Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Februari 2018

Islam Indonesia Diharapkan sebagai Rujukan Islam Moderat

Semarang, Siti Efi Farhati

Bagaimana memahami dinamika Islam dan politisasi atas Islam akhir-akhir ini? Islam dan politisasi atas Islam, yang disebut sebagai Islamisme, perlu dimaknai sebagai refleksi dinamika sosial-politik dalam konteks relasi muslim dengan modernitas, dengan tantangan radikalisme, gerakan politik khilafah, dan bahkan terorisme.

Islam Indonesia Diharapkan sebagai Rujukan Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Indonesia Diharapkan sebagai Rujukan Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Indonesia Diharapkan sebagai Rujukan Islam Moderat

Hal tersebut menjadi inti diskusi dan bedah buku Islam dan Islamisme, karya intelektual muslim Bassam Tibi, yang diterbitkan Mizan (2016). Bedah buku yang diselenggarakan oleh BEM FKIT (Fakultas Keguruan dan Ilmu Tarbiyah) UIN Walisongo pada Kamis (29/9) ini, menghadirkan Dr. Haidar Bagir (Pendiri Gerakan Islam Cinta) dan Dr. Tedi Kholiluddin (aktivis PW Nahdlatul Ulama Jawa Tengah & Dosen UIN Walisongo Semarang), yang dimoderatori Dr. Rikza Chamami, M.Pd (Dosen UIN Walisongo).

Haidar Bagir mengajak cendekiawan muslim dan para mahasiswa yang menjadi penggerak komunitas, agar bersatu menebarkan Islam yang damai. "Selama ini, orang-orang muslim moderat cenderung diam, ketika ada kelompok kecil muslim yang keras dalam beragama. Akan tetapi, jika dibiarkan mereka akan semakin kuat. Mari kita bersama aktif untuk mengkampanyekan Islam yang menebar rahmat dan cinta kasih," terang Haidar.

Siti Efi Farhati

Haidar Bagir mencontohkan, bahwa jika dibiarkan, seperti orang baik yang tidak peduli pada kelompok preman, maka kelompok Islam garis keras akan menjadi kuat, sehingga merusak inti ajaran Islam yang sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad.

Siti Efi Farhati

Haidar juga mengungkap bahwa, fenomena Islam politik, yang disebut Bassam Tibi sebagai Islamisme, harus direspon secara jernih. Islamisme itu mendukung demokrasi, namun hanya sebagai kamuflase, hanya demokrasi kota suara, padahal sebenarnya mereka bergerak untuk menegakkan sistem khilafah, inilah yang harus diwaspadai.

"Jika kelompok Islamiyyun mementingkan gerakan politik sebagai puncak keberislaman, maka saya lebih setuju jika puncak keislaman adalah ihsan, yakni tindakan kebaikan," tegas Haidar. Ia merujuk pada pemikirannya, bahwa muslim Indonesia harus memahami rukun islam, rukun iman dan rukun ihsan.

Sementara, Tedi Kholiluddin menegaskan bahwa khilafah bukanlah solusi dari semua tantangan hidup manusia. "Tidak semua hal harus diselesaikan dengan khilafah. Hal-hal yang terkait dengan kehidupan teknis, ya harus diselesaikan dengan cara kemanusiaan," ungkap Tedi. Intinya, gerakan Islam politik sering hanya mengejar ilusi.

Di sisi lain, Tedi berkeyakinan bahwa model Islam Indonesia dapat menjadi rujukan utama Islam moderat bagi komunitas warga dunia. "Bassam Tibi sudah menyampaikan gagasan bagaiman Islam moderat ala Indonesia menjadi alternatif gagasan. Saya kira ini momentum penting, bahwa perubahan berkeislaman itu dari pinggir, yakni dari kawasan Nusantara," ungkap Tedi.

Dalam analisanya, Tedi mengkritik bahwa kelompok Islam politik membangun jalur ganda dalam memperjuangkan gagasannya, yakni dari struktur kekuasaan maupun dari jalur warga. "Kelompok Islamisme bergerak di struktur politik, dan juga merangsek dengan menggarap komunitas warga. Di kota-kota satelit Jakarta, hal ini sudah mulai marak. Misalnya, cluster-cluster pemukiman yang anggotanya hanya dari kelompok mereka," terang Tedi.

Ia berharap bahwa Islam Indonesia menjadi rujukan untuk mengenalkan konsep Islam moderat, yang dapat menjadi referensi bagi masyarakat muslim dunia yang kehilangan arah. (Zulfa/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nahdlatul, Pahlawan, RMI NU Siti Efi Farhati

Jumat, 02 Februari 2018

Kita Perlu Nasihati Diri Sendiri

Khortoum,Siti Efi Farhati. Nasihat paling manjur datangnya dari hati nurani sendiri. Namun, ini memang sulit dicapai karena manusia cenderung mementingkan hal-hal lain di luar dirinya.

”Pada malam hari, pada saat suasana hening, selesai sholat tahajud, kala orang orang pada lelap tidur, itulah waktu yang tepat untuk menasehati diri sendiri,” tutur Ustadz Moh Badrussalam Shof, Mustasyar Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI-NU) Sudan saat memberikan ceramah untuk masyarakat Indonesia Sudan di ruang serbaguna KBRI Khartoum Sudan, Jum’at (1/5) lalu.

Kang Badrus, panggilan akrab Moh Badrussalam Shof, yang aktif  mengisi siraman rohani Al-Hijrah mengajak segenap jamaah pengajian untuk saling nasihat-menasihati. ”Addunu nasihah, agama itu Islam itu adalah nasihat untuk kebaikan,” kata Kang Badrus menyitir hadits Nabi MUhammad SAW.

Kita Perlu Nasihati Diri Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Kita Perlu Nasihati Diri Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Kita Perlu Nasihati Diri Sendiri

Dikatakan, bangsa Indonesa perlu melatih diri untuk saling menasihati dengan hati nurani agar menjadi bangsa yang berwibawa di mata dunia. "Ini tidak hanya kita yang ada di Sudan, namun semua elemen bangsa Indonesia khususnya para pemimpinya," katanya.

Pengajian Al-Hijrah untuk Masyarakat Indonesia di Sudan itu dilaksanakan oleh Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Sudan. Lembaga ini semakin diminati terbukti dengan bertambahnya anggota pengajian dari waktu ke waktu.

Siti Efi Farhati

Semula kegiatan itu diikuti hanya puluhan orang pada awal berdirinya Agustus 2006, kini pengajian begitu pesat sehingga memenuhi ruangan serbaguna KBRI Khartoum Sudan

 

Siti Efi Farhati

Pensisbud KBRI Khartoum, Bambang purwanto, menilai kegiatan itu sangat positif, seperti juga dituturkan oleh para majikan tenaga kerja di sana.

”Pengajian seperti ini harus diteruskan, walaupun begitu tetap ada yang menyalahgunakan acara pengajian untuk tempat janjian ketemu,” katanya bergurau.

 

Pada pengajian akhir pekan itu Kang Badrus didampingi Ustadz Zulham FA. Hadir juga Ketua PCI-NU Sudan HM Shohib Rifa’i.(nus/nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nahdlatul, Ahlussunnah Siti Efi Farhati

Minggu, 28 Januari 2018

Lagu Ya Lal Wathan Menggema di Universitas Indonesia

Depok, Siti Efi Farhati. Tak seperti biasa, lagu Ya Lal Wathon yang lazimnya sering didengungkan di pesantren, lembaga maupun jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) Sabtu (28/10) pagi, lagu semangat nasionalisme yang digubah oleh KH Abdul Wahab Chasbullah ini mengema di Gedung Auditorium Pusat Studi Jepang, Universitas Indonesia (PSJ-UI) dalam rangka 1st Santri Writer Summit serta merupakan rangkaian peringatan Hari Santri Nasional.

Menurut Desi Sulaiman, salah satu anggota paduan suara yang juga santri Umul Quro, Bogor, mengatakan, dengan dinyanyikannya lagu Ya Lal wathon pada kegiatan yang diikuti oleh ratusan santri dan pemerhati pesantren ini bertujuan untuk memupuk nasionalisme bersama dan sekaligus mengenalkan kepada khalayak bahwa pesantren merupakan basis yang selalu mengawal Negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Lagu Ya Lal Wathan Menggema di Universitas Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Lagu Ya Lal Wathan Menggema di Universitas Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Lagu Ya Lal Wathan Menggema di Universitas Indonesia

“Iya, untuk menumbuhkembangkan rasa Nasionalisme dan supaya dunia luar pesantren tahu tentang besarnya nasionalisme kaum pesantren,” tuturnya. 

Dalam acara yang diselenggarakan oleh Kementrian Agama bersama Komunitas Santri Nulis ini telah menyaring essay yang diikuti oleh 357 orang santri se-Indonesia, kemudian disaring menjadi 50 santri pilihan.

Sebagai bentuk penghormatan, santri yang lolos seleksi akan mendapatkan hadiah dari panitia berupa hadiah liburan ke Singapura. Demikian ungkap salah satu panitia, Nur Sehah. 

Siti Efi Farhati

“Peserta dengan performa terbaik akan mendapatkan tiket liburan ke Singapura sebagai apresiasi yang diberikan pihak penyelenggara,” tandasnya. 

Dalam seminar ini, lanjutnya, hadir sebagai narasumber budayawan Prie GS, Habiburrahman El-Sirazi, Abdul Wahab dari Santri Online serta beberapa narasumber lain. (Ahmad Mundzir/Fathoni)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati AlaNu, Nahdlatul, Doa Siti Efi Farhati

Rabu, 17 Januari 2018

PMII Solo: Kembalikan Kedaulatan dan Peran Rakyat dalam Demokrasi!

Solo, Siti Efi Farhati. Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang telah ditetapkan oleh DPR RI beberapa waktu lalu terus memicu kecaman dan penolakan dari masyarakat di berbagai daerah.

PMII Solo: Kembalikan Kedaulatan dan Peran Rakyat dalam Demokrasi! (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Solo: Kembalikan Kedaulatan dan Peran Rakyat dalam Demokrasi! (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Solo: Kembalikan Kedaulatan dan Peran Rakyat dalam Demokrasi!

Sejumlah aktivis dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) bersama Gerakan Masyarakat Solo (Gemas) turut menyuarakan tuntutan mereka dalam aksi longmarch yang digelar pada Kamis (2/10).

Massa aksi mulai berjalan dari Kampus UNS Mesen di Jalan Urip Sumoharjo pukul 10.00 WIB menuju Bundaran Gladag Jalan Brigjen Slamet Riyadi, Solo, Jawa Tengah. Dengan membawa berbagai spanduk bertuliskan penolakan terhadap UU Pilkada, mereka juga mengajak masyarakat untuk mengisi formulir gugatan yang akan diajukan ke Mahkamah Konstitusi (MK) di Jakarta.

Siti Efi Farhati

Ketua Umum PMII Cabang Kota Solo yang juga sebagai menjadi Koordinator Aksi, Ahmad Rodif Hafidz dalam orasinya menegaskan dengan adanya UU Pilkada yang mengatur pemilihan kepala daerah dipilih oleh DPRD mengindikasikan bahwa masyarakat bakal diajak bernostalgia dengan rezim orde baru yang gemar mengebiri hak rakyat.

“Selama 32 tahun rakyat dibungkam dan berbagai haknya dikebiri. Tanpa pandang bulu, siapapun yang berani menentang pandangan pimpinan orde baru tersebut langsung ‘disikat’. Sedangkan korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) justru makin merajalela,” ungkapnya.

Siti Efi Farhati

Selain itu, menurutnya hal tersebut akan menodai reformasi 1998 yang dicita-citakan membawa perubahan Indonesia menjadi bangsa yang lebih baik, berdaulat, demokratis, dan bermartabat.

“16 tahun pascareformasi, Indonesia yang terus belajar dan mengembangkan demokrasi untuk menuju nilai-nilai Pancasila yang ideal, justru akan dibuat mundur kembali oleh elite politik di negeri ini,” paparnya.

Dalam aksi tersebut, disampaikan pula pernyataan sikap, yang antara lain mengajak masyarakat untuk bersama-sama menolak disahkannya UU Pilkada. “Kembalikan kedaulatan dan peran rakyat dalam demokrasi,” tegas Rodif. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pendidikan, Nahdlatul, RMI NU Siti Efi Farhati

Jumat, 12 Januari 2018

Gigi Emas pada Jenazah, Dicabut atau Dikubur?

Manusia adalah makhluk mulia. Walaqad karramnâ banî âdam (dan telah kamu muliakan anak turun Nabi Adam), kata Al-Qur’an. Atas kemuliaan ini, kemanusiaannya tak hanya wajib dihormati kala hidup tapi juga kala meninggal dunia. Karena itu saat ada orang Islam wafat, fardhu kifayah bagi orang Islam lainnya untuk memandikan, mengafani, menshalati, lalu menguburkannya.

Namun demikian, tidak setiap dalam prosesi pamulasaraan jenazah itu seseorang mendapati kasus yang sama. Misalnya, kasus jenazah orang yang mamakai gigi emas. Kala menghadapi hal demikian, masyarakat kadang bingung, apakah gigi tersebut wajib dicabut atau dibiarkan alias dikubur bersama jenazah?

Gigi Emas pada Jenazah, Dicabut atau Dikubur? (Sumber Gambar : Nu Online)
Gigi Emas pada Jenazah, Dicabut atau Dikubur? (Sumber Gambar : Nu Online)

Gigi Emas pada Jenazah, Dicabut atau Dikubur?

Imam Ramli dalam Al-Nihayah al-Muhtaj pernah menyinggung soal pakaian sutera yang hukum asalnya diharamkan bagi lelaki. Ia membolehkan laki-laki memakai sutera selama ada uzur tertentu, seperti menghindari gatal atau kutu. Namun, ketika meninggal dunia sutera itu harus dilepas karena faktor yang membolehkan sudah tidak relevan lagi.

Siti Efi Farhati

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Siti Efi Farhati

“… Oleh karenanya, jika seseorang laki-laki memakai kain sutera misalnya untuk menghindari gatal-gatal atau kutu, dan sebab yang memperbolehkan pemakaian sutera tersebut ada sampai menjelang ajalnya, maka haram mengafani jenazahnya dalam kain sutera tersebut, berdasarkan larangan pemakai sutera secara umum, dan karena habisnya sebab yang memperbolehkan dirinya memakai sutera.” (Syamsuddin al-Ramli, Nihayah al-Muhtaj, [Mesir: Musthafa al-Halabi, 1357 H/1938 M], Jilid II, h. 447)

Lalu, bagaimana dengan kasus gigi emas? Permasalahan ini pernah disinggung dalam Muktamar ke-6 Nahdlatul Ulama yang digelar di Pekalongan, Jawa Tengah, pada 12 Rabiuts Tsani 1350 H atau 27 Agustus 1931 M. Menganalogikannya dengan pendapat Imam Ramli di atas, muktamirin memutuskan bahwa “apabila mencabut gigi emas tersebut menodai kehormatan mayat, maka hukumnya haram dicabut. Dan apabila tidak, maka bila itu seorang laki-laki yang dewasa maka wajib dicabut, bila seorang wanita atau anak kecil maka terserah kerelaan ahli warisnya.

Dengan bahasa lain, wajib mencabutnya bila jenazah berjenis kelamin laki-laki dan pencabutan itu tidak menodai kehormatan jenazah. Mubah bila jenazah pemakai gigi emas tersebut berjenis kelamin perempuan atau anak kecil. Wallâhu a‘lam. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nahdlatul Siti Efi Farhati

Rabu, 03 Januari 2018

Di Kongres, Fatayat Jember Akan Tampilkan Produk Unggulan

Jember, Siti Efi Farhati. Pimpinan Cabang Fatayat NU Jember sedang serius mempersiapkan diri menyambut Kongres Fatayat NU yang akan berlangsung di Surabaya, 18-22 September mendatang. Fatayat NU Jember melakukan koordinasi dengan pimpinan anak cabang dan ranting guna menggalang aspirasi dari bawah untuk disampaikan pada perhelatan berskala nasional itu.

Di Kongres, Fatayat Jember Akan Tampilkan Produk Unggulan (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Kongres, Fatayat Jember Akan Tampilkan Produk Unggulan (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Kongres, Fatayat Jember Akan Tampilkan Produk Unggulan

Fatayat NU Jember juga mengajak anak cabang dan ranting yang berpotensi untuk menampilkan produk unggulan masing-masing pada stan pameran yang disediakan oleh panitia Kongres. Diharapkan, secara ekonomi dampaknya akan meluas, bukan hanya untuk pengurus dan anggota Fatayat NU Jember, tetapi juga bagi masyarakat Jember secara keseluruhan.

“Kami ingin memanfaatkan momen kongres ini sebagai ajang untuk mengenalkan produk unggulan Jember kepada sahabat-sahabat Fatayat yang datang dari berbagai wilayah Indonesia,” ungkap Roihatul Jannah, bendahara sekaligus manager usaha garment Fatayat NU Jember.?

Siti Efi Farhati

Persiapan telah mulai dilakukan oleh PC Fatayat NU sejak jauh-jauh hari, termasuk dengan workshop pendataan anggota yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi potensi dan kebutuhan di bidang ekonomi, politik, kesehatan, pendidikan, dan lainnya dari anggota dan pengurus Fatayat di tingkat Ancab dan Ranting.?

Selain itu pengurus Fatayat NU Jember juga mengunjungi beberapa anak cabang dan ranting untuk mengetahui kondisi langsung anggota Fatayat. Dari kegiatan tersebut terekam bahwa di tingkat desa, kondisi anggota dan pengurus Fatayat NU masih jauh dari yang diharapkan.?

Siti Efi Farhati

“Banyak anggota Fatayat yang bahkan urusan administratif saja masih belum tuntas, seperti tidak memiliki KTP dan KK, sehingga kesulitan untuk mengakses layanan pemerintah yang membutuhkan KTP dan KK,” ujar Erma Fatmawati, Ketua 2 PC Fatayat NU Jember.

Menurutnya, banyak anggota yang belum mendapatkan layanan kesehatan yang layak, tidak bisa menyekolahkan anak-anaknya, bahkan masih banyak yang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasar.?

Oleh karenanya, menurut Ketua Ketua PC Fatayat NU Jember Rahmah Saidah, kongres ini menjadi penting karena merupakan forum terbesar ? yang akan menentukan jalannya organisasi selama lima tahun ke depan. Fatayat NU Jember berharap Kongres nanti benar-benar menjadi forum yang akan mewadahi kepentingan anggotanya, dan bukan sekadar menjadi ritual lima tahunan yang justru menjadi alat politik bagi beberapa pihak saja. (Linda/Robi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nahdlatul, Tegal Siti Efi Farhati

Minggu, 31 Desember 2017

Penuhi Kebutuhan Informasi Nahdliyin, NU Perlu Coba ‘Laptop 100 Dolar AS’

Jakarta, Siti Efi Farhati

Untuk memenuhi kebutuhan informasi warga Nahdliyin di seluruh Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU) perlu mempertimbangkan penggunaan laptop seharga 100 dollar AS. Komputer jinjing dengan harga murah tersebut cukup tepat digunakan warga NU, terutama bagi mereka yang berada di pedesaan dan sulit mengakses informasi.



Penuhi Kebutuhan Informasi Nahdliyin, NU Perlu Coba ‘Laptop 100 Dolar AS’ (Sumber Gambar : Nu Online)
Penuhi Kebutuhan Informasi Nahdliyin, NU Perlu Coba ‘Laptop 100 Dolar AS’ (Sumber Gambar : Nu Online)

Penuhi Kebutuhan Informasi Nahdliyin, NU Perlu Coba ‘Laptop 100 Dolar AS’

Hal tersebut diungkapkan Redaktur Senior Harian Kompas Ninok Leksono saat menjadi pembicara utama pada Lokakarya “Membangun Habitus Teknologi Informasi di Kalangan Nahdliyin” yang diselenggarakan Siti Efi Farhati di Hotel Sofyan Betawi, Jakarta, Rabu (88).

Ia sangat menyayangkan jika potensi warga Nahdliyin yang sangat besar tidak diimbangi dengan pemenuhan informasi dan pendidikan yang memadai. Melalui program penggunaan laptop 100 dolar AS itu, katanya, Nahdliyin yang berada di pedesaan sekalipun, dapat mengakses informasi melalui sambungan jaringan internet dengan efektif dan efisien.

Siti Efi Farhati

“Negara yang pertama kali memanfaatkan laptop 100 dollar AS tersebut adalah Libya. Mereka memanfaatkan laptop tersebut juga untuk memenuhi kebutuhan informasi dan pendidikan rakyatnya,” terang Ninok kepada para peserta lokakarya yang merupakan para pakar dan ahli TI yang berlatar belakang Nahdliyin.

Namun demikian, tambah Ninok, tentu harus pula dipikirkan akibat negatif yang ditimbulkan dari pemanfaatan Tekonologi Informasi (TI) tersebut. Pasalnya, akses informasi melalui jaringan internet tersebut tiada batas dan pasti akan memunculkan akibat-akibat yang tidak diinginkan.

Siti Efi Farhati

Komputer jinjing 100 dollar AS, setelah lima tahun sejak konsepnya diusulkan, akhirnya mulai diproduksi massal. Para pemasok perangkat keras (hardware) telah memulai memproduksi komponen-komponen yang dibutuhkan untuk menyediakan jutaan komputer murah untuk anak-anak di negara-negara berkembang.

Gelombang pertama produksi laptop ’sejuta umat’ itu diperkirakan akan didistribusikan pertama kali pada Oktober 2007. Laptop tersebut tidak akan tersedia di toko eceran sebab seluruhnya dijual melalui skema pemesanan dalam jumlah besar oleh negara yang membutuhkan.

Sebelumnya program OLPC (One Laptop Per Child) yang dipelopori Profesor Negroponte dari Institut Teknologi Massachusetts (MIT) dikatakan baru bisa dimulai jika pesanan mencapai 3 juta unit. Namun, dengan dimulainya produksi massal pertama ini, pihak OLPC tidak bersedia mengungkap berapa jumlah pesanan dan negara-negara mana saja yang telah memesannya secara resmi.

XO didesain mudah dibawa ke mana-mana dengan ukuran layar yang kecil dan menggunakan memori flash 1 gigabyte, tanpa hardisk, sehingga ringan. Laptop ini juga dibuat tahan terhadap kondisi lingkungan yang ekstrim seperti gurun di Libya atau pegunungan di Peru dengan pembungkus yang tahan air.

Karena akan didistribusikan ke pelosok pedesaan, laptop tersebut juga dibuat hemat penggunaan listrik. Penggunanya dapat mengisi ulang baterainya dengan memutar generator mini yang terpasang di sampingnya menggunakan engkol tangan, generator mini yang diinjak, atau sel surya. Selain itu, gambar di layarnya tetap mudah terlihat meski di bawah pancaran sinar matahari. (rif)Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nahdlatul Siti Efi Farhati

Minggu, 24 Desember 2017

Ketua IAA: Anak Yatim Tak Cukup Disantuni

Jember, Siti Efi Farhati

Anak-anak yatim punya hak yang sama dengan anak-anak  lain untuk menikmati  kebahagiaan  di hari Lebaran. Walaupun dari sisi ekonomi mereka kurang beruntung, tapi hak tersebut tak bisa diabaikan.

Ketua IAA: Anak Yatim Tak Cukup Disantuni (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua IAA: Anak Yatim Tak Cukup Disantuni (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua IAA: Anak Yatim Tak Cukup Disantuni

Itulah rupanya yang mendorong  Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) se-eks Karesidenan Besuki untuk menyantuni  100 anak yatim dalam acara Bakti Sosial  IAA di rumah KH. Abdul Razaq, Desa Kawangrejo, Kecamatan Mumbulsari, Jember, Rabu (21/6).

Menurut Ketua IAA se-eks Karesidenan Besuki,  H. Muhammad Muslim, anak yatim wajib diangkat derajatnya dengan cara menyantuni dan sebagainya. Sebab, mereka juga mempunyai potensi untuk menjadi manusia cerdas yang dapat mengharumkan bangsa dan negara. Karena itu, mereka tidak cukup diberi santunan, tapi perlu dibimbing dan diberi semangat agar memiliki optimisme dalam menatap masa depannya.

Siti Efi Farhati

“Mereka tidak boleh kita sia-siakan. Mereka wajib kita akomodasi, kita beri semangat. Kita besarkan hatinya. Dan IAA sangat peduli dengan mereka,” ucap Muslim saat memberikan sambutan.

Siti Efi Farhati

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Bupati Jember, KH. Abdul Muqit Arif mengapresiasi kegiatan IAA tersebut. Menurutnya, apa yang dilakukan oleh IAA merupakan pengejawantahan dari komitmen alumni Annuqayah untuk terlibat dalam  membangun daerah (Jember). Selain itu, IAA menjadi semacam tempat konsolidasi dalam mengembangkan Ahlussunnah wal  Jama’ah (Aswaja) yang merupakan basis ajaran pesantren yang berpusat di Guluk-guluk, Sumenep, Madura itu.

“Saya bangga dengan IAA atas berbagai kegiatan yang dilaksanakan di Jember. Karena ini juga bagian dari cara kita membangun Jember,” ucap mantan Ketua IAA tersebut. (Aryudi A. Razaq/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nahdlatul Siti Efi Farhati

Jumat, 15 Desember 2017

Perlu Kesadaran Berpikir Global untuk Hadapi MEA

Bandung, Siti Efi Farhati?

Dalam rangka merayakan Dies Natalis Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung ke-48, digelar Seminar Nasional yang bertajuk ‘Inovasi dan Sinergi Institusi Pendidikan Tinggi dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN’ di aula Multipurpose kampus setempat, Kamis (31/3) kemarin.

Hadir 4 Rektor perguruan tinggi besar di Jawa Barat sebagai narasumber pada Seminar Nasional tersebut, yakni Rektor UIN Sunan Gunung Djati, Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Rektor Universitas Padjajaran (Unpad).

Perlu Kesadaran Berpikir Global untuk Hadapi MEA (Sumber Gambar : Nu Online)
Perlu Kesadaran Berpikir Global untuk Hadapi MEA (Sumber Gambar : Nu Online)

Perlu Kesadaran Berpikir Global untuk Hadapi MEA

Rektor Unpad Tri Hanggono Ahmad memaparkan, dalam konteks era globalisasi yang semakin berkembang pesat, pemahaman terhadap bumi harus dibangun secara utuh. Perkembangan penduduk Bumi sekarang berkisar 7 Miliar manusia.

“Artinya kesadaran berpikir global semestinya harus kita bangun, kita punya satu Bumi. Soalnya tidak jarang kalau kita bicara global, kesannya selalu berpikir kesiapan persaingan. Hadirnya kita, khususnya sebagai umat Islam di Bumi kan harusnya menjadi umat untuk membangun kesejahteraan bagi seluruh bangsa,” papar Tri Hanggono yang mendapat kesempatan narasumber pertama.

Siti Efi Farhati

Menurut dia, salah satu hal penting dalam hubungan global yang sasarannya sulit dicapai adalah aspek partnership. Selain juga adanya kesadaran bersama masyarakat ASEAN untuk bergabung dalam hubungan sesama regional bukan hanya membicarakan wilayah.

Perkembangan perekonomian di ASEAN, Tri Hanggono menilai, akan berpengaruh pada pembangunan dunia. Sebab, potensi pembangunan dunia terlihat di negara-negara yang sedang berkembang.

“Kalau kita bisa bersinergi dengan baik di ASEAN, artinya kita bisa berkontribusi untuk pembangunan global. Upaya kita berkontribusi secara global, kita harus lebih kuat lagi,” ujarnya dihadapan ratusan mahasiswa yang memadati hampir seluruh sudut-sudut aula.

Sementara itu, Rektor UPI H Furqon menggaris bawahi pendidikan sebagai jatidiri bangsa, sehingga baginya pendidikan salah satu aspek yang menentukan masa depan bangsa Indonesia. Apalagi Indonesia akan segera menyosngsong momentum bonus demografi dimanaIndonesia akan memiliki penduduk yang didominasi usia produktif.

Siti Efi Farhati

“Pendidikan di tanah air memanfaatkan bonus demografi dengan menguasi teknologi, keterampilan untuk berkompetisi dengan negara lain, serta mempunyai karakter integritas di mata dunia. Untuk itu perlu ada kesadaran berbasis kearifan lokal, mengembangkan budaya, dan membudayakan masyarakat,” seru Furqon.

Pada kesempatan selanjutnya, Rektor ITB Kadarsah Suryadi meyakini bahwa Indonesia memiliki penduduk sangat banyak, otomatismenjadi pasar yang sangat besar serta menjadi lahan incaran dari negara-negara di ASEAN.

“Ini PR besar untuk kita, MEA tujuannya bagus untuk maju bersama masyarakat ASEAN. Tetapi kalau kita tidak memikirkan kemajuan diri kita sendiri, suatu saat kita akan ditinggalkan oleh negara-negara maju, dan suatu saat kita akan dimakan,” terangnya.

Ia berpesan 4R untuk menghadapi MEA, pertama Rasio. Semua insan itu harus menjadi insan yang pintar, maka diberikan ilmu pengetahuan lewat kuliah, penelitian dan pengabdian. Tapi rasio saja tidak cukup.Yang kedua Raga, badannya harus sehat.

Lalu pintar dan sehat akan berbahaya jika tidak mempunyai akhlak yang mulia, yakni keempat dengan Rasa. Sebab pintar, sehat dan akhlak yang mulia akan dijalankan dengan kepentingan orang banyak. Keempat adalah Religi, karena di atas semuanya adalah agama yang harus dijunjung.

“Insyaallah dengan ini semua kita akan siap menghadapi MEA,” Rektor ahli di bidang biokimia itu.

Rektor UIN H Mahmud sebagai narasumber terakhir menyimpulkan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir terhadap MEA yang digulirkan akhir tahun 2015 kemarin.Kita tak perlu khawatir kalau kita berjamaah,” jelas Rektor ahli di bidang Pendidikan Islam itu.

Menurut Mahmud, untuk menghadapi MEA diperlukan ilmu yang mumpuni, namun tetap dengan berpedoman wahyu memandu ilmu.“Jadi, semua ilmu pengatahuan harus dipandu oleh ayat-ayat Al-Quran dan Sunnah Nabi,” tegasnya. (M. Zidni Nafi’/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Doa, Nahdlatul, Cerita Siti Efi Farhati

Bupati Dedi Mulyadi: Saya Pilih Surganya NU

Jakarta, Siti Efi Farhati. Bupati Purwakarta, Jawa Barat Dedi Mulyadi hadir sebagai salah seorang pembicara dalam Seminar Nasional Sarung Nusantara yang digelar Lembaga Takmir Masjid (LTM) PBNU, Kamis (6/4) di Gedung PBNU Jakarta. Dalam seminar tersebut, ia diplot sebagai seorang Budayawan yang lekat dengan sarung.

Dalam kesempatan seminar bersarung itu, Dedi Mulyadi yang juga mengenakan sarung bersama narasumber lain, KH Agus Sunyoto dan Prof Imam Suprayogo mengungkapkan kesannya setiap kali berada di tengah Nahadlatul Ulama (NU).?

Bupati Dedi Mulyadi: Saya Pilih Surganya NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Dedi Mulyadi: Saya Pilih Surganya NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Dedi Mulyadi: Saya Pilih Surganya NU

Baginya, NU memberikan pelajaran berharga tentang Islam secara menyeluruh tanpa harus menanggalkan identitasnya sebagai orang Sunda.

“Enaknya di NU itu, saya bisa belajar Islam secara menyeluruh dengan tetap menjadi orang Sunda. Jadi, saya memilih surganya NU, ringan, tidak berat,” ungkap Kang Dedi, sapaannya.

Siti Efi Farhati

Dalam kesempatan pemaparannya terkait sarung, Bupati yang dinilai berhasil dalam mengangkat budaya Sunda itu menjelaskan bahwa sarung juga telah lama menjadi identitas budaya dalam diri orang-orang Sunda dalam sejarah kosmologinya.?

“Tepatnya pada masa Kerajaan Galuh Pakuan sebelum lahirnya Kerajaan Padjadjaran,” jelas pria yang kerap memakai ‘udeng-udeng’ khas Sunda di kepalanya ini.

Dedi mengurai sarung secara filosofis, terutama dalam perspektif Budaya Sunda. Dia mengartikan sarung dengan mengurai kata “Sa” dan “Rung”.

Siti Efi Farhati

“Sa dalam bahasa Sunda berarti tidak terbatas, berlebihan. Ini sifat dasar manusia yang di dalam dirinya mengandung tanah, air, udara, dan api. Sudah mempunyai sertifikat tanah, tetapi manusia terus ingin memperlebar kepemilikan tanahnya,” ujar Kang Dedi, sapaan akrabnya.

Begitu juga dengan air, imbuhnya, manusia mempunyai kecenderungan memompa air sebanyak-banyaknya, padahal yang diminum hanya dua gelas. Menurutnya, udara dan api juga sama yang jika dimanfaatkan atau dikuasai secara belebihan akan mendatangkan bencana.

“Sebab itu diteruskan dengan kata ‘Rung’, artinya dikurung. Segala ketamakan manusia yang terdapat dalam keempat unsur tersebut berusaha dibatasi atau dikurung,” jelas Kepala Daerah yang mempunyai misi penguatan seni dan budaya Indonesia dalam tata kelola pemerintahannya ini. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Aswaja, Nahdlatul, Kiai Siti Efi Farhati

Senin, 11 Desember 2017

Bungkus Agama Lebih Menipu dari yang Lain

Jakarta, Siti Efi Farhati. Semua hal selain Allah adalah kepalsuan. Tak setiap manusia menyadarinya. Inilah tugas berat para penempuh jalan tasawuf. Hati mereka dituntut bersih dari rasa bangga tak hanya atas kekayaan dan kedudukan tapi juga prestasi keagamaan.

Pesan ini muncul dalam pengajian rutin tasawuf yang digelar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di ruang Ketua Umum PBNU sekaligus pengasuh pengajian KH Said Aqil Siraj, Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (14/1) malam.

Bungkus Agama Lebih Menipu dari yang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Bungkus Agama Lebih Menipu dari yang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Bungkus Agama Lebih Menipu dari yang Lain

Kang Said menjelaskan, Syaikh Ma’ruf al-Kurkhi mendefinisikan tasawuf sebagai penggapaian Kebenaran Sejati dan keberpalingan diri dari semua bentuk kepalsuan. Namun, tak sedikit penghuni dunia ini cenderung berlaku sebaliknya, menduakan Tuhan dan asyik berkubang dalam ketidaksejatian.

Siti Efi Farhati

”Padahal di dunia ini 99,9% palsu semua. Kepalsuan kita ada yang dibungkus dengan jas dan dasi; ini masih mending karena terlihat terang dan jelas. Ada yang dibungkus pakai sorban dan jenggot; ini yang paling sulit, karena tidak terasa,” katanya.

Siti Efi Farhati

Doktor Universias Umml Qura Mekah ini juga mendasarkan pendapat tersebut pada surat Luqman ayat (33) yang memperingatkan manusia untuk tidak tertipu oleh kehidupan dunia dan ketaatan beribadah. Kepalsuan, menurut Kang Said, meliputi banyak hal.

”Ada kepalsuan yang ditutupi dengan ilmu. Ada yang ditutup dengan kedudukan, jadi ketua umum PBNU. Ada yang ditutup dengan ibadah, jidatnya item. Ada yang ditutup dengan keturunan, jadi habib atau gus/lora (putra kiai). Ada juga yang ditutup dengan hafidz Qur’an dan hafidz hadits,” tambahnya.

Menurut Kang Said, para penempuh jalan tasawuf mempunyai kepribadian merdeka, karena hatinya senantiasa dipenuhi kesadaran akan Allah. Dengan kondisi jiwa semacam ini, mereka sanggup melepas berbagai gejala emosional, seperti rasa takut, marah, dan bangga.

Dalam kali kedua pengajian tasawuf PBNU dengan materi disertasi doktoralnya ini, Kang Said mengulas ragam definisi tasawuf menurut kaum sufi, seperti Ma’ruf al-Kurkhi, Dzun Nun al-Mishri, Abu Yazid al-Bushtami, Sahl al-Tustari, dan sejumlah sufi lainnya. Menurut jadwal, pengajian akan digelar secara berkala setiap senin malam.

?

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati AlaSantri, Nahdlatul Siti Efi Farhati

Selasa, 05 Desember 2017

Stop Nafsu Belanja Jelang Lebaran

Brebes, Siti Efi Farhati. Dorongan untuk berbelanja menjelang hari raya Idul Fithri semakin menguat. Pengendalian diri di saat seperti ini kian penting. Karenanya, pembelanjaan mesti direncanakan secara cermat. Kebutuhan yang bersifat prioritas mesti menjadi perhatian utama.

Stop Nafsu Belanja Jelang Lebaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Stop Nafsu Belanja Jelang Lebaran (Sumber Gambar : Nu Online)

Stop Nafsu Belanja Jelang Lebaran

Demikian dikatakan Ketua Muslimat NU Brebes Hj Nurhalimah kepada Siti Efi Farhati di Kantor Muslimat NU Brebes jalan Kiai Kholid Barat, Pasarbatang Brebes, Rabu (16/7).

Nurhalimah berpesan agar warga tidak perlu memaksakan diri untuk berbelanja secara berlebihan. Warga perlu menunda keinginan belanja barang yang tidak sesuai dengan kebutuhan pokok. Perencanaan belanja yang tidak cermat mengakibatkan besaran pengeluaran membengkak.

Siti Efi Farhati

“Berusahalah untuk hemat belanja. Jangan keburu nafsu,” saran Nurhalimah.

Siti Efi Farhati

Tanpa kendali, pembelanjaan bisa mengesankan foya-foya. Penyajian hidangan oleh kalangan ibu rumah tangga tidak harus dengan makanan mahal tetapi cukup yang bergizi. Demikian juga dengan penyediaan pakaian. Cukup dinilai dari kelayakan, bukan bandrolnya, kata Nurhalimah. Ia menempatkan ibu rumah tangga dalam hal ini memegang peran kunci.

“Hadapilah Ramadhan dan Idul Fithri dengan hemat sesuai dengan kondisi kemampuan keluarga,” sarannya. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nahdlatul, Pahlawan, Warta Siti Efi Farhati

Jumat, 17 November 2017

Ekspedisi Cheng Ho dan Islam Nusantara di Halalbihalal PBNU

Jakarta, Siti Efi Farhati. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar halalbihalal yang disambung dengan seminar Ekspedisi Cheng Ho dan Islam Nusantara, Selasa (28/7) di lantai 8 Gedung PBNU Kramat Raya Jakarta. Untuk mempertajam wawasan tentang Cheng Ho, turut dihadirkan Guru Besar Universitas Nanking, Jiangsu, Tiongkok, Profesor Chi Min Tan dan Pakar Islam Nusantara, Agus Sunyoto.

Ekspedisi Cheng Ho dan Islam Nusantara di Halalbihalal PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ekspedisi Cheng Ho dan Islam Nusantara di Halalbihalal PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ekspedisi Cheng Ho dan Islam Nusantara di Halalbihalal PBNU

Halalbihalal ini dihadiri juga oleh seluruh jajaran PBNU serta jajaran Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk Indonesia yang diwakili oleh Atase Kebudayaan yang mempunyai nama Muslim, Muhammad Ali.

Ketum PBNU, KH Said Aqil Siroj dalam sambutannya menegaskan, bahwa Cheng Ho mempunyai peran strategis dalam dunia maritim di Nusantara. Selain itu turut menyebarluaskan Islam, Cheng Ho yang datang sebanyak 7 kali ke Nusantara berhasil menciptakan semacam tol laut dan membangun beberapa pelabuhan, misal di Semarang.

Siti Efi Farhati

“Kemudian Cheng Ho juga singgah di Cirebon dengan membawa tentara muslim serta tentara Tionghoa sekaligus. Tumbuhlah bangsa Tionghoa di daerah ini, sehingga Sunan Gunung Jati pun menyunting seorang puteri keturunan bangsa Tionghoa bernama Ontin,” paparnya di hadapan para hadirin yang memadati aula lantai 8.

Siti Efi Farhati

Pengaruh Tionghoa, terang Kang Siad, juga sampai hingga ke selatan Cirebon, yakni di daerah Kuningan. “Nama daerah ini diambil karena penduduknya memang kulitnya putih kekuning-kuningan seperti halnya orang-orang Tiongkok,” jelas Kiai asal Cirebon ini.

Sementara itu, Atase Kebudayaan Tiongkok yang mempunyai nama muslim Muhammad Ali menuturkan, bahwa NU bukan hanya organisasi besar, tapi juga memapunyai peran besar pula untuk negara Indonesia bahkan dunia.?

“Sejarah serta budaya Tiongkok dan Indonesia saling terkait lewat Laksamana Cheng Ho ini. Sebab itu, kita mempunyai kerja sama maritim dengan sinergi yang baik,” ungkapnya dalam bahasa Mandarin yang diterjemahkan.

Dalam acara yang disambung dengan peluncuran pesawat Lion Air berlogo Muktamar NU ini, turut hadir Guru Besar Psikologi Islam, Achmad Mubarok, Ketua PP GP Ansor, Nusron Wahid, Menristek Dikti, M Nasir, Ketum PKB, Muhaimin Iskandar, dan Bos Lion Group, Rusdi Kirana. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nahdlatul, Ulama Siti Efi Farhati

Jumat, 10 November 2017

Ansitipasi Konflik, Tokoh Lintas Agama Bojonegoro Samakan Persepsi

Bojonegoro, Siti Efi Farhati. Gejolak lintas agama di beberapa daerah yang santer diberitakan media massa belakangan ini mendorong para tokoh dari berbagai agama di Bojonegoro duduk bersama menyamakan kesepahaman tentang pentingnya menolak ekstremisme.

Mereka bertemu dalam seminar deradikalisasi agama bertema “Mengembalikan Nilai Suci Agama Berupa Kasih Sayang dan Perdamaian”, yang difasilitasi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Bojonegoro sebagai langkah antisipasi.

Ansitipasi Konflik, Tokoh Lintas Agama Bojonegoro Samakan Persepsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansitipasi Konflik, Tokoh Lintas Agama Bojonegoro Samakan Persepsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansitipasi Konflik, Tokoh Lintas Agama Bojonegoro Samakan Persepsi

Ketua FKUB Bojonegoro, KH Alamul Huda berharap melalui yang berlangsung di ruang Angling Dharma Pemkab Bojonegoro, Kamis (15/10), umat beragama di Bojonegoro bisa membangun sikap saling menghargai. Ia tidak ingin konflik yang terjadi di luar negeri, seperti Ukraina, dan di dalam negeri, semisal Kalimantan, Aceh, Tolikara maupun yang lain, tak dialami Bojonegoro.

Siti Efi Farhati

Menurutnya, daerah paling rawan konflik di Bojonegoro berada di wilayah barat, seperti Kecamatan Padangan. Selain pengurus FKUB Bojonegoro, tokoh dan pemuda lintas agama, pertemuan tersebut juga dihadiri anggota Forum Pimpinan Daerah (Forpimda), serta Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait, organisasi masyarakat, mahasiswa, dan undangan lainnya.

Siti Efi Farhati

Hadir sebagai narasumber pengasuh Pondok Pesantren Alif Lam Mim dan dosen Pasca Sarjana UIN Sunan Ampel Surabaya, Imam Mawardi, Romo FX Eko Armada Riyanto dari Seminari Tinggi CM Malang dan Pdt. Simon Filantropa dari Surabaya.

Bupati Bojonegoro Suyoto yang turut hadir mengatakan sepakat menolak ekstemisme. Menurutnya, sikap merasa paling benar merupakan perilaku yang tida normal.

"Perasaan damai kuncinya. Apa yang diselenggarakan FKUB ini, usaha untuk merelaksasi, membikin suasana nyaman, tidak ekstrem, tidak ngotot untuk kebenaran. Damai dalam dirinya, lingkungan, alam dan tuhan," ungkapnya.

Sedangkan, salah seorang narasumber, Imam Mawardi menjelaskan, radikalisme yang mengatasnamakan agama merupakan hasil penafsiran sempit berdasarkan emosi, bukan rasionalisasi agama. "Jadi kalau ngomong agama, harus rasional holistik (utuh). Ketika ngomong agama secara parsial, akan terjadi letupan-letupan yang akan mengganggu," imbuhnya.

Ia mengingatkan, Bojonegoro mengandung potensi konflik ketika pembangunan Bojonegoro tidak merata, atau kepentingan-kepentingan kelompok dan kepartian yang mendominasi. Sehingga kesenjangan-kesenjangan yang menjadi dasar sampai munculnya radikalisme hars dihapus.

Ditambahkan, narasumber lainnya Pdt Simon Filantropa juga menceritakan, Provinsi Jawa Timur sudah belajar lebih dahulu soal aksi kelompok ekstrem. Karena peristiwa pada 1996, di Sidotopo Situbondo, sudah ada aksi perusakan gereja luar biasa, juga bom Natal tahun 2000.

Penyebab konflik lintas agama, menurutnya, lebih karena pemahaman yang tidak cukup. Tahunya hanya surga-neraka. “Kalau tidak sama mengikutinya masuk neraka. Selain itu karena jurang ketimpangan sosial sangat besar. Orang semakin nekat disebabkan problem sosial faktor ekonomi,” tuturnya. (M. Yazid/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Quote, Sholawat, Nahdlatul Siti Efi Farhati

Selasa, 07 November 2017

Menengok Sejumlah Program Kreatif IPPNU DKI Jakarta

Jakarta, Siti Efi Farhati. Suasana Kantor PWNU DKI Jakarta di Utan Kayu, Sabtu (26/11) lalu tampak hangat dan ceria. Ratusan pelajar dari berbagai sekolah dan pesantren di DKI Jakarta sengaja mendatangi kantor tersebut, untuk mengikuti launching program “Pelajar Mandiri Membangun Negeri”, sebuah program yang digerakkan oleh Pengurus Wilayah Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PW IPPNU) DKI Jakarta.

Menengok Sejumlah Program Kreatif IPPNU DKI Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Menengok Sejumlah Program Kreatif IPPNU DKI Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Menengok Sejumlah Program Kreatif IPPNU DKI Jakarta

Ketua PW IPPNU DKI Jakarta, Nur Hamidah Wahid menyampaikan kegiatan tersebut ditujukan untuk memberikan informasi secara detail kepada para kader tentang program-program utama PW IPPNU DKI Jakarta.?

"Sudah saatnya pelajar negeri ini mandiri.Dan untuk bisa menjadi mandiri, harus menjadi kreatif dan inovatif," tutur Hamidah.

Sejumlah program utama diluncurkan PW IPPNU DKI Jakarta diantaranya "Tokopejia" (Toko Online Pelajar Indonesia), perekrutan calon tenaga pengajar bimbingan belajar dan les privat "Pelajar Bintang 9", dan "Mencetak 1000 Pelajar Enterpreneur".

Siti Efi Farhati

“Mencetak 1000 Pelajar Entreprenuer”memaparkan Training of Trainer (TOT) tentang ilmu terapan komputer pada barang bekas menjadi barang jadi. Lulusan program ini akan bergabung dalam komunitas Wirausaha Pelajar Nusantara (WPN)yang akan menjadi instruktur di sekolah-sekolah.?

Program WPN direncanakan akan disinergikan dengan Dinas Olahraga se-Indonesia dan dinas-dinas terkait terutama yang yang mendukung penerapan industri kreatif.

Acara menghadirkan empat orangnarasumber. Narasumber pertama Ketua PW IPPNU DKI Jakarta Nur Hamidah Wahid yang menyampaikan pengenalan "Tokopejia", ? les bimbel dan privat "Pelajar Bintang 9".?

Siti Efi Farhati

Selain itu Hamidah juga melaporkan beberapa program yang telah sukses dilaksanakan, seperti pengadaan konsultan pada event Idul Qurban 2016 yang bekerjasama dengan lembaga kemanusiaan Aksi Cepat Tanggap.

Narasumber kedua, Siti Syarifa Amini, menyampaikan program pengkaderan PW IPPNU DKI, seperti Deklarasi Komisariat Raya, Latihan Kader Muda (Lakmud), dan Latihan Kader Utama (Lakut).

Narasumber ketiga, Indri Indriana menyampaikan tentang pelatihan merajut untuk menghasilkan produk-produk fashion kreatif seperti sepatu, bunga, dan tas.?

Narasumber keempat Friyadi Maulana.Enterpreneur muda ? pemenang Pemuda Pelopor DKI Jakarta dan mantan Ketua PC IPNU Jakarta Pusat periode 2012-2014 ini, menyampaikan program WPN yang alumninya akan diterjunkan sbagai instruktur-instruktur produk kreatif ke sekolah-sekolah di DKI Jakarta, dan akan meluas ke sekolah di daerah-daerah se-Indonesia. Selain itu, Sekjen PWNU DKI Jakarta Muallif turut hadir dan berkesempatan membuka acara. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nahdlatul, Pahlawan Siti Efi Farhati

Sabtu, 28 Oktober 2017

Kiai Syamsuri Brabo dan Kitabnya

TAHUN 1960, lantai masjid Al-Muhajirin di Pesantren Sirojuth Tholibin, Brabo, Tanggung Harjo-Grobogan, Jawa Tengah, rusak berat. Pengasuh pesantren Kiai Syamsuri risau, karena masjid tersebut pusat syiar Islam. Di sanalah santri dan warga masyarakat berkumpul, untuk sembahyang, ngaji, rapat desa dan sebagainya.

Suatu hari, sang kiai mengutarakan kerisauannya di depan santri dan masyarakat. Intinya, ia menyampaikan bahwa lantai masjid harus segera diperbaiki, dan ia ingin kayu milik Masjid Desa Jragung Demak lama menjadi pengganti lantai masjidnya. Dana terkumpul, dari iuran santri dan jariyah warga Desa Brabo. Tapi belum cukup.

Kiai Syamsuri Brabo dan Kitabnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Syamsuri Brabo dan Kitabnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Syamsuri Brabo dan Kitabnya

Akhirnya, Kiai Syamsuri ambil “jalan pintas”, yakni menjual kitab Syarah Bukhori setebal 12 jilid kepada Anwar,  kala itu pemilik toko Toha Putera di Semarang. Namun, sang kiai bilang kepada Anwar bahwa kitab ini jangan dijual dulu kepada orang lain, karena suatu saat, dirinya akan datang: membeli kembali Syarah Bukhori kesayangannya ini.

Beberapa waktu kemudian, Anwar dikunjungi Kiai Hamid Kajoran Magelang. Biasalah, rumah pemilik toko kitab ada kitab-kitab aneka macam yang tertata rapi. Kiai Hamid pun biasa melihatnya. Tapi hari itu, mata Kiai Hamid tampak terpesona dengan setumpuk kitab teronggok. Tak lain, kitab itu Syarah Bukhori milik Anwar yang dibeli dari Kiai Syamsuri. Kiai Hamid tambah tertarik dengan kitab itu, karena setelah dibuka, semuanya telah diberi makna dengan rapi dan bagus. 

Siti Efi Farhati

“Kang Anwar, buatku saja ya kitab ini,” begitu kira-kira Kiai Hamid meminta. Karena yang meminta Kiai Hamid, maka kitab tadi diberikan secara cuma-cuma.

Siti Efi Farhati

Lain waktu, Kiai Hamid Kajoran dikunjungi kiai muda bernama A. Baidhowi. Kedua kiai kita ini akrab, hangat, dan saling menghormati. Karena lama tidak berjumpa, Kiai Hamid meminta tamunya menginap. Dalam perbincangannya, Kiai Hamid cerita: 

“Gus Dhowi, aku punya kitab.”

“Kitab nopo, Kiai.” 

“Syarah Bukhori. Aku minta dari Toha Putra. Tetapi, kitab itu akan saya hadiahkan untuk Sampeyan.” 

“Waduh, matur suwun, Kiai.” Tapi Kiai Hamid tidak memberi secara cuma-cuma. Ia meminta mahar dari Kiai Baidhowi. 

Malamnya, tuan rumah mempersilakan sang tamu untuk istirahat di kamar pribadinya, di lantai dua. Namun penghormatan Kiai Hamid malah bikin tamunya tidak bisa tidur. Kiai Baidhowi merasa rikuh, di kamar bawah ada kiai yang dihormatinya.

Paginya, Kiai Hamid mengutarakan mahar keinginkannya. Kiai Baidhowi, demi kitab yang disenanginya, menyanggupi mahar. 

“Mahar pertama, doakanlah semua anak keturunanku suka dengan tamu,” kata Kiai Hamid mulai menyebutkan keinginannya.

“Mahar kedua, doakan semua anak cucuku bisa haji,” lanjutnya.  

“Mahar terakhir,” kata Kiai Hamid, “doakan anak cucuku suka mengaji.”

Dengan rikuh dan keterkejutan yang masih tersimpan, Kiai Baidhowi yang masih mudah berdoa di hadapan Kiai Hamid yang lebih sepuh dan sangat dihormatinya itu. Setelah semuannya selesai, sang tamu pamitan. 

Kemudian, Kiai Baqoh Arifin, putra Kiai Hamid, mengantarkan tamunya sampai terminal Magelang, atas perintah ayahandanya. 

Diceritakan, dalam perjalanan kitab Syarah Bukhori sempat jatuh. Sesampainya di kediamannya, Pesantren Sirojuth-Tholibin, Brabo, Kiai Baidhowi langsung menemui ayahandanya, Kiai Syamsuri, memberikan kitab yang dikasih Kiai Hamid. 

Kiai Syamsuri kaget, ternyata kitab itu adalah kitab yang dulu dijual kepada Anwar . Sambil menangis, ia langsung memeluk kitab tadi. Lalu memeluk Kiai Badhowi, yang tak lain adalah putranya sendiri. Sang anak bingung, “Wonten nopo, Pak?”

 

***

Kiai Syamsuri lahir pada tanggal 21 April 1906, di Desa Tlogogedong Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Bapaknya bernama KH Dahlan bin Nolo Khoiron, imam dan pemuka agama di desanya. Kakek Syamsuri adalah lurah  di Sambak Wonosekar, Demak.

Kehadiran Syamsuri muda di Brabo bermula dari permintaan dua tokoh agama di Brabo Mbah Idris dan Mbah Hasan Hudori, kepada Kiai Syarqowi Tanggung Tanggungharjo. Keduanya meminta kepada Kyai Sarqowi agar “menanamkan” santrinya di desa Brabo. Kyai Syarqowi menunjuk santrinya yang bernama Syamsuri, yang tak lain menantunya, untuk mengabdi dan mengembangkan Islam di Brabo.

Kiai Syamsuri berdakwa dengan pelan-pelan. Pengajian bandongan kecil-kecilan digelar di serambi masjid. Sembari mengetahui seluk beluk warga Brabo, ia berkunjung ke rumah warga. Sifat sabar dan keuletannya, Kiai Syamsuri berhasil mendapat simpati masyarakat Brabo. Akhirnya, jangkauan pengajiannya hingga ke luar desa, dan jama’ah pengajian di serambi masjid makin ramai.

Melihat makin bertambahnya santri, masyarakat mengusulkan untuk mendirikan pesantren. Berdirilah pondok pesantren, dengan nama Sirojuth Tholibin, tahun 1941.

Nama pesantren, selain bermakna lentera penerang para penuntut ilmu, juga dalam rangka “menempelkan kitab” bernama Sirojuth Tholibin karya Syekh Muhammad Ihsan Jampes Kediri. Istilahnya, tabarukan. Kitab Sirajuth Thalibin adalah syarah atas kitab Minhajul ‘Abidin karya Imam Al-Ghozali.

Syamsuri suka belajar agama.  Syamsuri kecil sudah ngaji akidah, fiqih, Al-Qur’an. Guru pertamanya ayahnya sendiri, KH Dahlan. 

Selanjutnya, ia belajar kepada KH Abdur Rohman di Tlogogedong Demak Jawa Tengah. Ia juga belajar kepada Kiai Irsyad Gablog dan nyantri di Mangkang sertai KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng. 

Syamsuri muda pernah belajar ngaji Shohih Bukhori dan Shohih Muslim kepada Kiai Hasan Asy’ari di Poncol Bringin Salatiga. Tempat lain yang pernah disinggahi Syamsuri untuk belajar adalah Pesantren Tegalsari, Bringin Salatiga, asuhan Kiai Tholhah. 

Di antara ulama yang seangkatan dengan Kiai Syamsuri adalah KH Muslih Mranggen Demak. Bahkan, keduanya sama-sama alumni Pondok Tanggung, di bawah asuhan Kiai Syarqowi. 

Ada sebuah kisah tentang Kiai Syamsuri dan Kiai Muslih. Kiai Muslih pernah meminjam kitab Shohih Bukhori kepada Kiai Syamsuri. Lalu, Kiai Syamsuri meminjamkan kitab tersebut dengan mengutus muridnya, Shobari, untuk membawanya ke Mranggen. Konon Shobari membawa kitab tadi dengan dipikul memakai kayu.

Tokoh lain yang seangkatan adalah KH Arwani Kudus (hubungan dalam thoriqoh), KH. Shodaqoh, ayah dari KH Haris Shodaqoh, pengasuh PP Al Itqon Gugen Semarang), KH Nawawi Bringin Slatiga, dan KH Ihsan Brumbung Mranggen Demak.

Dalam hal tarekat, Kiai Syamsuri mengambil sanad dari Kiai Syarqowi, tepatnya tarekat Naqsabandiyah Kholidiyyah. Namun ia  tidak diangkat menjadi mursyid, meski kadang ditunjuk sebagai badal. Sebab, Kiai Syamsuri diarahkan untuk lebih berkonsentrasi pada pendidikan santri di pesantren.

Kiai Syamsuri berpulang ke Rahmatullah, bakda Magrib, malam Rabu, 23 Shofar, bertepatan dengan 4 Oktober 1988. (Ditulis ulang oleh Hamzah Sahal dari dan atas seizin www.Sirojuth-Tholibin.net)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nahdlatul, Humor Islam Siti Efi Farhati

Senin, 23 Oktober 2017

Kemnaker Buka Politeknik Ketenagakerjaan, Ayo Segera Daftar!

Jakarta, Siti Efi Farhati. Guna meningkatkan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang ketenagakerjaan, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) memberikan kesempatan kepada putra-putri terbaik Indonesia untuk mengikuti pendidikan di Politeknik Ketenagakerjaan.

 

Kemnaker Buka Politeknik Ketenagakerjaan, Ayo Segera Daftar! (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemnaker Buka Politeknik Ketenagakerjaan, Ayo Segera Daftar! (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemnaker Buka Politeknik Ketenagakerjaan, Ayo Segera Daftar!

“Ini merupakan sebuah terobosan yang kami lakukan untuk menyiapkan SDM yang kompeten di bidang ketenagakerjaan,” kata Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri  di kantor Kemnaker, Jakarta, Selasa (26/9).

 

Siti Efi Farhati

Hanif menjelaskan, Politeknik Ketenagakerjaan akan membuka tiga program studi, yaitu Program Studi D4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Program Studi D4 Relasi Industri, dan Program Studi D3 Manajemen Sumber Daya Manusia.

 

“Pada tahun ajaran 2017/2018 ini, Politeknik Ketenagakerjaan membuka penerimaan mahasiswa baru sebanyak 90 mahasiswa,” jelas Menaker Hanif.

 

Siti Efi Farhati

Selain itu, kata Hanif, biaya pendaftaran dan biaya studi di Politeknik Ketenagakerjaan akan disubsidi oleh pemerintah melalui Kemnaker.

 

“Ya, mahasiswa akan mendapat subsidi biaya studi. Selain itu, setelah lulus mereka tidak hanya mendapat ijasah, akan tetapi juga mendapat sertifikat kompetensi, dan sertifikat Teofl,” tuturnya.

 

Untuk mengetahui syarat pendaftaran ke Politeknik Ketenagakerjaan ini, calon mahasiswa dapat mengakses http://polteknaker.kemnaker.go.id/ atau dengan mengunjungi http:polteknaker.kemnaker.go.id/pendaftaran-online/ untuk mengisi formulir pendaftaran.

 

Tidak lupa, calon mahasiswa juga harus mengirim lampiran berkas (maksimal file 25 Mb, dalam bentuk extension .ZIP) melalui email kepmb.polteknaker@naker.go.id. Pendaftaran sendiri akan dibuka mulai 25 September 2017.

 

“Saya tekankan bahwa program Politeknik Ketenagakerjaan ini bukanlah program ikatan dinas Kementerian Ketenagakerjaan,” papar Menaker Hanif.

 

Untuk informasi lebih lanjut, calon mahasiswa dapat menghubungi Sekretariat PMB Politeknik Ketenagakerjaan yang terletak di Kantor Pusdiklat Pegawai Kemnaker, Jl. Pusdiklat Kemnaker, Kp. Lembur, Kel/KecMakasar Jakarta Timur, telp: (021) 8090952 atau melalui whatsApp: 082115226064.

 

Alamat Kampus Balai Besar Peningkatan Produktifitas (BBPP) jalan Guntur Raya Kayuringin Jaya Bekasi, Jawa Barat. (Red. Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nahdlatul, Halaqoh Siti Efi Farhati

Rabu, 11 Oktober 2017

NU Sulsel Libatkan Pesantren Perangi TB dan HIV/AIDS

Makassar, Siti Efi Farhati. Pengurus Wilayah Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan mengadakan Seminar TB dan HIV-AIDS melalui Pemberdayaan Pesantren, Kamis (14/5), di Hotel Grand Asia Panakukang, Makassar, Sulawesi Selatan.

Wakil Ketua Pengurus Wilayah NU (PWNU) Sulsel Dr Arfah Shiddiq dalam sambutannya mengapresiasi kegiatan yang melibatkan pesantren dan badan otonom NU untuk mengambil peran mengurangi penularan penyakit Tuberklosis dan HIV-AIDS.

NU Sulsel Libatkan Pesantren Perangi TB dan HIV/AIDS (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Sulsel Libatkan Pesantren Perangi TB dan HIV/AIDS (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Sulsel Libatkan Pesantren Perangi TB dan HIV/AIDS

Di hadapan ratusan peserta, dr. Erwan dari Dinas Kesehatan Sulsel mengungkapkan, dewasa ini penyebaran penyakit TB dan HIV-AIDS di Indonesia sudah masuk ambang penderita yang sangat tinggi, sehingga dibutuhkan partisipasi seluruh lapisan masyarakat.

Siti Efi Farhati

Peserta seminar kesehatan kali ini berasal dari tokoh pesantren, pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI), rumah sakit Islam, aktivis badan otonom NU, LSM, dan ratusan kader TB Muslimat NU se-kota Makassar.

Mereka mendapatkan materi seputar penularan TB, HIV-AIDS, serta cara mencegahnya oleh Ketua Umum PP LKNU Dr. dr. Imam Rasjidi, peran LKNU Sulsel dalam menanggulangi penyebaran TB dan HIV-AIDS di Sulawesi Selatan (Prof. Dr. dr. Syafar), TB, HIV-AIDS menurut Islam (Dr. dr. Khidri Alwi), dan peran pemerintah menanggulangi HIV-AIDS (dr. Yuli dari Dinas Kesehatan). (Andy Muhammad Idris/Mahbib)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Habib, Nahdlatul Siti Efi Farhati

Kamis, 05 Oktober 2017

STISNU Nusantara Peringati Haul Gus Dur bersama Bu Shinta

Tangerang, Siti Efi Farhati

Haul ke-7 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) diperingati oleh banyak elemen di berbagai daerah, tak terkecuali Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang, Banten.

Sabtu (14/1), STISNU Nusantara menggelar acara tahunan ini di kampus setempat, Tangerang, dengan menghadirkan istri almarhum Gus Dur, Nyai Sinta Nuriyah Rahman Wahid.

STISNU Nusantara Peringati Haul Gus Dur bersama Bu Shinta (Sumber Gambar : Nu Online)
STISNU Nusantara Peringati Haul Gus Dur bersama Bu Shinta (Sumber Gambar : Nu Online)

STISNU Nusantara Peringati Haul Gus Dur bersama Bu Shinta

H. Muhamad Qustulani, ketua panitia yang juga wakil ketua bidang akademik di STISNU Nusantara Tangerang, menjeleaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan inisiatif Gusdurian Kota Tangerang bersama para mahasiswa STISNU Nusantara yang kangen terhadap Gus Dur.

Siti Efi Farhati

"Iyah, jadi tema haulan Gus Dur di Tangerang (adalah) “Kangen Gus Dur”, kangen sosoknya yang mukhlis beragama, ajarannya yang penuh dengan cinta dan kasih sayang, pemikiran dan keilmuan yang tabahhur, luas dan penuh kemanfaatan, celotehannya penuh canda dan makna, sehingga kita semua kangen Gus Dur," ujarnya.

"Sebab itu, di tengah kondisi negeri yang sedang sakit, penuh fitnah, dan saling menghujat, apalagi di dunia maya (media sosial), maka pemikiran Gus Dur untuk Indonesia pantas kita gunakan dan aplikasikan, dengan mengedepankan persatuan dan penuh kasih sayang,” tambahnya.

Siti Efi Farhati

Bu Sinta, sapaan akrab Nyai Sinta Nuriyah, mengaku tiap kali menghadiri haul Gus Dur ia merasa sedih dan haru. Sedih karena kangen dengan sosoknya, haru karena banyak orang masih cinta Gus Dur, termasuk orang-orang yang dahulu menghina dan mencaci Gus Dur.

Ia juga mengaku perihatin atas kondisi bangsa saat ini yang mudah disulut isu serta informasi yang dapat merusak persatuan dan kesatuan. Rakyat saeakan sulit melakukan tabayun dan mencari informasi berimbang.

“Maka yang bisa dilakukan yaitu dengan cara kembali mengulang memori tentang ajaran-ajaran Gus Dur yang penuh kasih dan sayang, menunjukan Islam ramah bukan yang marah. NKRI harga mati," tegasnya.

KH Edi Junaedi Nawawi, Mustasyar PCNU Kota Tangerang dalam tausiyahnya menjelaskan tentang makna dari tahlilan, "la ilaha illallah", bahwa tidak ada Tuhan yang akan mengampuni kesalahan almagfurllah KH Abdurrahman Wahid bin KH Abdul Wahid Hasyim kecuali Allah. Sebab itu, insya Allah almarhum almagfurlah dalam kebahagiaan dan kesenangan di sisi Allah, dan ajaran-ajaranya pun dapat dirasakan untuk kita (rakyat), agama, bangsa, dan negara.

Acara ditutup? ? dengan doa oleh KH Edi Junaedi Nawawi. Hadir pada acara tersebut KH A. Syubakir Toyib (Pembina Gusdurian setempat), KH Aliyuddin Zen Pandawa (Murabbi Ruh STISNU Nusantara), KH Arif Hidayat (Katib Syuriah PCNU Kota Tangerang), KH A. Bunyamin (Ketua PCNU Kota Tangerang), KH Dedi Miftahudin (Ketua ISNU Kota Tangerang), Rudi (perwakilan Boen Tek Bio), Nur Asyik (Ketua Gusdurian Kota Tangerang), Khoirul Huda (Ketua GP Ansor Kabupaten Tangerang), dan para ulama lainnya bersama warga Nahdliyin serta mahasiswa STISNU Nusantara. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Ubudiyah, Nahdlatul, Pesantren Siti Efi Farhati

Jumat, 22 September 2017

Di Tebuireng, Ketua KPAI Jelaskan Cara Hindari Kekerasan Seksual

Jombang, Siti Efi Farhati. Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an Tebuireng Jombang mengadakan Wisuda Tahfidh XXVI Ahad (21/12) di Halaman Belakang pesantren tersebut. Ratusan santri mengukuti wisuda yang digelar setiap tahun ini.

Dalam sambutannya, Gus Sholah berbicara soal bagaimana seorang yang sudah menghafal al-Qur’an tidak sekedar puas menjadi penghafal tapi masuk pada tataran memahami, beramal dan memanfaatkannya dalam pengembangan ilmu pengetahuan.?

Di Tebuireng, Ketua KPAI Jelaskan Cara Hindari Kekerasan Seksual (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Tebuireng, Ketua KPAI Jelaskan Cara Hindari Kekerasan Seksual (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Tebuireng, Ketua KPAI Jelaskan Cara Hindari Kekerasan Seksual

“Kalau yang hafal-hafal gitu ya akeh tunggale (banyak jumlahnya)”, ungkapnya. Bahkan Gus Sholah menyarankan kalau sudah lulus Mts PPMQ bisa meneruskan di SMA Trensains Tebuireng II di Jombok, Ngoro, Jombang. Disana para santri dilatih dan dibimbing untuk menganalisis al-Qur’an dikaji dari sisi saintifiknya.

Siti Efi Farhati

Dr. HM Asrorun Ni’am Sholeh, MA dalam orasinya memaparkan bagaimana mendidik anak, menghindarkan dari kekerasan, dan memberikan contoh yang baik bagi anak. Asrorun Niam yang juga kebetulan menjadi salah wali santri ini mengatakan bahwa memilihkan lembaga pendidikan anak tidak bisa dipandang dari kelas, fasilitas, fisik dari sebuah lembaga, tapi perlu ada analisis tentang lembaga tersebut.

Siti Efi Farhati

Ketua KPAI yang juga mantan aktivis IPNU tersebut memaparkan tentang bagaimana menghindarkan dari kekerasan, pelecahan seksual dan memilihkan lembaga pendidikan yang tepat bagi anak. Dr. Asrorun mengaku tidak pernah memaksakan kehendak sang putra untuk memilih pesantren. “Setelah mengembara di beberapa pesantren, akhirnya jatuh hati di Pesantren Madrasatul Qur’an ini. Walau awalnya karena lapangannya luas dan ada kolam renangnya”, katanya.

“Belum tentu yang internasional school itu pasti bagus, itu yang IT-IT-an lebel internasional malah terjadi kekerasan seksual, kasus bully”, terangnya. Menurutnya memilih lembaga harus dengan melakukan analisis dan kontrol. “Malah ada anak pulang dari sekolah IT tiba-tiba mengkafirkan orang tuanya”, tambahnya. Para orang tua banyak yang melihat sekolah dengan lebel, lalu lepas kontrol dan sibuk bekerja. Baginya itu kesalahan besar.

Selain itu, Dr Asrorun juga memaparkan analisa hadits tentang pemukulan anak setelah umur 10 tahun masih belum berkenan shalat. Hadits tersebut menurutnya menjelaskan kebolehan bukan kewajiban setelah tiga tahun sejak tujuh sampai sepuluh tahun. “Dari tahun ke-7 sampai 10, tiga tahun adalah waktu yang lama dan menunjukkan ada proses. Bukan belum mencontohkan, memberikan bimbingan shalat, langsung dipukul”, terangnya.

“Kebanyakan dari orang tua baru memperintahkan tiga kali dua kali belum memberikan contoh sudah memukul, tiga tahun ibu-ibu bapak-bapak”, tambahnya di depan para wali santri. Menurutnya proses inilah yang sebenarnya sangat penting bukan menitik beratkan pada pembolehan memukul.

Untuk itu Dr. Asrorun menyarankan pesantren sebagai rujuan lembaga pilihan bagi anak. Dia menyarankan agar minimal satu dari empat anak atau dua dari sepuluh anak dalam suatu keluarga untuk menjadi hufadh. Baginya itu akan menjadi benteng keluarga ketika di dunia dan kelak di hadapan Sang Pencipta.

Total keseluruhan jumlah wisudawan adalah 340 dengan rincian 50 wisudawan tahfidh dan 290 wisudawan binnadhor maju satu persatu untuk melaksanakan prosesi upacara wisuda tahfidh XXVI ? dengan menggenakan pakaian batik biru tua. Dari sekian jumlah itu terpilih sebagai wisudawan terbaik adalah Hasan Aly Murtadlo santri kelas III Mts. Setelah acara tersebut para santri baik peserta wisuda maupun bukan, diperkenankan untuk pulang dalam rangka libur akhir semester gasal hinggal 06 Januari 2015 mendatang. (abror/mukafi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nahdlatul Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock