Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Februari 2018

Gerakan Kelompok Intoleran Mengoyak Persatuan Bangsa

Jakarta, Siti Efi Farhati. Belakangan ini bergolak sebuah pertanyaan kritis di masyarakat: masih berfungsikah imaji kolektif kita sebagai bangsa? Fenomena gerakan-gerakan intoleran dari sekelompok orang akhir-akhir ini tampaknya ingin mengoyak-oyak persatuan dan kesatuan negeri ini.

Begitulah pertanyaan yang terlontar ketika Abdul Ghopur, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB), Selasa (31/10) memberikan sambutan pada Harlah Ke-5 LSB, Selasa (31/10) di Gedung PBNU Jakarta.

Gerakan Kelompok Intoleran Mengoyak Persatuan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan Kelompok Intoleran Mengoyak Persatuan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan Kelompok Intoleran Mengoyak Persatuan Bangsa

Dalam acara bertema Menggali Mitos, Membangun Etos ini, ia menjelaskan, bangsa Indonesia adalah “konsepsi kultural” dan “konsepsi politik” tentang sebuah entitas yang tumbuh berdasarkan kesadaran politik untuk merdeka dengan meletakkan individu ke dalam kerangka kerakyatan. 

“Dalam kerangka ini, setiap rakyat dipertautkan dengan suatu komunitas politik dalam kedudukan yang sederajat di depan hukum, dengan operasi atas prinsip kekariban, keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan bersama,” ujar Abdul Ghopur di depan para pemuda dan aktivis lintas pergerakan yang menghadiri acara tersebut.

Namun saat bersamaan, sambung Ghopur, Indonesia juga masih mengalami persoalan mendasar, yakni merosotnya nilai-nilai kebangsaan, nasionalisme dan semangat kemajemukan sebagai bangsa yang multikultural. 

Siti Efi Farhati

“Masih saja ada upaya pengingkaran terhadap pluralitas bangsa Indonesia yang setiap saat dapat saja muncul ke permukaan,” ungkapnya dalam kegiatan yang dibarengi dengan peluncuran buku Indonesia Ruma Kita dan Refleksi Sumpah Pemuda ke-89 ini.

Sebagai bangsa yang multietnis, ras, suku, budaya, bahasa dan agama, secara jujur kita masih belum bisa menghilangkan atau paling tidak meminimalkan apa yang disebut dengan barrier of psychology (batas psikologis/prasangka) terhadap sesama anak bangsa. 

Siti Efi Farhati

“Itulah yang kerap memunculkan konflik bernuansa SARA di negeri ini secara vertikal maupun horisontal,” tukas penulis Buku Indonesia Rumah Kita ini. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Makam, Kajian, Fragmen Siti Efi Farhati

Minggu, 11 Februari 2018

Ketua KPK Dorong Partisipasi Aktif Masyarakat Cegah Tindakan Korup

Jakarta, Siti Efi Farhati. Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo menjelaskan, KPK hanya memiliki personil yang sedikit jika dibandingkan dengan praktik yang terjadi di Indonesia. Setidaknya, KPK hanya memiliki 1600 orang pegawai.

“KPK itu kecil. KPK hanya sekitar 1600 orang pegawai,” kata Agus saat menjadi narasumber dalam acara Pelatihan Dai-Daiyah Kader NU 2017 pada hari kedua yang diselenggarakan atas kerjasama LD PBNU dengan Hidmat Muslimat NU di Lantai 8 Gedung PBNU, Selasa (30/5).

Ketua KPK Dorong Partisipasi Aktif Masyarakat Cegah Tindakan Korup (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua KPK Dorong Partisipasi Aktif Masyarakat Cegah Tindakan Korup (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua KPK Dorong Partisipasi Aktif Masyarakat Cegah Tindakan Korup

Karena itu, ia mengajak kepada masyarakat untuk bersama-sama melaporkan indikasi tindakan korupsi dan memberikan penyadaran kepada masyarakat akan dampak dari pada korupsi.

“Kita harapkan partisipasi bapak ibu untuk melaporkan dan menyadarkan banyak pihak, memberikan kontribusi paling tidak mengingatkan seseorang untuk tidak korupsi,” terangnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, tidak sedikit koruptor yang tertangkap oleh KPK. Agus mengatakan, sejauh ini ada 17 gubernur dan lima puluh delapan bupati walikota yang ditangani oleh lembaga anti rasuah itu.

Siti Efi Farhati

“Yang ditangani KPK 17 gubernur. Ini yang ditangani KPK saja, belum (yang ditangani) polisi dan jaksa,” ungkapnya.

Namun demikian, ia mengaku senang karena menurut salah satu survei internasional, persepsi korupsi Indonesia mengalami penurunan. “Di bidang korupsi, kita bergerak ke arah yang lebih baik. Yang ngukur lembaga internasional yang berada di Berlin (Corruption Perception Index),” urainya.

Data Corruption Perception Index menunjukkan, tahun 2014 Indonesia berada di peringkat ke-114 dari 174 negara yang disurvey. Sementara, tahun 2015 Indonesia menempati urutan ke-107 bersama dengan Argentina dan Djibouti. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Ubudiyah, Kajian, Pesantren Siti Efi Farhati

Rabu, 07 Februari 2018

Pmtoh Aceh untuk Gus Dur

Satu tangan tergenggam kartun SBY, tangan lainnya kartun Gus Dur. Agus Nuramal Pmtoh, si pemilik tangan itu, sedang membandingkan situasi kepemimpinan dua presiden yang dikartunkan tersebut. Terutama soal utang dan keberanian.

Agus, pegiat seni tutur Aceh, Pmtoh, tampil saat peringatan seribu hari wafat Gus Dur bertajuk Ziarah Budaya, di Taman Ismail Marzuki (TIM), akhir September lalu.  

Pmtoh Aceh untuk Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Pmtoh Aceh untuk Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Pmtoh Aceh untuk Gus Dur

Untuk mengetahui bagaimana Gus Dur di mata seniman kelahiran Sabang, 17 Agustus 1969, dan bagaimana ia memilih jalan pmtoh, Abdullah Alawi dari Siti Efi Farhati berhasil mewawancarainya, beberapa saat selepas  tampil.  

Siti Efi Farhati

Bang Agus, yang tadi itu pertunjukan apa namanya? 

Siti Efi Farhati

Pmtoh.

Pmtoh itu apa, bisa dijelaskan? 

Pmtoh ini nama salah satu tradisi bercerita yang ada di Aceh. Jadi banyak tradisi bercerita di Aceh. Salah satunya Pmtoh.

Kalau secara bahasa, apa artinya? 

Pmtoh itu sebetulnya perjalanan. Jadi, semacam tukang cerita berkeliling dari kampung ke kampung. Dari satu kampung ke kampung lainnya.

Biasanya menceritakan apa? 

Biasanya bercerita soal sejarah, sejarah Aceh, sejarah kerajaan, sejarah Nabi, sejarah kampung.

Bisa disebutkan contohnya?

Sejarah Nabi, misalnya ada Hikayat Nabi Bercukur. Ada hikayat raja-raja Pasai, dan hikayat-hikayat rakyat Aceh-lah. 

Biasanya kisahnya itu serius atau humor?

Serius. Menceritakan sejarah kerajaan. Misalnya cerita Sidang Deria, bagaimana sebuah daerah dibentuk oleh satu orang yang nama tokohnya Sidang Deria. Ceritanya serius, tapi ada bagian-bagian tertentu yang ada humornya.

Kesenian Pmtoh itu muncul sejak kapan?

Sejak zaman dahulu. Saya tidak tahu kalau dibilang abad, abad ke berapa. Tapi ini satu cerita lama, begitu ya. Satu tradisi, satu cara bercerita yang sudah ada sejak zaman nenek moyang. 

Kondisinya Pmtoh sekarang bagaimana? 

Sebetulnya di Banda Aceh sudah ada generasi Pmtoh-pmtoh ini. Tidak banyak; ada dua, tiga, atau lima orang. Tradisi Pmtoh ini yang modernnya diperkenalkan oleh Tengku Haji Adnan. Dia dengan gayannya bercerita, dijuluki Pmtoh. Jadi gaya ceritanya Pmtoh, begitu. Nah saat in ada generasinya di Banda Aceh. 

Sudah berapa lama jadi seniman Pmtoh?

Aku begini ini, sudah 25 tahun.

Kenapa memilih Pmtoh? 

Aku kuliah di jurusan teater di IKJ. Lulus, jadi alumni kan. Tapi kemudian aku pikir ada satu seni monolog atau solo performance yang belum banyak berkembang di tanah air pada waktu 25 tahun yang lalu. Nah, aku coba memberikan satu yang baru buat seni pertunjukan di Jakarta pada waktu itu, yaitu tradisi Pmtoh ini yang dibawakan dengan cara modern.

Kenapa jatuh hati kepada Pmtoh? 

Aku memulai Pmtoh sejak 25 tahun itu. Jadi sudah cukup lama. Tapi waktu kuliah sudah terpikir. Tapi baru dilaksanakan selesai kuliah. 

Penampilan di Peringatan Seribu Hari Wafat Gus Dur yang tadi itu apa judulnya? 

Kalau Gus Dur Ada Sekarang ini.

Berapa lama menggarap cerita itu? 

Sebenarnya, aku baru siap-siap jam-jam habis duhur di rumah. Jam duaan barulah aku cari-cari di internet mau membawa cerita apa tentang Gus Dur. Kemudian aku karang-kakrang-lah sedikit. Terus berangkatllah kemari.

Memangnya dikasih tahu sejak kapan oleh panitia? 

Dikasih tahu kira-kira tiga hari kemarin. 

Kenal Gus Dur, bagaimana ceritanya?

Kenal Gus Dur zaman-zamannya membaca Tempo tahun 80-an. Masih aku di kampung, membaca catatan-catatan Gus Dur di majalah Tempo. Kemudian ketika di Jakarta, ada Taman Ismail Marzuki; tahun 88, 89, kan banyak para reformis-reformis yang berkumpul di Taman Ismail Marzuki, ya orang-orang seperti mendiang Gus Dur, Amin Rais, Dawam Rahardjo dulu, kan. Kemudian tahun-tahun 90-an ada petisi 50. Pada umumnya kan intelektual-intelektual ini berkumpul di Taman Ismail Marzuki. Dan saya sebagai seniman, sering mendengarkan dialog dia orang. Di situ kenalnya. 

Pandangan pribadi terhadap Gus Dur bagaimana? 

Aku pernah bertanya sama Gus Dur, waktu zaman krisis ekonomi 1997, kalau aku nggak salah ya. Waktu itu aku baru  pulang dari salah satu kampung di daerah Jawa Barat. Aku menemukan ada seorang anak yang, maaf cakap, busung lapar begitu. Tinggalnya di sebuah kandang ayam, atau kandang kambing, kalau aku bilang. Sementara tetangga rumahnya naik haji, dipestakan; pesta satu kampung, pakai rebana. Aku datang ke sana, kemudian balik kembali ke Jakarta, ketemu dengan Gus Dur yang sedang dialog di Taman Ismail Marzuki, di warung makan. Kemudian aku tanya, ‘Gus, apakah orang-orang yang naik haji zaman krismon ini masuk surga atau nggak’, aku tanya begitu. Lalu jawaban Gus Dur. ‘Bagaimana mereka mau masuk sorga, orang tetangga mereka kelaparan, kok mereka naik haji, selesaikan dulu yang kelaparan. Barulah naik haji,’ itu kata Gus Dur. Itu teringat olehku.

Dari situ kesimpulan tentang Gus Dur? 

Gus Dur ini orang yang mencerdaskan indra-indra kita; indra pendengaran karena dia pandai berkata-kata, kata-kata yang cerdas, kata-kata yang membikin kayak apa namanya, perbendaharaan makna diisi kepala kita. Dia juga orang yang membuka mata dan hati seluruh bangsa ini tentang apa itu kejujuran, apa sih politik itu. Politik itu nggak ada sesuatu yang apa, begitu; sesuatu yang sederhana saja. Suatu yang bisa dipahami dan bisa diselesaikan. Itu menurut aku tentang Gus Dur. Dan dia membuka pancaindra bangsa ini.

Terkait sebagai seniman Pmtoh, apakah Pmtoh sebagai mata pencaharian atau sambilan? 

Sampai sekarang aku menjadikan Pmtoh sebagai matapencaharian. Utama malahan. Itu yang masih bisa dilakukan.

Sebagai mata pencaharian, mencukupi tidak?

Kalau dibilang cukup atau tidak. Dalam ukuran ekonomi sekarang, ya nggak cukup, begitu ya. 

Sebulan sering tampil berapa kali? 

Sebenarnya ini adalah tahun-tahun aku yang agak mundur panggilan seihingga bisa dikatakan tiap bulan tidak ada panggilan. Tapi kalau dalam dua tahun kemarin, bisa sampai sebulan tiga kali. 

Tampil sebulan tiga kali cukup ya? 

Alhamdulillah cukup kalau panggilan 3 atau 5 kali.

Sekarang, sudah jarang panggilan, untuk menutupi kebutuhan itu bagaimana? 

Kebetulan kemampuan saya cuma bermain ini. Jadi bagaimana bersiasat saja dengan keadaan.

Panggilan-panggilan itu di wilayah Jakarta atau Aceh? 

Saya main di wilayah Nusantara.

Berarti nggak hanya di Aceh?

Nggak. Karena sudah 25 tahun berprofesi sebagai pencerita monolog ini. Jadi, saya sudah keliling Nusantara, berbagai negara dunia juga sudah saya kunjungi.

Yang paling menyenangkan membawakan tema apa? 

Tergantung kepada panggilan. Tergantung kepada orang yang membuat acara, temanya apa. Tema lingkungan hidup misalnya. Seperti hari ini misalnya tema Gus Dur. Juga ada undangan ulang tahun perusahaan. Banyak perusahaan yang pernah saya main, di hajatan, perkawinan, panti asuhan, macam-macam-lah.

Sekali panggilan dibayar berapa?

Saya tidak menentukan harga. Bisa dua juta. Jika orang berkelebihan, bisa sampai 4 juta. Tapi kadang-kadang ada yang 1 juta juga. Tergantung kondisi ekonomi yang memanggil. 

Terkait pemerintah. Selama ini, menurut Bang Agus, perhatian pemerintah terhadap kesenian-kesenian daerah seperti Pmtoh bagaimana? 

Pemerintah kita dari dulu nggak ada perhatiannya sama sekali terhadap kebudayaan, begitu, ya. Kalaupun ada, sifatnya sangat karikatif ya. Kalau ada pesanan dari luar negeri, baru diperhatikan. Setelah itu ditinggal. Ada heritage, kebudayaan, wayang sebagai warisan peninggalan dunia. Baru sibuk wayang. Tari Saman peninggalan dunia, baru sibuk Saman. Habis itu setelah dilantik, tak ada program apa-apa.

Seharusnya bagaimana pemerintah itu? 

Soal pemerintah saya ngomong satu hal yang penting menurut saya. Orang pemerintah itu kan orang birokrasi. Sudahlah, kalian tak usah buat program-lah. Berpuluh tahun selama Orde Baru, mereka membuat program, nggak ada hasil-hasilnya. Mendingan kalian mempersiapkan diri untuk masuknya program dari masyarakat; dari para seniman, dari para budayawan. Itulah menurut saya yang mereka harus lakukan. 

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kajian Siti Efi Farhati

Selasa, 06 Februari 2018

Warga Nisam Bedah Bab Puasa Kitab I’anatut Thalibin

Aceh Utara, Siti Efi Farhati. Puluhan santri dan warga Nisam memperdalam wawasan ilmu Syar’i di masjid Dayah Darut Thalibin gampong Keutapang kecamatan Nisam, Jumat (4/7) sore. Mereka mengikuti pengajian kitab "I’anatut Thalibin" yang diinisiasi Ikatan Pemuda dan Santri (Ikapas) Nisam.

Warga Nisam Bedah Bab Puasa Kitab I’anatut Thalibin (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Nisam Bedah Bab Puasa Kitab I’anatut Thalibin (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Nisam Bedah Bab Puasa Kitab I’anatut Thalibin

“Kegiatan ini antara lain bertujuan menjalin ukhuwah para pelajar, pemuda, mahasiswa, santri, dan tokoh serta ulama setempat,” ujar ketua panitia pengajian Tgk Abdul Munir.

Ayah Nurdin Keutapang mengampu pengajian yang diadakan setiap Jumat sore mulai pukul 14.30-16.00. Ulama kharismatik Aceh ini ialah salah satu alumni terbaik LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga.

Siti Efi Farhati

Selama Ramadhan ini, materi yang dibahas ialah bab puasa dari kitab syarah Fathul Mu’in. Pengajian dibagi menjadi dua sesi, pemaparan materi kitab dan tanya-jawab.

Turut hadir, para tokoh masyarakat dari perangkat kemasjidan Mns Meucat, Imum Syik, Tgk Imum, sejumlah mahasiswa STAIN Malikus Saleh Lhokseumawe, dan mahasiswa Unsyiah Banda Aceh. (Sudi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati News, Cerita, Kajian Siti Efi Farhati

Selasa, 30 Januari 2018

Tradisi Pesantren, Tradisi Menulis

Semarang, Siti Efi Farhati. Pesantren sejak dulu merupakan lembaga pendidikan yang turut melahirkan karya tulis. Tak jarang, para kiai yang menekuni bidang tertentu mengabadikan gagasan dan wawasannya dalam bentuk sebuah kitab.

Tradisi Pesantren, Tradisi Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Pesantren, Tradisi Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Pesantren, Tradisi Menulis

"Tradisi pesantren adalah tradisi jurnalistik karena setiap yang ingin menjadi seorang ulama haruslah memiliki karya atau tulisan," kata salah seorang intelektual muda NU Zuhairi Misrawi saat mengisi pelatihan jurnalistik Majalah Santri di kampus IAIN Walisongo Semarang, Jawa Tengah, Jumat (15/2).

Kegiatan bertema ”Menegaskan Kembali Akar Jurnalistik Pesantren” ini diikuti dewan redaktur Majalah Santri dari 12 perguruan tinggi di Indonesia yang tergabung dalam Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs (CSS MoRA). Hadir dalam acara ini, Sekretaris Pengurus Wilayah NU (PWNU) Jawa Tengah yang juga Ketua Prodi Ilmu Falak IAIN Walisongo KH Arja Imroni.

Siti Efi Farhati

Dalam kesempatan tersebut, Zuhairi menjelaskan tentang kuatnya akar pesantren dalam tradisi kepenulisan. Ulama-ulama Nusantara dapat produktif menulis juga disebabkan kegigihan mereka dalam hal membaca banyak literatur. Teladan ini, menurut Zuhair, perlu terus dilestarikan.

“Karena ketika mengiginkan menjadi penulis yang baik maka jadilah pembaca yang baik,” ujarnya.

Siti Efi Farhati

Pemimpin Umum Majalah Santri Surotul Ilmiyah menekankan pentingnya merawat budaya menulis dalam pesantren. Menurut dia, kegiatan menulis adalah tradisi positif yang diwariskan ulama sejak dulu. Pelatihan jurnalistik menjadi salah satu upaya merealisasikan dan membangkitkan semangat ini di lembaga pendidikan Islam tertua di Nusantara itu.

 

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kajian Siti Efi Farhati

Jumat, 26 Januari 2018

Persepsi Keliru tentang Surat Al-Ikhlas Menurut Al-Ghazali

Oleh Ahmad Khoiri

Al-Quran adalah kitab yang mengandung pesan (risalah) untuk manusia. Namun pensakralan (baca: proses chosifikasi/tasyyi) oleh umat Islam terhadap kitab petunjuk tersebut telah mengabaikan risalah yang dikandungnya. Di saat Islam mengalami kemandekan, Al-Quran sudah tidak lagi sebagai pedoman atau petunjuk hidup, tetapi sekadar "sesuatu" yang --meminjam istilah Nasr Hamid Abu Zayd-- menjadi perhiasan wanita, pengobatan bagi anak-anak dan hiasan yang digantungkan di tembok serta dipampang di samping benda-beda emas dan perak.

Al-Quran juga tidak didekati dengan kesadaran ilmiah namun terbatas pada seni musik dan seni lukis. Dalam kaitannya dengan seni musik, umpamanya, Al-Quran adalah serangkaian kata dan nada indah yang mendengarkannya saja sudah mendapat pahala dari Allah Swt. dan sambil mengikuti bacaan yang didengarkan akan mendapat dua kali pahala, yakni sebab mendengar dan membacanya. Praktis, pesan (risalah) yang dikandungnya pun sama sekali tersingkirkan.

Persepsi Keliru tentang Surat Al-Ikhlas Menurut Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)
Persepsi Keliru tentang Surat Al-Ikhlas Menurut Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)

Persepsi Keliru tentang Surat Al-Ikhlas Menurut Al-Ghazali

Kesadaran untuk membaca dengan iming-iming pahala memiliki implikasi yang cukup penting, yaitu munculnya umat yang cenderung kompetitif membaca Al-Quran, di mana yang terbanyak membaca akan memperoleh pahala sesuai banyaknya bacaannya. Dalil yang dipakainya pun, di samping hadis Nabi bahwa "satu huruf Al-Quran dibalas sepuluh pahala" juga hadis lain bahwa qul huwallahu ahad (al-Ikhlas) adalah sepertiga Al-Quran.

Secara literer hadis tersebut mengungkapkan sisi kuantitas pahala dalam setiap haruf Al-Quran, seperti pada hadis pertama. Yang kedua menunjukkan bahwa membaca satu kali surah al-Ikhlash sama pahalanya dengan membaca sepertiga Al-Quran. Ini adalah pemahaman masyarakat mainstream yang jelas-jelas hanya memprioritaskan kuantitas bacaan, bukan kualitas pesan kandungannya.

Secara kualitas, hadis tersebut merupakan hadis sahih yang diriwayatkan dalam Sahih Bukhari dalam bab Keutamaan Al-Quran. Redaksi lengkapnya:

Siti Efi Farhati

Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh, telah menceritakan kepada kami bapakku, telah menceritakan kepada kami al-Amasy, telah menceritakan kepada kami Ibrahim dan al-Dhahhak al-Masyriqi dari Abu Said al-Khudri r.a, ia berkata; Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda kepada para sahabatnya: "Apakah salah seorang dari kalian tidak mampu bila ia membaca sepertiga dari Al-Quran pada setiap malamnya?" dan ternyata para sahabat merasa kesulitan seraya berkata, "Siapakah di antara kami yang mampu melakukan hal itu wahai Rasulullah?" maka beliau pun bersabda: "Allahul Wahid ash-Shamad (maksudnya surat al-Ikhlash) nilainya adalah sepertiga Al-Quran".

Jika al-Ikhlas sebanding dengan sepertiga Al-Quran maka membaca tiga kali setara dengan mengkhatamkan Al-Quran. Kita telah melihat bagaimana orang-orang membaca surah ini sebanyak mungkin dengan harapan mendapat pahala khataman Al-Quran sebanyak-banyaknya. Tetapi benarkah demikian?

Seorang sufi masyhur Abu Hamid al-Ghazali dalam kitabnya, Jawahir al-Quran, secara tegas menolak pemahaman tersebut. Menurutnya, Nabi Muhammad tidak mungkin mengatakan bahwa memperbanyak bacaan al-Ikhlash setara dengan mengkhatamkan Al-Quran. Al-Ghazali memahami maksud sabda Nabi di atas sebagai penegasan bahwa kuantitas ayat tidak menentukan kualitasnya. Dengan kata lain bahwa sebagian teks (ayat) meskipun sedikit terkadang memiliki keutamaan dari yang lainnya. Ia mengatakan:

Saya melihat engkau tidak memahami aspek ini (nilai al-Ikhlash sepertiga). Mungkin engkau mengatakan: hal ini disebutkan hanya untuk memberikan dorongan agar gemar membaca, maksudnya bukan ukuran nilai. Kedudukan kenabian sangat tidak mungkin melakukan hal itu. Mungkin engkau (juga) akan mengatakan: hal ini sulit untuk dipahami dan di-tawil, sementara ayat Al-Quran lebih dari 6000 ayat, bagaimana mungkin jumlah yang sedikit ini sebanding dengan sepertiganya? Hal ini muncul karena pengetahuan yang sedikit tentang hakikat Al-Quran, dan pandangan secara zahir terhadap kata-kata Al-Quran sehingga engkau beranggapan bahwa ayat-ayat itu banyak diukur dengan panjangnya kata, dan pendek diukur dengan pendeknya kata. Hal ini bagaikan anggapan orang memilih uang dirham yang banyak daripada satu permata, hanya karena melihat banyaknya (dirham). (h. 47)

Siti Efi Farhati

Persepsi masyarakat bahwa "sepertiga" adalah indikasi kegemaran memperbanyak membaca al-Ikhlas bagi al-Ghazali jelas merupakan kekeliruan yang muncul akibat sedikitnya pengetahuan tentang hakikat Kitab Suci. Al-Quran sekadar dilihat dari segi banyak-sedikit, bukan dari hierarki maknanya.?

Selain itu dalam pernyataan di atas, al-Ghazali juga mengkritik jika ada yang meragukan hierarki teks hanya karena melihat sedikitnya ayat, hal itu diibaratkan mengabaikan permata karena sedikit dan memilih dirham karena banyak, padahal dari segi "nilai" jelas pertama lebih unggul. Dengan demikian al-Ikhlas semestinya tidak dipahami sebanding dengan sepertiga Al-Quran namun dengan sepertiga "kandungan" Al-Quran. Al-Ghazali melanjutkan:

Perhatikanlah kembali ketiga klasifikasi yang telah kami sebutkan mengenai hal-hal pokok Al-Quran, yaitu marifatullah, pengetahuan akhirat dan pengetahuan mengenai shirat mustaqim. Ketiga klasifikasi ini merupakan hal pokok, sementara yang lainnya berada di belakangnya (tawabi). Surah al-Ikhlas memuat satu dari ketiganya, yaitu marifatullah, baik tentang ketauhidan-Nya dan kesucian-Nya dari yang menyekutui-Nya, baik jenis (genus) maupun spesiesnya... Memang benar dalam surah ini tidak ada ungkapan mengenai akhirat dan shirat mustaqim. Telah kami sebutkan bahwa dasar-dasar yang penting dari Al-Quran adalah marifatullah, pengetahuan akhirat dan pengetahuan shirat mustaqim. Oleh karena itu, surah ini sebanding dengan sepertiga dasar-dasar (kandungan) Al-Quran sebagaimana yang disabdakan Rasulullah. (h. 48)

Jika demikian, bahwa maksud sepertiga dalam hadis Nabi adalah sepertiga kandungannya bukan sepertiga bacaannya, maka dapat dipahami bahwa membaca tiga kali surah al-Ikhlas tidak bisa dianggap setara dengan mengkhatamkan Al-Quran. Al-Quran, sebagaimana dalam pandangan al-Ghazali memiliki tiga pokok kandungan, yaitu marifatullah (seperti dalam kandungan surah al-Ikhlas), pengetahuan akhirat dan pengetahuan shirat mustaqim.?

Membaca satu, dua atau tiga kali surah al-Ikhlas tetap saja hanya membaca sepertiga kandungan Al-Quran, yaitu marifatullah, karena surah al-Ikhlas tidak memiliki dua kandungan pokok yang lain, yakni pengetahuan akhirat dan pengetahuan mengenai shirat mustaqim. Pemahaman ini secara otomatis meruntuhkan persepsi yang sudah menyebar di masyarakat bahwa pengkhataman Al-Quran dapat diringkas hanya dengan membaca tiga kali surah al-Ikhlas saja.

Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Ilmu al-Quran dan Tafsir (IQT) di STAIN Pamekasan. Pegiat di UKK Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Activita.

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kajian Siti Efi Farhati

Kamis, 11 Januari 2018

Kisah Pembela Israel yang Akhirnya Jadi Pengkritik

Kairo, Siti Efi Farhati. Seorang Belanda yang melawan Nazi dan membela hak orang-orang Yahudi untuk membentuk negara Israel telah berubah menjadi kritikus pada empat dekade kemudian setelah serangan udara Israel meratakan rumah di Jalur Gaza, menewaskan enam anggota keluarganya dari hubungan pernikahan. 

"Adikku kehilangan suaminya, yang dieksekusi di bukit pasir atas keterlibatannya dalam perlawanan," Henk Zanoli, 91, dalam sebuah suratnya kepada duta besar Israel yang dikutip oleh The New York Times. 

Kisah Pembela Israel yang Akhirnya Jadi Pengkritik (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Pembela Israel yang Akhirnya Jadi Pengkritik (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Pembela Israel yang Akhirnya Jadi Pengkritik

"Saudara saya kehilangan tunangan Yahudi yang dideportasi, yang tidak pernah kembali." 

Siti Efi Farhati

Zanoli melanjutkan, "Dengan latar belakang ini, sangat mengejutkan dan tragis bahwa hari ini, empat generasi pada keluarga kami dihadapkan dengan pembunuhan saudara kami di Gaza. Pembunuhan yang dilakukan oleh negara Israel. "

Siti Efi Farhati

Cerita Zanoli dengan orang-orang Yahudi dan Israel dapat ditelusuri pada 1943 ketika ia melakukan tindakan berbahaya untuk menyelundupkan seorang anak Yahudi dari Amsterdam ke desa Eemnes untuk menyelamatkan hidupnya dari Holocaust. 

Cucu perempuannya, seorang diplomat Belanda, menikah dengan seorang ekonom Palestina, Ismail Ziadah, yang kehilangan tiga saudara, adik ipar, keponakan dan istri pertama ayahnya dalam serangan itu. 

Zanoli berubah selama beberapa dekade dari pendukung menjadi seorang pengkritik negara Israel. 

Tidak hanya Zanoli, kasusnya mencerminkan pergeseran yang lebih besar di Eropa, di mana kesedihan atas peristiwa Holocaust menyebabkan banyak orang mendukung berdirinya negara Israel pada tahun 1948. 

Gairah ini telah berubah setelah pendudukan Israel di jalur Gaza dan Tepi Barat pada tahun 1967 dengan sejumlah serangan udara Israel yang menewaskan ribuan warga sipil Palestina selama beberapa dekade terakhir. 

"Saya mengembalikan medali saya karena saya tidak setuju dengan apa yang negara Israel lakukan untuk keluarga saya dan Palestina secara keseluruhan," kata Zanoli dalam sebuah wawancara pada Jum’at di apartemennya. Ia menambahkan bahwa keputusannya adalah pernyataan "hanya terhadap negara Israel, bukan orang-orang Israel." 

"Yahudi adalah teman-teman kita," kata Zanoli, seorang pensiunan pengacara yang menggunakan skuter bermotor tetapi tetap terlihat sehat, seperti yang muncul dalam arsip foto yang sudah menguning di tahun 1940-an, yang merupakan arsip peringatan Yad Vashem Holocaust di Yerusalem. 

Zanoli mengatakan ia belum pernah secara terbuka mengkritik Israel "Sampai saya mendengar bahwa keluarga saya adalah korban." 

Dari korban menjadi agresor 

Di Gaza, besan Zanoli yang kehilangan enam anggota keluarganya, memuji sikapnya sebagai respon yang pas atas untuk kerugian mereka. 

Hassan al-Zeyada, seorang konselor trauma psikologis, mengagumi Zanoli dan keluarganya atas perjuangan mereka dalam Perang Dunia II untuk melawan "diskriminasi dan penindasan secara umum terhadap orang-orang Yahudi pada khususnya." 

"Bagi mereka," ia menambahkan, "itu sesuatu yang menyakitkan bahwa orang-orang yang membela dan berjuang, berubah menjadi agresor." 

Dia melepaskan tanda kehormatan "dengan sedih," tulisnya, karena menjaga kehormatan dari pemerintah Israel akan "penghinaan ke memori ibunya yang pemberani" dan keluarga Gazanya. 

Dia menambahkan bahwa keluarganya telah "sangat mendukung orang-orang Yahudi" dalam pencarian mereka untuk "rumah nasional," tapi secara perlahan percaya bahwa "proyek Zionis" memiliki "unsur rasis di dalam cita-citanya untuk membangun negara khusus untuk orang Yahudi."

Dia mengacu pada perpindahan warga Palestina, termasuk anggota keluarga Ziadah, selama perang atas berdirinya Israel sebagai "pembersihan etnis" dan mengatakan Israel "terus menekan" dan menduduki wilayah Palestina. 

Israel telah meluncurkan serangan udara tanpa henti terhadap Gaza sejak 8 Juli di mana lebih dari 1.945 orang telah tewas dan ribuan lainnya terluka. 

Para pejabat kesehatan di Gaza mengatakan lebih dari 1.900 warga Palestina, kebanyakan warga sipil, telah tewas dan hampir 10.000 lainnya terluka sejak Israel melancarkan perang di jalur tersebut. 

Menurut Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), sekitar 80% kematian di Gaza adalah warga sipil, termasuk puluhan anak-anak dan perempuan. 

Skala besar pemusnah massal di Gaza telah menghancurkan sekitar 5.510 rumah dan merusak sekitar 31.000, memaksa puluhan ribu orang meninggalkan rumah mereka yang terperangkap dalam serangan udara Israel. 

Pasukan pendudukan Israel memulai invasi darat mengepung Gaza, rumah bagi dua juta warga sipil, pada Kamis 17 Juli. (onislam.net/mukafi niam)

Foto: Henk Zanoli, kedua dari kanan

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kajian Siti Efi Farhati

Minggu, 31 Desember 2017

Papua dan NTT Sangat Membutuhkan Dai

Jakarta, Siti Efi Farhati. Dari seluruh kawasan di Indonesia, Papua atau dulunya dikenal Irian Jaya dan NTT merupakan daerah yang paling membutuhkan sentuhan dari para dai. Pemahaman kaum muslim terhadap ajaran Islam di daerah tersebut masih sangat minim.

Hal ini diungkapkan oleh Wakil Rais Aam PBNU KH Tolchah Hasan yang sejak tahun 1980-an, telah terjun secara aktif dalam upaya peningkatan pemahaman ajaran Islam, khususnya di NTT.

Papua dan NTT Sangat Membutuhkan Dai (Sumber Gambar : Nu Online)
Papua dan NTT Sangat Membutuhkan Dai (Sumber Gambar : Nu Online)

Papua dan NTT Sangat Membutuhkan Dai

<font face="Verdana">Dikatakannya dakwah yang dilakukan ini semata-mata untuk meningkatkan pemahaman ajaran Islam buat kaum muslimin disana, bukan untuk merubah keyakinan penganut agama lain. “Banyak umat Islam yang tak ngerti bagaimana mandi junub atau berwudhu ketika mau sholat,” tuturnya dalam sebuah acara LDNU beberapa waktu lalu.

Kuatnya tradisi Kristiani di daerah tersebut menyebabkan seolah-olah ada tradisi yang hampir sama. “Masih ada yang mengatakan masjid sebagai gereja muslim. Mereka juga datang ke masjid untuk sholat Jum’at jam 10 pagi, terus baca-baca sholawat sampai waktunya sholat Jum’at,” tuturnya.

Tak heran jika akibat minimnya pengetahuan ini, masyarakat muslim hanya menjalankan sholat hanya pada hari raya dan sholat Jum’at saja. “Kalau kita bicara kualitas imam sholat, ya bacaannya jauh dari sempurna, tapi bagaimana lagi, kondisinya memang seperti itu,” tanyanya.

Siti Efi Farhati

Saat ini sudah terdapat sebuah pesantren binaan yang dibangun disebuah kecamatan di NTT. Para pemuda juga dikirimkan ke Jawa untuk belajar di pesantren yang nantinya bisa mengajar disana. “Ada diantara mereka yang sudah balik ke daerahnya,” paparnya.

Saat ini Rabithah Maahid Islamiah dan LDNU telah menjalankan program dai transmigrasi. Para santri dan ustadz senior dikirimkan ke berbagai daerah transmigrasi yang didiami oleh kaum muslimin. Mereka memberi pelajaran berbagai aspek ajaran Islam kepada warga transmigrasi, namun sejauh ini program tersebut belum menyentuh kedua daerah di Indonesia Timur tersebut. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kajian Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati

Selasa, 26 Desember 2017

Pameran Bisnis Pengusaha NU Dihelat di Jakarta

Jakarta, Siti Efi Farhati. Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) menyelenggarakan eksebisi bisnis pengusaha NU dalam program “Saudagar Fest 2013” di Mall of Indonesia Kelapa Gading Jakarta, 9-22 September 2013.

Pameran Bisnis Pengusaha NU Dihelat di Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Pameran Bisnis Pengusaha NU Dihelat di Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Pameran Bisnis Pengusaha NU Dihelat di Jakarta

Gelaran pameran ini berkenaan dengan upaya HPN dalam menyongsong peringatan satu abad Nahdlatut Tujjar, sebuah gerakan ekonomi awal abad ke-20 sebagai embrio berdirinya NU.

Panita telah menyiapkan 100 stan yang akan menampilkan ratusan produk dan jasa yang menjadi bidang bisnis perusahaan dan UKM Nahdliyin dari seluruh Indonesia.? Selain pameran dalam perhelatan dua minggu tersebut akan diadakan acara “Temu Saudagar NU dan Bursa Peluang Usaha’, yang membicarakan strategi pemberdayaan ekonomi Nahdliyin dan penawaran peluang-peluang usaha untuk para pengusaha Nahdliyin di seluruh Indonesia.?

Siti Efi Farhati

Menurut Ketua Umum HPN Ir Abdul Kholik, peluang usaha yang akan ditawarkan dalam ajang Saudagar Fest antara lain wirausaha ticketing (kerjasama HPN-Tiket.com grup usaha SCTV) dan usaha micro finance (kerjasama Koperasi HPN-Syirkah Muawanah dengan Skd-Raptor, sebuah perusahaan Venture Capital asal Singapura.?

Siti Efi Farhati

HPN juga menawarkan Usaha Produksi Beras Organik (kerjasama HPN-PT SAE) dan ? peluang usaha menjadi pemasok supermarket Carefour (kerjasama HPN-PT Trans Retail Indonesia).

"Semua peluang usaha tersebut akan dipaparkan secara mendalam oleh masing-masing partner usaha HPN," tegas Abdul Kholik.

Sebagai badan asosiasi pengusaha yang non-struktural di NU, HPN bertekad menjadi wadah bagi para pengusaha NU yang ingin mengembangkan usaha dan pasar dengan menggunakan spirit Nahdlatut Tujjar yang dibentuk pada 1918.?

"Atas dasar itu, HPN ingin mengejar ketertinggalan akses dan keterampilan bisnis para saudagar NU yang pernah diidam-idamkan Kyai Wahab Hasbullah saat menggagas Nahdlatut Tujjar," lanjut Abdul Kholik yang juga pemilik dan Direktur Utama Azet Surya, perusahaan manufaktur energi solar cell.

Karena itu, di sela Saudagar Fest 2013, HPN mengundang 200 pengusaha NU dan juga perwakilan LPNU dari 11 PWNU di Indonesia, dalam silaturahim Saudagar NU pada 14-15 September 2013.

"Dalam silaturahim tersebut, para pengusaha akan kami tawari untuk mengembangkan usaha bisnis di lima sektor tadi, di samping mengembangkan jaringan HPN di 11 provinsi sebagai tahapan awal," tandasnya.?

Sebagaimana diketahui, HPN didirikan dan diluncurkan oleh PBNU di Jakarta Convention Center, Jakarta, dalam acara “NU Expo 2011” sebagai rangkaian peringatan hari lahir NU.?

Siaran pers HPN menyebutkan, ke depan HPN merupakan asosiasi pengusaha independen berbasis pebisnis Nahdliyin dan akan menginduk pada Kamar Dagang dan Industri (Kadin) sabagai wadah pebisnis di Indonesia. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nusantara, Kajian Siti Efi Farhati

Jumat, 22 Desember 2017

Di Tangan Kelompok Radikal, Jihad Hanya Bermakna Perang

Jember, Siti Efi Farhati - Apa pun, yang namanya paham radikal, sangat berbahaya bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, lebih-lebih bagi Indonesia yang dihuni oleh beragam agama, budaya, suku, golongan, dan sebagainya. Sebab, paham? radikal, tidak memberikan ruang sedikit pun kepada kelompok lain untuk hidup, tidak ada toleransi. Yang ada dan harus tetap eksis hanyalah kelompok mereka sendiri.

“Artinya siapa pun yang tidak sepaham dengan mereka dianggap musuh,” jelas Ketua MUI Cabang Jember, Abdul Halim Subahar saat memberikan taushiyiah dalam acara? “Deklarasi Anti Radikalisme & Terorisme” di halaman gedung GP. Ansor Jember, Rabu (21/6).

Di Tangan Kelompok Radikal, Jihad Hanya Bermakna Perang (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Tangan Kelompok Radikal, Jihad Hanya Bermakna Perang (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Tangan Kelompok Radikal, Jihad Hanya Bermakna Perang

Menurut Halim, kekeliruan besar penganut paham radikal adalah dalam menafsirkan makna jihad. Jihad menurut mereka ditafsirkan tunggal, yakni qital (membunuh). Sehingga perintah jihad dalam agama selalu diartikan membunuh atau berperang melawan orang yang tidak sepaham dengan mereka.

“Kalau ini diterapkan di Indonesia, tidak ada lagi Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI,” lanjutnya.

Siti Efi Farhati

Pemahaman mereka berbeda jauh dari paham keagamaan wasathiyah seperti NU, Muhammadiyah, MUI, dan sejenisnya, yang menafsirkan jihad dengan banyak makna, misalnya menuntut ilmu, berpuasa, beribadah haji, berbakti kepada orang tua, memberi nasehat kepada penguasa yang dhalim dan sebagainya.

Siti Efi Farhati

“Itu semua termasuk? jihad. Baru kalau tidak ada pilhan lain, kita disalahi, dan keselamatan kita terancam, baru jihad dimaknai berperang,” ungkapnya. (Aryudi A. Razaq/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kajian, Santri Siti Efi Farhati

Kamis, 21 Desember 2017

Posisi Istimewa Shalat dalam Islam

Shalat merupakan ibadah yang paling utama dalam islam. Ibadah ini termasuk dalam kategori ibadah badaniyah karena ia melibatkan badan atau fisik manusia dalam pengerjaannya. Hal ini bisa kita pahami dari hadits Nabi Riwayat Ibnu Hibban (No. 258):

Posisi Istimewa Shalat dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Posisi Istimewa Shalat dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Posisi Istimewa Shalat dalam Islam

? ? ? ? - ? ? ? ? - ? ? ? ? ?: "?" ?: ? ? ?: "? ?" ?: ? ? ?: "?"

Siti Efi Farhati

“Seseorang datang pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya tentang amalan yang paling utama. Nabi berkata, ‘Shalat’. Kemudian ditanyakan, ‘Lantas apa?’ Nabi menjawab, ‘Shalat’. Kemudian ditanyakan, “Lantas apa?” Nabi menjawab, ‘Shalat’.”

Sedemikian pentingnya shalat sebagai amalan yang paling utama, sampai-sampai Nabi menjawabnya sebanyak tiga kali.

Selain sebagai ibadah yang paling utama, shalat juga memiliki potensi pahala yang sangat besar sampai-sampai Rasulullah menjanjikan bahwa shalat yang dilaksanakan dengan benar bisa melebur dosa-dosa seseorang, sebagaimana tertuang dalam hadits riwayat Bukhari (No. 505):

Siti Efi Farhati

? ? ? - ? ? ? - ?: ? ? ? - ? ? ? ? -: ? ? ? ? ? ?

Dari Abu Hurairah RA, berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Shalat 5 waktu dengannya Allah menghapus dosa-dosa (hamba-Nya).”

Hadits di atas juga didukung dengan hadits lain riwayat Muslim (No. 231):

? ? - ? ? ? - ?: ? ? ? - ? ? ? ? - "? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Dari Utsman RA, berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menyempurnakan wudhunya sebagaimana perintah Allah, maka shalat-shalat fardlu yang ia kerjakan menjadi penghapus dosa-dosanya yang terdahulu.”

Ancaman yang sangat besar juga Rasulullah berikan bagi mereka yang menyepelekan shalat, entah dengan cara sengaja mengakhirkan atau bahkan meninggalkan shalat. Rasulullah menyebut orang-orang semacam ini sebagai orang yang “melepaskan diri” dari Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana tercantum dalam hadits riwayat Ahmad (No. 421):

 ? ? ? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? - ?: "? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Dari Ummu Ayman RA, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah engkau meninggalkan shalat dengan sengaja, karena bahwasanya orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja, maka berarti ia meninggalkan diri dari lindungan Allah dan Rasul-Nya.”

Demikian pemaparan perihal posisi istimewa shalat dalam islam, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi-shawab. (Muhammad Ibnu Sahroji)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Makam, Kajian Siti Efi Farhati

Kamis, 14 Desember 2017

Pelajar NU Jepara Diminta Terlibat Dalam Pembangunan Politik dan Demokrasi

Jepara, Siti Efi Farhati. Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kebangpol Linmas) Provinsi Jateng mengajak ormas dan tokoh masyarakat di Jepara dalam peningkatan dan penguatan peran politik ormas. Pihak Kesbangpol Jateng melihat ormas seperti IPNU-IPPNU Jepara memiliki posisi strategis sebagai partner pemerintah perihal menciptakan pemerintahan yang bersih dan bertanggung jawab.

Pelajar NU Jepara Diminta Terlibat Dalam Pembangunan Politik dan Demokrasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Jepara Diminta Terlibat Dalam Pembangunan Politik dan Demokrasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Jepara Diminta Terlibat Dalam Pembangunan Politik dan Demokrasi

Seruan ini disampaikan pada pertemuan Badan Kesbangpol Jateng bersama sejumlah ormas di DSeason Premiere Bandengan Jepara, pada Senin-Selasa (10-11/8).

Pada forum ini Miqdad Syaroni perwakilan IPNU Jepara bertanya soal persiapan pemilu serentak yang akan diadakan beberapa bulan mendatang.

Siti Efi Farhati

Sementara dosen Ilmu Pemerintahan Undip Semarang Susilo Utomo yang hadir ketika itu mengatakan, sebagai ormas IPNU-IPPNU Jepara harus berperan sebagai pelengkap pemerintah. “Jangan sampai menjadi bagian atau alat pemerintah.”

Sedangkan Kabid Organisasi Masyarakat dan Politik Dalam Negeri Heru Agus Susilo menambahkan bahwa pertemuan ini bertujuan membangun interaksi sosial bagi masyarakat dalam civil socity dan berpolitik bermartabat.

Siti Efi Farhati

“Membangun konsolidasi antarelemen yang strategis serta peningkatan kultur kelembagaan,” kata Heru. (Muhammad MS/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Budaya, Kajian Siti Efi Farhati

Ali Masykur: NU Tak hanya Punya Sarjana Agama

Jakarta, Siti Efi Farhati. Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) periode 2012-2012 telah dilantik oleh Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Sahal Mahfud  di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (24/4) malam. 

Ali Masykur: NU Tak hanya Punya Sarjana Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Ali Masykur: NU Tak hanya Punya Sarjana Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Ali Masykur: NU Tak hanya Punya Sarjana Agama

ISNU merupakan badan otonom NU termuda yang baru dikukuhkan dalam Muktamar ke-32 NU di Makassar 2010. Ketua Umum ISNU Ali Masykur Musa mengatakan, embrio ISNU sudah ada semenjak 19 November 1999 namun baru dikukuhkan pada Muktamar kepada 2010 dan pada awal tahun 2012 ISNU menyelenggarakan kongresnya yang pertama.

Dalam sambutannya usai pelantikan itu Ali Masykur mengatakan, para sarjana NU meliputi berbagai bidang seperti kesehatan, ekonomi, politik, hukum, sosial, dan bidang-bidang lain yang lebih spesifik.

Siti Efi Farhati

“NU tidak hanya punya sarjana agama. Banyak sarjana di berbagai bidang. Maka ISNU memanggil para sarjana NU untuk pulang, pulang dan pulang ke pangkuan NU,” katanya sembari menambahkan kepengurusan yang dipimpinya merupakan kabinet ‘empat kaki’ yang  merepresentasikan kaum ilmuan, birokrasi, pengusaha dan pekerja sosial di kalangan sarjana NU.

Siti Efi Farhati

Menurutnya, kelahiran Nahdlatul Ulama yang berarti kebangkitan para ulama didahului dengan tiga kebangkitan yang ditandai dengan berdirinya tiga organisasi, yakni kebangkitan politisi yang tercermin dalam organisasi Nahdlatul Wathan, kebangkitan intelektual dalam Tashwirul Afkar dan kebangkitan ekonomi dalam Nahdlatut Tujjar.

Ali Masykur yang juga anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada malam pelantikan itu mengajak para sarjana NU yang bergelut di berbagai bidang untuk kembali merapat ke NU. “Kita bersama-sama membangun NU dan komunitas Nahdliyin, serta bersama-sama membangun bangsa,” katanya.

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kajian, Sejarah Siti Efi Farhati

Jumat, 08 Desember 2017

KH Muslih Abdurrahman Mranggen

Bagi kaum thariqah di Indonesia, khususnya pengikut Thariqah Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah (TQN), nama KH Muslih Abdurrahman Mranggen tentu sudah sangat masyhur. Keberadaannya sebagai salah seorang mursyid TQN, yang sekaligus aktif dalam mengembangkan dan membesarkan Jamiyah Ahlit Thariqah Al-Muktabarah An-Nahdliyah (Jatman) hingga akhir hayat pada tahun 1981, membuat muridnya menyebut Kiai Muslih sebagai Abul Masyayekh dan Syeikhul Mursyidin.

Tak hanya itu, Kiai Muslih berjasa pula dalam mengusir penjajah Belanda dan Jepang, baik sebagai anggota laskar Hizbullah yang berlatih kemiliteran bersama Syeikh KH Abdulloh Abbas Buntet Cirebon dalam satu regu di Bekasi Jawa Barat, maupun ketika bergabung dengan komando pasukan Sabilillah yang beranggotakan para kiai/ulama di wilayah Demak selatan atau front Semarang wilayah Tenggara.

Kiai Muslih dilahirkan di Suburan Mranggen Demak, pada tahun 1908, dari pasangan Syekh KH Muslih bin Syeikh KH Abdurrohman dan Hj. Shofiyyah. Dari jalur ayah, silsilah kiai Muslih sampai kepada Syeikh Al-Jali atau Syeikh Al-Khowaji yang berasal dari Baghdad keturunan Sayyidina Abbas r.a, paman Nabi Muhammad saw. Sedangkan ibunya masih keturunan dari Sunan Ampel.

Sejak kecil Muslih sudah gemar ngaji. Tercatat, ia pernah berguru mulai dari ayahnya, Syekh KHAbdurrahman bin Qosidil Haq, hingga kepada para Masyayikh yang ada di Haromain, diantaranya Syeikh Yasin Al-Fadani Al- Makky. Kiai Muslih juga pernah menimba ilmu kepada Syeikh KH Ibrohim Yahya (Mranggen); KH Zuber, Syeikh Imam, Syeikh Imam, dan KH Maksum (Rembang); dan Syeikh Abdul Latif Al- Bantani. Selain itu, Kiai Muslih juga pernah belajar di Pesantren Termas Pacitan.

KH Muslih Abdurrahman Mranggen (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Muslih Abdurrahman Mranggen (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Muslih Abdurrahman Mranggen

Dari hasil pendidikannya tersebut Kiai Muslih mendapatkan banyak ilmu seperti ilmu kalam Bahasa Arab, tauhid, fiqh, tafsir, hadist, Ilmu Tasawwuf dan berbagai ilmu lainnya.

Membesarkan Pesantren Futuhiyyah

Pondok Pesantren Futuhiyyah yang diasuh ayahnya mengalami rehabilitasi pada tahun 1927 M. Saat itu sudah ada puluhan santri yang ikut ngaji, namun aktifitas Madrasah tersebut menjadi terhenti, setelah diminta oleh NU cabang Mranggen. 

Siti Efi Farhati

Selang beberapa waktu, Syekh KH Muslih berusaha mendirikan kembali Madrasah Diniyyah Awaliyyah Futuhiyyah di komplek Pesantren Futuhiyyah. Kali ini ia mengambil sikap, jika NU ingin mengelola Madrasah lagi supaya mendirikan sendiri. Keputusan tersebut  diambil karena, dua kali Futuhiyyah mendirikan Madrasah, yakni pada tahun 1927 dan 1929 M, dua kali pula diminta oleh NU Cabang Mranggen dengan cara Bedol Madrasah, yakni murid dan gurunya dipindah tempat, yang kemudian dikelola oleh NU Cabang Mranggen. Hal tersebut menjadikan aktivitas di Futuhiyyah menjadi sedikit terkendala.

Siti Efi Farhati

Setelah madrasah baru yang didirikan oleh Kiai Muslih berjalan lancar, satu tahun kemudian beliau kembali mondok ke Termas dan pengelolaan madrasah diserahkan kepada adiknya, KH Murodi, yang baru pulang mondok dari Lasem. NU Cabang Mranggen, akhirnya juga dapat mendirikan sendiri Madrasah Diniyyah Awaliyyah dan dapat bertahan hingga sekarang, di Kauman Mranggen, yang dikenal kemudian dengan nama Madrasah Ishlahiyyah.

Kiai Muslih saat datang di Termas, langsung diminta oleh KH Ali Maksum (Krapyak Yogya), selaku kepala Madrasah di Termas saat itu, untuk mengajar kelas Alfiyyah. Semula Kiai Muslih menolak, dengan alasan belum mampu mengajar Alfiyyah. Namun setelah dibujuk gurunya, dia pun bersedia. Di Termas pula, Kiai Muslih belajar bagaimana cara mengajar yang baik dan bagaimana menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran sistem klasikal (madrasah).

Dengan berbekal Ilmu yang lebih luas dan pengalaman selama menjadi guru madrasah Tsanawiyyah di Termas itulah, pada tahun 1935 M Kiai Muslih pulang dan bermukim kembali di Suburan Mranggen. Dengan tekad untuk mengembangkan Pesantren Futuhiyyah Suburan Mranggen. Pada tahun 1936 M berdirilah Madrasah Ibtida’iyyah. Madarasah tersebut terus berkembang dan bertahan sampai sekarang.

Ada hal yang menarik pada saat proses penerimaan siswa baru. Pada saat itu meskipun belum ada radio, tidak ada stensil, tidak ada pula mesin tulis apalagi fotocopy, namun info tentang madrasah di Mranggen berkembang luas. Banyak sekali calon santri, baik yang berasal dari desa-desa wilayah kecamatan Mranggen dan sekitarnya hingga Gubug-Purwodadi, berdatangan. Hal ini terjadi karena tersiarnya berita bahwa di pondok Suburan Mranggen telah muncul seorang tokoh kiai yang alim, siapa lagi kalau bukan Kiai Muslih Abdurrahman. (Ajie Najmuddin)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kajian, Pahlawan, Olahraga Siti Efi Farhati

Kamis, 07 Desember 2017

Banom dan Lembaga NU NTB Santuni Yatim

Mataram, Siti Efi Farhati

Gabungan badan otonom dan lembaga Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat (NTB) menyantuni anak yatim di Aula PWNU NTB Jalan Pendidikan No 6 Kota Mataram Sabtu (02/07) sore.

Banom dan Lembaga NU NTB Santuni Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Banom dan Lembaga NU NTB Santuni Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Banom dan Lembaga NU NTB Santuni Yatim

Banom yang tergabung dalam santunan ini adalah PW GP Ansor NTB, Lakpesdam NU NTB dan PC GP Ansor Mataram.

"Ini bertujuan untuk membangun kebersamaan dan memperkuat silaturrahim serta berbagi dengan anak yatim," kata Viken Madrid, koordinator acara sekaligus ketua Lakpesdam NU NTB ini.

Pihaknya ingin berbagi saja, tambahnya, agar anak-anak yatim merasakan rezeki dari NU melalui badan otonomnya.

"Semoga ke depan kami bisa berbagi tidak hanya di bulan Ramadhan, tapi di bulan-bulan biasa juga penting karena ini anak yatim," harapnya.?

Siti Efi Farhati

Puluhan pengurus banom tampak hadir dan puluhan yatim dari Panti Asuhan Al-Amin Kota Mataram juga tampak semangat. (Hadi/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Kajian, Aswaja Siti Efi Farhati

Selasa, 05 Desember 2017

PBNU Panggil Anggota DPR dari NU untuk Bantu Korban Lapindo

Jakarta, Siti Efi Farhati. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memanggil sejumlah anggota DPR RI dan DPRD yang berlatar belakang NU, di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Selasa (12/6). Para wakil rakyat tersebut diminta untuk membantu menuntaskan kasus semburan lumpur panas Lapindo, di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur.

Hadir dalam kesempatan tersebut, antara lain, Lukman Hakim Saifudin, Soelaeman Fadli, Mahfudloh Ali Ubaid, Mahsusoh Tosari Wijaya, Imron Rofii (Fraksi PPP), Abdullah Azwar Anas, Khofifah Indar Parawansa (Fraksi PKB), Ichwan Syam (Fraksi Golkar), Muhamad Hasib Wahab (Fraksi PDIP).

Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi meminta kepada para anggota legislatif itu untuk bekerja keras menyelasaikan kasus akibat bencana lumpur panas yang telah melumpuhkan perekonomian Jatim tersebut, terutama para korbannya yang hingga kini nasibnya masih terkatung-katung.

PBNU Panggil Anggota DPR dari NU untuk Bantu Korban Lapindo (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Panggil Anggota DPR dari NU untuk Bantu Korban Lapindo (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Panggil Anggota DPR dari NU untuk Bantu Korban Lapindo

“Saya minta, kita semua bekerja keras dengan niat tulus membantu mereka (korban Lapindo). Kalau tidak tulus, saya tidak mau. Jangan ada yang bermanuver politik untuk kepentingan pribadi, jangan ada yang carmuk (cari muka), jangan ada yang makelaran atau berbisnis bencana,” pinta Hasyim.

Sebab, kata Hasyim, warga korban lumpur Lapindo, saat ini disulitkan dan trauma oleh ulah para ‘makelar’ atau pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan bencana tersebut untuk kepentingan ekonomis-pribadi semata. Akibatnya, para korban sudah tidak percaya lagi pada siapa pun dan pihak mana pun, termasuk pemerintah sendiri.

PBNU sendiri, ujar mantan Ketua Pengurus Wilayah NU Jatim itu, akan melakukan silaturrahim dengan berbagai pihak untuk mencari jalan keluar bagi penanganan dan penuntasan bencana yang sudah berlangsung satu tahun tersebut.

Siti Efi Farhati

“PBNU akan melakukan silaturrahim dengan berbagai pihak; pemerintah atau lembaga-lembaga negara, organisasi kemasyarakatan lainnya dan warga korban Lapindo. Tujuannya untuk mencari solusi terbaik bagi masalah ini,” ungkap Hasyim yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang, Jatim, itu.

Siti Efi Farhati

Sebelumnya, dalam kesempatan yang sama, Ketua Pengurus Cabang NU Sidoarjo Abdul Manaf menjelaskan, warga trauma dengan ulah makelar bencana yang seolah-olah ingin membantu padahal hanya memanfaatkan keadaan saja.

?

"Warga berharap ada langkah cepat untuk membantu mengatasi mereka," kata Manaf.

Dia mengungkapkan, warga korban lumpur terbagi atas tiga kelompok. Mereka adalah yang meminta ganti rugi 100 persen, meminta relokasi sementara namun tidak mau tanah mereka dijual, dan yang meminta relokasi dengan ganti rugi. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati PonPes, Kajian Siti Efi Farhati

Jumat, 01 Desember 2017

Masjid Keramat Luar Batang Jakarta Butuh Perhatian Serius

Jakarta, Siti Efi Farhati. Masjid kuno Luar Batang di kawasan cagar budaya di Jakarta Utara membutuhkan perhatian dari pemerintah pusat dan daerah, khususnya dalam pembangunan dua menaranya.

"Kami minta pemerintah pusat maupun pemerintah DKI Jakarta dapat memberikan perhatian serius untuk pembangunan masjid dan pemugarannya," kata Humas Masjid Jami Keramat Luar Batang Yudo Sukmono di Jakarta, Rabu.

Masjid Keramat Luar Batang Jakarta Butuh Perhatian Serius (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Keramat Luar Batang Jakarta Butuh Perhatian Serius (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid Keramat Luar Batang Jakarta Butuh Perhatian Serius

Dia menjelaskan, untuk saat ini pihaknya masih membutuhkan biaya untuk membangun dua menara di masjid yang dibangun pada 1732 oleh Habib Husein bin Abubakar.

Siti Efi Farhati

Masjid Jami Keramat Luar Batang yang di dalamnya terdapat makam ulama besar Habib Husein bin Abubakar dan muridnya, Haji Abdul Kadir, ditetapkan sebagai benda cagar budaya berdasarkan peraturan daerah khusus Ibukota Jakarta Nomor 9 tahun 1999.

Siti Efi Farhati

Ia mengatakan Habib Husein merupakan orang dari Yaman Selatan yang menetap di Luar Batang dan menyebarkan agama Islam di kawasan tersebut.

"Saat ini sudah ada dua menara dan pihak pembangunan merencanakan akan membangun dua lagi sehingga totalnya empat menara," katanya.

Namun Yudo Sukmono juga menyayangkan renovasi yang dilakukan sebelumnya karena telah menghilangkan banyak keasliannya.

Ia menambahkan, pembangunan masjid bersejarah yang berada di Jalan Luar batang V No 1 Penjaringan Jakarta Utara tersebut banyak bersumber dari sumbangan masyarakat.

"Banyak masyarakat yang datang dari berbagai provinsi di Indonesia bahkan luar negeri untuk mencari keberkahan melalui ziarah ke makam Habib Husein," katanya.

Ia mengatakan jumlah pengunjung pada bulan Ramadhan tidak terlalu banyak dibanding bulan-bulan lainnya.

"Sebelum Ramadhan tiba, kita telah melakukan khatam ziarah. Artinya, kegiatan mengakhiri ziarah sebelum Ramadhan dan jika ada yang datang selama bulan suci juga tidak ada masalah," katanya.

Ia menambahkan, ziarah ke makam Habib Husein hanya akan ditutup waktu shalat lima waktu.

Karena itu, pihaknya berharap Pemerintah dapat memberikan perhatian serius di tempat makam keramat yang banyak dikunjungi masyarakat dari berbagai penjuru. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati RMI NU, Kajian, Kajian Islam Siti Efi Farhati

Kamis, 23 November 2017

Peringati Isra’ Mi’raj, Santri Hindun Anisah Adakan Jalan Sehat dan Sima’an

Yogyakarta, Siti Efi Farhati. “Olahraga  merupakan kegiatan yang jarang sekali dilakukan oleh para santri dikarenakan kesibukan para santri dimulai dari bangun tidur hingga malam. Kurangnya waktu untuk berolahraga cenderung membuat tubuh mudah sakit.”

Demikian disampaikan oleh Nurainy Salimah, Ketua Panitia Peringatan Isra’ Mi’raj Pesantren Tahfidz Putri Hindun Anisah Krapyak Yogyakarta (24/04). Kegiatan Isra’ Mi’raj diadakan bersama para santri putri Pesantren Ali Maksum, dimulai pukul 05:00 pagi di depan halaman pesantren dan berakhir di alun-alun Kidul Yogyakarta. 

Peringati Isra’ Mi’raj, Santri Hindun Anisah Adakan Jalan Sehat dan Sima’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Isra’ Mi’raj, Santri Hindun Anisah Adakan Jalan Sehat dan Sima’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Isra’ Mi’raj, Santri Hindun Anisah Adakan Jalan Sehat dan Sima’an

“Kebetulan ada hari libur Isra’ Mi’raj kami berinisiatif mengajak seluruh santri untuk berolahraga. Ternyata mereka sangat antusias sekali dan kompak.Kami juga sudah menyiapkan senam dan games untuk dimainkan di Alun Alun Kidul,” kata Nurainy sembari menyiapkan peserta.

Sambil menikmati udara pagi Alun-Alun Kidul yang masih segar, para santri duduk berkelompok sambil membaca Al-Qur’an secara bergantian. “Sima’an ini sudah menjadi tradisi kami dalam setiap kegiatan yang kami adakan. Seperti piknik, jalan jalan. Biasanya dilakukan secara berkelompok sesuai perolehan juz masing-masing. Ini merupakan ikhtiar kami agar mendapat keberkahan dan dimudahkan urusannya oleh Allah,” ujar Miftah salah satu peserta jalan sehat tersebut. 

Siti Efi Farhati

Setelah mengikuti senam sehat dan games, para santri putri masih terlihat bersemangat memperebutkan doorprize yang dibagikan oleh panitia. Beberapa pengunjung Alun Alun Kidul terlihat ikut mengabadikan keseruan peserta jalan sehat. Sekitar 100 peserta yang ikut dalam kegiatan ini. 

“Acara ini sangat bermanfaat buat kesehatan badan dan juga untuk menjaga kebersamaan. Semoga bisa diadakan secara rutin di tahun depan,” tutur Usria selaku panitia jalan sehat. Mengutip salah satu mahfudzat,  alaqlus salim fil jismis salim. Akal yang sehat itu terletak pada badan yang sehat. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Kajian Siti Efi Farhati

Rabu, 22 November 2017

Penyair Akhir Zaman

Oleh Khairul Umam

;ketika pertanyaanmu dibalas tanya

Penyair Akhir Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Penyair Akhir Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Penyair Akhir Zaman

Ketika penguasa tak dapat menjawab persoalan

Kesejahteraan yang macet

Keadilan yang njlimet

Dan kemanusiaan yang ruwet

Siti Efi Farhati

Maka tuhan menciptakan penyair di dunia

Siti Efi Farhati

Seketika, hujan kata-kata sinis membasahi jidat para penguasa

Dibuatnya banjir gedung pemerintahan dengan kalimat-kalimat desakan

Konsep puisi sama halnya dengan demokrasi, katanya

Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat

Bahkan lebih luas, imbuhnya

Dari semesta, oleh semesta, dan untuk semesta

Atau jangan-jangan konsep puisi tak terbatas, sang penyair kebingungan

Hei penyair, apakah puisimu bisa memberi makan kami?

Kata seorang pengemis

Hei penyair, apakah puisimu bisa mengembalikan rumah kami yang digusur?

Kata seorang transmigran

Hei penyair, apakah puisimu bisa mengairi sawah-sawah kami yang kekeringan?

Kata seorang petani

Hei penyair... Hei penyair... Hei penyair...

Tiba-tiba penyair dibuat pusing dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak bisa ia jawab itu

Begini saja,

Saya mau istikhoroh dulu

Ooo dasar penyair

Kerjaannya selalu nyepi

Kalu gak nyepi ya ngopi

Yogyakarta, 2017

?

Penulis dikenal juga Bani Kamhar yang sering disebut sebagai penyair salon oleh teman-temannya, warga di Paguyuban Alumni Nurul Jadid Yogyakarta (PANJY) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Rayon Pondok Syahadat Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.



Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati RMI NU, Kajian, Amalan Siti Efi Farhati

Sabtu, 18 November 2017

IPNU-IPPNU Purworejo Gelar Refleksi Sumpah Pemuda

Purworejo, Siti Efi Farhati. Dalam rangka memperingati sumpah pemuda, IPNU – IPPNU Cabang Purworejo bersama siswa-siswi MTs Ma’arif NU Cangkrep menggelar refleksi peristiwa 84 tahun yang sangat bersejarah dan mengubah paradigma berfikir para pemuda Indonesia saat itu.

Refleksi tersebut merupakan salah satu agenda dari rangkaian acara yang dilaksanakan selama 2 hari (27-28/10).

IPNU-IPPNU Purworejo Gelar Refleksi Sumpah Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Purworejo Gelar Refleksi Sumpah Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Purworejo Gelar Refleksi Sumpah Pemuda

Alhamdulillah para siswa sangat antusias mengikuti kegiatan ini, sebanyak 214 siswa sebelum refleksi sumpah pemuda ini, mereka telah diberi materi tentang kepemimpinan, keorganisasian, Aswaja, ke-NU-an dengan diselingi oleh penampilan pentas seni dari para siswa, kemudian paginya diadakan outbond dan pemilihan pengurus komisariat IPNU IPPNU,” kata Subhan, salah satu pengampu kegiatan.

Siti Efi Farhati

Selain untuk mengisi waktu libur hari Raya Idul Adha, kegiatan ini dimaksudkan untuk menambah jiwa nasionalisme dan patriotisme para siswa.

Refleksi 84 tahun Sumpah Pemuda diawali dengan menyanyikan lagu-lagu perjuangan, kemudian mengucapkan bersama ikrar sumpah pemuda dan diakhiri dengan renungan perjuangan.

Siti Efi Farhati

“Perjuangan bangsa Indonesia yang awalnya masih bersifat kedaerahan, berkat sumpah pemuda para pemuda bisa bersatu untuk bersama-sama memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Kalau para pahlawan berjuang bertaruh nyawa, sekarang perjuangan kita hanya bertaruh malas,” terang Lukman Hakim, pengurus IPNU mengawali uraian refleksinya. 

Refleksi sumpah pemuda berlangsung khidmah, bahkan beberapa siswa sampai menangis haru. “Saya sangat terharu, mengenang perjuangan para pahlawan yang rela mati berjuang untuk kemerdekaan,” kata Asep salah satu peserta.

Isnas Dhi Safana salah satu pengurus IPPNU berharap semoga setelah para siswa melaksanakan refleksi, mereka bisa memahami pentingnya persatuan serta betapa kemerdekaan Indonesia diperoleh bukan tanpa pengorbanan.

“Masa depan negeri ini ada di tangan mereka, refleksi tahun ini semoga bermanfaat bagi mereka, agar menjadi pemuda-pemuda yang bermanfaat bagi agama, nusa dan bangsa,” imbuhnya.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Lukman Khakim

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati News, Warta, Kajian Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock