membentengi warga Nahdliyyin, karena saat ini sepertinya ada kelompok yang ingin kiai dengan warga NU tidak akur.?

Dia mengajak untuk bersama menjaga marwah NU dengan kembali mengamalkan nilai-nilai agama serta menanamkan sikap cinta tanah air, seperti yang telah dilakukan para Kiai-Kiai NU terdahulu dalam merawat tradisi agama dalam bingkai NKRI.?

Siti Efi Farhati

Penguatan Keaswajaan ini diikuti oleh oleh kader-kader Ansor dan 50 kiai muda NU perwakilan tiap Kecamatan se-Kota Tasikmalaya. Selama kegiatan mereka mendapatkan materi dari Direktur Aswaja Center Tasikmalaya Yayan Bunyamin yang juga Pimpinan Pesantren Rahmat Semesta. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Habib, Pemurnian Aqidah Siti Efi Farhati

Senin, 19 Februari 2018

Ketua DPRD Nilai Ansor Way Kanan OKP Aktif

Way Kanan, Siti Efi Farhati. Ketua DPRD Kabupaten Way Kanan Raden Adipati Surya pasca upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-86 tahun di Blambangan Umpu, Way Kanan, Lampung, Selasa (28/10), mengapresiasi Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor di daerah yang berbatasan dengan Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur Provinsi Sumatera Selatan itu.

"Ansor sebagai organisasi kepemudaan atau OKP yang hidup atau tidak mati. Kami membutuhkan bantuan Ansor untuk membangun Way Kanan dan organisasi kepemudaan yang lain. Sinergi dan silaturahim untuk pembangunan daerah dan bangsa senantiasa kita perlukan," kata Adipati yang juga Ketua DPD KNPI Way Kanan itu pula.

Ketua DPRD Nilai Ansor Way Kanan OKP Aktif (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua DPRD Nilai Ansor Way Kanan OKP Aktif (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua DPRD Nilai Ansor Way Kanan OKP Aktif

Pada pertemuan itu, sejumlah pengurus PC GP Ansor Way Kanan seperti Sekretaris Eko Wahyudi, Kasatkorcab Banser Alex Al Mukin mengucapkan selamat kepada Adipati yang baru saja dilantik menjadi pimpinan DPRD Way Kanan definitif itu.

Siti Efi Farhati

"Terima kasih. Selamat juga untuk GP Ansor yang memiliki pemimpin baru, sahabat Gatot Arifianto, saya sudah lama kenal beliau. Saya optimistis GP Ansor akan semakin maju di bawah kepemimpinannya," ujar Adipati lagi.

Siti Efi Farhati

Pemerintah Kabupaten Way Kanan memperingati Hari Sumpah Pemuda ke 86 tahun di lapangan Pemkab setempat. Bertindak sebagai Inspektur Upacara pada kegiatan dihadiri Kapolres AKBP Kunto Prasetya dan diikuti sekitar seribu peserta dari berbagai unsur seperti PNS, pelajar dan organisasi kepemudaan itu Raden Adipati Surya, adapun Komandan Upacara Rusli Ali Sadewa dari Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Satkoryon Pakuanratu.

"Kami berima kasih atas amanah dan penunjukan yang diberikan, semoga ke depan GP Ansor dipercaya kembali sebagai komandan upacara di hari-hari nasional lainya," ujar Rusli singkat.

Permintaan GP Ansor menjadi Komandan Upacara Sumpah Pemuda 28 Oktober disampaikan Bupati Way Kanan Bustami Zainudin. (Hasyim Asari/Mahbib)

Foto: Rusli Ali Sadewa anggota Banser Satkoryon Pakuan Ratu Way Kanan menjadi Komandan Upacara Sumpah Pemuda 28 Oktober 2014 yang ke-86 di Waykanan, Lampung.

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pemurnian Aqidah Siti Efi Farhati

Minggu, 18 Februari 2018

Resolusi PBB Tolak Trump Akui Yerusalem Ibu Kota Israel

New York, Siti Efi Farhati. Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan tegas mendukung sebuah resolusi yang secara efektif meminta Amerika Serikat untuk menarik pengakuannya atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel, lapor BBC Jumat (22/12).

Resolusi PBB Tolak Trump Akui Yerusalem Ibu Kota Israel (Sumber Gambar : Nu Online)
Resolusi PBB Tolak Trump Akui Yerusalem Ibu Kota Israel (Sumber Gambar : Nu Online)

Resolusi PBB Tolak Trump Akui Yerusalem Ibu Kota Israel

Teks resolusi tersebut mengatakan bahwa setiap keputusan mengenai status kota Yerusalem tak berlaku dan harus dibatalkan.

Resolusi yang tidak mengikat itu disetujui oleh 128 negara, dengan 35 abstain dan sembilan lainnya memilih untuk menentangnya. Itu terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan memotong bantuan keuangan untuk mereka yang mendukung resolusi tersebut.

Sembilan anggota yang menentang resolusi tersebut adalah Amerika Serikat, Israel, Guatemala, Honduras, Kepulauan Marshall, Mikronesia, Nauru, Palau, dan Togo; suara abstain antara lain diberikan oleh Kanada dan Meksiko; sedangkan suara dukungan diberikan empat anggota tetap Dewan Keamanan PBB (China, Prancis, Rusia dan Inggris) serta sekutu utama AS di dunia Muslim. Ada 21 negara yang tidak ikut dalam pemungutan suara.

Siti Efi Farhati

Setelah pemungutan suara, juru bicara departemen negara AS Heather Nauert mengatakan AS sedang mengeksplorasi "berbagai pilihan" dan belum ada keputusan yang dibuat.

Kedaulatan Israel atas Yerusalem tidak pernah diakui secara internasional, dan semua negara saat ini mempertahankan kedutaan mereka di Tel Aviv. Sebaliknya, Presiden Trump memerintahkan departemen luar negeri AS memindahkan kedutaan AS untuk Israel ke Yerusalem.

Majelis Umum PBB beranggotakan 193 negara tersebut mengadakan sesi khusus darurat atas permintaan negara-negara Arab dan Muslim, yang mengecam keputusan Trump. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Pemurnian Aqidah, RMI NU Siti Efi Farhati

Senin, 12 Februari 2018

Upacara Bendera Awali Makesta Pelajar NU Ampel

Boyolali, Siti Efi Farhati. Upacara bendera menjadi awal pembukaan Makesta PAC IPNU-IPPNU Ampel pada Sabtu (9/10). Dengan rancangan layaknya upacara pada umumnya, sebanyak 90 peserta dengan khidmad mengikuti upacara pembukaan Makesta yang dilaksanakan di Lapangan Mekarsari, Kaligentong, Ampel, Boyolali. Upacara tersebut sebagai bukti kecintaan pelajar NU Ampel kepada NKRI.

Upacara Bendera Awali Makesta Pelajar NU Ampel (Sumber Gambar : Nu Online)
Upacara Bendera Awali Makesta Pelajar NU Ampel (Sumber Gambar : Nu Online)

Upacara Bendera Awali Makesta Pelajar NU Ampel

Menurut koordinator kegiatan, Arif Syaiful Anwar, pembukaan Makesta PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Ampel memang dirancang berbeda untuk mengurangi kebosanan peserta Makesta.

"Biasanya pembukaan Makesta dilakukan indoor (dalam ruangan) dan monoton. Kita ingin buat upacara bendera agar suasana lebih khidmad, sehingga ghirah (semangat) pada NKRI dan NU tumbuh," tutur pria yang kerap disapa Arif tersebut.

Makesta PAC IPNU-IPPNU Ampel yang dilaksanakan pada 9-10 Desember 2017 di Gedung NU Center Ampel berhasil merekrut 90 kader baru. Sebagai PAC baru, jumlah tersebut terhitung cukup banyak. Sebelum diadakan Makesta, dibentuk terlebih dahulu koordinator kegiatan yang terdiri dari kader pelajar NU Ampel yang kemudian menjadi garda terdepan dalam pelaksanaan Makesta.

Siti Efi Farhati

Selain diberikan pengetahuan tentang NU, Aswaja, Organisasi, IPNU-IPPNU, para peserta juga dikenalkan dengan aparat penegak hukum dari Polsek Ampel. Pengenalan tersebut diberikan agar peserta mengenal dan lebih dekat dengan aparat penegak hukum di Kecamaran Ampel.

"Kita turut hadirkan bapak-bapak polisi di Polsek Ampel agar pelajar NU juga lebih dekat dengan aparatur negara," terang Arif.

Kegiatan pengenalan tersebut diwujudkan dengan pelatihan PBB oleh Polsek Ampel.

Siti Efi Farhati

"Walaupun PBB adanya di Diklatama CBP-KPP, akan tetapi materi tersebut kita sisipkan di Makesta agar CBP-KPP juga dikenal para pelajar NU Ampel," tambah Arif.

Ketua MWC NU Kecamatan Ampel, KH Umar Al Faruq mengungkapkan kebahagiaanya atas terselenggaranya Makesta ini.

"Kami sangat bahagia karena di Ampel banom IPNU-IPPNU sudah terbentuk. Kami sangat berharap agar kader IPNU-IPPNU nantinya menjadi kader militan yang akan meneruskan perjuangan NU di Ampel ini," ungkapnya.

Kegiatan makesta diakhiri dengan outbond oleh tim fasilitator PC IPNU-IPPNU Kabupaten Boyolali. (Maghfur/Kendi Setiawan)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pondok Pesantren, Cerita, Pemurnian Aqidah Siti Efi Farhati

Senin, 05 Februari 2018

Gandeng Australia, LPBINU Tingkatkan Kapasitas Tanggap Bencana

Jakarta, Siti Efi Farhati. Pengurus Pusat Lembaga Penanunggalan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) peluncuran program “Peningkatan Kapasitas dalam Kesiapsiagaan Bencana untuk Respon yang Cepat dan Efektif” di Gedung PBNU Lantai 5 Jakarta Pusat, Selasa (14/6) sore.

Ketua LPBINU M Ali Yusuf memaparkan, berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), selama tahun 2015 menunjukkan dari jumlah kejadian, jumlah korban dan kerugian yang disebabkan longsor merupakan yang pertama, disusul banjir, dan puting beliung.?

BNPB juga menyebut ada lebih dari 1.500 bencana terjadi di Indonesia dan menyebabkan lebih dari 240 korban jiwa serta lebih dari 837 ribu orang mengungsi, serta kerugian material yang sangat besar.

Gandeng Australia, LPBINU Tingkatkan Kapasitas Tanggap Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
Gandeng Australia, LPBINU Tingkatkan Kapasitas Tanggap Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)

Gandeng Australia, LPBINU Tingkatkan Kapasitas Tanggap Bencana

Pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya termasuk masyarakat telah melakukan berbagai hal. Namun, penanggulangan bencana khususnya tanggap darurat bencana dirasakan belum maksimal. Banyaknya kejadian bencana yang terjadi belum dapat ditangani secara cepat, kurang efektif dan masih berdampak besar. Hal tersebut disebabkan di antaranya oleh minimnya kompetensi pemangku kepentingan. Tidak adanya sistem tanggap darurat bencana yang efektif yang dapat digunakan dalam aktivitas respon darurat, kurangnya koordinasi antara pemangku kepentingan, dan kurangnya korelasi antara kegiatan kesiapsiagaan dengan implementasi pada saat tanggap darurat.

Oleh karena itu, sambung Ali, Nahdlatul Ulama melalui LPBINU bekerjasama dengan Pemerintah Australia melalui Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) akan melaksanakan program “Mendukung Pemerintah dan Masyarakat Lokal untuk Meningkatkan Kapasitas dalam Kesiapsiagaan Bencana untuk Respon Bencana yang Cepat dan Efektif (SLOGAN-STEADY)”.

Tujuan umum dari program ini adalah untuk mengelola risiko dan dampak bencana melalui penguatan kapasitas kesiapsiagaan dan respon bencana. Upaya kesiapsiagaan bencana dibutuhkan untuk memastikan sistem dan prosedur dapat diimplementasikan. Kemudian sumber daya siap dimobilisasi secepat mungkin demi efektifitas kegiatan pemberian bantuan sehingga mempermudah tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi agar risiko dan dampak bencana dapat diminimalkan.

Siti Efi Farhati

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ani Isgiyati dari BNPB, Natalie Cohen ? dari Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia, Bina Suhendra ? dan Sultonul Huda dari PBNU. (Kendi Setiawan/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Pemurnian Aqidah, Pesantren Siti Efi Farhati

Kamis, 25 Januari 2018

Pagar Nusa Diminta Jadi Benteng NU

Bekasi, Siti Efi Farhati. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, meminta Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama (IPS-NU) Pagar Nusa bisa benar-benar menjadi benteng organisasi. Pagar Nusa diharapkan bisa membentengi NU dari gerusan aliran di luar ahlussunnah wal jamaah.

Pagar Nusa Diminta Jadi Benteng NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Diminta Jadi Benteng NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Diminta Jadi Benteng NU

Ini disampaikan Kiai Said saat membuka festival dan kejuaraan pencak silat Pagar Nusa di OSO Sport Center, Bekasi, Jawa Barat, Senin (2/4). Kelompok yang beraliran di luar ahlussunnah wal jamaah, menurut Kiai Said saat ini semakin menunjukkan kebenciannya terhadap NU.

"Tidak menjalankan dibaiyah, tidak suka ziarah kubur dan tidak suka maulud, kalau sekedar tidak suka dan tidak melakukan tindakan apapun, biarkan. Tapi kalau sudah menghina, mem-bidah-bidah-kan  dan mencaci maki, kita bisa mengambil tindakan," tegas Kiai Said disambut teriakan kata siap dari ratusan pendekar Pagar Nusa.

Siti Efi Farhati

Lebih lanjut Pagar Nusa diminta juga bisa berperan lebih luas untuk melindungi Islam dari gerusan berbagai macam aliran dari luar, seperti sekularisme dan wahabi atau salafi yang merupakan ektrem kanan.

Siti Efi Farhati

"Wahabi itu dulu, sekarang namanya sudah ganti menjadi salafi," tandas Kiai Said.

Pagar Nusa, masih kata Kiai Said, juga diharapkan bisa membentengi NU tidak hanya melalui kemampuan bela dirinya, melainkan tindakan pelestarian budaya. Kesenian dan budaya dinilai sebagai bagian dari aliran ahlussunnah wal jamaah yang tidak bisa dipisahkan, karena menjadi perantara Wali Songo dalam penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di tanah Jawa.

Sementara Ketua Umum IPS-NU Pagar Nusa KH Fuad Anwar, menyampaikan kesiapannya untuk organisasi yang dipimpinnya menjadi benteng NU. Mengenai festival dan kejuaraan pencak silat yang digelar mulai tanggal 2 hingga 5 April mendatang, dilaporkan diikuti oleh sekitar 450 pendekar dari 23 provinsi se Indonesia.

"Yang membuat kami bangga, sebagian besar peserta berusia rata-rata empat belas tahun. Mereka kader-kader luar biasa, yang tentunya dua puluh tahun mendatang kita harapkan bisa menjadi pewaris bangsa ini," ungkap Kiai Fuad.

Dalam pembukaan festival dan kejuaraan pencak silat Pagar Nusa, hadir pula di antaranya Menteri Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Helmi Faisal Zaini, Ketua BPN Kabupaten Bekasi Budi Suryanto, serta sejumlah pengurus PCNU Kabuaten Bekasi. Tamu undangan diusuguhi juga peragaan olah tenaga dalam dan praktek pengobatan alternatif pendekar Pagar Nusa.

Penulis: Emha Nabil Haroen

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Budaya, Pemurnian Aqidah Siti Efi Farhati

Minggu, 14 Januari 2018

Mengabdi kepada NU Berarti Mengabdi Bangsa

Cirebon, Siti Efi Farhati. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) serta Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Cirebon melantik Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Kecamatan Lemahabang di Masjid Besar An-Nur, samping alun-alun Sindang Laut Kecamatan Lemahabang Kabupaten Cirebon pada Sabtu (24/8).

Ketua Pembina PAC IPNU Kecamatan Lemahabang Kabupaten Cirebon Sidik Kriyani menuturkan, bahwa pengabdian IPNU dan IPPNU sebenarnya tidak hanya kepada kebesaran nama Nahdlatul Ulama, karena mengabdi kepada NU berarti sekaligus mengabdikan diri kepada bangsa dan negara.

Mengabdi kepada NU Berarti Mengabdi Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengabdi kepada NU Berarti Mengabdi Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengabdi kepada NU Berarti Mengabdi Bangsa

“Prinsip kader NU tidak hanya li islahi Ahlus Sunnah Wal Jamaah, tetapi juga harus li islahi Negara Kesatuan Republik Indonesia, berjuang bersama-sama NU untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.” tutur sosok yang juga pengurus GP Ansor Kabupaten Cirebon tersebut.

Siti Efi Farhati

Sementara Ketua PC IPPNU Kabupaten Cirebon Putri Hidayani dalam sambutannya mengungkapkan, bahwa modal penting sebagai kader Nahdlatul Ulama adalah pengabdian tulus tak kenal lelah. Melalui badan otonom di tingkat pelajar inilah para remaja dapat belajar untuk menjadi pribadi yang baik dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

“Insya Allah, dengan mengabdikan diri kepada NU, kiai, dan bangsa, kita akan mendapatkan berkah dan manfaat yang tidak sederhana dan dibutuhkan bagi masa depan,” ungkap Putri.

Siti Efi Farhati

Dalam acara yang melantik 20 orang pengurus baru di masing-masing PAC IPNU dan IPPNU Kecamatan Lemahabang tersebut, hadir Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Lemahabang, Kompol Muslikh, dan Camat Lemahabang, Udin Syafrudin. Keduanya menuturkan rasa bangga atas terbentuknya kepengurusan baru dari sebuah organisasi yang di dalamya sarat dengan kesantunan dan akhlak yang baik. 

Redaktur     : Abdullah Alawi 

Kontributor : Sobih Adnan

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Bahtsul Masail, Pertandingan, Pemurnian Aqidah Siti Efi Farhati

Kamis, 04 Januari 2018

Puasa dalam Perspektif Islam Nusantara

Oleh M Isom Yusqi

Di bulan suci Ramadhan seringkali kita mendengarkan kajian-kajian hikmah seputar ibadah puasa. Umumnya ibadah puasa dianalisis secara deduktif dari al-Qur’an maupun al-Hadis, sehingga memunculkan dan melahirkan beberapa aspek hukum fiqih yang terkait dengan puasa. Namun tidak jarang juga para penceramah meninjau ibadah puasa dalam berbagai perspektif dan dianalisis secara induktif dari korelasi dan signifikansi ibadah puasa dengan kehidupan sehari-hari umat Islam saat menjalankannya. Misalnya, ada yang mengkaji aspek-aspek kesehatan yang ditimbulkan dalam ibadah puasa. Ada juga para ustadz yang menyampaikan hikmah-hikmah ibadah puasa dalam sudut pandang spiritualitas, sosialitas, kesehatan jiwa manusia dan lain sebagainya.

Pada kesempatan ini penulis ingin mengelaborasi lebih jauh tentang manifestasi nilai-nilai Islam Nusantara (baca: Ahlus Sunnah wal Jamaah) dalam ibadah puasa. Hal ini dirasa penting karena kita sebagai kaum Nahdliyiin (baca; warga NU) perlu menyadari bahwa nilai-nilai Aswaja (Ahlussunnah waljamaah) harus menjadi inheren dan terinternalisasi ke dalam setiap pribadi orang NU. Antara NU dan Aswaja merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak terpisahkan. Aswaja merupakan akidah bagi orang NU di mana dan kapan saja berada khususnya di bumi Nusantara ini.

Puasa dalam Perspektif Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Puasa dalam Perspektif Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Puasa dalam Perspektif Islam Nusantara

Sebagai warga NU, jika tanpa akidah Aswaja tentu ke-NU-annya hanya nama dan topeng belaka. Eksistensi NU, Aswaja dan Tanah Air Indonesia (baca; nusantara) adalah tiga serangkai yang saling terkait dan berkelindan satu dengan lainnya. NU merupakan ormas terbesar yang diikuti oleh mayoritas umat Islam di wilayah NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dengan berdasarkan pada akidah Aswaja. Dengan demikian, Mayoritas Islam Indonesia (baca; Islam Nusantara) adalah Islam Aswaja, dan Islam Aswaja tercermin jelas pada Islam NU, Islam NU adalah Islamnya orang-orang Indonesia yang menganut paham Aswaja (Ahlus Sunnah wal Jamaah) yang selalu berprinsip pada nilai-nilai dasar yang mulia yaitu; al-Tawazun (bertindak seimbang), at-Tawassuth (berprilaku moderat) ,al-Tasamuh (bersikap toleran) dan al-I’tidal (berpihak pada kebenaran dan keadilan).

Keempat prinsip dan nilai-nilai dasar Aswaja di atas merupakan empat pilar warga NU dalam ber-aswaja (ber-Islam), berbangsa dan bernegara. Empat pilar al-Tawazun (bertindak seimbang), at-Tawassuth (berprilaku moderat) ,al-Tasamuh (bersikap toleran) dan al-I’tidal (berpihak pada kebenaran) sama sekali tidak bertentangan dengan empat pilar bangsa Indonesia; Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika, bahkan keempat prinsip dan nilai-nilai dasar Aswaja warga NU tersebut selalu menafasi dan menopang terhadap empat pilar bangsa Indonesia. Hal itu, sudah terbukti dalam sejarah perjuangan rakyat Indonesia, baik pada pra-kemerdekaan maupun pasca kemerdekaan bahwa warga NU selalu berada pada garda terdepan dalam membela Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika secara istiqomah dengan tetap berprinsip pada nilai-nilai dasar Aswaja.

Keempat prinsip dan nilai-nilai dasar Aswaja; al-Tawazun (bertindak seimbang), at-Tawassuth (berprilaku moderat), al-Tasamuh (bersikap toleran) dan al-I’tidal (berpihak pada kebenaran dan keadilan) merupakan metode berfikir dan pedoman hidup yang paripurna bagi warga NU dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Berpijak pada keempat prinsip itulah warga NU menjalankan ajaran Islam, berbangsa dan bernegara Indonesia, hidup berdampingan dengan umat beragama lain dan bersikap toleran baik antar umat beragama maupun intern umat Islam. Dengan keempat prinsip dan nilai-nilai dasar Aswaja tersebut, para ulama NU menyatakan, “resolusi jihad melawan penjajah, Indonesia merdeka berkat rahmat Allah SWT, NU menerima asas tunggal Pancasila, Hubungan umat Islam dan konsep wilayah NKRI sudah final, harga mati dan tidak perlu lagi ikhtiar membentuk negara Islam, NU kembali ke Khittah dan masalah-masalah lainnya tentang hubungan Islam dan negara.? ? ? ?

Siti Efi Farhati

Kembali pada manifestasi nilai-nilai Islam Nusantara (baca: Aswaja) dalam ibadah puasa di bulan suci Ramadhan, jika kita renungkan lebih mendalam, maka sangat terasa nilai-nilai al-Tawazun (bertindak seimbang), at-Tawassuth (berprilaku moderat), al-Tasamuh (bersikap toleran) dan al-I’tidal (berpihak pada kebenaran) terinternalisasi pada pribadi-pribadi orang yang berpuasa (al-sha-imiin dan al-sha-imaat) di Indonesia.

Pertama; al-Tawazun (bertindak seimbang)

Siti Efi Farhati

Dalam ibadah puasa nilai-nilai al-Tawazun (bertindak seimbang) tercermin sekali pada aspek-aspek menjaga keseimbangan mental-spiritual, fisik-psikis dan sosial kemasyarakatan. Pada aspek mental-spiritual pribadi manusia yang berpuasa dilatih keseimbangan rohani dan jasmani. Artinya dengan berpuasa manusia diingatkan agar tidak terlalu berat sebelah dan cenderung berlebihan pada hal-hal material yang berakibat tergrogoti nilai-nilai kemanusiaannya (dehumanisasi). Jiwa dan pikiran manusia tidak boleh terfokus terlalu jauh hanya mengejar duniawi (harta, tahta dan wanita) sehingga menimbulkan penyakit-penyakit hati (baca; gangguan psikis) seperti tamak-serakah, sombong, hedonis, matrialistis, cinta jabatan (hubbul manzilah), cinta popularitas (hubbus syuhrah), cinta kedudukan terpuji (hubbul Jah) dan lain sebagainya. Agar pribadi manusia seimbang (tawazun) secara jasmaniyah dan ruhaniyah dan tidak mengalami keterbelahan jiwa (split personality), manusia yang berpuasa dilatih mental-spiritualnya untuk rendah hati (tawadhu’), cinta akherat, takut kematian, cinta ilmu dan selalu bersyukur atas segala nikmat yang dikaruniakan Allah SWT.

Sedangkan pada aspek fisik-psikis termanifestasi secara gamblang bahwa pada saat manusia berpuasa otaknya secara otomatis akan menghidupkan program autolisis. Semua makhluk hidup dibekali sistem (fitrah) autolisis yang khas seperti saat pohon berpuasa sistem autolisisnya bekerja dengan menggugurkan dedaunan. Ketika autolisis manusia diaktifkan saat berpuasa, maka ia akan mengerti bagaimana seharusnya kondisi sehat dari setiap jenis sel manusia, di bagian tubuh mana seharusnya sel itu berada dan berapa banyak jumlah selnya bagi tubuh sehat yang ideal. Autolisis akan meng-oksidasi lemak menjadi keton dan menghilangkan sel-sel rusak dan mati, menghilangkan benjolan hingga tumor serta timbunan lemak yg sering menjadi sarang zat beracun. Dengan demikian tubuh manusia menjadi seimbang (tawazun) dan sehat wal afiat saat mereka benar-benar berpuasa.? ? ? ?

Keseimbangan (al-Tawazun) pada aspek sosial kemasyarakatan juga akan terjadi pada orang-orang yang berpuasa. Saat berpuasa ketimpangan sosial akan segera dieliminir dengan digalakkannya shodaqoh, infak dan zakat yang menimbulkan rasa kepedulian sosial. Manusia-manusia kaya akan ikut juga merasakan bagaimana laparnya orang-orang faqir miskin. Kehidupan sosial kemasyarakatan menjadi seimbang karena kesalehan individual dan kesalehan sosial berpadu menjadi satu.

? Kedua; at-Tawassuth (berprilaku moderat)

Sikap tengah-tengah antara dua titik ekstrem adalah at-Tawassuth (berprilaku moderat). Ibadah puasa merupakan sikap tengah-tengah antara materialisme ekstrim dengan mengabaikan dimensi spiritual-ruhaniah dalam kehidupan manusia sehingga bersikap hedonis, atheis dan materialistis tidak perlu berpuasa dan berlapar-lapar diri sepanjang tahun. Dan yang kedua sikap spriritualisme ekstrem yang tidak bersikap adil terhadap aspek-aspek jasmaniah sehingga berpuasa sepanjang tahun (shoum ad-Dahr), sambil mengabaikan hak-hak tubuh, keluarga dan masyarakat. Sikap at-Tawassuth (berprilaku moderat) pada orang orang yang berpuasa mengejawantah pada pribadi dan masyarakat dengan sikap yang tenang, tentram, adil dan sejahtera.

Ketiga; al-Tasamuh (bersikap toleran)

Ajaran at-Tasamuh mengandung makna bersikap toleransi, saling menghargai, lapang dada, suka memaafkan dan bersikap terbuka dalam menghadapi perbedaan, kemajemukan dan pluralitas. Prinsip ketiga dari nilai dasar Aswaja (baca: Islam Nusantara) ini sangat terlihat jelas pada pribadi orang-orang yang berpuasa. Misalnya, Adanya perbedaan penetapan awal Ramadhan, warga NU dan umat Islam Indonesia mensikapi hal itu dengan penuh toleran, saling menghargai dan bersikap lapang dada. Kedua, perbedaan jumlah rakaat shalat taraweh juga disikapi seperti di atas.

Bahkan sikap toleran itu harus ditunjukkan oleh seorang muslim yang terhormat dengan menghormati orang yang tidak berpuasa, demi saling menghargai dan menghormati. Nilai al-Tasamuh (bersikap toleran) bagi warga NU dalam Islam Nusantara tersebut sudah mendarah daging dalam setiap kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Tidak sekedar pada saat bulan puasa, bahkan di luar bulan ramadhan pun warga Islam Nusantara tetap mengimplementasikan nilai-nilai Islam Aswaja yang nota bene adalah umat Islam Indonesia.

Keempat: al-I’tidal (berpihak pada kebenaran)

Ajaran al-I’tidal (berpihak pada kebenaran dan keadilan) merupakan sikap yang adil dan konsisten pada hal-hal yang lurus, benar dan tepat. Nilai al-I’tidal (berpihak pada kebenaran dan keadilan) dalam ibadah puasa termanifestasi dengan jelas bahwa secara spiritual, berpuasa merupakan sikap yang adil dan konsisten pada prinsip olah kesucian rohani, dan berpuasa merupakan ibadah ilahiyah yang tertuju khusus dan terfokuskan hanya karena dan untuk Allah SWT bukan untuk selain-NYA. Dalam ibadah puasa manusia konsisten mensucikan diri untuk mendekatkan ruhnya kepada yang Maha Suci. Manusia saat berpuasa selalu memuji Allah SWT (bertahmid ) dan membesarkan nama Allah SWT (bertakbir) untuk melepaskan dirinya dari pujian-pujian yang pada hakekatnya pujian itu hanya milik Allah SWT. Begitu juga dengan takbir, manusia hanya ingin membesarkan nama Allah SWT bukan ingin membesarkan dan mengagungkan uang, harta, tahta dan materi duniawi yang tidak kekal abadi. Bertitik tolak dari konsistensi nilai-nilai ilahiyah (al-i’tidal) tersebut maka pasti berdampak positif pada sikap yang adil dan konsisten terhadap diri manusia sendiri, keluarga dan masyarakat demi menjadikan pribadinya yang sholeh secara individual dan sekaligus sholeh secara sosial. Selain itu, berakibat baik juga dalam menciptakan keluarga yang sakinah mawaddah dan rahmah, serta mewujudkan masyarakat/negaranya yang ber-keadilan sosial bagi masyarakat (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur). ? Wallahu a’lam bisshawab.....

?

Prof. Dr. M. IsomYusqi, MA, Direktur Pascasarjana STAINU Jakarta ? ? ? ? ?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nusantara, Pemurnian Aqidah Siti Efi Farhati

Senin, 01 Januari 2018

Mahbub Djunaidi Pelit untuk Foya-foya, Royal untuk Buku

Jakarta, Siti Efi Farhati?



Salah seorang putra H. Mahbub Djunaidi, Yuri Mahatma menceritakan sosok ayahnya. Menurut dia, Mahbub adalah orang yang sederhana dan penuh perhitungan. Dia bukan tipe orang yang suka berfoya-foya.? ?

Mahbub Djunaidi Pelit untuk Foya-foya, Royal untuk Buku (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahbub Djunaidi Pelit untuk Foya-foya, Royal untuk Buku (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahbub Djunaidi Pelit untuk Foya-foya, Royal untuk Buku

“Papa bukan orang yang banyak duit, tidak makan di luar dan banyak jalan-jalan. Tapi satu hal, untuk kebutuhan buku, dia enggak pelit. Sangat tidak pelit,” katanya di sela Haul H. Mahbub Djunaidi ke-22 bertajuk Jazz dan Esai-esai H. Mahbub Djunaidi yang digelar Omah Aksoro dan PMII UNUSIA di lapangan parkir UNISIA, Jakarta, Kamis malam (5/10).? ?

Kalau anak-anaknya berulang tahun, Mahbub Djunaidi yang pernah aktif di IPNU, Ketua Umum pertama PB PMII, GP Ansor, Pertanu, Lesbumi NU, Mustasyar PBNU 1989-1994 itu akan memberi buku dengan selalu ada tanda tangannya.?

Pada ulang tahun kedelapan, Yuri Mahatma mendapat hadiah buku 80 Hari Keliling Dunia karangan Jules Gabriel Verne. Buku karangan orang Prancis itu kemudian diterjemahkan Mahbub sendiri dari judul aslinya Around the World in Eighty Days.?

Siti Efi Farhati

“Pernah diajak bapak bareng, terserah beli buku mau apa, bapak yang bayarin. Untuk yang lain, yangtidak penting-penting, dia pelit,” jelasnya.?

Anak Mahbub yang lain, Mira, pernah menceritakan, suatu ketika ayahnya pulang dari Prancis. Ia membawa oleh-oleh sekoper besar. Istri dan anak-anaknya telah begitu senang akan mendapatkan hadiah dari Eropa. Namun, ketika dibuka, hanyalah buku. Tak ada yang lain.

Ajaran hidup yang ditekankan Mahbub Djunaidi kepada anak-anaknya adalah disiplin dan menghargai waktu. Esai-esai dan terjemahannya yang sangat lentur itu diciptakan oleh penulis disiplin dan penuh penghargaan terhadap waktu.? ?

“Banget disiplin. Terutama soal waktu, memanfaatkan waktu. Orangnya disiplin,” kata Yuri yang dikenal sebagai musisi jazz yang tinggal di Bali itu. (Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Pertandingan, Pemurnian Aqidah, Kajian Islam Siti Efi Farhati

Minggu, 31 Desember 2017

Doa bagi yang Ingin Punya Anak Laki-laki

Anak ialah salah satu rezeki istimewa untuk pasangan suami-istri yang sudah sah menikah. Anak merupakan penerus keturunan bagi para orang tua. Anak tak hanya menambah kebahagiaan berumah tanga, tapi juga akan menjadi investasi bagi kedua orang tua baik di dunia dan di akhirat. Hal tersebut dikarenakan anak sudah diwajibkan untuk selalu berbakti, menghormati dan merawat kedua orang tua. Doa anak yang saleh dan salehah akan menjadi salah satu pahala yang tidak akan pernah terputus bagi para orang tua yang didoakan.

Tanpa bermaksud membeda-bedakan, umumnya beberapa orang tua menginginkan memiliki anak lelaki. Ada banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut, misalkan karena sudah punya anak perempuan maka sekarang menginginkan anak lelaki, atau karena ingin memiliki anak yang kelak bisa melindungi keluarga, sementara sifat melindungi itu potensinya lebih besar dimiliki oleh anak lelaki.

Doa bagi yang Ingin Punya Anak Laki-laki (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa bagi yang Ingin Punya Anak Laki-laki (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa bagi yang Ingin Punya Anak Laki-laki

Bagi orang tua yang memiliki keinginan tersebut, Syekh Sulaiman al -Bujairami dalam kitab al-Bujairimi ‘ala al-Khathib (Beirut: Dar al-Fikr, 1995), juz III, hal. 245 meriwayatkan sebuah doa yang bisa diamalkan agar bisa memiliki anak lelaki. Cara melafalkan doa ini ialah dengan meletakkan tangan pada perut ibu hamil di saat awal-awal kehamilan, sambil membaca doa:

Siti Efi Farhati

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Bismillâhirrahmânirrahîm. Allâhumma innî usammî mâ fî bathnihâ Muhammadan, faj’alhu lî dzakaran

“Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ya Allah, sesungguhnya aku (akan) menamai anak yang terkandung dalam perut ibunya ini dengan nama Muhammad, maka jadikanlah ia sebagai lelaki bagiku.”

Siti Efi Farhati

Demikian, selamat diamalkan dan semoga diijabah oleh Allah. Amin. Wallahu a’lam bi shawab.

(Muhammad Ibnu Sahroji)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pemurnian Aqidah, Halaqoh Siti Efi Farhati

Kamis, 21 Desember 2017

Sastra dan Santri di Mata Zawawi Imron

Pamekasan, Siti Efi Farhati

Kata sastra dan santri sejatinya berkait kelindan. Keduanya memiliki hubungan linguistik yang nyaris tidak bisa dipisahkan. Bahkan, hingga para ranah konteks sosio-kulturnya pun, kedua kata tersebut hampir selalu bergandengan.

Demikian penjelasan tokoh sastra internasional D Zawawi Imron, saat mengisi kuliah umum Program Studi Ilmu al-Quran dan Tafsir STIU Al-Mujtama Pamekasan, Rabu (17/2/2016). "Kandungan Sastra dalam al-Quran" menjadi tema utama dalam kegiatan yang dihadiri mahasiswa STIU Al-Mujtama’ dan masyarakat umum tersebut.

Sastra dan Santri di Mata Zawawi Imron (Sumber Gambar : Nu Online)
Sastra dan Santri di Mata Zawawi Imron (Sumber Gambar : Nu Online)

Sastra dan Santri di Mata Zawawi Imron

Di mata Penyair Celurit Emas ini, santri sesungguhnya berasal dari kata sastra, yang punya arti orang yang mengkaji kitab suci dan keindahannya. Jadi, sastra itu masdar. Sementara sastri itu isim fail-nya.?

“Namun, pengucapan sastri mengalami erosi bahasa. Akhirnya, menjadi santri,” ungkapnya.

Siti Efi Farhati

Kegiatan yang ditempatkan di Gedung Serbaguna Pesantren Al-Mujtama ini dihadiri oleh berbagai kalangan pelajar dan perwakilan pesantren sekitar kampus. Sebanyak 300 kursi yang disediakan panitia, seluruhnya terpakai.?

Dan sebagai motivasi bagi Mahasiswa, Zawawi berpesan melalui puisi Imam Syafii yang berbunyi: ? ? ? ? ? # ? ? ? ? (Barang siapa yang semasa mudanya malas belajar, sebaiknya ditakbirkan empat kali sebagai simpul kematiannya).

Kuliah umum kali ini dimoderatori oleh Zainal Arif dan menjadikan suasana lebih semarak dengan diawali pembacaan puisi karya Zawawi Imron. Sampai akhir acara pun, tepuk tangan simpatik dari audien silih berganti menyambut petikan pantun dan puisi Zawawi yang dibacakannya sendiri di sela-sela ceramah.?

Puncaknya, puisi dengan judul "Ibu" yang ditulis saat Zawawi berusia 16 tahun dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia, dibacakan secara lengkap.

Siti Efi Farhati

Sebelum menutup kuliahnya, Zawawi Imron membuatkan puisi bagi mahasiswa STIU Al-Mujtama’:

Plakpak cintaku

Mahasiswa Al-Mujtama sayangku

Jejakku kutinggal di sini

Senyummu kubawa pergi

(Hairul Anam/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Khutbah, Pendidikan, Pemurnian Aqidah Siti Efi Farhati

Senin, 18 Desember 2017

LAZISNU Serukan Muslim Indonesia Galang Dana untuk Palestina

Jakarta,Siti Efi Farhati. Direktur Eksekutif Pengurus Pusat? Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqoh (LAZISNU) H Amir Ma’ruf menyerukan umat Islam Indonesia untuk membantu korban tragedi kemanusiaan di Palestina. Bantuan bisa dilakukan dengan mengumpulkan dana yang akan disalurkan ke negara tersebut.

LAZISNU Serukan Muslim Indonesia Galang Dana untuk Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Serukan Muslim Indonesia Galang Dana untuk Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Serukan Muslim Indonesia Galang Dana untuk Palestina

Menurut Amir, seruan itu juga sudah disampaikan kepada cabang-cabang LAZISNU di tiap tingkatan untuk segera menggalang dana. Ia berharap, tidak hanya LAZISNU yang melakukan hal itu, tapi banom, lajnah, dan lembaga NU.

Amir mengatakan, Palestina saat ini ada banyak luka dan korban nyawa, serta kerusakan infrastruktur. “Maka yang paling pokok, LAZISNU menyerukan mMuslim Indonesia untuk membantu. Mereka perlu dukungan internasional, terutama dunia Islam,” tegasnya.

Siti Efi Farhati

Menurut Amir, warga Muslim dunia harus terlibat sesuai kapasitas masing-masing. Bagi yang punya kekuatan fisik, harus membantu dan menjadi relawan ke sana. Bagi yang punya rezeki mari membantu bareng-bareng berrsama LAZISNU. “Kita akan kumpulkan dulu dana, nanti akan dikomunikasikan dan kirimkan ke sana.”

Serta bagi yang punya kekuatan diplomasi, harus segera dilakukan. LAZISNU meminta pemerintah Indonesia untuk berperan aktif melalui diplomasi internasional supaya tragedi ini segera diselesaikan serta mendesak PBB sama berpean aktif menghadang kejadian itu. “Kali ini banyak korban anak-anak. Ini masa depan bangsa Muslim dipertaruhkan,” tegasnya. (Abdullah Alawi)

?

Siti Efi Farhati

#Mari salurkan donasi melalui Rek BNI 0108575648 atas nama Lazis NU, dan akan disalurkan berupa program makanan dan obat-obatan serta bantuan tempat tinggal langsung kepada para korban di Gaza.

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nasional, Nusantara, Pemurnian Aqidah Siti Efi Farhati

Senin, 11 Desember 2017

Ansor Way Kanan: Kembalikan Donasi Waralaba ke Daerah

Way Kanan, Siti Efi Farhati

Kabupaten Way Kanan, Lampung, memiliki luas sekitar 392.163 hektar atau 3.921,63 kilometer persegi, didiami oleh 415.078 jiwa dari 274.230 kepala keluarga. Berdasarkan Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) Badan Pusat Statistik (BPS) setempat 2013, jumlah penduduk miskin tercatat 32.791 kepala keluarga.

Ansor Way Kanan: Kembalikan Donasi Waralaba ke Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Way Kanan: Kembalikan Donasi Waralaba ke Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Way Kanan: Kembalikan Donasi Waralaba ke Daerah

"Pengembalian donasi waralaba ke daerah merupakan salah satu solusi untuk mengatasi persoalan tersebut," ujar Ketua Pimpinan Gerakan Pemuda Ansor Way Kanan Gatot Arifianto di Blambangan Umpu, Kamis (10/3).

Berdasarkan data BPS itu, jumlah penduduk miskin dimaksud adalah rumah tangga sasaran penerima manfaat dan kuantum penyaluran beras program Penyaluran Beras Rumah Tangga Miskin (Raskin) Tahun 2013.

Siti Efi Farhati

Tertinggi di Kecamatan Blambangan Umpu dengan jumlah rumah tangga miskin 4.998 KK atau sekitar 15,24 persen dan jumlah penduduk miskin terendah terdapat di kecamatan Bahuga dengan jumlah penduduk miskin sebesar 786 KK atau sekitar 2,4 persen.

"Donasi dari sisa pembelian masyarakat di waralaba-waralaba yang ada menurut sejumlah pekerja tersalur ke pusat waralaba perdagangan retail tersebut. Lalu digunakan untuk apa, disalurkan ke mana, bagaimana penyalurannya, untuk siapa dan di mana?" ujar mantan Sekretaris Jenderal Denting Biola untuk Indonesia itu lagi.

Siti Efi Farhati

Penggiat Gusdurian di Lampung ini berpendapat, akan lebih maslahat kalau jumlah donasi terhimpun oleh waralaba dari masyarakat Way Kanan disalurkan kembali ke daerah berada di selatan Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur Provinsi Sumatera Selatan ini guna membantu 32.791 KK yang tercatat masih miskin.

"Perusahaan perdagangan retail tidak akan rugi karena setiap donasi masuk selalu tercatat jumlahnya, konsepnya dari masyarakat dan dikembalikan ke masyarakat. Gerakan Pemuda Ansor Way Kanan mengharapkan pemerintah daerah mengambil kebijakan agar donasi waralaba bisa dikembalikan dan selanjutnya digunakan untuk pemberdayaan masyarakat kurang mampu," ujar alumni Civic Education for Future Indonesian Leaders (CEFIL) itu pula.

Sejumlah masyarakat setempat menyatakan belum pernah mendengar perusahaan perdagangan retail di Way Kanan yang terdata lebih dari 10 itu menggelar kegiatan sosial seperti sunatan massal.

Hal senada juga ditegaskan Kepala Bidang Tenaga Kerja Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Way Kanan Sutrisno Utomo.

"Belum pernah tahu atau mendengar ada kegiatan sosial seperti sunatan massal digelar oleh waralaba yang ada di daerah ini," ungkap Sutrisno. (Disisi Saidi Fatah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Jadwal Kajian, Pemurnian Aqidah Siti Efi Farhati

Rabu, 06 Desember 2017

Jihad Maritim Syeikh Abdushamad al-Palimbani

Oleh: Muhammad Idris Masudi* Hingga tulisan ini dikerjakan, mungkin sudah puluhan tulisan terkait tema Islam Nusantara bertebaran di berbagai media baik cetak maupun elektronik, baik pro maupun kontra. Melejitnya isu ini ditengarai disebabkan oleh sejumlah faktor. 

Konon, tema yang awalnya “adem-ayem” ini, menjadi buah bibir perbincangan masyarakat luas, terutama di dunia sosial-media, mencapai momentumnya pasca acara di Istana Presiden, setelah munculnya pembacaan al-Quran dengan menggunakan “langgam Jawa”. 

Jihad Maritim Syeikh Abdushamad al-Palimbani (Sumber Gambar : Nu Online)
Jihad Maritim Syeikh Abdushamad al-Palimbani (Sumber Gambar : Nu Online)

Jihad Maritim Syeikh Abdushamad al-Palimbani

Perlu ditegaskan di sini bahwa sebelum ramainya diskursus Islam Nusantara, pada tahun 2012, STAINU Jakarta telah mendapatkan izin dari kementerian Agama untuk membuka prodi Pascasarjana Sejarah Kebudayaan Islam dengan konsentrasi Islam Nusantara. Pembukaan prodi “baru” ini bahkan meminjam istilah Kiai Said, “jurusan Islam Nusantara ini merupakan jurusan satu-satunya di dunia dan akhirat”. 

Sejumlah kalangan akademisi “mencibir” dengan mengatakan bahwa Islam Nusantara terlalu “jawa sentris”. Karena perbincangan tentang Nusantara yang ditulis oleh sejumlah kalangan yang pro terhadap istilah ini lebih banyak membicarakan soal Islam Jawa.

Siti Efi Farhati

Tulisan pendek di bawah ini hendak mencoba menepis anggapan “miring” di atas dengan menyuguhkan sebuah ijtihad yang –sepanjang pembacaan penulis- hanya pernah dilakukan oleh ulama Nusantara. Yaitu ijtihad yang dilakukan oleh Syeikh Abdus Shamad al-Palimbani tentang keutamaan jihad di lautan dalam kitabnya berjudul “Nashihatul Muslimin wa Tadzkirat al-Mu’minin fi Fadhail Jihad wa Karamat al-Mujahidin fi Sabilillah.”

Siti Efi Farhati

Sekilas tentang Syaikh Abdus Shamad al-Palimbani

Syeikh Abdusshamad al-Falimbani dilahirkan pada tahun 1116 H/ 1704 M,[1] di Palembang. Ayahnya, Syeikh Abdul Jalil bin Syeikh Abdul Wahab bin Syeikh Ahmad al-Mahdani adalah seorang ulama yang berasal dari Yaman dan dilantik menjadi Mufti di Kedah (sekarang daerah Malaysia) pada awal abad ke 18M. Sementara ibunya adalah wanita Palembang yang diperistri  oleh Syeikh Abdul Jalil setelah sebelumnya menikahi puteri Dato’ Sri Maharaja Dewa di Kedah.

Perjalanan Intelektual

Syaikh Abdushamad hidup dalam keluarga yang mencintai ilmu tasawuf.[2] Sebagai anak dari seorang mufti, Abdushamad kecil dididik langsung oleh ayahnya, Syeikh Abdul Jalil di Kedah. Kemudian Syeikh Abdushamad di bawah ayahnya untuk mendalami ilmu agama di negeri Patani; di antaranya adalah Pondok Bendang Gucil di Kerisik atau Pondok Kuala Berkah dan Pondok Semala yang kesemuanya berada di daerah Patani, Thailand. 

Pengembaraan intelektualnya tidak hanya berhenti di Patani, melainkan ke India[4], hingga sampai ke Madinah dan Makkah. Sebagaimana dijelaskan Azra dalam bukunya berjudul Jaringan Ulama Nusantara, Madinah dan Makkah (Haramayn) pada masa itu menjadi sebuah pusat intelektual dunia Islam. Sehingga wajar, bila Abdushamad memilih untuk singgah dan belajar di Haramayn.

Guru-Gurunya:

1. Muhammad bin Abdul Karim Al-Sammani

2. Muhammad bin Sulayman al-Kurdi

3. Abdul Mun’in al-Damanhuri

4. Ibrahim al-Rais, Muhammad Murad

5. Muhammad al-Mashri

6. Athaullah al-Mashri

Karya-Karyanya:

1. Zahratul Murid fi Bayani Kalimat al-Tauhid, 1178/1764 M.

2. Risalah Pada Menyatakan Sebab Yang Diharamkan Bagi Nikah, 1179 H/ 1765

3. Hidayat al-Salikin fi Suluk Maslak al-Muttaqin, 1192 H/1780

4. Siyar al-Salikin ila Ibadat Rabb al-Alamin, 1194 H/ 1780

5. al-Urwat al-Wutsqa wa Silsilat Waliyil Atqa

6. Ratib Syeikh Abdushamad al-Falimbani

7. Nashihat al-Muslimin wa Tadzkirat al-Mu’minin fi Fadhail Jihad wa Karamat al-Mujtahidin fi Sabilillah.

8. Al-Risalat fi Kayfiyat Ratib Laylat al-Jum’ah

9. Mulhiqun fi Bayan Fawaid al-Nafi’ah fi Jihad fi Sabilillah

10. Zadul Muttaqin fi Tawhid Rabbil ‘Alamin

11. Ilmu Tasawuf

12. Mulkhishut Tuhbat Mafdhah Min al-Rahmat al-Mahdhah ‘Alayhi al-Shalat wa al-Salam

13. Kitab Mi’raj

14. Anis Muttaqien

15. Puisi Kemenangan Kedah

Kontekstualisasi Keutamaan Hadis-Hadis Jihad Maritim

Bagi penulis, yang salah satu kontek menarik dalam karya Syeikh Abdus Shamad ini adalah bagaimana cara beliau mengkontekstualisasikan hadis-hadis nabi. Syaikh Abdus Shamad tentunya menyadari betul bahwa nusantara adalah Negara maritim yang memiliki luas lautan yang lebih besar ketimbang daratan (dua pertiga lautan dan sepertiga daratan). 

Hal ini menjadi salah satu poin penting untung menyerukan jihad di lautan. Melihat potensi ini, Syaikh Abdushamad mendasarkan seruan tersebut dengan mengutip sejumlah hadis tentang keutamaan jihad perang di laut yang di dalam teks hadisnya mencantumkan bahwa pahala perang di lautan lebih besar ketimbang jihad di daratan. Hemat penulis, apa yang dilakukan oleh Syaikh Abdushamad ini menjadi menarik karena dalam kitab-kitab fikih konvensional, jarang- untuk tidak menemukan tidak sama sekali- ditemukan pembahasan tentang jihad di lautan. Salah satu hadis yang dikutip oleh Syaikh Abdushamad dalam menjelaskan tentang keutamaan jihad di lautan adalah hadis riwayat  al-Thabrani:

? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?[3] 

Artinya: Keutamaan jihad di jalur lautan disbanding jihad di daratan sebagaimana keutamaan jihad di daratan dibandingkan orang yang tidak ikut berperang dan tidak menginfakkan hartanya untuk perang. 

Hadis lain (riwayat Abu Nu’aim dalam kitab Hilyat al-Awliya’) yang cukup “kontroversial” (ditilik dalam cara penukilan hadis yang tidak menggunakan kitab-kitab hadis kanonik) dalam ranah hadis namun dikutip oleh Syaikh Abdushamad untuk memicu semangat jihad di jalur lautan adalah:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? [4] 

Artinya: Semua dosa orang yang mati syahid yang bertempur di daratan diampuni oleh Allah kecuali dalam masalah hutang (materi) dan amanah, sementara semua dosa orang mati syahid, bahkan hutang (hutang yang bersifat haqqullah, bukan haq adami, pent) dan amanah sekalipun.

Penutup

Dari pemaparan singkat ini, kita bisa mengambil banyak faidah dan teladan dari Syaikh Abdus Shamad dalam upayanya membumikan hadis-hadis Nabi dengan melihat pada konteks kekinian dan kedisinian. Sebagaimana para sarjana klasik sering kali mengatakan bahwa “al-Nash mutanahi wal waqa’i’ la tatanaha”, teks-teks al-Quran dan hadis Nabi terbatas sementara realitas terus menerus berjalan sesuai perkembangan zaman. 

Oleh karena itu, ijtihad-ijtihad kreatif harus tetap dilakukan untuk merespon tantangan zaman. Di sisi lain, tulisan ini juga menegaskan bahwa yang dimaksud Islam Nusantara di sini bukan “jawa sentris”, melainkan meliputi seluruh wilayah nusantara. Dan Syeikh Abdus Shamad al-Falimbani ini salah satu contoh terbaik dari deretan ulama nusantara yang non-Jawa.  

*) Staff bidang Akademik Pascasarjana Islam Nusantara di STAINU Jakarta 

Sumber Bacaan:

[1] Sejumah sumber sejarah yang mengulas biografi Syaikh Abdushamad tidak menyebutkan tahun kelahirannya, konon, kata Azyumardi Azra, hanya dalam buku Tarikh Salasilah Negri Kedah yang memberikan angka tahun kelahiran dan wafatnya. Lihat, Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVII (Jakarta; Kencana, 2007)cet.3, h.306 

[2] Ahmad Luthfi, Muqaddimah Tahqiq Nashihat al-Muslimin wa Tadzkirat al-Mu’minin fi Fadhail Jihad wa Karamat al-Mujahidin fi Sabilillah, (Jakarta; Wuzarat al-Syuun al-Diniyyah Lil Jumhuriyyah al-Indunisiyah, 2009) cet.1, h.8

[3] Sanad hadis ini oleh al-Munawi dalam Fayd al-Qadir dinilai hasan, lihat Ahmad Luthfi dalam catatan kaki kitab Nashihat al-Muslimin, h. 80. 

[4] Hadis ini menurut muhaqqiqnya, Ahmad Luthfi, terdapat dalam kitab silsilat al-ahadits al-dhaifah wa al-Mawdhu’atnya al-Albani

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Hadits, Habib, Pemurnian Aqidah Siti Efi Farhati

Minggu, 03 Desember 2017

Sekjen PBNU Jelaskan Model Konsolidasi NU

Jakarta, Siti Efi Farhati. PBNU terus berupaya membangun model konsolidasi gerakan NU. Model ini digunakan untuk menata organisasi dengan rapi, sehingga kekuatan NU di berbagai daerah bisa bergerak maksimal. Kekuatan NU jangan hanya terkonsentrasi di Jawa saja, tetapi juga harus meluas dan mencakup semua daerah, khususnya Indonesia timur.

Demikian ditegaskan Helmy Faishal Zaini, Sekretaris Jenderal PBNU dalam acara silaturahim PWNU se-Indonesia dan PBNU di lantai 8 Kantor PBNU, Selasa (15/12).

Sekjen PBNU Jelaskan Model Konsolidasi NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekjen PBNU Jelaskan Model Konsolidasi NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekjen PBNU Jelaskan Model Konsolidasi NU

"Kita membagi model konsolidasi dalam tiga hal. Pertama, Jawa-Lampung-NTB. Dalam model ini, konsolidasi harus sampai di tingkat ranting. Jawa Timur bahkan sudah menjadi contoh ideal untuk konsolidasi anak ranting (masjid). Kedua, konsolidasi luar Jawa. Dalam model ini, konsolidasi harus sampai pada tingkat MWCNU (kecamatan). Yang ketiga, konsolidasi daerah khusus. Ini konsolidasi tingkat cabang (PCNU)," terang Helmy.

Siti Efi Farhati

Helmy juga mencontohkan bahwa antara Jawa Timur dan Papua sangat berbeda. Jawa Timur sudah sampai pada tingkat anak ranting, sementara di Papua, kepengurusan beberapa cabang ternyata ada di satu kantor. Bahkan ada yang satu Rais Syuriyah menjadi Rais Syuriyah untuk tiga cabang. Kantornya juga satu tempat.

"Daerah khusus, seperti Papua, harus menjadi perhatian serius. Ini gerak langkah nyata, agar konsolidasi NU secara menyeluruh sampai ke tingkat ranting, bahkan anak ranting," tambahnya.

Siti Efi Farhati

Untuk itu, lanjut Helmy, seluruh kepengurusan NU di tingkat wilayah dan cabang harus selalu koordinasi dengan PBNU, sehingga diupayakan langkah-langkah strategis untuk membangun kekuatan NU.

"Kita akan bekerja keras. Konsolidasi organisasi akan terus kita kawal dan kita perbaiki, sehingga ke depan, NU benar-benar kuat secara kelembagaan dan peran sosial di masyarakat," tegasnya. (Madun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati AlaNu, Pertandingan, Pemurnian Aqidah Siti Efi Farhati

RMI Akan Kumpulkan Pengasuh Pesantren

Jakarta, Siti Efi Farhati. Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) atau asosiasi pesantren NU berencana akan mengumpulkan para pengasuh pesantren se-Jawa. Kegiatan ini ditujukan untuk memperkuat peran pesantren di tengah masyarakat.

Draf acuan kegiatan (ToR) yang diterima Siti Efi Farhati menyebutkan, pertemuan para kiai ini akan diwujudkan dalam bentuk halaqah bertema “Penguatan Peran Pesantren sebagai Pusat Peradaban” di Jakarta, 29-30 Desember 2012.

RMI Akan Kumpulkan Pengasuh Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
RMI Akan Kumpulkan Pengasuh Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

RMI Akan Kumpulkan Pengasuh Pesantren

Rencananya, 40 pengasuh pesantren yang menjadi peserta akan memetakan potensi pesantren, terutama dari segi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancamannya; merumuskan strategi penguatan kelembagaan dan kerja sama lintas sektor; serta merumuskan aksi bagi upaya penguatan pesantren sebagai pusat peradaban.

Siti Efi Farhati

Bersama Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Departemen Agama, RMI bertekad akan mengembalikan fungsi pesantren sebagai agen perubahan sebagaimana yang dilakukan generasi pendahulu.

“Pesantren tidak hanya  menjadi lembaga agama, tetapi juga menjadi lembaga sosial yang mengemban fungsi-fungsi kemasyarakatan bagi komunitas di sekitarnya,” demikian bunyi ToR acara halaqah pengasuh pesantren ini.

Siti Efi Farhati

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pemurnian Aqidah, Santri, Pertandingan Siti Efi Farhati

Sabtu, 02 Desember 2017

2100 Pramuka Madrasah Ikrar Cinta NKRI di Bangka Belitung

Bangka Tengah, Siti Efi Farhati. Perkemahan Pramuka Madrasah Nasional (PPMN) III di Bangka Tengah, Kepualauan Bangka Belitung mendeklarasikan ikrar cinta NKRI. Ikrar ini diikuti oleh 864 kontingen peserta dari 34 provinsi dan sekitar 1236 pramuka madrasah di seluruh Bangka Belitung yang menghadiri proses pembukaan PPMN pada Selasa (16/5).

Ikrar cinta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini dipimpin oleh kontingen asal Maluku Utara Saiful Jufri (siswa MAN 1 Halmahera Selatan) dan kontingen Sulawesi Utara Lisa Kobandaha (siswi MAN Model Manado).

2100 Pramuka Madrasah Ikrar Cinta NKRI di Bangka Belitung (Sumber Gambar : Nu Online)
2100 Pramuka Madrasah Ikrar Cinta NKRI di Bangka Belitung (Sumber Gambar : Nu Online)

2100 Pramuka Madrasah Ikrar Cinta NKRI di Bangka Belitung

Ikrar ini diiringi oleh 68 siswa madrasah yang mengenakan pakaian adat daerahnya masing-masing. Rombongan yang dinamakan pasukan Bhinneka Tunggal Ika ini berbanjar tepat di belakang Saiful dan Lisa.

Ini bunyi ikrar Pramuka Madrasah Cinta NKRI:

Ikrar Pramuka Madrasah

Siti Efi Farhati

Bismillahirrahmanirrahim

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Siti Efi Farhati

Dengan mamohon rahmat Allah SWT dan kesadaran hidup berbangsa dan bernegara,

Kami Pramuka Madrasah secara bersama-sama berikrar setia dan cinta kepada Negara Kesatuan Republik lndonesia.

Diikrarkan di Kepulauan Bangka Belitung, Selasa tanggal 16 Mei 2017

Selain bertujuan memperkuat karakter bangsa dengan menampilkan sejumlah kegiatan kreatif khas daerahnya masing-masing, Pramuka Madrasah dalam kegiatan yang berlangsung 14-20 Mei 2017 ini juga berkomitmen kuat meneguhkan kesadaran akan pentingnya keberagaman dan persatuan. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pemurnian Aqidah Siti Efi Farhati

Senin, 27 November 2017

Sekjen PBNU Ajak Syechermania Baca 1 Miliar Shalawat Nariyah

Surakarta, Siti Efi Farhati. Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H A Helmy Faishal Zaini mengajak ribuan Syechermania, sebutan untuk pencinta Habib Syech, berpartisipasi dalam agenda pembacaan satu miliar Shalawat Nariyah guna memperingati Hari Santri Nasional. Shalawat Nariyah akan dibaca serentak pada Sabtu malam, 21 Oktober 2017.

"Bulan ini (Oktober) bulan keramat karena 22 oktober kita akan memperingati hari santri. PBNU membuat rangkaian acara salah satunya pembacaan satu miliar shalawat nariyah," ujarnya saat hadir dalam acara shalawat bersama Habib Syech bin Abdul Qodir dalam rangka memperingati hari santri di Surakarta, Jawa Tengah, Sabtu (14/10) malam.

Sekjen PBNU Ajak Syechermania Baca 1 Miliar Shalawat Nariyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekjen PBNU Ajak Syechermania Baca 1 Miliar Shalawat Nariyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekjen PBNU Ajak Syechermania Baca 1 Miliar Shalawat Nariyah

Satu miliar, lanjutnya ini sudah dibagi habis ke seluruh jajaran pengurus NU dari Sabang sampai Merauke. Ia menambahkan, PBNU membuat sistem per paket di mana satu paket 4444 kali baca.

"Bapak/ibu bisa ikut di masjid-masjid, majelis shalawat, struktur NU mulai ranting, cabang dan wilayah. Bisa juga baca di rumah masing-masing Sabtu (21/10) bada isya, target kita satu miliar," imbuh Helmy.

Sementara Habib Syech mengatakan, tahun lalu di Banjarmasin ia memimpin pembacaan Shalawat Nariyah saat acara shalawatan. "Saya pimpin sendiri masing-masing jamaah 10 kali baca Shalawat Nariyah waktu itu karena ribuan yang hadir," tutur Pemimpin Majelis Ahbabul Mushtofa ini.

Siti Efi Farhati

Ribuan jamaah membanjiri lokasi Solo Bershalawat di depan Balai Kota Surakarta. Lantunan syiir dan shalawat bergema, mulai dari “Kisah Sang Rasul”, “Demi Waktu”, hingga “Padang Bulan” disenandungkan, tidak ketinggalan “Ya Lal Wathon” dan “Syiir Nahdlatul Ulama”. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Pemurnian Aqidah, Nahdlatul Ulama Siti Efi Farhati

Minggu, 19 November 2017

Revolusi Mental, Khayalan atau Pelaksanaan?

Oleh Gatot Arifianto



Apalagi

Revolusi Mental, Khayalan atau Pelaksanaan? (Sumber Gambar : Nu Online)
Revolusi Mental, Khayalan atau Pelaksanaan? (Sumber Gambar : Nu Online)

Revolusi Mental, Khayalan atau Pelaksanaan?

Yang bisa kita lakukan

Bila kata kehilangan makna

Kehidupan kehilangan sukma

Manusia kehilangan kemanusiaannya

Siti Efi Farhati

Agama kehilangan Tuhannya



(Penggalan sajak KH A Mustofa Bisri atau Gus Mus, "Jadi Apa Lagi?")

Siti Efi Farhati

Hasil-hasil survei internasional sering menunjukkan bahwa dalam hal baik, angka untuk Indonesia cenderung rendah, tetapi dalam hal buruk cenderung tinggi. Hingga saat ini, Indonesia masih mempunyai sejumlah permasalahan perlu dirampungkan. Hal tersebut barangkali tapi pasti, melatarbelakangi adanya gagasan Revolusi Mental. Namun bagaimana mewujudkannya dan siapa terlibat? Ataukah hanya sebatas khayalan politik, yang artinya, kurang lebih akan bernasib sebagaimana mimpi yang tak mampu melepaskan diri dari ilusi?

Berawal dari pemilihan calon presiden RI ke-7, Revolusi Mental mengemuka. Calon presiden nomor urut 2, Joko Widodo didampingi calon Wakil Presiden Jusuf Kalla bertekad mengangkat kembali karakter bangsa yang telah mengalami kemerosotan dengan secepat-cepatnya dan bersama-sama (revolusioner). Gayung bersambut, tak hanya politisi, artis, seniman hingga masyarakat menyambut antusias.

Dengan dua padanan kata itu, ada harapan tercipta perubahan bagi Indonesia yang berdasarkan data Tranparency International menunjukkan persepsi tentang tingkat korupsi di sektor publik, dari 177 negara dan dengan 177 skor, berada di rangking 114 dengan skor 32. Dan pada 2008 dicatat dalam Guinness Book sebagai negara dengan tingkat kehancuran hutan tercepat di antara negara-negara yang memiliki 90 persen dari sisa hutan di dunia atau menghancurkan luas hutan setara dengan 300 lapangan sepakbola setiap jamnya.

Begitu pula dengan persoalan lain meski dirampungkan Indonesia, seperti kemiskinan, pengelolaan sumber daya belum optimal, lemahnya penegakan hukum, kesenjangan sosial, peringkat dua penyumbang sampah plastik di laut, keamanan, perilaku konsumstif, hubungan eksploitatif antara kapitalis dan buruh, hingga maraknya peredaran narkoba.

Revolusi Mental Versus Pembiaran



Perjuangan, ujar W.S Rendra, adalah pelaksanaan kata-kata. Terpilih sebagai pemimpin bangsa, Presiden Joko Widodo harus mampu mengajak, menyemangati dan meyakinkan masyarakat Indonesia merealisasikan Revolusi Mental yang berkemungkinan mewujudkan harapan Presiden Sukarno: "Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2 ½ sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita", yang menjelang 71 tahun Indonesia merdeka, masih jauh panggang dari api.



Jika Revolusi Mental adalah pola baju, seserius apa upaya ditempuh untuk mewujudkannya menjadi pakaian siap dikenakan? Ada kecemasan Revolusi Mental tidak terealisasikan dengan baik. Ini bukan persoalan pesimis. Namun bagaimana kebijakan tegas diambil untuk menerjemahkannya! Sehingga Revolusi Mental bisa pula merealisasikan konsep tiga kekuatan yang berfungsi sebagai kesaktian bangsa atau Tri Sakti, yakni "berdaulat dalam politik", "berdikari dalam ekonomi" dan "berkepribadian dalam kebudayaan".

Adakah jalan menuju "nation building" dan "character building" yang menurut Putra Sang Fajar harus diteruskan sehebat-hebatnya demi menunjang kedaulatan politik Indonesia sudah dibangun? Dengan apa? Pendidikan yang salah kaprah dipandang sebagai tugas guru dan sekolah semata? Kebijakan tegas dan jalan mewujudkan cita-cita mulia tersebut sepertinya masih remang. Yang tampak jelas justru ketidakmungkinan terjadinya Revolusi Mental melalui pembiaran banyaknya tontonan sekaligus tuntunan murahan di televisi-televisi yang meragukan mampu membangun kreativitas dan karakter anak-anak bangsa.

Mungkinkah generasi yang melulu dijejali fiksi tanpa visi, mengabaikan "character building" akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang mampu menjawab beragam persoalan bangsa dan tantangan zaman yang akan semakin besar? Mungkinkah 1.000 guru melahirkan 1.000 murid bagus jika pahlawan-pahlawan tanpa tanda jasa sekolah kita kalah "memikat" dengan "guru-guru elektronik" yang rajin menjejali murid-murid di luar jam belajar dengan fiksi sampah? Adakah industri televisi yang tidak bervisi untuk kemajuan bangsa yang mengutamakan suplemen kapitalisme (iklan) mampu menopang tercapainya Revolusi Mental di negeri dengan jumlah pengguna narkoba mencapai 5,9 juta orang (BNN, November 2015)?

Kondisi lama itu kini ditambah lagi dengan masifnya generasi muda menjauh dari persoalan terjadi pada bangsa Indonesia. Persoalan ketahanan pangan seolah hanya tanggung jawab petani tanpa upaya tegas menyiapkan regenerasi. Generasi bangsa Indonesia hari ini lebih akrab dengan fantasi daripada sawah adalah fakta tidak dipungkiri. Mereka lebih karib dengan games, dan terkini, keranjingan berburu monster virtual.

Mengapa mereka rela menghabiskan waktu yang belum teruji bisa menempa mereka menjadi individu berkarakter sebagaimana Sukarno, Hatta, Habibi, Gus Dur atau Mbah Sadiman yang seorang diri menghijaukan 100 hektar lahan hutan Bukit Gendol dan Bukit Ampyangan sisi tenggara lereng Gunung Lawu? Mengapa pula generasi-masyarakat Republik Indonesia yang memiliki 28,59 juta penduduk miskin (BPS, Maret 2015) dengan ikhlas justru gotong-royong menyetorkan uang untuk asing? Kenapa demikian? Barangkali ada kejenuhan massal atas beragam persoalan bangsa tak kunjung rampung.

Merujuk fakta di atas, pemerintah harus bergegas menjawab persoalan itu mengingat bukan sesuatu yang remeh bagi keberlangsungan suatu bangsa di masa mendatang. 321.752 kasus kekerasan terhadap perempuan atau sekitar 881 kasus setiap hari (Komnas Perempuan, 2015) hingga riset sebanyak 68 persen siswa SD sudah pernah ikut-ikutan mengakses situs porno adalah persolan nyata dan membutuhkan penanganan serius.

Apakah pembiaran berlangsungnya hal-hal yang berlawanan dengan pembangunan karakter mampu menopang cita-cita diharapkan? Bukankah itu merupakan kemustahilan mewujudkan harapan dan gagasan baik tengah diupayakan? Apa yang akan terjadi seumpama finasial, waktu dan energi generasi bangsa tersebut dihimpun? Bukankah akan lebih bermakna dan menjadi potensi besar untuk mendukung tercapainya pembangunan nasional?

Implementasi Tepat Wujudkan Revolusi Mental



Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata "revolusi" mengacu pada kata "perubahan" yang berakar kata "ubah". Salah satu syarat mewujudkan perubahan adalah menggambarkan keuntungan masyarakat pada masa yang akan datang supaya tercapainya taraf kehidupan lebih baik. Sesuatu yang secara konsep pada mulanya diterima akal sehat. Adapun kata mental berasal dari bahasa Latin, mens atau metis yang memiliki arti jiwa, nyawa, sukma, roh, semangat. Singkatnya, mental ialah hal-hal yang berkaitan dengan psycho atau kejiwaan yang dapat mempengaruhi perilaku individu. Mental individu yang positif, tentu akan menopang terjadinya perubahan dibutuhkan masyarakat bangsa dengan baik sebagaiamana semangat Revolusi Mental. Sebaliknya?

Amerika Serikat membangun karakter masyarakatnya menggunakan waktu dengan baik, bertahap, sederhana, tapi serius dan realistis. Salah satu melalui tontonan-tuntunan (industri perfilman) yang selalu menyatakan mereka bangsa unggul, bangsa pemenang, bukan bangsa pecundang. Bukankah pertempuran Fire Base Ripcord sejatinya dimenangkan Vietnam? Namun dengan memproduksi puluhan film-film bertemakan perang Vietnam. Dari layar lebar seperti film Rambo hingga film seri "Tour of Duty", mereka mengubah fakta menjadi fiksi yang memotivasi dan menghipnotis psikologi-"mind set" masyarakatnya dengan menyatakan diri menang melawan gerilyawan Vietnam. Dalam konteks kreatif dan fiksi, hal itu bukan sesuatu yang salah karena memang bukan fakta. Dan dari upaya-upaya itu, jelas ada dampak maslahat hendak dicapai Amerika di masa mendatang.

Bagi Amerika, kreativitas tersebut adalah kesadaran pentingnya pembangunan karakter masyarakat bangsa sebagai investasi jangka panjang yang tidak mungkin selesai seperti membuat mie instans. Suatu upaya yang diam-diam mengingatkan dua hal. Pertama pemikiran Mohammad Hatta: Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekadar nama dan gambar seuntaian pulau di peta. Kedua QS. Ar-Raad : 11, "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri".

So, jika 90 persen produk industri televisi kita berikut pemerintah abai terhadap kemajuan bangsa melalui pembangunan karakter generasinya. Jika pemerintah tidak memiliki kebijakan tegas untuk membangun karakter generasi bangsa, barangkali tapi pasti, kita diam-diam sepakat merayakan dengan bangga kemunduran suatu bangsa.

Jalan raya panjang memang mustahil dirampungkan seorang pekerja. Tapi ribuan pekerja hanya akan menghasilkan jalan raya dengan kualitas buruk tanpa mengindahkan kesepakatan hingga tidak adanya kontrol serius, baik dan tegas dari pemimpin di lapangan. Untuk terwujud, harapan dan optimisme perlu implementasi tepat! Revolusi Mental tidak boleh kehilangan makna oleh tontonan-tuntunan murahan dan gempuran permainan asing yang mempunyai tingkat bahaya sebagaimana narkoba. Atau memang sebagai bangsa dengan penduduk Islam mayoritas di dunia, kita keberatan memahami Al-Ashr dan Ar-Raad:11? Jika demikian, mari sederhanakan, minum kopi, teh atau wedang jahe sembari membaca sajak Sebatang Lisong yang ditulis W.S Rendra 17 Agustus 1977.

Penulis adalah Nahdliyin, bergiat di Ansor, Pergunu, Lesbumi, Sarbumusi, Gusdurian, AJI dan SIEJ. Tinggal di Lampung. Twitter @sineasastra; Facebook BPUN Waykanan.Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Amalan, Makam, Pemurnian Aqidah Siti Efi Farhati

Sabtu, 11 November 2017

Jelang Copa Amerika, Chaves Ingatkan Oposisi untuk Tidak Buat Keributan

Caracas, Siti Efi Farhati. Presiden Venezuela Hugo Chaves, Minggu (17/6), mengingatkan pihak oposisi untuk tidak membuat keributan menjelang Copa Amerika dengan melakukan aksi turun jalan yang dinilainya dapat menimbulkan kemacetan lalu lintas.



Jelang Copa Amerika, Chaves Ingatkan Oposisi untuk Tidak Buat Keributan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Copa Amerika, Chaves Ingatkan Oposisi untuk Tidak Buat Keributan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Copa Amerika, Chaves Ingatkan Oposisi untuk Tidak Buat Keributan

Chaves mendesak pemerintahannya termasuk angkatan bersenjata dan badan intelijen negara untuk menetralisir berbagai upaya yang dapat mengganggu turnamen sepak bola itu, yang menurut rencana akan diselenggarakan di Venezuela mulai 26 Juni hingga 15 Juli mendatang.

"Rencana ini terus berkembang. Kami sedang meredamnya, namun mereka tidak akan menyerah," ungkap Chaves saat berbicara dalam siaran radio dan televisi setiap minggunya dan menambahkan, pihaknya tidak akan membiarkan pihak oposisi untuk menekannya.

Siti Efi Farhati

Saat berada di Los Llanos, jantung kota Venezuela, Chaves membaca sebuah kolom surat kabar VEA yang menyatakan bahwa kelompok-kelompok radikal "sedang menginginkan sektor transportasi untuk menyeru pemogokan nasional...dan merencanakan serangkaian protes yang bertepatan dengan Copa Amerika untuk menciptakan keributan nasional dan internasional."

Copa Amerika yang akan digelar di Venezuela tahun ini juga mendatangkan tim dari Amerika Serikat (AS) dan Meksiko sebagai tim-tim tamu undangan.

Siti Efi Farhati

Presiden Chaves tidak menjelaskan secara gamblang rencana-rencana oposisi atau kelompok mana yang terlibat, namun dia merujuk sebuah kolom surat kabar yang menunjukkan adanya "konspirasi" di balik aksi protes mahasiswa belakangan ini atas keputusan Chaves menutup sebuah stasiun televisi RCTV (Radio Caracas Television).

Sumber AP melaporkan, pemerintah Venezuela telah menghabiskan dana senilai satu juta dolar untuk membangung dua stadion baru, mempercantik tujuh stadion yang lain dan merenovasi bandara serta wilayah-wilayah sekitar untuk menyambut perhelatan akbar Copa Amerika.

Chaves mengungkapkan, turnamen ini akan menjadi sebuah "peristiwa bersejarah", namun dia menyesali tidak bisa hadir dalam upacara pembukaan karena harus melakukan layatan ke luar negeri. (dar)Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kyai, Pemurnian Aqidah, Ulama Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock