Tampilkan postingan dengan label Olahraga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Olahraga. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Februari 2018

MWCNU Kibarkan Bendera NU dan Baca Qonun Asasi

Kendal, Siti Efi Farhati. Dalam rangka memeriahkan Harlah ke-89 NU, pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) kecamatan Kangkung, Kendal menyelenggarakan serangkaian kegiatan diantaranya pemasangan spanduk harlah NU di masing-masing ranting, pengibaran bendera NU di tiap jalan di masing-masing ranting. Sedangkan puncaknya adalah istighotsah di tiap-tiap masjid  yang dilaksanakan serentak pada 5 Juni 2012/16 Rajab 1433 H.

Menurut ketua MWCNU Kangkung, Ahmad Khoiron, selain diisi istighotsah, kegiatan juga diisi  dengan pembacaan qonun asasi KH Hasyim As’ari oleh petugas dari MWC NU Kangkung. Hal ini kembali menghayati undang-undang dasar NU.

MWCNU Kibarkan Bendera NU dan Baca Qonun Asasi (Sumber Gambar : Nu Online)
MWCNU Kibarkan Bendera NU dan Baca Qonun Asasi (Sumber Gambar : Nu Online)

MWCNU Kibarkan Bendera NU dan Baca Qonun Asasi

Istoghotsah dan pembacaan Qonun asasi itu tak pelak telah meramaikan masjid dan musholla se kecamatan Kangkung karena memang  dilakukan secara serempak pada hari dan jam yang sama. Sehingga suasana seperti malam takbiran karena masing-masing masjid dan musholla memanfaatkan pengeras suara yang ada.

Siti Efi Farhati

Lebih lanjut Khoiron menambahkan bahwa di tingkat MWC NU Kangkung, guna mengetahui sejarah NU pengurus juga memutar film sejarah berdirinya jam’iyyah NU yang diputar dengan mengunakan layar lebar dan bisa ditonton untuk umum.

Siti Efi Farhati

“Malam  itu semua warga NU, Muslimat, Ansor, Fatayat, IPNU IPPNU ikut meramaikan Harlah NU ke 89 diKecamatan Kangkung. Tak ketinggalan Nasi Tumpeng juga menambah keakraban sesama warga NU, “ jelas Khoiron.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Fahroji

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Olahraga, Internasional Siti Efi Farhati

Minggu, 28 Januari 2018

Gus Yusuf: Serukan Damai Dunia lewat Seni

Magelang, Siti Efi Farhati. Pengasuh pesantren API Tegalrejo KH M Yusuf Chudlori mengadakan pertemuan bersama tokoh lintas agama dan sejumlah seniman Magelang. Mereka menggelar acara Suran Tegalrejo Jamasan Alam dengan pertunjukan beragam kesenian di halaman studio Fast FM Tegalrejo, Rabu (18/11) malam.

Panitia Penyelenggara Sholahuddin Ahmed  mengatakan, Suran Tegalrejo kali ini merupakan yang ke-7. Pada pertemuan kali ini, sejumlah kesenian ditampilkan seperti Obros dari Salaman Magelang, pementasan grup musik Jodho Kemil, pementasan wayang Gunung, pementasan ketoprak ringkes Tjap Tjonthong, kesenian dari Mantran Ngablak, dan Wonolelo Bandongan Magelang.

Gus Yusuf: Serukan Damai Dunia lewat Seni (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Yusuf: Serukan Damai Dunia lewat Seni (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Yusuf: Serukan Damai Dunia lewat Seni

"Ada yang istimewa, Ketoprak diramaikan oleh pelawak kondang Marwoto Kewer, Den Baguse Ngarso. Untuk orasi budaya oleh oleh presiden lima gunung Sutanto Mendut. Sedangkan doa dan seruan damai oleh Gus Yusuf," papar Udin di sela acara.

Siti Efi Farhati

Sementara Gus Yusuf mengatakan, hari ini masyarakat sedang bersedih di saat musibah demi musibah terjadi silih berganti baik bencana asap hingga aksi kekerasan termasuk kekerasan di Paris beberapa hari lalu. Meskipun lokasinya jauh, namun bila tidak segera menghentikan, kekerasan tidak menutup kemungkinan juga akan terjadi di antara warga kita.

“Sebab itu, kegiatan ini menjadi momentum untuk  seruan dari masyarakat gunung untuk menghentikan aksi kekerasan dan terus-menerus mengampanyekan perdamaian. Kita tidak bosan menyerukan perdamaian, sebagaimana mereka yang tidak pernah bosan untuk melakukan tindak kekerasan," kata Gus Yusuf.

Siti Efi Farhati

Acara cukup semarak, warga Tegalrejo dan sekitarnya antusias mengikuti acara itu. Tampak hadir Pendeta Lereng Merapi Romo Kirjito, Tokoh Tionghoa Yefta Tandio, Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Sukirman dan Om Bam. (Ahsan Fauzi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Ulama, Olahraga, PonPes Siti Efi Farhati

Sabtu, 20 Januari 2018

Songsong 1 Abad, NU Terus Berupaya Bangkitkan Perekonomian Indonesia

Medan, Siti Efi Farhati

Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) terus berusaha membangkitkan perekonomian Indonesia. Upaya ini dalam rangka menyongsong 100 tahun NU pada 2026. Untuk mewujudkan dan melanjutkan misi tersebut, LPNU menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) 2016 yang akan dibuka Sabtu (2/4) di Medan International Convention Center (MICC) Medan, Sumatera Utara bertajuk ‘Dengan Semangat Islam Nusantara, Kita Menyongsong 100 Tahun NU dan Kebangkitan Perekonomian Indonesia.

Songsong 1 Abad, NU Terus Berupaya Bangkitkan Perekonomian Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Songsong 1 Abad, NU Terus Berupaya Bangkitkan Perekonomian Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Songsong 1 Abad, NU Terus Berupaya Bangkitkan Perekonomian Indonesia

Kegiatan yang diikuti oleh pimpinan wilayah LPNU se-Indonesia ini akan menyusun langkah strategis dan prioritas kerja LPNU sesuai amanat Muktamar ke-33 di Jombang 2015 lalu yang menyatakan program disusun untuk memperkuat organisasi dan memberdayakan umat menuju kebangkitan satu abad Nahdlatul Ulama.

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, Ketua LPNU Harvick Husnul Qolbi mengungkapkan berbagai langkah untuk membangkitkan semangat perekonomian warga NU dan masyarakat Indonesia.

Harvick mengungkapkan, gerakan seperti pawai sejuta umat akan diekspos sebagai wujud kebesaran NU dan Islam Nusantara. Gerakan sejuta Wirausaha Muslim dan Santripreneurship juga akan diekspolrasi sebagai wujud kontribusi NU dalam upaya kebangkitan ekonomi Indonesia.

Siti Efi Farhati

“Insyaallah upaya ini akan semakin meningkatkan potensi para pembayar zakat yang secara signifikan juga meningkatkan nilai dari zakatnya,” ujar Harvick.

Dalam rangkaian kegiatan Rakernas ini juga akan dibahas sinergi program atau agenda kerja kementerian maupun korporasi dengan program kerja LPNU dan PBNU dibidang ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Selain itu, tiap-tiap pengurus LPNU dari berbagai wilayah menceritakan pengalaman sukses (success story) dalam mengembangkan ekonomi kerakyatan.

Di antara kementerian yang terlibat adalah Kementerian BUMN, Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Tenaga Kerja, dan Direktur Meratus Line Charles Menaro. (Fathoni)?

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Olahraga Siti Efi Farhati

Selasa, 16 Januari 2018

Kartini Nyantri: Inspirasi Perjuangan

Oleh Fathoni Ahmad

Selama ini RA Kartini dikenal sebagai seorang bangsawan Jawa sekaligus priyayi, cara mudah bagi orang yang pertama kali medengar namanya cukup dengan membaca gelarnya, Raden Adjeng (RA). Raden Adjeng Kartini adalah putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kiai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI.

Secara spesifik, tulisan ini tidak bermaksud membahas geneologi atau silsilah Kartini, tetapi bagaimana pemikiran revolusionernya tumbuh di tengah tradisi paternalisitik yang kental di lingkungan keluarganya. Tidak bisa dipungkiri, kuatnya paternalisitk inilah yang membuat Kartini selalu mencari jawaban dari anomali yang terjadi. Mengapa peran perempuan seolah hanya menjadi pelengkap kehidupan laki-laki? Tentang jawaban pertanyaan ini, Kartini sudah membuktikan diri dan memberi inspirasi bagi para perempuan untuk berperan sesuai dengan kemampuannya di tengah masyarakat dengan tidak menanggalkan perannya sebagai ibu di rumah tangga dan sebagai perempuan sesuai fitrahnya.

Kartini Nyantri: Inspirasi Perjuangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kartini Nyantri: Inspirasi Perjuangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kartini Nyantri: Inspirasi Perjuangan

Masuk ke topik inti bahwa selain bangsawan Jawa, Kartini ? juga seorang santri. Dia nyantri dan belajar agama kepada Kiai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang, Jawa Tengah ? yang juga dikenal dengan Mbah Sholeh Darat. Sebelum melakukan perjuangan kemerdekaan peran perempuan, pola pikir Kartini terbentuk ketika belajar ngaji kepada Kiai Sholeh Darat. Sebelumnya, kegelisahan demi kegelisahannya muncul ketika fakta yang ada masyarakat hanya bisa membaca Al-Qur’an tetapi tidak diperbolehkan memahami artinya pada zaman itu.

Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis:

Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?

Siti Efi Farhati





Siti Efi Farhati

Al-Qur’an terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Al-Qur’an tapi tidak memahami apa yang dibaca.





Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.





Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?

RA Kartini melanjutkan kegelisahannya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim kepada Ny Abendanon.

Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Qur’an, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya.





Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kita ini terlalu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya.

Sampai akhirnya Kartini bertemu dengan Kiai Sholeh Darat untuk belajar ngaji dan menanyakan berbagai hal yang menjadi kegelisahannya selama ini terkait dengan tidak diperbolehkannya masyarakat memahami isi dan makna Al-Qur’an. Fakta sejarah yang ada, ternyata kebijakan ini datang dari para penjajah dengan asumsi jika masyarakat memahami Al-Qur’an, maka jiwa merdeka akan tumbuh. Tentu hal ini akan mengancam eksistensi kolonial itu sendiri. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa tidak banyak ulama saat itu yang menerjemahkan Al-Qur’an, bukan tidak mau dan tidak mampu, tetapi harus berhati-hati dengan kebijakan Belanda itu.

Fakta sejarah pertemuan antara RA Kartini dengan Kiai Sholeh Darat memang tidak diceritakan Kartini di setiap catatan surat-suratnya. Hal ini tidak lebih karena Kartini sendiri mengkhawatirkan keselamatan Mbah Sholeh Darat karena tidak tertutup kemungkinan kaum kolonial akan mengetahuinya.

Mbah Sholeh Darat sendiri dalam pengajian yang diberikannya kepada Kartini menjelaskan tentang tafsir surat Al-Fatihah. Hal ini seperti yang diceritakan oleh cucu Mbah Sholeh Darat, Nyai Hj Fadhilah Sholeh. Dalam ceritanya, Nyai Fadhilah mengisahkan:

Takdir mempertemukan Kartini dengan Kiai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.





Kemudian ketika berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak, RA Kartini menyempatkan diri mengikuti pengajian yang diberikan oleh Mbah Sholeh Darat. Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat al-Fatihah. RA Kartini menjadi amat tertarik dengan Mbah Sholeh Darat.





Kiai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kiai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang kiai.





Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.





Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kiai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kiai Sholeh.





“Kiai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.





Kiai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Adjeng bertanya demikian?” Kiai Sholeh balik bertanya.





“Kiai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al-Fatihah, surat pertama dan induk Al-Qur’an. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.





Kiai Sholeh kembali tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan, “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Qur’an ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al-Qur’an adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Dialog berhenti sampai di situ. Nyai Fadhila menulis Kiai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali berucap “Subhanallah”. Kartini telah menggugah kesadaran Kiai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Jawa.

Dari riwayat di atas, Kartini menemukan cahaya yang menerangi berbagai kegelapan pengetahuan dan ilmu yang selama ini melingkupinya dengan ngaji kepada Mbah Sholeh Darat. Inspirasi inilah yang membuat Kartini memberi judul buku yang berisi surat-suratnya dengan “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Secara historis, dalam pertemuan itu RA Kartini meminta agar Al-Qur’an diterjemahkan. Karena menurutnya, tidak ada gunanya membaca kitab suci tapi tidak memahami artinya. Namun pada saat itu pula penjajah Belanda secara resmi melarang penerjemahan Al-Qur’an. Mbah Sholeh Darat tetap melakukan penerjemahan, Beliau menerjemahkan Al-Qur’an dengan ditulis dalam huruf “Arab gundul” (pegon) sehingga tidak dicurigai dan dipahami penjajah.

Kitab tafsir dan terjemahan Al-Qur’an ini diberi nama Kitab Faidhur-Rohman, tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab pegon. Kitab ini pula yang dihadiahkannya kepada RA Kartini pada saat dia menikah dengan RM Joyodiningrat, seorang Bupati Rembang. ? Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan:

“Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ? ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kiai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa ? yang saya pahami.”

(Inilah dasar dari buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang ditulis RA Kartini, bukan dari sekumpulan surat-menyurat beliau. Dalam hal ini, substansi sejarah Kartini konon telah disimpangkan secara siginifikan). Melalui terjemahan Mbah Sholeh Darat itulah RA Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya yaitu:

“Orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya.” (QS. Al-Baqarah: 257).

Dalam sejumlah suratnya kepada Abendanon, Kartini banyak mengulang kata “dari gelap menuju cahaya” yang ditulisnya dalam bahasa Belanda, Door Duisternis Toot Licht. Oleh Armijn Pane, ungkapan ini diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang,” yang menjadi judul untuk buku kumpulan surat-menyuratnya.?

Surat yang diterjemahkan Kiai Sholeh adalah Al-Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Namun sayangnya penerjemahan Kitab Faidhur-Rohman ini tidak selesai karena Mbah Kiai Sholeh Darat keburu wafat.

Dari perjumpaannya dengan Mbah Sholeh Darat itu, Kartini juga banyak memahami kehidupan masyarakat yang selama ini terkungkung penjajahan sehingga banyak memunculkan sikap inferioritas terutama di kalangan perempuan. Keterbukaan pandangan dan pemikiran Kartini dari hasil kawruh (belajar) kepada Mbah Sholeh Darat inilah yang membuat langkahnya semakin mantap untuk mengubah tatanan sosial kaum perempuan dan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Selamat Hari Kartini!

Penulis adalah Redaktur Siti Efi Farhati.

*) Tulisan ini disarikan dari berbagai sumber.

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Cerita, Pertandingan, Olahraga Siti Efi Farhati

Senin, 15 Januari 2018

Santri Nurul Burhany Ziarahi Makam Sesepuhnya, Mbah Mufid

Yogyakarta, Siti Efi Farhati. Peringati khotmil quran, warga pesantren Nurul Burhany Mranggen Demak mengadakan ziarah di makam para wali di Yogyakarta, Selasa (27/5). Para santri Nurul Burhany dan pengasuhnya menziarahi khususnya makam KH Muhammad Mufid Mas’ud yang dikenal Mbah Mufid di Pandanaran.

Pengasuh pesantren Nurul Burhany KH Helmi Wafa Mahsuni mengatakan, kegiatan semacam ini perlu dilakukan untuk memperkenalkan sekaligus meneladani para kiai.

Santri Nurul Burhany Ziarahi Makam Sesepuhnya, Mbah Mufid (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Nurul Burhany Ziarahi Makam Sesepuhnya, Mbah Mufid (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Nurul Burhany Ziarahi Makam Sesepuhnya, Mbah Mufid

“Dari ziarah ini, para santri dapat mengambil teladan terutama bagaimana para kiai beinteraksi dengan Al-Qur’an mulai dari cara membaca, menghapal bahkan mengimplementasikannya dalam hidup keseharian,” kata Kiai Helmi.

Siti Efi Farhati

Sementara salah seorang pengasuh pesantren Nurul Burhany Hj Mila Hasna Hanif menerangkan, Mbah Mufid Pandanaran merupakan salah satu guru pengasuh pesantren Nurul Burhany.

Siti Efi Farhati

“Karenanya, santri pesantren ini harus dikenalkan dengan Mbah Mufid. Pasalnya, almarhum merupakan simbah guru para santri,” pungkas Hj Mila. (Abdus Shomad/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Olahraga Siti Efi Farhati

Sabtu, 06 Januari 2018

Peserta Bahtsul Masail Harap Berkah Masyayikh Pesantren Al-Munawwir

Yogyakarta, Siti Efi Farhati. Panitia Muktamar NU memilih pesantren Al-Munawwir Krapyak sebagai tempat forum musyawarah untuk pematangan materi bahtsul masail muktamar NU mendatang di Jombang. Mereka sengaja memilih tempat ini untuk mengambil semangat dan tabarrukan dari para kiai Krapyak.

Peserta Bahtsul Masail Harap Berkah Masyayikh Pesantren Al-Munawwir (Sumber Gambar : Nu Online)
Peserta Bahtsul Masail Harap Berkah Masyayikh Pesantren Al-Munawwir (Sumber Gambar : Nu Online)

Peserta Bahtsul Masail Harap Berkah Masyayikh Pesantren Al-Munawwir

Katib Syuriyah PBNU KH Yahya Cholil Staquf yang membuka forum bahtsul masail pra muktamar ini menyebutkan harapannya agar Allah menurunkan keberkahan para guru pesantren Al-Munawwir bagi forum penting di NU.

“Kita berharap berkah dari masyayikh ma’had Al-Munawwir ini. Pesantren ini ialah salah satu soko guru dari pesantren NU. Para kiainya cukup menentukan bangunan pemikiran NU hingga kini,” kata Gus Yahya dalam sambutan atas nama panitia di pesantren Krapyak, Sabtu (28/3) siang.

Siti Efi Farhati

Menurut salah satu pengasuh pesantren Al-Munawwir KH Hilmi Muhammad, penempatan bahtsul masail pra muktamar NU ini berawal dari insiatif santri ma’had Aly Krapyak. Mereka menginginkan pesantren mengadakan forum bahtsul masail.

“Kami sebagai pengurus pesantren lalu menyinergikan dengan PBNU yang merencanakan sidang pra muktamar. Alhamdulillah pengurus PBNU merespon positif,” kata Gus Hilmi dalam sambutan atas nama sohibul bait mewakili KH Najib Abdul Qodir

Siti Efi Farhati

Kepada peserta bahtsul masail pra muktamar, Gus Hilmi mengucapkan selamat datang. “Kami berharap forum ini mengeluarkan keputusan yang bermanfaat bagi NU dan Indonesia.”

Sementara Katib Aam PBNU KH Malik Madani mengingat pesantren Krapyak menempati posisi penting bagi kiai NU. “Bahtsul masail pertama dalam rangkaian Pra Muktamar di sini menjadi kehormatan bagi PBNU,” kata Kiai Malik yang mengakhiri sambutannya dengan surat al-Fatihah.

Peserta datang dari sejumlah pengurus cabang NU dan pengasuh pesantren di Yogyakarta dan sekitarnya. Tampak hadir Dirut BPJS, Dirjen Haji Kemenag RI yang akan memaparkan keterangan yang dibutuhkan peserta. Terlihat juga puluhan mahasiswa jurusan Perbandingan Madzhab Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Makam, Fragmen, Olahraga Siti Efi Farhati

Kamis, 04 Januari 2018

Pentingnya Proses Damai di Palestina dengan Solusi Dua Negara

Jakarta, Siti Efi Farhati



Dalam pidato pembukaan KTT Luar Biasa Ke-5 OKI, Presiden Joko Widodo (Jokowi), menyatakan bahwa dunia Islam memerlukan dukungan PBB dan menyerukan proses damai jangan ditunda guna mewujudkan kemerdekaan Palestina melalui Solusi Dua Negara.?

Solusi Dua Negara ini telah cukup lama diutarakan kepada Israel, namun belum ada langkah konkret apapun menuju ke sana, kata Presiden di Balai Sidang Jakarta, Senin.

Pentingnya Proses Damai di Palestina dengan Solusi Dua Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Pentingnya Proses Damai di Palestina dengan Solusi Dua Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Pentingnya Proses Damai di Palestina dengan Solusi Dua Negara

Israel berada di tanah yang sama dengan tanah di mana Palestina berdiri. Sejak 1967, aneksasi militer dan politik internasional Israel secara ilegal bekerja pada Palestina dan semua warganya di sana.

Jalur Gaza menjadi contoh sempurna soal ini, di mana Israel hanya membuka satu pintu, Rafah, sebagai satu-satunya jalur keluar dan masuk warga Palestina ke Jerusalem.?

Posisi dan sikap Indonesia soal kemerdekaan Palestina, menurut Presiden Jokowi, sangat jelas dan tetap, yaitu mendukung kemerdekaan Palestina.?

Siti Efi Farhati

Presiden Jokowi pun menyitir pernyataan Presiden RI 1945-1966 Soekarno (Bung Karno) pada 1962 bahwa selama kemerdekaan Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia menantang penjajahan Israel.

Organisasi Kerja Sama Islam (OKI, yang semula bernama Organisasi Konferensi Islam, mengadakan konperensi tingkat tinggi luar biasa (KTT LB) membahas kemerdekaan Palestina dan perdamaian Tanah Kudus (Al Quds) Jerusalem di Jakarta, 6 dan 7 Maret 2016. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Olahraga, Nahdlatul Ulama, Tokoh Siti Efi Farhati

Rabu, 03 Januari 2018

Pemkab Didesak Cairkan Bantuan untuk Madrasah

Jember, Siti Efi Farhati 

Pemerintah Kabupaten Jember didesak agar kembali mengalokasikan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk Madrasah Diniyah (Madin).

Pemkab Didesak Cairkan Bantuan untuk Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemkab Didesak Cairkan Bantuan untuk Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemkab Didesak Cairkan Bantuan untuk Madrasah

Wakil Ketua DPRD Jember, H Miftahul Ulum Jember mengatakan, Pemkab tidak perlu ragu atau takut untuk mencairkan dana tersebut karena Pemprop Jawa Timur sudah memastikan bahwa BOS Madin tidak bermasalah.

“Yang saya tahu bahwa Pemerintah Propinsi Jatim sudah mengklarifikasi dana tersebut ke Kemendagri, dan katanya tidak ada masalah. Jadi sebaiknya  bupati juga bisa mencairkan (BOS Madin) lagi,” tukas Ulum di ruang kerjanya, Jumat (22/2).

Siti Efi Farhati

Ulum mengakui, sejauh ini Pemkab Jember memang masih belum sreg untuk menggelontorkan APBD bagi Madin karena dikhawatirkan akan berdampak pada persoalan hukum.

Siti Efi Farhati

Dikatakan, pihaknya tak jarang mendapat laporan dan keluhan mengenai macetnya dana BOS dan tunjangan guru Madin dari Pemkab Jember. “Kami beberapa kali hearing dengan para guru Madin, dan mereka kecewa karena lama BOS tidak cair,” tukasnya.

Sementara itu, Ketua Persatuan Guru Madrasah Diniyah Kabupaten Jember, R. Mufti Ali berharap agar Pemkab Jember bisa segera memastikan pencairan  dana BOS Madin dimulai tahun ini. “Mau alasan apa lagi, wong Pak Karwo sudah menegaskan itu tidak bertentangan dengan hukum,” sergah Mufti.

Menurtu Mufti, selama ini, Pemprop Jatim dan Pemkab Jember melakukan sharing dalam pencairan dana BOS Madin selama satu tahun kalender. Pemprop Jatim mencairkan dana 6 bulan pertama, dan enam bulan berikutnya menjadi tanggungan Pemkab Jember. “Tapi itu hanya berlaku tahun 2011. Tahun 2012 hanya dana dari Pemprop Jatim cair 6 bulan, sedangkan dari Pemkab Jember nol. Katanya, ada larangan dari Mendagri,” jelasnya.

Terkait hal itu, jajaran petinggi Pemkab Jember belum bisa dihubungi. Kepala Dinas Pendidikan Pemkab Jember, Bambang Hariono, juga belum bisa ditemui wartawan. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Aryudi A. Razak

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pondok Pesantren, Habib, Olahraga Siti Efi Farhati

Minggu, 24 Desember 2017

Perubahan Nama Jalan Medan Merdeka Tak Punya Tujuan Pasti

Jakarta , Siti Efi Farhati. Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Muhammad Sulton Fatoni angkat bicara mengenai usulan perubahan nama Jalan Medan Merdeka menjadi Bung Karno, Bung Hatta, Soeharto, dan Ali Sadikin. 

Ditegaskannya, pengusulan tersebut sebagai langkah terburu-buru yang tidak memiliki tujuan pasti. "Apa target dari usulan tersebut selain mengundang munculnya sikap pro dan kontra di tengah masyarakat? Adakah substansi dari usulan tersebut? Saya yakin tujuannya bukan semata menghormati kepahlawanan saja," tegas Sulton di Jakarta, Senin (2/9/2013).

Perubahan Nama Jalan Medan Merdeka Tak Punya Tujuan Pasti (Sumber Gambar : Nu Online)
Perubahan Nama Jalan Medan Merdeka Tak Punya Tujuan Pasti (Sumber Gambar : Nu Online)

Perubahan Nama Jalan Medan Merdeka Tak Punya Tujuan Pasti

Usulan perubahan nama Jalan Medan Merdeka sendiri disampaikan sekelompok masyarakat yang menamakan dirinya Panitia 17, yang diketuai oleh Jimmly Ashiddiqqie. Kepada para pengusul Sulton meminta agar dicermati kembali sejarah penamaan Jalan Medan Merdeka.

Siti Efi Farhati

"Penamaan Jalan Medan Merdeka tentu memiliki landasan filosofi yang matang. Diabaikannya buah pemikiran para leluhur, termasuk di usulan perubahan nama Jalan Medan Merdeka inilah yang mengundang kontroversi," tambah Sulton.

Sikap kritis Sulton dalam kontroversi tersebut juga dikarenakan pemilihan nama Bung Karno, Bung Hatta, Soeharto, dan Ali Sadikin, sebagai pengganti Jalan Medan Merdeka. Menurutnya masih diperlukan kajian mendalam atas alasan kepahlawanan dari  nama-nama tersebut.

Siti Efi Farhati

"Soekarno, Hatta, Soeharto, dan Ali Sadikin adalah tokoh dengan kiprah dan spesifik, baik jasa dan masa pengabdian yang masing-masing berbeda. Kurang tepat jika keempatnya disejajarkan, karena faktualnya memang berbeda," tandasnya.

Lebih lanjut Sulton meminta agar Pemerintah, baik DKI Jakarta maupun Pusat, melakukan kajian mendalam sebelum memberikan persetujuan atas usulan tersebut. Dalam pandangannya banyak cara menghormati seseorang yang dianggap berjasa, tanpa harus mengundang kontroversi dan menggugat pemikiran leluhur.

"Mari kita hormati pencetus nama Jalan Medan Merdeka dengan segala pemikirannya, dengan membiarkan nama jalan itu seperti sekarang ini. Menghormati kepahlawanan seseorang tidak harus dengan menjadikannya sebagai nama jalan, karena sesungguhnya banyak cara menghormati seseorang tanpa harus melukai orang lain," pungkas Sulton. (Samsul Hadi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Olahraga Siti Efi Farhati

Minggu, 17 Desember 2017

PMII Pinrang Salurkan Bantuan untuk Pidie Jaya

Pinrang, Siti Efi Farhati?

Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kabupaten Pinrang melaksanakan aksi kemanusiaan selama dua hari dimulai pada tanggal 14-15 Desember. Bantuan itu untuk korban bencana alam di wilayah Aceh.

PMII Pinrang Salurkan Bantuan untuk Pidie Jaya (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Pinrang Salurkan Bantuan untuk Pidie Jaya (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Pinrang Salurkan Bantuan untuk Pidie Jaya

Bantuan diserahkan Ketua Cabang PMII Kabupaten Pinrang Suhardi melalui Bank BNI.?

Suhardi mengatakan aksi kemanusiaan PMII di laskanakan pada dua hari dan telah terkumpul dana sebanyak 3.500.000. Penyetoran dilakukan Jumat (16/12) untuk korban gempa bumi warga Pidie Jaya.

"Setelah dua hari dilaksanakannya aksi kemanusiaan penggalangan dana Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Pinrang untuk saudara kita yang mengalami musibah bencana alam gempa bumi di Aceh. Dan setelah minghitung jumlah sebanyak 3.500.000," jelasnya.

Siti Efi Farhati

Ia berharap saudara-saudara di Pidie Jaya menerimanya walaupun tidak begitu banyak.

"Semoga apa yang kami berikan ini membantu saudara kita. Semoga yang menyumbang mendapatkan rezeki dan yang ikut berpartisipasi dalam penggalangan dana akan menjadi amal ibadah di mata Allah SWT. Amin," tutupnya. (Husnil/Abdullah Alawi)?

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Humor Islam, Kiai, Olahraga Siti Efi Farhati

Sabtu, 16 Desember 2017

Satkorwil Banser Lampung Kukuhkan 68 Balantas

Bandar Lampung, Siti Efi Farhati. Satuan Koordinasi Wilayah Barisan Ansor Serbaguna (Satkorwil Banser) Lampung telah mengukuhkan 68 kader sebagai anggota Banser Lalu Lintas sehubungan telah mengikuti Pendidikan dan Latihan Khusus (Diklatsus) Banser Lalu Lintas (Balantas).

Satkorwil Banser Lampung Kukuhkan 68 Balantas (Sumber Gambar : Nu Online)
Satkorwil Banser Lampung Kukuhkan 68 Balantas (Sumber Gambar : Nu Online)

Satkorwil Banser Lampung Kukuhkan 68 Balantas

Kepala Satkorwil Banser Lampung, Tatang Sumantri di Bandar Lampung, Ahad (28/5) menjelaskan, anggota Balantas Lampung berasal dari Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Banser di 11 kabupaten/kota di wilayah itu.

"Mereka telah mengikuti Diklatsus yang diisi sejumlah pihak berkompeten, seperti Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Lampung Timur," ujar Tatang didampingi Kepala Asinfokom Gatot Arifianto.

Diklatsus Balantas Satkorwil Banser Lampung digelar di Pesantren Nurul Huda asuhan Ustad Said Fauzi yang berada di Dusun Munjuk Desa Labuhan Maringgai, Kecamatan Labuhan Maringgai, Lampung Timur, 22-25 Mei 2017.

Siti Efi Farhati

"Untuk kelulusan, mereka dinilai dan diuji mengenai lalu lintas, penanganan kegawatdaruratan, kepemimpinan dan sejumlah materi lain seperti pengabdian masyarakat," papar Tatang.

Ia lalu menambahkan, 68 anggota Balantas Lampung akan bertugas di daerahnya masing-masing H-7 hingga H+ 7 Idul Fitri 1438 H tanpa menerima gaji.

"Banser bukan pekerjaan. Banser adalah jalan berkhidmat bagi kemanusiaan, bangsa dan ulama. Dan pilihan itu harus diterima oleh setiap kader Banser," kata dia lagi.

Tatang menjelaskan, masing-masing anggota Balantas Lampung telah menyepakati hal tersebut dengan membuat pernyataan tertulis yang kemudian diucapkan secara lisan.

"Satkorwil Banser Lampung mengucapkan terima kasih atas kesediaan sahabat-sahabat Banser untuk terus berbuat dan bermanfaat. Semoga dicatat sebagai amal ibadah oleh Allah SWT," kata dia lagi.

Siti Efi Farhati

Dalam waktu dekat, titik-titik pos komando (posko) Idul Fitri 1438 H Banser Lampung akan segera dihimpun guna berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, demikian Tatang Sumantri. (Syuhud Tsaqafi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Olahraga, Sejarah, Syariah Siti Efi Farhati

Jumat, 08 Desember 2017

KH Muslih Abdurrahman Mranggen

Bagi kaum thariqah di Indonesia, khususnya pengikut Thariqah Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah (TQN), nama KH Muslih Abdurrahman Mranggen tentu sudah sangat masyhur. Keberadaannya sebagai salah seorang mursyid TQN, yang sekaligus aktif dalam mengembangkan dan membesarkan Jamiyah Ahlit Thariqah Al-Muktabarah An-Nahdliyah (Jatman) hingga akhir hayat pada tahun 1981, membuat muridnya menyebut Kiai Muslih sebagai Abul Masyayekh dan Syeikhul Mursyidin.

Tak hanya itu, Kiai Muslih berjasa pula dalam mengusir penjajah Belanda dan Jepang, baik sebagai anggota laskar Hizbullah yang berlatih kemiliteran bersama Syeikh KH Abdulloh Abbas Buntet Cirebon dalam satu regu di Bekasi Jawa Barat, maupun ketika bergabung dengan komando pasukan Sabilillah yang beranggotakan para kiai/ulama di wilayah Demak selatan atau front Semarang wilayah Tenggara.

Kiai Muslih dilahirkan di Suburan Mranggen Demak, pada tahun 1908, dari pasangan Syekh KH Muslih bin Syeikh KH Abdurrohman dan Hj. Shofiyyah. Dari jalur ayah, silsilah kiai Muslih sampai kepada Syeikh Al-Jali atau Syeikh Al-Khowaji yang berasal dari Baghdad keturunan Sayyidina Abbas r.a, paman Nabi Muhammad saw. Sedangkan ibunya masih keturunan dari Sunan Ampel.

Sejak kecil Muslih sudah gemar ngaji. Tercatat, ia pernah berguru mulai dari ayahnya, Syekh KHAbdurrahman bin Qosidil Haq, hingga kepada para Masyayikh yang ada di Haromain, diantaranya Syeikh Yasin Al-Fadani Al- Makky. Kiai Muslih juga pernah menimba ilmu kepada Syeikh KH Ibrohim Yahya (Mranggen); KH Zuber, Syeikh Imam, Syeikh Imam, dan KH Maksum (Rembang); dan Syeikh Abdul Latif Al- Bantani. Selain itu, Kiai Muslih juga pernah belajar di Pesantren Termas Pacitan.

KH Muslih Abdurrahman Mranggen (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Muslih Abdurrahman Mranggen (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Muslih Abdurrahman Mranggen

Dari hasil pendidikannya tersebut Kiai Muslih mendapatkan banyak ilmu seperti ilmu kalam Bahasa Arab, tauhid, fiqh, tafsir, hadist, Ilmu Tasawwuf dan berbagai ilmu lainnya.

Membesarkan Pesantren Futuhiyyah

Pondok Pesantren Futuhiyyah yang diasuh ayahnya mengalami rehabilitasi pada tahun 1927 M. Saat itu sudah ada puluhan santri yang ikut ngaji, namun aktifitas Madrasah tersebut menjadi terhenti, setelah diminta oleh NU cabang Mranggen. 

Siti Efi Farhati

Selang beberapa waktu, Syekh KH Muslih berusaha mendirikan kembali Madrasah Diniyyah Awaliyyah Futuhiyyah di komplek Pesantren Futuhiyyah. Kali ini ia mengambil sikap, jika NU ingin mengelola Madrasah lagi supaya mendirikan sendiri. Keputusan tersebut  diambil karena, dua kali Futuhiyyah mendirikan Madrasah, yakni pada tahun 1927 dan 1929 M, dua kali pula diminta oleh NU Cabang Mranggen dengan cara Bedol Madrasah, yakni murid dan gurunya dipindah tempat, yang kemudian dikelola oleh NU Cabang Mranggen. Hal tersebut menjadikan aktivitas di Futuhiyyah menjadi sedikit terkendala.

Siti Efi Farhati

Setelah madrasah baru yang didirikan oleh Kiai Muslih berjalan lancar, satu tahun kemudian beliau kembali mondok ke Termas dan pengelolaan madrasah diserahkan kepada adiknya, KH Murodi, yang baru pulang mondok dari Lasem. NU Cabang Mranggen, akhirnya juga dapat mendirikan sendiri Madrasah Diniyyah Awaliyyah dan dapat bertahan hingga sekarang, di Kauman Mranggen, yang dikenal kemudian dengan nama Madrasah Ishlahiyyah.

Kiai Muslih saat datang di Termas, langsung diminta oleh KH Ali Maksum (Krapyak Yogya), selaku kepala Madrasah di Termas saat itu, untuk mengajar kelas Alfiyyah. Semula Kiai Muslih menolak, dengan alasan belum mampu mengajar Alfiyyah. Namun setelah dibujuk gurunya, dia pun bersedia. Di Termas pula, Kiai Muslih belajar bagaimana cara mengajar yang baik dan bagaimana menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran sistem klasikal (madrasah).

Dengan berbekal Ilmu yang lebih luas dan pengalaman selama menjadi guru madrasah Tsanawiyyah di Termas itulah, pada tahun 1935 M Kiai Muslih pulang dan bermukim kembali di Suburan Mranggen. Dengan tekad untuk mengembangkan Pesantren Futuhiyyah Suburan Mranggen. Pada tahun 1936 M berdirilah Madrasah Ibtida’iyyah. Madarasah tersebut terus berkembang dan bertahan sampai sekarang.

Ada hal yang menarik pada saat proses penerimaan siswa baru. Pada saat itu meskipun belum ada radio, tidak ada stensil, tidak ada pula mesin tulis apalagi fotocopy, namun info tentang madrasah di Mranggen berkembang luas. Banyak sekali calon santri, baik yang berasal dari desa-desa wilayah kecamatan Mranggen dan sekitarnya hingga Gubug-Purwodadi, berdatangan. Hal ini terjadi karena tersiarnya berita bahwa di pondok Suburan Mranggen telah muncul seorang tokoh kiai yang alim, siapa lagi kalau bukan Kiai Muslih Abdurrahman. (Ajie Najmuddin)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kajian, Pahlawan, Olahraga Siti Efi Farhati

Sabtu, 02 Desember 2017

Peluang dan Tantangan NU

Judul Buku : NU Untuk Siapa? Pikiran-Pikiran Reflektif Untuk Muktamar NU Ke-32

Penulis : Prof. Dr. H. Ali Maschan Moesa, M.Si

Editor : Ach. Syaiful A’la

Peluang dan Tantangan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Peluang dan Tantangan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Peluang dan Tantangan NU

Penerbit : Pesantren Luhur Al-Husna, Surabaya

Cetakan : I, Pebruari 2010

Tebal : xv+65? Halaman

Peresensi : Rangga Sa’adillah S.A.P.*

Siti Efi Farhati



Berbicara masalah NU tidak lepas dari proses panjang berdirinya, maksud dan tujuan organisasi keagamaan dan kemasyarakatan (jamiyah diniyah ijtimaiyah) terbesar di belahan bumi khususnya di Indonesia, yang motori oleh KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah, dengan semangat awal yakni mendirikan Kebangkitan Bangsa (Nahdlatu Wathan), kemudian Kebangkitan Pengusaha (Nahdlatut Tujjar), dan artikulasi pemikiran (Tashwirul Afkar). Ketiga hal tersebut merupakan tiga pilar berdirinya Nahdlatul Ulama.

Dalam sejarah perkembangannya, NU tidak bisa diremehkan hanya sebagai organisasi keagamaan yang berbasis kemasyarakatan. Kontribusi-kontribusi NU yang didarmakan untuk bangsa ini cukup besar. Pada masa awal kemerdekaan NU mampu memberikan sumbangsih pemikirannya dalam perumusan Pancasila sebagai dasar Negara. Melalui resolusi jihad dari KH Hasyim Asya’ari, tentara sekutu yang hendak mengusik keutuhan NKRI berhasil diusir oleh pejuang-penjuang dari kota Pahlawan (Surabaya).

Siti Efi Farhati

Era Orde Lama, NU mempertegas wujudnya dalam ranah kepemerintahan dan kebijakan-kebijakan yang bersifat konstruktif. Seperti penggagasan berdirinya Masjid Istiqlal oleh KH A. Wahid Hasyim, selaku Menteri Agama saat itu, dan disetujui oleh Soekarno. Penggagasan pendirian IAIN oleh KH Wahib Wahab. Realisasi penerjemahan Al-Qur’an kedalam bahasa Indonesia pada masa Depag dipimpin oleh menteri dari NU, Prof KH Syaifuddin Zuhri. Penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an diprakarsai oleh Menag dari NU, KH. M. Dahlan. Tegas kiprah NU pada saat itu tidak bisa dianggap remeh.

Ketika rezim Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto, NU lebih berkiprah pada pengembangan masyarakat tingkat bawah (grass root) untuk menciptakan civil society. Juga pada rezim inilah terlahir konsensus untuk kembali pada khittah 1926 melalui muktamar NU ke-27 di Sukorejo Situbondo, tahun 1984. Inti dari Khittah adalah keinginan untuk kembali pada semangat perjuangan awal, menjadi ormas sosial keagamaan. Keputusan penting lainnya adalah NU secara formal menerima Pancasila sebagai asas tunggal atau landasan dasar NU.

Sampai pada meletupnya reformasi yang pada era itu merupakan kemengan bagi warga nahdliyin. Gus Dur berhasil terpilih sebagai presiden RI ke-4 melalui kendaraan politik Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang mana kendaraan tersebut aspirasi warga nahdliyyin. Melalui Gus Dur sebagai Presiden tentu saja banyak sekali kontribusi yang disumbangkan terhadap bangsa ini. Kita lihat sendiri, testimony dari mayoritas khalayak memberikan laqab kepada beliau sebagai guru bangsa.

Namun, disisi lain, lahirnya PKB banyak yang mempertanyakan eksistensi Khittah 1926. Melalui buku NU untuk Siapa? Pikiran-Pikiran Reflektif untuk Muktamar NU ke-32, KH. Ali Maschan Moesa, menjawab bahwa jika NU membidani lahirnya sebuah partai politik, itu sebagai perantara untuk mewadahi warga yang ada kepedulian terhadap politik praktis dan bukan berarti NU melanggar tatanan khittah. NU melanggar khittah jika secara institusional terikat oleh organisasi politik tertentu (hlm. 1).?

Jika NU pada masa Orde Lama berkontribusi aktif terhadap eksistensi NKRI, kemudian pada rezim Orde Baru mentransformasikan wujudnya untuk menciptakan civil society dan melahirkan konsensus untuk berkhittah, maka bagaimanakah wujud NU pada Muktamar ke-32 yang akan berlangsung dekat ini?

Melalui buku ini, pembaca bisa melihat lebih jauh tentang apa yang harus dilakukan NU kedepan. Misalnya kita bisa membaca tantangan-tantangan NU (mulai tantangan agama, tantangan ekonomi, tantangan hukum, tantangan politik, tantangan ilmu pengetahuan, tantangan degradasi alam). Problem yang sedang dihadapi NU (Problem sumberdaya manusia, sumberdaya dana dan problem organisasi), Kekuatan-kekuatan NU (mempunyai kekuatan kiai dan pesantren, dana besar, banyaknya anggota), serta bagaimana men-design langkah-langkah yang harus ditempuh oleh NU kedepan.

Lain dari tersebut di atas, ada empat tantangan yang tidak kalah menariknya yang sedang dihadapi oleh organisasi Bintang Sembilan saat ini. Pertama, tantangan yang datang dari jurus kanan, yaitu merebahnya faham fundamentalisme dan radikalisme yang tidak bisa difahami secara utuh oleh warga NU. Kedua, tantangan dari sebelah kiri yang merupakan pemahaman keagamaan secara liberal yang hingga kini justru banyak diminati oleh kalangan muda NU itu sendiri. Ketiga, adalah tantangan yang datang dari atas, dalam hal ini kuatnya represi penguasa dalam politik praktis, dan yang terakhir – keempat – adalah tantangan dari bawah ditandai dengan semakin rendahnya loyalitas warga NU terhadap kiainya yang terkadang juga kalau kita lihat diinternal pun terjadi pertarungan para elit-elitnya. Ketika para elit mulai berkomplik dan kemudian akan diikuti oleh pengikutnya, maka tidak mustahil akan terjadi split personality yang tidak lama kemudian akan mengancam terhadap eksistensi jam’iyyah? dan atau bahkan jama’ah yang ada.

Maksud hadirnya buku ini diruang pembaca, ke depan (pasca muktamar) NU diharapkan mampu memberikan problem solving terhadap persoalan-persoalan yang tengah dihadapi bangsa seperti persoalan ekonomi, sosial, politik, dan pendidikan. Yang kalau tilik sejarahnya perkembangan bangsa Indonesia, NU tidak pernah absen untuk selalu aktif berperan bersama-sama dalam menyelesaikan persoalan yang tengah dihadapi bangsa.

Setidaknya NU dalam keadaan apapun dan bagaimanapun harus diposisikan sebagai jam’iyah diniyah yang memiliki kepedulian bagi semua pihak. Dengan ungkapan lain NU (Nahdlatul Ulama) untuk NU (Nahdlatul Ummah). Kebangkitan ulama pada dasarnya untuk membangkitkan dan mengentaskan ummatnya dari segala kesusahan dan kemelaratan. Selamat membaca! Sukses Muktamar NU ke-32 kali ini.

*Aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) IAIN Sunan Ampel, Pengurus Pesantren Luhur Al-Husna Surabaya.

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kiai, Olahraga Siti Efi Farhati

Rabu, 29 November 2017

Pertama, 100 Mahasiwa Ikuti Mapaba PMII di Kota Pariaman

Pariaman, Siti Efi Farhati - Mahasiswa harus menyiapkan dirinya menjadi pemimpin dan wirausahawan setelah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Karenanya selagi mahasiswa harus fokus belajar baik di dalam kampus, maupun di luar kampus.

Demikian terungkap dalam seminar nasional yang digelar Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Sumbar, Sabtu (30/9) di hall Saiyo Sakato, Pariaman.

Seminar menampilkan narasumber Ketua DPW Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Sumatera Barat Syamsul Bahri  dan Ketua GP Ansor Kabupaten Padang Pariaman Zeki Aliwardana dengan moderator Wakil Ketua II STIE Sumbar Satria Effendi Tuanku Kuning. Seminar dibuka Ketua DPRD Kota Pariaman Mardison Mahyudin.

Pertama, 100 Mahasiwa Ikuti Mapaba PMII di Kota Pariaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Pertama, 100 Mahasiwa Ikuti Mapaba PMII di Kota Pariaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Pertama, 100 Mahasiwa Ikuti Mapaba PMII di Kota Pariaman

Mardison menyampaikan, saat ini kondisi generasi muda terbelah. Di satu sisi banyak yang melakukan tindakan negatif yang merugikan diri sendiri dan masyarakat di lingkungannya. Di sisi lain, banyak pula generasi muda  bertindak positif dengan berbagai kegiatan yang bermanfaatkan. "Bagaimana kita bersama merangkul generasi muda yang bertindak negatif tersebut berubah menjadi bertindak positif dalam hidupnya," kata Mardison.

Siti Efi Farhati

Menurutnya, generasi muda yang diharapkan adalah generasi yang sehat, islami, mampu berkarya, inovatif, kreatif. Generasi muda semacam inilah yang lebih siap jadi pemimpin dan pengusaha sebagaimana tema dari seminar ini. PMII sebagai wadah organisasi mahasiswa tentu diharapkan mampu menyiapkan generasi muda yang mandiri.

Zeki Aliwardana dalam paparannya menyebutkan, pemimpin harus menjadi teladan bagi orang yang dipimpinnya. Pemimpin yang baik menggunakan kewenangannya secara cerdas dan peka sehingga menjadi sangat berwenang tanpa sewenang-wenang.

Siti Efi Farhati

"Menjadi pemimpin bukan berarti mendapatkan hak untuk memerintah. Tetapi justru kewajiban memberi teladan sehingga orang lain bisa menerima perintahnya tanpa merasa direndahkan," kata Zeki Aliwardana yang mantan Sekretaris PMII Kota Pariaman ini.

Ia menambahkan, karakteristik pribadi pemimpin yang harus memiliki kecerdasan cukup tinggi, kecakapan berkomunikasi, kecakapan mendidik, emosi terkendali, memiliki motivasi berprestasi, kepercayaan diri dan ambisi. Pemimpin yang tidak memiliki karakteristik tersebut, tidak akan pernah menjadi pemimpin sukses.

Syamsul Bahri menyebutkan, wirausahawan dan kepemimpinan saling terkait. Pemimpin yang mandiri adalah pemimpin yang mampu mengayomi orang-orang yang dipimpinnya. Wirausahawan bagaimana pun harus bermanfaat bagi lingkungannya. Begitu pula pemimpin, harus bermanfaat bagi orang di lingkungannya.

Ketua PK PMII STIE Sumbar Zulkifli mengatakan, seminar nasional dan Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) ke-X yang diikuti 100 peserta bertemakan, Melahirkan Pemimpin dan Pengusaha yang Kreatif, Inovatif Menuju Indonesia Mandiri.

"Ini Mapaba pertama di Kota Pariaman yang paling banyak pesertanya. Sehingga Ketua GP Ansor Padang Pariaman Zeki Aliwardana memberikan penghargaan kepada PK PMII STIE Sumbar yang diserahkan usai seminar menjelang sesi Mapaba dimulai," kata Zulkifli. (Armaidi Tanjung/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Olahraga, Berita Siti Efi Farhati

Selasa, 28 November 2017

IOM-JPIC Apresiasi Kiprah GP Ansor Way Kanan

Way Kanan, Siti Efi Farhati. Manager Counter Trafficking International Organization for Migration (IOM) Indonesia Nurul Qoiriah dan pimpinan Justice Peace Integrity of Creation (JPIC) FSGM Sr M Katarina Sri Juwarni mengapresiasi partisipasi aktif Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Way Kanan, Lampung, dalam kegiatan bertema"Mempromosikan Migrasi Aman, Mencegah Terjadinya Perdagangan Orang di Indonesia".

"Terima kasih sekali, apa yang dilakukan GP Ansor Way Kanan ialah sesuatu yang luar biasa sekali. IOM Indonesia senang bekerja sama dengan organisasi seperti ini atau memiliki akar rumput karena hal tersebut bagi kami menjadi sangat penting," ujar Nurul di Blambangan Umpu, Way Kanan, Jumat (10/10).

IOM-JPIC Apresiasi Kiprah GP Ansor Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)
IOM-JPIC Apresiasi Kiprah GP Ansor Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)

IOM-JPIC Apresiasi Kiprah GP Ansor Way Kanan

Nurul yang sekitar tahun 1990 ke atas aktif di Fatayat NU Way Kanan itu menilai, Ansor Way Kanan bisa diterima masyarakat dan pemerintah. "Saya pikir ini jembatan bagus untuk mengkampanyekan migrasi aman, karena kadang kita kerja sama dengan LSM bagus di masyarakat tapi kontra dengan pemerintah. Ansor Way Kanan kami lihat tidak seperti itu. Faktanya, pada acara pembukaan Bupati Biustami Zainudin dan sejumlah kepala satuan kerja perangkat daerah juga hadir," kata Nurul pula.

Siti Efi Farhati

Sr M Katarina Sri Juwarni dari JPIC FSGM menambahkan sangat terbantu dengan teman-teman Ansor di Way Kanan. "Tadinya sya blank ketika akan ada progam ini di Way Kanan, tidak tahu siapa yang harus dihubungi, tapi Direktur Kantor Bantuan Hukum Lampung Muhammad Syarif Abadi merekomendasikan Gatot Arifianto dari GP Ansor. Dan saya lihat jajaran GP Ansor memberikan kontribusi dan partisipasi luar biasa," katanya.

Bagi warga Nahdlatul Ulama, demikian Ketua PC GP Ansor Way Kanan Gatot Arifianto, NKRI Harga Mati dan Pancasila Jaya adalah kalimat akrab. "Namun demikian, kita tidak patut hanya pandai memekikkannya belaka, tapi juga harus menerjemahkannya dalam kehidupan, sosial, kemasyarakatan dan berbangsa. Ansor Way Kanan berkepentingan terhadap kehidupan mendatang yang lebih baik, oleh sebab itu, segala yang berhubungan dengan kebaikan dan kemaslahatan kami respon positif," ujar Gatot yang juga koordinator The Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ) atau Masyarakat Jurnalis Lingkungan Indonesia wilayah Lampung itu pula.

Siti Efi Farhati

PC GP Ansor Kabupaten Way Kanan, Lampung bersama IOM Indonesia dan JPIC FSGM menggelar "Pelatihan Untuk Tokoh Masyarakat Mempromosikan Migrasi Aman Dan Mencegah Terjadinya Perdagangan Orang di Indonesia". Kegiatan bertema "Mempromosikan Migrasi Aman, Mencegah Terjadinya Perdagangan Orang di Indonesia" itu diikuti Ketua PAC GP Ansor Bumiagung Heri Amanudin, Ketua PAC Ansor Pakuanratu Eko Wahyudi, Ketua PAC Ansor Buaybahuga Hudi Rahman, Sekretaris PAC Ansor Blambangan Umpu Ery Rezki Putra, Sekretaris PAC Ansor Baradatu Veri Triono, Ketua Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor Bumiagung Hasyim Asari, Ketua LSM Geshindo Ali Rahman, aktivis PNPM Way Kanan dan sejumlah pengurus OSIS dari beberapa sekolah di daerah itu. (Hasyim Asari/Mahbib)

Foto: Ketua PC GP Ansor Way Kanan Gatot Arifianto (kanan) memberikan sertifikat kepada peserta pelatihan di aula PKK Way Kanan, Lampung, Jumat (10/10).

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Olahraga Siti Efi Farhati

Sabtu, 25 November 2017

Ini Klarifikasi Aksi di Lumajang soal Teriakan ‘Bunuh Menteri’

Jakarta, Siti Efi Farhati. Aksi damai yang dilakukan oleh Aliansi Masyarakat Peduli Pendidikan Indonesia (AMPPI) soal penolakan kebijakan lima hari sekolah, Senin (14/8) di Lumajang, Jawa Timur dikejutkan oleh sebuah video viral para anak-anak yang meneriakkan ‘bunuh menteri’.

Video berdurasi 1:03 menit tersebut menjadi sumber pemberitaan sejumlah media sehingga AMPPI perlu melakukan klarifikasi terhadap pemberitaan miring yang beredar berdasarkan video tersebut.

Ini Klarifikasi Aksi di Lumajang soal Teriakan ‘Bunuh Menteri’ (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Klarifikasi Aksi di Lumajang soal Teriakan ‘Bunuh Menteri’ (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Klarifikasi Aksi di Lumajang soal Teriakan ‘Bunuh Menteri’

Berikut klarifikasi AMPPI sebagai penanggung jawab aksi yang ditandatangani oleh Gus Nawawi (Koordinator Umum Aksi) dan Khoirun Nasichin (Koordinator Lapangan Aksi) yang diterima Siti Efi Farhati pada Senin (14/8/2017):

Kronologi aksi:

Siti Efi Farhati

1. Pukul 08.00 WIB pada Senin, 7 Agustus 2017, seluruh pimpinan aksi sudah berkumpul di tempat utama aksi. Tidak ada acara long march. Karena acara utamanya adalah istighotsah.?

2. Setelah pimpinan aksi berkumpul, peserta aksi mulai berdatangan dan aparat keamanan berseragam lengkap juga sudah berjaga di lokasi.?

3. Sekitar pukul 08.30 WIB, peserta aksi dari beberapa Pondok Pesantren Sekitar lokasi Aksi (depan gedung DPRD Kabupaten Lumajang) berjalan kaki. Sebelum masuk arena Aksi, peserta aksi ini meneriakan yel-yel yang tidak jelas karena banyaknya massa yang hadir. Apakah yel-yel itu berbunyi cabut menterinya, kubur menterinya, mundur menterinya, atau bunuh menterinya. Semua tidak jelas.?

4. Melihat Situasi itu Korlap Aksi Bersama Keamanan dari Polres Lumajang berupaya untuk mengendalikan massa dengan meminta peserta aksi untuk bergabung kedalam barisan Istighosah.?

Siti Efi Farhati

5. Pukul 08.45 WIB Semua massa terkendali dan mengikuti acara istighosah dengan khidmat yang dipimpim oleh KH Ahmad Hanif dan KH Ahmad Qusairy dari Syuriyah PCNU Lumajang.?

6. Pukul 09.30 WIB dilanjukan dengan orasi oleh Korlap yang berisi tuntutan pencabutan Permendikbud no 23 tahun 2017. Dilanjutkan dengan statement Ketua Komisi D DPRD Kab. Lumajang (Sugianto) dan diiringi pernyataan sikap oleh Kordum aksi, Gus Nawawi.

7. Pukul 10.15 WIB acara Doa Bersama dan peserta aksi membubarkan diri dikawal oleh Polsek masing-masing Kecamatan.

8. Pukul 24.00 WIB dilaporkan oleh pihak keamanan Polres Lumajang bahwa seluruh peserta aksi sampai ke rumah masing-masing dengan selamat.?

?

Kesimpulan:

1. Bahwa acara aksi damai menolak kebijakan FDS Lima hari sekolah oleh AMPPI telah mendapatkan izin dari pihak Polres Lumajang No: STTP/02/VIII/2017/SAT.IK.

2. Konten acara Aksi Damai Tolak FDS Lima Hari Sekolah di kabupaten Lumajang Tanggal 07 Agustus 2017 berisi doa Bersama dan Istighotsah yang dipimpin oleh Katib Syuriyah PCNU Lumajang.

3. Terkait Anak-anak yang hadir pada acara tersebut adalah santri yang diajak oleh orang tua (wali santri).?

4. Tidak ada instruksi untuk mengeluarkan kalimat-kalimat yang tidak pantas seperti yang di-upload dan disebarkan oleh media yang tidak suka dengan aksi tersebut.?

5. Kalau pun benar, pasti di luar tempat istighotsah, dan tidak termasuk dalam rangkaian aksi, dan pastinya kita akan ingatkan dan bina selanjutnya.?

6. Meminta pemerintah, tidak defensif menghadapi aspirasi soal FDS yang hanya akan ciptakan kebrisikan baru.?

7. Terkait press release yang dikeluarkan oleh KPAI tidak berdasarkan fakta yang sebenarnya, karena hanya didasarkan pada video, dan pihak KPAI tidak melakukan klarifikasi terhadap penanggung jawab aksi.?

8. Kepada semua pihak, kami mohon untuk tidak terpancing dan tidak memberikan informasi apapun terkait aksi damai tolak FDS lima hari sekolah tersebut sebelum mengklarifikasi kepada pananggung jawab aksi.?

(Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Aswaja, AlaSantri, Olahraga Siti Efi Farhati

Jumat, 24 November 2017

Dilobi Australia, PBNU Keukeuh Dukung Hukuman Mati Duo Bali Nine

Jakarta, Siti Efi Farhati. Anggota Senat Australia, Nick Xenophon, Selasa (10/3/2015) datang ke Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ? (PBNU) untuk meminta dukungan atas keinginan pemerintahnya agar hukuman mati terhadap duo Bali Nine ditunda.?

"Kami sadar (pemberlakuan) hukuman mati ini hak Pemerintah Indonesia. Oleh karena itu kami tidak meminta dibatalkan, tapi mohon untuk itu ditunda, agar ke depan juga bisa menjadi pembelajaran bagi masyarakat Australia bahwa narkoba membawa bahaya yang sangat besar," kata Imam Masjid Afghan, Adelaide, Australia, Syech Kafrawi Abdurrahman Hamzah, peterjemah sekaligus pendamping kedatangan Nick Xenophon ke PBNU.?

Dilobi Australia, PBNU Keukeuh Dukung Hukuman Mati Duo Bali Nine (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilobi Australia, PBNU Keukeuh Dukung Hukuman Mati Duo Bali Nine (Sumber Gambar : Nu Online)

Dilobi Australia, PBNU Keukeuh Dukung Hukuman Mati Duo Bali Nine

Dua orang delegasi dari Australia itu diterima oleh Syuriyah PBNU KH. Masdar F. Masudi, Sekretaris Jenderal PBNU H. Marsyudi Syuhud, Bendahara Umum PBNU H. Bina Suhendra, Ketua PBNU H. Mohammad Maksoem Mahfudz, H. Slamet Efendi Yusuf, H. Iqbal Sullam, dan H. Kacung Marijan.?

Siti Efi Farhati

"Jadi kami ingin mengetuk hati PBNU sebagai organisasi umat Islam terbesar di Indonesia, dan juga umat agama lain di sini, termasuk Pemerintah Indonesia, bahwa Andrew Chan dan Myuran Sukumaran sudah menunjukkan keinginan bertobat yang kuat. Islam adalah agama rahmat, mengedepankan pengampunan, maka sudah sewajarnya dua warga Australia itu mendapatkan pengampunan," tambah Kafrawi.?

Siti Efi Farhati

Lebih lanjut Kafrawi mengatakan, pihaknya khawatir jika hukuman mati tetap diberlakukan terhadap duo Bali Nine maka yang terjadi adalah permusuhan antara Australia dan Indonesia.?

Menjawab keinginan yang disampaikan delegasi Australia, Sekretaris Jenderal PBNU H. Marsudi Syuhud menegaskan sikap PBNU yang mendukung hukuman mati terhadap pengedar dan bandar narkoba.?

"Tidak semua hukuman mati kami dukung. Ketika Pemerintah Mesir akan mengeksekusi mati tahanan politik, kami bersurat ke PBB agar bisa menghentikan itu. Tapi kalau narkoba beda, karena narkoba sudah membunuh 50 orang di Indonesia setiap harinya," tegas Marsudi.?

Nick Xenophon mengaku bisa menerima sikap keras PBNU terhadap rencana hukuman mati duo Bali Nine. Meski tetap berharap hukuman mati ditangguhkan, dia mengaku tak bisa mengintervensi hukum yang diterapkan di Indonesia. (Samsul Hadi Karim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Hadits, Tegal, Olahraga Siti Efi Farhati

Senin, 20 November 2017

LSN Region 1 Jawa Tengah Digelar di Tiga Tempat

Semarang, Siti Efi Farhati. Liga Santri Nusantara (LSN) Region 1 Jateng 2017 kembali digelar. Kali ini digelar di tiga titik penyelenggaraan, yakni Kendal, Jepara dan Blora.?

LSN Region 1 Jawa Tengah Digelar di Tiga Tempat (Sumber Gambar : Nu Online)
LSN Region 1 Jawa Tengah Digelar di Tiga Tempat (Sumber Gambar : Nu Online)

LSN Region 1 Jawa Tengah Digelar di Tiga Tempat

Menurut Koordinator Region 1 Jateng, Fahsin MF, Region 1 Jateng terdiri dari Kabupaten Kendal, Kota/Kabupaten Semarang, Salatiga, Demak, Jepara, Kudus, Grobogan, Pati, Blora Rembang. Pendaftaran sudah dimulai sejak 25 Juli lalu hingga 25 Agustus 2017 nanti.?

"Untuk liganya kick off 3 September, tahun ini kami targetka 32 peserta dari Pondok Pesantren di bawah Rabithah Maahid Islamiyah NU (RMI-NU). Sekarang ini sudah 50 persen yang daftar masih ada rentang dua pekan untuk pondok pesantren yang akan ikut mendaftar," kata Fahsin yang juga pengasuk Pondok Pesantren Kiai Gading Demak, Rabu (2/8).

Dikatakannya, ajang bergengsi Liga Santri Nusantara ini bagian dari pembinaan usia muda. Pesantren memiliki potensi besar dalam bidang sepakbola, namun masih belum dioptimalkan pembinaanya.?

Siti Efi Farhati

"Dengan adanya liga santri ini diharapkan banyak para santri yang berbakat dibidang olahraga memiliki kesempatan menjadi bagian dari Tim Nasional Garuda Muda," tambahya.?

Panitia Pelaksana Liga Santri Nusantara Region 1 Jateng, Sholahuddin mengatakan, persyaratan pemain untuk liga kali ini kelahiran tahun 2000 atau setelahnya. Satu tim terdiri dari satu pondok pesantren atau gabungan beberapa pesantren dalam satu daerah.?

"Untuk menjelaskan bahwa pemain itu berasal dari santri harus mendapatkan rekomendasi dari RMI NU setempat. Kalau tidak ada kepengurusan RMI maka bisa menggunakan rekomendasi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama setempat," ujarnya.?

Liga Santri Nusantara memasuki penyelenggaraan tahun ketiga, menurutnya tahun ini pendaftaran sudah semakin canggih menggunakan sistem online. Panitia penyelenggara bekerja sama dengan eyesoccer.id untuk melakukan pendaftaran online.?

"Keuntungannya pemain yang sudah dientri namanya ke sistem eyesoccer.id nanti secara automatis menjadi databased pemain muda yang juga nantinya bisa diakses oleh PSSI dan Badan Tim Nasional. Besar kemungkinan jika ada pemain dari liga santri yang bagus dan sesuai yang dicari dalam formasi Timnas maka bisa dipanggil ikut seleksi," tandasnya.?

Siti Efi Farhati

Kesekretariatan Liga Santri Nusantara Regional 1 Jateng, lanjut dia, di Kantor PW RMI NU Jateng, Jl Prof Hamka Perum BPI NO 6 Ngalian Semarang. Sedangkan untuk pendaftaran bisa menghubungi nomer 085726592224. (Sholahuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nahdlatul Ulama, Olahraga, Pahlawan Siti Efi Farhati

Senin, 13 November 2017

Menpera Kagumi Spirit Kemandirian Pesantren

Pamekasan, Siti Efi Farhati. Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Republik Indonesia H Ir Dian Faridz menyatakan salut atas spirit kemandirian yang tertanam kuat dalam kehidupan pesantren. Menurutnya, salah satu kelemahan generasi muda saat ini ialah terletak pada semangat kemandirian tersebut.

Menpera Kagumi Spirit Kemandirian Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpera Kagumi Spirit Kemandirian Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpera Kagumi Spirit Kemandirian Pesantren

Ia menyampakan hal itu saat mengunjungi Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Sabtu (18/01). Dalam lawatannya tersebut, Faridz menghadiri maulid nabi Muhammad SAW dan milad ke-45 Pondok Pesantren Bustanul Ulum di Tagangser Laok, Kecamatan Waru, Pamekasan.

"Dan harus diakui, pesantren mempunyai peran besar dalam menguatkan spirit kemandirian di tubuh bangsa ini. Dari pesantren lah generasi bangsa yang sangat tangguh bermunculan," akunya kepada Siti Efi Farhati.

Siti Efi Farhati

Ditegaskan, spirit kemandirian tersebut diharapkan tetap lestari. Jangan sampai ganasnya era globalisasi justru memasungnya. "Dan kami berkeyakinan, selagi langkah kiai tetap mengetengahkan nilai keislaman, ganasnya globalisasi tidak akan mampu menggerus nilai-nilai mulia kepesantrenan," terangnya.

Karena pesantren mempunyai peran vital dalam membangun negeri ini, pihaknya menyatakan tidak akan mengabaikan keberadaannya. Tentu dengan memperhatikan perkembangan pesantren melalui program pemerintah yang pro-rakyat. (Hairul Anam/Mahbib)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Hikmah, Olahraga Siti Efi Farhati

Minggu, 12 November 2017

Hindari Korban, Pengusaha Sebaiknya Bayar Zakat Lewat Badan Amil

Jember, Siti Efi Farhati. Kendati sudah berkali-kali terjadi, namun ricuh saat pembagian zakat kembali terulang. Baru-baru ini kericuhan terjadi di Makassar, saat seorang pengusaha membayar zakat secara massal dalam bentuk uang Rp. 50.000-an. Untuk itu, pembayaran zakat melalui badan atau lembaga zakat lebih membawa maslahat tanpa mengurangi substansi.

Katib Syuriyah NU Jember M N Harisudin menganjurkan sebaiknya para pengusaha menyalurkan zakat melalui amil zakat yang resmi mendapat pengakuan dari pemerintah.

Hindari Korban, Pengusaha Sebaiknya Bayar Zakat Lewat Badan Amil (Sumber Gambar : Nu Online)
Hindari Korban, Pengusaha Sebaiknya Bayar Zakat Lewat Badan Amil (Sumber Gambar : Nu Online)

Hindari Korban, Pengusaha Sebaiknya Bayar Zakat Lewat Badan Amil

Pertama, di amil zakat resmi, zakat bisa tersalur tepat sasaran. Kedua, pada amil zakat resmi, kwitansi pembayaran zakat bisa menjadi pengurang pajak penghasilan sebagaimana disebut dalam UU Pengelolaan Zakat nomor 23 Tahun 2011,” kata Harisudin di Kantor PCNU Jember, Sabtu (4/7).

Siti Efi Farhati

Alumnus doktoral IAIN Sunan Ampel Surabaya di bidang Fiqih-Ushul Fiqih ini menambahkan bahwa penyaluran zakat melalui amil juga tepat guna karena amil zakat tidak hanya memberi zakat secara konsumtif, namun juga produktif.

Siti Efi Farhati

“Pasalnya, amil zakat berusaha menjadikan mustahiq sebagai muzakki suatu saat nanti,” kata penulis Kitab Fiqhuz Zakat li Taqwiyat Iqtishadil Umah.

Kalaupun pengusaha ngotot ingin menyalurkan langsung kepada mustahiq zakat, ia menyarankan agar penyaluran zakat harus diatur sebaik-baiknya agar lebih memanusiakan dan juga memartabatkan mustahiq (penerima) zakat.

“Jangan sampai mustahiq zakat itu berdesak-desakan, berhimpitan, saling injak, dan bahkan menimbulkan korban meninggal dunia,” kata pengasuh pesantren Darul Hikam, Mangli, Kaliwates Jember ini.

Memang utamanya penyaluran zakat ditampilkan di depan publik. Tetapi mengejar keutamaan tidak boleh melalaikan kewajiban, yaitu memelihara jiwa, tandas aktivis NU yang juga Wakil Ketua Alumni Ma’had Aly Situbondo. (Anwari/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kiai, Olahraga Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock