Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pondok Pesantren. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 Maret 2018

Yu Timah

Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta.

Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri.

Yu Timah (Sumber Gambar : Nu Online)
Yu Timah (Sumber Gambar : Nu Online)

Yu Timah

Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah. Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara.

Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati

Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa.

Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya.

Setelah emaknya meninggal Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini zaman apa. Anak itu harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga dan lagi-lagi terdampar di Jakarta . Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus. Untung di kampung kami ada pesantren kecil. Para santrinya adalah anak-anak petani yang biasa makan nasi seperti yang dijual Yu Timah.

Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di bank perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut jadi pengurus.

Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan sejak itu saya melihat Yu Timah memakai cincin emas. Yah, emas. Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.

Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah.

“Pak, saya mau mengambil tabungan,” kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.

“O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup. Bagaimana bila Senin?”

“Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.”

“Mau ambil berapa?” tanya saya.

“Enam ratus ribu, Pak.”

“Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?”

Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu.

“Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.”

Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing kurban.

“Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?”

“Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama Ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.”

“Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.”

Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.

Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri.

“Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya?” Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya. Mungkin saya juga begitu.

Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji.

?

Keterangan ilustrasi: Lukisan Affandi berjudul Pileuleuyan Ibu

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pondok Pesantren Siti Efi Farhati

Selasa, 20 Februari 2018

Tak Bersedia Ikut Pilkada Jatim, Yenny Wahid Banjir Dukungan

Jakarta, Siti Efi Farhati. Banjir dukungan sekaligus apresiasi datang dari masyarakat kepada putri kedua Gus Dur, Yenny Wahid ketika secara tegas tidak bersedia ikut berkompetisi dalam Pilkada Provinsi Jawa Timur karena sejumlah pertimbangan yang dianggapnya cukup penting.

Tak Bersedia Ikut Pilkada Jatim, Yenny Wahid Banjir Dukungan (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Bersedia Ikut Pilkada Jatim, Yenny Wahid Banjir Dukungan (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Bersedia Ikut Pilkada Jatim, Yenny Wahid Banjir Dukungan

“Tugas kesejarahan yang saya yakini adalah meneruskan perjuangan Gus Dur untuk menjaga keutuhan umat, terutama umat NU, karenanya, saya harus berdiri mengayomi semua kandidat, bukannya malah terjun ikut bertempur,” ujar Yenny, Rabu (3/1) melalui akun twitter pribadinya @yennywahid.

Namun, Direktur Wahid Foundation ini tetap berterima kasih atas tawaran Prabowo dan Partai Gerindra. Dia mengaku telah memikirkan dengan matang tawaran tersebut. Namun Yenny lebih memilih pertimbangan dari keluarganya dan para sesepuh.

"Saya mengucapkan apresiasi yang sangat dalam atas tawaran dari Pak Prabowo dan keluarga besar partai Gerindra," ucapnya.

Siti Efi Farhati

Dia menandaskan, NU telah memberikan kader-kader terbaiknya dalam Pilkada Jatim 2018, tugas kita adalah mendoakan pemimpin yang terpilih bisa membawa maslahat dan kebaikan bagi masyarakat Jatim dan memastikan agar tidak ada perpecahan di kalangan umat.

Sikap Yenny Wahid seketika mendapat banyak dukungan dari warganet. Mereka menilai langkah Yenny sudah tepat sebagai seorang santri yang berusaha mematuhi titah orang tua dan para sesepuh.

‘Tks Ning....memang begitulah seharusnya sikap warga NU, nderek nopo perintahe Kyai Sepuh,” tulis akun @sinyohariyanto.

“orang yg menghargai tata krama thdp para sesepuh sikap mbak @yennywahid sdh tepat smoga mnjadi teladan bg kita semua,” cuit akun bernama muhammad mahfud (@muhamma87797215).

Siti Efi Farhati

“Terimakasih, mbak Yenny... Ijin sesepuh jauh lebih penting, drpd napsu berkuasa org lain....Terimakasih,” ucap Fitriyah Siti (@FitriSiti21).

“Sepakat sikap sesepuh, pasti karena sayang Mbak @yennywahid,” kata akun bernama an siti maqrifah (@buahkalindungan).

Atas sikap Yenny Wahid ini, ada juga masyarakat yang mengibaratkan ketika seorang perempuan ditembak seorang lelaki agar menerima cintanya.

“Ini ibarat cewek zaman now saat ditembak cowok, kamu baik, setia tapi maaf aku masih ingin fokus kuliah," ungkap Muhammad Rizal Al-Ghazaly (@idjank_ku). 

“Saya lbh setuju nyai @yennywahid berperan dlm kegiatan2 sosial, penguatan toleransi, derakalisasi, demokrasi dll dlm misi2 universal ketimbang terjun dlm politik praktis aplgi berlwnan dg kalangan kita sendiri yg cenderung resistennya lbh terada pda akat rumput,” harap Taufikkurahman (@Upik_KR2). (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pondok Pesantren Siti Efi Farhati

Senin, 12 Februari 2018

Upacara Bendera Awali Makesta Pelajar NU Ampel

Boyolali, Siti Efi Farhati. Upacara bendera menjadi awal pembukaan Makesta PAC IPNU-IPPNU Ampel pada Sabtu (9/10). Dengan rancangan layaknya upacara pada umumnya, sebanyak 90 peserta dengan khidmad mengikuti upacara pembukaan Makesta yang dilaksanakan di Lapangan Mekarsari, Kaligentong, Ampel, Boyolali. Upacara tersebut sebagai bukti kecintaan pelajar NU Ampel kepada NKRI.

Upacara Bendera Awali Makesta Pelajar NU Ampel (Sumber Gambar : Nu Online)
Upacara Bendera Awali Makesta Pelajar NU Ampel (Sumber Gambar : Nu Online)

Upacara Bendera Awali Makesta Pelajar NU Ampel

Menurut koordinator kegiatan, Arif Syaiful Anwar, pembukaan Makesta PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Ampel memang dirancang berbeda untuk mengurangi kebosanan peserta Makesta.

"Biasanya pembukaan Makesta dilakukan indoor (dalam ruangan) dan monoton. Kita ingin buat upacara bendera agar suasana lebih khidmad, sehingga ghirah (semangat) pada NKRI dan NU tumbuh," tutur pria yang kerap disapa Arif tersebut.

Makesta PAC IPNU-IPPNU Ampel yang dilaksanakan pada 9-10 Desember 2017 di Gedung NU Center Ampel berhasil merekrut 90 kader baru. Sebagai PAC baru, jumlah tersebut terhitung cukup banyak. Sebelum diadakan Makesta, dibentuk terlebih dahulu koordinator kegiatan yang terdiri dari kader pelajar NU Ampel yang kemudian menjadi garda terdepan dalam pelaksanaan Makesta.

Siti Efi Farhati

Selain diberikan pengetahuan tentang NU, Aswaja, Organisasi, IPNU-IPPNU, para peserta juga dikenalkan dengan aparat penegak hukum dari Polsek Ampel. Pengenalan tersebut diberikan agar peserta mengenal dan lebih dekat dengan aparat penegak hukum di Kecamaran Ampel.

"Kita turut hadirkan bapak-bapak polisi di Polsek Ampel agar pelajar NU juga lebih dekat dengan aparatur negara," terang Arif.

Kegiatan pengenalan tersebut diwujudkan dengan pelatihan PBB oleh Polsek Ampel.

Siti Efi Farhati

"Walaupun PBB adanya di Diklatama CBP-KPP, akan tetapi materi tersebut kita sisipkan di Makesta agar CBP-KPP juga dikenal para pelajar NU Ampel," tambah Arif.

Ketua MWC NU Kecamatan Ampel, KH Umar Al Faruq mengungkapkan kebahagiaanya atas terselenggaranya Makesta ini.

"Kami sangat bahagia karena di Ampel banom IPNU-IPPNU sudah terbentuk. Kami sangat berharap agar kader IPNU-IPPNU nantinya menjadi kader militan yang akan meneruskan perjuangan NU di Ampel ini," ungkapnya.

Kegiatan makesta diakhiri dengan outbond oleh tim fasilitator PC IPNU-IPPNU Kabupaten Boyolali. (Maghfur/Kendi Setiawan)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pondok Pesantren, Cerita, Pemurnian Aqidah Siti Efi Farhati

Minggu, 14 Januari 2018

Alumni Al-Anwari Silaturahmi dengan Mengaji

Banyuwangi, Siti Efi Farhati

Para alumnus Pondok Pesantren Al-Anwari Kertosari melaksanakan pengajian rutin tiap bulan di kediaman Ahmad Mufid, Jl. Citarum No 46, lingkungan Kemasan, Kelurahan Panderejo, Kecamatan Banyuwangi.

Alumni Al-Anwari Silaturahmi dengan Mengaji (Sumber Gambar : Nu Online)
Alumni Al-Anwari Silaturahmi dengan Mengaji (Sumber Gambar : Nu Online)

Alumni Al-Anwari Silaturahmi dengan Mengaji

Kegiatan pada Kamis malam (17/11) dimulai dengan membaca Rotibul Haddad serta pembacaan tahlil. "Karena pondok pesantren kita adalah ladang penanaman ajaran serta penguatan amaliyah-amaliyah Nahdlatul Ulama kepada setiap santri. Perantara itu semua, pesantren kita dapat berkembang dan mampu bertahan di tengah-tengah perkotaan," ungkap sholeh salah satu alumni yang hadir malam itu.

Pengajian rutin dengan pembacaan kitab Arbain Nawawi juga disematkan dalam acara tersebut. Hal ini diperlukan untuk mengingatkan kembali nasihat-nasihat hadits sahih kepada alumni yang menjadi sumber rujukan amaliyah setiap hari.

Siti Efi Farhati

Pembahasan malam tersebut berkaitan dengan masalah niat. Ahmad Mufid selaku tuan rumah juga sebagai pembaca kitab di hadapan puluhan alumni yang hadir.

"Ketahuilah rasa ikhlas itu menjadi nyata dengan hilangnya rasa ujub (sombong). Barang siapa yang sombong atas dengan amal perbuatannya, maka sirnalah keikhlasannya. Dan secara otomatis sirna pula lah pahala perbuatannya," terangnya berdasar kitab tersebut.

Siti Efi Farhati

di bagian akhir, ia mengutip salah satu pendapat dari ulama yang menjelaskan tentang keihlasana. Menurut Syekh Al-Harits Al-Muhasibi dalam kitab Ar-Riayah berpendapat: "Ikhlas itu hanya mengharapkan ketaatan pada Allah, tidak mengharapkan pada selain-Nya.

Ahmad Syakur Isnaini, Ketua Jamiyah Majelis Alumni berharap kegiatan tersebut bisa memberikan manfaat kepada seluruh anggota? juga kepada orang lain umumnya.

Sebagai penutup acara diisi dengan berbagai kegiatan, mulai ramah tamah, komunikasi berbagai topik antaralumni semisal mulai pekerjaan, politik, sampai keluarga. Serta pembayaran iuran tambahan kas jamiyah. (M. Sholeh Kurniawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pondok Pesantren, Anti Hoax, Ubudiyah Siti Efi Farhati

Jumat, 12 Januari 2018

Refleksi Harlah Ke-61: Idealisme IPNU Memudar?

Oleh Cakra Pramudhita

“Tjita2 daripada Ikatan Peladjar Nahdlatul ’Ulama’ jalah membentuk manusia jang berilmu, tetapi bukan manusia calon kasta elite di dalam masjarakat, Tidak. Kita menginginkan masjarakat jang berilmu. Tetapi jang dekat dengan masjarakat. Oknum jang berbuat karena ilmunya. Dan berilmu tetapi jang mau berbuat dan beramal. Sungguh akan merupakan malapetaka jang amat besar baik negara dipimpin oleh orang-orang jang tidak berilmu. Kita tidak menjandarkan semata-mata kepada kariere, lebih2 kariere dengan kekosongan ilmu dan bekal dalam kepala (Pidato resmi KH.Tholchah Mansoer.”

(Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU) pada Muktamar IV, 1961 di Yogyakarta)

Refleksi Harlah Ke-61: Idealisme IPNU Memudar? (Sumber Gambar : Nu Online)
Refleksi Harlah Ke-61: Idealisme IPNU Memudar? (Sumber Gambar : Nu Online)

Refleksi Harlah Ke-61: Idealisme IPNU Memudar?

 

Pada 24 Februari 2015, IPNU menapaki tahun ke-61. Para pendirinya, mungkin tidak pernah menyangka organisasi yang semula hanya dibawah naungan LP Ma’arif dan kemudian menjadi underbouw Nahdlatul Ulama (NU) dapat bertahan dan menggeliat melintasi kerasnya perubahan. Dipaksa oleh keadaan politik, banyak organisasi kepemudaan, pelajar, dan kemahasiswaan yang berdiri sebelum maupun pada masa Orde Lama (Orla) bertumbangan.

Deskripsi dan usulan perubahan dari penulis mudah-mudahan mampu memaksa kita untuk mere-institusionalisasi dirinya. Jika tidak, mudah-mudahan selalu muncul gagasan alternatif dari kader-kader lain yang bisa menjadi common platform bagi pengembangan institusi yang memiliki kemampuan adaptif terhadap tantangan terkini dengan diferensiasi karakteristik yang khas. Jika tidak ada sama sekali agenda berupa gagasan dan langkah konkret dalam mereorganisasi maka secara otomatis eksistensi dan peran IPNU akan terus memudar.

Membaca Masa Kini

Siti Efi Farhati

Adapun bagi IPNU yang telah menginjak usia 61 tahun, jika diumpamakan dengan usia manusia, IPNU sekarang adalah orang yang biasanya sedang berusaha meningkatkan ibadah formalnya agar terhindar dari siksa api neraka jelang tutup usia. Tentu saja, perumpamaan usia serta kecenderungan antara institusi dan orang memang kurang tepat. Tapi, sebagaimana halnya mahluk hidup, institusi juga bisa lahir dan mati. Dalam konteks itu, penulis ingin memberikan penekanan bahwa kondisi IPNU saat ini nyaris seperti orang tua sekarat yang sudah tidak lagi produktif meskipun masih dapat memberi manfaat bagi orang lain. Kalau mau jujur, kondisi seperti itu tercermin di pengurus tingkat nasional saat ini. Mereka memang tidak bisa disalahkan sepenuhnya mengingat mereka adalah produk dari sistem kaderisasi dan sistem institusi. Pun sebaliknya, mereka juga tidak bisa dibenarkan karena mereka adalah pemilik otoritas tertinggi dari hirarki IPNU yang mengabaikan mandat institusi.

Siti Efi Farhati

Beruntung PP IPNU masih belum bisa menghadirkan dirinya sebagai organisasi kader, sehingga kondisi di tingkat nasional tidak terlalu berdampak signifikan pada cabang-cabang, anak cabang, dan ranting, karena sebagian kecil pengurus-pengurus IPNU di daerah masih sangat produktif dan bahkan berhasil melakukan terobosan-terobosan meskipun tidak ada lagi kepemimpinan di tingkat nasional. Sebagian yang lain masih berkutat dengan tindakan minimalis yakni hanya berusaha sebatas mempertahankan eksistensi IPNU di daerahnya tanpa rencana strategis yang jelas. Ada juga perekayasaan eksistensi hanya ketika perhelatan Konfercab, Konferwil, atau Kongres akan digelar. Dua yang terakhir adalah cara-cara survival ala IPNU yang masih terus mentradisi. Kondisi seperti itu tentu saja tidak berdiri sendiri, melainkan sebuah keberlanjutan atau akibat dari rentang proses periode sebelumnya.

Mengapa dampak dari apa yang terjadi di level nasional tidak terlalu signifikan pada daerah? Adanya sistem yang sudah lama corrupt (rusak) menyebabkan terjadinya patologi institusi, mulai dari atas hingga bawah. Sedikit sekali pengurus yang memiliki konsistensi terhadap tujuan, nilai, produk konstitusi, dan panduan kaderisasi IPNU Sebagian besar hanya menjadikan IPNU sebagai stepping stone atau eskalator dalam berkarir post - IPNU dan bahkan keberadaan sebagai pengurus dianggap sebagai profesi. Karena itulah, semuanya masih bisa berjalan secara otonom sesuai dengan mindset pengurusnya masing-masing. Relasi antar jenjang pengurus tidak lebih dari selembar SK pengurus.

Tantangan eksternal IPNU

Pertama, setting situasi politik saat ini berbeda dengan masa lalu. Transisi demokrasi saat ini masih terjadi tetapi semakin mendekati ke arah konsolidasi demokrasi. Fenomena ini bisa dilihat dengan semakin adapatifnya elemen-elemen demokrasi dengan tata politik demokrasi. Meskipun kita masih meragukan, partai politik saat ini tengah dipaksa untuk berubah secara bertahap. Upaya pemberantasan korupsi, meskipun masih menyimpan banyak masalah, terus berjalan secara pasti dan membuat ilusi ketakutan di kalangan birokrasi dan jabatan politik non karir yang umumnya dihuni elite dari partai politik. Kecurigaan-kecurigaan publik yang distimulasi oleh transparansi mendesakkan berjalannya secara efektif dan efisien (mantra capitalism) institusi-institusi di bawah negara.

Kedua, setting gerakan sosial. Gerakan sosial ala pelajar - mahasiswa sudah digantikan oleh gerakan interest group dari organisasi berbasis profesi atau kepentingan. Berbicara isu perburuhan maka kelompok-kelompok berbasis buruhlah yang paling mengerti setiap isu yang terkait dengan dunia perburuhan. Pun demikian dengan isu-isu kepentingan lainnya, misalkan untuk berbicara isu korupsi maka ICW atau TII yang dianggap lebih memiliki kapasitas karena ditunjang oleh sumber daya yang andal dan infrastruktur yang cukup memadai untuk mengumpulkan dan mengolah data. Hal ini juga terjadi di isu lingkungan di mana Walhi, WWF, atau Green Peace dianggap lebih capable. Isu keagamaan juga lebih banyak didorong oleh kelompok sosial berbentuk LSM atau Ormas. Hal ini terjadi di hampir seluruh isu-isu yang terkait dengan dinamika sosial, politik, ekonomi, dan budaya di mana selalu muncul kelompok yang memiliki fokus isu.

IPNU sebagai organisasi kader

Berulang kali disampaikan di berbagai ruang pengkaderan bahwa organisasi hampir selalu didikotomikan ke dalam organisasi massa atau kader, organisasi profesional atau voluntarian, dan organisasi tradisional atau modern. Prinsip-prinsip dasar antara bentuk, isi, dan sifat tersebut nyaris tidak bisa disatukan. Meskipun bisa, akan selalu memunculkan kontradiksi di dalamnya. IPNU harus berani memilih tipologi atau karakteristik yang jelas karena sesungguhnya berada di grayscale area seperti saat ini tidak selalu nyaman dan baik. Sepanjang pengetahuan penulis, terdapat dua ciri yang khas melekat di dalam organisasi kader: disiplin terhadap nilai dan disiplin terhadap institusi kepemimpinan (struktur). Dua bentuk kedisiplinan ini tidak bisa ditawar. Menegasikan salah satunya hanya akan membuat institusi menjadi pincang, menciptakan ketidakteraturan (disorder), dan menimbulkan kerapuhan. Di manapun ada institusi kader maka kedua kedisiplinan ini selalu melekat.

Jika kita ingin melongok sedikit ke dalam ritus, maka institusi kader yang efektif bisa terefleksi di dalam sholat berjama’ah. Di dalam sholat berjama’ah, seseorang bisa menjadi imam karena memiiliki syarat khusus (special conditions) yang berbeda dengan syarat yang juga dimiliki oleh bilal, muadzin, makmum, bahkan pemukul beduk. Oleh karena syarat ini terbatas dipenuhi dalam sebuah situasi yang demikian maka tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama memainkan peran yang dilakoni dalam sebuah momentum sholat berjama’ah.

Maksud dari analogi di atas adalah bahwa setiap anggota terdiferensiasi dalam kapasitas yang berbeda. Untuk mencapai kapasitas tertentu tiap anggota harus melakukan upgrading level. Dalam proses ini, institusi berkewajiban memberikan kesempatan dan tahapan proses yang sama bagi semua anggota untuk dapat melakukannya. Itulah yang dinamakan kaderisasi. Seorang imam akan terus dipatuhi perintahnya selama memiliki kesesuaian dengan tata cara dan aturan sholat. Bila melenceng dari tata cara dan aturan sholat maka barisan (makmum) dapat memberikan kritik secara terbatas dan teratur. Oleh karena imam seorang manusia, maka keimaman seseorang dapat batal dan digantikan oleh makmum yang memiliki kapasitas yang mendekati kapasitas imam.

Barisan yang berada tepat dibelakang imam, terutama yang berada persis di belakang imam, adalah juga orang yang telah siap menjadi seorang imam manakala kondisi yang tidak diharapkan mendera sang imam, termasuk intervensi secara kasar dari luar. Ada keberlanjutan untuk tetap mengokohkan dan mempertahankan kondisi tersebut untuk tetap berusaha sampai pada tujuan bersama.

Di dalam organisasi kader, kepentingan individu telah termanifestasi menjadi kepentingan institusi. Munculnya ruang konflik yang mengakibatkan disintegrasi institusi terjadi karena interpretasi atas nilai dan perilaku elite atau pengurus organisasi dalam hal ini tetap dimungkinkan. Namun, kemungkinan tadi menjadi sangat kecil jika saja kepemimpinan sebagai sebuah faktor krusial di dalam organisasi dapat berjalan secara baik. Pada dasarnya pemimpin memiliki otoritas untuk memilih berbagai opsi strategi. Strategi dan taktik yang digunakan dapat dinilai baik manakala output-nya sesuai dengan tujuan organisasi.

Sudahkan IPNU menjadi organisasi kader?

Sebelum sampai kepada pilihan tadi, mari kita mencoba menengok realitas yang ada di IPNU sehingga mudah-mudahan terdapat sedikit kesamaan persepsi atau bahkan konklusi. Meskipun, dari situ saja akan memunculkan kemungkinan opsi perubahan yang berbeda di benak kepala kader. Di berbagai kesempatan ketika berinteraksi dalam kegiatan kaderisasi formal maupun non formal di Surabaya maupun di daerah lain, kita akan dikejutkan dengan realitas yang cukup “membingungkan”. Kebingungan tersebut bermula dari lontaran sebuah pertanyaan bagi kita bersama: “ apakah tujuan IPNU berdasarkan dari apa yang tercantum di Anggaran Dasar?” Mayoritas dari mereka yang ditanya umumnya tidak mampu menyebutkan tujuan IPNU. Belum lagi kalau ditanyakan apakah ideology IPNU, mayoritas mengalami kebingungan apakah ideology IPNU adalah Pancasila atau Aswaja, kedua-duanya atau salah satunya. Atau bahkan, bukan keduanya.

Di lain kesempatan, kita yang ada dalam kepengurusan ini mungkin akan bertanya, “apakah kita sudah menjadi organisasi kader?”. Dipastikan seluruhnya menjawab bahwa IPNU merupakan organisasi kader. Mereka berargumentasi ada proses kaderisasi formal yang dilakukan oleh institusi. Hanya sebatas itu. Kalau mau jujur, berdasarkan pengamatan menghadiri banyak kegiatan kaderisasi formal, kegiatan kaderisasi formal benar-benar hanya merupakan formalitas. Ada beberapa alasan yang menjadi dasar pendapat tersebut.

Pertama, kegiatan kaderisasi formal masih baru dilihat sebagai prosedur teknis belaka yang ditujukan untuk memenuhi keabsahan pengurus di mata PD/PRT. Untuk hal ini, tidak aneh jika terjadi penyimpangan terhadap standar materi atau kurikulum maupun format kaderisasi yang seharusnya dijadikan acuan.

Kedua, kegiatan kaderisasi formal masih diproyeksikan untuk meningkatkan prestise pengurus semata dengan indikator jika secara kuantitas diikuti oleh banyak peserta tanpa mempetimbangkan kualitas pengetahuan dan proses yang sudah dilalui peserta sebelum kegiatan. Walhasil, ketika materi kaderisasi disampaikan, akibat disparitas pengetahuan dan proses, praktis hanya dalam persentase yang cukup kecil yang dapat mengikuti alur materi secara baik.

Ketiga, bagi peserta kegiatan kaderisasi formal, keikutsertaan dan sertifikat kelulusan menjadi prioritas agar dapat digunakan sebagai syarat untuk berkarir dalam jenjang berikutnya. Dari beberapa alasan tadi, maka sangat wajar kemudian banyak pengurus, untuk ini saya sangat yakin, tidak mengetahui tujuan IPNU, (mungkin juga termasuk saya), serta strategi untuk mencapainya. Hal ini juga masih ditambah pada minimnya pemahaman terhadap nilai-nilai dasar yang menjadi pilar untuk bergerak.    

Untuk menjadi institusi kader yang efektif maka perlu memiliki disiplin terhadap kepemimpinan. Aturan main yang sudah jelas harus dapat dipatuhi. Kepemimpinan bukan penghias hasil konferensi tetapi juga dilihat sebagai mandat organisasi. Sejauh sang pemimpin masih berjalan sesuai koridor dan menjalankan kebijakan untuk mencapai tujuan organisasi maka ia harus ditaati. Sanksi organisasi bukan hanya pelengkap peraturan organisasi. Sanksi diberlakukan bagi mereka yang mengabaikan kebijakan organisasi atau dalam hal ini direpresentasikan oleh pemimpin.

Dari pengamatan selama ini, selain kepemimpinan juga ada format struktur yang harus dibenahi. Format PP, PW, dan PC yang ada saat ini tidak memungkinkan organisasi kita menjadi organisasi kader. Untuk mencapainya, format yang memungkinkan harus ditunjang dengan kerangka operasional berupa tugas pokok dan fungsi yang sistematik dan jelas. PP masih menjadi organisasi yang terlalu besar (periode 2012 - 2015 terdiri dari 120-an personel) di mana kerangka strukturnya dibentuk dengan hanya melihat faktor pengakomodasian atau rekomendasi pesanan dan belum pada kapasitas personal serta kebutuhan institusi. Walhasil, terlalu banyak tumpang tindih fungsi sehingga malah kerap kali menyebabkan disfungsi. PC pun juga demikian, di mana kerangka strukturnya dibentuk dengan hanya melihat faktor pengakomodasian atau rekomendasi pesanan dan belum pada kapasitas personal serta kebutuhan institusi.

Jika kaderisasi telah berjalan secara baik di mana tujuan organisasi telah tercapai maka operasionalisasi konsepsi kader dapat di perluas. Rencana dan kebijakan strategis jangka panjang di dalam ruang yang lebih besar baik di masyarakat dan negara dapat dilakukan di level institusi alumni. Istilah kader pun kemudian dapat dimaknai sebagai seseorang yang menjadi pengabdi, pejuang, dan pelayan dalam spektrum apapun yang menjalani tindakannya sesuai dengan nilai-nilai yang ada di IPNU meskipun sudah tidak lagi mempunyai ikatan institusional dengan IPNU.

Almarhum KH.Tolchah Mansoer dan para founding fathers IPNU mendirikan IPNU bukan untuk bertengger di menara gading dan menjadikan para pengurus dan kadernya sebagai “manusia calon kasta elite”. IPNU dilahirkan untuk membumi dalam masyarakat, menjadi bagian dari dan mendampingi masyarakat bawah, serta terlibat dalam berbagai penyelesaian masalah untuk membangun kemasalahan publik.

Kini, IPNU sudah diambang pintu untuk tampil persis seperti yang dikhawatirkan oleh KH Tolchah Mansoer, yaitu menjadi ”kasta-kasta elite”, jauh dari masyarakat dan tidak terlibat dalam pergumulan sosial dan penyelesaian berbagai persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Bahkan perilaku para pengurusnya lebih suka tampil sebagai kelas-kelas elite yang jauh dari masyarakat alit, namun gila citra. Ketiadaan kerja advokasi dan pendampingan masyarakat, setidaknya masyarakat pelajar, oleh IPNU pada beberapa dekade terakhir menunjukkan realitas ini. 

Kini, 61 tahun sudah IPNU berkhidmah untuk Indonesia. Catatan di atas hanya merupakan upaya melakukan debunking (penelanjangan atau pembongkaran) agar ada upaya koreksi dan perbaikan bersama dari semua unsur di IPNU dalam momentum Hari Lahirnya yang ke 61 hari ini.

Wallahul Muwaffiq Ilaa Aqwamith Thariq

 

Cakra Pramudhita, pengurus PC IPNU Kota Surabaya

 

 

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati AlaSantri, Tokoh, Pondok Pesantren Siti Efi Farhati

Selasa, 09 Januari 2018

Pencari Nafkah Lebih Butuh Akses Jalanan, Dibanding Demonstran

Jakarta, Siti Efi Farhati - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengimbau sekelompok umat Islam yang merencanakan demosntrasi pada 25 November 2016 dan 2 Desember 2016 mendatang untuk menjaga ketertiban dan tetap menghormati pengguna jalan lain. Pihak PBNU meminta demonstran memberikan hak jalan bagi ribuan warga pencari nafkah.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU KH Abdul Moqsith Ghazali di Gedung PBNU, Jakarta, Senin (21/11) malam.

Pencari Nafkah Lebih Butuh Akses Jalanan, Dibanding Demonstran (Sumber Gambar : Nu Online)
Pencari Nafkah Lebih Butuh Akses Jalanan, Dibanding Demonstran (Sumber Gambar : Nu Online)

Pencari Nafkah Lebih Butuh Akses Jalanan, Dibanding Demonstran

Imbauan ini disampaikan menyusul rencana aksi gelar sajadah oleh sekelompok umat Islam yang dengan sengaja mengagendakan shalat Jumat di jalan protokoler di Jakarta pada 25 November 2016 dan 2 Desember 2016 mendatang.

Siti Efi Farhati

“Jangan sampai aktivitas demonstrasi mengalahkan kebutuhan masyarakat dalam mencari nafkah,” kata Kiai Moqsith.

Menurutnya, aktivitas demonstrasi menempati status keperluan sekunder (al-hâjiyyât). Sementara aktivitas masyarakat untuk memenuhi hajat hidupnya dan hajat hidup keluarganya termasuk ke dalam kategori kebutuhan primer (ad-dharûriyyât).

Dalam kaidah agama, kebutuhan primer (ad-dharûriyyât) harus diutamakan dibandingkan aktivitas dengan kategori keperluan sekunder (al-hâjiyyât).

Siti Efi Farhati

“Jadi hal itu tidak lepas dari tujuan diturunkannya syariat Islam (maqâshidus syarî‘ah) di mana agama Islam melindungi lima kebutuhan primer manusia (ad-dharûriyyatul khams) seperti menjaga fisik, harta, kebebasan pikiran, keturunan, dan martabatnya,” kata salah seorang dosen pengampu mata kuliah tafsir di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta ini. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Ubudiyah, Quote, Pondok Pesantren Siti Efi Farhati

Kamis, 04 Januari 2018

Nadirsyah Hosen: Salurkan Aspirasi Lewat Mekanisme Demokrasi yang Ada

Setelah sistem kekhalifahan runtuh pada tahun 1924, dunia Islam terbelah menjadi dua: ada kelompok yang ingin mendirikan sistem khilafah lagi dan ada juga kelompok yang memilih sistem lain –seperti republik, kerajaan, kesultanan, dan lainnya- dari pada menghidupkan kembali sistem khalifah. Masing-masing memiliki pendukung dan argumen. 

Selain itu, muncul pula terma Islam politik dan politik Islam. Di beberapa negara yang penduduknya mayoritas Islam, terjadi polemik antara Islam politik dan politik Islam. Begitupun di Indonesia. Meski memiliki cara yang ‘berbeda’, namun keduanya memiliki semangat untuk menerapkan nilai-nilai Islam di dalah kehidupan berpolitik dan bernegara.

Nadirsyah Hosen: Salurkan Aspirasi Lewat Mekanisme Demokrasi yang Ada (Sumber Gambar : Nu Online)
Nadirsyah Hosen: Salurkan Aspirasi Lewat Mekanisme Demokrasi yang Ada (Sumber Gambar : Nu Online)

Nadirsyah Hosen: Salurkan Aspirasi Lewat Mekanisme Demokrasi yang Ada

Di Indonesia, juga ada kelompok yang mengaku membela Islam dengan menegakkan hukum-hukum Islam, tetapi mereka tidak bersedia untuk ikut berdemokrasi. Mereka menggunakan cara-cara di luar parlemen untuk membela Islam.

Lalu, bagaimana sebetulnya praktik Islam politik dan politik Islam di Indonesia saat ini? Dan bagaimana keduanya mewarnai demokrasi yang ada di Indonesia? Bagaimana menanggapi kelompok yang ada di ‘jalan’ dan tidak ikut berdemokrasi? 

Untuk menguraikan itu, Jurnalis Siti Efi Farhati A. Muchlishon Rochmat berkesempatan mewawancarai Rais Syuriyah PCINU Australia-New Zealand yang juga menjadi Dosen Senior Hukum di Universitas Monash Australia Prof Dr Nadirsyah Hosen atau biasa disapa Gus Nadir. Berikut hasil wawancaranya:

Siti Efi Farhati

Sebetulnya, apa perbedaan Islam politik dan politik Islam, Gus?

Sebenarnya sudah banyak buku dan tulisan yang membahas tentang Islam politik dan politik Islam. Intinya, Islam politik lebih menekankan dan menerapkan simbol-simbol atau atribut Islam di dalam berpolitik. Sementata, politik Islam lebih mengedepankan Islam sebagai sebuah nilai. Mereka tidak melulu menggunakan atribut-atribut Islam dalam kegiatan berpolitik.

Bagaimana Gus Nadir melihat praktik dari keduanya di Indonesia dalam konteks hari ini?

Siti Efi Farhati

Sekarang, di Indonesia terjadi tarik menarik antara keduanya. Ada sebagian yang mengikuti sistem politik yang ada, ikut pemilu. Lalu, mereka memperjuangkan Islam dengan gerakan-gerakan politik. Itu sah-sah saja. 

Tetapi sekarang ada orang yang berada di luar mekanisme demokrasi. Dia ada di jalanan dan tidak bersedia untuk ikut proses demokrasi tetapi dia mengklaim bahwa sedang membela Islam. Kalau dia ikut berdemokrasi, maka dia bisa membela Islam dalam konteks meloloskan kebijakan-kebijakan yang pro Islam. 

Tapi ada semacam ‘ketakutan’ dari masyarakat kalau ada partai yang mengedepankan Islam politik. Bagaimana itu, Gus?

Kita lihat partai-partai Islam misalkan seperti PKS. Ketika pertama kali muncul PKS dulu banyak orang yang khawatir. Tetapi sekarang kita melihat semakin lama PKS itu semakin demokratis.

Apa yang menyebabkan kok bisa seperti itu?

Proses demokrasi mendemokratiskan mereka. Jadi, proses demokrasi tidak membuat mereka menjadi menguat, membuat mereka ‘semakin Islami.’ 

Nah, ini berbeda dengan orang yang berada di jalanan dan tidak ikut proses demokrasi. Dia akan semakin mengeras. Misalnya Hizbut Tahrir Indonesia, sekarang mereka dibubarkan tetapi kan bisa daftar lagi nanti. 

Tetapi kalau mereka memang tidak anti-NKRI maka mereka harus mengikuti proses demokrasi seperti pemilu. Mereka bisa bertarung di sana. Tetapi kalau teriak-teriak di jalan dan menganggap demokrasi itu toghut dan kufur itu tidak dibenarkan. 

Jadi Apakah bisa disimpulkan bahwa mereka yang mengikuti mekanisme demokrasi akan ikut demokratis?

Saya percaya bahwa orang yang mengikuti mekanisme demokrasi Pancasila, dia akan tertarik ke tengah. Karena moderasi itu menjadi sebuah keniscayaan di dalam politik. Dia harus negosiasi dan mempertimbangkan isu-isu lain. 

Yang repot adalah mereka yang ada di ‘jalanan’ karena tidak ada proses yang menarik ke tengah. Yang ada mereka selalu menguat dan mengeras.  

Bisa dibuatkan simplifikasinya, Gus?

Misalnya tujuh juta orang yang ikut demo itu kalau dihitung sebagai perwakilan untuk kursi DPR itu akan dapat berapa kursi. Di jalanan mereka memang banyak, tetapi karena ada mekanisme demokrasi dan pemilu, kalau misalnya orang-orang tersebut dihitung dari daerah saja maka mereka hanya akan mendapatkan satu kursi saja di DPR. Karena ada sebaran kursi dan mekanisme yang harus diikuti.

Kalau banyak-banyakan massa, ya banyakan massa PKB di Jawa. Ini yang saya maksud, kalau kita masuk mekanisme maka kita akan tertarik ke tengah. Itulah politik. Dan silahkan perjuangkan lewat jalur itu. Tapi kalau kita kita tidak proses itu dan berada di ‘jalan’, yang terjadi adalah kita mempolitisasi Islam. 

Untuk menyikapi mereka yang ada di ‘jalan’ seperti itu apa?

Selama itu tidak melanggar aturan dan ketertiban umum, itu adalah bagian dari demokrasi dan kita apresiasi. Tapi ada aturan main dan aturan inilah yang seharusnya ditaati. Masalahnya mereka yang ada di ‘jalanan’ adalah para penyelundup demokrasi. 

Maksudnya penyelundup demokrasi?

Mereka menggunakan kosakata demokrasi tetapi sebenarnya ingin membunuh dan menghancurkan demokrasi. Misalnya seperti ini, mereka turun ke jalan adalah sebuah kebebasan mereka masing-masing. Tetapi jika isu yang diangkat adalah untuk menggoyang pilar bangsa, maka itu tidak diperkenankan. Kalau tidak ada izin, mereka juga tidak boleh melakukan turun ke jalan seperti itu. 

Di luar negeri, kalau melakukan demonstrasi juga harus memiliki izin dan rute yang jelas. Hal itu diterapkan karena ketertiban umum tidak boleh terganggu.   

Gus Nadir melihat demokrasi di Indonesia itu bagaimana?

Demokrasi membutuhkan kedewasaan dan butuh proses. Demokrasi kita baru sebentar, yaitu mulai tahun 1998. Kalau kita bandingkan dengan negara lain, lima puluh sampai tujuh puluh tahun pertama berdemokrasi mereka perang saudara. Kita tidak ada perang saudara. 

Pelan-pelan kita kita akan bergerak ke demokrasi yang lebih dewasa. Tetapi itu butuh waktu dan kesiapan institusi sosial termasuk ormas-ormas Islam. Bagaimana akan berdemokrasi kalau misalnya ada ormas Islam yang tidak demokratis. Misalnya ormas FUI, sekjennya tidak pernah berganti karena dari dulu hingga sekarang masih dipegang Al-Khatthat. Oleh karena itu institusi sosial juga harus diperkuat untuk menuju demokrasi yang lebih dewasa.

Ada anggapan bahwa Perppu tentang ormas bisa digunakan untuk menghantam lawan politik. Bagaimana menanggapi itu?

Kalau untuk menghantam lawan politik berarti yang dibubarin siapa. FPI kan bukan. Ini kah HTI yang dibubarkan. Yang salah itu bukan Perppu tetapi yang salah adalah pemerintah yang sebelumnya yang menerima HTI sebagai ormas.

Itukan persoalannya. Kenapa yang tidak sepakat dengan Pancasila dan UUD 1945 diakui dan dikasih berbadan hukum. Kalau mau membenarkannya kan susah.

Terakhir Gus, Bagaimana Islam Indonesia ini ke depan?

Menurut saya Islam di Indonesia akan menjadi contoh dunia. Saya optimis bahwa Islam di Indonesia akan menjadi contoh bagaimana membangun peradaban dunia. Dan NU akan menjadi salah satu mercusuarnya karena sedang bergerak ke arah sana. Kita bicara secara spiritual maupun bicara secara hitung-hitungan normal, kita sudah bergerak ke arah sana. Tapi itu butuh waktu. 

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Doa, Pondok Pesantren, Amalan Siti Efi Farhati

Rabu, 03 Januari 2018

Pemkab Didesak Cairkan Bantuan untuk Madrasah

Jember, Siti Efi Farhati 

Pemerintah Kabupaten Jember didesak agar kembali mengalokasikan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk Madrasah Diniyah (Madin).

Pemkab Didesak Cairkan Bantuan untuk Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemkab Didesak Cairkan Bantuan untuk Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemkab Didesak Cairkan Bantuan untuk Madrasah

Wakil Ketua DPRD Jember, H Miftahul Ulum Jember mengatakan, Pemkab tidak perlu ragu atau takut untuk mencairkan dana tersebut karena Pemprop Jawa Timur sudah memastikan bahwa BOS Madin tidak bermasalah.

“Yang saya tahu bahwa Pemerintah Propinsi Jatim sudah mengklarifikasi dana tersebut ke Kemendagri, dan katanya tidak ada masalah. Jadi sebaiknya  bupati juga bisa mencairkan (BOS Madin) lagi,” tukas Ulum di ruang kerjanya, Jumat (22/2).

Siti Efi Farhati

Ulum mengakui, sejauh ini Pemkab Jember memang masih belum sreg untuk menggelontorkan APBD bagi Madin karena dikhawatirkan akan berdampak pada persoalan hukum.

Siti Efi Farhati

Dikatakan, pihaknya tak jarang mendapat laporan dan keluhan mengenai macetnya dana BOS dan tunjangan guru Madin dari Pemkab Jember. “Kami beberapa kali hearing dengan para guru Madin, dan mereka kecewa karena lama BOS tidak cair,” tukasnya.

Sementara itu, Ketua Persatuan Guru Madrasah Diniyah Kabupaten Jember, R. Mufti Ali berharap agar Pemkab Jember bisa segera memastikan pencairan  dana BOS Madin dimulai tahun ini. “Mau alasan apa lagi, wong Pak Karwo sudah menegaskan itu tidak bertentangan dengan hukum,” sergah Mufti.

Menurtu Mufti, selama ini, Pemprop Jatim dan Pemkab Jember melakukan sharing dalam pencairan dana BOS Madin selama satu tahun kalender. Pemprop Jatim mencairkan dana 6 bulan pertama, dan enam bulan berikutnya menjadi tanggungan Pemkab Jember. “Tapi itu hanya berlaku tahun 2011. Tahun 2012 hanya dana dari Pemprop Jatim cair 6 bulan, sedangkan dari Pemkab Jember nol. Katanya, ada larangan dari Mendagri,” jelasnya.

Terkait hal itu, jajaran petinggi Pemkab Jember belum bisa dihubungi. Kepala Dinas Pendidikan Pemkab Jember, Bambang Hariono, juga belum bisa ditemui wartawan. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Aryudi A. Razak

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pondok Pesantren, Habib, Olahraga Siti Efi Farhati

Sabtu, 30 Desember 2017

Menimbang Semifinalis Liga Santri Nusantara 2016

Bantul,Siti Efi Farhati. Manajer Kompetisi Liga Santri Nusantara Kusnaeni berrcerita materi empat kesebelasan yang lolos ke semifinal yang akan berlangsung siang ini di lapangan sepak bola Sultan Agung, Bantul, Yogyakarta (29/10).

Ia memulai dengan kesebelasan Al-Falah. Tim asal Bandung tersebut menurutnya, memiliki kerja sama yang lumayan baik. Kemampuan pemain-pemainnya merata. Bisa dikatakan tidak ada indvidu yang menonjol.

Menimbang Semifinalis Liga Santri Nusantara 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
Menimbang Semifinalis Liga Santri Nusantara 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

Menimbang Semifinalis Liga Santri Nusantara 2016

Namun, kata dia, tim yang pertama kali mengikuti liga santri ini, kalau mengadapi penyerang-penyerang cepat, pertahanannya sering kerepotan. Juga tak punya penyerang mematikan.

Siti Efi Farhati

Sementara kesebelasan Nur Iman, menurut pria yang akrab disapa Bung Kus, ini memiliki kualitas pemain yang merata di semua lini belakang, tengah, dan depan.

Siti Efi Farhati

“Apalagi mereka juga sudah cukup lama jadi tim karena tahun kemarin juga sudah ikut di Liga Santri dan mencapai semifinal. Jadi, kombinasi pemain yang merata sama pengalaman ikut Liga Santri, membuat tim ini tahun ini solid, apalagi dukungan penonton paling banyak tentunya karena tuan rumah,” jelasnya.

Meski demikian, problem kesebelasan tersebut belum teruji dengan lawan yang betul-betul tangguh.

Nur Iman, siang ini akan berhadapan dengan kesebelasan Al-Falah Kabupaten Bandung pada laga pertama di stadion Sultan Agung sekitar pukul 13.30.

Bung Kus kemudian bercerita kesebelasan Al-Asy’ariyah. Menurutnya, tim ini sebetulnya punya karakter lebih defensif, tapi serangan baliknya lebih cepat dengan pemain depannya sangat berbahaya. Juga mereka memiliki stamina yang kuat untuk menekan pemain lawan yang menguasai bola.

“Saya melihat mereka tidak pernah membiarkan lawan menguasai bola lebih lama. Pressingnya bagus,” katanya.

Kelemahannya, kata dia, pertahanan finalis tahun lalu ini tidak sekuat lini depannya. Meski demikian tertolong gelandang-gelandang yang rajin membantu ke belakang.

Sementara tim terakhir, Walisongo, menurut Bung Kus, coraknya hampir sama dengan Nur Iman. Tim asal Sragen, Jawa Tengah, ini memiliki materi pemain yang merata, dan berpengalaman di Liga Santri tahun lalu dengan capaian cukup berprestasi.

“Sekarang kelihatan makin matang dari segi permainan mereka. Mereka bisa sering sekali memancing lawan keluar. Kemudian dengan cepat melakukan serangan balik. Mereka punya pemain depan yang cepat,” pungkasnya.

Al-Asy’ariyah akan berhadapan dengan Walisongo di laga kedua semifinal Liga Santri Nusantara di stadion yang sama, Sultan Agung Bantul. (Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Aswaja, Pondok Pesantren Siti Efi Farhati

Kamis, 28 Desember 2017

Bertemu Menpora, IPNU Desak Pemerintah Perhatikan Pelajar

Jakarta, Siti Efi Farhati. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) mendesak pemerintah untuk lebih tanggap terhadap berbagai permasalahan yang menimpa para pelajar. Perhatian serius dibutuhkan demi menyelamatkan segenap potensi mereka selaku generasi bangsa.

Bertemu Menpora, IPNU Desak Pemerintah Perhatikan Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Bertemu Menpora, IPNU Desak Pemerintah Perhatikan Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Bertemu Menpora, IPNU Desak Pemerintah Perhatikan Pelajar

Desakan ini muncul dalam pertemuan Ketua Umum IPNU Ahmad Syauqi dengan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Andi Mallarangeng di Jakarta, Rabu (21/11). Dalam kesempatan ini, IPNU menyampaikan visi besar agenda Kongres XVII IPNU di Palembang, Sumatera Selatan, 1-4 Desember 2012.

Syauqi menyatakan, pelajar di Indonesia masih belum lepas dari persoalan yang sering dijumpai belakangan ini, seperti radikalisme agama, kekerasan, dan aksi tawuran.

Siti Efi Farhati

“Keadaan ini mesti segera ditangani mengingat amanah Undang-Undang Nomor 40 tahun 2009 tentang kepemudaan yang mengatur usia 16-30 tahun, pelajar termasuk bagian dari mandat yang tak terisahkan. Kemenpora harus memperhatikan serius masalah ini,” ujarnya.

Siti Efi Farhati

Menurut Syauqi, pertemuannya dengan Menpora merupakan usaha IPNU dalam menyumbangkan pemikiran dan tenanganya terhadap persoalan pelajar. “Ini menjadi bagian dari strategi keberperanan IPNU dalam konteks berbangsa dan bernegara,” tuturnya.

Dalam kongres bertema "Pendidikan untuk Semua, Menuju Kemandirian Bangsa" nanti IPNU akan mengupas berbagai hal, seperti problem karakter generasi bangsa, pemerataan akses pendidikan, media, dan kemandirian ekonomi. 

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Habib, Pondok Pesantren Siti Efi Farhati

Ribuan Penganggur Rebutan 2 Kursi CPNS Depag

Brebes, Siti Efi Farhati

Sebanyak 1004 orang mendaftar seleksi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Departemen Agama (Depag) Kabupaten Brebes. Padahal, formasi yang tersedia hanya 2 lowongan saja. Yakni untuk formasi S1 Pendidikan Agama Islam (PAI) 1 orang dan guru kelas Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) juga 1 orang.



Ribuan Penganggur Rebutan 2 Kursi CPNS Depag (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Penganggur Rebutan 2 Kursi CPNS Depag (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Penganggur Rebutan 2 Kursi CPNS Depag

Jumlah peserta seleksi peminatnya terbanyak untuk formasi guru kelas MIN. Yakni 501 orang. Mereka berasal dari lulusan D2 Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) sebanyak 221 orang, lulusan D2 PGSD 150 orang, lulusan D2 PGPAI 129 orang dan S1 PGSD 1 orang. “Sisanya, sebanyak 471 peserta merupakan peminat dari formasi S1 pendidikan PAI,” ujar Ketua Panitia Penerimaan CPNS Depag Kabupaten Brebes, Drs H Syamsudin di sela-sela Tes Tertulis CPNS di Aula Mts Negeri Model Brebes, Ahad (15/11).

Dia mengatakan, dari total peserta yang mendaftar seleksi sebanyak 1.004 orang. yang dinyatakan lolos seleksi administrasi dan mengikuti ujian tertulis sebanyak 972 orang. Sementara, sisanya tidak hadir tanpa alasan. Yang tidak hadir dinyatakan gugur. Mereka gagal karena tidak hadir dalam ujian tertulis yang dilaksanakan serentak. "Karena tidak hadir tanpa alasan dalam ujian, otomatis kami nyatakan gugur," ungkapnya.

Siti Efi Farhati

Syamsudin menduga, ketidakhadiran mereka akibat membludaknya peminat yang mencapai ribuan peserta. "Salah satu alasan peserta memilih tidak hadir dalam tes, karena merasa berat. Selain itu, mungkin juga mereka mendaftar pada CPNS Pemkab," terangnya.

Ujian CPNS itu sendiri dilaksanakan di dua tempat, yakni di MTs Negeri Model Brebes dan MAN Brebes 01. Seleksi tersebut diselenggarakan Kanwil Depag Provinsi Jateng. Sedangkan Depag kabupaten/kota hanya sebagai pelaksana ujian.

Siti Efi Farhati

Soal ujian kembali dikumpulkan ke panitia untuk didata ulang dan dimusnahkan. Sedangkan semua lembar jawab peserta, langsung dikirim ke provinsi untuk dikoreksi. “Koreksi dan hasilnya ditentukan ditingkat Wilayah dengan Persetujuan Depag Pusat,” tandasnya. (was)Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pondok Pesantren, Berita, Khutbah Siti Efi Farhati

Rabu, 27 Desember 2017

Jokowi: Teladani dan Teruskan Perjuangan Syekh Nawawi Al-Bantani

Jakarta, Siti Efi Farhati. Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menghadiri dan memberikan sambutan dalam acara peringatan Haul ke-124 Al-Maghfurlah Syekh Nawawi Al-Bantani di Pesantren An Nawawi Tanara di Serang, Banten, Jumat (21/7) kemarin.?

Jokowi: Teladani dan Teruskan Perjuangan Syekh Nawawi Al-Bantani (Sumber Gambar : Nu Online)
Jokowi: Teladani dan Teruskan Perjuangan Syekh Nawawi Al-Bantani (Sumber Gambar : Nu Online)

Jokowi: Teladani dan Teruskan Perjuangan Syekh Nawawi Al-Bantani

Jokowi mengatakan, sepanjang sejarah negeri kita ini, ada tiga ulama yang pernah menjadi Imam Masjidil Haram di Makkah. Satu di antaranya ulama kelahiran Serang, Syekh Nawawi Al-Bantani yang hidup di abad ke-19.

“Di perhelatan haul itu saya mengajak seluruh rakyat Indonesia, khususnya umat Islam, untuk meneladani dan meneruskan perjuangan Syekh Nawawi Al-Bantani dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujar Jokowi di halaman Facebook miliknya, Sabtu (22/7).

Ia mengakui bahwa Syekh Nawawi adalah seorang ulama sekaligus intelektual. Ia mewariskan lebih dari 100 buku karyanya dalam berbagai disiplin ilmu, dari ilmu tafsir, ilmu kalam, tauhid, hadits, dan lain-lain.

“Murid-muridnya banyak yang menjadi ulama besar dan berjuang untuk bangsa ini. Di antaranya adalah pendiri Nahdlatul Ulama KH Muhammad Hasyim Asyari dan pendiri Muhammadiyah KH Achmad Dahlan,” terang mantan Wali Kota Solo, Jawa Tengah ini.

Siti Efi Farhati

Ulama produktif

Keterangan tentang Syekh Nawawi Al-Bantani ini juga dijelaskan KH Cholil Nafis, Pengurus MUI Pusat. Ia menerangkan, Syekh Nawawi al Jawi al-Banteni itu ulama besar. Imam Masjidil Haram, Syyid Ulama Hijaz, al Allamah al Fahhamah ad Daqqiq wal Muahhaqiq, Ulama terkemuka pada abad XIV Hijriyah, serta predikat mulia lainnya.?

Syekh Nawawi al-Banteni adalah murid Syekh Ahmad Khothib Sambas (1803-1875) yang menjadi Imam Masjidil Haram dan kemudian diwarisi oleh Syekh Nawawi,” ujar Cholil Nafis yang juga mengungkapkan lewat akun Facebook miliknya, Sabtu (22/7).

Syekh Nawawi, jelasnya, tergolong ulama yang produktif. Karangan kitabnya dalam bahasa Arab lebih dari 115 kitab. Menurut hasil penelitian Martin Van Brunissen, seorang peneliti Indonesianis asal Belanda bahwa dari 46 pesantren terkemuka di Indonesia sebanyak 42 pesantren mengajarkan kitab-kitab Syekh Nawawi.

Siti Efi Farhati

Hal ini, tandas Cholil, sesuai dengan beberapa tokoh dan pendiri pesantren yang menjadi murid Syekh Nawawi sehingga kitab-kitabnya menjadi rujukan dan buku ajar di banyak pesantren.?

Di antara murid Syekh Nawawi al-Banteni yaitu Syekh Ahmad Khotib al Minangkabawi (1860-1916), Syekh Mahfudz Termas (1868-1820), Syekh Kholil Bangkalan dan Hadlratussyekh Muhammad Hasyim Asyari (1875-1947 M) pendiri NU, dan Kiai Haji Ahmad Dahlan (1868-1923) pendiri Muhammadiyah. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Aswaja, Pondok Pesantren, Nusantara Siti Efi Farhati

Selasa, 26 Desember 2017

Beberapa Keutamaan Membayar Zakat

Tidak ada satu pun perkara yang diperintahkan oleh Allah subhanahu wata‘ala kecuali Allah menjanjikan imbalan dan keutamaan bagi orang yang melaksanakannya. Termasuk di antaranya adalah zakat. Keutamaan dan imbalan bagi orang yang melaksanakan zakat banyak disampaikan di dalam Al-Qur’an dan Hadits. Baginda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda:

Beberapa Keutamaan Membayar Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Beberapa Keutamaan Membayar Zakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Beberapa Keutamaan Membayar Zakat

? ? ?

Siti Efi Farhati

“Bentengilah harta kalian dengan zakat.” (HR. al-Baihaqi)

Dan Beliau juga bersabda:

Siti Efi Farhati

? ? ? ? ? ? ? ?

“Barangsiapa membayar zakat hartanya, maka kejelekannya akan hilang dari dirinya.” (HR. al-Haitsami)

Termasuk dari keutaman zakat adalah:

Pertama, masuk ke dalam surga, sebagaiana janji Allah dalam firman-Nya:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orangorang mukmin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al Quran), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Orang-orang Itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar.” (QS. An-Nisa’: 162)

Yang dimaksud dengan pahala besar dalam ayat ini adalah jaminan surga bagi orang-orang yang patuh membayar zakat sebagaimana yang dijanjikan kepada Bani Israil. (Lihat ath-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, Beirut, Dar al-Fikr, cetakan kedua, 2001, jilid IX halaman 399)

(Baca: Dasar Kewajiban Zakat dalam Islam)Kedua, diampuni kesalahan-kesalahannya. Allah berfirman:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dan Sesungguhnya Allah telah mengambil Perjanjian (dari) Bani Israil dan telah Kami angkat diantara mereka orang pemimpin dan Allah berfirman: "Sesungguhnya aku beserta kamu, Sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik Sesungguhnya aku akan menutupi dosa-dosamu. dan Sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir air didalamnya sungai-sungai. Maka Barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, Sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Ma’iddah: 12)

Dengan ayat ini Allah menjanjikan ampunan dosa bagi orang yang membayar zakat sekaligus menjanjikan jaminan surga sebagaimana ayat sebelumnya. (Lihat Abu al-‘Abbas al-Fasi, al-Bahr al-Madid, Beirut, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, cetakan kedua, 2002, jilid IX, halaman: 399) 

Ketiga, mendapatkan petunjuk dan hidayah dalam segala urusan, Allah berfirman:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? 

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, emnunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan Termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At-Taubah: 18)

Ayat ini menjelaskan bahwa orang yang patuh membayar zakat, memiliki harapan besar mendapatkan petunjuk dalam segala urusannya. (Lihat al-Fakhrar-Razi, Tafsir al-Fakhr Razi, Beirut, Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi, cetakanketiga, 2002, jilid I, halaman 2189)

Keempat, mendapat balasan pahala yang terbaik dari zakat yang dilaksanakan dan dilipatgandakan, Allah berfirman:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.  ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? 

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat.mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.

(Meraka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikanBalasankepadamereka (denganbalasan) yang lebihbaikdariapa yang telahmerekakerjakan, dansupaya Allah menambahkarunia-Nyakepadamereka. dan Allah memberirezkikepadasiapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.”(QS. An-Nuur: 37 - 38)

(Baca juga: Makna Perintah Zakat Bergandengan dengan Perintah Shalat dalam Al-Quran) Kelima, harta yang dimiliki menjadi barakah, berkembang semakin baik dan banyak, baginda Nabi Muhammad bersabda:

? ? ? ? ?

“Sedekah (zakat) tidak akan mengurangi harta” (HR. Muslim)

Hadits ini menegaskan bahwa zakat seseorang tidak akan mengurangi hartanya sedikit pun. Artinya meskipun harta seseorang berkurang karena digunakan membayar zakat, namun setelah dizakati hartanya akan menjadi penuh barakah dan bertambah banyak sebagaimana yang dijelaskan oleh imam an-Nawawi di dalam kitab beliau Syarh an-Nawawi ala Muslim:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Di dalam hadits di atas ulama menyebutkan dua sisi. Satu, hartanya akan diberkahi, dijauhkan dari bahaya-bahaya kemudian kekurangan hartanya ditutupi dengan berkah yang samar. Hal ini terlihat nyata dan terbukti secara adat. Kedua, meskipun kelihatannya berkurang sebab dizakatkan, namun hartanya berada di dalam pahala yang akan menutupi kekurangan hartanya tersebut dan akan mendatangkan tambahan lipat ganda” (an-Nawawi, Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim, Beirut, Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi, cetakan kedua, 2003, jilid XVI halaman 141)

Dan masih banyak lagi ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits yang menjelaskan tentang keutamaan membayar zakat. Wallahu a’lam. (Moh. Sibromulisi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pondok Pesantren, Kyai, Tokoh Siti Efi Farhati

Senin, 25 Desember 2017

Keutamaan Shalat Tasbih Menurut Rasulullah SAW

Sembahyang tasbih atau “tasabih” merupakan salah satu sembahyang sunah yang tidak dianjurkan berjamaah. Kalau pun dilaksanakan berjamaah untuk pembelajaran misalnya, tidak masalah. Sembahyang tasbih ini sangat diajurkan karena menyimpan keutamaan luar biasa di balik amalan ini.

Syekh Said bin Muhammad Ba’asyin dalam Busyral Karim bi Syarhi Masa’ilit Ta’lim halaman 260-261 juz I menyebut sebuah hadits Rasulullah SAW dan sejumlah pandangan ulama berikut ini.

Keutamaan Shalat Tasbih Menurut Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)
Keutamaan Shalat Tasbih Menurut Rasulullah SAW (Sumber Gambar : Nu Online)

Keutamaan Shalat Tasbih Menurut Rasulullah SAW

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? "? ? ? (? ? ?) ? ? ?" ? ?. ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? "? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?"

Siti Efi Farhati

Artinya, “Rasulullah SAW mengajarkan Sayidina Abbas RA (pamannya) sembahyang tasbih. Kepadanya, Rasulullah SAW menyebutkan keutamaan besar sembahyang tasbih. Salah satunya adalah ampunan Allah SWT, ‘Kalau saja dosamu sebanyak gundukan pasir, niscaya Allah SWT akan mengampuni dosamu.’ Hadits ini hasan.

Imam Tajuddin As-Subki mengatakan, ‘Tidak ada yang meninggalkan shalat tasbih ini selain orang yang meremehkan agama. Orang yang meremehkan agama tidak akan berkenan mendengarkan keutamaan sembahyang tasbih ini. Sebuah hadits menyebutkan, ‘Kalau kau sanggup, lakukan sembahyang tasbih ini sekali sehari. Kalau tidak, lakukan sekali dalam satu jumat. Kalau tidak bisa, sembahyang tasbih lah sekali sebulan. Kalau tidak sempat, lakukan sekali setahun. Kalau tidak bisa juga, kerjakanlah sekali dalam seumur hidupmu.’ Baiknya sembahyang empat rakaat ini diakhiri dengan satu salam jika dikerjakan siang hari. Kalau dikerjakan malam hari, boleh dikerjakan dalam dua salam.”

Siti Efi Farhati

Menurut Ustadz Abdullah Abdul Qadir Al-Aidrus, hadits ini merupakan potongan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam At-Tirmidzi. Ibnu Majah dan Abu Dawud juga meriwayatkan hadits serupa.

Melihat besarnya keutamaan sembahyang tasbih ini, tidak heran kalau ada beberapa majelis taklim kaum ibu mengawali pengajiannya dengan sembahyang tasbih berjamaah. Memandang betapa pentingnya sembahyang ini baiknya kita mengerjakan sembahyang berisi tasbih ini meskipun hanya sepekan atau sebulan sekali. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pondok Pesantren Siti Efi Farhati

Kamis, 21 Desember 2017

SAS Center Luncurkan Buku Baru

Kairo, Siti Efi Farhati. Setelah melewati berbagai proses yang cukup panjang, akhirnya Said Aqil Siradj (SAS) Center–Badan Otonom PCINU Mesir berhasil meluncurkan buku terbarunya yang berjudul “Spirit Modernitas; Paradigma Islam Integral” atau “al-Islam wa al-Hadatsah, Baina al-Ittishal wa al-Infishal”. Launcing dan Bedah Buku itu dilaksanakan pada Rabu petang (29/11) bertempat di Wisma Nusantara, Rab’ah el-Adawea Kairo.

Acara yang diharidi oleh sekitar 50 peserta putra dan putri dimulai sejak pukul 15.45 WK. Hadir juga dalam acara ini Dr. Kamil Muhammad Uwaidah, Direktur Pers Dahaqalia dan anggota Persatuan Penulis Mesir.

SAS Center Luncurkan Buku Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
SAS Center Luncurkan Buku Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

SAS Center Luncurkan Buku Baru

Acara yang rencananya dibuka oleh Ketua Tanfidziyah, Muhlashon Jalaluddin, Lc. terpaksa diwakilkan kepada Arif Ramadlan selaku Sekretaris Tanfidziyah. Muhlashon sendiri ada acara penting di KBRI Kairo sehingga hanya menyampaikan salam melalui sekretarisnya bahwa ia menyambut baik dan mengucapkan selamat dan sukses kepada SAS Center. Begitu pula dengan Presiden PPMI Mesir, Nor Fuad Shofiyulloh, dalam sambutannya yang mengatakan bahwa “Dunia intelektual Masisir kini sedang menurun sehingga upaya yang dilakukan oleh SAS Center ini perlu terus dikembangkan,” tuturnya. Dalam acara launcing dan bedah buku ini, Duduk sebagai presentator empat pemikir muda Masisir; Cecep Taufiqurrahman, S.Ag. (Ketua PCIM Mesir), M. Saifuddin, S.Ag. (A’wan Syuriah PCINU Mesir), Mukti Ali (sesepuh Lakpesdam PCINU Mesir), Roland Gunawan (Direktur SAS Center) dan dimoderatori oleh Amirullah Asy’ari.

Pada sesi pemaparan oleh para pembedah, Cecep dan Saif sama-sama menghujamkan kritikan-kritikan seputar buku baru tersebut. Namun keduanya tetap menyadari bahwa banyak keunggulan dalam buku tersebut yang lebih fantastis dari pada kelemahan-kelemahannya. Jika Saif memberikan identifikasi hakiki akan makna sebuah tasawwuf dan para pelakunya (kaum sufi), maka Cecep lebih banyak mengkritik seputar teknis penulisan buku. Beliau menilai, dalam buku ini banyak digunakan diksi dan kosa kata ilmiah yang kelihatan agak dipaksakan. Karena sejauh pengetahuannya, bahwa definisi dari istilah-istilah ilmiah itu masih diperdebatkan, sehingga implikasinya dihawatirkan akan menimbulkan miss-interpretation oleh para pembacanya. Kemudian ia juga menyinggung masalah kaidah transliterasi yang dinilai belum ada standarisasinya.

“Berbeda penulisnya, berbeda pula kaidah yang dipakainya, maka hal ini akan menimbulkan kebingungan bagi para pembacanya,” tutur Cecep. Di samping itu pula Cecep juga mengkritik masalah teknis dan isi buku tersebut.

Siti Efi Farhati

Acara bedah buku nampak semakin hangat setelah memasuki sesi tanya jawab yang dalam hal ini hanya cukup diberikan kesempatan kepada 4 orang penanya. Kesempatan pertama disampaikan oleh Robith Qashidi yang menanyakan seputar judul buku dan apakah sebuah modernitas itu bisa mengantarkan pada integralitas dan sebaliknya? Disusul kemudian oleh Irwan Masduqi yang mengkritik masalah inkonsistensi judul buku dengan isinya. Jika ditilik dari judulnya, buku ini terkesan pro-integral. Namun di dalamnya justru terdapat beberapa hal yang dianggap anti-integral. Sementara itu Nailun Najah berkesempatan pula menanyakan perkembangan sekularisme di Barat dan Islam. Tak mau kalah dengan para penanya, para pembedah dan pembicara sore hari itu juga menjelaskan panjang lebar seputar pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.

Usai bedah buku, acara dilanjutkan dengan muhadharah oleh Dr. Kamil Muhammad Uwaidah. Dalam presentasinya yang menggebu, ia memaparkan kritikan-kritikan tajam terhadap kaum orientalis. Dalam rangkuman pidatonya tersebut, Dr. Uwaidah menyatakan bahwa “orientalis itu brengsek dan pasti salah!!” katanya.

“Acara ini merupakan tradisi SAS Center yang dalam kesempatan ini kepanitiannya dipercayakan pada kader-kader baru PCINU Mesir sebagai salah satu langkah re-generasi. Dengan terselenggaranya acara ini, diharapkan dapat menjadi suntikan pemicu bagi peningkatan khazanah intelektual Masisir yang seakan nampak bagaikan lemah syahwat,” kata Faiq Ihsan Ansori, selaku sekteraris panitia pelaksan dan aktifis kajian SAS Center dan Lakpesdam. [luthfi/miqdam/aan]

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pondok Pesantren, RMI NU Siti Efi Farhati

Kamis, 23 November 2017

PCINU Mesir Gelar Lokakarya Internasional Deradikalisasi

Kairo, Siti Efi Farhati

Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Mesir bekerja sama dengan Pusdiklat Pendidikan Agama dan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI, serta KBRI Kairo menyelenggarakan Workshop Internasional di Kairo Mesir.

PCINU Mesir Gelar Lokakarya Internasional Deradikalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Mesir Gelar Lokakarya Internasional Deradikalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Mesir Gelar Lokakarya Internasional Deradikalisasi

Acara yang bertajuk “Peran Manhaj al-Azhar dalam Deradikalisasi Pemahaman Agama yang Intoleran” itu dilaksanakan pada 26-28 April 2017. Lokakarya yang diikuti 200 mahasiwa Indonesia di Mesir ini berupaya menelaah peran sistem pendidikan dan kurikulum al-Azhar di dalam mengajarkan pemikiran dan paham Islam yang damai, paham Islam yang toleran, dan saling mengasihi sesama umat manusia.

Rais Syuriyah PCINU Mesir Muhlashon Jalaluddin mengatakan bahwa tema yang diangkat dalam lokakarya sejalan dengan kondisi yang dihadapi oleh umat saat ini. Menurutnya, umat Islam kini pada posisi tertuduh sebagai pelaku tindak terorisme, akibat maraknya pemahaman agama yang radikal.

Siti Efi Farhati

"Umat Islam selalu tertuduh sebagai pelaku tindakan teror, bukan hanya di negara-negara mayoritas Muslim, tetapi juga di negara-negara (mayoritas) non-Muslim. Padahal tindakan terorisme itu tidak mengenal agama, tidak mengenal kebangsaan, dan tidak ada agama yang memerintahkan tindakan terorisme," ujar Muhlashon dalam sambutannya.

Sementara itu, mencermati suasana pilkada DKI Jakarta baru-baru ini, Muchlis Muhammad Hanafi, Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI yang mewakili Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI Abdurrahman Masud sepakat bahwa para ulama di Indonesia saat ini memiliki tugas berat di dalam mengembalikan paham-paham keagamaan yang sempat menjadi polemik selama masa kampanye. Sebab tidak sedikit statemen-statemen yang terlontar selama kampanye memengaruhi pemahaman agama yang perlu diluruskan.

Siti Efi Farhati

“Umat Islam saat ini menemukan momentumnya untuk mengembalikan semangat persatuan, merajut kembali tali-tali kebangsaan yang belakangan ini ada indikasi memudar. Selanjutnya mari kita menunggu langkah-langkah konkret dari wasathiyatul Islam dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat,” pungkas salah satu narasumber.

Wakil Kepala Perwakilan RI di Kairo Kemal Haripurwanto dalam sambutannya mengapresiasi kegiatan workshop yang diselenggarakan PCINU Mesir kerja sama dengan Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan dan KBRI Kairo. Kemal menyampaikan terima kasihnya kepada Kementerian Agama RI yang secara konkret turut berkontribusi di dalam pembinaan pelajar dan mahasiswa Indonesia di Mesir. “Kegiatan seperti ini perlu dilanjutkan bahkan ditingkatkan,” tandas Kamal.

Selain dari pihak Kementrian Agama RI, acara workshop dijadwalkan menghadirkan pula Prof. Dr. Abdel Fattah Abdel Ghani al-Awwary, Dekan Fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar Kairo; dan Dr. KH. Yahya Cholil Tsaquf, Katib ‘Aam PBNU. Tampak hadir dalam acara pembukaan, para narasumber, Minister Counsellor Politik, Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Sekretaris II Politik, Perbinlu KBRI Kairo, jajaran Suriah PCINU Mesir dan juga pengurus Tanfidziah. (Kenzie/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pondok Pesantren, Kajian Sunnah Siti Efi Farhati

Selasa, 31 Oktober 2017

Ceramah Pada Pengumpulan Dana Pembangunan IIC di Melbourne

Kunjungan Safari Ramadan Wakil Rois ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Tolchah Hasan ke Australia berikutnya adalah kota Melbourne. Kira-kira satu jam perjalanan dengan menggunakan pesawat dari Canberra.

Kunjungan mantan Menteri Agama di era pemerintahan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu ke kota tempat digelarnya balap mobil Formula 1 dan Tenis Australia Open itu disponsori Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU Australia-New Zealand ANZ, berkerja sama dengan KJRI Melbourne, IMCV dan seluruh kelompok pengajian di Melbourne seperti MIIS Monash Uni, Pengajian HANIF Brunswick, Pengajian Al-Ikhlash, Pengajian Laverton, YIMSA, dan Pengajian KITA.

Agenda pertama Kiai Tolchah—demikian panggilan akrabnya—di ibukota negara bagian Victoria ini adalah ceramah agama dalam sebuah forum shalat tarawih. Acara dilanjutkan dengan fund raising (penggalangan dana) untuk pembangunan Indonesian Islamic Center (IIC) Victoria.

Dalam kesempatan yang dihadiri sekitar 250-an jama’ah itu, panitia berhasil menghimpun dana sebesar A$1800 dan U$100. Pada saat itu juga Kiai Tolchah dititipi proposal panitia pembangunan untuk disampaikan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Menteri Agama.

Ceramah Pada Pengumpulan Dana Pembangunan IIC di Melbourne (Sumber Gambar : Nu Online)
Ceramah Pada Pengumpulan Dana Pembangunan IIC di Melbourne (Sumber Gambar : Nu Online)

Ceramah Pada Pengumpulan Dana Pembangunan IIC di Melbourne

“Mudah-mudahan siapapun yang menyambung kepengurusan NU di Melbourne ini bisa memonitor proses proposal ini,” Kata Su’aidi Asy’ari, salah seorang Ketua PCINU ANZ perwakilan Victoria.

Keterlibatan PCINU ANZ Victoria secara intensif dalam proses pembangunan IIC bukannya tanpa alasan. Sebab, dengan berdirinya IIC di Victoria, diharapkan dapat menjadi representasi wajah Islam alternatif, selain wajah Islam Timur Tengah.

Siti Efi Farhati

“Di lembaga ini NU bisa memberi warna Islam yang moderat ala Islam Indonesia,” ujar Su’aidi yang juga mahasiswa S3 University of Melbourne ini.

Pagi harinya acara Kiai Tolchah di Melbourne dilanjutkan dengan kuliah subuh dan diskusi seputar Islam, toleransi dan perbedaan paham aliran keagamaan di Masjid Westol, Clyton dekat Monash University. Dalam ceramahnya, Kiai Tolchah menyinggung luasnya konsep sedekah dalam Islam. Menurutnya, sedekah tidak hanya bersifat kebendaan. Sedekah antara lain bisa berarti mendamaikan dua pihak yang bertikai, juga bisa berarti mendekatkan hubungan antara dua golongan.

Siti Efi Farhati

Mantan Rektor Universitas Islam Malang itu juga menyayangkan hilangnya dimensi etis dan humanis dalam keberagamaan umat Islam Indonesia akibat semangat yang berlebihan dari beberapa kelompok umat Islam. Mereka tidak tahu bahwa sikap yang demikian justru melanggar ajaran Islam itu sendiri. Contohnya sungguh ironis, mereka bermaksud menegakkan ajaran Islam, namun mereka lakukan dengan menggunakan cara kekerasan. 

“Oleh karena itu, di tengah situasi yang demikian, saat ini perlu adanya komunitas Islam yang ramah, damai dan bisa hidup dengan siapa saja tanpa kehilangan jati diri sebagai muslim, tandas Kiai Tolchah.

Dalam forum diskusi, salah seorang peserta bertanya mengenai respon umat Islam setelah jatuhnya mantan Presiden Irak Saddam Husein yang tidak berdampak pada perbaikan ekonomi rakyat Irak sendiri.

“Saya tiga kali ke Irak, sebelum dan sesudah Perang Teluk. Dalam sebuah Konferensi negara-negara Islam, saya berdialog dengan seorang akademisi Irak—yang sebenarnya tidak sepaham dengan Saddam—tetapi  mereka berkata, setidaknya Saddam tidak pernah menjual Islam dan Arab, tidak seperti Raja Fahd,” jawab Kiai Tolchah diplomatis.

Irak adalah negara yang sangat kaya minyak dan memiliki rasa nasionalisme yang sangat tinggi, maka Amerika Serikat bependapat, negara tersebut harus segara dihancurkan sebelum jadi ancaman nyata baginya. Invasi Amerika bukan hanya menginjak-injak harga diri sebagai bangsa, tetapi juga telah menginjak-injak harga diri sebagai manusia, Oleh karena itu tidak heran invansi tersebut menimbulkan banyak sikap radikal untuk menentangnya. (Arif Zamhari/Bersambung)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pondok Pesantren, Internasional, Tegal Siti Efi Farhati

Jumat, 20 Oktober 2017

Ini Pesan Kiai Said di Pernikahan Kahiyang dan Bobby

Jakarta, Siti Efi Farhati. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan pernikahan Kahiyang Ayu, putri Presiden Joko Widodo dan Muhammad Afif Bobby merupakan tanda Kekuasan Allah.

Ini Pesan Kiai Said di Pernikahan Kahiyang dan Bobby (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Pesan Kiai Said di Pernikahan Kahiyang dan Bobby (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Pesan Kiai Said di Pernikahan Kahiyang dan Bobby

“Pernikahan Ananda Kahiyang Ayu dan Muhammad Afif Bobby Nasution yang kita hadiri adalah salah satu tanda kebesaran dan keagungan allah,” kata Kiai Said saat memberikan tausiyah pernikahan di gedung Graha Saba Buana, Jl Letjen Suprapto, Surakarta, Rabu (8/11).

Pernikahan tersebut, lanjut Kiai Said juga sebagai bentuk adanay Islam Nusantara, karena menyatunya dua kebudayaan dan pelaksanaan pernikahan secara adat.

“Pernikahan selain menyatukan Mas Boby dan Kahiyang secara jasmani, juga pertemuan khuluq (akhlak), budaya, peradaban, dan kepribadian,” sambung Kiai Said.

Siti Efi Farhati

Kiai Said mengingatkan, dalam pernikahan akan membangun rumah sebagai tempat tinggal atau  rumah tangga, yang orang Jawa menyebutnya omah-omah. 

“Saya yakin Ananda Kahiyang dan Bobby menempati rumah yang bagus nyaman. Tapi itu tidak ada artinya kecuali kalau ada sakinah,” Kiai Said meneruskan.

Sakinah tersebut terwujud dalam ketenangan di hati para penghuninya.

Siti Efi Farhati

Terakhir, Kiai Said mengingatkan kedua mempelai agar saling menjaga dan melindungi.

“Istri adalah pakaian bagi istri. Artinya harus menutupi merahasiakan dengan rapat kekurangan suami. Begitu juga suami harus menutupi rahasia istrinya,” urai Kiai Said.

Ia mengatakan paling bahaya bila suami menceritakan kekurangan istrinya kepada orang lain apalagi orang lain itu perempuan. Demikian juga bila istri menceritakan kekurangan suaminya kepada orang lain, terlebih orang lain itu adalah laki-laki. 

“Itu adalah awal petaka dalam rumah tangga,” tegas Kiai Said.

Ia berpesan pernikahan tersebut melahirkan keturunan bermartabat, beradab, dan  berguna bagi bangsa dan agama dan dilimpahi rizki yang halal.

Pernikahan Kahiyang dan Bobby dihadiri sejumlah tokoh seperti Wakil Presiden Jusuf Kala, KH Maruf Amin, Gus Mus, Buya Syafii Maarif, Alisa Wahid. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pondok Pesantren, RMI NU Siti Efi Farhati

Kamis, 19 Oktober 2017

Makna dan Hikmah Shalat

Shalat secara bahasa bermakna doa. Pemaknaan semacam ini dapat kita simak pada ayat Q.S. At-Taubah (9:103):

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Makna dan Hikmah Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna dan Hikmah Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna dan Hikmah Shalat

“Dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Siti Efi Farhati

Adapun secara istilah, Syekh Muhammad bin Qasim al-Gharabili (w. 918H) dalam kitab Fathul Qarib (Surabaya: Harisma, 2005), hal. 11 menyebutkan:

Siti Efi Farhati

? - ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dan secara (istilah) syara’–sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ar-Rofi’i, (shalat ialah) rangkaian ucapan dan perbuatan yang diawali dengan takbir, diakhiri dengan salam, beserta syarat-syarat yang telah ditentukan”.

Dari dua pemaknaan tersebut kita bisa menemukan titik temu yakni di dalam shalat yang kita kenal, memang terdapat banyak sekali terkandung doa.

Ada banyak sekali hikmah yang terkandung di dalam shalat, diantaranya seperti yang dirangkum oleh Mustafa al-Khan dan Musthafa al-Bagha, dalam Al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhabi Imam al-Syafi’i (Surabaya: Al-Fithrah, 2000), Juz I, hal. 98:

1. Dalam shalat, ada sujud; sebuah posisi di mana kita merendahkan diri hingga mencium tanah. Ini merupakan pengingat bagi kita akan kerendahan kita di hadapan Allah Sang Pencipta, karena sesungguhnya di hadapan Allah, kita hanyalah hamba yang mutlak sepenuhnya milik Allah.

2. Menyadarkan kita bahwa pada hakikatnya tiada yang mampu memberikan pertolongan pada kita selain Allah.

3. Shalat dilakukan sehari semalam sebanyak 5 kali. Ini berarti ada 5 kali dalam sehari semalam kita bisa bertobat, kembali kepada Allah, karena memang pada dasarnya dalam sehari semalam, tidaklah mungkin kita terluput dari dosa, baik disengaja ataupun tidak.

4. Memperkuat akidah dan keimanan kita pada Allah SWT, karena sesungguhnya sehari-hari godaan kenikmatan duniawi dan godaan setan senantiasa mengganggu akidah kita hingga kita lupa akan keberadaan Sang Khaliq yang Maha Mengawasi. Dengan melakukan ibadah shalat, kita kembali mempertebal keyakinan dan keimanan kita, sebagaimana tumbuhan kering yang segar kembali sesudah diguyur hujan.

Demikian pemaparan tentang makna dan hikmah shalat yang kami sarikan dari berbagai sumber, semoga dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Wallahu a’lam bi shawab. (Muhammad ibnu Sahroji)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pondok Pesantren, Halaqoh, Bahtsul Masail Siti Efi Farhati

Minggu, 18 Juni 2017

NU DKI Berharap Konferensi Ulama Dunia Mampu Atasi Konflik Umat

Pekalongan, Siti Efi Farhati. Wakil Rais Syuriyah PWNU DKI Jakarta KH Zuhri Yakub menilai Konferensi Ulama Internasional Bela Negara yang digagas Jamiyyah Ahlit Thariqah Al-Mutabarah An-Nahdliyyah (JATMAN) sangat bagus. Kegiatan ini juga baik sebagai bentuk penegasan sikap dukungan ulama terhadap penyelenggaraan negara yang menjamin hak-hak warga negara dalam penegakan keadilan dan hak-hak sipil yang merupakan tema penting agama.?

Demikian dikatakanya di sela-sela acara seminar Internasional di Kota Pekalongan, Jawa Tengah, Jumat (29/7). Seminar Internasional diikuti oleh delegasi ulama dari 40 negara. 69 ulama asal Timur Tengah dan beberapa mufti besar asal Amerika serta dihadiri ratusan ulama habaib dari Indonesia dengan agenda bahasan utama tentang masalah Bela Negara.

NU DKI Berharap Konferensi Ulama Dunia Mampu Atasi Konflik Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
NU DKI Berharap Konferensi Ulama Dunia Mampu Atasi Konflik Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

NU DKI Berharap Konferensi Ulama Dunia Mampu Atasi Konflik Umat

Dikatakan Zuhri Yakub, dalam konteks global saat ini, bela negara menjadi penegasan dan peneguhan gagasan kebangsaan di tengah ancaman global yang cenderung menampilkan dominasi negara-negara besar terhadap negara-negara berkembang. "Seminar Internasional dilaksanakan merupakan bukti betapa kaum Nahdliyyin memiliki kontribusi penting bagi tegaknya negara dari masa ke masa," ujar tokoh NU DKI ini.

Dijelaskan Kiai Zuhri, dalam panggung sejarah sudah terbukti seringkali kaum agamis utamanya para pengamal tarekat untuk tampil menjaga keutuhan kedaulatan wilayah dimana mereka tinggal sebagai respon perlawanan terhadap kesewenang-wenangan yang mengancam ? runtuhnya keadilan dan terabaikannya hak-hak sipil rakyat.

"Sejatinya tidak ada lagi kecurigaan terhadap kaum santri dan pengamal tarekat, bahkan sesungguhnya mereka bisa menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan pemerintahan dan upaya mempertahankan negara dari ancaman pihak-pihak asing," ungkapnya.

Siti Efi Farhati

Apalagi, lanjutnya, acara ini semakin bertambah nilainya dengan kehadiran hampir 69 tokoh ulama dari belahan dunia yang diharapkan mampu memberikan gagasan-gagasan baru dan menyegarkan untuk dapat memberikan formula ? jitu dalam menyelesaikan konflik dan persetruan serta menelurkan gagasan baru untuk meredam konflik internal dan ancaman eksternal. (Junaidi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Jadwal Kajian, Aswaja, Pondok Pesantren Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock