Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

Makna Idul Fitri dan Sebuah Kemenangan

Oleh Aguk Irawan MN

Dua baris kalimat; Mohon Maaf Lahir Batin, Minal Aidin wal Faizin merupakan sebuah idiom yang biasa kita ucapkan saat menjelang atau lebaran/hari raya Idul Fitri tiba. Bahkan kata ini tidak saja diucapkan banyak jutaan muslim di? Indonesia, tapi juga mungkin jutaan kali ditulis dan begitu cepat menyebar ke perangkat eloktronik seperti HP dan Android.

Makna Idul Fitri dan Sebuah Kemenangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Idul Fitri dan Sebuah Kemenangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna Idul Fitri dan Sebuah Kemenangan

Hanya saja seringkali kita mengucapkan rangkaian idiom “Minal Aidin wal Faizin” yang seakan-akan itu terjemahannya adalah “Mohon Maaf Lahir dan Batin.” Padahal kedua idiom ini tidaklah demikian arti atau maknanya dan boleh dikatakan memiliki pesan yang berbeda, meskipun bila ditelusur dan coba dihubungkan masih saling terkait.

Siti Efi Farhati

Tetapi, jika itu terpaksa dibedakan, maka “Minal Aidin wal Faizin” lebih menyimpan arti pencapaian seorang mukmin setelah berpuasa penuh dan melawan hawa nafsunya dengan beribadah kepada Tuhannya di bulan Ramadhan (vertikal), sedangkan “Mohon Maaf Lahir Batin” lebih mengisyaratkan apa yang sedang dilakukan mukmin pasca bulan Ramadhan yaitu pada hari raya Idhul Fitri memperetat kembali hubungan sosial dengan sesama (horisontal). Maka “Minal Aidin wal Faizin” “Minal Aidin” (Semoga termasuk orang yang kembali pada kesucian) dan “wal Faizin” (semoga beroleh kemenangan setelah berdamai dan saling memaafkan).

Lebih dari itu, menurut pakar bahasa, terutama dari Ibnu Mandzur, kata fithri (fa-tha-ra) setidaknnya mencakup enam hal penting, yaitu kesucian, kekuatan, jati diri, asal usul kejadian, memakai pakaian taqwa dan dinnul Islam. Maka bila digabung kata itu menjadi Idul Fitri, artinya kita berharap akan kembali ke kesucian diri kita, kembali ke asal usul kita, kembali ke jati diri kita, kembali memakai pakaian taqwa, kembali ke kekuatan kita dan kembali ke dinnul Islam. Untuk keenam arti ini mari kita bahas satu persatu dan kita renungkan maknanya:

Siti Efi Farhati

Pertama, kata fithri atau fitrah jika diartikan suci atau kesucian, maka ia harus memenuhi tiga unsur inti, yaitu keindahan yang menggetarkan, kebenaran yang bisa diterima dan kebaikan yang bisa dibuktikan. Dari konsekwensi ini, maka kembali ke fithri artinya kita harus menciptakan keindahan (seni), menerima kebenaran dengan menambah ilmu (sains) dan berbuat baik atau amal sholeh yang melahirkan akhlaqul karimah. Itulah makna idul fithri buah dari pendidikan Ramadhan untuk mengantarkan kita menjadi seniman, ilmuwan sekaligus budiman.

Kedua, kata fithri disebut sebagai kekuatan, karena sebulan penuh shaimin dan shaimat mempunyai kekuatan untuk mengendalikan hawa nafsu. Dengan kekuatan itulah kaum Muslimin melakukan jihad akbar mengendalikan hawa nafsunya? dan ia akan menjadi kuat, makanya begitu tiba Idul Fithri, diharapkan seorang mukmin dapat kekuatan baru.

Ketiga, pengertian fithri (fitrah) jika bermakna asal kejadian ini dikaitkan dengan manusia bisa diberikan beberapa contoh, antara lain manusia berjalan dengan kakinya, melihat dengan matanya, mendengar dengan telinganya, merasa dengan hatinya dan berpikir dengan akalnya. Konsekwensi dari pengertian ini, maka kita menjadi salah jika ingin berjalan dengan tangan, melihat dengan telinga dan berpikir dengan mulut, atau salah jika kita mengukur kesalahan dan kebenaran atau kesedihan dan kebahagiaan dengan alat timbangan atau alat ukur meteran dan seterusnya, itulah fitrah.

Masih dalam pengertian fitrah sebagai asal kejadian, maka kita pun harus menempatkan hati sebagai tempatnya iman, dan bukan di akal, karena akal selalu menolak hal-hal yang tak bisa dicerna oleh indrawi, dan tugas akal hanya untuk mengukuhkan iman.

Keempat, kata fithri secara maknawi ada juga yang mentakwil dengan arti memakai pakain. Tentu yang dimaksud memakai pakaian disini adalah pakaian taqwa, sebagaimana yang disyaratkan dalam surat al-Baqarah, ayat 183, bahwa tujuan berpuasa adalah supaya kita bertaqwa. Selama Ramahdhan kita sudah menenun sepanjang hari, dan saat idul fitri itulah kita memakai pakaian taqwa agar meningkat (Syawal) jati diri kita. Dalam konteks ini kita mengingat pesan Ilahi: Janganlah kita menjadi seperti seorang perempuan dalam cerita lama, ia mengurai kembali hasil tenunanya yang rapi sehelai benang demi sehelai sehingga tercerai-berai (an-Nahl, 92). Artinya madrasah puasa selama sebulan itu harus terus kita pakai (fithri) sampai setahun mendatang, bahkan lebih.

Puasa diibaratkan seperti menenun atau menjahit pakaian ini juga seperti yang sudah dicontohkan ulat yang bertapa dalam tenunannya (kepompong), setelah selesai menenun, ia memakai sayapnya yang indah untuk terbang (kupu-kupu), atau bisa juga diibaratkan sang laba-laba yang menenun rumahnya sehelai demi helai, kemudian ia memakai (fithri) agar ia menjadi tenang hidupnya.

Kelima, kata fithri berarti jati diri. Jati diri manusia adalah sebagai khalifah, yaitu makhluk termulia, penghuni surga, tetapi dalam waktu bersamaan juga makhluk yang berlumur dosa. Kenapa? Karena ia dibekali hawa nafsu, juga dibekali hati nurani, yaitu gabungan antara hati yang tajam dan pikiran yang jernih untuk menahan diri dari dorongan nafsu hewani. Sehingga seorang mukmin dikatakan “kembali ke fitrah” itu artinya ia kembali ke jati diri, karena ia sanggup menahan hawa nafsu dengan hati-nuraninya atau sebaliknya, seorang mukmin belumlah dikatakan kembali ke fitrah bila hawa nafsunya mendorongnya untuk bersikap liar dan tak terkendali.

Keenam, jika fithri diartikan dinnul al-islam, islam secara bahasa bentuk masdar dari sa-la-ma yaitu perdamaian atau ketertundukkan. Konsekwensi dari kata damai atau tunduk ini mengandung tiga unsur inti, yaitu kita sebagai hamba harus merasa damai dengan Tuhan, yaitu harus tunduk dengan cara meninggalkan semua larangan-Nya dan menjalankan segala perintah-Nya dengan (dan) tanpa paksaan apapun. Selanjutnya, kata damai berarti kita harus bisa merangkul kembali yang bercerai berai dari sesama, menghilangkan sekat-sekat dan api permusuhan, serta menepis perbedaan-perbedaan yang mengakibatkan percikan kebencian. Ketiga berdamai dengan alam, dengan tidak terlalu mengekploitasinya, sehingga mengakibatkan kehancuran atau bencana, itulah buah dari Ramadhahan sebulan penuh.

Selain keenam makna di atas ada yang berpendapat fithri berarti futhur artinya berbuka. Artinya saat nafsu perut terbuka dan kembali merajalela, hati-hatilah dengan jati diri anda. Hati-hatilah dengan rezeki yang tidak halal, hat-hatilah dengan sikap benci yang berlebihan dan permusuhan, yang semua itu mengarah pada kehilangan jati diri kita yang sesungguhnya. Itu berarti Idul Fitri berarti momentum yang baik buat berdamai dan saling memaafkan.

Lantas ada apa maksud dari kata Faizin? Menurut Ibnu Mandzur dalam Lisanul Arabi, juga kamus Munawwir dan Mauwrid, kata faizin tercerabut dari kata faza-fauzan-faizin, yang artinya adalah na-lahu bihi fauzan, yaitu memperoleh kesuksesan atau kemenangan, bisa juga halaka wa mata, seperti kalimat wafauza arrajulu, artinya adalah seseorang telah mengalahkan atau membinaskan, bisa juga berarti an-naja atau minal makruhi; selamat dan terhindar dari sesuatu yang bahaya, dan terakhir, bisa bermakna fauza at-thariq atau bada wa dhahara (sesuatu yang nampak terang atau berkilau). Mari kita bahas satu persatu.

Pertama, adalah bermakna kesuksesan atau kemenangan. Idul Fitri dapat disebut hari raya kemenangan. Pada hari itu, karena kaum beriman yang telah menunaikan ibadah Ramadhan meraih kemenangan dan seperti dengan terlahir kembali kepada fitrah kemanusiaan yang suci dan kuat hati. Mengapa harus ada yang menang dan ada yang kalah? Karena faktanya, kita diberi nafsu, dan ini punya pesan simbolik untuk dikalahkan dan hati nurani (hati-akal) itulah alat untuk mengalahkan atau sebagai senjata perjuangan, sebagaimana yang diajarkan selama Ramadhan.

Kedua, adalah bermakna mengalahkan atau membinasakan, ini semacam sinonim dari sebuah kemenangan, sebab tidak ada kemenangan tanpa mengalahkan. Kalah dan menang adalah lawan kata. Dua sisi yang bertentangan ini adalah sifat keunggulan manusia dari makhluk yang lain (akhsanu takwin) dan kedua ini diciptakan agar manusia menjadi lebih sempurna (insan al-kamil) sebagaimana terkandung dalam Q.S. Asy-Syams ayat 8 yang menjelaskan pentingnya tazkiyatu nafs (penyempurnaan jiwa) agar kita menjadi hamba yang bertakwa (berhati-nurani) dan jauh dari? "kefasikan" (hawa nafsu kebinatangan)” dan, memang selama Ramadhan kita diajarkan bagaimana terus membunuh nafsu dan menghancurkannya, termasuk menghancurkan lemak-lemak atau virus yang bisa menimbulkan penyakit dalam tubuh kita.

Ketiga, adalah bermakna selamat dan terhindar dari sesuatu yang bahaya, sehingga nampaklah atau berkilauanlah kebaikan, kebenaran dan keindahan itu. Untuk terhidar dari bahaya dan nampaklah cahaya Islam yaitu kebaikan, kebenaran dan keindahan dibutuhkan jihad atau usaha keras, hal ini terbukti pada catatan sejarah islam yang gembilang, di bulan inilah? musuh-musuh islam bisa terkalahkan. Jika merujuk pada fakta sejarah Islam, banyak kita jumpai peristiwa kemenangan? besar terjadi mendekati idul fitri atau sepanjang bulan Ramadhan, Misalnya runtuhnya Masjid Adh-Dhirar milik orang-orang munafik. Datangnya rombongan delegasi kaum Tsaqif yang ingin masuk Islam.

Pada Ramadhan tahun ke-2 Hijriyah, terjadi peperangan besar yaitu perang Badar Al-Kubra. Peperangan ini dimenangkan oleh kaum muslimin, inilah kemenangan agung pertama pejuang-pejuang Islam dalam menentang kemusyrikan dan? kebatilan.Pada Ramadhan Tahun Ke-1393 Hijriyah atau 1973 M, kemenangan muslim atas pasukan Salib dengan merebut? kembali tanah Palestina yang sebelumnya direbut oleh Zionis Yahudi. Masih banyak peristiwa besar lain lebih dari seratus, termasuk salah satunya adalah kemerdekan Bangsa Indonesia ini yang diraih pada bulan suci Ramadhan. Selamat hari Raya Idhul Fitri 1437 H. Minal Aidzin Wal Faizin. Amin.

*Sastrawan dan Pengasuh Pesantren Kreatif Baitul Kilmah, Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kiai, Sholawat Siti Efi Farhati

Rabu, 28 Februari 2018

Bagikan 1000 Takjil, PMII Sidoarjo Ajak Masyarakat Tingkatkan Ibadah

Sidoarjo, Siti Efi Farhati

Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sidoarjo, Jawa Timur, membagikan seribu takjil gratis kepada para pengguna jalan di perempatan Jalan Ahmad Yani Sidoarjo, Senin (27/6).

Selain membagikan takjil, aktivis muda NU ini juga mengajak masyarakat Sidoarjo serta para pengguna jalan untuk tetap meningkatkan ibadah pada 10 hari terakhir Ramadhan.

Bagikan 1000 Takjil, PMII Sidoarjo Ajak Masyarakat Tingkatkan Ibadah (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagikan 1000 Takjil, PMII Sidoarjo Ajak Masyarakat Tingkatkan Ibadah (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagikan 1000 Takjil, PMII Sidoarjo Ajak Masyarakat Tingkatkan Ibadah

Ketua Umum PC PMII Sidoarjo Muhammad Mahmuda menyatakan, melalui momentum malam Lailatul Qadar, seluruh kader dan pengurus PMII yang masih berproses di komisariat agar senantiasa berbagi kepada sesama.

Siti Efi Farhati

"Kami ingin mengingatkan masyarakat supaya terus beribadah di bulan Ramadhan khususnya pada malam Lailatul Qadar. Dan bagi-bagi takjil ini semoga bisa membantu para penggunan jalan yang belum menyempatkan berbuka puasa dan masih berada dalam perjalanan," terang Mahmuda.

Siti Efi Farhati

Salah satu pengendara, Mulyono mengatakan bahwa dengan adanya takjil yang dibagikan oleh mahasiswa ini, dirinya bisa menyegerakan berbuka puasa. "Alhamdulillah, terima kasih takjilnya. Akhirnya saya mendapatkan kesunnahan berbuka puasa," puji Mulyono. (Moh Kholidun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Anti Hoax, Aswaja, Sholawat Siti Efi Farhati

Minggu, 18 Februari 2018

Luthfi Zuhdi: Gus Dur Diciptakan untuk Keseimbangan

Jakarta, Siti Efi FarhatiAura kemeriahan peringatan Haul KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Kompleks Yayasan KH A Wahid Hasyim Jalan Warung Silah 10 Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan, mulai terasa sejak Kamis (22/12) malam. Di lantai 2 gedung Sekolah Dasar Islam Tebuireng (SDIT) Ciganjur berlangsung reuni alumni Pesantren Ciganjur. Alumni yang tersebar di Jabodetabek telah merapat. Sementara yang di luar provinsi dilaporkan sedang dalam perjalanan menuju lokasi haul.

Dr HM Luthfi Zuhdi, salah satu pengajar Tafsir dan Kajian Islam di pesantren tersebut, serta Pemangku Pesantren Ciganjur KH Muhammad Musthofa dan puluhan santri serta alumni khidmah mengikuti Tahlil dan Jagongan malam Jumat. Ketua Yayasan KH A Wahid Hasyim, Arif Rahman Hamid, juga tampak bahagia mengikuti "ritual malam Jumat" bersama para santri.

Dalam sambutannya, Luthfi Zuhdi mengatakan bahwa Gus Dur yang disebut banyak orang sebagai sosok kontroversial, bagi dia justru tidak demikian. “Bagi saya, Gus Dur bukan tokoh kontroversial. Biasa saja. Saya melihat justru memang seharusnya beliau begitu,” ujar Luthfi memulai pidatonya.

Sontak para santri yang duduk agak berjauhan dengan para sesepuh tersebut langsung merapat ke depan. Suara Luthfi Zuhdi tidak terlalu terdengar lantaran suasana ramai di kediaman Gus Dur.

Luthfi Zuhdi: Gus Dur Diciptakan untuk Keseimbangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Luthfi Zuhdi: Gus Dur Diciptakan untuk Keseimbangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Luthfi Zuhdi: Gus Dur Diciptakan untuk Keseimbangan

“Gus Dur terlihat suka melawan gelombang dan arus besar. Gus Dur yang selalu mengatakan tidak ketika orang-orang berpendapat iya, dan sebaliknya. Beliau berbuat demikian karena hendak mengondisikan sebuah keseimbangan. Beliau memang diciptakan untuk keseimbangan di hampir semua urusan bangsa ini,” terang Ketua Pusat Studi Islam dan Timur Tengah UI ini.

Puncak acara haul yang digelar malam ini, Jumat, 23 Desember 2016 mulai pukul 19.00 WIB ini bertema Ngaji Gus Dur: Menebar Damai Menuai Rahmat. Selain aneka kegiatan mulai khataman Al-Quran di beberapa masjid dan mushala di sekitar Ciganjur, sejumlah tokoh juga akan hadir bersama ribuan pecinta Sang Humanis ini. Misalnya KH Musthofa Bisri (Gus Mus), A Syafii Maarif, Habib Ja’far Alkaff, Habib Umar Muthohar, KH Said Aqil Siroj, Lukman Hakim Saifuddin, Sabam Sirait, Joko Pinurbo, Putu Wijaya, Acep Zamzam Noor, dan Cici Paramida.

Sejak pagi, suara orang mengaji terdengar dari menara Masjid Al-Munawwaroh yang berada di depan rumah Gus Dur. Para penghafal Quran di bawah tim JQH NU Depok tampak duduk khidmat melantunkan kitab suci. Dari menara Masjid Darussalam Cipedak yang hanya seperlemparan baru dari kediaman Presiden keempat RI ini juga terdengar aktivitas yang sama. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sholawat, Humor Islam, Pendidikan Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati

Senin, 05 Februari 2018

Mun’im DZ: Rekonsiliasi Butuh Pijakan Sejarah yang Benar

Malang, Siti Efi Farhati. Silang sengkarut sejarah 1965, NU-PKI selalu menjadi perbincangan panas di Indonesia. Jika selama ini publik hanya mengkonsumsi Informasi dari media massa, dan beberapa wacana kiri saja, kini hadir buku putih “Benturan NU-PKI” yang menjadi jawaban dari kesekian pertanyaan penting terkait sejarah perjalanan bangsa.

Buku putih itu menjadi topik seminar di Malang, Kamis (1/5). Punulisnya Abdul Mun’im DZ hadir. Menurutnya, masyarakat yang melek sejarah akan mengetahui dengan sendirinya jika PKI bukan satu-satunya Korban. Meski gencar diberitakan NU sebagai pelaku pembantaian, sejatinya NU sendiri adalah korban tragedi 1965.

Mun’im DZ: Rekonsiliasi Butuh Pijakan Sejarah yang Benar (Sumber Gambar : Nu Online)
Mun’im DZ: Rekonsiliasi Butuh Pijakan Sejarah yang Benar (Sumber Gambar : Nu Online)

Mun’im DZ: Rekonsiliasi Butuh Pijakan Sejarah yang Benar

Beberapa data sengaja disajikan dalam perbincangan hangat tersebut. Pasalnya, kesimpang-siuran informasi selama ini sengaja dilakukan untuk mendeskriditkan NU. Salah satunya penggelembungan data korban. Data yang ada lebih banyak media membesar-besarkan jumlah yang tidak rasional. “Buku ini sengaja saya tulis, sebagai rekonsiliasi yang berpijak pada kebenaran,” kata Abdul Mun’im.

Siti Efi Farhati

Wakil Sekjen Pengurus Besar NU itu bahkan menjelaskan, pasca tragedi geger 1965, PKI-NU sebagai korban dirampas hak-haknya sebagai warga negara. NU tidak lagi boleh berpolitik, NU disingkirkan dan beberapa akses ditutup.

“Jadi yang paling berperan untuk menciptakan opini salah dan benar adalah media yang sudah disetting secara global,” paparnya di home-theater Fakultas Humaniora dan Budaya UIN Maliki Malang itu.

Siti Efi Farhati

Penulis berharap buku ini tidak hanya jawaban atas tudingan-tudingan miring pada NU, namun juga sebagai pijakan sejarah untuk anak bangsa. (Diana Manzila/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Lomba, Sholawat, AlaSantri Siti Efi Farhati

Kompolan; Cara Pemuda di Sumenep Jaga Tradisi

Sumenep, Siti Efi Farhati -

Puluhan pemuda karang taruna di kawasan ini secara rutin melaksanakan kompolan atau perkumpulan. Kegiatan diselenggarakan di kantor Balai Desa Batupit Kenek Batuputih Sumenep Madura. Sejumlah persoalan diperbincangkan, dengan diawali yasinan dan pembacaan tahlil.

"Awalannya kegiatan ini memang berangkat dari tongkrongan kecil yang dilakukan di warung-warung pinggir jalan,” kata Ahmad Fawaid, Jumat (22/12). Selaku Ketua Karang Taruna, Fawaid menjelaskan bahwa tradisi berkumpul tersebut akhirnya dicoba untuk diformalkan sehingga terbentuklah organisasi. 

Ia mengemukakan bahwa kompolan terbentuk sejak 2016 lalu. Dan dari tradisi ini, akhirnya tercetus sejumlah kegiatan yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar. Dari mulai bakti sosial di masjid maupun pemakaman umum atau kuburan, peringati Maulid Nabi, tahlilan dan sejenisnya. 

Kompolan; Cara Pemuda di Sumenep Jaga Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kompolan; Cara Pemuda di Sumenep Jaga Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kompolan; Cara Pemuda di Sumenep Jaga Tradisi

“Kini, kegiatan kompolan diisi dengan ngaji yasin, tahlilan, arisanan, dan  memperbincangkan seputar pembangunan desa,” kata Sulaiman. 

Menurutnya, hal positif dari kompolan itu secara umum adalah bisa semakin menyadarkan pemuda desa akan perannya sebagai agen perubahan. “Mereka akhirnya sadar dengan tugasnya sebagai agen perubahan serta memiliki kapasitas sebagai mengontrol perkembangna masyarakat,” kata salah seorang pemrakarsa kegiatan tersebut.

Siti Efi Farhati

Dan tidak berhenti sampai di situ, kompolan juga sebagai sarana mengenalkan sekaligus menjadikan pemuda sebagai penjaga tradisi dari nilai-nilai yang terkandung dalam idiologi Nahdlatul Ulama.

"Jadi, dengan kompolan ini kita harapkan mampu menjadi benteng cara berfikir pemuda desa terhadap keadaan dan kenyataan,” pungkas Sulaiman. (Misno/Ibnu Nawawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Sholawat, Daerah, Habib Siti Efi Farhati

Jumat, 02 Februari 2018

Innalillahi, KH Syafiq Naschan Pengasuh Pesantren An-Nur Jekulo Kudus Wafat

Kudus, Siti Efi Farhati. Suasana duka menyelimuti kota Kudus. Pada Senin (8/6) siang pukul 12.30 WIB Pengasuh Pesantren An-Nur Jekulo Kudus KH Syafiq Naschan wafat. Jenazah kiai yang juga Ketua MUI Kudus ini seketika dimakamkan hari itu pula di pemakaman umum desa setempat. 

Ribuan pelayat dari berbagai kalangan memenuhi rumah duka hingga jalan menuju makam untuk memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum.

Innalillahi, KH Syafiq Naschan Pengasuh Pesantren An-Nur Jekulo Kudus Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Innalillahi, KH Syafiq Naschan Pengasuh Pesantren An-Nur Jekulo Kudus Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Innalillahi, KH Syafiq Naschan Pengasuh Pesantren An-Nur Jekulo Kudus Wafat

Saat upacara pemberangkatan, Mustasyar PBNU KH Syaroni Ahmadi menyampaikan mauidhah hasanah sekaligus sambutan mewakili keluarga. Pada kesempatan itu, Mbah Syaroni mengajak para pelayat mendoakan almarhum sebagaimana perintah sabda Nabi.

Siti Efi Farhati

"Semoga almarhum mengakhiri masa usianya dengan menetapi iman dengan khusnul khatimah, semua amal ibadahnya diterima Allah Swt terutama ibadah hajinya," tutur Kiai Syaroni yang juga besan Almarhum.

Siti Efi Farhati

Disamping menjabat Ketua MUI Kudus, KH Syafiq Naschan semasa hayatnya juga menjadi Ketua IPHI/JHK Kudus, Ketua Yayasan Arwaniyah Kudus dan Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kudus. Ia wafat meninggalkan istri, Hj Basyiroh dan 5 anak. (Qomarul Adib/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Cerita, Hikmah, Sholawat Siti Efi Farhati

Senin, 22 Januari 2018

PBNU Siap Gelar Apel Kebhinnekaan Lintas Iman Bela Negara

Jakarta, Siti Efi Farhati. PBNU menggagas Apel Kebhinnekaan Lintas Iman Bela Negara yang akan digelar di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat pada Ahad, 17 Januari 2016. Kegiatan tersebut melibatkan warga dari ragam umat beragama Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Juga warga dari Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) .

PBNU Siap Gelar Apel Kebhinnekaan Lintas Iman Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Siap Gelar Apel Kebhinnekaan Lintas Iman Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Siap Gelar Apel Kebhinnekaan Lintas Iman Bela Negara

Ketua PBNU H. Marsudi Syuhud mengatakan kegiatan ini merupakan tindak lanjut atau amanah Muktamar NU ke-33 di Jombang. “Muktamar NU Ke-33 mengamanahkan agar PBNU menjaga Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan Undang-Undang Dasar,” katanya saat Rapat Koordinasi di Gedung PBNU Lantai 5 Selasa (12/01) Sore.

Para Pendiri Republik, kata dia, telah mencetuskan Resolusi Jihad untuk mengawal perjalanan negara Indonesia. Jangan sampai negara ini dihancurkan oleh radikalis yang tidak menginginkan kerukunan dalam keberagaman Indonesia.

Siti Efi Farhati

“Mempertahankan NKRI hukumnya Fardhu Kifayah dan merupakan bagian dari Jihad,” tegasnya.

Ia menambahkan, NU meneruskan perjuangan para Santri yang telah mengorbankan darahnya demi keutuhan NKRI. Merekalah yang paling banyak menumpahkan darahnya untuk memperjuangkan republik ini.

Siti Efi Farhati

Apel ini, lanjut dia, digagas PBNU dalam upaya menjaga kerukunan antaragama. Jika kerukunan tercapai maka republik ini akan terjaga. Jangan sampai Indonesia mengalami kejadian seperti Iran-Saudi dan negara Timur Tengah lainnya. (Afifah Marwa/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sholawat Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock