Tampilkan postingan dengan label Humor Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humor Islam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Maret 2018

Detik-detik Wafatnya Tokoh NU Subchan ZE

Hari Ahad 16 DzulHijjah 1392 bertepatan 21 Januari 1973, penulis mendampingi Subchan ZE keliling balad Jeddah. Di dalam mobil, penulis dengan lugu bertanya: "Di koran pak Subchan diberitakan akan kawin. Dengan siapa, Pak?". "Betul, tapi yang mau kawin itu pikiran Subchan dengan pikiran Soeharto", jawabnya.

Lalu tanya penulis: "Bagaimana dengan isu miring bahwa Pak Subchan punya hobi ke dumang, dunia remang-remang, klub malam. Kan bapak seorang tokoh NU?"

Jawabnya: "Subchan ZE Wakil Ketua MPRS-RI itu selalu berada di tempat tidak jauh dari mobil B 4 parkir. Termasuk di night club itu betul tetapi ingat, sebagai Wakil Ketua MPRS, petinggi NU, dan seorang Muslim pada dasarnya adalah Muballigh, yang harus menyampaikan pesan Rasul walau hanya seayat. Coba siapa dari para kiai dan atau dai yang berani tanpa sembunyi-sembunyi nyambang tempat remang-remang untuk antarkan nasihat, nanting kembali ke jalan yang benar. Bukankah dakwah justru lebih dibutuhkan di tempat seperti itu daripada di mesjid dan surau?”

“Harus diingat,” sambungnya, “bahwa apapun yang kita lakukan, niat adalah hal pokok. Maka bulatkan tekad bahwa segalanya diniatkan untuk ibadah pada Allah dalam berkhidmah melayani kepentingan umat. Serahkan diri artinya niatkan semuanya hanya untuk memperoleh ridlo Allah sehingga kelak bisa menemuiNya dengan hati yang damai.”

Detik-detik Wafatnya Tokoh NU Subchan ZE (Sumber Gambar : Nu Online)
Detik-detik Wafatnya Tokoh NU Subchan ZE (Sumber Gambar : Nu Online)

Detik-detik Wafatnya Tokoh NU Subchan ZE

Ia lantas mengutip ayat ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? laa yanfau maalun wa laa banuuna illaa man ata-Llaaha bi-qalbin saliim, yakni: tidak akan berguna harta dan anak keturunan kecuali siapa yang datang menemui Allah dengan hati yang damai. Dan menyampaikan petikan hadits ? ? Ad-Diinu nashiihah. Agama adalah nasihat.

“Maka nasihatku, jika nanti kamu berniat terjun kiprah di politik, tebalkan terlebih dahulu bantalanmu. Jangan heran dan jangan gamang, jika datang menerpamu isu masuk partai untuk memperkaya diri. Lihatlah nanti setelah saya istirahat panjang, apakah saya masuk NU untuk memperkaya diri ataukah benar untuk berkhidmat bagi kepentingan umat? Kini saatnya, kuingin bangun hotel di Mekkah. Kumau istirahat panjang."

Siti Efi Farhati

Subhanallah, Pak Subchan ZE ternyata bukan hanya politikus ulung, tetapi juga kiai yang mumpuni. Ketika ditanya, "Kenapa Pak Subchan tidak membalas balik serangan pihak yang mendiskreditkan?" Jawabnya: "Man satara musliman satarahulLaahu fid-dunyaa wal-aakhiroh. Siapa menutupi (cela/aib/keburukan) seseorang Muslim maka Allah menutupi (cela/aib/keburukan)-nya di dunia dan akhirat.”

Dari sejak pagi perjumpaan hari itu, penulis sudah menyampaikan keinginan teman-teman agar Pak Subchan berkenan singgah di gubuk kami di Baghdadiyah Jeddah, dekat Hotel AlAttas. Maka adalah sebuah "barokah", kebetulan ketika itu tak satu pun kamar hotel di Jeddah yang kosong, maka Pak Subchan tidak memiliki alasan untuk tidak singgah ke gubuk tempat kami para kerabat mahasiswa/alumni Timur Tengah kumpul-kumpul.

Selanjutnya, setelah qailuulah atau tidur siang sejenak, kemudian mandi sore dan shalat, seraya mengikat tali sepatu beliau bersenandung, "Yang hilang tak kan kembali..." Serta merta penulis bilang: "Wah, Pak Subchan, bisa-bisa ngalahin Bob Tutupoli!"Sambil tersenyum lebar beliau merespon: "Oh ya? Tapi janganlah.. Kasihan nanti para penyanyi bisa kehilangan job."

Siti Efi Farhati

Kemudian beliau berpamitan untuk ke Mekkah dan Medinah menggunakan mobil Mercides warna putih milik Pak Abdullah Sumbawa, didampingi Pak Faisal Rochlan (adik beliau) dan Pak Nur (pemilik Percetakan Menara Kudus). Penulis ingat persis, hari Ahad 16 DzulHijjah 1392 atau tanggal 21 Januari 1973, sudah berselang empat dasawarsa lebih, tapi rasanya seakan baru saja kemarin beliau tiga kali menoleh ke penulis dan teman-teman seraya berucap: "Selamat tinggal... Fii AmaanilLaah!"

Usai maghrib, ketika itu bersama keluarga Cak Bakrin Kafi, penulis sedang menjamu Kepala Inkopad, Pak Brigjen Djoko Basoeki sekeluarga, datanglah sahabat penulis bernama Yazid Ramli dari Mekkah membawa berita dukacita. Di luar pintu Yazid Ramli memeluk lunglai penulis yang dengan suara lirih bertanya: "Kenapa? Pak Subchan?!" Berbareng kami mengucap lirih: "Innaa lilLaahi wa innaa ilaiHi roojiuun".

Malam itu Cak Bakrin Kafi dan penulis tidak sampai hati untuk menginformasikan berita duka cita itu ke Pak Brigjen Djoko Basoeki, yang pamitan mau terbang ke Amerika untuk suatu tugas, dan keluarga terbang pulang ke Jakarta.

Musim haji tahun 1392/1973 itu Amiirul-Haj Indonesia adalah Pak Jenderal Amir Machmud, Menteri Dalam Negeri RI, Ketua Umum Golkar. Maka tentunya dapat dibayangkan, isu politik seperti apa yang sangat mungkin serta merta dapat mencuat menjelma menjadi malapetaka amat dahsyat di Indonesia. Khususnya di Jawa Timur, belahan Nusantara basis kaum santri dan Nahdliyiin. Karena itu, penulis segera mencoba-yakinkan Cak Bakrin Kafi, putra Kiai Cholil Bangkalan Madura, untuk melakukan tindakan darurat demi keamanan situasi negeri tercinta dengan menangkal kemungkinan hembusan fitnah. 

Alhamdulillah Cak Bakrin tanggap, maka malam itu juga bersama penulis ke Telkom Jeddah (musim haji buka 24 jam) mengirim dua telegram (isi berita sama, yaitu: "kilat":

"Innaa lilLaahi wa innaa ilaihi raajiuun, telah berpulang ke rahmatulah SWT almarhum haji Subchan ZE karena kecelakaan murni, ulangi karena kecelakaan murni, di Wadi Fatmah dalam perjalanan darat dari Mekkah ke Medinah. Semoga Allah SWT menerima amal ibadahnya serta mengampuni segala dosanya dan membangunkan tempat mulia di taman surgaNya, sementara ahli keluarga dan kita yang ditinggalkan tetap tabah, tawakkal dan tulus ikhlash mendoakannya disertai membaca al-faatihah. Demikian, Bakrin Kafi dan Muzammil Basyuni) masing-masing dialamatkan ke Kantor PBNU, Jl. Kramat Raya - Jakarta Pusat; dan

Keluarga Bapak Subchan ZE. AlMarhum, Jl. Banyumas No.4, Menteng, Jakarta Pusat.

Sopir Pak Subchan ZE, yaitu Syauqi Thohir Rochili, putra Pengasuh Ponpes AtTahiriyah  Kampung Melayu, Jatinegara, sempat ditahan di penjara, lalu dibebaskan atas permohonan keluarga AlMarhum. 

Subhanallah, Maha Suci Allah. Waktu itu dua sesepuh: Al-Mukarram KH. Bisri Syamsuri, Rais Aam NU (yang mengskors Pak Subchan ZE dalam kepengurusan struktural PBNU); dan Al-Mukarram KH Ali Maksum, Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogya, guru besar penulis, juga menunaikan haji bersama keluarga.

Sungguh amat mengharukan ketika di acara Tahlil di Bait Indonesia Jiyad Mekkah, Al-Mukarram Rais Aam NU meminta kesaksian para hadirin atas pernyataan beliau merehabilitasi nama harum Pak Subchan ZE rahimahullaah, dan secara eksplisit juga menyatakan mencabut keputusan skorsnya tersebut di atas. 

Dan penulis bersyukur bahwa pada malam itu Al-Mukarram KH Ali Maksum telah berkenan untuk melakukan Talqiin keesokan harinya bakda dluhur, pada acara pemakaman Almarhum di Mala Mekkah.

Allah Maha Besar lagi Maha Mendengar, Pak Subchan ZE telah memperoleh restuNya membangun "hotel"-nya di Mala Mekkah dan istirahat panjang.

 

                          ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. "Yaa ayyatuhan-nafsul-muthmainnah. Irjiii ilaa Rabbiki râdliyatan mardliyyah.. fadkhul fî ibâdî wadkhulî jannatî."

 

 

Muzammil Basyuni. Dubes RI untuk Rep. Arab Suriah 2006-2010.

Arinda, 21 Januari 2011.

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Doa, Humor Islam, AlaNu Siti Efi Farhati

Minggu, 18 Februari 2018

Luthfi Zuhdi: Gus Dur Diciptakan untuk Keseimbangan

Jakarta, Siti Efi FarhatiAura kemeriahan peringatan Haul KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Kompleks Yayasan KH A Wahid Hasyim Jalan Warung Silah 10 Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, mulai terasa sejak Kamis (22/12) malam. Di lantai 2 gedung Sekolah Dasar Islam Tebuireng (SDIT) Ciganjur berlangsung reuni alumni Pesantren Ciganjur. Alumni yang tersebar di Jabodetabek telah merapat. Sementara yang di luar provinsi dilaporkan sedang dalam perjalanan menuju lokasi haul.

Dr HM Luthfi Zuhdi, salah satu pengajar Tafsir dan Kajian Islam di pesantren tersebut, serta Pemangku Pesantren Ciganjur KH Muhammad Musthofa dan puluhan santri serta alumni khidmah mengikuti Tahlil dan Jagongan malam Jumat. Ketua Yayasan KH A Wahid Hasyim, Arif Rahman Hamid, juga tampak bahagia mengikuti "ritual malam Jumat" bersama para santri.

Dalam sambutannya, Luthfi Zuhdi mengatakan bahwa Gus Dur yang disebut banyak orang sebagai sosok kontroversial, bagi dia justru tidak demikian. “Bagi saya, Gus Dur bukan tokoh kontroversial. Biasa saja. Saya melihat justru memang seharusnya beliau begitu,” ujar Luthfi memulai pidatonya.

Sontak para santri yang duduk agak berjauhan dengan para sesepuh tersebut langsung merapat ke depan. Suara Luthfi Zuhdi tidak terlalu terdengar lantaran suasana ramai di kediaman Gus Dur.

Luthfi Zuhdi: Gus Dur Diciptakan untuk Keseimbangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Luthfi Zuhdi: Gus Dur Diciptakan untuk Keseimbangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Luthfi Zuhdi: Gus Dur Diciptakan untuk Keseimbangan

“Gus Dur terlihat suka melawan gelombang dan arus besar. Gus Dur yang selalu mengatakan tidak ketika orang-orang berpendapat iya, dan sebaliknya. Beliau berbuat demikian karena hendak mengondisikan sebuah keseimbangan. Beliau memang diciptakan untuk keseimbangan di hampir semua urusan bangsa ini,” terang Ketua Pusat Studi Islam dan Timur Tengah UI ini.

Puncak acara haul yang digelar malam ini, Jumat, 23 Desember 2016 mulai pukul 19.00 WIB ini bertema Ngaji Gus Dur: Menebar Damai Menuai Rahmat. Selain aneka kegiatan mulai khataman Al-Quran di beberapa masjid dan mushala di sekitar Ciganjur, sejumlah tokoh juga akan hadir bersama ribuan pecinta Sang Humanis ini. Misalnya KH Musthofa Bisri (Gus Mus), A Syafii Maarif, Habib Ja’far Alkaff, Habib Umar Muthohar, KH Said Aqil Siroj, Lukman Hakim Saifuddin, Sabam Sirait, Joko Pinurbo, Putu Wijaya, Acep Zamzam Noor, dan Cici Paramida.

Sejak pagi, suara orang mengaji terdengar dari menara Masjid Al-Munawwaroh yang berada di depan rumah Gus Dur. Para penghafal Quran di bawah tim JQH NU Depok tampak duduk khidmat melantunkan kitab suci. Dari menara Masjid Darussalam Cipedak yang hanya seperlemparan baru dari kediaman Presiden keempat RI ini juga terdengar aktivitas yang sama. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sholawat, Humor Islam, Pendidikan Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati

Rabu, 14 Februari 2018

300 Pelajar NU Jabar Gelar Kemah Pelajar

Tasikmalaya, Siti Efi Farhati. Corps Brigade Pembangunan IPNU seprovinsi Jawa Barat mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Utama (Diklatama) I dan Kemah Bakti Santri dan Pelajar sepanjang Kamis-Ahad (14-17/5) siang. pada kegiatan di Bumi Perkemahan Situ Sanghyang Cilolohan, Tanjung Jaya, kabupaten Tasikmalaya, sebanyak 300 pelajar delegasi kabupaten se-Jawa Barat ini menyatakan ikrar untuk mengampanyekan Islam rahmatan lil alamin.

300 Pelajar NU Jabar Gelar Kemah Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
300 Pelajar NU Jabar Gelar Kemah Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

300 Pelajar NU Jabar Gelar Kemah Pelajar

Peserta diberikan materi tentang ideologisasi mengenai ke-NUan, Aswaja, ke-IPNUan, dan ke-CBPan serta materi pilihan lainnya seperti SAR, Navigasi Darat, ? Sosiologi Pedesaan, dan Baris Berbaris.

Komandan CBP IPNU Jabar Dede Rusyadi mengatakan, Diklatama ini sedapat mungkin mengarahkan peserta untuk menjadi kader muda yang berjiwa sosial dan loyal dalam berbangsa dan bernegara serta berakhlakul karimah.

Siti Efi Farhati

"Selain mendidik anggota untuk menjadi disiplin, juga merekrut mereka menjadi anggota baru CBP.”

Ketua IPNU Jabar Asep Irfan Mujahid mengatakan para anggota baru CBP bisa menjadi kader yang ideologis dengan menghalau masuknya paham-paham radikal di daerahnya masing-masing serta menjadi penggerak pembangunan di sekolah maupun masyarakat.

Siti Efi Farhati

Asep berharap peserta lulusan Diklatama ini lebih matang baik dalam hal mental maupun materi. “Sehingga, mereka ke depan bisa mengembangkan dan berbagi kepada rekan dan rekanita lainnya," kata Asep.

Pembukaan dihadiri oleh Bupati Tasikmalaya Uu Rizanul Ulum, Dewan Pembina IPNU Jawa Barat Abdul Haris, Dewan Koordinasi Nasional CBP IPNU Asyriqin, dan Banom NU se-Jawa Barat. Mereka menggelar apel penutupan di lapangan Kapolres Tasikmalaya yang dipimpin oleh Kapolres kabupaten Majalengka dengan tertib dan disiplin. (Aries Purnama/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Khutbah, Humor Islam, Tokoh Siti Efi Farhati

Senin, 05 Februari 2018

Besok, Kiai Maruf Amin Isi Seminar Kebangsaan di Haul Sunan Ampel

Surabaya, Siti Efi Farhati. Akhir-akhir ini wacana seputar hubungan antara agama dan negara kembali menyeruak.Banyak kelompok yang mempertentangkan status negara, namun juga ada yang mencoba mencari jalan tengah atas hubungan tersebut.

Atas dasar itu, PWNU Jawa Timur bekerjasama dengan Masjid Agung Sunan Ampel akan mengadakan seminar nasional dan bahtsul masail kebangsaan dalam rangka Haul Agung ke-568 Sunan Ampel. Kegiatan bertema Manhaj Beragama ala Walisongo; Perekat Persaudaraan Islam dan Persatuan Nasional, ini digelar Kamis (11/5) pagi di Masjid Agung Sunan Ampel, Surabaya. ?

Besok, Kiai Maruf Amin Isi Seminar Kebangsaan di Haul Sunan Ampel (Sumber Gambar : Nu Online)
Besok, Kiai Maruf Amin Isi Seminar Kebangsaan di Haul Sunan Ampel (Sumber Gambar : Nu Online)

Besok, Kiai Maruf Amin Isi Seminar Kebangsaan di Haul Sunan Ampel

Panitia telah memastikan bahwa yang akan hadir sebagai narasumber adalah Rais Aam PBNU dan Wakil Ketua Umum PBNU 2010-2015 H Asad Said Ali.

KH Asyhar Shofwan, Ketua Lembaga Bahtsul Masail PWNU Jatim mengatakan untuk mendapatkan gambaran yang lebih gamblang seputar hubungan antara agama dan negara, maka kehadiran KH Maruf Amin sangatlah penting.

Ia mengemukakan bahwa KH Maruf Amin akan menjelaskan secara detail dan terperinci argumentasi NU mengenai NKRI, Pancasila dan UUD 1945. "Bagaimana akhirnya NU menyatakan final terhadap 4 pilar kebangsaan tersebut," terang Kiai Asyhar saat dihubungi Siti Efi Farhati (10/5) sore. Nantinya akan ada penjelasan terkait konsekuensi atas sikap NU tersebut ketika menyatakan bahwa NKRI, Pancasila, UUD 1945 adalah final.

Sementara itu kehadiran H Asad Said Ali akan memberikan penjelasan seputar pentingnya nilai-nilai Islam dalam sistem ketatanegaraan dan pemerintahan NKRI.

Siti Efi Farhati

"Secara khusus, Kiai Asad akan memberikan gambaran bagaimana mengukur nilai-nilai Islam yang terserap dalam ideologi Pancasila dan UUD 1945," terangnya. Juga bagaimana nilai-nilai Islam telah menginspirasi sistem ketatanegaraan dan pemerintahan dalam alam demokrasi Pancasila, lanjutnya.

Menurut Kiai Asyhar, kehadiran dua narasumber tersebut diharapkan cukup memberikan bekal kepada warga NU serta masyarakat umum khususnya umat Islam dalam menghadapi berbagai rongrongan akibat kehadiran ideologi dan paham baru di tanah air. "Semoga mampu memberikan bekal kepada peserta, utamanya para ulama dan kiai agar semakin mantap berNKRI dan berAswaja," pungkasnya.

Seminar kebangsaan ini terbuka untuk umum dan tanpa dipungut biaya alias gratis.Konfirmasi kehadiran bisa menghubungi Teguh Rachmanto di 0812 3467 8810, atau Muhammad Mizaburrahmah 0813 3678 8741, serta 0851 0223 2464 dengan Luqman Hakim. (Rof Maulana/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Nusantara, Humor Islam Siti Efi Farhati

Minggu, 28 Januari 2018

PBNU Tetap Kritis Kepada Pemerintah

Semarang, Siti Efi Farhati. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Agil Siroj menegaskan kembali NU ? tetap ? bersikap kritis kepada pemerintah. NU mendukung program pemerintah yang pro rakyat, namun bila melenceng tak segan mengkritiknya.

"Bila pemerintah menyerempet ? keliru, NU akan ? mengkritiknya ? dengan santun dan akhlakul karimah,” tegasnya saat membuka acara Silatnas Majelis Alumni IPNU di ? Semarang, Jum’at (22/3).

PBNU Tetap Kritis Kepada Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Tetap Kritis Kepada Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Tetap Kritis Kepada Pemerintah

Kang Said mengatakan ? NU bukanlah ? partai politik sehingga tidak akan menempatkan diri sebagai oposisi maupun koalisi dengan pemerintah.

Siti Efi Farhati

“saya menyampaikan kritikan atau masukan kepada SBY tapi ? tidak ? koar-koar di koran melainkan bertemu dan menyampaikan langsung,” tandasnya.

Siti Efi Farhati

Di depan alumni IPNU se-Indonesia, ? ia ? mendorong kader NU untuk selalu membangun masyarakat yang bermartabat melalui pendampingan maupun advokasi.?

“NU melakukan itu karena mereka ? butuh pendampingan maupun advokasi sehingga tidak ada lagi kesenjangan yang menyengsarakan orang,” ujar Kang Said.

Ia mengajak melakukan jihad ilmu untuk memecahkan persoalan masyarakat dan bangsa.

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Humor Islam, Ahlussunnah, Halaqoh Siti Efi Farhati

Selasa, 23 Januari 2018

Lulusan Ma’had Aly Bergelar Sarjana Agama

Jakarta, Siti Efi Farhati. Bidang Keilmuan Ma’had Aly yang bersifat spesifik (Takhasshus) dalam mengkaji keilmuan Islam membuat lulusannya diharapkan menjadi kader-kader ulama mumpuni dalam bidang kegamaan Islam. Oleh sebab itu, pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama menetapkan bahwa lulusan Ma’had Aly bergelar Sarjana Agama (S.Ag).

“Berdasarkan pertimbangan tertentu, kita memutuskan secara bulat bahwa gelar yang diperoleh para lulusan Ma’had Aly adalah S.Ag atau Sarjana Agama,” ujar Kepala Sub Direktorat Pendidikan Diniyah, Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag RI, H Ahmad Zayadi, Senin (30/5) dalam rapat peresmian Ma’had Aly di Jombang.

Lulusan Ma’had Aly Bergelar Sarjana Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Lulusan Ma’had Aly Bergelar Sarjana Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Lulusan Ma’had Aly Bergelar Sarjana Agama

Zayadi menjelaskan bahwa Ma’had Aly yang merupakan perguruan tinggi yang berada di jalur Pendidikan Diniyah Formal ini sudah terbukti selama beberapa tahun telah menghasilkan para kader ulama yang menguasai berbagai litertaur kitab kuning.?

Namun, lanjutnya, baru kali ini lembaga pesantren tingkat tinggi ini mendapat pengakuan resmi oleh pemerintah. “Sehingga lulusan Ma’had Aly setara dengan Perguruan Tinggi Islam dan Umum,” jelas Zayadi.

Siti Efi Farhati

Dia menegaskan bahwa Ma’had Aly tidak akan bertransformasi menjadi STAIN, IAIN, maupun UIN. Ia akan terus berkembang dan tumbuh menjadi perguruan tinggi khas pesantren dengan masing-masing spesifikasi keilmuannya masing-masing.?

“Karena kami, pemerintah telah memutuskan bahwa satu Ma’had Aly hanya boleh mengembangkan satu program studi, misal Ushul Fiqih, Hadits, dan lain-lain. Semuanya sudah tertuang dalam Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 71 Tahun 2015,” terangnya.

Dari spesifikasi tersebut, Zayadi optimis bahwa Ma’had Aly bukan hanya menjadi lembaga tinggi pesantren yang mengkaji keilmuan khusus, tetapi ia juga akan menjadi pusat kajian keilmuan Islam di Indonesia. “Misal, jika ingin belajar dan memperdalam Ushul Fiqih, silakan ke Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, Jawa Timur, dan seterusnya,” ungkap Zayadi.?

Tahun ini, Kementerian Agama akan meresmikan 13 Ma’had Aly sekaligus pemberian SK serta izin operasional. Peresmian atau peluncuran ke-13 Ma’had Aly ini akan dilakukan langsung Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Humor Islam, Ahlussunnah, Nahdlatul Ulama Siti Efi Farhati

Rabu, 17 Januari 2018

MATAN Angkat Spiritualisme sebagai Solusi Radikalisme

Jakarta, Siti Efi Farhati. Tiga kepengurusan Mahasiswa Ahluth Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (MATAN) yang terdiri dari MATAN DKI Jakarta, MATAN UNU Indonesia, dan MATAN Ciputat menggelar diskusi ringan menjelang buka puasa, Jumat (17/6) di Masjid An-Nahdlah Gedung PBNU Jakarta bertema Menepis Radikalisme dengan Sipiritualitas.

MATAN Angkat Spiritualisme sebagai Solusi Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
MATAN Angkat Spiritualisme sebagai Solusi Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

MATAN Angkat Spiritualisme sebagai Solusi Radikalisme

Dalam diskusi yang diikuti oleh kader-kader MATAN regional Jakarta ini, mereka mengangkat perbincangan spiritualisme yang menurut mereka menjadi faktor penting dalam mengatasi gejala radikalisme, terutama di kalangan pemuda yang nihil spiritualitas. Bahkan atas nama agama, lalu melakukan berbagai kekerasan dan tindakan teror.

Apriyanto, salah satu pengurus MATAN UNU Indonesia kepada Siti Efi Farhati menjelaskan bahwa kegiatan diskusi ini merupakan bagian dari Safari Ramadhan yang aktif dilakukan kader-kader MATAN untuk ikut andil dalam memberikan solusi dari problem-problem bangsa, khususnya radikalisme.

“Tiga agenda sudah kita lakukan, agenda serupa akan kita laksanakan di Jakarta Barat, Taman Mini Indonesia Indonesia, dan Masjid Sunda Kelapa,” terang Apriyanto yang menerangkan bahwa MATAN merupakan organisasi resmi di bawah naungan Jam’iyah Ahlut Thariqaah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) NU dengan segmentasi mahasiswa.

Siti Efi Farhati

Hadir dalam diskusi tersebut Sekretaris LTM PBNU H Ibnu Hazen, Ketua MATAN DKI Jakarta KH Ali M. Abdillah, Ketua MATAN UNU Indonesia Ustadz Komaruddin, dan para kader MATAN Ciputat.

Dalam sambutannya, Ibnu Hazen mengapresiasi dan mendukung penuh kegiatan yang dilakukan oleh MATAN. Menurutnya, basis spiritualitas harus diterapkan dan dilakukan secara mendalam pada diri para mahasiswa.

Siti Efi Farhati

“Sehingga mahasiswa benar-benar menjadi generasi berkualitas secara kelimuan dan berakhlak baik secara budi pekerti,” terangnya Ibnu Hazen kepada Siti Efi Farhati.

Senada dengan Ibnu Hazen, Ketua MATAN DKI Jakarta KH Ali M. Abdillah sebagai pembicara kunci dalam diskusi tersebut secara umum menjelaskan pentingnya spiritualitas mahasiswa untuk membendung paham radikal. Karena radikalisme umumnya muncul sebab pemahaman agama yang setengah-setengah sehingga menimbulkan pemikiran yang tidak proporsional dalam menghadapi segala perubahan yang ada. (Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Humor Islam Siti Efi Farhati

Senin, 15 Januari 2018

Ini Maklumat IPNU di Hari Pendidikan Nasional

Jakarta, Siti Efi Farhati - Ketua Umum Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Asep Irfan Mujahid menyampaikan ucapan selamat Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Senin, (2/2). Ia berharap ke depan pendidikan di Indonesia bergerak ke arah yang lebih baik.di hari pendidikan ini Pimpinan Pusat IPNU mengeluarkan empat maklumat.

"Pertama, memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para guru yang selama ini konsisten mengawal tahapan proses pendidikan tanpa pamrih dan penuh keikhlasan," katanya.

Ini Maklumat IPNU di Hari Pendidikan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Maklumat IPNU di Hari Pendidikan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Maklumat IPNU di Hari Pendidikan Nasional

Kedua, Hardiknas diharapkan bukan hanya sekedar peringatan seremoni di lingkungan pemerintahan, tapi harus sepenuhnya dijadikan momentum untuk merefleksi keberhasilan target capaian pendidikan itu sendiri yang hakikatnya adalah untuk memanusiakan manusia.

Siti Efi Farhati

"Ketiga, pemerintah diharapkan segera menerapkan konsep pendidikan muaadalah yang mengakui eksistensi pesantren sebagai bagian subkultur kependidikan yang selama ini berkontribusi besar dalam pembangunan manusia Indonesia dan menjadikannya sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional," jelasnya.

Yang terakhir, imbuh Asep, PP IPNU meminta pemerintah untuk memberikan ruang yang lebih luas terhadap eksistensi organisasi ekstra sekolah yang berbasis pelajar di sekolah-sekolah tingkat menengah, serta mengeluarkan OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) dan Pramuka dari instrumen penilaian akreditasi atau perangkat aturan lain yang selama ini diterapkan sehingga organisasi kepelajaran dan kepanduan pelajar di sekolah tidak hanya dimonopoli oleh kedua organisasi tersebut.

Siti Efi Farhati

Hari Pendidikan Nasional diperingati dan ditetapkan sesuai dengan Keppres (Keputusan Presiden) Nomor 316 tahun 1959. Adapun tanggal peringatan tersebut disematkan pada hari lahir salah seorang pahlawan nasional Indonesia yang gigih dalam memperjuangkan pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara atau Raden Mas Suwardi Suryaningrat. (Muchlison Rochmat/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Ahlussunnah, Humor Islam, Daerah Siti Efi Farhati

Minggu, 07 Januari 2018

Muslim Amerika Bersuara Tuntut Persamaan Hak

Jakarta, Siti Efi Farhati. Dari Ferguson ke New York, bendera Palestina dan tanda-tanda yang bertuliskan slogan Arab melawan rasisme dan "Ittihad" (kesatuan) muncul di banyak protes yang mengutuk pembunuhan oleh polisi terhadap Michael Brown dan Eric Garner. Di satu sisi, mereka menggambarkan perjuangan umum bahwa banyak orang Arab, Muslim dan Afrika-Amerika mencari keadilan terhadap profil rasial, prasangka dan diskriminasi. Di sisi yang lain, mereka berusaha menjembatani kesenjangan yang untuk waktu yang lama telah membuat komunitas ini terpisah.

Meskipun Arab-Amerika dan Muslim yang berimigrasi ke Amerika Serikat tidak berperan dalam perjuangan hak-hak sipil untuk Afrika-Amerika tahun 1960-an dan seterusnya, mereka vokal dan aktif dalam demonstrasi yang terjadi di Amerika Serikat saat ini. Beberapa organisasi Muslim Arab-Amerika dan aktivis independen di berbagai kota AS berusaha meningkatkan kesadaran ini atau menyelenggarakan berbagai pertemuan. Demikian dilaporkan oleh Al Arabiya News.

Muslim Amerika Bersuara Tuntut Persamaan Hak (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslim Amerika Bersuara Tuntut Persamaan Hak (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslim Amerika Bersuara Tuntut Persamaan Hak

9-11, panggilan bangun

Siti Efi Farhati

Margari Aziza Hill, salah satu pendiri dan aktivis "Muslim Arc" organisasi yang didedikasikan untuk memerangi rasisme, mengatakan kepada Al-Arabiya News bahwa serangan 11 September 2001 adalah "panggilan untuk bangun" bagi masyarakat Arab dan Muslim. Kebijakan yang terkait dengan pengawasan masjid di Amerika Serikat atau memata-matai organisasi mahasiswa Muslim, memaksa lebih "keterlibatan pro-aktif dalam isu-isu yang berkaitan dengan kebebasan sipil" dari masyarakat.

Siti Efi Farhati

"Ini telah menekankan bahwa kita adalah bagian dari permadani yang sama dalam perjuangan ini" kata Aziza Hill, menjelaskan pergeseran narasi menarik dan fokus pada isu-isu internasional sebelum 9/11, menjadi "upaya mengatasi diskriminasi dan rasisme ". Pengawasan masjid dan memata-matai kelompok-kelompok mahasiswa Muslim adalah beberapa dari banyak upaya "anti-terorisme" yang dilakukan oleh Departemen Kepolisian New York (NYPD). Di satu sisi, itu telah "menciptakan empati yang lebih besar di masyarakat dengan apa yang terjadi di Ferguson" kata Aziza-Hill, menambahkan.

Lebih dari tiga juta orang Amerika Arab tinggal di Amerika Serikat saat ini, dan sekitar dua juta Muslim menurut PEW. FBI telah mencatat 130 kejahatan kebencian terhadap Muslim di AS pada tahun 2012, berbanding dengan hanya 32 kejahatan kebencian pada tahun 1999.

Pergeseran juga terjadi di arah lain, dimana umat Islam "tidak lagi dianggap sebagai orang asing" di Amerika Serikat melainkan "sebagai minoritas dengan serangkaian keprihatinan dan perjuangan." Lebih dari seperempat umat Islam di Amerika Serikat adalah Afrika-Amerika, dan tokoh-tokoh kunci dalam masyarakat AS seperti mantan aktivis Malcolm X, petinju terkenal Muhammad Ali dan Muslim pertama Kongres Keith Allison berasal dari komunitas ini.

Lagu akrab untuk Palestina

Peristiwa Ferguson merupakan sesuatu yang akrab terutama bagi orang-orang keturunan Palestina, kata Warren David, seorang aktivis seumur hidup dalam komunitas Arab-Amerika dan presiden "Arab Amerika." Banyak Palestina-Amerika yang telah "melihat langsung penindasan di Barat dan Gaza, memprotes pembunuhan Michael Brown dan Eric Garner", David mengatakan Al Arabiya News.

Jaringan Komunitas AS Palestina dan Komite Solidaritas St Louis Palestina adalah dua dari banyak organisasi Arab-Amerika dan Muslim yang sedang aktif dengan protes di kota-kota besar di Amerika Serikat saat ini. Aktivis Palestina Amerika Bassem Masri telah menggelar acara live streaming di Ferguson. "Generasi baru dari Arab-Amerika telah berasimilasi lebih baik di Amerika Serikat" kata David, meskipun bahwa perjuangan melawan prasangka dan diskriminasi "telah bersama kami untuk waktu yang lama", ia menambahkan.

Warren David mengingatkan kisah Vincent Jen Chin, Cina-Amerika yang dipukul dalam serangan berbasis rasial di Detroit pada tahun 1982. Chin, meskipun bukan orang Jepang, adalah korban dari prasangka terhadap mobil Jepang yang penjualannya kemudian telah mengalahkan mobil Detroit. Alex Odeh adalah nama lain korban dari prasangka anti-Arab di California. Odeh, seorang aktivis Palestina, tewas dalam bom yang dipasang di dekat pintu kantornya pada tahun 1985.

Perjuangan melawan tindakan polisi sudah akrab dengan hati banyak pemuda Arab yang tinggal di Amerika Serikat dan yang melarikan diri dari rezim otoriter di negara asal mereka. Aziza-Hill membandingkan gambaran Ferguson dengan yang ia saksikan di "Kairo dalam protes terhadap kondisi hidup pada tahun 2007 dan 2008" dan yang harus berhadapan dengan polisi yang dilengkapi persenjataan berat.

David dan Aziza-Hill melihat masalah di AS, namun, mereka menilai lebih dalam daripada sekedar gejala penyebab tindakan polisi. Meskipun melakukan reformasi kepolisian adalah penting, mereka berdua berpendapat titik masalah bersifat struktural dalam pendidikan, pelatihan antar-budaya dan dialog, dan kemiskinan sebagai penyebab diskriminasi ras dan prasangka. Untuk saat ini, komunitas Muslim dan Arab bergandengan tangan dengan komunitas Afrika-Amerika sebagai salah satu langkah dalam perjalanan panjang ke arah yang lebih baik dalam persamaan hak bagi komunitas tersebut. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Jadwal Kajian, Humor Islam Siti Efi Farhati

Minggu, 31 Desember 2017

Besarnya NU Harus Diimbangi dengan Kuatnya Organisasi

Pringsewu, Siti Efi Farhati. Saat bertemu dengan seluruh Pengurus Harian MWCNU Kecamatan Pagelaran dan 22 Ranting NU yang ada di Kecamatan tersebut, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu H Taufiqurrohim mengibaratkan jam’iyyah NU seperti alat berat slender.

Besarnya NU Harus Diimbangi dengan Kuatnya Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Besarnya NU Harus Diimbangi dengan Kuatnya Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Besarnya NU Harus Diimbangi dengan Kuatnya Organisasi

"NU itu merupakan organisasi keagamaan terbesar di dunia. NU membawa beban jamaah besar, ibaratnya NU itu seperti slender. Jalannya pelan pelan tapi walaupun pelan tetap jalan," ujarnya dalam kegiatan yang juga dibarengkan dengan Penilaian Lomba MWCNU Se Kabupaten Pringsewu, Sabtu (18/6).

Ia menambahkan bahwa slender akan keluar untuk memperbaiki jalan yang rusak. Begitu juga NU yang didirikan untuk menjadikan Islam rahmatan lil alamin di tengah tengah masyarakat. "NU hadir untuk memperbaiki ahlak, akidah dan seluruh aspek dalam beragama," tegasnya dengan suara yang lantang.

Siti Efi Farhati

Oleh karenanya, ia mengajak seluruh pengurus NU di segala tingkatan di Kabupaten Pringsewu untuk senantiasa aktif dalam berorganisasi. "Tidak ada pengurusnya saja NU bisa jalan apalagi ada pengurus yang aktif mengurusi NU. Kan aneh kalau ada pengurusnya malah NU tidak jalan" ujarnya.

Siti Efi Farhati

Taufiq juga mengimbau kepada pengurus agar senantiasa berusaha untuk menjadikan jam’iyyah NU kuat. Besarnya NU harus diimbangi dengan kuatnya organisasi yang meliputi berbagai macam hal seperti administrasi, pemahaman keaswajaan dan sejenisnya.

"Pengurus NU harus memperdalam Ke NU an serta peka terhadap permasalahan agama yang berkembang di masyarakat," tandasnya. Ia juga menegaskan bahwa tidak ada ruginya berkiprah di NU jika diniati karena Allah SWT. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kyai, Humor Islam, Syariah Siti Efi Farhati

Rabu, 27 Desember 2017

Kemlu: Isu Palestina adalah Isu Kita

Jakarta, Siti Efi Farhati. Direktur Jenderal Asia Pasific dan Afrika Kementerian Luar Negeri RI Desra Percaya menegaskan, isu yang terjadi di Palestina bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau parlemen saja, namun itu adalah tanggung jawab semua orang karena yang terjadi adalah persoalan kemanusiaan.

“Isu Palestina adalah isu kita,” kata Desra di Universitas Indonesia (UI) Salemba Jakarta, Rabu (1/11). 

Kemlu: Isu Palestina adalah Isu Kita (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemlu: Isu Palestina adalah Isu Kita (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemlu: Isu Palestina adalah Isu Kita

Desra menyatakan, Pemerintah Indonesia terus menerus mendukung kemerdekaan Negara Palestina secara penuh. Sampai saat ini, sikap Indonesia tegas terhadap Israel. Yakni dengan menentang apa yang telah dilakukan Israel terhadap Palestina dan akan konsisten menutup hubungan diplomatik dengannya selama negeri Zion itu terus melakukan pelanggaran-pelanggaran terhadap warga Palestina.

“Indonesia konsisten mendukung Palestina. Tidak membuka hubungan dengan Israel,” tegasnya.

Ia mengakui bahwa konflik Palestina dan Israel adalah konflik yang rumit. Baik Palestina maupun Israel menginginkan Yerusalem sebagai ibukota negaranya. Perbatasan juga menjadi persoalan yang belum selesai hingga hari ini. Selain itu, pemukiman Israel yang semakin banyak juga menambah persoalan kedua bangsa tersebut. Ditambah dengan persoalan air, keamanan, dan juga pengungsi yang belum ada titik temunya.

Siti Efi Farhati

Mendukung Palestina

Desra menerangkan, dukungan kemerdekaan Palestina seharusnya bukan hanya datang dari Pemerintah Indonesia saja, namun semua elemen masyarakat. Baginya, masyarakat madani juga memiliki peran dan posisi strategis dalam turut serta menyelesaikan persoalan Palestina.

Selain itu, Desra juga menyebutkan bahwa tidak semua orang Yahudi mendukung apa yang telah dilakukan oleh Pemerintah Israel terhadap Palestina. Tidak sedikit dari mereka yang justru mendukung Palestina.

“Jadi jangan gebyar uyah (menyamaratakan). Tidak semua masyarakat Israel mendukung pendudukan wilayah Palestina,” jelasnya.

Siti Efi Farhati

Bahkan, imbuh Desra, Yahudi ortodoks di Amerika melakukan demonstrasi sebagai simbol pro Palestina dan menentang kebijakan Israel. (Muchlishon)    

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Humor Islam Siti Efi Farhati

Sabtu, 23 Desember 2017

Hadapi Ujian Nasional, Rajin Belajar Saja Tidak Cukup

Jombang, Siti Efi Farhati - Ibu Nyai Hj Mundjidah Wahab selaku Wakil Bupati Jombang memberikan wejangan kepada siswa dan siswi yang akan menghadapi Ujian Nasional (UN). Menurut dia, belajar yang rajin saja tidak cukup, tapi juga harus dibarengi dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meminta restu orang tua.

"Belajar saja kurang," kata Ibu Mundjidah, sapaan akrabnya. Para pelajar harus juga berdoa, mendekat kepada Allah SWT agar dimudahkan dalam menjalani UN, lanjutnya di hadapan ribuan pelajar yang berkumpul di Masjid Agung Baitul Mukminin, Kota Jombang, Selasa (29/3).

Hadapi Ujian Nasional, Rajin Belajar Saja Tidak Cukup (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadapi Ujian Nasional, Rajin Belajar Saja Tidak Cukup (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadapi Ujian Nasional, Rajin Belajar Saja Tidak Cukup

Bagi Ketua PC Muslimat NU Jombang ini, istigatsah maupun doa bersama sangat mendukung kesiapan mental dalam menghadapi UN. "Tapi doa dan istigatsahnya jangan berhenti sampai di sini, tapi nanti dilanjutkan di rumah, sukur rutin shalat malam," kata putri KH Abdul Wahab Chasbullah tersebut.

Siti Efi Farhati

Yang juga harus dilakukan pelajar adalah mohon ampun dan minta doa restu kepada kedua orang tua. Karena ridla Allah bergantung kepada ridla orang tua. "Jadi kalau orang tua sudah mendoakan dan memberikan restu kepada kita, maka Allah akan memberikan kemudahan dalam segala hal termasuk menghadapi UN," kata politisi PPP ini.  

Siti Efi Farhati

UN di Jombang digelar secara serentak 4 hingga 6 April dengan menggunakan dua model, yakni UN berbasis komputer yang diikuti 19 sekolah. Rinciannya, 12 SMK (Sekolah Menengah Kejuruan), 5 SMA (Sekolah Menengah Atas), dan 2 MA (Madrasah Aliyah). Sementara 162 sekolah lainnya, menggelar UN berbasis kertas atau manual.

Sedangkan untuk jumlah peserta UN tahun ini sebanyak 20.141 orang. Mereka berasal dari 58 lembaga SMK sebanyak 8.477 peserta, 46 lembaga SMA dengan 5.997 peserta, dan 77 lembaga MA yakni 5.667 peserta. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Humor Islam, Fragmen Siti Efi Farhati

Minggu, 17 Desember 2017

PMII Pinrang Salurkan Bantuan untuk Pidie Jaya

Pinrang, Siti Efi Farhati?

Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kabupaten Pinrang melaksanakan aksi kemanusiaan selama dua hari dimulai pada tanggal 14-15 Desember. Bantuan itu untuk korban bencana alam di wilayah Aceh.

PMII Pinrang Salurkan Bantuan untuk Pidie Jaya (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Pinrang Salurkan Bantuan untuk Pidie Jaya (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Pinrang Salurkan Bantuan untuk Pidie Jaya

Bantuan diserahkan Ketua Cabang PMII Kabupaten Pinrang Suhardi melalui Bank BNI.?

Suhardi mengatakan aksi kemanusiaan PMII di laskanakan pada dua hari dan telah terkumpul dana sebanyak 3.500.000. Penyetoran dilakukan Jumat (16/12) untuk korban gempa bumi warga Pidie Jaya.

"Setelah dua hari dilaksanakannya aksi kemanusiaan penggalangan dana Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Pinrang untuk saudara kita yang mengalami musibah bencana alam gempa bumi di Aceh. Dan setelah minghitung jumlah sebanyak 3.500.000," jelasnya.

Siti Efi Farhati

Ia berharap saudara-saudara di Pidie Jaya menerimanya walaupun tidak begitu banyak.

"Semoga apa yang kami berikan ini membantu saudara kita. Semoga yang menyumbang mendapatkan rezeki dan yang ikut berpartisipasi dalam penggalangan dana akan menjadi amal ibadah di mata Allah SWT. Amin," tutupnya. (Husnil/Abdullah Alawi)?

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Humor Islam, Kiai, Olahraga Siti Efi Farhati

Sabtu, 09 Desember 2017

Gus Mus: Semoga Saya Sekian Saja Jadi Rais Aam

Jombang, Siti Efi Farhati. Dalam sidang pleno penentuan tata tertib (Tatib), Ahad (2/8) yang berlangsung alot, sebagian Muktamirin memohon kepada Rais Aam PBNU untuk hadir di persidangan. Para Muktamirin yakin, bahwa peran dan kharisma ulama dapat menyelsaikan kondisi buntu dalam persidangan Tatib tersebut.

Gus Mus: Semoga Saya Sekian Saja Jadi Rais Aam (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Semoga Saya Sekian Saja Jadi Rais Aam (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Semoga Saya Sekian Saja Jadi Rais Aam

Setelah membidani pertemuan para kiai sepuh dan Rais Aam Wilayah seluruh Indonesia pagi hari di Pendopo Jombang, Pejabat Rais Aam PBNU KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) akhirnya hadir dalam sidang pleno tatib lanjutan, Senin (3/8) siang, untuk memberikan sambutan sekaligus taushiyah di hadapan ribuan Muktamirin di ruang sidang pleno Tatib di Alun-alun Jombang, Jawa Timur. 

Ia mengaku sedih dengan sejumlah peristiwa di forum muktamar yang diselemuti suasana tegang dan perdebatan tajam. Saya mohon sekali lagi, kita membaca surat Al-Fatihah dengan ikhlas, mohon syafaatnya (Nabi Muhammad SAW).

Siti Efi Farhati

"Rais Aam yang membikin saya menjadi punya posisi seperti ini. KH Sahal Mahfud, mengapa beliau wafat sehingga saya memikul beban ini. Saya pinjam telinga anda, doakan saya, ini terakhir saya menjabat jabatan yang tidak pantas bagi saya," tutur Gus Mus.

Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang ini merasa berat memikul tanggung jawab sebagai pemimpin tertinggi di NU. "Doakan, mudah-mudahan saya hanya sekian saja untuk jadi Rais Aam."

Siti Efi Farhati

"Saya belum tidur, bukan apa-apa, tapi karena memikirkan anda-anda sekalian. Saya mohon maaf kepada semua muktamirin terutama yang dari jauh dan tua-tua, teknis panitia yang mengecewakan anda, maafkanlah mereka, maafkan saya. Itu kesalahan saya, mudah-mudahan anda sudi memaafkan saya," pungkas Gus Mus. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Humor Islam, Sunnah Siti Efi Farhati

Minggu, 19 November 2017

Kisah Kecintaan Pendiri IPNU terhadap Buku

Sleman, Siti Efi Farhati

Kiai Tolchah Mansur, pendiri Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), adalah orang yang cinta dengan buku. Menurutnya, dengan membaca buku, kita bisa jalan-jalan ke tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh fisik kita. Dengan membaca buku, kita bisa menambah pengetahuan.

Hal demikian disampaikan putra KH Tolchah Mansur, H Romahurmuziy, dalam acara Pidato Kebangsaan dengan tema “Meneguhkan Peran Pelajar dan Santri dalam Memperkokoh NKRI”, Selasa (14/3) malam di Sleman.

Kisah Kecintaan Pendiri IPNU terhadap Buku (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Kecintaan Pendiri IPNU terhadap Buku (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Kecintaan Pendiri IPNU terhadap Buku

“Saking cintanya dengan buku, Kiai Tolchah itu pernah berkata, orang yang paling bodoh itu orang yang meminjamkan bukunya kepada orang lain. Tetapi ada orang yang lebih bodoh lagi yaitu orang yang meminjam buku dan mengembalikannya,” kelakarnya yang disambut gelak tawa peserta.

Siti Efi Farhati

Secara syariah, lanjut pria yang akrab disapa Gus Romi itu, apa yang dikatakan ayahnya salah. Tapi hal itu sebagai bukti bahwa Kiai Tolchah mencintai buku.

Siti Efi Farhati

Pada kesempatan tersebut, Gus Romi juga menceritakan bahwa Kiai Tolchah juga seorang kiai yang terbuka terhadap ilmu-ilmu umum.

“Meski dari keluarga pesantren, Bapak melarang anak-anaknya sekolah di madrasah dan mondok. Bapak bilang, ‘biar saya saja yang langsung mengajari anak-anak saya ilmu agama,’” ujar Gus Romi menirukan ucapan Kiai Tolchah Mansur.

Selain berbicara tentang Kiai Tolchah, Gus Romi juga mengajak anak-anak IPNU agar peka terhadap permasalahan bangsa, termasuk propaganda kaum anti-Pancasila yang semakin menguat.

“Kalau mereka mengampayekan khilafah islamiyah berarti mereka anti-Pancasila. Ini berbahaya kalau kita tidak peka,” tandas Gus Romi.

Acara yang dimulai pukul 20.00 WIB tersebut merupakan rangkaian acara kegiatan ziarah pendiri IPNU di Yogyakarta yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat IPNU bekerja sama dengan Pondok Pesantren Sunni Darussalam Sleman, DI Yogyakarta. Esoknya, mereka berziarah dan membaca doa bersama untuk Pendiri IPNU, Kiai Tolchah Mansur di kompleks makam keluarga besar Kiai Munawwir. (Nur Rokhim/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Humor Islam, Nahdlatul Ulama Siti Efi Farhati

Selasa, 07 November 2017

LTN PBNU: Media Amarah Harus Dilawan

Jakarta, Siti Efi Farhati



Lembaga Talif wan-Nasyr (LTN) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengajak sejumlah pengelola media Islam ramah untuk bersinergi melawan media amarah.

"Dewasa ini media radikal tumbuh subur menyebarkan amarah. Mereka dimodali bos besar mereka," ujar Ketua Konsolidasi Nasional Pengelola Media Islam Ramah, Abdul Malik Mughni, di Jakarta, Senin (21/8).

LTN PBNU: Media Amarah Harus Dilawan (Sumber Gambar : Nu Online)
LTN PBNU: Media Amarah Harus Dilawan (Sumber Gambar : Nu Online)

LTN PBNU: Media Amarah Harus Dilawan

Kelompok radikal tersebut, demikian Mughni menambahkan, bersemangat dalam menyebarkan opini radikal melalui beragam cara.

"Satu contoh melalui buletin radikal yang mereka sebar di tempat-tempat strategis. Kelompok radikal tersebut juga bersemangat menebarkan berita dusta," paparnya.

Ia berharap, melalui kegiatan tersebut, LTN PBNU bisa mengidentifikasi kekuatan, kendala dan peluang media Islam ramah dalam mengelola institusi medianya.

Siti Efi Farhati

"Bagi daerah yang belum memiliki media Islam ramah, semoga bisa masif menyebarkan semangat Islam ramah, sehingga apa yang kita lakukan memberikan makna bagi Indonesia," pungkasnya. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Fragmen, Humor Islam Siti Efi Farhati

Selasa, 31 Oktober 2017

PCNU Kudus Peringati Haul Gus Dur

Kudus, Siti Efi Farhati

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Kudus mengadakan peringatan  haul I  almarhum mantan Ketua Umum PBNU KH Abdurrohman Wahid di Aula Kantor PCNU Kudus, Ahad (16/1). Kegiatan yang dihadiri ratusan pimpinan ranting dan MWC NU se Kabupaten Kudus itu, berlangsung secara sederhana namun  penuh khidmat.



PCNU Kudus Peringati Haul Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Kudus Peringati Haul Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Kudus Peringati Haul Gus Dur

Berbagai rangkaian acara mulai bacaan Al-Quran, tahlil dan do’a bersama dikumandangkan  mulai pukul 09.00 WIB. Sejumlah kiai hadir Musytasyar PBNU KH.Ahmad Sya’roni Ahmadi, Rois PCNU Kudus KH Ulil Albab Arwani, Rois KH Mashum Ak, KH Abdul Fattah, dan jajaran Tanfidziyah PCNU Kudus. Dalam kesempatan tersebut, Musytasyar PBNU KH Sya’roni Ahmadi Al-Hafidz memberikan wejangan dan mauidhoh hasanah

Ketua PCNU Kabupaten Kudus KH Khusnan MS mengatakan kegiatan ini dimaksudkan untuk menghormati dan mendoakan Gus Dur yang telah berjasa membesarkan Nahdlatul Ulama dan ummatnya.

Siti Efi Farhati

“Meski telat waktu khaulnya, kita tetap mengenang Gus Dur sebagai guru bangsa dan ulama panutan ummat Nahdliyyin dan masyarakat umum. Meski telah tiada, sosok Gus Dur patut menjadi teladan atas ajarannya. Terutama tentang nasionalisme dan pluralisme yang selalu dikembangkan serta bermasyarakat, berbangsa dan  bernegara,” katanya.

Siti Efi Farhati

karenanya, lanjut Khusnan, Warga NU harus melanjutkan perjuangan Gus Dur. Karena yang dilakukan beliau mampu mengantarkan kehidupan di Indonesia semakin menghargai kebersamaan.

Kegiatan haul ini menurut Khusnan, sekaligus sebagai ajang koordinasi dan silaturrahim pimpinan cabang dengan dengan Majlis wakil Cabang (MWC) pimpinan ranting NU se kabupaten Kudus. Tujuannya, agar ada persamaan persepsi dan langkah dalam merealisasikan program-program NU ke depan.

“Begitu juga, menggelorakan ghiroh berjam’iyah agar NU bisa dirasakan oleh Nahdliyyin”katanya.

Saat ini, tambahnya, PCNU Kudus memprioritaskan program-programnya melalui lima harakah atau gerakan . Yakni Penguatan Faham dan pengamalan Ahlussunnah wal jama’ah, penguatan struktur organisasi NU dan Badan otonom, peningkatan sumber daya manusia, pengamanan aset-aset NU serta memperbanyak koordinasi dan silaturrahim.

“melalui koordinasi ini,  kita merealisasikan program dengan dukungan  bersama agar NU Kudus mampu memperjuangkan sesuai kebutuhan organisasi serta kepentingan ummatnya,” harap KH Khusnan.

Dalam acara koordinasi itu, sejumlah lembaga, lajnah dan banom NU mensosialisasikan program-programnya. Antara lain, program pendidikan, kesehatan, pertanian dan ke-masjidan yang akan dikembangkan oleh Nahdlatul Ulama kabupaten Kudus.

Selain jajaran PCNU Kudus, hadir juga Rois -katib  syuriah serta ketua – sekretaris tanfidziyah  MWC serta Ranting, pimpinan cabang dan PAC Muslimat NU se-kabupaten Kudus. (adb)Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Amalan, Humor Islam, Internasional Siti Efi Farhati

Sabtu, 28 Oktober 2017

Pendirian Sekolah Formal Jangan Hilangkan Jati Diri Pesantren

Jombang, Siti Efi Farhati. Meningkatnya jumlah pondok pesantren dengan membuka sekolah formal hendaknya tidak menggeser tradisi yang telah mapan. Bahkan, lembaga pendidikan tersebut seharusnya justru memperkokoh tradisi yang sudah ada.

Penegasan ini disampaikan Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang Prof Dr KH Imam Suprayogo saat mengisi seminar nasional “Eksistensi Pendidikan Pesantren dalam Sistem Pendidikan Nasional” di Pascasarjana Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Selasa (11/3).

Pendirian Sekolah Formal Jangan Hilangkan Jati Diri Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendirian Sekolah Formal Jangan Hilangkan Jati Diri Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendirian Sekolah Formal Jangan Hilangkan Jati Diri Pesantren

Bagi Imam, dalam perjalanannya pesantren ternyata tidak bisa menutup mata dengan perkembangan baru yang mengitari. Jika dahulu pesantren hanya sebagai tempat mengaji ilmu agama memalui sistem sorogan, wetonan dan bandongan, maka saat ini telah membuka pendidikan sistem klasikal. “Bahkan program baru yang berwajah modern dan formal seperti madrasah, sekolah dan bahkan universitas juga ada di pesantren,” katanya.

Siti Efi Farhati

Wakil Rais Syuriyah PWNU Jatim ini mengatakan, “Adaptasi adalah bentuk keniscayaan tanpa mengilangkan ciri khas yang dimiliki pesantren.”

Apa hal yang tidak boleh hilang dalam tradisi di pesantren? Yakni pengajaran agama secara utuh. “Sejak awal, pesantren diorientasikan kepada bagaimana para santri dapat memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam secara baik. Pendidikan pesantren adalah pendidikan Islam yang berusaha mengantarkan para santri menjadi alim dan shalih, bukan menjadi pegawai atau pejabat,” terangnya.

Siti Efi Farhati

Hal lain yang menarik dari pesantren adalah tidak dikenalnya tradisi menyontek, apalagi memalsu daftar nilai, ijazah, dan membuat program yang berorientasi kepada aspek formal dengan menanggalkan aspek substansial.”Karena itu cukup rasional kalau pesantren tidak mengenal program kelas jauh dan kelas eksklusif berupa kuliah Sabtu-Minggu yang dikhawatirkan dapat memerosotkan kualitas pendidikannya,” ungkap Prof Imam.

Pada saat yang bersamaan, pesantren senantiasa diisi dengan nilai keikhlasan, ridha, tawadhu’, karamah, barakah dan semacamnya. “Inilah letak perbedaan antara pesantren dengan pendidikan modern, termasuk sekolah dan universitas,” katanya.

Dengan menyitir pandangan Prof H A Mukti Ali, mantan Menteri Agama RI, Prof Imam mengingatkan ungkapan bahwa pesantren adalah pesantren, dan tidak akan pernah ada ulama yang lahir dari lembaga selain pesantren.

Karena itu, Prof Imam sangat menyayangkan bila ada seseorang atau kelompok yang mengecilkan arti pesantren. “Pesantren adalah satu-satunya institusi yang berhasil melakukan transmisi Islam dan bahkan bagi kemajuan bangsa ini,” katanya. “Sebab kemuliaan pesantren terletak bukan semata kepada orientasi materi, tetapi keberadaannya lebih diorientasikan kepada memperkaya ilmu dan keluhuran budi,” lanjutnya.

Disamping Prof Imam, seminar ini menghadirkan DR H Suwendi dari Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI dan DR KH Salahuddin Wahid selaku Rektor Unhasy. (Syaifullah/Mahbib)?

?

foto ilustrasi: .net

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Humor Islam Siti Efi Farhati

Kiai Syamsuri Brabo dan Kitabnya

TAHUN 1960, lantai masjid Al-Muhajirin di Pesantren Sirojuth Tholibin, Brabo, Tanggung Harjo-Grobogan, Jawa Tengah, rusak berat. Pengasuh pesantren Kiai Syamsuri risau, karena masjid tersebut pusat syiar Islam. Di sanalah santri dan warga masyarakat berkumpul, untuk sembahyang, ngaji, rapat desa dan sebagainya.

Suatu hari, sang kiai mengutarakan kerisauannya di depan santri dan masyarakat. Intinya, ia menyampaikan bahwa lantai masjid harus segera diperbaiki, dan ia ingin kayu milik Masjid Desa Jragung Demak lama menjadi pengganti lantai masjidnya. Dana terkumpul, dari iuran santri dan jariyah warga Desa Brabo. Tapi belum cukup.

Kiai Syamsuri Brabo dan Kitabnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Syamsuri Brabo dan Kitabnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Syamsuri Brabo dan Kitabnya

Akhirnya, Kiai Syamsuri ambil “jalan pintas”, yakni menjual kitab Syarah Bukhori setebal 12 jilid kepada Anwar,  kala itu pemilik toko Toha Putera di Semarang. Namun, sang kiai bilang kepada Anwar bahwa kitab ini jangan dijual dulu kepada orang lain, karena suatu saat, dirinya akan datang: membeli kembali Syarah Bukhori kesayangannya ini.

Beberapa waktu kemudian, Anwar dikunjungi Kiai Hamid Kajoran Magelang. Biasalah, rumah pemilik toko kitab ada kitab-kitab aneka macam yang tertata rapi. Kiai Hamid pun biasa melihatnya. Tapi hari itu, mata Kiai Hamid tampak terpesona dengan setumpuk kitab teronggok. Tak lain, kitab itu Syarah Bukhori milik Anwar yang dibeli dari Kiai Syamsuri. Kiai Hamid tambah tertarik dengan kitab itu, karena setelah dibuka, semuanya telah diberi makna dengan rapi dan bagus. 

Siti Efi Farhati

“Kang Anwar, buatku saja ya kitab ini,” begitu kira-kira Kiai Hamid meminta. Karena yang meminta Kiai Hamid, maka kitab tadi diberikan secara cuma-cuma.

Siti Efi Farhati

Lain waktu, Kiai Hamid Kajoran dikunjungi kiai muda bernama A. Baidhowi. Kedua kiai kita ini akrab, hangat, dan saling menghormati. Karena lama tidak berjumpa, Kiai Hamid meminta tamunya menginap. Dalam perbincangannya, Kiai Hamid cerita: 

“Gus Dhowi, aku punya kitab.”

“Kitab nopo, Kiai.” 

“Syarah Bukhori. Aku minta dari Toha Putra. Tetapi, kitab itu akan saya hadiahkan untuk Sampeyan.” 

“Waduh, matur suwun, Kiai.” Tapi Kiai Hamid tidak memberi secara cuma-cuma. Ia meminta mahar dari Kiai Baidhowi. 

Malamnya, tuan rumah mempersilakan sang tamu untuk istirahat di kamar pribadinya, di lantai dua. Namun penghormatan Kiai Hamid malah bikin tamunya tidak bisa tidur. Kiai Baidhowi merasa rikuh, di kamar bawah ada kiai yang dihormatinya.

Paginya, Kiai Hamid mengutarakan mahar keinginkannya. Kiai Baidhowi, demi kitab yang disenanginya, menyanggupi mahar. 

“Mahar pertama, doakanlah semua anak keturunanku suka dengan tamu,” kata Kiai Hamid mulai menyebutkan keinginannya.

“Mahar kedua, doakan semua anak cucuku bisa haji,” lanjutnya.  

“Mahar terakhir,” kata Kiai Hamid, “doakan anak cucuku suka mengaji.”

Dengan rikuh dan keterkejutan yang masih tersimpan, Kiai Baidhowi yang masih mudah berdoa di hadapan Kiai Hamid yang lebih sepuh dan sangat dihormatinya itu. Setelah semuannya selesai, sang tamu pamitan. 

Kemudian, Kiai Baqoh Arifin, putra Kiai Hamid, mengantarkan tamunya sampai terminal Magelang, atas perintah ayahandanya. 

Diceritakan, dalam perjalanan kitab Syarah Bukhori sempat jatuh. Sesampainya di kediamannya, Pesantren Sirojuth-Tholibin, Brabo, Kiai Baidhowi langsung menemui ayahandanya, Kiai Syamsuri, memberikan kitab yang dikasih Kiai Hamid. 

Kiai Syamsuri kaget, ternyata kitab itu adalah kitab yang dulu dijual kepada Anwar . Sambil menangis, ia langsung memeluk kitab tadi. Lalu memeluk Kiai Badhowi, yang tak lain adalah putranya sendiri. Sang anak bingung, “Wonten nopo, Pak?”

 

***

Kiai Syamsuri lahir pada tanggal 21 April 1906, di Desa Tlogogedong Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Bapaknya bernama KH Dahlan bin Nolo Khoiron, imam dan pemuka agama di desanya. Kakek Syamsuri adalah lurah  di Sambak Wonosekar, Demak.

Kehadiran Syamsuri muda di Brabo bermula dari permintaan dua tokoh agama di Brabo Mbah Idris dan Mbah Hasan Hudori, kepada Kiai Syarqowi Tanggung Tanggungharjo. Keduanya meminta kepada Kyai Sarqowi agar “menanamkan” santrinya di desa Brabo. Kyai Syarqowi menunjuk santrinya yang bernama Syamsuri, yang tak lain menantunya, untuk mengabdi dan mengembangkan Islam di Brabo.

Kiai Syamsuri berdakwa dengan pelan-pelan. Pengajian bandongan kecil-kecilan digelar di serambi masjid. Sembari mengetahui seluk beluk warga Brabo, ia berkunjung ke rumah warga. Sifat sabar dan keuletannya, Kiai Syamsuri berhasil mendapat simpati masyarakat Brabo. Akhirnya, jangkauan pengajiannya hingga ke luar desa, dan jama’ah pengajian di serambi masjid makin ramai.

Melihat makin bertambahnya santri, masyarakat mengusulkan untuk mendirikan pesantren. Berdirilah pondok pesantren, dengan nama Sirojuth Tholibin, tahun 1941.

Nama pesantren, selain bermakna lentera penerang para penuntut ilmu, juga dalam rangka “menempelkan kitab” bernama Sirojuth Tholibin karya Syekh Muhammad Ihsan Jampes Kediri. Istilahnya, tabarukan. Kitab Sirajuth Thalibin adalah syarah atas kitab Minhajul ‘Abidin karya Imam Al-Ghozali.

Syamsuri suka belajar agama.  Syamsuri kecil sudah ngaji akidah, fiqih, Al-Qur’an. Guru pertamanya ayahnya sendiri, KH Dahlan. 

Selanjutnya, ia belajar kepada KH Abdur Rohman di Tlogogedong Demak Jawa Tengah. Ia juga belajar kepada Kiai Irsyad Gablog dan nyantri di Mangkang sertai KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng. 

Syamsuri muda pernah belajar ngaji Shohih Bukhori dan Shohih Muslim kepada Kiai Hasan Asy’ari di Poncol Bringin Salatiga. Tempat lain yang pernah disinggahi Syamsuri untuk belajar adalah Pesantren Tegalsari, Bringin Salatiga, asuhan Kiai Tholhah. 

Di antara ulama yang seangkatan dengan Kiai Syamsuri adalah KH Muslih Mranggen Demak. Bahkan, keduanya sama-sama alumni Pondok Tanggung, di bawah asuhan Kiai Syarqowi. 

Ada sebuah kisah tentang Kiai Syamsuri dan Kiai Muslih. Kiai Muslih pernah meminjam kitab Shohih Bukhori kepada Kiai Syamsuri. Lalu, Kiai Syamsuri meminjamkan kitab tersebut dengan mengutus muridnya, Shobari, untuk membawanya ke Mranggen. Konon Shobari membawa kitab tadi dengan dipikul memakai kayu.

Tokoh lain yang seangkatan adalah KH Arwani Kudus (hubungan dalam thoriqoh), KH. Shodaqoh, ayah dari KH Haris Shodaqoh, pengasuh PP Al Itqon Gugen Semarang), KH Nawawi Bringin Slatiga, dan KH Ihsan Brumbung Mranggen Demak.

Dalam hal tarekat, Kiai Syamsuri mengambil sanad dari Kiai Syarqowi, tepatnya tarekat Naqsabandiyah Kholidiyyah. Namun ia  tidak diangkat menjadi mursyid, meski kadang ditunjuk sebagai badal. Sebab, Kiai Syamsuri diarahkan untuk lebih berkonsentrasi pada pendidikan santri di pesantren.

Kiai Syamsuri berpulang ke Rahmatullah, bakda Magrib, malam Rabu, 23 Shofar, bertepatan dengan 4 Oktober 1988. (Ditulis ulang oleh Hamzah Sahal dari dan atas seizin www.Sirojuth-Tholibin.net)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nahdlatul, Humor Islam Siti Efi Farhati

Jumat, 20 Oktober 2017

Kiai NU Pacitan Berusia 114 Tahun Wafat

Pacitan, Siti Efi Farhati

Innalilahi wa inna lilahi rojiun, kabar duka datang dari Pacitan, Jawa Timur, KH Umar Syahid, ulama sepuh dan juga Mustasyar PCNU Pacitan, wafat pada Rabu malam (4/1), pukul 22.55 di RSUD Pacitan.

Kiai NU Pacitan Berusia 114 Tahun Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai NU Pacitan Berusia 114 Tahun Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai NU Pacitan Berusia 114 Tahun Wafat

Kiai yang akrab disapa Mbah Umar Tumbu tersebut wafat dalam usia 114 tahun. Ia merupakan ulama sepuh yang menjadi teladan bagi warga nahdliyin, khususnya di Pacitan.

Mbah Umar merupakan pengasuh Pesantren Nur Rohman, Jajar, Donorojo. Pada masa remajanya, ia nyantri di Pesantren Tremas Pacitan dibawah asuhan KH Dimyathi Abdullah.

Siti Efi Farhati

"Insyallah beliau merupakan salah satu santri sepuh (yang masih ada) dari muridnya Mbah Dimyathi," kata Gus Muadz Harits Dimyathi, salah satu Pengasuh pesantren Tremas kepada Siti Efi Farhati, Kamis (5/1) dini hari.

Mbah Umar dikenal sebagai figur kiai yang yang dermawan, lemah lembut dan menjadi azimat bagi masyarakat Pacitan.

Siti Efi Farhati

"Mbah Kiai Umar, itu termasuk minal muqorrobin ilallah (orang yang dekat dengan Allah) dan menjadi Azimatnya warga Pacitan dan kaum Muslim Indonesia pada umumnya," tutur Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj saat bersilaturahmi di kediaman beliau di Pacitan, tahun 2010 silam.

Kecintaanya pada NU dibuktikan dengan istiqamahnya yang selalu hadir dalam tiap acara pengajian atau acara keagamaan yang digelar oleh NU atau pesantren. Dan selalu menunggui hingga acara selesai.

Tiap hari, kediamannya tidak pernah sepi dari para tamu yang sowan meminta nasehat atau doa darinya. Karena itulah ia dikenal sebagai kiai pelayan umat.

Dikenal dengan sebutan Mbah Umar Tumbu karena ketika remaja berprofesi sebagai penjual tumbu (wadah dari anyaman bambu) dengan berjalan kaki sembari berdakwah kepada masyarakat. Dakwahnya dilakukan selama puluhan tahun. (Zaenal Faizin/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Humor Islam Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock