Tampilkan postingan dengan label RMI NU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RMI NU. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Februari 2018

Zakat Bangkit, Umat Mandiri

Oleh Nur Rohman



Zakat menjadi instrumen terpenting dalam kemandirian umat. Mandiri dalam kesehatan, pendidikan, dan ekonomi merupakan puncak dalam kesuksesan dalam kehidupan masyarakat. Semua itu tidaka akan tercapai kalau semua komponen masyarakat tidak bersatu.

Zakat Bangkit, Umat Mandiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Zakat Bangkit, Umat Mandiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Zakat Bangkit, Umat Mandiri

Setidaknya ada empat pilar dalam kemandirian umat yang di jelaskan dalam Hadist Nabi Muhammad;

Pertama adalah ilmunya ulama, ilmu merupakan instrumen atau alat vital dalam kemandirian umat. Bahkan Nabi menjelaskan bahwa ilmu itu adalah hal yang paling pokok untuk menggapai kesuksesan baik di dunia maupun sukses di akhirat kelak.

Siti Efi Farhati

Ingatlah kita pada cerita Nabi Sulaiman ketika beliau disuruh memilih Allah dua perkara yaitu ilmu atau kerajaan dan kemudian beliau memilih ilmu. Dengan memilih ilmu, Nabi Sulaiman mendapatkan segala kenikmatan di dunia baik kerajaan, kekuasaan dan sebagainya. Betapa akal yang di dalam ada ilmulah yang membuat manusia menjadi mulia dibanding dengan mahluk yang lain. Bahkan Allah membedakan serta memuliakan seseorang karena ilmu yang tentunya disertai dengan ahlak yang mulia.

Siti Efi Farhati

Kedua, adalah adilnya umara atau goverment. Pemerintah yang adil akan memberikan manfaat yang? besar pada masyarakat. Selain taat kepada Allah yang didasari dengan ilmunya ulama kemakmuran itu harus didasari dengan ketaatan kepada ulil amri yang? tentu mereka yang? bersifat adil. Adil menjadi kata kunci karena adil menjadi berkah dan maslahat.

Salah satu tugas utama umara adalah menciptakan kemaslahatan bagi masyarakatnya. Bukan pemerintah yang zalim yang? tentunya akan menbuat mudarat masyarakat. Gambaran umara yang adil itu dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika memimpin negara Madinah. Dengan kemajemukan masyarakat di zaman itu, Nabi Muhammad tetap bersikap adil kepada semua masyarakat tak terkecuali dengan orang yahudi maupun Nasrani. Gambaran Piagam Madinah itu menunjukkan betapa Nabi Muhammad itu adalah umara yang? adil.

Ketiga, adalah kedermawanan agniya (pemilik harta). Allah SWT mengajarkan kedermawanan itu tidak kenal waktu dan keadaan. Bahkan anjuran Allah di dalam Al-Qur’an di saat lapang dan sempit kita didorong untuk infaq yang diniatkan mengabdi karena Allah. Saat sempit tidak boleh dijadikan alasan bagi seorang hamba untuk menjadi dermawan apalagi saat lapang.

Janji Allah untuk memberikan balasan kepada hambanya yang mau bersedekah itu janji yang nyata bukan janji palsu. Allah akan berkahkan harta dan jiwa siapa saja yang? mau mendermakan harta dijalan Allah. Yang? berinfaq seribu Allah akan ganti dengan sepuluh ribu.

Silakan buktikan dengan keyakinan bahwa janji Allah itu benar. Bahkan Allah memberikan gambaran bagi orang yang mau bersedekah karena ikhlas hanya karena pengabdian maka diibaratkan menanam satu biji yang? akan tumbuh menjadi tujuh tangkai dan setiap tangkai akan mempunyai seratus dahan dan bahkan janji Allah bagi yang dikehendaki balasannya akan berlipat ganda tidak bisa diukur dengan hitungan. Tentunya Konsekuensi bagi hamba Allah yang? bakhil juga jelas neraka yang? dahsyat siksanya.

Empat, adalah doanya hamba Allah yang fakir. Kaya dan miskin itu sunnatullah dalam kehidupan di dunia. Gambaran kaya dan miskin ini untuk dijadikan peringatan dalam dunia bagi yang? mau berpikir. Kaum papa menjadi penyeimbang dalam kehidupan di dunia seperti layaknya gunung sebagai penyeimbang bumi. Tujuan hidup itu bukan untuk kaya tapi kaya harus sebagai perantara seorang hamba untuk mencapai kesuksesan yang? sejati kelak hidup di akhirat. Manusia itu dicipatakan Allah hanya sebagai khalifah di bumi yang? tujuannya disuruh menghamba kepada Allah.

Penulis adalah Pembina Majelis Rajeg dan pengurus PP NU Care-Lazisnu Jakarta



Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pahlawan, RMI NU Siti Efi Farhati

Minggu, 18 Februari 2018

Resolusi PBB Tolak Trump Akui Yerusalem Ibu Kota Israel

New York, Siti Efi Farhati. Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan tegas mendukung sebuah resolusi yang secara efektif meminta Amerika Serikat untuk menarik pengakuannya atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel, lapor BBC Jumat (22/12).

Resolusi PBB Tolak Trump Akui Yerusalem Ibu Kota Israel (Sumber Gambar : Nu Online)
Resolusi PBB Tolak Trump Akui Yerusalem Ibu Kota Israel (Sumber Gambar : Nu Online)

Resolusi PBB Tolak Trump Akui Yerusalem Ibu Kota Israel

Teks resolusi tersebut mengatakan bahwa setiap keputusan mengenai status kota Yerusalem tak berlaku dan harus dibatalkan.

Resolusi yang tidak mengikat itu disetujui oleh 128 negara, dengan 35 abstain dan sembilan lainnya memilih untuk menentangnya. Itu terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan memotong bantuan keuangan untuk mereka yang mendukung resolusi tersebut.

Sembilan anggota yang menentang resolusi tersebut adalah Amerika Serikat, Israel, Guatemala, Honduras, Kepulauan Marshall, Mikronesia, Nauru, Palau, dan Togo; suara abstain antara lain diberikan oleh Kanada dan Meksiko; sedangkan suara dukungan diberikan empat anggota tetap Dewan Keamanan PBB (China, Prancis, Rusia dan Inggris) serta sekutu utama AS di dunia Muslim. Ada 21 negara yang tidak ikut dalam pemungutan suara.

Siti Efi Farhati

Setelah pemungutan suara, juru bicara departemen negara AS Heather Nauert mengatakan AS sedang mengeksplorasi "berbagai pilihan" dan belum ada keputusan yang dibuat.

Kedaulatan Israel atas Yerusalem tidak pernah diakui secara internasional, dan semua negara saat ini mempertahankan kedutaan mereka di Tel Aviv. Sebaliknya, Presiden Trump memerintahkan departemen luar negeri AS memindahkan kedutaan AS untuk Israel ke Yerusalem.

Majelis Umum PBB beranggotakan 193 negara tersebut mengadakan sesi khusus darurat atas permintaan negara-negara Arab dan Muslim, yang mengecam keputusan Trump. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Pemurnian Aqidah, RMI NU Siti Efi Farhati

Senin, 12 Februari 2018

Hasyim Muzadi : Fatayat Harus Jadi Organisasi Kader

Jakarta, Siti Efi Farhati
Ketua Umum PBNU mengharapkan agar Fatayat NU yang merupakan badan otonom pemuda perempuan memposisikan diri sebagai organisasi kader, bukan organisasi massa. “Kalau para pemimpinnya berkualitas tentu saja massa dengan sendirinya akan ikut,” tandasnya dalam pidato pembukaan Kongres ke XIII Fatayat NU di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta (11/7).

Hasyim dalam forum tersebut juga mengemukakan agar pada kader Fatayat bisa membedakan antara keserasian peran dengan kesetaraan gender. Dalam banyak kasus yang ditemuinya selama ini seringkali banyak aktifis perempuan yang tak dapat membedakan hal tersebut.

Kasus yang dicontohkannya yang tak sesuai dengan nilai Islam, khususnya di Barat adalah hak untuk kawin sesame jenis. Sementara untuk di Indonesia adalah keinginan dari sebagian aktifis untuk memasukkan dalam UU bahwa seorang istri yang dipaksa melakukan hubungan seks sementara dia tidak mau termasuk kasus perkosaan.

Pertemuan lima tahunan ini diikuti oleh sekitar 1200 orang dari 333 cabang dan 32 wilayah. Hadir juga wakil dari pengurus cabang istimewa Fatayat Malaysia. Sampai acara dibuka beberapa peserta yang menggunakan transportasi kapal laut belum sampai di tujuan.

Selain acara persidangan, juga terdapat bazaar yang menampilkan pernik-pernik produk tentang Fatayat seperti pin, logo, kaos dan lainnya. Terdapat pula posko KB dan HIV/AIDS. Ini sekaligus sebagai media untuk sosialisasi tentang kesehatan reproduksi.

Ketua Panitia Kongres dr. Wan Nedra Komaruddin menjelaskan bahwa acara ini memang sengaja dilaksankan saat libur sekolah karena sebagian besar pengurus Fatayat memiliki profesi sebagai pengajar.

Pembukaan ini sekaligus digunakan untuk memberikan penghargaan kepada tujuh orang yang dianggap berjasa dalam mengembangkan Fatayat. Mereka yang menerima bros emas tersebut adalah tiga serangkai pendiri Fatayat Huzaimah Mansyur, Aminah Mansyur dan Murthosiah. Pembuat lambang Fatayat Maryam Thoha, pencipta mars Fatayat M Thoifur Syaerozy serta Matsani Muzayyin dan Husnul Khotimah Sali yang mendedikasikan hidupnya untuk Fatayat. Sebagian besar dari mereka tidak dapat hadir dan diwakili oleh kerabatnya atau pengurus Fatayat setempat.

Beberapa agenda yang dibahas dalam pertemuan tersebut adalah perubahan batasan umur dari 40 tahun menjadi 45 tahun. Restrukturisasi kepengurusan dari 4 ketua menjadi 6 ketua yang masing-masing akan berkonsentrasi penuh dalam satu bidang.

Posisi pembina yang dulu dipegang oleh mantan ketua umum Fatayat juga akan dirubah menjadi dewan pembina yang terdiri dari beberapa orang. Mereka akan menjalankan fungi yudikatif untuk menyelesaikan perselisihan yang terjadi dalam internal anggota.(mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati RMI NU Siti Efi Farhati

Hasyim Muzadi : Fatayat Harus Jadi Organisasi Kader (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim Muzadi : Fatayat Harus Jadi Organisasi Kader (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim Muzadi : Fatayat Harus Jadi Organisasi Kader

Selasa, 06 Februari 2018

Islam Indonesia Diharapkan sebagai Rujukan Islam Moderat

Semarang, Siti Efi Farhati

Bagaimana memahami dinamika Islam dan politisasi atas Islam akhir-akhir ini? Islam dan politisasi atas Islam, yang disebut sebagai Islamisme, perlu dimaknai sebagai refleksi dinamika sosial-politik dalam konteks relasi muslim dengan modernitas, dengan tantangan radikalisme, gerakan politik khilafah, dan bahkan terorisme.

Islam Indonesia Diharapkan sebagai Rujukan Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Indonesia Diharapkan sebagai Rujukan Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Indonesia Diharapkan sebagai Rujukan Islam Moderat

Hal tersebut menjadi inti diskusi dan bedah buku Islam dan Islamisme, karya intelektual muslim Bassam Tibi, yang diterbitkan Mizan (2016). Bedah buku yang diselenggarakan oleh BEM FKIT (Fakultas Keguruan dan Ilmu Tarbiyah) UIN Walisongo pada Kamis (29/9) ini, menghadirkan Dr. Haidar Bagir (Pendiri Gerakan Islam Cinta) dan Dr. Tedi Kholiluddin (aktivis PW Nahdlatul Ulama Jawa Tengah & Dosen UIN Walisongo Semarang), yang dimoderatori Dr. Rikza Chamami, M.Pd (Dosen UIN Walisongo).

Haidar Bagir mengajak cendekiawan muslim dan para mahasiswa yang menjadi penggerak komunitas, agar bersatu menebarkan Islam yang damai. "Selama ini, orang-orang muslim moderat cenderung diam, ketika ada kelompok kecil muslim yang keras dalam beragama. Akan tetapi, jika dibiarkan mereka akan semakin kuat. Mari kita bersama aktif untuk mengkampanyekan Islam yang menebar rahmat dan cinta kasih," terang Haidar.

Siti Efi Farhati

Haidar Bagir mencontohkan, bahwa jika dibiarkan, seperti orang baik yang tidak peduli pada kelompok preman, maka kelompok Islam garis keras akan menjadi kuat, sehingga merusak inti ajaran Islam yang sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad.

Siti Efi Farhati

Haidar juga mengungkap bahwa, fenomena Islam politik, yang disebut Bassam Tibi sebagai Islamisme, harus direspon secara jernih. Islamisme itu mendukung demokrasi, namun hanya sebagai kamuflase, hanya demokrasi kota suara, padahal sebenarnya mereka bergerak untuk menegakkan sistem khilafah, inilah yang harus diwaspadai.

"Jika kelompok Islamiyyun mementingkan gerakan politik sebagai puncak keberislaman, maka saya lebih setuju jika puncak keislaman adalah ihsan, yakni tindakan kebaikan," tegas Haidar. Ia merujuk pada pemikirannya, bahwa muslim Indonesia harus memahami rukun islam, rukun iman dan rukun ihsan.

Sementara, Tedi Kholiluddin menegaskan bahwa khilafah bukanlah solusi dari semua tantangan hidup manusia. "Tidak semua hal harus diselesaikan dengan khilafah. Hal-hal yang terkait dengan kehidupan teknis, ya harus diselesaikan dengan cara kemanusiaan," ungkap Tedi. Intinya, gerakan Islam politik sering hanya mengejar ilusi.

Di sisi lain, Tedi berkeyakinan bahwa model Islam Indonesia dapat menjadi rujukan utama Islam moderat bagi komunitas warga dunia. "Bassam Tibi sudah menyampaikan gagasan bagaiman Islam moderat ala Indonesia menjadi alternatif gagasan. Saya kira ini momentum penting, bahwa perubahan berkeislaman itu dari pinggir, yakni dari kawasan Nusantara," ungkap Tedi.

Dalam analisanya, Tedi mengkritik bahwa kelompok Islam politik membangun jalur ganda dalam memperjuangkan gagasannya, yakni dari struktur kekuasaan maupun dari jalur warga. "Kelompok Islamisme bergerak di struktur politik, dan juga merangsek dengan menggarap komunitas warga. Di kota-kota satelit Jakarta, hal ini sudah mulai marak. Misalnya, cluster-cluster pemukiman yang anggotanya hanya dari kelompok mereka," terang Tedi.

Ia berharap bahwa Islam Indonesia menjadi rujukan untuk mengenalkan konsep Islam moderat, yang dapat menjadi referensi bagi masyarakat muslim dunia yang kehilangan arah. (Zulfa/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nahdlatul, Pahlawan, RMI NU Siti Efi Farhati

Senin, 05 Februari 2018

Ini Program Prioritas Fatayat NU Jombang

Jombang, Siti Efi Farhati. Tekad dalam memberikan yang terbaik bagi kiprah kepengurusan PC Fatayat NU Jombang Jawa Timur menjadi komitmen bersama para pengurus. Hal ini sebagai bukti bahwa mereka adalah kader perempuan terbaik yang ingi berkhdmat bagi organisasi dan umat.

Ini Program Prioritas Fatayat NU Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Program Prioritas Fatayat NU Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Program Prioritas Fatayat NU Jombang

"Ada tujuh program prioritas yang telah kami matangkan pada kegiatan rapat kerja pengurus beberapa waktu yang lalu," kata Ketua PC Fatayat NU Jombang, Ema Umiyyatul Chusnah kepada Siti Efi Farhati (6/10). Ketujuh program tersebut merupakan implementasi antara pemberdayaan pengurus dan khidmat yang lebih nyata bagi kiprah di masyarakat, lanjutnya.

Ning Ema, sapaan akrabnya menandaskan bahwa tujuh  hal yang menjadi penguatan internal organisasi didapat dari sejumlah bidang program prioritas yakni, Bidang Pengembangan Organisasi, Pendidikan dan Pengkaderan. "Tujuan dari bidang ini adalah pengembangan organisasi, pendidikan dan pengkaderan demi meningkatkan kualitas sumber daya Fatayat NU melalui pendidikan, pelatihan dan pembinaan anggota serta mengoptimalisasikan program sehingga kegiatan organisasi bisa berjalan efektif dan efisien," tandas Ketua Fraksi Partai Persatuan Pembangunan DPRD Jombang ini.

Siti Efi Farhati

Isu yang menyangkut kesadaran hukum, politik dan advokasi juga menjadi perhatian kepengurusan periode 2014-2019 ini. "Tujuan dari bidang hukum, politik dan advokasi adalah terwujudnya keadilan hukum, terpenuhinya hak-hak politik perempuan, terlaksananya perlindungan perempuan dan anak dan kebutuhan dasar hidup sebagai warganegara," tandas putri Wakil Bupati Jombang ini.

Di luar itu ada juga bidang kesehatan dan lingkungan hidup, pengembangan ekonomi, dakwah serta penelitian dan pengembangan atau Litbang.

Siti Efi Farhati

"Yang pasti, seluruh bidang ini telah dipasrahkan kepada para kader yang memiliki basic pengetahuan dan keterampilan yang memadai," tandasnya. Kompetensi yang diperoleh dari latarbelakang pendidikan serta provesi yang tengah digeluti adalah beberapa pertimbangan yang menjadi ukuran bagi kepengurusan sesuai bidang yang ada.

Ketua PC Fatayat NU periode kedua ini menandaskan bahwa terdapat banyak kader potensial dengan berbagai latar belakang yang dihimpun dalam kepengurusannya. "Pertimbangan utama adalah kepengurusan yang mau bekerja dan mengabdi, bukan semata memiliki titel berderet dan kebanggaan lain," tarangnya. Karena itu, sebelum masuk di kepengurusan, upaya seleksi bagi komitmen untuk mengabdi menjadi kata kunci, lanjutnya.

Salah seorang jajaran pengurus di Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang ini sangat bangga ternyata semakin banyak perempuan aktivis yang berkenan bergabung di kepengurusan PC Fatayat NU Jombang. "Kodrat sebagai perempuan domestik yang berkutat dengan kegiatan kerumahtangaan ternyata tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk berkhidmat kepada umat," bangganya.

Di tengah tempaan dan godaan jaman yang semakin kompleks, Ning Ema berharap "Semoga kepengurusan yang ada bisa lebih optimal dalam mengabdi dan mampu memberikan sumbangsih yang besar bagi masyarakat khususnya perempuan muda NU di seluruh pelosok kota santri ini," pungkasnya. (Syaifullah/Abdullah Alawi)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati RMI NU Siti Efi Farhati

Minggu, 04 Februari 2018

KH Maruf Amin Terima Anugerah Gelar Doktor Kehormatan

Jakarta, Siti Efi Farhati. Mustasyar PBNU KH Ma‘ruf Amin menerima penganugerahan Gelar Doktor Kehormatan (Doktor Honoris Causa) dalam bidang Hukum Ekonomi Syariah dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pengukuhan gelar kehormatan baru baginya, dilangsungkan di Auditorium Prof. Dr. Harun Nasution, kompleks UIN Syahid Jakarta, Sabtu (5/5).

KH Maruf Amin Terima Anugerah Gelar Doktor Kehormatan (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Maruf Amin Terima Anugerah Gelar Doktor Kehormatan (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Maruf Amin Terima Anugerah Gelar Doktor Kehormatan

Penganugerahan gelar kehormatan diberikan secara simbolis oleh Komarudin Hidayat, Rektor UIN Syahid Jakarta. Sekurangnya 600 orang baik dari kalangan akademisi maupun umum, turut hadir menyaksikan pengukuhan gelar kehormatan bagi Kiai Ma‘ruf. Tepuk tangan mereka, menggema di ruang auditorium kampus tersebut saat penyerahan gelar simbolis berlangsung.

Sidang Senat Terbuka UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 5 Mei 2012, memutuskan bahwa Kiai yang menduduki posisi Mustasyar PBNU ini layak menerima Gelar Doktor Kehormatan.

Siti Efi Farhati

“Kiai Ma‘ruf Amin adalah seorang ulama yang cemerlang dalam ilmu Hukum Ekonomi Syariah dan motor penggerak Ekonomi Syariah Indonesia,” ungkap Atho Mudzhar dalam pidato sambutannya selaku promotor I.

Siti Efi Farhati

Menurut M Amin Suma, Promotor II, penganugerahan Gelar Doktor Kehormatan bagi Kiai Ma‘ruf hingga tindak lanjut penganugerahan hari ini, sudah diusulkan sejak Januari 2011 lalu.

“Penganugerahan Doktor HC ini lebih bisa dipertanggungjawabkan dari banyak sisinya, bila kurang tepat dinyatakan dari semua seginya. Termasuk dari segi yuridis adaministratif, di samping terutama dari sudut pandang pertimbangan ilmiah akademik dan kepatutan lainnya,” tegas Amin Suma.

Lebih-lebih dari sisi pandang jasa-jasa besar dan luar biasa KH Ma‘ruf Amin melalui pengabdian dan ilmu pengetahuannya kepada umat dan masyarakat, serta kepada agama, nusa, dan bangsa Indonesia, tandas Amin Suma.

Sebanyak 37 karangan bunga yang berisikan ucapan selamat, berjajar menghiasi muka gedung auditorium sehingga menutupi sebagian gedung rektorat yang berhadapan dengan ruang dimana acara berlangsung. Ucapan selamat dalam karangan bunga, dikirim oleh kolega, kampus, dan sejumlah instansi yang mengikuti jejak kiprah KH. Ma‘ruf Amin.

Acara ditutup dengan doa. Sebelum doa, rektor UIN Syahid Jakarta mengetuk palu sebanyak 3 kali. Dengan ketukan palu di atas mejanya, ia mengatakan bahwa Sidang Senat Terbuka UIN Syahid Jakarta secara resmi ditutup berbarengan dengan ketukan palu.

Usai sidang ditutup, sekurangnya 20 Dewan Senat Terbuka meninggalkan ruangan dengan mengucapkan selamat bagi KH. Ma‘ruf Amin. Akhirnya, Kiai Ma‘ruf yang masih keturunan Syekh Nawawi Albantani ini, mesti rela mengulurkan tangan menyambut seratus lebih antrean pengunjung yang ingin mengucapkan selamat padanya.

Redaktur : Syaifullah Amin

Penulis     : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati RMI NU, Syariah, Kyai Siti Efi Farhati

Rabu, 24 Januari 2018

ISNU Sidoarjo Beri Motivasi Spiritual Anak-anak Korban Puting Beliung

Sidoarjo, Siti Efi Farhati. Bencana puting beliung yang melanda Desa Terungkulon dan Keboharan Krian beberapa hari lalu, masih menyisahkan rasa trauma bagi warga terutama bagi anak-anak. Untuk mengobati rasa itu, Pengurus Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (PC ISNU) Sidoarjo melakukan pemulihan psikis anak-anak korban puting beliung di Desa Terung Kulon dengan memberikan motivasi spiritual dan mengajak mereka bermain, Ahad (19/2).

ISNU Sidoarjo Beri Motivasi Spiritual Anak-anak Korban Puting Beliung (Sumber Gambar : Nu Online)
ISNU Sidoarjo Beri Motivasi Spiritual Anak-anak Korban Puting Beliung (Sumber Gambar : Nu Online)

ISNU Sidoarjo Beri Motivasi Spiritual Anak-anak Korban Puting Beliung

Ketua PC ISNU Sidoarjo, Sholehuddin menyampaikan bahwa sedikit anak-anak yang tidak masuk sekolah karena masih trauma atas kejadian yang mencekam beberapa waktu yang lalu. Karena itu, PC ISNU Sidoarjo memutuskan program pemulihan kejiwaan para korban, mengingat hal ini belum ada yang menangani, padahal ini persoalan serius.

Ia menegaskan bahwa, setiap musibah itu datang dari Allah SWT. Sebagai hamba-Nya yang beriman, harus menerima ujian itu dengan penuh kesabaran, karena Allah bersama dan cinta orang-orang yang sabar.

"Yakinlah, ada hikmah di balik setiap musibah. Semoga dengan kesabaran kita, Allah SWT membalas dengan berlipat lipat pahala dan kebaikan," katanya.

Siti Efi Farhati

Berdasarkan masukan dari berbagai pihak, selain logistik, kesehatan dan recovery bangunan yang rusak adalah pemulihan psikis korban yang alami trauma. Oleh sebab itu, kegiatan yang digagas oleh ISNU Sidoarjo ini mendapatkan respon positif dari anak-anak terutama Kepala Desa setempat.

Kegiatan pemulihan psikis akibat trauma pasca bencana yang bertajuk Ceria Bersama ISNU itu diikuti sekitar 70 anak. Mereka benar-benar menikmati kegiatan dengan penuh keceriaan. Pasalnya, tim trauma center ISNU yang dikoordinir oleh M Nuh, bersama anggotanya, menyajikan berbagai permainan, dari tanpa alat sampai dengan permainan dengan menngunakan alat. Tepuk tanga dengan variasi, latihan konsentrasi, mencari kelompok, dan lain sebagainya.

Di akhir sesi, acara ditutup dengan istighfar dan doa sebagai refleksi. Dilanjutkan dengan penyerahan bingkisan berupa alat-alat tulis dan snack, yang diserahkan oleh Ketua ISNU Sidoarjo, Sholehuddin dan diserahkan kepada tokoh pemuda Desa Terung Kulon, Dartok yang mewakili Kepala Desa setempat. Dengan diiringi Shalawat Badar, seluruh bingkisan diserahkan oleh PC ISNU Sidoarjo kepada perwakilan kades. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati RMI NU, Kyai Siti Efi Farhati

Jumat, 19 Januari 2018

Pelajar NU Harus Jadi Generasi Emas Aswaja

Pamekasan, Siti Efi Farhati - Saat mengisi acara Daurah Aswaja di Auditorium STAIN Pamekasan, Kiai Marzuqi Mustamar mengapresiasi semangat Pengurus Cabang IPNU-IPPNU Kabupaten Pamekasan dalam menjalankan roda organisasi, Ahad (22/1). Kiai Marzuki mendoakan semoga para pelajar NU terus berkiprah dalam mencerdaskan diri dan bangsa ini.

"Kalian harus jadi generasi emas Aswaja, yaitu generasi yang selalu mengedepankan nilai-nilai kemoderatan, toleransi, adil, dan selalu menebar kebaikan dengan cara yang santun,"? tegas Pengasuh Pesantren Sabilurrosyad Malang tersebut.

Pelajar NU Harus Jadi Generasi Emas Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Harus Jadi Generasi Emas Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Harus Jadi Generasi Emas Aswaja

Menurutnya, NU insyaallah akan terus jaya mana kala para pelajarnya terus berada pada garis perjuangan ulama. Karenanya, pelajar NU harus fokus belajar keagamaan yang berhaluan Aswaja, tidak perlu nyelenih dengan aliran-aliran yang tidak jelas sanad keilmuannya.

Siti Efi Farhati

Dalam kesempatan itu, Kiai Marzuki membagikan ratusan kitab Muhtashor al-Muqtathofat li Ahlilbidayat kepada hadirin. Pihaknya berpesan agar kitab karangannya tersebut dikaji.

"Jika isinya baik, amalkanlah. Jika ada yang perlu diluruskan, kami selalu terbuka pada kritikan," tukas Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur tersebut.

Siti Efi Farhati

Sementara itu, Ketua PC IPNU Pamekasan Kadarisman mengungkapkan, peserta Dauroh Aswaja terdiri dari para pelajar NU se-Kabupaten Pamekasan. Selain itu, hadir pula para kiai, pimpinan kampus, sesepuh NU, dan petinggi NU di Kabupaten Pamekasan.

"Alhamdulillah acara ini mendapat sambutan hangat dari seluruh elemen warga nahdliyin," ujar pemuda asal Desa Kertagena Tengah, Kadur, Pamekasan tersebut.

Usai acara, tambah Kadarisman, nanti pengurus akan menindaklanjutinya dengan melangsungkan kajian kitab yang diberikan oleh Kiai Marzuki. Itu dipandang perlu supaya kegiatan PC IPNU-IPPNU Pamekasan tidak berhenti di seremonialnya saja. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nahdlatul Ulama, Doa, RMI NU Siti Efi Farhati

Rabu, 17 Januari 2018

PMII Solo: Kembalikan Kedaulatan dan Peran Rakyat dalam Demokrasi!

Solo, Siti Efi Farhati. Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang telah ditetapkan oleh DPR RI beberapa waktu lalu terus memicu kecaman dan penolakan dari masyarakat di berbagai daerah.

PMII Solo: Kembalikan Kedaulatan dan Peran Rakyat dalam Demokrasi! (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Solo: Kembalikan Kedaulatan dan Peran Rakyat dalam Demokrasi! (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Solo: Kembalikan Kedaulatan dan Peran Rakyat dalam Demokrasi!

Sejumlah aktivis dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) bersama Gerakan Masyarakat Solo (Gemas) turut menyuarakan tuntutan mereka dalam aksi longmarch yang digelar pada Kamis (2/10).

Massa aksi mulai berjalan dari Kampus UNS Mesen di Jalan Urip Sumoharjo pukul 10.00 WIB menuju Bundaran Gladag Jalan Brigjen Slamet Riyadi, Solo, Jawa Tengah. Dengan membawa berbagai spanduk bertuliskan penolakan terhadap UU Pilkada, mereka juga mengajak masyarakat untuk mengisi formulir gugatan yang akan diajukan ke Mahkamah Konstitusi (MK) di Jakarta.

Siti Efi Farhati

Ketua Umum PMII Cabang Kota Solo yang juga sebagai menjadi Koordinator Aksi, Ahmad Rodif Hafidz dalam orasinya menegaskan dengan adanya UU Pilkada yang mengatur pemilihan kepala daerah dipilih oleh DPRD mengindikasikan bahwa masyarakat bakal diajak bernostalgia dengan rezim orde baru yang gemar mengebiri hak rakyat.

“Selama 32 tahun rakyat dibungkam dan berbagai haknya dikebiri. Tanpa pandang bulu, siapapun yang berani menentang pandangan pimpinan orde baru tersebut langsung ‘disikat’. Sedangkan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) justru makin merajalela,” ungkapnya.

Siti Efi Farhati

Selain itu, menurutnya hal tersebut akan menodai reformasi 1998 yang dicita-citakan membawa perubahan Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik, berdaulat, demokratis, dan bermartabat.

“16 tahun pascareformasi, Indonesia yang terus belajar dan mengembangkan demokrasi untuk menuju nilai-nilai Pancasila yang ideal, justru akan dibuat mundur kembali oleh elite politik di negeri ini,” paparnya.

Dalam aksi tersebut, disampaikan pula pernyataan sikap, yang antara lain mengajak masyarakat untuk bersama-sama menolak disahkannya UU Pilkada. “Kembalikan kedaulatan dan peran rakyat dalam demokrasi,” tegas Rodif. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pendidikan, Nahdlatul, RMI NU Siti Efi Farhati

NU Care-LAZISNU Bagi-bagi Ratusan Ta’jil bagi Pengguna Jalan

Jakarta, Siti Efi Farhati

NU Care-LAZISNU (Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah) mengadakan pembagian ta’jil melalui kegiatan Ta’jil on The Road yang untuk pertama kalinya digelar pada Rabu (8/6) sore. Lokasi Ta’jil on The Road pada hari ketiga Ramadhan tahun ini adalah di sekitar perempatan lampu merah Universitas YAI-Salemba, Jakarta Pusat.

NU Care-LAZISNU Bagi-bagi Ratusan Ta’jil bagi Pengguna Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Care-LAZISNU Bagi-bagi Ratusan Ta’jil bagi Pengguna Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Care-LAZISNU Bagi-bagi Ratusan Ta’jil bagi Pengguna Jalan

Sebanyak 400 paket ta’jil dibagikan kepada warga dan pengguna kendaraan bermotor yang melintas. Program ini bertujuan untuk memberikan kemudahan bagi warga yang masih berada di perjalanan pada saat atau mendekati waktu berbuka puasa tiba.

Ta’jil on The Road akan diadakan beberapa kali dalam bulan Ramadhan tahun ini, dengan lokasi yang berbeda-beda.

Siti Efi Farhati

Dalam Ta’jil on The Road selain melakukan pembagian ta’jil, NU Care-LAZISNU juga mengampanyekan beberapa program lain, salah satunya gerakan “Ayo Bangun 1000 Pondok Pesantren Kobong untuk Indonesia Hebat”.

Siti Efi Farhati

Seperti diberitakan sebelumnya, gerakan tersebut juga bagan dari cara NU Care LAZISNU dalam mengajak warga untuk turut serta membangun pondok pesantren kobong sebagai pesantren khas yang banyak terdapat di Provinsi Banten. (Kendi Setiawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Jadwal Kajian, Santri, RMI NU Siti Efi Farhati

Minggu, 14 Januari 2018

Meziarahi Makam Pencipta Nama dan Lambang NU

Surabaya, Siti Efi Farhati

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Surabaya merayakan hari lahir (harlah) yang jatuh pada 16 Rajab 1437 H atau bertepatan dengan 24 April 2016 dengan berziarah makam para pendiri atau orang-orang yang berjasa besar terhadap NU.

Meziarahi Makam Pencipta Nama dan Lambang NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Meziarahi Makam Pencipta Nama dan Lambang NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Meziarahi Makam Pencipta Nama dan Lambang NU

Makam yang dikunjungi, antara lain Sunan Ampel, pencipta nama NU KH Mas Alwi Abdul Azis, Sunan Bungkul yang dikenal sebagai kakek Sunan Ampel, lalu pencipta lambang NU KH Ridlwan Abdullah di kompleks makam Tembok, Surabaya.

"Instruksi PBNU, peringatan Harlah ke-93 tahun ini digelar secara sederhana. Malam ini (Sabtu) ziarah ke makam Sunan Bungkul menjadi titik terakhir ziarah ke muassis. Di makam Sunan Bungkul sekalian digelar tahlilan," kata ketua PCNU KH Mubibbin Zuhri.



Siti Efi Farhati

Kisah Lambang NU

Siti Efi Farhati



Bersamaan Harlah ke-93 ini, Wakil Katib PCNU Surabaya Ustadz Maruf Khozin membuat catatan tentang penuturan Gus Saiful Halim, cucu KH Ridlwan Abdullah. Pada catatan yang dibagikan ke Nahdliyin ini disampaikan sejarah pendirian NU. Setelah malam didirikan, para kiai meminta Kiai Ridlwan membuat lambang NU. Mengapa Kiai Ridlwan yang ditunjuk?

Cucu KH Ridlwan, Gus Saiful Halim menceritakan bahwa setelah mondok di Syaikhona Kholil Bangkalan, Kiai Ridlwan pernah bekerja di rumah orang Belanda. Pemilik rumah tersebut adalah pelukis. Suatu ketika tanpa disengaja Kiai Ridlwan menumpahkan tinta di kanvas lukisannya. Kiai Ridlwan gugup dan sedih, namun memberanikan diri memperbaiki lukisan tersebut sebisanya.

Dan ternyata si tuan Belanda tersebut tidak marah karena hasil lukisan Kiai Ridlwan bagus. Maka sejak itulah bakat seni melukis Kiai Ridlwan terlihat.

Pada Kiai Ridlwan, para Kiai memberi syarat kriteria lambang NU. Hadratussyekh KH Hasyim Asyari ketika itu mengatakan, "Membuat lambang NU tidak meniru lambang lain, lambang tersebut harus punya haibah, tidak membosankan sampai kapan pun.”

Menurut Ustadz Ma’rif Khozin, tidak mudah di masa itu dengan membandingkannya di masa digital sekarang. Syarat pertama tadi karena sebelum berdirinya NU, sudah ada Muhammadiyah dan Persis yang juga memiliki lambang.

“Beberapa lambang telah beliau buat, beliau ajukan ke beberapa kiai, selalu ditolak dan tidak diterima. Seolah beliau sudah habis inspirasinya, maka beliau salat Istikharah meminta petunjuk kepada Allah, maka pada jam 3 sebelum Subuh setelah beliau merebahkan tubuh. Kiai Ridlwan bermimpi ada bumi yang dikelilingi 9 bintang,” katanya.

Ini membuatnya terperanjat dan menulisnya secara sederhana di atas kertas. Setelah salat Subuh Kiai Ridlwan menyempurnakan gambar tersebut. Paginya, ia sampaikan kepada beberapa Kiai, termasuk Rais Akbar. Kiai Ridlwan menyampaikan bahwa ini hasil istikharah.

Di lain pihak, Kiai Nawawi Sidogiri juga mendapat Istikharah Surat Ali Imran 103, yaitu tentang Tali Allah, yang oleh Kiai Wahab diilustrasikan dengan 2 tali terikat di bawah. Maka saat kongres NU pertama di Peneleh Surabaya lambang NU telah sempurna. (Maulana/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Doa, Tegal, RMI NU Siti Efi Farhati

Senin, 08 Januari 2018

Menuju Solo Kota Santri

Solo, Siti Efi Farhati. Setelah menamakan dirinya sebagai Kota Sholawat, beberapa warga di Solo kini mencoba untuk memberikan predikat baru kotanya, Solo Kota Santri. Wacana sebutan ini akan diawali dengan kegiatan tablig akbar di Masjid Agung Solo, Ahad (13/10) besok.

Menuju Solo Kota Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Menuju Solo Kota Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Menuju Solo Kota Santri

Dengan mengambil tema Menuju Solo Kota Santri, acara ini diperkirakan akan dihadiri 20.000-an umat Islam dari berbagai daerah di Soloraya.

Penggagas acara ini, Habib Naufal bin Muhammad al-Aydrus, mengatakan dalam acara tersebut akan diadakan acara tanya jawab, di samping untuk menanyakan persoalan keagamaan juga terkait dengan wacana Solo Kota Santri ini.

Siti Efi Farhati

“Konsep acaranya dialog. Jadi kita semua tahu apa yang menjadi keinginan umat,” ungkap pimpinan Majelis Ilmu dan Dzikir Ar-Raudhah tersebut, Kamis (10/10).

Siti Efi Farhati

Menurutnya, selain untuk mewacanakan Solo Kota Santri, kegiatan ini juga untuk menyemarakkan Masjid Agung. “Selama ini ada kesan masjid sepi dari kegiatan keagamaan. Apalagi akses menuju masjid kurang strategis,” imbuhnya.

Terkait wacana ini, Ketua GP Ansor Solo, Muhammad Anwar menanggapi bahwa sah-sah saja untuk memberi nama untuk pencitraan yang baik. “Dulu Solo Kota Shalawat, sekarang Solo Kota Santri. Yang penting sebetulnya tindak lanjut setelahnya, jadi tidak hanya sekadar namanya saja,” kata Anwar. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati RMI NU Siti Efi Farhati

Selasa, 02 Januari 2018

Maulid NU Sukoharjo Dibarengkan Pelantikan Muslimat

Sukoharjo, Siti Efi Farhati. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Sukoharjo menggelar Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Agung Sukoharjo, Kamis (22/1) malam. Meskipun turun hujan, tak membuat langkah para jamaah surut untuk menghadiri acara yang dibarengi dengan pelantikan Muslimat NU Sukoharjo.

Maulid NU Sukoharjo Dibarengkan Pelantikan Muslimat (Sumber Gambar : Nu Online)
Maulid NU Sukoharjo Dibarengkan Pelantikan Muslimat (Sumber Gambar : Nu Online)

Maulid NU Sukoharjo Dibarengkan Pelantikan Muslimat

Menurut Sekretaris PCNU Sukoharjo Lasimin, “Acara malam ini semoga bisa menjadi ‘Genderang NU’. Semangat NU kita gelorakan di hati, kibarkan ijo-ijo genderane NU untuk NKRI,” terang Lasimin.

Usai tahlilan yang dipimpin Ketua JATMAN Sukoharjo KH Choirul Anwar, jamaah membaca bersama Maulid Shimtud Dhuror. Pembacaan Shimtud Dhuror makin semarak diiringi tabuhan grup rebana dari MWCNU Sukoharjo. Para Ibu dari Muslimat pun ikut mememeriahkan dengan menabuh rebana.

Siti Efi Farhati

Maulid akbar kali ini menghadirkan Habib Muhammad bin Ahmad Vad’aq dari Bekasi sebagai penceramah. Tampak hadir dalam kerumunan jamaah Rais Syuriyah PCNU Sukoharjo KH Ahmad Baidhowi, Ketua PCNU Sukoharjo H Nagib Sutarno.

Dalam ceramahnya, Habib Muhammad bin Ahmad Vad’aq mengajak untuk memperkuat rasa cinta kita kepada Nabi. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati PonPes, RMI NU Siti Efi Farhati

Senin, 01 Januari 2018

Harlah dan Maulud Nabi di Istora Senayan

Jakarta, Siti Efi Farhati
Muslimat NU akan mengadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang sekaligus merupakan Harlah ke 57 di Istora Senayan. Acara yang rencananya akan dihadiri oleh 15 ribu orang mengambil tema “Meningkatkan persaudaraan Kebangsaan Membangun Indonesia Damai Sejahtera.”

Dalam acara tersebut KH Hasyim Muzadi, Gubernur DKI H. Sutiyoso, dan KH Abdullah Gymnastiar akan hadir, dan akan dimeriahkan dengan hiburan oleh Raja Dangdut Rhoma Irama dan Dewi Yul.

Kegiatan ini memiliki momentum strategis dalam rangka melakukan refleksi, koreksi, dan introspeksi terhadap kiprah muslimat dewasa ini agar ke depan lebih maksimal dan optimal guna turut serta mencerdaskan kehidupan bangsa, khususnya untuk kaum perempuan.

Khusus untuk menyambut peringatan Maulut Nabi Muhammad Saw dan Harlah ke 57, Muslimat DKI telah melaksanakan berbagai kegiatan pra harlah, antara lain memberikan santunan bagi anak yatim dan pengobatan cuma-cuma bagi warga yang tergolong mustda’fin wilayah DKI Jakarta.

Kegiatan lain yang bersifat kemeriahan juga dilakukan seperti lomba tumpeng, gerak jalan sehat dan berbagai kegiatan lainnya. Disamping itu telah digalang kerjasama dengan Badan Pemberdayaan Masyarakat (BPM) propinsi DKI Jakarta dalam melakukan sosialisasi kesetaraan dan keadilan jender.(mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati RMI NU, PonPes Siti Efi Farhati

Harlah dan Maulud Nabi di Istora Senayan (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah dan Maulud Nabi di Istora Senayan (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah dan Maulud Nabi di Istora Senayan

Kamis, 28 Desember 2017

Jihad Menghidupkan, bukan Mematikan

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Jihad Menghidupkan, bukan Mematikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jihad Menghidupkan, bukan Mematikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jihad Menghidupkan, bukan Mematikan

Berbicara tentang kepahlawanan, biasanya mengundang pembicaraan tentang jihad. Karena tiada kepahlawanan tanpa jihad.

Siti Efi Farhati

Ada kesalahpahaman tentang pengertian jihad. Ini mungkin disebabkan oleh seringkalinya kata itu baru terucapkan pada saat perjuangan fisik, sehingga diidentikkan dengan perlawanan bersenjata. Kesalahpahaman ini disuburkan juga oleh terjemahan yang keliru terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, yang berbicara tentang jihad, dengan anfus dan harta benda. Kata anfus seringkali diterjemahkan dengan "jiwa". Terjemahan Al-Qur’an oleh Kementerian Agama pun demikian. Misalnya:

Siti Efi Farhati

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi." (QS Al-Anfal: 72)

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar." (QS Al-Hujurat: 15)

Kata “anfus” dalam dua ayat di atas diterjemahkan oleh Kementerian Agama dengan arti “jiwa”. Walaupun ada juga yang diterjemahkan dengan "diri" seperti tercantum dalam Surat at-Taubah ayat 88.

Jamaah shalat jum’at hafidhakumullah,

Memang, dalam Al-Qur’an, banyak arti dari kata anfus, yaitu "nyawa", "hati", "jenis", dan "totalitas manusia" di mana terpadu jiwa raganya. Al-Qur’an mempersonifikasikan wujud seseorang di hadapan Allah dan masyarakat dengan menggunakan kata nafs. Kalau demikian, tidak meleset jika kata itu dalam konteks jihad dipahami dalam arti totalitas manusia. Sehingga, kata nafs mencakup nyawa, emosi, pengetahuan, tenaga dan pikiran, bahkan juga waktu dan tempat, karena manusia tidak dapat memisahkan diri darinya. Pengertian ini dapat diperkuat dengan adanya perintah berjihad tanpa menyebutkan nafs atau harta benda:

? ? ? ? ?

"Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya." (QS Al-Hajj: 78)

Sekitar 40 kali kata jihad disebut oleh Al-Qur’an dengan berbagai bentuknya. Maknanya bermuara pada "mencurahkan seluruh kemampuan" atau "menanggung pengorbanan". Mujahid adalah orang yang mencurahkan seluruh kemampuannya dan berkorban dengan nyawa atau tenaga, pikiran, emosi dan apa saja yang berkaitan dengan diri manusia. Sedangkan jihad adalah cara untuk mencapai tujuan. Jihad tidak mengenal putus asa, menyerah, bahkan kelesuan, dan tidak pula pamrih.

Jihad tidak dapat dilakukan tanpa modal, karena itu jihad disesuaikan dengan modal yang dimiliki dan tujuan yang ingin dicapai. Sebelum tujuan tersebut tercapai dan selama masih ada modal di tangan, selama itu pula jihad dituntut. Karena jihad harus dengan modal, maka mujahid tidak mengambil tetapi memberi. Bukan mujahid yang menanti imbalan selain dari Allah, karena jihad diperintahkan untuk dilakukan semata-mata karena Allah.

Jihad adalah titik tolak seluruh upaya, karenanya ia adalah puncak segala aktivitas. Ia bermula dari upaya mewujudkan jati diri, dan ini bermula dari kesadaran. Karena itu Allah menekankan: Siapa yang berjihad, maka sesungguhnya ia berjihad untuk dirinya sendiri. Allah Mahakaya, tidak memerlukan sesuatu apa pun dari seluruh alam (QS 29: 6). Dan kesadaran harus berdasarkan pengetahuan serta bertentangan dengan paksaan. Karena itulah seorang mujahid bersedia berkorban.

Jamaah shalat jum’at hafidhakumullah,

Beragam jihad, beragam pula buahnya. Buah jihad seorang ilmuwan adalah pemanfaatan ilmunya, sementara buah jihad seorang karyawan adalah karyanya yang baik, guru adalah pendidikannya yang sempurna, pemimpin adalah keadilannya, pengusaha adalah kejujurannya, demikian seterusnya.

Dahulu, ketika kemerdekaan belum diraih, jihad mengakibatkan terenggutnya nyawa, dan hilangnya harta benda. Namun bukan kematian itu sendiri yang menjadi tujuan. Tujuan jihad waktu itu justru adalah demi lestarinya kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Kalaupun nyawa melayang, itu adalah konsekuensi logis totalitas perjuangan para pahlawan.

Karena itu, jihad para pahlawan revolusi yang menumpas penjajahan dan ketidakadilan tak bisa disamakan dengan praktik bom bunuh diri yang dilakukan di negara damai. Alih-alih menghidupkan, “jihad” semacam ini justru memunculkan korban-korban dan masalah baru.

Kini, jihad harus membuahkan terpeliharanya jiwa, mewujudkan kemanusiaan yang adil dan beradab, serta berkembangnya harta benda. Jihad juga bisa berarti mencurahkan seluruh kemampuan dan berkorban dengan nyawa atau tenaga, pikiran, emosi dan apa saja untuk membangun peradaban yang lebih baik dan maslahat.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

"Apakah kamu menduga akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata pula yang tabah?" (QS Ali Imran: 142).

Semoga kita semua diberi kekuatan dan petunjuk untuk bersungguh-sungguh dalam melaksanakan sesuatu, tanpa menimbulkan kerugian bagi orang lain. Jihad sebagaimana yang dilakukan Rasulullah: perjuangan untuk sebuah peradaban yang mengenal prinsip-prinsip ketuhanan dan kemanusiaan.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.? ? ? ? ? ? ? ? ?



Khutbah II


? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Alif Budi Luhur





* Mayoritas isi materi khutbah ini mengutip tulisan M. Quraish Shihab, Lentera Hati: Kisah dan Hikmah Kehidupan, 2007 (Bandung: Mizan).


Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Daerah, RMI NU Siti Efi Farhati

IAIN Cirebon Latih Santri Al-Hidayah Kihiyang Menghafal Al-Quran

Subang, Siti Efi Farhati. Dalam rangka melaksanakan pengabdian kepada masyarakat, Prodi Ilmu Al-Quran Dan Tafsir IAIN Syekh Nurjati Cirebon bekerja sama dengan Pesantren Al-Hidayah menggelar Workshop menghapal dan memahami kata ayat Al-Quran dengan metode My Q-Map, kegiatan tersebut digelar di aula Pesantren Al-Hidayah Desa Kihiyang, Kecamatan Binong, Subang, Jawa Barat, Jumat (28/7)

"Melalui kegiatan ini diharapkan akan memudahkan para santri dan para ustadz dalam menghapal Al-Quran, karena My Q-Map dinilai sebagai metode yang mudah dan menyenangkan dalam menghapal Al-Quran," papar Ustadz Ali Imran, Pengasuh Pesantren Al-Hidayah.

IAIN Cirebon Latih Santri Al-Hidayah Kihiyang Menghafal Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
IAIN Cirebon Latih Santri Al-Hidayah Kihiyang Menghafal Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

IAIN Cirebon Latih Santri Al-Hidayah Kihiyang Menghafal Al-Quran

Ditambahkannya, metode My Q-Map merupakan metode menghafal al-Quran yang diciptakan oleh Hj Dini Widyawati, metode tersebut menggunakan media gambar yang mewakili makna dalam ayat Al-Quran, hal ini sesuai dengan prinsip kerja otak dalam menangkap sesuatu yang mudah yaitu gambar.

"Keunggulan metode My Q-Map; santri mampu menghafal ayat secara acak dan membaca dari akhir ayat sampai ke awal ayat," tambah Sekretaris MWCNU Binong itu.

Siti Efi Farhati

Sementara itu, Hj Umayah selaku Kepala Prodi Ilmu Al-Quran Dan Tafsir IAIN Syekh Nurjati Cirebon menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan kegiatan pembinaan masyarakat yang pertama kalinya dilaksanakan di Subang, karena sebelumnya pembinaan masyarakat hanya sekitar kampus saja.?

"Semoga ini menjadi awal yang baik untuk menjalin silaturahim antara IAIN Syekh Nurdjati Cirebon dengan pesantren-pesantren yang ada di kabupaten subang," imbuhnya.

Selain itu, ia juga berpesan kepada para santri agar tetap semangat dalam ? mempelajari Al-Quran sehingga diharapkan kelak mereka dapat menjadi generasi Qurani. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati IMNU, Nusantara, RMI NU Siti Efi Farhati

Kamis, 21 Desember 2017

SAS Center Luncurkan Buku Baru

Kairo, Siti Efi Farhati. Setelah melewati berbagai proses yang cukup panjang, akhirnya Said Aqil Siradj (SAS) Center–Badan Otonom PCINU Mesir berhasil meluncurkan buku terbarunya yang berjudul “Spirit Modernitas; Paradigma Islam Integral” atau “al-Islam wa al-Hadatsah, Baina al-Ittishal wa al-Infishal”. Launcing dan Bedah Buku itu dilaksanakan pada Rabu petang (29/11) bertempat di Wisma Nusantara, Rab’ah el-Adawea Kairo.

Acara yang diharidi oleh sekitar 50 peserta putra dan putri dimulai sejak pukul 15.45 WK. Hadir juga dalam acara ini Dr. Kamil Muhammad Uwaidah, Direktur Pers Dahaqalia dan anggota Persatuan Penulis Mesir.

SAS Center Luncurkan Buku Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
SAS Center Luncurkan Buku Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

SAS Center Luncurkan Buku Baru

Acara yang rencananya dibuka oleh Ketua Tanfidziyah, Muhlashon Jalaluddin, Lc. terpaksa diwakilkan kepada Arif Ramadlan selaku Sekretaris Tanfidziyah. Muhlashon sendiri ada acara penting di KBRI Kairo sehingga hanya menyampaikan salam melalui sekretarisnya bahwa ia menyambut baik dan mengucapkan selamat dan sukses kepada SAS Center. Begitu pula dengan Presiden PPMI Mesir, Nor Fuad Shofiyulloh, dalam sambutannya yang mengatakan bahwa “Dunia intelektual Masisir kini sedang menurun sehingga upaya yang dilakukan oleh SAS Center ini perlu terus dikembangkan,” tuturnya. Dalam acara launcing dan bedah buku ini, Duduk sebagai presentator empat pemikir muda Masisir; Cecep Taufiqurrahman, S.Ag. (Ketua PCIM Mesir), M. Saifuddin, S.Ag. (A’wan Syuriah PCINU Mesir), Mukti Ali (sesepuh Lakpesdam PCINU Mesir), Roland Gunawan (Direktur SAS Center) dan dimoderatori oleh Amirullah Asy’ari.

Pada sesi pemaparan oleh para pembedah, Cecep dan Saif sama-sama menghujamkan kritikan-kritikan seputar buku baru tersebut. Namun keduanya tetap menyadari bahwa banyak keunggulan dalam buku tersebut yang lebih fantastis dari pada kelemahan-kelemahannya. Jika Saif memberikan identifikasi hakiki akan makna sebuah tasawwuf dan para pelakunya (kaum sufi), maka Cecep lebih banyak mengkritik seputar teknis penulisan buku. Beliau menilai, dalam buku ini banyak digunakan diksi dan kosa kata ilmiah yang kelihatan agak dipaksakan. Karena sejauh pengetahuannya, bahwa definisi dari istilah-istilah ilmiah itu masih diperdebatkan, sehingga implikasinya dihawatirkan akan menimbulkan miss-interpretation oleh para pembacanya. Kemudian ia juga menyinggung masalah kaidah transliterasi yang dinilai belum ada standarisasinya.

“Berbeda penulisnya, berbeda pula kaidah yang dipakainya, maka hal ini akan menimbulkan kebingungan bagi para pembacanya,” tutur Cecep. Di samping itu pula Cecep juga mengkritik masalah teknis dan isi buku tersebut.

Siti Efi Farhati

Acara bedah buku nampak semakin hangat setelah memasuki sesi tanya jawab yang dalam hal ini hanya cukup diberikan kesempatan kepada 4 orang penanya. Kesempatan pertama disampaikan oleh Robith Qashidi yang menanyakan seputar judul buku dan apakah sebuah modernitas itu bisa mengantarkan pada integralitas dan sebaliknya? Disusul kemudian oleh Irwan Masduqi yang mengkritik masalah inkonsistensi judul buku dengan isinya. Jika ditilik dari judulnya, buku ini terkesan pro-integral. Namun di dalamnya justru terdapat beberapa hal yang dianggap anti-integral. Sementara itu Nailun Najah berkesempatan pula menanyakan perkembangan sekularisme di Barat dan Islam. Tak mau kalah dengan para penanya, para pembedah dan pembicara sore hari itu juga menjelaskan panjang lebar seputar pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.

Usai bedah buku, acara dilanjutkan dengan muhadharah oleh Dr. Kamil Muhammad Uwaidah. Dalam presentasinya yang menggebu, ia memaparkan kritikan-kritikan tajam terhadap kaum orientalis. Dalam rangkuman pidatonya tersebut, Dr. Uwaidah menyatakan bahwa “orientalis itu brengsek dan pasti salah!!” katanya.

“Acara ini merupakan tradisi SAS Center yang dalam kesempatan ini kepanitiannya dipercayakan pada kader-kader baru PCINU Mesir sebagai salah satu langkah re-generasi. Dengan terselenggaranya acara ini, diharapkan dapat menjadi suntikan pemicu bagi peningkatan khazanah intelektual Masisir yang seakan nampak bagaikan lemah syahwat,” kata Faiq Ihsan Ansori, selaku sekteraris panitia pelaksan dan aktifis kajian SAS Center dan Lakpesdam. [luthfi/miqdam/aan]

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pondok Pesantren, RMI NU Siti Efi Farhati

Sabtu, 16 Desember 2017

Presiden Tetapkan Keanggotaan Badan Wakaf Indonesia

Jakarta, Siti Efi Farhati. Presiden Jokowi telah menetapkan Keputusan Presiden Nomor 74/M Tahun 2017 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan dalam Keanggotaan Badan Wakaf Indonesia.

Melalui Keppres tersebut Presiden mengangkat 27 orang warga negara Indonesia menjadi anggota Badan Wakaf Indonesia (BWI) masa jabatan tahun 2017-2020.

Presiden Tetapkan Keanggotaan Badan Wakaf Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Tetapkan Keanggotaan Badan Wakaf Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Tetapkan Keanggotaan Badan Wakaf Indonesia

Nama-nama yang diangkat oleh Presiden menjadi anggota BWI masa jabatan 2017-2020 ialah sebagai berikut:



1. Prof. Dr. H. Mohammad Nuh;

Siti Efi Farhati

2. Dr. H. Slamet Riyanto, M.Si.;

Siti Efi Farhati

3. Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si.;

4. Prof. Dr. H. Muhammadiyah Amin, M.Ag.;

5. Muhammad Fuad Nasar, M.Sc.;

6. Prof. Dr. H.E. Syibli Syarjaya. LML, M.M.;

7. Dr. H. Muhammad Luthfi;

8. Ir. Jurist Efrida Robbyantono;

9. Ir. Iwan Agustiawan Fuad, M.Si.;

10. Siti Soraya Devi Zaeni, S.H., M.Kn.;

11. Ir. Rachmat Ari Kusumanto; 

12. Dr. Imam Teguh Saptono;

13. A. Muhajir, S.H., M.H.;

14. Dr. Abdul Muta’ali, M.A., M.I.P.;

15. Ahmad Wirawan Adnan, S.H., M.H.;

16. Dr. Atabik Luthfi;

17. Diba Anggraini Aris, M.E.;

18. Dr. Fahruroji, Lc., M.A.;

19. Dr. Hendri Tanjung;

20. Imam Nur Aziz, M.Sc.;

21. Drs. H. Zakaria Anshar;

22. H. Mochammad Sukron, S.E.;

23. Dr. H. Nurul Huda, S.E., M.M., M.Si.;

24. H. Nur Syamsuddin Buchori, S.E., S.Pd., M.Si., CIRBD;

25. H. Sarmidi Husna, M.A.;

26. Drs. H. Susono Yusuf;

27. Dr. Yuli Yasin, M.A.Berdasarkan Pasal 53 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf, jumlah anggota BWI terdiri atas paling sedikit 20 (dua puluh) orang dan paling banyak 30 (tiga puluh) orang. 

Struktur organisasi BWI, menurut Pasal 51 undang-undang wakaf tersebut, terdiri atas Dewan Pertimbangan dan Badan Pelaksana. Badan Pelaksana merupakan unsur pelaksana tugas BWI, sedangkan Dewan Pertimbangan merupakan unsur pengawas pelaksanaan tugas BWI. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati RMI NU, Sejarah Siti Efi Farhati

Kamis, 14 Desember 2017

Perkemahan Pramuka Madrasah Ajang Perkuat Cinta Tanah Air

Jakarta, Siti Efi Farhati. Perkemahan Pramuka Madrasah Nasional yang ke-3 oleh Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama menjadi ajang untuk memperkuat karakter bangsa, terutama menguatkan rasa patriotisme dan cinta tanah air.

Perkemahan Pramuka Madrasah Ajang Perkuat Cinta Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)
Perkemahan Pramuka Madrasah Ajang Perkuat Cinta Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)

Perkemahan Pramuka Madrasah Ajang Perkuat Cinta Tanah Air

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI Kamaruddin Amin menegaskan Perkemahan Pramuka Madrasah (PPMN) ke-3 ini menjadi salah satu program strategis Kemenag dalam menginternalisasi nilai-nilai kepramukaan.?

Menurutnya, hal ini tidak terlepas setelah seruan Menag tentang ceramah di rumah ibadah dan Deklarasi Aceh yang dikeluarkan para pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), PPMN III menjadi upaya Kemenag dalam ikut menyiapkan generasi bangsa yang cinta tanah air.

Guru Besar UIN Alauddin Makassar ini menegaskan, PPMN relevan dan penting di tengah tantangan kampanye ideologi transnasional yang merambah ke seluruh lapisan masyarakat, termasuk kalangan pelajar, dan dikhawatirkan merongrong persatuan dan kesatuan bangsa. PPMN III juga strategis karena akan dikuti lebih dari 800 pramuka penegak siswa Madrasah Aliyah dari 34 Provinsi di seluruh Indonesia.

Siti Efi Farhati

"Mereka adalah generasi masa depan bangsa dan karenanya rasa cinta Tanah Air harus ditanamkan sejak dini," terang Kamaruddin dalam konferensi pers, Selasa (9/5) didampingi Direktur KSKK Madrasah M. Nur Kholis Setiawan.

Mengangkat tema Kreatif, Terampil, dan Berkarakter, PPMN III didesain sebagai ajang kreasi dan unjuk keterampilan pramuka madrasah. Sejumlah kegiatan telah diagendakan untuk mencapai tujuan bersama menanamkan nilai dan karakter jujur, setiakawan, patriotik, serta cinta tanah air.

Siti Efi Farhati

"Mereka harus paham bahwa pendiri bangsa ini telah bersepakat untuk menjadikan Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar bernegara dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ber-Bhineka Tunggal Ika," sambungnya.

Selain melalui aktivitas kepramukaan, internalisasi tema PPMN III dilakukan melalui talkshow wawasan kebangsaan, lomba bercerita tentang Jasa Pahlawan Islam Indonesia, Pionering Aplikatif Budaya Nusantara, lomba pembuatan film cinta Tanah Air, pemecahan Rekor MURI tentang Pantun Melayu Talibun, Karnaval Budaya, Outing Kebangsaan, Ikrar Pramuka Madrasah Cinta NKRI, Bakti Sosial.

"Sementara kreatifitas dan keterampilan diperlukan dalam merespon modernitas, karakter kebangsaan yang kuat akan menjadi pondasi kehidupan berbangsa dan bernegara para calon pemimpin masa depan," ujar Kamaruddin.

Kegiatan PPMN III 2017 ini juga merupakan wujud komitmen Kemenag mengawal pelaksanaan Gerakan Nasional Revolusi Mental dan Program Nawa Cita untuk menyiapkan tunas bangsa dan generasi masa depan lebih baik dalam mengisi kemerdekaan dan membangun peradaban dunia. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Tegal, RMI NU, Nasional Siti Efi Farhati

Jumat, 01 Desember 2017

Masjid Keramat Luar Batang Jakarta Butuh Perhatian Serius

Jakarta, Siti Efi Farhati. Masjid kuno Luar Batang di kawasan cagar budaya di Jakarta Utara membutuhkan perhatian dari pemerintah pusat dan daerah, khususnya dalam pembangunan dua menaranya.

"Kami minta pemerintah pusat maupun pemerintah DKI Jakarta dapat memberikan perhatian serius untuk pembangunan masjid dan pemugarannya," kata Humas Masjid Jami Keramat Luar Batang Yudo Sukmono di Jakarta, Rabu.

Masjid Keramat Luar Batang Jakarta Butuh Perhatian Serius (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Keramat Luar Batang Jakarta Butuh Perhatian Serius (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid Keramat Luar Batang Jakarta Butuh Perhatian Serius

Dia menjelaskan, untuk saat ini pihaknya masih membutuhkan biaya untuk membangun dua menara di masjid yang dibangun pada 1732 oleh Habib Husein bin Abubakar.

Siti Efi Farhati

Masjid Jami Keramat Luar Batang yang di dalamnya terdapat makam ulama besar Habib Husein bin Abubakar dan muridnya, Haji Abdul Kadir, ditetapkan sebagai benda cagar budaya berdasarkan peraturan daerah khusus Ibukota Jakarta Nomor 9 tahun 1999.

Siti Efi Farhati

Ia mengatakan Habib Husein merupakan orang dari Yaman Selatan yang menetap di Luar Batang dan menyebarkan agama Islam di kawasan tersebut.

"Saat ini sudah ada dua menara dan pihak pembangunan merencanakan akan membangun dua lagi sehingga totalnya empat menara," katanya.

Namun Yudo Sukmono juga menyayangkan renovasi yang dilakukan sebelumnya karena telah menghilangkan banyak keasliannya.

Ia menambahkan, pembangunan masjid bersejarah yang berada di Jalan Luar batang V No 1 Penjaringan Jakarta Utara tersebut banyak bersumber dari sumbangan masyarakat.

"Banyak masyarakat yang datang dari berbagai provinsi di Indonesia bahkan luar negeri untuk mencari keberkahan melalui ziarah ke makam Habib Husein," katanya.

Ia mengatakan jumlah pengunjung pada bulan Ramadhan tidak terlalu banyak dibanding bulan-bulan lainnya.

"Sebelum Ramadhan tiba, kita telah melakukan khatam ziarah. Artinya, kegiatan mengakhiri ziarah sebelum Ramadhan dan jika ada yang datang selama bulan suci juga tidak ada masalah," katanya.

Ia menambahkan, ziarah ke makam Habib Husein hanya akan ditutup waktu shalat lima waktu.

Karena itu, pihaknya berharap Pemerintah dapat memberikan perhatian serius di tempat makam keramat yang banyak dikunjungi masyarakat dari berbagai penjuru. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati RMI NU, Kajian, Kajian Islam Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock