Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Maret 2018

Candra Malik: Banggalah Mencintai Indonesia

Kudus, Siti Efi Farhati - Wakil Ketua Lesbumi NU Candra Malik menghadiri acara Ngaji Budaya dalam rangka Konferensi Cabang IPNU-IPPNU Kudus di halaman SMKNU Maarif NU Kota setempat. Dengan gaya puitisnya, ia merefleksikan kebesaran bangsa Indonesia.

Mengawali ceramahnya, budayawan yang biasa disebut Gus Candra ini mengajak? supaya jangan pernah rela tanah air direbut oleh bangsa lain. Menurutnya, masih ada ancaman penjajahan dengan segala upaya daya untuk memiliki Indoneisa.

Candra Malik: Banggalah Mencintai Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Candra Malik: Banggalah Mencintai Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Candra Malik: Banggalah Mencintai Indonesia

?

"Penjajahan sesungguhnya adalah penjajahan terhadap anak-anak bangsa. Karenanya, setiap melahirkan anak bangsa supaya pastikan bahwa akar mereka adalah nusantara," katanya di hadapan ratusan pelajar NU Kudus, Jumat (12/8) malam itu.

?

Siti Efi Farhati

Gus Candra juga menegaskan keberadaan Pancasila di bumi Nusantara. Dikatakan, Pancasila sebagai gagasan besar yang menjadi pandangan hidup mampu menyelesaikan berbagai masalah bangsa. Pancasila sudah mengakar dalam diri masyarakat Indonesia sehingga tidak bisa diotak-atik oleh siapa pun.

"Pancasila bukan hanya pandangan negara atau bangsa tetapi selayaknya menjadi pandangan dunia," tegasnya lagi.

?

Siti Efi Farhati

Persoalannya, imbuh dia, Indonesia belum mencapai satu abad sehingga belum bisa disebut memiliki budaya. Untuk disebut memiliki budaya, katanya, Indonesia harus berumur seratus tahun. Indonesia baru mengarungi tradisi, mengarungi budi pekerti yang diberdayakan kehidupan sehari-hari sepanjang masa.

?

"Sejauh ini budi dan daya yang menjadi budaya kita masih menginduk Nusantra dan kita berjalan terus pada 100 tahun pertama. Sebagai generasi pertama, banggalah mencintai Indonesia dan pastikan Indonesia memiliki budaya yang luar biasa adi luhung-nya," tegasnya.

Selama memaparkan pandangannya, penampilan Gus Candra mampu memukau para pelajar. Terlebih lagi, ia menyanyikan? dua lagu yang berisi ajakan untuk mencintai Indonesia dan menghargai keberagamaan negeri ini. Kedua lagu itu masing-masing berjudul "Aku Orang Indonesia" dan "Lakum Diinukum Waliyadin". (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Amalan Siti Efi Farhati

Minggu, 11 Maret 2018

Muslimat NU Sukses Pecahkan Dua Rekor Muri pada Puncak Harlah

Malang, Siti Efi Farhati

Muslimat NU telah berusia genap 70 tahun. Puncak peringatan hari lahir (harlah) yang digelar di Stadion Gajayana, Kota Malang, Jawa Timur, kali ini jauh lebih meriah dibandingkan sebelumnya. Tak tanggung-tanggung dalam satu acara organisasi kaum ibu ini memecahkan dua rekor Muri (Musium Rekor Indonesia) sekaligus.

Muslimat NU Sukses Pecahkan Dua Rekor Muri pada Puncak Harlah (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Sukses Pecahkan Dua Rekor Muri pada Puncak Harlah (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Sukses Pecahkan Dua Rekor Muri pada Puncak Harlah

Pertama, lautan manusia berjilbab hijau dengan jumlah 50 ribu peserta yang dalam kurun waktu 10 detik berubah menjadi putih. Seketika Stadion kebanggaan Aremania ini menjadi putih. Tak lama dari itu, seluruh peserta secara serentak menabuh rebana mengumandangkan shalawat Nabi diiringi oleh paduan suara Muslimat dan el-Kiswah Surabaya. Seluruh pejabat yang hadir juga tak ketinggalan menabuh rebana. Aksi ini tercatat sebagai rekor kedua yang dipecahkan Muslimat NU pada acara akbar ini. Suasana Stadion Gajayana semakin semarak setelah 1941 pelajar dan santri NU se-Malang membentuk konfigurasi harlah ke-70 Muslimat NU.

Wakil Ketua Umum dan Direktur Utama MURI Aylawati Sarwono dan Senior Manager MURI Awan Rahargo hadir menyaksikan pemecahan rekor ini.

Siti Efi Farhati

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa mengatakan, agenda pemecahan rekor tidak bertujuan mencari sensasi belaka. Namun pemecahan rekor tersebut menyampaikan pesan bahwa Muslimat NU senantiasa menguatkan UKM dan industri kreatif yang diinisiasi kaum perempuan. "Kemandirian adalah ciri khas Muslimat NU," tandasnya.

Puncak Peringatan Harlah Ke-70 Muslimat NU dihadiri oleh puluhan ribu anggotanya yang tersebar di seluruh Indonesia. Harlah Ke-70 Muslimat NU yang bertema "Bersatu Mewujudkan Indonesia Damai Sejahtera" kali ini bertujuan untuk membuka sarana silaturahmi dan konsolidasi nasional Muslimat NU dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Siti Efi Farhati

Presiden Jokowi hadir bersama menteri kabinet kerja, tampak dideretan terdepan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Zulkifli Hasan, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Rais Aam PBNU KH Maruf Amin, Gubernur Jatim Soekarwo, Istri Presiden RI keempat KH Abdurrahman Wahid Sinta Nuriyah, dan Yenni Wahid. (Rof Maulana/Mahbib)

 Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Amalan, Ulama Siti Efi Farhati

Selasa, 13 Februari 2018

Dies Natalis Ke-13, STAINU Jakarta Angkat Tema Islam Nusantara

Jakarta, Siti Efi Farhati. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta akan menggelar peringatan hari lahir atau Dies Natalis yang ke-13 pada Ahad, (3/5) di Kampus Jl Taman Amir Hamzah No 5 Jakarta Pusat dengan mengangkat tema ‘Kita adalah Islam Nusantara’.

“Dengan tema ini, STAINU Jakarta ingin menegaskan komitmennya sebagai kampus yang istiqomah memperjuangkan dan menegakkan nilai-nilai Islam Nusantara,” tegas Pembantu Ketua (Puka) IV STAINU Jakarta, Aris Adi Leksono, MMPd saat dihubungi Siti Efi Farhati, Selasa (28/4) di Jakarta.

Dies Natalis Ke-13, STAINU Jakarta Angkat Tema Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Dies Natalis Ke-13, STAINU Jakarta Angkat Tema Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Dies Natalis Ke-13, STAINU Jakarta Angkat Tema Islam Nusantara

Aris menambahkan, untuk itulah STAINU Jakarta ke depan akan membuka program studi dengan ciri khas Islam Nusantara seperti Tasawuf, Ilmu Falak, Pariwisata Haji dan Umroh, dan lain-lain.?

Siti Efi Farhati

“Sebelumnya, STAINU Jakarta juga konsisten dengan mata kuliah khas NU dan Islam Nusantara, yakni Arummanis (Aurod, Rawatib, Mawalid, Manaqib, dan Istighotsah),” imbuhnya.

Siti Efi Farhati

Menurut keterangannya, acara puncak pada Ahad besok, akan digelar orasi ilmiah oleh Ketum PBNU Prof Dr KH Said Aqil Siroj dan Budayawan, Dr Radhar Panca Dahana tentang Islam dan Budaya Nusantara. Selain itu, rangkaian acara sebelumnya akan diadakan pembacaan manaqib, tahlil, shalawat, dan selayang pandang dari para pendiri STAINU Jakarta.

Kemudian, tambah Aris, STAINU Jakarta juga mengadakan rangkaian kegiatan seperti FGD Islam Nusantara, tanam 1300 pohon, Festival Islam Nusantara, Training Leader Campus, ToT Kerajinan Tangan, Baksos, dan Pengobatan gratis.

“STAINU juga akan meluncurkan kedai kopi Nusantara yang akan dipadukan dengan Taman Baca Masyarakat di sekitar Kampus,” pungkas Aris. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sejarah, Ubudiyah, Amalan Siti Efi Farhati

Jumat, 09 Februari 2018

Kiai Chalwani: Jangan Sampai Mahasiswa Terkecoh (Lagi)

Purworejo, Siti Efi Farhati. Majlis Pembina Cabang (Mabincab) Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Purworejo, Jawa Tengah, KH Achmad Chalwani Nawawi mengingatkan agar mahasiswa tidak terkecoh dengan berbagai isu-isu dan persoalan yang terjadi akhir-akhir ini.

Kiai Chalwani: Jangan Sampai Mahasiswa Terkecoh (Lagi) (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Chalwani: Jangan Sampai Mahasiswa Terkecoh (Lagi) (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Chalwani: Jangan Sampai Mahasiswa Terkecoh (Lagi)

Hal itu disampaikannya dihadapan sedikitnya 60 mahasiswa dari sejumlah kampus di Karesidenan Kedu yang mengikuti kegiatan Pelatihan Kader Dasar (PKD) yang digelar oleh Pengurus Cabang PMII Kabupaten Purworejo, Kamis-Sabtu (13-15/3) di Balai Desa Ngaran Kecamatan Kaligesing Purworejo.

"Mahasiswa harus jeli menyikapi setiap permasalahan yang ada. Jangan sampai gerakan mahasiswa ini menjadi bahan komoditas bagi oknum maupun segelintir orang untuk kepentingan selain kepentingan rakyat secara menyuluruh," tandasnya.

Siti Efi Farhati

Selain itu, ia mengingatkan, hakikat perjuangan PMII adalah melanjutkan perjuangan para ulama untuk menegakkan akidah ahlussunnah wal jamaah di bumi nusantara.

Siti Efi Farhati

"Tentu bukan hal yang mudah karena tantangannya akan banyak sekali ditemui di tengah perjuangan. Banyak pihak-pihak yang merongrong kedaulatan bangsa, baik melalui penjajahan ekonomi, politik, ekonomi maupun SDA," tandasnya.

Kegiatan kali ini bertema “Mengukuhkan Kedaulatan Sumber Daya Alam (SDA) Untuk Indonesia Yang Berdikari. Para mahasiswa diajak untuk lebih memperhatikan isu-isu? SDA di cabang masing-masing. Karena SDA menjadi sebuah potensi sekaligus ancaman bagi rakyat.

"Selama ini peranan mahasiswa terhadap pengawalan kedaulatan SDA sudah dirasakan oleh pemerintah daerah. Sinergitas ini perlu terus dijaga dan ditingkatkan agar ke depan eksplorasi lingkungan di Purworejo bisa diawasi bersama mengingat salah satu peranan mahasiswa sebagai agen social of control, agen social of change," tandas Gatot Seno Aji SE, Kepala Kantor Kesbangpol Purworejo saat membacakan sambutan Bupati.

Lebih lanjut Gatot berpesan agar PMII yang anggotanya merupakan mahasiswa terdidik juga turut mengawal nilai-nilai local yang mulai terkikis oleh percepatan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek). Menurutnya meski memiliki nilai positif, namun banyak juga nilai-nilai negative yang harus difilter.

"Kita perlu memahami dan menyadari tantangan global dan internal yang sedang dihadapi dan mengharuskan kita untuk lebih memperkuat jatidiri, identitas dan karakter sebagai bangsa Indonesia," tandasnya. (Lukman Hakim/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Syariah, Amalan Siti Efi Farhati

Jumat, 02 Februari 2018

Peduli Pendidikan, GP Ansor Santuni Anak Yatim Piatu

Jepara, Siti Efi Farhati. Sebagai bentuk kepedulian terhadap dunia pendidikan, GP Ansor Ranting Wonorejo kecamatan Kota kabupaten Jepara sudah beberapa tahun berjalan menyelenggarakan Santunan Anak Yatim dan Piatu se-Desa Wonorejo.?

Peduli Pendidikan, GP Ansor Santuni Anak Yatim Piatu (Sumber Gambar : Nu Online)
Peduli Pendidikan, GP Ansor Santuni Anak Yatim Piatu (Sumber Gambar : Nu Online)

Peduli Pendidikan, GP Ansor Santuni Anak Yatim Piatu

Kegiatan santunan yang dirangkai dengan pengajian umum dilangsungkan di Mushalla Al-Amin Desa Wonorejo, Ahad (09/10/16) malam itu menghadirkan KH M Rojih Ubab, cucu KH Maimun Zubair Sarang sebagai pembicara.?

700an Nahdliyin dari NU, Muslimat dan Ansor serta aparat desa hadir dalam even tahunan tersebut. Kesempatan itu, pihak Ansor Wonorejo menyantuni 43 anak yatim dan piatu.?

Puluhan anak yatim dan piatu itu merupakan hasil pendataan dari GP Ansor ranting setempat. Untuk batas anak yang memperoleh santunan maksimal berusia 13 tahun.?

Siti Efi Farhati

Salah satu panitia kegiatan, Ahmad Muzaiyin mengatakan dalam setahun kegiatan santunan digelar dua kali, bulan Muharram dan menjelang Idul Fitri. Adapun dana diperoleh dari sumbangsih warga, agniya serta kas Ansor.?

“Santunan yang kami berikan berupa uang dan bingkisan,” paparnya mewakili ketua Ansor Wonorejo, Kusmanto.?

Siti Efi Farhati

Jika anak yatim dan piatu tersebut masih duduk di bangku madrasah, maka lanjut Zayyin uang syahriyah-nya ditanggung oleh pihak Ansor.?

Dijelaskannya, menyantuni anak yatim merupakan tanggung jawab bersama dan kegiatan tersebut merupakan salah satu program unggulan Ansor Wonorejo.?

Karena kegiatan tersebut terbilang positif, ia berharap juga ditiru oleh Ansor maupun organisasi yang lain. Dirinya menekankan, peduli terhadap anak-anak yatim tidak hanya sekadar memberi tetapi lebih dari itu tanggung jawab untuk merampungkan pendidikannya merupakan kewajiban semua pihak, termasuk di dalamnya adalah Ansor. Hal itu dilakukan agar mereka tidak terlantar di kemudian hari. (Syaiful Mustaqim/Mukafi Niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Daerah, Amalan, IMNU Siti Efi Farhati

Selasa, 16 Januari 2018

IPNU Jakbar Adakan Tryout BPUN untuk Pelajar SMA

Jakarta Barat, Siti Efi Farhati. Pimpinan Cabang IPNU Jakarta Barat memfasilitasi siswa-siswi SMA dan sederajat dalam ujian tryout Bimbingan Pasca Ujian Nasional (BPUN). Ratusan  di SMAN 57 jalan Kedoya Raya, kelurahan Kedoya Utara kecamatan Kebon Jeruk, Jakbar, Rabu (23/4). Puluhan pelajar dari sejumlah sekolah mengikuti ujian ini.

IPNU Jakbar Adakan Tryout BPUN untuk Pelajar SMA (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Jakbar Adakan Tryout BPUN untuk Pelajar SMA (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Jakbar Adakan Tryout BPUN untuk Pelajar SMA

“Kegiatan ini rutin kita adakan setiap tahun,” terang Ketua PC IPNU Jakbar Nahraji Zen.

Kegiatan ini, sambung Nahraji, bertujuan untuk memberikan bimbingan kepada seluruh siswa-siswi kelas 3 SMA dan sederajat untuk mempersiapkan mereka dalam mengikuti Seleksi Masuk Nasional Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).

Siti Efi Farhati

Tidak untuk perguruan tinggi tertentu. Tetapi, perguruan mana saja yang mereka minati, kata Nahraji.

Ujian ini diikuti pelajar kelas 3 dari sejumlah SMA. Mereka antara lain siswa-siswi SMAN 17 Jakarta, SMAN 57 Jakarta, SMK Al-Hamidiyah Jakarta, SMA Al-Kalmal Jakarta, dan beberapa sekolah lainnya.

Siti Efi Farhati

Nahraji mengucapkan terima kasih kepada walikota Jakarta Barat dan seluruh jajarannya yang telah mendukung kegiatan ini.

“Kita juga berterima kasih juga kepada Kepala Sekolah SMAN 57 yang menyediakan sekolahnya sebagai tempat tryout ini. Semoga hubungan silaturahmi antara IPNU Jakbar dan SMAN 57 terus terjalin,” pungkas Nahraji. (Yudhi Permana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Daerah, Amalan Siti Efi Farhati

Minggu, 14 Januari 2018

Majelis Alumni IPNU-IPPNU Bojonegoro Dikukuhkan

Bojonegoro, Siti Efi Farhati. Setelah berproses di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama-Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur ? beberapa tahun. Para alumni akan dikukuhkan menjadi majlis alumni di hotel Aston Bojonegoro, Ahad (30/7).

"Majelis alumni ini untuk menjalin tali silaturrohim antar sesama alumni IPNU-IPPNU kabupaten Bojonegoro dari masa ke masa, dan menumbuhkan rasa kerukunan dan kebersamaan antar alumni," kata Ketua majlis alumni Zainal Arifin.

Majelis Alumni IPNU-IPPNU Bojonegoro Dikukuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Majelis Alumni IPNU-IPPNU Bojonegoro Dikukuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Majelis Alumni IPNU-IPPNU Bojonegoro Dikukuhkan

Selain itu juga sebagai wadah tukar informasi antar alumni. Pasalnya setelah tidak aktif di IPNU-IPPNU Bojonegoro para kader beraktifitas dalam kegiatannya masing-masing. Sehingga melalui forum majlis alumni ini bisa mempersatukan kembali mereka.

Ditambahakan, selain pengukuhan juga dirangkai halal bi halal dan talk show yang bertemakan Kader IPNU-IPPNU Bersatu menuju kejayaan masa depan. Dalam agenda tersebut juga menghadirkan Khofifah Indar Parawansa (Mensos RI), Abdullahb Azwar Anas (Bupati Banyuwangi/Alumni IPNU) dan juga Arif Rohman (wakil Bupati Blora).

"Harapannya bisa memberikan motivasi pada kader IPNU dan majlis alumni bisa bersemangat dalam profesinya masing-masing," pungkasnya yang sekarang menjabat Sekretaris PC Ansor Bojonegoro. (M. Yazid/Fathoni)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Amalan Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati

Senin, 08 Januari 2018

Bentengi Moral, Wajibkan Makesta IPNU-IPPNU di Sekolah

Kudus, Siti Efi Farhati. Untuk kesekian kalinya Pimpinan Komisariat Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) SMK NU Ma’arif 2 Jekulo, Kudus, Jawa Tengah, mengadakan agenda Masa Kesetiaan Anggota (Makesta). Acara diikuti oleh 289 peserta kelas X dan dipandu oleh tim instruktur Pimpinan Anak Cabang (PAC) Kecamatan Jekulo. Selama dua? hari acara ini berlokasi di madrasah setempat dalam pembagian dua ruang terpisah, pada Kamis-Jum’at (14-15).

Bentengi Moral, Wajibkan Makesta IPNU-IPPNU di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Bentengi Moral, Wajibkan Makesta IPNU-IPPNU di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Bentengi Moral, Wajibkan Makesta IPNU-IPPNU di Sekolah

Wakil Kepala Urusan Kurikulum Madrasah, Mohammad Badawi, mengatakan, Makesta ini diadakan untuk menguatkan ideologi Ahlussunnah wal Jama’ah dan moral pelajar. Terdapat peningkatan jumlah peserta didik SMK NU Ma’arif 2, namun berasal tak hanya dari latar belakang NU. Karenanya, Makesta dirasa cukup penting untuk mengajarkan ihwal ke-NU-an pada para calon teknisi mesin, komputer dan jaringan ini.

“Kami tidak pernah pilih-pilih pelajar. Yang NU maupun selainnya, kami terima. Melihat semakin banyak gerakan-gerakan yang menggerogoti NU dan Aswaja, maka mereka perlu mengikuti IPNU-IPPNU. Apalagi gerakan Islam radikal juga meluas, mereka benar-benar perlu penyelamatan sejak dini,” terang Badawi yang juga mantan aktivis PMII semasa kuliahnya.

Siti Efi Farhati

“Moral juga yang kami tekankan di sini. Sekarang ini, PR terbesar para pendidik adalah soal moralitas pelajar. Terutama lagi untuk pelajar putri, mereka sangat rawan. Dibutuhkan penekanan aspek moral, agar selain pandai otomotif, juga berakhlakul karimah,” lanjut Badawi.

Siti Efi Farhati

Badawi juga mengatakan, pihaknya menjalin komunikasi dengan pengurus ranting. Ini dilakukan di antaranya untuk koordinasi agar peserta didiknya juga aktif dalam IPNU-IPPNU di desanya masing-masing.

Madrasah ini tengah berusaha menekankan peran Pimpinan Komisariat (PK). Sejak semula berdiri, madrasah memang telah menyelenggarakan agenda Makesta yang wajib bagi peserta didik baru. Namun sejauh ini, peran PK belum begitu optimal.

“Sejak berdiri, tahun 2009, madrasah telah mengadakan Makesta setiap tahun ajaran baru. Namun karena tergolong baru, Pimpinan Komisariat masih belum dapat aktif optimal dalam program kerjanya. Para pengurus cenderung lebih menginduk pada instruksi dari pihak madrasah. Ke depan, kami ingin agar Pimpinan Komisariat bisa lebih optimal lagi dalam menyusun dan melaksanakan progam kerjanya sendiri, tanpa harus menunggu instruksi,” terang Badawi.

Beberapa materi yang disampaikan saat Makesta berlangsung, yakni Ahlussunnah Waljama’ah, Ke-NU-an, Ke-IPNU-IPPNU-an, serta Keorganisasian. Selain IPNU-IPPNU, para peserta didik SMK NU Ma’arif 2 Kudus ini juga aktif dalam kegiatan ekstra pencak silat, Pagar Nusa. Setelah ini, rencananya mereka segera mengadakan diklat jurnalistik dan menerbitkan majalah. (Istahiyyah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Amalan Siti Efi Farhati

Kamis, 04 Januari 2018

Nadirsyah Hosen: Salurkan Aspirasi Lewat Mekanisme Demokrasi yang Ada

Setelah sistem kekhalifahan runtuh pada tahun 1924, dunia Islam terbelah menjadi dua: ada kelompok yang ingin mendirikan sistem khilafah lagi dan ada juga kelompok yang memilih sistem lain –seperti republik, kerajaan, kesultanan, dan lainnya- dari pada menghidupkan kembali sistem khalifah. Masing-masing memiliki pendukung dan argumen. 

Selain itu, muncul pula terma Islam politik dan politik Islam. Di beberapa negara yang penduduknya mayoritas Islam, terjadi polemik antara Islam politik dan politik Islam. Begitupun di Indonesia. Meski memiliki cara yang ‘berbeda’, namun keduanya memiliki semangat untuk menerapkan nilai-nilai Islam di dalah kehidupan berpolitik dan bernegara.

Nadirsyah Hosen: Salurkan Aspirasi Lewat Mekanisme Demokrasi yang Ada (Sumber Gambar : Nu Online)
Nadirsyah Hosen: Salurkan Aspirasi Lewat Mekanisme Demokrasi yang Ada (Sumber Gambar : Nu Online)

Nadirsyah Hosen: Salurkan Aspirasi Lewat Mekanisme Demokrasi yang Ada

Di Indonesia, juga ada kelompok yang mengaku membela Islam dengan menegakkan hukum-hukum Islam, tetapi mereka tidak bersedia untuk ikut berdemokrasi. Mereka menggunakan cara-cara di luar parlemen untuk membela Islam.

Lalu, bagaimana sebetulnya praktik Islam politik dan politik Islam di Indonesia saat ini? Dan bagaimana keduanya mewarnai demokrasi yang ada di Indonesia? Bagaimana menanggapi kelompok yang ada di ‘jalan’ dan tidak ikut berdemokrasi? 

Untuk menguraikan itu, Jurnalis Siti Efi Farhati A. Muchlishon Rochmat berkesempatan mewawancarai Rais Syuriyah PCINU Australia-New Zealand yang juga menjadi Dosen Senior Hukum di Universitas Monash Australia Prof Dr Nadirsyah Hosen atau biasa disapa Gus Nadir. Berikut hasil wawancaranya:

Siti Efi Farhati

Sebetulnya, apa perbedaan Islam politik dan politik Islam, Gus?

Sebenarnya sudah banyak buku dan tulisan yang membahas tentang Islam politik dan politik Islam. Intinya, Islam politik lebih menekankan dan menerapkan simbol-simbol atau atribut Islam di dalam berpolitik. Sementata, politik Islam lebih mengedepankan Islam sebagai sebuah nilai. Mereka tidak melulu menggunakan atribut-atribut Islam dalam kegiatan berpolitik.

Bagaimana Gus Nadir melihat praktik dari keduanya di Indonesia dalam konteks hari ini?

Siti Efi Farhati

Sekarang, di Indonesia terjadi tarik menarik antara keduanya. Ada sebagian yang mengikuti sistem politik yang ada, ikut pemilu. Lalu, mereka memperjuangkan Islam dengan gerakan-gerakan politik. Itu sah-sah saja. 

Tetapi sekarang ada orang yang berada di luar mekanisme demokrasi. Dia ada di jalanan dan tidak bersedia untuk ikut proses demokrasi tetapi dia mengklaim bahwa sedang membela Islam. Kalau dia ikut berdemokrasi, maka dia bisa membela Islam dalam konteks meloloskan kebijakan-kebijakan yang pro Islam. 

Tapi ada semacam ‘ketakutan’ dari masyarakat kalau ada partai yang mengedepankan Islam politik. Bagaimana itu, Gus?

Kita lihat partai-partai Islam misalkan seperti PKS. Ketika pertama kali muncul PKS dulu banyak orang yang khawatir. Tetapi sekarang kita melihat semakin lama PKS itu semakin demokratis.

Apa yang menyebabkan kok bisa seperti itu?

Proses demokrasi mendemokratiskan mereka. Jadi, proses demokrasi tidak membuat mereka menjadi menguat, membuat mereka ‘semakin Islami.’ 

Nah, ini berbeda dengan orang yang berada di jalanan dan tidak ikut proses demokrasi. Dia akan semakin mengeras. Misalnya Hizbut Tahrir Indonesia, sekarang mereka dibubarkan tetapi kan bisa daftar lagi nanti. 

Tetapi kalau mereka memang tidak anti-NKRI maka mereka harus mengikuti proses demokrasi seperti pemilu. Mereka bisa bertarung di sana. Tetapi kalau teriak-teriak di jalan dan menganggap demokrasi itu toghut dan kufur itu tidak dibenarkan. 

Jadi Apakah bisa disimpulkan bahwa mereka yang mengikuti mekanisme demokrasi akan ikut demokratis?

Saya percaya bahwa orang yang mengikuti mekanisme demokrasi Pancasila, dia akan tertarik ke tengah. Karena moderasi itu menjadi sebuah keniscayaan di dalam politik. Dia harus negosiasi dan mempertimbangkan isu-isu lain. 

Yang repot adalah mereka yang ada di ‘jalanan’ karena tidak ada proses yang menarik ke tengah. Yang ada mereka selalu menguat dan mengeras.  

Bisa dibuatkan simplifikasinya, Gus?

Misalnya tujuh juta orang yang ikut demo itu kalau dihitung sebagai perwakilan untuk kursi DPR itu akan dapat berapa kursi. Di jalanan mereka memang banyak, tetapi karena ada mekanisme demokrasi dan pemilu, kalau misalnya orang-orang tersebut dihitung dari daerah saja maka mereka hanya akan mendapatkan satu kursi saja di DPR. Karena ada sebaran kursi dan mekanisme yang harus diikuti.

Kalau banyak-banyakan massa, ya banyakan massa PKB di Jawa. Ini yang saya maksud, kalau kita masuk mekanisme maka kita akan tertarik ke tengah. Itulah politik. Dan silahkan perjuangkan lewat jalur itu. Tapi kalau kita kita tidak proses itu dan berada di ‘jalan’, yang terjadi adalah kita mempolitisasi Islam. 

Untuk menyikapi mereka yang ada di ‘jalan’ seperti itu apa?

Selama itu tidak melanggar aturan dan ketertiban umum, itu adalah bagian dari demokrasi dan kita apresiasi. Tapi ada aturan main dan aturan inilah yang seharusnya ditaati. Masalahnya mereka yang ada di ‘jalanan’ adalah para penyelundup demokrasi. 

Maksudnya penyelundup demokrasi?

Mereka menggunakan kosakata demokrasi tetapi sebenarnya ingin membunuh dan menghancurkan demokrasi. Misalnya seperti ini, mereka turun ke jalan adalah sebuah kebebasan mereka masing-masing. Tetapi jika isu yang diangkat adalah untuk menggoyang pilar bangsa, maka itu tidak diperkenankan. Kalau tidak ada izin, mereka juga tidak boleh melakukan turun ke jalan seperti itu. 

Di luar negeri, kalau melakukan demonstrasi juga harus memiliki izin dan rute yang jelas. Hal itu diterapkan karena ketertiban umum tidak boleh terganggu.   

Gus Nadir melihat demokrasi di Indonesia itu bagaimana?

Demokrasi membutuhkan kedewasaan dan butuh proses. Demokrasi kita baru sebentar, yaitu mulai tahun 1998. Kalau kita bandingkan dengan negara lain, lima puluh sampai tujuh puluh tahun pertama berdemokrasi mereka perang saudara. Kita tidak ada perang saudara. 

Pelan-pelan kita kita akan bergerak ke demokrasi yang lebih dewasa. Tetapi itu butuh waktu dan kesiapan institusi sosial termasuk ormas-ormas Islam. Bagaimana akan berdemokrasi kalau misalnya ada ormas Islam yang tidak demokratis. Misalnya ormas FUI, sekjennya tidak pernah berganti karena dari dulu hingga sekarang masih dipegang Al-Khatthat. Oleh karena itu institusi sosial juga harus diperkuat untuk menuju demokrasi yang lebih dewasa.

Ada anggapan bahwa Perppu tentang ormas bisa digunakan untuk menghantam lawan politik. Bagaimana menanggapi itu?

Kalau untuk menghantam lawan politik berarti yang dibubarin siapa. FPI kan bukan. Ini kah HTI yang dibubarkan. Yang salah itu bukan Perppu tetapi yang salah adalah pemerintah yang sebelumnya yang menerima HTI sebagai ormas.

Itukan persoalannya. Kenapa yang tidak sepakat dengan Pancasila dan UUD 1945 diakui dan dikasih berbadan hukum. Kalau mau membenarkannya kan susah.

Terakhir Gus, Bagaimana Islam Indonesia ini ke depan?

Menurut saya Islam di Indonesia akan menjadi contoh dunia. Saya optimis bahwa Islam di Indonesia akan menjadi contoh bagaimana membangun peradaban dunia. Dan NU akan menjadi salah satu mercusuarnya karena sedang bergerak ke arah sana. Kita bicara secara spiritual maupun bicara secara hitung-hitungan normal, kita sudah bergerak ke arah sana. Tapi itu butuh waktu. 

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Doa, Pondok Pesantren, Amalan Siti Efi Farhati

Selasa, 02 Januari 2018

Redam Hoax dan Radikalisme, BNPT Gencarkan Literasi Media

Jakarta, Siti Efi Farhati - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) merespon maraknya peredaran berita bohong (hoax) yang terindikasi menjadi salah satu penyebab penyebarluasan paham radikal terorisme. BNPT bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT), Dewan Pers, dan Geevv Indonesia akan mengadakan literasi media di 32 provinsi.

"BNPT dan FKPT sudah sepakat melaksanakan literasi media sebagai salah satu upaya meredam peredaran hoax. Beberapa pihak yang kami undang menjadi narasumber juga memberikan dukungannya," kata pendamping bidang Media Massa, Hubungan Masyarakat, dan Sosialisasi Subdit Kewaspadaan BNPT Andi Adry Alamsyah di Jakarta, Selasa (7/3).

Redam Hoax dan Radikalisme, BNPT Gencarkan Literasi Media (Sumber Gambar : Nu Online)
Redam Hoax dan Radikalisme, BNPT Gencarkan Literasi Media (Sumber Gambar : Nu Online)

Redam Hoax dan Radikalisme, BNPT Gencarkan Literasi Media

Adry mengatakan, forum Literasi Media sebagai Upaya Cegah Tangkal Radikalisme dan Terorisme akan diawali di Kendari, Sulawesi Tenggara. "Sultra sebagai titik awal kegiatan, dan akan dibuka secara langsung oleh Deputi I BNPT Abdul Rahman Kadir," tambahnya.

Beberapa pengurus komisioner Dewan Pers, lanjut Adry, siap terlibat sebagai narasumber dalam literasi media tersebut. Antara lain Yosep Adi Prasetyo atau akrab disapa Stanley, Imam Wahyudi, dan Anthonius Jimmy Silalahi.

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati

Pihak lain yang juga digandeng sebagai narasumber adalah Geevv Indonesia, sebuah start up berupa mesin pencari seperti Google, yang dibuat dan dioperasikan sejumlah anak muda mahasiswa Universitas Indonesia.

"Ini yang sangat menarik. Jadi Geevv Indonesia nanti akan mengenalkan bubble syndrome, sebuah kondisi di mana manusia tergiring memiliki kebiasaan mengakses laman-laman berisikan ajaran radikalisme, yang sebenarnya bisa dicegah," jelas Adry.

Melalui literasi media ini, BNPT berharap masyarakat bisa semakin waspada dalam membedakan berita dan informasi mana yang layak dikonsumsi dan ditolak, sehingga bisa mencegah dari kemungkinan terpapar paham radikal terorisme.

Secara umum kegiatan literasi media untuk meredam hoax ini akan dilaksanakan dalam tiga metode, yaitu visit media, dialog, dan lomba karya jurnalistik yang mengangkat tema Kearifan Lokal. (shk/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Amalan Siti Efi Farhati

Rabu, 22 November 2017

PBNU Dukung Tito Karnavian sebagai Kapolri

Surabaya, Siti Efi Farhati. Presiden Joko Widodo telah menunjuk Komjen Tito Karnavian sebagai calon tunggal Kapolri menggantikan Badrodin Haiti yang akan masuk massa pensiun bulan depan. Keputusan Jokowi ini dinilai berani oleh beberapa kalangan karena Tito melompati empat angkatan di atasnya.

Meski demikian dukungan kepada Tito untuk menjabat sebagai Kapolri terus mengalir, tak hanya dari kalangan seniornya di jajaran Kepolisian saja namun dukungan untuk Tito mengalir dari kalangan politikus maupun pimpinan ormas.

PBNU Dukung Tito Karnavian sebagai Kapolri (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Dukung Tito Karnavian sebagai Kapolri (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Dukung Tito Karnavian sebagai Kapolri

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menilai penunjukkan kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) ini sebagai Kapolri sudah tepat.

"Penunjukan Tito Karnavian sebagai Kapolri sangat tepat sekali. Sebagai Perwira Polisi Tito telah menunjukan kinerja yang baik sekali dan profesional di setiap jabatan yang diembannya. Terutama mampu mengatasi terorisme di Ibukota beberapa waktu lalu tak kurang dari lima jam," ungkap Kiai Said, Kamis (16/6) di Surabaya.

Kiai Said menambahkan, selain seorang pekerja keras Tito juga pribadi yang taat kepada agamanya, merakyat dan mudah bergaul dengan semua kalangan. "Usianya yang masih muda dan berpikiran cerdas tentu sangat potensial sekali untuk bisa membawa Kepolisian lebih baik lagi," tambahnya.

Siti Efi Farhati

Kedepan, dengan jiwa kepemimpinannya, penegakan hukum di Indonesia diharapkan akan berjalan lebih baik lagi. Dan jika nanti sudah disahkan dan dilantik oleh Presiden Jokowi, Tito harus tetap melanjutkan penataan dan reformasi ditubuh Polri seperti yang diinginkan oleh Presiden.

"Dan kami berharap kepada Kapolri yang baru bisa melanjutkan kerjasama yang apik dengan PBNU dalam rangka pencegahaan terorisme dan deradikalisasi serta pemberantasan Narkotika. Insyaallah kerjasama apik dengan Kapolri yang baru nanti semakin memberikan jaminan rasa aman kepada masyarakat Indonesia umumnya dan warga NU khususnya," pungkas Kiai Said. (Red-Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Kiai, Amalan Siti Efi Farhati

Penyair Akhir Zaman

Oleh Khairul Umam

;ketika pertanyaanmu dibalas tanya

Penyair Akhir Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Penyair Akhir Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Penyair Akhir Zaman

Ketika penguasa tak dapat menjawab persoalan

Kesejahteraan yang macet

Keadilan yang njlimet

Dan kemanusiaan yang ruwet

Siti Efi Farhati

Maka tuhan menciptakan penyair di dunia

Siti Efi Farhati

Seketika, hujan kata-kata sinis membasahi jidat para penguasa

Dibuatnya banjir gedung pemerintahan dengan kalimat-kalimat desakan

Konsep puisi sama halnya dengan demokrasi, katanya

Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat

Bahkan lebih luas, imbuhnya

Dari semesta, oleh semesta, dan untuk semesta

Atau jangan-jangan konsep puisi tak terbatas, sang penyair kebingungan

Hei penyair, apakah puisimu bisa memberi makan kami?

Kata seorang pengemis

Hei penyair, apakah puisimu bisa mengembalikan rumah kami yang digusur?

Kata seorang transmigran

Hei penyair, apakah puisimu bisa mengairi sawah-sawah kami yang kekeringan?

Kata seorang petani

Hei penyair... Hei penyair... Hei penyair...

Tiba-tiba penyair dibuat pusing dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa ia jawab itu

Begini saja,

Saya mau istikhoroh dulu

Ooo dasar penyair

Kerjaannya selalu nyepi

Kalu gak nyepi ya ngopi

Yogyakarta, 2017

?

Penulis dikenal juga Bani Kamhar yang sering disebut sebagai penyair salon oleh teman-temannya, warga di Paguyuban Alumni Nurul Jadid Yogyakarta (PANJY) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Rayon Pondok Syahadat Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.



Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati RMI NU, Kajian, Amalan Siti Efi Farhati

Minggu, 19 November 2017

Revolusi Mental, Khayalan atau Pelaksanaan?

Oleh Gatot Arifianto



Apalagi

Revolusi Mental, Khayalan atau Pelaksanaan? (Sumber Gambar : Nu Online)
Revolusi Mental, Khayalan atau Pelaksanaan? (Sumber Gambar : Nu Online)

Revolusi Mental, Khayalan atau Pelaksanaan?

Yang bisa kita lakukan

Bila kata kehilangan makna

Kehidupan kehilangan sukma

Manusia kehilangan kemanusiaannya

Siti Efi Farhati

Agama kehilangan Tuhannya



(Penggalan sajak KH A Mustofa Bisri atau Gus Mus, "Jadi Apa Lagi?")

Siti Efi Farhati

Hasil-hasil survei internasional sering menunjukkan bahwa dalam hal baik, angka untuk Indonesia cenderung rendah, tetapi dalam hal buruk cenderung tinggi. Hingga saat ini, Indonesia masih mempunyai sejumlah permasalahan perlu dirampungkan. Hal tersebut barangkali tapi pasti, melatarbelakangi adanya gagasan Revolusi Mental. Namun bagaimana mewujudkannya dan siapa terlibat? Ataukah hanya sebatas khayalan politik, yang artinya, kurang lebih akan bernasib sebagaimana mimpi yang tak mampu melepaskan diri dari ilusi?

Berawal dari pemilihan calon presiden RI ke-7, Revolusi Mental mengemuka. Calon presiden nomor urut 2, Joko Widodo didampingi calon Wakil Presiden Jusuf Kalla bertekad mengangkat kembali karakter bangsa yang telah mengalami kemerosotan dengan secepat-cepatnya dan bersama-sama (revolusioner). Gayung bersambut, tak hanya politisi, artis, seniman hingga masyarakat menyambut antusias.

Dengan dua padanan kata itu, ada harapan tercipta perubahan bagi Indonesia yang berdasarkan data Tranparency International menunjukkan persepsi tentang tingkat korupsi di sektor publik, dari 177 negara dan dengan 177 skor, berada di rangking 114 dengan skor 32. Dan pada 2008 dicatat dalam Guinness Book sebagai negara dengan tingkat kehancuran hutan tercepat di antara negara-negara yang memiliki 90 persen dari sisa hutan di dunia atau menghancurkan luas hutan setara dengan 300 lapangan sepakbola setiap jamnya.

Begitu pula dengan persoalan lain meski dirampungkan Indonesia, seperti kemiskinan, pengelolaan sumber daya belum optimal, lemahnya penegakan hukum, kesenjangan sosial, peringkat dua penyumbang sampah plastik di laut, keamanan, perilaku konsumstif, hubungan eksploitatif antara kapitalis dan buruh, hingga maraknya peredaran narkoba.

Revolusi Mental Versus Pembiaran



Perjuangan, ujar W.S Rendra, adalah pelaksanaan kata-kata. Terpilih sebagai pemimpin bangsa, Presiden Joko Widodo harus mampu mengajak, menyemangati dan meyakinkan masyarakat Indonesia merealisasikan Revolusi Mental yang berkemungkinan mewujudkan harapan Presiden Sukarno: "Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2 ½ sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita", yang menjelang 71 tahun Indonesia merdeka, masih jauh panggang dari api.



Jika Revolusi Mental adalah pola baju, seserius apa upaya ditempuh untuk mewujudkannya menjadi pakaian siap dikenakan? Ada kecemasan Revolusi Mental tidak terealisasikan dengan baik. Ini bukan persoalan pesimis. Namun bagaimana kebijakan tegas diambil untuk menerjemahkannya! Sehingga Revolusi Mental bisa pula merealisasikan konsep tiga kekuatan yang berfungsi sebagai kesaktian bangsa atau Tri Sakti, yakni "berdaulat dalam politik", "berdikari dalam ekonomi" dan "berkepribadian dalam kebudayaan".

Adakah jalan menuju "nation building" dan "character building" yang menurut Putra Sang Fajar harus diteruskan sehebat-hebatnya demi menunjang kedaulatan politik Indonesia sudah dibangun? Dengan apa? Pendidikan yang salah kaprah dipandang sebagai tugas guru dan sekolah semata? Kebijakan tegas dan jalan mewujudkan cita-cita mulia tersebut sepertinya masih remang. Yang tampak jelas justru ketidakmungkinan terjadinya Revolusi Mental melalui pembiaran banyaknya tontonan sekaligus tuntunan murahan di televisi-televisi yang meragukan mampu membangun kreativitas dan karakter anak-anak bangsa.

Mungkinkah generasi yang melulu dijejali fiksi tanpa visi, mengabaikan "character building" akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang mampu menjawab beragam persoalan bangsa dan tantangan zaman yang akan semakin besar? Mungkinkah 1.000 guru melahirkan 1.000 murid bagus jika pahlawan-pahlawan tanpa tanda jasa sekolah kita kalah "memikat" dengan "guru-guru elektronik" yang rajin menjejali murid-murid di luar jam belajar dengan fiksi sampah? Adakah industri televisi yang tidak bervisi untuk kemajuan bangsa yang mengutamakan suplemen kapitalisme (iklan) mampu menopang tercapainya Revolusi Mental di negeri dengan jumlah pengguna narkoba mencapai 5,9 juta orang (BNN, November 2015)?

Kondisi lama itu kini ditambah lagi dengan masifnya generasi muda menjauh dari persoalan terjadi pada bangsa Indonesia. Persoalan ketahanan pangan seolah hanya tanggung jawab petani tanpa upaya tegas menyiapkan regenerasi. Generasi bangsa Indonesia hari ini lebih akrab dengan fantasi daripada sawah adalah fakta tidak dipungkiri. Mereka lebih karib dengan games, dan terkini, keranjingan berburu monster virtual.

Mengapa mereka rela menghabiskan waktu yang belum teruji bisa menempa mereka menjadi individu berkarakter sebagaimana Sukarno, Hatta, Habibi, Gus Dur atau Mbah Sadiman yang seorang diri menghijaukan 100 hektar lahan hutan Bukit Gendol dan Bukit Ampyangan sisi tenggara lereng Gunung Lawu? Mengapa pula generasi-masyarakat Republik Indonesia yang memiliki 28,59 juta penduduk miskin (BPS, Maret 2015) dengan ikhlas justru gotong-royong menyetorkan uang untuk asing? Kenapa demikian? Barangkali ada kejenuhan massal atas beragam persoalan bangsa tak kunjung rampung.

Merujuk fakta di atas, pemerintah harus bergegas menjawab persoalan itu mengingat bukan sesuatu yang remeh bagi keberlangsungan suatu bangsa di masa mendatang. 321.752 kasus kekerasan terhadap perempuan atau sekitar 881 kasus setiap hari (Komnas Perempuan, 2015) hingga riset sebanyak 68 persen siswa SD sudah pernah ikut-ikutan mengakses situs porno adalah persolan nyata dan membutuhkan penanganan serius.

Apakah pembiaran berlangsungnya hal-hal yang berlawanan dengan pembangunan karakter mampu menopang cita-cita diharapkan? Bukankah itu merupakan kemustahilan mewujudkan harapan dan gagasan baik tengah diupayakan? Apa yang akan terjadi seumpama finasial, waktu dan energi generasi bangsa tersebut dihimpun? Bukankah akan lebih bermakna dan menjadi potensi besar untuk mendukung tercapainya pembangunan nasional?

Implementasi Tepat Wujudkan Revolusi Mental



Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata "revolusi" mengacu pada kata "perubahan" yang berakar kata "ubah". Salah satu syarat mewujudkan perubahan adalah menggambarkan keuntungan masyarakat pada masa yang akan datang supaya tercapainya taraf kehidupan lebih baik. Sesuatu yang secara konsep pada mulanya diterima akal sehat. Adapun kata mental berasal dari bahasa Latin, mens atau metis yang memiliki arti jiwa, nyawa, sukma, roh, semangat. Singkatnya, mental ialah hal-hal yang berkaitan dengan psycho atau kejiwaan yang dapat mempengaruhi perilaku individu. Mental individu yang positif, tentu akan menopang terjadinya perubahan dibutuhkan masyarakat bangsa dengan baik sebagaiamana semangat Revolusi Mental. Sebaliknya?

Amerika Serikat membangun karakter masyarakatnya menggunakan waktu dengan baik, bertahap, sederhana, tapi serius dan realistis. Salah satu melalui tontonan-tuntunan (industri perfilman) yang selalu menyatakan mereka bangsa unggul, bangsa pemenang, bukan bangsa pecundang. Bukankah pertempuran Fire Base Ripcord sejatinya dimenangkan Vietnam? Namun dengan memproduksi puluhan film-film bertemakan perang Vietnam. Dari layar lebar seperti film Rambo hingga film seri "Tour of Duty", mereka mengubah fakta menjadi fiksi yang memotivasi dan menghipnotis psikologi-"mind set" masyarakatnya dengan menyatakan diri menang melawan gerilyawan Vietnam. Dalam konteks kreatif dan fiksi, hal itu bukan sesuatu yang salah karena memang bukan fakta. Dan dari upaya-upaya itu, jelas ada dampak maslahat hendak dicapai Amerika di masa mendatang.

Bagi Amerika, kreativitas tersebut adalah kesadaran pentingnya pembangunan karakter masyarakat bangsa sebagai investasi jangka panjang yang tidak mungkin selesai seperti membuat mie instans. Suatu upaya yang diam-diam mengingatkan dua hal. Pertama pemikiran Mohammad Hatta: Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekadar nama dan gambar seuntaian pulau di peta. Kedua QS. Ar-Raad : 11, "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri".

So, jika 90 persen produk industri televisi kita berikut pemerintah abai terhadap kemajuan bangsa melalui pembangunan karakter generasinya. Jika pemerintah tidak memiliki kebijakan tegas untuk membangun karakter generasi bangsa, barangkali tapi pasti, kita diam-diam sepakat merayakan dengan bangga kemunduran suatu bangsa.

Jalan raya panjang memang mustahil dirampungkan seorang pekerja. Tapi ribuan pekerja hanya akan menghasilkan jalan raya dengan kualitas buruk tanpa mengindahkan kesepakatan hingga tidak adanya kontrol serius, baik dan tegas dari pemimpin di lapangan. Untuk terwujud, harapan dan optimisme perlu implementasi tepat! Revolusi Mental tidak boleh kehilangan makna oleh tontonan-tuntunan murahan dan gempuran permainan asing yang mempunyai tingkat bahaya sebagaimana narkoba. Atau memang sebagai bangsa dengan penduduk Islam mayoritas di dunia, kita keberatan memahami Al-Ashr dan Ar-Raad:11? Jika demikian, mari sederhanakan, minum kopi, teh atau wedang jahe sembari membaca sajak Sebatang Lisong yang ditulis W.S Rendra 17 Agustus 1977.

Penulis adalah Nahdliyin, bergiat di Ansor, Pergunu, Lesbumi, Sarbumusi, Gusdurian, AJI dan SIEJ. Tinggal di Lampung. Twitter @sineasastra; Facebook BPUN Waykanan.Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Amalan, Makam, Pemurnian Aqidah Siti Efi Farhati

Rabu, 15 November 2017

Solusi Krisis Rohingya Menurut Rohingya

Coxs Bazar, Siti Efi Farhati. Selagi Antara asyik berbicara dengan seorang pria Bangladesh yang berada di sekitar pengungsi Rohingya di kamp pengungsi Ukhia, Coxs Bazar, dalam Bahasa Inggris seadanya, Hafez Ullah antusias menyimak apa pun isi perbincangan kami.

Pria kurus kering itu sesekali tersenyum, terlihat jelas ingin mengutarakan sesuatu.

Solusi Krisis Rohingya Menurut Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
Solusi Krisis Rohingya Menurut Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

Solusi Krisis Rohingya Menurut Rohingya

Begitu Antara mengakhiri perbincangan dengan si pria Bangladesh, Hafez langsung mendekat untuk menumpahkan banyak hal mengenai Rohingya, Rakhine, Myanmar dan Aung San Suu Kyi.

"Saya belum pernah bertemu dan berbicara dengan orang asing sebelum ini," kata dia setelah Antara menanyainya soal nama dan asalnya, Kamis menjelang malam 28 September kemarin.

Hafez adalah orang Rohingya. Tidak seperti umumnya pengungsi-pengungsi Rohingya lainnya, dia dapat berbicara dalam Bahasa Inggris.

Juga tidak seperti umumnya pengungsi Rohingya yang lain, Hafez termasuk pengungsi terdidik.

Siti Efi Farhati

Memperkenalkan diri sebagai sarjana filsafat jebolan Universitas Rakhine State, Myanmar, Hafez mengaku berasal dari Maungdaw Myo. Ini adalah daerah yang menjadi episentrum konflik di Rakhine belakangan ini.

Siti Efi Farhati

Di daerah inilah, ratusan orang yang disebut teroris oleh Myanmar tetapi patriot oleh sebagian orang Rohingya, melancarkan serangan terkoordinasi ke beberapa pos polisi dan sebuah pangkalan militer Myanmar.

Fatal bagi mereka, tentara Myanmar membalas jauh lebih fatal dari serangan mereka, sampai akhirnya memaksa lebih dari separuh penduduk Rakhine lari tunggang langgang ke daerah-daerah yang dianggap aman, terutama melintasi Sungai Naf untuk mencapai Bangladesh.  Dan Hafez adalah salah satu dari mereka.

"Saya lari ke Bangladesh bersama istri dan kedua anak saya dengan berjalan kaki berhari-hari. Tiba di sini (Ukhia) sebelum Idul Adha lalu," kata Hafez.

Dia kini bergabung dengan puluhan ribu orang Rohingya lainnya di Ukhia di dekat perbatasan Bangladesh-Myanmar.

Mengembalikan martabat

Hidup di kamp pengungsian tidak lebih memedihkan dari hidup di Maungdaw.  "Tetapi martabat kami di sana (Myanmar) lebih rendah ketimbang jadi pengungsi di sini (Bangladesh)," kata Hafez.

Hafez tidak tahu kapan dia dan ratusan ribu pengungsi Rohingya lainnya bisa kembali ke Myanmar. Bagi dia, Rakhine, Arakan atau apa pun nama tempat ini disebut, adalah tanah airnya, tak ada yang bisa menggantikan itu.  

Pada 20 September, pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, mengutarakan rangkaian janji kepada dunia dan komunitas yang hanya disebutnya dengan  nama "muslim Rakhine". Salah satu janji dia adalah merepatriasi pengungsi Rohingya ke Myanmar.

"Yang dia katakan itu bohong," kata Hafez. 

Hafez skeptis janji itu diwujudkan oleh pemimpin Myanmar peraih Hadiah Nobel Perdamaian tersebut.

Sembilan hari lalu Suu Kyi berkata, "Kami sudah siap untuk memulai proses verifikasi (untuk repatriasi Rohingya), kapan pun itu."

Tetapi seperti umumnya pengungsi Rohingya, Hafez menilai janji itu kosong belaka. Dia menganggap apa yang dijanjikan Suu Kyi itu dilakukan di bawah aturan yang sebelumnya juga pernah dilakukan, dan terbukti tidak berdampak apa-apa. 

"Saya mengakui dia (Suu Kyi) punya niat untuk menyelesaikan masalah Rohingya, tapi sayang dia bukan penentu utama kebijakan," kata Hafez.

Bagi Hafez, penguasa nyata di Myanmar, termasuk untuk semua hal yang berkaitan dengan Rakhine dan Rohingya, adalah "tatmadaw" atau militer, yang saat ini dipimpin Jenderal Min Aung Hlaing.

"Min Aung-lah yang penguasa sesungguhnya di Myanmar," kata Hafez.

Pria satu istri dua anak ini melihat Suu Kyi terborgol oleh militer. Di mata Hafez, Suu Kyi hanya suar Myanmar kepada dunia, yang sebenarnya tak punya banyak kekuasaan, apalagi sampai tingkat paling praktikal.

Oleh karena itu Hafez pesimistis dengan rencana repatriasi yang digagas Aung San Suu Kyi. 

"Masalah Rohingya tidak sebatas memberikan kartu identitas penduduk, lalu dianggap selesai. Tidak! Masalah kami di Myanmar adalah soal mengembalikan martabat yang terinjak-injak," kata Hafez meninggikan intonasi bicaranya untuk menegaskan artikulasi pesannya kepada Myanmar dan dunia.

"Kunci mengatasi masalah Rohingya adalah bagaimana Myanmar mengembalikan dan menumbuhkan harga diri orang Rohingya," ulang Hafez.

Sumpah anak Rohingya

Harga diri memang menjadi hal prinsip bagi sebagian besar orang Rohingya, apalagi setelah mereka menyeberang ke Bangladesh dunia menjadi tahu betapa terinjak-injaknya harga diri dan martabat mereka.

Terlalu banyak cerita mengenai wanita-wanita yang diperkosa, anak-anak yang terpaksa menyaksikan orang tua mereka dibunuh di depan mata mereka sendiri. 

"Sampai-sampai ada seorang anak usia 12 tahun, baru 12 tahun!...yang bersumpah di depan saya bahwa suatu saat dia akan membalaskan dendam atas kematian orang tuanya," kata Aiman Ul Alam yang menjadi pemandu sekaligus penerjemah untuk misi-misi kemanusiaan Indonesia di Coxs Bazar.

Setiap hari Aiman mengantar orang asing, termasuk wartawan-wartawan luar negeri, untuk menemui para pengungsi Rohingya, sampai jauh ke pedalaman perbatasan Myanmar-Bangladesh.  Dari sinilah Aiman mendapatkan begitu banyak cerita mengenaskan soal Rohingya.

Dan itu tak dipungkiri oleh Hafez Ullah, kendati dia mengakui hidup di tempat pengungsian juga sangat menyulitkan.

"Tapi di sini kami punya tempat berteduh, tidak ada orang yang diperkosa, tidak ada orang yang dibunuh," kata Hafez.

Sulit untuk memverifikasi pengakuan Hafez dan umumnya pengungsi Rohingya, karena pemerintah Myanmar menutup rapat-rapat Rakhine seolah ingin mencegah dunia tahu apa yang sebenarnya terjadi di sana.

Tetapi ribuan pengakuan dan testimoni dari pengungsi terdokumentasi di mana-mana, baik di dalam maupun luar negeri.

Selama sekitar satu setengah jam berada di kamp pengungsian bersama tim Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar, Antara juga beberapa kali menjadi sasaran curhat pengungsi, tanpa tahu apa yang mereka omongkan.

Seorang di antaranya adalah perempuan berwajah teramat susah, dan tergoncang, yang terus berbicara dalam Bahasa Bengali-Rohingya.

Setelah memanggil Aiman, diketahui perempuan ini punya nama Hashina Ulfa.

"Sudah sepuluh hari di kamp ini. Suami saya dibunuh di depan mata saya sendiri dan kedua anak kami," kata Hashina. "Tolonglah kami."

Tolong, selain kata lapar, adalah yang kerap terlontar dari mulut para pengungsi Rohingya.

"Tolong, kabarkan keadaan kami ini kepada dunia, kepada negaramu, Indonesia," kata Hafez. (Antara/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Amalan, Nahdlatul Ulama, Tegal Siti Efi Farhati

Minggu, 05 November 2017

Wisudawan Terbaik UIN Sunan Ampel Juga Hafal Qur’an

Surabaya, Siti Efi Farhati. Wisudawan terbaik untuk program sarjana (S1) UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, Muhammad Najih Arromadloni S.Th.I, memiliki IPK 3,77 dan prestasi nonakademik yakni hafal Al Quran 30 juz.

Wisudawan Terbaik UIN Sunan Ampel Juga Hafal Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Wisudawan Terbaik UIN Sunan Ampel Juga Hafal Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Wisudawan Terbaik UIN Sunan Ampel Juga Hafal Qur’an

"Najih yang pernah mengenyam satu tahun pendidikan di Damaskus Syuriah itu berasal dari Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, prodi Tafsir Hadis," kata Rektor UINSA Prof Dr Abd. Ala MAg di sela mewisuda 1.416 sarjana di Surabaya, Sabtu.

Selain prestasi akademik dan nonakademik, Najih juga berprestasi secara sosial dengan mendirikan Center of Research for Islamic Studies Foundation (CRIS Foundation) yang merupakan sebuah yayasan yang berorientasi pada bidang penelitian.

Siti Efi Farhati

Ke-1.416 sarjana yang terdiri dari 20 orang Program Doktor (S3), 131 orang dari program Magister (S2), dan 1.265 orang dari program Sarjana (S1) yang berasal dari delapan fakultas, di antaranya Fakultas Adab dan Humaniora (149 mahasiswa).

Selanjutnya, Fakultas Dakwah dan Komunikasi (212), Fakultas Syariah dan Hukum (194), Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (380), Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (75), Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (103), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (58), dan Fakultas Psikologi dan Kesehatan (94).

Siti Efi Farhati

Wisudawan terbaik untuk Program Doktor diraih oleh Dr Sainun dengan IPK 3,83, sedangkan untuk Program Magister diraih oleh Rifki M.Pd.I dengan IPK 3,91 sebagai IPK tertingggi dari seluruh wisudawan ke-72.

Untuk Program Sarjana, IPK tertinggi pada masing-masing fakultas, antara lain diraih oleh Muhammad Najih Arromadloni S.Th.I dengan IPK 3,77 untuk Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, prodi Tafsir Hadis. Sementara untuk Fakultas Adab dan Humaniora disabet oleh Rika Santika S.Hum dari Program Studi (Prodi) Bahasa Inggris dengan IPK 3,70, lalu Fakultas Dakwah dan Komunikasi diraih Lukman Hakim S.I.Kom dari Prodi Ilmu Komunikasi yang meraih IPK 3,76, serta fakultas lain juga ada.

Sebelumnya (24/9), Universitas Airlangga (Unair) Surabaya melepas 76 orang dokter spesialis baru lulusan Program Pendidikan Dokter Spesialis-1 (PPDS-1) Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga/RSUD Dr. Soetomo Surabaya ke tengah masyuarakat. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Amalan Siti Efi Farhati

Kamis, 02 November 2017

Majalah Risalah Edisi 62: Mari Berzakat Melalui NU

Data Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) tahun 2012 menjelaskan bahwa potensi zakat di Indonesia sebesar Rp217 triliun. Jumlah ini hanya terealisasi Rp2,73 triliun atau hanya satu persen saja. Angka tersebut diperkirakan akan meningkat sekitar Rp300 triliun di tahun 2016. Jumlah itu adalah potensi yang sangat besar.

Data tersebut diungkapkan oleh Pemimpin Redaksi Majalah Risalah NU, H Musthafa Helmy dalam pengantar redaksinya. Majalah Risalah terbaru Edisi 67 tahun 2016 ini mengangkat topik utama, yaitu zakat bersamaan dengan momen menjelang Lebaran tahun 2016, utamanya program-program LAZISNU yang kini bertransformasi menjadi NU Care.

Majalah Risalah Edisi 62: Mari Berzakat Melalui NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Majalah Risalah Edisi 62: Mari Berzakat Melalui NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Majalah Risalah Edisi 62: Mari Berzakat Melalui NU

Untuk mempertajam topik bahasan, Risalah mengangkat wawancara eksklusif dengan Ketua PP LAZISNU H Syamsul Huda. Dalam obrolan panjang tersebut, NU Care-LAZISNU terus berupaya menjadi lembaga zakat profesional secara admnistratif untuk kepentingan warga NU dan masyarakat global.

Syamsul Huda menegaskan bahwa terma baru NU Care merupakan upaya rebranding agar LAZISNU mampu melebarkan sayap secara global untuk mengakomodasi zakat bukan hanya dari dalam negeri tetapi juga dari masyarakat di luar negeri. 

Agar proses pengumpulan zakat berjalan, usaha sinergi antarlembaga NU juga dilakukan oleh NU Care-LAZSINU. Untuk membantu di bidang kesehatan warga NU, NU Care menggandeng LKNU. Begitu juga dengan persoalan pendidikan dan beasiswa, mereka menggandeng LP Ma’arif dan RMINU. Demikian juga dengan lembaga lain yang sama-sama mempunyai peran strategis.

Disamping membahas zakat di kalangan warga NU, Risalah yang kali ini terbit setebal 74 halaman ini juga banyak membahas persoalan penting lain seperti jelajah Islam Nusantara yang dua bulan lalu dilaksanakan oleh PBNU. Kemudian forum strategis yang dilakukan oleh PP GP Ansor yang telah melaksanakan perhelatan Konferensi Besar (Konbes) di Cirebon hingga wafatnya Legenda Tinju Dunia, Muhammad Ali yang banyak menyedot perhatian dunia internasional.

Siti Efi Farhati

Secara khusus, Pemred Risalah NU Musthafa Helmy menulis ulasan mendalam tentang salah satu ulama Nusantara yaitu Syekh Abdusshomad Al-Palimbani. Ulama yang menulis salah satu kitab masyhur berjudul Hidayatus Salikin (ditulis 1192 H/1778 M) ini dibahas dari mulai profil, perjuangan, dan ekspedisinya dalam melakukan dakwah. Selengkapnya, selamat membaca! (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Amalan, RMI NU Siti Efi Farhati

Selasa, 31 Oktober 2017

PCNU Kudus Peringati Haul Gus Dur

Kudus, Siti Efi Farhati

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Kudus mengadakan peringatan  haul I  almarhum mantan Ketua Umum PBNU KH Abdurrohman Wahid di Aula Kantor PCNU Kudus, Ahad (16/1). Kegiatan yang dihadiri ratusan pimpinan ranting dan MWC NU se Kabupaten Kudus itu, berlangsung secara sederhana namun  penuh khidmat.



PCNU Kudus Peringati Haul Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Kudus Peringati Haul Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Kudus Peringati Haul Gus Dur

Berbagai rangkaian acara mulai bacaan Al-Quran, tahlil dan do’a bersama dikumandangkan  mulai pukul 09.00 WIB. Sejumlah kiai hadir Musytasyar PBNU KH.Ahmad Sya’roni Ahmadi, Rois PCNU Kudus KH Ulil Albab Arwani, Rois KH Mashum Ak, KH Abdul Fattah, dan jajaran Tanfidziyah PCNU Kudus. Dalam kesempatan tersebut, Musytasyar PBNU KH Sya’roni Ahmadi Al-Hafidz memberikan wejangan dan mauidhoh hasanah

Ketua PCNU Kabupaten Kudus KH Khusnan MS mengatakan kegiatan ini dimaksudkan untuk menghormati dan mendoakan Gus Dur yang telah berjasa membesarkan Nahdlatul Ulama dan ummatnya.

Siti Efi Farhati

“Meski telat waktu khaulnya, kita tetap mengenang Gus Dur sebagai guru bangsa dan ulama panutan ummat Nahdliyyin dan masyarakat umum. Meski telah tiada, sosok Gus Dur patut menjadi teladan atas ajarannya. Terutama tentang nasionalisme dan pluralisme yang selalu dikembangkan serta bermasyarakat, berbangsa dan  bernegara,” katanya.

Siti Efi Farhati

karenanya, lanjut Khusnan, Warga NU harus melanjutkan perjuangan Gus Dur. Karena yang dilakukan beliau mampu mengantarkan kehidupan di Indonesia semakin menghargai kebersamaan.

Kegiatan haul ini menurut Khusnan, sekaligus sebagai ajang koordinasi dan silaturrahim pimpinan cabang dengan dengan Majlis wakil Cabang (MWC) pimpinan ranting NU se kabupaten Kudus. Tujuannya, agar ada persamaan persepsi dan langkah dalam merealisasikan program-program NU ke depan.

“Begitu juga, menggelorakan ghiroh berjam’iyah agar NU bisa dirasakan oleh Nahdliyyin”katanya.

Saat ini, tambahnya, PCNU Kudus memprioritaskan program-programnya melalui lima harakah atau gerakan . Yakni Penguatan Faham dan pengamalan Ahlussunnah wal jama’ah, penguatan struktur organisasi NU dan Badan otonom, peningkatan sumber daya manusia, pengamanan aset-aset NU serta memperbanyak koordinasi dan silaturrahim.

“melalui koordinasi ini,  kita merealisasikan program dengan dukungan  bersama agar NU Kudus mampu memperjuangkan sesuai kebutuhan organisasi serta kepentingan ummatnya,” harap KH Khusnan.

Dalam acara koordinasi itu, sejumlah lembaga, lajnah dan banom NU mensosialisasikan program-programnya. Antara lain, program pendidikan, kesehatan, pertanian dan ke-masjidan yang akan dikembangkan oleh Nahdlatul Ulama kabupaten Kudus.

Selain jajaran PCNU Kudus, hadir juga Rois -katib  syuriah serta ketua – sekretaris tanfidziyah  MWC serta Ranting, pimpinan cabang dan PAC Muslimat NU se-kabupaten Kudus. (adb)Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Amalan, Humor Islam, Internasional Siti Efi Farhati

Senin, 30 Oktober 2017

Koramil Bekali Pramuka SMA Maarif NU Wasbang

Tegal, Siti Efi Farhati - Pangkalan Gugusdepan (Gudep) SMA Maarif NU Jatinegara, Tegal menggelar Pelatihan Pengelolaan Dewan Kerja (PPDK), Ahad (8/10) di sekolah setempat.

Wakil Kepala SMA Maarif NU Jatinegara Inamul Auva mengatakan, kegiatan pelatihan dimaksudkan untuk mempersiapkan pengurus dewan kerja Ambalan yang baru dalam mengelola kegiatan di pangkalan Gugusdepan.

Koramil Bekali Pramuka SMA Maarif NU Wasbang (Sumber Gambar : Nu Online)
Koramil Bekali Pramuka SMA Maarif NU Wasbang (Sumber Gambar : Nu Online)

Koramil Bekali Pramuka SMA Maarif NU Wasbang

"Dalam kegiatan itu, kita sengaja menggandeng Koramil Jatinegara untuk menyampaikan tentang pentingnya wawasan kebangsaan dan nasionalisme," ujarnya.

Harapannya, lanjut Auva, pengurus baru Dewan Kerja Ambalan Syarif Hidayatullah dan Siti Khodijah SMA Maarif NU Jatinegara sejumlah 30 orang akan lebih siap, disiplin dan cakap dalam mengelola Ambalan.

Siti Efi Farhati

"Selain itu, rasa kebangsaan dan nilai-nilai Nasionalisme dan Cinta tanah air juga wajib dimiliki oleh Pramuka Maarif NU," tandasnya

Dalam pelatihan itu, selain materi wawasan kebangsaan, diberikan pula materi tentang praktek PBB oleh Babinsa Koramil Adiwerna dan tatakelola Administrasi Dewan Kerja oleh pengurus Kwartir Ranting Jatinegara. (Hasan/Alhafiz K)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Amalan, Fragmen, Olahraga Siti Efi Farhati

Kamis, 05 Oktober 2017

Menelusuri Jejak Ki Ageng Rogosasi Tumang

Boyolali, Siti Efi Farhati. Bagi Masyarakat Tumang Boyolali, nama Ki Ageng Rogosasi tentu tak asing bagi mereka. Nama tersebut merupakan seorang penyebar Islam di daerah setempat, yang konon merupakan keturunan Sunan Ampel. Siti Efi Farhati mencoba untuk menelusuri jejaknya di Desa Tumang, Ahad (3/11).

Untuk mencapai Desa Tumang, yang terletak di lereng Gunung Merapi, dari Boyolali kota kami naik ke arah Cepogo. Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 km, sampailah kami di Cepogo. Beberapa kali kami mesti bertanya kepada penduduk setempat, karena letaknya yang cukup terpencil, sampai akhirnya kami menemukan sebuah komplek makam.

Menelusuri Jejak Ki Ageng Rogosasi Tumang (Sumber Gambar : Nu Online)
Menelusuri Jejak Ki Ageng Rogosasi Tumang (Sumber Gambar : Nu Online)

Menelusuri Jejak Ki Ageng Rogosasi Tumang

Di pintu gerbang, terdapat tulisan Rogosasi dalam bahasa Jawa. Namun, kami mesti naik dahulu, karena makam terletak di puncak sebuah tanah berbukit. Makam terletak di sebuah bangunan yang dikelilingi pohon-pohon besar. Sayangnya, sampai di makam, pintu masih terkunci. Kami pun berinisiatif untuk mencari juru kunci makam.

Siti Efi Farhati

Dari penuturan salah seorang warga, kami ditunjukkan sebuah rumah milik Muhammad Isnin, sang juru makam. Namun, rupanya keberuntungan sedang tidak berpihak dengan kami. Juru makam yang kami harapkan bisa kami korek informasi, pergi ke Blitar.

Siti Efi Farhati

Pangeran Mataram Islam

Tak ingin pulang dengan tangan hampa, kami menemui salah seorang warga setempat, Sritanto. Dari keterangannya, kami mendapat sebuah fakta menarik, bahwa Ki Ageng Rogosasi ternyata masih ada hubungannya dengan Kiai Hasan Munadi Nyatnyono (Ungaran), soerang tokoh yang diyakini banyak orang sebagai seorang waliyullah. Juga tentang jalur kelimuannya. “Ki Ageng Rogosasi merupakan murid dari Sunan Kalijaga,” ungkap Sritanto.

Dari beberapa informasi yang kami kumpulkan, Ki Rogosasi ini juga merupakan seorang Pangeran Kerajaan Mataram Islam, yakni putera pertama Amangkurat I dari permaisuri Ratu Labuhan.

Bersama Ki Empu Supandriya, Rogosasi menyebarkan Islam di sana, dengan mendirikan sebuah masjid dan padepokan di daerah Gunungsari Tumang. Jejak ajarannya oleh masyarakat Tumang, salah satunya dikenal dengan nama Pelajaran Tauhid Panembah Sejati Tunggal.

Di masa setelah meninggalnya, makamnya sering didatangi para peziarah dari berbagai daerah. Meskipun demikian, Menurut Sriyanto peringatan haul untuk Ki Rogosasi belum pernah diadakan. Baru pada tahun ini, warga yang didukung pihak kelurahan berencana untuk mengadakannya. “Jumat besok, rencana akan diadakan pertama kali haul Ki Rogosasi,” pungkasnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Amalan Siti Efi Farhati

500 Banser Sumut Gelar Apel Akbar

Jakarta, Siti Efi Farhati - Sebanyak lima ratus anggota Banser melangsungkan apel kesetiaan terhadap Pancasila di Lapangan Asrama Haji, Medan, Sumatera Utara. Mereka memperingati hari lahir Pancasila yang jatuh pada awal Juni.

Instruktur apel akbar ini adalah Ketua GP Ansor Sumut Mulia Banurea. Mereka melangsungkan apel Jumat (3/6) dengan tema Mewujudkan Kemandirian Bangsa Dalam Bingkai NKRI dan Pancasila.

500 Banser Sumut Gelar Apel Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)
500 Banser Sumut Gelar Apel Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)

500 Banser Sumut Gelar Apel Akbar

Sementara acara peringatan Harlah Ke-82 GP Ansor dihadiri tokoh NU Sumut Ir Husni Kamil Manik yang juga Ketua KPU RI.

“Pada kesempatan ini kita mengadakan pengukuhan majelis zikir dan shalawat Rijalul Ansor dan pengukuhan Koperasi Ansor Sejahtera di aula Jabal Nur, Asrama Haji Medan,” kata Ketua PP GP Ansor Hasan Basri Sagala yang hadir di lokasi acara.

Siti Efi Farhati

Tampak hadir pada peringatan ini Gubernur Sumut Ir Tengku Ery Nuradi, Ketua PP GP Ansor Hasan Basri Sagala.

Siti Efi Farhati

Sebelumnya GP Ansor Sumut melangsungkan kaderisasi dengan instruktur Muhammad Adnan Anwar. Ia menyampaikan materi di LI 1 PW Ansor Sumut di Asrama Haji Medan, Rabu-Jumat (1-3/6). Sebanyak 62 peserta mengikuti pelatihan ini. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Amalan, Meme Islam, Fragmen Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock