Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

Makna Idul Fitri dan Sebuah Kemenangan

Oleh Aguk Irawan MN

Dua baris kalimat; Mohon Maaf Lahir Batin, Minal Aidin wal Faizin merupakan sebuah idiom yang biasa kita ucapkan saat menjelang atau lebaran/hari raya Idul Fitri tiba. Bahkan kata ini tidak saja diucapkan banyak jutaan muslim di? Indonesia, tapi juga mungkin jutaan kali ditulis dan begitu cepat menyebar ke perangkat eloktronik seperti HP dan Android.

Makna Idul Fitri dan Sebuah Kemenangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Idul Fitri dan Sebuah Kemenangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna Idul Fitri dan Sebuah Kemenangan

Hanya saja seringkali kita mengucapkan rangkaian idiom “Minal Aidin wal Faizin” yang seakan-akan itu terjemahannya adalah “Mohon Maaf Lahir dan Batin.” Padahal kedua idiom ini tidaklah demikian arti atau maknanya dan boleh dikatakan memiliki pesan yang berbeda, meskipun bila ditelusur dan coba dihubungkan masih saling terkait.

Siti Efi Farhati

Tetapi, jika itu terpaksa dibedakan, maka “Minal Aidin wal Faizin” lebih menyimpan arti pencapaian seorang mukmin setelah berpuasa penuh dan melawan hawa nafsunya dengan beribadah kepada Tuhannya di bulan Ramadhan (vertikal), sedangkan “Mohon Maaf Lahir Batin” lebih mengisyaratkan apa yang sedang dilakukan mukmin pasca bulan Ramadhan yaitu pada hari raya Idhul Fitri memperetat kembali hubungan sosial dengan sesama (horisontal). Maka “Minal Aidin wal Faizin” “Minal Aidin” (Semoga termasuk orang yang kembali pada kesucian) dan “wal Faizin” (semoga beroleh kemenangan setelah berdamai dan saling memaafkan).

Lebih dari itu, menurut pakar bahasa, terutama dari Ibnu Mandzur, kata fithri (fa-tha-ra) setidaknnya mencakup enam hal penting, yaitu kesucian, kekuatan, jati diri, asal usul kejadian, memakai pakaian taqwa dan dinnul Islam. Maka bila digabung kata itu menjadi Idul Fitri, artinya kita berharap akan kembali ke kesucian diri kita, kembali ke asal usul kita, kembali ke jati diri kita, kembali memakai pakaian taqwa, kembali ke kekuatan kita dan kembali ke dinnul Islam. Untuk keenam arti ini mari kita bahas satu persatu dan kita renungkan maknanya:

Siti Efi Farhati

Pertama, kata fithri atau fitrah jika diartikan suci atau kesucian, maka ia harus memenuhi tiga unsur inti, yaitu keindahan yang menggetarkan, kebenaran yang bisa diterima dan kebaikan yang bisa dibuktikan. Dari konsekwensi ini, maka kembali ke fithri artinya kita harus menciptakan keindahan (seni), menerima kebenaran dengan menambah ilmu (sains) dan berbuat baik atau amal sholeh yang melahirkan akhlaqul karimah. Itulah makna idul fithri buah dari pendidikan Ramadhan untuk mengantarkan kita menjadi seniman, ilmuwan sekaligus budiman.

Kedua, kata fithri disebut sebagai kekuatan, karena sebulan penuh shaimin dan shaimat mempunyai kekuatan untuk mengendalikan hawa nafsu. Dengan kekuatan itulah kaum Muslimin melakukan jihad akbar mengendalikan hawa nafsunya? dan ia akan menjadi kuat, makanya begitu tiba Idul Fithri, diharapkan seorang mukmin dapat kekuatan baru.

Ketiga, pengertian fithri (fitrah) jika bermakna asal kejadian ini dikaitkan dengan manusia bisa diberikan beberapa contoh, antara lain manusia berjalan dengan kakinya, melihat dengan matanya, mendengar dengan telinganya, merasa dengan hatinya dan berpikir dengan akalnya. Konsekwensi dari pengertian ini, maka kita menjadi salah jika ingin berjalan dengan tangan, melihat dengan telinga dan berpikir dengan mulut, atau salah jika kita mengukur kesalahan dan kebenaran atau kesedihan dan kebahagiaan dengan alat timbangan atau alat ukur meteran dan seterusnya, itulah fitrah.

Masih dalam pengertian fitrah sebagai asal kejadian, maka kita pun harus menempatkan hati sebagai tempatnya iman, dan bukan di akal, karena akal selalu menolak hal-hal yang tak bisa dicerna oleh indrawi, dan tugas akal hanya untuk mengukuhkan iman.

Keempat, kata fithri secara maknawi ada juga yang mentakwil dengan arti memakai pakain. Tentu yang dimaksud memakai pakaian disini adalah pakaian taqwa, sebagaimana yang disyaratkan dalam surat al-Baqarah, ayat 183, bahwa tujuan berpuasa adalah supaya kita bertaqwa. Selama Ramahdhan kita sudah menenun sepanjang hari, dan saat idul fitri itulah kita memakai pakaian taqwa agar meningkat (Syawal) jati diri kita. Dalam konteks ini kita mengingat pesan Ilahi: Janganlah kita menjadi seperti seorang perempuan dalam cerita lama, ia mengurai kembali hasil tenunanya yang rapi sehelai benang demi sehelai sehingga tercerai-berai (an-Nahl, 92). Artinya madrasah puasa selama sebulan itu harus terus kita pakai (fithri) sampai setahun mendatang, bahkan lebih.

Puasa diibaratkan seperti menenun atau menjahit pakaian ini juga seperti yang sudah dicontohkan ulat yang bertapa dalam tenunannya (kepompong), setelah selesai menenun, ia memakai sayapnya yang indah untuk terbang (kupu-kupu), atau bisa juga diibaratkan sang laba-laba yang menenun rumahnya sehelai demi helai, kemudian ia memakai (fithri) agar ia menjadi tenang hidupnya.

Kelima, kata fithri berarti jati diri. Jati diri manusia adalah sebagai khalifah, yaitu makhluk termulia, penghuni surga, tetapi dalam waktu bersamaan juga makhluk yang berlumur dosa. Kenapa? Karena ia dibekali hawa nafsu, juga dibekali hati nurani, yaitu gabungan antara hati yang tajam dan pikiran yang jernih untuk menahan diri dari dorongan nafsu hewani. Sehingga seorang mukmin dikatakan “kembali ke fitrah” itu artinya ia kembali ke jati diri, karena ia sanggup menahan hawa nafsu dengan hati-nuraninya atau sebaliknya, seorang mukmin belumlah dikatakan kembali ke fitrah bila hawa nafsunya mendorongnya untuk bersikap liar dan tak terkendali.

Keenam, jika fithri diartikan dinnul al-islam, islam secara bahasa bentuk masdar dari sa-la-ma yaitu perdamaian atau ketertundukkan. Konsekwensi dari kata damai atau tunduk ini mengandung tiga unsur inti, yaitu kita sebagai hamba harus merasa damai dengan Tuhan, yaitu harus tunduk dengan cara meninggalkan semua larangan-Nya dan menjalankan segala perintah-Nya dengan (dan) tanpa paksaan apapun. Selanjutnya, kata damai berarti kita harus bisa merangkul kembali yang bercerai berai dari sesama, menghilangkan sekat-sekat dan api permusuhan, serta menepis perbedaan-perbedaan yang mengakibatkan percikan kebencian. Ketiga berdamai dengan alam, dengan tidak terlalu mengekploitasinya, sehingga mengakibatkan kehancuran atau bencana, itulah buah dari Ramadhahan sebulan penuh.

Selain keenam makna di atas ada yang berpendapat fithri berarti futhur artinya berbuka. Artinya saat nafsu perut terbuka dan kembali merajalela, hati-hatilah dengan jati diri anda. Hati-hatilah dengan rezeki yang tidak halal, hat-hatilah dengan sikap benci yang berlebihan dan permusuhan, yang semua itu mengarah pada kehilangan jati diri kita yang sesungguhnya. Itu berarti Idul Fitri berarti momentum yang baik buat berdamai dan saling memaafkan.

Lantas ada apa maksud dari kata Faizin? Menurut Ibnu Mandzur dalam Lisanul Arabi, juga kamus Munawwir dan Mauwrid, kata faizin tercerabut dari kata faza-fauzan-faizin, yang artinya adalah na-lahu bihi fauzan, yaitu memperoleh kesuksesan atau kemenangan, bisa juga halaka wa mata, seperti kalimat wafauza arrajulu, artinya adalah seseorang telah mengalahkan atau membinaskan, bisa juga berarti an-naja atau minal makruhi; selamat dan terhindar dari sesuatu yang bahaya, dan terakhir, bisa bermakna fauza at-thariq atau bada wa dhahara (sesuatu yang nampak terang atau berkilau). Mari kita bahas satu persatu.

Pertama, adalah bermakna kesuksesan atau kemenangan. Idul Fitri dapat disebut hari raya kemenangan. Pada hari itu, karena kaum beriman yang telah menunaikan ibadah Ramadhan meraih kemenangan dan seperti dengan terlahir kembali kepada fitrah kemanusiaan yang suci dan kuat hati. Mengapa harus ada yang menang dan ada yang kalah? Karena faktanya, kita diberi nafsu, dan ini punya pesan simbolik untuk dikalahkan dan hati nurani (hati-akal) itulah alat untuk mengalahkan atau sebagai senjata perjuangan, sebagaimana yang diajarkan selama Ramadhan.

Kedua, adalah bermakna mengalahkan atau membinasakan, ini semacam sinonim dari sebuah kemenangan, sebab tidak ada kemenangan tanpa mengalahkan. Kalah dan menang adalah lawan kata. Dua sisi yang bertentangan ini adalah sifat keunggulan manusia dari makhluk yang lain (akhsanu takwin) dan kedua ini diciptakan agar manusia menjadi lebih sempurna (insan al-kamil) sebagaimana terkandung dalam Q.S. Asy-Syams ayat 8 yang menjelaskan pentingnya tazkiyatu nafs (penyempurnaan jiwa) agar kita menjadi hamba yang bertakwa (berhati-nurani) dan jauh dari? "kefasikan" (hawa nafsu kebinatangan)” dan, memang selama Ramadhan kita diajarkan bagaimana terus membunuh nafsu dan menghancurkannya, termasuk menghancurkan lemak-lemak atau virus yang bisa menimbulkan penyakit dalam tubuh kita.

Ketiga, adalah bermakna selamat dan terhindar dari sesuatu yang bahaya, sehingga nampaklah atau berkilauanlah kebaikan, kebenaran dan keindahan itu. Untuk terhidar dari bahaya dan nampaklah cahaya Islam yaitu kebaikan, kebenaran dan keindahan dibutuhkan jihad atau usaha keras, hal ini terbukti pada catatan sejarah islam yang gembilang, di bulan inilah? musuh-musuh islam bisa terkalahkan. Jika merujuk pada fakta sejarah Islam, banyak kita jumpai peristiwa kemenangan? besar terjadi mendekati idul fitri atau sepanjang bulan Ramadhan, Misalnya runtuhnya Masjid Adh-Dhirar milik orang-orang munafik. Datangnya rombongan delegasi kaum Tsaqif yang ingin masuk Islam.

Pada Ramadhan tahun ke-2 Hijriyah, terjadi peperangan besar yaitu perang Badar Al-Kubra. Peperangan ini dimenangkan oleh kaum muslimin, inilah kemenangan agung pertama pejuang-pejuang Islam dalam menentang kemusyrikan dan? kebatilan.Pada Ramadhan Tahun Ke-1393 Hijriyah atau 1973 M, kemenangan muslim atas pasukan Salib dengan merebut? kembali tanah Palestina yang sebelumnya direbut oleh Zionis Yahudi. Masih banyak peristiwa besar lain lebih dari seratus, termasuk salah satunya adalah kemerdekan Bangsa Indonesia ini yang diraih pada bulan suci Ramadhan. Selamat hari Raya Idhul Fitri 1437 H. Minal Aidzin Wal Faizin. Amin.

*Sastrawan dan Pengasuh Pesantren Kreatif Baitul Kilmah, Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kiai, Sholawat Siti Efi Farhati

Rabu, 28 Februari 2018

Bagikan 1000 Takjil, PMII Sidoarjo Ajak Masyarakat Tingkatkan Ibadah

Sidoarjo, Siti Efi Farhati

Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sidoarjo, Jawa Timur, membagikan seribu takjil gratis kepada para pengguna jalan di perempatan Jalan Ahmad Yani Sidoarjo, Senin (27/6).

Selain membagikan takjil, aktivis muda NU ini juga mengajak masyarakat Sidoarjo serta para pengguna jalan untuk tetap meningkatkan ibadah pada 10 hari terakhir Ramadhan.

Bagikan 1000 Takjil, PMII Sidoarjo Ajak Masyarakat Tingkatkan Ibadah (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagikan 1000 Takjil, PMII Sidoarjo Ajak Masyarakat Tingkatkan Ibadah (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagikan 1000 Takjil, PMII Sidoarjo Ajak Masyarakat Tingkatkan Ibadah

Ketua Umum PC PMII Sidoarjo Muhammad Mahmuda menyatakan, melalui momentum malam Lailatul Qadar, seluruh kader dan pengurus PMII yang masih berproses di komisariat agar senantiasa berbagi kepada sesama.

Siti Efi Farhati

"Kami ingin mengingatkan masyarakat supaya terus beribadah di bulan Ramadhan khususnya pada malam Lailatul Qadar. Dan bagi-bagi takjil ini semoga bisa membantu para penggunan jalan yang belum menyempatkan berbuka puasa dan masih berada dalam perjalanan," terang Mahmuda.

Siti Efi Farhati

Salah satu pengendara, Mulyono mengatakan bahwa dengan adanya takjil yang dibagikan oleh mahasiswa ini, dirinya bisa menyegerakan berbuka puasa. "Alhamdulillah, terima kasih takjilnya. Akhirnya saya mendapatkan kesunnahan berbuka puasa," puji Mulyono. (Moh Kholidun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Anti Hoax, Aswaja, Sholawat Siti Efi Farhati

Minggu, 18 Februari 2018

Luthfi Zuhdi: Gus Dur Diciptakan untuk Keseimbangan

Jakarta, Siti Efi FarhatiAura kemeriahan peringatan Haul KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Kompleks Yayasan KH A Wahid Hasyim Jalan Warung Silah 10 Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, mulai terasa sejak Kamis (22/12) malam. Di lantai 2 gedung Sekolah Dasar Islam Tebuireng (SDIT) Ciganjur berlangsung reuni alumni Pesantren Ciganjur. Alumni yang tersebar di Jabodetabek telah merapat. Sementara yang di luar provinsi dilaporkan sedang dalam perjalanan menuju lokasi haul.

Dr HM Luthfi Zuhdi, salah satu pengajar Tafsir dan Kajian Islam di pesantren tersebut, serta Pemangku Pesantren Ciganjur KH Muhammad Musthofa dan puluhan santri serta alumni khidmah mengikuti Tahlil dan Jagongan malam Jumat. Ketua Yayasan KH A Wahid Hasyim, Arif Rahman Hamid, juga tampak bahagia mengikuti "ritual malam Jumat" bersama para santri.

Dalam sambutannya, Luthfi Zuhdi mengatakan bahwa Gus Dur yang disebut banyak orang sebagai sosok kontroversial, bagi dia justru tidak demikian. “Bagi saya, Gus Dur bukan tokoh kontroversial. Biasa saja. Saya melihat justru memang seharusnya beliau begitu,” ujar Luthfi memulai pidatonya.

Sontak para santri yang duduk agak berjauhan dengan para sesepuh tersebut langsung merapat ke depan. Suara Luthfi Zuhdi tidak terlalu terdengar lantaran suasana ramai di kediaman Gus Dur.

Luthfi Zuhdi: Gus Dur Diciptakan untuk Keseimbangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Luthfi Zuhdi: Gus Dur Diciptakan untuk Keseimbangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Luthfi Zuhdi: Gus Dur Diciptakan untuk Keseimbangan

“Gus Dur terlihat suka melawan gelombang dan arus besar. Gus Dur yang selalu mengatakan tidak ketika orang-orang berpendapat iya, dan sebaliknya. Beliau berbuat demikian karena hendak mengondisikan sebuah keseimbangan. Beliau memang diciptakan untuk keseimbangan di hampir semua urusan bangsa ini,” terang Ketua Pusat Studi Islam dan Timur Tengah UI ini.

Puncak acara haul yang digelar malam ini, Jumat, 23 Desember 2016 mulai pukul 19.00 WIB ini bertema Ngaji Gus Dur: Menebar Damai Menuai Rahmat. Selain aneka kegiatan mulai khataman Al-Quran di beberapa masjid dan mushala di sekitar Ciganjur, sejumlah tokoh juga akan hadir bersama ribuan pecinta Sang Humanis ini. Misalnya KH Musthofa Bisri (Gus Mus), A Syafii Maarif, Habib Ja’far Alkaff, Habib Umar Muthohar, KH Said Aqil Siroj, Lukman Hakim Saifuddin, Sabam Sirait, Joko Pinurbo, Putu Wijaya, Acep Zamzam Noor, dan Cici Paramida.

Sejak pagi, suara orang mengaji terdengar dari menara Masjid Al-Munawwaroh yang berada di depan rumah Gus Dur. Para penghafal Quran di bawah tim JQH NU Depok tampak duduk khidmat melantunkan kitab suci. Dari menara Masjid Darussalam Cipedak yang hanya seperlemparan baru dari kediaman Presiden keempat RI ini juga terdengar aktivitas yang sama. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sholawat, Humor Islam, Pendidikan Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati

Senin, 05 Februari 2018

Mun’im DZ: Rekonsiliasi Butuh Pijakan Sejarah yang Benar

Malang, Siti Efi Farhati. Silang sengkarut sejarah 1965, NU-PKI selalu menjadi perbincangan panas di Indonesia. Jika selama ini publik hanya mengkonsumsi Informasi dari media massa, dan beberapa wacana kiri saja, kini hadir buku putih “Benturan NU-PKI” yang menjadi jawaban dari kesekian pertanyaan penting terkait sejarah perjalanan bangsa.

Buku putih itu menjadi topik seminar di Malang, Kamis (1/5). Punulisnya Abdul Mun’im DZ hadir. Menurutnya, masyarakat yang melek sejarah akan mengetahui dengan sendirinya jika PKI bukan satu-satunya Korban. Meski gencar diberitakan NU sebagai pelaku pembantaian, sejatinya NU sendiri adalah korban tragedi 1965.

Mun’im DZ: Rekonsiliasi Butuh Pijakan Sejarah yang Benar (Sumber Gambar : Nu Online)
Mun’im DZ: Rekonsiliasi Butuh Pijakan Sejarah yang Benar (Sumber Gambar : Nu Online)

Mun’im DZ: Rekonsiliasi Butuh Pijakan Sejarah yang Benar

Beberapa data sengaja disajikan dalam perbincangan hangat tersebut. Pasalnya, kesimpang-siuran informasi selama ini sengaja dilakukan untuk mendeskriditkan NU. Salah satunya penggelembungan data korban. Data yang ada lebih banyak media membesar-besarkan jumlah yang tidak rasional. “Buku ini sengaja saya tulis, sebagai rekonsiliasi yang berpijak pada kebenaran,” kata Abdul Mun’im.

Siti Efi Farhati

Wakil Sekjen Pengurus Besar NU itu bahkan menjelaskan, pasca tragedi geger 1965, PKI-NU sebagai korban dirampas hak-haknya sebagai warga negara. NU tidak lagi boleh berpolitik, NU disingkirkan dan beberapa akses ditutup.

“Jadi yang paling berperan untuk menciptakan opini salah dan benar adalah media yang sudah disetting secara global,” paparnya di home-theater Fakultas Humaniora dan Budaya UIN Maliki Malang itu.

Siti Efi Farhati

Penulis berharap buku ini tidak hanya jawaban atas tudingan-tudingan miring pada NU, namun juga sebagai pijakan sejarah untuk anak bangsa. (Diana Manzila/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Lomba, Sholawat, AlaSantri Siti Efi Farhati

Kompolan; Cara Pemuda di Sumenep Jaga Tradisi

Sumenep, Siti Efi Farhati -

Puluhan pemuda karang taruna di kawasan ini secara rutin melaksanakan kompolan atau perkumpulan. Kegiatan diselenggarakan di kantor Balai Desa Batupit Kenek Batuputih Sumenep Madura. Sejumlah persoalan diperbincangkan, dengan diawali yasinan dan pembacaan tahlil.

"Awalannya kegiatan ini memang berangkat dari tongkrongan kecil yang dilakukan di warung-warung pinggir jalan,” kata Ahmad Fawaid, Jumat (22/12). Selaku Ketua Karang Taruna, Fawaid menjelaskan bahwa tradisi berkumpul tersebut akhirnya dicoba untuk diformalkan sehingga terbentuklah organisasi. 

Ia mengemukakan bahwa kompolan terbentuk sejak 2016 lalu. Dan dari tradisi ini, akhirnya tercetus sejumlah kegiatan yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar. Dari mulai bakti sosial di masjid maupun pemakaman umum atau kuburan, peringati Maulid Nabi, tahlilan dan sejenisnya. 

Kompolan; Cara Pemuda di Sumenep Jaga Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kompolan; Cara Pemuda di Sumenep Jaga Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kompolan; Cara Pemuda di Sumenep Jaga Tradisi

“Kini, kegiatan kompolan diisi dengan ngaji yasin, tahlilan, arisanan, dan  memperbincangkan seputar pembangunan desa,” kata Sulaiman. 

Menurutnya, hal positif dari kompolan itu secara umum adalah bisa semakin menyadarkan pemuda desa akan perannya sebagai agen perubahan. “Mereka akhirnya sadar dengan tugasnya sebagai agen perubahan serta memiliki kapasitas sebagai mengontrol perkembangna masyarakat,” kata salah seorang pemrakarsa kegiatan tersebut.

Siti Efi Farhati

Dan tidak berhenti sampai di situ, kompolan juga sebagai sarana mengenalkan sekaligus menjadikan pemuda sebagai penjaga tradisi dari nilai-nilai yang terkandung dalam idiologi Nahdlatul Ulama.

"Jadi, dengan kompolan ini kita harapkan mampu menjadi benteng cara berfikir pemuda desa terhadap keadaan dan kenyataan,” pungkas Sulaiman. (Misno/Ibnu Nawawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Sholawat, Daerah, Habib Siti Efi Farhati

Jumat, 02 Februari 2018

Innalillahi, KH Syafiq Naschan Pengasuh Pesantren An-Nur Jekulo Kudus Wafat

Kudus, Siti Efi Farhati. Suasana duka menyelimuti kota Kudus. Pada Senin (8/6) siang pukul 12.30 WIB Pengasuh Pesantren An-Nur Jekulo Kudus KH Syafiq Naschan wafat. Jenazah kiai yang juga Ketua MUI Kudus ini seketika dimakamkan hari itu pula di pemakaman umum desa setempat. 

Ribuan pelayat dari berbagai kalangan memenuhi rumah duka hingga jalan menuju makam untuk memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum.

Innalillahi, KH Syafiq Naschan Pengasuh Pesantren An-Nur Jekulo Kudus Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Innalillahi, KH Syafiq Naschan Pengasuh Pesantren An-Nur Jekulo Kudus Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Innalillahi, KH Syafiq Naschan Pengasuh Pesantren An-Nur Jekulo Kudus Wafat

Saat upacara pemberangkatan, Mustasyar PBNU KH Syaroni Ahmadi menyampaikan mauidhah hasanah sekaligus sambutan mewakili keluarga. Pada kesempatan itu, Mbah Syaroni mengajak para pelayat mendoakan almarhum sebagaimana perintah sabda Nabi.

Siti Efi Farhati

"Semoga almarhum mengakhiri masa usianya dengan menetapi iman dengan khusnul khatimah, semua amal ibadahnya diterima Allah Swt terutama ibadah hajinya," tutur Kiai Syaroni yang juga besan Almarhum.

Siti Efi Farhati

Disamping menjabat Ketua MUI Kudus, KH Syafiq Naschan semasa hayatnya juga menjadi Ketua IPHI/JHK Kudus, Ketua Yayasan Arwaniyah Kudus dan Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kudus. Ia wafat meninggalkan istri, Hj Basyiroh dan 5 anak. (Qomarul Adib/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Cerita, Hikmah, Sholawat Siti Efi Farhati

Senin, 22 Januari 2018

PBNU Siap Gelar Apel Kebhinnekaan Lintas Iman Bela Negara

Jakarta, Siti Efi Farhati. PBNU menggagas Apel Kebhinnekaan Lintas Iman Bela Negara yang akan digelar di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat pada Ahad, 17 Januari 2016. Kegiatan tersebut melibatkan warga dari ragam umat beragama Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Juga warga dari Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) .

PBNU Siap Gelar Apel Kebhinnekaan Lintas Iman Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Siap Gelar Apel Kebhinnekaan Lintas Iman Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Siap Gelar Apel Kebhinnekaan Lintas Iman Bela Negara

Ketua PBNU H. Marsudi Syuhud mengatakan kegiatan ini merupakan tindak lanjut atau amanah Muktamar NU ke-33 di Jombang. “Muktamar NU Ke-33 mengamanahkan agar PBNU menjaga Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan Undang-Undang Dasar,” katanya saat Rapat Koordinasi di Gedung PBNU Lantai 5 Selasa (12/01) Sore.

Para Pendiri Republik, kata dia, telah mencetuskan Resolusi Jihad untuk mengawal perjalanan negara Indonesia. Jangan sampai negara ini dihancurkan oleh radikalis yang tidak menginginkan kerukunan dalam keberagaman Indonesia.

Siti Efi Farhati

“Mempertahankan NKRI hukumnya Fardhu Kifayah dan merupakan bagian dari Jihad,” tegasnya.

Ia menambahkan, NU meneruskan perjuangan para Santri yang telah mengorbankan darahnya demi keutuhan NKRI. Merekalah yang paling banyak menumpahkan darahnya untuk memperjuangkan republik ini.

Siti Efi Farhati

Apel ini, lanjut dia, digagas PBNU dalam upaya menjaga kerukunan antaragama. Jika kerukunan tercapai maka republik ini akan terjaga. Jangan sampai Indonesia mengalami kejadian seperti Iran-Saudi dan negara Timur Tengah lainnya. (Afifah Marwa/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sholawat Siti Efi Farhati

Sabtu, 06 Januari 2018

Bupati Probolinggo Pimpin Ziarahi Makam Kiai Ronggo

Probolinggo, Siti Efi Farhati. Bupati Probolinggo Hj. Puput Tantriana Sari, Kamis (5/1) pagi memimpin ziarah ke makam Raden KH Abdul Wahab atau (Kiai Ronggo) di Kelurahan Sidomukti Kecamatan Kraksaan. Kiai Ronggo sendiri merupakan pembabat alas Kota Kraksaan sekaligus pendiri Masjid Agung Ar-Raudlah Kota Kraksaan.

Bupati Probolinggo Pimpin Ziarahi Makam Kiai Ronggo (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Probolinggo Pimpin Ziarahi Makam Kiai Ronggo (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Probolinggo Pimpin Ziarahi Makam Kiai Ronggo

Ziarah makam Kiai Ronggo ini dilakukan dalam rangka memperingati HUT Kota Kraksaan ke-7 tahun 2017. Turut mendampingi dalam kesempatan tersebut Wakil Bupati Probolinggo HA. Timbul Prihanjoko dan Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin serta sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Probolinggo.

Hadir pula Rais PCNU Kota Kraksaan KH Munir Kholili, Ketua PCNU Kota Kraksaan H Nasrullah Ahmad Suja’i serta sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat yang ada di Kota Kraksaan.

Siti Efi Farhati

Ziarah diawali dengan pembacaan Surat Yasin dan dilanjutkan pembacaan tahlil bersama. Setelah doa bersama, dilakukan tabur bunga di atas makam Kiai Ronggo oleh Bupati Tantri dan diikuti oleh seluruh undangan lain.

Siti Efi Farhati

Bupati Probolinggo Hj. Puput Tantriana Sari mengungkapkan, ziarah ini digelar sebagai upaya pengenalan terhadap generasi penerus terkait dengan tokoh-tokoh agama yang ada di Kabupaten Probolinggo, khususnya Kota Kraksaan.

“Ziarah ini dilakukan agar masyarakat tidak melupakan jasa orang yang telah berbuat baik terhadap kemajuan di Kabupaten Probolinggo. Mudah-mudahan kita mampu meneladani kesholehan dan keilmuan dari Kiai Wahab demi perbaikan dan kemajuan Kabupaten Probolinggo,” ungkapnya.

Sementara Hasan Aminuddin mengatakan bahwa Kiai Abdul Wahab atau Kiai Ronggo memiliki jiwa sosial yang tinggi. Selain kesalehan ibadahnya juga memiliki kesalehan sosialnya yang sudah banyak mewakafkan tanahnya untuk kepentingan agama dan kepentingan bangsa.

“Kiai Ronggo salah satu pejuang syiar Islam yang ikut membabat alas Kota Kraksaan. Hari ini kita ingin mengembalikan kepada sejarahnya. Kraksaan dahulu itu merupakan cikal bakal pada Pemerintahan Belanda,” katanya.

Menurut Hasan, Kota Kraksaan ini harus dijaga dengan baik. Diantaranya menjaga kebersihan yang lebih sulit dari pada membangun. Serta tertib terhadap peraturan perundang undangan, khususnya pada hari Jumat mulai pukul 11 siang sampai selesainya sholat Jum’at para pedagang untuk tidak melakukan transaksi atau melayani pembeli. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kyai, Ahlussunnah, Sholawat Siti Efi Farhati

Rabu, 27 Desember 2017

PWNU NTT Bangun SMK Nusa Unggul Ma’arif

Kupang, Siti Efi Farhati. Dengan dukungan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (PPO), Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) segera membangun Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Nusa Unggul Ma’arif Kupang. 

PWNU NTT telah menerima rekomendasi Izin Operasional SMK Nusa Unggul Kupang dari Dinas PPO Kota Kupang.

PWNU NTT Bangun SMK Nusa Unggul Ma’arif (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU NTT Bangun SMK Nusa Unggul Ma’arif (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU NTT Bangun SMK Nusa Unggul Ma’arif

Rencana ini disampaikan Ketua PWNU NTT Jamal Ahmad di Kantor PWNU di Jalan Ainiba No.74 Perumnas Kelurahan Nefonaik Kota Kupang Jumat (15/3/2013).

Siti Efi Farhati

Menurut Jamal, tujuan bangun SMK Nusa Unggul Ma’arif di NTT guna meningkatkan sumberdaya manusia (SDM) bagi generasi muda kaum Nahdliyin. 

Siti Efi Farhati

“Kita perlu kembangkan pendidikan berbasis pesantren, agar anak-anak kita  bisa terdidik dengan tradisi keislaman sesuai dengan konsep Islam ahlusunnah wal jamaah,” katanya.

Sekolah kejuruan ini berbasis pesantren dengan beberapa program unggulan yakni program budi daya air laut, budi daya air tawar dan budi daya air payau. Tiga program utama ini masih dalam uji coba dalam setahun. Sementara mata pelajaran lainnya yang akan diprioritaskan adalah pengelolaan budi daya agar-agar dari rumput laut. 

“Mata pelajaran umum juga akan diutamakan sesuai dengan sistem pendidikan berbasis SMK,” jelas Jamal.

Dijelaskan Jamal, rencana bangun SMK Nusa Unggul Ma’arif telah direncanakan pada tahun 2012 lalu tetapi terkendala dengan ijin dari pemerintah sehingga tahun lalu belum bisa terlaksana. Akhirnya tahun 2013 bulan ini baru keluar izin operasional. 

“Kami baru mengantongi izin pada tanggal 21 Januari lalu. Sementara panitia telah melaksanakan persiapan-persiapan akan dibuka pada tahun ajaran baru 2013-2014 ini,” katanya. 

SMK Ma’arif akan dibuka di pesentren Al-Hikmah Namosain Kupang.  

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor : Ajhar Jowe

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sholawat, Bahtsul Masail Siti Efi Farhati

Naik Bus Haram

Salah satu jamaah haji asal Kabupaten Subang, Kang Ujang, memang terkenal tekun dan getol mencari pahala. Saat ditanya kenapa rajin banget, Kang?

“Mumpung di dieu (di sini),” ujar Kang Ujang dengan senyum penuh harapan.

Naik Bus Haram (Sumber Gambar : Nu Online)
Naik Bus Haram (Sumber Gambar : Nu Online)

Naik Bus Haram

Jumat pagi  ia keluar sendirian dari tempat pemondokannya untuk berangkat ke Masjidil Haram.

Siti Efi Farhati

Kang Ujang menunggu bus lewat di pinggir jalan dekat apartemennya. Beberapa kali bus berhenti menyahuti isyarat tangannya. Sembari berhenti kondekturnya teriak-teriak, “Haraaaam! Haraaaam!”

Siti Efi Farhati

Mendengar teriakan itu Kang Ujang yang sudah mendekati pintu bus pun mengurungkan niatnya. “Waduh, kenapa berhenti, kalau tidak boleh naik?” gerutu Kang Ujang.

Rupanya Kang Ujang tak paham; teriakan si kondektur bermaksud menunjukkan bahwa bus sedang menuju ke Masjidil Haram. (Ahmad Rosyidi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pertandingan, Sholawat Siti Efi Farhati

Minggu, 24 Desember 2017

Peran Nyata Santri dan Pesantren Layak Jadi Perhatian Pemerintah

Jepara, Siti Efi Farhati. Ketua RMI NU Jepara, KH Zainul Arifin mengatakan, momentum hari santri nasional yang diperingati 22 Oktober jangan hanya dijadikan euforia belaka. Lebih dari itu peringatan yang kali pertama dirayakan ini harapannya, pemerintah dituntut lebih memperhatikan santri dan pesantren karena peran nyata mereka untuk bangsa dan negara selama ini.

Peran Nyata Santri dan Pesantren Layak Jadi Perhatian Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
Peran Nyata Santri dan Pesantren Layak Jadi Perhatian Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

Peran Nyata Santri dan Pesantren Layak Jadi Perhatian Pemerintah

“Pemerintah harus meningkatkan infrastruktur, skill, manajerial tanpa menghilangkan budaya salafiyah santri,” tutur KH Zainul Arifin dalam Apel Akbar Hari Santri Nasional berlangsung di Alun-alun Jepara, Kamis (22/10) pagi.

Dalam konteks Jepara, Peraturan Daerah (Perda) Madrasah Diniyah (Madin) yang sudah diketok palu DPRD Jepara, menurut Kiai Zainul, untuk menguatkan fisik dan SDM santri. “Sehingga pesantren menjadi trendsetter pendidikan di dunia,” harapnya kepada ribuan santri, pelajar dan mahasiswa yang memadati alun-alun.

Siti Efi Farhati

Kiai Zainul mengingatkan kepada pemerintah untuk mengingat jejak perjuangan KH Hasyim Asyari itu bukan sekadar simbol keberadaan penguasa saja. “Momentum ini merupakan kaderisasi pemimpin agama dan bangsa yang rahmatan lil alamin,” lanjutnya.

Santri, imbuhnya, tidak ngurus khilafiyah saja. Pengolahan SDM, kebijakan fiskal, tata negara juga perlu dipecahkan.?

Siti Efi Farhati

Kegiatan yang diinisiasi oleh PCNU Jepara itu diikuti oleh ribuan santri, pelajar, mahasiswa se-Jepara. Apel akbar dimeriahkan penampilan rebana, paduan suara, drum band dan pencak silat Pagar Nusa. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pesantren, Sholawat Siti Efi Farhati

Selasa, 19 Desember 2017

Menghormati Perbedaan Pendapat atas Puasa Bulan Rajab

Alhamdulillah saat ini, kita semua memasuki bulan mulia Rajab. Sebagaimana yang jamak kita jumpai, sebagian besar umat Islam di Dunia memuliakannya dengan berpuasa sebagaimana yang pernah dilakukan oleh panutan junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Kita jumpai pula sebagian kelompok yang mengingkari puasa di bulan mulia Rajab dengan berbagai alasan pendapatnya.

Bagi saya, kedua kelompok yang memiliki pemahaman bahwa puasa di bulan Rajab adalah hukumnya sunnah, ataupun kelompok yang memiliki pemahaman bahwa puasa di bulan Rajab adalah bidah, maka keduanya semua dianggap telah memasuki wilayah ijtihad. Antara membolehkan dan melarang. Dalam hal ini yang perlu ditekankan adalah saling menghormati antar kedua kelompok tersebut. Bahwa keduanya sama-sama memasuki sabda Nabi SAW: "Apabila seorang hakim menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan benar, baginya dua pahala. Dan apabila ia menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan keliru, baginya satu pahala." (HR Muslim)

Hadits tersebutlah yang menjadi dalil, semenjak Rasulullah SAW bersabda sampai saat ini dapat kita simpulkan: Rasulullah telah menetapkan bahwa di dalam agama ini memiliki pintu ijtihad yang senantiasa terbuka untuk menghasilkan hukum yang belum pernah dibahas secara jelas dalam alQuran dan asSunnah. Adanya kesempatan ijtihad tersebut, secara tidak langsung juga membuka pintu lain yaitu ikhtilaf (perbedaan). Tidak lain adalah karena; ketika Allah SWT telah mempersilahkan hambaNya untuk berijtihad, maka tidak dapat dipungkiri pula telah mempersilahkan hambaNya untuk berikhtilaf pula dalam persoalan tersebut.

Ketika Allah SWT telah mensyariatkan wilayah ijtihad dan membuka wilayah ikhtilaf, namun perlu diketahui bersama bahwa ikhtilaf tersebut adalah ikhtilaf taawuni (berbeda namun tetap berdampingan saling membantu), bukan ikhtilaf yang menjadikan perpecahan serta permusuhan antara ummat. Ikhtilaf yang muncul karena ijtihad (antara dua golongan) sama-sama mendapatkan pahala semuanya. Baik ijtihad tersebut benar ataupun tidak. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh sabda Rasulullah SAW di atas. Apakah keterangan ini masih memunculkan syak atau keraguan wahai saudaraku? apakah masih diantara kita yang meragukan sabda Rasulullah SAW?!

Menghormati Perbedaan Pendapat atas Puasa Bulan Rajab (Sumber Gambar : Nu Online)
Menghormati Perbedaan Pendapat atas Puasa Bulan Rajab (Sumber Gambar : Nu Online)

Menghormati Perbedaan Pendapat atas Puasa Bulan Rajab

Hakikat keberadaan ijtihad dan ikhtilaf perlu senantiasa dipahami terus-menerus keberadaannya, sebagaimana telah dipahami oleh generasi ummat muslimin terdahulu. Tidak lain supaya tidak menimbulkan fitnah antar muslim dalam beragama. Karena kesalahan memahami tersebut akan menjadikan kita senantiasa berada dalam ikhtilaf permusuhan, bukan ikhtilaf perdamaian. Sering kita jumpai bersama perbedaan pendapat yang menjadikan antara kelompok saling bermusuhan dengan sama-sama memegang teguh pendapat masing-masing. Padahal, hal tersebut telah bertentangan dengan hikmah Ilahiyyah yang telah diletakkan di dalam Islam, yaitu adanya Ittifaq (kesepakatan) dan Ikhtilaf (perbedaan) dalam Ijtihad.

Dari pemahaman tersebut, seyogyanya bagi kita untuk bersikap tasamuh (toleran) dalam menghadapi perbedaan hasil ijtihad antara kelompok. Sudah sepatutnya bagi kita untuk menjaga lisan kita dari ucapan ataupun klaim yang tidak baik, seperti: menyalahkan, menyesatkan, membidahkan atau mengufurkan. Karena hal tersebut sekali lagi mengingkari Ijtihad kelompok lain, yang mana pintu Ijtihad senantiasa terbuka sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. Lebih-lebih yang harus menjadi teladan adalah apa yang telah dikatakan oleh Imam Syafii rodliyallahu anhu: "Pendapatku benar, namun mengandung kemungkinan salah, pendapat yang lain salah, namun mengandung kemungkinan benar".

Kebetulan, saya adalah termasuk kelompok sebagian besar muslimin yang meyakini kebenaran Ijtihad bahwa puasa di bulan mulia Rajab adalah sunnah hukumnya. Itulah Ijtihad kami. Ketika kami berijtihad, dan ijtihad kami salah, dan ketika kalian berijtihad dan benar, tetap kami mendapatkan pahala satu dan Allah telah memuliakan kalian dengan dua pahala. Lantas apa yang menjadikan kalian ingkar sedangkan diantara kita sama-sama mendapatkan pahala dan perbedaan diantara kita adalah hikmah Ilahiyyah yang telah ditetapkan adanya oleh Rosulallah shollallahu alaihi wasallam? Kalau kita telah mengetahui bahwa di dunia ini ada salah dan benar, maka tidak perlu lagi diperdebatkan. Cukup sama-sama berijtihad, dan bukankah perkara ijtihadi pasti memiliki konsekuensi untuk adanya ikhtilaf?

Siti Efi Farhati

Untuk itu, orang yang merasa sudah dalam posisi benar harus dapat menerima bahwa dirinya bisa jadi dalam posisi yang salah. Begitupula orang yang dinilai salah bisa jadi dalam posisi yang benar. Perlu kita ingat bersama bahwa Rahmat Kasih sayang Allah SWT sangatlah luas dan mempersilahkan kita untuk berada disemua wilayah rahmatNya. Lantas mengapa perlu dipersempit lagi rahmatNya?

Barangkali perlu kita ingat kembali bahwa, bahwa diantara kaidah agama Islam yang tidak ada perbedaan antara ulama adalah: bahwa prinsip dasar dalam hukum atas persoalan yang berbeda terdapat hukum yang berbeda pula. Bisa jadi suatu perkara mubah beralih menjadi haram lantaran ditempuh dengan jalan haram, begitupula perkara mubah bisa menjadi mandub bahkan wajib ketika wasilah perkara tersebut adalah perkara mandub atau wajib. Semua perkara -yang belum disinggung secara jelas dalam alQuran dan asSunnah- dihukumi sesuai dengan jalan atau wasilah yang berkaitan dengan persoalan tersebut.

Ketika seseorang beramal dalam satu perkara dan tidak terdapat hukum di dalam syariat mengenai nash qothi atas amalan tersebut, maka kita lihat kembali wasilah dan ghoyah (hasil akhir) atas amal tersebut. Ketika hasil akhirnya adalah bertentangan dengan syariat; yakni terdapat mashiyat, mengandung kemungkaran, maka perkara mubah menjadi harom. Adapun ketika kita pandang suatu amalan baru yang belum dikenal baik dizaman shohabat atau tabiin dan generasi setelahnya, namun setelah kita menyaksikan dan memandangnya menghasilkan perkara yang positif, didalamnya terkandung perkara yang diridloi oleh Allah SWT baik terkait dengan perkara mandub atau wajib, maka perkara mubah tersebut akan berubah menjadi sunnah atau wajib. Pengambilan hukum seperti itu telah disepakati oleh para Ulama semuanya sebagaimana yang telah dibahas dalam perkara adDzaroi. Terlebih puasa di bulan mulia Rajab, selain memiliki dalil yang kuat berupa nash sunnah, juga telah menjadi amalan turun menurun dari ulama salaf.

Siti Efi Farhati

Daripada itu, seyogyanya ketika kita melihat apa yang dilakukan oleh masyarakat baik dari amalan atau aktifitas mereka yang berbeda-beda, maka yang kita kedepankan adalah melihat hasil akhir atas aktifitas mereka. Apakah hasil akhir amalan tersebut sesuai dengan warna ketaatan atau warna kemashiyatan?

Selamat berpuasa di bulan mulia Rajab. Semoga kita semua diberi keberkahan di bulan mulia ini, dan diberi keberkahan umur dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Amien. Wallahu Warosuluh alam.

?

Taufiq Zubaidi, Warga NU Sudan

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Hikmah, Sholawat, Daerah Siti Efi Farhati

Senin, 18 Desember 2017

Di Kota Solo Bakal Dibangun Masjid Taman Sriwedari

Solo, Siti Efi Farhati



Rencana Pemerintah Kota Surakarta membangun masjid di pusat Kota Solo kini mulai menemukan titik terang. Pihak Pemkot telah membentuk panitia pembangunan masjid yang melibatkan kalangan birokrasi dan unsur masyarakat.

Di Kota Solo Bakal Dibangun Masjid Taman Sriwedari (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Kota Solo Bakal Dibangun Masjid Taman Sriwedari (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Kota Solo Bakal Dibangun Masjid Taman Sriwedari

Pengukuhan panitia pembangunan dilakukan di Loji Gandrung, Rumah Dinas Walikota, Senin (9/1) malam. Ketua Panitia dipegang oleh Wakil Wali Kota Achmad Purnomo.

Dalam pidatonya, Wali Kota Surakarta F.X Hadi Rudyatmo mengatakan, saat ini panitia langsung ditugaskan untuk secepatnya bekerja menggarap pembangunan masjid yang rencananya akan diberi nama Masjid Taman Sriwedari.

“Semoga masjid ini bukan hanya sekedar menjadi sarana beribadah umat Islam, tetapi juga mampu menjadi wahana mempererat kerukunan warga masyarakat di Kota Solo. Namanya Masjid Taman Sriwedari,” tutur Rudy.

Siti Efi Farhati

Sementara itu, KH M Dian Nafi yang diberi tugas sebagai Humas Panitia pembangunan masjid ini menambahkan, berdirinya Masjid Taman Sriwedari akan melengkapi keberadaan Masjid Agung Surakarta.

“Masjid ini berkonsep masjid dalam taman dengan luas tanah 17.000 m² yang berupa taman sekitar 10.000 m². Masjid dirancang dapat menampung kurang lebih 5 ribu jamaah,” terang Kiai Dian.

Rencananya pada tanggal 5 Februari mendatang akan dilaksanakan acara peletakan batu pertama masjid. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Sholawat Siti Efi Farhati

Minggu, 17 Desember 2017

Pesantren Al-Asyariah Juarai Liga Santri Nusantara Region Banten

Tangerang,Siti Efi Farhati. Pondok Pesantren Al-Asyariah Tangerang berhasil meraih juara Liga Santri Nusntara (LSN) Region Banten setelah di final berhasil menaklukkan Pondok Pesantren Darussalam Serang dengan skor tipis 2-1 di Stadion Mini Solear Kabupaten Tangerang pada Ahad (4/9).

Pesantren Al-Asyariah Juarai Liga Santri Nusantara Region Banten (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Asyariah Juarai Liga Santri Nusantara Region Banten (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Asyariah Juarai Liga Santri Nusantara Region Banten

Dengan demikian, Al-Asyariah akan mewakili Banten untuk berlaga dalam Final Liga Santri Nusantara bersama bersama tim dari 31 Region lainya. "Alhamdulillah ini kedua kalinya kami mewakili Banten dalam Liga Santri. Mudah-mudahan kami bisa memberikan prestasi yang terbaik buat Banten," ucap Pengasuh Pesantren Al-Asyariah Ust.H. Makhrusillah.

Ketua Panitia Liga Santri Nusantara Khoirun Huda menyampaikan, proses pelaksanaan Liga Santri di Banten berlangsung lancar dan sukses. Ia juga memberikan apresiasi kepada seluruh kiai dan pengasuh pesantren dan para santri yang sudah terlibat dan berpartisipasi dalam Liga Santri Nusantara ini.

Siti Efi Farhati

“Saya berharap ke depan akan lebih banyak lagi pesantren yang melakukan pembinaan sepakbola bagi santri sehingga dapat berpartisipasi dalam ajang bergengsi seperti ini," katanya.

Siti Efi Farhati

Sementara Koordinator Region LSN Banten Ahmad Fauzi menyampaikan, Al-Asyariah sebagai Juara tidak boleh terlena dan tidak boleh berbagga diri dengan kemenangan.

Menurutnya ini adalah awal perjuangan karena dalam final Liga Santri mereka harus berhadapan dengan tim-tim tangguh dari berbagai pesantren se-Indonesia. "Para pemain harus terus gigih berlatih mempersiapkan fisik dan mental guna menyongsong pertandingan selanjutnya," tegasnya.

Sebagaimana diketahui bahwa Liga Santri Region Banten ini dilaksanakan sejak tanggal 27 Agustus sampai dengan 4 September 2016. Liga tersebut diikuti 14 tim dari pondok-pondok pesantren di Banten. (Khoirun Huda/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sholawat, Ubudiyah, AlaSantri Siti Efi Farhati

Tanggung Jawab, Menag Cabut Peredaran Buku Bermuatan Sara

Jakarta, Siti Efi Farhati. Menteri Agama RI H Lukman Saifuddin menyatakan permohonan maaf atas lolos cetaknya Buku Guru SKI MTs Kelas VII yang mengandung isu SARA. H Lukman mengeluarkan pernyataan tanggung jawabnya. Di hadapan publik, ia menginstruksikan segenap jajaran Kemenag di seluruh tanah air untuk menarik kembali buku itu dari peredaran.

“Saya mohon maaf sebesar-besarnya atas keteledoran tersebut,” demikian Menteri Agama melalui akun Twitternya menanggapi akun Twitter Aswaja TV yang melansir berita? Siti Efi Farhati bertajuk PBNU Kecam Penghinaan Tradisi Ziarah di Kurikulum Madrasah, Rabu (17/9) petang.

Tanggung Jawab, Menag Cabut Peredaran Buku Bermuatan Sara (Sumber Gambar : Nu Online)
Tanggung Jawab, Menag Cabut Peredaran Buku Bermuatan Sara (Sumber Gambar : Nu Online)

Tanggung Jawab, Menag Cabut Peredaran Buku Bermuatan Sara

Meskipun penulisan buku yang melukai perasaan umat beragama itu ditangani oleh tim dari Ditjen Pendis, H Lukman Hakim Saifuddin mengaku dirinya lalai. Secara terbuka ia mengatakan, “Saya yang bertanggung jawab. Buku tersebut telah ditarik.”

Siti Efi Farhati

Demikian pernyataan H Lukman Saifuddin pada akun Twitternya dengan menyebutkan akun Twitter Rais ‘Aam PBNU KH Mustofa Bisri, Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj, Siti Efi Farhati, dan Twitter Aswaja TV. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sholawat Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati

Kamis, 14 Desember 2017

Kemenkes Dinilai Lambat Tangani Kasus Kematian Bayi di Papua

Jakarta, Siti Efi Farhati. Menteri Kesehatan harus dipertanyakan kinerjanya lantaran lalai melindungi warga Papua dari bencana kematian. Hingga saat ini, Kemenkes belum juga dapat memetakan penyebab kematian bayi yang telah terjadi di Dunga Papua.

Kemenkes Dinilai Lambat Tangani Kasus Kematian Bayi di Papua (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenkes Dinilai Lambat Tangani Kasus Kematian Bayi di Papua (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenkes Dinilai Lambat Tangani Kasus Kematian Bayi di Papua

“Padahal berita tentang kematian bayi ini sudah diberitakan sejak pertengahan November. Bahkan beberapa sumber mengatakan kematian bayi ini telah terjadi sejak pertengahan tahun ini,” kata Nihayatul Wafiroh, anggota DPR RI Komisi IX, kepada Siti Efi Farhati dalam siaran pers, Jumat (11/12).

Ada yang mengatakan, imbuhnya, korban berjumlah 37 jiwa, 56 jiwa, bahkan sumber lain menyebutkan 71 anak meninggal. Artinya, hal ini sudah berlangsung selama enam bulan. Namun Kemenkes kurang merespon bencana kematian ini. Fatalnya, kata Nihayah, pihak Kemenkes belum dapat memastikan data valid tentang hal itu. Bahkan dengan seenaknya beralasan bahwa, daerah ini memang sulit dijangkau.

Siti Efi Farhati

"Pernyataan Kemenkes bahwa mereka belum dapat memastikan kondisi korban serta masyarakat di Dunga hingga sekarang, membuktikan sangat buruknya sistem pendataan. Hal ini sekaligus menunjukkan begitu buruknya kinerja Kemenkes," ujarnya.

Siti Efi Farhati

Padahal, menurut Nihayah, tahun depan ini, Kementerian Kesehatan adalah salah satu Kementerian yang mendapat kenaikan anggaran paling banyak yaitu sebesar 5,05 persen. Jadi, tahun ini Kemenkes mendapat jatah 109 Trilliyun rupiah.

“Dengan anggaran sebesar itu seharusnya Kemenkes malu mengatakan belum mengetahui secara pasti kondisi warga Dunga saat ini. Hal ini secara implisit menunjukka bahwa, koordinasi antara Kemenkes pusat dengan Dinas Kesehatan di daerah sangat buruk," imbuhnya.

Nihayah juga mengatakan akan mendorong Komisi IX untuk segera menindaklanjuti kasus ini dan memanggil sekaligus mendesak Kementerian Kesehatan untuk bertindak cepat dan tepat.

"Jika sampai satu minggu ini belum juga ada perbaikan kondisi anak-anak serta masyarakat di sana, kami akan terus mengevaluasi kinerja Kemenkes tentang hal ini. Ini masalah nyawa banyak orang, warga Indonesia yang harus segera dilindungi. Jika tidak segera melakukan kerja secepatnya dan tepat, banyak korban yang akan berjatuhan," paparnya. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Hikmah, Sholawat Siti Efi Farhati

Jumat, 08 Desember 2017

Sukses Fatayat NU, Sukses Perempuan Indonesia

Jakarta, Siti Efi Farhati. Ketua Umum PP Fatayat NU Ida Fauziyah dalam kepemimpinannya selama lima tahun telah menegaskan visinya bahwa “Sukses Fatayat NU, Sukses Perempuan Indonesia”.

Hal ini disampikan dalam pidato ketua umum pada acara pelantikan pengurus PP Fatayat NU periode 2010-2015 yang diselenggarakan di Jakarta, Sabtu (7/8).

Sukses Fatayat NU, Sukses Perempuan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Sukses Fatayat NU, Sukses Perempuan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Sukses Fatayat NU, Sukses Perempuan Indonesia

Dikatakannya, saat ini masih banyak persoalan yang dihadapi oleh para perempuan di Indonesia, diantaranya adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang mana Indonesia menduduki urutan ke 107 dari 177 negara.

Siti Efi Farhati

Ini salah satunya dikarenakan masih adanya persoalan pada aspek kesehatan dan pendidikan yang dialami oleh perempuan. Sebagai gamparan, saat ini tingkat kematian ibu melahirkan masih 248 per 100 ribu, padahal negara lain sudah mampu menurunkan pada level yang sangat rendah.

Kejahatan terhadap perempuan juga menjadi persoalan serius karang trendnya terus mengalami peningkatan, seperti persoalan trafficking.

Siti Efi Farhati

Ia menegaskan, sebagai badan otonom NU, Fatayat siap melaksanakan program NU khususnya yang terkait dengan bidang pemudi perempuan. “Kami minta bimbingan dan siap dijewer jika tidak sesuai dengan visi dan misi NU,” katanya. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sholawat, News, Lomba Siti Efi Farhati

Rabu, 06 Desember 2017

Jatman Sukoharjo Gelar Pengajian Keliling

Sukoharjo, Siti Efi Farhati. Selama ini teori-teori dalam beragama, baik di sekolah maupun di majelis pengajian telah banyak dipelajari, tetapi kadang masih bingung dalam prakteknya. 

Hal tersebut disampaikan KH Khoirul Anwar dalam pengajian selapan Idaroh Syu’biyyah Jam’iyyah Ahlith Thoriqah Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah (Jatman) Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah, Senin malam (11/2) di Masjid Al-Akbar Jetis Tawangsari Sukoharjo.

Jatman Sukoharjo Gelar Pengajian Keliling (Sumber Gambar : Nu Online)
Jatman Sukoharjo Gelar Pengajian Keliling (Sumber Gambar : Nu Online)

Jatman Sukoharjo Gelar Pengajian Keliling

“Kita sudah mengetahui teori-teorinya, lalu prakteknya seperti apa?” tanya Kiai Anwar kepada jamaah.

Siti Efi Farhati

Kemudian ia membacakan hadist tentang pertemuan Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad saw yang sedang bersama para sahabat. Jibril kemudian menanyakan tentang iman, Islam dan ihsan. Sampai pada keterangan ihsan yang bermakna ketika tengah beribadah seolah-olah melihat Allah.

“Disinilah pentingnya bertariqah, berguru kepada salah seorang mursyid. Agar kita bisa merasakan kehadiran Allah,“ terang Mudir Jatman Sukoharjo tersebut.

Siti Efi Farhati

Acara pembacaan ratibul hadad dan maulid simtudurar itu dihadiri beberapa unsur dari Aswaja di Sukoharjo diantaranya dari Majelis Al-Hidayah, Muslimat Thariqah, Jamuniro dan lain sebagainya.

“Ini menunjukkan persatuan unsur Aswaja,” kata Sekretaris Jatman Sukoharjo, Mukhlis Suranto.

Di akhir acara diumumkan agenda-agenda penting yang akan diselenggarakan diantaranya kegiatan Maulid Nabi di tempat Habib Luthfy Pekalongan dan Khatmil Quran di pesantren Almuayyad Solo. Kegiatan pengajian malam Selasa Pahing ini rutin diselenggarakan setiap 40 hari sekali, berkeliling ke desa-desa di daerah Sukoharjo.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Fragmen, IMNU, Sholawat Siti Efi Farhati

Sabtu, 02 Desember 2017

Khofifah Tegaskan Presiden dan Panglima TNI Hadir di Pembukaan Kongres

Jakarta, Siti Efi Farhati. Ketua Umum PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa memberi penegasan bahwa Presiden RI Joko Widodo dan Panglima TNI akan hadir dan memberi sambutan dalam pembukaan Kongres Ke-17 Muslimat NU, Kamis (24/11) di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta.

Khofifah Tegaskan Presiden dan Panglima TNI Hadir di Pembukaan Kongres (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah Tegaskan Presiden dan Panglima TNI Hadir di Pembukaan Kongres (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah Tegaskan Presiden dan Panglima TNI Hadir di Pembukaan Kongres

Pernyataan ini disampaikan Khofifah usai membuka Expo Kongres Muslimat NU, Rabu (23/11). Dia juga menjelaskan terkait program dan isu-isu strategis yang akan dibahas secara serius dalam Kongres bertajuk Dengan Semangat Islam Nusantara, Kita Wujudkan Indonesia Damai Sejahtera.

“Insyaallah besok pagi jam 9, kami sudah mendapat konfirmasi, Presiden berkenan membuka Kongres, selanjutnya sambutan dari Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmatyo,” ujar Khofifah.

Dalam penutupan Kongres yang akan dilaksanakan 27 November nanti, lanjutnya, Wapres JK dan Rais Aam PBNU akan menutup kegiatan lima tahunan ini.

Khofifah juga menjelaskan, ada 4 menteri dari Kabinet Kerja yang juga akan hadir dalam pembukaan besok. Menteri-menteri tersebut diantaranya, Menag Lukman Hakim Saifuddin, Menkes Nila F Moeloek, Mendikbud Muhadjir Effendy, Menkop Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, termasuk Kementerian Sosial.

Siti Efi Farhati

Dalam acara pembukaan, sekitar 10.000 kader Muslimat NU akan membanjiri Gedung Serba Guna 2 hingga meluber ke jalanan dan halaman Gedung Serba Guna 1 Asrama Haji Pondok Gede. Sebab itu, panitia sudah membuat tenda dan ribuan kursi yang sudah rapi di tempat-tempat tersebut. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Sholawat Siti Efi Farhati

Kamis, 30 November 2017

Muslimat Jabar Imbau Orang Tua Jauhkan Anak dari Narkoba

Banjar, Siti Efi Farhati

Ketua Pimpinan Wilayah Muslimat NU Jawa Barat Hj Ella Giri Komala menyayangkan perbuatan asusila yang menelan banyak korban anak-anak hingga orang dewasa khususnya kaum perempuan. Menurutnya, di antara faktor rusaknya moralitas ini adalah narkoba.

Muslimat Jabar Imbau Orang Tua Jauhkan Anak dari Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat Jabar Imbau Orang Tua Jauhkan Anak dari Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat Jabar Imbau Orang Tua Jauhkan Anak dari Narkoba

Karena itu, Muslimat NU menyatakan perang terhadap peredaran dan penggunaan narkoba, Ahad (15/5). “Kami mengajak ibu-ibu Muslimat memberikan perhatian kepada anak-anaknya melalui pendidikan orang tua terhadap anak. Sementara itu, jika ada di sekitar kita yang menggunakan narkoba, laporlah kepada pihak kepolisian,” tegasnya di hadapan ratusan peserta peringatan hari lahir ke-70 Muslimat NU di Gedung Graha Banjar Idaman (GBI) Kota Banjar, Jawa Barat.

Sementara itu, Ketua Pimpinan Cabang Muslimat NU Kota Banjar Hj. Imas Wahidah mengatakan hal senada. Dia mengaku sedih dan prihatin beberapa kasus pembunuhan, pemerkosaan serta tindak kekerasan menimpa sejumlah anak-anak, khususnya perempuan.

Siti Efi Farhati

“Mari kita tegaskan bersama bahwa kita menyatakan melawan peredaran, penggunaan narkoba. Bentuk kekerasan terhadap anak-anak hingga orang dewasa, khususnya perempuan, kita harus mengantisipasinya sejak sekarang agar tidak ada kejadian serupa, khususnya di Kota Banjar,” tegasnya.

Sekretaris PCNU Kota Banjar H Supriana mengajak semua umat Islam khususnya warga Nahdliyin untuk bersama-sama membenahi permasalahan yang ada di Kota Banjar, seperti halnya permasalahan LGBT, narkoba serta tindak kekerasan terhadap anak, perempuan, serta aksi kejahatan lainnya.

Siti Efi Farhati

“NU tidak akan neka-neko membicarakan permasalahan aqidah apa yang harus digunakan oleh bangsa Indonesia. Pasalnya, sudah jelas tahu persis perjuangannya dalam melawan penjajah. Maka jargon ‘NKRI Harga Mati’ itu sangat masuk akal. Khusus untuk Kota Banjar, mari kita jaga 4 pilar bangsa dengan berkontribusi membenahi masalah yang ada,” tegasnya

Fenomena LGBT, tindakan asusila serta fenomena keagamaan yang sangat sensitif, lanjut Supriana, harus disikapi denga arif dan bijaksana. Pasalnya, jika masyarakat hanya menafsirkan secara mentah, maka polemik yang berkembang di masyarakat akan menjadi momok yang meresahkan.

“Statemen yang dikeluarkan oleh NU itu tidak gegabah, akan tetapi melalui proses analisa mendalam sebelumnya. Jadi, apapun yang diintruksikan oleh PBNU ya kita taati. Termasuk masalah perang melawan narkoba, perang melawan organisasi yang merongrong keutuhan NKRI. Sekali lagi, moralitas bangsa perlu kita kawal dengan pendidikan agar masa depan bangsa ini cerah,” pungkasnya. (Muhafid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sholawat Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock