Tampilkan postingan dengan label AlaSantri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaSantri. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Februari 2018

Ulama Diminta Bimbing Eks Gafatar

Subang, Siti Efi Farhati

Setelah menjalani pembinaan di Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat, Dinas Sosial Kabupaten Subang bersama Kepolisian setempat menjemput eks anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) asal Subang dalam empat tahap.

"Mereka dipulangkan ke tempat asalnya masing-masing di beberapa kecamatan yang ada di Subang," ungkap Kepala Satuan Bimbingan Masyarakat Polres Subang, AKP. H Sarjono usai mengikuti Rapat Reboan PCNU setempat, Rabu (17/2).

Ulama Diminta Bimbing Eks Gafatar (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Diminta Bimbing Eks Gafatar (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Diminta Bimbing Eks Gafatar

Sebelum dipulangkan ke tempat asal, kata dia, para eks anggota Gafatar yang berjumlah 44 orang ini tidak langsung dipulangkan ke tempat asalnya karena mereka akan kembali mendapatkan pembinaan.

Siti Efi Farhati

Ditambahkan, mereka punya kepercayaan yang cukup kuat sehingga mesti diberi pemahaman secara kontinyu agar mereka benar-benar bisa meninggalkan kepercayaan yang ada di Gafatar.

Siti Efi Farhati

"Saya sudah memberikan nama dan alamatnya kepada para kiai, diharapkan agar para ulama, kiai dan ustadz terdekat dapat membimbing dan memberi pencerahan kepada eks Gafatar ini supaya mereka tidak kembali lagi ke ajaran Gafatar atau sejenisnya," papar Polisi yang juga jadi pengurus PCNU Subang ini.

Sementara untuk memenuhi kebutuhan hidup, kata dia, para mantan anggota Gafatar ini sudah diarahkan untuk berbisnis seperti berdagang dan bertani. (Aiz Luthfi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Lomba, Anti Hoax, AlaSantri Siti Efi Farhati

Rabu, 14 Februari 2018

DKM Masjid Baiturrahman Purwadadi Gelar Lomba Pukul Bedug

Subang, Siti Efi Farhati. Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Besar Baiturrahman kecamatan Purwadadi mengadakan Lomba Bedug di penghujung Ramadhan pada Sabtu-Ahad (10-12/7). Kegiatan rutin tahunan untuk kali ini diramaikan oleh 27 grup pemukul bedug.

Ketua DKM Masjid Besar Baiturrahman Purwadadi KH Agus Syarifudin mengatakan bahwa masyarakat sangat antusias dengan kegiatan lomba bedug ini. Hal ini dapat dilihat dari jumlah peserta dan pendukung yang selalu memadati halaman masjid.

DKM Masjid Baiturrahman Purwadadi Gelar Lomba Pukul Bedug (Sumber Gambar : Nu Online)
DKM Masjid Baiturrahman Purwadadi Gelar Lomba Pukul Bedug (Sumber Gambar : Nu Online)

DKM Masjid Baiturrahman Purwadadi Gelar Lomba Pukul Bedug

"Dari 27 grup, yang jadi juara 6 grup. Juara 1 sampai 3 dan juara harapan 1 sampai harapan 3," kata Kiai Agus usai penutupan kegiatan, Ahad (12/7) malam.

Siti Efi Farhati

Peserta kegiatan ini terdiri atas dua kategori, yaitu kategori anak-anak dan dewasa, sehingga yang berhak menjadi pemenang berjumlah 12 grup yaitu 6 grup untuk juara anak-anak dan 6 grup untuk juara dewasa.

Aspek yang dinilai, kata Wakil Ketua PCNU Subang ini, adalah menyangkut beberapa hal, di antaranya kekompakan dalam menabuh 3 buah bedug, suara dan irama bedug, pakaian dan juga etika peserta saat di panggung.

Siti Efi Farhati

Selain dihadiri ratusan pendukung peserta lomba, masyarakat Purwadadi dan sekitarnya, kegiatan lomba bedug ini juga dihadiri para pejabat dan tokoh masyarakat setempat seperti Bupati Subang, anggota DPRD Subang, Camat, dan Muspika Purwadadi. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati AlaSantri Siti Efi Farhati

Rabu, 07 Februari 2018

Menag Mesir: Muslim yang Tewas saat Jaga Gereja itu Mati Syahid

Jakarta, Siti Efi Farhati - Menteri Agama Mesir DR Muhammad Mukhtar Jum‘ah menyampaikan bahwa seorang Muslim yang tewas ketika menjaga gereja mendapat derajat syahid di sisi Allah. Menurutnya, partisipasi umat Islam dalam pengamanan peribadatan umat Kristiani tidak berbeda dengan pengamanan peribadatan dalam agama Islam itu sendiri.

Demikian disampaikan Menteri Wakaf dan Urusan Agama Mesir DR Muhammad Mukhtar Jum‘ah dalam khutbah Jumat di Masjid Al-Abbasi, Port Said, Mesir, Jumat (22/12) siang.

Menag Mesir: Muslim yang Tewas saat Jaga Gereja itu Mati Syahid (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Mesir: Muslim yang Tewas saat Jaga Gereja itu Mati Syahid (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Mesir: Muslim yang Tewas saat Jaga Gereja itu Mati Syahid

“Orang yang tewas ketika menjaga gereja maka ia terkategori syahid di jalan Allah,” kata Mukhtar Jum‘ah dalam khutbahnya seperti dirilis al-yaumus sabi‘ dengan link youm7.com pada 22 Desember 2017.

Ia mengingatkan jamaah Jumat bahwa kini umat manusia tengah berada di gerbang tahun baru Masehi. Ia menganjurkan jamaah masjid tersebut dan umat Islam pada umumnya untuk bahu-membahu menjaga keamanan gereja sebagaimana umat Islam menjaga masjid.

Siti Efi Farhati

Menurutnya, partisipasi pengamanan gereja juga sangat sesuai dengan prinsip-prinsip kebangsaan. Dan ini, menurutnya, berdasar pada pemahaman yang sahih atas nilai-nilai Islam.

“Pemahaman yang benar atas ajaran agama yang menjadi prioritas utama kita saat ini adalah mencegah mereka yang tidak memiliki kualifikasi dan kapasitas ilmu agama yang memadai untuk mencederai nama baik Islam dan agama yang benar,” kata Mukhtar Jum‘ah.

Siti Efi Farhati

Dalam khutbah Jumat akhir tahun ini, ia juga mengajak jamaah untuk melakukan muhasabah dengan kutipan definisi muhasabah dari Imam Al-Mawardi. Ia mengajak jamaah untuk memeriksa perilaku keseharian masing-masing sesuai pertimbangan baik dan buruk menurut syariat Islam.

Menurutnya, mereka yang melakukan perbuatan terpuji patut bersyukur dan memuji Allah. Tetapi mereka yang melakukan perbuatan tercela menurut agama harus bertobat kepada Allah dan berusaha tidak akan mengulangi perbuatan buruknya karena segala sesuatu akan dimintakan pertanggungjawabannya di hari Kiamat kelak. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kiai, Bahtsul Masail, AlaSantri Siti Efi Farhati

Senin, 05 Februari 2018

Mun’im DZ: Rekonsiliasi Butuh Pijakan Sejarah yang Benar

Malang, Siti Efi Farhati. Silang sengkarut sejarah 1965, NU-PKI selalu menjadi perbincangan panas di Indonesia. Jika selama ini publik hanya mengkonsumsi Informasi dari media massa, dan beberapa wacana kiri saja, kini hadir buku putih “Benturan NU-PKI” yang menjadi jawaban dari kesekian pertanyaan penting terkait sejarah perjalanan bangsa.

Buku putih itu menjadi topik seminar di Malang, Kamis (1/5). Punulisnya Abdul Mun’im DZ hadir. Menurutnya, masyarakat yang melek sejarah akan mengetahui dengan sendirinya jika PKI bukan satu-satunya Korban. Meski gencar diberitakan NU sebagai pelaku pembantaian, sejatinya NU sendiri adalah korban tragedi 1965.

Mun’im DZ: Rekonsiliasi Butuh Pijakan Sejarah yang Benar (Sumber Gambar : Nu Online)
Mun’im DZ: Rekonsiliasi Butuh Pijakan Sejarah yang Benar (Sumber Gambar : Nu Online)

Mun’im DZ: Rekonsiliasi Butuh Pijakan Sejarah yang Benar

Beberapa data sengaja disajikan dalam perbincangan hangat tersebut. Pasalnya, kesimpang-siuran informasi selama ini sengaja dilakukan untuk mendeskriditkan NU. Salah satunya penggelembungan data korban. Data yang ada lebih banyak media membesar-besarkan jumlah yang tidak rasional. “Buku ini sengaja saya tulis, sebagai rekonsiliasi yang berpijak pada kebenaran,” kata Abdul Mun’im.

Siti Efi Farhati

Wakil Sekjen Pengurus Besar NU itu bahkan menjelaskan, pasca tragedi geger 1965, PKI-NU sebagai korban dirampas hak-haknya sebagai warga negara. NU tidak lagi boleh berpolitik, NU disingkirkan dan beberapa akses ditutup.

“Jadi yang paling berperan untuk menciptakan opini salah dan benar adalah media yang sudah disetting secara global,” paparnya di home-theater Fakultas Humaniora dan Budaya UIN Maliki Malang itu.

Siti Efi Farhati

Penulis berharap buku ini tidak hanya jawaban atas tudingan-tudingan miring pada NU, namun juga sebagai pijakan sejarah untuk anak bangsa. (Diana Manzila/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Lomba, Sholawat, AlaSantri Siti Efi Farhati

Jumat, 12 Januari 2018

Refleksi Harlah Ke-61: Idealisme IPNU Memudar?

Oleh Cakra Pramudhita

“Tjita2 daripada Ikatan Peladjar Nahdlatul ’Ulama’ jalah membentuk manusia jang berilmu, tetapi bukan manusia calon kasta elite di dalam masjarakat, Tidak. Kita menginginkan masjarakat jang berilmu. Tetapi jang dekat dengan masjarakat. Oknum jang berbuat karena ilmunya. Dan berilmu tetapi jang mau berbuat dan beramal. Sungguh akan merupakan malapetaka jang amat besar baik negara dipimpin oleh orang-orang jang tidak berilmu. Kita tidak menjandarkan semata-mata kepada kariere, lebih2 kariere dengan kekosongan ilmu dan bekal dalam kepala (Pidato resmi KH.Tholchah Mansoer.”

(Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU) pada Muktamar IV, 1961 di Yogyakarta)

Refleksi Harlah Ke-61: Idealisme IPNU Memudar? (Sumber Gambar : Nu Online)
Refleksi Harlah Ke-61: Idealisme IPNU Memudar? (Sumber Gambar : Nu Online)

Refleksi Harlah Ke-61: Idealisme IPNU Memudar?

 

Pada 24 Februari 2015, IPNU menapaki tahun ke-61. Para pendirinya, mungkin tidak pernah menyangka organisasi yang semula hanya dibawah naungan LP Ma’arif dan kemudian menjadi underbouw Nahdlatul Ulama (NU) dapat bertahan dan menggeliat melintasi kerasnya perubahan. Dipaksa oleh keadaan politik, banyak organisasi kepemudaan, pelajar, dan kemahasiswaan yang berdiri sebelum maupun pada masa Orde Lama (Orla) bertumbangan.

Deskripsi dan usulan perubahan dari penulis mudah-mudahan mampu memaksa kita untuk mere-institusionalisasi dirinya. Jika tidak, mudah-mudahan selalu muncul gagasan alternatif dari kader-kader lain yang bisa menjadi common platform bagi pengembangan institusi yang memiliki kemampuan adaptif terhadap tantangan terkini dengan diferensiasi karakteristik yang khas. Jika tidak ada sama sekali agenda berupa gagasan dan langkah konkret dalam mereorganisasi maka secara otomatis eksistensi dan peran IPNU akan terus memudar.

Membaca Masa Kini

Siti Efi Farhati

Adapun bagi IPNU yang telah menginjak usia 61 tahun, jika diumpamakan dengan usia manusia, IPNU sekarang adalah orang yang biasanya sedang berusaha meningkatkan ibadah formalnya agar terhindar dari siksa api neraka jelang tutup usia. Tentu saja, perumpamaan usia serta kecenderungan antara institusi dan orang memang kurang tepat. Tapi, sebagaimana halnya mahluk hidup, institusi juga bisa lahir dan mati. Dalam konteks itu, penulis ingin memberikan penekanan bahwa kondisi IPNU saat ini nyaris seperti orang tua sekarat yang sudah tidak lagi produktif meskipun masih dapat memberi manfaat bagi orang lain. Kalau mau jujur, kondisi seperti itu tercermin di pengurus tingkat nasional saat ini. Mereka memang tidak bisa disalahkan sepenuhnya mengingat mereka adalah produk dari sistem kaderisasi dan sistem institusi. Pun sebaliknya, mereka juga tidak bisa dibenarkan karena mereka adalah pemilik otoritas tertinggi dari hirarki IPNU yang mengabaikan mandat institusi.

Siti Efi Farhati

Beruntung PP IPNU masih belum bisa menghadirkan dirinya sebagai organisasi kader, sehingga kondisi di tingkat nasional tidak terlalu berdampak signifikan pada cabang-cabang, anak cabang, dan ranting, karena sebagian kecil pengurus-pengurus IPNU di daerah masih sangat produktif dan bahkan berhasil melakukan terobosan-terobosan meskipun tidak ada lagi kepemimpinan di tingkat nasional. Sebagian yang lain masih berkutat dengan tindakan minimalis yakni hanya berusaha sebatas mempertahankan eksistensi IPNU di daerahnya tanpa rencana strategis yang jelas. Ada juga perekayasaan eksistensi hanya ketika perhelatan Konfercab, Konferwil, atau Kongres akan digelar. Dua yang terakhir adalah cara-cara survival ala IPNU yang masih terus mentradisi. Kondisi seperti itu tentu saja tidak berdiri sendiri, melainkan sebuah keberlanjutan atau akibat dari rentang proses periode sebelumnya.

Mengapa dampak dari apa yang terjadi di level nasional tidak terlalu signifikan pada daerah? Adanya sistem yang sudah lama corrupt (rusak) menyebabkan terjadinya patologi institusi, mulai dari atas hingga bawah. Sedikit sekali pengurus yang memiliki konsistensi terhadap tujuan, nilai, produk konstitusi, dan panduan kaderisasi IPNU Sebagian besar hanya menjadikan IPNU sebagai stepping stone atau eskalator dalam berkarir post - IPNU dan bahkan keberadaan sebagai pengurus dianggap sebagai profesi. Karena itulah, semuanya masih bisa berjalan secara otonom sesuai dengan mindset pengurusnya masing-masing. Relasi antar jenjang pengurus tidak lebih dari selembar SK pengurus.

Tantangan eksternal IPNU

Pertama, setting situasi politik saat ini berbeda dengan masa lalu. Transisi demokrasi saat ini masih terjadi tetapi semakin mendekati ke arah konsolidasi demokrasi. Fenomena ini bisa dilihat dengan semakin adapatifnya elemen-elemen demokrasi dengan tata politik demokrasi. Meskipun kita masih meragukan, partai politik saat ini tengah dipaksa untuk berubah secara bertahap. Upaya pemberantasan korupsi, meskipun masih menyimpan banyak masalah, terus berjalan secara pasti dan membuat ilusi ketakutan di kalangan birokrasi dan jabatan politik non karir yang umumnya dihuni elite dari partai politik. Kecurigaan-kecurigaan publik yang distimulasi oleh transparansi mendesakkan berjalannya secara efektif dan efisien (mantra capitalism) institusi-institusi di bawah negara.

Kedua, setting gerakan sosial. Gerakan sosial ala pelajar - mahasiswa sudah digantikan oleh gerakan interest group dari organisasi berbasis profesi atau kepentingan. Berbicara isu perburuhan maka kelompok-kelompok berbasis buruhlah yang paling mengerti setiap isu yang terkait dengan dunia perburuhan. Pun demikian dengan isu-isu kepentingan lainnya, misalkan untuk berbicara isu korupsi maka ICW atau TII yang dianggap lebih memiliki kapasitas karena ditunjang oleh sumber daya yang andal dan infrastruktur yang cukup memadai untuk mengumpulkan dan mengolah data. Hal ini juga terjadi di isu lingkungan di mana Walhi, WWF, atau Green Peace dianggap lebih capable. Isu keagamaan juga lebih banyak didorong oleh kelompok sosial berbentuk LSM atau Ormas. Hal ini terjadi di hampir seluruh isu-isu yang terkait dengan dinamika sosial, politik, ekonomi, dan budaya di mana selalu muncul kelompok yang memiliki fokus isu.

IPNU sebagai organisasi kader

Berulang kali disampaikan di berbagai ruang pengkaderan bahwa organisasi hampir selalu didikotomikan ke dalam organisasi massa atau kader, organisasi profesional atau voluntarian, dan organisasi tradisional atau modern. Prinsip-prinsip dasar antara bentuk, isi, dan sifat tersebut nyaris tidak bisa disatukan. Meskipun bisa, akan selalu memunculkan kontradiksi di dalamnya. IPNU harus berani memilih tipologi atau karakteristik yang jelas karena sesungguhnya berada di grayscale area seperti saat ini tidak selalu nyaman dan baik. Sepanjang pengetahuan penulis, terdapat dua ciri yang khas melekat di dalam organisasi kader: disiplin terhadap nilai dan disiplin terhadap institusi kepemimpinan (struktur). Dua bentuk kedisiplinan ini tidak bisa ditawar. Menegasikan salah satunya hanya akan membuat institusi menjadi pincang, menciptakan ketidakteraturan (disorder), dan menimbulkan kerapuhan. Di manapun ada institusi kader maka kedua kedisiplinan ini selalu melekat.

Jika kita ingin melongok sedikit ke dalam ritus, maka institusi kader yang efektif bisa terefleksi di dalam sholat berjama’ah. Di dalam sholat berjama’ah, seseorang bisa menjadi imam karena memiiliki syarat khusus (special conditions) yang berbeda dengan syarat yang juga dimiliki oleh bilal, muadzin, makmum, bahkan pemukul beduk. Oleh karena syarat ini terbatas dipenuhi dalam sebuah situasi yang demikian maka tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama memainkan peran yang dilakoni dalam sebuah momentum sholat berjama’ah.

Maksud dari analogi di atas adalah bahwa setiap anggota terdiferensiasi dalam kapasitas yang berbeda. Untuk mencapai kapasitas tertentu tiap anggota harus melakukan upgrading level. Dalam proses ini, institusi berkewajiban memberikan kesempatan dan tahapan proses yang sama bagi semua anggota untuk dapat melakukannya. Itulah yang dinamakan kaderisasi. Seorang imam akan terus dipatuhi perintahnya selama memiliki kesesuaian dengan tata cara dan aturan sholat. Bila melenceng dari tata cara dan aturan sholat maka barisan (makmum) dapat memberikan kritik secara terbatas dan teratur. Oleh karena imam seorang manusia, maka keimaman seseorang dapat batal dan digantikan oleh makmum yang memiliki kapasitas yang mendekati kapasitas imam.

Barisan yang berada tepat dibelakang imam, terutama yang berada persis di belakang imam, adalah juga orang yang telah siap menjadi seorang imam manakala kondisi yang tidak diharapkan mendera sang imam, termasuk intervensi secara kasar dari luar. Ada keberlanjutan untuk tetap mengokohkan dan mempertahankan kondisi tersebut untuk tetap berusaha sampai pada tujuan bersama.

Di dalam organisasi kader, kepentingan individu telah termanifestasi menjadi kepentingan institusi. Munculnya ruang konflik yang mengakibatkan disintegrasi institusi terjadi karena interpretasi atas nilai dan perilaku elite atau pengurus organisasi dalam hal ini tetap dimungkinkan. Namun, kemungkinan tadi menjadi sangat kecil jika saja kepemimpinan sebagai sebuah faktor krusial di dalam organisasi dapat berjalan secara baik. Pada dasarnya pemimpin memiliki otoritas untuk memilih berbagai opsi strategi. Strategi dan taktik yang digunakan dapat dinilai baik manakala output-nya sesuai dengan tujuan organisasi.

Sudahkan IPNU menjadi organisasi kader?

Sebelum sampai kepada pilihan tadi, mari kita mencoba menengok realitas yang ada di IPNU sehingga mudah-mudahan terdapat sedikit kesamaan persepsi atau bahkan konklusi. Meskipun, dari situ saja akan memunculkan kemungkinan opsi perubahan yang berbeda di benak kepala kader. Di berbagai kesempatan ketika berinteraksi dalam kegiatan kaderisasi formal maupun non formal di Surabaya maupun di daerah lain, kita akan dikejutkan dengan realitas yang cukup “membingungkan”. Kebingungan tersebut bermula dari lontaran sebuah pertanyaan bagi kita bersama: “ apakah tujuan IPNU berdasarkan dari apa yang tercantum di Anggaran Dasar?” Mayoritas dari mereka yang ditanya umumnya tidak mampu menyebutkan tujuan IPNU. Belum lagi kalau ditanyakan apakah ideology IPNU, mayoritas mengalami kebingungan apakah ideology IPNU adalah Pancasila atau Aswaja, kedua-duanya atau salah satunya. Atau bahkan, bukan keduanya.

Di lain kesempatan, kita yang ada dalam kepengurusan ini mungkin akan bertanya, “apakah kita sudah menjadi organisasi kader?”. Dipastikan seluruhnya menjawab bahwa IPNU merupakan organisasi kader. Mereka berargumentasi ada proses kaderisasi formal yang dilakukan oleh institusi. Hanya sebatas itu. Kalau mau jujur, berdasarkan pengamatan menghadiri banyak kegiatan kaderisasi formal, kegiatan kaderisasi formal benar-benar hanya merupakan formalitas. Ada beberapa alasan yang menjadi dasar pendapat tersebut.

Pertama, kegiatan kaderisasi formal masih baru dilihat sebagai prosedur teknis belaka yang ditujukan untuk memenuhi keabsahan pengurus di mata PD/PRT. Untuk hal ini, tidak aneh jika terjadi penyimpangan terhadap standar materi atau kurikulum maupun format kaderisasi yang seharusnya dijadikan acuan.

Kedua, kegiatan kaderisasi formal masih diproyeksikan untuk meningkatkan prestise pengurus semata dengan indikator jika secara kuantitas diikuti oleh banyak peserta tanpa mempetimbangkan kualitas pengetahuan dan proses yang sudah dilalui peserta sebelum kegiatan. Walhasil, ketika materi kaderisasi disampaikan, akibat disparitas pengetahuan dan proses, praktis hanya dalam persentase yang cukup kecil yang dapat mengikuti alur materi secara baik.

Ketiga, bagi peserta kegiatan kaderisasi formal, keikutsertaan dan sertifikat kelulusan menjadi prioritas agar dapat digunakan sebagai syarat untuk berkarir dalam jenjang berikutnya. Dari beberapa alasan tadi, maka sangat wajar kemudian banyak pengurus, untuk ini saya sangat yakin, tidak mengetahui tujuan IPNU, (mungkin juga termasuk saya), serta strategi untuk mencapainya. Hal ini juga masih ditambah pada minimnya pemahaman terhadap nilai-nilai dasar yang menjadi pilar untuk bergerak.    

Untuk menjadi institusi kader yang efektif maka perlu memiliki disiplin terhadap kepemimpinan. Aturan main yang sudah jelas harus dapat dipatuhi. Kepemimpinan bukan penghias hasil konferensi tetapi juga dilihat sebagai mandat organisasi. Sejauh sang pemimpin masih berjalan sesuai koridor dan menjalankan kebijakan untuk mencapai tujuan organisasi maka ia harus ditaati. Sanksi organisasi bukan hanya pelengkap peraturan organisasi. Sanksi diberlakukan bagi mereka yang mengabaikan kebijakan organisasi atau dalam hal ini direpresentasikan oleh pemimpin.

Dari pengamatan selama ini, selain kepemimpinan juga ada format struktur yang harus dibenahi. Format PP, PW, dan PC yang ada saat ini tidak memungkinkan organisasi kita menjadi organisasi kader. Untuk mencapainya, format yang memungkinkan harus ditunjang dengan kerangka operasional berupa tugas pokok dan fungsi yang sistematik dan jelas. PP masih menjadi organisasi yang terlalu besar (periode 2012 - 2015 terdiri dari 120-an personel) di mana kerangka strukturnya dibentuk dengan hanya melihat faktor pengakomodasian atau rekomendasi pesanan dan belum pada kapasitas personal serta kebutuhan institusi. Walhasil, terlalu banyak tumpang tindih fungsi sehingga malah kerap kali menyebabkan disfungsi. PC pun juga demikian, di mana kerangka strukturnya dibentuk dengan hanya melihat faktor pengakomodasian atau rekomendasi pesanan dan belum pada kapasitas personal serta kebutuhan institusi.

Jika kaderisasi telah berjalan secara baik di mana tujuan organisasi telah tercapai maka operasionalisasi konsepsi kader dapat di perluas. Rencana dan kebijakan strategis jangka panjang di dalam ruang yang lebih besar baik di masyarakat dan negara dapat dilakukan di level institusi alumni. Istilah kader pun kemudian dapat dimaknai sebagai seseorang yang menjadi pengabdi, pejuang, dan pelayan dalam spektrum apapun yang menjalani tindakannya sesuai dengan nilai-nilai yang ada di IPNU meskipun sudah tidak lagi mempunyai ikatan institusional dengan IPNU.

Almarhum KH.Tolchah Mansoer dan para founding fathers IPNU mendirikan IPNU bukan untuk bertengger di menara gading dan menjadikan para pengurus dan kadernya sebagai “manusia calon kasta elite”. IPNU dilahirkan untuk membumi dalam masyarakat, menjadi bagian dari dan mendampingi masyarakat bawah, serta terlibat dalam berbagai penyelesaian masalah untuk membangun kemasalahan publik.

Kini, IPNU sudah diambang pintu untuk tampil persis seperti yang dikhawatirkan oleh KH Tolchah Mansoer, yaitu menjadi ”kasta-kasta elite”, jauh dari masyarakat dan tidak terlibat dalam pergumulan sosial dan penyelesaian berbagai persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Bahkan perilaku para pengurusnya lebih suka tampil sebagai kelas-kelas elite yang jauh dari masyarakat alit, namun gila citra. Ketiadaan kerja advokasi dan pendampingan masyarakat, setidaknya masyarakat pelajar, oleh IPNU pada beberapa dekade terakhir menunjukkan realitas ini. 

Kini, 61 tahun sudah IPNU berkhidmah untuk Indonesia. Catatan di atas hanya merupakan upaya melakukan debunking (penelanjangan atau pembongkaran) agar ada upaya koreksi dan perbaikan bersama dari semua unsur di IPNU dalam momentum Hari Lahirnya yang ke 61 hari ini.

Wallahul Muwaffiq Ilaa Aqwamith Thariq

 

Cakra Pramudhita, pengurus PC IPNU Kota Surabaya

 

 

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati AlaSantri, Tokoh, Pondok Pesantren Siti Efi Farhati

Selasa, 02 Januari 2018

Ansor Batam Prihatin Kegaduhan Politik Pascawafatnya Gubernur Kepri

Batam, Siti Efi Farhati

Wafatnya Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) HM Sani beberapa waktu lalu mengantarkan wakil gubernurnya, Nurdin Basirun mengisi jabatan gubernur. Hanya saja, tentang siapa pendamping Nurdin menjadi perbincangan hangat di media sosial maupun kedai kopi. Beberapa politisi bahkan berani berbicara di media cetak terkait masalah tersebut sebelum tujuh hari berpulangnya HM Sani. Beberapa nama muncul, baik dari partai pengusung, tim sukses hingga dari keluarga mendiang.

Ansor Batam Prihatin Kegaduhan Politik Pascawafatnya Gubernur Kepri (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Batam Prihatin Kegaduhan Politik Pascawafatnya Gubernur Kepri (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Batam Prihatin Kegaduhan Politik Pascawafatnya Gubernur Kepri

Menyikapi hal tersebut, Ketua Penasehat Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota Batam Eddy Prasetyo berharap semua pihak bisa menahan diri. Menurutnya, tanggung jawab utama pemerintahan di provinsi ini kini sudah berada di tangan Nurdin.

"Kami keluarga Ansor Batam masih berduka dengan wafatnya M Sani. Namun menyinggung masalah kepemimpinan di Kepri, keluarga besar Ansor Batam meminta kepada seluruh pihak agar memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi Nurdin Basirun untuk menentukan siapa wakilnya. Tentu saja sesuai dengan mekanisme yang ada," kata Eddy Prasetyo yang didampingi oleh Sularno Menot, Wakil Ketua Ansor Kota Batam.

Siti Efi Farhati

Eddy melanjutkan, untuk pergantian dan penentuan siapa wakil gubernur Kepri masih ada proses dan mekanisme panjang yang mesti dilalui. "Sebelumnya DPRD Provinsi Kepri harus melaksanakan sidang paripurna istimewa dengan agenda pemberhentian Gubernur, serta mengusulkan gubernur baru kepada Presiden melalui Mendagri," tegas Eddy Prasetyo.

Siti Efi Farhati

Menyikapi siapa yang paling berpeluang menjadi pendamping Nurdin kelak, Eddy menyatakan bahwa itu sepenuhnya menjadi hak Nurdin sebagai Gubernur. Sehingga tidak boleh ada satu pihakpun yang mengatur dan menekan Nurdin Basirun.

"Menurut Peraturan Pemerintah nomor 104 tahun 2014 pasal 5 menyebut bahwa gubernur wajib mengajukan nama calon wakil gubernur paling lambat 15 hari sejak dilantik menjadi gubernur. Jadi, penentuan siapa yang berhak menjadi wakil gubernur adalah Nurdin sendiri sejak dia dilantik menjadi gubernur," tandasnya.

Pada kesempatan ini Eddy berharap agar semua pihak dapat menghormati konstitusi. Sehingga semuanya dapat berjalan semestinya. "Silakan memberi masukan tentang siapa yang layak mendampingi Bang Nurdin, tetapi hanya sebatas memberi masukan. Kita kembalikan kepada beliau siapa yang di rasa cocok dan memiliki kemampuan menjadi pendamping beliau melanjutkan cita-cita pembangunan Kepri yang telah di susun bersama mendiang pak Sani. Jangan sampai ada riak bahkan gelombang yang dapat mengganggu semua tatanan, baik ekonomi, sosial maupun politik di Kepri," kata Eddy.

Sementara itu wakil ketua GP Ansor Batam Sularno Menot meyakini, bahwa Nurdin Basirun akan sangat bijak dalam mamilih wakil gubernur pendampingnya. Siapapun nanti yang di pilih, pastilah orang yang mampu di ajak bekerja sama dan bekerja keras untuk mewujudkan cita-cita almarhum Pak Sani bersama Nurdin.

"Bisa saja bukan dari kalangan politisi, karena dalam PP nomor 102, pasal 4 ayat 1 huruf (f) mengisyaratkan PNS dengan golongan paling rendah IV/C dan pernah atau sedang menduduki jabatan eselon IIa maka ia boleh di tunjuk sebagai calon wakil gubernur" terang Menot.

Menot menegaskan bahwa penunjukan Wakil Gubernur ini merupakan kewenangan Gubernur dan dikomunikasikan kepada partai pengusung. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati AlaSantri, Nahdlatul Ulama Siti Efi Farhati

Senin, 01 Januari 2018

Kang Said: Siapapun Ketumnya, NU Pikul Dua Amanah

Jakarta, Siti Efi Farhati. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menegaskan bahwa NU memikul dua amanah, yakni amanah diniyah islamiyah (perjuangan Islam) dan amanah wathaniyah siyasiyah (perjuangan politik kebangsaan).

Kang Said: Siapapun Ketumnya, NU Pikul Dua Amanah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Siapapun Ketumnya, NU Pikul Dua Amanah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Siapapun Ketumnya, NU Pikul Dua Amanah

“Siapapun ketua umumnya, dua amanah ini harus dipikul NU dengan penuh tanggung jawab,” ujarnya saat memberi kata sambutan dalam peluncuran Perkemahan Penggalang Ma’arif NU Nasional (Pergamanas) Ke-1 yang digelar Lembaga Pendidikan Ma’arif NU di Jakarta, Jumat (14/11).

Menurut kiai yang akrab disapa Kang Said ini, di pundak NU terpikul beban untuk mempertahankan akidah Ahlussunah wal Jama’ah yang menekankan prinsip toleransi dan sikap moderat. Islam tak dipahami sekadar akidah dan syari’ah, tapi juga agama peradaban dan moral.

Siti Efi Farhati

Soal kebangsaan, lanjut Kang Said, NU punya kewajiban untuk mengawal kedamaian dan kedaulatan tanah airnya. “Kedaulatan yang saya maksud adalah bukan hanya secara geografis tapi juga kedaulatan ekonomi, budaya, karakter, dan lainnya,” kata kiai asal Cirebon ini.

Siti Efi Farhati

Kang Said mengatakan, Indonesia beruntung memiliki NU yang telah memberikan tawaran sempurna bagi hubungan Islam dan nasionalisme. Keduanya sudah berjalin harmonis bahkan sejak sebelum Indonesia merdeka. Sebuah hal yang amat kontras dengan kondisi umat Islam di Timur Tengah yang masih meributkannya hingga kini.

Doktor Universitas Ummul Qura ini yakin pandangan tersebut adalah paling benar. Dan ia menolak sejumlah kelompok Islam yang menggunakan kekerasan dalam dakwahnya atau sikap-sikapnya merongrong keabsahan NKRI.

“Demi Allah, apa yang dilakukan para teroris, termasuk ISIS, bukan perintah dari ajaran Islam,” tambahnya. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati AlaSantri Siti Efi Farhati

Minggu, 31 Desember 2017

Tradisi Pesantren, Bisa Merasa Bukan Merasa Bisa

Pasuruan, Siti Efi Farhati. Budayawan asal Madura D Zawawi Imron menilai, pesantren menyimpan tradisi luhur yang lebih fokus pada instropeksi dan perbaikan diri sendiri ketimbang mencari dan mudah memvonis salah pihak lain.

Kiai berjuluk “Penyair Celurit Emas” ini menyampaikan hal itu dalam seminar kebudayaan yang diselenggarakan Pengurus Cabang Lemabga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Pasuruan, Jawa Timur di Aula BMT Pesantren Sidogiri Pasuruan, Ahad (01/12).

Tradisi Pesantren, Bisa Merasa Bukan Merasa Bisa (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Pesantren, Bisa Merasa Bukan Merasa Bisa (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Pesantren, Bisa Merasa Bukan Merasa Bisa

“Kebudayaan pesantren pada prinsipnya adalah tradisi rendah Hati, tidak menyalahkan orang lain, sebelum menyalahkan diri sendiri. Karena kemuliaan diri hanya Allah yang menilai,” ujarnya.

Siti Efi Farhati

Namun, karakter kebudayaan pesantren ada yang hilang, sebagai akibat kebijakan Orde Baru yang mencoba intervensi. Sembari menegaskan agar mencari tradisi pesantren yang hilang, Zawawi menyatakan bahwa pesantren harus menjaga sikap tawaduk.

“Contoh karakter yang harus tetap ada,  lebih bagus menjadi orang yang merasa tersesat, tetapi sebenarnya di jalan yang benar, daripada merasa benar tetapi di jalan yang sesat,” katanya.

Siti Efi Farhati

“Ini sebagai penerjemahan dari ajaran Sunan Kalijogo ‘Dadio wong sing iso rumongso, ojo dadi wong sing rumongso iso (jadilah orang yang bisa merasa, bukan merasa bisa, red),” lanjutnya dalam seminar bertajuk “Memaknai Keberagaman Budaya melalui Spirit Keagamaan dan Kearifan Lokal”, yang dihadiri jajaran syuriyah, tanfidziyah, utusan MWC, dan delegasi pesantren-pesantren.

Mengutip WS Rendra, Zawawi meminta para hadirin menghormati warisan budaya para leluhur. “Harus kita pertimbangkan untuk menghadapi era kini. Banyak yang baik, untuk kita pakai, tapi ada juga yang harus disesuaikan.”

Zawawi juga berbagi cerita soal bagaimana kiai di Madura mengubah tradisi kultus dan menyembah makam menjadi tradisi bertawassul. “Dengan kalimat sederhana: ‘Baca Fatihah sekali, lebih disukai bagi wali yang kau hormati ini daripada kamu menyembah seribu kali!"

Di akhir paparannya, Zawawi berpesan agar pesantren turut aktif di dunia seni. “Bila pesantren tidak lagi berkesenian, maka habislah pesantren. Tolong jangan jauhkan seni, budaya dan sastra dari Pesantren.”

Dalam kesempatan yang sama, penyair Binhad Nurrohmat yang juga menjadi narasumber mengungkapkan, kearifan lokal pesantren kini tengah menghadapi sebuah tantangan. “Fenomena dangdut koplo antara lain di Pasuruan, menunjukkan bahwa kearifan Lokal kalangan pesantren sudah memiliki musuh baru yang bernama ‘kebejatan Lokal’,” paparnya.

Menurut dia, kearifan lokal adalah sebuah rumus kehidupan yang tumbuh, dipahami dan diyakini oleh komunitas masyarakat tertentu, sehingga menjadi prinsip abadi. “Contoh orang Jawa punya prinsip ojo metani salahe liyan, ojo ngitung becike dewe (jangan mencari-cari kesalahan orang lain dan menghitung-hitung kebaikannya sendiri),” tuturnya. (Fajar Ardana/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Hikmah, AlaSantri, Doa Siti Efi Farhati

Minggu, 17 Desember 2017

Pesantren Al-Asyariah Juarai Liga Santri Nusantara Region Banten

Tangerang,Siti Efi Farhati. Pondok Pesantren Al-Asyariah Tangerang berhasil meraih juara Liga Santri Nusntara (LSN) Region Banten setelah di final berhasil menaklukkan Pondok Pesantren Darussalam Serang dengan skor tipis 2-1 di Stadion Mini Solear Kabupaten Tangerang pada Ahad (4/9).

Pesantren Al-Asyariah Juarai Liga Santri Nusantara Region Banten (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Asyariah Juarai Liga Santri Nusantara Region Banten (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Asyariah Juarai Liga Santri Nusantara Region Banten

Dengan demikian, Al-Asyariah akan mewakili Banten untuk berlaga dalam Final Liga Santri Nusantara bersama bersama tim dari 31 Region lainya. "Alhamdulillah ini kedua kalinya kami mewakili Banten dalam Liga Santri. Mudah-mudahan kami bisa memberikan prestasi yang terbaik buat Banten," ucap Pengasuh Pesantren Al-Asyariah Ust.H. Makhrusillah.

Ketua Panitia Liga Santri Nusantara Khoirun Huda menyampaikan, proses pelaksanaan Liga Santri di Banten berlangsung lancar dan sukses. Ia juga memberikan apresiasi kepada seluruh kiai dan pengasuh pesantren dan para santri yang sudah terlibat dan berpartisipasi dalam Liga Santri Nusantara ini.

Siti Efi Farhati

“Saya berharap ke depan akan lebih banyak lagi pesantren yang melakukan pembinaan sepakbola bagi santri sehingga dapat berpartisipasi dalam ajang bergengsi seperti ini," katanya.

Siti Efi Farhati

Sementara Koordinator Region LSN Banten Ahmad Fauzi menyampaikan, Al-Asyariah sebagai Juara tidak boleh terlena dan tidak boleh berbagga diri dengan kemenangan.

Menurutnya ini adalah awal perjuangan karena dalam final Liga Santri mereka harus berhadapan dengan tim-tim tangguh dari berbagai pesantren se-Indonesia. "Para pemain harus terus gigih berlatih mempersiapkan fisik dan mental guna menyongsong pertandingan selanjutnya," tegasnya.

Sebagaimana diketahui bahwa Liga Santri Region Banten ini dilaksanakan sejak tanggal 27 Agustus sampai dengan 4 September 2016. Liga tersebut diikuti 14 tim dari pondok-pondok pesantren di Banten. (Khoirun Huda/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sholawat, Ubudiyah, AlaSantri Siti Efi Farhati

Senin, 11 Desember 2017

Bungkus Agama Lebih Menipu dari yang Lain

Jakarta, Siti Efi Farhati. Semua hal selain Allah adalah kepalsuan. Tak setiap manusia menyadarinya. Inilah tugas berat para penempuh jalan tasawuf. Hati mereka dituntut bersih dari rasa bangga tak hanya atas kekayaan dan kedudukan tapi juga prestasi keagamaan.

Pesan ini muncul dalam pengajian rutin tasawuf yang digelar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di ruang Ketua Umum PBNU sekaligus pengasuh pengajian KH Said Aqil Siraj, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (14/1) malam.

Bungkus Agama Lebih Menipu dari yang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Bungkus Agama Lebih Menipu dari yang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Bungkus Agama Lebih Menipu dari yang Lain

Kang Said menjelaskan, Syaikh Ma’ruf al-Kurkhi mendefinisikan tasawuf sebagai penggapaian Kebenaran Sejati dan keberpalingan diri dari semua bentuk kepalsuan. Namun, tak sedikit penghuni dunia ini cenderung berlaku sebaliknya, menduakan Tuhan dan asyik berkubang dalam ketidaksejatian.

Siti Efi Farhati

”Padahal di dunia ini 99,9% palsu semua. Kepalsuan kita ada yang dibungkus dengan jas dan dasi; ini masih mending karena terlihat terang dan jelas. Ada yang dibungkus pakai sorban dan jenggot; ini yang paling sulit, karena tidak terasa,” katanya.

Siti Efi Farhati

Doktor Universias Umml Qura Mekah ini juga mendasarkan pendapat tersebut pada surat Luqman ayat (33) yang memperingatkan manusia untuk tidak tertipu oleh kehidupan dunia dan ketaatan beribadah. Kepalsuan, menurut Kang Said, meliputi banyak hal.

”Ada kepalsuan yang ditutupi dengan ilmu. Ada yang ditutup dengan kedudukan, jadi ketua umum PBNU. Ada yang ditutup dengan ibadah, jidatnya item. Ada yang ditutup dengan keturunan, jadi habib atau gus/lora (putra kiai). Ada juga yang ditutup dengan hafidz Qur’an dan hafidz hadits,” tambahnya.

Menurut Kang Said, para penempuh jalan tasawuf mempunyai kepribadian merdeka, karena hatinya senantiasa dipenuhi kesadaran akan Allah. Dengan kondisi jiwa semacam ini, mereka sanggup melepas berbagai gejala emosional, seperti rasa takut, marah, dan bangga.

Dalam kali kedua pengajian tasawuf PBNU dengan materi disertasi doktoralnya ini, Kang Said mengulas ragam definisi tasawuf menurut kaum sufi, seperti Ma’ruf al-Kurkhi, Dzun Nun al-Mishri, Abu Yazid al-Bushtami, Sahl al-Tustari, dan sejumlah sufi lainnya. Menurut jadwal, pengajian akan digelar secara berkala setiap senin malam.

?

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati AlaSantri, Nahdlatul Siti Efi Farhati

Minggu, 10 Desember 2017

UU Desa Relevan dengan NU, Praktiknya Harus Diawasi

Semarang, Siti Efi Farhati. Ketua Pimpinan Wilayah Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jawa Tengah H Khaliq Arif mengatakan Undang-Undang Desa sangat relevan dengan Nahdlatul Ulama dalam mengabdi untuk umat atau jamaah.

UU Desa Relevan dengan NU, Praktiknya Harus Diawasi (Sumber Gambar : Nu Online)
UU Desa Relevan dengan NU, Praktiknya Harus Diawasi (Sumber Gambar : Nu Online)

UU Desa Relevan dengan NU, Praktiknya Harus Diawasi

Khaliq menegaskan pemaknaan "al-jamaah" dari Ahlussunnah wal Jamaah. Karenanya, NU harus ikut terlibat mengawal implementasi UU Desa mulai dari tahap perencanaan hingga pelaksanaan.

"Harapannya, UU Desa no 06 tahun 2014? ini tidak hanya akan membawa "berkah" akan tetapi dapat mewujudkan kemaslahatan bagi desa," ujarnya dalam acara halaqah regional PWNU Jateng? bertema Peran NU dalam Mengawal Implementasi UU No. 6 tahun 2014 tentang Desa di Hotel New Metro Johar Semarang Sabtu? (15/11).

Siti Efi Farhati

Kholiq menjelaskan relevansi UU Desa dengan NU? dapat dimaknai sebagai UU yang mengatur hajat hidup kaum nahdliyin. Sebab,? warga NU baik secara afiliasi maupun kultural terhitung banyak yang mayoritasnya adalah kaum pedesaan.

Siti Efi Farhati

?

"Peran NU adalah sebagai envisioner desa , penggerak partisipasi masyarakat, mendorong aksi kemajuan desa, memajukan perekonomian dan mengawal tahapaan implementasi UU desa," terang Bupati Wonosobo ini.

?

Lebih jauh Khaliq memaparkan NU bersama ormas lainnya bisa menjadi envisioner sehingga filosofi UU desa ini pada level praktis bisa dipakai sebagai kekuatan untuk mengubah dan mendorong kemajuan (bukannya kekuatan melestarikan status quo).

?

"NU harus mengawasi jika ada penyimpangan UU desa. Doktrin moral NU bersumber dari ayat suci, dan itu merupakan justifikasi paling "ditaati" oleh warga des," imbuhnya.

?

Dikatakan, NU dapat mengajak para akademisi, aktivis gerakan, tokoh kultural, masyarakat sipil, dan khususnya para aktor strategis NU, para kai dan ibu nyai di mana pun berada untuk ikut terlibat, urun-rembug serta mendorong partisipasi masyarakat desa untuk ikut peduli dan beraksi membangun desanya.

?

"NU dapat mendorong menguatnya kembali modal sosial yang dulu dimiliki oleh masyarakat yaitu gotong-royong, at-taawwun, yang sebelumnya mewarnai kehidupan pedesaan akan tetapi sekarang telah luntur secara sistemik oleh pendekatan keproyekan pembangunan desa," tandas Khaliq.

?

Dari sisi pengawasan, kata dia, NU dapat membentuk satgas khusus (taskforce) seperti UU desa watch dan membentuk desk pengaduan, atau jejaring kolaborasi antara aktor UU desa pada berbagai level. NU juga dapat membuat "laboratorium" UU Desa sebagai desk konsultasi tentang ide kreatif membangun desa.

?

Dalam mendorong kemajuan desa, menurut Khaliq, NU melalui organisasi dan onderbouw nya, menjadi kekuatan pelaksana pada banyak spektrum "aksi" UU Desa. "Tujuannya, memberdayakan civil society organization seperti Lakpesdam NU, satuan pelajar, Muslimat, Fatayat, dan berbagai sayap organisasi NU untuk membangkitkan geliat aktifitas desa untuk perubahan demi kemajuan desa," tandasnya.

?

Khaliq menegaskan keberkahan dari UU Desa mampu membawa harapan terlaksananya otonomi pedesaan, menyempitnya disparitas wilayah, desa sebagai tumpuan pembangunan dan perluasan kesejahteraan masyarakat.

?

Halaqah yang diikuti rais syuriah dan ketua tanfidziyah PCNU serta ketua Lembaga perekonomian Nahdlatul Ulama se Jawa tengah ini sekaligus untuk sosialisasi hasil Munas dan Konbes NU? tahun 2014. (Qomarul Adib/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati AlaSantri Siti Efi Farhati

Sabtu, 09 Desember 2017

Organisasi Pendidikan Perlu Manajemen dan Kepemimpinan yang Baik

Lamongan, Siti Efi Farhati. Peranan manajemen dan kepemimpinan dalam sebuah organisasi pendidikan sangat diperlukan guna menjadikan organisasi pendidikan tersebut mencapai arah, maksud, dan tujuan yang dicanangkan. Untuk itu, perlu diupayakan perencanaan yang baik terhadap sumber-sumber daya yang tersedia.



Organisasi Pendidikan Perlu Manajemen dan Kepemimpinan yang Baik (Sumber Gambar : Nu Online)
Organisasi Pendidikan Perlu Manajemen dan Kepemimpinan yang Baik (Sumber Gambar : Nu Online)

Organisasi Pendidikan Perlu Manajemen dan Kepemimpinan yang Baik

Pernyataan tersebut dikemukakan dosen Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surabaya, Dr Abdul Kadir Riyadi dalam sebuah seminar bertajuk: “Peningkatan Mutu Pendidikan Sekolah, Pesantren, dan TPQ” di Gedung MI Nurul Huda, Majenang, Kedungpring, Lamongan, Jawa Timur, Ahad (26/8).

Pria kelahiran Tuban itu mengatakan, sudah saatnya lembaga-lembaga pendidikan yang ada di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU)untuk lebih menata diri lagi dalam menentukan, arah, maksud, dan tujuan sebuah organisasi.

Siti Efi Farhati

“Selain itu, mereka juga perlu melakukan semacam perencanaan strategis dan evaluasi terhadap proses atau manajemen yang ada dalam sebuah organisasi,” terang Riyadi.

Dalam seminar yang terselenggara atas Kerjasama PBNU, British Council Indonesia, Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kedungpring, dan Yayasan Nurul Huda Majenang itu, Riyadi juga mengingatkan pentingnya seorang pemimpin atau manajer untuk memiliki kecakapan tinggi dalam menetapkan tujuan, menentukan visi, dan mampu memotovasi.

Siti Efi Farhati

Sementara, Ketua Panitia yang juga pembicara dalam seminar tersebut, Sudarto Murtaufiq, menekankan, sebuah organisasi pendidikan perlu memiliki kemandirian dalam mengambil sikap terutama bagaimana menentukan arah dan tujuan guna mencapai mutu pendidikan yang ideal.

“Antara lembaga pendidikan yang satu dengan yang lain memiliki “bahasa” yang berbeda dalam menerjemahkan kualitas (mutu) pendidikan itu sendiri. Karena itu wajar jika banyak kalangan/praktisi pendidikan yang hingga kini masih memahami secara berbeda—dan agaknya memang harus berbeda—mengenai prinsip-prinsip jaminan mutu pendidikan,” terang Murtaufiq.

Seminar yang mengundang para pimpinan lembaga pendidikan seperti sekolah, pesantren, dan Taman Pendidikan Alquran (TPQ) di wilayah Kecamatan Kedungpring itu selain dihadiri jajaran pengurus MWC NU Kedungpring, seperti Drs. Khamim Baidlowie, H. Sisyanto, Drs. Mubarok, Drs. Imam Sujono, seminar itu juga dihadiri sejumlah pengurus Yayasan Nurul Huda Majenang. (dar)Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati AlaSantri, Lomba Siti Efi Farhati

Minggu, 03 Desember 2017

Kisah Mbah Jablawi dan Harkat Kiai yang Terancam

Tiba-tiba saja ada seseorang tergopoh sowan kepada Mbah Kiai Jablawi. Ternyata, saudara orang tersebut sedang mengalami masa kritis di ruang ICU sebuah rumah sakit. Ia mengutarakan bahwa seluruh dokter—baik umum maupun spesialis—telah menyatakan pasrah akan kondisi saudaranya tersebut.

Akhirnya, Mbah Jablawi pun mengiyakan permohonan orang itu dan bersedia berangkat bersamanya untuk melihat kondisi terkini sang pasien yang sedang koma tersebut. Sesampainya di rumah sakit, telah berjejer para dokter yang menangani pasien koma itu. Sambil mengulum senyum, mereka mempersilakan Mbah Jablawi untuk masuk ke ruangan dingin serba putih, ruang ICU.

Batin Mbah Jablawi, mereka—kerabat pasien dan para dokter—sepertinya berharap besar padanya. Bagaimana tidak, jika semua usaha telah dilakukan dari mulai opname hingga operasi yang menegangkan tak membuahkan hasil, maka jalan harapan terakhir satu-satunya adalah berdoa memohon kepada Allah ta’ala. Dan tentu, dalam memohon tersebut, agar dapat terkabul, maka dibutuhkan sosok yang benar-benar dekat dengan Allah. Dan nahasnya, dirinyalah yang mereka anggap sesosok itu. Padahal, alih-alih ia merasa dekat dengan Allah, justru ia merasakan dirinya sebagai makhluk terhina.

Kisah Mbah Jablawi dan Harkat Kiai yang Terancam (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Mbah Jablawi dan Harkat Kiai yang Terancam (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Mbah Jablawi dan Harkat Kiai yang Terancam

Mengetahui hal tersebut, Mbah Jablawi pun mencoba sedikit “memaksa” Gusti-nya dengan berdoa,

Ya Allah, mbuh niki pripun carane. Pokokke kulo nyuwun kabul. Nak mboten, harkat soho martabatipun poro kiai turun wonten ngarsaipun  dokter (Ya Allah, entah bagaimanapun caranya. Pokokknya saya minta (doa kesembuhan) ini terkabul. Kalau tidak, maka harkat dan martabat para kiai turun di hadapan dokter)."

Siti Efi Farhati

Sekilas, doa itu lebih bernada memaksa daripada memohon. Namun, begitulah jika seorang hamba telah memiliki kedekatan khusus di sisi Allah subhanahu wata’ala. Bagaimanapun, hal tersebut memiliki makna tersendiri. 

Dan memang terbukti, pasien koma tersebut dapat siuman dari “tidur panjangnya”. Melihat hal tersebut, Mbah Jablawi tersenyum sambil membatin, “Alhamdulillah, harkat martabat kiai aman terkendali”. Ya, karena bagaimana pun saat dokter spesialis saja sudah angkat tangan, lagi-lagi hanyalah doa kiai yang menjadi harapan. (Ulin Nuha Karim)

Dikisahkan oleh Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, KH. Muhammad Shofi Al Mubarok saat pengajian Kitab Tafsir Jami’ul Bayan. 

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Hikmah, AlaSantri, Doa Siti Efi Farhati

Senin, 27 November 2017

IAI Al-Khoziny Wisuda 304 Mahasiswa dan Buka Program S2 PAI

Sidoarjo, Siti Efi Farhati. Sekitar 304 mahasiswa S1 dan S2 Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Ahwal Al Syakhshiyah (AS) dan Manajemen Pendidikan Islam (MPdI) Institut Agama Islam (IAI) Al-Khoziny Buduran Sidoarjo, Jawa Timur, akan diwisuda di gedung DBL Arena Graha Pena Surabaya, Ahad (25/10) besok.

IAI Al-Khoziny Wisuda 304 Mahasiswa dan Buka Program S2 PAI (Sumber Gambar : Nu Online)
IAI Al-Khoziny Wisuda 304 Mahasiswa dan Buka Program S2 PAI (Sumber Gambar : Nu Online)

IAI Al-Khoziny Wisuda 304 Mahasiswa dan Buka Program S2 PAI

Kepala Program Studi PAI IAI Al Khoziny, Wahyu Parihin menyatakan, 304 mahasiswa yang akan diyudisium itu terdiri dari 190 mahasiswa Prodi PAI dan 13 mahasiswa Prodi AS yang akan menyandang gelar S1 serta 101 mahasiswa Prodi MPdI yang akan menyandang gelar S2.

"Semoga mahasiswa yang diwisuda nantinya dapat mengamalkan ilmunya dengan baik, dapat melanjutkan ke jenjang lebih tinggi serta dapat bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya," harap Pak Wahyu sapaan akrab Wahyu Parihin saat ditemui Siti Efi Farhati di ruang dosen, Jumat (23/10) malam.

Siti Efi Farhati

Pak Wahyu menambahkan, selain melaksanakan yudisium, IAI Al Khoziny Buduran Sidoarjo juga akan me-Launching Program Studi PAI pada jenjang S2. Rencananya, acara tersebut akan dihadiri Diktis Kemenag Pusat dan Kopertais Sunan Ampel Surabaya.

Siti Efi Farhati

"Acara itu nanti juga akan dihadiri keluarga pondok pesantren Al-Khoziny, Kepala sekolah SMA/SMK se-Kecamatan Buduran Sidoarjo, Pimpinan Perguruan Tinggi di Sidoarjo seperti Umaha, Unsuri, Umsida serta Dosen IAI Al-Khoziny dan Wali Wisudawan," terang Pak Wahyu. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati AlaSantri Siti Efi Farhati

Minggu, 26 November 2017

LPTNU Wajib Kembangkan Prinsip NU dalam Pendidikan

Jakarta, Siti Efi Farhati. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menekankan supaya Lajnah Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama menjalankan misi NU dalam dunia pendidikan, khususnya di perguruan tinggi yang akan dikelolanya.

Hal itu disampaikan Ketuan Umum PBNU KH Said Aqil Siroj pada rapat koordinasi Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama se-Indonesia yang berada di bawah payung Lajnah Pendidikan Tinggi NU (LPTNU), di kantor PBNU, Jakarta, Kamis (9/8). 

LPTNU Wajib Kembangkan Prinsip NU dalam Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
LPTNU Wajib Kembangkan Prinsip NU dalam Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

LPTNU Wajib Kembangkan Prinsip NU dalam Pendidikan

Di antara misi NU yaitu menjalankan prinsip melestarikan tradisi lama yang baik dan mengambil kebaikan, inovasi dan perkembangan baru. 

Siti Efi Farhati

“Prinsip itu telah diterapkan di pesantren-pesantren NU. Itu sudah tahan uji, sejak sebelum kemerdekaan hingga kini,” ujarnya.

Prinsip lain, sambung Kiai Said, yaitu prinsip sebagaimana diterapkan di pesantren, yaitu  kesederhanaan, kebersamaan, toleran, dan sebagainya.

Siti Efi Farhati

Menurut Kiai Said, selama ini pendidikan formal NU, khususnya perguruan tinggi sangat terpinggirkan. Hal itu tidak terlepas dari kebijakan politik. “Menteri Dikbud bertahun-tahun dari non-NU, maka NU dipinggirkan,” katanya. 

Pada saat ini, tambah Kang Said, Mendikbudnya NU, mudah-mudahan rencana mendirikan 10 UNNU di Indonesia terlaksana.

Rapat koordinasi Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama se-Indonesia yang digelar Lajnah Perguruan Tinggi NU (LPTNU) ini membahas dan menyusun langkah dan strategi pengembangan perguruan tinggi NU, rapat koordinasi dilakukan untuk menghadapi Undang Undang tentang perguruan tinggi yang baru.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis    : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Tegal, AlaSantri, News Siti Efi Farhati

Sabtu, 25 November 2017

Ini Klarifikasi Aksi di Lumajang soal Teriakan ‘Bunuh Menteri’

Jakarta, Siti Efi Farhati. Aksi damai yang dilakukan oleh Aliansi Masyarakat Peduli Pendidikan Indonesia (AMPPI) soal penolakan kebijakan lima hari sekolah, Senin (14/8) di Lumajang, Jawa Timur dikejutkan oleh sebuah video viral para anak-anak yang meneriakkan ‘bunuh menteri’.

Video berdurasi 1:03 menit tersebut menjadi sumber pemberitaan sejumlah media sehingga AMPPI perlu melakukan klarifikasi terhadap pemberitaan miring yang beredar berdasarkan video tersebut.

Ini Klarifikasi Aksi di Lumajang soal Teriakan ‘Bunuh Menteri’ (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Klarifikasi Aksi di Lumajang soal Teriakan ‘Bunuh Menteri’ (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Klarifikasi Aksi di Lumajang soal Teriakan ‘Bunuh Menteri’

Berikut klarifikasi AMPPI sebagai penanggung jawab aksi yang ditandatangani oleh Gus Nawawi (Koordinator Umum Aksi) dan Khoirun Nasichin (Koordinator Lapangan Aksi) yang diterima Siti Efi Farhati pada Senin (14/8/2017):

Kronologi aksi:

Siti Efi Farhati

1. Pukul 08.00 WIB pada Senin, 7 Agustus 2017, seluruh pimpinan aksi sudah berkumpul di tempat utama aksi. Tidak ada acara long march. Karena acara utamanya adalah istighotsah.?

2. Setelah pimpinan aksi berkumpul, peserta aksi mulai berdatangan dan aparat keamanan berseragam lengkap juga sudah berjaga di lokasi.?

3. Sekitar pukul 08.30 WIB, peserta aksi dari beberapa Pondok Pesantren Sekitar lokasi Aksi (depan gedung DPRD Kabupaten Lumajang) berjalan kaki. Sebelum masuk arena Aksi, peserta aksi ini meneriakan yel-yel yang tidak jelas karena banyaknya massa yang hadir. Apakah yel-yel itu berbunyi cabut menterinya, kubur menterinya, mundur menterinya, atau bunuh menterinya. Semua tidak jelas.?

4. Melihat Situasi itu Korlap Aksi Bersama Keamanan dari Polres Lumajang berupaya untuk mengendalikan massa dengan meminta peserta aksi untuk bergabung kedalam barisan Istighosah.?

Siti Efi Farhati

5. Pukul 08.45 WIB Semua massa terkendali dan mengikuti acara istighosah dengan khidmat yang dipimpim oleh KH Ahmad Hanif dan KH Ahmad Qusairy dari Syuriyah PCNU Lumajang.?

6. Pukul 09.30 WIB dilanjukan dengan orasi oleh Korlap yang berisi tuntutan pencabutan Permendikbud no 23 tahun 2017. Dilanjutkan dengan statement Ketua Komisi D DPRD Kab. Lumajang (Sugianto) dan diiringi pernyataan sikap oleh Kordum aksi, Gus Nawawi.

7. Pukul 10.15 WIB acara Doa Bersama dan peserta aksi membubarkan diri dikawal oleh Polsek masing-masing Kecamatan.

8. Pukul 24.00 WIB dilaporkan oleh pihak keamanan Polres Lumajang bahwa seluruh peserta aksi sampai ke rumah masing-masing dengan selamat.?

?

Kesimpulan:

1. Bahwa acara aksi damai menolak kebijakan FDS Lima hari sekolah oleh AMPPI telah mendapatkan izin dari pihak Polres Lumajang No: STTP/02/VIII/2017/SAT.IK.

2. Konten acara Aksi Damai Tolak FDS Lima Hari Sekolah di kabupaten Lumajang Tanggal 07 Agustus 2017 berisi doa Bersama dan Istighotsah yang dipimpin oleh Katib Syuriyah PCNU Lumajang.

3. Terkait Anak-anak yang hadir pada acara tersebut adalah santri yang diajak oleh orang tua (wali santri).?

4. Tidak ada instruksi untuk mengeluarkan kalimat-kalimat yang tidak pantas seperti yang di-upload dan disebarkan oleh media yang tidak suka dengan aksi tersebut.?

5. Kalau pun benar, pasti di luar tempat istighotsah, dan tidak termasuk dalam rangkaian aksi, dan pastinya kita akan ingatkan dan bina selanjutnya.?

6. Meminta pemerintah, tidak defensif menghadapi aspirasi soal FDS yang hanya akan ciptakan kebrisikan baru.?

7. Terkait press release yang dikeluarkan oleh KPAI tidak berdasarkan fakta yang sebenarnya, karena hanya didasarkan pada video, dan pihak KPAI tidak melakukan klarifikasi terhadap penanggung jawab aksi.?

8. Kepada semua pihak, kami mohon untuk tidak terpancing dan tidak memberikan informasi apapun terkait aksi damai tolak FDS lima hari sekolah tersebut sebelum mengklarifikasi kepada pananggung jawab aksi.?

(Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Aswaja, AlaSantri, Olahraga Siti Efi Farhati

Jumat, 24 November 2017

Gus Solah: Di Pesantren Tidak Ada Dikotomi Ilmu

Jombang, Siti Efi Farhati. Bagi KH Salahuddin Wahid yang lebih akrab dipanggil Gus Solah, tidak relevan lagi memperbincangkan dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Meskipun tetap kukuh dengan pendalaman ilmuan keagamaan, kini pesantren telah terbuka dengan mensinergikan semua disiplin ilmu.

Penegasan ini disampaikan Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur saat memberikan sambutan atas nama pengasuh pada peresmian SMA Trensains di Desa Jombok Kecamatan Ngoro Jombang (23/8). Sekolah ini merupakan perluasan dari Pesantren Tebuireng dari induknya yang berada di Cukir dan dinamai dengan Pesantren Tebuireng 2.

Gus Solah: Di Pesantren Tidak Ada Dikotomi Ilmu (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Solah: Di Pesantren Tidak Ada Dikotomi Ilmu (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Solah: Di Pesantren Tidak Ada Dikotomi Ilmu

Bagi mantan anggota Komnas HAM ini, sejumlah pesantren telah mencoba melakukan sinergi antara ilmu umum dengan ilmu agama. Di Tebuireng sendiri, tahun 1940-an, KH Wahid Hasyim telah mendirikan Madrasah Nidzamiyah  yang secara khusus memperdalam pengetahuan bahasa dan sastra asing yakni Arab, Inggris, dan Belanda. Dapat dikatakan, kala itu pesantren ini telah mampu menjaga keseimbangan antara penguasaan ilmu agama dan ilmu umum. "Apa yang sekarang diresmikan, hanya melanjutkan ide yang dilakukan oleh Kiai Wahid Hasyim tujuh puluh tahun yang lalu," tandas Gus Solah.

Siti Efi Farhati

Pengasuh ketujuh di Pesantren Tebuireng ini mencoba membandingkan bahwa para peraih hadiah nobel lebih banyak didominasi oleh kalangan nonmuslim. "Dari delapan ratus peraih hadiah nobel, hanya ada sepuluh saja yang beragama Islam," tandasnya. Itu pun hanya ada dua yang memiliki kualifikasi dari latar belakang sains, lanjutnya.

Karena itu keberadaan sekolah SMA Trensains ini diharapkan mampu mengisi kekurangan agar kaum muslimin juga mampu memberikan warna dan berprestasi khususnya dalam penguasaan sains dan teknologi. "Kita berharap, akan ada dari Indonesia para peraih nobel, entah kapan saatnya," terang Gus Solah. Karena itu, yang mendesak untuk dilakukan adalah bekerja dengan keras, bekerja dengan cerdas sehingga menghasilkan seperti yang diharapkan, lanjutnya.

Siti Efi Farhati

Di hadapan sejumlah alumni, dewan guru, jajaran pengasuh pesantren se Jombang dan pejabat pemerintah, Gus Solah menyadari bahwa umat Islam khususnya negara muslim masih berkutat dengan persoalan dalam negeri yang rumit. "Kasus korupsi dan kemiskinan yang hampir merata di sejumlah negara muslim menjadi pekerjaan yang sangat berat," tandasnya.

Namun dengan modal ilmu pengetahuan, keberadaan lembaga pendidikan, sistem politik yang demokratis serta kondisi masyarakat yang memiliki karakteristik kuat, maka ketertinggalan itu diharapkan dapat dikejar. Dan pada saat yang sama, pesantren ternyata masih mendapat kepercayaan dari masyarakat. "Ini adalah modal penting bagi pesantren untuk memperbaiki keadaan," ungkap Gus Solah.

Dan kepercayaan masyarakat yang demikian tinggi kepada pesantren tentunya membawa konsekuensi. "Pesantren harus terlebih dahulu memperbaiki dirinya sendiri," katanya mengingatkan.

Bagi Gus Solah, apa yang telah dilakukan Pesantren Tebuireng dengan membuka SMA Trensains sebagai sumbangsih nyata yang memadukan unsur pengetahuan dan kemanusiaan demi mengejar ketertinggalan umat Islam. Karena itu ia sangat berterima kasih kepada banyak pihak yang telah membantu. Dengan terbuka, Gus Solah menyebut Bank Mandiri, BRI dan pimpinan sekolah  sebagai pihak yang telah memberikan perhatian dan sumbangsih nyata bagi berdirinya sekolah ini.

Hadir pada peresmian ini antara lain Menteri Agama RI H Lukman Hakim Saifuddin, pimpinan Bank Mandiri, BRI, Wakil Bupati Jombang, pimpinan pesantren dan lembaga pendidikan di Jombang serta para wali murid dan alumni Pesantren Tebuireng. Peresmian sekolah ditandai dengan pemukulan bedug oleh Menteri Agama RI. (Syaifullah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Anti Hoax, AlaSantri, Tokoh Siti Efi Farhati

Selasa, 21 November 2017

Pesantren Lembaga Pencetak Ideologi Aswaja dan Anak Saleh

Demak, Siti Efi Farhati. Pendidikan pesantren menjadi perhatian Musytasar NU Demak KH M Nurul Huda. Menurut Huda, pesantren dan NU merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Pemilik dan pendiri pesantren merupakan pelaku organisasi dan penjaga gawang ideologi ahlussunnah wal jamaah.

Menurut Kiai Huda, pesantren merupakan lembaga pendidikan yang mengandung tidak hanya melalui proses belajar mengajar layaknya sekolah formal namun mencakup kehidupan umat manusia baik secara pribadi dengan Tuhannya maupun dalam berbangsa dan bernegara yang baik. Namun, ia menyarankan pesantren yang berhaluan Aswaja ala NU.

Pesantren Lembaga Pencetak Ideologi Aswaja dan Anak Saleh (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Lembaga Pencetak Ideologi Aswaja dan Anak Saleh (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Lembaga Pencetak Ideologi Aswaja dan Anak Saleh

“Pesantren yang kita kenal selama ini merupakan benteng dan basis ideologi NU. Mereka yang masuk kelompok garis keras termasuk ISIS karena tidak pernah masuk pesantren, dasar ilmu agamanya kosong,” kata Kiai Huda saat Halal Bihalal keluarga besar At-Taslim, alumni, dan santri pesantren At-Taslim di aula belakang pesantren, Sabtu (18/7).

Siti Efi Farhati

Selain pencetak ideologi, kelestarian pesantren merupakan tanggung jawab alumni dan umat yang didalamnya bisa mencetak anak-anak saleh yang merupakan kader penerus perjuangan ulama yang diakibatkan oleh ilmu yang bermanfaat.

Saat mendampingi KH Machrus Ali di Arab Saudi, Kiai Huda pernah bertanya soal kriteria ilmu yang bermanfaat. Kiai Machrus menjawab dengan singkat dan padat bahwa ilmu yang bermanfaat adalah orang tua yang pernah ngaji di pesantren diteruskan dengan memondokkan anaknya di pesantren.

Siti Efi Farhati

Di samping itu, pendidikan pesantren yang sanadnya sudah jelas sampai pada Nabi Muhammad SAW selama ini sudah berjalan ajarannya, tidak pernah menyimpang dari syariat termasuk juga tidak ada ajaran radikalisme di dalamnya.

“Selama ini yang kita pilih sudah jelas sanadnya. Makanya tidak ada ajaran kekerasan di dalam pesantren,” tambah cucu mbah Maksum Lasem tersebut.

Halal Bihalal yang berjalan rutin setiap tahunnya itu dihadiri selain keluarga juga dihadiri santri serta alumni termasuk Ketua MWCNU Demak Kota Kiai Yatin Ch. (A Shiddiq Sugiarto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati AlaSantri Siti Efi Farhati

Sabtu, 18 November 2017

PMII Ibnu Aqil Bantu Pengungsi Kelud Pulang ke Rumah

Malang, Siti Efi Farhati. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Ibnu Aqil mengantarkan pulang ribuan warga yang meninggalkan rumah akibat letusan gunung Kelud ke kediaman masing-masing. Bersama TNI dan Polri, aktivis PMII ini berangsur-angsur mengantar warga dangan truk yang disediakan di tiap posko di kabupaten Kediri, Ahad (23/2).

PMII Ibnu Aqil Bantu Pengungsi Kelud Pulang ke Rumah (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Ibnu Aqil Bantu Pengungsi Kelud Pulang ke Rumah (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Ibnu Aqil Bantu Pengungsi Kelud Pulang ke Rumah

Kendati banyak kehilangan harta benda akibat hancur oleh abu panas Kelud, warga tampak bahagia kembali beraktivitas di kampung halaman yang sudah beberapa hari ditinggalkan. Tetapi banyak juga yang memilih bertahan di pengungsian dengan bantuan seadanya.

Diperkirakan, jumlah rumah rusak berat sebanyak 8.622 unit, rusak sedang 5.426 unit, dan rusak ringan 5.088 unit di Kediri. Untuk itu, meski gunung Kelud statusnya turun menjadi siaga 1, namun korban tetap harus bekerja keras untuk membersihkan debu, membangun rumah untuk kemudian beraktivitas seperti biasa.

Siti Efi Farhati

Sementara di Malang fasilitas umum dan rumah warga mulai dibersihkan. Tampak pemerintah setempat memperbaiki jalan dan sarana umum lainnya.

“Meski keadaan mulai membaik, namun warga masih membutuhkan logistik yang dibutuhkan sehari-hari. Pada saat gunung meletus, beberapa warga belum sempat menyelamatkan harta bendanya,” terang Yudha kepada Siti Efi Farhati. (Diana Manzila/Alhafiz K)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Daerah, Ulama, AlaSantri Siti Efi Farhati

Rabu, 01 November 2017

IPNU-IPPNU Rogojampi Antusias Bagi Takjil

Banyuwangi, Siti Efi Farhati. Banyak sekali berbagai amalan yang dapat dilakukan saat ibadah puasa. Mulai dari membaca Al-Qur’an, mengaji, berbakti kepada orang tua, atau bahkan membagi-bagikan takjil di pinggir jalan. Seperti agenda kegiatan puasa di hari ketiga yang dilakukan oleh PAC IPNU-IPPNU Rogojampi bersama MWC NU Kecamatan Rogojampi di kawasan Jalan Pangeran Diponegoro, No.211, depan kantor Kecamatan Banyuwangi. (29/05) menjelang waktu buka puasa.

IPNU-IPPNU Rogojampi Antusias Bagi Takjil (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Rogojampi Antusias Bagi Takjil (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Rogojampi Antusias Bagi Takjil

Gelaran bakti sosial ini selain dihadiri pengurus IPNU IPPNU dan MWC NU Kecamatan Rogojampi, nampak hadir pula banom-banom NU.

Ketua PAC IPNU Rogojampi Khoerul Insani mengatakan, gelaran kegiatan ini penting dilakukan guna memunculkan kepekaan sosial dalam masyarakat.

"Puluhan kader-kader saya libatkan di rentetan aksi bakti sosial ini sebagai upaya pengaktifan nilai-nilai sosial di dalam diri mereka. Meski mereka masih kader-kader baru, antusias mereka dengan kegiatan ini sangat luar biasa," jelas Insani.

Siti Efi Farhati

Insani menilai kegiatan ini sangat luar bisa menginspirasi sekali bagi teman-teman yang belum tergabung dengan organisasi NU. "Selain bakti sosial ini adalah dakwah, sekaligus memberikan tauladan bahwa masih banyak di negeri ini pemuda-pemuda NU yang memberikan inspirasi perubahan bagi negerinya," tutup Insani.

Sementara itu, Sekretaris MWC NU Kecamatan Rogojampi Heri Dwi Setiawan menyampaikan, ini adalah kegiatan bakti sosial yang mengandung arti memberikan nilai-nilai pendidikan kader di organisasi Nahdlatul Ulama untuk para generasinya.

Siti Efi Farhati

"Saya harap nantinya mereka ketika benar-benar terjun di sosial masyarakat mereka mampu mewarnai kehidupan masyarakat ditengah-tengah ketimpangan sosial," harap Heri.

Acara tersebut juga menampilkan aksi live music yang diisi oleh NSC. Grop music yang mewadahi minat dan bakat kader PAC IPNU Rogojampi. (M. Sholeh Kurniawan/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pesantren, AlaSantri Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock