Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syariah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Februari 2018

Yenni Wahid Akrab dengan Pesantren Cirebon

Cirebon, Siti Efi Farhati. Putri kedua almarhum KH Abdurrahman Wahid mengaku akrab dengan pesantren-pesantren yang ada di Cirebon, Jawa Barat. Dia juga beberapa kali ziarah ke makam Sunan Gunungjati.

"Saya akrab dengan pesantren-pesantren di sini. Gus Dur sering mengajak saya ke Kempek, Buntet, Arjawinangun, dan Babakan," ujar Yenny yang mengenakan kerudung warna hijau.

Yenni Wahid Akrab dengan Pesantren Cirebon (Sumber Gambar : Nu Online)
Yenni Wahid Akrab dengan Pesantren Cirebon (Sumber Gambar : Nu Online)

Yenni Wahid Akrab dengan Pesantren Cirebon

"Almarhum Kiai Fuad Hasyim Buntet, Syarif Usman Yahya yang juga sudah almarhum, Kang Husen. Mereka semua teman bapak dan guru saya. Sejak kecil saya sudah ketemu kiai-kiai di Cirebon," sambungnya.

Siti Efi Farhati

Tidak hanya pesantren yang serng dikunjungi Yenni di Cirebon, tapi juga pasar kain Tegal Gubug. "Saya kalau lewat pasar kain terbesar itu, saya mampir dan belanja kerudung," pungkasnya.

Yenni datang atas nama keluarga besar NU. Dia menolak ke arena Munas untuk mengomunikasikan partainya ke kiai-kiai. "Saya ke sini sebagai warga NU dan aktivis Muslimat NU. Ndak boleh dong bawa-bawa partai ke sini," ujar Yenni sambil tersenyum.

 

Siti Efi Farhati

Penulis: Hamzah Sahal

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Berita, Habib, Syariah Siti Efi Farhati

Jumat, 09 Februari 2018

Kiai Chalwani: Jangan Sampai Mahasiswa Terkecoh (Lagi)

Purworejo, Siti Efi Farhati. Majlis Pembina Cabang (Mabincab) Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Purworejo, Jawa Tengah, KH Achmad Chalwani Nawawi mengingatkan agar mahasiswa tidak terkecoh dengan berbagai isu-isu dan persoalan yang terjadi akhir-akhir ini.

Kiai Chalwani: Jangan Sampai Mahasiswa Terkecoh (Lagi) (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Chalwani: Jangan Sampai Mahasiswa Terkecoh (Lagi) (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Chalwani: Jangan Sampai Mahasiswa Terkecoh (Lagi)

Hal itu disampaikannya dihadapan sedikitnya 60 mahasiswa dari sejumlah kampus di Karesidenan Kedu yang mengikuti kegiatan Pelatihan Kader Dasar (PKD) yang digelar oleh Pengurus Cabang PMII Kabupaten Purworejo, Kamis-Sabtu (13-15/3) di Balai Desa Ngaran Kecamatan Kaligesing Purworejo.

"Mahasiswa harus jeli menyikapi setiap permasalahan yang ada. Jangan sampai gerakan mahasiswa ini menjadi bahan komoditas bagi oknum maupun segelintir orang untuk kepentingan selain kepentingan rakyat secara menyuluruh," tandasnya.

Siti Efi Farhati

Selain itu, ia mengingatkan, hakikat perjuangan PMII adalah melanjutkan perjuangan para ulama untuk menegakkan akidah ahlussunnah wal jamaah di bumi nusantara.

Siti Efi Farhati

"Tentu bukan hal yang mudah karena tantangannya akan banyak sekali ditemui di tengah perjuangan. Banyak pihak-pihak yang merongrong kedaulatan bangsa, baik melalui penjajahan ekonomi, politik, ekonomi maupun SDA," tandasnya.

Kegiatan kali ini bertema “Mengukuhkan Kedaulatan Sumber Daya Alam (SDA) Untuk Indonesia Yang Berdikari. Para mahasiswa diajak untuk lebih memperhatikan isu-isu? SDA di cabang masing-masing. Karena SDA menjadi sebuah potensi sekaligus ancaman bagi rakyat.

"Selama ini peranan mahasiswa terhadap pengawalan kedaulatan SDA sudah dirasakan oleh pemerintah daerah. Sinergitas ini perlu terus dijaga dan ditingkatkan agar ke depan eksplorasi lingkungan di Purworejo bisa diawasi bersama mengingat salah satu peranan mahasiswa sebagai agen social of control, agen social of change," tandas Gatot Seno Aji SE, Kepala Kantor Kesbangpol Purworejo saat membacakan sambutan Bupati.

Lebih lanjut Gatot berpesan agar PMII yang anggotanya merupakan mahasiswa terdidik juga turut mengawal nilai-nilai local yang mulai terkikis oleh percepatan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek). Menurutnya meski memiliki nilai positif, namun banyak juga nilai-nilai negative yang harus difilter.

"Kita perlu memahami dan menyadari tantangan global dan internal yang sedang dihadapi dan mengharuskan kita untuk lebih memperkuat jatidiri, identitas dan karakter sebagai bangsa Indonesia," tandasnya. (Lukman Hakim/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Syariah, Amalan Siti Efi Farhati

Minggu, 04 Februari 2018

Lesehan Ansor Genuk Bincang Ma’rifat Samin

Semarang, Siti Efi Farhati 

Pengurus Anak Cabang (PAC) GP Ansor Genuk ngaji sosial budaya. Kegiatan ini mengambil pokok pembahasan ma’rifat suku Samin hingga simpang siur sejarah Walisongo, Islam, dan kebudayaan Jawa; serta sejarah akulturasi dan sejarah nilai.

Lesehan Ansor Genuk Bincang Ma’rifat Samin (Sumber Gambar : Nu Online)
Lesehan Ansor Genuk Bincang Ma’rifat Samin (Sumber Gambar : Nu Online)

Lesehan Ansor Genuk Bincang Ma’rifat Samin

Kegiatan atas kerjasama dengan Rumah Pendidikan Sciena Madani tersebut bertempat di rumah Pak RT  Zainun Kamil yang beralamatkan Penggaron Rt 6 Rw 1 Genuk, Semarang, Jawa Tengah, pada Ahad (13/10).

Dipandu Lukni Maulana, Pengasuh Rumah Pendidikan Sciena Madani kegiatan tersebut,  mulai gemuruh ketika Martin Moethadhim SM, selaku pembicara, bercerita lika-liku hidupnya. Seperti kisah spiritualnya ketika Shalat di Gereja Pangkalan Militer Amerika Serikat.

Siti Efi Farhati

Pembicara asli Blora ini, mengemukakan berbagai hal rancaunya dalam membahas sejarah. Ketika akan merunut sebuah sejarah, semisalkan sejarah tokoh itu seperti ingin menemukan sanad hadist. 

“Dengan belajar sejarah, kita diajak untuk selalu mengumpulkan dokumentasi dan banyak membaca, karena sejarah selalu saja bisa berubah ketika ada bukti baru,” kata Martin.

Siti Efi Farhati

“Sedangkan Samin bukanlah sebuah suku, melainkan laku hidup yang dinisbatkan kepada pendiri saminisme. Dalam pergolakkannya saminisme ini muncul sebagai sebuah gerakan untuk melawan penjajah,” lanjutnya.

Kegiatan Lesehan Ansor ini merupakan wadah gerakan wacana dan intelektual PAC GP Ansor Genuk yang diadakan setiap 2 bulan sekali dengan menghadirkan para pembicara yang berkompeten di bidangnya. Selain itu juga Lesehan Ansor menengahkan grup musik Ansor Nada, sebagai pemantik kemeriahan.

“Selain mendapatkan ilmu dari pakarnya, ada bonus mendenggarkan Grup Musik Ansorun Nada sebauh grup musik dakwah dan sedekah,” tutur Muhammad Sodri Ketua PAC GP Ansor Genuk. (Lukni Maulana/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Halaqoh, Kajian Sunnah, Syariah Siti Efi Farhati

KH Maruf Amin Terima Anugerah Gelar Doktor Kehormatan

Jakarta, Siti Efi Farhati. Mustasyar PBNU KH Ma‘ruf Amin menerima penganugerahan Gelar Doktor Kehormatan (Doktor Honoris Causa) dalam bidang Hukum Ekonomi Syariah dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pengukuhan gelar kehormatan baru baginya, dilangsungkan di Auditorium Prof. Dr. Harun Nasution, kompleks UIN Syahid Jakarta, Sabtu (5/5).

KH Maruf Amin Terima Anugerah Gelar Doktor Kehormatan (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Maruf Amin Terima Anugerah Gelar Doktor Kehormatan (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Maruf Amin Terima Anugerah Gelar Doktor Kehormatan

Penganugerahan gelar kehormatan diberikan secara simbolis oleh Komarudin Hidayat, Rektor UIN Syahid Jakarta. Sekurangnya 600 orang baik dari kalangan akademisi maupun umum, turut hadir menyaksikan pengukuhan gelar kehormatan bagi Kiai Ma‘ruf. Tepuk tangan mereka, menggema di ruang auditorium kampus tersebut saat penyerahan gelar simbolis berlangsung.

Sidang Senat Terbuka UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 5 Mei 2012, memutuskan bahwa Kiai yang menduduki posisi Mustasyar PBNU ini layak menerima Gelar Doktor Kehormatan.

Siti Efi Farhati

“Kiai Ma‘ruf Amin adalah seorang ulama yang cemerlang dalam ilmu Hukum Ekonomi Syariah dan motor penggerak Ekonomi Syariah Indonesia,” ungkap Atho Mudzhar dalam pidato sambutannya selaku promotor I.

Siti Efi Farhati

Menurut M Amin Suma, Promotor II, penganugerahan Gelar Doktor Kehormatan bagi Kiai Ma‘ruf hingga tindak lanjut penganugerahan hari ini, sudah diusulkan sejak Januari 2011 lalu.

“Penganugerahan Doktor HC ini lebih bisa dipertanggungjawabkan dari banyak sisinya, bila kurang tepat dinyatakan dari semua seginya. Termasuk dari segi yuridis adaministratif, di samping terutama dari sudut pandang pertimbangan ilmiah akademik dan kepatutan lainnya,” tegas Amin Suma.

Lebih-lebih dari sisi pandang jasa-jasa besar dan luar biasa KH Ma‘ruf Amin melalui pengabdian dan ilmu pengetahuannya kepada umat dan masyarakat, serta kepada agama, nusa, dan bangsa Indonesia, tandas Amin Suma.

Sebanyak 37 karangan bunga yang berisikan ucapan selamat, berjajar menghiasi muka gedung auditorium sehingga menutupi sebagian gedung rektorat yang berhadapan dengan ruang dimana acara berlangsung. Ucapan selamat dalam karangan bunga, dikirim oleh kolega, kampus, dan sejumlah instansi yang mengikuti jejak kiprah KH. Ma‘ruf Amin.

Acara ditutup dengan doa. Sebelum doa, rektor UIN Syahid Jakarta mengetuk palu sebanyak 3 kali. Dengan ketukan palu di atas mejanya, ia mengatakan bahwa Sidang Senat Terbuka UIN Syahid Jakarta secara resmi ditutup berbarengan dengan ketukan palu.

Usai sidang ditutup, sekurangnya 20 Dewan Senat Terbuka meninggalkan ruangan dengan mengucapkan selamat bagi KH. Ma‘ruf Amin. Akhirnya, Kiai Ma‘ruf yang masih keturunan Syekh Nawawi Albantani ini, mesti rela mengulurkan tangan menyambut seratus lebih antrean pengunjung yang ingin mengucapkan selamat padanya.

Redaktur : Syaifullah Amin

Penulis     : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati RMI NU, Syariah, Kyai Siti Efi Farhati

Kamis, 18 Januari 2018

Ini Pidato Kasatkornas di Apel Kebangsaan Banser Bali

Denpasar,? Siti Efi Farhati?

Apel Kebangsaan yang diadakan Pimpinan Wilayah GP Ansor Provinsi Bali di Lapangan Lumintang Denpasar, Ahad (14/5) dihadiri Kasatkornas Banser H. Alfa Isnaini. Di hadapan seribu kader Ansor dan Banser dari sembilan kabupaten dan kota se-Bali itu, Alfa merasa bangga karena banom NU itu bisa eksis di pulau dewata, pulau dengan Muslim minoritas. ?

Ini Pidato Kasatkornas di Apel Kebangsaan Banser Bali (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Pidato Kasatkornas di Apel Kebangsaan Banser Bali (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Pidato Kasatkornas di Apel Kebangsaan Banser Bali

Meski demikian, ia berpesan agar GP Ansor dan Banser terus menjunjung tinggi keharmonisan, kedamaian dan menjalin komunikasi kepada semua pihak. Dengan cara seperti itu, rajutan kebinekaan di negeri ini, termasuk di Bali, bisa seiring sejalan dengan cita cita pendiri bangsa.

"Para perumus negeri ini sepakat untuk menjadikan negeri ini sebagai negara kesatuan yang mengakui perbedaan, menggapai kesejahteraan bersama berdasarkan Pancasila. Ini sudah final, karena yang menyepakatinya juga adalah para kiai-kiai NU," tegasnya.

Jadi, lanjutnya dengan suara lantang, siapa pun yang ingin mengutak-atik NKRI dan Pancasila, maka GP Ansor dan Banser siap berhadap-hadapan dengan mereka.

Siti Efi Farhati

“Apakah kalian siap?” tanya Alfa.

"Siap!" seru peserta apel menjawab serentak.

Menyoal kelompok yang anti-Pancasila, ia terang-terangan menyebut HTI sebagai organisasi gerakan politik, bukan gerakan dakwah keagamaan. Mereka jelas ingin menggantikan Pancasila sebagai dasar negara.

"Kebebasan berpendapat boleh, tapi kalau sudah ingin mengubah dasar dan bentuk negara, maka langkah pemerintah sudah tepat untuk membubarkan HTI yang kerap mempropagandakan pemerintahan model khilafah Islamiyah," paparnya.

Siti Efi Farhati

Namun, ia juga menegaskan bahwa langkah pemerintah untuk membubarkan HTI merupakan keputusan politik, jadi ini belum cukup. Ansor Banser menginginkan yang lebih dari itu.

"Kita ingin semua gerakan pemahaman dan ajaran HTI, harus dilarang di seluruh tumpah darah Nusantara ini. Jika masih mereka ada, maka selama itu juga Banser dan Ansor akan tetap melakukan perlawanan," paparnya yang langsung disambut tepuk tangan peserta apel.

Terakhir, ia berpesan agar kader Ansor dan Banser agar tidak gampang terprovokasi oleh oknum-oknum yang menginginkan terpecahnya kesolidan Nahdlatul Ulama. (Abraham Iboy/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Berita, Syariah, Ahlussunnah Siti Efi Farhati

Rabu, 17 Januari 2018

Terinspirasi Yu Gi Oh, Mahasiswa KMNU Lampung Juara BIOMA 2016

Malang, Siti Efi Farhati. Dwi Wahyudi, anggota Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Universitas Lampung (Unila) berhasil meraih juara di ajang Bidikmisi on March (BIOMA) 2016 yang diselenggarakan di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang. Mahasiswa Pendidikan Biologi Unila ini terinspirasi film animasi Yu Gi Oh dalam memperoleh ide yang selanjutnya ia tuangkan dalam karya tulis.

Dalam lomba esai BIOMA 2016, Dwi mengusung judul Heroes Card Game yang mengadaptasi konsep permainan pada kartu-kartu Yu Gi Oh. Konsep tersebut ia modifikasi dengan mengganti gambar kartu Yu Gi Oh dengan gambar para pahlawan nasional juga para penjajah.

"Berawal dari gemar main game, kebetulan ada teman ngabari BIOMA ini. Saya mengamati Indonesia saat ini banyak terjadi korupsi. Hal ini menunjukkan Indonesia mengalami krisis karakter. Jadi saya ingin gabungkan antara game dan krisis karakter di Indonesia”, tutur Dwi.

Terinspirasi Yu Gi Oh, Mahasiswa KMNU Lampung Juara BIOMA 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
Terinspirasi Yu Gi Oh, Mahasiswa KMNU Lampung Juara BIOMA 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

Terinspirasi Yu Gi Oh, Mahasiswa KMNU Lampung Juara BIOMA 2016

Lebih lanjut mahasiswa kelahiran Banjar Agung, Tulang Bawang, Lampung ini berharap esai Heroes Card Game yang ditulisnya dapat menanamkan karakter kepahlawanan sejak dini. Menurutnya, jika sejak SD sudah tertanam karakter jujur dan positif, maka ketika sudah dewasa nanti ia tidak akan bertindak amoral.

Dia juga menjelaskan bahwa nantinya selain konsep kartu secara fisik, Heroes Card Game ini dapat dikembangakan menjadi permainan pada PC maupun handphone berbasis android. Dengan ide ringan dan unik namun sangat bermakna inilah, Dwi Wahyudi berhasil menyabet juara umum lomba esai pada ajang BIOMA 2016.

Siti Efi Farhati

"Ini adalah esai kedua yang saya tulis. Pencapaian ini saya jadikan sebagai bentuk rasa syukur ucapan terima kasih kepada mereka yang sudah memberikan dukungan moril pada saya, karena tanpa dukungan mereka saya tidak akan sampai pada pencapaian ini," ujar Dwi. Selamat Dwi Wahyudi, keluarga KMNU bangga padamu.(el Naomiy/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Syariah, Hikmah Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati

Kamis, 04 Januari 2018

Berdiri Ketika Mendengar Suara Adzan

Suara adzan menempati posisi istimewa dalam hati umat Islam. Bunyi yang dipantulkannya sangat berbeda dari suara-suara lainnya. Setiap orang memunyai ekspresi tersendiri ketika adzan dikumandangkan. Ada yang berdiri hingga adzan selesai. Orang yang tidur tiba-tiba langsung duduk ketika ? mendengar suara adzan. Orang yang sedang beraktivitas langsung berhenti dan terdiam sampai adzan selesai digemakan.

Ekspresi berdiri, duduk, dan lain-lain ini merupakan bentuk penghormatan seseorang akan suara adzan karena suara adzan terbilang sakral. Hal ini juga tidak hanya terjadi di zaman sekarang, sejak dulu masyarakat sudah terbiasa melakukan hal ini.

Berdiri Ketika Mendengar Suara Adzan (Sumber Gambar : Nu Online)
Berdiri Ketika Mendengar Suara Adzan (Sumber Gambar : Nu Online)

Berdiri Ketika Mendengar Suara Adzan

Namun apakah ekspresi semisal ini merupakan kewajiban, kesunahan, atau bagaimana? Terkait masalah ini al-Suyuthi dalam Hawi al-Fatawa menjelaskan:

Siti Efi Farhati

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. Sebenarnya berita yang beredar tentang orang yang berdiri tidak boleh langsung duduk dan orang yang duduk harus tetap duduk ketika mendengar suara adzan, tidak ada landasan dalam hadits Nabi, baik hadits shahih maupun dhaif. Bahkan tidak seorang pun ulama fikih menyebutkan permasalahan ini. Maka orang yang mendengar suara adzan sementara ia dalam posisi berdiri diperbolehkan langsung duduk. Orang yang sedang duduk diperbolehkan untuk berbaring. Orang yang berbaring diperkenankan juga untuk tetap berbaring.

Pendapat as-Suyuthi ini paling tidak bisa dijadikan argumentasi bahwa berdiri ketika mendengar suara adzan bukanlah sebuah kewajiban. Begitu pula dengan orang yang duduk dan berbaring juga diperbolehkan melanjutkan posisinya, tanpa harus mengubah posisi ketika menyimak suara adzan.

Siti Efi Farhati

Namun kita juga tidak boleh menyalahkan bila ada orang yang berdiri ketika mendengar suara adzan. Sebab bisa jadi itu bentuk dari penghormatannya dan ekpresinya. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati IMNU, Tegal, Syariah Siti Efi Farhati

Rabu, 03 Januari 2018

Puasa Tingkatkan Kedisiplinan dan Produktivitas Kinerja

Brebes, Siti Efi Farhati. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Brebes, Drs H Imam Hidayat, MPdI memandang, Puasa Ramadhan menjadi barometer kedisiplinan dan Produktivitas Aparatur Sipil Negara (ASN). Karena puasa memiliki makna pengendalian diri.?

Pengendalian diri bagi seorang pegawai, terutama dari sisi kepribadian, sehingga berpengaruh bagi diri dan masyarakat yang dilayani.?

Puasa Tingkatkan Kedisiplinan dan Produktivitas Kinerja (Sumber Gambar : Nu Online)
Puasa Tingkatkan Kedisiplinan dan Produktivitas Kinerja (Sumber Gambar : Nu Online)

Puasa Tingkatkan Kedisiplinan dan Produktivitas Kinerja

“Konteks impelemntasi puasa sebagai seorang ASN, bisa menjadi semangat tarbiyah peningkatan disiplin dan kinerja pegawai,” terang Imam Hidayat saat dihubungi Siti Efi Farhati di ruang kerjanya, Jumat (9/6).

Kata Imam, seorang yang berpuasa telah diatur harus mampu menahan diri yang diawali dengan imsyak sampai dengan berbuka saat Maghrib. Di sini, ada ketentuan waktu yang jelas, antara waktu berangkat kerja dan kapan harus meninggalkan kantor.?

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim, Ibadah puasa itu perhitungan pahalanya langsung dari Allah SWT. Sesungguhnya, semua amalan bani adam akan dilipatgandakan, satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipat hingga 700 kali lipatnya. Allah ta’ala berfirman, ‘Kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya, ia meninggalkan syahwat dan makannya karena aku, maka Aku yang akan membalasnya.’?

Siti Efi Farhati

Dalam kaitan ini, lanjut Imam, ibadah puasa itu ibadah rahasia yang hanya diketahui oleh dirinya dan Allah SWT. Maka sebagai ASN ada upaya pengawasan melekat. Bekerja apapun, tidak karena ada atasan, atau pimpinan harus dijalani.

“Tidak perlu diperintah kalau memang sudah ada tugas pokok dan fungsinya, lakukan. Yang menjadi ukuran adalah dorongan pribadi bahwa kita menjalankan amanah, melayani umat, jadi kerjakan apa yang menjadi tugas dan kewajiban,”imbuhnya.?

Siti Efi Farhati

Datangnya bulan Puasa, tidak mengurangi gaji ataupun mengurangi tunjangan kinerja (tukin), maka jangan sampai puasa malah membuat kinerja melemah. Karena alasan ngantuk, cape, tidak bersemangat, takut kehausan dan kelaparan, atau dijadikan alasan datangnya terlambat.?

Justru dibulan puasa, sambungnya, semua amal yang baik dilipatgandakan. Bulan barokah, bulan peningkatan kebaikan. Maka bila berkerja dengan ikhlas dan terjadi peningkatan produktivitas maka akan dilipat gandakan pula pahalanya.?

Kedisiplinan dan Produktivitas kerja meningkat bukan karena siapa-siapa, tetapi karena lillah, karena Allah SWT.?

Semoga saja, puasa tahun ini mendapatkan ridlo-Nya dan ikhlas menjalankannya. Jangan sampai sebaliknya, betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya tersebut, kecuali rasa lapar dan dahaga.?

Alasan tidur bae, dengan dalih tidur saja mendapat pahala ini jangan dijadikan pedoman. Imam mangajak, selaku ASN agar menjadi contoh untuk melaksanakan puasa dengan sebaik-baiknya agar laalakum tatakum. Sebab, tidak semua orang yang berpuasa jadi orang takwa, mudah-mudahan ASN puasanya mengantarkan diri menjadi insan yang takwa.

Untuk itu, pegawai harus tetap menjalankan puasa, karena menilik keberkahan puasa akan mendorong lebih rajin lagi, dengan motivasi dari setiap amal perbuatan akan dilipatgandakan pahalanya. (Wasdiun / Muslim Abdurrahman)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Syariah Siti Efi Farhati

Minggu, 31 Desember 2017

Besarnya NU Harus Diimbangi dengan Kuatnya Organisasi

Pringsewu, Siti Efi Farhati. Saat bertemu dengan seluruh Pengurus Harian MWCNU Kecamatan Pagelaran dan 22 Ranting NU yang ada di Kecamatan tersebut, Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu H Taufiqurrohim mengibaratkan jam’iyyah NU seperti alat berat slender.

Besarnya NU Harus Diimbangi dengan Kuatnya Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Besarnya NU Harus Diimbangi dengan Kuatnya Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Besarnya NU Harus Diimbangi dengan Kuatnya Organisasi

"NU itu merupakan organisasi keagamaan terbesar di dunia. NU membawa beban jamaah besar, ibaratnya NU itu seperti slender. Jalannya pelan pelan tapi walaupun pelan tetap jalan," ujarnya dalam kegiatan yang juga dibarengkan dengan Penilaian Lomba MWCNU Se Kabupaten Pringsewu, Sabtu (18/6).

Ia menambahkan bahwa slender akan keluar untuk memperbaiki jalan yang rusak. Begitu juga NU yang didirikan untuk menjadikan Islam rahmatan lil alamin di tengah tengah masyarakat. "NU hadir untuk memperbaiki ahlak, akidah dan seluruh aspek dalam beragama," tegasnya dengan suara yang lantang.

Siti Efi Farhati

Oleh karenanya, ia mengajak seluruh pengurus NU di segala tingkatan di Kabupaten Pringsewu untuk senantiasa aktif dalam berorganisasi. "Tidak ada pengurusnya saja NU bisa jalan apalagi ada pengurus yang aktif mengurusi NU. Kan aneh kalau ada pengurusnya malah NU tidak jalan" ujarnya.

Siti Efi Farhati

Taufiq juga mengimbau kepada pengurus agar senantiasa berusaha untuk menjadikan jam’iyyah NU kuat. Besarnya NU harus diimbangi dengan kuatnya organisasi yang meliputi berbagai macam hal seperti administrasi, pemahaman keaswajaan dan sejenisnya.

"Pengurus NU harus memperdalam Ke NU an serta peka terhadap permasalahan agama yang berkembang di masyarakat," tandasnya. Ia juga menegaskan bahwa tidak ada ruginya berkiprah di NU jika diniati karena Allah SWT. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kyai, Humor Islam, Syariah Siti Efi Farhati

Senin, 25 Desember 2017

KMNU UI Siap Jadi Tuan Rumah Musyawarah Regional

Depok, Siti Efi Farhati

Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Universitas Indonesia (UI) siap jadi tuan rumah dalam agenda Musyawarah Regional yang akan dihadiri oleh delapan perguruan tinggi. Kegiatan ini rencananya akan dilaksanakan pada Sabtu (5/3) mendatang di Aula Setyaningrum, Pusat Kegiatan Mahasiswa UI.

Ketua KMNU UI Nurul Fauzi menyatakan Musyawarah Regional akan diikuti oleh IIUM, UNILA, UNPAD, ITB, UPI, UI, STAN, IPB dengan agenda laporan pertanggungjawaban dan reorganisasi kepengurusan.

KMNU UI Siap Jadi Tuan Rumah Musyawarah Regional (Sumber Gambar : Nu Online)
KMNU UI Siap Jadi Tuan Rumah Musyawarah Regional (Sumber Gambar : Nu Online)

KMNU UI Siap Jadi Tuan Rumah Musyawarah Regional

Ia memaparkan, Musyawarah Regional bertujuan untuk menguatkan perjuangan NU di kampus-kampus besar, agar nilai Ahlussunnah Waljamaah An Nahdliyyah dapat dilestarikan di kalangan generasi muda.

"Ya, tentunya agenda ini menjadi penting khususnya untuk mulai meningkatkan eksistensi KMNU di UI yang baru berdiri sekitar dua tahun," kata Fauzi saat diwawancarai, Ahad (28/1).

Ketua Bidang Internal KMNU UI Tomy Lutvan menambahkan, selain meningkatkan keberadaan KMNU di UI, kegiatan ini juga sebagai penguat keberadaan KMNU UI di tingkat regional.

Siti Efi Farhati

"Jelas harapannya agenda Musyawarah Regional ini menjadi starting point perjuangan NU di kampus kuning. Selain itu juga penting untuk menarik semangat pengurus KMNU UI agar ke depan semakin solid," pungkasnya. (Afifah Marwa/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Syariah Siti Efi Farhati

Minggu, 24 Desember 2017

GP Ansor Ciamis Kawal Program Pendataan Tanah

Ciamis, Siti Efi Farhati - GP Ansor Kabupaten Ciamis memfasilitasi masyarakat untuk menyukseskan program Pendataan Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) yang saat ini menjadi salah satu program strategis Jokowi di Sukaresik dan Sukasenang, Kecamatan Sindangkasih, Kabupaten Ciamis.

Aksi ini berangkat dari keprihatinan atas banyak bidang tanah milik masyarakat yang belum memiliki tanda kepemilikan yang sah atau sertifikat serta kondisi Desa Sukaresik dan Desa Sukasenang yang berada di kaki Gunung Syawal dan terhitung relatif tertinggal, sehingga program-program pemerintah yang semestinya landing membutuhkan proses fasilitasi dari pihak-pihak yang memiliki concern dalam pendampingan terhadap masyarakat, termasuk dalam hal ini GP Ansor.

GP Ansor Ciamis Kawal Program Pendataan Tanah (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Ciamis Kawal Program Pendataan Tanah (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Ciamis Kawal Program Pendataan Tanah

Sosialisasi dan fasilitasi seperti yang dilaksanakan pada Sabtu (14/10) siang di Balai Desa Sukasenang telah membesarkan hati masyarakat untuk menyambut program PTSL ini dengan memenuhi target minimal 1000 bidang tanah per desa. Menghadirkan tiga fasilitator, GP Ansor Ciamis memberikan penjelasan seputar pelaksanaan dan kiat-kiat sukses serifikasi massal ini.

Siti Efi Farhati

Dalam sambutannya di forum sosialisasi dan fasilitasi, Kepala Desa Sukasenang Darus Salim menyatakan akan segera melakukan pendataan dan pendaftaran warganya untuk penyertifikatan lahannya dan akan mengajukan permohonan pada Kepala BPN setempat.

“Program ini sesungguhnya sangat ditunggu masyarakat. Apalagi dengan jaminan tanpa biaya dan hanya dipungut pembiayaan yang sudah ditentukan dalam peraturan sebesar Rp. 150.000,-. Untuk itu kami, seluruh aparat desa akan bekerja dengan keras untuk memenuhi target minimal 1000 bidang ini,” kata Darus Salim.

Siti Efi Farhati

Anggota GP Ansor Ciamis Fathan Arionaldo yang ikut menjadi fasilitator kegiatan ini mengatakan, kegiatan sosialisasi ini merupakan lanjutan dari kegiatan sosialisasi sebelumnya di Desa Sukaresik.

Pendamping Desa yang sekaligus santri dari Pesantren Qoshrul Arifin Atas Angin pimpinan Hazrat Syaikh M Irfa’I Nahrowi An-Naqsyabandi ini menyebutkan bahwa pihaknya juga telah menjalin komunikasi dengan kepala Badan Pertanahan Nasioanal Ciamis untuk menyukseskan program PTSL di dua desa ini.

“Target kami tidak hanya dua desa ini karena desa-desa di sekitaran kaki gunung Syawal ini banyak dan kondisinya (administrasi asetnya-red) hampir sama.” Kata Fathan.

Selain karena program ini juga memang merupakan bagian dari kebijakan Kemendesa yang dituangkan dalam SKB tiga menteri, ia juga menekankan akan pentingnya penataan aset masyarakat, lebih-lebih aset milik desa.

Atabik Janka Dausat yang merupakan salah satu pengurus GP Ansor Ciamis mengatakan bahwa advokasi ini dilakukan dengan spontanitas dan secara sukarela saja.

“Kita mendampingi masyarakat untuk menyertifikasi lahannya agar memiliki surat yang berkekuatan hukum dan sah secara hukum,” katanya.

Menurutnya, gerakan advokasi ini dilakukan bersama-sama dengan santri yang tergabung dalam Ansor. Selain sebagai media silaturrahmi dengan masyarakat, katanya, juga sebagai bentuk sumbangsih kami, Pesantren Atas Angin untuk kemajuan masyarakat. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Syariah Siti Efi Farhati

Sabtu, 16 Desember 2017

Satkorwil Banser Lampung Kukuhkan 68 Balantas

Bandar Lampung, Siti Efi Farhati. Satuan Koordinasi Wilayah Barisan Ansor Serbaguna (Satkorwil Banser) Lampung telah mengukuhkan 68 kader sebagai anggota Banser Lalu Lintas sehubungan telah mengikuti Pendidikan dan Latihan Khusus (Diklatsus) Banser Lalu Lintas (Balantas).

Satkorwil Banser Lampung Kukuhkan 68 Balantas (Sumber Gambar : Nu Online)
Satkorwil Banser Lampung Kukuhkan 68 Balantas (Sumber Gambar : Nu Online)

Satkorwil Banser Lampung Kukuhkan 68 Balantas

Kepala Satkorwil Banser Lampung, Tatang Sumantri di Bandar Lampung, Ahad (28/5) menjelaskan, anggota Balantas Lampung berasal dari Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Banser di 11 kabupaten/kota di wilayah itu.

"Mereka telah mengikuti Diklatsus yang diisi sejumlah pihak berkompeten, seperti Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Lampung Timur," ujar Tatang didampingi Kepala Asinfokom Gatot Arifianto.

Diklatsus Balantas Satkorwil Banser Lampung digelar di Pesantren Nurul Huda asuhan Ustad Said Fauzi yang berada di Dusun Munjuk Desa Labuhan Maringgai, Kecamatan Labuhan Maringgai, Lampung Timur, 22-25 Mei 2017.

Siti Efi Farhati

"Untuk kelulusan, mereka dinilai dan diuji mengenai lalu lintas, penanganan kegawatdaruratan, kepemimpinan dan sejumlah materi lain seperti pengabdian masyarakat," papar Tatang.

Ia lalu menambahkan, 68 anggota Balantas Lampung akan bertugas di daerahnya masing-masing H-7 hingga H+ 7 Idul Fitri 1438 H tanpa menerima gaji.

"Banser bukan pekerjaan. Banser adalah jalan berkhidmat bagi kemanusiaan, bangsa dan ulama. Dan pilihan itu harus diterima oleh setiap kader Banser," kata dia lagi.

Tatang menjelaskan, masing-masing anggota Balantas Lampung telah menyepakati hal tersebut dengan membuat pernyataan tertulis yang kemudian diucapkan secara lisan.

"Satkorwil Banser Lampung mengucapkan terima kasih atas kesediaan sahabat-sahabat Banser untuk terus berbuat dan bermanfaat. Semoga dicatat sebagai amal ibadah oleh Allah SWT," kata dia lagi.

Siti Efi Farhati

Dalam waktu dekat, titik-titik pos komando (posko) Idul Fitri 1438 H Banser Lampung akan segera dihimpun guna berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, demikian Tatang Sumantri. (Syuhud Tsaqafi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Olahraga, Sejarah, Syariah Siti Efi Farhati

Jumat, 15 Desember 2017

GP Ansor Pejarakan Gelar Syukuran Selametan Desa

Buleleng, Siti Efi Farhati. Setiap kepala keluarga di lingkungan Pejarakan kecamatan Gerokgak kabupaten Buleleng, Bali, membawa nasi tumpeng dalam upacara selametan desa di masjid Baiturrahim Pejarakan, pada Selasa (24/6) malam. Upacara yang digagas GP Ansor Pejarakan ini diawali dengan pembacaan tahlil.

GP Ansor Pejarakan Gelar Syukuran Selametan Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Pejarakan Gelar Syukuran Selametan Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Pejarakan Gelar Syukuran Selametan Desa

Selametan desa ini diadakan untuk mensyukuri kondisi desa yang aman dan damai. Ketua GP Ansor Abdul Karim Abraham mengatakan dalam sambutannya bahwa acara ini menjadi media untuk mengenang para leluhur umat Islam yang menyebarkan desa pertama kali di desa ini.

“Para pendahulu muslim desa Pejarakan telah banyak melakukan hubungan antarumat beragama yang harmonis. Terbukti, hingga sekarang tidak pernah terjadi konflik antaragama Islam dan Hindu,” kata Karim.

Siti Efi Farhati

Di desa ini, umat Hindu yang mayoritas menghargai kami yang minoritas. Sedangkan Islam yang minoritas dapat bergaul secara baik dengan umat Hindu yang mayoritas, ujar Karim.

Sebelum makan nasi tumpeng bersama, Selametan Desa disudahi dengan taushiyah agama oleh Habib Ja’far Al Jufri dari Situbondo. (Abraham Iboy/Alhafiz K)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Syariah, Warta, Santri Siti Efi Farhati

Senin, 11 Desember 2017

Tulang Rusuk Nabi Adam Itu

Oleh M. Abul Fadlol AF

--Cerita tentang penciptaan Adam dan Hawa yang diproduksi oleh Tuhan dalam al-Qur’an berfungsi sebagai pemutus lingkaran tasalsul. Berangkat dari pertanyaan, siapakah yang lebih dahulu tercipta, apakah Adam atau Hawa?

Secara ilmiah, pertanyaan ini sulit dijawab. Sama halnya ketika ditanya, mana yang lebih dahulu, antara telur dan ayam. Tuhan kemudian memutus rantai ini dengan menjelaskan bahwa proses penciptaan awal dilakukan secara vegetatif dengan Adam sebagai titik awalnya.

Tulang Rusuk Nabi Adam Itu (Sumber Gambar : Nu Online)
Tulang Rusuk Nabi Adam Itu (Sumber Gambar : Nu Online)

Tulang Rusuk Nabi Adam Itu

Hawa tercipta dari tulang rusuk Adam, seperti halnya perkembangbiakan pohon singkong dengan bagian tubuh singkong itu sendiri. Baru kemudian, setelah hawa tercipta dari proses vegetatif, hukum ilmiah perkembangbiakan generatif berlaku (QS. Al-Nisa’ : 1).

Jika cerita dalam al-Qur’an mengandung sebuah pesan. Apa pesan Tuhan kepada manusia tentang metode penciptaan ganda ini?

Seringkali, cerita penciptaan vegetatif Adam dan Hawa ini dijadikan landasan untuk membangun sistem peradaban patriarkhi. Yaitu peradaban yang memposisikan laki-laki jauh lebih unggul dari perempuan. Alasannya, karena Adam tercipta lebih dahulu. Namun, ini adalah alasan yang cukup lucu.

Pada dasarnya, hukum patriarkhi hanya berlaku atas penciptaan secara vegetatif. Dalam hal ini, patriarkhi hanya berlaku atas Adam dan Hawa. Karena dalam sejarah teologi, hanya kedua manusia itulah yang mengalami perkembangbiakan secara vegetatif. Namun, jika kita lahir dari proses generatif, maka hukum patriarkhi itu tidak berlaku. Karena secera generatif, terdapat sinergitas proses penciptaan yang tidak terpisahkan antara sel sperma laki-laki dan ovum perempuan. Jika peradaban patriarkhi dilandaskan atas cerita penciptaan Adam dan Hawa, maka sungguh, peradaban itu mendeklarasikan dirinya seperti pohon singkong. Mereka yang lebih mengunggulkan laki-laki atas perempuan, sama halnya mengklaim dirinya lahir dari batang singkong, bukan rahim perempuan.

Siti Efi Farhati

Terdapat hikmah yang bijaksana terkait penciptaan vegatatif Adam dan Hawa. Kenapa Tuhan menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam? Jawabannya : Jika Hawa tercipta dari tulang kaki, maka ia akan menjadi budak yang diinjak-injak. Jika tercipta dari tulang tangan, maka ia adalah buruh yang selalu disuruh. Jika tercipta dari tulang pundak, ia adalah kuli yang memikul beban kaum adami. Namun ia tercipta dari tulang rusuk, yang melindungi jantung dan paru-paru. Ia menjaga nafas dan perasaan sang laki-laki.

Siti Efi Farhati

Oleh sebab itu, kecenderungan laki-laki adalah mencintai perempuan. Karena perempuan membawa keteduhan atas laki-laki oleh sebab tulang rusuk yang telah dititipkan. Maka wajar, jika pengendali lelaki adalah perempuan.

Bahkan, dalam hadits Nabi, salah satu cobaan terberat laki-laki adalah perempuan dan bukan sebaliknya. Jika dikaitkan dengan jodoh, maka sejatinya jodoh adalah kesesuaian “rusuk”. Mungkin Tuhan telah mematahkan tulang rusuk laki-laki saat ia lahir. Dan menanamkan rusuknya kepada seorang perempuan yang baru lahir pula. Suatu saat, mereka akan dipertemukan. Ya, jodoh adalah proses pencarian tulang rusuk. Laki-laki yang mencari rusuknya dan perempuan yang mencari pemilik asalnya. Dan benarlah kata sebuah lirik lagu, “Jika memang dirimulah tulang rusukku, kau akan kembali pada diri ini” – Gieshel.

Datangnya Islam ke jazirah Arab, salah satunya untuk mengemban misi penyelamatan harkat dan martabat perenpuan. Metode yang digunakan adalah bertahab. Dari yang dianggap barang dagangan dan hewan, menjadi “barang” perhiasan. Dari yang tidak mendapatkan apa-apa, sehingga mendapatkan warisan.

Sampai puncaknya, deklarasi nabi dengan menyebut redaksi ummi sebanyak tiga kali. Jika nabi pernah berkata : Innal-ulama’a waratsatul-anbiya’ (Sesungguhnya ulama’ adalah pewaris para nabi), maka setiap dari kita berpotensi menjadi seorang ulama’, dengan meneruskan misi-misi nabi itu. Salah satu misi tersebut adalah menjaga dan meningkatkan harkat dan martabat perempuan dalam sendi peradaban. Bukan malah membenamkannya. Dengan kata lain, indikator ketaatan kita terhadap al-Qur’an dan nabi, dipandang dari sejauh mana kita mampu menghargai perempuan sama seperti kita menghargai diri sendiri.

Tuhan tidak menciptakan laki-laki dan perempuan untuk saling menguasai, melainkan saling melengkapi. Cukuplah sejarah patriarkhi Arab menjadi simbol peradaban yang buruk. Al-Qur’an telah mengajarkan kesetaraan hak, kewajiban dan derajat diantara keduanya. Menindas perempuan berarti menindas khittah al-Qur’an. Apalagi jika penindasan itu dilandasi dengan ayat-ayat al-Qur’an itu sendiri. Haafidzuu, saling menjagalah kalian. Dalam kaidah sharaf bermakna li al-Musyarakah baina al-Syakhshain (saling menjaga diantara dua orang). Saling menjaga hak, kewajiban serta derajat yang sama. Tugas memahami dan mengerti adalah tugas bersama. Hapuskan patriarkhi, peradaban singkongistik. Maha suci Tuhan yang menciptakan dua adalah satu dan satu adalah dua.

 “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan adalah saudara” – H.R Aisyah R.A.

 

M. Abul Fadlol AF, Ketua Umum di Himpunan Alumni Pondok Pesatren al-Sa’adah (Himasa) Jatirogo, Tuban, Mahasiswa Tafsir-Hadits UIN Walisongo Semarang

 

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Meme Islam, Syariah Siti Efi Farhati

Rabu, 06 Desember 2017

Membela Kehormatan Nusantara di Timur Tengah

Orang-orang Nusantara pada abad 17 hingga19 banyak menimba ilmu di Haramain. Tak sedikit para santri itu di kemudian hari mencapai keilmuan yang setaraf ulama internasional. Mereka menjadi khatib, imam, memimpin pengajian dengan murid dari berbagai negara. Tak hanya itu, keilmuan mereka ditunjukkan dengan menulis banyak karya. Di antara ulama yang mencapai taraf seperti itu adalah Syekh Mukhtar Atharid Al-Bughuri.?

Meski demikian, komentar miring kadang sering dilontarkan orang Arab kepada orang Nusantara dengan perkataan “Ya Jawah-jawah baqar. Ya jawah, ya jawah ya’kul hanasy, hai orang Jawa, hai orang jawa yang seperti sapi. Hai orang Jawa, hai orang Jawa yang memakan sejenis ular. (hal.93)

Membela Kehormatan Nusantara di Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)
Membela Kehormatan Nusantara di Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)

Membela Kehormatan Nusantara di Timur Tengah

Konon pada masa Syekh Mukhtar Atharid Al-Bughuri berkiprah di Masjidil Haram, terjadi polemik tentang hukumnya belut yang sering dikonsumsi orang-orang Nusantara. Pada masa tersebut, ulama Timur Tengah ada yang mengharamkan memakan belut karena dianggap sebagai bagian dari jenis ular. Syekh Mukhtar Atharid mengatakan:

“Pada permulaan tahun 1329 H, terjadilah debat di antara orang yang disandarkan kepada ilmu dengan orang selevelnya dari para ulama Jawa mengenai masalah belut. Di antara mereka terjadilah korespondensi tanya jawab. Salah satu di antara mereka berdua berkata mengenai keharaman belut. Dia menyandarkan hal tersebut dengan beberapa hal samar yang akan saya terangkan serta sanggahannya, tanpa menukil pendapat ulama madzhab dan kitab-kitab mereka. Sedang pihak lain menyanggah jawaban tersebut dan berkata mengenai kehalalan belut itu dengan bersandar bahwa belut termasuk dalam keumuman halalnya hewan laut, di mana yang dikehendaki adalah air secara mutlak seperti keterangan yang akan datang, dengan menukil dari kitab-kitab tafsir dan tidak mampunyai hewan itu hidup di daratan.” (hal. 1-2)?

Sebagai orang Nusantara yang pernah memakan dan menyukai belut, Syekh Mukhtar Atharid Al-Bughuri memberikan penjelasan dalam bentuk karya “As-Shawa’iqul Muhriqah lil Auhamil Kazibah fi Bayani Hillil Baluti war Raddu ‘ala man Haramahu”. Karya yang diselesaikan pada 8 Muharram 1329 H itu kini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Amirul Ulum dan Khairul Anwar. Pada kitab itu, ia membela kehormatan orang-orang Nusantara.?

Kitab tersebut disusun ke dalam 10 bagian. Bagian pertama pengantar dari pengarang yang menjelaskan asal-mula polemik masalah belut tersebut. Bagian kedua membahas hal-hal yang berkaitan dengan belut yaitu pembagian jenis-jenis hewan. Bagian ketiga membahas tentang makna lautan yang disandarkan pengarang kepada ulama-ulama lain.?

Siti Efi Farhati

Pada bagian ini, pengarang menyebutkan, bahwa firman Allah dalam surat Al-Maidah: 96, sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Jamal yang mengutip Tafsir Khazin; yang dimaksud lautan adalah semua air, baik yang tawar maupun asin, sungai, lautan, ataupun kolam. (hal. 29).?

Pada bagian keempat, pengarang menjuduli babnya dengan “Ancaman Terlalu Mudah Memberi Hukum Halal atau Haram atas Suatu Perkara Tanpa Dalil Syar’i”. ?

“Bagi orang yang tidak memiliki kemampuan berfatwa, tidak diperkenankan berfatwa mengenai perkara yang tidak dia temukan tertulis dalam kitab. Walaupun dia menemukan satu perkara yang sama, atau beberapa perkara. Orang yang ahli dalam faqih adalah orang yang ahli dalam kaidah ushul imamnya, semua bab dari ilmu Fiqih. Sekiranya dia mampu menganalogikan suatu perkara yang tidak dinash oleh imamnya. Ini adalah suatu kedudukan yang sangat agung, dan tidak ditemukan pada saat ini. Karena itu adalah kedudukan para Ashab al-Wujuh, dan mereka telah terputus sejak masa 400 tahun.” (hal. 33)

Bagian lima, pengarang menukil penjelasan Imam Ibnu Hajar dalam kitab “Fatawi Kubra” yang menukil Imam Nawawi dalam kitab “al-Majmu” yang berkaitan dengan cara berpendapat dalam hukum agama. Bagian keenam membahas pendapat para imam mengenai kehalalan hewan seperti belut dan belut itu sendiri. Bagian ketujuh membahas bentuk dan dingkah laku belut. Pada bagian kedelapan, menyebutkan bahwa belut adalah hewan yang hidup di air. ?

Siti Efi Farhati

Pada bagian kesembilan, barulah pengarang menetapkan hukum belut. Pada bagian ini, pengarang mencantumkan berbagai pendapat ulama yang mengatakan haramnya belut. Kemudian pengarang membantahnya dan menjelaskan argumentasinya. Sementara bagian kesepuluh, pengarang menjelaskan hukum memakan beberapa jenis hewan seperti remis, keong, tutut.?

Pada versi terjemahan Amirul Ulum, dicantumkan naskah asli “As-Shawa’iqul Muhriqah lil Auhamil Kazibah fi Bayani Hillil Baluti war Raddu ‘ala man Haramahu”, tapi sayangnya tidak terlalu jelas.?

Peresensi adalah Abdullah Alawi





Data Buku

Judul asli : As-Shawa’iqul Muhriqah lil Auhamil Kazibah fi Bayani Hillil Baluti war Raddu ‘ala man Haramahu

Penulis : Syekh Mukhtar Atharid Al-Bughuri

Judul terjemahan : Kitab Belut Nusantara

Penerjemah : Amirul Ulum dan Khairul Anwar

Tebal : xii+98 halaman

Cetakan : Juli, 2017

Penerbit : CV. Global Press

ISBN : 978-602-61890-0-4

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Syariah, Aswaja, Ubudiyah Siti Efi Farhati

Kamis, 30 November 2017

Kumpulan Khutbah Nasehat Hidup dari KH M. Ma’ruf Irsyad

Kitab Ihkamu Habli Al-Widad adalah kumpulan dari sebagian khutbah almarhum almagfurillah KH M. Maruf Irsyad Kudus yang disampaikannya saat khutbah Jumat di berbagai masjid. Buku khutbah ini berisikan nasehat-nasehat serta ilmu tentang bagaimana seseorang menjadi hamba Allah subhanahu wa taala, baik sebagai pribadi atau sebagai bagian dari mahluk sosial. Di dalamnya juga dibahas bagaimana berkeyakinan, bersikap serta berperilaku dalam kaitan amaliyah ibadah maupun hubungan keseharian dengan sesama. Selain itu, ada juga tema bagaimana cara agar bisa memposisikan antara akal dan hati dalam memahami agama serta fadoilul amal.

KH M. Maruf Irsyad (wafat1431 H/ 2010 M) merupakan ulama asal Kudus yang selalu mendermakan waktunya untuk membimbing masyarakat sekitarnya. Kesehariannya selain mengajar di pesantrennya, PP Raudlotul Mutaallimin Jagalan 62 Kudus, juga sibuk membagikan ilmunya kepada santri-santri tak kurang dari enam madrasah di sekitar Kudus.

? ?

Kumpulan Khutbah Nasehat Hidup dari KH M. Ma’ruf Irsyad (Sumber Gambar : Nu Online)
Kumpulan Khutbah Nasehat Hidup dari KH M. Ma’ruf Irsyad (Sumber Gambar : Nu Online)

Kumpulan Khutbah Nasehat Hidup dari KH M. Ma’ruf Irsyad

Setiap bab dalam buku khutbah ini dengan didukung dalil, baik dari Al-Quran, hadits ataupun pendapat para ulama sebagai rujukan. Setiap tema dijabarkan secara runtut dan jelas dengan bahasa yang lugas, jelas, dan memahamkan bagi para pendengarnya.?

Dari apa yang tertulis dalam buku ini tidak semuanya persis seperti apa yang pernah ia sampaikan dalam khutbah yang sesungguhnya, karena dalam berkhutbah ia sering kali membuat catatan khutbah disampaikan secara lepas namun tidak keluar dari pokok tema pokok.

Siti Efi Farhati

Banyak ilmu yang bisa didapat dalam buku ini, yaitu ilmu haliyah, yaitu berupa ilmu yang berkaitan dengan hati agar menemukan ketenangan hidup dalam rangka menggapai ridha ilahi. Ilmu dan amal yang dibahas berkaitan dengan perbuatan anggota badan, baik yang bersifat ibadah ataupun kegiatan sosial di tengah masyarakat, bagaimana menciptakan tatanan sosial yang baik di tengah perbedaan dan kemajemukan khalayak umum.

Contoh yang dibahas dalam khutbah ini mengambil teladan dari sejarah para nabi, para sahabat dan orang orang shaleh agar umat Islam senantiasa mengikuti jejak langkah dari tokoh-tokoh terpuji dan mengambil pelajaran dari perbuatan tercela.

Siti Efi Farhati

Ada beberapa pokok nasihat yang bisa didapatkan dalam buku ini. Sebagaimana dalam halaman 25 yang menggambarkan sembilan bintang Ahlussunnah wal Jamaah. Keterangan ini juga sering disampaikannya dalam berbagai majelis pengajian.

Selain itu ada beberapa tema yang diangkat dalam kitab ini, diantaranya adalah puasa Ramadhan dan keutamaannya, hari Arafah, hari Asyura, Hari Jumat dan fadhilahnya, dan lain-lain.

Semoga kitab ini menjadi jariyah ilmu penyusunnya, serta kita dapat mengambil hikmah dan mengamalkan dari apa yang disampaikannya sebagai bentuk tanggung jawab pengetahuan. Dan semoga KH M. Maruf Irsyad mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah Subhanahu wa Taala.

Data Buku

Judul ? ? ? ? ? ? ? : Ihkam Habli Al-Widad fi Ad-Durus al-Mustafadati min Makhthuth Al-Khuthob Al-Minbariyyah li asy-Syaikh Muhammad Maruf Irsyad

ISBN ? ? ? ? ? ? ? ? : 978-602-60536-5-7

Penyusun ? ? ? ? : Nanal Ainal Fauz

Tebal ? ? ? ? ? ? ? ? : 101 hal.

Penerbit ? ? ? ? ? : Yayasan Turats Ulama Nusantara

Cet ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : I, 2017

Peresensi ? ? ? ? : Hasan Mafik, alumnus PP Raudlotul Mutaallimin Jagalan 62 Kudus dibawah asuhan KH. M. Maruf Irsyad

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Ulama, Syariah Siti Efi Farhati

Sabtu, 25 November 2017

Cahaya Bagi Amaliyah NU yang Dipertanyakan

Amaliyah yang gampang dikerjakan dan mendatangkan pahala yang besar itu sebenarnya banyak. Seperti Yasinan, Tahlilan, Ziarah Kubur, Shalawatan, dzikir, dan lain-lain. Amaliyah yang demikian mayoritas warga NU yang mengamalkan. Namun dewasa ini, dari beberapa amaliyah yang gampang itulah ternyata menuwai banyak kritik dari berbagai golongan. Bahkan kritikan terkadang datang dengan sedikit keras. Meraka terlalu gampang menyalahkan seseorang, mensyirikkan seseorang, bahkan mengkafirkan seseorang. Memang sebuah ironi. Mereka seakan lupa bahwa Islam itu sebagai agama yang rahmatal lil’alamin.

Zaman sudah dipola sedemikian rupa. Yang benar terkadang jadi salah dan yang salah terkadang jadi benar. Baik dalam konteks pemerintahan maupun agama. Beragam aliran baru dalam beragama bermunculan. Akhirnya, hal inilah yang menggoyah jalannya organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) itu. Sebagian ulama NU mengatakan bahwa sekarang keadaan NU sama dengan waktu dulu semenjak NU baru dilahirkan. Kondisi NU sekarang lebih pada mempertahankan diri.

Cahaya Bagi Amaliyah NU yang Dipertanyakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Cahaya Bagi Amaliyah NU yang Dipertanyakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Cahaya Bagi Amaliyah NU yang Dipertanyakan

Bagi warga NU yang pengetahuan agamanya sudah luas, mungkin problematika yang seperti ini tidak sampai menimbulkan permasalahan atau murusak amaliyahn yang sudah mentradisi dalam NU. Namun, bagi warga NU yang hanya mengamalkan amaliyahnya tanpa tahu dalil-dalil yang menjelaskan tentang amaliyahnya, disinilah bahayanya. Saya mengibaratkan hal ini dengan orang yang berjalan yang hanya berjalan. Ia tidak tahu atas dasar apa ia berjalan dan ia tidak mengerti mengapa ia berjalan. Maka, orang itu bisa jadi ditengah perjalanan nanti akan mengalami kejenuhan, bosan, dan malas. Apalagi dalam perjalanan itu ada orang yang mengolok-olok bahwa perjalanan yang sedang dijalani itu membawa kesesatan. Kemungkinan besar orang yang melakukan perjalanan itu kembali pulang dan akhirnya dia tidak mau melakukan perjalanan lagi.

Nah, terbitnya buku yang berjudul Dalil-dalil Praktis Amaliyah Nahdliyah (Ayat dan Hadits Seputar Amaliyah Warga NU) itulah seolah menjadi cahaya yang menyinari amaliyah-amaliyah  warga Nahdlatul Ulama (NU). Dengan cahaya itu, dasar-dasar atau dalil-dalil tentang amaliyah NU menjadi tampak dan jelas. Sehingga bisa dipahami bahwa amaliyah yang dilakukan oleh warga NU tidak asal buat. Semuanya bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits.

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati

Beberapa amaliyah yang ditentang keras oleh beberapa golongan antara lain adalah seperti Tahlilan, Shalawatan, Ziarah Kubur, dan Maulid Nabi, juga di sajikan penjelasannya dalam buku yang setebal 245 itu. Misalnya tentang Tahlilan, Zainuddin Fanani, MA dan Atiqa Sabri Daila, MA mengungkapakan bahwa Tahlilan itu adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan keagamaan umat Islam. Tahlilan adalah media yang sangat penting untuk dakwah dan penyebaran Islam. Dari segi sejarah, Tahlilan sudah ada sejak dahulu sebelum berdirinya Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Perbedaan dan pertentangan dalam tradisi Tahlilan hanya terjadi di antara pemimpin intlektual NU dan Muhammadiyah. Sementara umat mengamalkan tradisi ini.

Tradisi Tahlilan memiliki dua aspek, ketuhanan (hubungan dengan Allah) dan kemanusiaan (hubungan sesama manusia). Tahlilan adalah masalah khilafiyah, maka tidak boleh menjadi penghalang persatuan dan kesatuan umat Islam setelah mengesahkan Allah. (hal 198)

Yang menarik, permaslahan yang terjadi setiap tahun seperti penetapan awal Ramadan  dan Syawal (hal 126), bahkan  ringkasan kitab Risalah Ahlusunnah wal Jama’ah (Karya Hadratus Syaik Muhammad Hasyim Asy’ari) juga ada dalam buku yang ditulis oleh ketua PCNU kota Malang itu. (hal 179). 

Dari sisi lain, membaca buku yang ditulis oleh KH. Marzuqi Mustamar itu mencerminkan bahwa beliau mempunyai tanggung jawab besar dalam membantengi dan menjaga warga NU. Menjaga bagaimana Warga NU tetap dalam jalan yang telah dibina oleh NU. Beliau takut warga NU menghentikan langkah dan tidak mau meneruskan lagi perjalanannya. Maka dari itulah, buku yang ditulis oleh dosen di UIN Maulana Malik Ibrahim itulah sangat dianjurkan untuk dibaca oleh semua masyarakat terutama warga NU. Wallahu a’lam.

Data buku

Judul : Dalil-dalil Praktis Amaliyah Nahdliyah (Ayat dan Hadits Pilihan Seputar Amaliyah Warga NU)

Penulis : KH. Marzuqi Mustamar

Penerbit : Muara Progresif Surabaya

Cetakan : I, Maret 2014

Tebal : xi + 245 hal. 14,5 x 21 cm

Peresensi : Moh. Sardiyono, alumnus PP. Nasy-atul Muta’allimin Gapura  Sumenep Madura dan Mahasiswa di UIN Sunan Ampel Surabaya

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Syariah, Nusantara, Tegal Siti Efi Farhati

Senin, 13 November 2017

Kebijakan Walikota Bogor soal Syiah Dinilai Diskriminatif

Jakarta, Siti Efi Farhati. Direktur the Wahid Institute Zannuba Arifah Chafsoh atau akrab disapa Yenny Wahid sangat menyayangkan munculnya Surat Edaran No 300/321-Kesbangpol tentang imbauan pelarangan peringatan Asyura oleh kaum Syiah di Bogor tertanggal 22 Oktober 2015.

Menurutnya, kebijakan ini menambah daftar panjang peraturan dan kebijakan-kebijakan diskriminatif di Indonesia. Dalam menjalankan tugas dan fungsi, pemerintah jelas harus berpegang pada konstitusi dan peraturan perundang-undangan yang ada.

Kebijakan Walikota Bogor soal Syiah Dinilai Diskriminatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Kebijakan Walikota Bogor soal Syiah Dinilai Diskriminatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Kebijakan Walikota Bogor soal Syiah Dinilai Diskriminatif

“Walikota tidak bisa serta merta menjadikan pandangan kelompok keagamaan yang beragam corak dan ragamnya dalam masyarakat sebagai landasan hukum dalam mengambil keputusan. Pembatasan aktivitas harus mengacu apakah aktivitas tersebut melanggar konstitusi atau tidak,” katanya dalam siaran pers, Rabu (29/10).

Siti Efi Farhati

Putri kedua KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini menjelaskan, sejak lama Indonesia diberkahi Tuhan dengan keragaman pandangan dan tradisi. Sejarah keagamaan kita sangat kaya dengan perbedaan. Kebijakan pelarangan kegiatan komunitas tertentu memberi pesan negatif pada bangsa ini dalam jangka panjang, bahwa perbedaan tradisi dan pandangan bisa dilarang berdasarkan besar kecilnya dukungan, bukan pada prinsip hukum yang adil.

Siti Efi Farhati

Pihanya mendorong pemerintah, komunitas Syiah, dan pihak-pihak yang menolak duduk bersama untuk membangun dialog yang adil demi mencari jalan terbaik dan sesuai konstitusi, juga mendesak pemerintah pusat mengaji ulang berbagai kebijakan kepala daerah yang diskriminatif di Indonesia dan mengedapankan kebijakan yang sesuai konstitusi.

Yenny mengimbau masyarakat untuk tidak menjadikan kebijakan tersebut sebagai legtimasi dan alasan dalam melakukan intimidasi, penyebaran ujaran kebencian, bahkan kekerasan terhadap komunitas Syiah di negeri ini. “Dalam menyelesaikan perbedaan masyarakat diimbau untuk mengembangikan sikap moderat dan toleran sebagaimana ditunjukan para pendiri bangsa Indonesia,” pungkasnya.

Menurut surat edaran tersebut, pelarangan itu diambil demi menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban dengan merujuk tiga hal. Pertama, sikap dan respons Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bogor. Kedua, Surat Pernyataan Ormas Islam di Kota Bogor tentang penolakan segala bentuk kegiatan keagamaan Syiah di wilayah Kota Bogor. Ketiga, hasil rapat Muyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) Kota Bogor. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Syariah, Pendidikan, Santri Siti Efi Farhati

Selasa, 07 November 2017

Penting Membangun Empati dan Kepedulian pada Diri Para Rohis

Jakarta, Siti Efi Farhati. Direktur Pendidikan Agama Islam (PAI) Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI H Amin Haedari menegaskan bahwa salah satu tujuan utama kegiatan Perkemahan Rohis Nasional ke-2 di Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta, Senin-Jumat (2-6/5) adalah untuk membangun empati dan kepedulian generasi muda khususnya para Rohis.

Hal ini disampaikan Amin Haedari dalam pengarahan penutup kepada para pendamping dan pembina Rohis, Kamis (5/5) di Gedung Serba Guna Cut Nyak Dien Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta.

Penting Membangun Empati dan Kepedulian pada Diri Para Rohis (Sumber Gambar : Nu Online)
Penting Membangun Empati dan Kepedulian pada Diri Para Rohis (Sumber Gambar : Nu Online)

Penting Membangun Empati dan Kepedulian pada Diri Para Rohis

Amin ? meyakini bahwa dengan orientasi demikian, para aktivis dan pengurus Rohis akan lebih terbangun karakternya sebagai manusia yang mempunyai empati dan kepedulian dengan sesama meski berbeda suku, bangsa, maupun bahasanya.

“Aspek itulah yang ingin kita bangun dalam kebersamaan. Sebab itu, dalam kegiatan perkemahan ini, kami sengaja membaurkan para peserta yang berasal dari berbagai daerah dan provinsi agar mereka terbuka dan mengenal satu sama lain sehingga timbul rasa peduli dan empati,” ujar pria kelahiran Ciamis Jawa Barat ini.

Amin juga menegaskan bahwa kegiatan ini tidak diarahkan pada kompetensi kognitif. Karena menurutnya, sisi tersebut sudah ada wadahnya sendiri yaitu Pentas PAI, di mana ajang tersebut melombakan berbagai cabang keilmuan dan keterampilan di bidang agama Islam.?

Siti Efi Farhati

Hal ini menjadi sesuatu yang sangat penting mengingat para Rohis yang mudah disusupi oleh paham-paham radikal dan intoleran. Sehingga menurut Amin, sisi empati dan kepedulian menjadi orientasi yang sangat perlu dan penting.

Siti Efi Farhati

“Saya tidak menafikan sisi pemahaman agama, karena hal itu saya yakin mereka sedikit banyak sudah paham, empati dan kepedulianlah yang perlu ditekankan,” tuturnya.

Kendati demikian, pemahaman agama para Rohis banyak yang perlu diluruskan dan diarahkan ke pemahaman agama yang baik dan benar. Amin juga menekankan kepada Rohis bahwa penguatan wawasan kebangsaan menjadi penting di tengah keberagaman bangsa Indonesia sehingga menumbuhkan cinta tanah air. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati IMNU, Syariah, Doa Siti Efi Farhati

Minggu, 29 Oktober 2017

Meluruskan “NU Garis Lurus”

Oleh M. Alim Khoiri

--Menjelang muktamar ke-33 NU yang rencananya akan dilaksanakan di kota Jombang, 1-5 Agustur 2015, sudah banyak pekerjaan rumah yang menanti. Dengan jargon “NKRI harga mati”, NU tak hanya dituntut untuk mampu mengawal keutuhan dan kesatuan negeri tercinta, tetapi juga harus mampu mengatasi persoalan-persoalan kecil ‘rumah tangga’ yang jika terus menerus diabaikan justeru akan merusak kesatuan dan keutuhan internal NU.

‘Kerikil’ terbaru NU saat ini adalah munculnya fenomena “NU Garis Lurus”. Ini mengesankan bahwa ternyata ada juga NU yang tidak lurus. Mirisnya, kelompok yang mengatasnamakan “NU Garis Lurus” ini tak segan-segan mencaci kelompok NU lain yang tak sependapat dengan mereka. Tokoh-tokoh besar NU macam Gus Dur, Profesor Quraish Shihab dan Kang Said pun tak lepas dari serangan mereka.

Meluruskan “NU Garis Lurus” (Sumber Gambar : Nu Online)
Meluruskan “NU Garis Lurus” (Sumber Gambar : Nu Online)

Meluruskan “NU Garis Lurus”

Di dunia maya, “NU Garis Lurus” ini populer melalui media sosial facebook dan jejaring sosial twitter dengan nama akun “NU GARIS LURUS”. Mereka juga terkenal lewat situs pejuangislam.com yang diasuh oleh ust. Luthfi Bashori. Tak hanya mendaku sebagai pejuang Islam atau NU Garis Lurus, kelompok ini juga mengklaim sebagai etafet pemikiran dakwah Sunan Giri. Gerakan ini, boleh jadi merupakan semacam bentuk tandingan atau perlawanan terhadap faham-faham pemikiran yang mereka anggap sesat macam pluralisme, sekularisme, liberalisme atau faham “Syi’ahisme”. Menurut mereka, faham-faham tersebut tak boleh ada dalam NU, tokoh-tokoh NU yang dianggap memiliki prinsip-prinsip ‘terlarang’ itu tak layak dan tak boleh ada dalam NU.

Paradigma “NU Garis Lurus” yang berusaha untuk ‘meluruskan’ NU dari faham-faham yang mereka anggap bengkok ini, sebetulnya sah-sah saja. Hanya, masalahnya ada pada cara berdakwah. Jika kelompok “NU Garis Lurus” ini mengaku sebagai pewaris perjuangan dakwah Sunan Giri, maka mestinya mereka berkaca pada beliau dalam beberapa hal;

Pertama, sejarah mencatat bahwa, dakwah Sunan Giri banyak melalui berbagai metode, mulai dari pendidikan, budaya sampai pada politik. Dalam bidang pendidikan misalnya, beliau tak segan mendatangi masyarakat secara langsung dan menyampaikan ajaran Islam. Setelah kondisi dianggap memungkinkan beliau mengumpulkannya melalui acara-acara seperti selametan atau yang lainnya, baru kemudian ajaran Islam disisipkan dengan bacaan-bacaan tahlil maupun dzikir. Dengan begitu, masyarakat melunak hingga pada akhirnya mereka memeluk Islam. Kanjeng Sunan Giri tidak mengenal metode dakwah dengan cara mencela atau bahkan menghina.

Siti Efi Farhati

Kedua, dalam bidang budaya kanjeng Sunan Giri juga memanfaatkan seni pertunjukan yang menarik minat masyarakat. Beliau juga dikenal sebagai pencipta tembang Asmaradhana, Pucung, Cublak-cublak suweng dan Padhang bulan. Lalu tentu saja beliau masukkan nilai-nilai keislaman di dalamnya. Itu semua dilakukan kanjeng Sunan demi tersebarnya ajaran Islam yang damai. Kanjeng Sunan -sekali lagi- tidak mengajarkan metode berdakwah dengan saling mencemooh atau menghujat mereka yang tak sependapat.

Ketiga, di bidang politik, kanjeng Sunan Giri dikenal sebagai seorang raja. Dalam menjalankan kekuasaannya, beliau tak pernah berlaku otoriter dan semaunya sendiri. Beliau selalu menggunakan cara-cara persuasif untuk menarik minat masyarakat terhadap ajaran Islam. Beliau tidak mencontohkan strategi dakwah dengan cara mencaci maki mereka yang tidak sefaham.

Siti Efi Farhati

Wa ba’du, Terlepas dari apakah “NU Garis Lurus” ini memang betul-betul berasal dari kalangan nahdliyyin ataukah sekedar ulah oknum yang tak bertanggung jawab, yang jelas supaya betul-betul lurus, “NU Garis Lurus” mesti mengubah gaya dakwahnya yang cenderung ekstrim itu. “NU Garis Lurus” juga harus bisa memahami bahwa di dalam tubuh NU selalu penuh dinamika. Perbedaan pendapat menjadi sesuatu yang biasa dan berbeda jalan pemikiran adalah hal yang niscaya. Jika “NU Garis Lurus” terus bersikukuh dengan strategi kerasnya, maka yang terjadi adalah sebaliknya. Alih-alih mendaku sebagai kelompok “NU Garis Lurus”, yang ada mereka justeru menjadi “NU Garis Keras”. Wallahu a’lam.

M. Alim Khoiri, warga NU tinggal di Kediri

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati AlaNu, Lomba, Syariah Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock