Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Februari 2018

Spiritualitas Pembeda Unusia dengan Kampus Lain

Jakarta, Siti Efi Farhati

Ada orang yang beriman, tetapi tidak berilmu. Juga ada orang berilmu, sayangnya tidak beriman. Padahal Allah SWT mengangkat derajat orang-orang yang beriman sekaligus berilmu. Beriman sekaligus berilmu itulah yang menjadi cita-cita Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia).

Demikian disampaikan Rektor Unusia Prof Dr Ir Maksoem Machfoedz pada? ceramah ilmiah berjudul “Spiritualisasi Keilmuan” dalam rangka Dies Natalis Ke-1 Unusia di Aula Utama Unusia, Jalan Taman Amir Hamzah, Menteng Jakarta Pusat, Rabu (15/6).

Spiritualitas Pembeda Unusia dengan Kampus Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Spiritualitas Pembeda Unusia dengan Kampus Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Spiritualitas Pembeda Unusia dengan Kampus Lain

Peringatan ulang tahun pertama Unusia mengambil tema “Menuju Kampus Bermutu”. Dalam ceramahnya, Prof Maksoem pun mengambil analogi keilmuan yang ingin dikembangkan Unusia dengan spirit ibadah puasa.

Siti Efi Farhati

Pelaksanaan ibadah puasa harus mampu mengendalikan hawa nafsu. Bagi mahasiswi hendaknya menghindari perguncingan, dan mahasiswa harus mampu menjaga pandangan mata yang dapat mengundang syahwat. Puasa jangan sampai hanya mendatangkan derita lapar dan dahaga. Karena puasa bertujuan menjadikan manusia bertakwa.

Ketakwaan dapat dilihat dari beberapa dimensi, yaitu ubudiyah dan pembentukan karakter. Salah satu bentuk karakter takwa adalah keadilan. Keadilan mendekatkan pula kepada ketakwaan. Keadilan harus ditegakkan, walaupun berkaitan dengan orang terdekat, juga tidak peduli kaya atau miskin. Keadilan harus pula diaplikasikan melalui sikap kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Siti Efi Farhati

Prof Maksoem menegaskan semua tujuan itu dikaji, dibentuk dan diwujudkan dalam program studi-program studi yang diselenggarakan di Unusia. Adalah tantangan bagi keberadaan program studi humaniora dengan aneka pendekatan keilmuannya untuk menerjemahkan cita-cita dan amanat spiritual keadilan. Sudah tiba waktunya dipertanyakan eksistensi keilmuan Hukum ketika ketidakadilan justru menjadi raja diraja. Pertanyaan yang sama juga menjadi tantangan serius bagi Ilmu Psikologi, Sosiologi, Komunikasi sampai Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Penting direnungkan, lanjut Prof Maksoem, bahwa krisis ekonomi merupakan kegagalan keilmuan ekonomi baik dari sisi manajemen maupun akuntansinya. Tantangan keilmuan ekonomi adalah menerjemahkan ekonomi yang berkeadilan. Ilmu ekonomi yang selama ini diterapkan hanya memperhatikan keuntungan uang.

Menurut Prof Maksoem ilmu teknik juga sama saja, bahkan cenderung menjadi hamba kapitalis. “Pernahkah kita berpikir ada lulusan Sistem Informasi yang pro rakyat kecil? Umumnya mereka sangat pro kapitalisme dan liberalisme,” kata Prof Maksoem.

Setiap ada warga yang miskin, selalu yang disalahkan adalah kaum miskin tersebut. Kaum miskin dipersalahkan karena kalah bersaing, tidak belajar, dan dianggap pantas saja ada fakir miskin.

Prof Maksoem berasumsi, bila Allah tidak menyaratkan perhatian orang muslim terhadap kaum miskin, kira-kira apa ada puasa wajib? Bila tidak ada kepentingan dengan fakir miskin bisa jadi puasa Ramadhan tidak wajib. Karena salah satu hikmah berpuasa adalah membangun simpati dan empati kepada kaum miskin.

Puasa juga tidak lengkap apabila tidak ada kewajiban membayar zakat. Membayar zakat haruslah kepada orang yang berhak, salah satunya fakir miskin.

Prof Maksoem mendorong mahasiswa Unusia semua jurusan menjadi ilmuwan yang tidak hanya intelektual, tetapi ilmuwan yang bertindak untuk kemaslahatan umat. Ilmuan seperti itulah yang oleh Allah disebut ulama. Yakni mereka yang dengan ilmunya—ilmu apa pun, tidak harus ilmu agama—dapat memberikan manfaat bagi orang lain. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Makam, Nahdlatul Ulama, Pertandingan Siti Efi Farhati

Senin, 12 Februari 2018

Inilah Kriteria Bid‘ah Dhalalah dan Bid‘ah Hasanah

Assalamu ‘alaikum wr.wb.

Pengasuh rubrik Bahtsul Masail Siti Efi Farhati yang terhormat. Pada Rabu (20/4) siang, saya menyaksikan acara Aswaja TV yang salah satu poin bahasannya adalah "Tidak semua bid‘ah itu adalah dhalalah (sesat)."

Saya mau meminta penjelasan lebih lanjut perihal kriteria seseorang boleh membuat bidah hasanah. Berikutnya saya mohon diberikan contoh-contoh yang termasuk bidah hasanah. Demikian mohon penjelasannya. Terima kasih. (Sukron Mamun)

Inilah Kriteria Bid‘ah Dhalalah dan Bid‘ah Hasanah (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Kriteria Bid‘ah Dhalalah dan Bid‘ah Hasanah (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Kriteria Bid‘ah Dhalalah dan Bid‘ah Hasanah

Jawaban

Siti Efi Farhati

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman dan pembaca di mana pun berada, semoga selalu dirahmati Allah swt. Pada kesempatan ini kita mencoba melihat hadits-hadits Rasulullah SAW yang berkaitan dengan bid‘ah. Kita akan mengawalinya dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam An-Nasai berikut ini.

Siti Efi Farhati

? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?: «? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?»?

Artinya, “Dari Jabir bin Abdullah, ia mengatakan bahwa Rasulullah SAW dalam khothbahnya bertahmid dan memuji Allah SWT. Lalu Rasulullah SAW berkata, ‘Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tiada yang dapat menyesatkannya. Siapa yang Allah sesatkan jalan hidupnya, maka tiada yang bisa menunjuki orang tersebut ke jalan yang benar. Sungguh, kalimat yang paling benar adalah kitab suci. Petunjuk terbaik adalah petunjuk Nabi Muhammad SAW. seburuk-buruknya perkara itu adalah perkara yang diada-adakan. Setiap yang diada-adakan adalah bid‘ah. Setiap bid‘ah itu sesat. Setiap kesesatan membimbing orang ke neraka,’” (Lihat Ahmad bin Syu‘aib bin Ali Al-Khurasani, Sunan An-Nasai, Maktab Al-Mathbu‘at Al-Islamiyah, Aleppo, Cetakan Kedua, tahun 1986 M/ 1406 H).

Untuk memahami hadits riwayat An-Nasai, kita perlu menyandingkannya dengan hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan di Shahih Bukhari sebagai berikut.

? ? ? ? ?: "? ? ?" ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? "?": "? ? ? ? ? ? ? ? ? ?". ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? "?".

Artinya, “Ucapan Rasulullah SAW ‘Setiap bid‘ah itu sesat’ secara bahasa berbentuk umum, tapi maksudnya khusus seperti keterangan hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, ‘Siapa saja yang mengada-ada di dalam urusan kami yang bukan bersumber darinya, maka tertolak’. Riwayat kuat menyebutkan Imam Syafi’i berkata, ‘Perkara yang diada-adakan terbagi dua. Pertama, perkara baru yang bertentangan dengan Al-Quran, Sunah Rasul, pandangan sahabat, atau kesepakatan ulama, ini yang dimaksud bid‘ah sesat. Kedua, perkara baru yang baik-baik tetapi tidak bertentangan dengan sumber-sumber hukum tersebut, adalah bid‘ah yang tidak tercela,’” (Lihat Al-Baihaqi dalam Al-Madkhal, Halaman 206).

Imam Syafi’i dalam keterangan di atas jelas membuat polarisasi antara bid‘ah yang tercela menurut syara’ dan bid‘ah yang tidak masuk kategori sesat. Pandangan Imam Syafi’i kemudian dipertegas oleh ulama Madzhab Hanbali, Ibnu Rajab Al-Hanbali sebagai berikut.

? ? ? ? ?: ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Ibnu Rajab Al-Hanbali mengatakan, ‘Yang dimaksud bid‘ah sesat itu adalah perkara baru yang tidak ada sumber syariah sebagai dalilnya. Sedangkan perkara baru yang bersumber dari syariah sebagai dalilnya, tidak termasuk kategori bid‘ah menurut syara’/agama meskipun masuk kategori bid‘ah menurut bahasa,’” (Lihat Ibnu Rajab Al-Hanbali pada Syarah Shahih Bukhari).

Perihal hadits Rasulullah SAW itu, Guru Besar Hadits dan Ulumul Hadits Fakultas Syariah Universitas Damaskus Syekh Mushtofa Diyeb Al-Bugha membuat catatan singkat berikut ini.

(?) ?. (? ?) ? ? ? ?. (? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ?). (?) ? ? ? ? ?]

Artinya, “Siapa saja yang mengada-ada (membuat hal baru) di dalam urusan (agama) kami (agama Islam) yang bukan bersumber darinya (tidak terdapat dalam Al-Quran atau sunah, tidak berlindung di bawah payung hukum keduanya atau bertolak belakang dengan hukumnya), maka tertolak (batil, ditolak, tidak diperhitungkan),’ (Lihat Ta’liq Syekh Mushtofa Diyeb Al-Bugha pada Jamius Shahih Al-Bukhari, Daru Tauqin Najah, Cetakan Pertama 1422 H, Juz IX).

Izzuddin Abdul Aziz bin Abdussalam, ulama madzhab Syafi’i abad 7 H kemudian membuat rincian lebih detail perihal bid‘ah beserta contohnya seperti keterangan sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? -. ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Bid‘ah adalah suatu perbuatan yang tidak dijumpai di masa Rasulullah SAW. Bid‘ah itu sendiri terbagi atas bid‘ah wajib, bid‘ah haram, bid‘ah sunah, bid‘ah makruh, dan bid‘ah mubah. Metode untuk mengategorisasinya adalah dengan cara menghadapkan perbuatan bid‘ah yang hendak diidentifikasi pada kaidah hukum syariah. Kalau masuk dalam kaidah yang menuntut kewajiban, maka bid‘ah itu masuk kategori bid‘ah wajib. Kalau masuk dalam kaidah yang menuntut keharaman, maka bid‘ah itu masuk kategori bid‘ah haram. Kalau masuk dalam kaidah yang menuntut kesunahan, maka bid‘ah itu masuk kategori bid‘ah sunah. Kalau masuk dalam kaidah yang menuntut kemakruhan, maka bid‘ah itu masuk kategori bid‘ah makruh. Kalau masuk dalam kaidah yang menuntut kebolehan, maka bid‘ah itu masuk kategori bid‘ah mubah. Bid‘ah wajib memiliki sejumlah contoh,” (Lihat Izzuddin Abdul Aziz bin Abdussalam As-Salami, Qawaidul Ahkam fi Mashalihil Anam, Darul Kutub Ilmiyah, Beirut, Cetakan kedua, Tahun 2010, Juz II, Halaman 133-134).

Contoh bid‘ah wajib antara lain mempelajari ilmu nahwu (gramatika Arab) sebagai perangkat untuk memahami Al-Quran dan Hadits, mendokumentasikan kata-kata asing dalam Al-Quran dan Hadits, pembukuan Al-Quran dan Hadits, penulisan ilmu Ushul Fiqh. Sementara contoh bid‘ah haram adalah hadirnya madzah Qadariyah, Jabariyah, Murjiah, atau Mujassimah. Contoh yang dianjurkan adalah sembahyang tarawih berjamaah, membangun jembatan, membangun sekolah. Contoh bid’ah makruh adalah menghias mushhaf dengan emas. Sedangkan contoh bid’ah mubah adalah jabat tangan usai sembahyang subuh dan ashar, mengupayakan sandang, pangan, dan papan yang layak dan bagus. Contoh bid‘ah di Indonesia antara lain peringatan tahlil berikut hitungan hari-harinya, peringatan Isra dan Miraj dan lain sebagainya yang kesemuanya bahkan dianjurkan oleh agama. Contoh-contoh ini dapat dikembangkan sesuai tuntutan kaidah hukumnya seperti diterangkan Izzuddin Abdul Aziz bin Abdussalam.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Semoga pengertian dan pembagian bid‘ah di atas dapat menurunkan intensitas kontroversi di masyarakat perihal bid‘ah. Kami selalu terbuka dalam menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb


(Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nahdlatul Ulama, Halaqoh, Anti Hoax Siti Efi Farhati

Jumat, 09 Februari 2018

PBNU: Politik Transaksional Lahirkan "Pencuri"

Jember, Siti Efi Farhati. Maraknya politik transaksional karena ketidakdewasaan politisi dalam bersikap telah melahirkan konflik. Akibatnya kerukunan dalam keberagaman yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia tecerderai. Hal ini telah memperlemah posisi Pancasila.

PBNU: Politik Transaksional Lahirkan Pencuri (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Politik Transaksional Lahirkan Pencuri (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Politik Transaksional Lahirkan "Pencuri"

Hal tersebut dikemukakan Wakil Ketua Umum PBNU, H. As’ad Said Ali saat menjadi narasumber dalam Sarasehan Kerukunan Bernegara di Gedung Mas Soerachman, Universitas Jember, Jawa Timur, Senin (25/11).

Menurutnya, demi mengejar kekuasaan, para elite politik rela melakukan apa saja, termasuk demokrasi transaksional. “Seharusnya sistem demokrasi di Indonesia melahirkan tokoh politik yang memiliki sifat kenegarawanan, bukan malah menjamurnya pencuri yang menjadi politisi,” ujarnya.

Siti Efi Farhati

As’ad menambahkan, sejumlah konflik di tanah air banyak disebabkan karena ketidakdewasaan elit politik dalam “bermain”. Yang memilukan, katanya, konflik tersebut mulai dikembangkan dengan menggunakan isu agama.

“Saya tahu yang bermain itu adalah para elite. Sekarang yang menjadi korban rakyat kecil yang tidak tahu apa-apa,” sambungnya.

Siti Efi Farhati

As’ad berharap agar bangsa Indonesia kembali kepada Pancasila sebagai pegangan hidup. Pancasila memang dirancang untuk falsafah hidup bangsa Indonesia yang beranegka ragam budaya dan sukunya. “Kalau berbicara kerukunan bernegara ya Pancasila rujukannya,” ucapnya.

Sarasehan itu sendiri dihadiri para mahasiswa, aktivis, tokoh masyarakat  dan sejumlah kiai. Hadir dalam kesempatan tersebut, Sekretaris PCNU Jember, KH. Misbahussalam. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nahdlatul Ulama Siti Efi Farhati

PBNU Tindaklanjuti Hasil Munas-Konbes NU 2012

Jakarta, Siti Efi Farhati. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tengah menindaklanjuti berbagai keputusan Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2012 yang digelar di Cirebon pada pertengahan September lalu. Proses tindak lanjut akan melibatkan tim khusus.?



PBNU Tindaklanjuti Hasil Munas-Konbes NU 2012 (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Tindaklanjuti Hasil Munas-Konbes NU 2012 (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Tindaklanjuti Hasil Munas-Konbes NU 2012

Hal ini tampak dalam Rapat Gabungan Syuriyah-Tanfidziyah di kantor PBNU, Rabu (7/11), yang dihadiri Rais Aam PBNU KH MA Sahal Mahfudh, Wakil Rais Aam PBNU KH A Mustofa Bisri, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali.

Menurut Sekretaris Jendral PBNU Marsudi Syuhud, pihaknya telah membentuk tim khusus untuk merealisasikan sejumlah rekomendasi Munas, terutama menyangkut revisi undang-undang (UU) dan rancangan undang-undang (RUU).

Tim khusus yang dipimpin Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi dan Ketua PBNU Prof Maksum ini akan bekerja hingga ke tingkat uji materi di Mahkamah Konstitusi (MK). Munas NU menemukan banyak pasal dalam UU ataupun RUU yang tak sejiwa dengan Khittah Indonesia 1945.?

Siti Efi Farhati

Rencananya, PBNU juga akan proaktif menyosialisasikan hasil Munas NU kepada masyarakat luas, termasuk parakader NU yang tersebar di beragam posisi. “Kader-kader NU yang di partai, professional, akademisi, birokrat,” tambah Wakil Ketua Umum PBNU.?

Siti Efi Farhati

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nahdlatul Ulama, Khutbah Siti Efi Farhati

Rabu, 07 Februari 2018

Gus Rozin: LSN Hasilkan Talenta Bola Profesional dan Patriotik

Jakarta, Siti Efi Farhati. Kementerian Pemuda dan Olahraga bekerja sama dengan Asosiasi Pesantren NU se-Indonesia atau Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU menyelenggarakan Bimbingan Teknis Penyelenggaraan Liga Santri Nusantara (LSN) 2017 pada tanggal 14-16 Juni 2017 di Hotel Menara Peninsula Jakarta.?

Gus Rozin: LSN Hasilkan Talenta Bola Profesional dan Patriotik (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Rozin: LSN Hasilkan Talenta Bola Profesional dan Patriotik (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Rozin: LSN Hasilkan Talenta Bola Profesional dan Patriotik

Dalam sambutannya di acara pembukaan Bimtek, KH Abdul Ghaffar Rozin selaku Ketua Pengurus Pusat RMI NU dan sekaligus CEO LSN 2017 mengapresiasi pemerintah dan PSSI yang telah mendukung penyelenggaraan Liga Santri.

"Sebagai bagian terbesar bagi dunia pendidikan di Indonesia dan sekaligus sub-kultur bangsa ini, sudah seharunya kita berharap ke depan Liga Santri ini menjadi bagian resmi dari liga di lingkungan PSSI. Sepakbola adalah milik rakyat Indonesia, dan pesantren sebagia bagian terbesar dari bangsa ini tentu ingin berkontribusi di dalamnya," ujar Gus Rozin.

Dalam sambutan Bimtek yang diikuti perwakilan 32 region seluruh Indonesia itu Gus Rozin menyatakan, Menurut UU ? No. 3/2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional menyatakan bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk melakukan kegiatan olahraga, memperoleh pelayanan dalam kegiatan olahraga, memilih dan mengikuti jenis dan cabor yang sesuai bakat dan minatnya, memperoleh pengarahan dukungan, bimbingan, pembinaan dan pengembangan dalam keolahragaan, menjadi pelaku olahraga dan mengembangkan industri olahraga.

Siti Efi Farhati

?

Sebagai elemen sah yang turut memperjuangkan dan mendirikan Negara ini, Gus Rozin menambahkan, pesantren tidak saja akan berhenti dengan mencetak kader bangsa yang memegang teguh nilai-nilai kebangsaan dan ke-Indonesia-an, melainkan juga berkewajiban mempersembahkan insan-insan terbaik di semua lini kehidupan bangsa, termasuk di bidang sepak bola.

Siti Efi Farhati

Lebih-lebih, tidak ada olahraga yang lebih populis dibanding sepakbola. Sportivitas, universalitas dan insklusifitas tidak berkontradiksi dengan ajaran pesantren, bahkan sangat in-line dengan nilai-nilai pesantren yang mengedepankan kejujuran, moderatisme, toleransi, dan kesetaraan/keadilan.?

"Dengan bertemunya prinsip-prinsip kebangsaan dan kepesantrenan tersebut, kami haqqul yaqin kedepan kita hanya menghasilkan pemain bola profesional di negeri ini, melainkan lebih jauh kami akan menghasilkan pemain bola yang profesional, patriotik, yang mencintai negaranya melebihi sekat-sekat sektarianisme dan primordialisme. Inilah yang menjadi diferensiasi kami," pungkas putra almaghfurlah KH Sahal Mahfudz tersebut.

Hadir dalam acara ? tersebut antara lain Deputi Pembudayaan Olahraga Kemenpora, Isnanta, Asisten Deputi Olahraga Tradisional dan Layanan Khusus Kementerian Pemuda dan Olahraga, Bayu Rahadiyah dan perwakilan dari Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), Direktur Kompetisi, Efraim Ferdinand Bawole.

Seperti diketahui LSN tahun ini akan dimulai dengan kick-off Agustus 2017 dan ditutup dengan babak final pada bulan Oktober 2017. Pagelaran ini akan melibatkan seribu lebih pesantren dari Sabang hingga Merauke dan diikuti oleh 1.024 kesebalasan, 22.528 pemain, 990 pertandingan yang terdistribusi kedalam 32 region. (Ali/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nahdlatul Ulama, Santri Siti Efi Farhati

Senin, 05 Februari 2018

Banser Bantu Korban Longsor Karanggedang

Purworejo, Siti Efi Farhati. Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kecamatan Bruno, Purworejo, Jawa Tengah bergerak membantu pemulihan pasca terjadinya longsor di Desa Karanggedang, Kecamatan Bruno, Senin (30/10).

Dengan menggunakan peralatan seadanya, beberapa personil Banser membersihkan rumah dan jalanan dari timbunan material longsor. Selain itu, Ansor dan Banser juga telah menggalang dana untuk warga yang terdampak longsor.

Banser Bantu Korban Longsor Karanggedang (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Bantu Korban Longsor Karanggedang (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Bantu Korban Longsor Karanggedang

"Bantuan kepada keluarga korban berupa uang tunai dan sebagian bahan pangan," ungkap Ahmad Afif, ketua PAC GP Ansor Bruno yang dihubungi Siti Efi Farhati via aplikasi pesan singkat.

Afif, sapaan akrabnya, juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan bantuan melalui Ansor Banser Kecamatan Bruno.

Siti Efi Farhati

"Mudah-mudahan bisa meringankan beban yang terkena musibah," imbuhnya. 

Seperti banyak diberitakan, Desa Karanggedang diguyur hujan lebat pada Jumat (27/10) sore sampai malam hari dan menyebabkan satu orang meninggal dunia serta satu orang luka-luka. Selain itu, longsor juga merusak beberapa rumah dan menimbulkan material yang menutup akses jalan.

Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Purworejo Boedi Harjono pada Sabtu (28/10) memberikan keterangan bahwa, korban yang meninggal atas nama Tarsono (56) dan korban luka-luka adalah istri Tarsono, yang mengalami patah tulang paha sebelah kiri. (Ahmad Naufa/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Meme Islam, Nahdlatul Ulama, Khutbah Siti Efi Farhati

Selasa, 30 Januari 2018

12 Pastor Manca Negara Kunjungi Pesantren Tebuireng

Jombang, Siti Efi Farhati. Sejumlah pastor Serikat Jesuit yang berasal dari beberapa negara berkunjung ke Pesantren Tebuireng, Jombang, Rabu (9/8). Kunjungan tersebut merupakan rangkaian acara pertemuan rutin pastor yang tergabung dalam Jesuits Among Muslims (JAM) yang tahun ini digelar di Indonesia.

Dalam kunjungannya ke pesantren yang dipimpin KH Salahudin Wahid itu, Delegasi berjumlah 12 orang pastor yang dipimpin Romo Franz Magnis-Suseno SJ tersebut menyempatkan diri berziarah ke makam Presiden Ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).?

Dalam dialog yang berlangsung akrab dan dibalut nuansa kekeluargaan, anggota delegasi yang berasal dari Jerman, Perancis, Nigeria, Turki, India, Spanyol dan Roma itu menanyakan banyak hal tentang Islam dan pesantren.

12 Pastor Manca Negara Kunjungi Pesantren Tebuireng (Sumber Gambar : Nu Online)
12 Pastor Manca Negara Kunjungi Pesantren Tebuireng (Sumber Gambar : Nu Online)

12 Pastor Manca Negara Kunjungi Pesantren Tebuireng

"Salah satu pastor dari Jerman bahkan bertanya, apakah seorang nonmuslim bisa diterima belajar di pesantren," tutur Sekretaris Utama Pesantren Tebuireng KH Abdul Ghofar di Dalem Kasepuhan Tebuireng.

Mereka juga melontarkan pertanyaan terkait pola rekrutmen santri dan keberadaan santri perempuan. "Apakah di Pesantren Tebuireng juga ada santri perempuan dan bagaimana pola relasi keseharian mereka dengan santri putra," imbuh Gus Ghofar menirukan pertanyan pastur asal Nigeria.

Siti Efi Farhati

Yang tidak kalah menarik, dalam kesempatan tersebut, Romo Ignatius Ismartono SJ, salah satu anggota delegasi, menanyakan tingginya selera humor kaum santri dan warga Nahdlatul Ulama.

"Apakah di pesantren ada kurikulum atau faktor khusus yang membuat selera humor santri sedemikian tinggi?" tanya pria kelahiran Yogyakarta itu.

Siti Efi Farhati

Pertanyaan itu tentu saja mengundang tawa seluruh peserta dialog. Bukannya mendapat jawaban serius, pertanyaan Romo Ismartono justru memancing peserta dialog berbagi kisah humor yang banyak diceritakan oleh Gus Dur semasa hidupnya.

Sebelum meninggalkan Pesantren Tebuireng, para pastor itu sempat berkeliling di kawasan makam Gus Dur dan makam KH Hasyim Asy’ari pendiri NU dan pahlawan nasional. Paa pastor juga melihat langsung salah satu kamar santri dan berdialog dengan salah satu pembina santri.

Tampak ikut dalam rombongan tersebut, Romo Gregorius Sutomo SJ (seorang pastor yang berhasil menyelesaikan S3 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Wakil Rektor II Universitas Hasyim Asyari Tebuireng Muhsin Kasmin dan beberapa mudir di lingkungan Pesantren Tebuireng.(Muslim Abdurrahman).

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nahdlatul Ulama Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock