Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Maret 2018

MATAN, Memperkuat Islam Indonesia dan NKRI dengan Tarekat

Tangerang Selatan, Siti Efi Farhati

Negara-negara Islam di Timur Tengah saat ini tengah dilanda krisis dan konflik berkepanjangan. Seakan tak tampak lagi wajah Islam yang santun dan berkeadaban. Hari-hari selalu dihiasi dengan perang, pembunuhan, dan tragedi. Ini menunjukkan model keberagamaan Islam dan sistem yang dibangun di sana tak mampu menjawab tantangan sosial, ekonomi, dan politik yang terjadi.?

MATAN, Memperkuat Islam Indonesia dan NKRI dengan Tarekat (Sumber Gambar : Nu Online)
MATAN, Memperkuat Islam Indonesia dan NKRI dengan Tarekat (Sumber Gambar : Nu Online)

MATAN, Memperkuat Islam Indonesia dan NKRI dengan Tarekat

“Lain halnya dengan Indonesia. Negeri yang berpenghuni muslim terbesar sedunia ini, jauh lebih mampu mengamalkan ajaran Islam dengan baik dan memasukkan nilai-nilai ajaran Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” terang KH Wahfiuddin Sakam saat menyampaikan taushiyah usai pelantikan pengurus Mahasiswa Ahli al-Thariqah al-Mu’tabarah al-Nahdliyah (MATAN) Cabang Ciputat, Tangerang Selatan dan Komisariat STAINU Jakarta, UNU Indonesia, UI, IPB, UNJ, dan STIKIP Kusuma Negara, Senin (11/4) lalu.

Mengapa ini bisa terjadi? Kiai Wahfi menjelaskan, karena umat Islam Indonesia mampu menerapkan tiga pilar ajaran Islam, yaitu Iman, Islam, dan Ihsan. Ia mengibaratkan tiga pilar itu ibarat tripod yang mampu menyanggah dan tegak dengan gagah. Bila salah satu pilarnya tak lurus, maka tripod tersebut akan roboh dan tak mampu menyanggah beban.?

Tiga pilar itu jika diterjemahkan secara sederhana berarti aqidah (iman), syariah (Islam), dan tasawuf (ihsan). Ketiga pilar ini tidak bisa dipisah-pisah, tapi harus menyatu dan berdiri kokoh dalam diri seorang muslim. Hal ini sebagaimana tercermin dalam sejarah kejayaan Islam di masa lalu.?

Siti Efi Farhati

“Ketika saya melakukan ekspedisi napak tilas kejayaan Islam di Eropa dan juga Timur Tengah, saya datang ke makam-makan ulama besar dan pemikir di sana, ternyata mereka semua adalah orang sufi pengamal tarekat,” terang Kiai Wafi yang juga Mudhir JATMAN (Jamiyah Ahli al-Thariqah al-Mu’tabarah al-Nahdliyah) DKI Jakarta.?

Kebesaran Islam di Indonesia juga tak lepas dari guru-guru mursyid Tarekat. Syeikh Nawawi al-Bantani, Syekh Yasin al-Fadani, Syaikh Khotib Sambas, Syeikh Nuruddin ar-Raniri, Syeikh Abdusshamad al-Palimbangi, dan juga para wali penyebar Islam di Nusantara, semuanya adalah muslim pengamal tarekat.?

“Karena itu, Islam yang mereka ajarkan di Indonesia, tidak hanya menggunakan pendekatan fiqih-formalistik yang cederung hitam-putih, tapi juga memperkuat ajaran Islam yang santun, ramah, dan toleran terhadap perbedaan,” tegasnya.

NKRI adalah bukti nyata buah karya ulama ahli tarekat yang mampu memadupadankan ajaran Islam dalam konteks berbangsa dan bernegara. Untuk itu, supaya tiga pilar tadi dapat berdiri dengan kokoh, ajaran tarekat tidak hanya dilakukan oleh generasi tua, tapi juga harus diamalkan oleh generasi muda, yaitu para mahasiswa. Ini penting, karena korupsi dan kolusi yang memporkak-porandakan negeri ini dilakukan oleh para pejabat, yang mereka semua adalah mantan mahasiswa.?

Siti Efi Farhati

“Untuk itu, organisasi MATAN hadir di tengah-tengah kampus untuk menanamkan amalan tarekat, agar generasi muda Indoesia tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter Iman, Islam, dan Ihsan,” pungkas Kiai Wahfi. (Abdullah Ubaid/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sunnah, Nasional, Tokoh Siti Efi Farhati

Rabu, 14 Februari 2018

300 Pelajar NU Jabar Gelar Kemah Pelajar

Tasikmalaya, Siti Efi Farhati. Corps Brigade Pembangunan IPNU seprovinsi Jawa Barat mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Utama (Diklatama) I dan Kemah Bakti Santri dan Pelajar sepanjang Kamis-Ahad (14-17/5) siang. pada kegiatan di Bumi Perkemahan Situ Sanghyang Cilolohan, Tanjung Jaya, kabupaten Tasikmalaya, sebanyak 300 pelajar delegasi kabupaten se-Jawa Barat ini menyatakan ikrar untuk mengampanyekan Islam rahmatan lil alamin.

300 Pelajar NU Jabar Gelar Kemah Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
300 Pelajar NU Jabar Gelar Kemah Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

300 Pelajar NU Jabar Gelar Kemah Pelajar

Peserta diberikan materi tentang ideologisasi mengenai ke-NUan, Aswaja, ke-IPNUan, dan ke-CBPan serta materi pilihan lainnya seperti SAR, Navigasi Darat, ? Sosiologi Pedesaan, dan Baris Berbaris.

Komandan CBP IPNU Jabar Dede Rusyadi mengatakan, Diklatama ini sedapat mungkin mengarahkan peserta untuk menjadi kader muda yang berjiwa sosial dan loyal dalam berbangsa dan bernegara serta berakhlakul karimah.

Siti Efi Farhati

"Selain mendidik anggota untuk menjadi disiplin, juga merekrut mereka menjadi anggota baru CBP.”

Ketua IPNU Jabar Asep Irfan Mujahid mengatakan para anggota baru CBP bisa menjadi kader yang ideologis dengan menghalau masuknya paham-paham radikal di daerahnya masing-masing serta menjadi penggerak pembangunan di sekolah maupun masyarakat.

Siti Efi Farhati

Asep berharap peserta lulusan Diklatama ini lebih matang baik dalam hal mental maupun materi. “Sehingga, mereka ke depan bisa mengembangkan dan berbagi kepada rekan dan rekanita lainnya," kata Asep.

Pembukaan dihadiri oleh Bupati Tasikmalaya Uu Rizanul Ulum, Dewan Pembina IPNU Jawa Barat Abdul Haris, Dewan Koordinasi Nasional CBP IPNU Asyriqin, dan Banom NU se-Jawa Barat. Mereka menggelar apel penutupan di lapangan Kapolres Tasikmalaya yang dipimpin oleh Kapolres kabupaten Majalengka dengan tertib dan disiplin. (Aries Purnama/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Khutbah, Humor Islam, Tokoh Siti Efi Farhati

Sabtu, 10 Februari 2018

NU Tak Boleh Membungkuk pada Kekuasaan

Bandarlampung, Siti Efi Farhati. Lailatul Ijtima biasa digelar PWNU Lampung sebulan sekali. Tapi pada Sabtu (31/10) malam, ada yang berbeda dari kegiatan tersebut dengan kehadiran pengasuh Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, KH Maman Imanulhaq Faqih yang mengajak warga Nahdlatul Ulama untuk tetap kritis.

NU Tak Boleh Membungkuk pada Kekuasaan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Tak Boleh Membungkuk pada Kekuasaan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Tak Boleh Membungkuk pada Kekuasaan

"NU memang tidak pernah berseberangan dengan pemerintah. Tapi apa perlu pengurus NU, ulama, mencium tangan bupati hanya karena proposal? Santri dan ulama jangan membungkukan diri pada kekuasaan. Kita boleh dekat tapi jangan takluk dengan pemerintahan," ujar anggota Komisi 8 DPR RI itu di hadapan ratusan warga NU.

Satu hal berbahaya hari ini, ujar cucu KH Zaenal Mustofa itu pula, adalah hari ini makan siapa. "Mereka adalah yang mengganti Ketuhanan Yang Maha Esa dengan keuangan yang maha kuasa," ujar Kang Maman lagi.

Siti Efi Farhati

Ia lalu mencontohkan, ada kepala daerah mau silaturahmi. Ajudan biasa diutus di awal, meminta ini meminta itu. "Kekuasaan itu adalah hal biasa. Hari ini berkuasa besok tidak berkuasa, ya bisa dan biasa-biasa saja. Pemimpin baik tidak perlu dilayani. Gus Dur adalah contoh terbaik bagaimana memaknai kekuasaan yang tidak perlu dipertahankan mati-matian," kata Kiai Maman mengingatkan warga NU.

Siti Efi Farhati

Persoalan lain dihadapi bangsa Indonesia, menurut Kiai Maman, ialah birokrasi bobrok dan buruknya validasi data. "Saya katakan, siapapun presiden, bagaimanapun menteri-menterinya, kalau birokrasinya bobrok dan validasi data buruk, yang miskin akan selamanya miskin, tidak ada perbaikan," ujar dia lagi.

Hadir pada Lailatul Ijtima Nahdlatul Ulama dan Tahlil Mengenang Guru, Ulama, Birokrat Drs H M Thabranie Daud digelar di Gedung PWNU Lampung jalan Cut Meutia 28 Teluk Betung Utara, Kota Bandar Lampung itu, Ketua PWNU KH Sholeh Bajuri beserta jajaran, politisi PDI Perjuangan Eva Dwiana, Ketua PW GP Ansor Lampung Hidir Ibrahim, Ketua PC GP Ansor Lampung Barat Radityo AN.

Terlihat pula Ketua PW Hipsi Lampung H Abdul Karim, Ketua PW Fatayat NU Khalida, Ketua PW IPNU Lampung Aan Uly Rosyadi, KMNU Unila dan para santri pada kegiatan diisi renungan mengenai NU hingga dosa jemaah. (Gatot Arifianto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Tokoh Siti Efi Farhati

Jumat, 02 Februari 2018

Anak Siapa?

Suatu hari ada seorang perempuan berebut anak justru dengan suaminya sendiri di muka pengadilan agama.

“Ini anak saya, pak hakim. Dia saya kandung selama sembilan bulan. Keluar dari kandungan, dia selalu berada dalam pelukan saya. Sayalah yang menyusuinya. Dia selalu saya awasi waktu tidur dan bermain. Pendeknya, sayalah yang merawatnya sampai dia berumur tujuh tahun.”

Anak Siapa? (Sumber Gambar : Nu Online)
Anak Siapa? (Sumber Gambar : Nu Online)

Anak Siapa?

“Bukan, dia adalah anak saya, pak hakim,” bantah sang suami, “Dia saya kandung sebelum dikandung wanita ini. Dia saya keluarkan sebelum keluarkannya. Jadi sayalah yang berhak. Soalnya saya yang memilikinya. Sedang wanita ini hanya menerima amanat dari saya. Betapapun yang namanya amanat itu harus dikembalikan kepada yang berhak, yakni saya.”

Siti Efi Farhati

“Betul semua itu. Akan tetapi kamu harus ingat, bahwa kamu mengandungnya dengan ringan dan tidak terasa. Sedang aku mengandungnya cukup berat sekali. Kau keluarkan dia dengan senang dan puas. Sedang ketika hendak mengeluarkannya, saya merasakan sakit yang luar biasa. Saya telah mempertaruhkan nyawa,” kata sang istri sambil terus menangis.

*) Dikutip dari Kasykul (Kumpulan Cerita Lucu) karya KH Bisri Mustafa.Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Budaya, Kajian Sunnah, Tokoh Siti Efi Farhati

Senin, 15 Januari 2018

Hari Santri Wujud Terima Kasih Kepada Santri

Jepara, Siti Efi Farhati. Hari Santri Nasional yang kali pertama diperingati 22 Oktober 2015 menurut Bupati Jepara, Ahmad Marzuqi merupakan bentuk terima kasih pemerintah bahwa NKRI telah merdeka berkat keberhasilan kiai, masayih dan santri.?

Hari Santri Wujud Terima Kasih Kepada Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Santri Wujud Terima Kasih Kepada Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Santri Wujud Terima Kasih Kepada Santri

“Selamat, selamat dan selamat kepada Bapak Joko Widodo yang memutuskan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional,” katanya dalam amanat Apel Akbar Hari Santri Nasional yang bertempat di alun-alun Jepara, Kamis (22/10).?

Ditambahkan Marzuqi dengan diperingatinya Hari Santri Nasional harapnya tidak sekadar peringatan tetapi ke depan mesti dirayakan lebih meriah lagi. Disamping itu kepada ribuan santri, pelajar dan mahasiswa ia berpesan bahwa santri itu bisa. Bisa berperan untuk bangsa dan negara. ?

Siti Efi Farhati

“Marwan Ja’far adalah contoh abituren dari pesantren Kajen yang sekarang menjadi menteri desa. Santri itu harus bisa,” imbuhnya.?

Dengan apel akbar itu “Resolusi Jihad” yang pernah digelorakan oleh KH Hasyim Asyari perlu disemangatkan kembali. “Menjadi santri adalah anugerah. Karenanya ia terus berperan untuk pembangunan NKRI,” tegasnya.?

Siti Efi Farhati

Peserta yang paling banyak mengikuti apel akbar ialah santri pesantren Balekambang Jepara sebanyak 2000 santri. Sisanya peserta berasal dari santri, pelajar, mahasiswa dan Banom NU se-Jepara.?

Kegiatan meriah dengan penampilan rebana, paduan suara, drum band dan pencak silat Pagar Nusa. (Syaiful Mustaqim/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sunnah, Tokoh Siti Efi Farhati

Minggu, 14 Januari 2018

Melamarmu dalam Tahajud

Oleh Robiatul Adawiyah

Malam-malamku, melukis dengan puisi

Kuhantarkan kalimat-kalimat penuh nadi

Di gerbang usia ini

Melamarmu dalam Tahajud (Sumber Gambar : Nu Online)
Melamarmu dalam Tahajud (Sumber Gambar : Nu Online)

Melamarmu dalam Tahajud

Kurengkuh engkau dalam kemesraan

Doa-doaku tak belum berhenti dengan Aamiin

Ingin luruh mesra dipeluk-Mu

Siti Efi Farhati

Kutitip kemesraan ini di sebait puisi yang tak pernah mencukupi dan memenuhi taman-taman puisi cinta

Siti Efi Farhati

Air mataku mengalir deras

Melihat cadasnya hatiku

Melihat karang tajamnya nuraniku

Ampuni aku.

Kepingan air mataku membatu di sajadah lusuh ini

Menggores cerita hina seorang hamba yang sering tak tahu diri

Entah sudah detik ke berapakah hati tenggelam dalam magma keangkuhan diri

Tak sanggup ku menghitungnya lagi

Jubah kabir-Mu tlah lama terhapus dari hati ini.

Terhanyut dalam nikmat dunia yang menjeruji

Ku ingin lari berpaling dari semua ini

Di sisa-sisa napas yang masih tersisa ini

Dam kuatkanlah tapak-tapak penatku

Agar belenggu ini terlepas bebas

Hantarkan jiwaku terbang menuju langit maha luas.

Jakarta, 26 Juni 2016







Penulis adalah aktivis PMII STAI Az-Ziyadah, Jakarta, bergiat di Omah Aksoro

. Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sejarah, Tokoh Siti Efi Farhati

Jumat, 12 Januari 2018

Refleksi Harlah Ke-61: Idealisme IPNU Memudar?

Oleh Cakra Pramudhita

“Tjita2 daripada Ikatan Peladjar Nahdlatul ’Ulama’ jalah membentuk manusia jang berilmu, tetapi bukan manusia calon kasta elite di dalam masjarakat, Tidak. Kita menginginkan masjarakat jang berilmu. Tetapi jang dekat dengan masjarakat. Oknum jang berbuat karena ilmunya. Dan berilmu tetapi jang mau berbuat dan beramal. Sungguh akan merupakan malapetaka jang amat besar baik negara dipimpin oleh orang-orang jang tidak berilmu. Kita tidak menjandarkan semata-mata kepada kariere, lebih2 kariere dengan kekosongan ilmu dan bekal dalam kepala (Pidato resmi KH.Tholchah Mansoer.”

(Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU) pada Muktamar IV, 1961 di Yogyakarta)

Refleksi Harlah Ke-61: Idealisme IPNU Memudar? (Sumber Gambar : Nu Online)
Refleksi Harlah Ke-61: Idealisme IPNU Memudar? (Sumber Gambar : Nu Online)

Refleksi Harlah Ke-61: Idealisme IPNU Memudar?

 

Pada 24 Februari 2015, IPNU menapaki tahun ke-61. Para pendirinya, mungkin tidak pernah menyangka organisasi yang semula hanya dibawah naungan LP Ma’arif dan kemudian menjadi underbouw Nahdlatul Ulama (NU) dapat bertahan dan menggeliat melintasi kerasnya perubahan. Dipaksa oleh keadaan politik, banyak organisasi kepemudaan, pelajar, dan kemahasiswaan yang berdiri sebelum maupun pada masa Orde Lama (Orla) bertumbangan.

Deskripsi dan usulan perubahan dari penulis mudah-mudahan mampu memaksa kita untuk mere-institusionalisasi dirinya. Jika tidak, mudah-mudahan selalu muncul gagasan alternatif dari kader-kader lain yang bisa menjadi common platform bagi pengembangan institusi yang memiliki kemampuan adaptif terhadap tantangan terkini dengan diferensiasi karakteristik yang khas. Jika tidak ada sama sekali agenda berupa gagasan dan langkah konkret dalam mereorganisasi maka secara otomatis eksistensi dan peran IPNU akan terus memudar.

Membaca Masa Kini

Siti Efi Farhati

Adapun bagi IPNU yang telah menginjak usia 61 tahun, jika diumpamakan dengan usia manusia, IPNU sekarang adalah orang yang biasanya sedang berusaha meningkatkan ibadah formalnya agar terhindar dari siksa api neraka jelang tutup usia. Tentu saja, perumpamaan usia serta kecenderungan antara institusi dan orang memang kurang tepat. Tapi, sebagaimana halnya mahluk hidup, institusi juga bisa lahir dan mati. Dalam konteks itu, penulis ingin memberikan penekanan bahwa kondisi IPNU saat ini nyaris seperti orang tua sekarat yang sudah tidak lagi produktif meskipun masih dapat memberi manfaat bagi orang lain. Kalau mau jujur, kondisi seperti itu tercermin di pengurus tingkat nasional saat ini. Mereka memang tidak bisa disalahkan sepenuhnya mengingat mereka adalah produk dari sistem kaderisasi dan sistem institusi. Pun sebaliknya, mereka juga tidak bisa dibenarkan karena mereka adalah pemilik otoritas tertinggi dari hirarki IPNU yang mengabaikan mandat institusi.

Siti Efi Farhati

Beruntung PP IPNU masih belum bisa menghadirkan dirinya sebagai organisasi kader, sehingga kondisi di tingkat nasional tidak terlalu berdampak signifikan pada cabang-cabang, anak cabang, dan ranting, karena sebagian kecil pengurus-pengurus IPNU di daerah masih sangat produktif dan bahkan berhasil melakukan terobosan-terobosan meskipun tidak ada lagi kepemimpinan di tingkat nasional. Sebagian yang lain masih berkutat dengan tindakan minimalis yakni hanya berusaha sebatas mempertahankan eksistensi IPNU di daerahnya tanpa rencana strategis yang jelas. Ada juga perekayasaan eksistensi hanya ketika perhelatan Konfercab, Konferwil, atau Kongres akan digelar. Dua yang terakhir adalah cara-cara survival ala IPNU yang masih terus mentradisi. Kondisi seperti itu tentu saja tidak berdiri sendiri, melainkan sebuah keberlanjutan atau akibat dari rentang proses periode sebelumnya.

Mengapa dampak dari apa yang terjadi di level nasional tidak terlalu signifikan pada daerah? Adanya sistem yang sudah lama corrupt (rusak) menyebabkan terjadinya patologi institusi, mulai dari atas hingga bawah. Sedikit sekali pengurus yang memiliki konsistensi terhadap tujuan, nilai, produk konstitusi, dan panduan kaderisasi IPNU Sebagian besar hanya menjadikan IPNU sebagai stepping stone atau eskalator dalam berkarir post - IPNU dan bahkan keberadaan sebagai pengurus dianggap sebagai profesi. Karena itulah, semuanya masih bisa berjalan secara otonom sesuai dengan mindset pengurusnya masing-masing. Relasi antar jenjang pengurus tidak lebih dari selembar SK pengurus.

Tantangan eksternal IPNU

Pertama, setting situasi politik saat ini berbeda dengan masa lalu. Transisi demokrasi saat ini masih terjadi tetapi semakin mendekati ke arah konsolidasi demokrasi. Fenomena ini bisa dilihat dengan semakin adapatifnya elemen-elemen demokrasi dengan tata politik demokrasi. Meskipun kita masih meragukan, partai politik saat ini tengah dipaksa untuk berubah secara bertahap. Upaya pemberantasan korupsi, meskipun masih menyimpan banyak masalah, terus berjalan secara pasti dan membuat ilusi ketakutan di kalangan birokrasi dan jabatan politik non karir yang umumnya dihuni elite dari partai politik. Kecurigaan-kecurigaan publik yang distimulasi oleh transparansi mendesakkan berjalannya secara efektif dan efisien (mantra capitalism) institusi-institusi di bawah negara.

Kedua, setting gerakan sosial. Gerakan sosial ala pelajar - mahasiswa sudah digantikan oleh gerakan interest group dari organisasi berbasis profesi atau kepentingan. Berbicara isu perburuhan maka kelompok-kelompok berbasis buruhlah yang paling mengerti setiap isu yang terkait dengan dunia perburuhan. Pun demikian dengan isu-isu kepentingan lainnya, misalkan untuk berbicara isu korupsi maka ICW atau TII yang dianggap lebih memiliki kapasitas karena ditunjang oleh sumber daya yang andal dan infrastruktur yang cukup memadai untuk mengumpulkan dan mengolah data. Hal ini juga terjadi di isu lingkungan di mana Walhi, WWF, atau Green Peace dianggap lebih capable. Isu keagamaan juga lebih banyak didorong oleh kelompok sosial berbentuk LSM atau Ormas. Hal ini terjadi di hampir seluruh isu-isu yang terkait dengan dinamika sosial, politik, ekonomi, dan budaya di mana selalu muncul kelompok yang memiliki fokus isu.

IPNU sebagai organisasi kader

Berulang kali disampaikan di berbagai ruang pengkaderan bahwa organisasi hampir selalu didikotomikan ke dalam organisasi massa atau kader, organisasi profesional atau voluntarian, dan organisasi tradisional atau modern. Prinsip-prinsip dasar antara bentuk, isi, dan sifat tersebut nyaris tidak bisa disatukan. Meskipun bisa, akan selalu memunculkan kontradiksi di dalamnya. IPNU harus berani memilih tipologi atau karakteristik yang jelas karena sesungguhnya berada di grayscale area seperti saat ini tidak selalu nyaman dan baik. Sepanjang pengetahuan penulis, terdapat dua ciri yang khas melekat di dalam organisasi kader: disiplin terhadap nilai dan disiplin terhadap institusi kepemimpinan (struktur). Dua bentuk kedisiplinan ini tidak bisa ditawar. Menegasikan salah satunya hanya akan membuat institusi menjadi pincang, menciptakan ketidakteraturan (disorder), dan menimbulkan kerapuhan. Di manapun ada institusi kader maka kedua kedisiplinan ini selalu melekat.

Jika kita ingin melongok sedikit ke dalam ritus, maka institusi kader yang efektif bisa terefleksi di dalam sholat berjama’ah. Di dalam sholat berjama’ah, seseorang bisa menjadi imam karena memiiliki syarat khusus (special conditions) yang berbeda dengan syarat yang juga dimiliki oleh bilal, muadzin, makmum, bahkan pemukul beduk. Oleh karena syarat ini terbatas dipenuhi dalam sebuah situasi yang demikian maka tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama memainkan peran yang dilakoni dalam sebuah momentum sholat berjama’ah.

Maksud dari analogi di atas adalah bahwa setiap anggota terdiferensiasi dalam kapasitas yang berbeda. Untuk mencapai kapasitas tertentu tiap anggota harus melakukan upgrading level. Dalam proses ini, institusi berkewajiban memberikan kesempatan dan tahapan proses yang sama bagi semua anggota untuk dapat melakukannya. Itulah yang dinamakan kaderisasi. Seorang imam akan terus dipatuhi perintahnya selama memiliki kesesuaian dengan tata cara dan aturan sholat. Bila melenceng dari tata cara dan aturan sholat maka barisan (makmum) dapat memberikan kritik secara terbatas dan teratur. Oleh karena imam seorang manusia, maka keimaman seseorang dapat batal dan digantikan oleh makmum yang memiliki kapasitas yang mendekati kapasitas imam.

Barisan yang berada tepat dibelakang imam, terutama yang berada persis di belakang imam, adalah juga orang yang telah siap menjadi seorang imam manakala kondisi yang tidak diharapkan mendera sang imam, termasuk intervensi secara kasar dari luar. Ada keberlanjutan untuk tetap mengokohkan dan mempertahankan kondisi tersebut untuk tetap berusaha sampai pada tujuan bersama.

Di dalam organisasi kader, kepentingan individu telah termanifestasi menjadi kepentingan institusi. Munculnya ruang konflik yang mengakibatkan disintegrasi institusi terjadi karena interpretasi atas nilai dan perilaku elite atau pengurus organisasi dalam hal ini tetap dimungkinkan. Namun, kemungkinan tadi menjadi sangat kecil jika saja kepemimpinan sebagai sebuah faktor krusial di dalam organisasi dapat berjalan secara baik. Pada dasarnya pemimpin memiliki otoritas untuk memilih berbagai opsi strategi. Strategi dan taktik yang digunakan dapat dinilai baik manakala output-nya sesuai dengan tujuan organisasi.

Sudahkan IPNU menjadi organisasi kader?

Sebelum sampai kepada pilihan tadi, mari kita mencoba menengok realitas yang ada di IPNU sehingga mudah-mudahan terdapat sedikit kesamaan persepsi atau bahkan konklusi. Meskipun, dari situ saja akan memunculkan kemungkinan opsi perubahan yang berbeda di benak kepala kader. Di berbagai kesempatan ketika berinteraksi dalam kegiatan kaderisasi formal maupun non formal di Surabaya maupun di daerah lain, kita akan dikejutkan dengan realitas yang cukup “membingungkan”. Kebingungan tersebut bermula dari lontaran sebuah pertanyaan bagi kita bersama: “ apakah tujuan IPNU berdasarkan dari apa yang tercantum di Anggaran Dasar?” Mayoritas dari mereka yang ditanya umumnya tidak mampu menyebutkan tujuan IPNU. Belum lagi kalau ditanyakan apakah ideology IPNU, mayoritas mengalami kebingungan apakah ideology IPNU adalah Pancasila atau Aswaja, kedua-duanya atau salah satunya. Atau bahkan, bukan keduanya.

Di lain kesempatan, kita yang ada dalam kepengurusan ini mungkin akan bertanya, “apakah kita sudah menjadi organisasi kader?”. Dipastikan seluruhnya menjawab bahwa IPNU merupakan organisasi kader. Mereka berargumentasi ada proses kaderisasi formal yang dilakukan oleh institusi. Hanya sebatas itu. Kalau mau jujur, berdasarkan pengamatan menghadiri banyak kegiatan kaderisasi formal, kegiatan kaderisasi formal benar-benar hanya merupakan formalitas. Ada beberapa alasan yang menjadi dasar pendapat tersebut.

Pertama, kegiatan kaderisasi formal masih baru dilihat sebagai prosedur teknis belaka yang ditujukan untuk memenuhi keabsahan pengurus di mata PD/PRT. Untuk hal ini, tidak aneh jika terjadi penyimpangan terhadap standar materi atau kurikulum maupun format kaderisasi yang seharusnya dijadikan acuan.

Kedua, kegiatan kaderisasi formal masih diproyeksikan untuk meningkatkan prestise pengurus semata dengan indikator jika secara kuantitas diikuti oleh banyak peserta tanpa mempetimbangkan kualitas pengetahuan dan proses yang sudah dilalui peserta sebelum kegiatan. Walhasil, ketika materi kaderisasi disampaikan, akibat disparitas pengetahuan dan proses, praktis hanya dalam persentase yang cukup kecil yang dapat mengikuti alur materi secara baik.

Ketiga, bagi peserta kegiatan kaderisasi formal, keikutsertaan dan sertifikat kelulusan menjadi prioritas agar dapat digunakan sebagai syarat untuk berkarir dalam jenjang berikutnya. Dari beberapa alasan tadi, maka sangat wajar kemudian banyak pengurus, untuk ini saya sangat yakin, tidak mengetahui tujuan IPNU, (mungkin juga termasuk saya), serta strategi untuk mencapainya. Hal ini juga masih ditambah pada minimnya pemahaman terhadap nilai-nilai dasar yang menjadi pilar untuk bergerak.    

Untuk menjadi institusi kader yang efektif maka perlu memiliki disiplin terhadap kepemimpinan. Aturan main yang sudah jelas harus dapat dipatuhi. Kepemimpinan bukan penghias hasil konferensi tetapi juga dilihat sebagai mandat organisasi. Sejauh sang pemimpin masih berjalan sesuai koridor dan menjalankan kebijakan untuk mencapai tujuan organisasi maka ia harus ditaati. Sanksi organisasi bukan hanya pelengkap peraturan organisasi. Sanksi diberlakukan bagi mereka yang mengabaikan kebijakan organisasi atau dalam hal ini direpresentasikan oleh pemimpin.

Dari pengamatan selama ini, selain kepemimpinan juga ada format struktur yang harus dibenahi. Format PP, PW, dan PC yang ada saat ini tidak memungkinkan organisasi kita menjadi organisasi kader. Untuk mencapainya, format yang memungkinkan harus ditunjang dengan kerangka operasional berupa tugas pokok dan fungsi yang sistematik dan jelas. PP masih menjadi organisasi yang terlalu besar (periode 2012 - 2015 terdiri dari 120-an personel) di mana kerangka strukturnya dibentuk dengan hanya melihat faktor pengakomodasian atau rekomendasi pesanan dan belum pada kapasitas personal serta kebutuhan institusi. Walhasil, terlalu banyak tumpang tindih fungsi sehingga malah kerap kali menyebabkan disfungsi. PC pun juga demikian, di mana kerangka strukturnya dibentuk dengan hanya melihat faktor pengakomodasian atau rekomendasi pesanan dan belum pada kapasitas personal serta kebutuhan institusi.

Jika kaderisasi telah berjalan secara baik di mana tujuan organisasi telah tercapai maka operasionalisasi konsepsi kader dapat di perluas. Rencana dan kebijakan strategis jangka panjang di dalam ruang yang lebih besar baik di masyarakat dan negara dapat dilakukan di level institusi alumni. Istilah kader pun kemudian dapat dimaknai sebagai seseorang yang menjadi pengabdi, pejuang, dan pelayan dalam spektrum apapun yang menjalani tindakannya sesuai dengan nilai-nilai yang ada di IPNU meskipun sudah tidak lagi mempunyai ikatan institusional dengan IPNU.

Almarhum KH.Tolchah Mansoer dan para founding fathers IPNU mendirikan IPNU bukan untuk bertengger di menara gading dan menjadikan para pengurus dan kadernya sebagai “manusia calon kasta elite”. IPNU dilahirkan untuk membumi dalam masyarakat, menjadi bagian dari dan mendampingi masyarakat bawah, serta terlibat dalam berbagai penyelesaian masalah untuk membangun kemasalahan publik.

Kini, IPNU sudah diambang pintu untuk tampil persis seperti yang dikhawatirkan oleh KH Tolchah Mansoer, yaitu menjadi ”kasta-kasta elite”, jauh dari masyarakat dan tidak terlibat dalam pergumulan sosial dan penyelesaian berbagai persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Bahkan perilaku para pengurusnya lebih suka tampil sebagai kelas-kelas elite yang jauh dari masyarakat alit, namun gila citra. Ketiadaan kerja advokasi dan pendampingan masyarakat, setidaknya masyarakat pelajar, oleh IPNU pada beberapa dekade terakhir menunjukkan realitas ini. 

Kini, 61 tahun sudah IPNU berkhidmah untuk Indonesia. Catatan di atas hanya merupakan upaya melakukan debunking (penelanjangan atau pembongkaran) agar ada upaya koreksi dan perbaikan bersama dari semua unsur di IPNU dalam momentum Hari Lahirnya yang ke 61 hari ini.

Wallahul Muwaffiq Ilaa Aqwamith Thariq

 

Cakra Pramudhita, pengurus PC IPNU Kota Surabaya

 

 

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati AlaSantri, Tokoh, Pondok Pesantren Siti Efi Farhati

Kamis, 04 Januari 2018

Pentingnya Proses Damai di Palestina dengan Solusi Dua Negara

Jakarta, Siti Efi Farhati



Dalam pidato pembukaan KTT Luar Biasa Ke-5 OKI, Presiden Joko Widodo (Jokowi), menyatakan bahwa dunia Islam memerlukan dukungan PBB dan menyerukan proses damai jangan ditunda guna mewujudkan kemerdekaan Palestina melalui Solusi Dua Negara.?

Solusi Dua Negara ini telah cukup lama diutarakan kepada Israel, namun belum ada langkah konkret apapun menuju ke sana, kata Presiden di Balai Sidang Jakarta, Senin.

Pentingnya Proses Damai di Palestina dengan Solusi Dua Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Pentingnya Proses Damai di Palestina dengan Solusi Dua Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Pentingnya Proses Damai di Palestina dengan Solusi Dua Negara

Israel berada di tanah yang sama dengan tanah di mana Palestina berdiri. Sejak 1967, aneksasi militer dan politik internasional Israel secara ilegal bekerja pada Palestina dan semua warganya di sana.

Jalur Gaza menjadi contoh sempurna soal ini, di mana Israel hanya membuka satu pintu, Rafah, sebagai satu-satunya jalur keluar dan masuk warga Palestina ke Jerusalem.?

Posisi dan sikap Indonesia soal kemerdekaan Palestina, menurut Presiden Jokowi, sangat jelas dan tetap, yaitu mendukung kemerdekaan Palestina.?

Siti Efi Farhati

Presiden Jokowi pun menyitir pernyataan Presiden RI 1945-1966 Soekarno (Bung Karno) pada 1962 bahwa selama kemerdekaan Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia menantang penjajahan Israel.

Organisasi Kerja Sama Islam (OKI, yang semula bernama Organisasi Konferensi Islam, mengadakan konperensi tingkat tinggi luar biasa (KTT LB) membahas kemerdekaan Palestina dan perdamaian Tanah Kudus (Al Quds) Jerusalem di Jakarta, 6 dan 7 Maret 2016. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Olahraga, Nahdlatul Ulama, Tokoh Siti Efi Farhati

Selasa, 26 Desember 2017

Beberapa Keutamaan Membayar Zakat

Tidak ada satu pun perkara yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wata‘ala kecuali Allah menjanjikan imbalan dan keutamaan bagi orang yang melaksanakannya. Termasuk di antaranya adalah zakat. Keutamaan dan imbalan bagi orang yang melaksanakan zakat banyak disampaikan di dalam Al-Qur’an dan Hadits. Baginda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda:

Beberapa Keutamaan Membayar Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Beberapa Keutamaan Membayar Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Beberapa Keutamaan Membayar Zakat

? ? ?

Siti Efi Farhati

“Bentengilah harta kalian dengan zakat.” (HR. al-Baihaqi)

Dan Beliau juga bersabda:

Siti Efi Farhati

? ? ? ? ? ? ? ?

“Barangsiapa membayar zakat hartanya, maka kejelekannya akan hilang dari dirinya.” (HR. al-Haitsami)

Termasuk dari keutaman zakat adalah:

Pertama, masuk ke dalam surga, sebagaiana janji Allah dalam firman-Nya:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orangorang mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al Quran), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Orang-orang Itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar.” (QS. An-Nisa’: 162)

Yang dimaksud dengan pahala besar dalam ayat ini adalah jaminan surga bagi orang-orang yang patuh membayar zakat sebagaimana yang dijanjikan kepada Bani Israil. (Lihat ath-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan kedua, 2001, jilid IX halaman 399)

(Baca: Dasar Kewajiban Zakat dalam Islam)Kedua, diampuni kesalahan-kesalahannya. Allah berfirman:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dan Sesungguhnya Allah telah mengambil Perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat diantara mereka orang pemimpin dan Allah berfirman: "Sesungguhnya aku beserta kamu, Sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik Sesungguhnya aku akan menutupi dosa-dosamu. dan Sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir air didalamnya sungai-sungai. Maka Barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, Sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Ma’iddah: 12)

Dengan ayat ini Allah menjanjikan ampunan dosa bagi orang yang membayar zakat sekaligus menjanjikan jaminan surga sebagaimana ayat sebelumnya. (Lihat Abu al-‘Abbas al-Fasi, al-Bahr al-Madid, Beirut, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, cetakan kedua, 2002, jilid IX, halaman: 399) 

Ketiga, mendapatkan petunjuk dan hidayah dalam segala urusan, Allah berfirman:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? 

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, emnunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan Termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At-Taubah: 18)

Ayat ini menjelaskan bahwa orang yang patuh membayar zakat, memiliki harapan besar mendapatkan petunjuk dalam segala urusannya. (Lihat al-Fakhrar-Razi, Tafsir al-Fakhr Razi, Beirut, Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi, cetakanketiga, 2002, jilid I, halaman 2189)

Keempat, mendapat balasan pahala yang terbaik dari zakat yang dilaksanakan dan dilipatgandakan, Allah berfirman:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.  ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? 

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat.mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.

(Meraka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikanBalasankepadamereka (denganbalasan) yang lebihbaikdariapa yang telahmerekakerjakan, dansupaya Allah menambahkarunia-Nyakepadamereka. dan Allah memberirezkikepadasiapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.”(QS. An-Nuur: 37 - 38)

(Baca juga: Makna Perintah Zakat Bergandengan dengan Perintah Shalat dalam Al-Quran) Kelima, harta yang dimiliki menjadi barakah, berkembang semakin baik dan banyak, baginda Nabi Muhammad bersabda:

? ? ? ? ?

“Sedekah (zakat) tidak akan mengurangi harta” (HR. Muslim)

Hadits ini menegaskan bahwa zakat seseorang tidak akan mengurangi hartanya sedikit pun. Artinya meskipun harta seseorang berkurang karena digunakan membayar zakat, namun setelah dizakati hartanya akan menjadi penuh barakah dan bertambah banyak sebagaimana yang dijelaskan oleh imam an-Nawawi di dalam kitab beliau Syarh an-Nawawi ala Muslim:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Di dalam hadits di atas ulama menyebutkan dua sisi. Satu, hartanya akan diberkahi, dijauhkan dari bahaya-bahaya kemudian kekurangan hartanya ditutupi dengan berkah yang samar. Hal ini terlihat nyata dan terbukti secara adat. Kedua, meskipun kelihatannya berkurang sebab dizakatkan, namun hartanya berada di dalam pahala yang akan menutupi kekurangan hartanya tersebut dan akan mendatangkan tambahan lipat ganda” (an-Nawawi, Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim, Beirut, Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi, cetakan kedua, 2003, jilid XVI halaman 141)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits yang menjelaskan tentang keutamaan membayar zakat. Wallahu a’lam. (Moh. Sibromulisi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pondok Pesantren, Kyai, Tokoh Siti Efi Farhati

Mabincab PMII Lampung Timur Imbau Kader Sebar Paham Aswaja NU ke Pelosok Nusantara dan Dunia

Lampung Timur, Siti Efi Farhati - Dalam era globalisasi ini, tantangan mahasiswa sangatlah berat dan kompleks, apalagi selaku mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Lampung. Ke depan mereka dituntut siap menjadi kader-kader (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Nahdlatul Ulama (NU) yang militan.

Jadilah kader PMII yang kaffah, yang dapat menyebarkan paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) an-Nahdliyyah ke pelosok Nusantara dan dunia.

Mabincab PMII Lampung Timur Imbau Kader Sebar Paham Aswaja NU ke Pelosok Nusantara dan Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Mabincab PMII Lampung Timur Imbau Kader Sebar Paham Aswaja NU ke Pelosok Nusantara dan Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Mabincab PMII Lampung Timur Imbau Kader Sebar Paham Aswaja NU ke Pelosok Nusantara dan Dunia

Demikian disampaikan Mabincab PMII Kabupaten Lampung Timur Ahmad Fauzi di hadapan 64 peserta dalam pembukaan Mapaba (Masa Penerimaan Anggota Baru) Komisariat Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Lampung, di gedung PCNU Kabupaten Lampung Timur, Jalan Ky Khanafiah Nomor 9 Lintas Timur Mataram Marga Kecamatan Sukadana Kabupaten Lampung Timur, Senin (20/11).

Siti Efi Farhati

“Sahabat-sahabat semua yang butuh PMII dan NU, bukan PMII yang butuh sahabat-sahabat. Menjadi mahasiswa tidak hanya mengejar IPK dan lulus cepat saja, salah satu yang terpenting adalah ikut aktif dalam organisasi yang sesuai dengan nafas dan akidah Aswaja an-Nahdliyyah, yakni PMII sebagaimana yang telah diputuskan dalam Muktamar NU di Jombang Jawa Timur dua tahun lalu, bahwa PMII adalah salah satu badan otonom NU,” imbuh alumnus IAIN Metro Lampung ini.

Mapaba PMII Komisariat UNU Lampung dilaksanakan selama empat hari ke depan, Senin-Kamis, (20-23/11) dengan tema besar Meneguhkan Nilai-Nilai Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai Dasar Pergerakan.Mapaba juga diikuti peserta dari Komisariat STIE Lampung Timur, Komisariat STIS Braja Harjosari, Komisariat Universitas Terbuka.

Siti Efi Farhati

Hadir dalam agenda pembukaan Mapaba tersebut Rektor UNU Lampung Nasir, anggota DPRD Lampung Timur Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa M Akmal Fathoni, dan lain-lain. (Akhmad Syarief Kurniawan/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kyai, Jadwal Kajian, Tokoh Siti Efi Farhati

Selasa, 19 Desember 2017

Nahdliyin Tuntut Pemerintah Hentikan Pabrik Semen Rembang

Rembang, Siti Efi Farhati. Pada tanggal 26 November, puluhan ibu-ibu yang selama ini menduduki tenda penolakan pabrik PT Semen Indonesia (SI) di Kabupaten Rembang memblokir jalan masuk pembangunan pabrik PT SI di hutan Kadiwono, Kecamatan Bulu, Kabupaten Rembang.

Nahdliyin Tuntut Pemerintah Hentikan Pabrik Semen Rembang (Sumber Gambar : Nu Online)
Nahdliyin Tuntut Pemerintah Hentikan Pabrik Semen Rembang (Sumber Gambar : Nu Online)

Nahdliyin Tuntut Pemerintah Hentikan Pabrik Semen Rembang

Pemblokiran ini adalah bentuk penolakan warga yang selama ini tidak ditanggapi oleh pemerintah dan PT SI. Sudah lebih 160 hari ibu-ibu menginap ditenda penolakan PT SI, tapi pembangunan dengan alat berat terus berjalan.

Masyarakat, sebagian besar ibu-ibu, memblokir jalan dengan cara menghadang dan membawa poster bertuliskan “jalan ditutup warga”. Penolakan terjadi karena lokasi pabrik dan lokasi eksploitasi penambangan berada di wilayah Cekungan Air Tanah (CAT) Watuputih, kawasan yang memiliki fungsi sebagaipenyimpan cadangan air.

Siti Efi Farhati

Hasil penelitian air bawah tanah di Gunung Watuputih oleh Dinas Pertambangan Provinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah pada Maret 1998 menjelaskan bahwa Gunung Watuputih dan sekitarnya secara fisiografis tergolong dalam tipe bentang alam karst.

Siti Efi Farhati

Pada pukul 13.55 WIB (26/11/2014) 7 truk bermuatan paku bumi, besi, dan crane masuk ke lokasi. Serentak ibu-ibu yang di depan tenda langsung memblokir jalan karena sesuai dengan dialog dengan pihak kepolisian, tidak ada perjanjian untuk memasukan alat-alat berat ke lokasi tapak pabrik.

Pada waktu ini, Kapolres kembali negosiasi dengan ibu-ibu, dan tidak tercapai kesepakatan. Setelah itu Kapolres menarik kembali pasukanya ke tenda pemblokiran jalan. Kemudian muncul komando dari Kapolres untuk membubarkan ibu-ibu. Bentrok tak terhindarkan. Dorong-dorongan. Sehingga banyak ibu-ibu yang terinjak dan terpukul. Akibat bentrokan tersebut, 2 tenda warga runtuh. Setiap kali warga mau mendokumentasikan aksi kekerasan yang di lakukan pihak aparat, alat dokumentasi warga dihalang-halangi oleh brimob, bahkan hape warga banyak yang terjatuh dan kemudian diinjak oleh aparat.

Selang beberapa waktu, bapak-bapak mulai berdatangan ke lokasi. Beberapa dari mereka ingin melerai. Di sela-sela itu truk pengangkut alat berat mulai memaksa masuk dan menabrak bendera Merah Putih. Serentak warga emosi karena menurut warga Sang Saka Merah Putih adalah pusaka negara, dan jika diinjak-injak atau digilas oleh alat-alat berat pabrik semen, maka itu adalah wujud pelecehan terhadap negara Indoesia.

Jika izin PT SI tidak dicabut, maka fungsi resapan air kawasan CAT Watuputih akan hilang. Lebih jauh, hal ini mengancam lebih dari 607.198 jiwa di 4 kecamatan Kabupaten Rembang yang selama ini kebutuhan airnya dipasok dari kawasan ini. Menurut keterangan Badan Geologi, jika kawasan CAT Watuputih ditambang, maka akan berdampak pada hilangnya mata air di Kabupaten Blora dan Bojonegoro.

Dalam konteks bencana, hilangnya fungsi resapan air akan mempercepat aliran permukaan. Sehingga, pada saat musim hujan air yang seharusnya terserap ke dalam tanah akan berubah menjadi aliran permukaan. Pada saat curah hujan tinggi, maka aliran permukaan akan sangat besar sehingga akan terjadi banjir di kawasan ini.

Dalam konteks politik nasional, Presiden Jokowi ketika ditemui oleh perwakilan warga Rembang bersama warga Pati, dan Urutsewu (Kebumen) pada 5 September 2014 yang lalu di Jakarta, menyatakan menunggu pelantikannya pada 20 Oktober 2014. Sekarang, setelah pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih, Jokowi-JK, pembangunan PT SI masih terus berlangsung.

Mempertimbangkan argumentasi sosio-ekologi-politik di atas, maka dengan ini Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) dan (JM-PPK Rembang / Jaringan Masyarakat – Peduli Pegunungan Kendeng Rembang) menuntut:

1] Gubernur Jawa Tengah untuk mencabut Izin Lingkungan PT Semen Indonesia Nomor 668.1/17 tahun 2012 tentang Izin Lingkungan Kegiatan Penambangan Oleh PT. Semen Gresik (Persero) Tbk, di Kabupaten Rembang, Provinsi Jawa Tengah;

2] Gubernur Jawa Tengah untuk menghentikan proses pembangunan pabrik PT. SI karena akan berakibat buruk terhadap daya dukung lingkungan di kawasan karst CAT Watuputih;

3] Gubernur Jawa Tengah untuk segera laksanakan rekomendasi dari KOMNAS HAM untuk menghentikan aktivitas pembangunan pabrik semen di Kabupaten Rembang;

4] Panglima Kodam IV Diponegoro dan Kapolda Jawa Tengah menarik Prajurit TNI dan anggota Polri dari lokasi yang akan dibangun pabrik PT SI, karena diduga kuat melakukan tindakan diksriminatif dan terlibat mengintimidasi masyarakat terutama yang menolak PT SI;

5] Dirjen Geologi untuk menetapkan kawasan CAT Watuputih sebagai bentangan kawasan karst sehingga dilarang adanya aktivitas pertambangan didaerah tersebut;

6] Presiden dan Wakil Presiden Jokowi-JK agar turut terlibat menyelesaikan permasalahan ini. (Bosman Batubara/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Anti Hoax, Tokoh Siti Efi Farhati

Jumat, 24 November 2017

Gus Solah: Di Pesantren Tidak Ada Dikotomi Ilmu

Jombang, Siti Efi Farhati. Bagi KH Salahuddin Wahid yang lebih akrab dipanggil Gus Solah, tidak relevan lagi memperbincangkan dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Meskipun tetap kukuh dengan pendalaman ilmuan keagamaan, kini pesantren telah terbuka dengan mensinergikan semua disiplin ilmu.

Penegasan ini disampaikan Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur saat memberikan sambutan atas nama pengasuh pada peresmian SMA Trensains di Desa Jombok Kecamatan Ngoro Jombang (23/8). Sekolah ini merupakan perluasan dari Pesantren Tebuireng dari induknya yang berada di Cukir dan dinamai dengan Pesantren Tebuireng 2.

Gus Solah: Di Pesantren Tidak Ada Dikotomi Ilmu (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Solah: Di Pesantren Tidak Ada Dikotomi Ilmu (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Solah: Di Pesantren Tidak Ada Dikotomi Ilmu

Bagi mantan anggota Komnas HAM ini, sejumlah pesantren telah mencoba melakukan sinergi antara ilmu umum dengan ilmu agama. Di Tebuireng sendiri, tahun 1940-an, KH Wahid Hasyim telah mendirikan Madrasah Nidzamiyah  yang secara khusus memperdalam pengetahuan bahasa dan sastra asing yakni Arab, Inggris, dan Belanda. Dapat dikatakan, kala itu pesantren ini telah mampu menjaga keseimbangan antara penguasaan ilmu agama dan ilmu umum. "Apa yang sekarang diresmikan, hanya melanjutkan ide yang dilakukan oleh Kiai Wahid Hasyim tujuh puluh tahun yang lalu," tandas Gus Solah.

Siti Efi Farhati

Pengasuh ketujuh di Pesantren Tebuireng ini mencoba membandingkan bahwa para peraih hadiah nobel lebih banyak didominasi oleh kalangan nonmuslim. "Dari delapan ratus peraih hadiah nobel, hanya ada sepuluh saja yang beragama Islam," tandasnya. Itu pun hanya ada dua yang memiliki kualifikasi dari latar belakang sains, lanjutnya.

Karena itu keberadaan sekolah SMA Trensains ini diharapkan mampu mengisi kekurangan agar kaum muslimin juga mampu memberikan warna dan berprestasi khususnya dalam penguasaan sains dan teknologi. "Kita berharap, akan ada dari Indonesia para peraih nobel, entah kapan saatnya," terang Gus Solah. Karena itu, yang mendesak untuk dilakukan adalah bekerja dengan keras, bekerja dengan cerdas sehingga menghasilkan seperti yang diharapkan, lanjutnya.

Siti Efi Farhati

Di hadapan sejumlah alumni, dewan guru, jajaran pengasuh pesantren se Jombang dan pejabat pemerintah, Gus Solah menyadari bahwa umat Islam khususnya negara muslim masih berkutat dengan persoalan dalam negeri yang rumit. "Kasus korupsi dan kemiskinan yang hampir merata di sejumlah negara muslim menjadi pekerjaan yang sangat berat," tandasnya.

Namun dengan modal ilmu pengetahuan, keberadaan lembaga pendidikan, sistem politik yang demokratis serta kondisi masyarakat yang memiliki karakteristik kuat, maka ketertinggalan itu diharapkan dapat dikejar. Dan pada saat yang sama, pesantren ternyata masih mendapat kepercayaan dari masyarakat. "Ini adalah modal penting bagi pesantren untuk memperbaiki keadaan," ungkap Gus Solah.

Dan kepercayaan masyarakat yang demikian tinggi kepada pesantren tentunya membawa konsekuensi. "Pesantren harus terlebih dahulu memperbaiki dirinya sendiri," katanya mengingatkan.

Bagi Gus Solah, apa yang telah dilakukan Pesantren Tebuireng dengan membuka SMA Trensains sebagai sumbangsih nyata yang memadukan unsur pengetahuan dan kemanusiaan demi mengejar ketertinggalan umat Islam. Karena itu ia sangat berterima kasih kepada banyak pihak yang telah membantu. Dengan terbuka, Gus Solah menyebut Bank Mandiri, BRI dan pimpinan sekolah  sebagai pihak yang telah memberikan perhatian dan sumbangsih nyata bagi berdirinya sekolah ini.

Hadir pada peresmian ini antara lain Menteri Agama RI H Lukman Hakim Saifuddin, pimpinan Bank Mandiri, BRI, Wakil Bupati Jombang, pimpinan pesantren dan lembaga pendidikan di Jombang serta para wali murid dan alumni Pesantren Tebuireng. Peresmian sekolah ditandai dengan pemukulan bedug oleh Menteri Agama RI. (Syaifullah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Anti Hoax, AlaSantri, Tokoh Siti Efi Farhati

FDS dan Bungkus Penguatan Pendidikan Karakter

Oleh Ruchman Basori

Polemik Full Day School (FDS) melalui kebijakan Lima Hari Sekolah (5HS) terus berlanjut. Masyarakat semakin kecewa dengan ngototnya Mendikbud Muhadjir Effendy atas kebijakannya itu. Sepintar-pintar Mendikbud Muhadjir Effendy membungkus 5HS atau FDS, masyarakat akan dengan jeli melihatnya hanya sebuah kedok untuk memperkuat pendidikan karakter. Bahkan lebih dari itu merupakan upaya sekularisasi pendidikan di Indonesia.

FDS dan Bungkus Penguatan Pendidikan Karakter (Sumber Gambar : Nu Online)
FDS dan Bungkus Penguatan Pendidikan Karakter (Sumber Gambar : Nu Online)

FDS dan Bungkus Penguatan Pendidikan Karakter

Fakta bahwa pendidikan karakter hanya sebagai alasan atau layaknya bungkus, dapat dibaca kenekatan kalangan Kemdikbud yang tetap akan menjalankan kebijakan 5HS pada tahun ajaran baru yang dimulai pada tanggal 17 Juli 2017 mendatang. Alih-alih membatalkan kebijakan 5HS yang tertuang dalam Permendikbud 23 Tahun 2017 tersebut malah akan ditingkatkan lagi menjadi Peraturan Presiden.

Di berbagai tempat dan kesempatan, Menteri Muhadjir mengatakan bahwa kebijakan 5HS yang didasarkan pada Permendikbud 23/2017 adalah untuk penguatan pendidikan karakter anak bangsa. Padahal hasil penulusuran penulis, dari 11 pasal dalam Permen itu tidak ada yang secara spesifik membahas tentang pendidkan karakter. Pasal demi pasal membahas tentang pemenuhan beban kerja guru. Tapi anehnya Permendikbud itu yang selalu dijadikan argumen untuk penguatan pendidikan karakter.

Pertanyaannya, apakah produk Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT), Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) dan Pondok Pesantren yang selama ini menjadi gawang pendidikan karakter bangsa ini kurang hebat dengan pendidikan karakter yang ada di sekolah? Bukankah masyarakat Islam itu sudah dengan legowo menyempurnakan pendidikan agama dan karakter yang selama ini sangat kurang pada sekolah yang hanya dua jam seminggu?

Sekularisasi pendidikan

Siti Efi Farhati

Secara substantif kebijakan 5HS atau FDS yang ditolak oleh masyarakat tidak mencerminkan ikhtiar serius Kemdikbud untuk penguatan pendidikan karakter. Malah sebaliknya peran masyarakat yang telah berpartisipasi ikut memperkuat karakter, moral dan akhlak selama ini malah dinihilkan.

Siti Efi Farhati

Melalui MDT, TPQ dan Pondok Pesantren, masyarakat selama ini telah menanamkan saham yang tak ternilai harganya untuk tumbuh dan berkembangnya masyarakat yang religius, berkarakter serta loyal terhadap bangsa dan negaranya. Negara nyaris tidak mengeluarkan dana yang sebanding dengan output yang dihasilkan lembaga pendidikan keagamaan Islam itu. Karena mereka lahir, tumbuh dari oleh dan untuk masyarakat secara mandiri.

Kementerian Agama dengan keterbatasan anggaran yang ada telah memfasilitasi bagi pengembangan pendidikan keagamaan Islam dan diikuti dengan sejumlah regulasi. Terutama saat ini ketika dipimpin oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Kalau demikian agaknya ada agenda terselubung dari orang-orang tertentu di balik kebijakan FDS. Lebih tepatnya ingin memisahkan antara pendidikan nasional dengan agama. Peserta didik lambat laun tidak akan dikenalkan agama dengan baik tergantikan dengan pendidikan karakter yang belum jelas wujudnya. Dengan kata lain akan terjadi sekularisasi pendidikan di negara kita.?

Adalah Peter L. Berger mendefinisikan sekularisasi adalah sebuah proses di mana sektor-sektor dalam masyarakat dan kebudayaan dipisahkan dari dominasi institusi dan simbol-simbol religius. Berger menegaskan sekularisasi merupakan fenomena global masyarakat modern.

Pada waktu itu akibat dominasi gereja maka di belahan bumi Eropa terhadap pandangan ingin memisahkan antara agama di satu sisi dengan urusan dunia di sisi lainnya. Namun penulis kira beda dengan di Indonesia. Di mana agama telah menjadi dasar fundamental, sumber nilai dan inspirasi untuk berpikir, bersikap dan berperilaku dalam hampir di semua sektor pendidikan.?

Amanat Undang-Undang Dasar 1945 dan produk-produk turunannya sudah sangat jelas mengatakan bahwa pendidikan nasional sangat religius. Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3 misalnya dengan jelas menyebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.?

Memisahkan pendidikan nasional dengan dasar religius, tidak saja akan mengkhianati cita-cita para pendiri bangsa (founding fathers) ini, tetapi juga pengkhianatan terhadap amanat undang-undang. Selain dari itu pengabaian atas hak-hak kemanusiaan sebagai bangsa yang beragama. Jangan semua urusan hajat bangsa ini akan ditangani oleh pemerintah, namun harus mampu berbagi dengan baik dengan rakyat sebagai model pembangunan yang berbasis partisipatif.

Bukan sentimen organisasi, tapi kepentingan anak bangsa

Penolakan atau bahasa halusnya peninjauan kembali atas kebijakan lima hari sekolah (5HS) atau FDS akan terus digelorakan oleh kalangan masyarakat terutama yang terkena dampak langsung yaitu MDT, TPQ dan Pondok Pesantren. Ini bukan masalah konflik Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama sebagai dua organisasi besar yang selama ini menjadi rujukan penting pendidikan Islam. Tapi ini masalah fundamental dasar-dasar pendidikan bangsa ini.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan harus jujur, kalau ikhtiarnya memperkuat pendidikan karakter, tidak harus dengan kebijakan Lima Hari Sekolah. Namun dengan mengoptimalkan pendidikan nasional yang berbasis karakter dan kecakapan hidup sebagaimana inti dari Kurikulum 2013 (K13).

Kenapa misalkan tidak dengan cara menambah jam pelajaran Pendidikan Agama yang hanya dua jam seminggu. Itu jauh lebih realistis dan pasti akan didukung oleh masyarakat. Tuntutan agar pemerintah menambah jam pelajaran agama sudah lama disuarakan, namun pemerintah tetap kekeh sampai hari ini. Dengan tambahan jam pelajaran agama, tidak saja akan menambah porsi yang cukup bagi pengembangan karakter peserta didik, namun juga pendidikan agama akan semakin mendapat porsi yang semestinya. Masyarakat mulai lega dengan penambahan jam pendidikan Agama di K13 namun Dikbud pada masa Anis Baswedan malah meninjau ulang pemberlakuannya dan berlanjut sampai hari ini.?

Masalah moral, karakter dan akhlak erat kaitannya dengan keteladanan (uswah hasanah). Mestinya pemerintah melalui Kemdikbud, Kemenag dan Ristek Dikti mampu mencetak guru dan calon guru yang mampu menjadi tauladan bagi peserta didiknya, tidak saja di sekolah namun juga di masyarakat. Tak kalah pentingnya adalah profil para pemimpin dan tokoh negeri ini harus menjadi contoh (modelling) bagi anak-anak bangsa yang kini sedang tumbuh besar menyambut Indonesia yang lebih baik.

Hal lainnya yang tak kalah penting adalah revitalisasi kurikulum pendidikan nasional. Seluruh mata pelajaran harus diarahkan pada penciptaan peserta didik yang mempunyai keluhuran budi dan kemualiaan akhlak. Belajar Bahasa, Matematika dan Teknologi tidak melulu pemindahan pengetahuan dan ketrampilan (transfer of knowledge) namun juga pemindahan nilai (transfer of value). Agaknya cita-cita ini sejalan dengan konsep K13 sebagai kurikulum yang terintegrasi (integrated curriculum).

Terakhir agar pendidikan karakter tidak sekadar 5HS maka penciptaan suasana dan kultur sekolah perlu diciptakan. Guru yang menjadi teladan, peserta didik yang mempunyai semangat belajar, perpustakaan yang mendukung, kepemimpinan sekolah yang berpihak pada perubahan serta masyarakat yang mencintai sekolah dapat terejawantahkan dengan baik.

Sekali lagi pendidikan karakter bukan Lima Hari Sekolah tetapi ikhtiar serius membenahi pendidikan nasional. Tujuan berdimensi jauh ke depan menciptakan para pemimpin yang mencintai dan dicintai rakyatnya. Mengerti masalah dan tahu bagaimana mengatasinya. Rakyat kita makin cerdas maka susunlah kebijakan yang cerdas pula dan berpihak kepada masyarakat bukan malah mengebiri kepentingan-kepentingannya. Wallahu alam bisshowab.

Penulis adalah Ketua Bidang Organisasi Dewan Pengurus Pusat Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah dan Ketua Bidang Kaderisasi Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor.

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Tokoh, Sejarah, Tegal Siti Efi Farhati

Minggu, 19 November 2017

Innalillah, KH Masduqi Mahfudz Wafat

Jakarta, Siti Efi Farhati. Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Achmad Masduqi Machfudz wafat pada Sabtu, 1 Maret 2014 sekitar pukul 17.27 WIB di Rumash Sakit Syaiful Anwar Malang. Informasi diteruskan dari staf syuriyah PBNU H Mahbub Muafi. 



Innalillah, KH Masduqi Mahfudz Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Innalillah, KH Masduqi Mahfudz Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Innalillah, KH Masduqi Mahfudz Wafat

Dikutip dari website pesantren yang diasuhnya, Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Nurul Huda, KH Masduqi Mahfudz dilahirkan di desa Saripan (Syarifan) Jepara Jawa Tengah pada 1 Juli 1935. 

Mantan Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur ini dikenal dengan gaya hidupnya yang sederhana. Ia memiliki prinsip hidup "Kalau kita sudah meraih berbagai macam ilmu terlebih ilmu agama, maka kebahagiaan yang akan kita capai tidak saja kebahagiaan akhirat, akan tetapi kebahagiaan dunia pun akan teraih."

Siti Efi Farhati

Dari hasil pernikahannya dengan Nyai Chasinah putri dari KH Chamzawi Umar pada 7 Juli 1957 dalam usia 22 tahun, ia dikaruniai 9 orang anak. Sebelum memasuki dunia perkuliahan seluruh putra dan putrinya tanpa kecuali diharuskan mengenyam pendidikan di pesantren. Ini merupakan prinsip yang ditanamkan Kiai Masduqi para putra putrinya. Dari pengalaman mengaji di pesantren ini, meskipun lata belakang pendidikan putra putri beragam, mereka mampu menjalankan amanah dakwah di tengah-tengah masyarakat.

Siti Efi Farhati

Terlahir di tengah-tengah keluarga religius yang taat, sejak kecil ia sudah dihiasi dengan tingkah laku, sikap dan pandangan hidup ala santri. Ia dikenal sangat mencintai dunia keilmuan. Sejak kecil, Kiai Masduqi menimba ilmu di pesantren dan sekolah umum dengan biaya sendiri dengan menyempatkan berkeliling menjual sabun dan kebutuhan yang lain tanpa sepengetahuan kiai atau orang tuanya sendiri.

Sambil menuntut ilmu di SGHA (Sekolah Guru dan Hakim Agama) di Yogyakarta, ia mengaji di Pesantren Krapyak asuhan Yogyakarta KH Ali Maksum. Sejak 1957 ia mengajar di berbagai sekolah di Kalimantan, seperti di Tenggarong, Samarinda, dan Tarakan. Pada 1964 ia melanjutkan studi di IAIN Sunan Ampel Malang, sekaligus sebagai dosen Tadribul Qiraah (bimbingan membaca kitab), bahasa Arab, akhlak, dan tasawuf. 

Pemahamannya terhadap kitab gundul sangat dalam, baik ketika dalam pembahasan masalah di forum majlisul bahtsi wal muhadlaratud diniyyah, kodifikasi hukum Islam, bahtsul masail, maupun tanya jawab hukum Islam pada majalah Aula

Pesantren Nurul Huda yang dirintisnya bermula hanya sebuah mushalla kecil yang berada di Mergosono gang 3B. Mushalla yang sebelumnya sepi oleh aktivitas ibadah mulai digalakkan semenjak ia berdomisili di situ ketika meneruskan pendidikannya di IAIN Sunan Ampel Cabang Malang. Karena keahliannya dalam bidang agama, banyak mahasiswa yang nyantri kepadanya dan kemudian terus ia semakin dikenal dan semakin banyak orang belajar agama sampai akhirnya musholla kecil tersebut menjadi pesantren yang sesungguhnya. (mukafi niam) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Meme Islam, Tokoh Siti Efi Farhati

Jumat, 17 November 2017

Tuntut Ilmu Jangan Hanya Berorientasi pada Kepintaran dan Gelar

Pringsewu, Siti Efi Farhati - Dewasa ini banyak orang yang memiliki niatan tidak benar dalam mencari ilmu. Karena kesalahan niat ini akhirnya banyak orang di zaman sekarang hanya mendapatkan kepintaran. Padahal yang lebih penting dari hal kepintaran ini cahaya dan hidayah ilmu.

Demikian disampaikan Mustasyar NU Pringsewu KH Anwar Zuhdi (Abah Anwar) saat mengupas materi tentang pelurusan niat dalam mencari ilmu di depan Jamaah Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi) yang memenuhi aula Gedung NU Pringsewu, Ahad (8/5) pagi.

Tuntut Ilmu Jangan Hanya Berorientasi pada Kepintaran dan Gelar (Sumber Gambar : Nu Online)
Tuntut Ilmu Jangan Hanya Berorientasi pada Kepintaran dan Gelar (Sumber Gambar : Nu Online)

Tuntut Ilmu Jangan Hanya Berorientasi pada Kepintaran dan Gelar

Abah Anwar memberikan contoh bentuk orang yang salah niat dalam menuntut ilmu seperti ingin merasa hebat dan mengharap dihormati orang lain. "Jika niatan seseorang dalam mencari ilmu itu biar ia bisa hebat, berharap dihormati orang lain apalagi diniati mencari materi dunia, maka orang tersebut tidak akan mendapatkan hidayah ilmu," jelasnya dengan referensi Kitab Bidayatul Hidayah.

Orang seperti ini tidak hanya akan kehilangan hidayah ilmu, namun dapat menghancurkan dirinya sendiri dan agamanya. "Orang tipe ini sama saja menukar akhirat dengan dunia," tegasnya.

Siti Efi Farhati

Abah Anwar menambahkan, hidayah itu sangat penting dalam proses mencari ilmu. "Jangan berorientasi kepada kepintaran dan gelar dalam mencari ilmu. Carilah hidayah Allah SWT. Kalau Allah sudah memberikan hidayah ilmu kepada kita, ilmu dan hidup kita akan menjadi berkah," imbaunya.

Siti Efi Farhati

Ia mencontohkan, bagaimana seorang ulama, kiai atau tokoh yang memiliki keilmuan mumpuni dengan pesantrennya yang besar dan terkenal tetap saja menitipkan putra-putrinya kepada ulama lain dalam mencari Ilmu.

"Kalau niatan hanya untuk mendapatkan ilmu, bisa saja para kiai mendidik anaknya sendiri bersama santri-santrinya di pesantren masing-masing. Namun yang dicari mereka bukan hanya ilmu, namun hidayah dan barokahnya," tegasnya.

Ia mengajak seluruh umat Islam untuk menata niat dengan benar dalam menuntut ilmu dan dengan giat dalam melakukannya. "Semakin banyak mendalami ilmu maka kita akan merasa bodoh. Jangan merasa puas dengan ilmu yang dimiliki karena orang yang merasa pintar hakikatnya adalah orang bodoh," ujarnya. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Tokoh, Nahdlatul Ulama, Tegal Siti Efi Farhati

Jumat, 03 November 2017

Wisuda Pesantren Miftahul Hikmah Berlangsung Meriah

Jembrana, Siti Efi Farhati. Suasana meriah mewarnai prosesi wisuda TPQ Pondok Pesantren Miftahul Hikmah, Cupel, Negara, Jembrana, Bali, Rabu (11/7) malam. Bersamaan dengan peringatan hari jadi pesantren ke-54, acara puncak ini dipadati aneka penampilan para santri.

Dengan iringan musik hadrah, puluhan santri usia tujuh tahunan berlenggak-lenggok di atas panggung melantunkan shalawat, qashidah, dan lagu-lagu khas komunitas Islam tradisional. Sorak-sorai ratusan pengunjung meningkat saat pengumuman pemenang lomba yang diselenggarakan empat hari sebelum acara puncak.

Wisuda Pesantren Miftahul Hikmah Berlangsung Meriah (Sumber Gambar : Nu Online)
Wisuda Pesantren Miftahul Hikmah Berlangsung Meriah (Sumber Gambar : Nu Online)

Wisuda Pesantren Miftahul Hikmah Berlangsung Meriah

Pesantren asuhan Mustasyar PCNU Jembrana KH Muhammad Yasin ini melombakan beragam ketrampilan, seperti lomba baca dan terjemah Kitab Melayu, Tartil Al-Qur’an, cerdas cermat, azan, praktik shalat, hafalan doa harian, dan menulis Arab. Perlombaan diikuti seluruh santri TPQ dan Madrasah Diniyah menurut ketentuan kelas dan materi lomba yang ada.

Sebelum prosesi wisuda dan pengajian umum dimulai, para santri juga menampilkan kebolehan lain menghafal Juz ‘Amma dan seni baca Al-Qur’an di atas panggung. Datuk Yasin, demikian sang pengasuh biasa dipanggil, mengungkapkan kegembiraannya atas prestasi para santri yang telah menyelesaikan pendidikan Al-Qur’an.

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati

Ia menyadari, pesantren rintisannya dalam berbagai segi tidak sebagaimana umumnya pesantren di Tanah Jawa. Populasi penganut Hindu yang mayoritas di Pulau Dewata cukup mempengaruhi jumlah santri dan tenaga pengajar yang dibutuhkan. 

Namun demikian, dengan modal kekuatan yang ada, pesantren di pesisir selatan ini terus berusaha menerapkan kurikulum kitab kuning yang sulit didapatkan di lembaga pendidikan Bali.

“Pesantren ini tujuannya menciptakan bibit unggul yang dapat dikembangkan lagi di luar secara maksimal. Di daerah ini susah mendapatkan pendidikan ala pesantren,” katanya kepada Siti Efi Farhati

Penulis : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pahlawan, Lomba, Tokoh Siti Efi Farhati

Kamis, 02 November 2017

Spirit Maulid Nabi Muhammad SAW

? Oleh Ahmad Muhakam Zein

--Sudah Masyhur kiranya, bila Maulid merupakan bulan dirayakannya hari kelahiran Nabi Muhammad SAW oleh hampir seluruh umat Muslim di penjuru dunia. Sebagai perayaan hari kelahiran, Maulid bukan sekadar perayaan ulang tahun biasa, ada spirit luar biasa yang tentunya harus dihayati dan senantiasa digelorakan.

Di Indonesia, tanggal 12 Rabi’ul Awal telah ditetapkan sebagai “tanggal merah” untuk puncak perayaan Maulid Nabi. Sebagai hari besar keagamaan Islam yang menjadi hari libur nasional, segala pro-kontra yang mengiringi perayaan Maulid tentunya juga menjadi sorotan bersama. Polemik pro-kontra perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad masih saja terjadi tiap tahunnya. Seiring merebaknya ajaran sekte fundamentalis di Indonesia, suara-suara yang menganggap Maulid adalah bidah yang sesat lagi haram pun kian lantang, bahkan mulai anarkis.

Peringatan Maulid Nabi oleh mayoritas umat Islam diyakini bagian dari pokok syariat Islam, sebagaimana firman Allah; “Dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah’ (QS.14.15). Perayaan Maulid secara masif memang tidak terdapat pada zaman Rasulullah SAW, zaman sahabat maupun tabiin. Namun, sebenarnya nabi sendiri merayakan hari kelahirannya dengan cara berpuasa setiap hari Senin dan Kamis. Perayaan nabi atas hari lahirnya itulah yang termasuk “hari Allah,” sehingga merayakannya juga merupakan manifestasi perintah Allah SWT. Jika merunut pada tarikh, Maulid pertama kali dilakukan oleh Shalahuddin al-Ayyubi, seorang sultan dari dinasti Mamalik Mesir, yang menjadi panglima pasukan Islam dalam perang Salib. Syahdan, perang antara umat Islam dengan umat Kristen Eropa itu berlarut-larut dan tidak jua muncul pemenangnya. Singkat cerita, kemudian ada fatwa jihad dari Paus Roma untuk seluruh pengikut Kristen Eropa. Maka, orang Kristen Eropa pun berbondong-bondong menyerbu daerah Islam kawasan Syria dan semangat perangnya kembali bergelora. ?

Spirit Maulid Nabi Muhammad SAW (Sumber Gambar : Nu Online)
Spirit Maulid Nabi Muhammad SAW (Sumber Gambar : Nu Online)

Spirit Maulid Nabi Muhammad SAW

?

Melihat realitas itu, Sang Sultan dinasti Mamalik berkebangsaan Kurdi tersebut menitahkan membuat peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad guna membakar semangat juang umat Islam agar terlecut pula memenangi perang Salib. Sultan al-Ayyubi memang terkenal cerdik dan bijaksana. Ia pintar membaca situasi dan berkeyakinan bahwa kemenangan perang tidak sekadar mengandalkan kekuatan pasukan dan strategi. Ada hal lain yang tak kalah penting, yakni semangat juang dalam perang yang harus selalu dipertahankan, bahkan ditingkatkan. Berawal dari kecerdikan serta kepintarannya itu Islam memperoleh kemenangan.

Merayakan Spirit

Siti Efi Farhati

Perayaan Maulid Nabi adalah sebentuk ekspresi suka cita atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Perayaan Maulid dikategorikan amaliah positif, karena merupakan salah satu bukti cinta kepada Rasulullah. Menurut keterangan dalam HR. al-Bukhari dan statement Ibnu Rajab, rasa cinta termasuk dari pondasi keimanan. Kecintaan atas Nabi Muhammad itu melengkapi rasa cinta kepada Allah, sebagaimana anjuran dalam QS. at-Taubah ayat 24. Rasulullah sendiri adalah seorang utusan Allah sekaligus rahmat bagi semesta alam, seperti termaktub dalam QS. al-Anbiyaa’ 107. Dengan adanya karunia rahmat itu, umat manusia dianjurkan untuk menyambutnya gembira. Hal itu tersurat dalam QS. Yunus ayat 58, “Katakanlah (Muhammad), Dengan karunia Allah dan dengan rahmat-Nya, hendaknya dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”

Ketika Allah meringankan siksa Abu Lahab setiap Senin karena dahulu bersuka citanya atas kelahiran Nabi Muhammad dengan memerdekakan budak perempuan bernama Tsuwaybah, sudah barang tentu umat Islam yang mau merayakan Maulid Nabi Muhammad akan mendapat “bonus” lebih. Apalagi jika dalam perayaan maulid Nabi dibacakan dzikir, shalawat ataupun madah-madah semisal al-Barzanji, ad-Dibai, Burdah, Simtud Durar dan lainnya yang berisi pujian serta kecintaan atas Nabi Muhammad. Nabi sendiri dalam hal ini kerap diibaratkan sebuah gelas yang penuh. Tatkala kita membaca shalawat atau madah kepadanya, berarti kita sedang mengisi gelas yang sudah penuh tersebut, sehingga airnya akan meluber. Air luberan yang tumpah itulah yang dianalogikan sebagai syafaat Nabi bagi umatnya.

Para ulama sejak abad ke-4 telah merayakan Maulid Nabi dengan aneka macam ibadah. Tidak terkhusus pada pembacaan syair pujian atas nabi, tapi juga bertadarus, bersedekah makanan, dzikir dan kegiatan positif lainnya. Perayaannya juga tidak terkhusus tanggal 12 Rabi’ul Awal saja. Jumhur Ulama mengatakan beliau lahir tanggal 12 bulan Rabi’ul Awal, ada yang mengatakan tanggal 8, ada pula yang mengatakan tanggal 21 Rabiul Awwal. Ada statement menarik dari Syekh Ali Jum’ah terkait adanya perbedaan tanggal hari lahir Nabi Muhammad SAW. Dari perbedaan itu, seolah-olah Allah SWT menyembunyikan kepastian hari kelahiran Rasulullah, serupa ketika Allah menyembunyikan kapan pastinya Lailatul Qadar. Menurut mantan mufti Mesir tersebut, justru ada hikmah tersirat yang mestinya bisa diambil. Yakni, hendaknya tidak merayakan hari kelahiran beliau pada satu hari saja di bulan Rabi’ul Awal, tapi merayakan selama sebulan penuh, bahkan hingga setahun penuh.

Siti Efi Farhati

Hal itu telah dijelaskan pula oleh banyak ulama tarikh maupun hadits, di antaranya Ibnu Jauzi, Ibnu Katsir, Ibnu Dihyah al-Andalusi, Ibnu Hajar dan Jalaluddin al-Suyuthi. Para ulama fikih banyak pula yang menulis tentang keutamaan perayaan maulid Nabi dengan dalil-dalil yang sahih, seperti Ibnu al-Hajj dalam kitab al-Madkhalnya dan Imam Suyuthi dalam risalahnya yang berjudul “Husnul maqsid fi amal al-maulid.”

Terkait adanya penentangan dari pihak yang mengatakan Maulid adalah bidah yang sesat dan haram, ada baiknya kita kembali fokus pada spirit positif Maulid. Fakta historis telah membuktikan spirit Maulid mempunyai dampak positif nan signifikan bagi perjuangan Islam. Dalil Quran maupun hadits pun secara tersirat telah mendukung legalitas perayaan Maulid. Begitu juga dari literatur fikih. Kalaupun Maulid termasuk bidah, maka ia akan masuk pada bidah yang hasanah, alias hal baru yang positif. Tentang adanya pihak yang setuju atau tidak atas sebuah hal baru, itu adalah sebuah keniscayaan. Bukankah justru kita tidak boleh memaksakan ihwal baru yang masih diperdebatkan untuk “wajib” diterima atau ditolak semua pihak. Bahkan di Saudi, yang sejak dahulu paling getol menyuarakan Maulid adalah bidah, ada kubu ma’had ar-Ribath atau sosok syekh Qais al-Mubarak yang membolehkan perayaan Maulid.

Perayaan Maulid pada konteks sekarang, spiritnya bukan lagi untuk mengobarkan semangat juang perang dan memenangkan peperangan bersenjata. Fakta sejarah boleh mencatat bahwa spirit perayaan Maulid menjadi pelecut semangat umat Islam untuk mengenyahkan tentara Salib dari dunia Islam. Namun, adanya pergeseran dari spirit awal dirayakannya tidaklah mengurangi substansi spirit posiitif perayaan Maulid. Sebab, semangat juang yang harus terus digelorakan dan dijaga semangatnya tidak hanya berlaku untuk perang bersenjata, tapi bisa juga berlaku pada semangat juang (misal) memberantas korupsi, kriminalitas dan kemiskinan. Allahu a’lamu, shallu ‘ala nabi Muhammad. ? ?

Ahmad Muhakam Zein, Ketua Tanfidziyah V PCINU Mesir

?

?

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Tokoh Siti Efi Farhati

Selasa, 31 Oktober 2017

Islam Tumbuh dengan Junjung Toleransi di Australia

Jakarta, Siti Efi Farhati. Seorang dai muda yang berada di Melbourne mengatakan bahwa Australia merupakan lahan subur perkembangan Islam, dan hal ini hanya mungkin melalui penciptaan lingkungan yang memungkinkan timbulnya hubungan timbal balik diantara pengikut semua agama dan pencapaian koherensi diantara berbagai suku bangsa.

“Saya melihat bahwa kekuatan Australia terletak dalam inklusifitas dan fleksibilitas untuk mengadaptasi para imigran dari seluruh dunia yang datang dari berbagai latar belakang etnis, agama dan latar belakang budaya,” kata Waseem Razvi, pendiri Islamic Research and Educational Academy (IREA) seperti dilansir Saudi Gazette (11/9).

Islam Tumbuh dengan Junjung Toleransi di Australia (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Tumbuh dengan Junjung Toleransi di Australia (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Tumbuh dengan Junjung Toleransi di Australia

“Kami tidak pernah tahu bahwa Islam itu agama yang damai dan Muslim itu inklusif.” Ini adalah umpan balik yang didapat dari banyak warga Australia setelah mengikuti Australian Islamic Peace Conference (AIPC) yang diselenggarakan pada Maret lalu. IREA menjadi penyelenggara konferensi yang merupakan acara konferensi perdamaian Islam terbesar pertama kalinya di Australia.

Siti Efi Farhati

Dilahirkan dan dibesarkan di Saudi Arabia oleh orang tua yang berasal dari India, dai muda berusia 32 tahun ini memiliki gabungan nilai yang berkembang di Arab Saudi dan India, yang membantunya menjalankan misi dakwah. Dia belajar di International Indian School Jeddah (IISJ) sampai kelas 9. Lalu pergi ke Hyderabad untuk menyelesaikan pendidikan menengahnya dan melanjutkan pendidikan S1 di jurusan teknik elektronika di Osmania University. Pada 2004, dia pergi ke Australia untuk menempuh pendidikan lanjutan tingkat Master dalam bidang Sistem Informasi di Melbourne Institute of Technology pada 2007 dan bergabung dengan Toyota Company sebagai enjiner sampai 2010.

Siti Efi Farhati

Dia kemudian keluar dari pekerjaannya untuk sepenuhnya menjalankan dakwah. “Teman kelas saya di IISJ datang dari berbagai daerah di India dan masa kecil saya di Saudi Arabia bergaul dengan imigran dari berbagai negara. Ketika saya pindah ke India, saya menemukan kekuatan India sebagai negara demokrasi terbesar di dunia yang mengakui semua agama dan ratusan budaya. Latar belakang ini memberikan saya kekuatan menjalankan dakwah dalam masyarakat dengan struktur yang mirip di Australia ini.”

Razvi melanjutkan, sebagai negara multikultural terbesar di dunia, Australia mengakomodasi budaya dari sekitar 200 kebangsaan, yang menyambut dengan hati dan tangan terbuka. Saat ini terdapat perubahan kebijakan migran karena peningkatan imigran ilegal, khususnya manusia perahu, dan peningkatan kasus tenggelamnya perahu yang membawa pengungsi.

Dalam beberapa tahun terakhir, imigran terutama untuk tujuan pendidikan disamping untuk mencari tempat hidup yang lebih baik dan lebih aman, tambahnya.

Dikatakannya, masyarakat Australia memberikan kesempatan kepada masing-masing pemeluk agama untuk memperkenalkan agama mereka secara damai. 

“Saya menyampaikan khotbah di gereja tertentu yang mana saya berusaha menunjukkan ajaran Islam yang sebenarnya serta untuk menghilangkan keraguan, dengan fokus menunjukkan kesamaan antara Islam dan Kristiani.”

Dengan melihat pengalaman dan alasannya meninggalkan pekerjaan dan fokus di dakwah, Razvi mengatakan, ketika ia tiba di Australia, banyak insiden serangan yang menargetkan mahasiswa asing, termasuk dari India. Ia beralasan, hal ini dikarenakan pejabat dan orang Australia tidak memahami Islam dan Muslim secara tepat, sehingga ia memutuskan berkonsentrasi untuk menunjukkan gambaran Islam yang benar dan menghilangkan kesalahpahaman.

Dijelaskannya, terdapat tiga tujuan yang ingin diraih, mencapai kesatuan diantara sesama Muslim, membangun jembatan kesepahaman antara Muslim dan komunitas Australia dan membantu komunikasi Muslim dengan pihak berwenang. 

“Organisasi AIPC merupakan puncak dari upaya untuk mencapai tujuan tersebut, dan sangat berhasil. Kami tidak hanya menyatukan semua sekte dalam Islam, tetapi juga sejumlah besar kalangan non Muslim, termasuk pejabat senior pemerintah.

Pertemuan tiga hari yang diselenggarakan di sebuah kawasan prestisius Melbourne dihadiri sekitar 10.000 Muslim dan non Muslim, “Ini adalah batu pijakan penting untuk membangun jembatan antara komunitas Muslim dan non-Muslim melalui dialog antar agama dan antar budaya, selain membuka pintu komunikasi antara Muslim dan pemerintah sekuler Australia, sehingga mengurangi Islamophobia. Para imam dan dari yang berasal lebih dari 30 masjid dan Islamic Center se-Australia menyatu dalam sebuah platform untuk pertama kalinya. Konferensi ini juga berhasil merealisasikan tujuannya untuk meningkatkan saling kesepahaman diantara berbagai sekte Muslim dan memperkecil perbedaan serta memperjelas miskonsepsi antara Muslim dan komunitas lain. Pemerintah sangat mendukung kegiatan ini dan Menteri Imigrasi mengeluarkan visa bagi seluruh tamu yang diundang. Sekitar 1000 sukarelawan yang berasal dari Muslim dan non-Muslim berada dibalik kesuksesan acara ini, klaimnya.

Menurut Rzvi, konferensi ini mendisseminasikan pesan toleransi beragama dengan menyatukan para pemimpin dari semua keyakinan. Para pembicara meliputi uskup terkemuka John Bayton, pemimpin Yahudi Jenne Peristein, Pendeta Helen Summers dari Pusat Antar Agama Melbourne, dan pejabat senior Polisi Federal, termasuk inspektur Stephen Oberi. Ulama terkenal dan ilmuwan dari berbagai belahan dunia juga hadir dalam pertemuan tersebut. 

Terlepas dari berbagai sesi konferensi, terdapat beberapa hal yang menarik masyarakat Australia termasuk edutainment Islam seperti pameran keislaman yang memperkenalkan konsep Islami, usaha untuk meningkatkan perdagangan melalui Muslim World Fair, ruang bermain untuk anak, ditambah pojok non-Muslim yang mengesankan. Terdapat pameran copy Qur’an tertua dari Museum Turki dan penampilan model-model saintis yang didasarkan pada ayat-ayat Qur’an yang disiapkan oleh para siswa dari King Khaled School. Salah satu model menunjukkan bagaimana semut saling berkomunikasi satu sama lain, seperti yang disebutkan dalam Qur’an. Razvi berencana menyelenggarakan event ini secara tahunan. 

Meskipun seorang insinyur, Razvi sekarang merupakan seorang presenter Islam kepada non-Muslim. Dia dengan nyaman mengutip ayat Qur’an dan hadis, serta ajaran dari agama lain. Role modelnya adalah para dai terkenal seperti Ahmad Deedat, Dr. Zakir Naik dan Imran, yang merupakan mentornya. Imran adalah presiden Indian Islamic Research and Education Foundation. 

Sejak lahirnya IREA, Razvi telah memberikan lebih dari 200 kuliah di seluruh Australia dan berpartisipasi dalam berbagai seminar, konferensi dan program dialog antar agama. 

Diantara bentuk dakwah IREA termasuk dakwah di jalanan dengan interaksi tatap muka di jalanan yang sibuk, diskusi, kuliah dan debat secara regular dengan non-Muslim serta kampanye dengan iklan. Dia secara reguler menjadi pendakwah dan pembicara di berbagai masjid dan universitas di Melbourne.

Ambisi Dakwah IREA adalah dakwah di jalanan di seluruh Australia dengan berbagai tema dan subyek. Satu kelompok dengan 80-100 relawan terlatih akan menjalankan kampanye berdasarkan kartu pos dan banner yang tersebar di sepanjang jalanan Australia. Organisasi ini menggunakan berbagai media dan peralatan untuk mengenalkan Islam dan memberikan jalan bagi umat Islam untuk terlibat dengan non-Muslim.

Juga terdapat tour Dakwah Awareness, sebuah proyek untuk melakukan perjalanan di seluruh Australia, melewati setiap kota Metropolitan, kota besar maupun kota kecil. IREA juga menyelenggarakan kursus dakwah setiap empat bulan dengan topik aktual dan kuliah umum setahun dua kali dengan 1,000-2,000 hadirin, khususnya non Muslim. Razvi melihat tidak ada masalah bagi Muslim Australia untuk melindungi agama dan identitas budayanya. Wanita Muslimah juga bebas memakai berbagai jenis hijab.

Namun demikian, terdapat sebuah media yang berusaha menciptakan ketakutan terhadap Islam. Terdapat kelompok yang dinamakan Q Society yang didirikan oleh sekelompok pengikut fanatik Kristen dan Yahudi. Slogal mereka, ‘Muslim harus dikeluarkan dari Australia.’ “Pendekatan kami adalah menyelenggarakan dialog terbuka dengan mereka. Jika ini tidak berhasil, kami akan mendidik orang-orang tentang mereka dengan mengekspos menunjukkan siapa mereka,” katanya.

Razvi mengatakan bahwa Islam merupakan agama dengan pertumbuhan terbesar kedua di Australia yang kini memiliki populasi 20 juta. Jumlah Muslim sekitar 2.5 persen dari populasi yang berkisar 500.000. Melbourne, dengan jumlah populasi Muslim 180,000, merupakan pusat aktifitas Islam. Orang dari Lebanon dan Turki merupakan imigran terbesar. Al-Wasat merupakan publikasi bulanan dalam bahasa Inggris dan Arab terbesar. 

Mimpinya saat ini adalah mendirikan sebuah sekolah Islam internasional dengan fasilitas terbaik untuk melengkapi pendidikan bagi generasi Muslim masa mendatang. Juga terdapat rencana untuk meluncurkan TV Islam, sebagai tambahan dari proyek untuk membuat para penulis dan jurnalis Muslim menghadapi tantangan di dunia modern.(mukafi niam)

Foto:google+

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Aswaja, Tokoh, Budaya Siti Efi Farhati

Rabu, 25 Oktober 2017

Kempek Mendadak Jadi Pasar

Cirebon, Siti Efi Farhati. Perhelatan akbar Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2012 berpengaruh banyak terhadap kondisi Kota Cirebon. Salah satu dampak yang menonjol adalah keramaian massa di sekeliling lokasi acara, Kompleks Pondok Pesantren Kempek, Palimanan, Cirebon. Kampung halaman Ketua Umum PBNU ini mendadak seperti pasar.

 

Kempek Mendadak Jadi Pasar (Sumber Gambar : Nu Online)
Kempek Mendadak Jadi Pasar (Sumber Gambar : Nu Online)

Kempek Mendadak Jadi Pasar

Dari pantauan Siti Efi Farhati, ratusan lapak dibuka di hampir sepanjang jalanan menuju pesantren. Selain di area bazar yang disediakan panitia, para pedagang tampak pula berjajar mendekati panggung kesenian. Jumlah terus bertambah hingga hari ini sejak Kamis (13/9).

 

Para pedagang yang datang dari dalam dan luar Cirebon ini menjajakan aneka barang dagangan, seperti alat elektronik, buku, mainan, buah-buahan, pakaian, makanan, dan pernak-pernik lain bernuansa NU dan Cirebon. Penawaran jasa, seperti perjalanan Umrah dan Haji juga tampak di pinggir jalan.

 

Siti Efi Farhati

Sebuah pasar rakyat juga digelar tak jauh dari lokasi pembukaan Munas, 15-16 September, di Alun-alun Palimanan, Cirebon. Pasar yang diisi dengan bazar, musik, permainan, dan tausyiyah ini di antaranya menawarkan sembako murah.

 

Salah satu penjual Husni, Jumat (14/9), mengaku agak telat membuka lapak dibanding rekan-rekan lain. Ia datang dari sebuah perguruan tinggi di Babakan, Cirebon. “Saya datang baru hari ini. Yang lain udah kemarin-kemarin,” katanya.

Siti Efi Farhati

 

Di samping dari sejumlah lembaga pendidikan dan pesantren, pedagang juga berasal dari Pasar Binaan Lembaga Ekonomi Thoriqoh (Lekthor) dan masyarakat umum.

 

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   : Mahbib Khoiron

 

 

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Tokoh, IMNU Siti Efi Farhati

Sabtu, 14 Oktober 2017

Presiden: Kalau Tidak Berani Meloncat, Indonesia akan Tertinggal

Jakarta, Siti Efi Farhati. Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo mengungkapkan di era globalisasi dan teknologi persaingan antar negara sangat ketat, dan bila tidak berani meloncat, Indonesia akan tertinggal.

Presiden: Kalau Tidak Berani Meloncat, Indonesia akan Tertinggal (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden: Kalau Tidak Berani Meloncat, Indonesia akan Tertinggal (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden: Kalau Tidak Berani Meloncat, Indonesia akan Tertinggal

Hal itu disampaikan Joko Widodo saat membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bidang Kemaritiman, di Sasana Kriya Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Kamis, (4/5) pagi.

“Saat ini bukan lagi yang besar mengalahkan yang kecil, juga bukan yang kuat mengalahkan yang lemah. Tetapi yang cepat mengalahkan yang lambat. Siapa dan negara mana pun,” papar Joko Widoddo.

Ia menegaskan loncatan bagi Indonesia bisa saja terjadi. “Itu tergantung niat atau tidak niat, mau atau tidak mau. Bukan masalah pintar atau tidak pintar,” katanya.

Jokowi mengungkapkan pemerintah melakukan berbagai terobosan untuk membangkitkan potensi kelautan agar manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh rakyat.

Siti Efi Farhati

“Infrastruktur maritim, tol laut, pembangunan pelabuhan Indonesia mampu menurunkan harga-harga logistik di Indonesia bagian timur. Bila trayek dan rute semakin banyak, tentu akan lebih baik,” kata Joko Widodo.?

Potensi ekonomi kelautan Indonesia mencapai 1,33 tiliun dolar. Angka itu senilai 19.000 triliun rupiah. “Tapi kalau pengelolaannya hanya itu saja, rutinitas monoton, tidak ada terobosan jangan harap potensi itu bisa didapatkan,” Jokowi mengingatkan.

Menurutnya bila dari potensi di atas dapat tercapai sepuluh persen saja sudah termasuk bagus. Beberapa langkah dapat terus dilakukan dalam mewujudkan potensi tersebut. Di antaranya pemanfaatan budidaya aqua kultur.?

“Kita harus ajari nelayan kita untuk tahu potensi yang ada agar nilai tambah dari barang yang ada bisa puluhan kali dari yang kita lakukan saat ini,” lanjutnya.

Siti Efi Farhati

Ia mendorong agar riset dan pengembangan teknologi tak terkecuali di bidang kelautan terus dilakukan. “Jangan terlalu linear dan monoton. Padahal dunia berubah begitu cepat," tegas Jokowi.

Teknologi harus kita kejar tanpa itu sulit mengejar ketertinggalan kejar dengan negara lain,” tegasnya. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Internasional, Tokoh Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock