Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Maret 2018

Presiden Jokowi Setuju untuk Memperkuat Pendidikan Diniyah dan Pesantren

Jakarta, Siti Efi Farhati. Guna mengantisipasi perubahan di dunia yang sangat cepat, Presiden Joko Widodo (Jokowi) setuju agar pendidikan diniyah, pendidikan keagamaan di pesantren-pesantren harus diperkuat.

“Perubahan seperti ini bisa menjadikan kita baik, bisa menjadikan kita tidak baik. Inilah tugas kita mengantisipasi. Bagaimana membangun karakter-karakter anak-anak kita, yang bisa menjaga harkat bangsa ini dari arus-arus perubahan global yang begitu sangat cepatnya,” kata Presiden Jokowi saat menghadiri Penutupan Musyawarah Kerja Nasional II dan Workshop Nasional (Bimbingan Teknis) Anggota DPRD PPP Se-Indonesia, di Hotel Mercure Ancol, Jakarta, Jumat (21/7) siang.?

Presiden Jokowi Setuju untuk Memperkuat Pendidikan Diniyah dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Jokowi Setuju untuk Memperkuat Pendidikan Diniyah dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Jokowi Setuju untuk Memperkuat Pendidikan Diniyah dan Pesantren

Kepala Negara mengingatkan kepada semua pihak untuk berhati-hati, karena 5 tahun yang akan datang, kemudian 10 tahun yang akan datang akan ada perubahan yang sangat drastis.

Ia menyebutkan, ada yang namanya generasi W, generasi Y, yang sekarang baru berumur 15 tahun, berumur 20 tahun, berumur 25 tahun. Selanjutnya, Presiden menambahkan yang 5 tahun lagi akan masuk pasar, akan masuk dan men-drive, mengemudikan perubahan-perubahan itu.

“Generasi Y ini, generasi W, 10 tahun yang akan datang, mereka akan menguasai dan mempengaruhi pasar,” ujar mantan Gubernur DKI Jakarta ini.

Siti Efi Farhati

Oleh sebab itu, tutur Jokowi, sekarang saatnya kita mengisi mereka dengan sebuah karakter-karakter yang baik, sehingga perubahan itu tidak mengubah wajah keislaman kita.

“Inilah yang harus diantisipasi. Banyak dari kita yang belum sadar akan perubahan yang sangat cepat ini,” tutur mantan Wali Kota Solo, Jawa Tengah ini.

Menurut Presiden, nantinya, entah apakah ada lagi yang baca koran, mungkin sangat sedikit sekali. Presiden juga menambahkan bahwa kemungkinan tidak ada yang lihat TV lagi, karena yang namanya generasi Y, setiap hari membawa smartphone, berita juga klik di situ, berita-berita online.?

Siti Efi Farhati

Presiden juga menambahkan bahwa generasi berikutnya tidak lihat TV karena nanti yang laku adalah Netflix, video-video yang langsung bisa dilihat di dalam smartphone itu.

“Kalau kita dari sekarang tidak menyiapkan mereka, mengisi mereka dengan jiwa-jiwa yang mulia, dengan jiwa-jiwa baik. Apakah yang akan terjadi?” tanya Presiden.

Inilah, lanjutnya, yang perlu dirinya mengingatkan, menyadarkan pada kita semuanya, bahwa perubahan itu sudah di depan kita.

“Oleh sebab itu, sekali lagi, memperkuat pendidikan diniyah, memperkuat pendidikan pondok-pondok pesantren, memperkuat pendidikan keagamaan yang masih, itu menjadi kunci agar perubahan itu tidak mengubah kita,” tutur Presiden Jokowi.

Tampak hadir dalam acara tersebut antara lain, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang KH Maimoen Zubair, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Kepala Staf Kepresidenan, Teten Masduki, dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. (setkab.go.id/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Budaya, Cerita, Internasional Siti Efi Farhati

Kamis, 01 Maret 2018

Tanpa Uang Sepeser Pun, Pasutri NU Ini Akan Keliling Dunia

Jakarta, Siti Efi Farhati?

Pasangan suami istri (pasutri) Hakam Mabruri (34) dan Rofingatul Islamiah (34) bertekad akan berkeliling dunia dengan sepeda yang didesain ditunggangi berdua. Ia berangkat dari Malang pada Sabtu 17 Desember 2016. Sampai di Jakarta pada Selasa (10/1).?

Tanpa Uang Sepeser Pun, Pasutri NU Ini Akan Keliling Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Tanpa Uang Sepeser Pun, Pasutri NU Ini Akan Keliling Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Tanpa Uang Sepeser Pun, Pasutri NU Ini Akan Keliling Dunia

Pasutri tersebut mengambil jalan bagian utara pulau Jawa. Di tiap kota, Hakam yang aktif di Gerakan Pemuda Ansor Malang, kerap bermalam di kantor GP ansor bersama istrinya. Tidak hanya itu, ia juga menemui tokoh agama di kota yang ia singgahi.?

Keduanya selalu melakukan perjalanan di siang hari. kemudian istirahat sore atau menjelang malam. kemudian berangkat esoak harinya.?

Menurut Hakam, ketika keduanya berangkat, di sakunya tak ada uang sepeser pun. Ia kemudian mendapat sumbangan dari Bupati Malang, ketika ia dilepas secara resmi oleh Bupati, GP Ansor dan beragam komunitas dari Stadion Kanjuruan .

Siti Efi Farhati

Ditanya disumbang berapa oleh Bupati, Hakam tidak mau menyebutkan nomialnya. Namun, yang jelas, ketika dia berangkat, tak mengantongi uang sepeser pun.?

Namun di perjalanan, dukungan dari berbagai pihak didapatkan dua pasangan tersebut, termasuk dana. Salah seorang menteri misalnya, yang secara kebetulan bertemu di kantor Pimpinan Pusat GP Ansor, Jakarta, Selasa malam (10/1), juga turut menyumbang dana.

Sampai saat ini, ia menyebtukan, dukungan dana dari berbagai pihak telah terkumpul dana sebesar 17 juta dan 600 Dollar.?

Mengenai perjalanannya, setelah sampai di Aceh, dia akan kembali ke Medan. Kemudian menyebrang ke Singapura. Lalu melanjutkan perjalanan darat ke Malaysia, Thailanda. Keduanya akan melewati jalur Asia Selatan seperti India, Neval. Terus ke barat, ke barat. Sementara ia akan mencoba sampai di Kairo, Mesir. (Abdullah Alawi)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Internasional, Quote, Ulama Siti Efi Farhati

Kultur Bumi Cendrawasih Dekat dengan Islam?

Jakarta, Siti Efi Farhati



Zakat adalah salah satu rukun Islam. Dan hal itu tidak bertentangan dengan kultur masyarakat Papua, ujar warga Kabupaten Jayawijaya, Papua, Tauluk Assho (60).

Kultur Bumi Cendrawasih Dekat dengan Islam? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kultur Bumi Cendrawasih Dekat dengan Islam? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kultur Bumi Cendrawasih Dekat dengan Islam?

Didampingi putranya, H Abu Hanifah Assho yang merupakan Ketua PC GP Ansor Jayawijaya, ia menjelaskan di daerahnya ada tradisi kurogo magasyarak yang artinya dipotong untuk berbagi.

“Itu kebiasaan setelah panen. Masyarakat di daerah kami biasa berbagi dengan cara seperti itu. Dan pembagiannya untuk siapa hingga yang berhak menerima siapa juga diatur,” kata dia, di Jakarta, Selasa (17/1).

Nama Assho menurut dia pula, terinspirasi dari Masjid Al-Aqsa, satu tempat suci agama Islam yang menjadi bagian dari kompleks bangunan suci di Kota Lama Yerusalem (Yerusalem Timur).

Siti Efi Farhati

“Saya tertarik masuk Islam karena Islam itu unik. Nilai-nilainya tidak jauh beda dengan kebudayaan kami,” papanrya.

Dalam hal pernikahan, contohnya kata Tauluk menjelaskan, juga tidak diperkenankan satu garis keluarga.

“Termasuk cara berinteraksi dengan masyarakat. Bagaimana cara makan, sama persis dengan Islam yang disyiarkan ke tempat kami,” ujar dia pula.

Siti Efi Farhati

Tauluk memeluk Islam sejak muda. Sejak itu, dirinya memperjuangkan dan mengajak masyarakat di daerah identik dengan sebutan Bumi Cendrawasih turut memeluk Islam kendati dengan sejumlah rintangan. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Internasional, Kajian Islam, Pertandingan Siti Efi Farhati

Senin, 26 Februari 2018

Lima Lokasi Ideal untuk Rukyat di Rembang

Rembang, Siti Efi Farhati. Terdapat lima tempat di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, yang dinilai ideal sebagai lokasi melakukan rukyat hilal untuk menentukan awal bulan hijriah. Semua tempat tersebut berada di dataran tinggi beberapa kecamatan di kabupaten yang berbatasan dengan Laut Jawa itu.

Lima Lokasi Ideal untuk Rukyat di Rembang (Sumber Gambar : Nu Online)
Lima Lokasi Ideal untuk Rukyat di Rembang (Sumber Gambar : Nu Online)

Lima Lokasi Ideal untuk Rukyat di Rembang

Kelimat tempat yang dimaksud adalah Bukit Kingkin di Desa Mbedog, Kecamatan Pamotan; Bukit Tengkeng di Desa Pomahan, Kecamatan Sulang; Pasujudan Sunan Bonang di Desa Bonang, Kecamatan Lasem; Bukit Bolo Dewo di Pasedan, Kecamatan Bulu; dan Desa Rakitan, Kecamatan Sluke.

Hal itu dikatakan Anggota Badan Hisap Rukyah (BHR) Kementerian Agama Rembang H Badrudin, Senin (23/6). Menurutnya, tempat-tempat tersebut sudah diobservasi tim BHR Rembang dan Kanwil Kemenag Jawa? Tengah.

Siti Efi Farhati

"Kami memang sudah melakukan survei tempat yang menurut kami bisa digunakan untuk melakukan rukyat," katanya.

Siti Efi Farhati

Selain itu, pihaknya juga berencana menambahkan tempat lain yang dimungkinkan cocok bagi pelaksanaan rukyat yang rutin digelar tiap akhir bulan dalam kalender hijriah.

Observasi tempat lain tersebut, lanjut Badrudin, hingga kini masih terus dilakukan. Di antara yang terbaru adalah Pasujudan Sunan Bonang. Ia mengaku tempat ini merupakan hasil rekomendasi Rais Syuriah PCNU Rembang KH Chazim Mabrur setelah pihaknya meminta saran. (Ahmad Asmui/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Santri, Internasional, Ahlussunnah Siti Efi Farhati

Jumat, 09 Februari 2018

UEA Tunjuk Perempuan Jadi Menteri Toleransi dan Kebahagiaan

Dubai, Siti Efi Farhati



Uni Emirat Arab (UAE) pada Rabu menunjuk sosok-sosok perempuan umenduduki jabatan baru sebagai menteri negara urusan kebahagiaan dan toleransi serta seorang perempuan berusia 22 tahun sebagai menteri kepemudaan.?

Perdana Menteri Sheikh Mohammed bin Rashid al-Maktoum, melalui beberapa pesan di Twitter, menetapkan delapan perempuan masuk ke daftar kabinetnya -yang berisi 29 menteri, lapor AFP.?

UEA Tunjuk Perempuan Jadi Menteri Toleransi dan Kebahagiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
UEA Tunjuk Perempuan Jadi Menteri Toleransi dan Kebahagiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

UEA Tunjuk Perempuan Jadi Menteri Toleransi dan Kebahagiaan

Ohoud al-Roumi, yang sebelumnya merupakan direktur dewan kantor kementerian, ditunjuk sebagai "menteri negara untuk kebahagiaan".?

"Kebahagiaan tidak hanya menjadi harapan di negara kami. Akan ada rencana, proyek, program dan indeks. (Kebahagiaan) akan menjadi bagian tugas semua kementerian," kata Sheikh Mohammed, yang juga merupakan kepala pemerintah di Dubai.?

Shamma al-Mazroui (22 tahun) ditetapkan sebagai menteri negara kepemudaan sementara Lubna al-Qassimi, menteri veteran urusan kerja sama internasional dan pembangunan, diserahi jabatan baru berupa menteri negara untuk toleransi.?

Siti Efi Farhati

Kabinet tersebut berisikan delapan menteri baru, termasuk lima perempuan baru, yang berusia rata-rata 38 tahun, kata kantor berita negara WAM.?

Uni Emirat Arab dianggap sebagai tempat aman yang terhindar dari gelombang pemberontakan Musim Semi Arab yang menerpa di sekitar kawasannya.?

Tahun lalu, pemerintah UAE berupaya memperluas mandat demokratisnya yang baru lahir dengan memberikan kesempatan hingga seperempat dari satu juta warga negaranya memberikan hak suara dalam pemilihan.?

Siti Efi Farhati

Sebanyak 87 dari 330 kandidat adalah perempuan, yang memainkan peranan lebih besar dalam kehidupan masyarakat di UAE dibandingkan dengan di Arab Saudi.?

Jumlah warga negara UAE tercatat sangat kecil dari keseluruhan penduduk yang berjumlah sembilan juta orang. Sebagian besar penduduk adalah para pekerja dari negara-negara asing. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kyai, Internasional Siti Efi Farhati

Selasa, 06 Februari 2018

MWCNU Kibarkan Bendera NU dan Baca Qonun Asasi

Kendal, Siti Efi Farhati. Dalam rangka memeriahkan Harlah ke-89 NU, pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) kecamatan Kangkung, Kendal menyelenggarakan serangkaian kegiatan diantaranya pemasangan spanduk harlah NU di masing-masing ranting, pengibaran bendera NU di tiap jalan di masing-masing ranting. Sedangkan puncaknya adalah istighotsah di tiap-tiap masjid  yang dilaksanakan serentak pada 5 Juni 2012/16 Rajab 1433 H.

Menurut ketua MWCNU Kangkung, Ahmad Khoiron, selain diisi istighotsah, kegiatan juga diisi  dengan pembacaan qonun asasi KH Hasyim As’ari oleh petugas dari MWC NU Kangkung. Hal ini kembali menghayati undang-undang dasar NU.

MWCNU Kibarkan Bendera NU dan Baca Qonun Asasi (Sumber Gambar : Nu Online)
MWCNU Kibarkan Bendera NU dan Baca Qonun Asasi (Sumber Gambar : Nu Online)

MWCNU Kibarkan Bendera NU dan Baca Qonun Asasi

Istoghotsah dan pembacaan Qonun asasi itu tak pelak telah meramaikan masjid dan musholla se kecamatan Kangkung karena memang  dilakukan secara serempak pada hari dan jam yang sama. Sehingga suasana seperti malam takbiran karena masing-masing masjid dan musholla memanfaatkan pengeras suara yang ada.

Siti Efi Farhati

Lebih lanjut Khoiron menambahkan bahwa di tingkat MWC NU Kangkung, guna mengetahui sejarah NU pengurus juga memutar film sejarah berdirinya jam’iyyah NU yang diputar dengan mengunakan layar lebar dan bisa ditonton untuk umum.

Siti Efi Farhati

“Malam  itu semua warga NU, Muslimat, Ansor, Fatayat, IPNU IPPNU ikut meramaikan Harlah NU ke 89 diKecamatan Kangkung. Tak ketinggalan Nasi Tumpeng juga menambah keakraban sesama warga NU, “ jelas Khoiron.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Fahroji

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Olahraga, Internasional Siti Efi Farhati

Jumat, 26 Januari 2018

PBNU Serukan Sholat Istisqo kepada PWNU dan PCNU Se-Indonesia

Jakarta, Siti Efi Farhati. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mengeluarkan surat instruksi yang ditujukan kepada PWNU dan PCNU yang ada di seluruh Indonesia. Mereka meminta pengurus NU wilayah dan cabang untuk menginisiasi penyelenggaraan sholat Istisqo’ di daerahnya masing-masing.

Instruksi ini dikeluarkan mengingat bencana asap, kekeringan, dan kelangkaan hujan di berbagai daerah di Indonesia. Surat ini yang ditandatangani Rais Aam KH Ma’ruf Amin, Katib Aam KH Yahya Cholil Staquf, Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan Sekjen PBNU H Helmy Faisal Zaini.

PBNU Serukan Sholat Istisqo kepada PWNU dan PCNU Se-Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Serukan Sholat Istisqo kepada PWNU dan PCNU Se-Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Serukan Sholat Istisqo kepada PWNU dan PCNU Se-Indonesia

“Kami mengajak warga NU untuk memohon ampunan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT,” seperti dirilis dalam surat instruksi Kamis, tertanggal 7 Oktober 2015.

Siti Efi Farhati

Pengurus harian PBNU meminta pengurus PWNU dan PCNU untuk meneruskan maklumat ini kepada pengurus MWCNU dan ranting NU di daerah masing-masing. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Makam, Internasional, Santri Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati

Selasa, 23 Januari 2018

NU Tunisia Promosikan Seni Budaya Nusantara

Tunis, Siti Efi Farhati

Dalam rangka mengenalkan seni budaya Nusantara ke kancah global, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Tunisia menggelar festival budaya (mahrajan tsaqafi) di kampus Fakultas Adab Universitas Manouba, Tunis, Tunisia. Acara ini berlangsung pada Rabu (20/4) siang waktu setempat.

Ratusan pengunjung yang memadati lokasi acara tampak antusias menyaksikan ragam penampilan seperti pencak silat, atraksi debus, tari zapin, tari saman, puisi, dan aneka jenis musik. Semua atraksi kesenian ini dimainkan oleh para kader NU Tunisia. Para pengunjung yang umumnya mahasiswa itu berkali-kali tepuk tangan meriah, atau turut mendendangkan lagu-lagu serta syair shalawat yang ditampilkan.

NU Tunisia Promosikan Seni Budaya Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Tunisia Promosikan Seni Budaya Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Tunisia Promosikan Seni Budaya Nusantara

Di halaman aula lokasi acara, dipamerkan sejumlah kitab karya ulama Nusantara, serta beberapa buku tentang Islam di Indonesia. Di antaranya ada 12 kitab karya Syekh Nawawi Banten, seperti kitab Tafsir Marah Labid, Uqudulujjain, Maraqil ‘Ubudiyah, Tanqihul Qaul, ats-Tsamar al-Yaniah, dan lain-lain.

Siti Efi Farhati

Kehadiran kitab-kitab berbahasa Arab karya ulama Nusantara ini sempat menarik perhatian para dosen dan mahasiswa setempat. Terlebih ketika mereka mengetahui bahwa sejumlah kitab itu juga diterbitkan oleh penerbit-penerbit terkemuka Timur Tengah seperti Darul Fikr Beirut atau Mustafa Halbi Kairo.    

Ketua Tanfidziyah PCI NU Tunisia Ahmad Muntaha Afandi menjelaskan bahwa penyebaran Islam di Indonesia  berlangsung secara damai dan tanpa pertumpahan darah. "Yang terjadi adalah akulturasi antara Islam dengan budaya lokal," tutur Muntaha.

Siti Efi Farhati

Pada masa-masa berikutnya, lanjut mahasiswa S2 Fakultas Adab Manouba ini, perpaduan budaya lokal dengan ajaran Islam tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam merekatkan ukhuwah di kalangan umat Islam di Indonesia. Toleransi di tengah keragaman sebagaimana ditunjukkan umat Islam di Indonesia saat ini diharapkan dapat menjadi inspirasi positif bagi umat Islam di dunia Arab, termasuk Tunisia.  

Dalam acara itu, turut hadir Duta Besar RI untuk Tunisia Ronny Prasetyo Yuliantoro, Dekan Fakultas Adab Prof Dr Habib Kazdagli, Wakil Dekan Dr Sourour Lihyani, serta sejumlah dosen dan staf universitas. Selain itu, juga ada Syekh Dr. Shalahudin el Mistawi, mustasyar PCINU Tunisia yang juga mantan Sekretaris Jenderal al Majelis al Ala lis Syuun al Islamiyah, yakni semacam majelis ulamanya Tunisia. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Internasional, Anti Hoax, Bahtsul Masail Siti Efi Farhati

Jumat, 19 Januari 2018

Borong Piala MAPSI, Hadiah Hari Santri dari SD Ta’mirul Islam

Solo, Siti Efi Farhati



Tim lomba Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Seni Islami (MAPSI) Kecamatan Laweyan berhasil menjadi juara umum tingkat Kota Surakarta, Jawa Tengah. Perlombaan berlangsung di SDN Kemasan, Surakarta, Rabu (11/10).

Keberhasilan Laweyan, tak lepas dari kontribusi para siswa SD Ta’mirul Islam yang memborong 10 piala, masing-masing 8 piala juara 1, dan sepasang  juara 2 dan 3.

Borong Piala MAPSI, Hadiah Hari Santri dari SD Ta’mirul Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Borong Piala MAPSI, Hadiah Hari Santri dari SD Ta’mirul Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Borong Piala MAPSI, Hadiah Hari Santri dari SD Ta’mirul Islam

Juara 1 masing-masing disumbangkan dari cabang kaligrafi putri, khitobah putra dan putri, cerita islami putri, kewirausahaan putri, LKTI putri, tilawah putra dan rebana. Sedangkan juara 2 dan 3 disumbang dari cabang cerita islami putra dan kaligrafi putra.

Kepala Sekolah SD Ta’mirul Islam Surakarta Aris Paryanto mengatakan, pihaknya sangat bangga dengan prestasi yang telah diraih anak didiknya. Raihan sukses ini, sekaligus juga menjadi hadiah yang indah dalam memperingati Hari Santri yang diperingati tanggal 22 Oktober mendatang.

“Anak-anak sangat serius saat latihan ketika persiapan lomba. Saya ucapkan selamat kepada anak-anak yang telah meraih prestasi di MAPSI tingkat Kecamatan Laweyan ini,” ujar Aris, saat ditemui usai lomba.

Siti Efi Farhati

Aris berharap kesuksesan ini dapat berlanjut di MAPSI tingkat provinsi. “Tantangan di tingkat provinsi tentu bakal lebih sulit. Kita harap anak-anak bisa kembali mendulang sukses,” kata Aris.

Siti Efi Farhati

MAPSI tingkat Provinsi Jawa Tengah, selanjutnya bakal digelar di Kabupaten Sukoharjo, awal November mendatang. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sejarah, Jadwal Kajian, Internasional Siti Efi Farhati

Jumat, 12 Januari 2018

245 Calon Mahasiswa Baru Ikuti Bimtes PMII UIN Bandung

Bandung, Siti Efi Farhati - Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menyelenggarakan Bimbingan Tes (Bimtes) sebagai bentuk kepedulian terhadap calon mahasiswa baru yang hendak mengikuti tes masuk melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) Mandiri.

Sedikitnya 245 calon mahasiswa baru mengikuti Bimtes ini di SMK KIfayatul Akhyar Cibiru, Bandung, Jawa Barat, 28-29 Juni 2016. Menurut Ketua Pelaksana Farhan mengatakan, agenda ini diadakan sebagai kepedulian terhadap mahasiswa baru yang sedang bingung menghadapi testing.

245 Calon Mahasiswa Baru Ikuti Bimtes PMII UIN Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)
245 Calon Mahasiswa Baru Ikuti Bimtes PMII UIN Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)

245 Calon Mahasiswa Baru Ikuti Bimtes PMII UIN Bandung

“Bimtes ini seperti apa yang dikatakan Soekarno ketika berangkat tanpa persiapan maka siap-siap pulang tanpa penghormatan,” ujar Farhan.

Siti Efi Farhati

Senada dengan Farhan, Ketua Pengurus Komisariat PMII UIN Sunan Gunung Djati Bandung Agus Taufik Habibie mengatakan bahwa calon mahasiswa baru (camaba) perlu dibimbing dan diberikan arahan sebab mereka berasal dari berbagai daerah yang jauh.

Siti Efi Farhati

“Nantinya calon mahasiswa baru ini tidak terlalu gagap dan kaget melihat soal-soal, karena bukan dari Aliyah saja, ada yang dari SMK, STM sangat perlu bimbingan dari PMII,” ujar Habibi.

Habibi pun menambahkan bahwa camaba bukan hanya diberikan kisi-kisi mengenai materi-materi yang akan diujikan tetapi bimtes PMII ini pun memberikan materi tentang keislaman dan keindonesia yang memuat nilai perdamaian dan toleransi.

“Kami juga tidak hanya bimbingan, try out dan testing saja, tapi kami menyelundupkan ajaran bersifat adem, damai dan toleran serta memperkenalkan juga (apa itu) PMII,” ujarnya.

Fasilitator bimtes ini didatangkan dari alumni PMII, kalangan profesional dan dosen UIN Sunan Gunung Djati. (Bakti Habibie/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati AlaNu, Internasional, Tegal Siti Efi Farhati

Kamis, 04 Januari 2018

Islam Berkembang Pesat di Amerika dan Eropa

Jakarta, Siti Efi Farhati. Nilai-nilai yang dimiliki Islam kini telah menarik para pemeluk baru dikawasan Amerika Serikat dan Eropa. Pertumbuhan penganut Islam baru yang pesat dinegara-negara tempat muslim menjadi minoritas telah memunculkan kebijakan baru yang mengakomodasi kepentingan kaum muslim.

“Negara-negara Barat yang tak bisa membendung Islam kini merubah strateginya dengan merangkulnya. Mereka meminta saran kami, apa hal terbaik yang bisa diberikan kepada komunitas muslim,” tutur Prof. Dr. Nasaruddin Umar yang baru-baru ini melakukan kunjungan dari Inggris sebagai anggota dari UK-Ind Advisory Group on Islam bersama 7 tokoh Islam lainnya.

Islam Berkembang Pesat di Amerika dan Eropa (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Berkembang Pesat di Amerika dan Eropa (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Berkembang Pesat di Amerika dan Eropa

Khatib Aam PBNU yang menyelesaikan studi doktoralnya di Amerika tersebut menjelaskan kini terdapat perubahan kebijakan di Amerika Serikat yang mendorong berkembangnya ajaran Islam disana.  Banyak perubahan besar yang dirasakannya sendiri telah terjadi di negara-negara tempat muslim menjadi minoritas.

“Pada masa lalu, izin untuk pembangunan masjid di negeri Paman Sam ini merupakan sesuatu yang sulit. Namun, pasca runtuhnya WTC pemerintah AS memberi kemudahan, kelompok-kelompok pengajian yang dulunya sudah dicari kini sudah bertebaran dimana-mana dan hampir disetiap kebupaten kini sudah terdapat masjid,” katanya.

Dengan bertambahnya pemeluk agama Islam, hari-hari besar Islam kini juga mendapat perhatian. Kini dalam kalender resmi, selain hari besar agama Kristen dan Yahudi dicantumkan pula hari-hari besar agama Islam seperti Idul Fitri dan Muharram. “Anak-anak sekolah juga diwajibkan menghafal lagu baru, yaitu Happy Idul Fitri,” paparnya.

Siti Efi Farhati

Dirjen Bimas Islam Depag tersebut juga menceritakan perubahan suasana yang terjadi di Harleem, daerah yang banyak dihuni oleh komunitas kulit hitam. Pada hari Jum’at di halte-halte bus maupun di subway banyak orang yang mengaji Al Qur’an.

“Berbeda dengan disini yang hanya ada satu atau dua orang muallaf yang masuk Islam. Disana, orang bisa nyewa satu gedung untuk bersyahadat bersama,” tandasnya menggambarkan bagaimana Islam tumbuh dan berkembang dengan pesat.

Siti Efi Farhati

Pada akhirnya besarnya penduduk muslim ini juga turut mempengaruhi kehidupan di Gedung Putih. Pada setiap bulan Ramadhan, kini terdapat buka puasa bersama bersama dengan presiden AS. Tradisi ini merupakan tradisi baru yang belum ada pada periode presiden sebelumnya.

Ajaran Islam dengan seluruh nilai-nilainya yang terdapat dalam Qur’an dan hadist telah mampu merubah kebiasaan buruk yang ada dikalangan kulit hitam di daerah Philadelpia. Pada masa lalu, antara komunitas kulit putih dan kulit hitam dipisah karena tingginya tingkat kriminalitas, pelacuran, narkoba dan kehidupan yang jorok. Namun, setelah komunitas kulit hitam banyak yang memeluk Islam, kondisi berubah total dengan kehidupan yang bersih dan jauh dari segala kriminalitas. Akhirnya dua komunitas yang terpisah tersebut dapat disatukan kembali.

Para pemuka agama Islam kini juga mendapat perhatian. Jika sebelumnya mereka tidak dilibatkan dalam berbagai acara doa bersama, kini mereka adalah bagian yang terlibat penuh, sejajar dengan agama lainnya.

Adanya persyaratan produk halal yang diwajibkan bagi umat Islam juga turut mempengaruhi perkembangan industri disana. Kini sudah terdapat institusi Halal Food yang memberikan sertifikasi bagi produk-produk halal yang aman dikonsumsi oleh umat Islam. Mereka bahkan lebih ketat daripada di Indonesia yang saat ini baru memfokuskan diri pada produk makanan halal. Disana, kosmetik, shampoo dan barang sejenisnya juga harus mendapatkan sertifikasi halal.

Perubahan yang sama juga terjadi di Inggris. Di wilayah Leeds, kini 40 persen penduduknya adalah umat Islam, ketua DPRD nya juga umat Islam. Kini juga banyak anggota parlemen yang beragama Islam. “Semua negara kini memperhitungkan keberadaan Islam, tak ada cara lain selain merangkul Islam,” tegasnya. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Internasional Siti Efi Farhati

Senin, 18 Desember 2017

MINU Kraksaan Uji Kepercayaan Warga NU

Kraksaan, Siti Efi Farhati. MI Nahdlatul Ulama Kraksaan yang berada di bawah naungan LP Ma’arif NU Cabang Kota Kraksaan melakukan terobosan baru, yaitu dengan mempercepat penutupan pendaftaran siswa barunya dibandingkan madrasah dan sekolah yang ada di sekitarnya. 

Hal ini dilakukan dalam rangka memperbaiki sistem pendidikan yang ada agar supaya lebih baik dari sebelumnya.

MINU Kraksaan Uji Kepercayaan Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)
MINU Kraksaan Uji Kepercayaan Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)

MINU Kraksaan Uji Kepercayaan Warga NU

Pendaftaran Siswa baru di MI Nahdlatul Ulama Kraksaan dibuka sejak tanggal 15 April dan ditutup pada tanggal 27 April 2013. Sebagaimana diungkapkan oleh Ketua Yayasan MI Nahdlatul Ulama sekaligus Pimpinan LP Ma’arif NU cabang Kraksaan  Taufiq.

“Pihak yayasan sengaja mempercepat penutupan pendaftaran siswa baru, dengan tujuan untuk mengukur tingkat kepercayaan warga Nahdliyin di Kota Kraksaan terhadap eksistensi MINU sebagai lembaga pendidikan milikinya NU, apakah warga care atau justru apatis dengan lembaga ini”. 

Siti Efi Farhati

Pihak yayasan juga menginginkan hal yang sama “Ingin meningkatkan kualitas pembelajaran, yaitu dengan memperketat seleksi in put dan membatasi jumlah in put yang akan masuk, karena disesuaikan dengan kondisi ruang yang ada. Kegiatan ini sebagai upaya untuk mempermudah dan memaksimalkan perencanaan pembelajaran dalam waktu satu tahun ke depan”.

Siti Efi Farhati

Lanjutnya, “MINU Kraksaan pada tahun ini lebih berorientasi pada pembenahan manajemen dan peningkatan kualitas, bukan lagi pada kuantitas. Terbukti, MINU pada tahun ini hanya akan menerima 90 siswa, yang akan diseleksi secara ketat, sehingga pihak lembaga akan mudah dalam memetakan kompetensi pada masing-masing siswa”.

Ust. Saifullah sebagai kepala MI Nahdlatul Ulama Kraksaan mengatakan pada tahun ini banyak dilakukan perubahan sistem manajemen, karena kita tidak mau kalah dengan lembaga pendidikan yang ada di sekitar kita.

"Kami ingin menunjukkan bahwa, warga Nahdiyin sebagai warga mayoritas di Kabupaten Probolinggo harus memiliki lembaga pendidikan yang unggul, jangan sampai keberadaannya kurang diakui oleh masyarakat. Jadi, sebagai wujud konkrit, maka harus dimulai dengan seleksi ketat in put yang akan masuk ke MINU ini. Kalau biasanya kita menutup pendaftaran siswa baru pada Bulan Juni seperti Madrasah dan sekolah lainnya pada umumnya, untuk kali ini kita ingin tampil beda, pendaftarannya sudah kita tutup bulan April lalu”. 

Alhamdulillah, walaupun hanya 12 hari masa pendaftarannya, ternyata sudah ada 78 pendaftar dan telah melakukan ujian test masuk dan penempatan kelas pada tanggal 28 April Bulan lalu. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat cukup tinggi terhadap lembaga pendidikan di bawah naungan LP Ma’arif NU Kota Kraksaan. Sedangkan 12 kursi yang masih kosong akan diberikan kepada warga dan tokoh yang tidak mengetahui informasi ini, dengan prinsip seleksi ketat, dan paling akhir pada pertengahan Bulan Mei ini”. 

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Hasan Baharun

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Internasional Siti Efi Farhati

Sahur Bersama Hj Sinta Nuriyah Disambut Antusias di Bojonegoro

Bojonegoro, Siti Efi Farhati

Hj Sinta Nuriyah, istri mendiang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengadakan sahur bersama di Pendopo Pemkab Bojonegoro, Kamis (30/6) dinihari. Kehadirannya mendapat sambutan antusias dari masyarakat setempat.

Peserta sahur bersama terdiri dari tukang becak, pemulung, petugas kebersihan, penghuni panti asuhan, santri, dan orang-orang dari lintas agama. Acara ini diselenggarakan Yayasan Puan Amal Hayati bersama Gusdurian, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Pemkab Bojonegoro, Gereja Kristen Indonesia, Gereja Katolik Santo Paulus, TITD Hok Swie Bio, PMII, KP-Lima, Pemuda Bamag, GP Ansor, Fatayat NU, IPNU, IPPNU, dan Satkorcab Banser.

Sahur Bersama Hj Sinta Nuriyah Disambut Antusias di Bojonegoro (Sumber Gambar : Nu Online)
Sahur Bersama Hj Sinta Nuriyah Disambut Antusias di Bojonegoro (Sumber Gambar : Nu Online)

Sahur Bersama Hj Sinta Nuriyah Disambut Antusias di Bojonegoro

"Jumlah peserta sahur bersama melebihi aspektasi yang direncanakan, dari 450 orang yang diundang hadir hingga 500 orang lebih, panitia akhirnya menyediakan makan sahur tambahan," jelas Hasan Bisri selaku ketua kegiatan.

Siti Efi Farhati

Sahur bersama tersebut berlangsung khidmat dan meriah. Para peserta memenuhi ruang Pendopo Malowopati Pemkab Bojonegoro. Turut berpartisipasi tokoh lintas agama di antaranya Ketua FKUB Bojonegoro KH Alamul Huda, Pendeta Stefanus Semianta (Gereje Kristen Indonesia), Romo Antonius Yuni Wimarta (Gereja Katolik Santo Paulus), Pendeta Daiman Sinaga (Ketua Bamag), Pendeta Joko Waluyo (GPPS).

Siti Efi Farhati

Sebelum acara sahur bersama dimulai, kegiatan diawali dengan sambutan tentang kerukunan yang disampaikan secara bergantian oleh Pendeta Stefanus Semianta dilanjutkan Romo Yuni dan diakhiri KH Alamul Huda.

Setibanya Ibu Shinta Nuriyah, langsung menuju ruang utama Pendopo Malowopati dan memimpin sahur bersama tersebut. "Sebagai warga negera yang baik kita harus menjaga hubungan lintas sosial, agama, ras dan golongan sebagai pilar pembangunan Indonesia dan saling menghormati antaragama," terang Bu Sinta. (M. Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kajian Sunnah, Internasional Siti Efi Farhati

Kamis, 30 November 2017

Pesantren Asy-Syafi’iyyah Indramayu, Hasilkan Generasi Multi Talenta

Indramayu, Siti Efi Farhati.  Pesantren Asy-Syafi’iyyah berdiri pada awal masa kemerdekaan (1955) Pesantren ini, semula adalah basis (masyarakat) dalam mengadakan perlawan terhadap penjajah  Belanda dan dalam perkembangannya, terus melakukan peningkatan fasilitas dan kualitas.  

Dibawah pimpinan KH Syafi’i (alm) mereka berjuang membela hak-hak warga pribumi, tanpa melupakan tugas sebagai santri untuk memperdalam wawasan keagamaan. Pasca-kemerdekaan pesantren yang berada di Desa Kedungwungu ini berkonsentrasi di ranah pendidikan dan dakwah. 

Pesantren Asy-Syafi’iyyah Indramayu, Hasilkan Generasi Multi Talenta (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Asy-Syafi’iyyah Indramayu, Hasilkan Generasi Multi Talenta (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Asy-Syafi’iyyah Indramayu, Hasilkan Generasi Multi Talenta

Awalnya Pesantren Asy-Syafi’iyyah sebagai lembaga pendidikan Islam non formal (pesantren salafiyah) yang mengajarkan ilmu agama. Saat itu, Kiai Syafi’i hanya menitik-beratkan pada pengajaran ”Qiroatul Qur’an” (membaca Al-Quran) dan kitab–kitab fikih tingkat dasar dengan sistem ”sorogan” yang bertempat di musholla. Karena belum tersedia fasilitas/ruangan khusus untuk kegiatan belajar-mengajar.

Siti Efi Farhati

 

KH Syafi’i dalam pengajarannya dibantu KH Abdullah Shobari (alm), kemudian diteruskan oleh KH Afandi Abdul Muin (pengasuh) sebagai generasi pertama KH Syafi’i.

Untuk membekali generasi Muslim (santri) dengan wawasan yang lebih luas, Abah Afandi —panggilan para santri pada KH Afandi Abdul Mu’in– pada tahun 1960 membuka madrasah formal di lingkungan Pesantren. Semula Madrasah ini bernama Madrasah Raudlotut Thalibin (MRT). Namun, atas dasar pertimbangan para dzurriyah (keluarga KH Syafi’i) untuk mengenang jasa sesepuh dan leluhur, maka nama tersebut diganti jadi Madrasah Asy-Syafi’iyyah, dinisbatkan pada KH Syafi’i, sang pendiri.

Siti Efi Farhati

 

Tahap pertama madrasah ini hanya membuka tingkat dasar (ibtidaiyyah) dengan masa pendidikan 6 tahun. Kurikulum 80% pelajaran agama dan 20% pelajaran umum. Masuk di sore hari, mulai pukul 13.00- 17.00 WIB. 

 

Seiring perkembangan waktu dan mengapresiasi bakat dan minat para santri, kini  Pesantren Asy-Syafi’iyyah saat ini, sudah memiliki pendidikan mulai RA (Raudhatul Athfal), MI (Madrasah Ibtidaiyyah) SMP (Sekolah Menengah Pertama) SMK (Sekolah Menengah Kejuruan). Madrasah Diniyah (sore) dan Ma’had Aly. Bahkan telah membuka STAIA (Sekolah Tinggi Agama Islam Asy-Syafi’iyyah).

 

Dengan bertambah banyaknya para santri/ siswa, pihak yayasan pun terus berusaha untuk melakukan pembenahan dan pengembangan yang bersifat inovatif dan konstruktif baik dalam fasilitas belajar-mengajar maupun sarana lainnya terlebih lagi dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan.

Bertambahnya kuantitas harus diimbangi dengan meningkatkan kualitas. Hal ini sebagai upaya nyata pihak yayasan untuk selalu berusaha meningkatkan kualitas pendidikan yang ada agar Yayasan Pondok Pesantren Asy-Syafi’iyyah mampu melahirkan manusia–manusia yang beridentitas Islam ke-Indonesiaan, dan mampu bertanggung jawab terhadap pembangunan bangsa, negara, dan agama. Asy-syafi’iyyah estafet berusaha mencetak generasi Indonesia yang religius dan multi talenta. 

Sebagai upaya peningkatan kualitas lembaga maupun para santri, Asy-Syafi’iyyah  mengadakan hubungan atau kerjasama dengan lembaga-lembaga internasioanl, Seperti Liga Muslim Dunia (Moslem Word League) yang berkantor pusat di Makkah Saudi Arabia, Islamic Educational, Scientific and Cultural Organization (ISESCO) yang berkantor pusat di Kerajaan Maroko. Dua lembaga internasional tersebut telah menunjang sarana dan prasaran belajar mengajar berupa sumbangkan ratusan buku dan kitab untuk perpustakaan pesantren. Hubungan dengan lembaga internasional lain yang dijalin adalah seperti Majlis Ilmi A’la Kerajaan Maroko. 

Pesantren ini, juga pernah mengadakan studi banding ke beberapa lembaga pendidikan dan universitas  yang berada di luar negeri; seperti Libiya, Maroko, Kesultanan Oman, Kerajaan Saudi Arabia, Mesir, Jordan dan negara-negara lainnya. Studi banding itu langsung dilakukan oleh Dr KH Ahmad Najib Afandi, Lc MA (Ketua Yayasan) dan KH Nasrulloh Afandi, Lc, MA (Wakil ketua Yayasan). 

KH Afandi Abdul Muin Syafi’i yang akrab disapa abah Afandi juga merupakan salah satu santri Pesantren Tebu Ireng Jombang ketika masih diasuh oleh KH Hasyim asy-Asri sekaligus alumnus pesantren Tambakberas Jombang di masa KH Wahab Hasbullah. 

Para tokoh NU saat ini pun silih berganti banyak yang berkunjung ke pesantren ini, seperti KH Said Aqil Siroj, KH Salahuddin Wahid, Mahfud MD. Termasuk dulu KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Semasa hidupnya minimal dua kali dalam setahun berkunjung ke pesantren ini. 

Begitu juga para menteri kabinet era Gus Dur dulu, mayoritas pernah menginjakkan kaki di pesantren yang terletak di Indramayu bagian Timur ini. Temasuk juga Abd. Kholik (Ketua Himpunan Pengusaha NU) adalah salah satu pengusaha yang sering ke pesantren ini. 

Amalan ibadah di pesantren inipun menginduk pada NU (Nahdlatul Ulama), logo lembaga yayasannya pun dominan mirip dengan logo organisasi NU. 

Akan tetapi, pesantren ini menafikan fanatisme ormas ataupun golongan, apalagi partai politik, tidak pernah mengembor-geborkan fanatisme bendera ormas (NU). Pesantren ini istiqomah (eksis) mengabdi kepada semua lapisan dan kemajemukan bangsa, semua orang beragama Islam diterima di sini.

 Prinsip pengabdian pesantren ini adalah: “Dari desa untuk bangsa, memproduk generasi religius multitalenta”.

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Internasional, Pertandingan Siti Efi Farhati

Sabtu, 25 November 2017

NU Sesungguhnya ada di Ranting

Cirebon, Siti Efi Farhati. NU merupakan gerakan keumatan. Kekuatan NU dalam arti sesungguhnya tidak terletak di tingkat pengurus besar (PB) atau pengurus wilayah (PW), melainkan berada di ranting dan kelompok anak ranting (KAR).

Begitu pandangan Rais Syuriah PBNU KH Masdar Farid Mas’udi dalam perbincangan dengan Siti Efi Farhati di Pesantren Kempek, Cirebon, Senin.

NU Sesungguhnya ada di Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Sesungguhnya ada di Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Sesungguhnya ada di Ranting

“Kita harus merubah cara pandang yang salah. Selama ini kita selalu menilai kekuatan NU berada di tingkat PB, PW hingga PC. Padahal kekuatan NU seungguhnya justru dari PC ke bawah, yakni mulai MWC, ranting hingga kelompok anak ranting,” papar Masdar.

Siti Efi Farhati

Masdar mengatakan, struktur organisasi NU berbeda dengan negara. Pasalnya NU merupakan gerakan keumatan atau civil society, yang kekuatan dilihat secara langsung dalam kehidupan di tengah masyarakat. Karenanya, penggerak NU harus bersinggungan secara langsung dengan umat di bawah.

Pada Muktamar ke-32 di Makassar 2010, lanjut Masdar Farid Mas’udi, NU telah mendefenisi ulang tentang struktur organisasi dengan memasukkan masjid sebagai bagian  integral dari jenjang kepengurusan mulai level kelompok anak ranting, ranting, majelis wakil cabang hingga level teratas.

Siti Efi Farhati

“Gerakan keumatan NU harus berbasis masjid, karena masjid menjadi tempat berkumpul umat sepanjang waktu. Hanya dengan masjid kita bisa mengidentifikasi mana orang NU dan mana yang bukan NU,” kata Masdar.

Saat memberikan arahan kepada para peserta pertemuan alumni dan penggerak Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU Luar Negeri yang mengikuti Munas dan Konbes 2012 di Pesantren Kempek, Masdar menekankan betapa pentingnya posisi masjid sebagai pusat strategis gerakan keumatan NU.

“Saya mengajak kawan-kawan PCI NU untuk ambil bagian langsung dalam memperkuat gerakan keumatan NU dengan terjun langsung di tengah masyarakat. Kelompok anak ranting, ranting, dan majelis wakil cabang harus diisi kader-kader tangguh yang berkualitas,” ujarnya.

Dalam konteks itu, sambung Masdar, peran yang harus diperkuat oleh NU di level anak ranting, ranting, hingga majelis wakil cabang. “Mindsetnya jangan dibalik dengan mengedepankan PB, PW atau PC. Kalau itu yang dikedepankan, NU akan menjadi organisasi tanpa umat, sehingga setiap instruksi yang disampaikan tidak pernah didengar,” terangnya.

Masdar berkeyakinan, bila orientasi gerakan keumatan NU diperkuat di lapis terbawah yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, keberadaan NU akan semakin kuat dan mengakar. NU akan memiliki barisan pengikut yang terstruktur dengan baik, solid dan kompak.

Kekuatan di tingkat akar rumput tersebut secara otomatis akan mempengaruhi peran dan posisi tawar NU pada kancah lokal maupun nasional. Dengan demikian, program apa pun yang digagas NU akan terlaksana dengan baik berkat kokohnya struktur organisasi mulai level terbawah hingga teratas.

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Ahmad Fahir

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Internasional Siti Efi Farhati

Selasa, 21 November 2017

Puluhan Ribu Orang Saksikan Pawai Panjang Jimat

Pekalongan, Siti Efi Farhati. Puluhan ribu masyarakat Pekalongan dan sekitarnya Selasa siang (12/2) menyaksikan pawai panjang jimat yang digelar panitia peringatan maulid Nabi Besar Muhammad SAW 1434 H Kanzus Sholawat Pekalongan.

Puluhan Ribu Orang Saksikan Pawai Panjang Jimat (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Ribu Orang Saksikan Pawai Panjang Jimat (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Ribu Orang Saksikan Pawai Panjang Jimat

Aneka atraksi ditampilkan oleh peserta pawai, antara lain sepeda onthel kuno, atraksi pagar nusa, atraksi egrang bernuansa batik, barongsai dan ratusan busana batik aneka warna khas Pekalongan tidak ketinggalan menyemarakkan pawai panjang jimat yang digelar rutin tahunan panitia maulid.

Selain itu, ratusan bendera merah putih sebagai pembuka pawai diarak kembali oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) bersama Polri, Banser, Satpol PP dan puluhan pelajar, setelah sebelumnya juga diadakan pawai merah putih dengan start dari Kecamatan Warungasem Kabupaten Batang dan finish alun alun Kota Pekalongan.

Habib Luthfy bin Yahya selaku Khodimul Maulid mengatakan, pawai panjang jimat sengaja ditampilkan setiap menjelang kegiatan peringatan maulid yang diadakan Kanzus Sholawat.

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati

Dirinya menginginkan Pekalongan memiliki budaya khas seperti di Solo dan Yogya ada sekaten dan Cirebon ada panjang jimat. Pekalongan sebagai kota batik seharusnya juga memiliki kekhasan yang menjadi tradisi budaya, yang tiada lain diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisata di Kota Pekalongan.

"Momentum peringatan maulid di samping untuk meningkatkan rasa cinta kepada Rasulullah, juga meningkatkan rasa kebersamaan dalam kedamaian sesama ummat manusia di muka bumi ini," ujarnya.

Habib Luthfy yang juga Rais Aam Idaroh Aliyah Jamiyyah Ahlit Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah berharap kegiatan pawai panjang jimat ini jangan dilihat dari nilai efektifitasnya, akan tetapi jauh dari semuanya adalah kerukunan ummat dan antar ummat beragama dapat berjalan dengan baik.

"Coba dilihat, yang ikut pawai ini bukan hanya dari kelompok ummat Islam saja, akan tetapi non muslim dan etnis Tionghoa juga berpastisipasi dengan mengirimkan peserta Barongsay," tandasnya.

Simbol simbol budaya yang ditampilkan dalam pawai ini adalah sebagai perekat kerukunan ummat, sehingga kita tidak mudah dicerai beraikan oleh kepentingan kelompok yang menginginkan Indonesia pecah, kata Habib Luthfy.

Pawai yang dimulai sejak pukul 1 siang dengan start dari Stadion Kraton menyusuri Jalan Kemakmuran, Jalan Imam Bonjol, Jalan Pemuda, Jalan Hayamwuruk, Jalan dr. Cipto dan berakhir di Jalan dr. Wahidin Pekalongan.

Ikut mendampingi Habib Luthfy di panggung kehormatan, Kapolres Pekalongan Kota, Dandim 0710 Pekalongan, para tamu undangan serta pejuang veteran dengan rasa bangga menyaksikan pawai hingga usai acara.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Abdul Muiz

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pertandingan, Internasional Siti Efi Farhati

Minggu, 19 November 2017

Pesantren, dari "Adrahi" Hingga Kartu ATM

Oleh H. Usep Romli HM

DULU, pesantren yang hanya mengajarkan kitab-kitab? klasik -disebut "kitab kuning"- disebut sebagai "pesantren tradisional",? sekarang disebut "pesantren salafiyah". Mungkin agar lebih mentereng,

mengikuti kemajuan zaman.

Pesantren, dari Adrahi Hingga Kartu ATM (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren, dari Adrahi Hingga Kartu ATM (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren, dari "Adrahi" Hingga Kartu ATM

Maka tentu saja, era "tradisional" jauh berbeda dengan era "

salafiyah". Santri-santri pesantren tradisional kurun waktu 20-40 tahun yang

lalu benar-benar tradisional. Berpenampilan khas: sarung, kampret, dan

Siti Efi Farhati

kopiah beludru hitam. Tidak ada yang coba-coba pakai kopiah putih alias

Siti Efi Farhati

kopiah haji, atau kopiah model dan potongan lain di luar kopiah beludru

hitam seperti aneka model tutup kepala warna-warni yang banyak dipakai

santri zaman sekarang. Kopiah putih merupakan ciri bagi yang sudah

menunaikan ibadah haji. Kopiah di luar model serta warna beludru hitam

dianggap bukan kopiah santri.

Santri sekarang menamakan tempat tinggal mereka asrama. Kamar

dilengkapi tempat tidur, berkasur, dan berbantal empuk. Santri zaman dulu,

tinggal di kobong. Petak-petak kamar kecil yang merupakan bagian dari

bangunan pondok. Alat tidurnya hanya sehelai tikar pandan. Jarang pakai

bantal. Waktu tidur, kepala sering tanpa ganjal.

Kebutuhan makan harus masak sendiri, sebelum atau seusai

mengaji. Di bagian samping pondok, biasanya disediakan sebuah tempat semacam

dapur yang lazim disebut "tungku".

Alat memasak cukup sebuah kastrol sehingga menuntut ilmu di

pesantren sering diguyonkan menjadi "kastrologi". Sebab menanak nasi liwet

di dalam kastrol merupakan keahlian tersendiri para santri. Lauknya cukup

(kalau ada) sepotong ikan peda beureum. Tak pernah digoreng (karena tak ada

minyak kelapa) atau dibakar (takut gosong). Cukup dimasukkan ke atas nasi

liwet yang airnya baru surut. Oleh karena itu, menanak nasi liwet di

pesantren sering dijuluki elmu sabuku curuk ditumpangan peda beureum.

Keahlian lain dalam hal urusan perliwetan ini, para santri mampu

membuat kerak tsani. Kerak dua lapis, atas dan bawah. Ini dilakukan apabila

persediaan beras sudah amat menipis, sedangkan kiriman dari orang tua belum

datang. Perut diisi kerak cukup tahan lama menghadapi lapar. Keripik

singkong atau jarangking yang juga keras-keras mirip kerak, biasa menjadi

bekal cadangan para santri karena punya kemampuan mengenyangkan perut.

Santri abad Milenium tentu akan tertawa geli mendengar informasi

semacam itu. Mereka beruntung menjadi santri "salafiyah" yang sudah mengenal

makanan ransuman, indekos atau beli sendiri. Di saku mereka tersedia kartu

ATM yang dapat digunakan setiap saat, apabila kiriman bekal dari rumah

terlambat. Santri "tradisional" 20-40 tahun yang lalu, boro-boro punya ATM.

Uang recehan di saku juga jarang ada.

Adrahi

Rasa kebersamaan dalam keprihatin di lingkungan pesantren

tradisional benar-benar terjalin kuat. Prinsip ta-awanu alal birri wat taqwa

(kerja sama dalam kebajikan dan takwa) yang merupakan perintah Allah SWT

(Q.S. al Maidah: 2), benar-benar ditaati dan dilaksanakan sehari-hari.

Santri-santri senior, tanpa harus diminta, siap membantu santri-santri

junior. Mereka sigap membantu memperkenalkan cara-cara hidup di pesantren.

Mulai dari memasak, makan, hingga membaca kitab kuning, tanpa melalui

formalitas semacam perpeloncoan atau masa orientasi studi. Semua berjalan

otomatis. Saling bantu membantu, saling memberi motivasi.

Bahkan, praktik makan pun tak terlepas dari rasa kebersamaan.

Empat atau lima santri menggabungkan beras untuk ditanak pada satu kastrol.

Setelah masak dimakan secara berjamaah. Nasi liwet dihamparkan di atas niru

atau daun pisang. Memang ada untung rugi. Santri yang gembul akan menyita

bagian santri yang caman-cemen. Namun Alhamdulillah, semua santri pesantren

tradisional, tak pernah kehilangan nafsu makan. Rata-rata semua gembul,

walaupun lauk nasi cuma ikan peda, cabai rawit, atau garam. Tak pernah

tersisa remah sebutir pun di atas niru atau daun pisang bekas alas nasi.

Sebulan sekali, tiap santri mendapat kesempatan pulang ke rumah

masing-masing, bergiliran. Secara tidak langsung, santri yang pulang

mempunyai kewajiban membawa adrahi (oleh-oleh) jika kembali lagi ke

pesantren. Santri yang tidak membawa adrahi akan mendapat gelar qorun alias

kikir. Suka disindir cap jahe atau buntut kasiran. Sindiran yang menunjukkan

sikap pelit dan tidak mau berbagi.

Adrahi para santri, biasanya dikumpulkan di atas niru. Satu dua

niru penuh aneka macam makanan, yang asin yang manis, yang kering yang

basah. Opak kolontong, ulen, ranginang, sale pisang, goreng jarangking, tape

singkong, bugis, rebus ubi jalar, dan taburan sarundeng, saling campur-baur

satu sama lain. Tidak masalah. Yang penting halal dan enak. Perut santri

sangat mudah berkoalisi dengan makanan apa pun.

Rendah Diri

Waktu itu, jarang santri yang merangkap sambil sekolah sebab? pondok pesantren masih benar-benar mandiri. Bukan lembaga pendidikan? alternatif seperti sekarang. Menjadi santri atau siswa sekolah adalah pilihan pasti. Salah satunya harus dijalani penuh.

Tak heran jika terjadi gap antara pesantren dan sekolah, antara

santri dan pelajar. Banyak santri yang merasa rendah diri jika harus pergi

ke tengah kota. Sebaliknya, tak jarang anak-anak sekolah ngajago di kawasan

pesantren. Kasus semacam ini, sangat plastis dan realistis dikisahkan oleh

Rachmatullah Ading Affandi (RAF) dalam bukunya Dongeng Enteng ti Pasantren.

Pengalaman Kang Ading (panggilan akrab RAF) pada buku itu

terjadi tahun 1940-an. Zaman Jepang, tapi masih relevan dengan kondisi dua

puluh tahun kemudian (tahun 1960-an) tatkala penulis menjadi santri sebuah

pesantren tradisional di Garut.

Untuk menghapus rasa rendah diri di kalangan santri, biasanya

dicarikan kompensasi, pelampiasan. Para santri meyakinkan diri masing-masing

bahwa eksistensi mereka tidak kalah oleh eksistensi para pelajar. Bahkan,

punya banyak kelebihan. Para santri memperlajari ilmu-ilmu dunya wal

akhirat, para pelajar cuma memperlajari ilmu-ilmu dunia saja.

Memang tidak salah. Selain mempelajari ilmu-ilmu syariat (hukum

Islam) atau fikih, menghapal wirid, doa, dan ilmu-ilmu ukhrowi lainnya, para

santri terjun pula ke bidang-bidang kegiatan duniawi.

Ada yang ikut membantu kiyai memelihara ikan sambil belajar tata

cara mijahkeun (menetaskan telur ikan). Ada yang memelihara kebun tomat,

cabai, dan sayuran. Ada juga yang menjadi tukang cukur dengan mayoritas

langganan para santri, keluarga kyai, dan masyarakat sekitar. Semua

aktivitas itu dilakukan sebelum dan seusai ngaji, atau pada waktu libur

(biasanya hari Kamis dan Jumat). Semua merupakan sambilan saja sebab yang

diutamakan adalah bekal akhirat. Urusan dunia hanya sekedar jangan lupa

saja. Berpedoman kepada firman Allah SWT, Q.S. al Qashash ayat 77 : Wabtagi

fima atakallahud daral akhirata wa la tansa nasibaka minad dunya. Dan sabda

Kangjeng Nabi Muhammad saw.: Imal li dunyaka ka annaka taisyu abada wa mal

li akhiratika ka annaka tamutu ghadda. Carilah kebutuhan duniamu seperti

kamu akan hidup abadi, dan carilah kebutuhan akhiratmu seperti kamu akan

mati besok.

Karena merasa tamutu gadha (akan mati besok), dan perjalanan di

akhirat amat panjang maka mencari bekal ukhrowi menjadi prioritas utama.

Hidup di dunia, amat fana cukup sambilan saja.

Terpadu

Memasuki tahun 1970-an, kondisi mulai berubah. Antara pesantren

dan lembaga pendidikan umum, berangsur-angsur berkolerasi. Bahkan, kemudian

menyatu sama sekali. Sekarang, tiap pesantren rata-rata merupakan gabungan

dari pendidikan salafiyah (kajian kitab kuning) dan madrasah (sekolah

berorientasi umum). Santri-siswa dipadukan dalam kesatuan yang utuh dan

harmonis. Santri tidak lagi rendah diri berhadapan dengan siswa dan siswa

tidak lagi menyombongkan diri di hadapan para santri.

Bahkan, banyak sekali santri melanjutkan ke perguruan tinggi.

Bukan hanya menempuh strata I, melainkan ke jenjang S-2 dan S-3. Para

mahasiswa yang belum mengenal dunia pesantren, diprogramkan masuk pesantren

sesudah menyelesaikan studinya, sebagaimana ditradisikan di Universitas

Islam Bandung (Unisba), sejak beberapa tahun lalu.

Santri sarungan yang ahli dalam ngaliwet sabuku curuk

ditumpangan peda beureum dan memproduksi kerak tsani, mungkin hanya tinggal

kenangan. Juga adrahi yang menjadi trade mark santri tahun 1960-an ke

belakang. Kini para santri sudah mengantongi ATM, sudah menggenggam HP.

Kalau dulu, santri "nasrif" dan "ngerab" -tradisi menghapal ilmu

Sharaf-Nahwu- sambil mengangsur kayu bakar di tungku, santri sekarang

bepantalon dan berdasi model mutakhir, sambil main game di komputer

berprosesor Pentium IV. Ikut menerjuni kemajuan zaman dengan bekal keilmuan

yang diperolehnya di pesantren dan lembaga pendidikan umum. Akan tetapi,

tetap memegang prinsip: Idza lam takun milhan tuslih, fa la takun zubabatan

tufsid. Jika tidak mampu menjadi garam yang melezatkan, janganlah menjadi

lalat yang menjijikkan.

Memang, para santri yang mengemban ilmu dunawi dan ukhrowi harus

jadi garam yang melezatkan masakan. Bermanfaat bagi kehidupan nyata di

masyarakat. Jika tidak, lebih baik menyingkir dulu, membenahi dan menambah

bekal ilmu, daripada menjadi lalat yang merusak hidangan dan kesehatan.

H. USEP ROMLI H.M, Lahir di Limbangan, Garut, Jawa Barat, 1949. Pendidikan: pondok pesantren (1959-1067), SPGN Garut (1964-1966), IKIP Bandung Jrs.Pendidikan Bahasa Arab (1983-84), IAIN Sunan Gunung Jati Bandung, Fak.Adab Jrs.Sastra Arab (1986).

Pengalaman kerja: PNS Guru SD (1966 -1984), Kepala Seksi Pengembangan Bahasa Daerah SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Prov.Jabar (1984). Mengundurkan diri tanpa meminta pensiun. Wartawan SK Harian Pikiran Rakyat Bandung (1984-2004). Pembimbing Ibadah Haji dan Umroh “Megacitra” Bandung, th.1996 s/d sekarang.

Pengalaman organisasi: aktivis IPNU/GP Ansor/Banser (1964-1973), aktivis “akar rumput” Partai Persatuan Pembangunan (PPP), th.1973-1997. Penasihat Lajnah Ta’lif wan Nasr PWNU Jabar (1996-2001), Anggota pengurus DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jabar (1998-1999). Ketua Seksi Pendidikan dan Latihan PWI Cab.Jabar (1998-2002).

Sebagai wartawan, pernah melakukan tugas jurnalistik di Eropa, Afrika, Asia dan Australia. Terutama kawasan Timur Tengah. Sekarang sebagai penulis lepas dan pengelola Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) Raksa Sarakan di Desa Majasari, Kec.Cibiuk, Kab.Garut yang bergerak di bidang advokasi petani, beasiswa, anak asuh dan kelestarian lingkungan hidup.

Usep menulis sajak dan cerpen dimuat di Kalawarta Kujang, Mangle, Hanjuang, Gondewa, Galura, dll. Sebagai seorang santri, karya-karya Usep sangat kental dengan pesantren, diantaranya Bentang Pasantren (bintang Pesantren, novel, 1983), Cuerik Santri (Tangis Santri, kumpulan Cerpen, 1985) Jiad Ajengan, (Jampi-jampi Kiai, cerpen, 1991), Percikan Hikmah (kumpulan anekdot Islam, 1999), dll.

Usep pernah mendapat penghargaan Hadiah Sastra Mangle (1977), Hadiah Penulisan Buku Depdikbud (1977), Piagam Wisata Budaya Diparda Jabar (1982) serta Hadiah Sastra LBSS (1995).

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Internasional Siti Efi Farhati

Rabu, 15 November 2017

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Sosok Pelayan Umat

Suasana langit pada pagi di hari kedua Lebaran, Sabtu (18/7) lalu, cukup cerah bahkan menjelang siang tergolong terik. Namun, keadaan tersebut tak membuat luntur semangat orang-orang untuk hadir ke Majelis Kanzus Sholawat yang terletak di Jalan Dr. Wahidin No. 70 Pekalongan. Mereka hadir untuk mengikuti pengajian dan acara halal bi halal yang diselenggarakan rutin setiap tahunnya.

Usai membaca dzikir bersama dan mendengarkan mauidhoh hasanah, satu-persatu jamaah berbaris dengan tertib, menunggu giliran mereka untuk bersalaman dengan seorang tokoh yang mereka anggap sebagai seorang mursyid, guru dunia dan akhirat. Dialah Habib Luthfi, salah satu tokoh ulama yang kini menjadi Rais ‘Aam Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah (JATMAN).

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Sosok Pelayan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Sosok Pelayan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Muhammad Luthfi bin Yahya, Sosok Pelayan Umat

Ulama yang bernama lengkap Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya tersebut, dengan penuh kesabaran menerima tangan-tangan yang seakan tiada kunjung berhenti untuk bersalaman dengannya. Sesekali, seorang dari jamaah atau disebut para murid tersebut mengutarakan sesuatu kepada abah, panggilan akrab para murid kepada Habib Luthfi, entah mengemukakan sebuah pertanyaan atau meminta untuk didoakan.

Ketokohan Habib Luthfi di kalangan jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) ini tergolong begitu lengkap baik dari sanad keilmuan maupun nasab keturunan. Selain karena keilmuannya, ia mewarisi berbagai sanad thariqah mu’tabarah dari berbagai gurunya, secara nasab Habib Luthfi juga merupakan seorang keturunan tokoh pendiri NU, yang konon namanya tak mau disebut dalam sejarah pendirian NU.

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati

Disampaikan Habib Luthfi beberapa tahun lalu dalam sebuah pengajian Harlah NU di Pekalongan, kakeknya yang bernama Habib Hasyim bin Yahya merupakan ulama, selain Mbah Kiai Kholil Bangkalan, yang dimintai restunya oleh KH Hasyim Asy’ari ketika hendak mendirikan NU.

Pelayan Umat

Habib Luthfi adalah sosok pelayan umat sejati. Dalam kesibukannya sebagai Ketua MUI Jawa Tengah dan pendakwah, setiap hari, rumahnya di kawasan Noyontaan Gang 7, Pekalongan, Jawa Tengah, selalu marak oleh tamu yang datang dari berbagai daerah di tanah air. Hampir 24 jam, pintu rumah ayah lima anak itu selalu terbuka untuk ratusan orang yang datang dengan berbagai keperluan. Mulai dari minta restu, mohon doa dan ijazah, sampai konsultasi berbagai problematika kehidupan. Biasanya mereka akan merasa tenang setelah mendapat nasihat.

“Mereka kan tamu saya, sudah menjadi kewajiban saya untuk menghormati tamu. Karena itu, saya selalu terbuka,” demikian jawab Habib Luthfi ketika ditanya tentang para tamunya.

Habib Luthfi juga menularkan ilmunya melalui majelis taklim yang digelar seminggu dua kali. Selain kajian mingguan, setiap ba’da Subuh hari Jumat Kliwon, Habib Luthfi juga membacakan kitab Jami’ul Ushul fil Auliya’.

Di antara tiga majelisnya, pengajian malam Rabu dan Jum’at pagi itulah yang selalu dihadiri ribuan umat hingga menutup Jalan Dr. Wahidin. Meski banyak mengkaji tasawuf, majelis taklim tersebut terbuka untuk siapa saja.

Satu hal yang khas, biasa disampaikan Habib Luthfi dalam setiap kesempatan ia mengisi ceramah pengajian di berbagai daerah, ia mendorong masyarakat untuk mencintai bangsa ini dengan setulus hati, serta menumbuhkan kebangaan akan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ditegaskan olehnya dalam sebuah acara pengajian, bagaimanapun keadaan bangsa ini, sejelek apapun kita mesti bangga dan mengakuinya sebagai tanah air. “Indonesia tanah airku tanah tumpah darahku, ini lagu atau seremonial? Ini semestinya menjadi iqror, sejauh mana pengakuan kita terhadap Indonesia sebagai tanah airku. Tunjukkan Indonesia tanah airku, tidak hanya dalam lagu, tapi juga dalam perilaku,” tegasnya. (Ajie Najmuddin)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Doa, Fragmen, Internasional Siti Efi Farhati

Jumat, 10 November 2017

Menag: Kualitas Pendidikan Berada di Tangan Pergunu

Mojokerto, Siti Efi Farhati - Menteri Agama RI H Lukman Hakim Saifuddin atas nama pemerintah memberikan apresiasi kepada Pergunu yang telah membantu mendidik masyarakat Indonesia. Lukman berharap kerja keras para guru NU membuahkan hasil maksimal untuk melahirkan murid-murid berprestasi dan berakhlak.

“Kualitas pendidikan menjadi tujuan utama pemerintah, kami harap Pergunu bisa turut serta untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia,” kata Lukman mengawali sambutannya dalam kongres yang kedua di Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, Rabu (26/10).

Menag: Kualitas Pendidikan Berada di Tangan Pergunu (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag: Kualitas Pendidikan Berada di Tangan Pergunu (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag: Kualitas Pendidikan Berada di Tangan Pergunu

Menurut Lukman, kualitas pendidikan dari masa ke masa semakin maju. Kualitas pendidikan agama di Indonesia semakin membaik. Mulai dari kualitas kerukunan agama, kualitas lulusan madrasah atau pesantren.

Siti Efi Farhati

“Guru menduduki tempat strategis untuk turut andil dalam membangun negeri,” terangnya.

Saat ini pemerintah tengah memperbaiki lagi kualitas pendidikan dengan menetapkan standard indikator, isi, proses, dan lulusan. “Pergunu itu sudah satu misi dengan Kemenag,” katanya.

Siti Efi Farhati

Pendidik pesantren atau madrasah saat ini sudah diakui oleh negara dan disetarakan dengan pendidikan negeri. “Kita terus berupaya ada program-program guru. Tunjangan guru akan diupayakan di tahun 2017, telah memiliki sertifikasi sesuai ketentuan regulasi yang ada,” jelas Lukman memberikan angin segar kepada para guru madrasah.

Dengan ucapan basmalah Kongres Kedua Pergunu resmi dibuka oleh Menteri Agama RI. Hadir dalam pembukaan Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa, Pembina Pergunu H As’ad Said Ali, Ketua MUI Jawa Timur, pendiri dan pejuang Pergunu serta para pengurus Pergunu di berbagai wilayah dan cabang se-Indonesia. (Rof Maulana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Internasional, Fragmen, Pendidikan Siti Efi Farhati

Kamis, 09 November 2017

Sejak 2001, Bu Sinta Biasa Buka Bersama dengan Masyarakat

Subang, Siti Efi Farhati

Wakil Ketua Lembaga Dakwah PBNU, KH. Maman Imanulhaq mengecam keras aksi penolakan terhadap kegiatan buka puasa Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid yang digelar di Semarang, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. Pernyataan itu disampaikan usai mengisi kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Gedung Dekopinda Subang, Subang, Jawa Barat.

Sejak 2001, Bu Sinta Biasa Buka Bersama dengan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejak 2001, Bu Sinta Biasa Buka Bersama dengan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejak 2001, Bu Sinta Biasa Buka Bersama dengan Masyarakat

"Sulit dipahami acara positif kok dibubarkan. Sejak 2001 Bu Sinta sudah terbiasa buka bersama dengan berbagai elemen masyarakat, buka bersama itu kadang diadakan di pesantren, kolong jembatan, pura, wihara, penjara, dan beberapa tempat lain," kata Pengasuh Pesantren Al-Mizan Majalengka itu, Sabtu (18/6).

Bahkan, kata dia, sudah jutaan orang yang merasa gembira dengan kegiatan buka bersama Bu Shinta karena bisa makan takjil dan sekaligus berbagi keluh kesah tentang hidup mereka.

Siti Efi Farhati

Ditambahkannya, aksi penolakan terhadap kegiatan buka bersama Bu Shinta, menunjukan ketidakmengertian yang sengaja terus dipelihara dan tidak mau belajar, merasa paling benar sendiri dan merasa yang paling mengerti tentang agama.

Siti Efi Farhati

"Arogansi itu bentuk indikasi pemahaman keagamaan yang dangkal. Ini berbahaya karena merusak ketentraman juga memicu konflik agama. Justru aksi mereka itu malah merusak saklaritas puasa," ungkapnya.

Tidak hanya itu, anggota DPR RI ini juga mengecam kicauan akun yang menghina Bu Shinta seperti Mustofa Nahrawardaya lewat akun Twitter @TofaLemon yang menyinggung keterbatasan Bu Shinta dalam upayanya untuk berbagi dengan orang lain.

"Bikin tweet itu yang cerdas dan mencerahkan, ini malah bikin gaduh yang ngga jelas. Apalagi katanya dia itu aktivis," tegas Kang Maman, sapaan akrabnya.

Atas dua perlakuan terhadap Bu Shinta itu, Kang Maman mendesak adanya tindakan tegas dari Pemerintah karena menurutnya isu agama sangat sensitif jika dibiarkan akan mengganggu kerukunan antar umat beragama serta dapat menyulut konflik yang lebih luas. (Aiz Luthfi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Internasional Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock