Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Februari 2018

Hipsi Jembatan Santri Hadapi MEA

Bandar Lampung, Siti Efi Farhati

Bupati Pringsewu, Lampung KH Sujadi Sadat menyatakan, Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (Hipsi) bisa menjadi jembatan menghadapi masyarakat ekonomin Asean (MEA).

Hipsi Jembatan Santri Hadapi MEA (Sumber Gambar : Nu Online)
Hipsi Jembatan Santri Hadapi MEA (Sumber Gambar : Nu Online)

Hipsi Jembatan Santri Hadapi MEA

"Harapan Kiai Sujadi demikian. Selain menjadi wadah pengusaha, juga menjadi ruang calon pengusaha dari santri," ujar H Karim, Ketua Hipsi Lampung, di Bandar Lampung, Selasa (27/9).

Jajaran pengurus Hipsi Lampung melakukan silaturahmi ke Kabupaten Tanggamus, Pesawaran, Pringsewu dan Pesisir Barat.

Di Tanggamus rombongan diterima Wakil Bupati Syamsul Hadi, di Pringsewu diterima Bupati KH Sujadi, di Pesisir Barat diterima Wakil Bupati Erlina.

Siti Efi Farhati

"Selain sebagai silaturahmi, Hipsi Lampung juga ingin memperkenalkan diri pada pemerintah daerah jika kami siap berkiprah mengajak santri-santri memiliki jiwa kewirausahaan," ? ujar H Karim didampingi Ketua PCNU Pesawaran Kiai Salamun Solihin. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Hikmah Siti Efi Farhati

Kamis, 08 Februari 2018

MWCNU Mojogedang Bahas Sikap Politik Tingkat Ranting

Karanganyar, Siti Efi Farhati. Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC) Kecamatan Mojogedang Kab. Karanganyar mengadakan pertemuan ranting, Ahad (12/1) di kediaman Kiai Asrofi, syuriah MWCNU Mojogedang. Acara tersebut diadakan guna membahas sikap politik menjelang pemilu raya pada bulan 9 April 2014 nanti.

MWCNU Mojogedang Bahas Sikap Politik Tingkat Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
MWCNU Mojogedang Bahas Sikap Politik Tingkat Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

MWCNU Mojogedang Bahas Sikap Politik Tingkat Ranting

“Pertemuan ini merupakan momen penting karena masalah yang dibahas pun juga masalah penting yang menyangkut orang banyak terutama jamaah NU. Jangan sampai pecah hanya gara-gara beda pendapat tentang sikap politik,” ujar Kiai Muqorrobin ketua MWC NU Mojogedang.

Dalam pertemuan yang dihadiri oleh delapan pengurus ranting dan ketua PCNU Karanganyar tersebut masing-masing ranting diberi kesempatan untuk mengutarakan pendapat mengenai sikap politiknya.

Siti Efi Farhati

Ada beberapa pengurus yang menyatakan untuk mendukung dan mengajak jamaahnya memilih salah salah satu parpol tertentu, namun ada pula yang menolak untuk mendukung partai tertentu.

Siti Efi Farhati

“Masalah politik adalah masalah pribadi masing-masing orang, boleh saja kita mengutarakan sikap politik kita untuk mendukung salah satu parpol tertentu, namun sekali lagi jangan berbicara atas nama NU,” ujar Sukidi salah satu perwakilan ranting Ngadirejo.

Senada dengan pernyataan tersebut, perwakilan dari ranting Pereng juga mengungkapkan bahwa sebagi tokoh agama di desanya. Ia menolak membawa nama tertentu untuk dipilih, karena akan merusak nama baik dan citra sebagai tokoh agama. (Ahmad Rosyidi/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Hikmah Siti Efi Farhati

Rabu, 07 Februari 2018

Mapaba Uninus Dihadiri Pendiri PMII

Bandung, Siti Efi Farhati. Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) angkatan XVI Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Islam Nusantara (Uninus) dihadiri salah seorang pendiri PMII, KH Nuril Huda.

Mapaba bertema Gerakan Ideologisasi versus Deregenerasi dan globalisasi tersebut, digelar di kantor PWNU Jawa Barat, di Bandung, Jumat (19/10) hingga Ahad (21/10).

Mapaba Uninus Dihadiri Pendiri PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
Mapaba Uninus Dihadiri Pendiri PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

Mapaba Uninus Dihadiri Pendiri PMII

Pada kesempatan itu, KH Nuril Huda yang datang pada Sabtu, (20/10) bercerita sejarah pendirian PMII pada tahun 1960. Saat itu, ada empat partai terkuat, yaitu PNI, NU, Masyumi, dan PKI.

Siti Efi Farhati

“Setiap partai mempunyai kader di kalangan mahasiswa, PNI punya GMNI, Masyumi punya HMI, PKI punya CGMI, partai NU belum punya,” katanya.

Siti Efi Farhati

Kemudian ia 13 orang mahasiswa NU menghadap kepada Ketua Umum PBNU waktu, KH Idham Chalid, untuk menanyakan perlun tidaknya dibentuk organisasi mahasiswa NU.

“Perlu!” jawab Kiai Idham Chalid yang memipin NU selama 25 tahun. Jawaban dia, diamini salah seorang Syuriyah PBNU waktu itu, KH Anwar Musaddad.

Dengan demikian, sambung KH Nuril, PMII adalah anak sah NU. Meski kemudian PMII secara struktural pisah, tapi hakikatnya masih anak NU, “Itu hanyalah strategi saja. Benang merahnya masih ada, masih anak NU.”

Sebagai anak muda NU, maka PMII adalah organisasi intelektual berhaluan Ahlus Sunnah wal-Jama’ah. Karena itulah ia menjelaskan perbedaan aliran keagamaan dalam Islam yang tumbuh di berbagai organisasi di Indonesia.

Mapaba tersebut diikuti 80 orang mahasiswa dan mahasiswi. Selain Uninus, ikut pula beberapa peserta dari kampus sekitar Bandung.

Redaktur:  A. Khoirul Anam

Penulis    : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Hikmah, Budaya Siti Efi Farhati

Jumat, 02 Februari 2018

Innalillahi, KH Syafiq Naschan Pengasuh Pesantren An-Nur Jekulo Kudus Wafat

Kudus, Siti Efi Farhati. Suasana duka menyelimuti kota Kudus. Pada Senin (8/6) siang pukul 12.30 WIB Pengasuh Pesantren An-Nur Jekulo Kudus KH Syafiq Naschan wafat. Jenazah kiai yang juga Ketua MUI Kudus ini seketika dimakamkan hari itu pula di pemakaman umum desa setempat. 

Ribuan pelayat dari berbagai kalangan memenuhi rumah duka hingga jalan menuju makam untuk memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum.

Innalillahi, KH Syafiq Naschan Pengasuh Pesantren An-Nur Jekulo Kudus Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Innalillahi, KH Syafiq Naschan Pengasuh Pesantren An-Nur Jekulo Kudus Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Innalillahi, KH Syafiq Naschan Pengasuh Pesantren An-Nur Jekulo Kudus Wafat

Saat upacara pemberangkatan, Mustasyar PBNU KH Syaroni Ahmadi menyampaikan mauidhah hasanah sekaligus sambutan mewakili keluarga. Pada kesempatan itu, Mbah Syaroni mengajak para pelayat mendoakan almarhum sebagaimana perintah sabda Nabi.

Siti Efi Farhati

"Semoga almarhum mengakhiri masa usianya dengan menetapi iman dengan khusnul khatimah, semua amal ibadahnya diterima Allah Swt terutama ibadah hajinya," tutur Kiai Syaroni yang juga besan Almarhum.

Siti Efi Farhati

Disamping menjabat Ketua MUI Kudus, KH Syafiq Naschan semasa hayatnya juga menjadi Ketua IPHI/JHK Kudus, Ketua Yayasan Arwaniyah Kudus dan Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kudus. Ia wafat meninggalkan istri, Hj Basyiroh dan 5 anak. (Qomarul Adib/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Cerita, Hikmah, Sholawat Siti Efi Farhati

Rabu, 31 Januari 2018

Kiai Aliyuddin Baiat Banser dan Beri Hizib Nashar

Sumedang,Siti Efi Farhati. Wakil Rais Pengurus Wilayah Provinsi Jawa Barat KH Muhammad Aliyuddin mengatakan bahwa dengan membela dan membesarkan Nahdlatul Ulama (NU) sama dengan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kiai Aliyuddin Baiat Banser dan Beri Hizib Nashar (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Aliyuddin Baiat Banser dan Beri Hizib Nashar (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Aliyuddin Baiat Banser dan Beri Hizib Nashar

Hal tersebut disampaikan sebelum pembaitan peserta Pendidikan Latihan Dasar (Diklatsar) Banser NU Kabupaten Sumedang di Dusun Palasah, Desa Ciawitali, Kecamatan Buahdua Kabupaten Sumedang. Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari dari Sabtu-Ahad (17-28/9).

KH Muhammad Aliyuddin juga menuturkan bahwa bagi warga nahdliyin, mengurus NU itu wajib. Jangan hanya bangga menjadi warga nahdliyin yang kultural saja. Namun harus bangga dengan terlibat dalam struktur kepengurusan NU. Banon dan lembaga NU itu banyak, warga NU bisa memilih masuk kepengurusan.

Siti Efi Farhati

Zaman sekarang perkembangan berbagai paham dan golongan yang tidak sesuai dengan Aswaja ala NU subur sekali. Malahan paham NU saat ini banyak diserang oleh golongan tersebut. Meraka suka mengadu domba antarsesama warga NU, malahan tidak sedikit yang membuat fitnah terhadap NU.

“Ini sebuah tantangan bagi warga Nahdliyin. Ayo kita urus organisasi NU ini dengan benar. Jangan hanya jadi warga nahdliyin yang pasif. Tapi jadilah warga NU yang aktif,” ajak KH. Muhammad Aliyuddin.

Siti Efi Farhati

Pada kesempatan itu, ia memberikan ijazah Hizib Nashar kepada seluruh peserta dan panitia. “Banser itu harus kuat lahir dan batinnya. Yang dibela oleh Banser itu tidak hanya NU, tapi juga NKRI. Semoga Hizib Nashar ini dapat bermanfaat untuk perjuangan Banser,” katanya.

Sementara Kepala Satuan Komando Cabang Banser Kabupaten Sumedang Dadan Khoerudin mengajak kepada seluruh anggota Banser untuk lebih solid lagi. Banser NU Sumedang harus satu komando dan bersatu, jangan mudah dipecah belah. Is juga berjanji akan terus menjaga dan merawat anggota Banser. Ini semua demi NU dan NKRI. (Ayi Abdul Kohar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Hikmah, Pesantren, AlaNu Siti Efi Farhati

Rabu, 24 Januari 2018

Aksi Tanggap Bencana Terus Dilakukan PMII

Tangerang Selatan, Siti Efi Farhati. Para aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di berbagai daerah, terus melakukan aksi kemanusiaan untuk korban bencana erupsi Gunung Kelud. Kali ini dilakukan PMII Komisariat Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Mereka turun ke jalan, kemudian meminta sumbangan kepada para pengguna jalan di beberapa ruas di daerah Tangerang Selatan dan Jakarta. Di antaranya di lingkungan kampus UIN Jakarta, Jalan TB Simatupang, Lebak Bulus, dan Blok M pada Senin (17/2).

Aksi Tanggap Bencana Terus Dilakukan PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
Aksi Tanggap Bencana Terus Dilakukan PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

Aksi Tanggap Bencana Terus Dilakukan PMII

Mereka juga membuka posko peduli Gunung Kelud di depan kampus mereka, yakni halte UIN Jakarta, untuk mengumpulkan baju-baju layak pakai, keperluan bayi, serta masker.

Siti Efi Farhati

Ketua PMII Komisariat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Cabang Ciputat, Anggit Rahmadi Triatmodjo mengatakan, kegiatan ini atas dasar rasa kemanusiaan. “Tidak ada maksud apapun dalam kegiatan ini. Kami hanya ingin meningkatkan rasa kemanusiaan kepada anggota dan kader-kader PMII untuk lebih menimbulkan rasa kemanusiaan dan rasa nasionalisme terhadap lingkungan,” katanya.

Siti Efi Farhati

Kegiatan ini, tambah dia, akan dilakukan rutin mulai Senin (17/2) sampai Jumat (21/2). “Insya Allah, kami akan mengirim beberapa relawan dari anggota dan kader-kader kami untuk terjun langsung ke Jawa Timur, untuk membantu sahabat-sahabat relawan di sana,” tambahnya.

Aksi kemanusiaan ini juga akan dilakukan dengan berpindah-pindah lokasi, yakni di sekitar Blok M, Lebak Bulus, Bintaro, sekitar Jakarta Selatan dan Barat, pada Selasa (18/2). (Yusran Rafiqie/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Hikmah Siti Efi Farhati

Hobi Corat-Coret, Juara Kedua Lomba Jurnalistik

Jombang, Siti Efi Farhati. Kenakalan siswa tidak selamanya berdampak negatif. Salah satunya aksi corat-coret yang biasanya dilakukan menyambut kelulusan Ujian Nasional seperti sekarang. Jika diarahkan dengan benar, maka bisa menjadi sebuah prestasi. Ini yang dibuktikan beberapa siswa dari Madrasah Aliyah Salafiyah Syafi’iyah (MASS) Seblak. 

Dengan beranggotakan beberapa siswa yang terkenal dengan aksi corat-coretnya, tim yang dikirim justeru diraih juara kedua pada lomba jurnalistik, Jumat (25/5). Penyelenggaranya adalah media nasional yang berpusat di Jakarta bekerja sama dengan Pesantren Tebuireng Jombang. 

Hobi Corat-Coret, Juara Kedua Lomba Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
Hobi Corat-Coret, Juara Kedua Lomba Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

Hobi Corat-Coret, Juara Kedua Lomba Jurnalistik

Lomba yang diikuti perwakilan dari madrasah aliyah, SMA dan perwakilan beberapa kampus ini digelar di Gedung Yusuf Hasyim. Tim yang terdiri dari 12 siswa ini sebelumnya juga mengikuti diklat jurnalistik sejak Selasa (22/5). Kegiatan ini menghadirkan tim fasilitator langsung dari Jakarta. “Para peserta juga datang dari berbagai daerah,” kata Umar Bakri, ketua tim MASS Seblak. 

Siti Efi Farhati

Materi yang disampaikan terkait penyusunan berita. Baik saat masih mencari ataupun saat penulisan berita. Termasuk di antaranya masalah struktur dan cara kerja dewan redaksi. Komposisi pelatihan yang diberikan adalah 20 persen teori dan 80 persen praktek di lapangan.   

Siti Efi Farhati

Dalam tugas terakhir penyusunan berita, tim MASS Seblak menamakan koran karyanya dengan SPEKTA. “Itu merupakan singkatan dari Seblak spektakuler dan pecinta al-Qur’an,” ujar ketua OSIS ini. Diakui Bakri, untuk sekedar menentukan nama koran, tim redaksi dari MASS Seblak juga terlibat perdebatan sengit. Meskipun diakuinya tim-tim yang lain menentukan nama koran seolah tidak serius. “Bahkan terkesan namanya lucu dan tidak mengandung nilai filosofi,” imbuhnya. 

Berita yang dimuat adalah lima tema. Yaitu terkait musik banjari sebagai headline, radio sebagai media dakwah, pedagang kaki lima di sekitar makam Gus Dur, profil pengasuh Pesantren Seblak dan jilbab model rubu’ sebagai feature. “Tapi berdasar penilaian para dewan juri, feature tentang rubu’ yang memperoleh nilai tertinggi,” kata Irna Nailun Najjaha, anggota tim. 

Kelima berita itu harus selesai tepat waktu. Ketepatan penyelesaian ini menjadi aspek penilian tersendiri. Siswa yang akrab dipanggil Irna ini mengaku harus kerja keras agar penyusunan koran tidak molor. “Teman-teman sampai harus begadang untuk memenuhi deadline itu,” ucapnya.

Terlebih, dewan juri yang menilai bukan dari tim media itu sendiri. “Tetapi dari para pembaca yang sengaja datang untuk menilai hasil kerja keras para peserta,” ujarnya. Dengan beragam latar belakang ini, pembaca tentu akan menilai lebih berbobot terhadap hasil dari setiap tim. 

Nurul Muslimah, anggota tim lainnya, mengakui memang lomba kali ini adalah yang pertama diikuti. “Meski pertama kali, banyak pengalaman yang saya dapatkan, tidak cuma teori, tapi juga praktek,” katanya. Menulis berita, lanjut siswi dari Bau-Bau Sulawesi Selatan ini, ternyata tidak semudah membacanya. “Membuat koran ternyata tidak segampang yang dibayangkan,” ujarnya. 

Pelaksanaan diklat dan lomba yang digelar mulai pagi sampai petang hari juga menjadi catatan anggota tim ini. Dari kebiasaan yang kurang menghargai waktu, Laila Nailul Fauziah menjadi sangat mempehitungkan waktu dalam menulis berita. “Meski badan capek karena mondar-mandir dari pondok ke tempat acara, namun melalui perlombaan ini saya sadar harus menggunakan waktu dengan baik,” kata siswi dari Pasuruan yang akrab dipanggil Ela ini. 

Kepala sekolah MASS Seblak Nur Laili Rahmah mengakui bahwa pengalaman yang diperoleh siswanya memang sangat berharga. Mengingat lomba itu juga diikuti banyak peserta. “Bahkan ada juga tim dari beberapa perguruan tinggi. Jadi, jika mereka keluar sebagai juara kedua, itu saya kira sudah maksimal,” katanya. 

Perempuan berkacamata ini tidak henti-hentinya memotivasi siswanya agar kreativitas yang dimiliki bisa ditonjolkan. “Dengan berdiskusi menentukan nama koran saja, mereka akan belajar berdemokrasi dan menghargai pendapat temannya,” pungkasnya. 

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Hikmah, Nusantara, PonPes Siti Efi Farhati

Rabu, 17 Januari 2018

Terinspirasi Yu Gi Oh, Mahasiswa KMNU Lampung Juara BIOMA 2016

Malang, Siti Efi Farhati. Dwi Wahyudi, anggota Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Universitas Lampung (Unila) berhasil meraih juara di ajang Bidikmisi on March (BIOMA) 2016 yang diselenggarakan di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang. Mahasiswa Pendidikan Biologi Unila ini terinspirasi film animasi Yu Gi Oh dalam memperoleh ide yang selanjutnya ia tuangkan dalam karya tulis.

Dalam lomba esai BIOMA 2016, Dwi mengusung judul Heroes Card Game yang mengadaptasi konsep permainan pada kartu-kartu Yu Gi Oh. Konsep tersebut ia modifikasi dengan mengganti gambar kartu Yu Gi Oh dengan gambar para pahlawan nasional juga para penjajah.

"Berawal dari gemar main game, kebetulan ada teman ngabari BIOMA ini. Saya mengamati Indonesia saat ini banyak terjadi korupsi. Hal ini menunjukkan Indonesia mengalami krisis karakter. Jadi saya ingin gabungkan antara game dan krisis karakter di Indonesia”, tutur Dwi.

Terinspirasi Yu Gi Oh, Mahasiswa KMNU Lampung Juara BIOMA 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
Terinspirasi Yu Gi Oh, Mahasiswa KMNU Lampung Juara BIOMA 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

Terinspirasi Yu Gi Oh, Mahasiswa KMNU Lampung Juara BIOMA 2016

Lebih lanjut mahasiswa kelahiran Banjar Agung, Tulang Bawang, Lampung ini berharap esai Heroes Card Game yang ditulisnya dapat menanamkan karakter kepahlawanan sejak dini. Menurutnya, jika sejak SD sudah tertanam karakter jujur dan positif, maka ketika sudah dewasa nanti ia tidak akan bertindak amoral.

Dia juga menjelaskan bahwa nantinya selain konsep kartu secara fisik, Heroes Card Game ini dapat dikembangakan menjadi permainan pada PC maupun handphone berbasis android. Dengan ide ringan dan unik namun sangat bermakna inilah, Dwi Wahyudi berhasil menyabet juara umum lomba esai pada ajang BIOMA 2016.

Siti Efi Farhati

"Ini adalah esai kedua yang saya tulis. Pencapaian ini saya jadikan sebagai bentuk rasa syukur ucapan terima kasih kepada mereka yang sudah memberikan dukungan moril pada saya, karena tanpa dukungan mereka saya tidak akan sampai pada pencapaian ini," ujar Dwi. Selamat Dwi Wahyudi, keluarga KMNU bangga padamu.(el Naomiy/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Syariah, Hikmah Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati

Sabtu, 06 Januari 2018

Menteri Agama: Guru Harus Selalu Tanamkan Cinta

Jakarta, Siti Efi Farhati. Setiap pendidik harus selalu menanankan cinta dalam setiap aktifitasnya. Akhir-akhir ini dunia pendidikan spring diwarnai laporan kekerasan oleh oknum pendidik. Untuk itu Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berpesan agar hal itu jangan sampai terjadi.

Hal ini diungkapkan pada puncak peringatan Hari Guru Nasional 2017 di Hotel Novotel Tangerang, Jumat (8/12) pukul 21.25 WIB.

Menteri Agama: Guru Harus Selalu Tanamkan Cinta (Sumber Gambar : Nu Online)
Menteri Agama: Guru Harus Selalu Tanamkan Cinta (Sumber Gambar : Nu Online)

Menteri Agama: Guru Harus Selalu Tanamkan Cinta

Dalam kesempatan itu Kemenag memberikan penghargaan kepada 55 guru madrasah berprestasi se Indonesia. Kemenag juga memberangkatkan 27 guru peraih penghargaan tahun laku ke Finlandia untuk shortcourse metodologi pendidikan terkini di eropa.

Lukman Hakim Saifudin menegaskan, tantangan guru adalah menghadapi generasi milenial yang memiliki ciri berbeda dengan generasi terdahulu.

Siti Efi Farhati

Pendudik itu adalah profesi paling mulia, untuk itu teruslah mengajar dg rasa cinta kasih. "Kalaupun harus menghukum abak didik, hukumlah dengan sepenuh cinta kasih," lanjutnya.

Menag berterima kasih kepada guru-guru madrasah yang menjadi motor mewujudkan slogan yang dipopulerkan Kemenag, "Madrasah Lebih Baik, Lebih Baik Madrasah”. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Hikmah Siti Efi Farhati

Rabu, 03 Januari 2018

Ajengan Nuh Karang Kitab Sunda Tulis Tangan (I)

Garut, Siti Efi Farhati. Dari tangan Ajengan KH Muhammad Nuh Ad-Dawami Garut, Jawa Barat, mengalir puluhan karya tulis. Umumnya menggunakan bahasa Sunda, tapi ada juga yang berbahasa Arab dan Indonesia.

Ajengan Nuh Karang Kitab Sunda Tulis Tangan (I) (Sumber Gambar : Nu Online)
Ajengan Nuh Karang Kitab Sunda Tulis Tangan (I) (Sumber Gambar : Nu Online)

Ajengan Nuh Karang Kitab Sunda Tulis Tangan (I)

Penggunaan abjadnya ada yang berhuruf Latin, umumnya Arab Pegon. Sementara bentuk penulisannya, ada yang naratif, juga nadzom. Secara umum, karya-karya itu bernuansa tasawuf dan tauhid, di samping beberapa kitab fiqih.

Menurut puteri ketiga Ajengan Nuh, Ai Sadidah, ada sekitar 50 buah. “Setiap bulan puasa, pasti melahirkan karya tulis. Dan kitab itulah yang akan dikaji selama sebulan,” katanya di kediaman Ajengan Nuh, Garut, Senin (11/2) lalu.

Siti Efi Farhati

Uniknya, karya-karya pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda Cisurupan Garut terus itu masih ditulis tangan.

Menurut putera keempat, Ajengan Cecep Jaya Krama, karya-karya ayahnya pernah diketik menggunakan komputer, tapi ketika diperiksa lagi, ada beberapa yang salah dalam penulisan. “Sejak itu, Abah (panggilan akrab putera-puteri Ajengan Nuh) kirang percanten (tidak percaya orang lain) menuliskan karyanya,” katanya. ?

Siti Efi Farhati

Sementara Ajengan Nuh yang aktif di NU sejak Ranting, MWC, PC, hingga salah seorang Mustasyar PWNU Jawa Barat ini, tidak bisa mengetik. Karenanya ia lebih nyaman dengan tulisan tangan sendiri.

Cecep menjelaskan alasan menggunakan bahasa Sunda adalah untuk mempermudah pemahaman santri. Juga melestarikan bahasa Sunda, karena sudah dianggap asing di tanahnya sendiri. Di samping memberikan pelajaran penggunaan bahasa Sunda yang baik dan benar sesuai kaidah bahasa.

Jika ditilik dari gaya bahasanya, Ajengan Nuh, menggunakan bahasa yang puitik. “Itu memang kelebihan Abah. Ia rajin membaca majalah Mangle (salah satu majalah bahasa Sunda). ?

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Hikmah Siti Efi Farhati

Minggu, 31 Desember 2017

Tradisi Pesantren, Bisa Merasa Bukan Merasa Bisa

Pasuruan, Siti Efi Farhati. Budayawan asal Madura D Zawawi Imron menilai, pesantren menyimpan tradisi luhur yang lebih fokus pada instropeksi dan perbaikan diri sendiri ketimbang mencari dan mudah memvonis salah pihak lain.

Kiai berjuluk “Penyair Celurit Emas” ini menyampaikan hal itu dalam seminar kebudayaan yang diselenggarakan Pengurus Cabang Lemabga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Pasuruan, Jawa Timur di Aula BMT Pesantren Sidogiri Pasuruan, Ahad (01/12).

Tradisi Pesantren, Bisa Merasa Bukan Merasa Bisa (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Pesantren, Bisa Merasa Bukan Merasa Bisa (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Pesantren, Bisa Merasa Bukan Merasa Bisa

“Kebudayaan pesantren pada prinsipnya adalah tradisi rendah Hati, tidak menyalahkan orang lain, sebelum menyalahkan diri sendiri. Karena kemuliaan diri hanya Allah yang menilai,” ujarnya.

Siti Efi Farhati

Namun, karakter kebudayaan pesantren ada yang hilang, sebagai akibat kebijakan Orde Baru yang mencoba intervensi. Sembari menegaskan agar mencari tradisi pesantren yang hilang, Zawawi menyatakan bahwa pesantren harus menjaga sikap tawaduk.

“Contoh karakter yang harus tetap ada,  lebih bagus menjadi orang yang merasa tersesat, tetapi sebenarnya di jalan yang benar, daripada merasa benar tetapi di jalan yang sesat,” katanya.

Siti Efi Farhati

“Ini sebagai penerjemahan dari ajaran Sunan Kalijogo ‘Dadio wong sing iso rumongso, ojo dadi wong sing rumongso iso (jadilah orang yang bisa merasa, bukan merasa bisa, red),” lanjutnya dalam seminar bertajuk “Memaknai Keberagaman Budaya melalui Spirit Keagamaan dan Kearifan Lokal”, yang dihadiri jajaran syuriyah, tanfidziyah, utusan MWC, dan delegasi pesantren-pesantren.

Mengutip WS Rendra, Zawawi meminta para hadirin menghormati warisan budaya para leluhur. “Harus kita pertimbangkan untuk menghadapi era kini. Banyak yang baik, untuk kita pakai, tapi ada juga yang harus disesuaikan.”

Zawawi juga berbagi cerita soal bagaimana kiai di Madura mengubah tradisi kultus dan menyembah makam menjadi tradisi bertawassul. “Dengan kalimat sederhana: ‘Baca Fatihah sekali, lebih disukai bagi wali yang kau hormati ini daripada kamu menyembah seribu kali!"

Di akhir paparannya, Zawawi berpesan agar pesantren turut aktif di dunia seni. “Bila pesantren tidak lagi berkesenian, maka habislah pesantren. Tolong jangan jauhkan seni, budaya dan sastra dari Pesantren.”

Dalam kesempatan yang sama, penyair Binhad Nurrohmat yang juga menjadi narasumber mengungkapkan, kearifan lokal pesantren kini tengah menghadapi sebuah tantangan. “Fenomena dangdut koplo antara lain di Pasuruan, menunjukkan bahwa kearifan Lokal kalangan pesantren sudah memiliki musuh baru yang bernama ‘kebejatan Lokal’,” paparnya.

Menurut dia, kearifan lokal adalah sebuah rumus kehidupan yang tumbuh, dipahami dan diyakini oleh komunitas masyarakat tertentu, sehingga menjadi prinsip abadi. “Contoh orang Jawa punya prinsip ojo metani salahe liyan, ojo ngitung becike dewe (jangan mencari-cari kesalahan orang lain dan menghitung-hitung kebaikannya sendiri),” tuturnya. (Fajar Ardana/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Hikmah, AlaSantri, Doa Siti Efi Farhati

Selasa, 19 Desember 2017

Menghormati Perbedaan Pendapat atas Puasa Bulan Rajab

Alhamdulillah saat ini, kita semua memasuki bulan mulia Rajab. Sebagaimana yang jamak kita jumpai, sebagian besar umat Islam di Dunia memuliakannya dengan berpuasa sebagaimana yang pernah dilakukan oleh panutan junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Kita jumpai pula sebagian kelompok yang mengingkari puasa di bulan mulia Rajab dengan berbagai alasan pendapatnya.

Bagi saya, kedua kelompok yang memiliki pemahaman bahwa puasa di bulan Rajab adalah hukumnya sunnah, ataupun kelompok yang memiliki pemahaman bahwa puasa di bulan Rajab adalah bidah, maka keduanya semua dianggap telah memasuki wilayah ijtihad. Antara membolehkan dan melarang. Dalam hal ini yang perlu ditekankan adalah saling menghormati antar kedua kelompok tersebut. Bahwa keduanya sama-sama memasuki sabda Nabi SAW: "Apabila seorang hakim menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan benar, baginya dua pahala. Dan apabila ia menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan keliru, baginya satu pahala." (HR Muslim)

Hadits tersebutlah yang menjadi dalil, semenjak Rasulullah SAW bersabda sampai saat ini dapat kita simpulkan: Rasulullah telah menetapkan bahwa di dalam agama ini memiliki pintu ijtihad yang senantiasa terbuka untuk menghasilkan hukum yang belum pernah dibahas secara jelas dalam alQuran dan asSunnah. Adanya kesempatan ijtihad tersebut, secara tidak langsung juga membuka pintu lain yaitu ikhtilaf (perbedaan). Tidak lain adalah karena; ketika Allah SWT telah mempersilahkan hambaNya untuk berijtihad, maka tidak dapat dipungkiri pula telah mempersilahkan hambaNya untuk berikhtilaf pula dalam persoalan tersebut.

Ketika Allah SWT telah mensyariatkan wilayah ijtihad dan membuka wilayah ikhtilaf, namun perlu diketahui bersama bahwa ikhtilaf tersebut adalah ikhtilaf taawuni (berbeda namun tetap berdampingan saling membantu), bukan ikhtilaf yang menjadikan perpecahan serta permusuhan antara ummat. Ikhtilaf yang muncul karena ijtihad (antara dua golongan) sama-sama mendapatkan pahala semuanya. Baik ijtihad tersebut benar ataupun tidak. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh sabda Rasulullah SAW di atas. Apakah keterangan ini masih memunculkan syak atau keraguan wahai saudaraku? apakah masih diantara kita yang meragukan sabda Rasulullah SAW?!

Menghormati Perbedaan Pendapat atas Puasa Bulan Rajab (Sumber Gambar : Nu Online)
Menghormati Perbedaan Pendapat atas Puasa Bulan Rajab (Sumber Gambar : Nu Online)

Menghormati Perbedaan Pendapat atas Puasa Bulan Rajab

Hakikat keberadaan ijtihad dan ikhtilaf perlu senantiasa dipahami terus-menerus keberadaannya, sebagaimana telah dipahami oleh generasi ummat muslimin terdahulu. Tidak lain supaya tidak menimbulkan fitnah antar muslim dalam beragama. Karena kesalahan memahami tersebut akan menjadikan kita senantiasa berada dalam ikhtilaf permusuhan, bukan ikhtilaf perdamaian. Sering kita jumpai bersama perbedaan pendapat yang menjadikan antara kelompok saling bermusuhan dengan sama-sama memegang teguh pendapat masing-masing. Padahal, hal tersebut telah bertentangan dengan hikmah Ilahiyyah yang telah diletakkan di dalam Islam, yaitu adanya Ittifaq (kesepakatan) dan Ikhtilaf (perbedaan) dalam Ijtihad.

Dari pemahaman tersebut, seyogyanya bagi kita untuk bersikap tasamuh (toleran) dalam menghadapi perbedaan hasil ijtihad antara kelompok. Sudah sepatutnya bagi kita untuk menjaga lisan kita dari ucapan ataupun klaim yang tidak baik, seperti: menyalahkan, menyesatkan, membidahkan atau mengufurkan. Karena hal tersebut sekali lagi mengingkari Ijtihad kelompok lain, yang mana pintu Ijtihad senantiasa terbuka sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. Lebih-lebih yang harus menjadi teladan adalah apa yang telah dikatakan oleh Imam Syafii rodliyallahu anhu: "Pendapatku benar, namun mengandung kemungkinan salah, pendapat yang lain salah, namun mengandung kemungkinan benar".

Kebetulan, saya adalah termasuk kelompok sebagian besar muslimin yang meyakini kebenaran Ijtihad bahwa puasa di bulan mulia Rajab adalah sunnah hukumnya. Itulah Ijtihad kami. Ketika kami berijtihad, dan ijtihad kami salah, dan ketika kalian berijtihad dan benar, tetap kami mendapatkan pahala satu dan Allah telah memuliakan kalian dengan dua pahala. Lantas apa yang menjadikan kalian ingkar sedangkan diantara kita sama-sama mendapatkan pahala dan perbedaan diantara kita adalah hikmah Ilahiyyah yang telah ditetapkan adanya oleh Rosulallah shollallahu alaihi wasallam? Kalau kita telah mengetahui bahwa di dunia ini ada salah dan benar, maka tidak perlu lagi diperdebatkan. Cukup sama-sama berijtihad, dan bukankah perkara ijtihadi pasti memiliki konsekuensi untuk adanya ikhtilaf?

Siti Efi Farhati

Untuk itu, orang yang merasa sudah dalam posisi benar harus dapat menerima bahwa dirinya bisa jadi dalam posisi yang salah. Begitupula orang yang dinilai salah bisa jadi dalam posisi yang benar. Perlu kita ingat bersama bahwa Rahmat Kasih sayang Allah SWT sangatlah luas dan mempersilahkan kita untuk berada disemua wilayah rahmatNya. Lantas mengapa perlu dipersempit lagi rahmatNya?

Barangkali perlu kita ingat kembali bahwa, bahwa diantara kaidah agama Islam yang tidak ada perbedaan antara ulama adalah: bahwa prinsip dasar dalam hukum atas persoalan yang berbeda terdapat hukum yang berbeda pula. Bisa jadi suatu perkara mubah beralih menjadi haram lantaran ditempuh dengan jalan haram, begitupula perkara mubah bisa menjadi mandub bahkan wajib ketika wasilah perkara tersebut adalah perkara mandub atau wajib. Semua perkara -yang belum disinggung secara jelas dalam alQuran dan asSunnah- dihukumi sesuai dengan jalan atau wasilah yang berkaitan dengan persoalan tersebut.

Ketika seseorang beramal dalam satu perkara dan tidak terdapat hukum di dalam syariat mengenai nash qothi atas amalan tersebut, maka kita lihat kembali wasilah dan ghoyah (hasil akhir) atas amal tersebut. Ketika hasil akhirnya adalah bertentangan dengan syariat; yakni terdapat mashiyat, mengandung kemungkaran, maka perkara mubah menjadi harom. Adapun ketika kita pandang suatu amalan baru yang belum dikenal baik dizaman shohabat atau tabiin dan generasi setelahnya, namun setelah kita menyaksikan dan memandangnya menghasilkan perkara yang positif, didalamnya terkandung perkara yang diridloi oleh Allah SWT baik terkait dengan perkara mandub atau wajib, maka perkara mubah tersebut akan berubah menjadi sunnah atau wajib. Pengambilan hukum seperti itu telah disepakati oleh para Ulama semuanya sebagaimana yang telah dibahas dalam perkara adDzaroi. Terlebih puasa di bulan mulia Rajab, selain memiliki dalil yang kuat berupa nash sunnah, juga telah menjadi amalan turun menurun dari ulama salaf.

Siti Efi Farhati

Daripada itu, seyogyanya ketika kita melihat apa yang dilakukan oleh masyarakat baik dari amalan atau aktifitas mereka yang berbeda-beda, maka yang kita kedepankan adalah melihat hasil akhir atas aktifitas mereka. Apakah hasil akhir amalan tersebut sesuai dengan warna ketaatan atau warna kemashiyatan?

Selamat berpuasa di bulan mulia Rajab. Semoga kita semua diberi keberkahan di bulan mulia ini, dan diberi keberkahan umur dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Amien. Wallahu Warosuluh alam.

?

Taufiq Zubaidi, Warga NU Sudan

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Hikmah, Sholawat, Daerah Siti Efi Farhati

Kamis, 14 Desember 2017

Kemenkes Dinilai Lambat Tangani Kasus Kematian Bayi di Papua

Jakarta, Siti Efi Farhati. Menteri Kesehatan harus dipertanyakan kinerjanya lantaran lalai melindungi warga Papua dari bencana kematian. Hingga saat ini, Kemenkes belum juga dapat memetakan penyebab kematian bayi yang telah terjadi di Dunga Papua.

Kemenkes Dinilai Lambat Tangani Kasus Kematian Bayi di Papua (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenkes Dinilai Lambat Tangani Kasus Kematian Bayi di Papua (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenkes Dinilai Lambat Tangani Kasus Kematian Bayi di Papua

“Padahal berita tentang kematian bayi ini sudah diberitakan sejak pertengahan November. Bahkan beberapa sumber mengatakan kematian bayi ini telah terjadi sejak pertengahan tahun ini,” kata Nihayatul Wafiroh, anggota DPR RI Komisi IX, kepada Siti Efi Farhati dalam siaran pers, Jumat (11/12).

Ada yang mengatakan, imbuhnya, korban berjumlah 37 jiwa, 56 jiwa, bahkan sumber lain menyebutkan 71 anak meninggal. Artinya, hal ini sudah berlangsung selama enam bulan. Namun Kemenkes kurang merespon bencana kematian ini. Fatalnya, kata Nihayah, pihak Kemenkes belum dapat memastikan data valid tentang hal itu. Bahkan dengan seenaknya beralasan bahwa, daerah ini memang sulit dijangkau.

Siti Efi Farhati

"Pernyataan Kemenkes bahwa mereka belum dapat memastikan kondisi korban serta masyarakat di Dunga hingga sekarang, membuktikan sangat buruknya sistem pendataan. Hal ini sekaligus menunjukkan begitu buruknya kinerja Kemenkes," ujarnya.

Siti Efi Farhati

Padahal, menurut Nihayah, tahun depan ini, Kementerian Kesehatan adalah salah satu Kementerian yang mendapat kenaikan anggaran paling banyak yaitu sebesar 5,05 persen. Jadi, tahun ini Kemenkes mendapat jatah 109 Trilliyun rupiah.

“Dengan anggaran sebesar itu seharusnya Kemenkes malu mengatakan belum mengetahui secara pasti kondisi warga Dunga saat ini. Hal ini secara implisit menunjukka bahwa, koordinasi antara Kemenkes pusat dengan Dinas Kesehatan di daerah sangat buruk," imbuhnya.

Nihayah juga mengatakan akan mendorong Komisi IX untuk segera menindaklanjuti kasus ini dan memanggil sekaligus mendesak Kementerian Kesehatan untuk bertindak cepat dan tepat.

"Jika sampai satu minggu ini belum juga ada perbaikan kondisi anak-anak serta masyarakat di sana, kami akan terus mengevaluasi kinerja Kemenkes tentang hal ini. Ini masalah nyawa banyak orang, warga Indonesia yang harus segera dilindungi. Jika tidak segera melakukan kerja secepatnya dan tepat, banyak korban yang akan berjatuhan," paparnya. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Hikmah, Sholawat Siti Efi Farhati

Minggu, 03 Desember 2017

Kisah Mbah Jablawi dan Harkat Kiai yang Terancam

Tiba-tiba saja ada seseorang tergopoh sowan kepada Mbah Kiai Jablawi. Ternyata, saudara orang tersebut sedang mengalami masa kritis di ruang ICU sebuah rumah sakit. Ia mengutarakan bahwa seluruh dokter—baik umum maupun spesialis—telah menyatakan pasrah akan kondisi saudaranya tersebut.

Akhirnya, Mbah Jablawi pun mengiyakan permohonan orang itu dan bersedia berangkat bersamanya untuk melihat kondisi terkini sang pasien yang sedang koma tersebut. Sesampainya di rumah sakit, telah berjejer para dokter yang menangani pasien koma itu. Sambil mengulum senyum, mereka mempersilakan Mbah Jablawi untuk masuk ke ruangan dingin serba putih, ruang ICU.

Batin Mbah Jablawi, mereka—kerabat pasien dan para dokter—sepertinya berharap besar padanya. Bagaimana tidak, jika semua usaha telah dilakukan dari mulai opname hingga operasi yang menegangkan tak membuahkan hasil, maka jalan harapan terakhir satu-satunya adalah berdoa memohon kepada Allah ta’ala. Dan tentu, dalam memohon tersebut, agar dapat terkabul, maka dibutuhkan sosok yang benar-benar dekat dengan Allah. Dan nahasnya, dirinyalah yang mereka anggap sesosok itu. Padahal, alih-alih ia merasa dekat dengan Allah, justru ia merasakan dirinya sebagai makhluk terhina.

Kisah Mbah Jablawi dan Harkat Kiai yang Terancam (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Mbah Jablawi dan Harkat Kiai yang Terancam (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Mbah Jablawi dan Harkat Kiai yang Terancam

Mengetahui hal tersebut, Mbah Jablawi pun mencoba sedikit “memaksa” Gusti-nya dengan berdoa,

Ya Allah, mbuh niki pripun carane. Pokokke kulo nyuwun kabul. Nak mboten, harkat soho martabatipun poro kiai turun wonten ngarsaipun  dokter (Ya Allah, entah bagaimanapun caranya. Pokokknya saya minta (doa kesembuhan) ini terkabul. Kalau tidak, maka harkat dan martabat para kiai turun di hadapan dokter)."

Siti Efi Farhati

Sekilas, doa itu lebih bernada memaksa daripada memohon. Namun, begitulah jika seorang hamba telah memiliki kedekatan khusus di sisi Allah subhanahu wata’ala. Bagaimanapun, hal tersebut memiliki makna tersendiri. 

Dan memang terbukti, pasien koma tersebut dapat siuman dari “tidur panjangnya”. Melihat hal tersebut, Mbah Jablawi tersenyum sambil membatin, “Alhamdulillah, harkat martabat kiai aman terkendali”. Ya, karena bagaimana pun saat dokter spesialis saja sudah angkat tangan, lagi-lagi hanyalah doa kiai yang menjadi harapan. (Ulin Nuha Karim)

Dikisahkan oleh Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, KH. Muhammad Shofi Al Mubarok saat pengajian Kitab Tafsir Jami’ul Bayan. 

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Hikmah, AlaSantri, Doa Siti Efi Farhati

Sabtu, 18 November 2017

Wanita Katolik Jember Dirikan Warung Murah untuk Buka Puasa

Jember, Siti Efi Farhati



Kerukunan antarumat beragama di Jember, Jawa Timur, khususnya di bulan Ramadhan ini ditunjukkan para perempuan ? yang tergabung ? dalam Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Cabang Jember.?

WKRI mengundang buka bersama kaum muslimin di Rumah Sakit Panti Siwi (RSPS), Jember, Rabu (31/5). Buka bersama tersebut juga menandai dibukanya Warung Kasih pada bulan Ramadhan ini.

Wanita Katolik Jember Dirikan Warung Murah untuk Buka Puasa (Sumber Gambar : Nu Online)
Wanita Katolik Jember Dirikan Warung Murah untuk Buka Puasa (Sumber Gambar : Nu Online)

Wanita Katolik Jember Dirikan Warung Murah untuk Buka Puasa

Menurut Ketua WKRI Cabang Jember Tuti Suparmin, pembukaan Warung Kasih tersebut sebenarnya sudah berlangsung sejak 13 tahun lalu. Tujuannya, menyediakan makanan, di antaranya untuk berbuka puasa bagi warga yang kurang mampu, khususnya ? di sekitar RSPS seperti buruh, tukang becak, pedagang asongan dan tukang parkir, dengan harga sangat murah. ?

Untuk satu porsi menu bergizi, mereka bisa mendapatkannya dengan harga Rp 2.500. Karena itu, dulu namanya Warung Murah yang letaknya bersebelahan dengan Gereja Santo Yusuf.

Siti Efi Farhati

"Namun atas saran dari Romo Kepala Paroki Gereja Santo Yusuf, Jember, progam tersebut diubah namanya menjadi Warung Kasih. Karena memang tujuannya untuk menyebar cinta kasih," ucapnya.?

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jember KH Abdul Muis yang turut hadir pada buka puasa itu mengapresiasi langkah para perempuan Katolik tersebut.?

Siti Efi Farhati

"Ini adalah langkah kongkret kebersamaan dalam kebhinekaan. Semoga ini bisa menginspirasi kita semua untuk rukun dan bersatu sebagai sesama warga negara Indonesia, apapun latar belakang agamanya," ujar Ra Muis, sapaan akrabnya.? (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Hikmah, Sholawat, RMI NU Siti Efi Farhati

Senin, 13 November 2017

Pagar Nusa Kudus Ajak Ma’arif NU Rumuskan Kurikulum Silat

Kudus, Siti Efi Farhati. Agar pencak silat masuk kurikulum madrasah, Pagar Nusa Kudus melibatkan LP Ma’arif NU dalam pembuatan kebijakan maupun konsepnya. Dengan demikian, madrasah dan sekolah NU memiliki satu pemahaman dengan Pagar Nusa dalam realisasinya.

Pagar Nusa Kudus Ajak Ma’arif NU Rumuskan Kurikulum Silat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Kudus Ajak Ma’arif NU Rumuskan Kurikulum Silat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Kudus Ajak Ma’arif NU Rumuskan Kurikulum Silat

Untuk membicarakan ini, Ketua PC Pagar Nusa Kudus K Ali Rosman menyatakan akan berkomunikasi dengan LP Ma’arif NU Kudus. “Kita akan tata bersama supaya Pagar Nusa memang menjadi pencak silat NU yang berkembang besar di madrasah sekolah NU,” terang Ali kepada Siti Efi Farhati, di Kantor PCNU Kudus jalan Pramuka 20 Kudus, ? Ahad (2/2).

Eksistensi Pagar Nusa di lingkungan madrasah dan sekolah NU di Kudus, sambung Ali, sudah tersosialisasikan dengan baik. Namun, belum semuanya menjadikan Pagar Nusa masuk dalam kegiatan ekstrakurikuler madrasah atau sekolah NU.

Siti Efi Farhati

“Kita berharap semua madrasah NU memasukkan kegiatan pencak silat Pagar Nusa. Bahkan diupayakan madrasah NU tidak mendatangkan perguruan pencak silat lain di luar Pagar Nusa,” lanjut Ali.

Sedangkan pengurus LP Ma’arif Kudus Ali Asyhari menyambut baik keinginan Pagar Nusa mengembangkan di madrasah dan sekolah NU. Bahkan ia memberi isyarat untuk memasukkan Pagar Nusa dalam kegiatan ektrakurikuler wajib di sekolah atau madrasah.

Siti Efi Farhati

“Kita siap duduk bersama mendukung program-program Pagar Nusa yang berkeinginan mengembangkan pencak silat bagi siswa-siswi Ma’arif NU,” ujar Asyhari. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Hadits, Hikmah Siti Efi Farhati

Menpera Kagumi Spirit Kemandirian Pesantren

Pamekasan, Siti Efi Farhati. Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Republik Indonesia H Ir Dian Faridz menyatakan salut atas spirit kemandirian yang tertanam kuat dalam kehidupan pesantren. Menurutnya, salah satu kelemahan generasi muda saat ini ialah terletak pada semangat kemandirian tersebut.

Menpera Kagumi Spirit Kemandirian Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpera Kagumi Spirit Kemandirian Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpera Kagumi Spirit Kemandirian Pesantren

Ia menyampakan hal itu saat mengunjungi Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Sabtu (18/01). Dalam lawatannya tersebut, Faridz menghadiri maulid nabi Muhammad SAW dan milad ke-45 Pondok Pesantren Bustanul Ulum di Tagangser Laok, Kecamatan Waru, Pamekasan.

"Dan harus diakui, pesantren mempunyai peran besar dalam menguatkan spirit kemandirian di tubuh bangsa ini. Dari pesantren lah generasi bangsa yang sangat tangguh bermunculan," akunya kepada Siti Efi Farhati.

Siti Efi Farhati

Ditegaskan, spirit kemandirian tersebut diharapkan tetap lestari. Jangan sampai ganasnya era globalisasi justru memasungnya. "Dan kami berkeyakinan, selagi langkah kiai tetap mengetengahkan nilai keislaman, ganasnya globalisasi tidak akan mampu menggerus nilai-nilai mulia kepesantrenan," terangnya.

Karena pesantren mempunyai peran vital dalam membangun negeri ini, pihaknya menyatakan tidak akan mengabaikan keberadaannya. Tentu dengan memperhatikan perkembangan pesantren melalui program pemerintah yang pro-rakyat. (Hairul Anam/Mahbib)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Hikmah, Olahraga Siti Efi Farhati

Rabu, 01 November 2017

Pengurus NU Ranting Bulujaran Kembangkan Batik Tulis dengan Cara Tradisional

Probolinggo, Siti Efi Farhati. Batik merupakan salah satu karya budaya khas Indonesia yang telah diakui UNESCO. Produk budaya ini merupakan karya seni bernilai tinggi. Sentra potensi batik banyak tersebar di wilayah Kabupaten Probolinggo dengan berbagai macam motif dan corak.

Satimin salah satu pengurus ranting NU Desa Bulujaran Lor Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo merupakan salah satu warga NU yang mampu menciptakan dan mengembangkan batik tulis dengan berbagai jenis motif dan corak. Kini, usaha batik tulis yang dirintisnya sejak tahun 2010 tersebut telah diberi nama Batik Tulis Prabu Linggih. Bahkan nama tersebut sudah disertifikasi emas oleh Kementerian Perdagangan Republik Indonesia bulan Maret 2013 kemarin.

Pengurus NU Ranting Bulujaran Kembangkan Batik Tulis dengan Cara Tradisional (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus NU Ranting Bulujaran Kembangkan Batik Tulis dengan Cara Tradisional (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengurus NU Ranting Bulujaran Kembangkan Batik Tulis dengan Cara Tradisional

Sebelum menggeluti usaha Batik Tulis Prabu Linggih, Satimin membuka usaha sebagai pembuat rokok. Namun seiring dengan perkembangan zaman, usaha rokoknya tidak laku karena kalah bersaing dengan produk yang lain. Akhirnya lama kelamaan usaha rokoknya bangkrut dan Satiminpun gulung tikar.

Siti Efi Farhati

“Dalam kondisi kalut dan bingung dengan bangkrutnya usaha rokok, saya mencoba menyepi dan melakukan ziarah ke beberapa makam wali dengan harapan mendapatkan petunjuk terkait usaha apa yang cocok untuk saya jalani. Akhirnya, setelah kembali dari ziarah tersebut saya terbayang untuk mencoba melakukan usaha batik tulis,” ungkapnya kepada Siti Efi Farhati, Kamis (20/6).

Awal memulai usaha batik tulis ini Satimin mengaku tidak tahu motif yang akan dibuatnya. Namun dia terus belajar dengan membuat desain sendiri sambil mengikuti berbagai macam jenis pelatihan membatik yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten Probolinggo.

Siti Efi Farhati

“Setelah dilatih selama satu minggu, saya mencoba terus membuat desain sendiri dan mewarnanya. Karena belum memiliki nama, batik tulis ini saya beri nama Batik Tulis Prabu Linggih,” jelasnya.

Menurut Satimin, nama Prabu Linggih diambil dengan alasan untuk memberikan motivasi bahwasanya jika ingin usahanya maju, maka harus dilakukan dengan baik, tekun dan sungguh-sungguh sekaligus terus mencari jati diri. Apalagi nama Prabu Linggih sendiri diambil dari seorang tokoh yang dulunya pernah singgih di Probolinggo.

“Awalnya saya hanya mencoba-coba dan terus membuat desain-desain sendiri. Intinya, antara keinginan dan usaha harus nyambung. Sehingga nantinya usaha yang kita jalani akan sukses. Semua kuncinya berasal dari hati, mau sukses atau tidak. Hingga kinipun saya tetap menggunakan cara tradisional karena tidak memiliki modal untuk membeli alat membatik,” terangnya.

Pada saat awal menjalani usaha batik tulis ini, Satimin hanya bekerja sendiri. Pekerjaan mulai mendesain, mencanting, mewarna hingga menjemur dilakukannya sendiri. Dalam sebulan dirinya hanya mampu menjual 10 potong kain dengan 3 motif batik. Namun kini, dalam sebulan dirinya mampu menjual hingga 100 potong dengan 25 motif batik. Pekerjaan itupun tidak dikerjakan sendiri lagi. Sebab dirinya sudah mampu menampung sekitar 7 orang pekerja di rumahnya.

“Sebenarnya dalam sebulan kami mampu menjual lebih dari 100 potong. Namun untuk sementara ini kami masih terkendala dengan modal untuk membeli bahan baku dan membayar pekerja. Selama ini batik tulis yang kami hasilkan rata-rata merupakan pesanan dari pembeli. Sehingga di rumahpun tidak ada stok untuk dijadikan contoh jika ada orang datang untuk melihat-lihat motif batik tulis Prabu Linggih,” ungkapnya.

Satimin mengaku hasil penjualan batik tulisnya itu mampu meningkatkan pendapatan keluarganya. Dalam sebulan, dirinya mengaku mengeluarkan modal sekitar Rp. 15 juta. Hasil dari produk batik tulisnya laku seharga Rp. 20 juta per bulan. Sehingga dirinya mendapatkan keuntungan bersih sekitar Rp. 4 juta per bulan. Hasil itu didapat dari pesanan yang diminta pembeli.

“Sementara ini kami hanya fokus kepada pesanan saja. Sebab untuk memenuhi yang lain, kami terkendala dengan tenaga kerja dan modal. Sebab untuk membuat satu motif ini dibutuhkan waktu sekitar 4 hari,” tambahnya.

Hingga kini, Satimin mampu menciptakan berbagai macam motif batik tulis Prabu Linggih. Terbaru, dirinya mampu membuat desain batik tulis yang diberi nama Merak Manis. “Nama ini diambil untuk menggambarkan keindahan yang dimiliki oleh Kabupaten Probolinggo,” akunya.

Dikatakan Satimin, untuk membuat batik tulis sebenarnya tidak terlalu sulit asalkan ada kemauan dan kerja keras. Langkah pertama untuk membuat batik tulis ini adalah membuat gambar desain di kertas kalkir. Hasil dari desain tersebut kemudian dijiplak ke kain dengan menggunakan pensil 2B. Setelah itu dicanting dan dicelup warna. Langkah mencanting dan mewarna ini dilakukan berulang-ulang sesuai warrna yang ada di batik tulis. Selanjutnya kain tersebut dijemur kira-kira sekitar 2 jam di bawah terik matahari.

Setelah kering, kain tersebut direbus dalam air mendidih untuk melunturkan lilinnya. Kemudian dicuci hingga bersih. Kemudian dikeringkan untuk selanjutnya dilipat dengan rapi. Baru kemudian, kain tersebut siap untuk dipasarkan kepada masyarakat.

“Dalam usaha batik tulis ini kami tetap menggunakan cara tradisional. Ke depan kami akan berupaya untuk menambah modal agar bisa menyerap tenaga kerja lebih banyak sebagai upaya untuk mengembangkan usaha batik tulis ini di Desa Bulujaran Lor Kecamatan Tegalsiwalan Kabupaten Probolinggo,” pungkasnya.

Redaktur      : Syaifullah Amin

Kontributor : Syamsul Akbar

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Hikmah Siti Efi Farhati

Kamis, 19 Oktober 2017

Mamah Dedeh: Istri, Mitra Suami dalam Mencari Nafkah

Depok, Siti Efi Farhati. Ketua Muslimat NU Kota Depok Hj Dedeh Rosyidah mengatakan, istri harus mandiri tidak boleh hanya menggantungkan nafkah pada suami. Istri adalah mitra suami dalam rumah tangga, dan harus bersinergi diantara keduanya.

Hj Dedeh Rosyidah yang dalam acara ceramah agama di salah satu strasiun televisi swasta dipanggil Mamah Dedeh berpesan, meskipun sang suami sudah menafkahi, istri harus mampu memberikan penghasilan untuk keluarga dan membantu suami.

Mamah Dedeh: Istri, Mitra Suami dalam Mencari Nafkah (Sumber Gambar : Nu Online)
Mamah Dedeh: Istri, Mitra Suami dalam Mencari Nafkah (Sumber Gambar : Nu Online)

Mamah Dedeh: Istri, Mitra Suami dalam Mencari Nafkah

Hal itu disampaikan Mamah dalam acara Halal Bihalal Muslimat NU Kota Depok yang dihadiri sekitar 1000 orang. Acara bertempat di gedung MUI kota Depok, Senin (2/11) lalu. Halal bi halal? ini dihadiri mayoritas dari kaum ibu baik dari Muslimat sendiri maupun dari undangan organisasi perempuan kota Depok, dengan? mengambil tema ”Dengan Halal bi Halal Kita Pererat Tali Ukhuwah Islamiyah”.

Siti Efi Farhati

”Siti Khodijah Istri Nabi Muhammad SAW merupakan sosok perempuan yang sangat istimewa, bukan hanya sebagai bisnisman, tapi, ia mampu memenuhi kebutuhan keluarga Rosulullah dan membantu perjuangan penyebaran Islam,” kata Mamah.

Mamah Dedeh menyatakan, seorang istri harus bekerja sesuai dengan kemampuannya masing-masing dan harus memberdayakan potensi yang sudah ada sejak lahir. Keuntungan dari perempuan yang memiliki penghasilan dan mandiri diantaranya adalah kepercayaan diri bertambah dan lebih bahagia.

Siti Efi Farhati

Halal bihalal itu, kata Mamah, merupakan kegiatan rutin yang diadakan setiap tahun, hanya saja waktunya yang agak mundur. Program kegiatan Muslimat NU kota Depok, sampai saat ini diantaranya pengajian rutin, kegiatan sosial lainnya.

Beruntung sekali warga Depok adalah warga yang selalu tanggap terhadap keadaan, terbukti ketika terjadi musibah di Aceh, padang, Situ gintung, Sumatera Barat selalu aktif dalam memberikan bantuan.

Kontributor Siti Efi Farhati Aan Humaidi melaporkan, untuk mengembangkan potensi perempuan, Muslimat NU Depok memiliki program pelatihan-pelatihan kewirausahaan, koperasi dll. Ia berharap pemerintahan baru SBY, agar perempuan lebih diberdayakan lagi dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada perempuan dalam mengembangakan potensi yang sudah ada.

Namun, Ketua PCNU kota Depok KH Burhanuddin Marzuki dalam kesempatan itu mengingatkan, kemandirian perempuan tidak boleh keblabasan. Kemandirian harus ditempatkan pada tempatnya. Seorang istri harus menghormati suami, katanya. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Hikmah, Bahtsul Masail, IMNU Siti Efi Farhati

Selasa, 17 Oktober 2017

PBNU Jenguk Dua Korban Sengketa Lahan Pertanian di Lapas Kendal

Jakarta, Siti Efi Farhati - Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menjenguk Nur Aziz dan Sutrisno Rusmin, dua orang warga desa Surokonto, terpidana kasus tanah di Kendal terkait tukar guling lahan antara PT Semen Indonesia dengan pihak Perhutani, Ahad (5/10).

“Saya menemui mereka berdua di Lembaga Pemasyarakatan Kendal dan berbincang selama sekitar satu jam dari jam 14.00 s.d. 15.00. Saya juga mengumpulkan informasi dari berbagai pihak mengenai kasus yang menimpa dua orang warga Nahdlatul Ulama tersebut,” kata Gus Yahya.

PBNU Jenguk Dua Korban Sengketa Lahan Pertanian di Lapas Kendal (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Jenguk Dua Korban Sengketa Lahan Pertanian di Lapas Kendal (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Jenguk Dua Korban Sengketa Lahan Pertanian di Lapas Kendal

Secara jelas, vonis yang dijatuhkan atas dua orang tersebut, yaitu masing-masing 8 tahun penjara (Nur Aziz) dan 3 tahun penjara (Sutrisno) serta denda milyaran rupiah, sangat mengganggu rasa keadilan, mengingat bobot kesalahan yang didakwakan dan kondisi sosial-ekonomi dari yang bersangkutan.

Siti Efi Farhati

“Saya akan melaporkan masalah ini ke PBNU agar ditindaklanjuti dengan advokasi intensif bagi kepentingan Bapak Nur Aziz dan Bapak Sutrisno Rusmin,” kata Gus Yahya.

Ia menyampaikan bahwa ia juga menerima sejumlah informasi yang memicu tanda tanya terkait kasus tukar guling lahan antara PT Semen Indonesia dan Perhutani itu sendiri.

“Saya akan terus mengumpulkan informasi selengkap-lengkapnya mengenai hal ini, dan apabila ada bukti-bukti tindakan illegal oleh pihak tertentu, saya akan menjajaki kemungkinan gugatan clash-action terhadap pihak-pihak terkait,” tandas Gus Yahya. (Red Alhafiz K)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kajian, News, Hikmah Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock