Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sunnah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Maret 2018

MATAN, Memperkuat Islam Indonesia dan NKRI dengan Tarekat

Tangerang Selatan, Siti Efi Farhati

Negara-negara Islam di Timur Tengah saat ini tengah dilanda krisis dan konflik berkepanjangan. Seakan tak tampak lagi wajah Islam yang santun dan berkeadaban. Hari-hari selalu dihiasi dengan perang, pembunuhan, dan tragedi. Ini menunjukkan model keberagamaan Islam dan sistem yang dibangun di sana tak mampu menjawab tantangan sosial, ekonomi, dan politik yang terjadi.?

MATAN, Memperkuat Islam Indonesia dan NKRI dengan Tarekat (Sumber Gambar : Nu Online)
MATAN, Memperkuat Islam Indonesia dan NKRI dengan Tarekat (Sumber Gambar : Nu Online)

MATAN, Memperkuat Islam Indonesia dan NKRI dengan Tarekat

“Lain halnya dengan Indonesia. Negeri yang berpenghuni muslim terbesar sedunia ini, jauh lebih mampu mengamalkan ajaran Islam dengan baik dan memasukkan nilai-nilai ajaran Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” terang KH Wahfiuddin Sakam saat menyampaikan taushiyah usai pelantikan pengurus Mahasiswa Ahli al-Thariqah al-Mu’tabarah al-Nahdliyah (MATAN) Cabang Ciputat, Tangerang Selatan dan Komisariat STAINU Jakarta, UNU Indonesia, UI, IPB, UNJ, dan STIKIP Kusuma Negara, Senin (11/4) lalu.

Mengapa ini bisa terjadi? Kiai Wahfi menjelaskan, karena umat Islam Indonesia mampu menerapkan tiga pilar ajaran Islam, yaitu Iman, Islam, dan Ihsan. Ia mengibaratkan tiga pilar itu ibarat tripod yang mampu menyanggah dan tegak dengan gagah. Bila salah satu pilarnya tak lurus, maka tripod tersebut akan roboh dan tak mampu menyanggah beban.?

Tiga pilar itu jika diterjemahkan secara sederhana berarti aqidah (iman), syariah (Islam), dan tasawuf (ihsan). Ketiga pilar ini tidak bisa dipisah-pisah, tapi harus menyatu dan berdiri kokoh dalam diri seorang muslim. Hal ini sebagaimana tercermin dalam sejarah kejayaan Islam di masa lalu.?

Siti Efi Farhati

“Ketika saya melakukan ekspedisi napak tilas kejayaan Islam di Eropa dan juga Timur Tengah, saya datang ke makam-makan ulama besar dan pemikir di sana, ternyata mereka semua adalah orang sufi pengamal tarekat,” terang Kiai Wafi yang juga Mudhir JATMAN (Jamiyah Ahli al-Thariqah al-Mu’tabarah al-Nahdliyah) DKI Jakarta.?

Kebesaran Islam di Indonesia juga tak lepas dari guru-guru mursyid Tarekat. Syeikh Nawawi al-Bantani, Syekh Yasin al-Fadani, Syaikh Khotib Sambas, Syeikh Nuruddin ar-Raniri, Syeikh Abdusshamad al-Palimbangi, dan juga para wali penyebar Islam di Nusantara, semuanya adalah muslim pengamal tarekat.?

“Karena itu, Islam yang mereka ajarkan di Indonesia, tidak hanya menggunakan pendekatan fiqih-formalistik yang cederung hitam-putih, tapi juga memperkuat ajaran Islam yang santun, ramah, dan toleran terhadap perbedaan,” tegasnya.

NKRI adalah bukti nyata buah karya ulama ahli tarekat yang mampu memadupadankan ajaran Islam dalam konteks berbangsa dan bernegara. Untuk itu, supaya tiga pilar tadi dapat berdiri dengan kokoh, ajaran tarekat tidak hanya dilakukan oleh generasi tua, tapi juga harus diamalkan oleh generasi muda, yaitu para mahasiswa. Ini penting, karena korupsi dan kolusi yang memporkak-porandakan negeri ini dilakukan oleh para pejabat, yang mereka semua adalah mantan mahasiswa.?

Siti Efi Farhati

“Untuk itu, organisasi MATAN hadir di tengah-tengah kampus untuk menanamkan amalan tarekat, agar generasi muda Indoesia tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter Iman, Islam, dan Ihsan,” pungkas Kiai Wahfi. (Abdullah Ubaid/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sunnah, Nasional, Tokoh Siti Efi Farhati

Minggu, 18 Februari 2018

Terorisme, Radikalisme, dan Narkoba Musuh Bersama

Jakarta, Siti Efi Farhati. Menjelang pelaksanaan Apel Kebhinekaan Lintas Iman Bela Negara, Ahad (17/1) mendatang, Komunitas Lintas Iman yang terdiri dari PBNU, KWI, PGI, MATAKIN, PHDI, WALUBI, dan LPOI mengadakan pertemuan di Gedung PBNU lantai 8, Jumat (15/1) siang. Seluruh elemen lintas iman menyerukan bahwa terorisme, radikalisme, dan narkoba adalah musuh bersama.

Terorisme, Radikalisme, dan Narkoba Musuh Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)
Terorisme, Radikalisme, dan Narkoba Musuh Bersama (Sumber Gambar : Nu Online)

Terorisme, Radikalisme, dan Narkoba Musuh Bersama

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mewakili seluruh elemen lintas iman mengajak seluruh masyarakat untuk mencegah, mewaspadai, dan membendung serta melawan radikalisme, terorisme, dan narkoba.

Siti Efi Farhati

“Permasalahan ini tidak hanya menjadi tugas aparat keamanan, pemerintah, tetapi membutuhkan peran serta dan partisipasi seluruh pihak. Hanya dengan kebersamaan dan sinergitas yang kuat antara negara dan masyarakat, radikalisme, terorisme, dan narkoba akan sulit berkembang di Indonesia,” ujar Kang Said dalam jumpa pers.

Siti Efi Farhati

Sesungguhnya yang memberi ruang dan membuka peluang bagi tumbuh dan berkembangnya radikalisme, terorisme, dan narkoba di Indonesia adalah sikap ketidakpedulian dan sifat acuh masyarakat terhadap realitas sosial.

“Upaya penguatan nilai-nilai kebangsaan dan keindonesiaan dengan memberikan pemahaman dan penguatan nasionalisme dan kebhinekaan merupakaan ikhtiar mendesak yang harus ditempuh pemerintah,” tambah Kang Said.

Ia mengatakan, kita sebagai negara yang memiliki keragaman bahasa, agama, suku, adat-istiadat, ras, Indonesia telah mampu menunjukkan kepada dunia akan potret kehidupan bangsa yang harmoni.

Keberagaman yang ada merupakan salah satu tonggak dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, tandas Kang Said. (Afifah Marwa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Ubudiyah, Sunnah Siti Efi Farhati

Selasa, 06 Februari 2018

Kasus ‘Mark-Up’ Harga Jual Barang: Pembuka Memahami Tas’ir Bai’ Murabahah

Tulisan ini dimaksudkan untuk mengurai tindakan bank syariah dalam menentukan harga dasar barang murabahah ketika mulai terjadi transaksi antara nasabah dan bank. Ilustrasi awal memahaminya, penulis sajikan dalam bentuk uraian kasus klasik fiqih yang umum terjadi di masyarakat.

(Baca: Akad Murabahah dalam Kajian Fiqih)Pak Ahmad membutuhkan air conditioner (AC) untuk rumahnya yang baru dibangun. Ia lalu mendatangi seorang pedagang elektronik properti rumah tangga. Saat terjadi dialog, Pak Ahmad menyebut-nyebut sebuah merk terkenal produk AC, karena keluarganya menghendaki AC dengan merk tersebut. Jika pedagang itu tidak punya, ia memutuskan lebih baik mencari pedagang lain yang menjual AC tersebut. Memanfaatkan kondisi Pak Ahmad yang sedemikian itu, insting pedagang yang didatangi Pak Ahmad tadi mulai bermain. Jarang-jarang ada konsumen membeli barang elektronik seperti itu. Paling-paling dua bulan sekali, itu pun belum pasti. Akhirnya, si pedagang memutuskan menjual AC tidak dengan keuntungan sebagaimana mestinya ia mengambil untung. Jika biasanya ia mengambil untung 15 persen dari total harga barang yang dijual, namun memanfaatkan  situasi sangat butuhnya Pak Ahmad, ia menaikkan keuntungan menjadi 40 persen.

Kasus ‘Mark-Up’ Harga Jual Barang:  Pembuka Memahami Tas’ir Bai’ Murabahah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kasus ‘Mark-Up’ Harga Jual Barang: Pembuka Memahami Tas’ir Bai’ Murabahah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kasus ‘Mark-Up’ Harga Jual Barang: Pembuka Memahami Tas’ir Bai’ Murabahah

Kita uji kasus di atas menurut kacamata pembeli. Bagaimana respon pembeli terhadap tindakan pedagang tersebut? Menurut kacamata pembeli bahwa apa yang pedagang lakukan merupakan tindakan mark-up [Jawa: ngenthol], yaitu tindakan menaikkan harga di saat menemui adanya pembeli yang prospektif karena didorong sangat butuh. Tindakan pedagang juga merupakan tindakan yang tidak terpuji karena di saat ada orang dalam situasi yang sangat membutuhkan, namun justru ia menaikkan harga.

Demikianlah mungkin perasaan yang ada dalam benak para pembeli seandainya mereka tahu bagaimana niatan pedagang tersebut dalam menaikkan harga. 

Lantas bagaimana kasus di atas jika menurut kacamata pedagang? Pasti, pedagang tersebut akan menanggapi kasus dengan perspektif yang berbeda. Ia menganggap bahwa mencari keuntungan dalam dagang adalah diperbolehkan asal caranya benar. Pedagang harus pandai membaca peluang. Dan kedatangan Pak Ahmad ke tokonya adalah merupakan salah satu peluang yang tidak boleh diabaikan begitu saja. Sementara syariat juga tidak melarang mengambil untung dagang. 

Siti Efi Farhati

Satu kasus direspon oleh dua pihak yang berbeda posisi menurut kacamata masing-masing. Sudah pasti, respon dan tanggapan mereka akan berbeda. Maka, dari itulah kemudian berlaku kebutuhan hadirnya pihak ketiga (qadli) untuk membantu memecahkan persoalan mark-up (perspektif pembeli) dan keuntungan (ribhun perspektif pedagang). Dengan demikian tugas qadli dalam hal ini adalah menimbang persoalan keduanya tanpa merugikan hajat salah satu pihak. Peran utamanya adalah penentuan harga yang berimbang (tas’ir).

(Baca juga: Pelaksanaan Negosiasi Akad Bai’ Murabahah antara Nasabah dan Bank Syariah) Dalil pokok kebolehan mengambil untung adalah Q.S. Al-Baqarah ayat 180 yang mana risiko halalnya jual beli juga berarti halalnya mengambil keuntungan. Adapun dalil larangan menaikkan harga sehingga keluar dari batasan umum mengambil keuntungan -  sebagaimana bunyi teks Fiqihnya, adalah bila keuntungan yang tidak umum pedagang diambil dalam kondisi masyarakat sedang dalam kondisi pailit, sementara barang yang ia jual merupakan hajat orang banyak. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut:

Siti Efi Farhati

? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? : { ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? } ? ? ? ? ? ?

Artinya: Dari Anas radliyallahu ‘anhu, ia berkata: Telah terjadi krisis harga pada masa Rasulullah SAW. Lalu para sahabat mengadu: “Ya Rasulallah, seandainya ada ketetaan tuan soal harga [barang pokok]?” Beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha menjamin, Dzat Yang Maha Membeber Anugerah, Maha Pemberi Rezeki, dan Maha Menghargai. Sementara sesungguhnya aku hanyalah yang berharap agar Allah tidak menimpakan bala’ kepadaku, berharap seseorang tidak menuntutku karena telah berperilaku dhalim kepadanya, terhadap darahnya dan juga terhadap hartanya.” HR. Imam lima, kecuali Al-Nasaiy, dan dishohihkan oleh Al-Tirmidzi. (Lihat Muhammad bin Ali bin Muhammad as-Syaukani, Nail al-Authar, Beirut : Dar al-Fikr, Tanpa Tahun, Juz V, h. 220)

Hadits ini ditafsiri oleh Al-Syaukani, bahwa hendaknya pemerintah atau jajarannya yang bertugas di bidang pasar, bergerak untuk menetapkan harga pasar (tas’ir) bagi masyarakatnya. 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya : “Tas’ir itu adalah perintah penguasa atau wakilnya atau setiap orang yang bertugas mengurusi urusannya orang muslim atau pelaku pasar agar tidak menjual asetnya kecuali dengan harga yang telah ditetapkan, sehingga berlaku larangan melebihkan atau membanting harga demi kemaslahatan.” (Lihat Muhammad bin Ali bin Muhammad as-Syaukani, Nail al-Authar, Beirut: Dar al-Fikr, Tanpa Tahun, juz V, h. 220)

Pendapatnya Imam Al-Syaukany ini mengandung beberapa akibat hukum:

1. Pemerintah berkewajiban menentukan harga dan memaksa

2. Al-Syaukany menyebut dengan lafadh amti’ah yang berarti properti/aset yang cakupannya lebih luas dari sekedar kebutuhan pokok masyarakat.

3. Tujuan tas’ir adalah tercapainya kemaslahatan baik terhadap masyarakat maupun pedagang

4. Tindakan melebihkan atau membanting harga melampaui ketetapan harga pokok dari pemerintah merupakan tindakan yang bisa membawa kemudlaratan. 

Dengan demikian, berdasarkan ibarat di atas, kesimpulan dari permasalahan perilaku pedagang yang menaikkan harga demi melihat hajatnya Pak Ahmad terhadap AC tersebut adalah hal yang tidak diperkenankan oleh syariat selagi pemerintah telah menetapkan harga jual standartnya. 

Bagaimana dengan kebijakan penentuan harga barang dalam kasus bai’ murabahah oleh perbankan syariah? Bisakah tindakan menaikkan harga oleh Bank disebut mark-up? Simak tulisan berikutnya!





Wallahu a’lam

Muhammad Syamsudin, Pegiat Kajian Fiqih Terapan dan Pengasuh PP Hasan Jufri Putri, P. Bawean, JATIM

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sunnah, Khutbah Siti Efi Farhati

Kamis, 01 Februari 2018

Di Eropa, Jokowi Katakan Islam Indonesia Demokratis dan Toleran

London, Siti Efi Farhati

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Inggris, David Cameron, mengatakan, Islam Indonesia bersifat demokratis dan toleran.

"Sebagai negara Muslim terbesar di dunia, Indonesia mempunyai peran untuk menunjukan kepada dunia bahwa dalam Islam, demokrasi dan toleransi dapat beriringan," kata Jokowi, dalam pertemuan dengan Cameron, di Kantor PM Inggris, London, Selasa. 

Di Eropa, Jokowi Katakan Islam Indonesia Demokratis dan Toleran (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Eropa, Jokowi Katakan Islam Indonesia Demokratis dan Toleran (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Eropa, Jokowi Katakan Islam Indonesia Demokratis dan Toleran

Menurut Jokowi, Indonesia akan senang membagi pengalaman itu kepada negara lain termasuk Inggris.

Dalam kesempatan itu Jokowi mengatakan, merupakan suatu kehormatan bagi dirinya untuk mengunjungi London untuk mengapresiasi kunjungan Cameron ke Jakarta, pada 2015.

"Inggris adalah mitra utama Indonesia. Kunjungan saya kali ini akan digunakam untuk memperkuat ekonomi kreatif dan mengembangkan industri kreatif kita," katanya. 

Siti Efi Farhati

Sementara itu Cameron mengatakan, Indonesia sebagai negara terbesar ketujuh ekonomi 2030 di dunia dan keempat terbesar dan negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia merupakan mitra vital bagi Inggris. 

"Kami juga berdiskusi soal kemitraan ekonomi di mana Inggris negara terbesar ke lima berinvestasi di Indonesia dan ekspor kami berkembang," kata Cameron.

Siti Efi Farhati

Ia menyebutkan jumlah WNI yang belajar di Inggris juga berkembang. 

"Saya juga mengumumkan beberapa perjanjian bisnis penting hari ini. Saya juga akan mendiskusikan perjanjian kemitraan CEPA antara Indonesia dan UE. Inggris mendukung kuat soal ini," katanya.

Dia juga mendiskusikan bagaimana mengatasi ekstremisme dan terorisme global dan Indonesia memiliki peran kunci untuk dimainkan. 

"Saya sangat terkesan dengan yang kami lihat dalam pendekatan Indonesia terhadap ekstremisme dan terorisme tetapi juga meneguhkan Islam sebagai agama yang damai," katanya.

Menurut dia, bagaimana Islam diajarkan di sekolah-sekolah Indonesia adalah model yang bisa dicontoh dunia dan Indonesia harus memainkan peran terdepan untuk menyebarkannya. 

"Saya juga mengucapkan kedukaan atas kejadian di Jakarta dan tempat lain. Mereka merupakan korban tak bersalah dari serangan terorisme mematikan di beberapa tempat. Kerja sama kontraterorisme Indonesia dan Inggris semakin meningkat," katanya. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sunnah, PonPes, Khutbah Siti Efi Farhati

Selasa, 30 Januari 2018

Baru Satu Pendaftar, Jelang Pemilihan Ketua Baru PMII Jatim

Surabaya, Siti Efi Farhati

Konferensi Koordinator Cabang (Konkoorcab) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur bakal dihelat 27-30 Aprl 2016. Forum permusyawaratan tertinggi PMII tingkat koordinator cabang ini menjadi ajang memilih ketua baru.

Baru Satu Pendaftar, Jelang Pemilihan Ketua Baru PMII Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Baru Satu Pendaftar, Jelang Pemilihan Ketua Baru PMII Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Baru Satu Pendaftar, Jelang Pemilihan Ketua Baru PMII Jatim

Hal ini dilaksanakan sebagai tindak lanjut hasil musyawarah pimpinan nasional (muspimnas) PMII di Ambon, yang kemudian dibentuk Tim Seleksi (Timsel) untuk mewadahi kader-kader PMII se-Jatim yang ingin maju melanjutkan kepemimpinan PMII Jatim.

Amarufin selaku ketua Tim Seleksi mengungkapkan bahwa proses pendaftaran sudah berjalan. Selasa (12/4) adalah masa terakhir pendaftaran. Hingga saat ini, pendaftar baru satu, yakni Pengurus Cabang PMII Situbundo.

Siti Efi Farhati

Ia pun berharap cabang-cabang segera melakukan pendaftaran, mengingat pentingnya agenda ini untuk keberlangsungan PMII Jatim ke depan. "Saya mengimbau kepada cabang-cabang PMII se-Jawa Timur agar segera mengirimkan delegasinya untuk mendaftar ke Timsel," tegasnya.

Untuk diketahui, Konferensi Koordinator Cabang tahun ini terbilang berbeda dibanding periode sebelumnya, karena selain memilih ketua baru bagi Pengurus Koordinator Cabang PMII Jatim, termasuk memilih ketua baru bagi Pengurus Koordinator Cabang Korps PMII Putri (Kopri) Jatim. (Asrari Puadi/Mahbib)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sunnah, Budaya, Nusantara Siti Efi Farhati

Senin, 15 Januari 2018

Hari Santri Wujud Terima Kasih Kepada Santri

Jepara, Siti Efi Farhati. Hari Santri Nasional yang kali pertama diperingati 22 Oktober 2015 menurut Bupati Jepara, Ahmad Marzuqi merupakan bentuk terima kasih pemerintah bahwa NKRI telah merdeka berkat keberhasilan kiai, masayih dan santri.?

Hari Santri Wujud Terima Kasih Kepada Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Santri Wujud Terima Kasih Kepada Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Santri Wujud Terima Kasih Kepada Santri

“Selamat, selamat dan selamat kepada Bapak Joko Widodo yang memutuskan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional,” katanya dalam amanat Apel Akbar Hari Santri Nasional yang bertempat di alun-alun Jepara, Kamis (22/10).?

Ditambahkan Marzuqi dengan diperingatinya Hari Santri Nasional harapnya tidak sekadar peringatan tetapi ke depan mesti dirayakan lebih meriah lagi. Disamping itu kepada ribuan santri, pelajar dan mahasiswa ia berpesan bahwa santri itu bisa. Bisa berperan untuk bangsa dan negara. ?

Siti Efi Farhati

“Marwan Ja’far adalah contoh abituren dari pesantren Kajen yang sekarang menjadi menteri desa. Santri itu harus bisa,” imbuhnya.?

Dengan apel akbar itu “Resolusi Jihad” yang pernah digelorakan oleh KH Hasyim Asyari perlu disemangatkan kembali. “Menjadi santri adalah anugerah. Karenanya ia terus berperan untuk pembangunan NKRI,” tegasnya.?

Siti Efi Farhati

Peserta yang paling banyak mengikuti apel akbar ialah santri pesantren Balekambang Jepara sebanyak 2000 santri. Sisanya peserta berasal dari santri, pelajar, mahasiswa dan Banom NU se-Jepara.?

Kegiatan meriah dengan penampilan rebana, paduan suara, drum band dan pencak silat Pagar Nusa. (Syaiful Mustaqim/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sunnah, Tokoh Siti Efi Farhati

Sabtu, 13 Januari 2018

NU Kutuk Teror Bom di Masjid Al-Rawdah Mesir

Mataram, Siti Efi Farhati. Ketua Pengurus Harian Tanfidziyah PBNU H. Robikin Emhas menegaskan, Nahdlatul Ulama mengutuk keras pengeboman kepada umat Islam yang melakukan Shalat Jumat di Masjid Al-Rawdah, Markaz Bir El-Abd, Kota El-Arish, Sinai Utara, Mesir, Jumat (24/11).

Tindakan yang menewaskan 300 orang lebih dan meluluhlantakkan rasa kemanusiaan itu, menurutnya, tidak bisa dibenarkan, dengan alasan dan dalih apapun.

NU Kutuk Teror Bom di Masjid Al-Rawdah Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Kutuk Teror Bom di Masjid Al-Rawdah Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Kutuk Teror Bom di Masjid Al-Rawdah Mesir

“Siapa pun yang melakukakannya, apa pun latar belakangnya, atas nama apa pun motifnya, itu adalah tindakan terkutuk. Tidak bisa dibenarkan! Biadab!” tegas Ketua Panitia Musyawarah Nasional (Munas) Alim Aluma dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama, di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Ahad (26/11).

Menurut alumnus Pondok Pesantren Qiyamul Manar Gresik dan Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Malang ini, seluruh warga Nahdlatul Ulama mengungkapkan duka sedalam-dalam atas korban yang meninggal dan terluka dalam peristiwa itu.

“NU berduka, karena itu, PBNU mengimbau warga dan pengurus NU agar membacakan Al-Fatihah dan melakukan Shalat Ghaib untuk korban teror bom Mesir,” lanjut Advokat Konstitusi ini. 

Siti Efi Farhati

Ia menambahkan, NU meminta kepada Presiden Mesir untuk menangkap pelaku teror bom itu dan menghukum mereka seberat-beratnya. Juga memberantas kelompoknya hingga ke akar-akarnya.  

NU juga meminta kepada Pemerintah Indonesia, jika diperlukan, harus segera mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Mesir.

“Makanya, jika diperlukan pemerintahan Jokowi perlu pro aktif memberi bantuan kemanusiaan,” harap Managing Director pada ART PARTNER Law Firm tersebut.

Peristiwa tragis di Mesir ini adalah bukti nyata perlunya Islam Nusantara diarus-utamakan di seluruh penjuru dunia. Islam yang tidak memperhadapkan agama dengan negara. Islam yang menjadikan budaya sebagai infrastruktur agama. Islam yang ramah, moderat dan menghormati keragaman. Islam wasathiyyah.

Siti Efi Farhati

“Mari jadikan Islam Nusantara sebagai solusi perdamaian dunia,” pungkas Robikin Emhas. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sunnah, Jadwal Kajian Siti Efi Farhati

Senin, 08 Januari 2018

LKKNU Jatim Bantu Korban Gusuran Pembangunan Tol

Jombang, Siti Efi Farhati - Akibat pembangunan jalan tol Mojokerto-Jombang, sejumlah lahan termasuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Taman Pembinaan Anak Sholeh (TAPAS) II, di Desa Blimbing, Kecamatan Kesamben Kabupaten Jombang harus digusur. Para guru dan murid terpaksa mengungsi untuk bisa tetap melangsungkan kegiatan belajar mengajar.

Dan untuk tetap memberikan semangat kepada mereka, Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU) Jawa Timur memberikan motivasi dan menyerahkan sumbangan alat tulis dan kebutuhan lain kepada PAUD tersebut.

LKKNU Jatim Bantu Korban Gusuran Pembangunan Tol (Sumber Gambar : Nu Online)
LKKNU Jatim Bantu Korban Gusuran Pembangunan Tol (Sumber Gambar : Nu Online)

LKKNU Jatim Bantu Korban Gusuran Pembangunan Tol

"Tidak banyak yang bisa kami berikan, hanya sejumlah alat tulis, lemari dan meja belajar. Semoga semua ini bermanfaat bagi mereka," kata H Zahrul Azhar Asumta, Senin (4/9).

Siti Efi Farhati

Ketua PW LKKNU Jatim ini juga memberikan motivasi agar tetap semangat dalam belajar. "Kami melihat dari sisi kemanusiaan bahwa korban membutuhkan perhatian khusus. Jangan sampai dalam diri anak-anak ini terbayang bahwa sekolahnya digusur. Sehingga trauma," kata Gus Hans, sapaan akrabnya.

Siti Efi Farhati

Pengasuh di Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso Jombang itu menyayangkan belum ada upaya penanganan khusus dari Pemkab setempat. Ia mengaku sudah melakukan komunikasi dengan pihak Pemkab. "Kami sudah konfirmasi kepada pihak Pemkab, pengakuannya kepada kepada kami mereka akan membantu dan menyediakan lahan untuk PAUD ini," jelasnya.

Menurut pimpinan di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) ini, seharusnya Pemkab Jombang memberikan langkah khusus dalam menangani persoalan tersebut. "Tidak boleh disamakan dengan korban yang lain. Karena ini lembaga pendidikan, fasilitas umum. Yang terdampak juga anak-anak," terangnya.

?

PAUD Tapas II harus dirobohkan lantaran merupakan lahan yang akan digunakan untuk tol Mojokerto-Jombang, Kamis (1/9) lalu. Sementara untuk kelangsungan belajar, para guru dan murid mengungsi di PAUD Tapas I yang berada di Desa Jombok, Kecamatan Kesamben yang berjarak sekitar 2 kilo meter dari bangunan lama.

?

Ruang kelas lama yang dihuni 40 siswa itu terpaksa harus dirobohkan setelah sehari sebelumnya, panitera Penggadilan Negeri (PN) Jombang membacakan surat keputusan nomor 16/Pdt.Eks.LL/2016/PN.Jbg tentang eksekusi lahan terdampak pembangunan jalan tol Mojokerto-Kertosono (Moker) seksi II. Para guru dan siswa ini pun terpaksa harus mengalah demi pembangunan tersebut. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Ubudiyah, Sunnah Siti Efi Farhati

Jumat, 05 Januari 2018

Habib Luthfi Pimpin Apel Akbar Banser di Brebes

Brebes, Siti Efi Farhati. Rais Am Jamiyah Ahlu Thariqah al Mu’tabarah an Nahdiyah Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya (31/1) memimpin Apel Akbar Banser Kabupaten Brebes. Apel digelar dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) ke-91 Nahdlatul Ulama.

Kepada Siti Efi Farhati, Komandan Satuan Kordinasi Cabang (Kasatkorcab) Banser Brebes Moh Ikhwan HMS menjelaskan, apel digelar pukul 14.00 WIB sampai selesai di Islamic Center Jalan Yos Sudarso Brebes.?

Habib Luthfi Pimpin Apel Akbar Banser di Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfi Pimpin Apel Akbar Banser di Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfi Pimpin Apel Akbar Banser di Brebes

Menurut Ikhwan, Apel diikuti lebih kurang 5000 Banser perwakilan dari Kabupaten Brebes, Kabupaten Tegal dan Kota Tegal. "Meskipun Brebes memiliki lebih dari 10.000 Banser, tapi mengingat tempat dan keterbatasan jumlah peserta hanya mengirimkan sekitar 2000 anggota.

Habib Luthfi yang telah mendapat predikat Jenderal Banser tersebut, juga akan menyampaikan mauidlatul khasanah dan penguatan ideologi Pancasila dan NKRI. Akan hadir Kapolda Jawa Tengah Irjen Condro Kirono dan Pangdam IV Diponegoro Mayjen TNI Jaswandi.

Apel ini, lanjut Ikhwan, sekaligus sebagai Apel kesetiaan terhadap NKRI sebagai upaya menolak keras aliran radikal yang berusaha mengobok-obok NKRI, khususnya di wilayah Kabupaten Brebes. “Banser harus menjadi garda terdepan untuk tetap tegaknya NKRI, NKRI harga mati,” tegasnya.

Siti Efi Farhati

?

Ikhwan mengajak kepada seluruh Satkoryon mengkoordinasikan semua pasukannya. Apel ini harus dilakukan secara ikhlas tanpa paksaan, dan bagi Banser yang belum punya seragam PDH/PDL, boleh memakai Baju Ansor atau Kaos Diklatsar Peci hitam dan Celana Hitam.

Siti Efi Farhati

Sementara Kasatkoryon Banser Ketanggungan Ahmad Fauzan menambahkan, Banser Ketanggungan akan start dari Masjid Agung Izzul Islam-Ketanggungan usai Sholat Dzuhur berjamaah dengan berkonvoi ke Islamic Center Brebes.

Kasatkorcab Banser Kota Tegal Trinanda Aji menyatakan siap mengirim pasukan ke Brebes sesuai yang dijadwalkan. Apel juga akan dihadiri Plt Bupati Brebes Budi Wibowo, Forkopimda Kabupaten Brebes dan undangan lainnya. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sunnah Siti Efi Farhati

Sabtu, 09 Desember 2017

Gus Mus: Semoga Saya Sekian Saja Jadi Rais Aam

Jombang, Siti Efi Farhati. Dalam sidang pleno penentuan tata tertib (Tatib), Ahad (2/8) yang berlangsung alot, sebagian Muktamirin memohon kepada Rais Aam PBNU untuk hadir di persidangan. Para Muktamirin yakin, bahwa peran dan kharisma ulama dapat menyelsaikan kondisi buntu dalam persidangan Tatib tersebut.

Gus Mus: Semoga Saya Sekian Saja Jadi Rais Aam (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Semoga Saya Sekian Saja Jadi Rais Aam (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Semoga Saya Sekian Saja Jadi Rais Aam

Setelah membidani pertemuan para kiai sepuh dan Rais Aam Wilayah seluruh Indonesia pagi hari di Pendopo Jombang, Pejabat Rais Aam PBNU KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) akhirnya hadir dalam sidang pleno tatib lanjutan, Senin (3/8) siang, untuk memberikan sambutan sekaligus taushiyah di hadapan ribuan Muktamirin di ruang sidang pleno Tatib di Alun-alun Jombang, Jawa Timur. 

Ia mengaku sedih dengan sejumlah peristiwa di forum muktamar yang diselemuti suasana tegang dan perdebatan tajam. Saya mohon sekali lagi, kita membaca surat Al-Fatihah dengan ikhlas, mohon syafaatnya (Nabi Muhammad SAW).

Siti Efi Farhati

"Rais Aam yang membikin saya menjadi punya posisi seperti ini. KH Sahal Mahfud, mengapa beliau wafat sehingga saya memikul beban ini. Saya pinjam telinga anda, doakan saya, ini terakhir saya menjabat jabatan yang tidak pantas bagi saya," tutur Gus Mus.

Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang ini merasa berat memikul tanggung jawab sebagai pemimpin tertinggi di NU. "Doakan, mudah-mudahan saya hanya sekian saja untuk jadi Rais Aam."

Siti Efi Farhati

"Saya belum tidur, bukan apa-apa, tapi karena memikirkan anda-anda sekalian. Saya mohon maaf kepada semua muktamirin terutama yang dari jauh dan tua-tua, teknis panitia yang mengecewakan anda, maafkanlah mereka, maafkan saya. Itu kesalahan saya, mudah-mudahan anda sudi memaafkan saya," pungkas Gus Mus. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Humor Islam, Sunnah Siti Efi Farhati

Minggu, 03 Desember 2017

Tradisi ‘Prepegan’ Jelang Lebaran di Brebes

Brebes, Siti Efi Farhati. Melihat keramaian pasar sekilas tidak ada yang istimewa. Tetapi melihat membludaknya para pengunjung pasar beserta para penjualnya setiap menjelang Idul Fitri atau lebaran tiba menjadi fenomena dan kebiasaan menarik.

Masyarakat Kabupaten Brebes, Jawa Tengah yang berjumlah 17 kecamatan ini secara umum menamakan tradisi ramai-ramai ke pasar tersebut dengan istilah ‘Prepegan’. Istilah Prepegan ini merujuk pada makna berbondong-bondong ke sebuah tempat dengan tujuan tertentu.

Tradisi ‘Prepegan’ Jelang Lebaran di Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi ‘Prepegan’ Jelang Lebaran di Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi ‘Prepegan’ Jelang Lebaran di Brebes

Dalam konteks menjelang Idul Fitri, masyarakat ramai-ramai belanja kebutuhan pokok menyambut malam takbiran dan silaturrahim di pagi harinya. Mereka tidak mungkin mencari kebutuhan-kebutuhan pokok apapun karena seluruh aktivitas pasar maupun toko semua tutup karena merayakan lebaran.

Salah satu alasan itulah yang membuat masyarakat berbondong-bondong mencukupi kebutuhan hingga pasca lebaran. Peluang ini ditangkap oleh para penjual kebutuhan pokok di pasar sehingga selain para pembeli, penjual pun membludak karena ramai-ramai membuka lapak dagangannya.

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati sempat menelusuri ‘Prepegan’ di salah satu pasar di Desa Bangbayang, Kecamatan Bantarkawung, Brebes, Sabtu (24/6) pagi. Padatnya pasar hingga meluber ke sebagian jalan menimbulkan tersendatnya lalu lintas di jalan pasar tersebut.

?

Siti Efi Farhati

Ada 10 Anggota Pramuka dari SMK Ma’arif Bantarkwung yang turut membantu masyarakat mengurai kemacetan. Mereka berdiri berjajar tepat di marka jalan yang ada di tengah dengan membawa bendera semaphore berwarna kuning dan merah serta pluit.

Menurut penuturan salah satu anggota Pramuka bernama Lia yang turut terjun ke tengah jalan, aktivitas ‘Prepegan’ yang sudah menjadi tradisi masyarakat di Pasar Desa Bangbayang membuat personil Pramuka SMK Ma’arif Bantarkawung menyusun program tahunan untuk membantu warga mengurai kemacetan.

“Setiap tahun kita terjun ke lapangan untuk mengurai kemacetan,” ujar Lia sambil beraktivitas menertibkan jalan. Masyarakat merasa terbantu dengan hadirnya adik-adik Pramuka dalam mengatur lalu lintas yang begitu padat.

Kelangkaan gas

Menjelang lebaran, tradisi ‘Prepegan’ turut berdampak pada perputaran ekonomi yang naik pesat. Pantauan Siti Efi Farhati, barang-barang yang banyak dicari dalam tradisi ini antara lain daging ayam, janur maupun ketupat yang siap isi, sayuran, rempah-rempah, dan gas untuk kebutuhan memasak.

Namun, kebutuhan gas LPG 3 kilogram sangat langka setiap momen menjelang lebaran. Hal ini turut menghambat masyarakat dalam menyiapkan hidangan lebaran karena kelangkaan gas yang akhirnya tidak bisa memasak.

Mayoritas pembeli menggunakan kendaraan motor menuju ke pasar. Tidak sedikit terlihat motor yang membawa tabung gas kosong. Mereka mencari keberadaan gas di setiap lapak dan toko, hasilnya nihil.

“Bingung harus cari ke mana lagi,” ucap pengunjung pasar bernama Suratno tampak frustrasi di tas motornya dengan menenteng tabung gas kosong.

?

Kelangkaan gas ini menjadi keprihatinan mayoritas warga menjelang lebaran. Karena menurut mereka, justru banyak agen-agen nakal yang sengaja menimbun gas agar bisa dijual berlipat-lipat pasca lebaran.

Di tengah krisis gas, masyarakat tetap bergembira menyambut hari raya Idul Fitri dengan melestarikan tradisi ‘Prepegan’ ini. Bahkan ada yang sampai berbelanja kebutuhan pokok hingga satu mobil pick-up. (Fathoni)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Habib, Sunnah, Kyai Siti Efi Farhati

Selasa, 28 November 2017

Mengikuti Upacara Pemakaman di Maqbaroh para Syuhada (4/Habis)

Madinah, Siti Efi Farhati

Sejak masa pemerintahan Dinasti Umawiyyah dengan pusat pemerintahan di Damaskus, Suriah, makam Baqi yang menampung lebih dari 10.000 sahabat, telah mengalami beberapa kali perbaikan dan perluasan. Hingga pada masa Abdul Aziz dari keluarga Saud berkuasa di hijaz yang memerintahkan untuk meruntuhkan kubah-kubah (cungkup/jawa) di makam Baqi pada tahun 1344 H. /1925 M. Tentu kita ingat, peristiwa ini melatarbelakangi dibentuknya Komite Hijaz oleh para ulama Jawa, yang kemudian disebut-sebut sebagai Embrio berdirinya Nahdlatul Ulama. Perluasan terakhir, seperti kondisinya saat ini, dilakukan oleh Raja Fahd bin Abdul Azis.



Mengikuti Upacara Pemakaman di Maqbaroh para Syuhada (4/Habis) (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengikuti Upacara Pemakaman di Maqbaroh para Syuhada (4/Habis) (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengikuti Upacara Pemakaman di Maqbaroh para Syuhada (4/Habis)

Dengan kondisi dan peraturan penguasa sekarang, jamaah perempuan tidak diperkenankan untuk memasuki area pemakaman Baqi. Karenanya, semua pengiring perempuan hanya dapat mengantarkan jenazah, suami, ibu, anak atau saudara-saudara mereka hanya sampai depan pintu gerbang. Bahkan sebenarnya mereka sudah tertahan sejak sebelum memasuki pintu gerbang. Bila ada perempuan yang mencoba nekad masuk areal makam, maka mereka akan berhadapan dengan askar/penjaga.

<br /> Begitu juga pun Askar-askar ini, melarang orang-orang berlama-lama di pekuburan. Bahkan para pengiring dari keluarga jenazah yang baru saja dikubur pun dilarang berlama-lama di sana. Begitu upacara pemakaman selesai, para askar akan segera mengusir para pelayat yang masih enggan beranjak.

Jadi jangan pernah Anda membayangkan dapat berlaku seperti di Indonesia, dapat sekaligus berziarah ke makam keluarga pada saat mengantarkan/melayat jenazah baru, sama sekali tidak akan bisa. Maka begitu pun pada beberapa keluarga yang sedang malayat itu, saya melihat mereka harus bersitegang dengan askar-askar sebelum akhirnya terusir dengan mata yang masih basah oleh air mata. Sementara saya, hanya bisa memandangi "pemandangan aneh" itu dengan senyum kecut saja. Kukira semua orang Arab Saudi tidak suka berlama-lama di pemakaman.

Siti Efi Farhati

Sementara udara malam mulai terasa dingin dan jam di Handphone menunjukkan pukul 10.15 malam waktu setempat. Dalam remang kegelapan, saya hanya bisa memandang beberapa pondasi batu membentuk semacam kotak atau pola-pola tertentu. Di bawah sinar lampu-lampu hotel berjarak sekitar 200 meter di luar pagar makam Baqi ini, saya hanya bisa menduga-duga, mungkin ini bekas-bekas cungkup/kubah makam para sahabat agung dan tokoh-tokoh Islam yang telah berjasa besar untuk agamanya. Atau bahkan mungkin di antara mereka yang berada di balik pondasi-pondasi itu, kemungkinan adalah para ummul mukmnin (isteri-isteri Rasulullah SAW) yang telah mendampingi Rasulullah hingga akhir hayatnya.

Tidak ada lagi seorang pun kini yang tahu, di mana letak persisnya jasad-jasad keluarga dan para sahabat Rasulullah SAW dikebumikan di Baqi. Tidak ada yang tahu dan tidak ada yang bisa ditanyai. Para penjaga hanya akan mengatakan, "Baz/Sudahlah, ruh/pergilah, wallahi maa arif/Saya tidak tahu," jika kita tetap nekat bertanya dengan detail. Hal yang paling mungkin terjadi selanjutnya adalah, para penjaga ini akan menunjuk ke enam papan pengumuman besar yang dipasang di depan gerbang Baqi. Papan yang sama persis seperti yang juga terdapat di Makam Syuhada Uhud. Papan ini berisi peringatan dan tata tertib ziarah kubur versi pemerintah Arab Saudi, lengkap dengan larangan merokok dan memotret dengan gambar dan simbol-simbol larangan yang sangat besar dan berwarna merah mencolok.  

Siti Efi Farhati

Padahal pada masa-masa menjelang akhir hayatnya, Rasulullah SAW sering berziarah makam yang terletak di sebelah tenggara Masjid Nabawi ini. Saat itu malam telah menapaki separoh perjalanannya. Malam itu Rasulullah Saw. sedang berada di rumah Aisyah binti Abu Bakar As Shiddiq. Mengira sang istri tercinta telah tidur pulas, tiba-tiba beliau mengambil jubahnya dan mengenakan kedua sandalnya pelan-pelan, lalu membuka pintu dan kemudian keluar pelan-pelan. Melihat hal itu, sang istri tercinta, yang ternyata belum tidur, dengan diam-diam bangun karena merasa cemburu, jangan-jangan beliau akan pergi ke rumah istri beliau yang lain, keluar rumah, dan mengikuti jejak langkah beliau yang sedang menapakkan kaki menuju Makam Baqi‘.

 

Setibanya di makam tersebut, Rasulullah Saw berdiri lama. Lalu, beliau berdoa dengan mengangkat kedua tangannya tiga kali. Ketika beliau membalikkan tubuh dan mulai menapakkan kaki menuju ke arah rumah, Aisyah pun kembali dan mendahului beliau. Dan, begitu beliau kembali ke rumah, Aisyah pun “menginterogasi” beliau, mengapa larut malam begitu pergi ke Makam Baqi‘.

“Aisyah!” jawab Rasulullah Saw. “Sesungguhnya Jibril a.s. datang kepadaku ketika engkau melihatku tadi. Dia lalu memanggilku dengan suara pelan, agar tidak engkau ketahui. Maka, aku menjawab dengan suara pelan agar tidak engkau ketahui. Dia tidak mau masuk ke dalam rumah, karena engkau melepas pakaianmu. Kukira engkau telah tidur pulas, sehingga aku tidak ingin membangunkanmu dan aku khawatir engkau terkejut. Jibrîl mengatakan kepadaku bahwa Allah Swt. menyuruhku untuk mendatangi penghuni Makam Baqi‘ dan memohonkan ampunan bagi mereka.”

“Bagaimana semestinya yang harus kuucapkan kepada mereka, wahai Rasul?” tanya Aisyah binti Abu Bakar As Shiddiq. “Ucapkanlah, ‘Semoga keselamatan tetap dilimpahkan kepada penghuni makam, kaum mukmin dan muslim. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada orang-orang yang telah mendahului kami dan orang-orang yang selepas kami. Dan jika Allah menghendaki, maka sungguh kami akan menyusul kalian.’” jawab Rasulullah Saw.

Imam Muslim ketika meriwayatkan dalam sahihnya dari Aisyah r.a. berkata: Pada suatu saat di larut malam Rasulullah saw. keluar dari rumahnya menuju ke Baqi’ dan bersabda, "Assalamu’alaikum wahai orang-orang mukmin pasti datang apa yg dijanjikan dan ditentukan kelak dan kami insya Allah menyusul kalian di belakang. Ya Allah ampunilah penghuni Baqi’ al-Gharqad’.

Nama Baqi‘ diambil dari nama akar tetumbuhan yang tumbuh di makam itu. Sedangkan Al-Gharqad adalah sejenis pohon berduri yang juga banyak terdapat di makam itu. Selain sering mengunjungi makam itu pada masa-masa menjelang akhir hayatnya, beliau juga pernah menyatakan, barang siapa berpulang di Madinah dan dikebumikan di makam itu, beliau akan memberi syafaat kepadanya.

Baqi juga berarti tanah yang lembut. Artinya bebas dari batu dan kerikil. Model tanah seperti ini dinilai amat cocok untuk pemakaman. Dan karenanya, sejak dahulu, Baqi dijadikan pemakaman bagi warga Madinah. (min/selesai/Laporan langsung Syaifullah Amin dari Arab Saudi).Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kiai, Habib, Sunnah Siti Efi Farhati

Minggu, 19 November 2017

PP LAZISNU Terima Kunjungan Institut Zakat Sudan

Jakarta, Siti Efi Farhati. Pada Jumat (15/4) Pimpinan Pusat Lembaga Zakat, Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (PP LAZISNU) menerima kunjungan ? Ketua Institut Zakat Sudan, Ali M Ali ? Baidowi dan Abdul Ilah M Ahmad Namr, Koordinator Hubungan Luar Negeri pada institusi yang sama.?

PP LAZISNU Terima Kunjungan Institut Zakat Sudan (Sumber Gambar : Nu Online)
PP LAZISNU Terima Kunjungan Institut Zakat Sudan (Sumber Gambar : Nu Online)

PP LAZISNU Terima Kunjungan Institut Zakat Sudan

Ali M Ali Baidowi mengutarakan pihaknya sudah lama ingin mengunjungi Indonesia. “Kunjungan kami ini dalam rangka mengetahui lebih detail tentang pengelolaan zakat di Indonesia khususnya yang ditangani PBNU, karena zakat merupakan hal yang sangat penting dalam ajaran Islam,” ujar Ali.

Di samping itu, NU juga bukan hal yang asing bagi Sudan, karena di Sudan ada warga Indonesia yang kebanyakan mahasiswa dan berkultur NU bahkan ada PCINU Sudan. Mahasiswa asal Indonesia yang berada di Sudan sering mengikuti pertemuan yang diadakan oleh Pemerintah Sudan, maupun institusi zakat yang dipimpin Ali.

Islam di Indonesia juga bukan hal yang asing bagi mereka, karena Islam masuk ke Indonesia salah satunya melalui perdagangan. Dan ada ulama asal Sudan yang seratus tahun lalu datang ke Indonesia, dan memiliki keluarga di Indonesia.

Siti Efi Farhati

Selain diisi saling perkenalan, pada kesempatan itu kedua lembaga juga saling memaparkan program dan pengelolaan zakat yang mereka tangani. Abdul Ilah juga menyampaikan bahwa institusi zakat mereka membuat kurikulum zakat yang diajarkan di sekolah mulai tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Selain kurikulum untuk pelatihan.

Pihak Institut Zakat Sudan memberikan buku dan modul pelatihan zakat yang dikelola di Sudan. Ali mengatakan, buku dan modul tersebut bisa digunakan di Indonesia termasuk bila LAZISNU menghendakinya, tentu saja dengan penyesuaian kondisi yang ada di Indonesia. (Kendi Setiawan/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Kajian Sunnah, Sunnah, Tegal Siti Efi Farhati

Sabtu, 07 Oktober 2017

Lima Adab Puasa Menurut Ibn ‘Abdul Salam

Seluruh umat Islam di penjuru dunia saat ini menyambut Ramadhan dengan penuh kegembiraan. Kedatangan bulan ini ditunggu-tunggu oleh setiap umat Islam, sebab bulan Ramadhan penuh berkah dan ampunan. Keberkahan bulan tersebut tidak akan ada manfaatnya bila tidak diisi dengan amal saleh. Oleh karena itu, pada siang hari Ramadhan diwajibkan untuk puasa, sementara malam harinya dianjurkan memperbanyak ibadah, seperti shalat, baca Al-Quran, dan lain-lain.

Supaya ibadah puasa kita bermanfaat dan tidak sia-sia, Izzuddin bin Abdis Salam menjelaskan dalam kitabnya Maqashidus Shaum, ada lima adab yang mesti dijaga selama menjalankan ibadah puasa. Kelima adab tersebut adalah:

Lima Adab Puasa Menurut Ibn ‘Abdul Salam (Sumber Gambar : Nu Online)
Lima Adab Puasa Menurut Ibn ‘Abdul Salam (Sumber Gambar : Nu Online)

Lima Adab Puasa Menurut Ibn ‘Abdul Salam

Pertama, menjaga lisan dan tidak mengerjakan perbuatan maksiat atau yang bertentangan dengan syariat. Puasa tentu tidak sekedar menahan haus dan lapar. Lebih dari itu, puasa sebagai media latihan untuk memperbaiki kualitas iman dan takwa. Maka dari itu, orang yang tidak menjaga lisan dan perbuatannya, puasanya tidak bernilai apa-apa di sisi Allah SWT.

Kedua, bila ada orang yang mengajak makan, katakanlah “Aku sedang puasa”. Dalam hadis riwayat Muslim dijelaskan, “Apabila ada orang yang mengajakmu makan, katakanlah aku sedang puasa”. Hal ini bertujuan untuk menahan diri agar tidak tergoda. Bila dikhawatirkan timbul rasa ria di dalam hati ketika mengucapkan lafal ini, menurut Izzuddin Ibn ‘Abdul Salam, boleh dicari alasan lain agar tidak tergoda.

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati

Ketiga, membaca do’a buka puasa. Dalam hadis terdapat berbagai macam redaksi do’a buka puasa yang diajarkan Nabi. Dalam Maqashidus Shaum, Ibnu ‘Abdis Salam menampilkan beberapa redaksi, di antaranya do’a yang populer dibaca di Indonesia, yaitu

? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Ya Allah, kepada-MU aku berpuasa dan kepada-Mu aku berbuka”

Keempat, berbuka dengan kurma atau segelas Air sebelum mengerjakan shalat. Kesunnahan ini merujuk pada kebiasan Rasulullah bahwa beliau berbuka dengan kurma atau segelas Air sebelum mengerjakan shalat (HR: Ahmad).

Kelima, menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur. Rasulullah bersabda, “Sahurlah karena di situ terdapat keberkahan” (HR Abu Dawud). Dalam hadits lain, Rasulullah berkata, “Manusia akan dilimpahi kebaikan selama mereka masih menyegerakan berbuka,” (HR Bukhari).

Demikianlah lima adab puasa yang dijelaskan oleh Sulthanul Ulama Izzuddin bin Abdis Salam. Semoga kelima adab tersebut dapat kita jaga dan dibiasakan selama mengerjakan ibadah puasa. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sunnah Siti Efi Farhati

Jumat, 18 Agustus 2017

Kiai Said: NU adalah Ashabul Haq

Jakarta, Siti Efi Farhati. Tantangan Nahdlatul Ulama hari ini adalah bagaimana agar di kemudian hari, generasi mendatang bangga menjadi kader NU, terus menjaga negara Indonesia dari gerakan radikalisme.

Kiai Said: NU adalah Ashabul Haq (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said: NU adalah Ashabul Haq (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said: NU adalah Ashabul Haq

“Kalau saya bangga, tapi cucu saya belum tentu, Pak Arifin Junaedi (ketua LP Ma’arif NU) bangga, Pak Imam (Menpora RI) bangga jadi NU, cucunya belum tentu. Ini tantangan ,” kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siraj saat memberikan sambutan pada acara peluncuran Perkemahan Wirakarya Pramuka Ma’aarif NU Nasional II di lantai 8, Gedung PBNU. Sabtu (25/3)

Pada acara yang diselenggarakan Pimpinan Pusat (PP) Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU tersebut, Kiai Said sangat menekankan agar masyarakat bangga menjadi NU, karena NU merupakan ashabul haq (pemegang kebenaran).

“Gimana caranya, anak, cucu keturunan ila yaumil qiyamah bangga menjadi kader NU, karena kita yakin NU-lah ashabul haq,” tegasnya.

Siti Efi Farhati

Ia meminta kepada semua warga NU agar berani menyuarakan nahnu ashabul haq (kami pemegang kebenaran), baik kebenaran dalam beragama, maupun dalam berpolitik bangsa.

Ia menjelaskan, kebenaran dalam beragama karena mengikuti salah satu imam madzhab empat dalam fiqih, juga mengikuti Imam Asy’ari dalam bidang aqidah, dan sebaliknya menjadi salah kalau mengikuti Imam Samudra atau Imam Muhammad bin Abdul Wahab.?

“Maka kita jangan ragu-ragu, nahnu ashabul haq,” kembali Kiai Said menegaskan.

Sedangkan kebenaran kedua, ialah perpolitikan dalam berbangsa, karena Mbah Hasyim Asy’ari mensinergikan antara Islam dan nasionalisme.(Husni Sahal/Mukafi Niam).

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Sunnah, Kajian Islam Siti Efi Farhati

Jumat, 21 Juli 2017

PBNU-BNN Nyatakan Darurat Narkotika

Jakarta, Siti Efi Farhati. Pengurus harian PBNU menerima kunjungan rombongan Badan Nasional Narkotika (BNN) di Gedung PBNU, Jakarta, Rabu (21/10) sore. Mereka memperkuat kerja sama kedua pihak yang selama ini terjalin di tengah kondisi darurat narkotika.

“Kita punya 13.000 sekolah Ma’arif. Hampir bisa dipastikan pelajarnya tidak menggunakan narkotika. Tidak melakukan penyalahgunaan saja itu sudah merupakan pencegahan luar biasa,” kata Kang Said di hadapan para rombongan BNN.

PBNU-BNN Nyatakan Darurat Narkotika (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU-BNN Nyatakan Darurat Narkotika (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU-BNN Nyatakan Darurat Narkotika

Sementara Kepala BNN Budi Waseso menyampaikan bahwa pihaknya sudah melakukan kerja sama pencegahan penyalahgunaan narkotika dengan banom-banom NU seperti IPNU, IPPNU, Fatayat NU. Kini, Budi menambahkan, BNN tengah menjajaki kerja bareng dengan Lembaga Dakwah NU dan GP Ansor.

Siti Efi Farhati

“Narkotika di Indonesia ini sudah di titik darurat. Para Bandar tidak segan-segan melebarkan segmen pasar mereka kepada pelajar TK,” kata Budi yang didampingi rombongannya.

Mereka juga tengah menyiapkan kerja-kerja pencegahan berbasis keluarga selain pelajar, santri, dan para dai. “Kita juga bahkan menyasar tempat hiburan. Kita sudah ketemu Ahok untuk mewajibkan tempat hiburan ‘Bersih Narkotika’,” ujar Budi.

Siti Efi Farhati

Kedua pihak berencana menindaklanjuti kerja-kerja pencegahan berbasis keluarga dan berbasis masjid. Pertemuan diakhiri dengan pertukaran cendera antara kedua pihak. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sunnah, PonPes Siti Efi Farhati

Senin, 12 Juni 2017

STAIN Meulaboh Sediakan Beasiswa Tahfidz

Meulaboh, Siti Efi Farhati. Sekolah Agama Islam Negeri (STAIN) Tengku Dirundeng Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh menyediakan kuota beasiswa kepada calon mahasiswa tahkim dan tahfidz Quran.

STAIN Meulaboh Sediakan Beasiswa Tahfidz (Sumber Gambar : Nu Online)
STAIN Meulaboh Sediakan Beasiswa Tahfidz (Sumber Gambar : Nu Online)

STAIN Meulaboh Sediakan Beasiswa Tahfidz

Ketua STAIN Meulaboh Dr Syamsuar Basyariah, M.Ag di Meulaboh, Ahad, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari terobosan pencapaian Standar Nasional Perguruan Tinggi (SNPT) yang merupakan kriteria minimal tentang pembelajaran pada perguruan tinggi.

"Untuk mewujudkan masyarakat yang paham dan hafal (tahkim dan tahfid) quran kita menyediakan kuota beasiswa mahasiswa sesuai jumlah yang ditentukan oleh Kementerian Agama RI," katanya.

Rektorat kampus STAIN TD Meulaboh ini tengah merintis peningkatan status menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN), pihaknya terus berupaya melahirkan program studi baru pada kampus yang di negerikan pada 19 September 2014 itu.

Dr Syamsuar menyampaikan, dalam rencana kerja jangka panjang kampus tersebut akan menyandang status Universitas Islam Negeri (UIN) pada 2034 dengan target pembangunan kampus menelan anggaran senilai Rp400 miliar.

Siti Efi Farhati

Progres yang tengah dipacu saat ini adalah mengupayakan segera penuntasan pembangunan gedung baru di kawasan Alu Penyareng, Kecamatan Meureubo yang berdampingan dengan kampus Universitas Teuku Umar (UTU) Meulaboh dalam area seluas 50 hektare.

Siti Efi Farhati

"Peningkatan status menjadi IAIN kita prediksi pada 2018, saat ini hampir tercukupi, dengan jumlah mahasiswa rill 1.700 orang, kemudian bila jumlah kuota tahun ini terserap 1.500, maka pada akhir 2016 sudah bisa kita diusulkan,"sebutnya.

Lebih lanjut dikatakan, kampus tersebut juga mendapat kesempatan membuka dua program studi pascasarjana pada tahun 2017 karena telah memenuhi semua persyaratan sesuai ketentuan pemerintah.

Syamsuar menyampaikan, STAIN Meulaboh juga merupakan satu-satunya perguruan tinggi wilayah barat selatan Aceh (Barsela) yang telah mendapat akreditasi institusi, demikian halnya juga ketiga jurusan yang dimiliki.

Meskipun demikian dirinya mengakui, baru sekitar 65 persen masyarakat dari wilayah setempat yang sudah mengenal kampus tersebut karena selama ini masih terbatas dalam mengkampanyekan diri melalui media massa.

"Secara eksternal kita terus mencari peluang kerjasama dengan luar negeri, ini juga bahagian dari amanah pemerintah, sehingga perguruan tinggi Islam terus berkiprah di tingkat International," katanya. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sunnah, Budaya Siti Efi Farhati

Selasa, 30 Mei 2017

Maulid Nabi Tak Pernah Berhenti

Bekasi, Siti Efi Farhati. Maulid adalah isim zaman dan isim makan dari walada. Walada, kata kerja lampau, berari telah lahir. Sedangkan Maulid bermakna hari dilahirkan atau tempat kelahiran. Dalam tradisi Islam Nusantara, maulid memiliki tiga makna.

Maulid Nabi Tak Pernah Berhenti (Sumber Gambar : Nu Online)
Maulid Nabi Tak Pernah Berhenti (Sumber Gambar : Nu Online)

Maulid Nabi Tak Pernah Berhenti

Pertama, bulan. Bulan yang dimaksud adalah bulan dalam almanak Hijriyah, yakni Robi’ul Awal. Muslim Nusantara tidak menggunakan Robi’ul Awal, melainkan dengan sebutan Maulid, disebabkan karena bulan tersebut merupakan bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW, tepatnya tanggal 12 Maulid. Penyebutan Maulid pun rasanya lebih muda ketimbangan Robi’ul Awal.

Orang Jawa, orang Sunda, orang Banjarmasin, orang Jakarta, dan lain-lain menyebut bulan Robbi’ul Awal dengan Maulid atau Mulud.

Siti Efi Farhati

Sementara orang Madura menyebut dengan Molod dan Molot. Orang Aceh menyebut dengan Moloed. Bulan ini sangat dihormati, bahkan disebut bulan suci. Bulan maulid dianggap suci, karena orang suci dilahirkan. Ramadlan dikenal dengan bulan suci, karena pada waktu itulah kitab suci diturunkan. Ada lagu yang masyhur tentang bulan Maulid karya Nasida Ria, “Bulan maulid bulan yang suci”.

Siti Efi Farhati

Makna kedua dari Maulid adalah hari pringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang dalam kalender Hijriyah jatuh pada tanggal 12 Robi’ul Awal. Pada tanggal 12 Maulid itu, umat Islam Nusantara, terutama pemegang Madzhab Aswaja, berkumpul di tempat yang disepakati, di masjid atau surau, di pesantren atau tempat-tempat bersejarah seperti keraton, hingga alun-alun kota.

Di Yogyakarta, Keraton mengadakan Grebeg Maulid pada tanggal 12 Maulid. Di Keraton Kasepuhan, ada tradisi Malam Panjang Jimat, di tanggal hari kelahiran Nabi SAW. Di desa-desa Nusantara, tanggal 12 Maulid dirayakan dengan membaca sejarah Nabi SAW yang terdapat di kitab al-Barzanji, dan lain-lain.? Pada hari tersebut juga, perayaan identik dengan acara makan-makan bersama atau bancakan seusai acara inti. Di Yogyakarta, ada Gunungan yang terbuat dari aneka macam makanan, bahkan di Padang Pariaman, ketika Maulid ada makanan khas, yakni Lemang.

Ketiga, Maulid bermakna pengajian umum yang dikhususkan untuk mempringati kelahiran Nabi Muhammad. Penyelenggraan pengajian ini tidak terikat tanggal 12 Maulid. Ia bisa dilakukan ditanggal 1, 9, 23 Maulid dan seterusnya. Pengajian ini dikenal dengan sebutan Maulidan atau Muludan.

Di daerah-daerah yang tradisi Islamnya kental, pengajian Maulid dilakukan di luar bulan Maulid. Bahkan, di Pada Pariaman-Sumatara Barat, Maulid Nabi dilakukan selama tiga bulan, dengan makanan khasnya Malemang, yaitu Rabiul Awal, Rabiul Akhir dan Jumadil Awal. Pengajian yang diselenggarakan di masjid, surau, berisi ceramah keagamaan, sholawat Nabi, dan lain-lain.

Tidak seperti beberapa tahun lampau, hari ini peringatan Maulid Nabi diadakan secara terbuka, makin semarak, di tempat-tempat modern, di kampus, sekolah, kantor dan tempat-tempat umum lainnya, juga televisi-televisi. Penyelenggara Maulidan mulai dilakukan oleh pemuda, komunitas pekerja, ibu-ibu, organisasi masyarakat, hingga institusi negara.

Hari ini, tampaknya orang melupakan pertanyaan, ”Apa hukum Maulid?”, “Mana dalil Maulid Nabi?”

Mereka sudah berasyik-masuk dengan acara Maulid yang penuh kegembiraan, penuh ekspresi, dari mualai merayakan dengan seni sastra, suara, musik, hingga makanan-makanan yang khas, yang tidak ada kecuali pada perayaan Maulid Nabi.

Memang masih ada saja orang yang usil dengan agenda Maulid Nabi, tapi di Indonesia jumlah kelompok yang mengharamkan acara tersebut amat kecil. Tapi juga seringkali suka cari perhatian dengan melakukan aksi-aksi over acting, teriak-teriak di radio, menyebarkan fitnah lewat lembaran-lembaran kecil, bahkan mendatangi rumah-rumah. Sampai di sini saya teringat dengan almaghfurlah Ki Fuad Hasyim Buntet, ketika menjelaskan perbedaan antara Maulid dan Haul.

“Kenapa bukan maulidan yang diperingati?” tanya Ki Fuad kepada jamaah Haul Mbah Ali Maksum Krapyak, beberapa tahun lampau. Lalu ia menjawab pertanyaannya sendiri dengan fasih dan lancar.

“Inilah perbedaan antara kita sebagai manusia biasa dengan Nabi Muhammad sebagai Rasul Tuhan. Peringatan maulid hanya layak kita rayakan untuk Baginda Nabi Muhammad SAW, karena kelahirannya membawa cahaya dan kabar gembira juga peringatan. Kehadirannya dipastikan akan memberi jalan untuk mendapatkan hidayah Tuhan, mengejawantahkan akhlak mulia dan mengembangkan peradaban dunia, mewujudkan kemaslahatan bagi semua, serta bergerak untuk keadilan sosial di muka bumi ini. Semuanya pasti akan dilakukan oleh Muhammad sebagai sang rasul. Sedangkan kita, manusia biasa, tidak. Peringatan ulang tahun Muhammad diselenggarakan untuk mengingatkan akan fungsi kenabiannya yang juga diwariskan kepada para pengikutnya.”

“Bagaimana dengan pesta ulang tahun yang sudah membudaya di masyarakat kita?” Kang Fuad bertanya lagi. Lalu ia menjawab sendiri dengan singkat tapi gamblang, “Peringatan ulang tahun atau biasa disingkat dengan ultah atau harlah sebetulnya bukan tradisi kita. Namun, kita tidak bisa menghentikan kebiasaan (‘adah) yang sudah melekat kuat di masyarakat dengan serta-merta dan semena-mena.”

“Kita, sebagai umat Islam yang toleran dan kreatif musti bisa ‘memasuki’ perayaan ultah supaya tidak melanggar aturan agama. Lebih dari itu, kita wajib menggunakan sarana ultah biar muncul manfaatnya. Biar berisi. Tidak hanya tiup lilin dan makan-makan saja.”

Pertanyaan penting dilontarkan lagi sesaat kemudian, “Bagaimana sikap kita kepada orang yang menghukumi bid’ah, baik acara haulan ataupun maulidan?” kata mereka bid’ah itu sesuatu yang tidak diajarkan agama atau Nabi Muhammad. Semua bid’ah itu sesat. Dan tiap kesesatan adalah dosa.”

Pertanyaan teologis itu hanya dijelaskan saja oleh Kang Fuad, “Kita tidak usah menghiraukan pendapat orang yang belum mengerti itu. Selagi tidak mengganggu, tidak apa-apa, biarkan saja. Tidak perlu dihardik. Pada suatu saat nanti mereka akan mengerti, dan melihat ada manfaat pada ibadah haulan dan maulidan itu. Dan mereka akan mengikutinya.”

Maulid Nabi bertujuan untuk mengagungkan, mengingat perjuangan serta meneladani Nabi Muhammad. Tradisi Maulid ini juga merupakan salah satu bentuk dakwah Islam Nusantara. Di dalam acara Maulid Nabi juga disyiarkan rasa kebersamaan dan solidaritas sosial, sebagai salah satu cara untuk mensyukuri nikmat Allah SWT. Melihat begitu semarak dan semangat perayaan Maulid yang juga dilakukan dengan tulus, sepertinya, Maulid Nabi tak akan pernah berhenti. (Hamzah Sahal)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Khutbah, Sunnah Siti Efi Farhati

Jumat, 03 Februari 2017

Inilah Para Politisi Perempuan NU Generasi Awal

Nahdlatul Ulama (NU) memberi ruang yang cukup luas untuk kalangan perempuan. Ketika ada badan otonom yang khusus laki-laki, misalnya, pasti juga dibentuk badan otonom yang khusus perempuan. NU memiliki keyakinan bahwa kaum ibu memiliki peran tak kalah pentingnya dengan kaum bapak, baik dalam membangun bangsa dan negara, maupun dalam bidang agama. 

Pemahaman NU yang akomodatif terhadap kaum perempuan tersebut, juga tercermin dalam ranah politik. Saat NU menjadi partai politik pada 1952 dan terlibat langsung dalam pemilihan umum 1955, kaum perempuan diberi ruang yang cukup luas untuk terlibat. Hal ini terbukti dari jumlah anggota DPR hasil Pemilu 1955 tersebut. 

Inilah Para Politisi Perempuan NU Generasi Awal (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Para Politisi Perempuan NU Generasi Awal (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Para Politisi Perempuan NU Generasi Awal

Dari tiga partai yang memperoleh suara terbanyak pada Pemilu 1955 itu, Partai NU memiliki jumlah terbesar dalam keikutsertaan perempuan. PNI dan Masyumi yang sama-sama mengantarkan 57 tokohnya sebagai anggota, hanya empat orang perempuan yang ikut. Sedangkan NU yang mengantarkan 45 orang di parlemen, lima di antaranya adalah perempuan. 

Kelima perempuan tersebut, merupakan generasi pertama para politisi perempuan di kalangan NU. Siapa saja mereka? 

1. Asmah Sjachrunie

Siti Efi Farhati

Asmah Sjachrunie merupakan politisi kelahiran Rantau, Kalimantan Selatan, 28 Februari 1928. Sejak muda ia telah aktif dalam kegiatan sosial. Lulusan Kjoin Joseidjo itu, terlibat dalam dunia pendidikan sejak era Jepang. Mulai dari menjadi guru bantu di Futsu Tjo Gakko di Rantau I, hingga dipercaya menjadi Wakil Kepala Futsu Tjo Gakko di Rantau III. 

Aktivitas Asmah di dunia pendidikan terus berlanjut saat Indonesia telah merdeka. Ia tercatat ikut membantu mengajar di Sekolah Rakyat VI, mulai Rantau III, Batu Kulur Kandangan sampai Ulin Kandangan. Aktivitas mengajar ini, berlangsung hingga 1954.

Selain berkecimpung di dunia pendidikan, Asmah juga aktif dalam dunia militer. Di era Jepang, ia ikut dalam barisan Fujinkai (para militer perempuan). Sedangkan di era kemerdekaan, tepatnya tahun 1948-1949, ia juga tercatat sebagai anggota Angkatan Laut Republik Indonesia. Meski saat itu, ALRI belum menjadi kesatuan yang resmi. 

Di NU sendiri, Asmah terlibat aktif dalam Konsulat NU wilayah Kalimantan Selatan. Ia aktif sejak tahun 1952 dalam naungan Nahdlatoel Oelama Muslimat (NOM) yang sekarang dikenal dengan Muslimat NU di Kalimantan Selatan. Aktivitasnya di NU inilah, yang mengantarkannya menjadi politisi di parlemen. Ia terpilih menjadi anggota parlemen dari dapil Kalimantan Selatan dengan nomor anggota 239. Tak hanya itu, ia juga tiga kali berturut-turut menjadi ketua umum Muslimat. 

Siti Efi Farhati





2. Mahmudah Mawardi

Nama Mahmudah Mawardi erat kaitannya dengan Muslimat NU. Ia terpilih menjadi Ketua Umum Muslimat NU hasil kongres Ke-IX 1967. Pengabdiannya sendiri dalam gerakan perempuan di lingkungan NU, telah dirintisnya sejak Muslimat NU belum didirikan. Perempuan kelahiran Solo, 1912 itu, aktif sejak usianya belum genap 20 tahun. 

Pada 1931 ia mendirikan organisasi wanita lokal di Solo. Organisasi tersebut diberi nama Nahdlatul Muslimat. Salah satu gerakannya adalah mendirikan lembaga pendidikan. Mulai dari TK, Madrasah Ibtidaiyah hingga Madrasah Nahdlatul Muslimat. Di sekolah terakhir ini, Mahmudah terdaftar menjadi tenaga pengajar sejak 1953.

Sebelum terlibat di dunia politik, Mahmudah juga pernah berkarir di dunia birokrasi. Pada 1952 ia menjadi pegawai Penerangan Agama Provinsi Jawa Tengah. Lalu, dua tahun kemudian, ia menjadi pegawai Kementerian Agama di Jakarta. 

Setelah terpilih menjadi anggota parlemen dengan nomor anggota 85, Mahmudah terlibat aktif dalam penyusunan RUU Perkawinan. Ia menjadi juru bicara fraksi NU. Dalam RUU yang diajukan oleh Nyonya Sumari dari fraksi PNI tersebut, dikritisi habis-habisan oleh politisi lulusan Madrasah Sunnayah dan Pesantren Keprabon, Solo itu. 

NU dan Masyumi menolak RUU Perkawinan yang dinilai banyak menyimpang dari aturan syara tersebut. Sedangkan PNI dan PKI berada di pihak yang mendukung. Setelah melalui perdebatan sengit di sidang parlemen, akhirnya RUU tersebut dinyatakan tertolak. 

3. Mariam Kanta Sumpena

Selain Mahmudah Mawardi, dari Dapil Jawa Tengah juga mengantarkan Mariam Kanta Sumpana sebagai anggota Fraksi NU pada Pemilu 1955 itu. Meski terpilih dari Jawa Tengah, namun ia sebenarnya banyak berkiprah di Jawa Barat. 

Mariam lahir di Tasikmalaya di penghujung Agustus, 1927. Ia menempuh pendidikan mulai dari Sekolah Rakyat Gadis, Perguruan Muchtariah hingga Tamhidul Muallimin.

Setelah menyelesaikan masa belajarnya, Mariam mengajar di Bandung. Pada 1941 - 1945, ia mengajar agama di Sekolah Rakyat Nomor 39. Kemudian pada 1951 - 1956, ia pindah mengajar agama Sekolah Rakyat Raden Dewi. Di sela-sela aktivitasnya di sekolah, Mariam juga menjadi ketua di organisasi wanita. Pada 1942 - 1946, menjadi ketua umum Gerakan Pemuda Islam Indonesia Puteri di Bandung. Sekaligus juga menjadi ketua umum Pemudi NU Cabang Bandung. 

Kegiatannya dalam dunia politik, telah dirintis Mariam sejak era NU gabung Masyumi. Pada 1947 - 1951, ia menjabat sekretaris Masyumi daerah Priangan. Di saat yang sama ia juga menjadi sekretaris Muslimat NU Cabang Bandung. Pada 1951, ia naik menjadi wakil ketua konsul Muslimat Jawa Barat. Jabatan terakhir tersebut, dijabat hingga ia terpilih menjadi anggota parlemen dengan Nomor 195.

4. Marjamah Djunaidi

Tak banyak data yang tercatat tentang sosok Marjamah Djunaidi ini. Anggota parlemen dengan nomor urut 207 tersebut, lahir di Jember pada 15 September 1922. Pendidikannya ia rengkuh hanya dari pengajian langgaran di kampung halamannya dan juga di Taman Siswa. 

Sebenarnya, Marjamah telah terlihat sebagai perempuan aktif sejak muda. Di masa Belanda, ia menjadi anggota KBI. Selain itu juga masuk dalam organisasi Indonesia Muda. Di NU sendiri, ia aktif di Muslimat. Saat terpilih dari Dapil Jawa Timur, ia merupakan mantan Ketua Konsul Muslimat Jawa Timur. 

5. Hadinijah Hadi Ngabdulhadi

Sebenarnya, Hadinijah Hadi Ngabdulhadi tidak terpilih secara langsung dalam Pemilu 1955. Ia menggantikan Haji Fatah Jasin yang berhalangan tetap sebagai anggota parlemen. Ia terpilih dari Dapil Jawa Timur. 

Meski terpilih dari Dapil Jatim, Hadinijah memiliki pengalaman yang lintas daerah. Ia sendiri terlahir di Purwokerto, 5 Januari 1928. Kemudian menempuh pendidikan di Muallimat dalam Sekolah Guru Puteri Islam. Kemudian, ia pindah ke Barabai, Kalimantan Selatan. 

Di Barabai tersebut, Hadinijah aktif mengajar di Sekolah Rakyat Islam Haruyan sejak 1945 hingga 1947. Kemudian pindah mengajar di Muallimat Barabai hingga 1949. Selain sibuk mengajar, Hadinijah juga terlibat dalam organisasi kewanitaan. Ia pernah menjabat Ketua Cabang Perwani (Persatuan Wanita Indonesia) Barabai. Ia juga pernah menjadi Wakil Ketua Cabang Gappika (Gerakan Pemuda Pemudi Kalimantan) Barabai. 

Pada 1950, Hadinijah pindah ke Desa Balong, Kecamatan Kandat, Kediri, Jawa Timur. Di tempat baru ini, ia kembali mengajar di Sekolah Rakyat Islam di kampung barunya tersebut. Pada saat yang bersamaan ia juga aktif dalam kepengurusan Konsul Muslimat NU Jawa Timur. Sebenarnya, pada Pemilu 1955, Hadinijah justru menjadi Panitia Pemilu sebagai Wakil Ketua PPS Kecamatan Kandat, Kediri sebagai utusan dari Partai NU. Pada saat itu, memang diperbolehkan utusan partai untuk terlibat dalam kepanitiaan. Namun, justru ia yang menjadi anggota parlemen saat terjadi pergantiaan. Posisinya sebagai Ketua Konsul Muslimat NU Jatim itulah, yang menjadi pertimbangannya. 

Sebenarnya, selain kelima anggota DPR di atas, pada masa awal NU menjadi partai politik tersebut, ada juga beberapa politisi perempuan di kalangan NU yang berkiprah di tingkat Nasional. Mereka adalah orang-orang yang terpilih sebagai anggota konstituante. Ada enam politisi perempuan NU yang terpilih. 

Keenam anggota konstituante dari perempuan nahdliyin tersebut antara lain: Ny. H. Saifuddin Zuhri (wakil Jawa Tengah), Ny. Adiani Kertodirdjo (wakil Jawa Timur), Ny. Ratu Fatimah (wakil Jawa Barat), Ny. Abidah Mahfudz (wakil Jawa Timur), Ny. Nihayah Maksum (wakil Jawa Timur), dan Ny. Zamrud Yala (wakil Sulawesi Selatan).

Merekalah para politisi perempuan nahdliyin generasi awal. Kehadirannya tak sekadar melengkapi struktur, tapi juga memiliki peran yang cukup signifikan. Ia turut mewarnai kancah politik guna membangun bangsa dan negara. (Ayung Notonegoro) 





Sumber: 

1. Parlaungan, Hasil Rakjat Memilih; Tokoh-Tokoh Parlemen (Hasil Pemilu Pertama - 1955), CV. Gita, Jakarta: 1956.

2. ---, Sejarah Muslimat Nahdlatul Ulama, PP Muslimat NU, Jakarta: 1979.

3. ---, Ensiklopedia Nahdlatul Ulama: Sejarah, Tokoh dan Khazanah Pesantren. 





Penulis adalah penggiat sejarah pesantren dan NU di Banyuwangi, aktif di Komunitas Pegon

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pahlawan, Sunnah Siti Efi Farhati

Selasa, 09 Februari 2016

PMII Majalengka Bentuk Tim 9 Kaderisasi

Majalengka, Siti Efi Farhati. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, membentuk Tim 9 Kaderisasi untuk memperkuat ideologi kader. Hal ini dilakukan menyusul ancaman gerakan Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) di Indonesia.

Pembentukan tersebut menjadi bagian dari agenda Rapat Pleno PC PMII Majalengka di Sekretariat di Jalan Gerakan Koperasi, Kompleks Giri Asih, Majalengka Wetan, Majalengka, Jawa Barat, Jumat (22/8) malam.

PMII Majalengka Bentuk Tim 9 Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Majalengka Bentuk Tim 9 Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Majalengka Bentuk Tim 9 Kaderisasi

Diketahui, ISIS belakangan ini sudah masuk wilayah Jawa serta sejumlah daerah lainnya. Dalam jejaring sosial, mereka bahkan mengancam akan menghancurkan Situs Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah.

Siti Efi Farhati

“Dalam agenda rapat pleno ini kami membentuk sebuah tim kaderisasi untuk memperkuat ideologi kader dan menjaga kestabilan kader sehingga mereka tidak terbawa oleh gerakan ISIS dan kami seluruh kader siap menghadapi mereka dalam situasi dan kondisi apapun,” tutur Ketua PC PMII Majalengka Iwan Irwanto.

Siti Efi Farhati

Lebih lanjut Iwan mengatakan, pembentukan tim ini tidak hanya menghadapi ISIS namun untuk mengawal serta memfasilitasi para kader dalam setiap agenda kaderisasi sehingga pemahaman ideologi PMII dan Aswaja mengakar pada diri mereka.

Tim 9 kaderisasi ini merupakan pengurus di bidang internal (kaderisasi) yang terdiri dari 9 orang pengurus, yakni Aris Prayuda ditunjuk sebagai Ketua Tim 9 kaderisasi dengan anggota berjumlah 8 orang : Jajang sudiana, Didi Kasdi, Muhammad Turyana, Abdul Sidik, Wanding Ahmad Nurdin, Muhammad Zaenal Haq, Nung Nuraeni, dan Ujang Asep Saeful Mila. (Aris Prayuda/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Khutbah, Ubudiyah, Sunnah Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock