Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Maret 2018

Kultur Bumi Cendrawasih Dekat dengan Islam?

Jakarta, Siti Efi Farhati



Zakat adalah salah satu rukun Islam. Dan hal itu tidak bertentangan dengan kultur masyarakat Papua, ujar warga Kabupaten Jayawijaya, Papua, Tauluk Assho (60).

Kultur Bumi Cendrawasih Dekat dengan Islam? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kultur Bumi Cendrawasih Dekat dengan Islam? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kultur Bumi Cendrawasih Dekat dengan Islam?

Didampingi putranya, H Abu Hanifah Assho yang merupakan Ketua PC GP Ansor Jayawijaya, ia menjelaskan di daerahnya ada tradisi kurogo magasyarak yang artinya dipotong untuk berbagi.

“Itu kebiasaan setelah panen. Masyarakat di daerah kami biasa berbagi dengan cara seperti itu. Dan pembagiannya untuk siapa hingga yang berhak menerima siapa juga diatur,” kata dia, di Jakarta, Selasa (17/1).

Nama Assho menurut dia pula, terinspirasi dari Masjid Al-Aqsa, satu tempat suci agama Islam yang menjadi bagian dari kompleks bangunan suci di Kota Lama Yerusalem (Yerusalem Timur).

Siti Efi Farhati

“Saya tertarik masuk Islam karena Islam itu unik. Nilai-nilainya tidak jauh beda dengan kebudayaan kami,” papanrya.

Dalam hal pernikahan, contohnya kata Tauluk menjelaskan, juga tidak diperkenankan satu garis keluarga.

“Termasuk cara berinteraksi dengan masyarakat. Bagaimana cara makan, sama persis dengan Islam yang disyiarkan ke tempat kami,” ujar dia pula.

Siti Efi Farhati

Tauluk memeluk Islam sejak muda. Sejak itu, dirinya memperjuangkan dan mengajak masyarakat di daerah identik dengan sebutan Bumi Cendrawasih turut memeluk Islam kendati dengan sejumlah rintangan. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Internasional, Kajian Islam, Pertandingan Siti Efi Farhati

Minggu, 25 Februari 2018

Spiritualitas Pembeda Unusia dengan Kampus Lain

Jakarta, Siti Efi Farhati

Ada orang yang beriman, tetapi tidak berilmu. Juga ada orang berilmu, sayangnya tidak beriman. Padahal Allah SWT mengangkat derajat orang-orang yang beriman sekaligus berilmu. Beriman sekaligus berilmu itulah yang menjadi cita-cita Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia).

Demikian disampaikan Rektor Unusia Prof Dr Ir Maksoem Machfoedz pada? ceramah ilmiah berjudul “Spiritualisasi Keilmuan” dalam rangka Dies Natalis Ke-1 Unusia di Aula Utama Unusia, Jalan Taman Amir Hamzah, Menteng Jakarta Pusat, Rabu (15/6).

Spiritualitas Pembeda Unusia dengan Kampus Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Spiritualitas Pembeda Unusia dengan Kampus Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Spiritualitas Pembeda Unusia dengan Kampus Lain

Peringatan ulang tahun pertama Unusia mengambil tema “Menuju Kampus Bermutu”. Dalam ceramahnya, Prof Maksoem pun mengambil analogi keilmuan yang ingin dikembangkan Unusia dengan spirit ibadah puasa.

Siti Efi Farhati

Pelaksanaan ibadah puasa harus mampu mengendalikan hawa nafsu. Bagi mahasiswi hendaknya menghindari perguncingan, dan mahasiswa harus mampu menjaga pandangan mata yang dapat mengundang syahwat. Puasa jangan sampai hanya mendatangkan derita lapar dan dahaga. Karena puasa bertujuan menjadikan manusia bertakwa.

Ketakwaan dapat dilihat dari beberapa dimensi, yaitu ubudiyah dan pembentukan karakter. Salah satu bentuk karakter takwa adalah keadilan. Keadilan mendekatkan pula kepada ketakwaan. Keadilan harus ditegakkan, walaupun berkaitan dengan orang terdekat, juga tidak peduli kaya atau miskin. Keadilan harus pula diaplikasikan melalui sikap kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Siti Efi Farhati

Prof Maksoem menegaskan semua tujuan itu dikaji, dibentuk dan diwujudkan dalam program studi-program studi yang diselenggarakan di Unusia. Adalah tantangan bagi keberadaan program studi humaniora dengan aneka pendekatan keilmuannya untuk menerjemahkan cita-cita dan amanat spiritual keadilan. Sudah tiba waktunya dipertanyakan eksistensi keilmuan Hukum ketika ketidakadilan justru menjadi raja diraja. Pertanyaan yang sama juga menjadi tantangan serius bagi Ilmu Psikologi, Sosiologi, Komunikasi sampai Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Penting direnungkan, lanjut Prof Maksoem, bahwa krisis ekonomi merupakan kegagalan keilmuan ekonomi baik dari sisi manajemen maupun akuntansinya. Tantangan keilmuan ekonomi adalah menerjemahkan ekonomi yang berkeadilan. Ilmu ekonomi yang selama ini diterapkan hanya memperhatikan keuntungan uang.

Menurut Prof Maksoem ilmu teknik juga sama saja, bahkan cenderung menjadi hamba kapitalis. “Pernahkah kita berpikir ada lulusan Sistem Informasi yang pro rakyat kecil? Umumnya mereka sangat pro kapitalisme dan liberalisme,” kata Prof Maksoem.

Setiap ada warga yang miskin, selalu yang disalahkan adalah kaum miskin tersebut. Kaum miskin dipersalahkan karena kalah bersaing, tidak belajar, dan dianggap pantas saja ada fakir miskin.

Prof Maksoem berasumsi, bila Allah tidak menyaratkan perhatian orang muslim terhadap kaum miskin, kira-kira apa ada puasa wajib? Bila tidak ada kepentingan dengan fakir miskin bisa jadi puasa Ramadhan tidak wajib. Karena salah satu hikmah berpuasa adalah membangun simpati dan empati kepada kaum miskin.

Puasa juga tidak lengkap apabila tidak ada kewajiban membayar zakat. Membayar zakat haruslah kepada orang yang berhak, salah satunya fakir miskin.

Prof Maksoem mendorong mahasiswa Unusia semua jurusan menjadi ilmuwan yang tidak hanya intelektual, tetapi ilmuwan yang bertindak untuk kemaslahatan umat. Ilmuan seperti itulah yang oleh Allah disebut ulama. Yakni mereka yang dengan ilmunya—ilmu apa pun, tidak harus ilmu agama—dapat memberikan manfaat bagi orang lain. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Makam, Nahdlatul Ulama, Pertandingan Siti Efi Farhati

Jumat, 19 Januari 2018

Alumni Pesantren Turut Mencerdaskan Anak Bangsa Bersama Pemerintah

Surabaya, Siti Efi Farhati - Sekitar dua puluh lima ribu santri berkumpul di Masjid Al-Akbar Surabaya. Tercatat sekitar 450 bus terparkir di area Masjid. Para santri yang didampingi orang tuanya mengikuti acara Maulid Nabi Muhammad SAW dan Istighotsah Kubro ke 8 TPQ An-Nahdliyah dan madrasah diniyah se-Cabang Pondok Langitan Tuban.

Acara dihadiri Wakil Gubenur Jawa Timur H Saifullah Yusuf, KH Sholeh Qosim, KH Agoes Ali Masyhuri, KH Abdullah Faqih, KH Muhammad Ali Marzuqi, KH Munif Marzuqi, dan segenap Pengasuh Pesantren Langitan Tuban.

Alumni Pesantren Turut Mencerdaskan Anak Bangsa Bersama Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
Alumni Pesantren Turut Mencerdaskan Anak Bangsa Bersama Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

Alumni Pesantren Turut Mencerdaskan Anak Bangsa Bersama Pemerintah

Wakil Gubenur Jawa Timur mengapresiasi peran alumni Pesantren Langitan Kabupaten Tuban. Selama ini, ribuan alumni Pesantren Langitan dinilai sukses menjadi tokoh dan teladan bagi masyarakat di berbagai bidang.

Siti Efi Farhati

"Saya gembira dan senang sekali. Alumni Pesantren Langitan telah berkiprah di tempat masing-masing. Mereka menjadi tokoh, panutan dan guru. Semuanya itu diakui keilmuannya," kata Saifullah Yusuf di Masjid Al-Akbar, Surabaya (19/12).

Alumni Pesantren Langitan yang tersebar di seluruh Jawa Timur dan provinsi lain merupakan aset bangsa. Mereka bersama pemerintah telah berkontribusi meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) terutama di usia dini.

Siti Efi Farhati

"Pada usia satu sampai delapan tahun menentukan perkembangan anak. Untuk itu, perlu ditanamkan pendidikan karakter," ujarnya.

Menurut Ketua PBNU ini, terkadang alasan pertama menjadi seorang santri ingin mencari ilmu pengetahuan dan ilmu agama. Ketika santri ingin mencari keberkahan, maka ia harus hormat dan takzhim kepada muassis atau gurunya.

"Kesuksesan alumni menjadi tolok ukur dari seorang santri yang akan menimba ilmu di sebuah pesantren, kondisi inilah yang akhirnya diikuti oleh santri lainnya untuk terus belajar dan mengembangkan diri di pesantren," pungkas Gus Ipul.

Para tamu undangan dan para santri disambut langsung oleh Direktur Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya Endro Siswantoro. Endro menyampaikan terima kasih pada Pesantren Langitan yang telah memercayakan Masjid Nasional Al-Akbar sebagai tempat penyelenggaraan Peringatan Maulid Nabi dan Istighatsah Kubro ke-8.

"Masjid Nasional Al-Akbar merupakan masjid terbesar kedua se-Indonesia, setelah Masjid Istiqlal Jakarta. Kami senang sekali apabila acara seperti ini dilaksanakan kembali di Masjid Nasional Al-Akbar," kata Endro. (Rofi’I Boenawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pertandingan Siti Efi Farhati

Selasa, 16 Januari 2018

Pengobatan Gratis di Jombang Diserbu Ratusan Warga

Jombang, Siti Efi Farhati

Ratusan warga di Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur mendatangi lokasi pengobatan gratis yang diselenggarakan oleh panitia Hari Santri Nasional (HSN) di MI Nurul Islam Bareng, Kamis (20/10).

Pengobatan Gratis di Jombang Diserbu Ratusan Warga (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengobatan Gratis di Jombang Diserbu Ratusan Warga (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengobatan Gratis di Jombang Diserbu Ratusan Warga

Sebagian mereka datang lebih awal sebelum acara dibuka dan rela nunggu sembari mengikuti acara pembukaan. "Meraka datang sekitar pukul 06.30 WIB, padahal jadwal kita baru dibuka pukul 08.00 WIB," kata Minanur Rahman, koordinator tim pengobatan gratis kepada Siti Efi Farhati.

Mereka menunjukkan antusiasmenya dalam menyemarakkan Hari Santri Nasional. Minan menyampaikan, sebelumnya, panitia menyiapkan kupon peserta pengobatan gratis sebanyak 525. Kupon itu dikoordinasi pengurus MWCNU, dan badan otonom (Banom) NU di Bareng yang sudah diedarkan jauh hari sebelumnya.

Siti Efi Farhati

"Panitia membuat kupon sebanyak 525 untuk target peserta, yang diedarkan oleh pengurus NU Bareng. Namun Realisasinya, jumlah akhir tadi sebanyak 371 peserta pengobatan gratis," ujarnya.

Siti Efi Farhati

Jumlah peserta tersebut, menurut Minan, sudah mencapai target maksimal. Dari 371 kupon yang sudah diterima itu, 5 di antaranya khusus untuk pemeriksaan mata yang langsung ditangani dokter spesialis mata. "Kita juga menyiapkan dokter spesialis mata untuk masyarakat Bareng, ia akan menangani katarak dan obat dasar pengobatan mata," jelasnya.

Untuk diketahui, kegiatan pengobatan gratis itu merupakan kerja sama antar panitia penyelenggara dengan Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RSNU) Jombang. (Syamsul Arifin/Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pertandingan Siti Efi Farhati

Kartini Nyantri: Inspirasi Perjuangan

Oleh Fathoni Ahmad

Selama ini RA Kartini dikenal sebagai seorang bangsawan Jawa sekaligus priyayi, cara mudah bagi orang yang pertama kali medengar namanya cukup dengan membaca gelarnya, Raden Adjeng (RA). Raden Adjeng Kartini adalah putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kiai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI.

Secara spesifik, tulisan ini tidak bermaksud membahas geneologi atau silsilah Kartini, tetapi bagaimana pemikiran revolusionernya tumbuh di tengah tradisi paternalisitik yang kental di lingkungan keluarganya. Tidak bisa dipungkiri, kuatnya paternalisitk inilah yang membuat Kartini selalu mencari jawaban dari anomali yang terjadi. Mengapa peran perempuan seolah hanya menjadi pelengkap kehidupan laki-laki? Tentang jawaban pertanyaan ini, Kartini sudah membuktikan diri dan memberi inspirasi bagi para perempuan untuk berperan sesuai dengan kemampuannya di tengah masyarakat dengan tidak menanggalkan perannya sebagai ibu di rumah tangga dan sebagai perempuan sesuai fitrahnya.

Kartini Nyantri: Inspirasi Perjuangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kartini Nyantri: Inspirasi Perjuangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kartini Nyantri: Inspirasi Perjuangan

Masuk ke topik inti bahwa selain bangsawan Jawa, Kartini ? juga seorang santri. Dia nyantri dan belajar agama kepada Kiai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang, Jawa Tengah ? yang juga dikenal dengan Mbah Sholeh Darat. Sebelum melakukan perjuangan kemerdekaan peran perempuan, pola pikir Kartini terbentuk ketika belajar ngaji kepada Kiai Sholeh Darat. Sebelumnya, kegelisahan demi kegelisahannya muncul ketika fakta yang ada masyarakat hanya bisa membaca Al-Qur’an tetapi tidak diperbolehkan memahami artinya pada zaman itu.

Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis:

Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?

Siti Efi Farhati





Siti Efi Farhati

Al-Qur’an terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Al-Qur’an tapi tidak memahami apa yang dibaca.





Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.





Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?

RA Kartini melanjutkan kegelisahannya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim kepada Ny Abendanon.

Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Qur’an, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya.





Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kita ini terlalu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya.

Sampai akhirnya Kartini bertemu dengan Kiai Sholeh Darat untuk belajar ngaji dan menanyakan berbagai hal yang menjadi kegelisahannya selama ini terkait dengan tidak diperbolehkannya masyarakat memahami isi dan makna Al-Qur’an. Fakta sejarah yang ada, ternyata kebijakan ini datang dari para penjajah dengan asumsi jika masyarakat memahami Al-Qur’an, maka jiwa merdeka akan tumbuh. Tentu hal ini akan mengancam eksistensi kolonial itu sendiri. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa tidak banyak ulama saat itu yang menerjemahkan Al-Qur’an, bukan tidak mau dan tidak mampu, tetapi harus berhati-hati dengan kebijakan Belanda itu.

Fakta sejarah pertemuan antara RA Kartini dengan Kiai Sholeh Darat memang tidak diceritakan Kartini di setiap catatan surat-suratnya. Hal ini tidak lebih karena Kartini sendiri mengkhawatirkan keselamatan Mbah Sholeh Darat karena tidak tertutup kemungkinan kaum kolonial akan mengetahuinya.

Mbah Sholeh Darat sendiri dalam pengajian yang diberikannya kepada Kartini menjelaskan tentang tafsir surat Al-Fatihah. Hal ini seperti yang diceritakan oleh cucu Mbah Sholeh Darat, Nyai Hj Fadhilah Sholeh. Dalam ceritanya, Nyai Fadhilah mengisahkan:

Takdir mempertemukan Kartini dengan Kiai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.





Kemudian ketika berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak, RA Kartini menyempatkan diri mengikuti pengajian yang diberikan oleh Mbah Sholeh Darat. Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat al-Fatihah. RA Kartini menjadi amat tertarik dengan Mbah Sholeh Darat.





Kiai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kiai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang kiai.





Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.





Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kiai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kiai Sholeh.





“Kiai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.





Kiai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Adjeng bertanya demikian?” Kiai Sholeh balik bertanya.





“Kiai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al-Fatihah, surat pertama dan induk Al-Qur’an. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.





Kiai Sholeh kembali tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan, “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Qur’an ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al-Qur’an adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Dialog berhenti sampai di situ. Nyai Fadhila menulis Kiai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali berucap “Subhanallah”. Kartini telah menggugah kesadaran Kiai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Jawa.

Dari riwayat di atas, Kartini menemukan cahaya yang menerangi berbagai kegelapan pengetahuan dan ilmu yang selama ini melingkupinya dengan ngaji kepada Mbah Sholeh Darat. Inspirasi inilah yang membuat Kartini memberi judul buku yang berisi surat-suratnya dengan “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Secara historis, dalam pertemuan itu RA Kartini meminta agar Al-Qur’an diterjemahkan. Karena menurutnya, tidak ada gunanya membaca kitab suci tapi tidak memahami artinya. Namun pada saat itu pula penjajah Belanda secara resmi melarang penerjemahan Al-Qur’an. Mbah Sholeh Darat tetap melakukan penerjemahan, Beliau menerjemahkan Al-Qur’an dengan ditulis dalam huruf “Arab gundul” (pegon) sehingga tidak dicurigai dan dipahami penjajah.

Kitab tafsir dan terjemahan Al-Qur’an ini diberi nama Kitab Faidhur-Rohman, tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab pegon. Kitab ini pula yang dihadiahkannya kepada RA Kartini pada saat dia menikah dengan RM Joyodiningrat, seorang Bupati Rembang. ? Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan:

“Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ? ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kiai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa ? yang saya pahami.”

(Inilah dasar dari buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang ditulis RA Kartini, bukan dari sekumpulan surat-menyurat beliau. Dalam hal ini, substansi sejarah Kartini konon telah disimpangkan secara siginifikan). Melalui terjemahan Mbah Sholeh Darat itulah RA Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya yaitu:

“Orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya.” (QS. Al-Baqarah: 257).

Dalam sejumlah suratnya kepada Abendanon, Kartini banyak mengulang kata “dari gelap menuju cahaya” yang ditulisnya dalam bahasa Belanda, Door Duisternis Toot Licht. Oleh Armijn Pane, ungkapan ini diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang,” yang menjadi judul untuk buku kumpulan surat-menyuratnya.?

Surat yang diterjemahkan Kiai Sholeh adalah Al-Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Namun sayangnya penerjemahan Kitab Faidhur-Rohman ini tidak selesai karena Mbah Kiai Sholeh Darat keburu wafat.

Dari perjumpaannya dengan Mbah Sholeh Darat itu, Kartini juga banyak memahami kehidupan masyarakat yang selama ini terkungkung penjajahan sehingga banyak memunculkan sikap inferioritas terutama di kalangan perempuan. Keterbukaan pandangan dan pemikiran Kartini dari hasil kawruh (belajar) kepada Mbah Sholeh Darat inilah yang membuat langkahnya semakin mantap untuk mengubah tatanan sosial kaum perempuan dan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Selamat Hari Kartini!

Penulis adalah Redaktur Siti Efi Farhati.

*) Tulisan ini disarikan dari berbagai sumber.

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Cerita, Pertandingan, Olahraga Siti Efi Farhati

Minggu, 14 Januari 2018

Mengabdi kepada NU Berarti Mengabdi Bangsa

Cirebon, Siti Efi Farhati. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) serta Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Cirebon melantik Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Kecamatan Lemahabang di Masjid Besar An-Nur, samping alun-alun Sindang Laut Kecamatan Lemahabang Kabupaten Cirebon pada Sabtu (24/8).

Ketua Pembina PAC IPNU Kecamatan Lemahabang Kabupaten Cirebon Sidik Kriyani menuturkan, bahwa pengabdian IPNU dan IPPNU sebenarnya tidak hanya kepada kebesaran nama Nahdlatul Ulama, karena mengabdi kepada NU berarti sekaligus mengabdikan diri kepada bangsa dan negara.

Mengabdi kepada NU Berarti Mengabdi Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengabdi kepada NU Berarti Mengabdi Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengabdi kepada NU Berarti Mengabdi Bangsa

“Prinsip kader NU tidak hanya li islahi Ahlus Sunnah Wal Jamaah, tetapi juga harus li islahi Negara Kesatuan Republik Indonesia, berjuang bersama-sama NU untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.” tutur sosok yang juga pengurus GP Ansor Kabupaten Cirebon tersebut.

Siti Efi Farhati

Sementara Ketua PC IPPNU Kabupaten Cirebon Putri Hidayani dalam sambutannya mengungkapkan, bahwa modal penting sebagai kader Nahdlatul Ulama adalah pengabdian tulus tak kenal lelah. Melalui badan otonom di tingkat pelajar inilah para remaja dapat belajar untuk menjadi pribadi yang baik dan bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

“Insya Allah, dengan mengabdikan diri kepada NU, kiai, dan bangsa, kita akan mendapatkan berkah dan manfaat yang tidak sederhana dan dibutuhkan bagi masa depan,” ungkap Putri.

Siti Efi Farhati

Dalam acara yang melantik 20 orang pengurus baru di masing-masing PAC IPNU dan IPPNU Kecamatan Lemahabang tersebut, hadir Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Lemahabang, Kompol Muslikh, dan Camat Lemahabang, Udin Syafrudin. Keduanya menuturkan rasa bangga atas terbentuknya kepengurusan baru dari sebuah organisasi yang di dalamya sarat dengan kesantunan dan akhlak yang baik. 

Redaktur     : Abdullah Alawi 

Kontributor : Sobih Adnan

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Bahtsul Masail, Pertandingan, Pemurnian Aqidah Siti Efi Farhati

Sabtu, 13 Januari 2018

Akhlak Agung Nabi Mampu Kelola Perbedaan

Kendari, Siti Efi Farhati. Peringatan Maulid Nabi tidak hanya sebatas rutinitas, tapi harus menjadi pelajaran penting. Akhlak agung Nabi dapat dijadikan pedoman karena mampu memimpin perbedaan, menjaga toleransi dan merawat persatuan. Sifat-sifat mulia Nabi dapat dijadikan teladan, utamanya dalam menyikapi dinamika kehidupan bangsa dan negara.

Demikian di antara harapan HM Arfah, Kepala Biro Kesra Setda Provinsi Sulawesi Tenggara dalam sambutannya mewakili Plt Gubernur dalam Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diselenggarakan oleh PWNU Sultra, Ahad (10/12) di Kantor PWNU Sultra.

Akhlak Agung Nabi Mampu Kelola Perbedaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Akhlak Agung Nabi Mampu Kelola Perbedaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Akhlak Agung Nabi Mampu Kelola Perbedaan

"Seperti diketahui bahwa Sulawesi Tenggara termasuk daerah yang aman jauh dari konflik. Salah satunya disumbang oleh kemampuan masyarakat, tokoh agama, pemerintah daerah dan stakeholders lainnya dalam memimpin perbedaan dan merawat persatuan. Empat sifat utama Nabi telah berhasil membangun peradaban Islam dan hal ini perlu kita warisi," katanya.

Kakanwil Kementerian Agama Provinsi Sultra Abdul Kadir yang juga memberi sambutan menekankan pentingnya belajar meneladani kepercayaan dan konsistensi Nabi dalam melaksanakan tugas kerasulan hingga efektivitas dakwahnya yang mampu mempengaruhi lebih dari setengah dunia dengan bangunan peradabannya.

Dirinya mengkhawatirkan melemahnya komitmen kebangsaan yang menggejala dewasa ini jika dibiarkan akan berpotensi mengancam eksistensi Indonesia. 

Siti Efi Farhati

"Ada yang memprediksi suatu saat Indonesia ini akan terbagi-bagi. Itu tidak akan terjadi apabila kita mampu mengelola perbedaan secara konsisten dengan meneladani sifat-sifat mulia Nabi," ujar Abdul Kadir.

Sementara itu, Ketua Tanfiziyah PWNU Sultra KH Muslim mewanti-wanti Nahdliyin untuk memaksimalkan tugas utamanya mengajarkan agama dan menghadang segala bentuk radikalisme.

Siti Efi Farhati

Di sela-sela sambutannya, KH Muslim memimpin lagu Yalal Wathan. Para jamaah pun serentak mengikuti.

KH. Ali Awad Mustasyar PWNU yang bertindak sebagai pembawa hikmah maulid, dalam uraiannya menekankan pentingnya meneladani sifat-sifat mulia dan akhlak agung Nabi dalam keseharian. Hal itu harus tercermin penuh cinta secara nyata dalam tutur kata, sikap dan perbuatan dan dimulai dari Nahdliyin.

Peringatan Maulid Nabi yang mengusung tema Teguhkan Cinta Tanah Air Tolak Paham Radikalisme dirangkaikan dengan pelantikan pengurus lembaga-lembaga NU Sultra.

Acara turut dihadiri Rais Syuriyah PWNU KH Ryha Madi, para pengurus PWNU, pejabat daerah, jajaran Polda, Binda, pimpinan perguruan tinggi, badan-badan otonom NU, BKMT. Para undangan yang hadir menyampaikan ucapan selamat bekerja kepada pengurus lembaga-lembaga NU Sultra yang telah dilantik. (Laode Abdul Wahab/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pertandingan Siti Efi Farhati

Senin, 01 Januari 2018

Mahbub Djunaidi Pelit untuk Foya-foya, Royal untuk Buku

Jakarta, Siti Efi Farhati?



Salah seorang putra H. Mahbub Djunaidi, Yuri Mahatma menceritakan sosok ayahnya. Menurut dia, Mahbub adalah orang yang sederhana dan penuh perhitungan. Dia bukan tipe orang yang suka berfoya-foya.? ?

Mahbub Djunaidi Pelit untuk Foya-foya, Royal untuk Buku (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahbub Djunaidi Pelit untuk Foya-foya, Royal untuk Buku (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahbub Djunaidi Pelit untuk Foya-foya, Royal untuk Buku

“Papa bukan orang yang banyak duit, tidak makan di luar dan banyak jalan-jalan. Tapi satu hal, untuk kebutuhan buku, dia enggak pelit. Sangat tidak pelit,” katanya di sela Haul H. Mahbub Djunaidi ke-22 bertajuk Jazz dan Esai-esai H. Mahbub Djunaidi yang digelar Omah Aksoro dan PMII UNUSIA di lapangan parkir UNISIA, Jakarta, Kamis malam (5/10).? ?

Kalau anak-anaknya berulang tahun, Mahbub Djunaidi yang pernah aktif di IPNU, Ketua Umum pertama PB PMII, GP Ansor, Pertanu, Lesbumi NU, Mustasyar PBNU 1989-1994 itu akan memberi buku dengan selalu ada tanda tangannya.?

Pada ulang tahun kedelapan, Yuri Mahatma mendapat hadiah buku 80 Hari Keliling Dunia karangan Jules Gabriel Verne. Buku karangan orang Prancis itu kemudian diterjemahkan Mahbub sendiri dari judul aslinya Around the World in Eighty Days.?

Siti Efi Farhati

“Pernah diajak bapak bareng, terserah beli buku mau apa, bapak yang bayarin. Untuk yang lain, yangtidak penting-penting, dia pelit,” jelasnya.?

Anak Mahbub yang lain, Mira, pernah menceritakan, suatu ketika ayahnya pulang dari Prancis. Ia membawa oleh-oleh sekoper besar. Istri dan anak-anaknya telah begitu senang akan mendapatkan hadiah dari Eropa. Namun, ketika dibuka, hanyalah buku. Tak ada yang lain.

Ajaran hidup yang ditekankan Mahbub Djunaidi kepada anak-anaknya adalah disiplin dan menghargai waktu. Esai-esai dan terjemahannya yang sangat lentur itu diciptakan oleh penulis disiplin dan penuh penghargaan terhadap waktu.? ?

“Banget disiplin. Terutama soal waktu, memanfaatkan waktu. Orangnya disiplin,” kata Yuri yang dikenal sebagai musisi jazz yang tinggal di Bali itu. (Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Pertandingan, Pemurnian Aqidah, Kajian Islam Siti Efi Farhati

Sabtu, 30 Desember 2017

Ini Agenda Munas dan Konbes NU 2017 di NTB

Jakarta, Siti Efi Farhati - Rencananya, tanggal 24 sampai 26 November 2017 Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan menyelenggarakan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) di Nusa Tenggara Barat. Tema besar acara adalah Memperkokoh Nilai Kebangsaan Melalui Program Deradikalisasi dan Penguatan Ekonomi Warga.

Dijadwalkan, ada sekitar seribu peserta yang akan menghadiri acara tersebut. Mereka adalah para pengurus pusat di PBNU dan para Pengurus Wilayah NU baik syuriyah maupun tanfidziyah.

Ini Agenda Munas dan Konbes NU 2017 di NTB (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Agenda Munas dan Konbes NU 2017 di NTB (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Agenda Munas dan Konbes NU 2017 di NTB

Demikian disampaikan Ketua Organizing Committee (OC) H Imam Azis saat memberikan arahan dalam rapat perdana Munas dan Konbes di Lantai 8 Gedung PBNU, Selasa (18/7).

Siti Efi Farhati

“Pembukaannya akan dilaksanakan di Islamic Center (NTB),” kata H Imam.

Siti Efi Farhati

Dari tema yang diangkat, permasalahan yang akan didiskusikan di dalam acara Munas dan Konbes ini adalah bagaimana memperkokoh kebangsaan setiap warga dengan melaksanakan deradikalisasi dan penguatan ekonomi warga Negara Indonesia.

Salah satu dari pihak Steering Committee (SC) M Nuh menjelaskan, tema Munas dan Konbes ini sangat menarik. Baginya, inti dari tema ini adalah bagaimana memperkuat kelompok Islam tengah agar tidak tidak terlalu ekstrem ke kanan lalu menjadi radikal dan tidak terlalu ekstrem ke kiri lalu menjadi liberal.

“Tema ini tema yang seksi. Yaitu, terkait dengan penguatan kebangsaan lewat deradikalisasi dan penguatan ekonomi,” jelasnya.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan era Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II ini menambahkan, Munas dan Konbes itu tidak bisa dipisahkan. Munas akan membahas persoalan-persoalan yang ada di luar organisasi. Sementara di dalam Konbes akan lebih banyak dibicarakan masalah-masalah di dalam organisasi.

“Munas akan membicarakan outlook, konbesnya akan lebih banyak membicarakan inward looking,” tutupnya. (Muchlishon Rochmat/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pertandingan Siti Efi Farhati

Rabu, 27 Desember 2017

Naik Bus Haram

Salah satu jamaah haji asal Kabupaten Subang, Kang Ujang, memang terkenal tekun dan getol mencari pahala. Saat ditanya kenapa rajin banget, Kang?

“Mumpung di dieu (di sini),” ujar Kang Ujang dengan senyum penuh harapan.

Naik Bus Haram (Sumber Gambar : Nu Online)
Naik Bus Haram (Sumber Gambar : Nu Online)

Naik Bus Haram

Jumat pagi  ia keluar sendirian dari tempat pemondokannya untuk berangkat ke Masjidil Haram.

Siti Efi Farhati

Kang Ujang menunggu bus lewat di pinggir jalan dekat apartemennya. Beberapa kali bus berhenti menyahuti isyarat tangannya. Sembari berhenti kondekturnya teriak-teriak, “Haraaaam! Haraaaam!”

Siti Efi Farhati

Mendengar teriakan itu Kang Ujang yang sudah mendekati pintu bus pun mengurungkan niatnya. “Waduh, kenapa berhenti, kalau tidak boleh naik?” gerutu Kang Ujang.

Rupanya Kang Ujang tak paham; teriakan si kondektur bermaksud menunjukkan bahwa bus sedang menuju ke Masjidil Haram. (Ahmad Rosyidi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pertandingan, Sholawat Siti Efi Farhati

Selasa, 26 Desember 2017

Bupati: GP Ansor Nyata Karyanya di Bumi Waykanan

Waykanan, Siti Efi Farhati . GP Ansor pada 24 April tepat berusia 81 tahun, adapun Kabupaten Waykanan di Provinsi Lampung pada Senin 27 April ini tepat berusia 16 tahun. Bupati Bustami Zainudin di Blambangan Umpu, Senin (27/4) menyatakan jika pemuda Ansor di daerah yang dipimpinnya nyata karyanya.

"Ansor di Waykanan nyata karyanya. Banyak hal sudah dilakukan Ansor," ujar Bupati Bustami dalam sambutan Harlah ke-81 Ansor dan peranannya di Bumi Waykanan Ramik Ragom melalui rilis berita yang diterima Siti Efi Farhati, Senin (27/4).

Bupati: GP Ansor Nyata Karyanya di Bumi Waykanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati: GP Ansor Nyata Karyanya di Bumi Waykanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati: GP Ansor Nyata Karyanya di Bumi Waykanan

Bustami menegaskan, Ansor bukan organisasi baru, namun organisasi yang terlibat aktif dalam mengganyang penjajahan di Indonesia. "Secara yuridis hari ini terbebas dari penajajahan. Tapi hakikat penjajahan bukan secara fisik semata, tapi juga kemsikinan dan kebodohan bagian dari penjajahan, demikian juga dengan penindasan dan keterbelakangan. Tugas kita semua untuk memerangi semua itu," kata dia lagi.

Siti Efi Farhati

Sebagai kader pemuda bangsa, imbuh Bupati Bustami, Ansor merupakan bagian yang bertanggung jawab terhadap pembangunan di Indonesia. Karena itu, Bupati Bustami berharap Ansor senantiasa menunjukkan eksistensinya terhadap negara dengan berpartispasi dalam pembangunan, demi tetap tegaknya, Pancasila, UUD 45, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika.

Terkait pembangunan di bidang pendidikan, GP Ansor Waykanan bekerjasama dengan Mata Air Foundation menggelar bimbingan pasca ujian nasional (BPUN) guna membantu pelajar berprestasi namun kurang mampu untuk masuk perguruan tinggi negeri di Indonesia melalui Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) pada 1 Mei hingga 7 Juni 2015.

Siti Efi Farhati

Bupati kemudian mengutip kata-kata mendiang Presiden Amerika John Fitzgerald Kennedy, yaitu ‘jangan tanyakan apa yang negara ini berikan kepadamu, tetapi tanyakan apa yang telah kamu berikan kepada negaramu’.

"Itulah kalimat nyata karyanya. Itulah subtansi pokok karya nyata itu. Partispasi pembangunan secara fisik, pikiran, tenaga atau ilmu pengetahuan, semua itu bagian karya nyata kita untuk membangun negeri. Kepada Ansor Waykanan, terima kasih atas partisipasinya dalam pembangunan bangsa dan negara, serta upayanya membina generasi pemuda ke arah yang lebih baik," pungkasnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Budaya, Pertandingan, News Siti Efi Farhati

Senin, 25 Desember 2017

Sepuluh Tahun Warga Gelar Istighotsah di Kantor PBNU

Jakarta, Siti Efi Farhati. Bila kita berkunjung ke kantor PBNU di Jalan Kramat Raya 154, Jakarta, tiap Rabu pada minggu keempat saban bulan, ratusan warga akan terlihat sedang duduk bersila di Masjid An-Nahdlah begitu sembahyang jamaah isya’ usai.

Mereka yang sibuk merapalkan doa-doa, shalawat, dan ayat-ayat al-Qur’an itu datang dari daerah Jakarta dan sekitarnya. Sebagian merupakan jamaah dari majelis taklim tertentu, ada yang dari pesantren, serta banyak pula warga umum yang memang senang mengikuti majelis dzikir dan pengajian.

Sepuluh Tahun Warga Gelar Istighotsah di Kantor PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Sepuluh Tahun Warga Gelar Istighotsah di Kantor PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Sepuluh Tahun Warga Gelar Istighotsah di Kantor PBNU

Pengurus Pusat Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) memang memfasiltiasi kegiatan bertajuk “Istighotsah dan Pengajian Bulanan” ini sebagai forum silaturahim, penguatan rohani, juga sarana menimba ilmu.

Siti Efi Farhati

Selepas istighotsah, jamaah akan menyimak sekaligus bisa berdiskusi dengan para mubaligh yang dihadirkan. Beberapa ulama luar negeri pernah duduk lesehan bersama Nahdliyin dalam forum ini, di antaranya Syaikh Muhammad Utsman asal Palestina dan Syekh Khalil ad-Dabbagh dari Lebanon.

Siti Efi Farhati

Menurut salah satu pengurus Pengurus Pusat LDNU, Bukhori Muslim, kegiatan ini telah dilaksanakan sejak sepuluh tahun silam. “Sudah ada sejak era Gus Dur. Persisnya saat kepemimpinan Kiai Nuril Huda (mantan Ketua PP LDNU),” ungkapnya usai acara Istighotsah dan Pengajian Bulanan, Rabu (25/3) malam.

Tiap istighotsah, lanjut Bukhori, masjid PBNU selalu penuh jamaah hingga meluber ke halaman. “Banyak kiai dan habaib datang turut menyemarakkan kegiatan bulanan itu,” ujarnya.

Selain segenap pengurus LDNU, hadir pula dalam acara Rabu tadi malam pengasuh Pondok Pesantren al-Mishbah Jakarta, KH Misbahul Munir. Dalam ceramahnya, Kiai Misbah menjelaskan tentang keutamaan berdoa dan dzikir bersama.

“Dalam kitab al-Tibyan, diceritakan ada sekelompok orang berdoa kemudian ada yang mengamini, itu sangat dianjurkan. Yustahabbu khudhuru majlisi khatmil Quran,” ujarnya.

Bahkan, lanjut Kiai Misbah, Rasulullah SAW justru mengimbau orang-orang yang haid untuk turut serta dalam majlis itu, untuk mengharapkan berkah doa dari kaum muslimin. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pertandingan, Nasional Siti Efi Farhati

Selasa, 19 Desember 2017

NU-NKRI Saling Memperkuat Selamanya

Grobogan, Siti Efi Farhati. Nahdlatul Ulama (NU) dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak bisa dipisahkan. Bendera NU dan merah putih tetap bersanding sampai kapan pun. Menghina NU berarti menghina Indonesia. Begitu juga sebaliknya.

NU-NKRI Saling Memperkuat Selamanya (Sumber Gambar : Nu Online)
NU-NKRI Saling Memperkuat Selamanya (Sumber Gambar : Nu Online)

NU-NKRI Saling Memperkuat Selamanya

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Grobogan saat memberikan sambutannya dalam peringatan Harlah Ke-88 NU di Terminal Angkudes, Purwodadi, Grobogan, Jawa Tengah, Kamis (6/2).

“Sejarah telah membuktikan perjuangan Mbah hasyim Asyari dalam membela NKRI, kita tidak diperbolehkan berlawanan arah dengan pemerintah, akan tetapi kita harus mendukung program-progam pemerintah yang memliki unsur kemaslahatan” katanya.

Siti Efi Farhati

Ia menyatakan, dalam menghadapi pilpres 2014, NU boleh masuk ke partai manapun dan mengibarkan bendera partai apapun, namun NU harus menjunjung tinggi nilai-nilai kesatuan dalam menjaga NKRI.

Siti Efi Farhati

Pada kesempatan itu, pemerintah kabupaten Grobogan, H Icek baskoro selaku Wakil Bupati dalam sambutannya menanggapi pernyataan yang dilontarkan Kiai Mat said.

“Sebagaimana apa yang telah dikatakan Ketua PCNU, Kiai Mat said tadi, kami sangat tertegun bangga perihal prinsip warga Nahdliyin yang mendukung kinerja pemerintah. Jangan sampai bendera NU berpecah gara-gara perbedaan partai” ujarnya.

“Kami ingin, NU mengawal kebijakan pemerintah Kabupaten Grobogan dan mendukung program-progam yang telah dicanangkannya, agar ke depan lebih baik dan menjadi daerah yang yang diberi rahmat oleh Allah SWT” pungkasnya. (Asnawi Lathif/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kajian Sunnah, Pertandingan Siti Efi Farhati

Sabtu, 16 Desember 2017

Mengabdikan Diri dengan Membuat "Al-Quran Raksasa"

Banyuwangi, Siti Efi Farhati. Al-Quran raksasa berukuran 150 cm X 200 cm merupakan yang terbesar di Banyuwangi, dan bisa jadi Al-Quran ini yang terbesar di Indonesia.



Mengabdikan Diri dengan Membuat Al-Quran Raksasa (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengabdikan Diri dengan Membuat Al-Quran Raksasa (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengabdikan Diri dengan Membuat "Al-Quran Raksasa"

Al-Quran raksasa ini dibuat oleh H Abdul Karim (54) bersama Istrinya Hajjah Musyarofah warga Dusun Kebunrejo, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng. Al-Quran yang dibuat selama 7 bulan ini, merupakan Al-Quran terbesar ke-3 yang dibuatnya.

Rabu, 06 Desember 2017

Inilah Lafal dan Keutamaan Sayidul Istighfar Menurut Rasulullah

Sayidul istighfar merupakan lafal istighfar yang paling utama dari sekian bentuk istighfar. Sayidul istighfar memuat pengakuan nikmat dan dosa. Lafal istighfar terbaik ini juga mengandung pengakuan status penciptaan. Ini yang membuat sayidul istighfar lebih utama dari bentuk-bentuk istighfar lainnya. Bunyi sayidul istighfar adalah sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ?. ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ?

Inilah Lafal dan Keutamaan Sayidul Istighfar Menurut Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Lafal dan Keutamaan Sayidul Istighfar Menurut Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Lafal dan Keutamaan Sayidul Istighfar Menurut Rasulullah

Allâhumma anta rabbî, lâ ilâha illâ anta khalaqtanî. Wa anâ ‘abduka, wa anâ ‘alâ ‘ahdika wa wa‘dika mastatha‘tu. A‘ûdzu bika min syarri mâ shana‘tu. Abû’u laka bini‘matika ‘alayya. Wa abû’u bidzanbî. Faghfirlî. Fa innahû lâ yaghfirudz dzunûba illâ anta.

Siti Efi Farhati

Artinya, “Hai Tuhanku, Engkau Tuhanku. Tiada tuhan yang disembah selain Engkau. Engkau yang menciptakanku. Aku adalah hamba-Mu. Aku berada dalam perintah iman sesuai perjanjian-Mu sebatas kemampuanku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang kuperbuat. Kepada-Mu, aku mengakui segala nikmat-Mu padaku. Aku mengakui dosaku. Maka itu ampunilah dosaku. Sungguh tiada yang mengampuni dosa selain Engkau,” (Lihat Sayid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Cetakan Al-‘Aidrus, Jakarta).

Siti Efi Farhati

Sayidul istighfar mengandung keutamaan yang luar biasa. Keindahan dan bobot lafal pengakuan di dalamnya memberikan nilai khusus bagi pembacanya di sisi Allah SWT. Rasulullah SAW menyebut ganjaran khusus bagi mereka yang mengamalkan sayidul istighfar pagi dan sore.

Imam Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Syaddad bin Aus bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang membaca sayidul istighfar di sore hari, lalu ia meninggal di malam itu, niscaya ia termasuk penghuni surga. Demikian juga berlaku bagi mereka yang membaca sayidul istighfar di pagi hari, lalu wafat di hari itu juga, niscaya ia termasuk penghuni surga.”

Keterangan ini disebutkan Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar. Dalam karyanya itu Imam Nawawi memasukkan sayidul istighfar ke dalam doa harian yang dianjurkan untuk dibaca pagi dan sore hari. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Ubudiyah, Pertandingan Siti Efi Farhati

Selasa, 05 Desember 2017

IPNU-IPPNU Brebes Diterjunkan Jadi Relawan Mopdik

Brebes, Siti Efi Farhati. Sebanyak 85 relawan pelajar NU yang tergabung Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Brebes diterjunkan dalam masa orientasi peserta didik (Mopdik) tahun pelajaran 2014/2015. Mereka ditempatkan di berbagai sekolah dibawah naungan Maarif NU se Kab Brebes.

IPNU-IPPNU Brebes Diterjunkan Jadi Relawan Mopdik (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Brebes Diterjunkan Jadi Relawan Mopdik (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Brebes Diterjunkan Jadi Relawan Mopdik

“Mereka kami ditempatkan di 85 SMP/MTS, SMA/SMK/MA di bawah naungan LP Maarif NU,” kata Ketua Pimpinan Cabang IPNU Brebes Zaky Al Aman di sela pelatihan di MTs Asy Syafiiyah Jatibarang Brebes, Ahad (8/6/14).

Menurut zaky, pengakraban dengan pelajar di lingkungan sekolah akan menambah kecintaan para siswa baru. Moment Mopdik akan lebih mengenal dunia IPNU-IPPNU. Dengan makin kenal wadah pelajar, maka akan menambah kecintaan pada NU sebagai organisasi induknya.

Siti Efi Farhati

Anggota IPNU-IPPNU, lanjutnya, tidak hanya berasal dari santri di pondok pesantren saja. Tetapi dari sekolah umum juga banyak yang turut serta, sehingga perlu diadakan orientasi berisi tentang ke-ipnu-ippnu-an. Sebelum mengabdikan diri ke sekolah yang ditunjuk, para relawan tersebut mendapatkan pelatihan berupa training of trainer (tot).

TOT dibuka Ketua MWC NU Jatibarang Drs H Muhyidin. Dalam kata sambutannya, Kiai Muhyidin memuji kiprah pelajar NU dalam meneguhkan anggotanya untuk mensosialisasikan NU hingga ke  sekolah-sekolah.

Siti Efi Farhati

Langkah tersebut, kata dia, merupakan langkah terbaik menuju ke hal yang lebih baik. Sebab seseorang mengikuti organisasi yang baik, maka yang mengajak akan mendapatkan keuntungan atau barokah dunia akhirat.

“Ketahuilah bahwa pendiri NU KH Syekh Hasyim Asy Ari juga pernah berpesan bahwa orang yang mengikuti organisasi NU, maka dia akan menjadi santri syekh dan anak cucunya akan di doakan bahagia di dunia dan di akhiratnya. Juga akan berkah dalam segala urusan dunia dan akhiratnya” kata Kiai Muhyidin.

Ketua PC IPPNU Chaerunisa menambahkan, TOT bertujuan untuk mengasah dan memberi pemahaman lebih, tentang IPNU-IPPNU dan cara penyampaian ke peserta didik. Dan juga melatih para pelatih untuk menyampaikan materi dengan etika dan cara penyampaian yang benar dan baik. (wasdiun/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pesantren, Pertandingan Siti Efi Farhati

Senin, 04 Desember 2017

Peduli Lingkungan, Siswa Ta’mirul Tanam 1000 Pohon

Boyolali, Siti Efi Farhati. Untuk menumbuhkan rasa peduli terhadap lingkungan, anak bisa dilatih mencintai alam sedari dini. Semisal dengan mengajak mereka, untuk menghijaukan kembali lahan yang gundul tanpa pepohonan.

Peduli Lingkungan, Siswa Ta’mirul Tanam 1000 Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)
Peduli Lingkungan, Siswa Ta’mirul Tanam 1000 Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)

Peduli Lingkungan, Siswa Ta’mirul Tanam 1000 Pohon

Seperti yang dilakukan para siswa Sekolah Dasar (SD) Ta’mirul Islam Surakarta, mereka dilatih untuk memiliki kepedulian terhadap alam, dengan cara menanam ribuan bibit pohon mahoni di kawasan Desa Ngesrep, Ngemplak, Kabupaten Boyolali, Sabtu (17/10) sore.

Ketua Panitia kemah bakti Rudi Handoko penanaman 1000 pohon tersebut, dilaksanakan bekerjasama dengan Koramil Ngemplak. “Secara simbolis kita tanam 100 pohon di lokasi ini, sedangkan sisanya kita serahkan kepada pihak Koramil” terang Rudi.

Siti Efi Farhati

Kegiatan penanaman 1000 pohon ini juga disambut dengan baik pihak Koramil Ngemplak. Danramil Ngemplak, Guntur Raharjo, mengatakanpihaknya berharap kegiatan semacam ini dapat terus berlanjut.

“Kami mengapresiasi kegiatan positif seperti ini. Semoga pohon yang sudah ditanam bisa dirawat dengan baik,” kata dia.

Siti Efi Farhati

Salah satu siswa yang ikut menanam pohon, Muhammad Luthfi, mengaku senang dapat membantu untuk menghijaukan kembali lahan yang gundul. “Ini pengalaman pertama saya menanam pohon, semoga nanti pohonnya bisa tumbuh besar dan bermanfaat,” ujar siswa kelas VI SD Ta’mirul itu.

Ditemui terpisah, Kepala Sekolah SD Ta’mirul Islam, Slamet, mengungkapkan acara menamam pohon ini menjadi rangkaian kegiatan kemah bakti sosial Pramuka SD/MI/SMP Ta’mirul Islam, yang dilaksanakan selama 2 hari, Sabtu-Ahad (16-17/10).

“Selain acara menanam pohon, pada kegiatan kali ini kami juga membagikan 1 ton beras dan bantuan pendidikan untuk siswa tidak mampu di lingkungan setempat. Kami harapkan dengan kegiatan ini, para siswa lebih mandiri dan peduli kepada sesama,” ungkap Slamet.

Dalam kegiatan yang bertajuk “Kembali ke Desa” ini, para siswa medapatkan banyak pengalaman, mulai dari berlatih mendirikan tenda hingga ketrampilan lainnya. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati News, Pertandingan Siti Efi Farhati

Minggu, 03 Desember 2017

Sekjen PBNU Jelaskan Model Konsolidasi NU

Jakarta, Siti Efi Farhati. PBNU terus berupaya membangun model konsolidasi gerakan NU. Model ini digunakan untuk menata organisasi dengan rapi, sehingga kekuatan NU di berbagai daerah bisa bergerak maksimal. Kekuatan NU jangan hanya terkonsentrasi di Jawa saja, tetapi juga harus meluas dan mencakup semua daerah, khususnya Indonesia timur.

Demikian ditegaskan Helmy Faishal Zaini, Sekretaris Jenderal PBNU dalam acara silaturahim PWNU se-Indonesia dan PBNU di lantai 8 Kantor PBNU, Selasa (15/12).

Sekjen PBNU Jelaskan Model Konsolidasi NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekjen PBNU Jelaskan Model Konsolidasi NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekjen PBNU Jelaskan Model Konsolidasi NU

"Kita membagi model konsolidasi dalam tiga hal. Pertama, Jawa-Lampung-NTB. Dalam model ini, konsolidasi harus sampai di tingkat ranting. Jawa Timur bahkan sudah menjadi contoh ideal untuk konsolidasi anak ranting (masjid). Kedua, konsolidasi luar Jawa. Dalam model ini, konsolidasi harus sampai pada tingkat MWCNU (kecamatan). Yang ketiga, konsolidasi daerah khusus. Ini konsolidasi tingkat cabang (PCNU)," terang Helmy.

Siti Efi Farhati

Helmy juga mencontohkan bahwa antara Jawa Timur dan Papua sangat berbeda. Jawa Timur sudah sampai pada tingkat anak ranting, sementara di Papua, kepengurusan beberapa cabang ternyata ada di satu kantor. Bahkan ada yang satu Rais Syuriyah menjadi Rais Syuriyah untuk tiga cabang. Kantornya juga satu tempat.

"Daerah khusus, seperti Papua, harus menjadi perhatian serius. Ini gerak langkah nyata, agar konsolidasi NU secara menyeluruh sampai ke tingkat ranting, bahkan anak ranting," tambahnya.

Siti Efi Farhati

Untuk itu, lanjut Helmy, seluruh kepengurusan NU di tingkat wilayah dan cabang harus selalu koordinasi dengan PBNU, sehingga diupayakan langkah-langkah strategis untuk membangun kekuatan NU.

"Kita akan bekerja keras. Konsolidasi organisasi akan terus kita kawal dan kita perbaiki, sehingga ke depan, NU benar-benar kuat secara kelembagaan dan peran sosial di masyarakat," tegasnya. (Madun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati AlaNu, Pertandingan, Pemurnian Aqidah Siti Efi Farhati

RMI Akan Kumpulkan Pengasuh Pesantren

Jakarta, Siti Efi Farhati. Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) atau asosiasi pesantren NU berencana akan mengumpulkan para pengasuh pesantren se-Jawa. Kegiatan ini ditujukan untuk memperkuat peran pesantren di tengah masyarakat.

Draf acuan kegiatan (ToR) yang diterima Siti Efi Farhati menyebutkan, pertemuan para kiai ini akan diwujudkan dalam bentuk halaqah bertema “Penguatan Peran Pesantren sebagai Pusat Peradaban” di Jakarta, 29-30 Desember 2012.

RMI Akan Kumpulkan Pengasuh Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
RMI Akan Kumpulkan Pengasuh Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

RMI Akan Kumpulkan Pengasuh Pesantren

Rencananya, 40 pengasuh pesantren yang menjadi peserta akan memetakan potensi pesantren, terutama dari segi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancamannya; merumuskan strategi penguatan kelembagaan dan kerja sama lintas sektor; serta merumuskan aksi bagi upaya penguatan pesantren sebagai pusat peradaban.

Siti Efi Farhati

Bersama Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Departemen Agama, RMI bertekad akan mengembalikan fungsi pesantren sebagai agen perubahan sebagaimana yang dilakukan generasi pendahulu.

“Pesantren tidak hanya  menjadi lembaga agama, tetapi juga menjadi lembaga sosial yang mengemban fungsi-fungsi kemasyarakatan bagi komunitas di sekitarnya,” demikian bunyi ToR acara halaqah pengasuh pesantren ini.

Siti Efi Farhati

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pemurnian Aqidah, Santri, Pertandingan Siti Efi Farhati

Kamis, 30 November 2017

Pesantren Asy-Syafi’iyyah Indramayu, Hasilkan Generasi Multi Talenta

Indramayu, Siti Efi Farhati.  Pesantren Asy-Syafi’iyyah berdiri pada awal masa kemerdekaan (1955) Pesantren ini, semula adalah basis (masyarakat) dalam mengadakan perlawan terhadap penjajah  Belanda dan dalam perkembangannya, terus melakukan peningkatan fasilitas dan kualitas.  

Dibawah pimpinan KH Syafi’i (alm) mereka berjuang membela hak-hak warga pribumi, tanpa melupakan tugas sebagai santri untuk memperdalam wawasan keagamaan. Pasca-kemerdekaan pesantren yang berada di Desa Kedungwungu ini berkonsentrasi di ranah pendidikan dan dakwah. 

Pesantren Asy-Syafi’iyyah Indramayu, Hasilkan Generasi Multi Talenta (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Asy-Syafi’iyyah Indramayu, Hasilkan Generasi Multi Talenta (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Asy-Syafi’iyyah Indramayu, Hasilkan Generasi Multi Talenta

Awalnya Pesantren Asy-Syafi’iyyah sebagai lembaga pendidikan Islam non formal (pesantren salafiyah) yang mengajarkan ilmu agama. Saat itu, Kiai Syafi’i hanya menitik-beratkan pada pengajaran ”Qiroatul Qur’an” (membaca Al-Quran) dan kitab–kitab fikih tingkat dasar dengan sistem ”sorogan” yang bertempat di musholla. Karena belum tersedia fasilitas/ruangan khusus untuk kegiatan belajar-mengajar.

Siti Efi Farhati

 

KH Syafi’i dalam pengajarannya dibantu KH Abdullah Shobari (alm), kemudian diteruskan oleh KH Afandi Abdul Muin (pengasuh) sebagai generasi pertama KH Syafi’i.

Untuk membekali generasi Muslim (santri) dengan wawasan yang lebih luas, Abah Afandi —panggilan para santri pada KH Afandi Abdul Mu’in– pada tahun 1960 membuka madrasah formal di lingkungan Pesantren. Semula Madrasah ini bernama Madrasah Raudlotut Thalibin (MRT). Namun, atas dasar pertimbangan para dzurriyah (keluarga KH Syafi’i) untuk mengenang jasa sesepuh dan leluhur, maka nama tersebut diganti jadi Madrasah Asy-Syafi’iyyah, dinisbatkan pada KH Syafi’i, sang pendiri.

Siti Efi Farhati

 

Tahap pertama madrasah ini hanya membuka tingkat dasar (ibtidaiyyah) dengan masa pendidikan 6 tahun. Kurikulum 80% pelajaran agama dan 20% pelajaran umum. Masuk di sore hari, mulai pukul 13.00- 17.00 WIB. 

 

Seiring perkembangan waktu dan mengapresiasi bakat dan minat para santri, kini  Pesantren Asy-Syafi’iyyah saat ini, sudah memiliki pendidikan mulai RA (Raudhatul Athfal), MI (Madrasah Ibtidaiyyah) SMP (Sekolah Menengah Pertama) SMK (Sekolah Menengah Kejuruan). Madrasah Diniyah (sore) dan Ma’had Aly. Bahkan telah membuka STAIA (Sekolah Tinggi Agama Islam Asy-Syafi’iyyah).

 

Dengan bertambah banyaknya para santri/ siswa, pihak yayasan pun terus berusaha untuk melakukan pembenahan dan pengembangan yang bersifat inovatif dan konstruktif baik dalam fasilitas belajar-mengajar maupun sarana lainnya terlebih lagi dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan.

Bertambahnya kuantitas harus diimbangi dengan meningkatkan kualitas. Hal ini sebagai upaya nyata pihak yayasan untuk selalu berusaha meningkatkan kualitas pendidikan yang ada agar Yayasan Pondok Pesantren Asy-Syafi’iyyah mampu melahirkan manusia–manusia yang beridentitas Islam ke-Indonesiaan, dan mampu bertanggung jawab terhadap pembangunan bangsa, negara, dan agama. Asy-syafi’iyyah estafet berusaha mencetak generasi Indonesia yang religius dan multi talenta. 

Sebagai upaya peningkatan kualitas lembaga maupun para santri, Asy-Syafi’iyyah  mengadakan hubungan atau kerjasama dengan lembaga-lembaga internasioanl, Seperti Liga Muslim Dunia (Moslem Word League) yang berkantor pusat di Makkah Saudi Arabia, Islamic Educational, Scientific and Cultural Organization (ISESCO) yang berkantor pusat di Kerajaan Maroko. Dua lembaga internasional tersebut telah menunjang sarana dan prasaran belajar mengajar berupa sumbangkan ratusan buku dan kitab untuk perpustakaan pesantren. Hubungan dengan lembaga internasional lain yang dijalin adalah seperti Majlis Ilmi A’la Kerajaan Maroko. 

Pesantren ini, juga pernah mengadakan studi banding ke beberapa lembaga pendidikan dan universitas  yang berada di luar negeri; seperti Libiya, Maroko, Kesultanan Oman, Kerajaan Saudi Arabia, Mesir, Jordan dan negara-negara lainnya. Studi banding itu langsung dilakukan oleh Dr KH Ahmad Najib Afandi, Lc MA (Ketua Yayasan) dan KH Nasrulloh Afandi, Lc, MA (Wakil ketua Yayasan). 

KH Afandi Abdul Muin Syafi’i yang akrab disapa abah Afandi juga merupakan salah satu santri Pesantren Tebu Ireng Jombang ketika masih diasuh oleh KH Hasyim asy-Asri sekaligus alumnus pesantren Tambakberas Jombang di masa KH Wahab Hasbullah. 

Para tokoh NU saat ini pun silih berganti banyak yang berkunjung ke pesantren ini, seperti KH Said Aqil Siroj, KH Salahuddin Wahid, Mahfud MD. Termasuk dulu KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Semasa hidupnya minimal dua kali dalam setahun berkunjung ke pesantren ini. 

Begitu juga para menteri kabinet era Gus Dur dulu, mayoritas pernah menginjakkan kaki di pesantren yang terletak di Indramayu bagian Timur ini. Temasuk juga Abd. Kholik (Ketua Himpunan Pengusaha NU) adalah salah satu pengusaha yang sering ke pesantren ini. 

Amalan ibadah di pesantren inipun menginduk pada NU (Nahdlatul Ulama), logo lembaga yayasannya pun dominan mirip dengan logo organisasi NU. 

Akan tetapi, pesantren ini menafikan fanatisme ormas ataupun golongan, apalagi partai politik, tidak pernah mengembor-geborkan fanatisme bendera ormas (NU). Pesantren ini istiqomah (eksis) mengabdi kepada semua lapisan dan kemajemukan bangsa, semua orang beragama Islam diterima di sini.

 Prinsip pengabdian pesantren ini adalah: “Dari desa untuk bangsa, memproduk generasi religius multitalenta”.

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Internasional, Pertandingan Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock