Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Maret 2018

Peduli Sesama, Pelajar NU Bojonegoro Bagikan 300 Takjil

Bojonegoro, Siti Efi Farhati. Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulamadan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Kabupaten Bojonegoro membagikan 300 takjil di Pertigaan Jambean Jalan A. Yani Bojonegoro, Jawa Timur, paada Sabtu (3/8).

Peduli Sesama, Pelajar NU Bojonegoro Bagikan 300 Takjil (Sumber Gambar : Nu Online)
Peduli Sesama, Pelajar NU Bojonegoro Bagikan 300 Takjil (Sumber Gambar : Nu Online)

Peduli Sesama, Pelajar NU Bojonegoro Bagikan 300 Takjil

Ketua panitia pembagian takjil, Siti Masulah mengatakan, kegiatan tersebut sebagai ungkapan peduli sesama pelajar NU Bojonegoro terhadap umat Islam yang menjalankan ibadah puasa.

Ia menambahkan, aktivis pelajar NU Bojonegoro langsung terjun dengan masyarakat membagikan 300 takjil berupa es buah dan kurma. “300 paket takjil tersebut hanya berlangsung kurang 30 menit sudah habis dibagikan,” ungkapnya.

Siti Efi Farhati

Paket-paket itu, kata dia, dibagikan untuk pengguna jalan raya dan utamanya para tukang becak. Lokasinya di tiga lampu merah jurusan jalan A. Yani, Gajah Mada dan jurusan Driyen.

Siti Efi Farhati

"Tujuan barbagi takjil ini untuk berbagi dengan sesama, sesuai dengan tema Ramadhan bil Hikmah wal Barokah," ujarnya.

Sementara itu, ketua PC IPNU Bojonegoro Misbakhul Munir mengaku, memberikan takjil buka puasa untuk pengguna jalan yang kemungkinan tidak membawa bekal untuk terbuka. "Semoga ini bisa memberikan manfaat terhadap sesama," pungkasnya.

Redaktur    : Abdullah alawi

Kontributor: Muhammad Yazid

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sejarah Siti Efi Farhati

Rabu, 21 Februari 2018

Wisuda Ke-10, STAINU Pacitan Siap Bertransformasi Jadi Institut

Pacitan, Siti Efi Farhati. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Pacitan, Jawa Timur, Ahad (18/12) menggelar rapat senat terbuka dalam rangka wisuda sarjana strata satu (S1) ke X. Sebanyak 110 mahasiswa program Pendidikan Agama Islam (PAI) dan 27 mahasiswa program Manajemen Pendidikan Islam (MPI) dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd).

Wisuda Ke-10, STAINU Pacitan Siap Bertransformasi Jadi Institut (Sumber Gambar : Nu Online)
Wisuda Ke-10, STAINU Pacitan Siap Bertransformasi Jadi Institut (Sumber Gambar : Nu Online)

Wisuda Ke-10, STAINU Pacitan Siap Bertransformasi Jadi Institut

Ketua STAINU Pacitan, KH Imam Faqih Sudjak, dalam sambutnya menyampaikan rasa terima kasihnya kepada masayarakat Pacitan yang telah memilih STAINU Pacitan sebagai tempat menimba ilmu bagi putera-puterinya.

Sebagai wujud terima kasih atas kepercayaan dari masyarakat, katanya, tahun 2016 STAINU Pacitan terus mengembangkan diri dan tengah mengajukan alih status menjadi Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama, yang saat ini masih berproses di Dirjen Pendidikan Tinggi Agama Islam. STAINU Pacitan telah memiliki tiga program studi, yaitu Pendidikan Agama Islam, Manajemen Pendidikan Islam dan Ekonomi Syariah.

“Kami melangkah sudah cukup jauh. Kami akan beralih status menjadi IAINU Pacitan dan setelah itu akan terus berupaya hingga menjadi Universitas Nahdaltul Ulama atau UNU Pacitan dan itu adalah cita-cita kami,” kata Kiai Faqih dihadapan ratusan undangan.

Kiai Faqih yang juga Rais Syuriyah PCNU Pacitan itu memohon dukungan dari seluruh masyarakat, agar niat dan usaha STAINU Pacitan tersebut dapat segera tercapai. ”Semoga upaya kita selalu mendapat kemudahan dan ridho dari Allah SWT,” harapanya.

Siti Efi Farhati

Dalam kesempatan itu, Kiai Faqih berpesan kepada seluruh wisudawan agar senantiasa memiliki kematangan aqidah ahlussunnah wal jamaah dan memiliki budi pekerti yang luhur. Para wisudawan diharap dapat mempraktekkan serta mengembangkan ilmu yang telah diperoleh dari bangku perkuliahan.

“Kami mengucapkan selamat, dan mudah-mudahan ilmu kalian berguna dan bermanfaat untuk masyarakat, bangsa, fiddin wal akhirat,” tutupnya.

Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Pacitan, Suko Wiyono, yang mewakili Bupati Pacitan H Indartato, dalam sambutnya menyampaikan apresiasi yang tinggi atas kontribusi STAINU Pacitan dalam mencetak sarjana pendidikan Islam. STAINU, katanya, merupakan salah satu kampus unggulan. “Jadi tidak keliru, kalau anda kuliah di kampus STAINU Pacitan,” tuturnya disambut tepuk tangan oleh seluruh wisudawan.

Siti Efi Farhati

Sekda menyampaikan pesan dari Bupati Pacitan, agar para alumni STAINU tidak berhenti belajar dan diharap terus menimba ilmu serta mengembangkan keilmuanya. ”Masa depan kalian masih panjang dan luas. Jadi jangan pernah berhenti belajar,” pesanya.?

Hadir dalam acara wisuda yang digelar di Pendopo Kabupaten Pacitan itu, Alim Ulama dan para Kiai, pengurus PCNU Pacitan dan Banomnya, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Fokopimda) Kabupaten Pacitan, dan undangan lainya. (Zaenal Faizin/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sejarah, Nasional Siti Efi Farhati

Selasa, 13 Februari 2018

Dies Natalis Ke-13, STAINU Jakarta Angkat Tema Islam Nusantara

Jakarta, Siti Efi Farhati. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta akan menggelar peringatan hari lahir atau Dies Natalis yang ke-13 pada Ahad, (3/5) di Kampus Jl Taman Amir Hamzah No 5 Jakarta Pusat dengan mengangkat tema ‘Kita adalah Islam Nusantara’.

“Dengan tema ini, STAINU Jakarta ingin menegaskan komitmennya sebagai kampus yang istiqomah memperjuangkan dan menegakkan nilai-nilai Islam Nusantara,” tegas Pembantu Ketua (Puka) IV STAINU Jakarta, Aris Adi Leksono, MMPd saat dihubungi Siti Efi Farhati, Selasa (28/4) di Jakarta.

Dies Natalis Ke-13, STAINU Jakarta Angkat Tema Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Dies Natalis Ke-13, STAINU Jakarta Angkat Tema Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Dies Natalis Ke-13, STAINU Jakarta Angkat Tema Islam Nusantara

Aris menambahkan, untuk itulah STAINU Jakarta ke depan akan membuka program studi dengan ciri khas Islam Nusantara seperti Tasawuf, Ilmu Falak, Pariwisata Haji dan Umroh, dan lain-lain.?

Siti Efi Farhati

“Sebelumnya, STAINU Jakarta juga konsisten dengan mata kuliah khas NU dan Islam Nusantara, yakni Arummanis (Aurod, Rawatib, Mawalid, Manaqib, dan Istighotsah),” imbuhnya.

Siti Efi Farhati

Menurut keterangannya, acara puncak pada Ahad besok, akan digelar orasi ilmiah oleh Ketum PBNU Prof Dr KH Said Aqil Siroj dan Budayawan, Dr Radhar Panca Dahana tentang Islam dan Budaya Nusantara. Selain itu, rangkaian acara sebelumnya akan diadakan pembacaan manaqib, tahlil, shalawat, dan selayang pandang dari para pendiri STAINU Jakarta.

Kemudian, tambah Aris, STAINU Jakarta juga mengadakan rangkaian kegiatan seperti FGD Islam Nusantara, tanam 1300 pohon, Festival Islam Nusantara, Training Leader Campus, ToT Kerajinan Tangan, Baksos, dan Pengobatan gratis.

“STAINU juga akan meluncurkan kedai kopi Nusantara yang akan dipadukan dengan Taman Baca Masyarakat di sekitar Kampus,” pungkas Aris. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sejarah, Ubudiyah, Amalan Siti Efi Farhati

Sabtu, 10 Februari 2018

Ketika Nabi Zakaria Mengharap Kehadiran Anak

Pasangan suami istri itu sudah lama mengharapkan kehadiran anak. Namun, tanda-tanda kehamilan tak pernah kelihatan. Hari-harinya sebagai suami istri kian terasa sepi tanpa kehadiran seorang bayi.

Waktu terus berjalan. Suami sudah makin menua. Sementara sang istri, seperti disambar petir di siang hari, divonis mandul sejumlah ahli. Harapan itu seperti kian menjauh dari kenyataan. Harapan hanya tinggal harapan, gumamnya dalam hati ketika sedang sendiri.

Ketika Nabi Zakaria Mengharap Kehadiran Anak (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Nabi Zakaria Mengharap Kehadiran Anak (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Nabi Zakaria Mengharap Kehadiran Anak

Namun, laki-laki itu tak putus asa. Walau rambutnya terus memutih, ia tak henti berharap pada Sang Ilahi. Ia terus berdoa agar dirinya dikaruniai seorang anak yang kelak akan melanjutkan ajaran ketuhanan orang tuanya. Laki-laki itu bernama Nabi Zakaria Alaihissalam. Sejumlah buku menyebut Elizabith sebagai nama istri Nabi Zakaria.

Alkisah, pagi itu posisi matahari sudah agak meninggi. Seperti ada yang mendesak, Nabi Zakaria terdorong masuk ke mihrab salah satu kerabat dekatnya yang sedang bertapa, Siti Maryam atau Maria, Zakaria kaget. Ia menemukan makanan dan buah-buahan segar di kamar Maria. Kejadian ini tak hanya sekali, melainkan berkali-kali. Al-Qur’an mengisahkan, “setiap kali Zakaria memasuki mihrab Maria, ia selalu menemukan makanan di sisi Maria”.

Suara batin Zakaria mulai bicara. Bagaimana mungkin Maria yang tak pernah keluar dari mihrabnya bisa ada makanan di sisinya. Zakaria memberanikan diri bertanya, “dari mana makanan itu berasal?”. Maria menjawab, “itu dari Allah”. Jawaban Maria memotivasi Zakaria untuk berharap anugerah dari Allah.

Zakaria meminjam mihrab Maria untuk berdoa. Dalam al-Qur’an disebutkan, “hunalika da’a Zakariah rabbah” (di lokasi itu Zakaria mengadu pada Tuhannya). Ia berdoa, “Ya Allah, karuniakanlah kepadaku keturunan yang baik dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa”.

Siti Efi Farhati

Zakaria masih berdiri dalam shalatnya, tiba-tiba Jibril datang membawa berita gembira, tentang akan lahirnya sang anak bernama Yahya yang akan menjadi pembenar firman Allah, menjadi panutan banyak orang. Bahkan, seperti ayahnya, Yahya juga akan diangkat menjadi seorang nabi.

Doa Nabi Zakaria dikabulkan Allah. Ia mempunyai anak bernama Nabi Yahya. Bagaimana doanya bisa dikabulkan? Dia berdoa dalam waktu mustajabah, yaitu ketika sedang berdiri dalam shalat, ketika tak ada lagi jarak antara hamba dan Allah. Dalam shalat kita, persis dalam momen iyyaka nabudu wa iyyaka nastain.

Tak hanya berdoa dalam waktu mustajabah. Nabi Zakaria juga berdoa di lokasi mustajabah, di mihrab tempat Maria berdoa.

Seperti Nabi Zakaria, sekiranya kita berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Allah di waktu mustjabah, di lokasi mustajabah seperti Multazam, Raudhah, dan rumah-rumah Allah lainnya, maka insyaAllah semua harapan akan menjadi kenyataan.

Siti Efi Farhati

Bulan ini adalah bulan Ramadan, momen dipenuhinya semua doa dan harapan. Semoga doa-doa kita dikabulkan. Bagi keluarga-keluarga yang mengharapkan keturunan, semoga akan segera menjadi kenyataan. Amin, ya mujibas sa’ilin.

KH Abdul Moqsith Ghazali, Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU.

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sejarah Siti Efi Farhati

Jumat, 02 Februari 2018

Gus Mus: Jangan Sampai Islam “Mahjubun bil Muslimin”

Amsterdam, NU Online. Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri menemui delegasi Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) dari berbagai negara di kawasan Eropa dan Mediterania usai melantik PCINU Belanda di Amsterdam, Ahad 18 Januari 2015 lalu.

Sehari sebelumnya delegasi PCINU menghadiri acara sarasehan dan rapat koordinasi yang mengusung tema “Globalising ‘Islam Nusantara’: Envisioning Indonesian Muslim Diaspora’s Role In The International Arena.”

Dalam kesempatan itu Gus Mus menyatakan dukungan atas pelaksanaan sarasehan dan rapat koordinasi PCINU ini. Gus Mus menekankan bahwa kerjasama regional semacam ini sangat penting agar dakwah Islam Nusantara lebih dikenal di dunia Barat.

Gus Mus: Jangan Sampai Islam “Mahjubun bil Muslimin” (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Jangan Sampai Islam “Mahjubun bil Muslimin” (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Jangan Sampai Islam “Mahjubun bil Muslimin”

Menurut Gus Mus, Islam Nusantara adalah manifestasi Islam yang otentik yang sanad keilmuan dan kerohaniannya bersambung langsung pada Nabi Muhammad SAW.

“Kalau Nabi bersabda, ‘alaykum bis-sawadil-a’zham (ikutilah mayoritas ulama yang agung), maka siapa lagi yang dimaksudkan jika bukan ulama pendukung Islam Nusantara?” tekan Gus Mus. Islam Nusantara inilah yang selalu Gus Mus sampaikan dalam banyak kunjungan ke berbagai negara dan pertemuan dengan para pemimpin dunia.

Namun ada pertanyaan yang kerap diajukan kepada Gus Mus dan sulit untuk dijawab: “Mengapa Islam Nusantara ini tidak banyak dikenal oleh masyarakat Barat? Mengapa Islam Nusantara tenggelam oleh suara-suara Islam radikal yang menggunakan cara kekerasan sebagai ekspresi utamanya?”

Siti Efi Farhati

Menurut Gus Mus, hal itu karena banyak umat Islam sendiri yang kerap menampilkan Islam yang justru bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad. “Kalau dulu ada ungkapan al-Islam mahjubun bil-muslimin (agama Islam dikaburkan oleh pemeluknya sendiri), maka yang kini terjadi adalah al-Islam mardudun bil-muslimin (agama Islam diingkari oleh pemeluknya sendiri).” Hal ini diperparah dengan gejala Islamophobia yang makin meningkat dewasa ini.

Untuk merespon hal tersebut, Gus Mus berpesan kepada semua delegasi PCINU agar merapikan aspek jam’iyyah NU dengan melakukan konsolidasi organisasi, tertib manajemen, dan pemetaan SDM.

“Jika para pengurus NU bisa merapikan aspek jam’iyyah ini, maka harapan dunia atas peran penting Islam Nusantara dapat diwujudkan. Kalau masalah ini bisa dijawab, maka NU akan bisa menjawab masalah dunia.”

Siti Efi Farhati

Di akhir pertemuan, para delegasi PCINU mendapat kesempatan untuk menyampaikan masalah yang dihadapi di negara masing-masing, juga usulan dan harapan terkait peran NU di pentas global.

Salah satu usulan penting yang diajukan adalah menjadikan negeri Belanda sebagai ujung tombak untuk dakwah Islam Nusantara di Eropa. Hal ini mengingat keberadaan Muslim Indonesia di Belanda yang cukup besar, dukungan organisasi masyarakat Muslim Indonesia yang cukup kuat, di samping banyak sekali manuskrip Islam Nusantara yang tersimpan di arsip dan perpustakaan perguruan tinggi dan museum di Belanda.

Salah satu bentuk konkrit upaya ini adalah dengan pengiriman ustadz yang berpaham ahlussunnah wal jamaah (Aswaja) dari Indonesia dan pengembangan lembaga pendidikan sejenis pesantren melalui kerja sama dengan organisasi Muslim Indonesia yang ada di Belanda.

Menanggapi hal ini, Rais ‘Am PBNU meminta agar usulan ini bisa dirumuskan lebih konkret untuk dibahas di forum muktamar NU yang akan datang di samping untuk disampaikan ke Pemerintah RI.

Alhasil, seperti sambutan perwakilan KBRI Danang Waskito, program-program yang bermanfaat bagi masyarakat Muslim Indonesia khususnya dan umat Islam pada umumnya sudah dinanti-nantikan dari PCINU Belanda yang baru dilantik ini. Selamat bekerja! (Mohamad Shohibuddin/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nasional, Sejarah Siti Efi Farhati

Minggu, 28 Januari 2018

PMII Temanggung Galang Dana untuk Korban Banjir Kendal

Temanggung, Siti Efi Farhati - Musibah banjir yang menimpa warga Dusun Kenjuran Desa Purwosari Kecamatan Sukorejo Kabupaten Kendal beberapa hari lalu menjadi perhatian aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Temanggung. Mereka menggelar aksi solidaritas dengan penggalangan dana bencana di persimpangan Jalan Suwandi Suwardi Kowangan Temanggung, Kamis (2/3) siang.

Puluhan mahasiswa tampak mengenakan jas biru (almamater PMII) dan menenteng kardus dengan sabar menyambangi satu per satu penggendara sepeda motor maupun mobil yang melintas atau berhenti di perempatan tersebut.

PMII Temanggung Galang Dana untuk Korban Banjir Kendal (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Temanggung Galang Dana untuk Korban Banjir Kendal (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Temanggung Galang Dana untuk Korban Banjir Kendal

Koordinator lapangan aksi penggalangan dana Muhammad Sirojul Umam? mengatakan, kegiatan penggalangan dana ini digelar sebagai respon keprihatinan terhadap sesama atas terjadinya bencana banjir bandang dahsyat yang melanda Dusun Kenjuran Desa Purwosari Kecamatan Sukorejo Kabupaten Kendal beberapa waktu lalu.

"Bencana di Kenjuran kami anggap cukup dahsyat karena mengakibatkan dua warga hilang dan belum diketemukan sampai sekarang. Selain itu terdapat kerugian material setelah 11 rumah hancur, 3 rata dengan tanah, serta 3 bangunan lain turut terseret aliran banjir," jelasnya, Kamis (2/3).

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati

Umam membeber, aksi galang dana sekitar tiga jam kemarin berhasil menggalang bantuan sebesar Rp.1.040.000. Dana yang terkumpul nantinya akan diserahkan kepada korban pengungsi yang mencapai 300 jiwa baik berupa uang tunai atau bantuan logistik barang seperti makanan, obat-obatan, dan pakaian. "Aksi galang dana ini? rencananya akan dilakukan selama tiga hari ke depan," ucapnya.

Ketua PMII Temanggung Arief Safrodin menambahkan, aksi galang dalang sepertinya bukan kali pertama. Ia bersama pengurus dan kader PMII Temanggung rutin menggelar aksi galang dana setiap ada bencana besar.

“Sebelumnya pernah melakukan aksi penggalangan dana untuk? gempa Aceh, longsor Purworejo, longsor Banjarnegara, bahkan peduli Palestina. Saya berharap, dengan bantuan ini, turut meringankan beban saudara kita warga Dusun Kenjuran Desa Purwosari Kecamatan Sukorejo Kabupaten Kendal yang saat ini tertimpa musibah," harapnya. (Ahsan Fauzi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sejarah Siti Efi Farhati

Jumat, 19 Januari 2018

PCNU Jember Tolak Sistem AHWA

Jombang, Siti Efi Farhati. Tidak semua sepakat dengan rencana akan digunakannya konsep Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) pada acara Konferensi Wilayah NU Jawa Timur mendatang. PCNU Jember adalah di antara yang menolak.

PCNU Jember Tolak Sistem AHWA (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Jember Tolak Sistem AHWA (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Jember Tolak Sistem AHWA

Hal ini disampaikan Ketua PCNU Jember KH Abdullah Syamsul Arifin usai acara launching kader Aswaja di Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang (23/3). Bagi Gus Aab, sapaan akrabnya, wacana yang digulirkan panitia Konferensi Wilayah NU Jatim tersebut akan menimbulkan persoalan baru pada suksesi kepemimpinan di NU, khususnya Jawa Timur.

“Menurut saya, rencana itu terlalu beresiko,” katanya. Karena itu, dosen STAIN Jember ini masih melakukan pengkajian secara intensif dengan beberapa PCNU se Jawa Timur.?

Siti Efi Farhati

“Kita terus melakukan komunikasi yang intensif dengan beberapa pengurus PCNU,” lanjutnya.?

Siti Efi Farhati

Catatan yang disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Arifin Jember ini adalah bahwa tafsir atas sejumlah pasal khususnya ART NU Bab XIV Pasal 42 ayat a yang berbunyi: Rais dipilih secara langsung melalui musyawarah mufakat atau pemungutan suara dalam konferensi wilayah setelah yang bersangkutan menyampaikan kesediaannya, serta poin b yang mengatur calon ketua, penerapannya bukan dengan Ahlul Halli Wal Aqdi atau AHWA.

Apalagi mekanisme Ahwa seperti disampaikan di sejumlah media ternyata dilakukan sebelum kegiatan konferensi. “Ini kan justru menyelenggarakan kegiatan sebelum konferensi?” katanya balik bertanya. Belum lagi mekanisme AHWA tersebut ternyata justru ditawarkan oleh panitia, bukan dari peserta.?

“Yang memiliki kedaulatan tertinggi adalah para utusan dari PCNU,” katanya. “Sehingga PCNU lah yang akan menentukan model dan mekanisme konferensi, termasuk pemilihan calon rais dan ketua tanfidziyah,” lanjutnya.

Karena itu, Gus Aab berharap mekanisme ini jangan dilemparkan secara terbuka sebelum dibicarakan secara intensif dengan PCNU se Jawa Timur.?

“Selama belum dibicarakan dengan PCNU, saya lebih baik tidak berkomentar lebih jauh,” pungkasnya.

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Daerah, Doa, Sejarah Siti Efi Farhati

Borong Piala MAPSI, Hadiah Hari Santri dari SD Ta’mirul Islam

Solo, Siti Efi Farhati



Tim lomba Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Seni Islami (MAPSI) Kecamatan Laweyan berhasil menjadi juara umum tingkat Kota Surakarta, Jawa Tengah. Perlombaan berlangsung di SDN Kemasan, Surakarta, Rabu (11/10).

Keberhasilan Laweyan, tak lepas dari kontribusi para siswa SD Ta’mirul Islam yang memborong 10 piala, masing-masing 8 piala juara 1, dan sepasang  juara 2 dan 3.

Borong Piala MAPSI, Hadiah Hari Santri dari SD Ta’mirul Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Borong Piala MAPSI, Hadiah Hari Santri dari SD Ta’mirul Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Borong Piala MAPSI, Hadiah Hari Santri dari SD Ta’mirul Islam

Juara 1 masing-masing disumbangkan dari cabang kaligrafi putri, khitobah putra dan putri, cerita islami putri, kewirausahaan putri, LKTI putri, tilawah putra dan rebana. Sedangkan juara 2 dan 3 disumbang dari cabang cerita islami putra dan kaligrafi putra.

Kepala Sekolah SD Ta’mirul Islam Surakarta Aris Paryanto mengatakan, pihaknya sangat bangga dengan prestasi yang telah diraih anak didiknya. Raihan sukses ini, sekaligus juga menjadi hadiah yang indah dalam memperingati Hari Santri yang diperingati tanggal 22 Oktober mendatang.

“Anak-anak sangat serius saat latihan ketika persiapan lomba. Saya ucapkan selamat kepada anak-anak yang telah meraih prestasi di MAPSI tingkat Kecamatan Laweyan ini,” ujar Aris, saat ditemui usai lomba.

Siti Efi Farhati

Aris berharap kesuksesan ini dapat berlanjut di MAPSI tingkat provinsi. “Tantangan di tingkat provinsi tentu bakal lebih sulit. Kita harap anak-anak bisa kembali mendulang sukses,” kata Aris.

Siti Efi Farhati

MAPSI tingkat Provinsi Jawa Tengah, selanjutnya bakal digelar di Kabupaten Sukoharjo, awal November mendatang. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sejarah, Jadwal Kajian, Internasional Siti Efi Farhati

Selasa, 16 Januari 2018

Tim Dai Ramadhan NU Bertolak ke Hong Kong dan Macau

Jakarta, Siti Efi Farhati. Lembaga Dakwah Nadlatul Ulama (LDNU) ? melalui Tim Inti Dai Internasional dan Media (TIDIM) mengirimkan lima orang ustad yang tergabung dalam Dai Ramadhan yang akan berdakwah di Hong Kong dan Macau selama Ramadhan.

Tim Dai Ramadhan NU Bertolak ke Hong Kong dan Macau (Sumber Gambar : Nu Online)
Tim Dai Ramadhan NU Bertolak ke Hong Kong dan Macau (Sumber Gambar : Nu Online)

Tim Dai Ramadhan NU Bertolak ke Hong Kong dan Macau

Pemberangkatan kelima ustad Dai Ramadhan dilakukan Senin (29/5) siang melalui Bandara Internasional Soekarno Hatta. Kegiatan tersebut bekerja sama dengan NU Care LAZISNU.

Selama di Hong Kong dan Macau, para dai akan melakukan kajian keislaman; pembinaan muallaf dan pengenalan Islam; pengenalan dan dakwah tentang zakat infak sedekah dan wakaf serta mengajak jama’ah untuk melaksanakannya baik di bulan Ramadhan maupun hari-hari biasa.

Para dai juga akan membuat jurnal harian dan mendokumentasikannya, mengirimkan berita kegiatan-kegiatan mereka ke media NU; serta meramaikan kegiatan dengan media sosial dengan member tanda #tidim #lazisnu #ldnu dalam setiap postingan.

Pembina TIDIM LDNU KH Wahfiudin Sakam mengemukakan misi tersebut merupakan upaya dakwah Islam ala Ahlussunah wal Jamaah An-Nadliyah ke seluruh dunia.

Siti Efi Farhati

?

“Problem saat ini di mana-mana ada ketimpangan sosial dan ekonomi sehingga muncul ektrimisme, radikalisme, dan terorisme. Pengenalan tradisi keberagamaan yang ? wasatiyah, tawasuth, tawazun dan berkeadilan harus dikembangkan,” kata Kiai Wahfiudin.

Ia meminta kepada para Dai Ramadhan untuk mengajarkan Islam dengan penuh cinta dan kasih sayang.?

“Tebarkan dan perkenalkan Islam yang ramah, bahwa kita adalah muslim pengikut Nabi Muhammad SAW yang rahmatan lil alamin,” ujarnya.

Siti Efi Farhati

Ia juga berharap misi tersebut dapat menambahkan jaringan di mana warga Indonesia terus berdiaspora ke berbagai negara.

Bagi para ustad anggota Dai Ramadhan, ia mengatakan agar perjalanan tersebut dapat membuka wawasan dan memahami komunitas muslim di berbagai tempat., sehingga hal itu juga menjadi komitmen, motivasi dan keberanian untuk lebih tegas dalam menyebarkan ajaran Aswaja An-Nahdliyah melalui dakwah.

Sementara itu, Direktur NU Care LAZISNU Syamsul Huda, mengungkapkan kegiatan tersebut merupakan kerjasama pertama NU Care dengan LDNU. Ia ? berharap kegiatan serupa dapat berkembang lebih besar sehingga lebih banyak lagi dai yang bisa dikirimkan ke luar negeri.

Ia mengatakan NU Care dan PCINU Hong Kong tengah menggerakan “One Day One Dolar”. “Uang yang terkumpul lewat gerakan ini untuk keperluan di Hong Kong seperti kebutuhan logistic, membangun shelter dan Islamic Center di HongKong,” kata Syamsul.

Ditambahkan Syamsul, selain mengirimkan tenaga dakwah, NU Care juga memfasilitasi warga Indonesia di Hong Kong dan Macau untuk mengenalkan ? entrepreneurship.

“Sebagai bekal untuk mereka dalam mencari nafkah di luar negeri untuk kehidupan yang layak dan mulia,” kata Syamsul.

Menurutnya langkah tersebut juga merupakan perjuangan memperbesar NU untuk bekiprah di dunia internasional. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Lomba, Sejarah, Habib Siti Efi Farhati

Minggu, 14 Januari 2018

Melamarmu dalam Tahajud

Oleh Robiatul Adawiyah

Malam-malamku, melukis dengan puisi

Kuhantarkan kalimat-kalimat penuh nadi

Di gerbang usia ini

Melamarmu dalam Tahajud (Sumber Gambar : Nu Online)
Melamarmu dalam Tahajud (Sumber Gambar : Nu Online)

Melamarmu dalam Tahajud

Kurengkuh engkau dalam kemesraan

Doa-doaku tak belum berhenti dengan Aamiin

Ingin luruh mesra dipeluk-Mu

Siti Efi Farhati

Kutitip kemesraan ini di sebait puisi yang tak pernah mencukupi dan memenuhi taman-taman puisi cinta

Siti Efi Farhati

Air mataku mengalir deras

Melihat cadasnya hatiku

Melihat karang tajamnya nuraniku

Ampuni aku.

Kepingan air mataku membatu di sajadah lusuh ini

Menggores cerita hina seorang hamba yang sering tak tahu diri

Entah sudah detik ke berapakah hati tenggelam dalam magma keangkuhan diri

Tak sanggup ku menghitungnya lagi

Jubah kabir-Mu tlah lama terhapus dari hati ini.

Terhanyut dalam nikmat dunia yang menjeruji

Ku ingin lari berpaling dari semua ini

Di sisa-sisa napas yang masih tersisa ini

Dam kuatkanlah tapak-tapak penatku

Agar belenggu ini terlepas bebas

Hantarkan jiwaku terbang menuju langit maha luas.

Jakarta, 26 Juni 2016







Penulis adalah aktivis PMII STAI Az-Ziyadah, Jakarta, bergiat di Omah Aksoro

. Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sejarah, Tokoh Siti Efi Farhati

Kamis, 04 Januari 2018

Bersyukur dan Cerdaslah dengan Kekuatan Batin

Batam, Siti Efi Farhati -

Ketua Dewan Penasehat Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor H. Asad Said Ali, di Batam Kepulauan Riau, Jumat (25/12) mengajak kader muda Nahdlatul Ulama (NU) senantiasa bersyukur dan cerdas dengan kekuatan batin dimiliki.

Mantan Wakil Kepala BIN itu menegaskan, salah satu kekuatan Ansor adalah kekuatan ruhani. "Bersyukur kepada Allah membuat tenang. Lalu wirid yang diajarkan ulama-ulama kita, itu membuat batin anak-anak Ansor menjadi kuat," ujar dia lagi.

Bersyukur dan Cerdaslah dengan Kekuatan Batin (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersyukur dan Cerdaslah dengan Kekuatan Batin (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersyukur dan Cerdaslah dengan Kekuatan Batin

Alumni Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta itu mengingatkan kader Ansor yang menjadi peserta Kursus Banser Pimpinan (Susbanpim) III untuk menjaga lisan dan perbuatan.

"Sekali kita berbohong maka akan terus berbohong. Kader Ansor harus cerdas, jangan mengumbar persoalan internal ke media sosial, itu namanya goblok bin goblok," ujar dia lagi.

Siti Efi Farhati

Ia lalu menyarankan, kader Ansor yang pintar harus masuk atau membuat koperasi.

"Itu ada mas Fahmi Akbar Idries, Ketua Divisi Nusa Makmur Induk Koperasi Syirkah Muawwanah Nusantara atau Inkopsimnus. Jagoan itu kalau soal koperasi, tapi ingat, jangan korupsi," tuturnya.

Siti Efi Farhati

Pria kelahiran Kudus, Jawa Tengah, 19 Desember 1949 itu lalu mencontohkan PCNU Magetan, Jawa Timur yang bisa membangun gedung senilai Rp7 miliar dengan kemandirian ekonomi.

"Sumber daya sebagai syarat pergerakan organisasi harus dipahami dulu. Jangan bondo nekat," ujar dia di sela memaparkan materi.

Susbanpim III PP GP Ansor digelar di Asrama Haji Batam Centre, Engku Putri, Kota Batam, Kepulauan Riau, bertema Meningkatkan Transformasi dan Profesionalisme Banser dalam Mewujudkan Kemandirian Bangsa. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Quote, Sejarah Siti Efi Farhati

Rabu, 27 Desember 2017

Menag: Perang Lawan Radikalisme Jalan Terus

Jakarta, Siti Efi Farhati. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan program deradikalisasi harus terus berjalan karena tindakan radikal berpotensi terjadi di banyak tempat di Indonesia seperti terjadinya aksi pelemparan bom molotov di sebuah gereja di Samarinda, Kalimantan Timur.

"Untuk menangkal aksi-aksi terorisme dan ekstremisme itu adalah proses yang tidak pernah selesai dan harus terus kita lakukan," kata Lukman di Jakarta, Selasa (15/11).

Menag: Perang Lawan Radikalisme Jalan Terus (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag: Perang Lawan Radikalisme Jalan Terus (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag: Perang Lawan Radikalisme Jalan Terus

Dia mengatakan Indonesia merupakan wilayah yang sangat luas berikut dengan besarnya keragaman masyarakat dan jumlah populasi yang tidak sedikit. Deradikalisasi harus tetap dilakukan dan tidak boleh berhenti.

Atas terjadinya sejumlah aksi teror di berbagai tempat di Indonesia, Lukman mengatakan dengan terjadinya ledakan di gereja baru-baru ini seharusnya menjadi pembelajaran.

Pembelajaran itu adalah supaya masyarakat tidak terprovokasi atau terpancing melakukan aksi-aksi sepihak seperti membalas atau melakukan tindakan yang dapat menimbulkan persoalan baru.

Siti Efi Farhati

"Jadi saya berharap supaya kita menyerahkan sepenuhnya kepada kepolisian untuk mereka dalam waktu yang cepat dapat mengungkap para pelaku. Dan saya yakin Polri kita memiliki kemampuan untuk itu," kata dia.

Siti Efi Farhati

Lukman mengatakan pihaknya memantau dan mencermati kejadian terkini karena di era globalilasi dan media sosial masyarkat dapat menerima informasi-informasi dengan mudah.

Informasi tersebut cenderung membanjiri publik dengan beberapa di antaranya tidak dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya.

"Oleh karena itu, tentu aparat penegak hukum kita, intelejen kita akan terus mengikuti, memantau secara ketat ke depannya," kata dia.

Terkait tindakan teror, Lukman menduga perbuatan itu dilakukan oleh pihak-pihak yang mencoba mengusik serta merusak kedamaian, kerukunan dan ketenteraman di Indonesia.

"Kami di Kemenag berupaya menjaga kerukunan umat beragama, terus berkordinasi dengan aparat penegak hukum dan juga dengan tokoh-tokoh ormas-ormas keagamaan bagaimana dapat lebih meningkatkan kemampuannya serta lebih melakukan deteksi dini kalau ada," katanya. (Antara/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Makam, Sejarah Siti Efi Farhati

Jumat, 22 Desember 2017

Pasutri ini Beribadah Umroh Hasil Es Degan dan Bakso

Bondowoso, Siti Efi Farhati. Pasangan suami istri Riski (50) dan Fatima (40) bersyukur cita-citanya melaksanakan ibada umroh telah tercapai. Pasangan tersebut melaksanakan ibadah itu dengan ongkos hasil dari berjualan es degan dan bakso yang telah mereka jalani selama 15 tahun.

Pasutri itu berangkat umroh 6 Desember dari Jember. Menurut Riski, ibadah tersebut ditempuh selama 20 hari, di Madinah 5 hari dan di Mekkah selama 15 hari.

Pasutri ini Beribadah Umroh Hasil Es Degan dan Bakso (Sumber Gambar : Nu Online)
Pasutri ini Beribadah Umroh Hasil Es Degan dan Bakso (Sumber Gambar : Nu Online)

Pasutri ini Beribadah Umroh Hasil Es Degan dan Bakso

“Saya tidak punya gaji bulanan, bukan pegawai negeri. Tidak punya juga apa yang mau dijual. Jadi, hasil jualan ini saya tabung," ujar pria lulusan SMP itu kepada Siti Efi Farhati di tempat bekerjanya, sebuah warung di pinggir jalan di Desa Lojejer, Selasa (10/1), ketika ditanya ongkos keberangkatan.

Siti Efi Farhati

Bapak dua anak ini menambahkan, awalnya ia mempunyai uang 5 juta untuk membuka tabungan dia dan istrinya.

“Saya buka rekening di bank. Saya menabung tidak setiap hari. Saya kumpulkan dulu selama beberapa hari. Empat hari atau lima hari, saya tabungkan ke bank BRI Cabang Tenggarang dekat pasar itu sebesar 500 ribu atau 700 ribu itu untuk dua orang," jelasnya.

Siti Efi Farhati

Warga Desa Kajar Rt 4 Rw 1 Kecamatan Tenggarang itu mengaku menjual satu es degan seharga 6 ribu rupiah. Sementara bakso per mangkok 5 ribu rupiah.

Ketika musim panas, lanjutnya, es degan laris manis. Sehari ia bisa menjual 100 -125 butir dengan harga sama, 6 ribu. Sementara ia membeli kelapa tersebut seharga 2 ribu per butir.

"Semua itu niat hati, insyaallah bisa berangkat (umroh, red.). Ini buktinya saya bisa berangkat umroh," ucapnya. (Ade Nurwahyudi/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sejarah, Ahlussunnah Siti Efi Farhati

Sabtu, 16 Desember 2017

Presiden Tetapkan Keanggotaan Badan Wakaf Indonesia

Jakarta, Siti Efi Farhati. Presiden Jokowi telah menetapkan Keputusan Presiden Nomor 74/M Tahun 2017 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan dalam Keanggotaan Badan Wakaf Indonesia.

Melalui Keppres tersebut Presiden mengangkat 27 orang warga negara Indonesia menjadi anggota Badan Wakaf Indonesia (BWI) masa jabatan tahun 2017-2020.

Presiden Tetapkan Keanggotaan Badan Wakaf Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Tetapkan Keanggotaan Badan Wakaf Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Tetapkan Keanggotaan Badan Wakaf Indonesia

Nama-nama yang diangkat oleh Presiden menjadi anggota BWI masa jabatan 2017-2020 ialah sebagai berikut:



1. Prof. Dr. H. Mohammad Nuh;

Siti Efi Farhati

2. Dr. H. Slamet Riyanto, M.Si.;

Siti Efi Farhati

3. Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si.;

4. Prof. Dr. H. Muhammadiyah Amin, M.Ag.;

5. Muhammad Fuad Nasar, M.Sc.;

6. Prof. Dr. H.E. Syibli Syarjaya. LML, M.M.;

7. Dr. H. Muhammad Luthfi;

8. Ir. Jurist Efrida Robbyantono;

9. Ir. Iwan Agustiawan Fuad, M.Si.;

10. Siti Soraya Devi Zaeni, S.H., M.Kn.;

11. Ir. Rachmat Ari Kusumanto; 

12. Dr. Imam Teguh Saptono;

13. A. Muhajir, S.H., M.H.;

14. Dr. Abdul Muta’ali, M.A., M.I.P.;

15. Ahmad Wirawan Adnan, S.H., M.H.;

16. Dr. Atabik Luthfi;

17. Diba Anggraini Aris, M.E.;

18. Dr. Fahruroji, Lc., M.A.;

19. Dr. Hendri Tanjung;

20. Imam Nur Aziz, M.Sc.;

21. Drs. H. Zakaria Anshar;

22. H. Mochammad Sukron, S.E.;

23. Dr. H. Nurul Huda, S.E., M.M., M.Si.;

24. H. Nur Syamsuddin Buchori, S.E., S.Pd., M.Si., CIRBD;

25. H. Sarmidi Husna, M.A.;

26. Drs. H. Susono Yusuf;

27. Dr. Yuli Yasin, M.A.Berdasarkan Pasal 53 Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf, jumlah anggota BWI terdiri atas paling sedikit 20 (dua puluh) orang dan paling banyak 30 (tiga puluh) orang. 

Struktur organisasi BWI, menurut Pasal 51 undang-undang wakaf tersebut, terdiri atas Dewan Pertimbangan dan Badan Pelaksana. Badan Pelaksana merupakan unsur pelaksana tugas BWI, sedangkan Dewan Pertimbangan merupakan unsur pengawas pelaksanaan tugas BWI. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati RMI NU, Sejarah Siti Efi Farhati

Satkorwil Banser Lampung Kukuhkan 68 Balantas

Bandar Lampung, Siti Efi Farhati. Satuan Koordinasi Wilayah Barisan Ansor Serbaguna (Satkorwil Banser) Lampung telah mengukuhkan 68 kader sebagai anggota Banser Lalu Lintas sehubungan telah mengikuti Pendidikan dan Latihan Khusus (Diklatsus) Banser Lalu Lintas (Balantas).

Satkorwil Banser Lampung Kukuhkan 68 Balantas (Sumber Gambar : Nu Online)
Satkorwil Banser Lampung Kukuhkan 68 Balantas (Sumber Gambar : Nu Online)

Satkorwil Banser Lampung Kukuhkan 68 Balantas

Kepala Satkorwil Banser Lampung, Tatang Sumantri di Bandar Lampung, Ahad (28/5) menjelaskan, anggota Balantas Lampung berasal dari Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Banser di 11 kabupaten/kota di wilayah itu.

"Mereka telah mengikuti Diklatsus yang diisi sejumlah pihak berkompeten, seperti Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Lampung Timur," ujar Tatang didampingi Kepala Asinfokom Gatot Arifianto.

Diklatsus Balantas Satkorwil Banser Lampung digelar di Pesantren Nurul Huda asuhan Ustad Said Fauzi yang berada di Dusun Munjuk Desa Labuhan Maringgai, Kecamatan Labuhan Maringgai, Lampung Timur, 22-25 Mei 2017.

Siti Efi Farhati

"Untuk kelulusan, mereka dinilai dan diuji mengenai lalu lintas, penanganan kegawatdaruratan, kepemimpinan dan sejumlah materi lain seperti pengabdian masyarakat," papar Tatang.

Ia lalu menambahkan, 68 anggota Balantas Lampung akan bertugas di daerahnya masing-masing H-7 hingga H+ 7 Idul Fitri 1438 H tanpa menerima gaji.

"Banser bukan pekerjaan. Banser adalah jalan berkhidmat bagi kemanusiaan, bangsa dan ulama. Dan pilihan itu harus diterima oleh setiap kader Banser," kata dia lagi.

Tatang menjelaskan, masing-masing anggota Balantas Lampung telah menyepakati hal tersebut dengan membuat pernyataan tertulis yang kemudian diucapkan secara lisan.

"Satkorwil Banser Lampung mengucapkan terima kasih atas kesediaan sahabat-sahabat Banser untuk terus berbuat dan bermanfaat. Semoga dicatat sebagai amal ibadah oleh Allah SWT," kata dia lagi.

Siti Efi Farhati

Dalam waktu dekat, titik-titik pos komando (posko) Idul Fitri 1438 H Banser Lampung akan segera dihimpun guna berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, demikian Tatang Sumantri. (Syuhud Tsaqafi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Olahraga, Sejarah, Syariah Siti Efi Farhati

Jumat, 15 Desember 2017

Mahasiswa UI Diskusi Soal Gus Dur

Jakarta, Siti Efi Farhati. Puluhan mahasiswa UI antusias menghadiri diskusi “Gus Dur, Pluralisme dan Gerakan Pemuda” yang diselenggarakan LSIM FISIP UI dengan Akademi Politik Kebangsaan (Akpolbang) di Auditorium Juwono Sudarsono FISIP UI, Kamis (26/2012). Diskusi diadakan dalam suasana Ramadhan dan liburan semester.

Mahasiswa UI Diskusi Soal Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa UI Diskusi Soal Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa UI Diskusi Soal Gus Dur

Salah satu pembicara, Eman Hermawan, aktivis Garda Bangsa menyatakan bahwa komitmen pluralisme Gus Dur diwujudkan antara lain dengan merajut dan menyapa kaum minoritas yang dipinggirkan di era Orde Baru.

“Tidak hanya kaum minoritas agama, Gus Dur juga menjalin hubungan dengan minoritas politik di era Orba seperti kaum oposisi dan gerakan LSM dan mahasiswa, sehingga Gus Dur menjadi sentral dari gerakan civil society vis a vis negara di era Orba,” tandas Eman Hermawan. ?

Siti Efi Farhati

Namun demikian, banyak masyarakat yang salah paham terhadap Gus Dur ketika terjun ke arena politik praktis di era reformasi dan menganggapnya telah mengkhianati gerakan masyarakat sipil. ? Menurut Eman, terjunnya Gus Dur ke arena politik praktis adalah kewajaran dan keniscayaan dari gerakan masyarakat sipil yang salah satu target utamanya adalah merebut kekuasaan negara untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat.

Siti Efi Farhati

Sementara itu, pembicara lainnya, Alfanny, Ketua Forum Alumni PMII UI, lebih menyoroti soal gerakan pemuda. Ia menguraikan konstruksi sosial masyarakat Indonesia yang dibentuk oleh bangunan kolonialisme. Dikatakannya, pemerintah Hindia Belanda maupun negara pegawai (beambtenstaat) telah melemahkan semangat entrepreneurship dan kemandirian masyarakat, khususnya pemuda Indonesia.

“Di sektor ekonomi, para pemuda kini lebih senang menjadi pegawai daripada pengusaha, dan di bidang politik, para pemuda bukannya menjadi leader tapi malah menjadi dealer politik”, tandas Alfanny, alumni Ilmu Sejarah UI tersebut.

Dengan demikian, sulit diharapkan tampil generasi muda yang mampu mewarisi cita-cita gerakan sosial Gus Dur yang penuh dengan semangat kemandirian baik di bidang ekonomi dan politik.

Diskusi yang merupakan rangkaian “Akpolbang Road To Campus” tidak hanya dihadiri oleh mahasiswa UI, tapi juga UIN Ciputat dan Unas serta aktivis dari PMII dan GMNI. ? Diskusi ditutup dengan buka puasa bersama.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nusantara, Sejarah Siti Efi Farhati

Kamis, 14 Desember 2017

Ali Masykur: NU Tak hanya Punya Sarjana Agama

Jakarta, Siti Efi Farhati. Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) periode 2012-2012 telah dilantik oleh Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Sahal Mahfud  di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (24/4) malam. 

Ali Masykur: NU Tak hanya Punya Sarjana Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Ali Masykur: NU Tak hanya Punya Sarjana Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Ali Masykur: NU Tak hanya Punya Sarjana Agama

ISNU merupakan badan otonom NU termuda yang baru dikukuhkan dalam Muktamar ke-32 NU di Makassar 2010. Ketua Umum ISNU Ali Masykur Musa mengatakan, embrio ISNU sudah ada semenjak 19 November 1999 namun baru dikukuhkan pada Muktamar kepada 2010 dan pada awal tahun 2012 ISNU menyelenggarakan kongresnya yang pertama.

Dalam sambutannya usai pelantikan itu Ali Masykur mengatakan, para sarjana NU meliputi berbagai bidang seperti kesehatan, ekonomi, politik, hukum, sosial, dan bidang-bidang lain yang lebih spesifik.

Siti Efi Farhati

“NU tidak hanya punya sarjana agama. Banyak sarjana di berbagai bidang. Maka ISNU memanggil para sarjana NU untuk pulang, pulang dan pulang ke pangkuan NU,” katanya sembari menambahkan kepengurusan yang dipimpinya merupakan kabinet ‘empat kaki’ yang  merepresentasikan kaum ilmuan, birokrasi, pengusaha dan pekerja sosial di kalangan sarjana NU.

Siti Efi Farhati

Menurutnya, kelahiran Nahdlatul Ulama yang berarti kebangkitan para ulama didahului dengan tiga kebangkitan yang ditandai dengan berdirinya tiga organisasi, yakni kebangkitan politisi yang tercermin dalam organisasi Nahdlatul Wathan, kebangkitan intelektual dalam Tashwirul Afkar dan kebangkitan ekonomi dalam Nahdlatut Tujjar.

Ali Masykur yang juga anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pada malam pelantikan itu mengajak para sarjana NU yang bergelut di berbagai bidang untuk kembali merapat ke NU. “Kita bersama-sama membangun NU dan komunitas Nahdliyin, serta bersama-sama membangun bangsa,” katanya.

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kajian, Sejarah Siti Efi Farhati

Jumat, 24 November 2017

FDS dan Bungkus Penguatan Pendidikan Karakter

Oleh Ruchman Basori

Polemik Full Day School (FDS) melalui kebijakan Lima Hari Sekolah (5HS) terus berlanjut. Masyarakat semakin kecewa dengan ngototnya Mendikbud Muhadjir Effendy atas kebijakannya itu. Sepintar-pintar Mendikbud Muhadjir Effendy membungkus 5HS atau FDS, masyarakat akan dengan jeli melihatnya hanya sebuah kedok untuk memperkuat pendidikan karakter. Bahkan lebih dari itu merupakan upaya sekularisasi pendidikan di Indonesia.

FDS dan Bungkus Penguatan Pendidikan Karakter (Sumber Gambar : Nu Online)
FDS dan Bungkus Penguatan Pendidikan Karakter (Sumber Gambar : Nu Online)

FDS dan Bungkus Penguatan Pendidikan Karakter

Fakta bahwa pendidikan karakter hanya sebagai alasan atau layaknya bungkus, dapat dibaca kenekatan kalangan Kemdikbud yang tetap akan menjalankan kebijakan 5HS pada tahun ajaran baru yang dimulai pada tanggal 17 Juli 2017 mendatang. Alih-alih membatalkan kebijakan 5HS yang tertuang dalam Permendikbud 23 Tahun 2017 tersebut malah akan ditingkatkan lagi menjadi Peraturan Presiden.

Di berbagai tempat dan kesempatan, Menteri Muhadjir mengatakan bahwa kebijakan 5HS yang didasarkan pada Permendikbud 23/2017 adalah untuk penguatan pendidikan karakter anak bangsa. Padahal hasil penulusuran penulis, dari 11 pasal dalam Permen itu tidak ada yang secara spesifik membahas tentang pendidkan karakter. Pasal demi pasal membahas tentang pemenuhan beban kerja guru. Tapi anehnya Permendikbud itu yang selalu dijadikan argumen untuk penguatan pendidikan karakter.

Pertanyaannya, apakah produk Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT), Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) dan Pondok Pesantren yang selama ini menjadi gawang pendidikan karakter bangsa ini kurang hebat dengan pendidikan karakter yang ada di sekolah? Bukankah masyarakat Islam itu sudah dengan legowo menyempurnakan pendidikan agama dan karakter yang selama ini sangat kurang pada sekolah yang hanya dua jam seminggu?

Sekularisasi pendidikan

Siti Efi Farhati

Secara substantif kebijakan 5HS atau FDS yang ditolak oleh masyarakat tidak mencerminkan ikhtiar serius Kemdikbud untuk penguatan pendidikan karakter. Malah sebaliknya peran masyarakat yang telah berpartisipasi ikut memperkuat karakter, moral dan akhlak selama ini malah dinihilkan.

Siti Efi Farhati

Melalui MDT, TPQ dan Pondok Pesantren, masyarakat selama ini telah menanamkan saham yang tak ternilai harganya untuk tumbuh dan berkembangnya masyarakat yang religius, berkarakter serta loyal terhadap bangsa dan negaranya. Negara nyaris tidak mengeluarkan dana yang sebanding dengan output yang dihasilkan lembaga pendidikan keagamaan Islam itu. Karena mereka lahir, tumbuh dari oleh dan untuk masyarakat secara mandiri.

Kementerian Agama dengan keterbatasan anggaran yang ada telah memfasilitasi bagi pengembangan pendidikan keagamaan Islam dan diikuti dengan sejumlah regulasi. Terutama saat ini ketika dipimpin oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Kalau demikian agaknya ada agenda terselubung dari orang-orang tertentu di balik kebijakan FDS. Lebih tepatnya ingin memisahkan antara pendidikan nasional dengan agama. Peserta didik lambat laun tidak akan dikenalkan agama dengan baik tergantikan dengan pendidikan karakter yang belum jelas wujudnya. Dengan kata lain akan terjadi sekularisasi pendidikan di negara kita.?

Adalah Peter L. Berger mendefinisikan sekularisasi adalah sebuah proses di mana sektor-sektor dalam masyarakat dan kebudayaan dipisahkan dari dominasi institusi dan simbol-simbol religius. Berger menegaskan sekularisasi merupakan fenomena global masyarakat modern.

Pada waktu itu akibat dominasi gereja maka di belahan bumi Eropa terhadap pandangan ingin memisahkan antara agama di satu sisi dengan urusan dunia di sisi lainnya. Namun penulis kira beda dengan di Indonesia. Di mana agama telah menjadi dasar fundamental, sumber nilai dan inspirasi untuk berpikir, bersikap dan berperilaku dalam hampir di semua sektor pendidikan.?

Amanat Undang-Undang Dasar 1945 dan produk-produk turunannya sudah sangat jelas mengatakan bahwa pendidikan nasional sangat religius. Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3 misalnya dengan jelas menyebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.?

Memisahkan pendidikan nasional dengan dasar religius, tidak saja akan mengkhianati cita-cita para pendiri bangsa (founding fathers) ini, tetapi juga pengkhianatan terhadap amanat undang-undang. Selain dari itu pengabaian atas hak-hak kemanusiaan sebagai bangsa yang beragama. Jangan semua urusan hajat bangsa ini akan ditangani oleh pemerintah, namun harus mampu berbagi dengan baik dengan rakyat sebagai model pembangunan yang berbasis partisipatif.

Bukan sentimen organisasi, tapi kepentingan anak bangsa

Penolakan atau bahasa halusnya peninjauan kembali atas kebijakan lima hari sekolah (5HS) atau FDS akan terus digelorakan oleh kalangan masyarakat terutama yang terkena dampak langsung yaitu MDT, TPQ dan Pondok Pesantren. Ini bukan masalah konflik Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama sebagai dua organisasi besar yang selama ini menjadi rujukan penting pendidikan Islam. Tapi ini masalah fundamental dasar-dasar pendidikan bangsa ini.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan harus jujur, kalau ikhtiarnya memperkuat pendidikan karakter, tidak harus dengan kebijakan Lima Hari Sekolah. Namun dengan mengoptimalkan pendidikan nasional yang berbasis karakter dan kecakapan hidup sebagaimana inti dari Kurikulum 2013 (K13).

Kenapa misalkan tidak dengan cara menambah jam pelajaran Pendidikan Agama yang hanya dua jam seminggu. Itu jauh lebih realistis dan pasti akan didukung oleh masyarakat. Tuntutan agar pemerintah menambah jam pelajaran agama sudah lama disuarakan, namun pemerintah tetap kekeh sampai hari ini. Dengan tambahan jam pelajaran agama, tidak saja akan menambah porsi yang cukup bagi pengembangan karakter peserta didik, namun juga pendidikan agama akan semakin mendapat porsi yang semestinya. Masyarakat mulai lega dengan penambahan jam pendidikan Agama di K13 namun Dikbud pada masa Anis Baswedan malah meninjau ulang pemberlakuannya dan berlanjut sampai hari ini.?

Masalah moral, karakter dan akhlak erat kaitannya dengan keteladanan (uswah hasanah). Mestinya pemerintah melalui Kemdikbud, Kemenag dan Ristek Dikti mampu mencetak guru dan calon guru yang mampu menjadi tauladan bagi peserta didiknya, tidak saja di sekolah namun juga di masyarakat. Tak kalah pentingnya adalah profil para pemimpin dan tokoh negeri ini harus menjadi contoh (modelling) bagi anak-anak bangsa yang kini sedang tumbuh besar menyambut Indonesia yang lebih baik.

Hal lainnya yang tak kalah penting adalah revitalisasi kurikulum pendidikan nasional. Seluruh mata pelajaran harus diarahkan pada penciptaan peserta didik yang mempunyai keluhuran budi dan kemualiaan akhlak. Belajar Bahasa, Matematika dan Teknologi tidak melulu pemindahan pengetahuan dan ketrampilan (transfer of knowledge) namun juga pemindahan nilai (transfer of value). Agaknya cita-cita ini sejalan dengan konsep K13 sebagai kurikulum yang terintegrasi (integrated curriculum).

Terakhir agar pendidikan karakter tidak sekadar 5HS maka penciptaan suasana dan kultur sekolah perlu diciptakan. Guru yang menjadi teladan, peserta didik yang mempunyai semangat belajar, perpustakaan yang mendukung, kepemimpinan sekolah yang berpihak pada perubahan serta masyarakat yang mencintai sekolah dapat terejawantahkan dengan baik.

Sekali lagi pendidikan karakter bukan Lima Hari Sekolah tetapi ikhtiar serius membenahi pendidikan nasional. Tujuan berdimensi jauh ke depan menciptakan para pemimpin yang mencintai dan dicintai rakyatnya. Mengerti masalah dan tahu bagaimana mengatasinya. Rakyat kita makin cerdas maka susunlah kebijakan yang cerdas pula dan berpihak kepada masyarakat bukan malah mengebiri kepentingan-kepentingannya. Wallahu alam bisshowab.

Penulis adalah Ketua Bidang Organisasi Dewan Pengurus Pusat Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah dan Ketua Bidang Kaderisasi Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor.

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Tokoh, Sejarah, Tegal Siti Efi Farhati

Kamis, 09 November 2017

Tujuh Maklumat Kebangsaan Ulama-Cendekiawan di Jakarta

? Sarasehan nasional ulama dan cendekiawan yang diprakarsai Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi di Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Cilandak, Jakarta Selatan, 2-3 April 2014, melahirkan tujuh “maklumat kebangsaan”. Berikut adalah butir-butir lengkapnya:?

?

1. Pancasila:

Kenyataan kehidupan berbangsa dan bernegara pada dekade belakangan ini terasa telah menjauh dari nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara, jalan hidup bangsa (way of life), pemersatu bangsa, sumber hukum dan ideologi negara.Bahkan mulai ada yang menyangsikan efektifitas Pancasila sebagai dasar negara.

Tujuh Maklumat Kebangsaan Ulama-Cendekiawan di Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Tujuh Maklumat Kebangsaan Ulama-Cendekiawan di Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Tujuh Maklumat Kebangsaan Ulama-Cendekiawan di Jakarta

a. Ketuhanan Yang Maha Esa pelan tapi pasti telah bergeser menuju pandangan hidup materialistik dan pragmatis sehingga kekuasaan materi menggusur tata nilai spiritualisme di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini menggoyahkan? makna hakiki dari sektor-sektor kehidupan bangsa:? ekonomi yang kehilangan prinsip pemerataan dan keberkahan, hukum yang terpisah dengan prinsip keadilan, politik kehilangan kejujuran dan amanat, pendidikan yang kehilangan pembentukan karakter bangsa, budaya kehilangan martabat kebangsaan dan bahkan agama pun mengalami pendangkalan.

b. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab yang seharusnya merupakan titik temu agama-agama di Indonesia dan merupakan ketinggian harkat dan martabat bangsa telah dikotori dengan berbagai macam kekejaman, konflik, egoisme, kemunafikan dan kepalsuan.

Siti Efi Farhati

c. Persatuan Indonesia, secara idelogis, sosiologis, geografis, telah dibayang-bayangi perpecahan yang semakin hari semakin nampak kenyataannya.

d. Prinsip dan nilai kerakyatan yang? merupakan inti dari demokrasi Pancasila belum? bisa diwujudkan oleh sistem demokrasi yang kita anut saat ini? karena kurang sesuainya sistem demokrasi liberal bagi budaya Indonesia dan kurangnya pendidikan politik bangsa (civic education).? Sedangkan kepemimpinan untukpenyelenggaran negara dalamsistem demokrasi saat ini belum sepenuhnya menganut prinsip hikmah dalam kebijaksanaan. Terbukti banyaknya kebijakan-kebijakan yang tidak pro rakyat. Disamping itu, prinsip musyawarah mufakat telah berganti dengan demonstrasi dan politik tekanan (political pressure) sehingga rawan konflik dan sangat melelahkan.

e. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia sesungguhnya merupakan muara dan hasil dari prinsip-prinsip sila sebelumnya. Apabila sila-sila sebelumnya tidak mengalir secara wajar maka tidak akan sampai ke muara keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.?

Siti Efi Farhati

2. Sistem dan Penyelenggaraan Negara

Disadari bahwa prinsip, ideologi, dan tata nilai yang ada di dalam Pancasila tidak mungkin diharapkan tegak dengan sendirinya tanpa sistem dan penyelenggaraan negara yang menjamin terselenggaranya prinsip-prinsip tersebut baik dalam konstitusi, aturan perundangan, peraturan pemerintah dan? pelaksanaan kebijakan yang menyangkut kepentingan masyarakat. Karena itu, antara Pancasila dan UUD 1945, aturan perundangan dalam Undang-undang serta peraturan dan kebijakan pemerintah yang menyangkut kepentingan dan hajat hidup rakyat haruslah berada dalam satu garis yang bersambungan dan utuh (integrated system). Maka yang diperlukan adalah penelusuran kembali apakah sistem dan penyelenggaraan negara sudah segaris dan sejalan dengan Pancasila.Sejalan dengan ini, para penyelenggara negara adalah pelaksana sistem kenegaraan itu sendiri sehingga ada hubungan timbal balik antara keduanya maka perlu optimalisasi kerja penyelenggara negara dan pada saat yang sama memperbaiki sistem kenegaraan.

3. Politik dan Partai Politik

Politik berasal dari sesuatu yang mulia dan agama sendiri memuliakan politik. Pada hakekatnya politik adalah penataan masyarakat negara untuk mencapai tujuan kemuliaan hidup di dunia dan di akhirat. Politik akan mulia di tangan orang mulia? dan juga dilakukan dengan cara yang mulia. Sebagaimana di dalam perjalanan sejarah Indonesia rakyat memberikan penghormatan yang sangat tinggi kepada politisi/negarawan di awal kemerdekaan Republik Indonesia karena mereka melaksanakan fatsoen politik yang mulia. Kalau kemudian politik kehilangan kemuliaannya tentu hal ini karena cara berpolitik serta pelaku politik yang tidak mampu menjamin kemuliaan gerakan politik itu sendiri. Cara-cara yang pragmatis transaksional tentu akan merendahkan makna politik dan mengurangi kepercayaan publik terhadap para politisi.

Sebenarnya di alam reformasi dan demokrasi dewasa ini partai-partai politik mendapatkan anugerah Allah yang luar biasa. Partai-partai politik menempati peranan sentral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Parlemen yang mempunyai kekuasaan sangat besar baik di bidang perundangan (legislasi), penganggaran (budgeting), dan pengawasan (controling) sepenuhnya diisi oleh partai-partai politik secara dominan. Bahkan belakangan ini eksekutif pun diisi oleh personil yang diajukan oleh partai politik termasuk lembaga ad hoc dan pejabat negara juga dipilih oleh parlemen? sehingga partai politik tidak hanya menguasai parlemen tetapi juga mengambil kavling dalam kekuasaan eksekutif di tingkat pusat dan daerah.Akibatnya, sistem kabinet kita yang presidentil menjadi terasa parlementer karena kementerian-kementerian terkavling partai-partai politik.

Sekarang terpulang? kepada partai-partai politik itu sendiri, apakah mereka mensyukuri anugerah luar biasa dari Allah SWT tersebut dengan mengabdi kepada bangsa dan negara melalui sifat jujur, amanat, visioner, dan kopentensi (shiddiq, amanat, tabligh, fathonah) ataukah sebaliknya, sehingga terus terjadi jarak antara rakyat dan pemimpin yang dipilih dari rakyat. Sehingga dengan demikian terlihat tanggung jawab yang sangat besar menyertai anugerah Allah SWT tentang baik buruknya negara ini di tangan partai-partai politik.?

4. Partai Politik Islam

Banyak keluhan di kalangan masyarakat luas bahwa elektabilitas partai-partai Islam atau yang berbasis umat Islam cenderung menurun dari waktu ke waktu. Kenyataan ini kadang merembet dengan asumsi menyalahkan Islam sebagai agama. Padahal Islam sebagai agama yang benar (dinulhaq) tidak akan luntur kebenarannya sepanjang zaman. Kalau kemudian partai Islam menurun maka hal itu bukan karena kesalahan Islam sebagai agama, tetapi? karena keterbatasan partai berbasis Islam untuk menampilkan keluhuran nilai ajaran Islam itu sendiri dalam bidang politik. Untuk mengatasinya, harus ada upaya sungguh-sungguh agar pelaksana politik Islam menunjukkan keluhuran nilai Islam itu sendiri dalam prilaku politik. Partai berbasis Islam tidak cukup hanya menampilkan simbolisme Islam tapi harus bekerja keras untuk keadilan, kemakmuran, kemanusiaan, dan kesetaraan di dalam masyarakat luas sebagai realisasi Islam rahmatan lil alamin.

5. Kembalikan Indonesia untuk Indonesia

Kenyataan menunjukkan bahwa banyak kebijakan yang dihasilkan dalam bentuk Undang-undang yang berujung pada judicial review untuk membatalkan undang-undang itu karena tidak sesuai dengan semangat Undang-Undang Dasar 1945. Bahkan dalam tingkat tertentu Undang-Undang ini tidak berpihak kepada kepentingan Indonesia dan justeru berpihak pada kepentingan asing seperti undang-undang pertambangan,energi,air? dan pertanahan dan lain-lain. Bentuk kebijakan yang merugikan ini adalah produk dari kepemimpinan nasional yang terdiri dari kepala negara (eksekutif) dan anggota legislatif yang dihasilkan dari proses pemilu sebelumnya? yang menelan biaya yang tidak sedikit. Karena itu, siapapun pemimpin dan anggota legislatif yang dihasilkan oleh pemilu yang akan datang? harus mampu menghasilkan produk kebijakan yang berpihak pada kepentingan bangsa Indonesia. Jika tidak, maka bangsa Indonesia akan terjebak pada siklus kehancuran untuk lima tahun yang akan datang. Untuk dapat membuat kebijakan yang berpihak pada kepentingan bangsa Indonesia memang tidak mudah karena proses untuk menghasilkan pemimpin dan anggota legislatif ini belum mampu menjamin lahirnya sosok pemimpin yang berpihak pada kepentingan bangsa. Karena itu baik presiden maupun parlemen harus bersatu dalam kepentingan nasional sekalipun berawal dari visi yang tidak sama.

6. Wilayah Kepartaian dan Wilayah Kenegaraan

Dominasi partai politik dalam kekuasaan yang terjadi selama ini berakibat padakaburnya antara wilayah kepartaian dan wilayah penyelenggaraan negara. Kader-kader parpol yang terpilih menjadi penyelenggara negara lebih sering tampil mewakili parpol masing-masing ketimbang menjadi penyelenggara negara yang seharusnya melayani kepentingan semua warga bangsa.? Dalam kondisi seperti ini sering terjadi kerancuan apakah para pejabat dari partai politik ini mewakili kepentingan partainya atau mewakili kepentingan bangsa yang lebih luas. Karena itu, diperlukan peraturan perundangan yang mengatur pembagian tugas yang jelas antara wilayah kepartaian dan wilayah penyelenggara kenegaraan.Dengan demikian, jika seorang kader partai memegang jabatan sebagai penyelenggara negara maka dia harus menanggalkan baju kepartaiannya dengan mengabdikan diri untuk kepentingan bangsa yang lebih luas.

7. Mengembalikan Ulama kembali kepada moral ulama

Dalam perjalanan sejarah kehidupan bangsa ulama selalu tampil dalam menyelesaikan problem-problem yang mengiringi kehidupan bangsa dan bernegara. Dalam kondisi carut marut kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini ulama hendaknya tetap kokoh berpegang? pada? moral ulama sebagai tonggak dan panutan umat dan tidak larut dalam suasana pragmatisme sesaat.Untuk menjadi panutan umat di tengah kegoncangan seperti ini ulama harus tetap berpegang pada moral ulama dan memiliki informasi yang cukup tentang kondisi yang terjadi dewasa ini.

Demikianlah semoga Allah memberikan perlindungan dan maunah Nya kepada kita dan akan dilanjutkan dengan maklumat kebangsaan serupa.

?

Jakarta, 3 April 2014

?

Penanggung Jawab: KH A Hasyim Muzadi

Tim Perumus: KH Abdurrahman Nafis (Jawa Timur), KH. Sofyan ( Jawa Barat), KH. Dr. Fadlalan Musaffa’ (Jawa Tengah), KH. Dr. Cholil Nafis (Jakarta), Dr. H. Rahmat Hidayat (Jakarta), Dr. Arif Zamhari (Jakarta)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kiai, Sejarah Siti Efi Farhati

Rabu, 08 November 2017

HIDMAT NU Tertantang Sampaikan Dakwah Lewat Tulisan

Jakarta, Siti Efi Farhati. Himpunan Da‘iyah dan Majelis Taklim Muslimat Nahdlatul Ulama (HIDMAT NU) tertantang untuk menyampaikan dakwah melalui media tulisan. Karena, menulis itu sendiri membutuhkan kemampuan cukup dan latihan terus-menerus.

HIDMAT NU Tertantang Sampaikan Dakwah Lewat Tulisan (Sumber Gambar : Nu Online)
HIDMAT NU Tertantang Sampaikan Dakwah Lewat Tulisan (Sumber Gambar : Nu Online)

HIDMAT NU Tertantang Sampaikan Dakwah Lewat Tulisan

Demikian dikatakan Sekretaris HIDMAT NU Sururin saat ditemui Siti Efi Farhati usai pelatihan penulisan dengan tajuk “Gerakan Perempuan Indonesia Menulis” di Gedung PBNU lantai lima, Jalan Kramat Raya nomor 164, Jakarta Pusat (13/5) siang.

“Sebagian dari pengurus HIDMAT NU sudah ada yang terbiasa menulis di pelbagai media. Hanya saja kebiasaan menulis ini belum menjadi kesadaran bersama di kalangan para da‘iyah,” tambah Sururin.

Siti Efi Farhati

Dakwah itu, sambung Sururin, bisa disampaikan melalui sejumlah cara. Umumnya para pendakwah hanya menyampaikan seruan dakwahnya dengan sistem ceramah. Sedangkan dakwah yang dituangkan dalam tulisan, masih belum tergarap dengan baik.

Siti Efi Farhati

Selain membangun tradisi menulis, dakwah lewat tulisan juga menuntut pembelajaran lebih lanjut. Karena, tulisan merupakan cermin intelektualitas pendakwah. Mereka dengan sendirinya terdorong untuk lebih dalam mempelajari agama Islam, tambah Sururin.

Dakwah melalui tulisan bisa menjadi ukuran kemampuan individu pendakwahnya. Namun, masyarakat juga dapat mengukur kapasitas para pendakwah NU. Karenanya, dakwah lewat tulisan merupakan pertaruhan khazanah keilmuan Islam yang menantang, tutup Sururin.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sejarah, Internasional Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock