Tampilkan postingan dengan label Kajian Sunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Sunnah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Februari 2018

Mengenal Lebih Dekat KH Said Aqil Siroj

Tak kenal maka tak sayang. Barangkali peribahasa itu tepat untuk menggambarkan keadaan Indonesia akhir-akhir ini, dimana orang tak hanya tak kenal dan tak sayang, tetapi bahkan justru memfitnah, membenci dan memaki, dengan orang yang belum dikenalnya di media. Tak terkecuali, berbagai fitnah, berita palsu (hoax) dan makian yang dialamatkan kepada Prof Dr KH Said Aqil Siradj, MA, Ketua Umum Ormas Islam terbesar di dunia: Nahdlatul Ulama (NU).

Untuk itu, tulisan ini sedikit mengupas profil beliau, sosok santri yang dulu pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia (MWA UI) itu dinobatkan oleh Republika sebagai Tokoh Perubahan Tahun 2012 karena kontribusinya dan komitmennya dalam mengawal keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan berperan aktif dalam perdamaian dunia, khususnya di kawasan Timur Tengah.?

***

Mengenal Lebih Dekat KH Said Aqil Siroj (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenal Lebih Dekat KH Said Aqil Siroj (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenal Lebih Dekat KH Said Aqil Siroj

Ketika usia negara ini masih belia – delapan tahun – dan para pendiri bangsa baru beberapa tahun menyelesaikan “status kemerdekaan” Indonesia di Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 1949, di sebuah desa bernama Kempek, Palimanan, Cirebon, Jawa Barat, senyum bahagia KH Aqil Siroj mengembang. Tepat pada 3 Juli 1953, Pengasuh Pesantren Kempek itu dianugerahi seorang bayi laki-laki, yang kemudian diberi nama Said.

Siti Efi Farhati

Said kecil kemudian tumbuh dalam tradisi dan kultur pesantren. Dengan ayahandanya sendiri, ia mempelajari ilmu-ilmu dasar keislaman. Kiai Aqil sendiri – Ayah Said – merupakan ? putra Kiai Siroj, yang masih keturunan dari Kiai Muhammad Said Gedongan. Kiai Said Gedongan merupakan ulama yang menyebarkan Islam dengan mengajar santri di pesantren dan turut berjuang melawan penjajah Belanda.?

“Ayah saya hanya memiliki sepeda ontel, beli rokok pun kadang tak mampu. Dulu setelah ayah memanen kacang hijau, pergilah ia ke pasar Cirebon. Zaman dulu yang namanya mobil transportasi itu sangat jarang dan hanya ada pada jam-jam tertentu,” kenang Kiai Said dalam buku Meneguhkan Islam Nusantara; Biografi Pemikiran dan Kiprah Kebangsaan (Khalista: 2015).

Setelah merampungkan mengaji dengan ayahanda maupun ulama di sekitar Cirebon, dan umur dirasa sudah cukup, Said remaja kemudian belajar di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur yang didirikan oleh KH Abdul Karim (Mbah Manaf). Di Lirboyo, ia belajar dengan para ustadz dan kiai yang merawat santri, seperti KH Mahrus Ali, KH Marzuki Dahlan, dan juga Kiai Muzajjad Nganjuk.

Siti Efi Farhati

Setelah selesai di tingkatan Aliyah, ia melanjutkan kuliah di Universitas Tribakti yang lokasinya masih dekat dengan Pesantren Lirboyo. Namun kemudian ia pindah menuju Kota Mataram, menuju Ngayogyokarta Hadiningrat. Di Yogya, Said belajar di Pesantren Al-Munawwir, Krapyak dibawah bimbingan KH Ali Maksum (Rais Aam PBNU 1981-1984). Selain mengaji di pesantren Krapyak, ia juga belajar di IAIN Sunan Kalijaga, yang ketika itu KH Ali Maksum menjadi Guru Besar di kampus yang saat ini sudah bertransformasi menjadi UIN itu.

Ia merasa belum puas belajar di dalam negeri. Ditemani istrinya, Nurhayati, pada tahun 1980, ia pergi ke negeri kelahiran Nabi Muhammad SAW: Makkah Al-Mukarramah. Di sana ia belajar di Universitas King Abdul Aziz dan Ummul Qurra, dari sarjana hingga doktoral. Di Makkah, setelah putra-putranya lahir, Kang Said – panggilan akrabnya – harus mendapatkan tambahan dana untuk menopang keluarga. Beasiswa dari Pemerintah Saudi, meski besar, dirasa kurang untuk kebutuhan tersebut. Ia kemudian bekerja sampingan di toko karpet besar milik orang Saudi di sekitar tempat tinggalnya. Di toko ini, Kang Said bekerja membantu jual beli serta memikul karpet untuk dikirim kepada pembeli yang memesan.

Keluarga kecilnya di Tanah Hijaz juga sering berpindah-pindah untuk mencari kontrakan yang murah. “Pada waktu itu, bapak kuliah dan sambil bekerja. Kami mencari rumah yang murah untuk menghemat pengeluaran dan mencukupkan beasiswa yang diterima Bapak,” ungkap Muhammad Said, putra sulung Kang Said.

Dengan keteguhannya hidup ditengah panasnya cuaca Makkah di siang hari dan dinginnya malam hari, serta kerasnya hidup di mantan “tanah Jahiliyyah” ini, ia menyelesaikan karya tesisnya di bidang perbandingan agama: mengupas tentang kitab Perjanjian Lama dan Surat-Surat Sri Paus Paulus. Kemudian, setelah 14 tahun hidup di Makkah, ia berhasil menyelesaikan studi S-3 pada tahun 1994, dengan judul: Shilatullah bil-Kauni fit-Tashawwuf al-Falsafi (Relasi Allah SWT dan Alam: Perspektif Tasawuf). Pria yang terlahir di pelosok Jawa Barat itu mempertahankan disertasinya – diantara para intelektual dari berbagai dunia – dengan predikat Cumlaude.

Ketika bermukim di Makkah, ia juga menjalin persahabatan dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). “Gus Dur sering berkunjung ke kediaman kami. Meski pada waktu itu rumah kami sangat sempit, akan tetapi Gus Dur menyempatkan untuk menginap di rumah kami. Ketika datang, Gus Dur berdiskusi sampai malam hingga pagi dengan Bapak,” ungkap Muhammad Said bin Said Aqil. Selain itu, Kang Said juga sering diajak Gus Dur untuk sowan ke kediaman ulama terkemuka di Arab, salah satunya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki.?

Setelah Kang Said mendapatkan gelar doktor pada 1994, ia kembali ke tanah airnya: Indonesia. Kemudian Gus Dur mengajaknya aktif di NU dengan memasukkannya sebagai Wakil Katib ‘Aam PBNU dari Muktamar ke-29 di Cipasung. Ketika itu, Gus Dur “mempromosikan” Kang Said dengan kekaguman: “Dia doktor muda NU yang berfungsi sebagai kamus berjalan dengan disertasi lebih dari 1000 referensi,” puji Gus Dur. Belakangan, Kang Said juga banyak memuji Gus Dur. “Kelebihan Gus Dur selain cakap dan cerdas adalah berani,” ujarnya, dalam Simposium Nasional Kristalisasi Pemikiran Gus Dur, 21 November 2011 silam.

Setelah lama akrab dengan Gus Dur, banyak kiai yang menganggap Kang Said mewarisi pemikiran Gus Dur. Salah satunya disampaikan oleh KH Nawawi Abdul Jalil, Pengasuh Pesantren Sidogiri, Pasuruan, ketika kunjungannya di kantor PBNU pada 25 Juli 2011. Kunjungan waktu itu, merupakan hal yang spesial karena pertama kalinya kiai khos itu berkunjung ke PBNU – di dampingi KH An’im Falahuddin Mahrus Lirboyo. Kiai Nawawi menganggap bahwa Kang Said mirip dengan Gus Dur, bahkan dalam bidang ke-nyelenehan-nya.?

“Nyelenehnya pun juga sama,” ungkap Kiai Nawawi, seperti dikutip Siti Efi Farhati. “Terus berjuang di NU tidak ada ruginya. Teruslah berjuang memimpin, Allah akan selalu meridloi,” tegas Kiai Nawawi kepada orang yang diramalkan Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU di usia lebih dari 55 tahun itu.

Menjaga NKRI dan mengawal perdamaian dunia

Pada masa menjelang kemerdekaan, tepatnya pada tahun 1936, para ulama NU berkumpul di Banjarmasin untuk mencari format ideal negara Indonesia ketika sudah merdeka nantinya. Pertemuan ulama itu menghasilkan keputusan yang revolusioner: (1) negara Darus Salam (negeri damai), bukan Darul Islam (Negara Islam); (2) Indonesia sebagai Negara Bangsa, bukan Negara Islam. Inilah yang kemudian menginspirasi Pancasila dan UUD 1945 yang dibahas dalam Sidang Konstituante – beberapa tahun kemudian. Jadi, jauh sebelum perdebatan sengit di PPKI atau BPUPKI tentang dasar negara dan hal lain sebagainya, ulama NU sudah terlabih dulu memikirkannya.

Pemikiran, pandangan dan manhaj ulama pendahulu tentang relasi negara dan agama (ad-dien wa daulah) itu, terus dijaga dan dikembangkan oleh NU dibawah kepemimpinan Kang Said. Dalam pidatonya ketika mendapat penganugerahan Tokoh Perubahan 2012 pada April 2013, Kiai Said menegaskan sikap NU yang tetap berkomitmen pada Pancasila dan UUD 1945. “Muktamar (ke-27 di Situbondo-pen) ini kan dilaksanakan di Pesantren Asembagus pimpinan Kiai As’ad Syamsul Arifin. Jadi, pesantren memang luar biasa pengaruhnya bagi bangsa ini. Meski saya waktu itu belum menjadi pengurus PBNU,” kata Kiai Said, mengomentari Munas Alim Ulama NU 1983 dan Muktamar NU di Situbondo 1984 yang menurutnya paling fenomenal dan berdampak dalam pandangan kebangsaan.

Sampai kini, peran serta NU dalam hal kebangsaan begitu kentara kontribusinya, baik di level anak ranting sampai pengurus besar, di tengah berbagai rongrongan ideologi yang ingin menggerogoti Pancasila sebagai dasar negara. Hal ini tercermin dalam berbagai kegiatan dan program NU yang selalu mengarusutamakan persatuan dan kesatuan bangsa. Dalam konteks ini, Kiai Said sangat berpengaruh karena kebijakan PBNU selalu diikuti kepengurusan dibawahnya – termasuk organisasi sayapnya.

Salah satu peran yang cukup solutif, misalnya, ketika beliau menaklukkan Ahmad Mushadeq – orang yang mengaku sebagai Nabi di Jakarta dan menimbulkan kegaduhan nasional – lewat perdebatan panjang tentang hakikat kenabian (2007). “Alhamdulillah, doa saya diterima untuk bertemu ulama, tempat saya bermudzakarah (diskusi). Sekarang saya sadar kalau langkah saya selama ini salah,” aku Mushadeq. Disisi lain, Kang Said juga mengakui kehebatan Mushadeq. “Dia memang hebat. Paham dengan asbabun nuzul Al-Qur’an dan asbabul wurud Hadits. Hanya sedikit saja yang kurang pas, dia mengaku Nabi, itu saja,” jelas Kiai Said seperti yang terekam dalam Antologi NU: Sejarah, Istilah, Amaliah dan Uswah (Khalista & LTN NU Jatim, Cet II 2014).

Kiai yang mendapat gelar Profesor bidang Ilmu Tasawuf dari UIN Sunan Ampel Surabaya ini bersama pengurus NU juga membuka dialog melalui forum-forum Internasional, khususnya yang terkait isu-isu terorisme, konflik bersenjata dan rehabilitasi citra Islam di Barat yang buruk pasca serangan gedung WTC pada 11 September 2001. Ia juga kerapkali membuat acara dengan mengundang ulama-ulama dunia untuk bersama-sama membahas problematika Islam kontemporer dan masalah keumatan.

Pada Jumat, 7 Maret 2014, Duta Besar Amerika untuk Indonesia Robert O. Blake berkunjung ke kantor PBNU. Ia menginginkan NU terlibat dalam penyelesaian konflik di beberapa negara. “Kami berharap NU bisa membantu penyelesaian konflik di negara-negara dunia, khususnya di Syria dan Mesir. NU Kami nilai memiliki pengalaman membantu penyelesaian konflik, baik dalam maupun luar negeri,” kata Robert, seperti dilansir Siti Efi Farhati. “Sejak saya bertugas di Mesir dan India, saya sudah mendengar bagaimana peran NU untuk ikut menciptakan perdamaian dunia,” imbuhnya.

Raja Yordania Abdullah bin Al-Husain (Abdullah II) juga berkunjung ke PBNU. Ia ditemui Kiai Said, meminta dukungan NU dalam upaya penyelesaian konflik di Suriah. “Di Timur Tengah, tidak ada organisasi masyarakat yang bisa menjadi penengah, seperti di Indonesia. Jika ada konflik, bedil yang bicara,” ungkap Kiai Said.

Selain itu, menguapnya kasus SARA di Indonesia belakangan juga kembali marak muncul ke permukaan. “Munculnya kerusuhan bernuansa agama memang sangat sering kita temukan. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia harus terus belajar pentingnya toleransi dan kesadaran pluralitas. Sikap toleransi tersebut dibuktikan oleh Kaisar Ethiopia, Najashi (Negus) ketika para sahabat ditindas oleh orang-orang Quraisy di Mekkah dan memutuskan untuk hijrah ke Ethiopia demi meminta suaka politik kepadanya. Kaisar Negus yang dikenal sebagai penguasa beragama Nasrani itu berhasil melindungi para sahabat Nabi Muhammad SAW dari ancaman pembunuhan kafir Quraisy,” tulis Kiai Said dalam Dialog Tasawuf Kiai Said: Akidah, Tasawuf dan Relasi Antarumat Beragama (Khalista, LTN PBNU & SAS Foundation, Cet II, 2014).

Menghadapi potensi konflik horisontal itu, NU juga tetap mempertahankan gagasan Darus Salam, bukan Darul Islam, yang terinspirasi dari teladan Nabi Muhammad dalam Piagam Madinah. Dalam naskah tersebut, nabi membuat kesepakatan perdamaian, bahwa muslim pendatang (Muhajirin) dan muslim pribumi (Anshar) dan Yahudi kota Yastrib (Madinah) sesungguhnya memiliki misi yang sama, sesungguhnya satu umat. Yang menarik, menurut Kiai Said, Piagam Madinah – dokumen sepanjang 2,5 halaman itu – tidak ? menyebutkan kata Islam. Kalimat penutup Piagam Madinah juga menyebutkan: tidak ada permusuhan kecuali terhadap yang dzalim dan melanggar hukum. “Ini berarti, Nabi Muhammad tidak memproklamirkan berdirinya negara Islam dan Arab, akan tetapi Negara Madinah,” terang Kiai Said.

Selain itu, menurutnya, faktor politis juga kerapkali mempengaruhi, bukan akidah atau keyakinan. “Seperti di masa Perang Salib, faktor politis dan ekonomis lebih banyak menyelimuti renggangnya keharmonisan kedua umat bersaudara tersebut di Indonesia. Dengan demikian, kekeruhan hubungan Islam-Kristen tidak jarang dilatarbelakangi nuansa politis yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan agama itu sendiri,” ungkapnya, dalam buku Tasawuf Sebagai Kritik Sosial: Mengedepankan Islam sebagai Inspirasi bukan Aspirasi.

***

Ditengah agenda Ketua Umum PBNU yang sedemikian padat, Kiai Said dewasa ini diterpa berbagai fitnah, hujatan dan bahkan makian dari urusan yang remeh-temeh sampai yang menyangkut urusan negara. Ia dituduh agen Syiah, Liberal, antek Yahudi, pro Kristen, dan fitnah-fitnah lain oleh orang yang sempit dalam melihat agama dan konsep kemanusiaan dan kebangsaan.?

Meski demikian, ia toh manusia biasa – yang tak luput dari salah, dosa dan kekurangan – bukan seorang Nabi. Artinya, kritik dalam sikap memang wajar dialamatkan, tetapi tidak dengan hujatan, fitnah, dan berita palsu, melainkan dengan kata yang santun. Terkait hal ini, dalam suatu kesempatan ia memberi tanggapan kepada para haters-nya. Bukannya marah, Kiai Said justru menganggap para pembenci dan pemfitnah itu yang kasihan. Dan sebagai orang yang tahu seluk beluk dunia tasawuf, tentu dia sudah memaafkan, jauh sebelum mereka meminta maaf atas segenap kesalahan. Wallahu a’lam.

Ahmad Naufa Khoirul Faizun, Kader Muda NU dan Kontributor Siti Efi Farhati asal Purworejo, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Jadwal Kajian, Kajian Sunnah, Aswaja Siti Efi Farhati

Rabu, 07 Februari 2018

Ketika Suami Izin ke Kiai Akan Bunuh Selingkuhan Istri

Seorang ulama atau kiai adalah tokoh yang bertanggung jawab dalam mendidik moral masyarakat. Tanggung jawab ini sering sangat berat karena watak dan karakter masyarakat tidaklah sama. Para kiai tidak jarang dihadapkan pada sebuah situasi sulit ketika ia harus menjaga agar prinsip-prinsipnya tidak terlukai.

Tak terkecuali Kiai Muhammad, seorang Kiai di Desa Bandungan Kecamatan Pakong Kabupaten Pamkesanan yang sangat alim dan menutupi dirinya dari keterkenalan oleh khlayak ramai. Kabarnya ia pernah nyantri di Pesantren Kiai Maksum Lasem. Ia juga rupanya memiliki hubungan yang baik dengan pesntren Tebuireng, Denanyar, Tambakberas dan Rejoso Jombang.

Ketika Suami Izin ke Kiai Akan Bunuh Selingkuhan Istri (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Suami Izin ke Kiai Akan Bunuh Selingkuhan Istri (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Suami Izin ke Kiai Akan Bunuh Selingkuhan Istri

Kiai Muhammad pernah menceritakan kepada penulis bahwa suatu hari datanglah kepadanya seorang warga desanya yang baru pulang bekerja dari luar negeri sebagai TKI. Dalam sowannya itu dengan nada memendam amarah yang memuncak, seorang warga meminta izin sang kiai untuk membunuh seseorang. Pasalnya, orang yang dimaksud ini telah main serong dengan istrinya selama ditinggal bekerja ke luar negeri.

“Saya minta izin kiai, saya minta restu dan doanya, saya mau carok.” Katanya.

Siti Efi Farhati

“Kenapa?” kata sang kiai.

“Istri saya diambil orang,” ungkapnya.

Siti Efi Farhati

Untungnya, sang kiai dapat meredam emosi warga tersebut. Sang kiai mengungkapkan bahwa tidak ada untungnya berkelahi dan bunuh-membunuh. Ia juga mengungkapkan bahwa jika seorang warga tersebut menang, ia akan dipenjara. Selama di penjara siapa yang tahu kalau istrinya akan dicuri orang lagi. Jika ia kalah dan harus mati, maka istrinya akan kawin lagi. Jadi sebaiknya carok itu jangan pernah terjadi.

“Menurut saya,” lanjut sang kiai dengan nada tenang dan hati-hati, “Sebaiknya jangan ada bunuh-bunuhan karena tidak ada untungnya baik buat yang kau bunuh maupun dirimu sendiri.”

“Lagian kamu sendiri juga agak keliru, masa istri ditinggal ke luar negeri, dalam hitungan tahun lagi,” kata Kiai Muhammad yang mengerti bahwa tamunya itu habis pulang dari luar negeri.

“Sebaiknya jangan ada carok itu, kamu lebih baik hidup tenang dan jaga istrimu baik-baik. Yang lalu biarlah berlalu sebagai pelajaran. Kalau harus ke luar negeri berangkatlah bersama jangan sendiri-sendiri,” tutur Kiai Muhammad sebagai pamungkas.

Warga tersebut langsung menyadari emosinya dan pulang dengan perasaan yang penuh kesadaran akan kesalahan dirinya telah meninggalkan istri ke luar negeri. Pertumpahan darah pun dihindarkan. Kiai Muhammad sukses memberi jalan tengah “menang sama menang” dan menghindarkan warga tersebut dari perbuatan yang mencelakakan orang lain dan dirinya. (R. Ahmad Nur Kholis)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Halaqoh, Doa, Kajian Sunnah Siti Efi Farhati

Minggu, 04 Februari 2018

Lesehan Ansor Genuk Bincang Ma’rifat Samin

Semarang, Siti Efi Farhati 

Pengurus Anak Cabang (PAC) GP Ansor Genuk ngaji sosial budaya. Kegiatan ini mengambil pokok pembahasan ma’rifat suku Samin hingga simpang siur sejarah Walisongo, Islam, dan kebudayaan Jawa; serta sejarah akulturasi dan sejarah nilai.

Lesehan Ansor Genuk Bincang Ma’rifat Samin (Sumber Gambar : Nu Online)
Lesehan Ansor Genuk Bincang Ma’rifat Samin (Sumber Gambar : Nu Online)

Lesehan Ansor Genuk Bincang Ma’rifat Samin

Kegiatan atas kerjasama dengan Rumah Pendidikan Sciena Madani tersebut bertempat di rumah Pak RT  Zainun Kamil yang beralamatkan Penggaron Rt 6 Rw 1 Genuk, Semarang, Jawa Tengah, pada Ahad (13/10).

Dipandu Lukni Maulana, Pengasuh Rumah Pendidikan Sciena Madani kegiatan tersebut,  mulai gemuruh ketika Martin Moethadhim SM, selaku pembicara, bercerita lika-liku hidupnya. Seperti kisah spiritualnya ketika Shalat di Gereja Pangkalan Militer Amerika Serikat.

Siti Efi Farhati

Pembicara asli Blora ini, mengemukakan berbagai hal rancaunya dalam membahas sejarah. Ketika akan merunut sebuah sejarah, semisalkan sejarah tokoh itu seperti ingin menemukan sanad hadist. 

“Dengan belajar sejarah, kita diajak untuk selalu mengumpulkan dokumentasi dan banyak membaca, karena sejarah selalu saja bisa berubah ketika ada bukti baru,” kata Martin.

Siti Efi Farhati

“Sedangkan Samin bukanlah sebuah suku, melainkan laku hidup yang dinisbatkan kepada pendiri saminisme. Dalam pergolakkannya saminisme ini muncul sebagai sebuah gerakan untuk melawan penjajah,” lanjutnya.

Kegiatan Lesehan Ansor ini merupakan wadah gerakan wacana dan intelektual PAC GP Ansor Genuk yang diadakan setiap 2 bulan sekali dengan menghadirkan para pembicara yang berkompeten di bidangnya. Selain itu juga Lesehan Ansor menengahkan grup musik Ansor Nada, sebagai pemantik kemeriahan.

“Selain mendapatkan ilmu dari pakarnya, ada bonus mendenggarkan Grup Musik Ansorun Nada sebauh grup musik dakwah dan sedekah,” tutur Muhammad Sodri Ketua PAC GP Ansor Genuk. (Lukni Maulana/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Halaqoh, Kajian Sunnah, Syariah Siti Efi Farhati

Ida Alimatun Pimpin Fatayat NU Trimulyo

Kendal, Siti Efi Farhati. Ida Alimatun Hidayat akhirnya terpilih menjadi ketua Fatayat NU ranting Trimulyo, Kec. Sukorejo, Kendal, Jateng setelah dalam rapat anggota yang digelar di gedung TK Muslimat NU setempat  berhasil menperoleh dukungan mayoritas dari sahabat-sahabatnya, belum lama ini.



Ida Alimatun  Pimpin Fatayat NU Trimulyo (Sumber Gambar : Nu Online)
Ida Alimatun Pimpin Fatayat NU Trimulyo (Sumber Gambar : Nu Online)

Ida Alimatun Pimpin Fatayat NU Trimulyo

Rapat Anggota yang juga dirangkai dengan Harlah Fatayat NU ke 58 itu  dihadiri oleh ketua Pengurus Ranting (PR) Muslimat NU Trimulyo Suwarti dan ketua Pengurus Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Sukorejo Fuadah.serta anggota Fatayat NU se-desa Trimulyo.

Dalam sambutannya ketua demisioner PR Fatayat NU, Romdlonah, S.Ag mengaku telah menyiapkan kader-kadernya untuk bisa meneruskan estafet kepemimpinan di tubuh Fatayat Trimulyo. Romdhonah yang juga menjabat wakil sekretaris PAC Fatayat NU Kecamatan Sujorejo  juga berharap siapapun yang mendapat amanat dalam rapat anggaota diharapkan dapat menerimanya dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab.

Siti Efi Farhati

Sedangkan Fuadah dalam pengarahannya selaku ketua PAC Fatayat NU kecamatan Sukorejo berharap agar pengurus Fatayat NU bisa pandai membagi waktu antar tugasnya sebagai ibu rumah tangga dengan tugasnya sebagai pengurus Fatayat NU. Keduanya tidak boleh menelantarkan satu sama lainya.

Siti Efi Farhati

Diakui oleh Fuadah,  usia-usia Fatayat adalah usia yang sangat rawan karena rata-rata anggota Fatayat masih memiliki Balita (bawah lima tahun) yang membutuhkan perhatian ektra. Oleh karenanya ia berharap jika mengikuti kegiatan Fatayat hendaknya semua pekerjaan rumah (PR ) sudah beres, sehingga baik anak maupun suami  akan ikhlas mengikuti kegiatan Fatayat, terang Fuadah yang juga bidan desa itu. 

Dalam sambutannya ketua baru Fatayat NU Trimulyo Ida Alimatun Hidayat berjanji akan meneruskan program-program Fatayat terdahulu dan  dan merealisasikan progaram dulu yang  belum sempat terealisasi.

Munculnya sebagai ketua fatayat NU ranting Trimulyo ini merupakan penampilan perdananya setelah sekian lama tidak aktif di organisasi di lingkungan NU karena urusan keluarga. Sebelumnya Ida Alimatun pernah menjabat sebagai ketua PAC IPPNU kecamatan Sukorejo. Kemudian sempat menenggelamkan diri karena untuk urusan pribadinya.(frj)Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kajian Sunnah, Pendidikan, Lomba Siti Efi Farhati

Jumat, 02 Februari 2018

Muharraman, Warga NU Sariwangi Tahlil Bersama Ajengan Pesantren

Tasikmalaya, Siti Efi Farhati. Ratusan warga NU di kecamatan Sariwangi kabupaten Tasikmalaya melantunkan tahlil dan doa yang dipimpin para ajengan dari pelbagai pesantren dalam rangka memeriahkan peringatan tahun baru 1437 Hijriyah. Aula kantor MWCNU Sariwangi pada dengan warga yang bersyukur memuji Allah, Ahad (25/10).

Rais Syuriyah PWNU Jawa Barat KH Nuh Addawami yang hadir menyampaikan taushiyah berpesan kepada nahdliyin setempat untuk meningkatkan amal baik.

Muharraman, Warga NU Sariwangi Tahlil Bersama Ajengan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Muharraman, Warga NU Sariwangi Tahlil Bersama Ajengan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Muharraman, Warga NU Sariwangi Tahlil Bersama Ajengan Pesantren

“Peringatan tahun baru Hijriyah mengingatkan warga NU bahwa setiap mengerjakan kebaikan sangatlah berat, karena ada penghalang. Sebagaimana yang dikatakan Syekh Tajuddin As-subki bahwa setiap kebaikan ada penghalang. tetapi ada 3 perkara yang dapat meringankan kebaikan, yaitu pengertian, kecintaan, dan kerja sama atau berjama’ah,” kata ajengan Nuh.

Siti Efi Farhati

Ajengan Nuh Addawami juga menekankan supaya warga NU senantiasa bersatu dan berjama’ah dalam membangun dan mempertahankan ajaran Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Siti Efi Farhati

Menurutnya, adanya NU bertujuan untuk menyatukan warga Aswaja bukan untuk memecah belah warga Aswaja. (Adrian Fauzi Rahman/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kajian Sunnah Siti Efi Farhati

Anak Siapa?

Suatu hari ada seorang perempuan berebut anak justru dengan suaminya sendiri di muka pengadilan agama.

“Ini anak saya, pak hakim. Dia saya kandung selama sembilan bulan. Keluar dari kandungan, dia selalu berada dalam pelukan saya. Sayalah yang menyusuinya. Dia selalu saya awasi waktu tidur dan bermain. Pendeknya, sayalah yang merawatnya sampai dia berumur tujuh tahun.”

Anak Siapa? (Sumber Gambar : Nu Online)
Anak Siapa? (Sumber Gambar : Nu Online)

Anak Siapa?

“Bukan, dia adalah anak saya, pak hakim,” bantah sang suami, “Dia saya kandung sebelum dikandung wanita ini. Dia saya keluarkan sebelum keluarkannya. Jadi sayalah yang berhak. Soalnya saya yang memilikinya. Sedang wanita ini hanya menerima amanat dari saya. Betapapun yang namanya amanat itu harus dikembalikan kepada yang berhak, yakni saya.”

Siti Efi Farhati

“Betul semua itu. Akan tetapi kamu harus ingat, bahwa kamu mengandungnya dengan ringan dan tidak terasa. Sedang aku mengandungnya cukup berat sekali. Kau keluarkan dia dengan senang dan puas. Sedang ketika hendak mengeluarkannya, saya merasakan sakit yang luar biasa. Saya telah mempertaruhkan nyawa,” kata sang istri sambil terus menangis.

*) Dikutip dari Kasykul (Kumpulan Cerita Lucu) karya KH Bisri Mustafa.Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Budaya, Kajian Sunnah, Tokoh Siti Efi Farhati

Rabu, 31 Januari 2018

Ternyata Olahraga sebagian dari Iman

Pada buku “Dongeng Enteng ti Pasantren,” Rahmatullah Ading Afandie atau biasa disingkat RAF menceritakan bagaimana pentingnya olahraga. Tidak main-main, menurut dia, berdasarkan ucapan ajengan (istilah kiai di Sunda), menyebut olahraga sebagai bagian dari iman. ?



Ternyata Olahraga sebagian dari Iman (Sumber Gambar : Nu Online)
Ternyata Olahraga sebagian dari Iman (Sumber Gambar : Nu Online)

Ternyata Olahraga sebagian dari Iman



"Ari olahraga teh, eta sabagian tina iman. Ku Gusti Allah urang teh dipaparin badan. Tah eta badan teh ku urang kudu diriksa, sangkan sehat. Salian ti ku dahar, ngariksa badan teh kudu ku olah-raga, sangkan sehat." (halaman 45). (Olahraga itu sebagian dari iman. Allah telah memberi kita badan. Pemberian itu harus dijaga supaya sehat. Selain dengan makan, badan harus dijaga dengan olahraga agar sehat).

Makanya pada buku tersebut dikisahkan, ajengan turut serta dalam permainan sepak bola bersama santrinya. Ia memakai sarung yang digulung lebih atas dari biasanya sehingga kelihatan celana sontognya (celana) yang panjangnya sampai ke betis, biasa digunakan di pesantren-pesantren Sunda.

Siti Efi Farhati

Pernah aejengan tersebut bermain sepak bola. Pada sebuah insiden, ia tersungkur hingga ke pinggir lapangan oleh pemain lawan, yaitu santrinya sendiri. Ajengan sampai menderita sakit beberapa hari.?

Santri yang melakukan tindakan itu dimarahi santri senior. Bahkan isteri ajengan sampai mendatangi santri tersebut dan memarahinya. Lalu bola milik santri itu disitanya. Ajengan juga sempat marah kepada pelaku.?

Tapi beberapa hari kemudian, Ajengan meminta maaf kepada pelaku. Menurutnya, dia dan santri itu sama-sama pemain di lapangan. Dan itulah risikonya ketika bermain sepak bola. (halaman 44)



Siti Efi Farhati



“Malah basa tas ngaji, Ajengan kungsi mundut hampura ka Si Atok. Saurna, ‘Atok hampura ana, harita make ngambek, padahal ana oge nyaho, yen anta harita teu ngahaja ngadupak ana.’" (Selepas mengaji, Ajengan meminta maaf kepada Si Atok (santri yang menjatuhkannya saat bermain sepak bola). Ajengan berkata, ‘Mohon maaf ya, waktu itu saya sempat marah. Padahal saya tahu, kamu tidak sengaja melakukannya).”

Dari peristiwa itu, RAF menilai seorang ajengan itu sportif.?

Tentang olahraga, menurut ajengan tersebut bermanfaat dalam dua hal. “Saur Ajengan keneh, ari maen-bal teh saenyana mah, ngalatih lahir jeung batin. Lahirna atuh badan jadi sehat, batinna atuh pikiran jadi cageur. (halaman 45).

Menurut RAF, pikiran ajengan semacam itu seperti perkataan ahli-ahli olahraga modern. Hanya berbeda kalimat dan cara menyampaikan sementara maksudnya adalah "mens sana in corpore sano" (jiwa yang sehat berada pada badan yang sehat). (halaman 45).

Padahal ajengan tersebut, sebagaimana dikisahkan pada bagian buku tersebut tidak mengenyam perguruan tinggi. RAF menjelaskan profil ajengan seperti berikut:?

“Ajengan tidak pernah sekolah, tak pernah mendapat didikan universitas. Tapi aku yakin, ajengan yang tinggal di kampung itu orang pintar, orang yang otodidak. Caranya dia mengajar, meski dia tidak mendapatkannya dari buku, tapi mudah dimengerti. Meski sering membentak, tapi disegani santri-santrinya. Malahan jadi payung bagi orang-orang kampungnya. Penemuannya asli, bukan dari buku orang lain. Meski begitu, tetap dalam dan mengandung kebenaran. Luas pemikirannya, luhur penemuannya. Singkatnya, bukan orang mentah. Tidak banyak sekarang juga aku menemukan orang seperti ajengan. Pedoman dia, “Tafakur sejam, lebih berguna daripada shalat berjumpalitan enam puluh hari tanpa tafakur.” (halaman 8).

Sekadar diketahui, buku “Dongeng Enteng dar Pesantren” merupakan kumpulan cerpen yang ditulis Rahmatullah Ading Afandie sering disingkat RAF. Ia lahir di Ciamis 1929 M. Pada zaman Jepang pernah nyantri di pesantren Miftahul Huda Ciamis.?

Buku tersebut diterbitkan tahun 1961 dan memperoleh hadiah dari LBBS di tahun yang sama. Menurut Adun Subarsa, buku tersebut merupakan cerpen otobiografis dan dapat digolongkan ke dalam kesusastraan Sunda modern sesudah perang.?

Pada tahun 1976, RAF muncul dengan sinetron Si Kabayan di TVRI, tapi dihentikan karena dianggap terlalu tajam. Ketika TVRI cabang Bandung dibuka, RAF muncul lagi dengan sinetron Inohong di Bojongrangkong. (Abdullah Alawi)

? ?

? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kajian Sunnah, Jadwal Kajian Siti Efi Farhati

Selasa, 16 Januari 2018

Hari Kartini, Guru Aliyah An-Nawawi Berlomba Lipat Stagen

Purworejo, Siti Efi Farhati. Momentum Hari Kartini yang jatuh pada 21 April selalu diperingati banyak kalangan dengan pelbagai macam cara. Pihak Madrasah Aliyah An-Nawawi Berjan kabupaten Purworejo sendiri memilih untuk mengadakan perlombaan melipat kain stagen selain upacara penghormatan.

Hari Kartini, Guru Aliyah An-Nawawi Berlomba Lipat Stagen (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Kartini, Guru Aliyah An-Nawawi Berlomba Lipat Stagen (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Kartini, Guru Aliyah An-Nawawi Berlomba Lipat Stagen

Sekolah yang terintegrasi dengan pesantren ini memiliki cara cukup unik dalam memperingati peringatan Hari Kartini; dengan upacara dan aneka perlombaan. Tak seperti upacara biasanya, pada upacara Kartini yang digelar di halaman sekolah tersebut, seluruh petugas termasuk pembina upacaranya adalah perempuan.

"Para petugas upacara mengenakan pakaian adat Jawa kecuali petugas paskibra. Petugas tersebut bukan hanya pelajar, namun juga dewan guru perempuan juga terlibat menjadi petugas," terang Kepala MA An-Nawawi H Muslihin Madiani di sela-sela kegiatan, Selasa (21/4).

Siti Efi Farhati

Usai upacara, sebanyak 40 dewan guru perempuan mengikuti perlombaan menggulung stagen sepanjang kurang lebih delapan meter. Perlombaan yang dilaksanakan menggunakan sistem setengah kompetisi ini juga dilangsungkan di halaman sekolah dengan disaksikan dan dimeriahkan oleh seluruh siswa.

"Tradisi menggunakan stagen itu kini mulai punah. Perempuan-perempuan masa kini sudah jarang yang telaten menggunakannya. Mereka cenderung memilih stagen instan yang banyak dijual di pasaran," kata Muslihin.

Siti Efi Farhati

Melalui perlombaan tersebut, sambung Muslihin, pihaknya berupaya mengampanyekan dan mengajarkan para siswanya untuk mengenal stagen sebagai khazanah budaya lokal.

"Semangat mengenali kebudayaan lokal itulah yang ingin kami sampaikan dan ajarkan kepada masyarakat khususnya para siswa kami," tandasnya. (Lukman Hakim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Warta, Kajian Sunnah Siti Efi Farhati

Selasa, 26 Desember 2017

GP Ansor Jateng Ingatkan Konfercab Harus Tepat Waktu

Semarang, Siti Efi Farhati. Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Jawa Tengah mengingatkan kepada semua cabang yang masa kepengurusannya sudah habis untuk menggelar konferensi dan pemilihan ketua baru. Imbauan ini disampaikan demi menegakkan peraturan dan keberlangsungan organisasi.

Hal itu dikatakan oleh Ketua PW GP Ansor Jateng H Ichwanuddin melalui asisten bidang informasi dan komunikasi, Muchtar Mamun di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (13/12). Menurutnya, seruan ini juga sesuai dengan intruksi Pimpinan Pusat GP Ansor.

GP Ansor Jateng Ingatkan Konfercab Harus Tepat Waktu (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Jateng Ingatkan Konfercab Harus Tepat Waktu (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Jateng Ingatkan Konfercab Harus Tepat Waktu

Muchtar menyebut tiga cabang di Jawa Tengah yang mesti segera menggelar konferensi cabang (konfercab). Ketiga cabang tersebut adalah PC GP Ansor Kabupaten Rembang, PC GP Ansor Kabupaten Pati, dan PC GP Ansor Kabupaten Magelang.

Siti Efi Farhati

Meski demikian, Muchtar mengatakan peringatan ini berlaku untuk semua cabang ketika masa khidmah telah usai. Ia berharap konferensi dan reorganisasi berjalan tepat waktu. (Ahmad Asmui/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Kajian Sunnah Siti Efi Farhati

Minggu, 24 Desember 2017

Prakonfercab, PC IPNU-IPPNU Bojonegoro Gelar Orasi Ilmiah

Bojonegoro, Siti Efi Farhati. Menjelang Konferensi Cabang akhir Maret nanti, PC IPNU-IPPNU Bojonegoro mengadakan orasi ilmiah di samping doa bersama pelajar sekabupaten di aula Maarif NU Bojonegoro, Sabtu (22/2). Pada kesempatan yang sama, sejumlah pelajar dianugerahkan IPNU-IPPNU Awards.

Prakonfercab, PC IPNU-IPPNU Bojonegoro Gelar Orasi Ilmiah (Sumber Gambar : Nu Online)
Prakonfercab, PC IPNU-IPPNU Bojonegoro Gelar Orasi Ilmiah (Sumber Gambar : Nu Online)

Prakonfercab, PC IPNU-IPPNU Bojonegoro Gelar Orasi Ilmiah

Ketua PC IPPNU Bojonegoro Weni Andriani mengatakan, kegiatan ini merupakan bagian rangkaian dari Konfercab IPNU-IPPNU Bojonegoro yang direncanakan (28-31/3) nanti di Sugihwaras.

"Antusias peserta orasi sangat tinggi, yang diikuti 26 peserta putra maupun putri dari 14 lembaga pendidikan di kabupaten Bojonegoro," ujarnya kepada Siti Efi Farhati.

Siti Efi Farhati

Menurutnya, dengan mengambil tema Peran Pelajar untuk Pendidikan Berkarakter, diharapkan bagaimana pelajar berperan dalam menumbuhkan pendidikan berkarakter. Agar ke depannya lebih baik dan mampu menjadi pelajar berakhlakul karimah.

Siti Efi Farhati

"Peserta ini juga dipersiapkan untuk diikutkan dalam perlombaan orasi di tingkat wilayah provinsi Jawa Timur. Jadi ketika kegiatan wilayah mengadakan lomba orasi jelang Rakerwil, cabang Bojonegoro sudah menyiapkan pesertanya," imbuhnya.

Persyaratan peserta yang bisa ikut, harus mendapat rekomendasi dari lembaga masing-masing, menyertakan biodata, foto dan teks orasi yang akan disampaikan.

Kegiatan lomba ini disaksikan tiga dewan juri berkompeten di bidangnya, dosen IKIP PGRI Bojonegoro Abdul Ghoni Asror dan Ketua LP Marif NU Agus Huda dan Mariyadi. (M Yazid/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kajian Sunnah Siti Efi Farhati

Selasa, 19 Desember 2017

NU-NKRI Saling Memperkuat Selamanya

Grobogan, Siti Efi Farhati. Nahdlatul Ulama (NU) dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tidak bisa dipisahkan. Bendera NU dan merah putih tetap bersanding sampai kapan pun. Menghina NU berarti menghina Indonesia. Begitu juga sebaliknya.

NU-NKRI Saling Memperkuat Selamanya (Sumber Gambar : Nu Online)
NU-NKRI Saling Memperkuat Selamanya (Sumber Gambar : Nu Online)

NU-NKRI Saling Memperkuat Selamanya

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Grobogan saat memberikan sambutannya dalam peringatan Harlah Ke-88 NU di Terminal Angkudes, Purwodadi, Grobogan, Jawa Tengah, Kamis (6/2).

“Sejarah telah membuktikan perjuangan Mbah hasyim Asyari dalam membela NKRI, kita tidak diperbolehkan berlawanan arah dengan pemerintah, akan tetapi kita harus mendukung program-progam pemerintah yang memliki unsur kemaslahatan” katanya.

Siti Efi Farhati

Ia menyatakan, dalam menghadapi pilpres 2014, NU boleh masuk ke partai manapun dan mengibarkan bendera partai apapun, namun NU harus menjunjung tinggi nilai-nilai kesatuan dalam menjaga NKRI.

Siti Efi Farhati

Pada kesempatan itu, pemerintah kabupaten Grobogan, H Icek baskoro selaku Wakil Bupati dalam sambutannya menanggapi pernyataan yang dilontarkan Kiai Mat said.

“Sebagaimana apa yang telah dikatakan Ketua PCNU, Kiai Mat said tadi, kami sangat tertegun bangga perihal prinsip warga Nahdliyin yang mendukung kinerja pemerintah. Jangan sampai bendera NU berpecah gara-gara perbedaan partai” ujarnya.

“Kami ingin, NU mengawal kebijakan pemerintah Kabupaten Grobogan dan mendukung program-progam yang telah dicanangkannya, agar ke depan lebih baik dan menjadi daerah yang yang diberi rahmat oleh Allah SWT” pungkasnya. (Asnawi Lathif/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kajian Sunnah, Pertandingan Siti Efi Farhati

Senin, 18 Desember 2017

Sahur Bersama Hj Sinta Nuriyah Disambut Antusias di Bojonegoro

Bojonegoro, Siti Efi Farhati

Hj Sinta Nuriyah, istri mendiang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengadakan sahur bersama di Pendopo Pemkab Bojonegoro, Kamis (30/6) dinihari. Kehadirannya mendapat sambutan antusias dari masyarakat setempat.

Peserta sahur bersama terdiri dari tukang becak, pemulung, petugas kebersihan, penghuni panti asuhan, santri, dan orang-orang dari lintas agama. Acara ini diselenggarakan Yayasan Puan Amal Hayati bersama Gusdurian, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Pemkab Bojonegoro, Gereja Kristen Indonesia, Gereja Katolik Santo Paulus, TITD Hok Swie Bio, PMII, KP-Lima, Pemuda Bamag, GP Ansor, Fatayat NU, IPNU, IPPNU, dan Satkorcab Banser.

Sahur Bersama Hj Sinta Nuriyah Disambut Antusias di Bojonegoro (Sumber Gambar : Nu Online)
Sahur Bersama Hj Sinta Nuriyah Disambut Antusias di Bojonegoro (Sumber Gambar : Nu Online)

Sahur Bersama Hj Sinta Nuriyah Disambut Antusias di Bojonegoro

"Jumlah peserta sahur bersama melebihi aspektasi yang direncanakan, dari 450 orang yang diundang hadir hingga 500 orang lebih, panitia akhirnya menyediakan makan sahur tambahan," jelas Hasan Bisri selaku ketua kegiatan.

Siti Efi Farhati

Sahur bersama tersebut berlangsung khidmat dan meriah. Para peserta memenuhi ruang Pendopo Malowopati Pemkab Bojonegoro. Turut berpartisipasi tokoh lintas agama di antaranya Ketua FKUB Bojonegoro KH Alamul Huda, Pendeta Stefanus Semianta (Gereje Kristen Indonesia), Romo Antonius Yuni Wimarta (Gereja Katolik Santo Paulus), Pendeta Daiman Sinaga (Ketua Bamag), Pendeta Joko Waluyo (GPPS).

Siti Efi Farhati

Sebelum acara sahur bersama dimulai, kegiatan diawali dengan sambutan tentang kerukunan yang disampaikan secara bergantian oleh Pendeta Stefanus Semianta dilanjutkan Romo Yuni dan diakhiri KH Alamul Huda.

Setibanya Ibu Shinta Nuriyah, langsung menuju ruang utama Pendopo Malowopati dan memimpin sahur bersama tersebut. "Sebagai warga negera yang baik kita harus menjaga hubungan lintas sosial, agama, ras dan golongan sebagai pilar pembangunan Indonesia dan saling menghormati antaragama," terang Bu Sinta. (M. Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kajian Sunnah, Internasional Siti Efi Farhati

Rabu, 06 Desember 2017

Bela Negara Kaum Sufi

Oleh Munawir Aziz

Agenda Konferensi Ulama Internasional yang diselenggarakan oleh Jamiyyah Ahlit Thariqah Al-Mutabarah Annahdliyyah (Jatman), pasa 27-29 2016, di Pekalongan, menjadi peneguh betapa Islam tidak mengajarkan teror dan kebencian. Gagasan-gagasan yang disampaikan oleh para kiai, syekh dan ulama yang berkiprah di level internasional, dalam agenda yang diayomi oleh Ndoro Habib Luthfi bin Yahya, merupakan jembatan untuk menegaskan Islam sebagai agama cinta, agama perdamaian. Islam yang diwejang oleh para kiai sufi, sebagai Islam yang memiliki roh nasionalis, bersendikan semangat juang dan kecintaan tanah air.

Bagaimana para kiai sufi memahami cinta tanah air? Bagaimana ulama sufi menggelorakan semangat bela negara? Tentu saja, gagasan bela negara tidaklah hanya diartikan sebagai perjuangan di medan peperangan atau perlawanan militer. Bela negara tidak hanya menjadi tugas pasukan keamanan, barisan militer yang selama ini menjadi garda depan pertahanan. Sejatinya, seluruh warga negeri ini juga harus menjadi barisan dari pertahanan negara, memainkan peran dalam bela negara dengan kondisi struktural-kultural masing-masing.

Bela Negara Kaum Sufi (Sumber Gambar : Nu Online)
Bela Negara Kaum Sufi (Sumber Gambar : Nu Online)

Bela Negara Kaum Sufi

Kecintaan terhadap negara menjadi basis fundamental atas konsep bela negara. Jika selama ini masyarakat mencintai negerinya, memahami basis nilai utama yang membentuk bangsanya, tentu tidak akan mudah dipecah belah oleh kelompok atau bangsa lain. Indonesia membutuhkan persatuan sekaligus kesatuan di tengah keragaman kebudayaan dan kekayaan tradisi yang menjadi kaki penguat peradaban bangsa kita.

Nilai Islam Kebangsaan

Siti Efi Farhati

Semangat kebangsaan Indonesia tidak lepas dari prinsip utama untuk mempertahankan kemandirian warga. Dalam narasi sejarah, dalam sepanjang masa kolonial, sejatinya warga Indonesia tidak pernah tunduk dalam satu irama kekalahan. Justru, di beberapa fase zaman, warga negeri ini mengobarkan perjuangan dengan perlawanan-perlawanan di berbagai titik lokasi dan simpul pergerakan.

Para kiai dan santri, yang menjadi simpul gerakan sufi, menggerakkan perlawanan terhadap rezim kolonial. Prinsip hubbul wathan minal Iman (cinta tanah air merupakan bagian Iman) yang digelorakan Kiai Abdul Wahab Chasbullah, menjadi bagian utama untuk menguatkan ruhul jihad (semangat perjuangan) warga muslim negeri ini. Kaum sufi dan jaringan pesantren bersatu untuk melawan rezim kolonial, menghalau setiap penetrasi penjajahan.

Siti Efi Farhati

Gerakan-gerakan perlawanan yang dimotori kaum sufi inilah yang menyambungkan mata rantai perjuangan kelompok Islam tradisionalis, di abad 17 hingga awal abad 20. Mereka juga tampil sebagai garda depan dalam perjuangan kemerdekaan hingga perlawanan 10 November 1945 di Surabaya.

Para kiai pesantren, yang menjadi tulang punggung pergerakan nasional, mengamalkan sufi sebagai laku batin dalam gerak kehidupan mereka. Jaringan guru-murid yang didominasi geraka tarekat, menguatkan basis moral, sosial dan pergerakan nasional yang diinisiasi kaum santri.

Sufisme dan Bela Negara

Konsep bela negara telah menjadi perhatian utama dari ulama sufi Nusantara, terutama yang diinisi oleh Habib Luthfi bin Yahya. Rumusan bela negara sebagaimana yang termaktub dalam Konsensus Bela Negara, Januari 2016 lalu, menguatkan fondasi ekonomi, pendidikan, pertanian, budaya, teknologi informasi dan politik. Selain itu, bela negara juga melibatkan kontribusi setiap warga, dengan empat pilar utama, yakni kuatnya pemerintahan, ilmuan, ekonomi dan media.

Inilah sumbangsih dari kaum sufi untuk meneguhkan rasa cinta tanah air. Kesetiaan dan kecintaan pada bangsa, yang dipadukan dengan kekuatan jejaring dan kejernihan spiritual kaum sufi, menjadi sumbangsih utama untuk bangsa. Terutama, dalam lingkup yang luas, menjaga perdamaian dan rasa aman di pelbagai belahan dunia. Nilai-nilai keislaman yang dipraktikkan kaum sufi, dengan sikap tasamuh (toleransi) dan cinta, menjadi pilar utama menjaga kedamaian dunia.





Penulis adalah Wakil Sekretaris Lembaga Talif Wan Nasyr (LTN) PBNU; penulis buku Pahlawan Santri: Tulang Punggung Pergerakan Nasional (Pustaka Compass, 2016).

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kajian Sunnah Siti Efi Farhati

Kamis, 23 November 2017

PCINU Mesir Gelar Lokakarya Internasional Deradikalisasi

Kairo, Siti Efi Farhati

Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Mesir bekerja sama dengan Pusdiklat Pendidikan Agama dan Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI, serta KBRI Kairo menyelenggarakan Workshop Internasional di Kairo Mesir.

PCINU Mesir Gelar Lokakarya Internasional Deradikalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Mesir Gelar Lokakarya Internasional Deradikalisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Mesir Gelar Lokakarya Internasional Deradikalisasi

Acara yang bertajuk “Peran Manhaj al-Azhar dalam Deradikalisasi Pemahaman Agama yang Intoleran” itu dilaksanakan pada 26-28 April 2017. Lokakarya yang diikuti 200 mahasiwa Indonesia di Mesir ini berupaya menelaah peran sistem pendidikan dan kurikulum al-Azhar di dalam mengajarkan pemikiran dan paham Islam yang damai, paham Islam yang toleran, dan saling mengasihi sesama umat manusia.

Rais Syuriyah PCINU Mesir Muhlashon Jalaluddin mengatakan bahwa tema yang diangkat dalam lokakarya sejalan dengan kondisi yang dihadapi oleh umat saat ini. Menurutnya, umat Islam kini pada posisi tertuduh sebagai pelaku tindak terorisme, akibat maraknya pemahaman agama yang radikal.

Siti Efi Farhati

"Umat Islam selalu tertuduh sebagai pelaku tindakan teror, bukan hanya di negara-negara mayoritas Muslim, tetapi juga di negara-negara (mayoritas) non-Muslim. Padahal tindakan terorisme itu tidak mengenal agama, tidak mengenal kebangsaan, dan tidak ada agama yang memerintahkan tindakan terorisme," ujar Muhlashon dalam sambutannya.

Sementara itu, mencermati suasana pilkada DKI Jakarta baru-baru ini, Muchlis Muhammad Hanafi, Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf al-Quran, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI yang mewakili Kepala Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI Abdurrahman Masud sepakat bahwa para ulama di Indonesia saat ini memiliki tugas berat di dalam mengembalikan paham-paham keagamaan yang sempat menjadi polemik selama masa kampanye. Sebab tidak sedikit statemen-statemen yang terlontar selama kampanye memengaruhi pemahaman agama yang perlu diluruskan.

Siti Efi Farhati

“Umat Islam saat ini menemukan momentumnya untuk mengembalikan semangat persatuan, merajut kembali tali-tali kebangsaan yang belakangan ini ada indikasi memudar. Selanjutnya mari kita menunggu langkah-langkah konkret dari wasathiyatul Islam dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat,” pungkas salah satu narasumber.

Wakil Kepala Perwakilan RI di Kairo Kemal Haripurwanto dalam sambutannya mengapresiasi kegiatan workshop yang diselenggarakan PCINU Mesir kerja sama dengan Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan dan KBRI Kairo. Kemal menyampaikan terima kasihnya kepada Kementerian Agama RI yang secara konkret turut berkontribusi di dalam pembinaan pelajar dan mahasiswa Indonesia di Mesir. “Kegiatan seperti ini perlu dilanjutkan bahkan ditingkatkan,” tandas Kamal.

Selain dari pihak Kementrian Agama RI, acara workshop dijadwalkan menghadirkan pula Prof. Dr. Abdel Fattah Abdel Ghani al-Awwary, Dekan Fakultas Ushuluddin Universitas al-Azhar Kairo; dan Dr. KH. Yahya Cholil Tsaquf, Katib ‘Aam PBNU. Tampak hadir dalam acara pembukaan, para narasumber, Minister Counsellor Politik, Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Sekretaris II Politik, Perbinlu KBRI Kairo, jajaran Suriah PCINU Mesir dan juga pengurus Tanfidziah. (Kenzie/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pondok Pesantren, Kajian Sunnah Siti Efi Farhati

Minggu, 19 November 2017

PP LAZISNU Terima Kunjungan Institut Zakat Sudan

Jakarta, Siti Efi Farhati. Pada Jumat (15/4) Pimpinan Pusat Lembaga Zakat, Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (PP LAZISNU) menerima kunjungan ? Ketua Institut Zakat Sudan, Ali M Ali ? Baidowi dan Abdul Ilah M Ahmad Namr, Koordinator Hubungan Luar Negeri pada institusi yang sama.?

PP LAZISNU Terima Kunjungan Institut Zakat Sudan (Sumber Gambar : Nu Online)
PP LAZISNU Terima Kunjungan Institut Zakat Sudan (Sumber Gambar : Nu Online)

PP LAZISNU Terima Kunjungan Institut Zakat Sudan

Ali M Ali Baidowi mengutarakan pihaknya sudah lama ingin mengunjungi Indonesia. “Kunjungan kami ini dalam rangka mengetahui lebih detail tentang pengelolaan zakat di Indonesia khususnya yang ditangani PBNU, karena zakat merupakan hal yang sangat penting dalam ajaran Islam,” ujar Ali.

Di samping itu, NU juga bukan hal yang asing bagi Sudan, karena di Sudan ada warga Indonesia yang kebanyakan mahasiswa dan berkultur NU bahkan ada PCINU Sudan. Mahasiswa asal Indonesia yang berada di Sudan sering mengikuti pertemuan yang diadakan oleh Pemerintah Sudan, maupun institusi zakat yang dipimpin Ali.

Islam di Indonesia juga bukan hal yang asing bagi mereka, karena Islam masuk ke Indonesia salah satunya melalui perdagangan. Dan ada ulama asal Sudan yang seratus tahun lalu datang ke Indonesia, dan memiliki keluarga di Indonesia.

Siti Efi Farhati

Selain diisi saling perkenalan, pada kesempatan itu kedua lembaga juga saling memaparkan program dan pengelolaan zakat yang mereka tangani. Abdul Ilah juga menyampaikan bahwa institusi zakat mereka membuat kurikulum zakat yang diajarkan di sekolah mulai tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Selain kurikulum untuk pelatihan.

Pihak Institut Zakat Sudan memberikan buku dan modul pelatihan zakat yang dikelola di Sudan. Ali mengatakan, buku dan modul tersebut bisa digunakan di Indonesia termasuk bila LAZISNU menghendakinya, tentu saja dengan penyesuaian kondisi yang ada di Indonesia. (Kendi Setiawan/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Kajian Sunnah, Sunnah, Tegal Siti Efi Farhati

Selasa, 07 November 2017

LPPNU Dorong Pemanfaatan Cukai Tembakau Tepat Sasaran

Jakarta, Siti Efi Farhati. Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) mendorong Pemerintah Daerah penerima Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau atau DBHCHT untuk memanfaatkannya sesuai ketentuan yang berlaku. Sejauh ini masih ditemukan banyak penyelewengan, sehingga manfaat atas alokasi dana tersebut tidak maksimal dirasakan masyarakat.

"Misalnya ada DBHCHT yang digunakan untuk mengaspal jalan, padahal itu jelas tidak boleh," ungkap Sekretaris LPPNU Imam Pituduh di Jakarta, Jumat (30/11). 

LPPNU Dorong Pemanfaatan Cukai Tembakau Tepat Sasaran (Sumber Gambar : Nu Online)
LPPNU Dorong Pemanfaatan Cukai Tembakau Tepat Sasaran (Sumber Gambar : Nu Online)

LPPNU Dorong Pemanfaatan Cukai Tembakau Tepat Sasaran

Dorongan agar DBHCHT dimanfaatkan sesuai ketentuan yang berlaku juga terungkap dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema DBHCHT untuk Kemakmuran Petani yang diselenggarakan Pengurus Wilayah LPPNU Kalimantan Tengah dan Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya, Kalteng, Rabu (28/11). 

Siti Efi Farhati

Ketua Lembaga Penyuluhan dan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBH NU) Andi Najmi Fuaidi yang menjadi salah satu pembicara, mengatakan hanya terdapat 16 Pemda tingkat I di Indonesia yang mendapatkan alokasi DBHCHT. Oleh karena ini, daerah yang sudah mendapatkannya tidak boleh memanfaatkan di luar ketentuan yang berlaku.

“Penggunaan DBHCHT tidak boleh untuk infrastruktur. Dana ini harus untuk pengembangan sektor pertanian, tegas Andi di hadapan dosen dan mahasiswa Universitas Palangka Raya, serta jajaran pengurus di PWNU Kalteng, dan tamu undangan lain yang sebagian besar adalah petani. 

Siti Efi Farhati

Andi mengharapkan agar kelompok masyarakat yang menggeluti bidang pertanian memanfaatkan dana tersebut agar tidak digunakan untuk program yang tidak ada kaitannya dengan sektor pertanian

Dosen Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya Dr. Ir. Suharno, dalam forum yang sama mengatakan bahwa DBHCHT termasuk dana yang belum dikenal luas masyarakat. Jika mengacu kepada peraturan yang ada sektor pertanian memiliki peluang besar dikembangkan dengan dana tersebut. 

"Di samping dapat digunakan di sektor pertanian, kalangan kampus juga bisa memanfaatkan DBHCHT untuk riset pengembangan pertanian," ungkap Suharno. 

Suharno mengaku siap membantu Pemerintah memanfaatkan DBHCHT untuk kemajuan sektor pertanian di Kalimanta Tengah. "Meskipun di sini tidak ada tanaman tembakau dan industri tembakau, kami siap membantu Pemerintah memaksimalkan penggunaan DBHCT agar beberapa kendala di sektor pertanian non tembakau dapat terkurangi," pungkasnya di acara yang diselenggarakan di Aula Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya tersebut.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Samsul Hadi

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Ubudiyah, Kajian Sunnah, Anti Hoax Siti Efi Farhati

Sabtu, 07 Oktober 2017

Produk Elektronik Karya Santri Jepara ini Tembus Pasar Mancanegara

Jakarta, Siti Efi Farhati



Kelahiran Jasa Repair Ponsel (Jarepo) yang dibidani Muhammad Alauddin (29) mendapat sambutan luar biasa dari pelanggan. Pria kelahiran Pati yang pernah mondok di Pesantren Amtsilati Jepara, Jawa Tengah, ini menyebut pelanggannya selain dari berbagai daerah di Indonesia juga dari mancanegara.

Produk Elektronik Karya Santri Jepara ini Tembus Pasar Mancanegara (Sumber Gambar : Nu Online)
Produk Elektronik Karya Santri Jepara ini Tembus Pasar Mancanegara (Sumber Gambar : Nu Online)

Produk Elektronik Karya Santri Jepara ini Tembus Pasar Mancanegara

“Beberapa pesanan datang dari luar negeri. Ada dari sejumlah negara di Asia Tenggara bahkan ada juga pemesan dari Amerika Latin," ujar Alauddin ketika dihubungi Siti Efi Farhati dari Jakarta, Ahad (3/9).

Para pelanggan baru tersebut, lanjut dia, datang dari negara Thailand (1 buah), Malaysia (10 buah), Vietnam (10 buah), dan Peru (3 buah). “Terus terang, saya bahagia sekali sekaligus tertantang untuk merambah pasar baru di luar negeri,” tuturnya.

Siti Efi Farhati

Saat diminta bercerita tentang manfaat socket kekinian itu, pria yang memiliki hobi bongkar-pasang elektronik sejak belia ini mengatakan awalnya dari kebutuhan pribadi. Sebagai teknisi, ia merasa kerepotan jika bekerja dengan beberapa alat pemrograman sekaligus.

“Kalau misalnya alat yang satu kurang mendukung atau pengen ganti ke alat lain, harus lepas pasang adapter ke perangkat yg akan di kerjakan. Repot dan menyita waktu lama. Apalagi yang namanya direct isp emmc. Harus solder ulang dengan kerumitan titik solder 0,3 - 0,5mm. Kecil sekali,” paparnya.

Alak, panggilan akrabnya, kemudian berpikir untuk menciptakan alat yang bisa untuk semua (all in one). Semua alat programming bisa dikoneksikan dengan satu alat yang namanya adapter direct isp emmc dan converter socket BGA all in one. “Akhirnya saya membuat produk pertama tersebut,” ungkapnya bangga.

“Nah, karena banyak permintaan teman-teman seprofesi, kenapa nggak dibikin yang khusus masing-masing alat juga? Kan nggak semua teknisi punya langsung semua alat programming, kadang hanya punya 1 alat atau 2 bahkan hanya 3 saja. Akhirnya menciptakan lagi produk-produk lain sesuai permintaan pelanggan,” tambahnya.

Siti Efi Farhati

Menurut Alak, untuk produk unggulan dan yang pertama kali ia buat, para calon pelanggan dapat mengakses link https://www.smart-connects.com/produk/jual-converter-socket-bga-dan-adapter-direct-isp-emmc-all-in-one. “Nah, kalau pengen tahu daftar semua produk yang sudah saya buat, bisa klik link berikut ini https://www.smart-connects.com/produk,” jelasnya.

Disinggung soal bea cukai, Alak mengatakan masing-masing negara punya peraturan yang berbeda-beda. Terkadang ada beberapa pelanggan yang minta ditulis hanya 50 USD saja pada saat pengiriman. Walaupun harga barang di atas 200 USD jika pembelian 10 pcs. “Karena dia khawatir kena batasan bea cukai di negaranya kalau melebihi 50 USD,” pungkas Alak. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Ahlussunnah, Kajian Sunnah Siti Efi Farhati

Kamis, 20 Juli 2017

MTs Nurul Islam Rintis Program Unggulan Baca Kitab

Jepara, Siti Efi Farhati. Madrasah Tsanawiyah (MTs) Nurul Islam Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, setengah tahun ini sedang merintis program unggulan baca kitab. Sebelumnya madrasah dengan 250-an siswa ini juga mempunyai program unggulan kaligrafi yang sudah berjalan sejak tahun 2006.

MTs Nurul Islam Rintis Program Unggulan Baca Kitab (Sumber Gambar : Nu Online)
MTs Nurul Islam Rintis Program Unggulan Baca Kitab (Sumber Gambar : Nu Online)

MTs Nurul Islam Rintis Program Unggulan Baca Kitab

Mata pelajaran baca kitab dimasukkan dalam muatan lokal. Tiap Ahad siswa memperoleh materi kitab Tijan Addurari metode Ibtidai dengan durasi dua jam pelajaran.

Program yang baru berjalan semester ganjil kemarin awalnya menuai pro kontra, karena banyak yang menganggap siswa takut dengan kitab kuning. Tetapi karena diajar guru dengan metode santai program ini ternyata bisa diterima murid dengan baik.

Siti Efi Farhati

Selama sepekan guru yang mendampingi mata pelajaran Baca Kitab adalah Abdul Rohman, A. Jamaludin dan M. Nidhom. Sebelum pelajaran, siswa rutin melantunkan syiir rumus makna gandul. Setelah itu menyimak kitab yang sudah bermakna gandul. Jika sudah, siswa diminta membaca satu per satu. Sesudah itu baru membaca kitab Tijan Addurari tanpa makna.

Siti Efi Farhati

Meski belum genap setahun, program penguasaan kitab klasik ini, menurut Waka Kesiswaan Abdul Rohman, sebanyak 50 persen siswa sudah berani membaca kitab gundul.

“Kendalanya siswa yang kurang IQ susah menerima materi. Hal itu madrasah menempuhnya dengan pelajaran tambahan yang dilaksanakan setiap hari Sabtu yakni Baca Tulis Al-Qur’an (BTA),” tambahnya.

Untuk mengetahui hasil program, pihak sekolah melaksanakan Class Meeting Cabang Baca Kitab, Kamis (17/12); dan Unjuk Baca Kitab saat Pembagian Rapot, Sabtu-Ahad (19-20/12). Tiga siswa yang akan praktik baca kitab gundul Khoirul Anam (kelas VII A), Ika Nurfiana Rahma (kelas VIII A) dan Sumayah (kelas IX B).

Lelaki yang kerap disapa Maman itu menjelaskan, mapel Baca Kitab bertujuan untuk mengembangkan baca kitab. Usai siswa lulus yang mempunyai keinginan mondok bisa diteruskan karena sudah memiliki bekal.

Di samping itu, dulu KH Mudhoffar Fatkhurrohman merupakan salah satu guru di lingkungan di MTs Nurul Islam. “Mbah Mudhoffar merupakan pengarang Syiir Rumus Makna Gandul kemudian dibikinlah kitab metode Ibtidai,” imbuhnya.

Ia berharap program itu semakin berkembang dan terus ada di MTs Nurul Islam. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kajian Sunnah, Kajian Islam Siti Efi Farhati

Kamis, 05 Januari 2017

Kitab Karya Katib Syuriyah PBNU Jadi Materi Wajib di Pesantren Jember

Jember, Siti Efi Farhati. Pondok Pesantren Darul Hikam Jember, Jawa Timur, mewajibkan santrinya untuk membaca atau menguasai kitab Fathul Mujib al-Qarib. Kitab karya Katib Syuriyah PBNU KH. Afifudin Muhajir yang juga Wakil Pengasuh Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo ini merupakan syarah atas kitab matan Taqrib karya Imam Abu Syuja’.

Kitab Karya Katib Syuriyah PBNU Jadi Materi Wajib di Pesantren Jember (Sumber Gambar : Nu Online)
Kitab Karya Katib Syuriyah PBNU Jadi Materi Wajib di Pesantren Jember (Sumber Gambar : Nu Online)

Kitab Karya Katib Syuriyah PBNU Jadi Materi Wajib di Pesantren Jember

Menurut Pengasuh Ponpes Darul Hikam Mangli Jember, Dr. MN. Harisudin, kitab Fathul Mujib al-Qarib ini sangat penting bagi santri, terutama dalam kaitannya memahami teks-teks fiqh yang sangat beraneka ragam.

“Beda dengan kitab fiqh yang lain, kitab Fathul Mujib al-Qarib sangat mudah dibaca. Penjelasannya juga sangat ringkas dan tidak bertele-tele. Pun juga contoh yang diberikan—meskipun tidak banyak—sangat kontekstual dan sesuai kenyataan,” kata Kiai muda yang juga dosen Pasca Sarjana IAIN Jember tersebut.

Siti Efi Farhati

Seperti diketahui, ketokohan Katib Syuriyah PBNU Drs. KH. Afifudin Muhajir, dalam bidang fiqh dan ushul fiqh sudah diakui publik. Kiai Afif disebut-sebut sebagai “kamus berjalan” di kedua disiplin keilmuan itu.

Siti Efi Farhati

Kitab Fath al-Mujib al-Qarib ini pun telah dibedah oleh PCNU Jember dengan mengundang Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama se-Jawa Timur pada 28 September 2014 di Pesantren Nuris Jember. Hadir pada kesempatan itu, KH. Afifudin Muhajir dan Ust. Idrus Romli dari Aswaja Center NU Jawa Timur. (Anwari/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Tokoh, Pahlawan, Kajian Sunnah Siti Efi Farhati

Kamis, 11 Februari 2016

Problem Sosial Muncul karena Maraknya Kebencian

Jakarta, Siti Efi Farhati. Salah satu ujian yang sangat sulit kita terima adalah mendapat cercaan dan hinaan dari orang lain. Karena hal itu dapat membangkitkan amarah dan dendam yang luar biasa, sehingga terjadi pertengkaran yang bahkan dapat menimbulkan pembunuhan.

Hal itu disampaikan oleh KH Hasbiallah Hasyim dalam pengajian kitab Nasa’ih al-Diniyah di Cipinang, Jakarta pekan lalu.

Problem Sosial Muncul karena Maraknya Kebencian (Sumber Gambar : Nu Online)
Problem Sosial Muncul karena Maraknya Kebencian (Sumber Gambar : Nu Online)

Problem Sosial Muncul karena Maraknya Kebencian

Kesulitan seperti ini, kata Kiai Hasbi, seringkali dihadapi oleh sebagian masyarakat. Berbagai problem sosial terjadi diakibatkan karena maraknya kebencian, iri, dan sombong antarsesama. Kebanyakan dari mereka juga tak kuasa menahan kesabaran, dan minimnya keinginan untuk menciptakan harmonisasi dalam kehidupan sosial.

“Pergaulilah orang lain, sebagaimana kita ingin digauli. Karena kehidupan itu harus seirama. Kalau kita ingin orang datang ke kondangan kita, ya kita harus datang dulu ke kondangannya. Bagaimana orang mau kenal sama kita sedangkan kita sendiri acuh terhadap mereka,” ucap Kiai Hasbi.

Dalam hal seperti ini, sambungnya, sebagai umat Islam jangan sampai terlepas dari mencontoh Rasulullah SAW. Karena dengan mencontohnya kita akan menjadi manusia yang mampu mengontrol kadar emosional dalam diri.

Siti Efi Farhati

“Rasulullah, selama hidupnya selalu penuh dengan kesabaran. Salah satunya adalah sabar dalam menghadapi cercaan dan hinaan dari orang lain.” tukas Pimpinan Pondok Pesantren Salafiyyah Al-Arba’in Bojonggede, Kabupaten Bogor itu.

Pertama, sambungnya, Rasulullah tidak sama sekali membenci orang-orang yang mengganggunya.

Siti Efi Farhati

“Ketika Nabi diludahi, dicaci, bahkan sampai sorbannya ditarik hingga robek pun, nabi tidak benci kepada orang tersebut,” ucapnya.

Kedua, Rasulullah tidak suka terhadap sifat buruk yang ada pada diri orang-orang yang membencinya.

“Janganlah kita diam kepada orang yang mempunyai sifat buruk seperti itu. Kita harus merasa prihatin, dan ingin sekali agar sifat buruk itu hilang,” sambungnya.

Terakhir, Rasulullah selama hidupnya tidak pernah menyumpahi orang lain, termasuk orang-orang yang membencinya.

“Selama hidup Rasulullah, ia sama sekali tidak pernah menyumpahi orang lain. Bahkan, orang yang menghinanya saja ketika sakit, dijenguk,” tegasnya.

Menurutnya, mengikuti akhlak Nabi Muhammad SAW merupakan solusi yang paling konkrit dalam menghadapi gejala-gejala kompleks. Sabar, ikhlas, dan berserah diri pada kehendak Allah, akan menjadikan manusia yang selalu rendah hati.

“Maka dari itu, pantaslah bahwa Allah memberi gelar uswatun hasanah kepada Rasulullah dalam firman-firman-Nya di dalam Al-Qur’an, karena begitu mulia akhlaknya,” pungkasnya. (Ahmad Rifaldi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kajian Sunnah, Sejarah, Santri Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock