Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Februari 2018

Ketua KPK Dorong Partisipasi Aktif Masyarakat Cegah Tindakan Korup

Jakarta, Siti Efi Farhati. Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo menjelaskan, KPK hanya memiliki personil yang sedikit jika dibandingkan dengan praktik yang terjadi di Indonesia. Setidaknya, KPK hanya memiliki 1600 orang pegawai.

“KPK itu kecil. KPK hanya sekitar 1600 orang pegawai,” kata Agus saat menjadi narasumber dalam acara Pelatihan Dai-Daiyah Kader NU 2017 pada hari kedua yang diselenggarakan atas kerjasama LD PBNU dengan Hidmat Muslimat NU di Lantai 8 Gedung PBNU, Selasa (30/5).

Ketua KPK Dorong Partisipasi Aktif Masyarakat Cegah Tindakan Korup (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua KPK Dorong Partisipasi Aktif Masyarakat Cegah Tindakan Korup (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua KPK Dorong Partisipasi Aktif Masyarakat Cegah Tindakan Korup

Karena itu, ia mengajak kepada masyarakat untuk bersama-sama melaporkan indikasi tindakan korupsi dan memberikan penyadaran kepada masyarakat akan dampak dari pada korupsi.

“Kita harapkan partisipasi bapak ibu untuk melaporkan dan menyadarkan banyak pihak, memberikan kontribusi paling tidak mengingatkan seseorang untuk tidak korupsi,” terangnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, tidak sedikit koruptor yang tertangkap oleh KPK. Agus mengatakan, sejauh ini ada 17 gubernur dan lima puluh delapan bupati walikota yang ditangani oleh lembaga anti rasuah itu.

Siti Efi Farhati

“Yang ditangani KPK 17 gubernur. Ini yang ditangani KPK saja, belum (yang ditangani) polisi dan jaksa,” ungkapnya.

Namun demikian, ia mengaku senang karena menurut salah satu survei internasional, persepsi korupsi Indonesia mengalami penurunan. “Di bidang korupsi, kita bergerak ke arah yang lebih baik. Yang ngukur lembaga internasional yang berada di Berlin (Corruption Perception Index),” urainya.

Data Corruption Perception Index menunjukkan, tahun 2014 Indonesia berada di peringkat ke-114 dari 174 negara yang disurvey. Sementara, tahun 2015 Indonesia menempati urutan ke-107 bersama dengan Argentina dan Djibouti. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Ubudiyah, Kajian, Pesantren Siti Efi Farhati

Senin, 05 Februari 2018

Gandeng Australia, LPBINU Tingkatkan Kapasitas Tanggap Bencana

Jakarta, Siti Efi Farhati. Pengurus Pusat Lembaga Penanunggalan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) peluncuran program “Peningkatan Kapasitas dalam Kesiapsiagaan Bencana untuk Respon yang Cepat dan Efektif” di Gedung PBNU Lantai 5 Jakarta Pusat, Selasa (14/6) sore.

Ketua LPBINU M Ali Yusuf memaparkan, berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), selama tahun 2015 menunjukkan dari jumlah kejadian, jumlah korban dan kerugian yang disebabkan longsor merupakan yang pertama, disusul banjir, dan puting beliung.?

BNPB juga menyebut ada lebih dari 1.500 bencana terjadi di Indonesia dan menyebabkan lebih dari 240 korban jiwa serta lebih dari 837 ribu orang mengungsi, serta kerugian material yang sangat besar.

Gandeng Australia, LPBINU Tingkatkan Kapasitas Tanggap Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
Gandeng Australia, LPBINU Tingkatkan Kapasitas Tanggap Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)

Gandeng Australia, LPBINU Tingkatkan Kapasitas Tanggap Bencana

Pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya termasuk masyarakat telah melakukan berbagai hal. Namun, penanggulangan bencana khususnya tanggap darurat bencana dirasakan belum maksimal. Banyaknya kejadian bencana yang terjadi belum dapat ditangani secara cepat, kurang efektif dan masih berdampak besar. Hal tersebut disebabkan di antaranya oleh minimnya kompetensi pemangku kepentingan. Tidak adanya sistem tanggap darurat bencana yang efektif yang dapat digunakan dalam aktivitas respon darurat, kurangnya koordinasi antara pemangku kepentingan, dan kurangnya korelasi antara kegiatan kesiapsiagaan dengan implementasi pada saat tanggap darurat.

Oleh karena itu, sambung Ali, Nahdlatul Ulama melalui LPBINU bekerjasama dengan Pemerintah Australia melalui Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) akan melaksanakan program “Mendukung Pemerintah dan Masyarakat Lokal untuk Meningkatkan Kapasitas dalam Kesiapsiagaan Bencana untuk Respon Bencana yang Cepat dan Efektif (SLOGAN-STEADY)”.

Tujuan umum dari program ini adalah untuk mengelola risiko dan dampak bencana melalui penguatan kapasitas kesiapsiagaan dan respon bencana. Upaya kesiapsiagaan bencana dibutuhkan untuk memastikan sistem dan prosedur dapat diimplementasikan. Kemudian sumber daya siap dimobilisasi secepat mungkin demi efektifitas kegiatan pemberian bantuan sehingga mempermudah tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi agar risiko dan dampak bencana dapat diminimalkan.

Siti Efi Farhati

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ani Isgiyati dari BNPB, Natalie Cohen ? dari Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT) Australia, Bina Suhendra ? dan Sultonul Huda dari PBNU. (Kendi Setiawan/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Pemurnian Aqidah, Pesantren Siti Efi Farhati

Rabu, 31 Januari 2018

Kiai Aliyuddin Baiat Banser dan Beri Hizib Nashar

Sumedang,Siti Efi Farhati. Wakil Rais Pengurus Wilayah Provinsi Jawa Barat KH Muhammad Aliyuddin mengatakan bahwa dengan membela dan membesarkan Nahdlatul Ulama (NU) sama dengan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kiai Aliyuddin Baiat Banser dan Beri Hizib Nashar (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Aliyuddin Baiat Banser dan Beri Hizib Nashar (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Aliyuddin Baiat Banser dan Beri Hizib Nashar

Hal tersebut disampaikan sebelum pembaitan peserta Pendidikan Latihan Dasar (Diklatsar) Banser NU Kabupaten Sumedang di Dusun Palasah, Desa Ciawitali, Kecamatan Buahdua Kabupaten Sumedang. Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari dari Sabtu-Ahad (17-28/9).

KH Muhammad Aliyuddin juga menuturkan bahwa bagi warga nahdliyin, mengurus NU itu wajib. Jangan hanya bangga menjadi warga nahdliyin yang kultural saja. Namun harus bangga dengan terlibat dalam struktur kepengurusan NU. Banon dan lembaga NU itu banyak, warga NU bisa memilih masuk kepengurusan.

Siti Efi Farhati

Zaman sekarang perkembangan berbagai paham dan golongan yang tidak sesuai dengan Aswaja ala NU subur sekali. Malahan paham NU saat ini banyak diserang oleh golongan tersebut. Meraka suka mengadu domba antarsesama warga NU, malahan tidak sedikit yang membuat fitnah terhadap NU.

“Ini sebuah tantangan bagi warga Nahdliyin. Ayo kita urus organisasi NU ini dengan benar. Jangan hanya jadi warga nahdliyin yang pasif. Tapi jadilah warga NU yang aktif,” ajak KH. Muhammad Aliyuddin.

Siti Efi Farhati

Pada kesempatan itu, ia memberikan ijazah Hizib Nashar kepada seluruh peserta dan panitia. “Banser itu harus kuat lahir dan batinnya. Yang dibela oleh Banser itu tidak hanya NU, tapi juga NKRI. Semoga Hizib Nashar ini dapat bermanfaat untuk perjuangan Banser,” katanya.

Sementara Kepala Satuan Komando Cabang Banser Kabupaten Sumedang Dadan Khoerudin mengajak kepada seluruh anggota Banser untuk lebih solid lagi. Banser NU Sumedang harus satu komando dan bersatu, jangan mudah dipecah belah. Is juga berjanji akan terus menjaga dan merawat anggota Banser. Ini semua demi NU dan NKRI. (Ayi Abdul Kohar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Hikmah, Pesantren, AlaNu Siti Efi Farhati

Kamis, 11 Januari 2018

Muslimat NU Berikan Pemahaman Islam kepada Daiyah di Kawasan Transmigrasi

Makassar, Siti Efi Farhati - Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI dan Pimpinan Pusat Muslimat NU menyelenggarakan Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Mental bagi Daiyah Pemukiman Transmigrasi Bina Lingkup Disnakertrans Provinsi Sulawesi Selatan di Hotel Kenari Makassar, Rabu-Sabtu (17-20/2).

Panitia Penyelenggara dari PP Muslimat NU Hj Nurhayati Said Aqil Siroj menuturkan, peserta terdiri 30 muslimah yang berasal dari daerah transmigrasi dan daerah tertinggal di Sulawesi Selatan yakni Luwu Timur daerah Mahalona, Luwu Utara daerah Lantangtallang, Waja daerah Pekkai, Soppeng daerah Watu, Toraja Utara daerah Rantekaroa, Tana Toraja daerah Supi masing-masing mengutus 5 peserta.

Muslimat NU Berikan Pemahaman Islam kepada Daiyah di Kawasan Transmigrasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Berikan Pemahaman Islam kepada Daiyah di Kawasan Transmigrasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Berikan Pemahaman Islam kepada Daiyah di Kawasan Transmigrasi

Kegiatan ini terselenggara atas kesepakatan PP Muslimat NU dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi terkait dengan pengembangan wawasan keagamaan para daiyah di daerah tertinggal dan pemukiman transmigrasi, tambahnya.

Siti Efi Farhati

Hj Nurhayati mengatakan, seluruh peserta akan mendapatkan beberapa materi yakni Aqidah Aswaja, Sirah Nabawiyah, Islam dan Wawasan Kebangsaan, Hakikat, Kedudukan, dan Fungsi Manusia, Fiqih Ibadah, Tajhiz Janaiz, Fiqih Perempuan, Praktik Memandikan Jenazah, Akhlak Daiyah, Fiqih Iktilaf, Prinsip Dakwah Rahmatan Lil alamin, Kebijakan Dinakertrans Sulsel dalam Pembinaan Dai di Pemukiman Transmigrasi dan Kepemimpinan.

"Tentunya materi-materi ini bertujuan memberikan pemahaman komprehensif bagi daiyah, khususnya warga pemukiman transmigrasi terkait wacana keislaman Ahlusunnah Wal Jamaah dan nilai-nilai kebangsaan," tambahnya.

Dirjen Pengembangan Kawasan Daerah Transmigrasi Roosari Tyas Wardani mengungkapkan bahwa dalam UU No 29 tahun 2009 tentang Perubahan atas UU No 15 tahun 1997 tentang Ketransmigrasiaan, telah diamanatkan bahwa penyelenggaraan transmigrasi bertujuan (1) meningkatkan kesejahteraan transmigran dan masyarakat sekitarnya; peningkatan dan pemerataan pembangunan daerah, serta memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.

Siti Efi Farhati

Tiga tujuan ini secara eksplisit menunjukkan bahwa transmigrasi diselenggarakan sebagai upaya mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera dalam bingkai NKRI, dalam konteks pemahaman seperti itulah maka upaya peningkatan kapasitas dan kapabilitas pembina pemukiman transmigrasi dan kader daiyah menjadi hal penting, kata Roosari Tyas.

Adapun pemateri ini adalah Ketua PP Muslimat Dr Sri Mulyati, Ketua PP Muslimat NU Dra Hj Nurhayati Said Aqil Siroj, Dra Hj Haniq Rafiqoh, Drs Haryono, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sulsel Simon S Lopang, dan Ketua PW Muslimat NU Sulsel Dr Hj Nurul Fuadi. (Andy Muhammad Idris/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kiai, Pesantren, Cerita Siti Efi Farhati

Rabu, 10 Januari 2018

Empat Pilar Kekuatan NU yang Harus Dikombinasikan, Apa Itu?

Jakarta, Siti Efi Farhati. Pola relasi organisasi Nahdlatul Ulama (NU) tidak bisa sebatas mengandalkan modernisasi struktur. Memasuki abad ke-2, NU sebagai organisasi harus mampu mengkombinasi empat pilar kekuatan yang dimilikinya, nasab, sanad, struktur, dan kultur.?

Empat Pilar Kekuatan NU yang Harus Dikombinasikan, Apa Itu? (Sumber Gambar : Nu Online)
Empat Pilar Kekuatan NU yang Harus Dikombinasikan, Apa Itu? (Sumber Gambar : Nu Online)

Empat Pilar Kekuatan NU yang Harus Dikombinasikan, Apa Itu?

Empat elemen ini, merupakan penataan pola relasi yang baik organisasi NU menghadapi perkembangan zaman yang semakin dinamis dan terbuka. Sebaliknya, justru yang terjadi hari ini adalah rasa memiliki yang semakin kuat, tanpa diiringi rasa tanggungjawab.?

“Banyak pihak lebih mudah mengatasnamakan NU sebagai jalan pintas mendapat keuntungan, tanpa memikirkan dampaknya buat organisasi, termasuk warga NU,” kata Hery Haryanto Azumi, Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Wasekjen PBNU), Ahad (23/10/2016).

Ia menegaskan, hubungan nasab dan sanad, harus teraplikasi dalam bentuk tanggungjawab struktural dan kultural. Hal ini dilakukan agar setiap program kerja yang digagas bisa terukur. Terutama mengukur setiap risiko dari program kerja.?

Siti Efi Farhati

“Implikasinya terhadap masa depan organisasi NU itu juga harus dipetakan,” tegas mantan Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) ini.?

Kemudian dimana pentingnya Sanad? Ditanya demikian, Hery-demikian ia akrab disapa menambahkan, adalah menanamkan posisi pengetahuan sebagai pondasi dalam perjalanan peradaban manusia. Harapannya, ada gambaran tentang peta pengetahuan secara sektoran dan sebarannya.?

Berarti, lanjut dia, menjadi penting kekuatan sumber daya di tubuh organisasi NU. Sumber daya sosial menjadi basis legitimasi bagi keberadaan NU itu sendiri, baik itu kemarin, hari ini dan masa mendatang. “Ini perlu dukungan kemampuan sumber daya manusia pada struktur organisasi NU, sebagai pelaksana mandat sosial,” ujarnya lagi.?

Modernisasi struktur yang terjadi hari ini, tidak mengikutsertakan nasab dan sanad. Kondisi ini berbahaya dan justru bisa memicu konflik kekuatan struktural dengan kultural, Hery menambahkan.?

Seharusnya, struktur NU mampu mengakomodir kepentingan atau kebutuhan warga NU, dengan melakukan social service sebagai upaya membangun komunikasi timbal balik - simbiosis mutualisme antara jam’iyyah dengan jamaah.

Siti Efi Farhati

“Semua tidak akan berjalan baik, apabila nalar kekuasaan dan mencari keuntungan lebih dominan. Sense of belonging harus seiring dengan sense of responsibility,” tegasnya.?

Untuk itu ke depan, lanjut dia, organisasi NU harus mengintegrasikan empat kekuatan tadi, nasab, sanad, struktur dan kultur, yang fungsinya saling menguatkan. “Cara yang bisa menyatukan kekuatan itu melalui permusyawaratan ulama. Permusyawaratan ulama ini menjadi pengikat,” tandasnya. (Aras/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pesantren, Cerita, AlaNu Siti Efi Farhati

Selasa, 09 Januari 2018

Maulid Nabi, Santri Tremas Khatamkan Pembacaan Maulid Al-Barzanji

Pacitan, Siti Efi Farhati - Umat Islam di seluruh dunia memperingati hari kelahiran baginda Nabi Muhammad SAW pada tanggal 12 Robiul Awal dengan berbagai kegiatan. Ribuan santri Pesantren Tremas Pacitan yang menggelar puncak peringatan maulid nabi dengan mengkhatamkan pembacaan Maulid al-Barzanji, Ahad (11/12) malam. Acara ini merupakan penutup kegiatan pembacaan Maulid al-Barzanji (dziba’an) yang sudah dilakukan sejak malam 1 Robiul Awal lalu.

Ribuan santri memenuhi halaman Masjid Pesantren Tremas. Para kiai, pengasuh, ustadz duduk melingkar di tengah-tengah para santri. Mereka secara bergantian membaca sejarah perjalanan hidup Nabi yang terangkum dalam kitab Maulid al-Barzanji karangan Syekh Ja’far bin Husin bin Abdul Karim bin Muhammad al-Barzanji itu hingga khatam.

Maulid Nabi, Santri Tremas Khatamkan Pembacaan Maulid Al-Barzanji (Sumber Gambar : Nu Online)
Maulid Nabi, Santri Tremas Khatamkan Pembacaan Maulid Al-Barzanji (Sumber Gambar : Nu Online)

Maulid Nabi, Santri Tremas Khatamkan Pembacaan Maulid Al-Barzanji

Pengasuh Pesantren Tremas, KH Luqman Harits Dimyathi dalam tausyiahnya menuturkan riwayat tentang kapan dan siapa yang pertama kalinya melakukan perayaan Maulid Nabi. Dijelaskan bahwa yang pertama kali merayakan hari kelahiran nabi pada Senin 12 Robiul Awal adalah para malaikat.

Siti Efi Farhati

“Pada malam itu, para malaikat yang dipimpin oleh malaikat Jibril dan seluruh mahluk yang ada (baik yang ghaib maupun tidak ghaib) memenuhi Makkah. Mereka melakukan ihtifal, berhaflah, resepsi, menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang mulia itu,” jelas kiai yang merupakan Katib Syuriyah PBNU itu.

Para malaikat yang hadir itu, imbuhnya, turut merasakan kebahagiaan atas kelahiran nabi yang kelak akan menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta. Oleh sebab itu, sebagai umat dari Nabi Muhammad SAW, sangat dianjurkan sekali untuk memeriahkan hari kelahiranya.

Siti Efi Farhati

“Hari kelahiran Rasulullah ini mari kita rayakan, mari kita haflahkan, sebab para malaikat sudah bersama-sama melakukanya,” ajaknya.

Koordinator Nasional Gerakan Ayo Mondok itu mengajak kepada para santri untuk pandai bersyukur sebab telah diciptakan menjadi umat Baginda Nabi Muhammad SAW. Menjadi umat Nabi merupakan sebuah anugrah dan kebanggan, sebab Nabi Muhammad SAW merupakan makhluk yang paling istimewa di muka bumi ini. Salah satu wujud mensyukuri nikmat itu, imbuhnya, yaitu dengan memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Peringatan maulid nabi pada 12 Rabiul Awal rutin digelar oleh keluarga besar pesantren? Tremas Pacitan sebagai ekspresi mencurahkan segala bentuk kerinduan kepada baginda nabi Muhammad SAW.

Ribuan santri dengan khusyuk melantunkan puji-pujian dan shalawat dengan harapan kelak mendapat syafaat dari baginda nabi Muhammad SAW. Acara ditutup dengan pembacaan doa oleh KH Rotal Amin dan KH Asif Hasyim. (Zaenal Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati AlaNu, Pesantren Siti Efi Farhati

Senin, 08 Januari 2018

NU Surabaya Kawal Raperda Minuman Beralkohol Sampai Tuntas

Surabaya, Siti Efi Farhati - Pengurus NU Surabaya mengapresiasi sikap DPRD dan pimpinan serta anggota pansus yang menanggapi positif aspirasi warga yang dibawa oleh aksi simpatik nahdliyin. Mereka berharap pihak DPRD Surabaya dan pemkot setempat mewujudkan kota perjuangan ini bebas dari miras melalui otoritas yang dimiliki.

"Semoga komitmen yang telah dinyatakan DPRD Surabaya di hadapan umum tadi betul-betul diwujudkan sampai disahkannya raperda pelarangan mihol di Surabaya," lanjut Ketua NU Surabaya H Ahmad Muhibbin Zuhri saat dihubungi Siti Efi Farhati melalui akun media sosialnya, Senin (25/4).

NU Surabaya Kawal Raperda Minuman Beralkohol Sampai Tuntas (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Surabaya Kawal Raperda Minuman Beralkohol Sampai Tuntas (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Surabaya Kawal Raperda Minuman Beralkohol Sampai Tuntas

Pengurus NU Surabaya berharap semua anggota DPRD memiliki sensitifitas terhadap problem moral dan sosial masyarakat. Mereka, menurut pengurus NU Surabaya, tidak boleh main-main dalam menetapkan kebijakan yang berhubungan dengan kemaslahatan warga Surabaya.

NU bersama warga surabaya akan terus mengawal raperda mihol dan perumusan kebijakan lainnya yang terkait dengan kemaslahatan warga kota.

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati

"Ini semua merupakan panggilan peran NU sebagai jam‘iyah diniyah dan ijtimaiyah yang fokus pada kemaslahatan umat Islam, bangsa, dan Negara Kesatuan RI (riayah syuunil ummah)," pungkas dosen UIN Sunan Ampel itu. (Rof Maulana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pesantren, Jadwal Kajian Siti Efi Farhati

Sabtu, 30 Desember 2017

Santri BPUN Ansor Way Kanan Belajar Kejujuran dari Polisi Hoegeng

Way Kanan, Siti Efi Farhati

Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Way Kanan Provinsi Lampung mengajak peserta Pesantren Kilat Bimbingan Belajar Pasca ujian Nasional (Sanlat BPUN) 2016 menyaksikan tayangan Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso yang menurut KH Abdurahhman Wahid (Gus Dur) merupakan polisi jujur.

"Dari Jenderal Hoegeng saya belajar mengenai konsistensi, kejujuran, dan bagaimana menjadi pejabat yang tidak terbuai rayuan dunia," ujar Santri BPUN Anisa Yuliani dari SMAN 2 Buay Bahuga, di Gunung Labuhan, Rabu (18/5).

Santri BPUN Ansor Way Kanan Belajar Kejujuran dari Polisi Hoegeng (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri BPUN Ansor Way Kanan Belajar Kejujuran dari Polisi Hoegeng (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri BPUN Ansor Way Kanan Belajar Kejujuran dari Polisi Hoegeng

Menurut Anisa seusai menyaksikan kisah Jenderal Hoegeng pada sesi motivasi di aula Pesantren Assiddiqiyah 11 Labuhan Jaya, Gunung Labuhan, Way Kanan yang diasuh Kiai Imam Murtadlo Sayuthi, Hoegeng Imam Santoso yang menjabat sebagai Kapolri pada tahun 1968-1971 adalah  sosok patut diteladani.

"Beliau adalah polisi sejati, patut dicontoh polisi lain dan seluruh masyarakat di negeri ini. Indonesia hari ini butuh ribuan Hoegeng yang konsisten dengan kejujurannya," kata Anisa lagi.

Hoegeng yang dilahirkan di Pekalongan tahun 1921 pernah menolak hadiah rumah dan berbagai isinya saat menjalankan tugas sebagai Kepala Direktorat Reskrim polda Sumatra Utara tahun 1956.

Siti Efi Farhati

Anisa menambahkan, satu figur Hoegeng berdampak besar dengan kejujuran dimilikinya. "Apalagi jika ada seribu figur sebagaimana Hoegeng dengan beragam profesi. Tentu akan sangat bisa memajukan bangsa karena banyak figur memiliki keberanian untuk tidak menyeleweng," ujarnya.

Ketua PC GP Ansor Way Kanan selaku Manajer BPUN Gatot Arifianto berharap para peserta BPUN 2016 dapat mengambil kesimpulan dan pelajaran dari tayangan Jenderal Hoegeng sehinggga dapat menjadi generasi bangsa yang akan mampu bersikap dan bertindak seperti Hoegeng dimasa mendatang. (Septiana Nurul Fajriah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Pesantren, Hadits Siti Efi Farhati

Minggu, 24 Desember 2017

Peran Nyata Santri dan Pesantren Layak Jadi Perhatian Pemerintah

Jepara, Siti Efi Farhati. Ketua RMI NU Jepara, KH Zainul Arifin mengatakan, momentum hari santri nasional yang diperingati 22 Oktober jangan hanya dijadikan euforia belaka. Lebih dari itu peringatan yang kali pertama dirayakan ini harapannya, pemerintah dituntut lebih memperhatikan santri dan pesantren karena peran nyata mereka untuk bangsa dan negara selama ini.

Peran Nyata Santri dan Pesantren Layak Jadi Perhatian Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
Peran Nyata Santri dan Pesantren Layak Jadi Perhatian Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

Peran Nyata Santri dan Pesantren Layak Jadi Perhatian Pemerintah

“Pemerintah harus meningkatkan infrastruktur, skill, manajerial tanpa menghilangkan budaya salafiyah santri,” tutur KH Zainul Arifin dalam Apel Akbar Hari Santri Nasional berlangsung di Alun-alun Jepara, Kamis (22/10) pagi.

Dalam konteks Jepara, Peraturan Daerah (Perda) Madrasah Diniyah (Madin) yang sudah diketok palu DPRD Jepara, menurut Kiai Zainul, untuk menguatkan fisik dan SDM santri. “Sehingga pesantren menjadi trendsetter pendidikan di dunia,” harapnya kepada ribuan santri, pelajar dan mahasiswa yang memadati alun-alun.

Siti Efi Farhati

Kiai Zainul mengingatkan kepada pemerintah untuk mengingat jejak perjuangan KH Hasyim Asyari itu bukan sekadar simbol keberadaan penguasa saja. “Momentum ini merupakan kaderisasi pemimpin agama dan bangsa yang rahmatan lil alamin,” lanjutnya.

Santri, imbuhnya, tidak ngurus khilafiyah saja. Pengolahan SDM, kebijakan fiskal, tata negara juga perlu dipecahkan.?

Siti Efi Farhati

Kegiatan yang diinisiasi oleh PCNU Jepara itu diikuti oleh ribuan santri, pelajar, mahasiswa se-Jepara. Apel akbar dimeriahkan penampilan rebana, paduan suara, drum band dan pencak silat Pagar Nusa. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pesantren, Sholawat Siti Efi Farhati

Senin, 18 Desember 2017

Utang Luar Negeri Tidak Boleh Kecuali Kondisi Darurat

Jombang, Siti Efi Farhati. Rapat pleno Muktamar Ke-33 NU, Rabu (5/8), di alun-alun Jombang, dengan agenda pengesahan hasil sidang-sidang komisi salah satunya menyepakati tentang keputusan hasil sidang Komisi Bahtsul Masail Diniyah Maudluiyyah tentang pandangan Islam terhadap utang luar negeri.

Forum Muktamar menegaskan, Islam mengajurkan umatnya untuk bekerja dan mengelola hidupnya secara mandiri tanpa lilitan utang. Dalam konteks negara, Pemerintah harus mandiri dalam menghidupi kehidupan rakyatnya.

Utang Luar Negeri Tidak Boleh Kecuali Kondisi Darurat (Sumber Gambar : Nu Online)
Utang Luar Negeri Tidak Boleh Kecuali Kondisi Darurat (Sumber Gambar : Nu Online)

Utang Luar Negeri Tidak Boleh Kecuali Kondisi Darurat

“Pemerintah tidak boleh mengambil utang, kecuali benar-benar dalam kondisi darurat agar tidak menghambat pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang dan menjadi beban bagi generasi mendatang,” papar Abdul Moqsith saat membacakan keputusan Komisi Bahtsul Masail Diniyah Maudlu’iyyah di hadapan ribuan muktamirin.

Siti Efi Farhati

Sesuai dengan maqamnya, katanya, utang hanya diperkenankan untuk membiayai hal-hal yang sifatnya mendesak (hajiyyat), dan diprioritaskan untuk pendanaan hal-hal yang berimplikasi pada hajat hidup rakyat, seperti pembangunan energi dan infrastruktur.

Siti Efi Farhati

Hal ini karena tugas negara pada hakikatnya adalah menegakkan keadilan dan kesejahteraan bagi semua, terutama bagi kalangan rakyat lemah, tanpa membeda-bedakan latar belakang keyakinan agama dan kesukuan mereka. Rakyat kecil dan lemah itulah yang senantiasa harus menjadi prioritas kerja negara, baik dengan uang sendiri atau uang pinjaman. Dana utang sama sekali tidak diperkenankan untuk membiayai pos-pos yang menguntungkan sebagian kecil rakyat, apalagi dengan cara-cara yang tidak halal.

Jika terpaksa dilakukan, maka Islam telah menentukan rambu-rambunya. Pihak debitur harus berkomitmen untuk membayar sesuai dengan syarat yang diperjanjikan. Sementara ? bagi kreditur, ia tidak boleh menarik keuntungan dari pinjaman tersebut. Jika sudah jatuh tempo, tapi pihak debitur benar-benar dalam kondisi tidak mampu, dianjurkan untuk memberi tenggang waktu dengan rescheduling atau membebaskannya.

Forum bahtsul masail menyayangkan kondisi bangsa Indonesia yang hingga kini lekat dengan utang luar negeri. Menurut forum, jika dibandingkan dengan data kekayaan sumber daya alam, kondisi tersebut sangat ironis dan mengkhawatirkan, walau pemerintah dengan indikator ekonomi makro masih menyatakan aman.

“Akumulasi hutang yang menumpuk membuat pertumbuhan ekonomi tidak bergerak, rawan risiko, dan menimbulkan disinsentif bagi pengelola ekonomi untuk mencapai kinerja baik akibat terlalu besarnya transfer keluar untuk memenuhi kewajiban hutang luar negeri.”

Sebagai bangsa yang mendambakan kemandirian dan bermartabat di mata dunia, kita menginginkan negara yang bebas utang. Walau tidak mudah, sudah saatnya kita merenungkan kembali kebijakan defisit anggaran yang digunakan untuk mendukung ekspansi fiskal dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi.

“Kita tidak boleh selamanya terjebak pada skema pembiayaan utang untuk membiayai pembangunan. Oleh karena itu, dibutuhkan formulasi baru agar pembiayaan pembangunan tidak lagi mengandalkan dari utang," jelas Moqsith.

Bahtsul Masail Diniyah Maudluiyah merupakan forum kajian keagamaan yang berusaha mencari jawaban atas persoalan keagamaan tentang topik-topik tertentu. Jawaban merujuk pada kutub mu’tabarah dan disajikan dalam bentuk deskripsi utuh, tak sekadar jawaban halal-haram. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kyai, News, Pesantren Siti Efi Farhati

Senin, 11 Desember 2017

Ketahuilah, NU itu Kebangkitan Pencerahan

Kairo, Siti Efi Farhati. Faizin yang merupakan seorang “pencerita” Masisir (Masyarakat Indonesia yang ada di Mesir) mengungkapkan tentang pembacaan orang Barat terkait Nahdlatul Ulama. Salah satunya pembacaan Naipul dalam bukunya Among the Believers.

Ketahuilah, NU itu Kebangkitan Pencerahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketahuilah, NU itu Kebangkitan Pencerahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketahuilah, NU itu Kebangkitan Pencerahan

Menurut pria yang akrab dipanggil Walang Gustiyala, ini pengistilahan atau permainan semiotika yang sederhana dari Naipaul dalam menerjemahkan kata nahdlah bukan diartikan sebagai resurrection atau kebangkitan dari kematian, reborn atau lahir kembali.

“Namun diartikan sebagai renaissance. Orang Arab lebih mengartikan ashlut tanwir, atau pencerahan,” katanya pada diskusi selepas nonton film Sang Kiai, di aula sekretariat PCINU Mesir, Kairo, Jumat 14 Maret.

Siti Efi Farhati

Faizin melanjutkan, ini yang dikatannya menjadi semacam tantangan yang berat bagi NU, karena kebanyakan mereka mengistilahkan NU dengan renaissance of religious scholar atau kebangkitan yang mencerahkan dari sarjana agama.

Hal ini juga bisa ditemui dalam buku Unholy War karangan John Esposito, yang menempatkan Gus Dur sebagai seorang yang membangkitkan kembali peran ulama-ulama dalam membangun kebangsaan.

Siti Efi Farhati

Namun yang menjadi titik tekan Mas Walang adalah dari semiotika sederhana yang disampaikan Naipaul, NU dengan santrinya harus mampu mengemban amanat yang begitu besar sebagai renaissance itu, sebagaimana pula yang Gus Dur harapkan. Bukan malah terjurumus dalam nilai-nilai eksklusif dan ekstrem.

Bedah film tersebut digelar oleh Lembaga Seni dan Kebudayaan Nahdlatul Ulama (LSBNU) PCINU Mesir bekerjasama dengan Tebuireng Center Kairo. (Mabda Dzikara/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pesantren, News, Ulama Siti Efi Farhati

PMII Sidoarjo Gelar Aksi Solidaritas untuk Korban Gempa di Aceh

Sidoarjo, Siti Efi Farhati - Aksi solidaritas untuk korban gempa bumi di Aceh terus mengalir dari berbagai pihak. Tak terkecuali dari PMII Sidoarjo. PMII Sidoarjo melakukan penggalangan dana di perempatan Jalan A Yani yang menyusuri sepanjang alun-alun Sidoarjo, Kamis (15/12).

Koordinator penggalangan dana Haris Aliq mengatakan, kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian sosial terhadap sesama yang sedang tertimpa musibah gempa. Dana yang dihimpun ini diharapkan mampu meringankan beban korban gempa di Aceh.

PMII Sidoarjo Gelar Aksi Solidaritas untuk Korban Gempa di Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Sidoarjo Gelar Aksi Solidaritas untuk Korban Gempa di Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Sidoarjo Gelar Aksi Solidaritas untuk Korban Gempa di Aceh

"Kegiatan ini merupakan bentuk penumbuhan rasa sosial dan ukhuwah kebangsaan dari organisasi PMII se-Sidoarjo, menumbuhkan rasa solidaritas kami dan menjadi bukti dari rasa ukhuwah kami terhadap bencana yang melanda saudara kita di Aceh," kata Haris.

Siti Efi Farhati

Sementara itu Ketua PMII Sidoarjo Muhammad Mahmuda mengatakan, kegiatan penggalangan dana itu merupakan implementasi dalam menjalankan Nilai Dasar Pergerakan (NDP PMII) hablum minan nash, antara sesama umat manusia.

Siti Efi Farhati

"Kami juga mengajak Instansi Pemeritahan Sidoarjo untuk ikut serta menyalurkan bantuannya. Kegiatan ini akan berlangsung empat hari mulai Kamis hingga Ahad (18/12) mendatang. Mudah-mudahan kegiatan ini bisa membantu saudara-saudara kita yang ada di Aceh," ucap Mahmuda. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Meme Islam, Pesantren Siti Efi Farhati

Selasa, 05 Desember 2017

IPNU-IPPNU Brebes Diterjunkan Jadi Relawan Mopdik

Brebes, Siti Efi Farhati. Sebanyak 85 relawan pelajar NU yang tergabung Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Brebes diterjunkan dalam masa orientasi peserta didik (Mopdik) tahun pelajaran 2014/2015. Mereka ditempatkan di berbagai sekolah dibawah naungan Maarif NU se Kab Brebes.

IPNU-IPPNU Brebes Diterjunkan Jadi Relawan Mopdik (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Brebes Diterjunkan Jadi Relawan Mopdik (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Brebes Diterjunkan Jadi Relawan Mopdik

“Mereka kami ditempatkan di 85 SMP/MTS, SMA/SMK/MA di bawah naungan LP Maarif NU,” kata Ketua Pimpinan Cabang IPNU Brebes Zaky Al Aman di sela pelatihan di MTs Asy Syafiiyah Jatibarang Brebes, Ahad (8/6/14).

Menurut zaky, pengakraban dengan pelajar di lingkungan sekolah akan menambah kecintaan para siswa baru. Moment Mopdik akan lebih mengenal dunia IPNU-IPPNU. Dengan makin kenal wadah pelajar, maka akan menambah kecintaan pada NU sebagai organisasi induknya.

Siti Efi Farhati

Anggota IPNU-IPPNU, lanjutnya, tidak hanya berasal dari santri di pondok pesantren saja. Tetapi dari sekolah umum juga banyak yang turut serta, sehingga perlu diadakan orientasi berisi tentang ke-ipnu-ippnu-an. Sebelum mengabdikan diri ke sekolah yang ditunjuk, para relawan tersebut mendapatkan pelatihan berupa training of trainer (tot).

TOT dibuka Ketua MWC NU Jatibarang Drs H Muhyidin. Dalam kata sambutannya, Kiai Muhyidin memuji kiprah pelajar NU dalam meneguhkan anggotanya untuk mensosialisasikan NU hingga ke  sekolah-sekolah.

Siti Efi Farhati

Langkah tersebut, kata dia, merupakan langkah terbaik menuju ke hal yang lebih baik. Sebab seseorang mengikuti organisasi yang baik, maka yang mengajak akan mendapatkan keuntungan atau barokah dunia akhirat.

“Ketahuilah bahwa pendiri NU KH Syekh Hasyim Asy Ari juga pernah berpesan bahwa orang yang mengikuti organisasi NU, maka dia akan menjadi santri syekh dan anak cucunya akan di doakan bahagia di dunia dan di akhiratnya. Juga akan berkah dalam segala urusan dunia dan akhiratnya” kata Kiai Muhyidin.

Ketua PC IPPNU Chaerunisa menambahkan, TOT bertujuan untuk mengasah dan memberi pemahaman lebih, tentang IPNU-IPPNU dan cara penyampaian ke peserta didik. Dan juga melatih para pelatih untuk menyampaikan materi dengan etika dan cara penyampaian yang benar dan baik. (wasdiun/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pesantren, Pertandingan Siti Efi Farhati

Selasa, 21 November 2017

Inilah Ciri Khas Pendidikan Pesantren

Pati, Siti Efi Farhati - Rais Syuriyah NU Kabupaten Pati KH M Aniq Muhammadun memaparkan sejumlah karakter khusus pendidikan pesantren. Pesantren, menurutnya, lembaga pendidikan yang unik. Selain menyampaikan ilmu pengetahuan, pesantren juga mendidik perilaku santri.

Demikian disampaikan Kiai Aniq dalam bedah buku Peran Pesantren Dalam Kemerdekaan dan Membela NKRI karya Ketua Program Studi Zakat dan Wakaf IPMAFA Dr Jamal Mamur Asmani di Pesantren Darun Najah Ngemplak Kidul, Margoyoso, Pati, Jumat (15/4).

Inilah Ciri Khas Pendidikan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Ciri Khas Pendidikan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Ciri Khas Pendidikan Pesantren

Menurut Kiai Aniq, pesantren berbeda dengan pendidikan lain. Pesantren mendidik para santri, tidak hanya lewat teori dan ucapan, tapi dibuktikan dalam tindakan. Sehari-hari para santri hidup bersama kiai melihat dan merekam perilaku kiai sebagai teladan. Apa yang diajarkan kiai diamalkan kiai sehingga sinar ilmunya menembus hati dan jiwa santri.

“Transformasi keilmuan di pesantren diikuti dengan transformasi moral dan semangat juang,” kata Kiai Aniq.

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati

Dalam konteks perempuan misalnya, menurut Kiai Aniq, pesantren memunyai aturan yang jelas sehingga perempuan dijaga kehormatannya seperti menutup aurat dan adanya pelindung saat bepergian, apakah mahram atau sekelompok wanita yang tepercaya.

Jika ini dilakukan, kecil kemungkinan santri terjebak dalam trafficking yang sedang ramai sekarang ini. Santri-santri putri tetap aman dan terhindar dari kemaksiatan, kata Kiai Aniq.

Pengasuh Pesantren Darun Najah KH Muslich Abdurrahman berharap bedah buku ini bermanfaat untuk para santri sehingga mereka termotivasi untuk belajar dan berlatih menulis untuk meneruskan tradisi ulama-ulama zaman dulu.

Sementara Dr Jamal Mamur mengemukakan, pesantren mampu mengemban tugasnya, baik di bidang agama dengan membangun karakter, pendidikan dengan mengajari berbagai ilmu keagamaan dan kemasyarakatan, sosial-ekonomi dengan memberdayakan masyarakat, budaya dengan melakukan islamisasi budaya sehingga terjadi integrasi agama dan budaya, dan politik kebangsaan dengan peran-peran kebangsaan pra dan pascakemerdekaan.

Kemampuan pesantren mengemban tugas besar ini tidak lepas dari kemampuan para kiai memahami agama secara mendalam dan memahami psikologi-antropologi masyarakat sehingga strategi dakwahnya disesuaikan dengan kultur masyarakat.

Peran pesantren ini harus terus digalakkan ke depan. Semangat intelektualitas santri harus didinamisasi supaya lahir pemikir-aktivis santri dengan kapasitas dan mobilitas tinggi seperti para kiai NU.

Selain itu, visi sosial dan politik kebangsaan santri juga harus diasah dengan pemberdayaan ekonomi kerakyatan, peningkatan kualitas pendidikan, dan perlindungan kepada orang-orang yang membutuhkan, khususnya kaum miskin-papa. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pesantren, Sholawat, Aswaja Siti Efi Farhati

Rabu, 01 November 2017

IPNU-IPPNU Rogojampi Antusias Bagi Takjil

Banyuwangi, Siti Efi Farhati. Banyak sekali berbagai amalan yang dapat dilakukan saat ibadah puasa. Mulai dari membaca Al-Qur’an, mengaji, berbakti kepada orang tua, atau bahkan membagi-bagikan takjil di pinggir jalan. Seperti agenda kegiatan puasa di hari ketiga yang dilakukan oleh PAC IPNU-IPPNU Rogojampi bersama MWC NU Kecamatan Rogojampi di kawasan Jalan Pangeran Diponegoro, No.211, depan kantor Kecamatan Banyuwangi. (29/05) menjelang waktu buka puasa.

IPNU-IPPNU Rogojampi Antusias Bagi Takjil (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Rogojampi Antusias Bagi Takjil (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Rogojampi Antusias Bagi Takjil

Gelaran bakti sosial ini selain dihadiri pengurus IPNU IPPNU dan MWC NU Kecamatan Rogojampi, nampak hadir pula banom-banom NU.

Ketua PAC IPNU Rogojampi Khoerul Insani mengatakan, gelaran kegiatan ini penting dilakukan guna memunculkan kepekaan sosial dalam masyarakat.

"Puluhan kader-kader saya libatkan di rentetan aksi bakti sosial ini sebagai upaya pengaktifan nilai-nilai sosial di dalam diri mereka. Meski mereka masih kader-kader baru, antusias mereka dengan kegiatan ini sangat luar biasa," jelas Insani.

Siti Efi Farhati

Insani menilai kegiatan ini sangat luar bisa menginspirasi sekali bagi teman-teman yang belum tergabung dengan organisasi NU. "Selain bakti sosial ini adalah dakwah, sekaligus memberikan tauladan bahwa masih banyak di negeri ini pemuda-pemuda NU yang memberikan inspirasi perubahan bagi negerinya," tutup Insani.

Sementara itu, Sekretaris MWC NU Kecamatan Rogojampi Heri Dwi Setiawan menyampaikan, ini adalah kegiatan bakti sosial yang mengandung arti memberikan nilai-nilai pendidikan kader di organisasi Nahdlatul Ulama untuk para generasinya.

Siti Efi Farhati

"Saya harap nantinya mereka ketika benar-benar terjun di sosial masyarakat mereka mampu mewarnai kehidupan masyarakat ditengah-tengah ketimpangan sosial," harap Heri.

Acara tersebut juga menampilkan aksi live music yang diisi oleh NSC. Grop music yang mewadahi minat dan bakat kader PAC IPNU Rogojampi. (M. Sholeh Kurniawan/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pesantren, AlaSantri Siti Efi Farhati

Senin, 09 Oktober 2017

Geliat Islam Periode Wali Songo

Jakarta, Siti Efi Farhati

Peran Wali Songo di Indonesia (baca: Nusantara) dalam mendakwahkan Islam menjadi objek riset yang menarik. Jika dilacak, Sunan Ampel sekeluarga datang ke Nusantara pada 1440-an atau tujuh tahun setelah akhir kedatangan Laksamana Muhammad Cheng Ho pada 1433. Praktis, diasumsikan Sunan Ampel sejak awal sudah berdakwah.

“Tapi belum terlalu kuat dan luas dakwahnya. Saya menghitung kira-kira dakwah Islam terorganisasi yang disebut Wali Songo terbentuk sekitar tahun 1470-an, yaitu 30 tahun setelah kedatangan Sunan Ampel di Jawa. Saat itu putra-putranya, antara lain, Sunan Bonang dan para santrinya dewasa,” tutur KH Agus Sunyoto di hadapan para dosen Pascasarjana STAINU Jakarta, Selasa.

Geliat Islam Periode Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)
Geliat Islam Periode Wali Songo (Sumber Gambar : Nu Online)

Geliat Islam Periode Wali Songo

Sejarawan NU ini didaulat mempresentasikan risetnya pada rapat kurikulum Islam Nusantara yang menghadirkan para dosen dan pemangku kebijakan Pascasarjana STAINU Jakarta. Rapat yang juga dihadiri Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj tersebut digelar di ruang media center lantai 5 gedung PBNU.

“Kalau kita mulai tahun 1470 dimulai dakwah sistematis Wali Songo, maka kita akan melihat hasil dari dakwah itu. Tahun 1513, atau 40-50 tahun setelah dakwah Wali Songo, seorang berkebangsaan Portugis datang ke Jawa. Dia mencatat seluruh Pantai Utara Jawa dikuasai para adipati beragama Islam. Bahkan, di Demak saat itu merupakan pusat Islam,” ungkap Agus Sunyoto.

Rupanya, lanjut Agus, tahun 1513 Raden Patah sudah meninggal. Karena para peneliti itu menyebut di situ rajanya Raja Patiunus, anaknya Raden Patah. Lalu, pada 1522 seorang berkebangsaan Italia, Antonio Gutapeta, datang juga ke Jawa. Dia mencatat bahwa seluruh Jawa muslim.

Siti Efi Farhati

“Artinya, kalau kita melihat, dakwah Wali Songo dari tahun 1470 sampai 1513 (40 tahunan), bagaimana bisa mengislamkan seluruh tahah Jawa. Itu yang sampai sekarang jadi misteri bagi para sejarawan, termasuk satu peneliti yang menyatakan bahwa dakwah Islam di Jawa itu paling tidak jelas. Kenapa? Karena nggak masuk akal,” ujar Agus Sunyoto disambut senyum simpul para dosen.

Dalam tempo begitu singkat, tambah Agus, Wali Songo mampu mengubah masyarakat dari tidak Islam menjadi pemeluk Islam. Gerakan dakwah apakah yang dilakukan. “Kita kesampingkan aja bagaimana pola dan sistem dakwahnya. Yang jelas, kita menemukan satu fakta bahwa gerakan para wali dalam proses islamisasi ternyata melahirkan satu produk pengetahuan baru. Ini merupakan kelanjutan dari Majapahit,” tuturnya.

Wakil Ketua Lesbumi ini menilai, sebelum dakwah para wali secara terorganisasi Islam tidak bisa dianut masyarakat pribumi karena sejak awal orang-orang di Nusantara tergolong masyarakat yang sudah tinggi ilmu pengetahuan dan teknologinya.

“Kita ambil contoh aja, abad pertama masehi, orang Nusantara sudah mengenal kalender. Kalender Jawa itu sekarang usianya 1948 M. Sementara, kalender hijriyah baru 1436 H. Ada selisih 500 tahun. Memang, teknologinya sudah maju,” cetusnya.

Ketika terjadi islamisasi, lanjut Agus, justru pada saat pengetahuan yang dikembangkan kerajaan besar seperti Sriwijaya dan Majapahit jatuh akibat perang berkepanjangan.

Siti Efi Farhati

“Di situlah generasi Islam era Wali Songo membangun peradaban termasuk ilmu-ilmu pengetahuan baru,” tegasnya.

Manunggaling Kawulo-Gusti. Lebih lanjut Agus Sunyoto memberi contoh misalnya dalam Sosiologi. Masyarakat Majapahit saat itu hanya mengenal dua jenis komunitas yang ada di wilayah. Pertama, golongan Gusti, yaitu masyarakat yang tinggal di keraton. Mayoritas beragama Hindu. Sementara di Sriwijaya beragama Budha.

Kedua, masyarakat di luar keraton yang disebut kawulo, artinya budak. Mayoritas dari mereka beragama Kapitayan, bukan Hindu bukan pula Budha. Kapitayan itu agama Nusantara yang oleh orang Belanda disebut sebagai agama Animisme-Dinamisme.

“Jadi, mereka tidak mengenal dewa-dewi. Sebaliknya, mereka hanya mengenal persembahan ke punden-punden dan pemujaan kepada leluhur. Mereka menjadikan cungkup sebagai tempat ziarah. Ini bedanya dengan Hindu dan Budha. Nah, ziarah itu akar asli Nusantara,” papar Agus.

Pada era Wali Songo, kata Agus, muncul fenomena baru terutama ajaran Syekh Siti Jenar, yakni Manunggaling Kawulo-Gusti. Antara golongan gusti dan kawulo sebenarnya satu. Melalui dukuh-dukuh yang masuk kawasan Lemah Abang dibentuk sebuah komunitas baru bukan lagi bernama kawulo, tapi masyarakat.

“Istilah ini diambil dari kata musyarakah yang berarti orang sederajat yang bekerja sama. Konsep ini ndak ada di Timur Tengah. Ini ndak ada kesukuan, tapi orang kerja sama. Nggak peduli suku apapun, agama apapun, yang penting dia bukan kawulo. Nah, di komunitas ini lalu diperkenalkan istilah baru seperti ‘hak’ dan ‘milik’. Pelan-pelan, bahasa Arab itu pun masuk,” urainya.

Padahal, lanjutnya, kawulo atau budak itu tidak memiliki hak dan milik. Rumah, anak dan istri milik kaum gusti. “Jadi, kalau ada gusti berburu lewat kampung lalu ada wanita cantik, diambil aja. Nggak peduli itu anak atau istri orang. Tapi kalau di Lemah Abang mereka pasti melawan,” ungkapnya. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Khutbah, Pesantren, Habib Siti Efi Farhati

Kamis, 05 Oktober 2017

STISNU Nusantara Peringati Haul Gus Dur bersama Bu Shinta

Tangerang, Siti Efi Farhati

Haul ke-7 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) diperingati oleh banyak elemen di berbagai daerah, tak terkecuali Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang, Banten.

Sabtu (14/1), STISNU Nusantara menggelar acara tahunan ini di kampus setempat, Tangerang, dengan menghadirkan istri almarhum Gus Dur, Nyai Sinta Nuriyah Rahman Wahid.

STISNU Nusantara Peringati Haul Gus Dur bersama Bu Shinta (Sumber Gambar : Nu Online)
STISNU Nusantara Peringati Haul Gus Dur bersama Bu Shinta (Sumber Gambar : Nu Online)

STISNU Nusantara Peringati Haul Gus Dur bersama Bu Shinta

H. Muhamad Qustulani, ketua panitia yang juga wakil ketua bidang akademik di STISNU Nusantara Tangerang, menjeleaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan inisiatif Gusdurian Kota Tangerang bersama para mahasiswa STISNU Nusantara yang kangen terhadap Gus Dur.

Siti Efi Farhati

"Iyah, jadi tema haulan Gus Dur di Tangerang (adalah) “Kangen Gus Dur”, kangen sosoknya yang mukhlis beragama, ajarannya yang penuh dengan cinta dan kasih sayang, pemikiran dan keilmuan yang tabahhur, luas dan penuh kemanfaatan, celotehannya penuh canda dan makna, sehingga kita semua kangen Gus Dur," ujarnya.

"Sebab itu, di tengah kondisi negeri yang sedang sakit, penuh fitnah, dan saling menghujat, apalagi di dunia maya (media sosial), maka pemikiran Gus Dur untuk Indonesia pantas kita gunakan dan aplikasikan, dengan mengedepankan persatuan dan penuh kasih sayang,” tambahnya.

Siti Efi Farhati

Bu Sinta, sapaan akrab Nyai Sinta Nuriyah, mengaku tiap kali menghadiri haul Gus Dur ia merasa sedih dan haru. Sedih karena kangen dengan sosoknya, haru karena banyak orang masih cinta Gus Dur, termasuk orang-orang yang dahulu menghina dan mencaci Gus Dur.

Ia juga mengaku perihatin atas kondisi bangsa saat ini yang mudah disulut isu serta informasi yang dapat merusak persatuan dan kesatuan. Rakyat saeakan sulit melakukan tabayun dan mencari informasi berimbang.

“Maka yang bisa dilakukan yaitu dengan cara kembali mengulang memori tentang ajaran-ajaran Gus Dur yang penuh kasih dan sayang, menunjukan Islam ramah bukan yang marah. NKRI harga mati," tegasnya.

KH Edi Junaedi Nawawi, Mustasyar PCNU Kota Tangerang dalam tausiyahnya menjelaskan tentang makna dari tahlilan, "la ilaha illallah", bahwa tidak ada Tuhan yang akan mengampuni kesalahan almagfurllah KH Abdurrahman Wahid bin KH Abdul Wahid Hasyim kecuali Allah. Sebab itu, insya Allah almarhum almagfurlah dalam kebahagiaan dan kesenangan di sisi Allah, dan ajaran-ajaranya pun dapat dirasakan untuk kita (rakyat), agama, bangsa, dan negara.

Acara ditutup? ? dengan doa oleh KH Edi Junaedi Nawawi. Hadir pada acara tersebut KH A. Syubakir Toyib (Pembina Gusdurian setempat), KH Aliyuddin Zen Pandawa (Murabbi Ruh STISNU Nusantara), KH Arif Hidayat (Katib Syuriah PCNU Kota Tangerang), KH A. Bunyamin (Ketua PCNU Kota Tangerang), KH Dedi Miftahudin (Ketua ISNU Kota Tangerang), Rudi (perwakilan Boen Tek Bio), Nur Asyik (Ketua Gusdurian Kota Tangerang), Khoirul Huda (Ketua GP Ansor Kabupaten Tangerang), dan para ulama lainnya bersama warga Nahdliyin serta mahasiswa STISNU Nusantara. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Ubudiyah, Nahdlatul, Pesantren Siti Efi Farhati

Jumat, 29 September 2017

Presiden Hadiri Peringatan Harlah ke-80 Ansor

Surabaya, Siti Efi Farhati. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Ibu Ani Yudhoyono menghadiri hari lahir ke-80 Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) di Surabaya, Sabtu malam.

Presiden Hadiri Peringatan Harlah ke-80 Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Hadiri Peringatan Harlah ke-80 Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Hadiri Peringatan Harlah ke-80 Ansor

Selain para ulama NU dan pengurus PBNU, sejumlah anggota Kabinet Indonesia Bersatu II juga turut hadir. Diantaranya Menteri Pemuda dan Olahraga Roy Suryo dan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro. Begitu pula Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko dan Kapolri Jenderal Polisi Sutarman. Tampak pula hadir Direktur Utama BNI Gatot Suwondo.

Presiden yang tiba sekitar pukul 19.30 WIB di tempat acara, disambut ribuan anggota GP Ansor dari berbagai daerah di Indonesia. Ribuan para pemuda GP Ansor tersebut telah berada di tempat acara sejak sore.?

Siti Efi Farhati

Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor Nusron Wahid dalam sambutannya menyambut hangat kedatangan Presiden Yudhoyono dalam peringatan hari lahir tersebut.?

Siti Efi Farhati

"Dalam catatan kami, sejak Bapak Presiden menjabat pada 2004, telah sembilan kali Bapak Presiden menghadiri hari lahir GP Ansor," katanya disambut tepuk tangan para pemuda GP Ansor.

Nusron menambahkan, Indonesia saat ini masih ada tiga masalah utama, lunturnya keindonesiaan, maraknya korupsi dan masih banyaknya rakayt miskin.

Namun demikian, pihaknya memuji Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang telah berusaha memenuhi janjinya mewujudkan pemberantasan korupsi tanpa pandang bulu. Hal itu terbukti dengan banyaknya koruptor yang kini dapat ditangkap mulai dari legislatif, eksekutif hingga yudikatif.

Ketua Umum PB NU Said Aqil Siroj dalam sambutannya mengharapkan GP Ansor agar dapat terus memberikan sumbangan terhadap bangsa dan negara sebagai salah satu upaya menegakkan agama Islam di negeri ini. Hal yang sama juga disampaikan Gubernur Jawa Timur Soekarwo dalam sambutannya.

Sementara itu dalam kesempatan tersebut juga diserahkan penghargaan tokoh inspirator GP Ansor dan penandatanganan dua nota kesepahaman (MoU). Pertama, MoU Kementerian Pertahanan dengan Pimpinan Pusat GP Ansor mengenai bela negara. Kedua, MoU antara BNI dengan Pimpinan Pusat GP Ansor mengenai pembangunan kampung BNI berbasis pondok pesantren.

Sementara pemberian nasehat agama dalam acara itu oleh Mustasyar PBNU KH Maemun Zubair.(antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Warta, Pesantren Siti Efi Farhati

Minggu, 24 September 2017

IPNU-IPPNU Depok Gelar Makesta di Pesantren Annahdlah

Depok, Siti Efi Farhati. Dalam rangka menjalankan program kaderisasi, Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Depok mengadakan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) di Pondok Pesantren Modern Annahdlah Sawangan Depok, Selasa-Rabu (18-19/10/2016).

Dalam kegiatan tersebut, para pengurus PC IPNU dan IPPNU Kota Depok mengajak para peserta yang berjumlah 100 orang santri untuk sama-sama berpegang teguh pada ajaran Ahlusunnah wal Jamaah Annahdliyah dengan menjunjung tinggi nilai tawazun, tawasuth, dan tasamuh dalam kehidupan sosial.

IPNU-IPPNU Depok Gelar Makesta di Pesantren Annahdlah (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Depok Gelar Makesta di Pesantren Annahdlah (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Depok Gelar Makesta di Pesantren Annahdlah

Selama makesta mereka mendapatkan materi ke-NU-an, ke-Aswaja-an, ke-IPNU-IPPNU-an, keorganisasian, kepemimpinan dan tradisi keislaman NU. Narasumber berasal dari Pengurus PC IPNU-IPPNU yang diisi oleh Syahru Robiulawwal dan Nurjannah. Jajaran PCNU diwakili Ust. Ahmad Sholehan yang juga merupakan Ketua Forum Alumni PMII UI.

Sekretaris PC IPNU Kota Depok Faizal Rizqi mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk pemerataan kader di tiap-tiap komisariat.?

Hani Zakiyah menambahkan bahwa "Mereka yang telah mengikuti makesta berarti telah resmi menjadi anggota baru IPNU dan IPPNU yang selanjutnya akan terus dibina untuk kemudian bisa mengaktifkan organisasi di lembaganya masing-masing," katanya.

Siti Efi Farhati

Hal senada diungkapkan oleh Ketua PC IPPNU Kota Depok Nur Jannah. Menurutnya, makesta merupakan salah satu program wajib yang harus terus menerus dilakukan hingga ke tingkat ranting dan komisariat karena basis akar rumput inilah yang akan terus menjaga eksistensi NU di masa yang akan datang. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Pesantren, RMI NU, Daerah Siti Efi Farhati

Rabu, 06 September 2017

Penguatan Keilahian dan Kemanusiaan Nabi dan Keluarga

Oleh  Ali Makhrus



Keutamaan waktu malam sebagai momentum pendekatan diri kepada Sang Kholiq sudah tidak diragukan lagi. Momentum tersebut menjadi ‘keramat’. Para Muslim sebagai hamba Allah mengisi malam–malam itu dengan qiyamul lail atau shalat malam. Selain sebagai sarana taqarrub, malam juga menjadi sarana memohon ampunan dan memohon kecukupan kebutuhan hidup dengan limpahan rahmat dari Sang Maha Rahman dan Rahim. Shalat lail telah dianggap memiliki keutamaan di bawah keutamaan shalat fardu. Sebagaimana penjelasan dari Abi Hurairah bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah qiyamul lail (shalat lail)” (HR. Muslim).

Penguatan Keilahian dan Kemanusiaan Nabi dan Keluarga (Sumber Gambar : Nu Online)
Penguatan Keilahian dan Kemanusiaan Nabi dan Keluarga (Sumber Gambar : Nu Online)

Penguatan Keilahian dan Kemanusiaan Nabi dan Keluarga

Spirit shalat lail menguatkan ketauhidan, hablum minallah dan hablum minannaas. Dengan kata lain, kasalehan kepada Allah selalu sejalan dengan kesalehan kepada makhluk atau manusia. Seruan tersebut jelas tersampaikan dalam firman Allah, “lambung mereka jauh dari tempat tidur dan mereka selalu berdoa kepada Robb mereka dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan sebagian dari rizki yang kami berikan kepada mereka” (QS. AS-Sajadah:16). Kerendahhatian dalam beribadah sebagai perwujudan khouf dan roja’, serta tindakan mengentaskan harta pribadi dari hak orang lain menjadi catatan penting bagi karakter pegiat shalat malam. Sebagaimana ayat lain mengisyaratkan, ”Di dunia mereka sedikit sekali tidur di waktu malam. Dan selalu memohon ampun di waktu sahur (menjelang fajar)” (QS. Adz-Dzriyat: 17-18).

Nabi Muhammad memberikan kesempatan siapapun memperoleh gelar ni’mar rajul (lelaki terbaik) sebagaimana diterangkan dalam riwayat Khafsah ra, Nabi SAW bersabda, “Sebaik – baik laki – laki adalah hamba Allah andaikata ia melaksanakan shalat malam” (HR. Bukhari). Asbabul wurud atau konteks hadits di atas, menurut riwayat Imam Bukhari dari Abdullah bin Umar ra, ia berkata, ”Dahulu pada masa Nabi hidup, apabila seorang bermimpi ia selalu menceritakannya kepada Rasulullah. Maka aku pun berharap melihat sesuatu di dalam mimpi lalu kuceritakan kepada Rasulullah. Saat itu aku masih remaja belia. Dan pada masa Rasulullah aku suka tidur di masjid. Lalu aku bermimpi seolah–olah aku dibawa oleh dua orang malaikat menuju neraka. Ternyata, neraka itu dalam seperti sumur dan memliki sepasang tanduk. Dan di dalamnya ada orang–orang yang ku kenal. 

“Maka akupun berucap: “aku berlindung kepada Allah dari neraka”. Lalu kami bertemu dengan seorang malaikat lain yang kemudian bertanya, mengapa kamu tidak takut?”. Kemudian aku menceritakan mimpi itu kepada Hafsoh ra, lalu Hafsoh ra menceritakan kepada Rasulullah. Rasulullah pun bersabda.

Siti Efi Farhati

Diceritakan bahwa, “Ali bin Abi Thalib ra menceritakan bahwa Rasulullah SAW pernah membangunkan dirinya dan Fatimah ra, putri Nabi SAW di malam hari. Lalu beliau bertanya : “Tidakkah kalian shalat?”, Lantas Aku (Ali) menjawab: Ya Rasulullah, jiwa kami ada di tangan Allah, jika Dia berkehendak membangunkan kami, Dia akan membangunkan kami”. Ali ra berkata, “Ketika aku mengatakan hal itu beliau langsung pergi dan tidak mengatakan sesuatu kepadaku. Kemudian aku mendengar beliau berpaling sambil memukul pahanya seraya membaca Firman Alla SWT : “Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah” (QS. Al-Kahfi: 54) (HR. Bukhari)

Menurut Ibnu Baththol, “Hadits ini menerangkan keutamaan shalat malam dan anjuran untuk membangunkan keluarga dan kerabat yang tidur” (Syeikh Dr Ahmad Farid/2008). Lebih lanjut Ath–Thobari mengatakan, “Andai Nabi SAW tidak mengetahui betapa besarnya keutamaan shalat malam, niscaya beliau tidak akan mengganggu puterinya dan anak pamannya pada waktu yang dijadikan oleh Allah sebagai saat istirahat. Akan tetapi beliau memilih mereka untuk mendapatkan keutamaan tersebut”.

Dari hal-hal diatas kita dapat mengetahui bahwa kita dianjurkan untuk meningkatkan hubungan kita dengan Allah dan manusia secara seimbang. Salah satu contoh yang diberikan oleh Rasulullah dan keluarganya adalah dengan melaksanakan shalat malam dan membangunkan keluarga yang lain untuk shalat malam pula. Ini dilakukan sebagai cara mengajak keluarga untuk mendekatkan diri kepada Allah secara lebih intens.

Penulis adalah kader Gerakan Pemuda Ansor Kab. Madiun

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pesantren Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock