Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Februari 2018

Besok, Kiai Maruf Amin Isi Seminar Kebangsaan di Haul Sunan Ampel

Surabaya, Siti Efi Farhati. Akhir-akhir ini wacana seputar hubungan antara agama dan negara kembali menyeruak.Banyak kelompok yang mempertentangkan status negara, namun juga ada yang mencoba mencari jalan tengah atas hubungan tersebut.

Atas dasar itu, PWNU Jawa Timur bekerjasama dengan Masjid Agung Sunan Ampel akan mengadakan seminar nasional dan bahtsul masail kebangsaan dalam rangka Haul Agung ke-568 Sunan Ampel. Kegiatan bertema Manhaj Beragama ala Walisongo; Perekat Persaudaraan Islam dan Persatuan Nasional, ini digelar Kamis (11/5) pagi di Masjid Agung Sunan Ampel, Surabaya. ?

Besok, Kiai Maruf Amin Isi Seminar Kebangsaan di Haul Sunan Ampel (Sumber Gambar : Nu Online)
Besok, Kiai Maruf Amin Isi Seminar Kebangsaan di Haul Sunan Ampel (Sumber Gambar : Nu Online)

Besok, Kiai Maruf Amin Isi Seminar Kebangsaan di Haul Sunan Ampel

Panitia telah memastikan bahwa yang akan hadir sebagai narasumber adalah Rais Aam PBNU dan Wakil Ketua Umum PBNU 2010-2015 H Asad Said Ali.

KH Asyhar Shofwan, Ketua Lembaga Bahtsul Masail PWNU Jatim mengatakan untuk mendapatkan gambaran yang lebih gamblang seputar hubungan antara agama dan negara, maka kehadiran KH Maruf Amin sangatlah penting.

Ia mengemukakan bahwa KH Maruf Amin akan menjelaskan secara detail dan terperinci argumentasi NU mengenai NKRI, Pancasila dan UUD 1945. "Bagaimana akhirnya NU menyatakan final terhadap 4 pilar kebangsaan tersebut," terang Kiai Asyhar saat dihubungi Siti Efi Farhati (10/5) sore. Nantinya akan ada penjelasan terkait konsekuensi atas sikap NU tersebut ketika menyatakan bahwa NKRI, Pancasila, UUD 1945 adalah final.

Sementara itu kehadiran H Asad Said Ali akan memberikan penjelasan seputar pentingnya nilai-nilai Islam dalam sistem ketatanegaraan dan pemerintahan NKRI.

Siti Efi Farhati

"Secara khusus, Kiai Asad akan memberikan gambaran bagaimana mengukur nilai-nilai Islam yang terserap dalam ideologi Pancasila dan UUD 1945," terangnya. Juga bagaimana nilai-nilai Islam telah menginspirasi sistem ketatanegaraan dan pemerintahan dalam alam demokrasi Pancasila, lanjutnya.

Menurut Kiai Asyhar, kehadiran dua narasumber tersebut diharapkan cukup memberikan bekal kepada warga NU serta masyarakat umum khususnya umat Islam dalam menghadapi berbagai rongrongan akibat kehadiran ideologi dan paham baru di tanah air. "Semoga mampu memberikan bekal kepada peserta, utamanya para ulama dan kiai agar semakin mantap berNKRI dan berAswaja," pungkasnya.

Seminar kebangsaan ini terbuka untuk umum dan tanpa dipungut biaya alias gratis.Konfirmasi kehadiran bisa menghubungi Teguh Rachmanto di 0812 3467 8810, atau Muhammad Mizaburrahmah 0813 3678 8741, serta 0851 0223 2464 dengan Luqman Hakim. (Rof Maulana/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Nusantara, Humor Islam Siti Efi Farhati

Selasa, 30 Januari 2018

Baru Satu Pendaftar, Jelang Pemilihan Ketua Baru PMII Jatim

Surabaya, Siti Efi Farhati

Konferensi Koordinator Cabang (Konkoorcab) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur bakal dihelat 27-30 Aprl 2016. Forum permusyawaratan tertinggi PMII tingkat koordinator cabang ini menjadi ajang memilih ketua baru.

Baru Satu Pendaftar, Jelang Pemilihan Ketua Baru PMII Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Baru Satu Pendaftar, Jelang Pemilihan Ketua Baru PMII Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Baru Satu Pendaftar, Jelang Pemilihan Ketua Baru PMII Jatim

Hal ini dilaksanakan sebagai tindak lanjut hasil musyawarah pimpinan nasional (muspimnas) PMII di Ambon, yang kemudian dibentuk Tim Seleksi (Timsel) untuk mewadahi kader-kader PMII se-Jatim yang ingin maju melanjutkan kepemimpinan PMII Jatim.

Amarufin selaku ketua Tim Seleksi mengungkapkan bahwa proses pendaftaran sudah berjalan. Selasa (12/4) adalah masa terakhir pendaftaran. Hingga saat ini, pendaftar baru satu, yakni Pengurus Cabang PMII Situbundo.

Siti Efi Farhati

Ia pun berharap cabang-cabang segera melakukan pendaftaran, mengingat pentingnya agenda ini untuk keberlangsungan PMII Jatim ke depan. "Saya mengimbau kepada cabang-cabang PMII se-Jawa Timur agar segera mengirimkan delegasinya untuk mendaftar ke Timsel," tegasnya.

Untuk diketahui, Konferensi Koordinator Cabang tahun ini terbilang berbeda dibanding periode sebelumnya, karena selain memilih ketua baru bagi Pengurus Koordinator Cabang PMII Jatim, termasuk memilih ketua baru bagi Pengurus Koordinator Cabang Korps PMII Putri (Kopri) Jatim. (Asrari Puadi/Mahbib)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sunnah, Budaya, Nusantara Siti Efi Farhati

Kamis, 25 Januari 2018

Acara Masih Besok, Kursi Pertunjukan Malam Pembacaan Puisi Palestina Ludes

Jakarta, Siti Efi Farhati - KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) dan kawan-kawan akan menggelar Doa Untuk Palestina, malam pembacaan puisi-puisi Palestina di Graha Bakti Budaya, Kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat pada Kamis (24/8) malam. Tetapi beberapa hari sebelum acara dimulai, kursi penonton sudah habis dipesan di panitia penyelenggara.

“810 kursi habis,” kata Achmad Solechan, tim panitia penyelenggara, kepada Siti Efi Farhati, Selasa (22/8) sore.

Acara Masih Besok, Kursi Pertunjukan Malam Pembacaan Puisi Palestina Ludes (Sumber Gambar : Nu Online)
Acara Masih Besok, Kursi Pertunjukan Malam Pembacaan Puisi Palestina Ludes (Sumber Gambar : Nu Online)

Acara Masih Besok, Kursi Pertunjukan Malam Pembacaan Puisi Palestina Ludes

Menurut Solechan, panitia akan tetap memfasilitasi warga yang ingin mengunjungi pertunjukan malam puisi ini. Panitia akan berupaya agar pertunjukan di dalam ruangan tetap dapat disaksikan oleh mereka yang tidak kebagian kursi di dalam ruangan.

“Tetapi kita menyediakan di area pelataran teras Graha Bhakti Budaya, layar proyektor yang bisa dinikmati penonton di luar. Jadi setiap yang datang tetap bisa mengikuti acara berlangsung,” kata Solechan.

Siti Efi Farhati

Pertunjukan malam pembacaan puisi-puisi untuk Palestina ini didorong oleh keprihatinan Gus Mus dan kawan-kawannya atas nasib kemanusiaan warga Palestina yang teraniaya oleh Israel.

Siti Efi Farhati

“Mendengar berita-berita memilukan tentang Palestina dan saudara-saudara kita bangsa Palestina yang terus dizalimi penjajah Israel, justru di saat kita sendiri sedang dalam suasana merayakan kemerdekaan kita, aku dan kawan-kawan tergerak untuk menyelenggarakan lagi ‘Malam Palestina sebagai ungkapan rasa keprihatinan dan solidaritas kita kepada saudara-saudara kita yang tak kunjung merdeka itu,” kata Gus Mus dalam laman facebook-nya.

Mereka yang rencananya akan hadir adalah Gus Mus, Abdul Hadi WM, Sutarji Colzoum Bahri, KH M Quraish Shihab, Acep Zamzam Nur, Renny Djajusman, Fatin Hamamah, D Zawawi Imron, Butet Kertaredjasa, Slamet Rahardjo, Mahfud MD, Joko Pinurbo, Sosiawan Leak, Inayah Wahid, Najwa Shihab, Ratih Sanggarwati, Ulil Abshar Abdalla, Taufiq Ismail, Jamal D Rahman dan Anis Sholeh Basyin.

Acara yang diselenggarakan oleh Gus Mus dan kawan-kawan ini terbuka untuk umum dan gratis. Di acara ini nanti akan digelar perbincangan puisi-puisi Timur Tengah dan dimeriahkan oleh grup Laela Majnun dari Semarang.

Acara seperti ini, kata Solechan, bukan untuk kali pertama diadakan. Pada tahun 1982 acara malam Palestina pernah digelar. Gus Dur yang waktu itu menjadi Ketua DKJ meminta Gus Mus membaca puisi-puisi Arab. Di tahun itu pula Gus Mus pertama kali tampil membaca puisi di publik. (Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nusantara, Doa Siti Efi Farhati

Rabu, 24 Januari 2018

Hobi Corat-Coret, Juara Kedua Lomba Jurnalistik

Jombang, Siti Efi Farhati. Kenakalan siswa tidak selamanya berdampak negatif. Salah satunya aksi corat-coret yang biasanya dilakukan menyambut kelulusan Ujian Nasional seperti sekarang. Jika diarahkan dengan benar, maka bisa menjadi sebuah prestasi. Ini yang dibuktikan beberapa siswa dari Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah (MASS) Seblak. 

Dengan beranggotakan beberapa siswa yang terkenal dengan aksi corat-coretnya, tim yang dikirim justeru diraih juara kedua pada lomba jurnalistik, Jumat (25/5). Penyelenggaranya adalah media nasional yang berpusat di Jakarta bekerja sama dengan Pesantren Tebuireng Jombang. 

Hobi Corat-Coret, Juara Kedua Lomba Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
Hobi Corat-Coret, Juara Kedua Lomba Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

Hobi Corat-Coret, Juara Kedua Lomba Jurnalistik

Lomba yang diikuti perwakilan dari madrasah aliyah, SMA dan perwakilan beberapa kampus ini digelar di Gedung Yusuf Hasyim. Tim yang terdiri dari 12 siswa ini sebelumnya juga mengikuti diklat jurnalistik sejak Selasa (22/5). Kegiatan ini menghadirkan tim fasilitator langsung dari Jakarta. “Para peserta juga datang dari berbagai daerah,” kata Umar Bakri, ketua tim MASS Seblak. 

Siti Efi Farhati

Materi yang disampaikan terkait penyusunan berita. Baik saat masih mencari ataupun saat penulisan berita. Termasuk di antaranya masalah struktur dan cara kerja dewan redaksi. Komposisi pelatihan yang diberikan adalah 20 persen teori dan 80 persen praktek di lapangan.   

Siti Efi Farhati

Dalam tugas terakhir penyusunan berita, tim MASS Seblak menamakan koran karyanya dengan SPEKTA. “Itu merupakan singkatan dari Seblak spektakuler dan pecinta al-Qur’an,” ujar ketua OSIS ini. Diakui Bakri, untuk sekedar menentukan nama koran, tim redaksi dari MASS Seblak juga terlibat perdebatan sengit. Meskipun diakuinya tim-tim yang lain menentukan nama koran seolah tidak serius. “Bahkan terkesan namanya lucu dan tidak mengandung nilai filosofi,” imbuhnya. 

Berita yang dimuat adalah lima tema. Yaitu terkait musik banjari sebagai headline, radio sebagai media dakwah, pedagang kaki lima di sekitar makam Gus Dur, profil pengasuh Pesantren Seblak dan jilbab model rubu’ sebagai feature. “Tapi berdasar penilaian para dewan juri, feature tentang rubu’ yang memperoleh nilai tertinggi,” kata Irna Nailun Najjaha, anggota tim. 

Kelima berita itu harus selesai tepat waktu. Ketepatan penyelesaian ini menjadi aspek penilian tersendiri. Siswa yang akrab dipanggil Irna ini mengaku harus kerja keras agar penyusunan koran tidak molor. “Teman-teman sampai harus begadang untuk memenuhi deadline itu,” ucapnya.

Terlebih, dewan juri yang menilai bukan dari tim media itu sendiri. “Tetapi dari para pembaca yang sengaja datang untuk menilai hasil kerja keras para peserta,” ujarnya. Dengan beragam latar belakang ini, pembaca tentu akan menilai lebih berbobot terhadap hasil dari setiap tim. 

Nurul Muslimah, anggota tim lainnya, mengakui memang lomba kali ini adalah yang pertama diikuti. “Meski pertama kali, banyak pengalaman yang saya dapatkan, tidak cuma teori, tapi juga praktek,” katanya. Menulis berita, lanjut siswi dari Bau-Bau Sulawesi Selatan ini, ternyata tidak semudah membacanya. “Membuat koran ternyata tidak segampang yang dibayangkan,” ujarnya. 

Pelaksanaan diklat dan lomba yang digelar mulai pagi sampai petang hari juga menjadi catatan anggota tim ini. Dari kebiasaan yang kurang menghargai waktu, Laila Nailul Fauziah menjadi sangat mempehitungkan waktu dalam menulis berita. “Meski badan capek karena mondar-mandir dari pondok ke tempat acara, namun melalui perlombaan ini saya sadar harus menggunakan waktu dengan baik,” kata siswi dari Pasuruan yang akrab dipanggil Ela ini. 

Kepala sekolah MASS Seblak Nur Laili Rahmah mengakui bahwa pengalaman yang diperoleh siswanya memang sangat berharga. Mengingat lomba itu juga diikuti banyak peserta. “Bahkan ada juga tim dari beberapa perguruan tinggi. Jadi, jika mereka keluar sebagai juara kedua, itu saya kira sudah maksimal,” katanya. 

Perempuan berkacamata ini tidak henti-hentinya memotivasi siswanya agar kreativitas yang dimiliki bisa ditonjolkan. “Dengan berdiskusi menentukan nama koran saja, mereka akan belajar berdemokrasi dan menghargai pendapat temannya,” pungkasnya. 

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Hikmah, Nusantara, PonPes Siti Efi Farhati

Minggu, 21 Januari 2018

Majmu’ah al-Masa’il al-Fiqhiyyah, Kitab Ulama Aceh untuk Sultan Maldives

Pada katalog naskah-naskah yang tersimpan di Perpustakaan Masjidil Haram (Maktabah al-Haram al-Makkî), Makkah, KSA, saya menemukan naskah bernomor (?) dengan judul “Majmû’ah Masâ’il Fiqhiyyah fî al-Fiqh al-Syâfi’î”. Isi naskah tersebut berisi himpunan fatwa ulama-ulama madzhab Syafi’i lintas generasi yang menjawab beberapa permasalahan hukum, ditulis dalam bahasa Arab, dengan jumlah keseluruhan 172 halaman.

Yang menarik perhatian saya dari naskah tersebut adalah keberadaannya yang ditulis (disalin) oleh seseorang yang diidentifikasi sebagai orang Nusantara (Jâwî) asal Aceh (Âsyî), yaitu Syaikh Muhammad Thâhir al-Jâwî al-Âsyî.

Majmu’ah al-Masa’il al-Fiqhiyyah, Kitab Ulama Aceh untuk Sultan Maldives (Sumber Gambar : Nu Online)
Majmu’ah al-Masa’il al-Fiqhiyyah, Kitab Ulama Aceh untuk Sultan Maldives (Sumber Gambar : Nu Online)

Majmu’ah al-Masa’il al-Fiqhiyyah, Kitab Ulama Aceh untuk Sultan Maldives

Dalam keterangan yang dituliskan Syaikh Muhammad Thâhir al-Jâwî al-Âsyî pada halaman akhir naskah, bahwa kitab “Majmû’ah al-Masâ’il” ini ia tulis untuk (bagi) seorang yang bergelar Sultan dan bernama Hasan Nûruddîn anak dari Sultan Hasan ‘Izzuddîn.

Tertulis di sana;

Siti Efi Farhati

? ? ? ? (?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (?) ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Siti Efi Farhati

(Telah selesai kitab dari permasalahan-permasalahan fikih. Pemiliknya adalah Tuan Kita yang allamah dan fahhamah, yang masyhur nan cerdas, yang mencintai para fakir miskin, ialah Tuan Kita Sultan Hasan Nûruddîn anak dari Sultan Hasan ‘Izzuddîn, semoga Allah mengampuni(nya) dan kedua orang tuanya. Penulisnya adalah seorang yang fakir lagi hina, yang remeh, lemah, dan banyak dosa, ialah Muhammad Thâhir orang Jawi [Nusantara] dari Aceh [Âsyî] negerinya).

Sekilas kemudian saya pun mencari data tentang siapakah sosok Syaikh Muhammad Thâhir al-Jâwî al-Âsyî, sang penulis naskah (kâtib al-kitâb), demikian juga sosok Sultan Hasan Nûruddîn bin Sultan Hasan ‘Izzuddîn, sang pemilik naskah (shâhib al-kitâb).

Saya berusaha menanyakan sosok Muhammad Thâhir al-Âsyî ini kepada sahabat saya dari Aceh, al-Fadhil Masykur Aceh, kolektor muda naskah-naskah keislaman dari Aceh, karena tidak ada data siapa sosok tersebut, selain tak ada kolofon yang menginformasikan kapan naskah ini ditulis. Saya juga mengirimkan gambar halaman terakhir manuskrip ini kepada beliau.

Ternyata jawaban yang saya dapatkan dari beliau sangat mengejutkan, bahwa buyut beliau dari jalur ibu juga bernama Muhammad Thâhir al-Âsyî dan pernah lama bermukim di Makkah, yang kemudian menjadi ulama besar di Pedir, Aceh, setelah kepulangannya. Di Aceh, beliau dikenal dengan nama Muhammad Thahir Tiro (Tengku Chik [Syik] Cot Plieng Tiro), yang masih sepupu Syaikh Muhammad Samman Tiro (Teungku Chik Di Tiro, w. 1891 M).

Kembali ke keterangan dan data yang terdapat pada naskah.

Yang menarik di sini justru adalah sosok “Sultan Hasan Nûruddîn ibn Sultan Hasan ‘Izzuddîn” yang tertulis dalam naskah sebagai “shâhib al-kitâb” (pemilik kitab), di mana Syaikh Muhammad Thâhir al-Âsyî menulis (salin) kitab “Majmû’ah al-Masâ’il al-Fiqhiyyah” untuk sultan tersebut.

Kedua sosok di atas, yaitu Syaikh Muhammad Thâhir al-Âsyî dan Sultan Hasan Nûruddîn, bisa dipastikan hidup satu zaman. Hal ini ditandai dengan penyebutan “Tuan Sultan Kami” (maulânâ al-sulthân) oleh sang penyalin naskah, hal yang menunjukkan adanya hubungan antara kedua sosok tersebut.

Setelah dilakukan penelusuran, didapati sosok “Sultan Hasan Nûruddîn (bergelar Sultan ‘Imâduddîn VI) putra Sultan (Pangeran) Hasan ‘Izzuddîn putra Sultan ‘Imâduddîn IV” adalah sultan Kesultanan Islam Maldives, sebuah negara kepulauan di Samudera India. Sultan Hasan Nûruddîn lahir pada tahun 1863 M dan memerintah Kesultanan Maldives sepanjang tahun 1893-1903 M dengan gelar “Sultan Haji Muhammad Imaaduddeen VI Iskandar Sri Kula Sundara Kattiri Buwana Maha Radun” (http://www.royalark.net/Maldives/maldive16.htm).

Sultan Hasan Nûruddîn (Sultan ‘Imâduddîn VI) dicatat menguasai bahasa Urdu, Persia, dan Arab dengan sangat baik. Beliau juga telah melaksanakan ibadah haji dan dikenal sebagai sultan yang taat, mencintai ilmu pengetahuan, dan menghormati ulama. Dalam naskah salinan Syaikh Muhammad Thâir al-Âsyî, sosok Sultan Hasan Nûruddîn (Sultan ‘Imâduddîn VI) disebut sebagai sosok yang “memiliki pengetahuan agama yang luas, yang masyhur nan cerdas, juga yang mencintai para fakir miskin”.

Pada tahun 1903 M beliau diturunkan dari singgasananya oleh penjajah Inggris, lalu eksil ke Mesir hingga wafat di sana pada tahun 1932 dan dikuburkan di Kairo.

Keterangan yang terdapat dalam naskah ini sangat menarik dan berharga, karena akan menghantarkan kita pada babakan sejarah baru yang cukup mengejutkan, yaitu adanya “jaringan intelektual ulama Nusantara (Aceh)—Kesultanan Maldives”. Naskah “Majmû’ah al-Masâ’il al-Fiqhiyyah” yang kini tersimpan di Perpustakaan Masjidil Haram Makkah ini menjadi data sejarah yang sangat mahal keberadaanya, yang menegaskan sebuah fakta bahwa “telah ada seorang ulama Aceh bernama Muhammad Thâhir al-Âsyî yang menuliskan sebuah kitab dan dipersembahkan untuk seorang Sultan Malvies bernama Sultan Hasan Nuruddîn (Sultan ‘Imâduddîn VI)”.

Nah, siapakah sosok Syaikh Muhammad Thâhir al-Jâwî al-Asyî yang terdapat merupakan penulis naskah ini?

Saya mendapatkan data lain dari sebuah manuskrip yang diberikan oleh al-Fadhil Masykur Aceh, yang tertulis nama penyalinnya adalah (juga) “Syaikh Muhammad Thâhir al-Âsyî”, yang tak lain adalah buyut beliau. Yang mengejutkan, isi manuskrip yang diberikan oleh al-Fadhil Masykur Aceh itu sama jenis dan model tulisannya dengan manuskrip yang saya temukan di Makkah, juga isi kandungan naskah “Aceh” yang sama dengan naskah “Makkah”, yaitu kumpulan fatwa ulama madzhab Syafi’i atas pelbagai permasalahan hukum Islam.

Jadi, apakah benar sosok Syaikh Muhammad Thâhir al-Jâwî al-Asyî ini adalah Teungku Muhammad Tahir Tiro (Tengku Chik [Syik] Cot Plieng Tiro), seorang ulama besar dari Plieng Aceh? (A. Ginanjar Sya’ban)



Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Ulama, Nusantara Siti Efi Farhati

Kamis, 04 Januari 2018

Puasa dalam Perspektif Islam Nusantara

Oleh M Isom Yusqi

Di bulan suci Ramadhan seringkali kita mendengarkan kajian-kajian hikmah seputar ibadah puasa. Umumnya ibadah puasa dianalisis secara deduktif dari al-Qur’an maupun al-Hadis, sehingga memunculkan dan melahirkan beberapa aspek hukum fiqih yang terkait dengan puasa. Namun tidak jarang juga para penceramah meninjau ibadah puasa dalam berbagai perspektif dan dianalisis secara induktif dari korelasi dan signifikansi ibadah puasa dengan kehidupan sehari-hari umat Islam saat menjalankannya. Misalnya, ada yang mengkaji aspek-aspek kesehatan yang ditimbulkan dalam ibadah puasa. Ada juga para ustadz yang menyampaikan hikmah-hikmah ibadah puasa dalam sudut pandang spiritualitas, sosialitas, kesehatan jiwa manusia dan lain sebagainya.

Pada kesempatan ini penulis ingin mengelaborasi lebih jauh tentang manifestasi nilai-nilai Islam Nusantara (baca: Ahlus Sunnah wal Jamaah) dalam ibadah puasa. Hal ini dirasa penting karena kita sebagai kaum Nahdliyiin (baca; warga NU) perlu menyadari bahwa nilai-nilai Aswaja (Ahlussunnah waljamaah) harus menjadi inheren dan terinternalisasi ke dalam setiap pribadi orang NU. Antara NU dan Aswaja merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak terpisahkan. Aswaja merupakan akidah bagi orang NU di mana dan kapan saja berada khususnya di bumi Nusantara ini.

Puasa dalam Perspektif Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Puasa dalam Perspektif Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Puasa dalam Perspektif Islam Nusantara

Sebagai warga NU, jika tanpa akidah Aswaja tentu ke-NU-annya hanya nama dan topeng belaka. Eksistensi NU, Aswaja dan Tanah Air Indonesia (baca; nusantara) adalah tiga serangkai yang saling terkait dan berkelindan satu dengan lainnya. NU merupakan ormas terbesar yang diikuti oleh mayoritas umat Islam di wilayah NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dengan berdasarkan pada akidah Aswaja. Dengan demikian, Mayoritas Islam Indonesia (baca; Islam Nusantara) adalah Islam Aswaja, dan Islam Aswaja tercermin jelas pada Islam NU, Islam NU adalah Islamnya orang-orang Indonesia yang menganut paham Aswaja (Ahlus Sunnah wal Jamaah) yang selalu berprinsip pada nilai-nilai dasar yang mulia yaitu; al-Tawazun (bertindak seimbang), at-Tawassuth (berprilaku moderat) ,al-Tasamuh (bersikap toleran) dan al-I’tidal (berpihak pada kebenaran dan keadilan).

Keempat prinsip dan nilai-nilai dasar Aswaja di atas merupakan empat pilar warga NU dalam ber-aswaja (ber-Islam), berbangsa dan bernegara. Empat pilar al-Tawazun (bertindak seimbang), at-Tawassuth (berprilaku moderat) ,al-Tasamuh (bersikap toleran) dan al-I’tidal (berpihak pada kebenaran) sama sekali tidak bertentangan dengan empat pilar bangsa Indonesia; Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika, bahkan keempat prinsip dan nilai-nilai dasar Aswaja warga NU tersebut selalu menafasi dan menopang terhadap empat pilar bangsa Indonesia. Hal itu, sudah terbukti dalam sejarah perjuangan rakyat Indonesia, baik pada pra-kemerdekaan maupun pasca kemerdekaan bahwa warga NU selalu berada pada garda terdepan dalam membela Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika secara istiqomah dengan tetap berprinsip pada nilai-nilai dasar Aswaja.

Keempat prinsip dan nilai-nilai dasar Aswaja; al-Tawazun (bertindak seimbang), at-Tawassuth (berprilaku moderat), al-Tasamuh (bersikap toleran) dan al-I’tidal (berpihak pada kebenaran dan keadilan) merupakan metode berfikir dan pedoman hidup yang paripurna bagi warga NU dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Berpijak pada keempat prinsip itulah warga NU menjalankan ajaran Islam, berbangsa dan bernegara Indonesia, hidup berdampingan dengan umat beragama lain dan bersikap toleran baik antar umat beragama maupun intern umat Islam. Dengan keempat prinsip dan nilai-nilai dasar Aswaja tersebut, para ulama NU menyatakan, “resolusi jihad melawan penjajah, Indonesia merdeka berkat rahmat Allah SWT, NU menerima asas tunggal Pancasila, Hubungan umat Islam dan konsep wilayah NKRI sudah final, harga mati dan tidak perlu lagi ikhtiar membentuk negara Islam, NU kembali ke Khittah dan masalah-masalah lainnya tentang hubungan Islam dan negara.? ? ? ?

Siti Efi Farhati

Kembali pada manifestasi nilai-nilai Islam Nusantara (baca: Aswaja) dalam ibadah puasa di bulan suci Ramadhan, jika kita renungkan lebih mendalam, maka sangat terasa nilai-nilai al-Tawazun (bertindak seimbang), at-Tawassuth (berprilaku moderat), al-Tasamuh (bersikap toleran) dan al-I’tidal (berpihak pada kebenaran) terinternalisasi pada pribadi-pribadi orang yang berpuasa (al-sha-imiin dan al-sha-imaat) di Indonesia.

Pertama; al-Tawazun (bertindak seimbang)

Siti Efi Farhati

Dalam ibadah puasa nilai-nilai al-Tawazun (bertindak seimbang) tercermin sekali pada aspek-aspek menjaga keseimbangan mental-spiritual, fisik-psikis dan sosial kemasyarakatan. Pada aspek mental-spiritual pribadi manusia yang berpuasa dilatih keseimbangan rohani dan jasmani. Artinya dengan berpuasa manusia diingatkan agar tidak terlalu berat sebelah dan cenderung berlebihan pada hal-hal material yang berakibat tergrogoti nilai-nilai kemanusiaannya (dehumanisasi). Jiwa dan pikiran manusia tidak boleh terfokus terlalu jauh hanya mengejar duniawi (harta, tahta dan wanita) sehingga menimbulkan penyakit-penyakit hati (baca; gangguan psikis) seperti tamak-serakah, sombong, hedonis, matrialistis, cinta jabatan (hubbul manzilah), cinta popularitas (hubbus syuhrah), cinta kedudukan terpuji (hubbul Jah) dan lain sebagainya. Agar pribadi manusia seimbang (tawazun) secara jasmaniyah dan ruhaniyah dan tidak mengalami keterbelahan jiwa (split personality), manusia yang berpuasa dilatih mental-spiritualnya untuk rendah hati (tawadhu’), cinta akherat, takut kematian, cinta ilmu dan selalu bersyukur atas segala nikmat yang dikaruniakan Allah SWT.

Sedangkan pada aspek fisik-psikis termanifestasi secara gamblang bahwa pada saat manusia berpuasa otaknya secara otomatis akan menghidupkan program autolisis. Semua makhluk hidup dibekali sistem (fitrah) autolisis yang khas seperti saat pohon berpuasa sistem autolisisnya bekerja dengan menggugurkan dedaunan. Ketika autolisis manusia diaktifkan saat berpuasa, maka ia akan mengerti bagaimana seharusnya kondisi sehat dari setiap jenis sel manusia, di bagian tubuh mana seharusnya sel itu berada dan berapa banyak jumlah selnya bagi tubuh sehat yang ideal. Autolisis akan meng-oksidasi lemak menjadi keton dan menghilangkan sel-sel rusak dan mati, menghilangkan benjolan hingga tumor serta timbunan lemak yg sering menjadi sarang zat beracun. Dengan demikian tubuh manusia menjadi seimbang (tawazun) dan sehat wal afiat saat mereka benar-benar berpuasa.? ? ? ?

Keseimbangan (al-Tawazun) pada aspek sosial kemasyarakatan juga akan terjadi pada orang-orang yang berpuasa. Saat berpuasa ketimpangan sosial akan segera dieliminir dengan digalakkannya shodaqoh, infak dan zakat yang menimbulkan rasa kepedulian sosial. Manusia-manusia kaya akan ikut juga merasakan bagaimana laparnya orang-orang faqir miskin. Kehidupan sosial kemasyarakatan menjadi seimbang karena kesalehan individual dan kesalehan sosial berpadu menjadi satu.

? Kedua; at-Tawassuth (berprilaku moderat)

Sikap tengah-tengah antara dua titik ekstrem adalah at-Tawassuth (berprilaku moderat). Ibadah puasa merupakan sikap tengah-tengah antara materialisme ekstrim dengan mengabaikan dimensi spiritual-ruhaniah dalam kehidupan manusia sehingga bersikap hedonis, atheis dan materialistis tidak perlu berpuasa dan berlapar-lapar diri sepanjang tahun. Dan yang kedua sikap spriritualisme ekstrem yang tidak bersikap adil terhadap aspek-aspek jasmaniah sehingga berpuasa sepanjang tahun (shoum ad-Dahr), sambil mengabaikan hak-hak tubuh, keluarga dan masyarakat. Sikap at-Tawassuth (berprilaku moderat) pada orang orang yang berpuasa mengejawantah pada pribadi dan masyarakat dengan sikap yang tenang, tentram, adil dan sejahtera.

Ketiga; al-Tasamuh (bersikap toleran)

Ajaran at-Tasamuh mengandung makna bersikap toleransi, saling menghargai, lapang dada, suka memaafkan dan bersikap terbuka dalam menghadapi perbedaan, kemajemukan dan pluralitas. Prinsip ketiga dari nilai dasar Aswaja (baca: Islam Nusantara) ini sangat terlihat jelas pada pribadi orang-orang yang berpuasa. Misalnya, Adanya perbedaan penetapan awal Ramadhan, warga NU dan umat Islam Indonesia mensikapi hal itu dengan penuh toleran, saling menghargai dan bersikap lapang dada. Kedua, perbedaan jumlah rakaat shalat taraweh juga disikapi seperti di atas.

Bahkan sikap toleran itu harus ditunjukkan oleh seorang muslim yang terhormat dengan menghormati orang yang tidak berpuasa, demi saling menghargai dan menghormati. Nilai al-Tasamuh (bersikap toleran) bagi warga NU dalam Islam Nusantara tersebut sudah mendarah daging dalam setiap kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara. Tidak sekedar pada saat bulan puasa, bahkan di luar bulan ramadhan pun warga Islam Nusantara tetap mengimplementasikan nilai-nilai Islam Aswaja yang nota bene adalah umat Islam Indonesia.

Keempat: al-I’tidal (berpihak pada kebenaran)

Ajaran al-I’tidal (berpihak pada kebenaran dan keadilan) merupakan sikap yang adil dan konsisten pada hal-hal yang lurus, benar dan tepat. Nilai al-I’tidal (berpihak pada kebenaran dan keadilan) dalam ibadah puasa termanifestasi dengan jelas bahwa secara spiritual, berpuasa merupakan sikap yang adil dan konsisten pada prinsip olah kesucian rohani, dan berpuasa merupakan ibadah ilahiyah yang tertuju khusus dan terfokuskan hanya karena dan untuk Allah SWT bukan untuk selain-NYA. Dalam ibadah puasa manusia konsisten mensucikan diri untuk mendekatkan ruhnya kepada yang Maha Suci. Manusia saat berpuasa selalu memuji Allah SWT (bertahmid ) dan membesarkan nama Allah SWT (bertakbir) untuk melepaskan dirinya dari pujian-pujian yang pada hakekatnya pujian itu hanya milik Allah SWT. Begitu juga dengan takbir, manusia hanya ingin membesarkan nama Allah SWT bukan ingin membesarkan dan mengagungkan uang, harta, tahta dan materi duniawi yang tidak kekal abadi. Bertitik tolak dari konsistensi nilai-nilai ilahiyah (al-i’tidal) tersebut maka pasti berdampak positif pada sikap yang adil dan konsisten terhadap diri manusia sendiri, keluarga dan masyarakat demi menjadikan pribadinya yang sholeh secara individual dan sekaligus sholeh secara sosial. Selain itu, berakibat baik juga dalam menciptakan keluarga yang sakinah mawaddah dan rahmah, serta mewujudkan masyarakat/negaranya yang ber-keadilan sosial bagi masyarakat (baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur). ? Wallahu a’lam bisshawab.....

?

Prof. Dr. M. IsomYusqi, MA, Direktur Pascasarjana STAINU Jakarta ? ? ? ? ?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nusantara, Pemurnian Aqidah Siti Efi Farhati

Sabtu, 30 Desember 2017

Jokowi Merasa “Nyess” Berada di Tengah-tengah Ulama NU

Jakarta,Siti Efi Farhati. Presiden Joko Widodo berkesempatan hadir di Istighotsah Akbar warga NU dalam rangka menyambut datangnya bulan Ramadhan, Ahad (13/6) sore sekaligus membuka Munas Alim Ulama. Di tengah suasana istighotsah, Jokowi mengaku merasa tenteram.

Jokowi Merasa “Nyess” Berada di Tengah-tengah Ulama NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Jokowi Merasa “Nyess” Berada di Tengah-tengah Ulama NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Jokowi Merasa “Nyess” Berada di Tengah-tengah Ulama NU

“Hati saya merasa "nyess", tenteram berada di tengah-tengah Alim Ulama Nahdlatul Ulama dalam acara istighotsah menyambut Ramadhan 1436H hari ini,” ujar Jokowi melalui Fan Page resminya ‘Presiden Joko Widodo’.

Mantan Gubernur DKI Jakarta ini menerangkan, bahwa dari catatan sejarah perjalanan bangsa, kepedulian para ulama kita pada masalah kebangsaan tak dapat dipungkiri lagi.?

Siti Efi Farhati

“Bahkan peran ulama Ahlussunnah Wal Jama’ah dalam pergulatan kebangsaan dan perannya di dunia internasional sudah dibuktikan jauh sebelum organisasi Nahdlatul Ulama lahir pada 1926,” tulisnya.

Dalam lansirannya tersebut, mantan Wali Kota Solo ini menandaskan, para ulama Nahdlatul Ulama mampu menyelaraskan nilai-nilai keislaman yang universal menjadi Islam yang membumi dan menyatu dengan budaya nusantara adalah salah satu sumber inspirasi dirinya.?

Siti Efi Farhati

“Kerja keras ulama seperti ini yang mampu mewujudkan Islam Nusantara, bukan Islam di Nusantara. Hubbul wathon minal iman, mencintai tanah air adalah bagian dari iman kita,” tulisnya lagi.?

Dalam kesempatan tersebut, Jokowi juga menegaskan akan segera menekan penetapan Hari Santri Nasional jika prosesnya sudah beres. "Saya tinggal nunggu saja. Masuk ke meja saya, bismillah, saya tanda tangani," tegasnya di hadapan puluhan ribu warga NU yang memadati Masjid Istiqlal Jakarta. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nusantara Siti Efi Farhati

Kamis, 28 Desember 2017

IAIN Cirebon Latih Santri Al-Hidayah Kihiyang Menghafal Al-Quran

Subang, Siti Efi Farhati. Dalam rangka melaksanakan pengabdian kepada masyarakat, Prodi Ilmu Al-Quran Dan Tafsir IAIN Syekh Nurjati Cirebon bekerja sama dengan Pesantren Al-Hidayah menggelar Workshop menghapal dan memahami kata ayat Al-Quran dengan metode My Q-Map, kegiatan tersebut digelar di aula Pesantren Al-Hidayah Desa Kihiyang, Kecamatan Binong, Subang, Jawa Barat, Jumat (28/7)

"Melalui kegiatan ini diharapkan akan memudahkan para santri dan para ustadz dalam menghapal Al-Quran, karena My Q-Map dinilai sebagai metode yang mudah dan menyenangkan dalam menghapal Al-Quran," papar Ustadz Ali Imran, Pengasuh Pesantren Al-Hidayah.

IAIN Cirebon Latih Santri Al-Hidayah Kihiyang Menghafal Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
IAIN Cirebon Latih Santri Al-Hidayah Kihiyang Menghafal Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

IAIN Cirebon Latih Santri Al-Hidayah Kihiyang Menghafal Al-Quran

Ditambahkannya, metode My Q-Map merupakan metode menghafal al-Quran yang diciptakan oleh Hj Dini Widyawati, metode tersebut menggunakan media gambar yang mewakili makna dalam ayat Al-Quran, hal ini sesuai dengan prinsip kerja otak dalam menangkap sesuatu yang mudah yaitu gambar.

"Keunggulan metode My Q-Map; santri mampu menghafal ayat secara acak dan membaca dari akhir ayat sampai ke awal ayat," tambah Sekretaris MWCNU Binong itu.

Siti Efi Farhati

Sementara itu, Hj Umayah selaku Kepala Prodi Ilmu Al-Quran Dan Tafsir IAIN Syekh Nurjati Cirebon menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan pembinaan masyarakat yang pertama kalinya dilaksanakan di Subang, karena sebelumnya pembinaan masyarakat hanya sekitar kampus saja.?

"Semoga ini menjadi awal yang baik untuk menjalin silaturahim antara IAIN Syekh Nurdjati Cirebon dengan pesantren-pesantren yang ada di kabupaten subang," imbuhnya.

Selain itu, ia juga berpesan kepada para santri agar tetap semangat dalam ? mempelajari Al-Quran sehingga diharapkan kelak mereka dapat menjadi generasi Qurani. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati IMNU, Nusantara, RMI NU Siti Efi Farhati

Rabu, 27 Desember 2017

Jokowi: Teladani dan Teruskan Perjuangan Syekh Nawawi Al-Bantani

Jakarta, Siti Efi Farhati. Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menghadiri dan memberikan sambutan dalam acara peringatan Haul ke-124 Al-Maghfurlah Syekh Nawawi Al-Bantani di Pesantren An Nawawi Tanara di Serang, Banten, Jumat (21/7) kemarin.?

Jokowi: Teladani dan Teruskan Perjuangan Syekh Nawawi Al-Bantani (Sumber Gambar : Nu Online)
Jokowi: Teladani dan Teruskan Perjuangan Syekh Nawawi Al-Bantani (Sumber Gambar : Nu Online)

Jokowi: Teladani dan Teruskan Perjuangan Syekh Nawawi Al-Bantani

Jokowi mengatakan, sepanjang sejarah negeri kita ini, ada tiga ulama yang pernah menjadi Imam Masjidil Haram di Makkah. Satu di antaranya ulama kelahiran Serang, Syekh Nawawi Al-Bantani yang hidup di abad ke-19.

“Di perhelatan haul itu saya mengajak seluruh rakyat Indonesia, khususnya umat Islam, untuk meneladani dan meneruskan perjuangan Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujar Jokowi di halaman Facebook miliknya, Sabtu (22/7).

Ia mengakui bahwa Syekh Nawawi adalah seorang ulama sekaligus intelektual. Ia mewariskan lebih dari 100 buku karyanya dalam berbagai disiplin ilmu, dari ilmu tafsir, ilmu kalam, tauhid, hadits, dan lain-lain.

“Murid-muridnya banyak yang menjadi ulama besar dan berjuang untuk bangsa ini. Di antaranya adalah pendiri Nahdlatul Ulama KH Muhammad Hasyim Asyari dan pendiri Muhammadiyah KH Achmad Dahlan,” terang mantan Wali Kota Solo, Jawa Tengah ini.

Siti Efi Farhati

Ulama produktif

Keterangan tentang Syekh Nawawi Al-Bantani ini juga dijelaskan KH Cholil Nafis, Pengurus MUI Pusat. Ia menerangkan, Syekh Nawawi al Jawi al-Banteni itu ulama besar. Imam Masjidil Haram, Syyid Ulama Hijaz, al Allamah al Fahhamah ad Daqqiq wal Muahhaqiq, Ulama terkemuka pada abad XIV Hijriyah, serta predikat mulia lainnya.?

Syekh Nawawi al-Banteni adalah murid Syekh Ahmad Khothib Sambas (1803-1875) yang menjadi Imam Masjidil Haram dan kemudian diwarisi oleh Syekh Nawawi,” ujar Cholil Nafis yang juga mengungkapkan lewat akun Facebook miliknya, Sabtu (22/7).

Syekh Nawawi, jelasnya, tergolong ulama yang produktif. Karangan kitabnya dalam bahasa Arab lebih dari 115 kitab. Menurut hasil penelitian Martin Van Brunissen, seorang peneliti Indonesianis asal Belanda bahwa dari 46 pesantren terkemuka di Indonesia sebanyak 42 pesantren mengajarkan kitab-kitab Syekh Nawawi.

Siti Efi Farhati

Hal ini, tandas Cholil, sesuai dengan beberapa tokoh dan pendiri pesantren yang menjadi murid Syekh Nawawi sehingga kitab-kitabnya menjadi rujukan dan buku ajar di banyak pesantren.?

Di antara murid Syekh Nawawi al-Banteni yaitu Syekh Ahmad Khotib al Minangkabawi (1860-1916), Syekh Mahfudz Termas (1868-1820), Syekh Kholil Bangkalan dan Hadlratussyekh Muhammad Hasyim Asyari (1875-1947 M) pendiri NU, dan Kiai Haji Ahmad Dahlan (1868-1923) pendiri Muhammadiyah. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Aswaja, Pondok Pesantren, Nusantara Siti Efi Farhati

Selasa, 26 Desember 2017

Pameran Bisnis Pengusaha NU Dihelat di Jakarta

Jakarta, Siti Efi Farhati. Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) menyelenggarakan eksebisi bisnis pengusaha NU dalam program “Saudagar Fest 2013” di Mall of Indonesia Kelapa Gading Jakarta, 9-22 September 2013.

Pameran Bisnis Pengusaha NU Dihelat di Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Pameran Bisnis Pengusaha NU Dihelat di Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Pameran Bisnis Pengusaha NU Dihelat di Jakarta

Gelaran pameran ini berkenaan dengan upaya HPN dalam menyongsong peringatan satu abad Nahdlatut Tujjar, sebuah gerakan ekonomi awal abad ke-20 sebagai embrio berdirinya NU.

Panita telah menyiapkan 100 stan yang akan menampilkan ratusan produk dan jasa yang menjadi bidang bisnis perusahaan dan UKM Nahdliyin dari seluruh Indonesia.? Selain pameran dalam perhelatan dua minggu tersebut akan diadakan acara “Temu Saudagar NU dan Bursa Peluang Usaha’, yang membicarakan strategi pemberdayaan ekonomi Nahdliyin dan penawaran peluang-peluang usaha untuk para pengusaha Nahdliyin di seluruh Indonesia.?

Siti Efi Farhati

Menurut Ketua Umum HPN Ir Abdul Kholik, peluang usaha yang akan ditawarkan dalam ajang Saudagar Fest antara lain wirausaha ticketing (kerjasama HPN-Tiket.com grup usaha SCTV) dan usaha micro finance (kerjasama Koperasi HPN-Syirkah Muawanah dengan Skd-Raptor, sebuah perusahaan Venture Capital asal Singapura.?

Siti Efi Farhati

HPN juga menawarkan Usaha Produksi Beras Organik (kerjasama HPN-PT SAE) dan ? peluang usaha menjadi pemasok supermarket Carefour (kerjasama HPN-PT Trans Retail Indonesia).

"Semua peluang usaha tersebut akan dipaparkan secara mendalam oleh masing-masing partner usaha HPN," tegas Abdul Kholik.

Sebagai badan asosiasi pengusaha yang non-struktural di NU, HPN bertekad menjadi wadah bagi para pengusaha NU yang ingin mengembangkan usaha dan pasar dengan menggunakan spirit Nahdlatut Tujjar yang dibentuk pada 1918.?

"Atas dasar itu, HPN ingin mengejar ketertinggalan akses dan keterampilan bisnis para saudagar NU yang pernah diidam-idamkan Kyai Wahab Hasbullah saat menggagas Nahdlatut Tujjar," lanjut Abdul Kholik yang juga pemilik dan Direktur Utama Azet Surya, perusahaan manufaktur energi solar cell.

Karena itu, di sela Saudagar Fest 2013, HPN mengundang 200 pengusaha NU dan juga perwakilan LPNU dari 11 PWNU di Indonesia, dalam silaturahim Saudagar NU pada 14-15 September 2013.

"Dalam silaturahim tersebut, para pengusaha akan kami tawari untuk mengembangkan usaha bisnis di lima sektor tadi, di samping mengembangkan jaringan HPN di 11 provinsi sebagai tahapan awal," tandasnya.?

Sebagaimana diketahui, HPN didirikan dan diluncurkan oleh PBNU di Jakarta Convention Center, Jakarta, dalam acara “NU Expo 2011” sebagai rangkaian peringatan hari lahir NU.?

Siaran pers HPN menyebutkan, ke depan HPN merupakan asosiasi pengusaha independen berbasis pebisnis Nahdliyin dan akan menginduk pada Kamar Dagang dan Industri (Kadin) sabagai wadah pebisnis di Indonesia. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nusantara, Kajian Siti Efi Farhati

Senin, 18 Desember 2017

LAZISNU Serukan Muslim Indonesia Galang Dana untuk Palestina

Jakarta,Siti Efi Farhati. Direktur Eksekutif Pengurus Pusat? Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqoh (LAZISNU) H Amir Ma’ruf menyerukan umat Islam Indonesia untuk membantu korban tragedi kemanusiaan di Palestina. Bantuan bisa dilakukan dengan mengumpulkan dana yang akan disalurkan ke negara tersebut.

LAZISNU Serukan Muslim Indonesia Galang Dana untuk Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Serukan Muslim Indonesia Galang Dana untuk Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Serukan Muslim Indonesia Galang Dana untuk Palestina

Menurut Amir, seruan itu juga sudah disampaikan kepada cabang-cabang LAZISNU di tiap tingkatan untuk segera menggalang dana. Ia berharap, tidak hanya LAZISNU yang melakukan hal itu, tapi banom, lajnah, dan lembaga NU.

Amir mengatakan, Palestina saat ini ada banyak luka dan korban nyawa, serta kerusakan infrastruktur. “Maka yang paling pokok, LAZISNU menyerukan mMuslim Indonesia untuk membantu. Mereka perlu dukungan internasional, terutama dunia Islam,” tegasnya.

Siti Efi Farhati

Menurut Amir, warga Muslim dunia harus terlibat sesuai kapasitas masing-masing. Bagi yang punya kekuatan fisik, harus membantu dan menjadi relawan ke sana. Bagi yang punya rezeki mari membantu bareng-bareng berrsama LAZISNU. “Kita akan kumpulkan dulu dana, nanti akan dikomunikasikan dan kirimkan ke sana.”

Serta bagi yang punya kekuatan diplomasi, harus segera dilakukan. LAZISNU meminta pemerintah Indonesia untuk berperan aktif melalui diplomasi internasional supaya tragedi ini segera diselesaikan serta mendesak PBB sama berpean aktif menghadang kejadian itu. “Kali ini banyak korban anak-anak. Ini masa depan bangsa Muslim dipertaruhkan,” tegasnya. (Abdullah Alawi)

?

Siti Efi Farhati

#Mari salurkan donasi melalui Rek BNI 0108575648 atas nama Lazis NU, dan akan disalurkan berupa program makanan dan obat-obatan serta bantuan tempat tinggal langsung kepada para korban di Gaza.

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nasional, Nusantara, Pemurnian Aqidah Siti Efi Farhati

Jumat, 15 Desember 2017

Mahasiswa UI Diskusi Soal Gus Dur

Jakarta, Siti Efi Farhati. Puluhan mahasiswa UI antusias menghadiri diskusi “Gus Dur, Pluralisme dan Gerakan Pemuda” yang diselenggarakan LSIM FISIP UI dengan Akademi Politik Kebangsaan (Akpolbang) di Auditorium Juwono Sudarsono FISIP UI, Kamis (26/2012). Diskusi diadakan dalam suasana Ramadhan dan liburan semester.

Mahasiswa UI Diskusi Soal Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa UI Diskusi Soal Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa UI Diskusi Soal Gus Dur

Salah satu pembicara, Eman Hermawan, aktivis Garda Bangsa menyatakan bahwa komitmen pluralisme Gus Dur diwujudkan antara lain dengan merajut dan menyapa kaum minoritas yang dipinggirkan di era Orde Baru.

“Tidak hanya kaum minoritas agama, Gus Dur juga menjalin hubungan dengan minoritas politik di era Orba seperti kaum oposisi dan gerakan LSM dan mahasiswa, sehingga Gus Dur menjadi sentral dari gerakan civil society vis a vis negara di era Orba,” tandas Eman Hermawan. ?

Siti Efi Farhati

Namun demikian, banyak masyarakat yang salah paham terhadap Gus Dur ketika terjun ke arena politik praktis di era reformasi dan menganggapnya telah mengkhianati gerakan masyarakat sipil. ? Menurut Eman, terjunnya Gus Dur ke arena politik praktis adalah kewajaran dan keniscayaan dari gerakan masyarakat sipil yang salah satu target utamanya adalah merebut kekuasaan negara untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat.

Siti Efi Farhati

Sementara itu, pembicara lainnya, Alfanny, Ketua Forum Alumni PMII UI, lebih menyoroti soal gerakan pemuda. Ia menguraikan konstruksi sosial masyarakat Indonesia yang dibentuk oleh bangunan kolonialisme. Dikatakannya, pemerintah Hindia Belanda maupun negara pegawai (beambtenstaat) telah melemahkan semangat entrepreneurship dan kemandirian masyarakat, khususnya pemuda Indonesia.

“Di sektor ekonomi, para pemuda kini lebih senang menjadi pegawai daripada pengusaha, dan di bidang politik, para pemuda bukannya menjadi leader tapi malah menjadi dealer politik”, tandas Alfanny, alumni Ilmu Sejarah UI tersebut.

Dengan demikian, sulit diharapkan tampil generasi muda yang mampu mewarisi cita-cita gerakan sosial Gus Dur yang penuh dengan semangat kemandirian baik di bidang ekonomi dan politik.

Diskusi yang merupakan rangkaian “Akpolbang Road To Campus” tidak hanya dihadiri oleh mahasiswa UI, tapi juga UIN Ciputat dan Unas serta aktivis dari PMII dan GMNI. ? Diskusi ditutup dengan buka puasa bersama.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nusantara, Sejarah Siti Efi Farhati

Selasa, 28 November 2017

Jelang Konferwil IPPNU Jabar, Peran Perempuan Harus Diteguhkan

Ciamis, Siti Efi Farhati. Wanita adalah tiangnya negara, apabila wanita itu baik maka baiklah suatu negara tapi apabila wanitanya hancur maka hancur pula suatu negara. Begitulah sebuah kata hikmah yang sering didengar. Lihatlah urgensi peranan perempuan dalam sebuah kehidupan dan pembangunan suatu bangsa.?

Jelang Konferwil IPPNU Jabar, Peran Perempuan Harus Diteguhkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Konferwil IPPNU Jabar, Peran Perempuan Harus Diteguhkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Konferwil IPPNU Jabar, Peran Perempuan Harus Diteguhkan

Demikian disampaikan Ketua PC IPPNU Ciamis, Adiesti Mutia Ayu Fadhila, Jumat (18/11) menjelang pergelaran Konferwil PW IPPNU Jawa Barat.

Namun dewasa ini, menurutnya, anggapan bahwa kualitas perempuan dalam pembangunan masih sangat rendah, yang menyebabkan peran kaum perempuan tertinggal dalam segala aspek kehidupan.?

“Maka untuk mengatasinya diperlukan upaya dan strategi mengintegrasikan gender ke dalam arus pembangunan dengan cara menempatkan perempuan sebagai subjek pembangunan,” ujar Adiesti.

IPPNU merupakan sebuah wadah yang meliputi upaya dan strategi untuk memberdayakan perempuan dalam pembangunan.?

Siti Efi Farhati

Dengan artian IPPNU hadir dalam potret meningkatkan kualitas dan peran perempuan pada pembangunan semua aspek kehidupan baik itu dalam pembangunan karakter (character building) atau terlibat dalam akselerasi proses pembangunan.

Karls (1995) menyatakan bahwa pemberdayaan kaum perempuan sebagai suatu proses kesadaran dan pembentukan kapasitas (capacity building) terhadap partisipasi yang lebih besar, kekuasaan dan pengawasan dalam pembuatan keputusan dan tindakan transformasi agar menghasilkan persamaan derajat yang lebih besar antara perempuan dan kaum laki-laki.?

Siti Efi Farhati

IPPNU hadir sebagai partner pembangunan. Isu gerakan dan pemberdayaan perempuan yang berkembang berkisar dalam suatu pemikiran bahwa perempuan sebagai sumberdaya pembangunan, dengan kata lain politik gender telah memakai pendekatan Women in Development dimana perempuan terintegrasi sepenuhnya dalam derap pembangunan nasional.?

Konferensi Wilayah IPPNU Jawa Barat mengangkat tema "Perempuan untuk Indonesia" yang akan digelar pada 25-27 November 2016 di Pondok Pesantren Ashidiqiah, Cilamaya Kabupaten Karawang yakni ponpes milik Ketua Tanfidzyah PWNU Jawa Barat.?

Perhelatan Konferensi Wilayah XV ini sebagai bukti bahwa IPPNU Jawa Barat ikut serta dalam setiap derap pembangunan bangsa. ? Sebagai wanita yang berdikari, potret wanita nusantara. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nusantara Siti Efi Farhati

Sabtu, 25 November 2017

Cahaya Bagi Amaliyah NU yang Dipertanyakan

Amaliyah yang gampang dikerjakan dan mendatangkan pahala yang besar itu sebenarnya banyak. Seperti Yasinan, Tahlilan, Ziarah Kubur, Shalawatan, dzikir, dan lain-lain. Amaliyah yang demikian mayoritas warga NU yang mengamalkan. Namun dewasa ini, dari beberapa amaliyah yang gampang itulah ternyata menuwai banyak kritik dari berbagai golongan. Bahkan kritikan terkadang datang dengan sedikit keras. Meraka terlalu gampang menyalahkan seseorang, mensyirikkan seseorang, bahkan mengkafirkan seseorang. Memang sebuah ironi. Mereka seakan lupa bahwa Islam itu sebagai agama yang rahmatal lil’alamin.

Zaman sudah dipola sedemikian rupa. Yang benar terkadang jadi salah dan yang salah terkadang jadi benar. Baik dalam konteks pemerintahan maupun agama. Beragam aliran baru dalam beragama bermunculan. Akhirnya, hal inilah yang menggoyah jalannya organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) itu. Sebagian ulama NU mengatakan bahwa sekarang keadaan NU sama dengan waktu dulu semenjak NU baru dilahirkan. Kondisi NU sekarang lebih pada mempertahankan diri.

Cahaya Bagi Amaliyah NU yang Dipertanyakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Cahaya Bagi Amaliyah NU yang Dipertanyakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Cahaya Bagi Amaliyah NU yang Dipertanyakan

Bagi warga NU yang pengetahuan agamanya sudah luas, mungkin problematika yang seperti ini tidak sampai menimbulkan permasalahan atau murusak amaliyahn yang sudah mentradisi dalam NU. Namun, bagi warga NU yang hanya mengamalkan amaliyahnya tanpa tahu dalil-dalil yang menjelaskan tentang amaliyahnya, disinilah bahayanya. Saya mengibaratkan hal ini dengan orang yang berjalan yang hanya berjalan. Ia tidak tahu atas dasar apa ia berjalan dan ia tidak mengerti mengapa ia berjalan. Maka, orang itu bisa jadi ditengah perjalanan nanti akan mengalami kejenuhan, bosan, dan malas. Apalagi dalam perjalanan itu ada orang yang mengolok-olok bahwa perjalanan yang sedang dijalani itu membawa kesesatan. Kemungkinan besar orang yang melakukan perjalanan itu kembali pulang dan akhirnya dia tidak mau melakukan perjalanan lagi.

Nah, terbitnya buku yang berjudul Dalil-dalil Praktis Amaliyah Nahdliyah (Ayat dan Hadits Seputar Amaliyah Warga NU) itulah seolah menjadi cahaya yang menyinari amaliyah-amaliyah  warga Nahdlatul Ulama (NU). Dengan cahaya itu, dasar-dasar atau dalil-dalil tentang amaliyah NU menjadi tampak dan jelas. Sehingga bisa dipahami bahwa amaliyah yang dilakukan oleh warga NU tidak asal buat. Semuanya bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits.

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati

Beberapa amaliyah yang ditentang keras oleh beberapa golongan antara lain adalah seperti Tahlilan, Shalawatan, Ziarah Kubur, dan Maulid Nabi, juga di sajikan penjelasannya dalam buku yang setebal 245 itu. Misalnya tentang Tahlilan, Zainuddin Fanani, MA dan Atiqa Sabri Daila, MA mengungkapakan bahwa Tahlilan itu adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan keagamaan umat Islam. Tahlilan adalah media yang sangat penting untuk dakwah dan penyebaran Islam. Dari segi sejarah, Tahlilan sudah ada sejak dahulu sebelum berdirinya Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Perbedaan dan pertentangan dalam tradisi Tahlilan hanya terjadi di antara pemimpin intlektual NU dan Muhammadiyah. Sementara umat mengamalkan tradisi ini.

Tradisi Tahlilan memiliki dua aspek, ketuhanan (hubungan dengan Allah) dan kemanusiaan (hubungan sesama manusia). Tahlilan adalah masalah khilafiyah, maka tidak boleh menjadi penghalang persatuan dan kesatuan umat Islam setelah mengesahkan Allah. (hal 198)

Yang menarik, permaslahan yang terjadi setiap tahun seperti penetapan awal Ramadan  dan Syawal (hal 126), bahkan  ringkasan kitab Risalah Ahlusunnah wal Jama’ah (Karya Hadratus Syaik Muhammad Hasyim Asy’ari) juga ada dalam buku yang ditulis oleh ketua PCNU kota Malang itu. (hal 179). 

Dari sisi lain, membaca buku yang ditulis oleh KH. Marzuqi Mustamar itu mencerminkan bahwa beliau mempunyai tanggung jawab besar dalam membantengi dan menjaga warga NU. Menjaga bagaimana Warga NU tetap dalam jalan yang telah dibina oleh NU. Beliau takut warga NU menghentikan langkah dan tidak mau meneruskan lagi perjalanannya. Maka dari itulah, buku yang ditulis oleh dosen di UIN Maulana Malik Ibrahim itulah sangat dianjurkan untuk dibaca oleh semua masyarakat terutama warga NU. Wallahu a’lam.

Data buku

Judul : Dalil-dalil Praktis Amaliyah Nahdliyah (Ayat dan Hadits Pilihan Seputar Amaliyah Warga NU)

Penulis : KH. Marzuqi Mustamar

Penerbit : Muara Progresif Surabaya

Cetakan : I, Maret 2014

Tebal : xi + 245 hal. 14,5 x 21 cm

Peresensi : Moh. Sardiyono, alumnus PP. Nasy-atul Muta’allimin Gapura  Sumenep Madura dan Mahasiswa di UIN Sunan Ampel Surabaya

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Syariah, Nusantara, Tegal Siti Efi Farhati

Selasa, 17 Oktober 2017

Jalin Silaturrahim, Pagar Nusa Probolinggo “Tarung Bebas”

Probolinggo, Siti Efi Farhati. Pencak Silat Nahlatul Ulama Kota Kraksaan menjalin tali silaturrahim antar perguruan pencak silat yang tergabung dalam Pagar Nusa dengan menggelar lomba “Tarung Bebas” se-Kabupaten dan Kota Probolinggo di Aula PCNU Kota Kraksaan, Sabtu (1/6).?

Jalin Silaturrahim, Pagar Nusa Probolinggo “Tarung Bebas” (Sumber Gambar : Nu Online)
Jalin Silaturrahim, Pagar Nusa Probolinggo “Tarung Bebas” (Sumber Gambar : Nu Online)

Jalin Silaturrahim, Pagar Nusa Probolinggo “Tarung Bebas”

Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Harlah ke-90 NU ini diikuti lebih dari 86 peserta, utusan dari MWCNU yang berada di wilayah PCNU Kota Kraksaan, pondok pesantren, madrasah dan sekolah sekitar.?

Ketua Pagar Nusa Kota Kraksaan Buasin, M.Pd berharap, kegiatan kali ini merupakan media untuk memupuk tali silaturrahmi antara beberapa perguruan pencak silat yang tergabung dalam wadah Pagar Nusa.?

Siti Efi Farhati

“Melalui pertandingan ini, akan didapatkan bibit pendekar dan pesilat yang tangguh dan potensial, sehingga mampu mengangkat Pagar Nusa di Kabupaten Probolinggo untuk kemudian diseleksi pada tingkat propensi. Mari kita junjung sportivitas untuk meraih prestasi,” ujarnya.

Untuk memupuk motivasi para pendekar, H. Abdul Manan, M. Pd.I, Ketua Pagarnusa Wilayah Jawa Timur mengucapkan selamat atas terselanggaranya invitasi pesilat di PCNU Kota Kraksaan.

Siti Efi Farhati

“Kegiatan ini sangat jarang sekali diadakan oleh organisasi Pagar Nusa, padahal sudah saatnya para pendekar dan pesilat mengasah dan mengembangkan potensi yang dimilikinya melalui wadah tersebut demi mengapai prestasi yang gemilang,” katanya.?

Ditambahkannya, pagar nusa dilahirkan dan didirikan oleh para Ulama yang benar-benar taqwa kepada Allah, sehingga tujuannya pun jelas, berbeda dengan organisasi pencak silat pada umumnya. Kalau Pagar Nusa dinilai tidak mendatangkan manfaat kepada warga Nahdliyin, maka tidak akan didirikan oleh para pendahulu NU.?

“Sebagus apapun pendekar NU, pasti mereka beretika dan santun, seperti filsafatnya padi, semakin berisi semakin merunduk. Itulah falsafat pendekar dan pesilat NU yang selama ini ada”, lanjutnya disertai tepuk tangan para peserta dan penonton.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Hasan Baharun

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nusantara Siti Efi Farhati

Kamis, 05 Oktober 2017

Kang Said: Negara Dulu, Baru Agama

Indramayu, Siti Efi Farhati

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj hadir memberikan ceramah agama pada acara Haul ke VIII Ki Newes dan Nyi Newes (leluhur warga Desa Kedungwungu, Krangkeng, Indramayu, Jawa Barat). Meskipun selepas Isya hujan mengguyur lokasi acara, tidak menyurutkan niat masyarakat Kedungwungu dan sekitarnya untuk mendengarkan tausiyah Kang Said baru-baru ini.

Bertempat di halaman Masjid Jami Kedungwungu, selama hampir satu setengah jam Kang Said memberikan berbagai pengetahuan, baik agama maupun umum.

Kang Said: Negara Dulu, Baru Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Negara Dulu, Baru Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Negara Dulu, Baru Agama

"Ulama ahlussunnah wal jamaah sejak dahulu hingga sekarang berjasa besar pada kita. Karena tanpa mereka, bisa saja umat Islam menjadi radikal, atau bisa pula malah sekuler," ungkapnya mengawali ceramahnya yang malam itu mengenakan batik. Ia lantas membeberkan siapa saja diantara ulama itu. Mulai dari Imam Syafii yang telah berjasa besar dalam hal syariat, Imam Asyari dalam hal akidah, Imam Ghozali dalam hal tasawwuf, dan KH Hasyim Asyari, karena kakeknya Gus Dur ini telah berhasil mensinergikan antara Islam dengan kebangsaan.

"Islam saja tanpa nasionalisme, belum bisa mempersatukan umat. Nasionalisme saja tanpa Islam, akan jadi nasionalisme yang kering. Makanya Mbah Hasyim punya gagasan, ukhuwwah islamiyyah harus paralel dengan ukhuwwah wathoniyyah," terang Kang Said.?

Siti Efi Farhati

Lebih lanjut beliau menjelaskan dengan perinci kenapa gagasan Mbah Hasyim itu merupakan jasa besar, sampai dengan menceritakan konflik yang terjadi di Timur Tengah akibat tidak adanya nasionalisme yang tertanam pada jiwa generasi penerusnya.?

"Oleh karena itu, negara aman dulu, baru bicara agama. Kedungwungu aman dulu, negara aman dulu, baru bangun pesantren, pengajian," ungkapnya.

"Maka dengan semangat itu (nasionalisme), mari kita bela NKRI, kita bela kedaulatan hukum, ekonomi, politik kita. Mari kita jaga kekayaan alam kita, kekayaan laut, hutan, tidak boleh dijarah sejengkal pun oleh orang luar negeri. Boleh investasi dari mana saja, ambil minyak, ambil gas, batu bara, asal jelas deviden, pembagiannya," tambahnya yang langsung disambut tepuk tangan meriah dari para jamaah.

Tepuk tangan meriah jamaah saat Kang Said menyinggung soal pertambangan menjadi maklum. Pasalnya di desa Kedungwungu tersebut, saat ini kaum Nahdliyyin setempat sedang berjuang menjaga kelestarian alamnya. Mereka sedang menuntut Pertamina segera menutup kolam limbah yang telah mencemari sumur-sumur warga. Dan selain limbah, ternyata meskipun Pertamina telah beroperasi lebih dari 40 tahun di desa tersebut, warga tidak pernah merasa adanya timbal-balik yang positif dari keberadaan Pertamina. Hal ini terbukti dengan masih kurangnya infrastruktur di desa tersebut, jangankan irigasi, jalan saja masih berlubang di sana-sini. Masyarakat tidak pernah tahu desa ini mendapatkan kompensasi apa dari Pertamina.

Siti Efi Farhati

Meski malam itu gerimis terus menetes mengiringi ceramah Kang Said, suasana terasa hangat. Apalagi, semakin malam materi yang beliau sampaikan semakin menarik.

"Tidak ada nilai baiknya aktivitas kita (komunitas, perkumpulan, partai politik, bahkan negara) di mata Allah, kalau tidak punya tiga agenda: menghilangkan kemiskinan, memperbaiki pendidikan, dan membangun masyarakat yang saleh," imbunya di penghujung tausiyahnya.

Selepas menutup acara dengan doa, Kang Said meninggalkan lokasi acara. Sebelum bertolak ke kediaman, beliau ramah tamah dengan teman-teman seperjuangannya waktu di Pesantren Lirboyo. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nasional, Ulama, Nusantara Siti Efi Farhati

Jumat, 08 September 2017

Harlah Ke-82 NU Dinilai Istimewa

Jember, Siti Efi Farhati

Peringatan Hari Lahir (Harlah) Ke-82 Nahdlatul Ulama kali berbeda dengan Harlah sebelumnya. Menurut rencana yang sudah disusun Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), akan ada telekonferensi pidato Rais Aam yang bisa disimak secara serentak di seluruh Pengurus Wilayah di seluruh Indonesia.



Harlah Ke-82 NU Dinilai Istimewa (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah Ke-82 NU Dinilai Istimewa (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah Ke-82 NU Dinilai Istimewa

Di masing-masing Pengurus Wilayah para pengurus NU berkumpul dalam jumlah besar. “Ini yang bernilai istimewa,” kata KH Muhyiddin Abdusshomad, Ketua Pengurus Cabang NU Jember, saat ditemui di kediamannya, Pondok Pesantren Nuris, Antirogo, Jember, Rabu (16/1).

Menurut Kiai Muhyiddin, warga NU sebenarnya sudah biasa berkumpul, baik di masjid maupun dalam acara-acara yang lain. Hal itu sekaligus sebagai bukti kalau jumlah warga NU memang besar. Namun untuk kali ini kumpul-kumpul itu akan bernilai luar biasa, karena difasilitasi dengan alat teknologi canggih yang bisa menampilkan gambar serentak ke seluruh Indonesia dalam waktu bersamaan.

Siti Efi Farhati

Selain adanya teleconference, nilai istimewa lain harlah kali ini adalah adanya semangat untuk meneguhkan kembali jati diri organisasi, lepas dari pemanfaatan kepentingan orang luar terhadap NU. Gambaran yang jelas adalah adanya penolakan sebagian besar PCNU di Jawa Timur atas rencana majunya Ketua PWNU Dr Ali Maschan Moesa, MSi, dalam ajang Pilgub yang akan datang.

Siti Efi Farhati

Pemandangan itu bisa dilihat dari pertemuan yang diadakan PBNU di Pesma Al-Hikam Malang pada Sabtu (12/1) lalu. Hal itu, menurut Kiai Muhyiddin, menunjukkan kalau mayoritas PCNU keberatan kalau NU dijadikan kendaraan untuk kepentingan politik.

Dalam pandangan pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris) itu, kalau NU sudah lepas dari politik praktis, maka kran komunikasi dengan sesama warga NU yang ada di manapun langsung terbuka lancar. Tidak lagi tersumbat. “Sebab pada pengalaman selama ini, partai-partai itu selalu menjadi sekat komunikasi antar sesama warga NU,” tuturnya.

Hal lain yang bernilai istimewa dalam harlah kali ini, adalah timbulnya semangat dari warga NU untuk mengibarkan panji-panji NU di seluruh pelosok daerah, sesuai instruksi PBNU. Apalagi dalam waktu yang lama, selama satu bulan penuh. Bahkan sampai banyak Ranting yang berlomba memperpanjang bendera dan spanduk agar suasana di sekitar mereka semakin ramai. (sbh)Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nusantara, Anti Hoax, Cerita Siti Efi Farhati

Minggu, 06 Agustus 2017

LTMI Lakukan Sosialisasi Amandemen UUD 1945

Jakarta, Siti Efi Farhati. Undang-Undang Dasar 1945 telah diamandemen selama 4 kali. Namun sejauh ini, belum banyak masyarakat yang memahami apa saja pasal yang dirubah, mengapa dirubah dan bagaimana bentuk perubahan dasar aturan bernegara di Indonesia ini.

Pentingnya pemahaman UUD hasil amandemen ini disadari oleh pengurus Lembaga Takmir Masjid Indonesia (LTMI) NU dengan mengadakan sosialisasi kepada para takmir masjid yang menjadi binaannya di wilayah Jakarta dan sekitarnya di gedung PBNU, Rabu (6/8).

LTMI Lakukan Sosialisasi Amandemen UUD 1945 (Sumber Gambar : Nu Online)
LTMI Lakukan Sosialisasi Amandemen UUD 1945 (Sumber Gambar : Nu Online)

LTMI Lakukan Sosialisasi Amandemen UUD 1945

Samsul Huda, pengurus LTMI menjelaskan khotib merupakan corong NU yang langsung bersinggungan dengan masyarakat, karena itu pemahaman mereka akan kehidupan berbangsa dan bernegara sangat penting. Karena itu, perubahan ini harus direspon dengan cepat oleh masyarakat.

Siti Efi Farhati

dalam sambutannya Ketua LTMI Syarifuddin Muhammad menyatakan siap membantu MPR untuk melakukan sosialisasi UUD hasil amandemen ini melalui jaringan masjid yang dimilikinya di seluruh Indonesia.

Siti Efi Farhati

Dalam paparannya, Prof Dr Cecep Syarifuddin menjelaskan, amandemen UUD 1945 merupakan tuntutan yang disuarakan oleh gerakan reformasi tahun 1998. Pada masa Orde Baru, UUD 1945 dianggap sesuatu yang sangat sakral dan tidak boleh dirubah sedikitpun, padahal UUD ini hanya dibuat beberapa hari sebelum proklamasi sehingga banyak hal penting yang belum dicantumkan.

”Banyak pasal yang dibuat terlalu luwes sehingga bisa menimbulkan multitafsir. Pasal pembelaan negara juga belum cukup didukung oleh konstitusi,” katanya.

Beberapa aspek penting yang diperkuat dalam amandemen diantaranya adalah penegakan hukum, demokrasi dan HAM, kebebasan pers, dan otonomi daerah. Tak semuanya berdampak positif, otonomi yang memberi kekuasaan yang besar kepada kepala daerah banyak disalahgunakan oleh bupati dan walikotanya.

Cecep yang juga mantan ketua PBNU ini menegaskan amandemen ini tidak merubah pembukaan UUD 1945 karena hal ini merupakan ruh dan acuan keseluruhan yang ada di dalamnya.

”Amandemen tidak boleh merubah pembukaan UUD 1945 yang dimaknai sebagai akte kelahiran, ruh dari keseluruhan konstitusi UUD yang merupakan acuan keseluruhan didalamnya,” terangnya.

Ia menegaskan, satu hal penting yang tercantum dalam pembukaan adalah adanya pengakuan bahwa kemerdekaan ini merupakan ”berkat dan rahmat Allah” yang menunjukkan peran tuhan dalam proses kemerdekaan ini. ” Pembukaan ini merupakan perpaduan nilai kebangsaan, keagamaan yang berdasar pada kemanusiaan,” tandasnya.

Hal lain yang tetap dipertahankan dalam amandemen adalah bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan sistem pemerintahan presidensial. ”Tetap mempertahankan NKRI bagi NU merupakan bentuk final. Kita berterima kasih kepada para ulama yang telah mencanangkan pentingnya NKRI dalam muktamar NU di Situbondo tahun 1984,” ujarnya. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Jadwal Kajian, Nusantara, Humor Islam Siti Efi Farhati

Selasa, 20 Juni 2017

KH Masykur: Komandan Sabilillah dari Bumi Arema

Oleh Munawir Aziz

Periode perjuangan yang menjadi bagian penting dalam narasi kemerdekaan Indonesia, adalah peristiwa Surabaya, November 1945. Perjuangan untuk mengawal kemerdekan ini, menjadi catatan penting dalam sejarah bangsa, yang kemudian diabadikan sebagai Hari Pahlawan Nasional. Akan tetapi, dalam narasi besar sejarah perjuangan bangsa, peran para kiai dan santri yang ikut berjuang mengomando perjuangan hanya sayup-sayup terdengar. Bagaimana kisahnya?

Pada kurun revolusi, salah satu nama penting dalam perjuangan kebangsaan yang perlu dicatat adalah Kiai Masykur. Bersama para kiai lain, Kiai Masykur menjadi komando laskar kiai, yakni Laskar Sabilillah. Dalam catatan militer dan perjuangan bangsa, Laskar Sabilillah dan Laskar Hizbullah memiliki sumbangsih besar untuk mengawal kemerdekan Indonesia. ?

KH Masykur: Komandan Sabilillah dari Bumi Arema (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Masykur: Komandan Sabilillah dari Bumi Arema (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Masykur: Komandan Sabilillah dari Bumi Arema

Siapakah Kiai Masykur, pemimpin Laskar Sabilillah? Bagaimana sumbangsih dan pengabdiannya untuk perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia? ?

Kiai Masykur lahir di Singosari, Malang, Jawa Timur, pada 30 Desember 1902. Pada usia sembilan tahun, Masykur kecil diajak orang tuanya untuk menunaikan ibadah haji di tanah suci. Sekembali dari Makkah-Madinah, ia disekolahkan di Pondok Pesantren Bungkuk, pimpinan KH. Thahir. Kemudian, ia melanjutkan nyantri di Pesantren Sono, Buduran, Sidoarjo. Di pesantren ini, Masykur kecil mempelajari ilmu nahwu sharaf. Selang empat tahun kemudian, ia mengaji di pesantren Siwalan, Panji, Sidoarjo untuk mendalami ilmu fiqh.

Siti Efi Farhati

Setelah berpetualang di beberapa pesantren, Masykur muda kemudian mendekat ke Hadratus Syaikh Hasyim Asyari (1875-1947). Di pesantren Tebu Ireng, Jombang, ia belajar ilmu tafsir dan hadits. Setelah merampungkan mengaji di Tebu Ireng, Kiai Masykur kemudian melanjutkan tabarrukan ke pesantren Bangkalan, Madura, untuk mengaji Qiraat al-Quran kepada Syaichona Cholil.

Minat belajar Kiai Masykur tidak berhenti di tanah Madura. Setelah suntuk belajar di bawah asuhan Syaichona Cholil, Kiai Masykur kemudian meneruskan mengaji di pesantren Jamsaren Solo, Jawa Tengah. Selepas merampungkan mengaji di ? Jamsaren, Kiai Masykur kemudian memantabkan kaki untuk mengabdi di tanah kelahirannya, di Singosari Malang. Di Singosari, Kiai Masykuri mendirikan madrasah bernama Mishbahul Wathan atau Pelita Tanah Air.

Siti Efi Farhati

Kiai Masykur menikah pada 1923, dengan cucu KH. Tahir, gurunya di pesantren Bungkuk, Malang. Di usia 16 tahun pernikahan mereka, sang istri meninggal dan belum dikaruniai keturunan. Atas saran Kiai Khalil Genteng, Kiai Masykur kemudian menikahi adik istrinya, bernama Fatimah. Sejak saat itulah, pasangan dari keluarga pesantren inilah, kemudian bersama-sama mengabdi dan berjuang untuk syiar Islam.

Berorganisasi, Mengabdi pada Kiai

Karir organisasi Kiai Masykur dimulai sejak ia menetap di Singosari Malang. Meski, selama mengaji di pesantren bakat organisasinya sudah terasah, namun kepemimpinan dan pengabdiannya pada masyarakat dan agama tersemai ketika menggerakkan pendidikan di Singosari Malang. Kiai Masykur juga menjadi Ketua Nahdlatul Ulama Cabang Malang.

Kiai Masykur juga merupakan salah satu tokoh penting dalam jaringan paramiliter santri. Ia mengomando Laskar Sabilillah, yang merupakan titik jaringan pejuang pesantren dari level kiai dan pengasuh pesantren. Laskar Sabilillah, berkoordinasi dengan Laskar Hibzullah pimpinan Kiai Zainul Arifin (1909-1963) untuk berjuang menjemput kemerdekaan. Dalam catatan sejarah pesantren, peran Laskar Sabilillah dan Hizbullah sangat besar untuk menggerakkan semangat perjuangan kebangsaan. Ketika meletus perlawanan Arek Suroboyo pada November 1945, perjuangan Laskar Sabilillah dan Hizbullah mengobarkan semangat kaum santri. Terlebih, setelah Hadratus Syaikh Hasyim Asyari menggemakan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945.

Kepemimpinan Kiai Masykur dalam menggerakkan Laskar Sabilillah menjadi catatan penting. Beliau juga dikenal dekat dengan kiai-kiai yang mendirikan Nahdlatul Ulama, semisal Hadratus Syaikh Hasyim Asyari, Kiai Bisri Syansuri, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Wahid Hasyim dan beberapa kiai pesantren di penjuru Jawa. Kiai Masykur juga dekat Panglima Sudirman, ketika bersama-sama menggerakkan pemuda untuk berjuang pada periode revolusi kemerdekaan.

Laskar Sabilillah, Berjuang untuk Merdeka

Meski Indonesia telah merdeka pada 17 Agustus 1945, akan tetapi pemerintah Hindia Belanda tidak rela bahwa negara Indonesia menyatakan kemerdekaan. Pada 15 September 1945, tentara Inggris mendarat di Jakarta, kemudian disusul tentara berikutnya mendarat di Surabaya pada 25 Oktober 1945. Tentu, situasi ini sangat mencekam, karena intimidasi, propaganda dan trik militer yang dilancarkan oleh tentara sekutu dilancarkan secara periodik. Tentara Inggris datang ke Indonesia tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies), yang bertugas melucuti senjata tentara Jepang.

Akan tetapi, misi tentara Sekutu dalam AFNEI, ditunggangi kepentingan NICA (Netherlands Indies Civil Administration). Tentara NICA bertujuan untuk mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda, sebagai jajahan Hindia Belanda. Tentu saja, hal ini mengobarkan kemarahan penduduk Indonesia, terutama mereka yang berdiam di kawasan Jawa Timur. Para kiai pesantren yang selama ini berjuang untuk kemerdekaan, merapatkan barisan. Di antaranya, KH. Wahid Hasyim (1914-1953), Kiai Wahab Chasbullah (1888-1971), Kiai Mas Mansyur, Bung Tomo (1920-1981) serta pejuang nasiolis Roeslan Abdul Ghani (1914-2005), dan Dul Arnowo, seorang arek Suroboyo. Laskar Sabilillah di bawah komando Kiai Masykur segera merapatkan barisan, juga laskar Hizbullah pimpinan Kiai Zainul Arifin. Kiai Wahab Chasbullah mengonsolidasi barisan pemuda santri dalam Laskar Mujahidin (Bizawie, 2014).

Ketika menjelang pertemupuran 10 November 1945, barisan laskar dari Malang bergerak cepat menuju Surabaya. Pasukan dari Malang, terutama TKR Resimen 38 Kompi Sochifuddin dan Kompi III dengan kapten M. Bakri, bergerak bersama-sama penduduk yang berjuang dengan api semangat menyala. Laskar Hizbullah berangkat ke medan perang, di bawah komando KH. Nawawi Thohir dan Abbas Sato dengan jumlah 168 pasukan. Laskar Sabilillah dari Malang juga mengonsolidasi barisan. Para Kiai ikut berjuang di bawah pimpinan Panglima Divisi Untung Suropati, Jenderal Imam Soedjai (Dimyati, 2014: 50-52).

Pada pertempuran Surabaya, strategi militer digunakan oleh para komando laskar. Pertempuran terbagi dalam beberapa sektor. Daerah pertahanan Laskar Sabilillah berada di sektor tengah garis kedua, yang berada di depan Stasiun Gubeng dan Jalan Pemuda. Kawasan ini, dipertahankan oleh Laskar Sabilillah bersama Laskar Hizbullah dan TKR Malang.

Di tengah deru pertempuran di Surabaya, KH. Masykur dengan gigih mengomando barisan Laskar Hizbullah. Para laskar yang ikut berjuang pada perang Surabaya, bertekad bulat dengan niat: isy kariman au mut syahidan (hidup mulia atau mati syahid). Api semangat para santri dan laskar-laskar pemuda inilah, yang kemudian membakar perjuangan rakyat di Surabaya hingga kemudian—atas izin Allah—berhasil mengalahkan tentara sekutu yang ingin merampas kemerdekaan negeri. Di panggung perjuangan rakyat inilah, Kiai Masykur mencatatkan pengabdiannya bersama para kiai-santri lainnya untuk mengawal kemerdekaan negeri.

Ketika Indonesia merdeka, Kiai Masykur termasuk salah satu dari sekian kader santri yang ikut membantu perjuangan di pemerintahan. Pada November 1947, Kiai diberi amanah oleh Presiden Soekarno untuk menjadi Menteri Agama, pada akhir masa Kabinet Amir Syarifuddin ke-2. Pada Kabinet Hatta II, Kiai Masykur juga terpilih sebagai Menteri Agama. Pada 1949, ketika terbentuk Kabinet Peralihan, Kiai Masykur juga mendapat amanah sebagai Menteri Agama. Latar belakang pesantren, pejuang kemerdekaan, afiliasi Nahdlatul Ulama, serta kedekatan komunikasinya dengan beberapa pendiri bangsa dan kiai pesantren, menjadikan Kiai Masykur sangat layak berada di jajaran tertinggi dalam komando kebijakan negara tentang agama. Kemudian, pada Kabinet Ali Wongso Arifin, Kiai Masykur juga mengemban amanah sebagai Menteri Agama. Jelaslah, bahwa Kiai Masykur sangat legendaris sebagai Menteri Agama, yang menjabat selama empat kali periode kabinet.

Ketika menjadi Menteri Agama, salah satu prestasi penting yang menjadi catatan sejarah adalah prakarsanya atas Konferensi Ulama yang diadakan di Cipanas, Jawa Barat, pada 1954. Pada waktu, para kiai menetapkan Soekarno dengan gelar: "Waliyyul amri dlaluri bis-syaukah (pemegang pemerintah dalam keadaan darurat dengan kekuasaan penuh). Pada waktu itu, negara sedang dalam keadaan genting, karena terjadi perdebatan sengit dan pergolakan yang disulut oleh gerakan DI/TII pimpinan Kartosoewirjo. Para kiai dan ulama yang tergabung dalam barisan Nahdlatul Ulama, mendukung Soekarno—meski dengan status pemimpin darurat—agar kepemimpinan negara tidak oleng.

Pada tahun 1952, Kiai Masykur juga terpilih sebagai Ketua Dewan Presidium Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Ia kemudian ditetapkan sebagai Ketua Umum Tanfidziyah Nahdlatul Ulama. Dalam menggerakkan organisasi PBNU, Kiai Masykur juga menjadi salah satu tokoh pengawal lahirnya Sarbumusi (Serikat Buruh Muslimin Indonesia). ? Bahkan, di bawah komando Kiai Masykur, Sarbumusi melakukan lawatan ke Uni Sovyet untuk kunjungan organisasi sekaligus melihat perkembangan Islam di negeri tersebut.

Kiai Masykur juga pernah menjadi anggota Syou Sangkai (DPRD), ketika masa pendudukan Jepang. Ia juga terpilih sebagai anggota PPKI dan Konstituante, yang berjasa penting untuk merumuskan dasar negara, bersama tokoh-tokoh pejuang lainnya. Pada 1978-1983, Kiai Masykur ditunjuk sebagai Wakil Ketua DPR RI.

Perjalanan panjangnya dalam berjuang untuk kemerdekaan dan pengabdiannya pada negara menjadi teladan bagi lintas generasi. Di usia senjanya, Kiai Masykur menjadi penggagas sekaligus pendiri Universitas Islam Malang (Unisma). Kiai Masykur menghembuskan nafas terakhirnya pada 19 Desember 1992.

Penulis adalah Dosen dan Peneliti, Wakil Sekretaris Lembaga Talif wan Nasyr PBNU. Saat ini, sedang merampungkan buku "Pahlawan Santri". Email: moena.aziz@gmail.com

Referensi:

MA Dimyati. KH. Masjkur dalam Laskar Sabilillah (1945-1949). Thesis UIN Surabaya. 2014.

Subagiyo Ilham Notodijoyo. KH. Masjkur: Sebuah Biografi. Jakarta: Gunung Agung. 1982.

Saiful Umam. Menteri-Menteri Agama RI: Biografi Sosial Politik. Jakarta: Balitbang Kementrian Agama. 1998.

Zainul Milal Bizawie. Laskar Ulama-Santri & Resolusi JIhad. Jakarta: Pustaka Compass. 2014.

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nusantara, Santri, Halaqoh Siti Efi Farhati

Jumat, 14 April 2017

LDNU Sediakan Takjil Sepuluh Hari

Jakarta, Siti Efi Farhati

Seruan PBNU menjelang tahun baru hijriyah 1428 yang diantaranya untuk berpuasa sunnah tasu’a dan asyura dan dimulai dengan puasa mutlaqah dari tanggal 1/10 Muharram mendapat dukungan penuh dari LDNU. Takjil atau buka bersama akan disediakan gratis selama 10 hari berturut-turut ppada  20-30 Januari.

Wakil Bendahara LDNU Khoirul Huda Wahid mengungkapkan bahwa seruan PBNU agar kita semakin mendekatkan diri kepada Allah dan menghindari segala perbuatan maksiat harus didukung penuh. “Ini merupakan bentuk keprihatinan kepada bangsa yang ditimpa musibah yang tak kunjung selesai yang tak mungkin diatasi oleh manusia kecuali atas bantuan Allah,” katanya ketika ditemui Siti Efi Farhati di kantor LDNU kemarin.

LDNU Sediakan Takjil Sepuluh Hari (Sumber Gambar : Nu Online)
LDNU Sediakan Takjil Sepuluh Hari (Sumber Gambar : Nu Online)

LDNU Sediakan Takjil Sepuluh Hari

Berbagai bencana, baik bencana alam yang terjadi di darat, laut maupun udara serta bencana sosial yang merusak masyarakat terjadi seolah tiada henti. Kedua bencana tersebut bisa terjadi secara terpisah atau bisa menjadi penyebab yang lainnya sehingga penyelesaiannya semakin susah. “Mudah-mudahan para pemimpin sadar akan tanggung jawabnya kepada rakyat kecil dengan menjadi pemimpin yang adil dan dengan adanya ulama yang baik,” tuturnya

Layaknya takjil yang diberikan selama puasa Ramadhan, menjelang maghrib akan diisi dengan ceramah dari berbagai ulama NU. Setelah itu makan takjil untuk membatalkan puasa dan dilanjutkan sholat Maghrib berjamaah. Baru kemudian makam bersama yang akan diikuti dengan istighotsah atau dzikir bersama serta tartil Qur’an.

Huda berharap buka puasa bersama tersebut dapat diikuti oleh sekitar 300-an orang seperti yang terjadi pada bulan Ramadhan. “Kita juga mengundang penduduk sekitar Gedung PBNU untuk terlibat dalam acara ini,” paparnya.

Siti Efi Farhati

Ketua PBNU dalam berbagai kesempatan dalam mensosialisasikan seruan ini selalu mengutip ayat  al Qur’an bahwa bencana ini timbul karena kita durhaka seperti dalam firmal Allah dalam surat An Nahl ayat 112 yang berbunyi:

“Dan Allah memberikan contoh sebuah negeri yang aman tenteram, rizki yang melimpah dating di negeri itu dari segala tempat; kemudian penduduk negeri itu durhaka dan ingkar terhadap nikmat-nikmat Allah, maka Allah menimpakan pakaian kelaparan dan ketakutan disebabkan apa yang mereka perbuat sendiri” (Q.S. An-Nahl 112). (mkf)

 

 

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nusantara, Ubudiyah, Hikmah Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock