Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Maret 2018

Detik-detik Wafatnya Tokoh NU Subchan ZE

Hari Ahad 16 DzulHijjah 1392 bertepatan 21 Januari 1973, penulis mendampingi Subchan ZE keliling balad Jeddah. Di dalam mobil, penulis dengan lugu bertanya: "Di koran pak Subchan diberitakan akan kawin. Dengan siapa, Pak?". "Betul, tapi yang mau kawin itu pikiran Subchan dengan pikiran Soeharto", jawabnya.

Lalu tanya penulis: "Bagaimana dengan isu miring bahwa Pak Subchan punya hobi ke dumang, dunia remang-remang, klub malam. Kan bapak seorang tokoh NU?"

Jawabnya: "Subchan ZE Wakil Ketua MPRS-RI itu selalu berada di tempat tidak jauh dari mobil B 4 parkir. Termasuk di night club itu betul tetapi ingat, sebagai Wakil Ketua MPRS, petinggi NU, dan seorang Muslim pada dasarnya adalah Muballigh, yang harus menyampaikan pesan Rasul walau hanya seayat. Coba siapa dari para kiai dan atau dai yang berani tanpa sembunyi-sembunyi nyambang tempat remang-remang untuk antarkan nasihat, nanting kembali ke jalan yang benar. Bukankah dakwah justru lebih dibutuhkan di tempat seperti itu daripada di mesjid dan surau?”

“Harus diingat,” sambungnya, “bahwa apapun yang kita lakukan, niat adalah hal pokok. Maka bulatkan tekad bahwa segalanya diniatkan untuk ibadah pada Allah dalam berkhidmah melayani kepentingan umat. Serahkan diri artinya niatkan semuanya hanya untuk memperoleh ridlo Allah sehingga kelak bisa menemuiNya dengan hati yang damai.”

Detik-detik Wafatnya Tokoh NU Subchan ZE (Sumber Gambar : Nu Online)
Detik-detik Wafatnya Tokoh NU Subchan ZE (Sumber Gambar : Nu Online)

Detik-detik Wafatnya Tokoh NU Subchan ZE

Ia lantas mengutip ayat ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? laa yanfau maalun wa laa banuuna illaa man ata-Llaaha bi-qalbin saliim, yakni: tidak akan berguna harta dan anak keturunan kecuali siapa yang datang menemui Allah dengan hati yang damai. Dan menyampaikan petikan hadits ? ? Ad-Diinu nashiihah. Agama adalah nasihat.

“Maka nasihatku, jika nanti kamu berniat terjun kiprah di politik, tebalkan terlebih dahulu bantalanmu. Jangan heran dan jangan gamang, jika datang menerpamu isu masuk partai untuk memperkaya diri. Lihatlah nanti setelah saya istirahat panjang, apakah saya masuk NU untuk memperkaya diri ataukah benar untuk berkhidmat bagi kepentingan umat? Kini saatnya, kuingin bangun hotel di Mekkah. Kumau istirahat panjang."

Siti Efi Farhati

Subhanallah, Pak Subchan ZE ternyata bukan hanya politikus ulung, tetapi juga kiai yang mumpuni. Ketika ditanya, "Kenapa Pak Subchan tidak membalas balik serangan pihak yang mendiskreditkan?" Jawabnya: "Man satara musliman satarahulLaahu fid-dunyaa wal-aakhiroh. Siapa menutupi (cela/aib/keburukan) seseorang Muslim maka Allah menutupi (cela/aib/keburukan)-nya di dunia dan akhirat.”

Dari sejak pagi perjumpaan hari itu, penulis sudah menyampaikan keinginan teman-teman agar Pak Subchan berkenan singgah di gubuk kami di Baghdadiyah Jeddah, dekat Hotel AlAttas. Maka adalah sebuah "barokah", kebetulan ketika itu tak satu pun kamar hotel di Jeddah yang kosong, maka Pak Subchan tidak memiliki alasan untuk tidak singgah ke gubuk tempat kami para kerabat mahasiswa/alumni Timur Tengah kumpul-kumpul.

Selanjutnya, setelah qailuulah atau tidur siang sejenak, kemudian mandi sore dan shalat, seraya mengikat tali sepatu beliau bersenandung, "Yang hilang tak kan kembali..." Serta merta penulis bilang: "Wah, Pak Subchan, bisa-bisa ngalahin Bob Tutupoli!"Sambil tersenyum lebar beliau merespon: "Oh ya? Tapi janganlah.. Kasihan nanti para penyanyi bisa kehilangan job."

Siti Efi Farhati

Kemudian beliau berpamitan untuk ke Mekkah dan Medinah menggunakan mobil Mercides warna putih milik Pak Abdullah Sumbawa, didampingi Pak Faisal Rochlan (adik beliau) dan Pak Nur (pemilik Percetakan Menara Kudus). Penulis ingat persis, hari Ahad 16 DzulHijjah 1392 atau tanggal 21 Januari 1973, sudah berselang empat dasawarsa lebih, tapi rasanya seakan baru saja kemarin beliau tiga kali menoleh ke penulis dan teman-teman seraya berucap: "Selamat tinggal... Fii AmaanilLaah!"

Usai maghrib, ketika itu bersama keluarga Cak Bakrin Kafi, penulis sedang menjamu Kepala Inkopad, Pak Brigjen Djoko Basoeki sekeluarga, datanglah sahabat penulis bernama Yazid Ramli dari Mekkah membawa berita dukacita. Di luar pintu Yazid Ramli memeluk lunglai penulis yang dengan suara lirih bertanya: "Kenapa? Pak Subchan?!" Berbareng kami mengucap lirih: "Innaa lilLaahi wa innaa ilaiHi roojiuun".

Malam itu Cak Bakrin Kafi dan penulis tidak sampai hati untuk menginformasikan berita duka cita itu ke Pak Brigjen Djoko Basoeki, yang pamitan mau terbang ke Amerika untuk suatu tugas, dan keluarga terbang pulang ke Jakarta.

Musim haji tahun 1392/1973 itu Amiirul-Haj Indonesia adalah Pak Jenderal Amir Machmud, Menteri Dalam Negeri RI, Ketua Umum Golkar. Maka tentunya dapat dibayangkan, isu politik seperti apa yang sangat mungkin serta merta dapat mencuat menjelma menjadi malapetaka amat dahsyat di Indonesia. Khususnya di Jawa Timur, belahan Nusantara basis kaum santri dan Nahdliyiin. Karena itu, penulis segera mencoba-yakinkan Cak Bakrin Kafi, putra Kiai Cholil Bangkalan Madura, untuk melakukan tindakan darurat demi keamanan situasi negeri tercinta dengan menangkal kemungkinan hembusan fitnah. 

Alhamdulillah Cak Bakrin tanggap, maka malam itu juga bersama penulis ke Telkom Jeddah (musim haji buka 24 jam) mengirim dua telegram (isi berita sama, yaitu: "kilat":

"Innaa lilLaahi wa innaa ilaihi raajiuun, telah berpulang ke rahmatulah SWT almarhum haji Subchan ZE karena kecelakaan murni, ulangi karena kecelakaan murni, di Wadi Fatmah dalam perjalanan darat dari Mekkah ke Medinah. Semoga Allah SWT menerima amal ibadahnya serta mengampuni segala dosanya dan membangunkan tempat mulia di taman surgaNya, sementara ahli keluarga dan kita yang ditinggalkan tetap tabah, tawakkal dan tulus ikhlash mendoakannya disertai membaca al-faatihah. Demikian, Bakrin Kafi dan Muzammil Basyuni) masing-masing dialamatkan ke Kantor PBNU, Jl. Kramat Raya - Jakarta Pusat; dan

Keluarga Bapak Subchan ZE. AlMarhum, Jl. Banyumas No.4, Menteng, Jakarta Pusat.

Sopir Pak Subchan ZE, yaitu Syauqi Thohir Rochili, putra Pengasuh Ponpes AtTahiriyah  Kampung Melayu, Jatinegara, sempat ditahan di penjara, lalu dibebaskan atas permohonan keluarga AlMarhum. 

Subhanallah, Maha Suci Allah. Waktu itu dua sesepuh: Al-Mukarram KH. Bisri Syamsuri, Rais Aam NU (yang mengskors Pak Subchan ZE dalam kepengurusan struktural PBNU); dan Al-Mukarram KH Ali Maksum, Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogya, guru besar penulis, juga menunaikan haji bersama keluarga.

Sungguh amat mengharukan ketika di acara Tahlil di Bait Indonesia Jiyad Mekkah, Al-Mukarram Rais Aam NU meminta kesaksian para hadirin atas pernyataan beliau merehabilitasi nama harum Pak Subchan ZE rahimahullaah, dan secara eksplisit juga menyatakan mencabut keputusan skorsnya tersebut di atas. 

Dan penulis bersyukur bahwa pada malam itu Al-Mukarram KH Ali Maksum telah berkenan untuk melakukan Talqiin keesokan harinya bakda dluhur, pada acara pemakaman Almarhum di Mala Mekkah.

Allah Maha Besar lagi Maha Mendengar, Pak Subchan ZE telah memperoleh restuNya membangun "hotel"-nya di Mala Mekkah dan istirahat panjang.

 

                          ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. "Yaa ayyatuhan-nafsul-muthmainnah. Irjiii ilaa Rabbiki râdliyatan mardliyyah.. fadkhul fî ibâdî wadkhulî jannatî."

 

 

Muzammil Basyuni. Dubes RI untuk Rep. Arab Suriah 2006-2010.

Arinda, 21 Januari 2011.

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Doa, Humor Islam, AlaNu Siti Efi Farhati

Sabtu, 17 Februari 2018

Dilantik, PCNU Aceh Besar Ingin Dirikan Universitas

Aceh Besar, Siti Efi Farhati. Meski baru dilantik Selasa malam (22/8) lalu, PCNU Kabupaten Aceh Besar, Nanggroe Aceh Darussalam telah bergerak jauh sebelumnya. Tak tanggung-tanggung, salah satu pergerakan mereka adalah mengupayakan pendirian Universitas Nahdlatul Ulama. Perguruan tinggi dianggap ujung tombak untuk kemajuan umat Islam secara umum, dan NU secara khusus. ?

Dilantik, PCNU Aceh Besar Ingin Dirikan Universitas (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilantik, PCNU Aceh Besar Ingin Dirikan Universitas (Sumber Gambar : Nu Online)

Dilantik, PCNU Aceh Besar Ingin Dirikan Universitas

Menurut Ketua PCNU Kabupaten Aceh Besar Tgk. Dhiauddin Idris mengatakan, NU harus turut serta dalam mengelola negara Indonesia. Syarat utama untuk melakukan itu butuh calon-calon penyelenggara negara yang berkualitas. NU memiliki kader warga yang secara kultur mayoritas.

“Kami optimis untuk jurusan-jurusan tertentu justru akan jadi minat utama calon mahasiswa, misalnya kedokteran atau keperawatan, dimana nantinya para alumni dapat mendedikasikan dirinya pada lembaga-lembaga amal usaha NU, bahkan masyarakat secara luas; mengingat begitu banyak anak-anak Aceh yang butuh perhatian khusus. Apalagi Aceh Besar merupakan daerah penyelenggaran pendidikan inklusif yang dicanangkan Kemdikbud,” jelasnya Jumat malam (26/8). ?

Siti Efi Farhati

Saat ini , tambahnya, pendirian universitas dalam tahap pengurusan lahan. Sementara taget berdiri, kalau memungkinkan, ingin tahun ini. “Kita berharap secepatnya. Kami baru ditugaskan PWNU Aceh untuk mengurus hibah lahan. Insyaallah kalau dalam dua bulan ini hibah lahan clear,” katanya.

Menurut dia, jika pengurusan hibah itu berjalan dengan lancar, maka tahun ini juga akan didirikan karena sudah ada yang menawarkan pendirian bangunan sederhana yang dapat difungsikan sebagai sekretariat panitia pendirian sekaligus sekretariat PCNU Aceh Besar. (Abdullah Alawi)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati AlaNu, Doa, Kyai Siti Efi Farhati

Rabu, 31 Januari 2018

Kiai Aliyuddin Baiat Banser dan Beri Hizib Nashar

Sumedang,Siti Efi Farhati. Wakil Rais Pengurus Wilayah Provinsi Jawa Barat KH Muhammad Aliyuddin mengatakan bahwa dengan membela dan membesarkan Nahdlatul Ulama (NU) sama dengan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kiai Aliyuddin Baiat Banser dan Beri Hizib Nashar (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Aliyuddin Baiat Banser dan Beri Hizib Nashar (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Aliyuddin Baiat Banser dan Beri Hizib Nashar

Hal tersebut disampaikan sebelum pembaitan peserta Pendidikan Latihan Dasar (Diklatsar) Banser NU Kabupaten Sumedang di Dusun Palasah, Desa Ciawitali, Kecamatan Buahdua Kabupaten Sumedang. Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari dari Sabtu-Ahad (17-28/9).

KH Muhammad Aliyuddin juga menuturkan bahwa bagi warga nahdliyin, mengurus NU itu wajib. Jangan hanya bangga menjadi warga nahdliyin yang kultural saja. Namun harus bangga dengan terlibat dalam struktur kepengurusan NU. Banon dan lembaga NU itu banyak, warga NU bisa memilih masuk kepengurusan.

Siti Efi Farhati

Zaman sekarang perkembangan berbagai paham dan golongan yang tidak sesuai dengan Aswaja ala NU subur sekali. Malahan paham NU saat ini banyak diserang oleh golongan tersebut. Meraka suka mengadu domba antarsesama warga NU, malahan tidak sedikit yang membuat fitnah terhadap NU.

“Ini sebuah tantangan bagi warga Nahdliyin. Ayo kita urus organisasi NU ini dengan benar. Jangan hanya jadi warga nahdliyin yang pasif. Tapi jadilah warga NU yang aktif,” ajak KH. Muhammad Aliyuddin.

Siti Efi Farhati

Pada kesempatan itu, ia memberikan ijazah Hizib Nashar kepada seluruh peserta dan panitia. “Banser itu harus kuat lahir dan batinnya. Yang dibela oleh Banser itu tidak hanya NU, tapi juga NKRI. Semoga Hizib Nashar ini dapat bermanfaat untuk perjuangan Banser,” katanya.

Sementara Kepala Satuan Komando Cabang Banser Kabupaten Sumedang Dadan Khoerudin mengajak kepada seluruh anggota Banser untuk lebih solid lagi. Banser NU Sumedang harus satu komando dan bersatu, jangan mudah dipecah belah. Is juga berjanji akan terus menjaga dan merawat anggota Banser. Ini semua demi NU dan NKRI. (Ayi Abdul Kohar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Hikmah, Pesantren, AlaNu Siti Efi Farhati

Minggu, 28 Januari 2018

Lagu Ya Lal Wathan Menggema di Universitas Indonesia

Depok, Siti Efi Farhati. Tak seperti biasa, lagu Ya Lal Wathon yang lazimnya sering didengungkan di pesantren, lembaga maupun jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) Sabtu (28/10) pagi, lagu semangat nasionalisme yang digubah oleh KH Abdul Wahab Chasbullah ini mengema di Gedung Auditorium Pusat Studi Jepang, Universitas Indonesia (PSJ-UI) dalam rangka 1st Santri Writer Summit serta merupakan rangkaian peringatan Hari Santri Nasional.

Menurut Desi Sulaiman, salah satu anggota paduan suara yang juga santri Umul Quro, Bogor, mengatakan, dengan dinyanyikannya lagu Ya Lal wathon pada kegiatan yang diikuti oleh ratusan santri dan pemerhati pesantren ini bertujuan untuk memupuk nasionalisme bersama dan sekaligus mengenalkan kepada khalayak bahwa pesantren merupakan basis yang selalu mengawal Negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

Lagu Ya Lal Wathan Menggema di Universitas Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Lagu Ya Lal Wathan Menggema di Universitas Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Lagu Ya Lal Wathan Menggema di Universitas Indonesia

“Iya, untuk menumbuhkembangkan rasa Nasionalisme dan supaya dunia luar pesantren tahu tentang besarnya nasionalisme kaum pesantren,” tuturnya. 

Dalam acara yang diselenggarakan oleh Kementrian Agama bersama Komunitas Santri Nulis ini telah menyaring essay yang diikuti oleh 357 orang santri se-Indonesia, kemudian disaring menjadi 50 santri pilihan.

Sebagai bentuk penghormatan, santri yang lolos seleksi akan mendapatkan hadiah dari panitia berupa hadiah liburan ke Singapura. Demikian ungkap salah satu panitia, Nur Sehah. 

Siti Efi Farhati

“Peserta dengan performa terbaik akan mendapatkan tiket liburan ke Singapura sebagai apresiasi yang diberikan pihak penyelenggara,” tandasnya. 

Dalam seminar ini, lanjutnya, hadir sebagai narasumber budayawan Prie GS, Habiburrahman El-Sirazi, Abdul Wahab dari Santri Online serta beberapa narasumber lain. (Ahmad Mundzir/Fathoni)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati AlaNu, Nahdlatul, Doa Siti Efi Farhati

Minggu, 21 Januari 2018

Hidayah Taufiqiyyah, Ini Penjelasan Kiai Maruf

Mimika, Siti Efi Farhati. Dengan suara yang mantab, Johanes mengucapkan syahadat di hadapan Rais Aam PBNU KH Maruf Amin, Jumat (26/10).

Hidayah Taufiqiyyah, Ini Penjelasan Kiai Maruf (Sumber Gambar : Nu Online)
Hidayah Taufiqiyyah, Ini Penjelasan Kiai Maruf (Sumber Gambar : Nu Online)

Hidayah Taufiqiyyah, Ini Penjelasan Kiai Maruf

Pemuda asal NTT itu telah cukup lama tinggal dan bekerja di Timika. Kehadiran Kiai Maruf di Masjid Babusalam Timika, dimanfaatkan untuk mengikrarkan tekadnya menjadi penganut agama Islam.

Kiai Maruf berharap Johanes lebih giat belajar agama dan bisa menjalankan syariat Islam dengan baik. Ia juga menyinggung betapa pentingnya hidayah iman. 

“Hidayah ini pemberian dari Allah. Dan merupakan nikmat yang besar ketika diberi hidayah masuk agama Islam, seperti yang baru kita saksikan,” kata Kiai Maruf.

Kiai Maruf menjelaskan adanaya hidayah taufiqiyyah, yakni pemahaman agama yang sesuai dengan keinginan Allah. 

Siti Efi Farhati

“Sekarang banyak pemahaman yang beragam, namun jika Allah memberikan hidayah taufiqiyyah maka kita bisa memahami dan memilih jalan yang benar,” ungkapnya.

Pemahaman yang benar, lanjut Kiai Maruf, dipahami sebagai hal yang memang benar. Pemahaman yang salah hendaknya dipahami juga sebagai sesuatu yang salah. 

“Allah memberikan hidayah sehingga kita bisa bedakan mana yang benar dan mana yang salah,” tandasnya.

Di Mimika, selain berceramah di Masjid Babusalam, Kiai Maruf juga melakukan lawatan ke Yayasan Pendidikan NU, serta melakukan Dialog Kebangsaan. (Sugiarso/Kendi Setiawan)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati AlaNu Siti Efi Farhati

Minggu, 14 Januari 2018

Yenny Wahid Tawarkan Dua Solusi soal Kolom Agama di KTP

Jakarta, Siti Efi Farhati. Direktur The Wahid Institute mengoreksi berita di media yang seolah-olah ia hanya mendukung pengosongan kolom agama di KTP. Menurut salah satu sekretaris Pimpinan Pusat Muslimat NU ini, ia justru mendukung pula pilihan untuk mengisi kolom agama bagi para pemeluknya sesuai agama dan kepercayaan masing-masing.

"Di sini ada dua solusi. Pertama, komunitas agama dan kepercayaan di luar enam agama bisa mengosongkan. Kedua, mereka juga bisa mengisi agama dan kepercayaan mereka," jelasnya dalam siaran pers, Rabu (9/11).

Yenny Wahid Tawarkan Dua Solusi soal Kolom Agama di KTP (Sumber Gambar : Nu Online)
Yenny Wahid Tawarkan Dua Solusi soal Kolom Agama di KTP (Sumber Gambar : Nu Online)

Yenny Wahid Tawarkan Dua Solusi soal Kolom Agama di KTP

Selama ini masih ada komunitas dan kelompok di luar enam agama yang dipaksa memilih satu di antara enam agama dan tidak bisa mengosongkan kolom agama. Padahal itu bertentangan dengan UU Nomor 23 Tahun 2006 dan direvisi menjadi UU Nomor  24 Tahun 2013 Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan.

Siti Efi Farhati

Dalam pasal 64 ayat (2) UU Nomor 24  Tahun 2013 disebutkan, "Keterangan tentang agama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bagi Penduduk yang agamanya belum diakui sebagai agama berdasarkan ketentuan Peraturan Perundang undangan atau bagi penghayat kepercayaan tidak diisi, tetapi tetap dilayani dan dicatat dalam database kependudukan."

Siti Efi Farhati

Untuk mengatasi masalah diskriminasi dan pemenuhan yang adil terhadap warga negara itu Yenny meminta negara mengakomodasi warga di luar enam agama yang diakui untuk bisa mencantumkan agama dan keyakinan mereka dalam KTP, bukan hanya tanda strip (-). Misalnya untuk komunitas Sunda Wiwitan, Kaharingan, dan Parmalim, atau agama-agama lain di luar yang enam.

"Itu bentuk perlindungan dan pemenuhan keadilan oleh negara," ujar putri kedua mendiang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini.

Di beberapa tempat seperti Bekasi dan Meneges, Jawa Tengah, ada penganut agama lokal yang bisa mencantumkan  identitas "kepercayaan" di KTP mereka. "Itu bisa jadi contoh bahwa ternyata bisa mengisi kata selain  tanda strip," imbuhnya.

Pengosongan dan pengisian kolom agama dalam KTP di luar agama yang enam sejauh ini dinilai Yenny pilihan yang lebih bijak. "Yang enam dilindungi, di luar mereka juga dijamin," kata mantan jurnalis The Sydney Morning Herald dan The Age Australia itu. lagi.

Dengan begitu setiap warga negara merasa tidak khawatir kehilangan identitas keagamaan mereka. Yang terpenting, tambahnya, justru memastikan bagaimana pelayanan pemerintah di pusat dan lokal tidak diskriminatif dan merugikan hak-hak dasar lain untuk mereka yang di luar yang enam. "Apalagi kita setuju bahwa negara ini tidak mengenai istilah agama resmi dan tidak resmi," pungkasnya. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati AlaNu Siti Efi Farhati

Jumat, 12 Januari 2018

245 Calon Mahasiswa Baru Ikuti Bimtes PMII UIN Bandung

Bandung, Siti Efi Farhati - Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menyelenggarakan Bimbingan Tes (Bimtes) sebagai bentuk kepedulian terhadap calon mahasiswa baru yang hendak mengikuti tes masuk melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) Mandiri.

Sedikitnya 245 calon mahasiswa baru mengikuti Bimtes ini di SMK KIfayatul Akhyar Cibiru, Bandung, Jawa Barat, 28-29 Juni 2016. Menurut Ketua Pelaksana Farhan mengatakan, agenda ini diadakan sebagai kepedulian terhadap mahasiswa baru yang sedang bingung menghadapi testing.

245 Calon Mahasiswa Baru Ikuti Bimtes PMII UIN Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)
245 Calon Mahasiswa Baru Ikuti Bimtes PMII UIN Bandung (Sumber Gambar : Nu Online)

245 Calon Mahasiswa Baru Ikuti Bimtes PMII UIN Bandung

“Bimtes ini seperti apa yang dikatakan Soekarno ketika berangkat tanpa persiapan maka siap-siap pulang tanpa penghormatan,” ujar Farhan.

Siti Efi Farhati

Senada dengan Farhan, Ketua Pengurus Komisariat PMII UIN Sunan Gunung Djati Bandung Agus Taufik Habibie mengatakan bahwa calon mahasiswa baru (camaba) perlu dibimbing dan diberikan arahan sebab mereka berasal dari berbagai daerah yang jauh.

Siti Efi Farhati

“Nantinya calon mahasiswa baru ini tidak terlalu gagap dan kaget melihat soal-soal, karena bukan dari Aliyah saja, ada yang dari SMK, STM sangat perlu bimbingan dari PMII,” ujar Habibi.

Habibi pun menambahkan bahwa camaba bukan hanya diberikan kisi-kisi mengenai materi-materi yang akan diujikan tetapi bimtes PMII ini pun memberikan materi tentang keislaman dan keindonesia yang memuat nilai perdamaian dan toleransi.

“Kami juga tidak hanya bimbingan, try out dan testing saja, tapi kami menyelundupkan ajaran bersifat adem, damai dan toleran serta memperkenalkan juga (apa itu) PMII,” ujarnya.

Fasilitator bimtes ini didatangkan dari alumni PMII, kalangan profesional dan dosen UIN Sunan Gunung Djati. (Bakti Habibie/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati AlaNu, Internasional, Tegal Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock