Tampilkan postingan dengan label Quote. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Quote. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Maret 2018

Tanpa Uang Sepeser Pun, Pasutri NU Ini Akan Keliling Dunia

Jakarta, Siti Efi Farhati?

Pasangan suami istri (pasutri) Hakam Mabruri (34) dan Rofingatul Islamiah (34) bertekad akan berkeliling dunia dengan sepeda yang didesain ditunggangi berdua. Ia berangkat dari Malang pada Sabtu 17 Desember 2016. Sampai di Jakarta pada Selasa (10/1).?

Tanpa Uang Sepeser Pun, Pasutri NU Ini Akan Keliling Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Tanpa Uang Sepeser Pun, Pasutri NU Ini Akan Keliling Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Tanpa Uang Sepeser Pun, Pasutri NU Ini Akan Keliling Dunia

Pasutri tersebut mengambil jalan bagian utara pulau Jawa. Di tiap kota, Hakam yang aktif di Gerakan Pemuda Ansor Malang, kerap bermalam di kantor GP ansor bersama istrinya. Tidak hanya itu, ia juga menemui tokoh agama di kota yang ia singgahi.?

Keduanya selalu melakukan perjalanan di siang hari. kemudian istirahat sore atau menjelang malam. kemudian berangkat esoak harinya.?

Menurut Hakam, ketika keduanya berangkat, di sakunya tak ada uang sepeser pun. Ia kemudian mendapat sumbangan dari Bupati Malang, ketika ia dilepas secara resmi oleh Bupati, GP Ansor dan beragam komunitas dari Stadion Kanjuruan .

Siti Efi Farhati

Ditanya disumbang berapa oleh Bupati, Hakam tidak mau menyebutkan nomialnya. Namun, yang jelas, ketika dia berangkat, tak mengantongi uang sepeser pun.?

Namun di perjalanan, dukungan dari berbagai pihak didapatkan dua pasangan tersebut, termasuk dana. Salah seorang menteri misalnya, yang secara kebetulan bertemu di kantor Pimpinan Pusat GP Ansor, Jakarta, Selasa malam (10/1), juga turut menyumbang dana.

Sampai saat ini, ia menyebtukan, dukungan dana dari berbagai pihak telah terkumpul dana sebesar 17 juta dan 600 Dollar.?

Mengenai perjalanannya, setelah sampai di Aceh, dia akan kembali ke Medan. Kemudian menyebrang ke Singapura. Lalu melanjutkan perjalanan darat ke Malaysia, Thailanda. Keduanya akan melewati jalur Asia Selatan seperti India, Neval. Terus ke barat, ke barat. Sementara ia akan mencoba sampai di Kairo, Mesir. (Abdullah Alawi)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Internasional, Quote, Ulama Siti Efi Farhati

Senin, 05 Februari 2018

SMA NU Gratiskan SPP untuk Hafizh-hafizhoh

Malang, Siti Efi Farhati. Para pelajar SMA yang hafal Al-Qur’an mendapat perhatian khusus di SMA NU, Pakis, Malang. siswa-siswi yang berprestasi akan mendapatkan keringanan membayar Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan (SPP), khusus siswa/i yang hafal al-Qur’an, mendapatkan beasiswa penuh, tanpa membayar SPP.

SMA NU Gratiskan SPP untuk Hafizh-hafizhoh (Sumber Gambar : Nu Online)
SMA NU Gratiskan SPP untuk Hafizh-hafizhoh (Sumber Gambar : Nu Online)

SMA NU Gratiskan SPP untuk Hafizh-hafizhoh

Diantara siswa-siswi yang berprestasi, selain pelajar yang hapal Al-Qur’an adalah pelajar yang mendapatkan peringkat satu, dua hingga tiga.

“Selain untuk memprosikan Sekolah SMA NU, saya pikir sangat penting untuk memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya untuk para hafizh-hafizhoh, kita tidak dapat mepungkiri jika semua ilmu datangnya dari Al-Qur’an,” ungkap Nanik Nurhayati, kepala SMA NU pada Siti Efi Farhati, Senin (29/04).

Siti Efi Farhati

Pengratisan SPP akan berlaku selama siswa masuk tahun ajaran pertama hingga lulus. Selain itu, Sekolah yang bertempat di Jalan Haji Mustofa 108, Malang ini memiliki 80 gedung dan Laboratorium IPA. Letaknya yang strategis dari pondok sekitarnya memudahkan para santri di pondok tersebut untuk sekolah di SMA NU.

Siti Efi Farhati

“Selain mencerdaskan dengan ilmu-ilmu pengetahuan yang kami bidik secara serius, kami juga ingin menanamkan aswaja pada generasi bangsa yang sangat perlu untuk kehidupan mereka kelak” paparnya.

Tidak hanya proses belajar mengajar, beberapa ekskul (kkstrakurikuler) seperti Mading, al-Banjari, Thetre, Pencak silat juga digalakkan, “Kami ingin mencetak Islam yang kompetitif, beraliran ahlussunnah,  unggul dan profesional,” imbuhnya lagi.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Diana Manzila

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pendidikan, Quote Siti Efi Farhati

Selasa, 30 Januari 2018

Pergunu Jabar Rombak Struktur Kepengurusan

Bandung, Siti Efi Farhati. Pimpinan Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Jawa Barat mengubah struktur kepengurusannya menyusul hasil rapat evaluasi yang digelar di kantor PWNU Jawa Barat, Bandung, Kamis (23/4).

Pergunu Jabar Rombak Struktur Kepengurusan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu Jabar Rombak Struktur Kepengurusan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu Jabar Rombak Struktur Kepengurusan

“Dalam sebuah organisasi yang dinamis, restrukturisasi kepengurusan adalah hal wajar, apalagi mempertimbangkan efektifitas dan untuk peningkatan kinerja organisasi, sebagai bagian evaluasi organisasi, hal ini dibenarkan ” tutur Wakil Sekretaris Pimpinan Pusat Pergunu H Aksan Usthadi yang juga hadir dalam rapat.

Rapat evaluasi dihadiri pula Wakil Ketua PWNU Jawa Barat KH Wahyu Wibisana dan segenap pengurus harian PW Pergunu Jawa Barat.

Siti Efi Farhati

Menurut Aksan, rapat evaluasi organisasi merupakan hal yang dibenarkan dalam PD/PRT Pergunu dalam rangka peningkatan efektifitas dan kinerja organisasi.

Siti Efi Farhati

Dari hasil rapat evalusi, Pergunu Jawa Barat memutuskan adanya rotasi susunan kepengurusan, di antaranya Dr H Diding Nurdin yang dulunya sekretaris menjadi Wakil Ketua dan H. Saepuloh yang sebelumnya wakil ketua menjadi sekretaris Pergunu Jawa Barat.

Sementara itu, menurut sekretaris terpilih H Saepuloh, dalam kepengurusan baru ini, Pergunu Jawa Barat juga akan mengakomodasi pakar pendidikan dari UPI Bandung, UNPAD dan UIN Bandung. “Ada beberapa guru besar dari UPI, UNPAD dan UIN Bandung yang bersedia untuk masuk dalam kepengurusan Pergunu Jawa Barat,” tutur H. Saepuloh. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Quote, Habib Siti Efi Farhati

Minggu, 28 Januari 2018

Karya Alumni Pesantren Lirboyo Diminati di Timur Tengah dan Amerika

Jakarta, Siti Efi Farhati. Alumni Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Agus Shohib Khoironi menghebohkan dunia keilmuan Islam dengan keberhasilannya menulis sebuah kitab panduan tata bahasa Arab dengan metode pendekatan baru, yaitu menggunakan skema dan diagram yang sangat memudahkan pembaca dalam mendalami ilmu Nahwu dan Shorof.



Karya Alumni Pesantren Lirboyo Diminati di Timur Tengah dan Amerika (Sumber Gambar : Nu Online)
Karya Alumni Pesantren Lirboyo Diminati di Timur Tengah dan Amerika (Sumber Gambar : Nu Online)

Karya Alumni Pesantren Lirboyo Diminati di Timur Tengah dan Amerika

Kitab dengan nama “Audlohul Manahij” itu mendapat banyak pujian tidak hanya dari ulama Timur Tengah, tapi juga dari masyarakat Eropa dan Amerika. Dr Basyiiri Abdul Mu’thy dari Al-Azhar Cairo, Mesir, menyebut kitab tersebut sebagai panduan belajar bahasa Arab yang paling mudah dipahami dibanding kitab-kitab lain yang pernah dilihatnya.

“Saya adalah orang Arab yang belum pernah melihat kitab Mu’jam Nahwu Shorof yang paling mudah dipahami yang ditulis oleh seorang yang bukan Arab, dimana orang Arab sendiri belum ada atau belum pernah menulis dengan metode seperti ini sampai saat ini,” katanya seperti dikutip harian Duta Masyarakat, Selasa (4/3).

Siti Efi Farhati

Di Amerika Serikat (AS), karya santri kelahiran Ngawi, Jawa timur, 13 April 1972 itu laku keras. Bahkan, Booksurge LLC (Part of The Amazon Group of Companies) yang berkedudukan di Charleston, South Carolina-USA turut memperluas penyebaran buku ini.

Siti Efi Farhati

”Buku ini dipasarkan ke universitas-universitas, lembaga-lembaga pendidikan, khususnya pada bidang Arabic program, Islamic Studies, Middle and Near Eastern Studies melalui internet di Amazon.com,” kata Imam Kamal, Direktur PT Wiracandra Mulia Press yang menerbitkan karya itu.

“Selain di AS, di Iran kitab ini mandapat bintang lima (book rating) sebagai kitab terlaris. Yang membanggakan lagi, dari karya anak bangsa tersebut, adalah mandapatkan bintang lima (book rating) pada website Ira, serta tanggapan yang sangat positif selama kami terbitkan sejak Februari 2007 hingga akhir tahun lalu,” tuturnya.

Tokoh-tokoh yang memberikan pujian terhadap kitab ini, antara lain, Professor Adel Gamal (Department of Near Eastern Studies, University of Arizona – USA), Inas Hassan, Ph.D (School of Language - Arabic, University of Maryland – USA), Ramzi Salti, Ph. D (Arabic Language & Literature. Stamford University – USA), Martin Sulzer-Reichel (Director of Arabic and German Language Program, Department Culture of Modern Literatures and Cultures, University of Richmond –USA), Paul O. Myhre, Ph.D (Wabash Center in Association of American Academy of Religion – USA), dan Blackwell Publishers-UK (Book & Resources Review Editor for the Journal Teaching Theology and Religion.

Praktisi dan pecinta Bahasa Arab, Khoirul Huda Basyir tak menyangkal kelebihan kitab Audlohul Manahij. Ia juga menyebut karya santri Lirboyo yang pernah belajar ke Al-Azhar Mesir itu sebagai kitab tata Bahasa Arab yang mudah dipahami.

”Sebagai orang yang lama mengkaji Bahasa Arab, saya akui kitab ini bagus dan mudah dipahami. Saya kira kitab ini cocok untuk para santri NU yang ada di pesantren-pesantren NU,” kata Khoirul Huda Basyir yang juga Sekretaris PP LDNU. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Bahtsul Masail, Santri, Quote Siti Efi Farhati

Kamis, 18 Januari 2018

Tanya-Jawab Ilmiah Sekitar Perayaan Maulid Nabi

Dalam diskursus perayaan maulid Nabi banyak dari kalangan ikhwan yang masih belum tahu mengenai sumber dalil yang mendasari bahwa maulid memang pekerjaan yang sesuai syariat. Sehingga perlu adanya kita menghadirkan dalil-dalil ilmiah dengan konsep tanya-jawab seputar maulid.

Tanya? ? ? : Apakah maulid itu?

Jawab? ? : Maulid diambil dari kata bahasa Arab walada-yalidu yang bermakna kelahiran, yaitu kelahiran baginda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun dalam pelaksanaannya, maulid merupakan kegiatan keagamaan yang mengadung esensi pesan ayat suci al-Quran, disertakan kisah-kisah seputar kehidupan Nabi Muhammad, dan di dalamnya terdapat pujian dan shalawat dalam bentuk syair. Di akhir acara, terkadang sebagian orang bersedekah makanan untuk sesama.

Tanya-Jawab Ilmiah Sekitar Perayaan Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Tanya-Jawab Ilmiah Sekitar Perayaan Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Tanya-Jawab Ilmiah Sekitar Perayaan Maulid Nabi

?

Tanya? ? ? : Siapakah orang yang pertama kali merayakan maulid?

Siti Efi Farhati

Jawab? ? : Yang merayakan maulid pertama kali adalah penguasa Kota Irbil, Mudzoffar Abu Said Kaukabari bin Zainuddin, seorang raja terpuji dan pembesar yang dermawan. Ibnu Katsir pernah berkomentar tentangnya: "Beliau melaksanakan maulid pada Rabiul Awal dan memperingatinya dengan meriah. Ia sosok yang santun, pemberani, cerdik, dan adil. Semoga Allah merahmati beliau. (Hawi lil Fatawi, halaman 292)

?

Siti Efi Farhati

Tanya : Apa pandangan ulama mengenai maulid Nabi?

Jawab : Imam Jalaluddin As-Suyuthi ketika ditanya perihal maulid beliau menjawab secara eksplisit dengan sebuah karya kitab yang diberi nama Husnul Maqshad fi Amalil Maulid. Menurut beliau, "Hukum asal maulid Nabi yang mana di dalamnya terdapat orang yang membaca ayat suci al-Qur’an dan hadits Nabi tentang pengarai Rasulullah, begitu juga ayat yang ada hubungan dengan kisah kenabiannya. Dilanjutkan dengan acara ramah tamah, lalu bubar tidak lebih dari itu. Maka, itu adalah bidah hasanah dan pelakunya mendapat pahala.” (Husnul Maqshad, halaman 251-252).

Imam Suyuti juga berkata bahwa suatu ketika Imam Ibnu Hajar ditanya tentang maulid, beliau menjawab, “Asal muasal amalan maulid (seperti yang ada saat ini) adalah bidah, dan tidak pernah dinukil dari para salafus shalih, bersamaan dengan hal tersebut terdapat amalan yang baik di dalamnya dan menjauhi amalan yang buruk. Maka barangsiapa yang berusaha mengamalkan (yang baik di dalamnya) dan menjauhi sebaliknya maka amalan ini hukumnya bidah hasanah, dan tidak begitu jika sebaliknya. (Hawi lil Fatawi, halaman 282). Dari dua komentar di atas jelas bahwa merayakan maulid itu boleh selama tidak ada kemungkaran di dalamnya.

Ibnu Taimiah berpendapat, memulyakan hari kelahiran dan menjadikannya sebagai ritual musiman telah dikerjakan oleh sebagian orang. dan menjadikannya mendapat pahala yang sangat agung karena bagusnya tujuan dan memuliakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salllam (Sirah Halabiah Juz I, halaman 84-85).

Sayyid Zaini Dahlan mengatakan, merasa senang pada hari kelahiran Nabi termasuk sebagian cara penghormatan kepada beliau (Addurarus Saniyah, halaman 190).

?

Tanya : Adakah ulama yang mengarang kitab tetang kebolehan maulid?

Jawab : Tentu saja, berikut di antara nama-nama ulama beserta karyanya:

1. Husnul Maqshad fi Amalil Maulid (imam jalaluddin As7Suyuthi)

2. Khulashatul Kalam fi Ihtifal bi Maulidi Khairil Anam (Syekh Abdulloh bin Syekh Abubakar bin Salim)

3. Ihtifal bil Maulid (DR. Said Ramadhon Buthi)

4. Haulal Ihtifal bil Maulid Nabawi (Prof DR muhammad bin alwi almaliki)

5. Ihtifal bil Maulid Bainal Muayyidin wal Muaridlin (Abil Hasanain Abdulloh al-Husaini al-Makky), dan lain-lain.

Sementara ulama ahli Hadits yang merangkum sejarah Nabi dalam bentuk maulid sangat banyak, di antaranya:

1. Al-Hafidz Abil Fida ibn Katsir (774 H; maulidnya ditahqiq DR. Sholahuddim Munjid)

2. Al-Hafidz Abil Fadhl Abdurrahim Al-Kurdi (806 H)

3. Al-Hafidz Abul Khair Muhammad As-Sakhowi (902 H)

4. Al-Hafidz abdurrohman ali assyibani (994 H; maulidnya yang ditahqiq Sayyid Muhammad al-Maliki)

5. Al-Hafidz Mula Ali Al Qori (104H; Mauridurrawi fi Maulid Nabawi)

6. Al-Hafidz Muhammad bin Abu Bakar al-Qisi (842 H; Jamiul Atsar fi Maulidil Mukhtar)

7. Al-Hafidz Al-Iraqi (808 H; Mauridul Hani fi Maulid Assunni), dan masih banyak ulama lainnya.

?

Tanya? ? ? : Apakah dalil kebolehan Maulid?

Jawab? ? : Sebelumnya kita perlu melihat interpretasi maulid itu sendiri. Kalau kita mau tahu hukumnya, kita lihat apa pekerjaannya (karena hukum diberlakukan untuk perbuatan (af’alul mukallafin, Red). Adapun pekerjaan dalam maulid di antaranya adalah membaca ayat suci al-Quran, membaca sejarah Nabi, mahallul qiyam, itikaf di masjid, membaca syair di masjid, doa mendekatkan diri kepada Allah, dzikir berjamaah, taushiyah dan nasihat, menghidupkan syiar Islam, dan sedekah. Beberapa hal yang disebutkan di atas para ulama sepakat mengenai kebolehannya, mungkin sebagian orang kurang percaya mengenai dalil kebolehan dua hal yaitu mahallul qiyam dan menbaca syair pujian. Sebenarnya bagaimana hukumnya?

?

Tanya? ? ? : Mengapa kita pada hari kelahiran nabi harus senang, apakah mendapatkan pahala?

Jawab ? : Ungkapan rasa bahagia di saat kelahiran baginda Nabi adalah wujud rasa syukur kepada Allah sebab dengan lahirnya beliau agama Islam ini ada. dan agama Islam sampai di tangan kita semua. Dikisahkan seorang wanita yang bernadzar ingin menabuh rebana di dekat Nabi, bahkan di dekat kepala beliau jika Nabi datang dalam keadaan selamat. Maka, apa jawaban Nabi "Laksanakan nadzarmu!”

Bukankah kita semua tau tidak boleh bernadzar dalam perkara yang mubah dalam fiqh, dan tidak ada yang lebih mulia dari kepala Nabi Muhammad di alam semesta ini. Tetapi dalam kenyataannya Nabi memperbolehkan. Mengapa begitu? Karena nabi mengetahui bahwa hal ini dibarengi dengan perasaan senang, cinta dan takdhim kepada beliau.

Abu Lahab, orang yang sangat kejam terhadap Nabi, diriwayatkan dalam hadits shahih bahwa setiap hari Senin ia diringankan dari siksa neraka karena di saat nabi lahir Abu Lahab bergembira. Ia bahkan memerdekakan budaknya, Tsuwaibah, sebagai ungkapan kebahagiaan atas kelahiran ponakannya. Dalam hal ini Imam Al-Hafidz Syamsyuddin Muhammad Nasirruddin Addimsyiqi bersenandung:

? ? ? ? ? ? ¤ ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ¤ ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ¤ ? ? ? ?

"Jika orang seperti Abu Lahab saja yang jelas-jelas jahat dan disiksa di neraka setiap hari Senin diringankan siksanya sebab ia bergembira dengan lahirnya Nabi Muhammad maka apalagi jika yang bergembira seorang muslim yang sepanjang hidupnya bergembira atas lahirnya Nabi Muhammad dan wafat dalam keadaan Islam."

?

Tanya? ? ? : Apakah landasan hukum mahallul qiyam?

Jawab? ? : Mahallul qiyam jika kita artikan ke dalam bahasa Indonesia bermakna tempat kita berdiri. Yakni, sikap berdiri untuk menunjukkan ekspresi kebahagiaan dan dan penghormatan atas lahirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagian orang menganggap tidak boleh berdiri untuk memuliakan orang lain. Namun dalam hadits sendiri, Rasulullah memerintahkan sahabat Anshor untuk berdiri saat kedatangan pemimpin mereka. Nabi berkata: ? ? (berdirilah atas kedatangan pemimpin kalian!)

Sementara ulama menjelaskan apa kandungan mahallul qiyam di antaranya dalam sebuah syair:

? ? ? ? ? ? ¤ ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

"Para ulama memulai pekerjaan ini (mahallul qiyam) dengan meresapi kisah beliau (Nabi) dan membayangkan sosoknya yang agung bahkan dan tidak hanya dalam hal ini namun dalam segala kondisi"

Contoh lain hadits dari Sayyidatina Fatimah Azzahra, putri Nabi yang berdiri jika Nabi hadir; Rasulullah pun begitu saat Fatimah hadir. Dalam Sunan Abi Dawud (5217) disampaikan: "Sayyidatina Fatimah saat masuk menghadap Nabi, maka beliau (Nabi) berdiri dan mencium Fatimah lalu mempersilakan duduk di tempatnya. Begitu pun Rasulullah saat masuk ke hadapan Fatimah maka Fatimah berdiri dari tempat duduknya lalu Nabi menciumnya dan Fatimah mempersilakan Nabi duduk di tempatnya."

Pada praktiknya saat kita berdiri yang kita lakukan adalah memuji, bershalawat, bersyukur atas anugerah Allah yang menghadirkan keistimewaan dari kehadiran kekasihnya, Nabi Muhammad. Allah subhanahu wataala menyuruh kita berdzikir kapan saja di mana saja dan kondisi apa saja: ? ? ? ? ? ?

Bahkan ulama juga angkat bicara mengenai kebolehan mahallul qiyam dan secara detail dijelaskan dalam satu kitab khusus yang bernama Attarkhis bil Qiyam li Dzawil Fadhl wal Maziyyah min Ahlil Islam yang dikarang oleh Al Imam Nawawi.

?

Tanya ? ? : Apakah Nabi memperbolehkan sahabat memuji beliau?

Jawab ? : Tentu saja Nabi memperbolehkan. Coba kita telisik kitab Al-Istiab fi Marifatil Ashab tentang hadits Kharim bin Aus bin Haritsah yang mana ia berkata: "Aku berhijrah kepada Rasulullah selepas dari Perang Tabuk dan aku memutuskan untuk masuk Islam, lalu aku mendengar Abbas bin Abdul Mutholib berkata: ‘Ya Rasulullah, sesungguhnya aku ingin memujimu.’ Nabi menjawab, ‘Katakanlah, tidak akan pecah gigimu’.” Lalu Abbas mengutarakan syair pujian:

? ? ? ? ? ? ¤ ? ? ? ?

? ? ? ? ? ¤ ? ? ? ? ?

?

(Dan setiap orang yang didoakan Nabi seperti kepada abbas giginya awet sampai tua)

?

Tanya ? ? : Adakah bukti lain sahabat memuji Nabi?

Jawab? ? : Berikut nama beberapa sahabat beserta syairnya yang dalam sejarah pernah memuji Nabi, di antaranya:

1. Kaab bin Zuhair bin Abi Sulma

? ? ? ? ? ¤ ? ? ? ? ?

2. Hasan bin Tsabit

? ? ? ? ? ? ¤ ? ? ? ? ?

3. Bujair bin Zuhair al-Muzani

? ? ? ? ? ¤ ? ? ? ? ? ?

4. Abbas bin Madras

? ? ? ? ? ¤? ? ? ? ?

5. Nabigha Al Jadi

? ? ? ? ? ¤ ? ? ? ? ? ?

?

Tanya? ? ? : Tolong disebutkan siapa ulama yang juga memuji Rasulullah?

Jawab? ? : Ulama juga tak ingin ketinggalan dalam menggapai cinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka ramai-ramai mengarang syair pujian. Akan saya sebutkan beserta penggalan syairnya, seperti:

Al-Imam al-Hafidz ibn Daqiq berkata:

? ? ? ? ¤ ? ? ? ?

Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar al Atsqalani berkata dalam syairnya:

? ? ? ? ? ? ¤ ? ? ? ? ? ?

Al-Imam Aminus Syuara Ahmad Syauqi berkata:

? ? ? ? ¤? ? ? ?

?

Tanya? ? ? : Kenapa banyak orang melakukan maulidan pada hari Kamis dan bulan Robiul Awal?

Jawab? ? : Sebenarnya melaksanakan maulid boleh kapan saja, adapun maulidan di hari Jumat sebab berlandasan kepada hadits Nabi:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ?

“Perbanyaklah shalawat atasku di hari Jumat dan malam jumat, dan barangsiapa bershalawat sekali maka Allah akan bershalawat atasnya 10 kali."

Mengenai perayaan di bulan Rabiul Awal maka ada baiknya kita lihat sejarah. Ketika seseorang berpuasa asyura mereka berpuasa atas keberhasilan Nabi Musa, dan ketika hari raya Idul Adha kita berkorban mengenang jasa Nabi Ismail, dan saat Rabiul Awal kita memperingati lahirnya Nabi Muhammad shallallahu? ‘alaihi wa sallam. Rasulullah bersabda:

? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

"Maka Allah mengasihani seseorang yang menjadikan hari kelahirannya sebagai hari raya (untuk mensyukuri) agar menjadi penyakit yang parah bagi orang yang di hatinya terdapat penyakit."

Kelahiran Nabi Muhammad merupakam kelahiran yang istimewa karena pada bulan ini tidak ada perayaan lain selain kelahirannya. Sementara kalau kita lihat bulan lain terdapat banyak keistimewaannya. Oleh karena itu ini menunjukkan bahwa keagungannya secara istiqlaliyah atau terkhusus kepada beliau saja.

Dari beberapa pertanyaan di atas kita bisa simpulkan bahwa maulid Nabi bukanlah hal yang dilarang agama. Karena maulid Nabi adalah ungkapan kita dan bentuk syukur kita dengan adanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

?

(Moh Nasirul Haq, Santri Rubat Syafiie Mukalla Yaman)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati News, Quote Siti Efi Farhati

Pelajar NU Banyuwangi: Imbangi Kebencian di Medsos dengan Dakwah Ramah

Banyuwangi, Siti Efi Farhati. Pelajar NU kecamatan Banyuwangi menggelar acara Makesta ketiga kalinya di Masjid Nur Yasin Fatimah, jalan Nuri, Pakis, Banyuwangi. Kamis (29/12) pagi.

Acara ini dihadiri Rais Syuriah MWCNU Banyuwangi KH Ahmad Shiddiq, ? perwakilan pengurus PC IPNU IPPNU Banyuwangi, Ketua PAC IPNU Banyuwangi M. Sholeh Kurniawan, Ketua PAC IPPNU Banyuwangi Fitriyah, Ketua Tamir Masjid sekaligus pembina PAC IPNU 2011-2013 Imron Rosyadi.

Pelajar NU Banyuwangi: Imbangi Kebencian di Medsos dengan Dakwah Ramah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Banyuwangi: Imbangi Kebencian di Medsos dengan Dakwah Ramah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Banyuwangi: Imbangi Kebencian di Medsos dengan Dakwah Ramah

Dalam sambutannya, Sholeh mengatakan, sebagai langkah untuk mengantisipasi masuknya aliran radikalisme dan terorisme, harus diupayakan pada Makesta ini secara maksimal di setiap ranting.

"Sudah menjadi wacana umum dewasa ini konsistensi pelajar menjadi rebutan ideologi aliran-aliran keras. Sebagian dari mereka katakan mengaku kenal dengan aliran-aliran radikal melalui website, YouTube, dan organisasi perkumpulan agama di masing-masing sekolah dan universitas," ungkap Sholeh, melalui siaran pers yang diterima Siti Efi Farhati, Kamis (5/1).

Siti Efi Farhati

Sholeh menambahkan, maka ke depannya tak hanya akan mengoptimalkan sistem kaderisasi sesuai dengan pedoman yang ada, melainkan juga harus diimbangi dengan metode dakwah yang ramah, toleran, juga lewat media sosial secara intens.

Sementara itu, Rais Syuriah MWCNU Banyuwangi KH Ahmad Shiddiq menyatakan bangga dikarenakan dapat bertemu dan memberikan arahan secara langsung dihadapan 36 pelajar yang ikut Makesta.

Siti Efi Farhati

"Program ini penting untuk kalian ikuti mulai awal hingga akhir, seperti yang dikatakan tadi untuk menangkis ideologi radikal dan teror di setiap pelajar. Sehingga nantinya kalian patut mencatat serta meresapi apa yang disampaikan oleh setiap pemateri. Baik kalian tulis di buku atau kalian rekam menggunakan smartphone. Apa pun caranya terpenting kalian bisa mengingat dan mengaplikasikan ilmu yang didapatkan," ungkap pengasuh pondok pesantren Al-Anwari Kertosari tersebut.

Ia berharap nantinya ketika kalian menjadi pengurus NU dapat diandalkan oleh masyarakat dan menjadi andalan. Juga dengan langkah ini kita selalu diberikan keistikomahan.

Acara ini berlangsung mereka lakukan mulai Kamis pagi hingga Jumat siang. Dalam waktu sehari semalam mereka akan mendiskusikan terkait ke-Aswajaan, ke-NUan, kepemimpinan, keorganisasian, dan ke-IPNU IPPNUan. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Quote Siti Efi Farhati

Minggu, 14 Januari 2018

Habis Ciamis, Langsung Tasikmalaya

Tasikmalaya, Siti Efi Farhati. Setelah kemarin digelar di Kabupaten Ciamis, Rapat Pimpinan Daerah (Rapimda); dalam rangka knsolidasi dan koordinasi para imam, khotib, dan DKM, akan digelar pula di Tasikmalaya, hari ini, Ahad (10/2).

Habis Ciamis, Langsung Tasikmalaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Habis Ciamis, Langsung Tasikmalaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Habis Ciamis, Langsung Tasikmalaya

Kegiatan tersebut rencananya akan berlangsung di aula PCNU Kabupaten Tasikmalaya. Acara akan dimulai pukul 09.00, dibuka amanat Rais Syuriyah PBNU KH Masdar F. Mas’udi. Kemudian dilanjutkan materi pertama Revitalisasi masjid untuk memperkuat struktur dan kultur NU; akan disampaikan Ketua PP LTMNU KH Abdul Manan A. Ghani.

Kemudian materi fundrising (keuangan masjid) disampaikan KH Mansur Saeroji, pengembangan ekonomi masjid oleh Ir. Suaidi MM., database masjid oleh Sekretaris PP LTMNU KH Ibnu Hazen dan Ir. Soecipto, pentingnya sertifikasi wakaf nadzir NU dan tekniknya oleh KH Sholeh Qosim MM.

Siti Efi Farhati

Kegiatan yang diagendakan berakhir pukul 17.00 tersebut bertema “Wujudkan masjid sebagai pusat pemberdayaan umat”; diikuti 200 orang peserta dari Kabupaten/Kota Tasikmalaya.

Rapimda tersebut terselenggara atas kerjasama PP LTMNU, PCNU Kabupaten/Kota Tasikmalaya dan PT Sinde Budi Sentosa.

Siti Efi Farhati

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Quote, IMNU, PonPes Siti Efi Farhati

Jumat, 12 Januari 2018

Presiden Jokowi Tegaskan Islam Radikal Bukan Islamnya Indonesia

Jakarta, Siti Efi Farhati. Presiden Joko Widodo dalam Halaqah Nasional Alim Ulama Mejelis Dzikir Hubbul Wathon menegaskan bahwa Islam radikal bukanlah Islam milik Indonesia.

Presiden Jokowi Tegaskan Islam Radikal Bukan Islamnya Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Jokowi Tegaskan Islam Radikal Bukan Islamnya Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Jokowi Tegaskan Islam Radikal Bukan Islamnya Indonesia

"Peran besar ulama kita untuk menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan Islam yang rahmatan lil alamin kepada umat, kepada santri-santri. Tuntunan yang diberikan itulah yang menjadikan kita alhamdulillah rukun, bersatu dalam keberangaman yang sangat beragam, tuntunan yang mewujudkan Islam moderat, Islam yang santun, bukan yang keras dan radikal. Islam radikal bukan Islamnya Majelis Ulama Indonesia. Islam radikal bukan Islamnya Indonesia," kata Presiden Joko Widodo di Jakarta, Kamis (13/7).

Halaqah Nasional Alim Ulama yang mengangkat tema "Memperkokoh Landasan Keislaman Nasionalisme Indonesia" dihadiri oleh Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia yang juga Rais Aam PBNU KH Maruf Amin, Wakil Rais KH Miftahul Akhyar, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, ulama sepuh KH Maimoen Zubair, Kepala Badan Intelijen Negara Budi Gunawan serta sekitar 700 ulama dari berbagai daerah di Indonesia.

"Saya yakin kerukunan, persatuan atas keberagaman di negara kita, menjadi kekaguman dunia terhadap kerukunan Indonesia. Hal itu terjadi karena kemampuan umat Islam Indonesia menerapkan Islam yang rahmatan lil alamin, bukan hanya diucapkan tapi implementasikan dalam kehidupan sehari-hari," ujar Presiden.

Siti Efi Farhati

Sekali lagi Presiden Joko Widodo berharap agar para ulama dapat terus berperan aktif menuntun umat untuk mempererat kerukuran.

"Bukan hanya di antara umat Islam sendiri, tapi juga ukhuwah islamiah kita dan lebih besar lagi ukhuwah basyariyah (persaudaraan berdasar kemanusiaan) karena takdir bangsa Indonesia untuk ditantang dalam mengelola keberagaman dan kebhinekaan kita," kata Presiden.

Presiden juga mengingatkan keuntungan bangsa Indoensia untuk hidup dalam keberagaman namun memiliki Pancasila sebagai ideologi negara dan pandangan hidup bangsa dalam menjalani langkah dan perjalanan bangsa yang majemuk.

Siti Efi Farhati

"Pancasila dengan Islam bukan untuk dipertentangkan dan dipisahkan, Pancasila adalah dasar negara, sementara Islam adalah akidah yang harus kita pedomani. Sila pertama Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, Pancasila menghormati nilai keagamaan, Pancasila berdampingan dengan Islam dan agama lain yang dianut bangsa Indonesia," kata Presiden.

Ia pun berharap agar majelis dzikir dapat berperan untuk menolong bangsa Indonesia kembali ke semangant kerja sama, tolong menolong dalam segala aspek kehidupan untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, berkepribadian, adil dan makmur.

"Tidak boleh ada yang punya agenda politik tersembunyi maupun terang-terangan yang ingin meruntuhkan NKRI yang berbhineka, tidak boleh ada lagi yang punya agenda mau mengganti dasar negara yang berpancasila," kata Presiden. (Antara/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Quote, Cerita, Habib Siti Efi Farhati

Selasa, 09 Januari 2018

Pencari Nafkah Lebih Butuh Akses Jalanan, Dibanding Demonstran

Jakarta, Siti Efi Farhati - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengimbau sekelompok umat Islam yang merencanakan demosntrasi pada 25 November 2016 dan 2 Desember 2016 mendatang untuk menjaga ketertiban dan tetap menghormati pengguna jalan lain. Pihak PBNU meminta demonstran memberikan hak jalan bagi ribuan warga pencari nafkah.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU KH Abdul Moqsith Ghazali di Gedung PBNU, Jakarta, Senin (21/11) malam.

Pencari Nafkah Lebih Butuh Akses Jalanan, Dibanding Demonstran (Sumber Gambar : Nu Online)
Pencari Nafkah Lebih Butuh Akses Jalanan, Dibanding Demonstran (Sumber Gambar : Nu Online)

Pencari Nafkah Lebih Butuh Akses Jalanan, Dibanding Demonstran

Imbauan ini disampaikan menyusul rencana aksi gelar sajadah oleh sekelompok umat Islam yang dengan sengaja mengagendakan shalat Jumat di jalan protokoler di Jakarta pada 25 November 2016 dan 2 Desember 2016 mendatang.

Siti Efi Farhati

“Jangan sampai aktivitas demonstrasi mengalahkan kebutuhan masyarakat dalam mencari nafkah,” kata Kiai Moqsith.

Menurutnya, aktivitas demonstrasi menempati status keperluan sekunder (al-hâjiyyât). Sementara aktivitas masyarakat untuk memenuhi hajat hidupnya dan hajat hidup keluarganya termasuk ke dalam kategori kebutuhan primer (ad-dharûriyyât).

Dalam kaidah agama, kebutuhan primer (ad-dharûriyyât) harus diutamakan dibandingkan aktivitas dengan kategori keperluan sekunder (al-hâjiyyât).

Siti Efi Farhati

“Jadi hal itu tidak lepas dari tujuan diturunkannya syariat Islam (maqâshidus syarî‘ah) di mana agama Islam melindungi lima kebutuhan primer manusia (ad-dharûriyyatul khams) seperti menjaga fisik, harta, kebebasan pikiran, keturunan, dan martabatnya,” kata salah seorang dosen pengampu mata kuliah tafsir di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta ini. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Ubudiyah, Quote, Pondok Pesantren Siti Efi Farhati

Minggu, 07 Januari 2018

Ini Bedanya Jihad Sekarang dengan Masa Rasulullah SAW

Jakarta, Siti Efi Farhati - Jihad dengan peperangan yang terjadi pada masa Rasulullah Muhammad SAW adalah peperangan untuk mempertahankan hak kehidupan masyarakat Muslim yang diserang lebih dahulu. Selain itu perang juga dilakukan untuk membela kaum yang lemah.

Ini berbeda pada zaman sekarang di mana soal keamanan dunia sudah diatur oleh PBB sehingga tidak mungkin lagi terjadi penyerangan terhadap umat Muslim seperti pada masa dahulu.

Ini Bedanya Jihad Sekarang dengan Masa Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Bedanya Jihad Sekarang dengan Masa Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Bedanya Jihad Sekarang dengan Masa Rasulullah SAW

Demikian disampaikan Prof Dr Ahmed Ad-Dawoody dalam diskusi Tashwirul Afkar yang digagas Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) bertajuk Tantangan Hukum Humaniter Internasional dan Hukum Islam tentang Konflik Bersenjata Kontemporer di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Jumat (29/7) sore.

Siti Efi Farhati

Ahmed memaparkan hal yang perlu ditunjukkan umat Islam adalah mempertahankan esksistensi diri umat Islam, namun bukan untuk menyerang kaum non-Muslim. Tentang jihad banyak ayat yang membicarakan dalam perspektif hukum Islam. Salah satunya pada Al-Quran Surat At-Taubah ayat 9.

Sayangnya, kata Ahmed, para penafsir melakukan hal yang mereka anggap sebagai aksi jihad melihat ayat ini hanya secara sepotong-sepotong. Padahal dalam menafsirkan suatu ayat seseorang harus paham tata aturan bahasa Arab dan aturan penafsiran lainnya. Itu tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang.

Ahmed menambahkan, suatu hukum harus menyesuaikan waktu (masa) dan tempat. Aturan tentang perang juga perlu mengaitkan dengan disiplin ilmu lainnya.

Siti Efi Farhati

Aturan hukum tentang perang menjadi hal yang penting dalam hubungan umat Islam baik dengan sesama umat Islam, umat Islam dan non-Muslim, umat Islam dalam suatu negara, dan antarnegara. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pendidikan, Kyai, Quote Siti Efi Farhati

Kamis, 04 Januari 2018

Bersyukur dan Cerdaslah dengan Kekuatan Batin

Batam, Siti Efi Farhati -

Ketua Dewan Penasehat Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor H. Asad Said Ali, di Batam Kepulauan Riau, Jumat (25/12) mengajak kader muda Nahdlatul Ulama (NU) senantiasa bersyukur dan cerdas dengan kekuatan batin dimiliki.

Mantan Wakil Kepala BIN itu menegaskan, salah satu kekuatan Ansor adalah kekuatan ruhani. "Bersyukur kepada Allah membuat tenang. Lalu wirid yang diajarkan ulama-ulama kita, itu membuat batin anak-anak Ansor menjadi kuat," ujar dia lagi.

Bersyukur dan Cerdaslah dengan Kekuatan Batin (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersyukur dan Cerdaslah dengan Kekuatan Batin (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersyukur dan Cerdaslah dengan Kekuatan Batin

Alumni Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta itu mengingatkan kader Ansor yang menjadi peserta Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim) III untuk menjaga lisan dan perbuatan.

"Sekali kita berbohong maka akan terus berbohong. Kader Ansor harus cerdas, jangan mengumbar persoalan internal ke media sosial, itu namanya goblok bin goblok," ujar dia lagi.

Siti Efi Farhati

Ia lalu menyarankan, kader Ansor yang pintar harus masuk atau membuat koperasi.

"Itu ada mas Fahmi Akbar Idries, Ketua Divisi Nusa Makmur Induk Koperasi Syirkah Muawwanah Nusantara atau Inkopsimnus. Jagoan itu kalau soal koperasi, tapi ingat, jangan korupsi," tuturnya.

Siti Efi Farhati

Pria kelahiran Kudus, Jawa Tengah, 19 Desember 1949 itu lalu mencontohkan PCNU Magetan, Jawa Timur yang bisa membangun gedung senilai Rp7 miliar dengan kemandirian ekonomi.

"Sumber daya sebagai syarat pergerakan organisasi harus dipahami dulu. Jangan bondo nekat," ujar dia di sela memaparkan materi.

Susbanpim III PP GP Ansor digelar di Asrama Haji Batam Centre, Engku Putri, Kota Batam, Kepulauan Riau, bertema Meningkatkan Transformasi dan Profesionalisme Banser dalam Mewujudkan Kemandirian Bangsa. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Quote, Sejarah Siti Efi Farhati

Minggu, 24 Desember 2017

Banom NU Waykanan Berbagi Ratusan Buku

Waykanan, Siti Efi Farhati. Badan Otonom (Banom) Nahdlatul Ulama (NU) serta kader muda NU tergabung dalam alumni Pesantren Kilat Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (Sanlat BPUN) 2015 berbagi ratusan buku ke sejumlah intitusi. Upaya ini dilakukan untuk menumbuhkan minat baca di selatan kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur provinsi Sumatera Selatan ini.

Banom NU Waykanan Berbagi Ratusan Buku (Sumber Gambar : Nu Online)
Banom NU Waykanan Berbagi Ratusan Buku (Sumber Gambar : Nu Online)

Banom NU Waykanan Berbagi Ratusan Buku

Ketua Alumni Sanlat BPUN Waykanan 2015 Disisi Saidi Fatah di Blambangan Umpu, Ahad (5/7) menjelaskan, buku yang dibagikan merupakan buku-buku migrasi aman. Dibagikan untuk Kantor Perpustakaan dan Arsip Daerah sejumlah 6 paket buku (satu paket berisi dua buku) dan 34 paket buku untuk perpustakaan yang ada di beberapa kampung dan kecamatan setempat.

Alumni Sanlat BPUN Waykanan 2015 bekerja sama dengan GP Ansor, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) dan Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Waykanan secara bertahap akan mendistribusikan buku dari International Organization for Migration (IOM) kepada 227 kepala kampung, 14 camat dan 89 SMA sederajat di daerah itu.

Siti Efi Farhati

Selain menumbuhkan minat baca, pihaknya juga berupaya menyampaikan pemahaman migrasi aman kepada publik mengingat isi buku yang dibagikan itu mengulas tentang migrasi yang aman kepada para pemangku kepentingan (stakeholder), lalu untuk mengembangkan monitoring perusahaan pengerah tenaga kerja Indonesia swasta (PPTKIS) yang baik, serta penyebaran tata cara TKI yang aman, murah, cepat, dan bermartabat.

"Saya berharap dengan berbagi buku seperti ini masyarakat luas khususnya di Waykanan semakin hobi untuk membaca, karena dengan membaca kita bisa mendapatkan berbagai ilmu pengetahuan dan kita makin tahu," ujarnya pula.

Siti Efi Farhati

Disisi meyakini, buku merupakan guru yang tidak pernah marah. "Buku juga merupakan gudangnya ilmu, jadi semakin banyak kita membaca maka semakin banyak kita tahu. Selain itu, dengan berbagi kita jadi makin dekat dengan masyarakat dan juga mendapatkan amal," kata Disisi.

Ketua Pergunu Waykanan Ali Tahan Uji menambahkan, Islam mewajibkan umatnya untuk menuntut berbagai macam ilmu yang memberi manfaat dan dapat menuntun mengenai hal-hal berhubungan dengan kehidupan dunia.

"Tidak ada yang salah dari berbagi. Terlebih mengampanyekan migrasi aman sehingga masyarakat, pelajar, calon TKI dan para pemangku kebijakan bisa memahami bahwa TKI bukan komoditas," kata Ali. (Gatot Arifianto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Santri, Quote Siti Efi Farhati

Jumat, 22 Desember 2017

Antropolog Jerman Kaji Peran NU Mesir

Kairo, Siti Efi Farhati. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Mesir dikunjungi antropolog asal Jerman, Prof. Dr. Judith Schlehe di Kairo, Selasa malam (15/12). Kunjungannya dalam rangka meneliti dinamika warga negara Indonesia di negeri tersebut.

Antropolog Jerman Kaji Peran NU Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)
Antropolog Jerman Kaji Peran NU Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)

Antropolog Jerman Kaji Peran NU Mesir

Guru Besar Universitas Freiburg hadir didampingi asistennya, Faridah Ulfa. Turut serta Ahmad Ginanjar Syaban selaku Wakil Homestaff KBRI. Mereka disambut pengurus harian, dan sejumlah nahdliyyin di Mesir.

Sebelum memulai dialog, profesor yang lancar berbahasa Indonesia ini mengucapkan terima kasih atas keramahan dan bantuan teman-teman Indonesia. Sehingga selama di Mesir ia mendapat kemudahan mendapat akses dan data untuk bahan penelitiannya.

Siti Efi Farhati

Setelah Ketua Tanfidziyah Nurul Ahsan memaparkan struktur organisasi dan kegiatannya, Bu Judith, begitu rekan-rekan NU Mesir memanggilnya, menyampaikan kekagumannya terhadap NU.

Ia sangat mengapresiasi peran NU dalam membangkitkan dinamika pemikiran dan mengakomodasi kebutuhan organisasi anggotanya yang beragam. Tercatat lebih dari 7 lembaga yang ada di bawah PCINU Mesir, masing-masing memilki fokus pada bidang tertentu, semisal; kajian filsafat dan pemikiran, budaya, seni, turats Islam, fatwa, jelajah sejarah, sampai media dan jurnalistik (cetak/online).

Siti Efi Farhati

Hal ini, kata dia,? tentunya akan berdampak positif dan memberi warna tersendiri bagi mahasiswa dan dinamikanya.

Dialog berlangsung dengan sistem dua arah dan dibuat sesantai mungkin hingga setiap orang bisa menjadi pembicara maupun pendengar. Dr. Judith memulai percakapan dengan mengajukan beberapa pertanyaan perihal motif belajar di Mesir, hubungan WNI dengan orang Mesir, serta hubungan ulama Indonesia dengan syeikh-syeikh di Mesir. Pada kesempatan itu, setiap peserta yang hadir memberikan opini maupun pengalaman pribadinya.

Semua peserta tampak semakin antusias tatkala pengarang buku berjudul Religion, Tradition and The Popular mengajukan pertanyaan-klarifikasi tentang Masisir (Masyarakat Indonesia di Mesir) yang dianggap eksklusif di mata Atase Pendidikan dan KBRI. Pernyataan tersebut langsung disanggah oleh salah satu peserta yang mengungkapkan bahwa pihak KBRI sendirilah yang sebenarnya belum bergaul dengan Masisir.

Pengajar di Institut für Völkerkunde Freiburg ini juga membagikan pengalamannya saat meneliti di Indonesia, termasuk bagaimana ia dan beberapa dosen UGM memprakarsai kerjasama antar dua perguruan tinggi dalam bidang Antropologi. Ia juga bercerita tentang pengalamannya saat meneliti dan mempelajari mitos Nyai Roro Kidul di pantai selatan maupun mitos lainnya di pulau Jawa.

Ada satu pengalaman yang sangat menarik bagi Dr. Judith, yaitu saat ia meneliti prosesi budaya kirab di Yogyakarta.

"Ketika acara kirab berlangsung ada salah satu ormas setempat yang tidak menyetujui acara tersebut. Bagi organisasi keagamaan ini, acara tersebut tidak ada dalam Islam," katanya mengawali cerita.

Ia menyampaikan bahwa yang membuatnya kagum adalah ketika abdi-dalem keraton bisa meyakinkan ormas tersebut agar menerima kirab tanpa meninggalkan konflik berlarut.

"Abdi-dalem mengatakan bahwa ini bukan untuk prosesi agama, melainkan hanya sebagai pertunjukan budaya dan penarik turis belaka. Acara ini lantas mendapat dukungan dari ormas tersebut dan berlanjut setiap tahun," ucapnya.

Penggagas program pertukaran antropolog Indonesia-Jerman sejak tahun 2004 ini juga menambahkan bahwa hal menarik menjadi antropolog saat penelitian adalah ketika kita bisa menemukan dan memahami sudut pandang tertentu yang tidak dimiliki penduduk lokal.

Di akhir dialog, Dr. Judith menyampaikan harapannya untuk Indonesia. Setelah meneliti Indonesia dan masyarakatnya, ia menemukan bahwa Indonesia adalah bangsa besar yang berpotensi menjadi negara maju.

Apalagi di matanya, Indonesia adalah negara mayoritas muslim yang sukses menjodohkan antara Islam dan Demokrasi. Ia juga berharap, bahwa sentralisasi urusan dunia ke satu negara harus dihentikan dan berganti menjadi desentralisasi, semisal China sebagai contoh ekonomi, Jerman sebagai pusat teknologi, Indonesia sebagai contoh perjodohan Islam dan demokrasi, maupun pusat lainnya.

Bu Judith memberi nasehat penutup pada rekan PCINU Mesir untuk segera pulang apabila telah selesai belajar di luar negeri dan segera ikutserta membangun Indonesia dari dalam. Perbincangan ditutup dengan pertukaran cendera mata. [Miftah Wibowo/Mhd/Abdullah Alawi]

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kyai, Quote Siti Efi Farhati

Kamis, 21 Desember 2017

PCNU Grobogan Gelar Khitan Massal

Grobogan, Siti Efi Farhati. Dalam rangka memperingati Harlah NU ke-87, Pengurus Cabang NU Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, menggelar ? khitanan massal. Acara dipusatkan di RS Permata Bunda Purwodadi, pada Ahad (17/2).?

Kegiatan tersebut diikuti 31 peserta. Mereka merupakan siswa perwakilan Madrasah Ibtidaiyah (MI) se-Kabupaten Grobogan.

PCNU Grobogan Gelar Khitan Massal (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Grobogan Gelar Khitan Massal (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Grobogan Gelar Khitan Massal

Puluhan anak yang akan dikhitan, sebelumnya dikumpulkan di Gedung PCNU Grobogan. Kemudian mereka diarak naik kereta kelinci dan diiringi atraksi drum band dan barongsai.

Siti Efi Farhati

”Acara khitan massal ini bertujuan untuk mensyiarkan nilai-nilai budaya Islam dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat," ujar ketua panitia Harlah NU ke-87 Kabupaten Grobogan, Ady Setyawan.

Siti Efi Farhati

Menurut Ady, di usianya yang ke-87 tahun, jajaran pengurus NU di Kabupaten Grobogan berkeinginan untuk terus berbuat sesuatu terhadap masyarakat bayak. Baik melalui bhakti sosial maupun kegiatan lainnya.

Dikatakan, prinsip NU adalah al-muhafazdotu ‘ala qodimish sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah,? A memelihara hal-hal lama yang baik sambil terus mencari hal-hal baru yang lebih baik lagi. Degan prinsip ini, NU sangat akomodatif terhadap adat budaya dan tradisi yang berkmebang di tengah-tengah masyarakat.

”Karena itu, dalam acara khitanan masal ini panitia menampilkan seni barongsai,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur Pelayanan RS Permata Bunda, Iman Santosa mengatakan, acara khitan massal ini merupakan kerjasama antara NU dengan rumah sakitnya.

"Untuk khitan massal ini, kami menerjunkan dua dokter dan 12 tenaga medis," ungkapnya.

Iman menambahkan, kerja sama antara NU dengan rumah sakitnya diharapkan bisa berkesinambungan di waktu mendatang. Bahkan, pihaknya berencana akan membangun kerja sama lebih jauh lagi, yakni berkaitan dengan kartu NU Sehat.

"Melalui kartu NU sehat tersebut, layaknya Jamkesmas maupun Jamkesda, sehingga nantinya Nahdliyin bisa mendapatkan jaminan kesehatan dari RS Permata Bunda," tandasnya.

Redaktur ? ? : Hamzah Sahal

Kontributor : Sholihin Hasan

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Quote Siti Efi Farhati

Jumat, 15 Desember 2017

Bagaimana Karakter Kiai NU? Ini Penjelasan Kiai Said

Jakarta, Siti Efi Farhati



Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menjelaskan, peluang radikalisme di NU tidak memiliki tempat. Bahkan, ia mengaku berani menjamin, dari pengurus pusat hingga daerah tidak ada pengurus NU yang terlibat aksi radikalisme yang mengatasnamakan agama.

“Tidak ada peluang sedikit pun di NU untuk menjadi radikal,” ucap Kiai Said saat saat memberikan sambutan dalam acara peluncuran buku "Miqat Kebinekaan: Sebuah Renungan Meramu Pancasila, Nasionalisme, dan NU sebagai Titik Pijak Perjuangan" di gedung PBNU, Jakarta, Jumat (9/6).

Bagaimana Karakter Kiai NU? Ini Penjelasan Kiai Said (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Karakter Kiai NU? Ini Penjelasan Kiai Said (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Karakter Kiai NU? Ini Penjelasan Kiai Said

Menurut dia, hal itu disebabkan karena NU memiliki karakter yang moderat dan toleran terhadap semua golongan, termasuk non-muslim. “NU memiliki karakter yang tawassuth dan tawazun,” ucapnya.

Selain itu, tidak ada satu pun kiai NU yang mengajarkan untuk melakukan radikalisme atas nama agama. Bahkan sebaliknya, mereka mengajarkan umatnya untuk tidak berselisih, menebar kebencian, dan saling bermusuhan antar sesama umat manusia.

Siti Efi Farhati

“Mereka membangun karakter dan jatidiri bangsa. Tanpa dibayar. Itulah karakter kiai NU,” ungkap alumnus Pesantren Lirboyo, Kediri, Krapyak, Yogyakarta, dan Kempek Cirebok itu.

Ia menilai, nasionalisme kiai NU tidak perlu diragukan lagi karena mereka berpegang teguh dengan adagium yang disampaikan oleh KH Hasyim Asyari, yaitu cinta tanah air atau nasionalisme adalah bagian dari iman.?

“Tanpa ikut P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila), kiai NU sudah (memliki) nasionalisme,” pungkasnya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Quote Siti Efi Farhati

Rabu, 13 Desember 2017

Prof Machasin Kritik Tradisi Kajian Islam di Indonesia

Jakarta, Siti Efi Farhati. Direktur Pendidikan Tinggi Islam Kementrian Agama, Prof Dr Muhammad Machasin. mengakui saat ini sulit menjawab adanya kajian Islam yang serius dan berkelanjutan di Indonesia. Yang banyak dilakukan adalah pengajian di majelis taklim atau madrasah yang membuat orang faham, ngerti dan bisa mengamalkan.

“Kalau pengajian dalam pengertian membahasan topik keislaman secara serius dengan mengikuti kaidah pencarian data, analisis dan penyimpulan yang bener, ini masih langka. Indikatornya, tak muncul karya ilmiah seperti itu, kecuali untuk disertasi dan thesis,” katanya dalam diskusi Kamisan Siti Efi Farhati, (14/10).

Prof Machasin Kritik Tradisi Kajian Islam di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Prof Machasin Kritik Tradisi Kajian Islam di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Prof Machasin Kritik Tradisi Kajian Islam di Indonesia

Machasin yang juga rais syuriyah PBNU ini mengkategorikan dosen dalam perguruan tinggi Islam dalam dua kelompok. Pertama, orang yang taklid, menerima pengetahuan yang sudah ada tanpa mengkritisi, tetapi semangat keagamannya tinggi.

Siti Efi Farhati

Kedua, orang yang mau membuka diri pada ilmu modern, tetapi basis keislamannya lemah. Bisa bicara sosiologi dan lainnya, tetapi tak tahu Islam. Yang mampu menggabungkan kedua sisi ini belum banyak.

“Kita tak punya pendidikan ulama, sementara untuk menjadi ulama diperlukan pengetahuan lain. Saya sebenarnya berharap orang pesantren yang ngerti literatur Arab, dan belajar di IAIN yang tahu ilmu luarnya (sosiologi. filsafat, dll.red,” tandasnya.

Siti Efi Farhati

Jika hanya menyediakan lembaga pendidikan Islam seperti yang ada sekarang, hanya akan menyediakan kebutuhan untuk publik luas, tapi tak akan mampu menghasilkan sebuah pemikiran besar.

Perguruan tinggi yang seharusnya menjadi pusat kajian dan penelitian saat ini hanya melakukan penelitian yang sifatnya parsial sesuai dengan kemauan penyandang dana. Akhirnya perguruan tinggi juga hanya menyediakan layanan pengajian.

“Yang menggeluti betul, meneliti terus-menerus jarang, hatta Nurcholis Madjid tak menyelesaikan dengan tuntas. Biasanya antara kemampuan, kesempatan dan waktu yang cukup tidak ketemu,” terangnya.

Para dosen lebih disibukkan dengan kegiatan mengajar, mengoreksi atau melakukan penelitian kecil-kecilan. “Ulama kita waktunya habis untuk melayani masyarakat, tak sempat melakukan pemikiran. Terbukti kegiatan bahstul masail yang datang lebih banyak para santri, kiai sudah tak sempat,” tandasnya.

Di sisi lain, sekarang terdapat fenomena baru, orang yang berbicara atas nama Islam bukan hanya ulama yang sebenarnya, tetapi siapa saja bisa bicara tentang Islam, mengatasanamakan Islam yang kadangkala logikanya tidak jalan, hanya ngerti satu dua ayat lalu berdalil. Sementara orang yang ngerti dan tahu betul mungkin tidak sempat atau tak tahu bagaimana berhadapan dengan teknologi modern.

“Kalau saya melihat kemampuan banyak yang bisa, kemampuan meneliti, tetapi yang kurang orang yang sempat,” ujarnya.

Sikap Inferior

Faktor lain yang membuat pengkajian Islam di Indonesia kurang berkembang dibandingkan dengan adalah faktor historis. Sikap budaya orang Indonesia tak melahirkan orang yang berani dan mampu menghadirkan fikiran yang ssegar tentang Islam karena merasa kecil hati atau rendah diri ketika berhadapan dengan fihak lain.

“Dihadapan Yusuf Qardawi kita tak berani ngomong. Berhadapan dengan Wahbah Zuhaili juga, inferior. Kita masih merasa kalah dengan Al Azhar, bahkan adengan pesantren tak begitu terkenal dengan di Yaman,” tandasnya.

Ia menuturkan, disatu sisi, perguruan tinggi Islam di Indonesia lebih baik karena rasio antara dosen dan mahasiswa di Al Azhar 1 : 100 sementara di Indonesia lebih kecil sehingga mampu memberi pelayanan yang lebih baik pada tiap mahasiswa.



Berkutat pada Tunjangan Profesi

Yang menjadi keprihatinanya atas sikap akademisi di Indonesia adalah mereka masih berkutat pada bagaimana menaikkan tunjangan profesi, tetapi setelah itu tidak ada kenaikan kinerja dan kemampuan menghasilkan karya (bersambung). (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Quote, Berita Siti Efi Farhati

Banyuwangi Jadi Tempat Diklamdad Corp Brigade Pembangunan dan Korp Pelajar Putri

Banyuwangi, Siti Efi Farhati. PC IPNU-IPPNU Kabupaten Banyuwangi kembali dipercaya menjadi tuan rumah dalam agenda-agenda regional. Setelah sukses melaksankan Latihan Kader Utama IPPNU se-Tapal Kuda di  pertengahan tahun 2017 lalu, kali ini Banyuwangi diberi kesempatan menjadi panitia lokal pelaksanaan Pendidikan Pelatihan Kader Madya (Diklamdad) Corp Brigade Pembangunan dan Korp Pelajar Putri.

Ketua Stering Comite Komandan Wawan, menjelaskan pemilihan Banyuwangi sebagai tuan rumah merupakan keputusan bersama panitia. Banyuwangi dianggap sebagai tempat yang paling strategis untuk melaksankan agenda ini. Kesiapan SDM panitia yang mumpuni juga menunjang terpilihnya Banyuwangi sebagai panitia lokal.

Banyuwangi Jadi Tempat Diklamdad Corp Brigade Pembangunan dan Korp Pelajar Putri (Sumber Gambar : Nu Online)
Banyuwangi Jadi Tempat Diklamdad Corp Brigade Pembangunan dan Korp Pelajar Putri (Sumber Gambar : Nu Online)

Banyuwangi Jadi Tempat Diklamdad Corp Brigade Pembangunan dan Korp Pelajar Putri

"Banyuwangi merupakan daerah yang strategis. Di sini banyak tempat yang bisa dijadikan opsi. Selain itu juga didukung oleh personil CBP-KPP di Banyuwangi yang cukup solid, menjadi faktor paling menentukan", ujar pemuda yang akrab disapa Ndan Wawan.

Ketua PC IPNU Banyuwangi, Yahya Muzakky berjanji selama proses kegiatan berlangsung, PC IPNU maupun IPPNU Banyuwangi siap member dukungan sepenuhnya. 

"Alhamdulilah, kami kembali dipercaya menjadi tuan rumah. Insyaallah sebagai tuan rumah kita kan berusaha memberikan pelayanan terbaik kepada para tamu," ungkap Yahya.

Diklamdad Corp Brigade Pembangunan dan Korp Pelajar Putri merupakan jenjang kaderisasi kedua pasca Diklatama.

Siti Efi Farhati

Peserta tidak hanya harus menyiapkan fisik, namun juga siap psiskis karena nantinya mereka dicetak menjadi leader-leader yang tangguh, tanggap dan sigap.

Siti Efi Farhati

Diklamdad dibuka Kamis (20/09). Sebanyak 25 peserta dari perwakilan DKC CBP se-Tapal Kuda akan mengikuti pelatihan hingga Ahad (24/09) sore. (Ibnu/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Anti Hoax, Quote, Hadits Siti Efi Farhati

Jumat, 01 Desember 2017

Ketua DPRD Lampung: FDS Kebijakan Tidak Pro Rakyat

Bandar Lampung, Siti Efi Farhati. Saat bergabung dan menyampaikan orasi pada Rapat Akbar Tolak Full Day School (FDS), Ketua DPRD Provinsi Lampung Dedi Afrizal menegaskan bahwa kebijakan Menteri Pendidikan tentang FDS tidak sesuai dengan kondisi rakyat Indonesia.

Ketua DPRD Lampung: FDS Kebijakan Tidak Pro Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua DPRD Lampung: FDS Kebijakan Tidak Pro Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua DPRD Lampung: FDS Kebijakan Tidak Pro Rakyat

"Kebijakan FDS yang dikeluarkan menteri tidak pro rakyat," tegasnya di depan puluhan ribu warga Lampung yang memenuhi lapangan Korpri kantor Gubernuran Pemerintah Provinsi Lampung, Selasa (29/8).

Kebijakan FDS, lanjutnya, merupakan upaya menggeser kultur dan budaya di Indonesia yang sudah ratusan tahun dibentuk dan diwariskan oleh para ulama dan pendiri bangsa Indonesia. Pesantren dan madrasah diniyyah yang sudah hadir dan nyata-nyata memberikan kontribusi bagi bangsa Indonesia akan tergeser dengan kebijakan tersebut.

Oleh karena itu, pihaknya akan menempuh berbagai upaya pembatalan kebijakan tersebut. Salah satu upaya mendukung pembatalan kebijakan FDS ini adalah dengan melayangkan surat tertulis kepada pihak-pihak yang terkait.

Siti Efi Farhati

Sementara itu Ketua PWNU Provinsi Lampung KH Sholeh Bajuri mengingatkan, jika kebijakan FDS tetap dilaksanakan, maka paham-paham radikal akan semakin subur tumbuh di lembaga pendidikan formal. Ini tentunya akan merusak para generasi muda yang pada akhirnya akan mengancam kesatuan NKRI.

Pada Rapat Akbar tersebut juga disampaikan berbagai pandangan tentang bahayanya kebijakan FDS di antaranya dari Ketua Lembaga dan Banom PWNU Lampung.?

Selain orasi, dalam Rapat Akbar tersebut juga dilakukan istighotsah dan doa untuk keselamatan bangsa serta kokohnya NKRI. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Quote Siti Efi Farhati

Kamis, 30 November 2017

KH Hasyim Asy’ari Peletak Dasar-dasar Kemerdekaan Indonesia

Jakarta, Siti Efi Farhati. Pencetus Fatwa Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, KH Muhammad Hasyim Asy’ari oleh Sayyid Muhammad As’ad Shihab disebut sebagai peletak dasar-dasar kemerdekaan Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam pidato apel akbar dan upacara Hari Santri di Monas Jakarta, Sabtu (22/10).

KH Hasyim Asy’ari Peletak Dasar-dasar Kemerdekaan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Hasyim Asy’ari Peletak Dasar-dasar Kemerdekaan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Hasyim Asy’ari Peletak Dasar-dasar Kemerdekaan Indonesia

“Atas peranannya yang begitu dahsyat, Sayyid Muhammad As’ad Shihab menyebutkan dalam salah satu karyanya bahwa KH Muhammad Hasyim Asy’ari adalah awwalu wadi’ labinati istiqlali Indonesia (? ? ? ? ?), Peletak dasar-dasar kemerdekaan Indonesia,” jelas Kiai Said di hadapan 50.000 santri yang mengikuti apel akbar itu.

Selang beberapa bulan setelah terjadi pertempuran dahsyat di Surabaya, lanjutnya, di mana sipil dan santri menjadi aktor utamanya, mata dunia perlahan mulai terbuka. Mereka mengakui fakta baru bahwa Indonesia adalah negara yang telah merdeka dan berdaulat.

Kiai asal Cirebn ini menegaskan, tanpa Resolusi Jihad NU tentu tidak pernah ada peristiwa 10 November. Tanpa Resolusi Jihad NU, kemerdekaan yang telah diproklamasikan oleh Bung Karno dan Bung Hatta tanggal 17 Agustus 1945, tentu akan tercabik-cabik kembali oleh upaya pengambilalihan kedaulatan yang dimotori tentara NICA.?

Menurutnya, nilah wujud ajaran dari Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari yang meletakkan kewajiban bela negara adalah sama pentingnya dengan kewajiban membela agama. "? ? ? ?" (cinta Tanah Air adalah bagian dari iman).

Siti Efi Farhati

“Marilah kita jadikan momentum Hari Santri 22 Oktober untuk meneguhkan kesetiaan mengawal dan mempertahankan Pancasila, NKRI, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika,” ucap Pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur Jakarta Selatan ini. (Fathoni)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pendidikan, Quote Siti Efi Farhati

Rabu, 22 November 2017

Peringati Hari Jadi Brebes, Fatayat NU Wanasari Gelar Festival Qasidah

Brebes, Siti Efi Farhati - Sebanyak 22 grup rebana menunjukkan kebolehannya dalam festival qasidah yang diadakan Fatayat NU Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes, Senin (18/1). Mereka tampak bergairah pada festival yang diadakan dalam rangka memperingati Hari Jadi Ke-338 Kabupaten Brebes.

“Kami tidak ingin kesenian qasidah dan rebana tergilas oleh musik modern ala kebarat-baratan,” tutur Ketua Fatayat NU Wanasari Hj Sofwati di sela perlombaan.

Peringati Hari Jadi Brebes, Fatayat NU Wanasari Gelar Festival Qasidah (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Hari Jadi Brebes, Fatayat NU Wanasari Gelar Festival Qasidah (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Hari Jadi Brebes, Fatayat NU Wanasari Gelar Festival Qasidah

Qasidah dan rebana, kata Sofwati, merupakan kesenian tradisional Islam yang mengandung unsur pendidikan dan nasihat-nasihat keagamaan. Sangat disayangkan bila kesenian ini punah. “Kesenian ini harus kita lestarikan dan kita kembangkan terutama untuk generasi muda,” katanya.

Lomba yang digelar di area majelis taklim An-Nahdliyah Desa Keboledan, Wanasari, Brebes itu diikuti 22 grup dari 20 desa se-Kecamatan Wanasari. Mereka membawakan lagu wajib Magadir dan lagu pilihan bebas dalam durasi maksimal 15 menit.

Siti Efi Farhati

Kegiatan berlangsung meriah karena masing-masing grup membawa pendukung yang sangat banyak. Dewan juri yang terdiri atas Khoerurojikin, Multajam, dan Anisah menilai peserta pada kemahiran vokal, irama, kekompakan, dan penampilan.

Setelah melalui penjurian yang cukup ketat, peserta dari grup qasidah ranting Fatayat NU Keboledan meraih juara 1 dengan skor 333. Juara 2 diraih grup ranting Dukuhwringin dengan skor 321. Sementara juara 3 direbut ranting Tegalgandu dengan angka 306.

Siti Efi Farhati

Para pemenang mendapatkan piala dan sejumlah uang pembinaan.

Ia menambahkan, beberapa waktu lalu juga telah digelar berbagai lomba antara lain lomba tata administrasi dan organisasi Fatayat NU, lomba merias wajah, merangkai bunga dan membuat menu makanan sehat. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Quote, RMI NU, Santri Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock