Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

Makna Idul Fitri dan Sebuah Kemenangan

Oleh Aguk Irawan MN

Dua baris kalimat; Mohon Maaf Lahir Batin, Minal Aidin wal Faizin merupakan sebuah idiom yang biasa kita ucapkan saat menjelang atau lebaran/hari raya Idul Fitri tiba. Bahkan kata ini tidak saja diucapkan banyak jutaan muslim di? Indonesia, tapi juga mungkin jutaan kali ditulis dan begitu cepat menyebar ke perangkat eloktronik seperti HP dan Android.

Makna Idul Fitri dan Sebuah Kemenangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Idul Fitri dan Sebuah Kemenangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna Idul Fitri dan Sebuah Kemenangan

Hanya saja seringkali kita mengucapkan rangkaian idiom “Minal Aidin wal Faizin” yang seakan-akan itu terjemahannya adalah “Mohon Maaf Lahir dan Batin.” Padahal kedua idiom ini tidaklah demikian arti atau maknanya dan boleh dikatakan memiliki pesan yang berbeda, meskipun bila ditelusur dan coba dihubungkan masih saling terkait.

Siti Efi Farhati

Tetapi, jika itu terpaksa dibedakan, maka “Minal Aidin wal Faizin” lebih menyimpan arti pencapaian seorang mukmin setelah berpuasa penuh dan melawan hawa nafsunya dengan beribadah kepada Tuhannya di bulan Ramadhan (vertikal), sedangkan “Mohon Maaf Lahir Batin” lebih mengisyaratkan apa yang sedang dilakukan mukmin pasca bulan Ramadhan yaitu pada hari raya Idhul Fitri memperetat kembali hubungan sosial dengan sesama (horisontal). Maka “Minal Aidin wal Faizin” “Minal Aidin” (Semoga termasuk orang yang kembali pada kesucian) dan “wal Faizin” (semoga beroleh kemenangan setelah berdamai dan saling memaafkan).

Lebih dari itu, menurut pakar bahasa, terutama dari Ibnu Mandzur, kata fithri (fa-tha-ra) setidaknnya mencakup enam hal penting, yaitu kesucian, kekuatan, jati diri, asal usul kejadian, memakai pakaian taqwa dan dinnul Islam. Maka bila digabung kata itu menjadi Idul Fitri, artinya kita berharap akan kembali ke kesucian diri kita, kembali ke asal usul kita, kembali ke jati diri kita, kembali memakai pakaian taqwa, kembali ke kekuatan kita dan kembali ke dinnul Islam. Untuk keenam arti ini mari kita bahas satu persatu dan kita renungkan maknanya:

Siti Efi Farhati

Pertama, kata fithri atau fitrah jika diartikan suci atau kesucian, maka ia harus memenuhi tiga unsur inti, yaitu keindahan yang menggetarkan, kebenaran yang bisa diterima dan kebaikan yang bisa dibuktikan. Dari konsekwensi ini, maka kembali ke fithri artinya kita harus menciptakan keindahan (seni), menerima kebenaran dengan menambah ilmu (sains) dan berbuat baik atau amal sholeh yang melahirkan akhlaqul karimah. Itulah makna idul fithri buah dari pendidikan Ramadhan untuk mengantarkan kita menjadi seniman, ilmuwan sekaligus budiman.

Kedua, kata fithri disebut sebagai kekuatan, karena sebulan penuh shaimin dan shaimat mempunyai kekuatan untuk mengendalikan hawa nafsu. Dengan kekuatan itulah kaum Muslimin melakukan jihad akbar mengendalikan hawa nafsunya? dan ia akan menjadi kuat, makanya begitu tiba Idul Fithri, diharapkan seorang mukmin dapat kekuatan baru.

Ketiga, pengertian fithri (fitrah) jika bermakna asal kejadian ini dikaitkan dengan manusia bisa diberikan beberapa contoh, antara lain manusia berjalan dengan kakinya, melihat dengan matanya, mendengar dengan telinganya, merasa dengan hatinya dan berpikir dengan akalnya. Konsekwensi dari pengertian ini, maka kita menjadi salah jika ingin berjalan dengan tangan, melihat dengan telinga dan berpikir dengan mulut, atau salah jika kita mengukur kesalahan dan kebenaran atau kesedihan dan kebahagiaan dengan alat timbangan atau alat ukur meteran dan seterusnya, itulah fitrah.

Masih dalam pengertian fitrah sebagai asal kejadian, maka kita pun harus menempatkan hati sebagai tempatnya iman, dan bukan di akal, karena akal selalu menolak hal-hal yang tak bisa dicerna oleh indrawi, dan tugas akal hanya untuk mengukuhkan iman.

Keempat, kata fithri secara maknawi ada juga yang mentakwil dengan arti memakai pakain. Tentu yang dimaksud memakai pakaian disini adalah pakaian taqwa, sebagaimana yang disyaratkan dalam surat al-Baqarah, ayat 183, bahwa tujuan berpuasa adalah supaya kita bertaqwa. Selama Ramahdhan kita sudah menenun sepanjang hari, dan saat idul fitri itulah kita memakai pakaian taqwa agar meningkat (Syawal) jati diri kita. Dalam konteks ini kita mengingat pesan Ilahi: Janganlah kita menjadi seperti seorang perempuan dalam cerita lama, ia mengurai kembali hasil tenunanya yang rapi sehelai benang demi sehelai sehingga tercerai-berai (an-Nahl, 92). Artinya madrasah puasa selama sebulan itu harus terus kita pakai (fithri) sampai setahun mendatang, bahkan lebih.

Puasa diibaratkan seperti menenun atau menjahit pakaian ini juga seperti yang sudah dicontohkan ulat yang bertapa dalam tenunannya (kepompong), setelah selesai menenun, ia memakai sayapnya yang indah untuk terbang (kupu-kupu), atau bisa juga diibaratkan sang laba-laba yang menenun rumahnya sehelai demi helai, kemudian ia memakai (fithri) agar ia menjadi tenang hidupnya.

Kelima, kata fithri berarti jati diri. Jati diri manusia adalah sebagai khalifah, yaitu makhluk termulia, penghuni surga, tetapi dalam waktu bersamaan juga makhluk yang berlumur dosa. Kenapa? Karena ia dibekali hawa nafsu, juga dibekali hati nurani, yaitu gabungan antara hati yang tajam dan pikiran yang jernih untuk menahan diri dari dorongan nafsu hewani. Sehingga seorang mukmin dikatakan “kembali ke fitrah” itu artinya ia kembali ke jati diri, karena ia sanggup menahan hawa nafsu dengan hati-nuraninya atau sebaliknya, seorang mukmin belumlah dikatakan kembali ke fitrah bila hawa nafsunya mendorongnya untuk bersikap liar dan tak terkendali.

Keenam, jika fithri diartikan dinnul al-islam, islam secara bahasa bentuk masdar dari sa-la-ma yaitu perdamaian atau ketertundukkan. Konsekwensi dari kata damai atau tunduk ini mengandung tiga unsur inti, yaitu kita sebagai hamba harus merasa damai dengan Tuhan, yaitu harus tunduk dengan cara meninggalkan semua larangan-Nya dan menjalankan segala perintah-Nya dengan (dan) tanpa paksaan apapun. Selanjutnya, kata damai berarti kita harus bisa merangkul kembali yang bercerai berai dari sesama, menghilangkan sekat-sekat dan api permusuhan, serta menepis perbedaan-perbedaan yang mengakibatkan percikan kebencian. Ketiga berdamai dengan alam, dengan tidak terlalu mengekploitasinya, sehingga mengakibatkan kehancuran atau bencana, itulah buah dari Ramadhahan sebulan penuh.

Selain keenam makna di atas ada yang berpendapat fithri berarti futhur artinya berbuka. Artinya saat nafsu perut terbuka dan kembali merajalela, hati-hatilah dengan jati diri anda. Hati-hatilah dengan rezeki yang tidak halal, hat-hatilah dengan sikap benci yang berlebihan dan permusuhan, yang semua itu mengarah pada kehilangan jati diri kita yang sesungguhnya. Itu berarti Idul Fitri berarti momentum yang baik buat berdamai dan saling memaafkan.

Lantas ada apa maksud dari kata Faizin? Menurut Ibnu Mandzur dalam Lisanul Arabi, juga kamus Munawwir dan Mauwrid, kata faizin tercerabut dari kata faza-fauzan-faizin, yang artinya adalah na-lahu bihi fauzan, yaitu memperoleh kesuksesan atau kemenangan, bisa juga halaka wa mata, seperti kalimat wafauza arrajulu, artinya adalah seseorang telah mengalahkan atau membinaskan, bisa juga berarti an-naja atau minal makruhi; selamat dan terhindar dari sesuatu yang bahaya, dan terakhir, bisa bermakna fauza at-thariq atau bada wa dhahara (sesuatu yang nampak terang atau berkilau). Mari kita bahas satu persatu.

Pertama, adalah bermakna kesuksesan atau kemenangan. Idul Fitri dapat disebut hari raya kemenangan. Pada hari itu, karena kaum beriman yang telah menunaikan ibadah Ramadhan meraih kemenangan dan seperti dengan terlahir kembali kepada fitrah kemanusiaan yang suci dan kuat hati. Mengapa harus ada yang menang dan ada yang kalah? Karena faktanya, kita diberi nafsu, dan ini punya pesan simbolik untuk dikalahkan dan hati nurani (hati-akal) itulah alat untuk mengalahkan atau sebagai senjata perjuangan, sebagaimana yang diajarkan selama Ramadhan.

Kedua, adalah bermakna mengalahkan atau membinasakan, ini semacam sinonim dari sebuah kemenangan, sebab tidak ada kemenangan tanpa mengalahkan. Kalah dan menang adalah lawan kata. Dua sisi yang bertentangan ini adalah sifat keunggulan manusia dari makhluk yang lain (akhsanu takwin) dan kedua ini diciptakan agar manusia menjadi lebih sempurna (insan al-kamil) sebagaimana terkandung dalam Q.S. Asy-Syams ayat 8 yang menjelaskan pentingnya tazkiyatu nafs (penyempurnaan jiwa) agar kita menjadi hamba yang bertakwa (berhati-nurani) dan jauh dari? "kefasikan" (hawa nafsu kebinatangan)” dan, memang selama Ramadhan kita diajarkan bagaimana terus membunuh nafsu dan menghancurkannya, termasuk menghancurkan lemak-lemak atau virus yang bisa menimbulkan penyakit dalam tubuh kita.

Ketiga, adalah bermakna selamat dan terhindar dari sesuatu yang bahaya, sehingga nampaklah atau berkilauanlah kebaikan, kebenaran dan keindahan itu. Untuk terhidar dari bahaya dan nampaklah cahaya Islam yaitu kebaikan, kebenaran dan keindahan dibutuhkan jihad atau usaha keras, hal ini terbukti pada catatan sejarah islam yang gembilang, di bulan inilah? musuh-musuh islam bisa terkalahkan. Jika merujuk pada fakta sejarah Islam, banyak kita jumpai peristiwa kemenangan? besar terjadi mendekati idul fitri atau sepanjang bulan Ramadhan, Misalnya runtuhnya Masjid Adh-Dhirar milik orang-orang munafik. Datangnya rombongan delegasi kaum Tsaqif yang ingin masuk Islam.

Pada Ramadhan tahun ke-2 Hijriyah, terjadi peperangan besar yaitu perang Badar Al-Kubra. Peperangan ini dimenangkan oleh kaum muslimin, inilah kemenangan agung pertama pejuang-pejuang Islam dalam menentang kemusyrikan dan? kebatilan.Pada Ramadhan Tahun Ke-1393 Hijriyah atau 1973 M, kemenangan muslim atas pasukan Salib dengan merebut? kembali tanah Palestina yang sebelumnya direbut oleh Zionis Yahudi. Masih banyak peristiwa besar lain lebih dari seratus, termasuk salah satunya adalah kemerdekan Bangsa Indonesia ini yang diraih pada bulan suci Ramadhan. Selamat hari Raya Idhul Fitri 1437 H. Minal Aidzin Wal Faizin. Amin.

*Sastrawan dan Pengasuh Pesantren Kreatif Baitul Kilmah, Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kiai, Sholawat Siti Efi Farhati

Rabu, 07 Februari 2018

Menag Mesir: Muslim yang Tewas saat Jaga Gereja itu Mati Syahid

Jakarta, Siti Efi Farhati - Menteri Agama Mesir DR Muhammad Mukhtar Jum‘ah menyampaikan bahwa seorang Muslim yang tewas ketika menjaga gereja mendapat derajat syahid di sisi Allah. Menurutnya, partisipasi umat Islam dalam pengamanan peribadatan umat Kristiani tidak berbeda dengan pengamanan peribadatan dalam agama Islam itu sendiri.

Demikian disampaikan Menteri Wakaf dan Urusan Agama Mesir DR Muhammad Mukhtar Jum‘ah dalam khutbah Jumat di Masjid Al-Abbasi, Port Said, Mesir, Jumat (22/12) siang.

Menag Mesir: Muslim yang Tewas saat Jaga Gereja itu Mati Syahid (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Mesir: Muslim yang Tewas saat Jaga Gereja itu Mati Syahid (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Mesir: Muslim yang Tewas saat Jaga Gereja itu Mati Syahid

“Orang yang tewas ketika menjaga gereja maka ia terkategori syahid di jalan Allah,” kata Mukhtar Jum‘ah dalam khutbahnya seperti dirilis al-yaumus sabi‘ dengan link youm7.com pada 22 Desember 2017.

Ia mengingatkan jamaah Jumat bahwa kini umat manusia tengah berada di gerbang tahun baru Masehi. Ia menganjurkan jamaah masjid tersebut dan umat Islam pada umumnya untuk bahu-membahu menjaga keamanan gereja sebagaimana umat Islam menjaga masjid.

Siti Efi Farhati

Menurutnya, partisipasi pengamanan gereja juga sangat sesuai dengan prinsip-prinsip kebangsaan. Dan ini, menurutnya, berdasar pada pemahaman yang sahih atas nilai-nilai Islam.

“Pemahaman yang benar atas ajaran agama yang menjadi prioritas utama kita saat ini adalah mencegah mereka yang tidak memiliki kualifikasi dan kapasitas ilmu agama yang memadai untuk mencederai nama baik Islam dan agama yang benar,” kata Mukhtar Jum‘ah.

Siti Efi Farhati

Dalam khutbah Jumat akhir tahun ini, ia juga mengajak jamaah untuk melakukan muhasabah dengan kutipan definisi muhasabah dari Imam Al-Mawardi. Ia mengajak jamaah untuk memeriksa perilaku keseharian masing-masing sesuai pertimbangan baik dan buruk menurut syariat Islam.

Menurutnya, mereka yang melakukan perbuatan terpuji patut bersyukur dan memuji Allah. Tetapi mereka yang melakukan perbuatan tercela menurut agama harus bertobat kepada Allah dan berusaha tidak akan mengulangi perbuatan buruknya karena segala sesuatu akan dimintakan pertanggungjawabannya di hari Kiamat kelak. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kiai, Bahtsul Masail, AlaSantri Siti Efi Farhati

Rabu, 31 Januari 2018

Yahya Staquf: Islam Nusantara itu Mu’tabar, Otentik dan Otoritatif

Jakarta, Siti Efi Farhati. Katib Syuriah PBNU KH Yahya Cholil Staquf mengatakan, dalam kajian NU, hal-hal yang menyangkut ekspresi Islam Nusantara seluruhnya adalah sah dalam pandangan ajaran agama. Dalam bahasa agama disebut mu’tabar, artinya otentik dan otoritatif.

“Ini memang Islam. Bukan bid’ah, bukan pula khurafat. Ini Islam berdasarkan kajian terhadap sumber-sumber ajaran agama. Ini sungguh-sungguh Islami,” kata Gus Yahya kepada wartawan usai memoderatori diskusi umum pra-Muktamar NU di kantor The Wahid Institute Jl Taman Amir Hamzah, Jakarta Pusat, Jumat (29/5).

Yahya Staquf: Islam Nusantara itu Mu’tabar, Otentik dan Otoritatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Yahya Staquf: Islam Nusantara itu Mu’tabar, Otentik dan Otoritatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Yahya Staquf: Islam Nusantara itu Mu’tabar, Otentik dan Otoritatif

Ditanya apakah kegiatan ini dalam rangka melawan isu Islam transnasional, semisal ISIS, Gus Yahya menjawab, sebetulnya ini mewakili perasaan publik yang terancam. “Sebetulnya itu bukan hanya ancaman bagi Indonesia. Kita merasa terancam karena kita akan kehilangan identitas dan pada saat yang sama terancam kehancuran sebagaimana yang terjadi di tempat lain,” tuturnya.

Siti Efi Farhati

Yang kedua, lanjut Gus Yahya, kekejaman ISIS merupakan ancaman global karena mereka melakukan kerusakan di berbagai tempat di mana mereka membuat propaganda. “Mana bangsa yang memperoleh kemakmuran oleh ideologi itu, semuanya hancur. Libya, Tunisia, Mesir, semuanya hancur. Kita tidak mau seperti mereka,” ujarnya.

Siti Efi Farhati

Gus Yahya berkeyakinan, bahwa sebetulnya mayoritas muslim di sana seperti muslim di Indonesia yang mengikuti madzhab Islam damai sebagaimana digambarkan utusan Grand Syeikh Al-Azhar Mesir. “Semuanya ini terancam karena ada kelompok yang memiliki ambisi politik tertentu kemudian mengatasnamakan agama yang menimbulkan kekacauan dan kerusakan,” terangnya.

Melalui diskusi tersebut, lanjut Gus Yahya, kita ingin menunjukkan Islam Nusantara untuk encourage kaum muslimin di tempat lain yang seperti kita berani menunjukkan diri. “Jadi, Islam bukan milik mereka yang radikal-radikal itu. Kita yang mu’tabar, bukan mereka,” tegasnya.

Ditanya bagaimana cara membumikan Islam Nusantara sementara berbagai gesekan masih kerap terjadi lantaran adanya pihak yang mempermasalahkan salah satu paham tertentu, bagi dia, tak paham sejarah. “Kita hidup di sini lima ratus tahun. Anda tau, Ahmadiyah itu hidup di Indonesia sudah lebih dulu daripada NU. Bahkan sejak Republik ini belum lahir. Dulu aman-aman aja. Sekarang kok ada yang teriak-teriak, siapa mereka itu,” ujarnya.

Menurut keponakan Gus Mus ini, para narasumber diskusi hendak mengkonfirmasi Islam yang mengedepankan kedamaian itulah Islam yang sejati. “Nah, Islam yang seperti itu benar-benar hidup di Indonesia,” ujarnya.

Diskusi umum bertajuk “Konsolidasi Dunia Islam Menghadapi Radikalisme dan Terorisme” tersebut menghadirkan tiga narasumber: Prof Dr Abdelmonem Fouad Othman (Utusan Khusus Grand Syeikh Al Azhar), Mohamed Aboelfadl Ahmed (Redaktur Senior Harian Al-Ahram), dan Prof Dr Rudiger Lohlker (Guru Besar Studi Islam Universitas Wina, Austria). (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Makam, Kiai Siti Efi Farhati

Minggu, 14 Januari 2018

Usai Bahtsul Masail, Kiai Ihya Sampaikan Amanat Ke-NU-an

Pamekasan, Siti Efi Farhati. Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kadur Kabupaten Pamekasan melangsungkan bahtsul masail, Jumat (15/12) siang. Kegiatan yang ditempatkan di Pesantren Karang Anyar Desa Pamoroh tersebut dihadiri oleh Rais Syuriyah KH Ihyauddin Yasin.

Usai Bahtsul Masail, Kiai Ihya Sampaikan Amanat Ke-NU-an (Sumber Gambar : Nu Online)
Usai Bahtsul Masail, Kiai Ihya Sampaikan Amanat Ke-NU-an (Sumber Gambar : Nu Online)

Usai Bahtsul Masail, Kiai Ihya Sampaikan Amanat Ke-NU-an

Usai bahtsul masail, Kiai Ihya menyampaikan satu amanat yang harus dijalankan oleh pengurus ranting NU yang tersebar di 10 desa yang ada di Kecamatan Kadur. Amanat tersebut berkaitan dengan kegiatan Pelatihan Kader Penggerak (PKP) NU yang diadakan oleh PCNU Kabupaten Pamekasan di Pesantren Miftahul Anwar, Jumat-Ahad (22-24/12) mendatang.

"Kami amanatkan kepada seluruh pengurus ranting untuk mengutus kader atau pengurusnya ikut PKP yang tempatnya di pesantren kami. Minimal 2 orang. Kalau bisa mendelegasikan 10 orang tiap ranting sebagai peserta PKP," tegas Kiai Ihya.

Wakil Ketua PCNU Pamekasan tersebut memohon dengan hormat kepada seluruh jajaran pengurus NU untuk bisa mengindahkan amanat tersebut. Hal itu dipandang sangat penting karena menyangkut organisasi jamiyah NU ke depan.

Siti Efi Farhati

"Agar nanti tercetak kader-kader militan dan menjadi ruhul jihad guna berjuang bersama NU," tegas Kiai Ihyauddin Yasin.

Untuk diketahui, kegiatan PKP berlaku untuk kader-kader atau calon kader-kader NU se-Kabupaten Pamekasan. Peserta nantinya tidak boleh pulang selama tiga hari.

Siti Efi Farhati

"Bagi yang sudah beristri, sampaikan dulu untuk izin menetap selama tiga hari di acara PKP. Bagi yang belum beristri, mohonlah restu kepada orangtua," tukasnya. (Hairul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Fragmen, Aswaja, Kiai Siti Efi Farhati

Kamis, 11 Januari 2018

Muslimat NU Berikan Pemahaman Islam kepada Daiyah di Kawasan Transmigrasi

Makassar, Siti Efi Farhati - Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI dan Pimpinan Pusat Muslimat NU menyelenggarakan Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Mental bagi Daiyah Pemukiman Transmigrasi Bina Lingkup Disnakertrans Provinsi Sulawesi Selatan di Hotel Kenari Makassar, Rabu-Sabtu (17-20/2).

Panitia Penyelenggara dari PP Muslimat NU Hj Nurhayati Said Aqil Siroj menuturkan, peserta terdiri 30 muslimah yang berasal dari daerah transmigrasi dan daerah tertinggal di Sulawesi Selatan yakni Luwu Timur daerah Mahalona, Luwu Utara daerah Lantangtallang, Waja daerah Pekkai, Soppeng daerah Watu, Toraja Utara daerah Rantekaroa, Tana Toraja daerah Supi masing-masing mengutus 5 peserta.

Muslimat NU Berikan Pemahaman Islam kepada Daiyah di Kawasan Transmigrasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Berikan Pemahaman Islam kepada Daiyah di Kawasan Transmigrasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Berikan Pemahaman Islam kepada Daiyah di Kawasan Transmigrasi

Kegiatan ini terselenggara atas kesepakatan PP Muslimat NU dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi terkait dengan pengembangan wawasan keagamaan para daiyah di daerah tertinggal dan pemukiman transmigrasi, tambahnya.

Siti Efi Farhati

Hj Nurhayati mengatakan, seluruh peserta akan mendapatkan beberapa materi yakni Aqidah Aswaja, Sirah Nabawiyah, Islam dan Wawasan Kebangsaan, Hakikat, Kedudukan, dan Fungsi Manusia, Fiqih Ibadah, Tajhiz Janaiz, Fiqih Perempuan, Praktik Memandikan Jenazah, Akhlak Daiyah, Fiqih Iktilaf, Prinsip Dakwah Rahmatan Lil alamin, Kebijakan Dinakertrans Sulsel dalam Pembinaan Dai di Pemukiman Transmigrasi dan Kepemimpinan.

"Tentunya materi-materi ini bertujuan memberikan pemahaman komprehensif bagi daiyah, khususnya warga pemukiman transmigrasi terkait wacana keislaman Ahlusunnah Wal Jamaah dan nilai-nilai kebangsaan," tambahnya.

Dirjen Pengembangan Kawasan Daerah Transmigrasi Roosari Tyas Wardani mengungkapkan bahwa dalam UU No 29 tahun 2009 tentang Perubahan atas UU No 15 tahun 1997 tentang Ketransmigrasiaan, telah diamanatkan bahwa penyelenggaraan transmigrasi bertujuan (1) meningkatkan kesejahteraan transmigran dan masyarakat sekitarnya; peningkatan dan pemerataan pembangunan daerah, serta memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.

Siti Efi Farhati

Tiga tujuan ini secara eksplisit menunjukkan bahwa transmigrasi diselenggarakan sebagai upaya mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera dalam bingkai NKRI, dalam konteks pemahaman seperti itulah maka upaya peningkatan kapasitas dan kapabilitas pembina pemukiman transmigrasi dan kader daiyah menjadi hal penting, kata Roosari Tyas.

Adapun pemateri ini adalah Ketua PP Muslimat Dr Sri Mulyati, Ketua PP Muslimat NU Dra Hj Nurhayati Said Aqil Siroj, Dra Hj Haniq Rafiqoh, Drs Haryono, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sulsel Simon S Lopang, dan Ketua PW Muslimat NU Sulsel Dr Hj Nurul Fuadi. (Andy Muhammad Idris/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kiai, Pesantren, Cerita Siti Efi Farhati

Rabu, 27 Desember 2017

Inilah Syiir Nyai Hj Maryam Ahmad Musthofa (1)

Solo, Siti Efi Farhati. Satu syair qasidah dilantunkan Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf dengan penuh penghayatan, pada acara haul seorang wanita ahli al-Qur’an dari Solo, Nyai Hj Maryam Ahmad Musthofa di kompleks Pesantren Alqur’aniyy Solo, belum lama ini.

Inilah Syiir Nyai Hj Maryam Ahmad Musthofa (1) (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Syiir Nyai Hj Maryam Ahmad Musthofa (1) (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Syiir Nyai Hj Maryam Ahmad Musthofa (1)

Syair tersebut berisi tentang petuah-petuah yang pernah ditulis oleh Nyai Hj Maryam, semasa hidupnya. Menurut salah satu santri Pesantren Alqur’aniyy, Andy Alfan Qodri, syair tersebut biasa dilantunkan para santri dalam berbagai kegiatan.

“Syair tersebut ditulis Nyai Hj Maryam dalam tulisan berhuruf Arab pegon. Kemudian salah satu santri, ada yang menulis kembali ke dalam huruf latin. Sholawat ini menjadi tambah populer, karena Habib Syech juga sering membacanya dalam beberapa majelis,” ujarnya saat ditemui Siti Efi Farhati, Senin (23/2).

Siti Efi Farhati

Berikut isi syairnya:

Siti Efi Farhati

Ilaahi lastu lil Firdausi ahlan # wa la aqwa ‘ala naril jahimi

Fahabli taubatan waghfir dzunubi # fainnaka ghofiru dzanbil ‘adhimi

Duh yaa Robbi kulo nyuwun diparingi # Lesan kathah nderes Qur’an ingkang suci

(Ya Robbi, mohon hamba dianugerahi # lisan untuk banyak membaca Al-Qur’an yang suci)

?

Lan sageto kulo nderek dawuh Qur’an # Pejah kulo nyuwun Islam sarto Iman

(Izinkan hamba mengikuti perintah-Mu dalam al-Qur’an # matikan hamba dalam islam dan iman)

Duh yaa Robbi kulo nyuwun remen nderes # Qur’an kelawan lahir batin ingkang leres

(Ya Robbi, mohon hamba diberi rasa cinta untuk mengaji # al-Qur’an dengan lahir batin yang baik)

Qur’an iku panutane wong muslimin # Wal muslimat wal mu’minat wal mu’minin

(Al-Qur’an itu panutan bagi muslimin # muslimat, mu’minat dan mu’minin)

Moco Qur’an agung banget paedahe # Namung kudu netepi toto kramane

(Membaca al-Qur’an amat besar manfaatnya # namun mesti menjaga adabnya)

Mergo akeh wong kang moco Qur’an tompo # Ing bebendu sebab ora toto kromo

(Sebab banyak orang membaca al-Qur’an # menerima azab sebab tanpa adab dan kesopanan)

Wus tumindak zaman kuno lan saiki # Moco Qur’an kito kudu ngati-ati

(Sudah terjadi sejak zaman dahulu hingga sekarang # membaca al-Qur’an mesti hati-hati)

Nggepok Qur’an ora keno tanpo wudlu # Mulo siro ojo podho grusa grusu

(Memegang al-Qur’an mesti dalam keadaan wudhu # makanya jangan terburu-buru)

Moco Qur’an kudu nanggo toto kromo # Ora keno sak penak’e lan sembrono

(Mesti memakai adab dalam membaca al-Qur’an # tidak boleh seenaknya dan sembarangan)

Biso ugo moco Qur’an nggo sembrono # Dadi jalarane kufur kapitunan

(Membaca al-Qur’an dengan sembarangan # menjadi sebab dapat kerugian)

Yen pinuju ono uwong moco Qur’an # Kito kudu ngrungokake kang temenan

(Jika ada orang yang membaca al-Qur’an # kita wajib sungguh-sungguh untuk mendengarkan)

Yen ngrungokake mesti oleh ganjaran # Nyepelekke mesti tompo ing pasiksan

(Siapa yang mendengarkan mendapat pahala # yang meremehkan mendapat siksa)

(Ajie Najmuddin/Mahbib)

Foto: Makam Nyai Hj Maryam Ahmad Musthofa

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kiai, Pahlawan, AlaNu Siti Efi Farhati

Senin, 25 Desember 2017

Ikut Ansor Yes, Narkoba No

Rembang, Siti Efi Farhati. Pengurus Gerakan Pemuda Ansor Cabang Rembang menyatakan "No" terhadap pemakaian narkoba. Mereka mengajak generasi muda untuk aktif di Ansor, daripada terjebak pemakaian narkoba. Ansor Yes, Narkoba No?

Dukungan GP Ansor Rembang terhadap gerakan anti narkoba dilakukan bersama dengan sejumlah ormas dalam deklarasi antinarkoba di depan Rumah Dinas Wakil Bupati Rembang Jumat (08/4) sore.?

Ikut Ansor Yes, Narkoba No (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikut Ansor Yes, Narkoba No (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikut Ansor Yes, Narkoba No

Salah satu pengurus Ansor Cabang Rembang ? Jasmani mengingatkan agar Kabupaten Rembang harus mulai waspada terhadap narkoba. Menurutnya di Rembang sudah mulai ada yang tertangkap mengedar dan menggunakan narkoba.

"Oleh karena itu, kami akan mendukung langkah pemerintah bersama dengan aparat yang berwenang untuk memberantas pengedar narkoba," katanya.

Siti Efi Farhati

Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama bersama dengan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama juga ikut hadir juga menyatakan berperang terhadap narkoba.

AKP Bambang Sugito, Kasat Narkoba Polres Rembang menyatakan bagi siapa yang membantu memberikan informasi pengedar narkoba di Kabupaten Rembang, dan dapat dipertanggungjawabkan akan mendapatkan honor 1,5 juta sebagai imbalan. (Ahmad Asmui/Mukafi Niam)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kiai Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock