Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Maret 2018

Presiden Jokowi Setuju untuk Memperkuat Pendidikan Diniyah dan Pesantren

Jakarta, Siti Efi Farhati. Guna mengantisipasi perubahan di dunia yang sangat cepat, Presiden Joko Widodo (Jokowi) setuju agar pendidikan diniyah, pendidikan keagamaan di pesantren-pesantren harus diperkuat.

“Perubahan seperti ini bisa menjadikan kita baik, bisa menjadikan kita tidak baik. Inilah tugas kita mengantisipasi. Bagaimana membangun karakter-karakter anak-anak kita, yang bisa menjaga harkat bangsa ini dari arus-arus perubahan global yang begitu sangat cepatnya,” kata Presiden Jokowi saat menghadiri Penutupan Musyawarah Kerja Nasional II dan Workshop Nasional (Bimbingan Teknis) Anggota DPRD PPP Se-Indonesia, di Hotel Mercure Ancol, Jakarta, Jumat (21/7) siang.?

Presiden Jokowi Setuju untuk Memperkuat Pendidikan Diniyah dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Jokowi Setuju untuk Memperkuat Pendidikan Diniyah dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Jokowi Setuju untuk Memperkuat Pendidikan Diniyah dan Pesantren

Kepala Negara mengingatkan kepada semua pihak untuk berhati-hati, karena 5 tahun yang akan datang, kemudian 10 tahun yang akan datang akan ada perubahan yang sangat drastis.

Ia menyebutkan, ada yang namanya generasi W, generasi Y, yang sekarang baru berumur 15 tahun, berumur 20 tahun, berumur 25 tahun. Selanjutnya, Presiden menambahkan yang 5 tahun lagi akan masuk pasar, akan masuk dan men-drive, mengemudikan perubahan-perubahan itu.

“Generasi Y ini, generasi W, 10 tahun yang akan datang, mereka akan menguasai dan mempengaruhi pasar,” ujar mantan Gubernur DKI Jakarta ini.

Siti Efi Farhati

Oleh sebab itu, tutur Jokowi, sekarang saatnya kita mengisi mereka dengan sebuah karakter-karakter yang baik, sehingga perubahan itu tidak mengubah wajah keislaman kita.

“Inilah yang harus diantisipasi. Banyak dari kita yang belum sadar akan perubahan yang sangat cepat ini,” tutur mantan Wali Kota Solo, Jawa Tengah ini.

Menurut Presiden, nantinya, entah apakah ada lagi yang baca koran, mungkin sangat sedikit sekali. Presiden juga menambahkan bahwa kemungkinan tidak ada yang lihat TV lagi, karena yang namanya generasi Y, setiap hari membawa smartphone, berita juga klik di situ, berita-berita online.?

Siti Efi Farhati

Presiden juga menambahkan bahwa generasi berikutnya tidak lihat TV karena nanti yang laku adalah Netflix, video-video yang langsung bisa dilihat di dalam smartphone itu.

“Kalau kita dari sekarang tidak menyiapkan mereka, mengisi mereka dengan jiwa-jiwa yang mulia, dengan jiwa-jiwa baik. Apakah yang akan terjadi?” tanya Presiden.

Inilah, lanjutnya, yang perlu dirinya mengingatkan, menyadarkan pada kita semuanya, bahwa perubahan itu sudah di depan kita.

“Oleh sebab itu, sekali lagi, memperkuat pendidikan diniyah, memperkuat pendidikan pondok-pondok pesantren, memperkuat pendidikan keagamaan yang masih, itu menjadi kunci agar perubahan itu tidak mengubah kita,” tutur Presiden Jokowi.

Tampak hadir dalam acara tersebut antara lain, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang KH Maimoen Zubair, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Kepala Staf Kepresidenan, Teten Masduki, dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. (setkab.go.id/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Budaya, Cerita, Internasional Siti Efi Farhati

Minggu, 11 Februari 2018

Pesantren Harus Kembali Pada Seni dan Budaya

Cirebon, Siti Efi Farhati

Pada mulanya pesantren dan seni budaya memiliki hubungan yang sangat erat, terlebih pada zaman Walisongo, seni dan budaya justru dijadikan sebagai media dakwah dan syi’ar agama Islam, hanya saja dalam perjalanan sejarahnya, pesantren dan seni budaya semakin memiliki jarak dan tampak kurang harmonis.?

Demikian ungkap Raffan S. Hasyim, direktur Pusat Studi Budaya dan Manuskrip Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon saat berkesempatan menjadi pembicara dalam pembukaan pekan Griya Seni dan Gallery di Brana Cafe, Cirebon. Senin (20/5).

Pesantren Harus Kembali Pada Seni dan Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Harus Kembali Pada Seni dan Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Harus Kembali Pada Seni dan Budaya

“Di Cirebon sendiri, justru sejarah pendirian pesantren tidak bisa terlepas dari rutinitas keraton sebagai pusat kebudayaan, Sunan Gunung Jati sebagai juru dakwah menjadikan seni tradisi dan budaya Kacirebonan sebagai alat syi’ar yang dinilai strategis. Meski dalam perjalanannya, penjajah Belanda turut andil besar dalam kesan pemisahan antara seni budaya dan pesantren tersebut,” ungkap Raffan.

Siti Efi Farhati

Lebih lanjut lagi Raffan menambahkan, meskipun terkesan sulit untuk meleburkan kembali antara seni budaya dengan pesantren, namun secara perlahan hal tersebut mulai tampak menggembirakan, beberapa pesantren di Cirebon sudah tidak begitu tabu untuk mengenal bahkan mementaskan seni seperti wayang dan lain-lain.

“Saya menaruh harapan kepada generasi muda agar dapat menghangatkan kembali hubungan seni budaya Cirebon dengan pesantren, karena memang sebenarnya kedua aspek terebut merupakan penguat identitas bangsa yang tidak bisa dipisahkan,” tambah Filolog yang sedang menempuh gelar doktor di Univeritas Padjajaran Bandung ini.

Siti Efi Farhati

Diskusi budaya yang bertema Seni Budaya Cirebon Sebagai Pintu Kebangkitan Budaya Nusantara ini merupakan sesi pembuka dari serangkaian kegiatan kebudayaan yang akan dilangsungkan dalam sepekan mendatang. Selain diskusi, acara ini juga dilengkapi dengan pameran fotografi bertema seni dan budaya, dan juga dihadiri oleh puluhan santri, mahasiswa, tokoh budayawan, penggiat seni, dan masyarakat umum

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Sobih Adnan

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Budaya, Makam Siti Efi Farhati

Rabu, 07 Februari 2018

Mapaba Uninus Dihadiri Pendiri PMII

Bandung, Siti Efi Farhati. Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) angkatan XVI Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Islam Nusantara (Uninus) dihadiri salah seorang pendiri PMII, KH Nuril Huda.

Mapaba bertema Gerakan Ideologisasi versus Deregenerasi dan globalisasi tersebut, digelar di kantor PWNU Jawa Barat, di Bandung, Jumat (19/10) hingga Ahad (21/10).

Mapaba Uninus Dihadiri Pendiri PMII (Sumber Gambar : Nu Online)
Mapaba Uninus Dihadiri Pendiri PMII (Sumber Gambar : Nu Online)

Mapaba Uninus Dihadiri Pendiri PMII

Pada kesempatan itu, KH Nuril Huda yang datang pada Sabtu, (20/10) bercerita sejarah pendirian PMII pada tahun 1960. Saat itu, ada empat partai terkuat, yaitu PNI, NU, Masyumi, dan PKI.

Siti Efi Farhati

“Setiap partai mempunyai kader di kalangan mahasiswa, PNI punya GMNI, Masyumi punya HMI, PKI punya CGMI, partai NU belum punya,” katanya.

Siti Efi Farhati

Kemudian ia 13 orang mahasiswa NU menghadap kepada Ketua Umum PBNU waktu, KH Idham Chalid, untuk menanyakan perlun tidaknya dibentuk organisasi mahasiswa NU.

“Perlu!” jawab Kiai Idham Chalid yang memipin NU selama 25 tahun. Jawaban dia, diamini salah seorang Syuriyah PBNU waktu itu, KH Anwar Musaddad.

Dengan demikian, sambung KH Nuril, PMII adalah anak sah NU. Meski kemudian PMII secara struktural pisah, tapi hakikatnya masih anak NU, “Itu hanyalah strategi saja. Benang merahnya masih ada, masih anak NU.”

Sebagai anak muda NU, maka PMII adalah organisasi intelektual berhaluan Ahlus Sunnah wal-Jama’ah. Karena itulah ia menjelaskan perbedaan aliran keagamaan dalam Islam yang tumbuh di berbagai organisasi di Indonesia.

Mapaba tersebut diikuti 80 orang mahasiswa dan mahasiswi. Selain Uninus, ikut pula beberapa peserta dari kampus sekitar Bandung.

Redaktur:  A. Khoirul Anam

Penulis    : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Hikmah, Budaya Siti Efi Farhati

Jumat, 02 Februari 2018

Anak Siapa?

Suatu hari ada seorang perempuan berebut anak justru dengan suaminya sendiri di muka pengadilan agama.

“Ini anak saya, pak hakim. Dia saya kandung selama sembilan bulan. Keluar dari kandungan, dia selalu berada dalam pelukan saya. Sayalah yang menyusuinya. Dia selalu saya awasi waktu tidur dan bermain. Pendeknya, sayalah yang merawatnya sampai dia berumur tujuh tahun.”

Anak Siapa? (Sumber Gambar : Nu Online)
Anak Siapa? (Sumber Gambar : Nu Online)

Anak Siapa?

“Bukan, dia adalah anak saya, pak hakim,” bantah sang suami, “Dia saya kandung sebelum dikandung wanita ini. Dia saya keluarkan sebelum keluarkannya. Jadi sayalah yang berhak. Soalnya saya yang memilikinya. Sedang wanita ini hanya menerima amanat dari saya. Betapapun yang namanya amanat itu harus dikembalikan kepada yang berhak, yakni saya.”

Siti Efi Farhati

“Betul semua itu. Akan tetapi kamu harus ingat, bahwa kamu mengandungnya dengan ringan dan tidak terasa. Sedang aku mengandungnya cukup berat sekali. Kau keluarkan dia dengan senang dan puas. Sedang ketika hendak mengeluarkannya, saya merasakan sakit yang luar biasa. Saya telah mempertaruhkan nyawa,” kata sang istri sambil terus menangis.

*) Dikutip dari Kasykul (Kumpulan Cerita Lucu) karya KH Bisri Mustafa.Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Budaya, Kajian Sunnah, Tokoh Siti Efi Farhati

Selasa, 30 Januari 2018

Baru Satu Pendaftar, Jelang Pemilihan Ketua Baru PMII Jatim

Surabaya, Siti Efi Farhati

Konferensi Koordinator Cabang (Konkoorcab) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur bakal dihelat 27-30 Aprl 2016. Forum permusyawaratan tertinggi PMII tingkat koordinator cabang ini menjadi ajang memilih ketua baru.

Baru Satu Pendaftar, Jelang Pemilihan Ketua Baru PMII Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Baru Satu Pendaftar, Jelang Pemilihan Ketua Baru PMII Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Baru Satu Pendaftar, Jelang Pemilihan Ketua Baru PMII Jatim

Hal ini dilaksanakan sebagai tindak lanjut hasil musyawarah pimpinan nasional (muspimnas) PMII di Ambon, yang kemudian dibentuk Tim Seleksi (Timsel) untuk mewadahi kader-kader PMII se-Jatim yang ingin maju melanjutkan kepemimpinan PMII Jatim.

Amarufin selaku ketua Tim Seleksi mengungkapkan bahwa proses pendaftaran sudah berjalan. Selasa (12/4) adalah masa terakhir pendaftaran. Hingga saat ini, pendaftar baru satu, yakni Pengurus Cabang PMII Situbundo.

Siti Efi Farhati

Ia pun berharap cabang-cabang segera melakukan pendaftaran, mengingat pentingnya agenda ini untuk keberlangsungan PMII Jatim ke depan. "Saya mengimbau kepada cabang-cabang PMII se-Jawa Timur agar segera mengirimkan delegasinya untuk mendaftar ke Timsel," tegasnya.

Untuk diketahui, Konferensi Koordinator Cabang tahun ini terbilang berbeda dibanding periode sebelumnya, karena selain memilih ketua baru bagi Pengurus Koordinator Cabang PMII Jatim, termasuk memilih ketua baru bagi Pengurus Koordinator Cabang Korps PMII Putri (Kopri) Jatim. (Asrari Puadi/Mahbib)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sunnah, Budaya, Nusantara Siti Efi Farhati

Minggu, 28 Januari 2018

Rembug Nasional Guru Madrasah

Malang, Siti Efi Farhati. Dirjen Pendidikan Islam Kementrian Agama RI Prof Dr H Nur Syam,M.Si mengakui, bahwa hingga saat ini sekolah berbasis agama atau madrasah masih kekurangan guru yang berstatus negeri. Harapan akan terpenuhinya persoalan ini dinilai sangat sulit diatasi. Pasalnya, terdapat banyak aspek yang harus dipenuhi.

Demikian disampaikan Nur Syam saat menghadiri acara pembukaan Rembug Nasional Guru Madrasah, di lapangan Rampal Kota Malang, Selasa (10/7).

Rembug Nasional Guru Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
Rembug Nasional Guru Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)

Rembug Nasional Guru Madrasah

Menurut Nur Syam, masalah pengangkatan guru madrasah masih bergantung pada kebijakan pemerintah secara umum. “Untuk merekrut guru apalagi yang berstatus PNS, pemerintah masih perlu mempertimbangkan soal ketersediaan anggaran serta formasi pegawai yang dibutuhkan,”terang mantan Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Siti Efi Farhati

Meski demikian, pihaknya berharap di Jawa Timur bisa mendapatkan penambahan guru madrasah berstatus negeri. Sebab guru berkaitan erat dengan kualitas madrasah. Keberadaan madrasah akan diakui masyarakat ketika para pendidiknya memiliki kualitas dan profesionalitas sebagai seorang pengajar. Tentu saja yang dipertimbangkan tidak hanya peningkatan standar nasional pendidikan, tetapi juga pembentukan karakter dan moral siswa.

Sebenarnya, kata Nur Syam, keberadaan guru yang berkualitas juga tidak akan memberikan andil maksimal terhadap hasil pendidikan di madrasah ketika tidak ditunjang program lainnya. Adapun beberapa langkah lain itu seperti pengadaan infrastruktur, program kelas percepatan atau akselerasi, serta penggunaan bahasa asing untuk kegiatan sehari-hari.

Siti Efi Farhati

Diakui Nur Syam, hingga kini keberadaan madrasah masih dipandang sebelah mata dibandingkan sekolah umum lainnya. Oleh karena itu, Nur Syam berjanji, Kementrian Agama akan mengupayakan peningkatan kualitas madrasah sehingga mampu bersaing dengan dengan sekolah-sekolah umum lainnya.

Untuk itu, kata Nur Syam, pihaknya berencana meningkatkan kualitas dengan melakukan akreditasi bagi madrasah di Indonesia yang belum terakreditasi. "Dari 63 ribu lebih madrasah di Indonesia, sudah 53 persen yang terakreditasi dan dikatakan berkualitas. Sementara sisanya sebanyak 47 persen belum terakreditasi," tegasnya.

Menurutnya, akreditasi tersebut penting untuk dilakukan, dalam rangka peningkatan kualitas madrasah. "Selama ini peringkat kualitas madrasah masih dianggap kelas dua, sehingga madrasah jangan mau kalah dengan sekolah umum," ujarnya.

Meski demikian, keberadaan madrasah banyak tidak boleh dipandang sebelah mata. Sebab, lanjut Nur Syam, di luar Jawa ada madrasah yang dalam melaksanakan kegiatan belajar-mengajar mempergunakan tiga bahasa asing. “Ini bisa menjadi program yang inovatif sehingga mampu mengangkat madrasah bisa go internasional," kata Nur Syam bangga.

Kontributor: Abdul Hady JM

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Budaya, Ahlussunnah, Aswaja Siti Efi Farhati

Kamis, 25 Januari 2018

Pagar Nusa Diminta Jadi Benteng NU

Bekasi, Siti Efi Farhati. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, meminta Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama (IPS-NU) Pagar Nusa bisa benar-benar menjadi benteng organisasi. Pagar Nusa diharapkan bisa membentengi NU dari gerusan aliran di luar ahlussunnah wal jamaah.

Pagar Nusa Diminta Jadi Benteng NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Diminta Jadi Benteng NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Diminta Jadi Benteng NU

Ini disampaikan Kiai Said saat membuka festival dan kejuaraan pencak silat Pagar Nusa di OSO Sport Center, Bekasi, Jawa Barat, Senin (2/4). Kelompok yang beraliran di luar ahlussunnah wal jamaah, menurut Kiai Said saat ini semakin menunjukkan kebenciannya terhadap NU.

"Tidak menjalankan dibaiyah, tidak suka ziarah kubur dan tidak suka maulud, kalau sekedar tidak suka dan tidak melakukan tindakan apapun, biarkan. Tapi kalau sudah menghina, mem-bidah-bidah-kan  dan mencaci maki, kita bisa mengambil tindakan," tegas Kiai Said disambut teriakan kata siap dari ratusan pendekar Pagar Nusa.

Siti Efi Farhati

Lebih lanjut Pagar Nusa diminta juga bisa berperan lebih luas untuk melindungi Islam dari gerusan berbagai macam aliran dari luar, seperti sekularisme dan wahabi atau salafi yang merupakan ektrem kanan.

Siti Efi Farhati

"Wahabi itu dulu, sekarang namanya sudah ganti menjadi salafi," tandas Kiai Said.

Pagar Nusa, masih kata Kiai Said, juga diharapkan bisa membentengi NU tidak hanya melalui kemampuan bela dirinya, melainkan tindakan pelestarian budaya. Kesenian dan budaya dinilai sebagai bagian dari aliran ahlussunnah wal jamaah yang tidak bisa dipisahkan, karena menjadi perantara Wali Songo dalam penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di tanah Jawa.

Sementara Ketua Umum IPS-NU Pagar Nusa KH Fuad Anwar, menyampaikan kesiapannya untuk organisasi yang dipimpinnya menjadi benteng NU. Mengenai festival dan kejuaraan pencak silat yang digelar mulai tanggal 2 hingga 5 April mendatang, dilaporkan diikuti oleh sekitar 450 pendekar dari 23 provinsi se Indonesia.

"Yang membuat kami bangga, sebagian besar peserta berusia rata-rata empat belas tahun. Mereka kader-kader luar biasa, yang tentunya dua puluh tahun mendatang kita harapkan bisa menjadi pewaris bangsa ini," ungkap Kiai Fuad.

Dalam pembukaan festival dan kejuaraan pencak silat Pagar Nusa, hadir pula di antaranya Menteri Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Helmi Faisal Zaini, Ketua BPN Kabupaten Bekasi Budi Suryanto, serta sejumlah pengurus PCNU Kabuaten Bekasi. Tamu undangan diusuguhi juga peragaan olah tenaga dalam dan praktek pengobatan alternatif pendekar Pagar Nusa.

Penulis: Emha Nabil Haroen

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Budaya, Pemurnian Aqidah Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock