Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Februari 2018

Islam Indonesia Diharapkan sebagai Rujukan Islam Moderat

Semarang, Siti Efi Farhati

Bagaimana memahami dinamika Islam dan politisasi atas Islam akhir-akhir ini? Islam dan politisasi atas Islam, yang disebut sebagai Islamisme, perlu dimaknai sebagai refleksi dinamika sosial-politik dalam konteks relasi muslim dengan modernitas, dengan tantangan radikalisme, gerakan politik khilafah, dan bahkan terorisme.

Islam Indonesia Diharapkan sebagai Rujukan Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Indonesia Diharapkan sebagai Rujukan Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Indonesia Diharapkan sebagai Rujukan Islam Moderat

Hal tersebut menjadi inti diskusi dan bedah buku Islam dan Islamisme, karya intelektual muslim Bassam Tibi, yang diterbitkan Mizan (2016). Bedah buku yang diselenggarakan oleh BEM FKIT (Fakultas Keguruan dan Ilmu Tarbiyah) UIN Walisongo pada Kamis (29/9) ini, menghadirkan Dr. Haidar Bagir (Pendiri Gerakan Islam Cinta) dan Dr. Tedi Kholiluddin (aktivis PW Nahdlatul Ulama Jawa Tengah & Dosen UIN Walisongo Semarang), yang dimoderatori Dr. Rikza Chamami, M.Pd (Dosen UIN Walisongo).

Haidar Bagir mengajak cendekiawan muslim dan para mahasiswa yang menjadi penggerak komunitas, agar bersatu menebarkan Islam yang damai. "Selama ini, orang-orang muslim moderat cenderung diam, ketika ada kelompok kecil muslim yang keras dalam beragama. Akan tetapi, jika dibiarkan mereka akan semakin kuat. Mari kita bersama aktif untuk mengkampanyekan Islam yang menebar rahmat dan cinta kasih," terang Haidar.

Siti Efi Farhati

Haidar Bagir mencontohkan, bahwa jika dibiarkan, seperti orang baik yang tidak peduli pada kelompok preman, maka kelompok Islam garis keras akan menjadi kuat, sehingga merusak inti ajaran Islam yang sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad.

Siti Efi Farhati

Haidar juga mengungkap bahwa, fenomena Islam politik, yang disebut Bassam Tibi sebagai Islamisme, harus direspon secara jernih. Islamisme itu mendukung demokrasi, namun hanya sebagai kamuflase, hanya demokrasi kota suara, padahal sebenarnya mereka bergerak untuk menegakkan sistem khilafah, inilah yang harus diwaspadai.

"Jika kelompok Islamiyyun mementingkan gerakan politik sebagai puncak keberislaman, maka saya lebih setuju jika puncak keislaman adalah ihsan, yakni tindakan kebaikan," tegas Haidar. Ia merujuk pada pemikirannya, bahwa muslim Indonesia harus memahami rukun islam, rukun iman dan rukun ihsan.

Sementara, Tedi Kholiluddin menegaskan bahwa khilafah bukanlah solusi dari semua tantangan hidup manusia. "Tidak semua hal harus diselesaikan dengan khilafah. Hal-hal yang terkait dengan kehidupan teknis, ya harus diselesaikan dengan cara kemanusiaan," ungkap Tedi. Intinya, gerakan Islam politik sering hanya mengejar ilusi.

Di sisi lain, Tedi berkeyakinan bahwa model Islam Indonesia dapat menjadi rujukan utama Islam moderat bagi komunitas warga dunia. "Bassam Tibi sudah menyampaikan gagasan bagaiman Islam moderat ala Indonesia menjadi alternatif gagasan. Saya kira ini momentum penting, bahwa perubahan berkeislaman itu dari pinggir, yakni dari kawasan Nusantara," ungkap Tedi.

Dalam analisanya, Tedi mengkritik bahwa kelompok Islam politik membangun jalur ganda dalam memperjuangkan gagasannya, yakni dari struktur kekuasaan maupun dari jalur warga. "Kelompok Islamisme bergerak di struktur politik, dan juga merangsek dengan menggarap komunitas warga. Di kota-kota satelit Jakarta, hal ini sudah mulai marak. Misalnya, cluster-cluster pemukiman yang anggotanya hanya dari kelompok mereka," terang Tedi.

Ia berharap bahwa Islam Indonesia menjadi rujukan untuk mengenalkan konsep Islam moderat, yang dapat menjadi referensi bagi masyarakat muslim dunia yang kehilangan arah. (Zulfa/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nahdlatul, Pahlawan, RMI NU Siti Efi Farhati

Jumat, 02 Februari 2018

Kita Perlu Nasihati Diri Sendiri

Khortoum,Siti Efi Farhati. Nasihat paling manjur datangnya dari hati nurani sendiri. Namun, ini memang sulit dicapai karena manusia cenderung mementingkan hal-hal lain di luar dirinya.

”Pada malam hari, pada saat suasana hening, selesai sholat tahajud, kala orang orang pada lelap tidur, itulah waktu yang tepat untuk menasehati diri sendiri,” tutur Ustadz Moh Badrussalam Shof, Mustasyar Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI-NU) Sudan saat memberikan ceramah untuk masyarakat Indonesia Sudan di ruang serbaguna KBRI Khartoum Sudan, Jum’at (1/5) lalu.

Kang Badrus, panggilan akrab Moh Badrussalam Shof, yang aktif  mengisi siraman rohani Al-Hijrah mengajak segenap jamaah pengajian untuk saling nasihat-menasihati. ”Addunu nasihah, agama itu Islam itu adalah nasihat untuk kebaikan,” kata Kang Badrus menyitir hadits Nabi MUhammad SAW.

Kita Perlu Nasihati Diri Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Kita Perlu Nasihati Diri Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Kita Perlu Nasihati Diri Sendiri

Dikatakan, bangsa Indonesa perlu melatih diri untuk saling menasihati dengan hati nurani agar menjadi bangsa yang berwibawa di mata dunia. "Ini tidak hanya kita yang ada di Sudan, namun semua elemen bangsa Indonesia khususnya para pemimpinya," katanya.

Pengajian Al-Hijrah untuk Masyarakat Indonesia di Sudan itu dilaksanakan oleh Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Sudan. Lembaga ini semakin diminati terbukti dengan bertambahnya anggota pengajian dari waktu ke waktu.

Siti Efi Farhati

Semula kegiatan itu diikuti hanya puluhan orang pada awal berdirinya Agustus 2006, kini pengajian begitu pesat sehingga memenuhi ruangan serbaguna KBRI Khartoum Sudan

 

Siti Efi Farhati

Pensisbud KBRI Khartoum, Bambang purwanto, menilai kegiatan itu sangat positif, seperti juga dituturkan oleh para majikan tenaga kerja di sana.

”Pengajian seperti ini harus diteruskan, walaupun begitu tetap ada yang menyalahgunakan acara pengajian untuk tempat janjian ketemu,” katanya bergurau.

 

Pada pengajian akhir pekan itu Kang Badrus didampingi Ustadz Zulham FA. Hadir juga Ketua PCI-NU Sudan HM Shohib Rifa’i.(nus/nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nahdlatul, Ahlussunnah Siti Efi Farhati

Minggu, 28 Januari 2018

Lagu Ya Lal Wathan Menggema di Universitas Indonesia

Depok, Siti Efi Farhati. Tak seperti biasa, lagu Ya Lal Wathon yang lazimnya sering didengungkan di pesantren, lembaga maupun jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) Sabtu (28/10) pagi, lagu semangat nasionalisme yang digubah oleh KH Abdul Wahab Chasbullah ini mengema di Gedung Auditorium Pusat Studi Jepang, Universitas Indonesia (PSJ-UI) dalam rangka 1st Santri Writer Summit serta merupakan rangkaian peringatan Hari Santri Nasional.

Menurut Desi Sulaiman, salah satu anggota paduan suara yang juga santri Umul Quro, Bogor, mengatakan, dengan dinyanyikannya lagu Ya Lal wathon pada kegiatan yang diikuti oleh ratusan santri dan pemerhati pesantren ini bertujuan untuk memupuk nasionalisme bersama dan sekaligus mengenalkan kepada khalayak bahwa pesantren merupakan basis yang selalu mengawal Negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Lagu Ya Lal Wathan Menggema di Universitas Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Lagu Ya Lal Wathan Menggema di Universitas Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Lagu Ya Lal Wathan Menggema di Universitas Indonesia

“Iya, untuk menumbuhkembangkan rasa Nasionalisme dan supaya dunia luar pesantren tahu tentang besarnya nasionalisme kaum pesantren,” tuturnya. 

Dalam acara yang diselenggarakan oleh Kementrian Agama bersama Komunitas Santri Nulis ini telah menyaring essay yang diikuti oleh 357 orang santri se-Indonesia, kemudian disaring menjadi 50 santri pilihan.

Sebagai bentuk penghormatan, santri yang lolos seleksi akan mendapatkan hadiah dari panitia berupa hadiah liburan ke Singapura. Demikian ungkap salah satu panitia, Nur Sehah. 

Siti Efi Farhati

“Peserta dengan performa terbaik akan mendapatkan tiket liburan ke Singapura sebagai apresiasi yang diberikan pihak penyelenggara,” tandasnya. 

Dalam seminar ini, lanjutnya, hadir sebagai narasumber budayawan Prie GS, Habiburrahman El-Sirazi, Abdul Wahab dari Santri Online serta beberapa narasumber lain. (Ahmad Mundzir/Fathoni)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati AlaNu, Nahdlatul, Doa Siti Efi Farhati

Rabu, 17 Januari 2018

PMII Solo: Kembalikan Kedaulatan dan Peran Rakyat dalam Demokrasi!

Solo, Siti Efi Farhati. Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang telah ditetapkan oleh DPR RI beberapa waktu lalu terus memicu kecaman dan penolakan dari masyarakat di berbagai daerah.

PMII Solo: Kembalikan Kedaulatan dan Peran Rakyat dalam Demokrasi! (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Solo: Kembalikan Kedaulatan dan Peran Rakyat dalam Demokrasi! (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Solo: Kembalikan Kedaulatan dan Peran Rakyat dalam Demokrasi!

Sejumlah aktivis dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) bersama Gerakan Masyarakat Solo (Gemas) turut menyuarakan tuntutan mereka dalam aksi longmarch yang digelar pada Kamis (2/10).

Massa aksi mulai berjalan dari Kampus UNS Mesen di Jalan Urip Sumoharjo pukul 10.00 WIB menuju Bundaran Gladag Jalan Brigjen Slamet Riyadi, Solo, Jawa Tengah. Dengan membawa berbagai spanduk bertuliskan penolakan terhadap UU Pilkada, mereka juga mengajak masyarakat untuk mengisi formulir gugatan yang akan diajukan ke Mahkamah Konstitusi (MK) di Jakarta.

Siti Efi Farhati

Ketua Umum PMII Cabang Kota Solo yang juga sebagai menjadi Koordinator Aksi, Ahmad Rodif Hafidz dalam orasinya menegaskan dengan adanya UU Pilkada yang mengatur pemilihan kepala daerah dipilih oleh DPRD mengindikasikan bahwa masyarakat bakal diajak bernostalgia dengan rezim orde baru yang gemar mengebiri hak rakyat.

“Selama 32 tahun rakyat dibungkam dan berbagai haknya dikebiri. Tanpa pandang bulu, siapapun yang berani menentang pandangan pimpinan orde baru tersebut langsung ‘disikat’. Sedangkan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) justru makin merajalela,” ungkapnya.

Siti Efi Farhati

Selain itu, menurutnya hal tersebut akan menodai reformasi 1998 yang dicita-citakan membawa perubahan Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik, berdaulat, demokratis, dan bermartabat.

“16 tahun pascareformasi, Indonesia yang terus belajar dan mengembangkan demokrasi untuk menuju nilai-nilai Pancasila yang ideal, justru akan dibuat mundur kembali oleh elite politik di negeri ini,” paparnya.

Dalam aksi tersebut, disampaikan pula pernyataan sikap, yang antara lain mengajak masyarakat untuk bersama-sama menolak disahkannya UU Pilkada. “Kembalikan kedaulatan dan peran rakyat dalam demokrasi,” tegas Rodif. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pendidikan, Nahdlatul, RMI NU Siti Efi Farhati

Jumat, 12 Januari 2018

Gigi Emas pada Jenazah, Dicabut atau Dikubur?

Manusia adalah makhluk mulia. Walaqad karramnâ banî âdam (dan telah kamu muliakan anak turun Nabi Adam), kata Al-Qur’an. Atas kemuliaan ini, kemanusiaannya tak hanya wajib dihormati kala hidup tapi juga kala meninggal dunia. Karena itu saat ada orang Islam wafat, fardhu kifayah bagi orang Islam lainnya untuk memandikan, mengafani, menshalati, lalu menguburkannya.

Namun demikian, tidak setiap dalam prosesi pamulasaraan jenazah itu seseorang mendapati kasus yang sama. Misalnya, kasus jenazah orang yang mamakai gigi emas. Kala menghadapi hal demikian, masyarakat kadang bingung, apakah gigi tersebut wajib dicabut atau dibiarkan alias dikubur bersama jenazah?

Gigi Emas pada Jenazah, Dicabut atau Dikubur? (Sumber Gambar : Nu Online)
Gigi Emas pada Jenazah, Dicabut atau Dikubur? (Sumber Gambar : Nu Online)

Gigi Emas pada Jenazah, Dicabut atau Dikubur?

Imam Ramli dalam Al-Nihayah al-Muhtaj pernah menyinggung soal pakaian sutera yang hukum asalnya diharamkan bagi lelaki. Ia membolehkan laki-laki memakai sutera selama ada uzur tertentu, seperti menghindari gatal atau kutu. Namun, ketika meninggal dunia sutera itu harus dilepas karena faktor yang membolehkan sudah tidak relevan lagi.

Siti Efi Farhati

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Siti Efi Farhati

“… Oleh karenanya, jika seseorang laki-laki memakai kain sutera misalnya untuk menghindari gatal-gatal atau kutu, dan sebab yang memperbolehkan pemakaian sutera tersebut ada sampai menjelang ajalnya, maka haram mengafani jenazahnya dalam kain sutera tersebut, berdasarkan larangan pemakai sutera secara umum, dan karena habisnya sebab yang memperbolehkan dirinya memakai sutera.” (Syamsuddin al-Ramli, Nihayah al-Muhtaj, [Mesir: Musthafa al-Halabi, 1357 H/1938 M], Jilid II, h. 447)

Lalu, bagaimana dengan kasus gigi emas? Permasalahan ini pernah disinggung dalam Muktamar ke-6 Nahdlatul Ulama yang digelar di Pekalongan, Jawa Tengah, pada 12 Rabiuts Tsani 1350 H atau 27 Agustus 1931 M. Menganalogikannya dengan pendapat Imam Ramli di atas, muktamirin memutuskan bahwa “apabila mencabut gigi emas tersebut menodai kehormatan mayat, maka hukumnya haram dicabut. Dan apabila tidak, maka bila itu seorang laki-laki yang dewasa maka wajib dicabut, bila seorang wanita atau anak kecil maka terserah kerelaan ahli warisnya.

Dengan bahasa lain, wajib mencabutnya bila jenazah berjenis kelamin laki-laki dan pencabutan itu tidak menodai kehormatan jenazah. Mubah bila jenazah pemakai gigi emas tersebut berjenis kelamin perempuan atau anak kecil. Wallâhu a‘lam. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nahdlatul Siti Efi Farhati

Rabu, 03 Januari 2018

Di Kongres, Fatayat Jember Akan Tampilkan Produk Unggulan

Jember, Siti Efi Farhati. Pimpinan Cabang Fatayat NU Jember sedang serius mempersiapkan diri menyambut Kongres Fatayat NU yang akan berlangsung di Surabaya, 18-22 September mendatang. Fatayat NU Jember melakukan koordinasi dengan pimpinan anak cabang dan ranting guna menggalang aspirasi dari bawah untuk disampaikan pada perhelatan berskala nasional itu.

Di Kongres, Fatayat Jember Akan Tampilkan Produk Unggulan (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Kongres, Fatayat Jember Akan Tampilkan Produk Unggulan (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Kongres, Fatayat Jember Akan Tampilkan Produk Unggulan

Fatayat NU Jember juga mengajak anak cabang dan ranting yang berpotensi untuk menampilkan produk unggulan masing-masing pada stan pameran yang disediakan oleh panitia Kongres. Diharapkan, secara ekonomi dampaknya akan meluas, bukan hanya untuk pengurus dan anggota Fatayat NU Jember, tetapi juga bagi masyarakat Jember secara keseluruhan.

“Kami ingin memanfaatkan momen kongres ini sebagai ajang untuk mengenalkan produk unggulan Jember kepada sahabat-sahabat Fatayat yang datang dari berbagai wilayah Indonesia,” ungkap Roihatul Jannah, bendahara sekaligus manager usaha garment Fatayat NU Jember.?

Siti Efi Farhati

Persiapan telah mulai dilakukan oleh PC Fatayat NU sejak jauh-jauh hari, termasuk dengan workshop pendataan anggota yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi potensi dan kebutuhan di bidang ekonomi, politik, kesehatan, pendidikan, dan lainnya dari anggota dan pengurus Fatayat di tingkat Ancab dan Ranting.?

Selain itu pengurus Fatayat NU Jember juga mengunjungi beberapa anak cabang dan ranting untuk mengetahui kondisi langsung anggota Fatayat. Dari kegiatan tersebut terekam bahwa di tingkat desa, kondisi anggota dan pengurus Fatayat NU masih jauh dari yang diharapkan.?

Siti Efi Farhati

“Banyak anggota Fatayat yang bahkan urusan administratif saja masih belum tuntas, seperti tidak memiliki KTP dan KK, sehingga kesulitan untuk mengakses layanan pemerintah yang membutuhkan KTP dan KK,” ujar Erma Fatmawati, Ketua 2 PC Fatayat NU Jember.

Menurutnya, banyak anggota yang belum mendapatkan layanan kesehatan yang layak, tidak bisa menyekolahkan anak-anaknya, bahkan masih banyak yang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasar.?

Oleh karenanya, menurut Ketua Ketua PC Fatayat NU Jember Rahmah Saidah, kongres ini menjadi penting karena merupakan forum terbesar ? yang akan menentukan jalannya organisasi selama lima tahun ke depan. Fatayat NU Jember berharap Kongres nanti benar-benar menjadi forum yang akan mewadahi kepentingan anggotanya, dan bukan sekadar menjadi ritual lima tahunan yang justru menjadi alat politik bagi beberapa pihak saja. (Linda/Robi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nahdlatul, Tegal Siti Efi Farhati

Minggu, 31 Desember 2017

Penuhi Kebutuhan Informasi Nahdliyin, NU Perlu Coba ‘Laptop 100 Dolar AS’

Jakarta, Siti Efi Farhati

Untuk memenuhi kebutuhan informasi warga Nahdliyin di seluruh Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) perlu mempertimbangkan penggunaan laptop seharga 100 dollar AS. Komputer jinjing dengan harga murah tersebut cukup tepat digunakan warga NU, terutama bagi mereka yang berada di pedesaan dan sulit mengakses informasi.



Penuhi Kebutuhan Informasi Nahdliyin, NU Perlu Coba ‘Laptop 100 Dolar AS’ (Sumber Gambar : Nu Online)
Penuhi Kebutuhan Informasi Nahdliyin, NU Perlu Coba ‘Laptop 100 Dolar AS’ (Sumber Gambar : Nu Online)

Penuhi Kebutuhan Informasi Nahdliyin, NU Perlu Coba ‘Laptop 100 Dolar AS’

Hal tersebut diungkapkan Redaktur Senior Harian Kompas Ninok Leksono saat menjadi pembicara utama pada Lokakarya “Membangun Habitus Teknologi Informasi di Kalangan Nahdliyin” yang diselenggarakan Siti Efi Farhati di Hotel Sofyan Betawi, Jakarta, Rabu (88).

Ia sangat menyayangkan jika potensi warga Nahdliyin yang sangat besar tidak diimbangi dengan pemenuhan informasi dan pendidikan yang memadai. Melalui program penggunaan laptop 100 dolar AS itu, katanya, Nahdliyin yang berada di pedesaan sekalipun, dapat mengakses informasi melalui sambungan jaringan internet dengan efektif dan efisien.

Siti Efi Farhati

“Negara yang pertama kali memanfaatkan laptop 100 dollar AS tersebut adalah Libya. Mereka memanfaatkan laptop tersebut juga untuk memenuhi kebutuhan informasi dan pendidikan rakyatnya,” terang Ninok kepada para peserta lokakarya yang merupakan para pakar dan ahli TI yang berlatar belakang Nahdliyin.

Namun demikian, tambah Ninok, tentu harus pula dipikirkan akibat negatif yang ditimbulkan dari pemanfaatan Tekonologi Informasi (TI) tersebut. Pasalnya, akses informasi melalui jaringan internet tersebut tiada batas dan pasti akan memunculkan akibat-akibat yang tidak diinginkan.

Siti Efi Farhati

Komputer jinjing 100 dollar AS, setelah lima tahun sejak konsepnya diusulkan, akhirnya mulai diproduksi massal. Para pemasok perangkat keras (hardware) telah memulai memproduksi komponen-komponen yang dibutuhkan untuk menyediakan jutaan komputer murah untuk anak-anak di negara-negara berkembang.

Gelombang pertama produksi laptop ’sejuta umat’ itu diperkirakan akan didistribusikan pertama kali pada Oktober 2007. Laptop tersebut tidak akan tersedia di toko eceran sebab seluruhnya dijual melalui skema pemesanan dalam jumlah besar oleh negara yang membutuhkan.

Sebelumnya program OLPC (One Laptop Per Child) yang dipelopori Profesor Negroponte dari Institut Teknologi Massachusetts (MIT) dikatakan baru bisa dimulai jika pesanan mencapai 3 juta unit. Namun, dengan dimulainya produksi massal pertama ini, pihak OLPC tidak bersedia mengungkap berapa jumlah pesanan dan negara-negara mana saja yang telah memesannya secara resmi.

XO didesain mudah dibawa ke mana-mana dengan ukuran layar yang kecil dan menggunakan memori flash 1 gigabyte, tanpa hardisk, sehingga ringan. Laptop ini juga dibuat tahan terhadap kondisi lingkungan yang ekstrim seperti gurun di Libya atau pegunungan di Peru dengan pembungkus yang tahan air.

Karena akan didistribusikan ke pelosok pedesaan, laptop tersebut juga dibuat hemat penggunaan listrik. Penggunanya dapat mengisi ulang baterainya dengan memutar generator mini yang terpasang di sampingnya menggunakan engkol tangan, generator mini yang diinjak, atau sel surya. Selain itu, gambar di layarnya tetap mudah terlihat meski di bawah pancaran sinar matahari. (rif)Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nahdlatul Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock