Tampilkan postingan dengan label Daerah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daerah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Februari 2018

Rumah Tahfidz Alihkan Anak dari Medsos dengan Hafalan Al-Qur’an

Brebes, Siti Efi Farhati?

Rumah Tahfidz Sirrul Qur’an yang terletak di Desa Jatibarang Lor, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah didirkan agar anak-anak remaja di bisa menyibukkan diri dengan hafalan Al-Qur’an. Lembaga tersebut berjejaring dengan lembaga KH Yusuf Mansur Jakarta.

Rumah Tahfidz Alihkan Anak dari Medsos dengan Hafalan Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Rumah Tahfidz Alihkan Anak dari Medsos dengan Hafalan Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Rumah Tahfidz Alihkan Anak dari Medsos dengan Hafalan Al-Qur’an

“Ini adalah upaya mengalihkan mereka dari kebanyakan bermain facebook, game, WA, IG, YM, Twitter, Pokemon dan sebagainya. Karena begitu dahsyatnya pengaruh teknologi dan arus informasi media sosial terkini,” kata Pengasuh Rumah Tahfidz Sirrul Qur’an Hadi Mulyanto pada peresmian lembaga pada Ahad (20/11) melalui siaran pers yang diterima Siti Efi Farhati Rabu (23/11) .?

Lebih lanjut alumnus Pondok Pesantren Mahadut Tholabah Babakan, Tegal ini menjelaskan, banyak sekali manfaat menghafal Al-Qur’an. Di antaranya, adalah salah satu yang dirindukan surga sebagaimana diungkapkan dalam kitab Durrotun Nasihin.?

“Surga merindukan empat golongan,salah satunya adalah orang yang gemar membaca Al-Qur’an. Dan Al-Qur’an juga nantinya akan menjadi teman penolong bagi orang yang membacanya, apalagi menghafalkannya. Sebagaimana di kitab Tanqihul Qoul, bacalah kamu semua terhadap Al-Qur’an karena Al-Qur’an akan menjadi syafaat (penolong) bagi yang membacanya,” pungkas Dosen Agama Islam di Politeknik Harapan Bersama Kota Tegal.

Siti Efi Farhati

Peresmian Rumah Tahfidz Sirrul Qur’an dilakukan KH Ahmad Sobari dari PPPA Darul Qur’an perwakilan Tegal. Pada kesempatan tersebut ia memberikan sertifikat pendirian Rumah Tahfidz disaksikan pengasuh dan 50 santriwan dan santriwati.?

Siti Efi Farhati

Pada kesempatan tersebut KH Ahmad Sobari menyampaikan bahwa syarat mendirikan Rumah Tahfidz ada tiga, pertama ada santri, kedua ada tempat atau rumah dan ketiga ada Al Qur’an. Adapun santrinya minimal berusia 5 tahun dan maksimal 85 tahun. (Red: Abdullah Alawi)?

? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Halaqoh, Daerah Siti Efi Farhati

Senin, 05 Februari 2018

Kompolan; Cara Pemuda di Sumenep Jaga Tradisi

Sumenep, Siti Efi Farhati -

Puluhan pemuda karang taruna di kawasan ini secara rutin melaksanakan kompolan atau perkumpulan. Kegiatan diselenggarakan di kantor Balai Desa Batupit Kenek Batuputih Sumenep Madura. Sejumlah persoalan diperbincangkan, dengan diawali yasinan dan pembacaan tahlil.

"Awalannya kegiatan ini memang berangkat dari tongkrongan kecil yang dilakukan di warung-warung pinggir jalan,” kata Ahmad Fawaid, Jumat (22/12). Selaku Ketua Karang Taruna, Fawaid menjelaskan bahwa tradisi berkumpul tersebut akhirnya dicoba untuk diformalkan sehingga terbentuklah organisasi. 

Ia mengemukakan bahwa kompolan terbentuk sejak 2016 lalu. Dan dari tradisi ini, akhirnya tercetus sejumlah kegiatan yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat sekitar. Dari mulai bakti sosial di masjid maupun pemakaman umum atau kuburan, peringati Maulid Nabi, tahlilan dan sejenisnya. 

Kompolan; Cara Pemuda di Sumenep Jaga Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kompolan; Cara Pemuda di Sumenep Jaga Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kompolan; Cara Pemuda di Sumenep Jaga Tradisi

“Kini, kegiatan kompolan diisi dengan ngaji yasin, tahlilan, arisanan, dan  memperbincangkan seputar pembangunan desa,” kata Sulaiman. 

Menurutnya, hal positif dari kompolan itu secara umum adalah bisa semakin menyadarkan pemuda desa akan perannya sebagai agen perubahan. “Mereka akhirnya sadar dengan tugasnya sebagai agen perubahan serta memiliki kapasitas sebagai mengontrol perkembangna masyarakat,” kata salah seorang pemrakarsa kegiatan tersebut.

Siti Efi Farhati

Dan tidak berhenti sampai di situ, kompolan juga sebagai sarana mengenalkan sekaligus menjadikan pemuda sebagai penjaga tradisi dari nilai-nilai yang terkandung dalam idiologi Nahdlatul Ulama.

"Jadi, dengan kompolan ini kita harapkan mampu menjadi benteng cara berfikir pemuda desa terhadap keadaan dan kenyataan,” pungkas Sulaiman. (Misno/Ibnu Nawawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Sholawat, Daerah, Habib Siti Efi Farhati

Jumat, 02 Februari 2018

Peduli Pendidikan, GP Ansor Santuni Anak Yatim Piatu

Jepara, Siti Efi Farhati. Sebagai bentuk kepedulian terhadap dunia pendidikan, GP Ansor Ranting Wonorejo kecamatan Kota kabupaten Jepara sudah beberapa tahun berjalan menyelenggarakan Santunan Anak Yatim dan Piatu se-Desa Wonorejo.?

Peduli Pendidikan, GP Ansor Santuni Anak Yatim Piatu (Sumber Gambar : Nu Online)
Peduli Pendidikan, GP Ansor Santuni Anak Yatim Piatu (Sumber Gambar : Nu Online)

Peduli Pendidikan, GP Ansor Santuni Anak Yatim Piatu

Kegiatan santunan yang dirangkai dengan pengajian umum dilangsungkan di Mushalla Al-Amin Desa Wonorejo, Ahad (09/10/16) malam itu menghadirkan KH M Rojih Ubab, cucu KH Maimun Zubair Sarang sebagai pembicara.?

700an Nahdliyin dari NU, Muslimat dan Ansor serta aparat desa hadir dalam even tahunan tersebut. Kesempatan itu, pihak Ansor Wonorejo menyantuni 43 anak yatim dan piatu.?

Puluhan anak yatim dan piatu itu merupakan hasil pendataan dari GP Ansor ranting setempat. Untuk batas anak yang memperoleh santunan maksimal berusia 13 tahun.?

Siti Efi Farhati

Salah satu panitia kegiatan, Ahmad Muzaiyin mengatakan dalam setahun kegiatan santunan digelar dua kali, bulan Muharram dan menjelang Idul Fitri. Adapun dana diperoleh dari sumbangsih warga, agniya serta kas Ansor.?

“Santunan yang kami berikan berupa uang dan bingkisan,” paparnya mewakili ketua Ansor Wonorejo, Kusmanto.?

Siti Efi Farhati

Jika anak yatim dan piatu tersebut masih duduk di bangku madrasah, maka lanjut Zayyin uang syahriyah-nya ditanggung oleh pihak Ansor.?

Dijelaskannya, menyantuni anak yatim merupakan tanggung jawab bersama dan kegiatan tersebut merupakan salah satu program unggulan Ansor Wonorejo.?

Karena kegiatan tersebut terbilang positif, ia berharap juga ditiru oleh Ansor maupun organisasi yang lain. Dirinya menekankan, peduli terhadap anak-anak yatim tidak hanya sekadar memberi tetapi lebih dari itu tanggung jawab untuk merampungkan pendidikannya merupakan kewajiban semua pihak, termasuk di dalamnya adalah Ansor. Hal itu dilakukan agar mereka tidak terlantar di kemudian hari. (Syaiful Mustaqim/Mukafi Niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Daerah, Amalan, IMNU Siti Efi Farhati

Rabu, 24 Januari 2018

Prihatin Peredaran Narkoba di Jombang, Polisi Dekati Madrasah

Jombang, Siti Efi Farhati - Akhir-akhir ini peredaran narkoba bahkan Napza atau narkotika, psikotropika, dan zat adiktif telah merambah banyak lapisan masyarakat termasuk pelajar. Di Jombang, pengguna bahan berbahaya ini terbilang tinggi. Mereka juga termasuk di dalamnya adalah kalangan pelajar.

"Data terakhir yang kami peroleh pada September 2015, pecandu narkoba menurut profesi pekerja swasta menempati posisi pertama dengan 53 orang," kata Kapolsek Jombang Kota AKP Yudiono, Selasa (10/2).

Prihatin Peredaran Narkoba di Jombang, Polisi Dekati Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
Prihatin Peredaran Narkoba di Jombang, Polisi Dekati Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)

Prihatin Peredaran Narkoba di Jombang, Polisi Dekati Madrasah

Data ini disampaikan Yudiono saat melakukan kunjungan silaturahmi di Madrasah Aliyah Unggulan Wahab Hasbullah (MAU WH) di kawasan Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Siti Efi Farhati

Angka berikutnya adalah mahasiswa dengan jumlah 20 orang, kemudian 15 pelajar, pengangguran 10 orang, serta 2 TNI, lanjutnya di hadapan para ustadz dan ratusan pelajar madrasah setempat.

Karena tingginya pelajar yang mengonsumsi obat berbahaya tersebut, Yudiono mengingatkan bahwa para siswa dan siswi adalah calon penerus bangsa. Karena itu sejumlah pertimbangan harus dilakukan agar tidak terjerumus pada kegiatan yang tidak menguntungkan di masa depan.

Siti Efi Farhati

"Tahan semua keinginan semu seperti merokok dan berpacaran," terangnya. Karena perbuatan tersebut tidak akan membawa manfaat, lanjutnya.

Ia juga mengajak para pelajar di madrasah ini untuk bangga terhadap orang yang telah membesarkan dan mendidik dengan baik, yakni orang tua di rumah, kiai di pesantren, serta guru di madrasah.

"Banggakan lah almamater yakni madrasah, pondok serta orang tua," tegasnya.

Sukses, menurutnya, sangat bergantung pada diri sendiri, bukan orang lain. "Sukses ada di tangan diri kalian sendiri," ungkapnya.

Kepala MAU WH Ustadz Faizun yang menerima langsung Kapolsek Jombang Kota mengemukakan bahwa kegiatan seperti ini telah dilakukan beberapa kali. "Ini adalah tahun ketiga kita mengadakan kegiatan bekerja sama dengan jajaran TNI atau Polri," ungkap alumnus pascasarjana Universitas Islam Malang (Unisma) ini.

Ratusan siswa dan siswa MAU WH mengikuti dengan seksama kegiatan yang berlangsung di aula madrasah setempat sejak jam 9 pagi. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Bahtsul Masail, Daerah Siti Efi Farhati

Jumat, 19 Januari 2018

PCNU Jember Tolak Sistem AHWA

Jombang, Siti Efi Farhati. Tidak semua sepakat dengan rencana akan digunakannya konsep Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) pada acara Konferensi Wilayah NU Jawa Timur mendatang. PCNU Jember adalah di antara yang menolak.

PCNU Jember Tolak Sistem AHWA (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Jember Tolak Sistem AHWA (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Jember Tolak Sistem AHWA

Hal ini disampaikan Ketua PCNU Jember KH Abdullah Syamsul Arifin usai acara launching kader Aswaja di Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang (23/3). Bagi Gus Aab, sapaan akrabnya, wacana yang digulirkan panitia Konferensi Wilayah NU Jatim tersebut akan menimbulkan persoalan baru pada suksesi kepemimpinan di NU, khususnya Jawa Timur.

“Menurut saya, rencana itu terlalu beresiko,” katanya. Karena itu, dosen STAIN Jember ini masih melakukan pengkajian secara intensif dengan beberapa PCNU se Jawa Timur.?

Siti Efi Farhati

“Kita terus melakukan komunikasi yang intensif dengan beberapa pengurus PCNU,” lanjutnya.?

Siti Efi Farhati

Catatan yang disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Arifin Jember ini adalah bahwa tafsir atas sejumlah pasal khususnya ART NU Bab XIV Pasal 42 ayat a yang berbunyi: Rais dipilih secara langsung melalui musyawarah mufakat atau pemungutan suara dalam konferensi wilayah setelah yang bersangkutan menyampaikan kesediaannya, serta poin b yang mengatur calon ketua, penerapannya bukan dengan Ahlul Halli Wal Aqdi atau AHWA.

Apalagi mekanisme Ahwa seperti disampaikan di sejumlah media ternyata dilakukan sebelum kegiatan konferensi. “Ini kan justru menyelenggarakan kegiatan sebelum konferensi?” katanya balik bertanya. Belum lagi mekanisme AHWA tersebut ternyata justru ditawarkan oleh panitia, bukan dari peserta.?

“Yang memiliki kedaulatan tertinggi adalah para utusan dari PCNU,” katanya. “Sehingga PCNU lah yang akan menentukan model dan mekanisme konferensi, termasuk pemilihan calon rais dan ketua tanfidziyah,” lanjutnya.

Karena itu, Gus Aab berharap mekanisme ini jangan dilemparkan secara terbuka sebelum dibicarakan secara intensif dengan PCNU se Jawa Timur.?

“Selama belum dibicarakan dengan PCNU, saya lebih baik tidak berkomentar lebih jauh,” pungkasnya.

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Syaifullah

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Daerah, Doa, Sejarah Siti Efi Farhati

Selasa, 16 Januari 2018

IPNU Jakbar Adakan Tryout BPUN untuk Pelajar SMA

Jakarta Barat, Siti Efi Farhati. Pimpinan Cabang IPNU Jakarta Barat memfasilitasi siswa-siswi SMA dan sederajat dalam ujian tryout Bimbingan Pasca Ujian Nasional (BPUN). Ratusan  di SMAN 57 jalan Kedoya Raya, kelurahan Kedoya Utara kecamatan Kebon Jeruk, Jakbar, Rabu (23/4). Puluhan pelajar dari sejumlah sekolah mengikuti ujian ini.

IPNU Jakbar Adakan Tryout BPUN untuk Pelajar SMA (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Jakbar Adakan Tryout BPUN untuk Pelajar SMA (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Jakbar Adakan Tryout BPUN untuk Pelajar SMA

“Kegiatan ini rutin kita adakan setiap tahun,” terang Ketua PC IPNU Jakbar Nahraji Zen.

Kegiatan ini, sambung Nahraji, bertujuan untuk memberikan bimbingan kepada seluruh siswa-siswi kelas 3 SMA dan sederajat untuk mempersiapkan mereka dalam mengikuti Seleksi Masuk Nasional Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN).

Siti Efi Farhati

Tidak untuk perguruan tinggi tertentu. Tetapi, perguruan mana saja yang mereka minati, kata Nahraji.

Ujian ini diikuti pelajar kelas 3 dari sejumlah SMA. Mereka antara lain siswa-siswi SMAN 17 Jakarta, SMAN 57 Jakarta, SMK Al-Hamidiyah Jakarta, SMA Al-Kalmal Jakarta, dan beberapa sekolah lainnya.

Siti Efi Farhati

Nahraji mengucapkan terima kasih kepada walikota Jakarta Barat dan seluruh jajarannya yang telah mendukung kegiatan ini.

“Kita juga berterima kasih juga kepada Kepala Sekolah SMAN 57 yang menyediakan sekolahnya sebagai tempat tryout ini. Semoga hubungan silaturahmi antara IPNU Jakbar dan SMAN 57 terus terjalin,” pungkas Nahraji. (Yudhi Permana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Daerah, Amalan Siti Efi Farhati

Senin, 15 Januari 2018

Ini Maklumat IPNU di Hari Pendidikan Nasional

Jakarta, Siti Efi Farhati - Ketua Umum Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Asep Irfan Mujahid menyampaikan ucapan selamat Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Senin, (2/2). Ia berharap ke depan pendidikan di Indonesia bergerak ke arah yang lebih baik.di hari pendidikan ini Pimpinan Pusat IPNU mengeluarkan empat maklumat.

"Pertama, memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para guru yang selama ini konsisten mengawal tahapan proses pendidikan tanpa pamrih dan penuh keikhlasan," katanya.

Ini Maklumat IPNU di Hari Pendidikan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Maklumat IPNU di Hari Pendidikan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Maklumat IPNU di Hari Pendidikan Nasional

Kedua, Hardiknas diharapkan bukan hanya sekedar peringatan seremoni di lingkungan pemerintahan, tapi harus sepenuhnya dijadikan momentum untuk merefleksi keberhasilan target capaian pendidikan itu sendiri yang hakikatnya adalah untuk memanusiakan manusia.

Siti Efi Farhati

"Ketiga, pemerintah diharapkan segera menerapkan konsep pendidikan muaadalah yang mengakui eksistensi pesantren sebagai bagian subkultur kependidikan yang selama ini berkontribusi besar dalam pembangunan manusia Indonesia dan menjadikannya sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional," jelasnya.

Yang terakhir, imbuh Asep, PP IPNU meminta pemerintah untuk memberikan ruang yang lebih luas terhadap eksistensi organisasi ekstra sekolah yang berbasis pelajar di sekolah-sekolah tingkat menengah, serta mengeluarkan OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) dan Pramuka dari instrumen penilaian akreditasi atau perangkat aturan lain yang selama ini diterapkan sehingga organisasi kepelajaran dan kepanduan pelajar di sekolah tidak hanya dimonopoli oleh kedua organisasi tersebut.

Siti Efi Farhati

Hari Pendidikan Nasional diperingati dan ditetapkan sesuai dengan Keppres (Keputusan Presiden) Nomor 316 tahun 1959. Adapun tanggal peringatan tersebut disematkan pada hari lahir salah seorang pahlawan nasional Indonesia yang gigih dalam memperjuangkan pendidikan Indonesia Ki Hadjar Dewantara atau Raden Mas Suwardi Suryaningrat. (Muchlison Rochmat/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Ahlussunnah, Humor Islam, Daerah Siti Efi Farhati

Selasa, 02 Januari 2018

Walikota Jayapura Minta Embarkasi Haji sebagai Hadiah Natal

Jayapura, Siti Efi Farhati. Walikota Kota Jayapura Provinsi Papua, Benhur Tomi Mano, ikut menyambut kedatangan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di Kampus STAIN Al-Fatah Jayapura. Kedatangan Menag kali ini dalam rangka Peresmian Laboratorium Praktikum Ibadah Masjid Kampus, Selasa (22/12).

Walikota Jayapura Minta Embarkasi Haji sebagai Hadiah Natal (Sumber Gambar : Nu Online)
Walikota Jayapura Minta Embarkasi Haji sebagai Hadiah Natal (Sumber Gambar : Nu Online)

Walikota Jayapura Minta Embarkasi Haji sebagai Hadiah Natal

Di hadapan Civitas Akademika dan Stakeholder Kampus STAIN Al-Fatah, Jayapura, Walikota Benhur meminta hadiah Natal kepada Menag. Demikian dikutip dari laman kemenag.go.id.

“Sebentar lagi Natal akan tiba. Karena Pak Menteri datang ke Jayapura ini, saya minta kado Natal Pak,” kata Walikota mengawali sambutannya.

Siti Efi Farhati

“Jika selama ini, setiap naik Haji, masyarakat kami selalu melalui Embarkasi di Makassar, maka kalau bisa, mohon ada Embarkasi di Jayapura Pak Menteri,” pinta Walikota disambut tepuk tangan hadirin.

Siti Efi Farhati

Selain meminta kado Natal, Walikota juga menyampaikan berita gembira. Menurutnya, Pemkot Jayapura telah membebaskan tanah seluas 10 H untuk makam Muslim secara gratis. 

“Jadi, jika selama ini, jika ada seorang muslim meninggal dan jika dimakamkan harus membayar 10 – 15 juta, maka ini bisa gratis. Tanah tersebut berada di dekat Kampus ini,” imbuh Walikota.

Walikota Benhur juga mengungkapkan, bahwa kerukunan dan toleransi di Kota Jayapura cukup tinggi. Pemkot bekerja sama dengan FKUB, kata Walikota, untuk menjaga Kota ini tetap rukun dan kondusif. Makanya,  jika ada kerusuhan di daerah lain, hal itu tidak terjadi di sini. 

“Jayapura mempunyai slogan Kota BERIMAN, jadi kami takut dan beriman kepada Tuhan,” imbuh Walikota.

Sementara itu, Ketua STAIN Al-Fatah Jayapura, Habib Idrus al-Hamid sedikit bercerita tentang sejarah STAIN dari awal hingga 2015. 

“STAIN ini berdiri di atas seluas 12 H. Kami berusaha maksimal untuk membuat perkuliahan representatif dan bermutu. Perpustakaan kami sering didatangi mahasiswa luar. Semoga ke depan, kami bisa menambah jumlah buku yang ada,” harap Idrus.

Idrus tak lupa mengucap terima kasih atas restu Menag, STAIN berkonvensi menjadi IAIN Fatahul Muluk. “Alhamdulillah, segala persyaratan telah dilanjutkan ke Kemen PAN RB, terima kasih Pak Menteri” imbuh Idrus.  Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Daerah Siti Efi Farhati

Kamis, 28 Desember 2017

Jihad Menghidupkan, bukan Mematikan

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Jihad Menghidupkan, bukan Mematikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jihad Menghidupkan, bukan Mematikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jihad Menghidupkan, bukan Mematikan

Berbicara tentang kepahlawanan, biasanya mengundang pembicaraan tentang jihad. Karena tiada kepahlawanan tanpa jihad.

Siti Efi Farhati

Ada kesalahpahaman tentang pengertian jihad. Ini mungkin disebabkan oleh seringkalinya kata itu baru terucapkan pada saat perjuangan fisik, sehingga diidentikkan dengan perlawanan bersenjata. Kesalahpahaman ini disuburkan juga oleh terjemahan yang keliru terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, yang berbicara tentang jihad, dengan anfus dan harta benda. Kata anfus seringkali diterjemahkan dengan "jiwa". Terjemahan Al-Qur’an oleh Kementerian Agama pun demikian. Misalnya:

Siti Efi Farhati

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi." (QS Al-Anfal: 72)

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar." (QS Al-Hujurat: 15)

Kata “anfus” dalam dua ayat di atas diterjemahkan oleh Kementerian Agama dengan arti “jiwa”. Walaupun ada juga yang diterjemahkan dengan "diri" seperti tercantum dalam Surat at-Taubah ayat 88.

Jamaah shalat jum’at hafidhakumullah,

Memang, dalam Al-Qur’an, banyak arti dari kata anfus, yaitu "nyawa", "hati", "jenis", dan "totalitas manusia" di mana terpadu jiwa raganya. Al-Qur’an mempersonifikasikan wujud seseorang di hadapan Allah dan masyarakat dengan menggunakan kata nafs. Kalau demikian, tidak meleset jika kata itu dalam konteks jihad dipahami dalam arti totalitas manusia. Sehingga, kata nafs mencakup nyawa, emosi, pengetahuan, tenaga dan pikiran, bahkan juga waktu dan tempat, karena manusia tidak dapat memisahkan diri darinya. Pengertian ini dapat diperkuat dengan adanya perintah berjihad tanpa menyebutkan nafs atau harta benda:

? ? ? ? ?

"Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya." (QS Al-Hajj: 78)

Sekitar 40 kali kata jihad disebut oleh Al-Qur’an dengan berbagai bentuknya. Maknanya bermuara pada "mencurahkan seluruh kemampuan" atau "menanggung pengorbanan". Mujahid adalah orang yang mencurahkan seluruh kemampuannya dan berkorban dengan nyawa atau tenaga, pikiran, emosi dan apa saja yang berkaitan dengan diri manusia. Sedangkan jihad adalah cara untuk mencapai tujuan. Jihad tidak mengenal putus asa, menyerah, bahkan kelesuan, dan tidak pula pamrih.

Jihad tidak dapat dilakukan tanpa modal, karena itu jihad disesuaikan dengan modal yang dimiliki dan tujuan yang ingin dicapai. Sebelum tujuan tersebut tercapai dan selama masih ada modal di tangan, selama itu pula jihad dituntut. Karena jihad harus dengan modal, maka mujahid tidak mengambil tetapi memberi. Bukan mujahid yang menanti imbalan selain dari Allah, karena jihad diperintahkan untuk dilakukan semata-mata karena Allah.

Jihad adalah titik tolak seluruh upaya, karenanya ia adalah puncak segala aktivitas. Ia bermula dari upaya mewujudkan jati diri, dan ini bermula dari kesadaran. Karena itu Allah menekankan: Siapa yang berjihad, maka sesungguhnya ia berjihad untuk dirinya sendiri. Allah Mahakaya, tidak memerlukan sesuatu apa pun dari seluruh alam (QS 29: 6). Dan kesadaran harus berdasarkan pengetahuan serta bertentangan dengan paksaan. Karena itulah seorang mujahid bersedia berkorban.

Jamaah shalat jum’at hafidhakumullah,

Beragam jihad, beragam pula buahnya. Buah jihad seorang ilmuwan adalah pemanfaatan ilmunya, sementara buah jihad seorang karyawan adalah karyanya yang baik, guru adalah pendidikannya yang sempurna, pemimpin adalah keadilannya, pengusaha adalah kejujurannya, demikian seterusnya.

Dahulu, ketika kemerdekaan belum diraih, jihad mengakibatkan terenggutnya nyawa, dan hilangnya harta benda. Namun bukan kematian itu sendiri yang menjadi tujuan. Tujuan jihad waktu itu justru adalah demi lestarinya kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Kalaupun nyawa melayang, itu adalah konsekuensi logis totalitas perjuangan para pahlawan.

Karena itu, jihad para pahlawan revolusi yang menumpas penjajahan dan ketidakadilan tak bisa disamakan dengan praktik bom bunuh diri yang dilakukan di negara damai. Alih-alih menghidupkan, “jihad” semacam ini justru memunculkan korban-korban dan masalah baru.

Kini, jihad harus membuahkan terpeliharanya jiwa, mewujudkan kemanusiaan yang adil dan beradab, serta berkembangnya harta benda. Jihad juga bisa berarti mencurahkan seluruh kemampuan dan berkorban dengan nyawa atau tenaga, pikiran, emosi dan apa saja untuk membangun peradaban yang lebih baik dan maslahat.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

"Apakah kamu menduga akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum nyata pula yang tabah?" (QS Ali Imran: 142).

Semoga kita semua diberi kekuatan dan petunjuk untuk bersungguh-sungguh dalam melaksanakan sesuatu, tanpa menimbulkan kerugian bagi orang lain. Jihad sebagaimana yang dilakukan Rasulullah: perjuangan untuk sebuah peradaban yang mengenal prinsip-prinsip ketuhanan dan kemanusiaan.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.? ? ? ? ? ? ? ? ?



Khutbah II


? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Alif Budi Luhur





* Mayoritas isi materi khutbah ini mengutip tulisan M. Quraish Shihab, Lentera Hati: Kisah dan Hikmah Kehidupan, 2007 (Bandung: Mizan).


Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Daerah, RMI NU Siti Efi Farhati

Selasa, 19 Desember 2017

Menghormati Perbedaan Pendapat atas Puasa Bulan Rajab

Alhamdulillah saat ini, kita semua memasuki bulan mulia Rajab. Sebagaimana yang jamak kita jumpai, sebagian besar umat Islam di Dunia memuliakannya dengan berpuasa sebagaimana yang pernah dilakukan oleh panutan junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Kita jumpai pula sebagian kelompok yang mengingkari puasa di bulan mulia Rajab dengan berbagai alasan pendapatnya.

Bagi saya, kedua kelompok yang memiliki pemahaman bahwa puasa di bulan Rajab adalah hukumnya sunnah, ataupun kelompok yang memiliki pemahaman bahwa puasa di bulan Rajab adalah bidah, maka keduanya semua dianggap telah memasuki wilayah ijtihad. Antara membolehkan dan melarang. Dalam hal ini yang perlu ditekankan adalah saling menghormati antar kedua kelompok tersebut. Bahwa keduanya sama-sama memasuki sabda Nabi SAW: "Apabila seorang hakim menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan benar, baginya dua pahala. Dan apabila ia menghukumi satu perkara, lalu berijtihad dan keliru, baginya satu pahala." (HR Muslim)

Hadits tersebutlah yang menjadi dalil, semenjak Rasulullah SAW bersabda sampai saat ini dapat kita simpulkan: Rasulullah telah menetapkan bahwa di dalam agama ini memiliki pintu ijtihad yang senantiasa terbuka untuk menghasilkan hukum yang belum pernah dibahas secara jelas dalam alQuran dan asSunnah. Adanya kesempatan ijtihad tersebut, secara tidak langsung juga membuka pintu lain yaitu ikhtilaf (perbedaan). Tidak lain adalah karena; ketika Allah SWT telah mempersilahkan hambaNya untuk berijtihad, maka tidak dapat dipungkiri pula telah mempersilahkan hambaNya untuk berikhtilaf pula dalam persoalan tersebut.

Ketika Allah SWT telah mensyariatkan wilayah ijtihad dan membuka wilayah ikhtilaf, namun perlu diketahui bersama bahwa ikhtilaf tersebut adalah ikhtilaf taawuni (berbeda namun tetap berdampingan saling membantu), bukan ikhtilaf yang menjadikan perpecahan serta permusuhan antara ummat. Ikhtilaf yang muncul karena ijtihad (antara dua golongan) sama-sama mendapatkan pahala semuanya. Baik ijtihad tersebut benar ataupun tidak. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh sabda Rasulullah SAW di atas. Apakah keterangan ini masih memunculkan syak atau keraguan wahai saudaraku? apakah masih diantara kita yang meragukan sabda Rasulullah SAW?!

Menghormati Perbedaan Pendapat atas Puasa Bulan Rajab (Sumber Gambar : Nu Online)
Menghormati Perbedaan Pendapat atas Puasa Bulan Rajab (Sumber Gambar : Nu Online)

Menghormati Perbedaan Pendapat atas Puasa Bulan Rajab

Hakikat keberadaan ijtihad dan ikhtilaf perlu senantiasa dipahami terus-menerus keberadaannya, sebagaimana telah dipahami oleh generasi ummat muslimin terdahulu. Tidak lain supaya tidak menimbulkan fitnah antar muslim dalam beragama. Karena kesalahan memahami tersebut akan menjadikan kita senantiasa berada dalam ikhtilaf permusuhan, bukan ikhtilaf perdamaian. Sering kita jumpai bersama perbedaan pendapat yang menjadikan antara kelompok saling bermusuhan dengan sama-sama memegang teguh pendapat masing-masing. Padahal, hal tersebut telah bertentangan dengan hikmah Ilahiyyah yang telah diletakkan di dalam Islam, yaitu adanya Ittifaq (kesepakatan) dan Ikhtilaf (perbedaan) dalam Ijtihad.

Dari pemahaman tersebut, seyogyanya bagi kita untuk bersikap tasamuh (toleran) dalam menghadapi perbedaan hasil ijtihad antara kelompok. Sudah sepatutnya bagi kita untuk menjaga lisan kita dari ucapan ataupun klaim yang tidak baik, seperti: menyalahkan, menyesatkan, membidahkan atau mengufurkan. Karena hal tersebut sekali lagi mengingkari Ijtihad kelompok lain, yang mana pintu Ijtihad senantiasa terbuka sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah shollallahu alaihi wasallam. Lebih-lebih yang harus menjadi teladan adalah apa yang telah dikatakan oleh Imam Syafii rodliyallahu anhu: "Pendapatku benar, namun mengandung kemungkinan salah, pendapat yang lain salah, namun mengandung kemungkinan benar".

Kebetulan, saya adalah termasuk kelompok sebagian besar muslimin yang meyakini kebenaran Ijtihad bahwa puasa di bulan mulia Rajab adalah sunnah hukumnya. Itulah Ijtihad kami. Ketika kami berijtihad, dan ijtihad kami salah, dan ketika kalian berijtihad dan benar, tetap kami mendapatkan pahala satu dan Allah telah memuliakan kalian dengan dua pahala. Lantas apa yang menjadikan kalian ingkar sedangkan diantara kita sama-sama mendapatkan pahala dan perbedaan diantara kita adalah hikmah Ilahiyyah yang telah ditetapkan adanya oleh Rosulallah shollallahu alaihi wasallam? Kalau kita telah mengetahui bahwa di dunia ini ada salah dan benar, maka tidak perlu lagi diperdebatkan. Cukup sama-sama berijtihad, dan bukankah perkara ijtihadi pasti memiliki konsekuensi untuk adanya ikhtilaf?

Siti Efi Farhati

Untuk itu, orang yang merasa sudah dalam posisi benar harus dapat menerima bahwa dirinya bisa jadi dalam posisi yang salah. Begitupula orang yang dinilai salah bisa jadi dalam posisi yang benar. Perlu kita ingat bersama bahwa Rahmat Kasih sayang Allah SWT sangatlah luas dan mempersilahkan kita untuk berada disemua wilayah rahmatNya. Lantas mengapa perlu dipersempit lagi rahmatNya?

Barangkali perlu kita ingat kembali bahwa, bahwa diantara kaidah agama Islam yang tidak ada perbedaan antara ulama adalah: bahwa prinsip dasar dalam hukum atas persoalan yang berbeda terdapat hukum yang berbeda pula. Bisa jadi suatu perkara mubah beralih menjadi haram lantaran ditempuh dengan jalan haram, begitupula perkara mubah bisa menjadi mandub bahkan wajib ketika wasilah perkara tersebut adalah perkara mandub atau wajib. Semua perkara -yang belum disinggung secara jelas dalam alQuran dan asSunnah- dihukumi sesuai dengan jalan atau wasilah yang berkaitan dengan persoalan tersebut.

Ketika seseorang beramal dalam satu perkara dan tidak terdapat hukum di dalam syariat mengenai nash qothi atas amalan tersebut, maka kita lihat kembali wasilah dan ghoyah (hasil akhir) atas amal tersebut. Ketika hasil akhirnya adalah bertentangan dengan syariat; yakni terdapat mashiyat, mengandung kemungkaran, maka perkara mubah menjadi harom. Adapun ketika kita pandang suatu amalan baru yang belum dikenal baik dizaman shohabat atau tabiin dan generasi setelahnya, namun setelah kita menyaksikan dan memandangnya menghasilkan perkara yang positif, didalamnya terkandung perkara yang diridloi oleh Allah SWT baik terkait dengan perkara mandub atau wajib, maka perkara mubah tersebut akan berubah menjadi sunnah atau wajib. Pengambilan hukum seperti itu telah disepakati oleh para Ulama semuanya sebagaimana yang telah dibahas dalam perkara adDzaroi. Terlebih puasa di bulan mulia Rajab, selain memiliki dalil yang kuat berupa nash sunnah, juga telah menjadi amalan turun menurun dari ulama salaf.

Siti Efi Farhati

Daripada itu, seyogyanya ketika kita melihat apa yang dilakukan oleh masyarakat baik dari amalan atau aktifitas mereka yang berbeda-beda, maka yang kita kedepankan adalah melihat hasil akhir atas aktifitas mereka. Apakah hasil akhir amalan tersebut sesuai dengan warna ketaatan atau warna kemashiyatan?

Selamat berpuasa di bulan mulia Rajab. Semoga kita semua diberi keberkahan di bulan mulia ini, dan diberi keberkahan umur dapat berjumpa dengan bulan Ramadhan. Amien. Wallahu Warosuluh alam.

?

Taufiq Zubaidi, Warga NU Sudan

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Hikmah, Sholawat, Daerah Siti Efi Farhati

Senin, 18 Desember 2017

AGH Sanusi Baco: Umat Moderat Ditandai Tiga Ciri

Makassar, Siti Efi Farhati?



Rais Syuriyah NU Sulawesi Selatan Anregurutta KH M Sanusi Baco menjelaskan dakwah wasathiyah, artinya moderat. Secara bahasa berada pada dua sisi, tidak berlebih-lebihan.

AGH Sanusi Baco: Umat Moderat Ditandai Tiga Ciri (Sumber Gambar : Nu Online)
AGH Sanusi Baco: Umat Moderat Ditandai Tiga Ciri (Sumber Gambar : Nu Online)

AGH Sanusi Baco: Umat Moderat Ditandai Tiga Ciri

“Al-wasathiyah bisa dipahami sebagai umat wasathiyah yang berarti umat Islam,” katanya pada Halaqah Dakwah Wasathiyah An Nahdliyah yang digelar PWNU Sulawesi Selatan di auditorium KH Muhyiddin Zain Universitas Islam Makassar, Sabtu (20/5).

Menurut AGH Sanusi, wasathiyah ditandai dengan 3 sifat yakni, umat yang adil, umat yang selalu menegakkan kebenaran, dan umat yang selalu menjaga keseimbangan dalam segala hal.

“Salah satu definisi keadilan adalah keseimbangan antara kewajiban dan hak. Kalau keduanya seimbang, maka itulah umat wasathiyah. Orang yang memiliki sifat wasathiyah biasanya adalah orang pemurah. Jadi orang-orang NU itu semuanya pemurah,” ungkapnya disambut tawa hadirin.

Siti Efi Farhati

Dalam berdakwah pun, NU senantiasa dengna pendekatan wasathiya, menjaga keseimbangan, menyebarkan nilai-nilai toleransi, serta selalu menganjurkan untuk menjaga persatuan dan kesatuan Republik Indonesia.

Pemateri halaqah di antaranya Guru Besar UIN Alauddin yang juga Ketua Lembaga Dakwah NU Sulsel, M. Ghalib, Katib Syuriyah NU Sulsel KH Ruslan, Rais Syuriyah NU Makassar KH Baharuddin HS, Ketua PW Muslimat NU Sulsel Majdah Agus Arifin Numang dan salah satu Mubaligh NU Makassar Ust. Amirullah Amri. (Andy Muhammad Idris/Abdullah Alawi)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Ahlussunnah, Warta, Daerah Siti Efi Farhati

Rabu, 13 Desember 2017

IPNU-IPPNU Sumenep Siap Gelar Lakmud

Sumenep, Siti Efi Farhati. Beberapa minggu ke depan, Pimpinan Cabang IPNU-IPPNU Sumenep siap melakukan kaderisasi kepada anggota IPNU-IPPNU yang sudah pernah mengikuti masa kesetiaan anggota (Makesta). Menurut Ketua PC IPNU Sumenep, Syaiful Harir, Latihan Kader Muda (Lakmud) yang akan dilakukan adalah bagian dari kaderisasi formal IPNU-IPPNU.

“Kaderisasi pertama untuk jadi anggota IPNU-IPPNU disebut masa kesetiaan anggota (Makesta), dan kaderisasi lanjutan untuk bisa disebut sebagai kader adalah latihan kader muda (Lakmud),” katanya, Rabu (12/12) sore di kantornya.

IPNU-IPPNU Sumenep Siap Gelar Lakmud (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Sumenep Siap Gelar Lakmud (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Sumenep Siap Gelar Lakmud

Menurutnya, PC Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Sumenep sedang melakukan persiapan kaderisasi tingkat dua tersebut yang rencananya akan digelar pada awal Januari 2013 mendatang.

Siti Efi Farhati

“Rekan-rekan baru saja selesai rapat, Rabu (12/12). Ada beberapa hal yang telah disepakati bersama hasil pertemuan barusan,” lanjutnya ditemani Sekretaris PC IPNU Sumenep Ubaidilah.

Ketua PC IPPNU Sumenep Waki Saningrum membenarkan akan adanya rapat tersebut. Menurutnya, rapat tersebut mendiskusikan tema yang akan diusung. Setelah melalui proses debat panjang, tema yang disepakati “Mengaswajakan Pelajar dan Mempelajarkan Aswaja”.

Siti Efi Farhati

“Pilihan tema tersebut oleh rakan-rekanita dinilai lebih pas dan cocok ketimbang tema-tema yang lain. Selain tema tersebut ada pengurus yang mengusulkan tema Peluang dan Tantangan Aswaja di Era Modern dan Membentuk Pelajar yang Mabadi Khairul Ummah,” ceritanya.

Selain itu, kepantiaan Lakmud 2013 sudah terbentuk, dan akan segara ada rapat lanjutan untuk mendiskusikan konsep kegiatan dan menetukan pilihan beberapa tempat yang mengemuka saat rapat.

Taufiq, Ketua Panitia Lakmud, mengungkapkan, Lakmud 2013 akan diikuti oleh 10 PAC IPNU dan IPPNU.

“Kouta peserta akan ditentukan pada rapat Sabtu (15/12) mendatang. Yang pasti akan diikuti oleh utusan dari 10 PAC IPNU-IPPNU,” terangnya.

Rapat yang berlangsung selama tiga jam juga dihadiri oleh Sekretaris PC IPNU Sumenep Ubaidillah, Wakil Ketua III PC IPNU Sumenep M. Kamil Akhyari, Wakil Ketua I PC IPPNU Sumenep Romlatur Rohmah, Wakil Ketua II PC IPPNU Sumenep Khatimatul Khusna dan pengurus yang lain.

IPNU-IPPNU Sumenep Siap Gelar Lakmud

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Daerah, IMNU Siti Efi Farhati

Jumat, 08 Desember 2017

LPBINU Terus Latih Masyarakat dalam Penanggulangan Bencana

Wajo, Siti Efi Farhati. Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) bekerja sama dengan Departmen of Foreign and Trade (DFAT) Australia melakukan pelatihan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dan Participatory Disaster Risk Assessment (PDRA) untuk masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana di Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan. Pelatihan dilaksanakan di Gedung PKK Kecamatan Tempe Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan.

LPBINU Terus Latih Masyarakat dalam Penanggulangan Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBINU Terus Latih Masyarakat dalam Penanggulangan Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBINU Terus Latih Masyarakat dalam Penanggulangan Bencana

Pelatihan akan berlangsung selama 4 (empat) hari, mulai 2-5 September 2016. Pelatihan ini diikuti oleh 30 peserta yang berasal dari berbagai institusi, diantaranya LPBINU Kabupaten Wajo, Banom NU, BPBD, PMI, Tokoh masyarakat, PKK, LSM kebencanaan/lingkungan, Tokoh pemuda/karang taruna, Lembaga pendidikan/guru, dan Pelaku usaha kecil dan menengah. Mayoritas peserta merupakan masyarakat Desa Salomenraeng.?

Desa Salomenraleng dipilih sebagai lokasi praktek pelatihan dengan pertimbangan bahwa desa ini memiliki risiko tinggi terjadi bencana banjir. Hampir setiap tahun di Desa Salomenraleng terjadi banjir akibat luapan air dari Danau Tempe. Danau tempe mengalami sedimentasi 5-7 cm setiap tahun, dan menjadi potensi ancaman banjir terutama saat musim hujan.?

Dalam Pelatihan PRB dan PDRA ini, sedikitnya akan dibahas 7 materi, meliputi: Konsep dasar manajemen risiko bencana; Kebijakan dan sistem Penanggulangan Bencana; Daur bencana dan tahapan dalam penyelenggaraan Penanggulangan Bencana; Kajian risiko partisipatif dan pengorganisian komunitas; Kajian Analisis Bencana (Ancaman, Kerentanan, Kapasitas, dan Risiko Bencana) dan Tindakan PRB; Pendekatan Kajian/Analisis Pengurangan Risiko Bencana dengan Teknik Participatory Disaster Risk Assessment (PDRA); dan Menakar risiko bencana partisipatif.?

Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta diharapkan memiliki pemahaman tentang konsep dan pengertian dasar penanggulangan bencana dan pengurangan risiko bencana; mampu menjelaskan upaya PRB secara komprehensif; mampu menyusun kajian risiko bencana dengan teknik PDRA; dan memiliki kemampuan dasar dalam menyusun rencana aksi pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat.

Siti Efi Farhati

Pelatihan PRB dan PDRA di Kabupaten Wajo dibuka oleh Kepala Pelaksanan Harian BPBD Kabupaten Wajo, H. Alamsyah dalam sambutannya dia menyampaikan bahwa potensi kejadian bencana di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami peningkataan. Dalam kurun waktu 2012-2015, terjadi angin puting beliung 396 kali, banjir 289 kali, longsor 240 kali, dan erupsi gunungberapi 5 kali.?

Di Kabupaten Wajo, lanjutnya, pada tahun 2016, sudah terjadi 3 kali banjir, yaitu pada Bulan Februari, Mei dan Juni. Rangkaian bencana yang terjadi seharusnya tidak membuat putus asa, tetapi justru menggerakkan berbagai pihak terkait bencana di Kabupaten Wajo merumuskan solusi untuk menanggulangi bencana melalui pendekatan pengurangan risiko bencana.?

“Dengan adanya pelatihan PRB dan PDRA ini, mudah-mudahan dapat menambah wasasan dan melahirkan tindakan reaksi yang akan dijadikan isu sentral penyusunan pembangunan daerah, baik di tingkat desa maupun tingkat kabupaten/kota. BPBD Kabupaten Wajo sangat mengapresiasi dan memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan ini. Diharapkan rekomendasi dari pelatihan ini dapat disampaikan kepada BPBD untuk dijadikan bahan Penyusunan Penyelenggaraan PB,” tandas Alamsyah. (Red: Fathoni)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Khutbah, Daerah, Jadwal Kajian Siti Efi Farhati

Kamis, 07 Desember 2017

Penguatan Jejaring IPPNU Melalui Sosmed Mutlak Dilakukan

Jakarta, Siti Efi Farhati

Sekretaris Umum PP IPPNU Eva Rosdiana Dewi mengatakan pentingnya penggunaan media sosial untuk memperluas sarana pengenalan serta bagian dari eksistensi organisasi. 

Hal ini disampaikan ketika menerima kunjungan silaturahim Ranting Pagedangan, Kecamatan Adiwerna Kabupaten Tegal Jawa Tengah bertempat di Masjid An-Nahdlah tanggal, Kamis 5 Mei 2016. 

Penguatan Jejaring IPPNU Melalui Sosmed Mutlak Dilakukan (Sumber Gambar : Nu Online)
Penguatan Jejaring IPPNU Melalui Sosmed Mutlak Dilakukan (Sumber Gambar : Nu Online)

Penguatan Jejaring IPPNU Melalui Sosmed Mutlak Dilakukan

Dalam kesempatan tersebut Eva memberikan motivasi untuk semakin meningkatkan kualitas pribadi baik secara intelektual maupun penguatan kader secara kuantitas. 

Eva juga menegaskan, PP IPPNU siap mengawal pengkaderan dari tingkat ranting sampai tingkat wilayah/provinsi, terutama tentang peremajaan usia di IPPNU maksimal usia 30 tahun. Eva juga menegaskan bahwa IPPNU dari tingkat ranting harus tertib secara administrasi, baik secara surat-menyurat atau pendataan anggota (database) secara riil. (Afifah Marwa/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Daerah Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati

Minggu, 03 Desember 2017

Ini Tips Pemutih Alami Cerahkan Kulit Wajah

Sidoarjo, Siti Efi Farhati - Kepala Humas Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar Sidoarjo dr Silvy Rahmah Yanthy mengingatkan bahwa masker pemutih kulit wajah dapat diambil dari bengkoang atau kentang. Menurutnya, masker ini lebih aman dari bahan berbahaya seperti merkuri atau hydroquinone yang terkandung dalam pemutih wajah kemasan.

Untuk membuat kulit putih atau lebih cerah, dokter yang bertugas di Rumah Sakit NU ini menyarankan warga agar menggunakan tabir surya apabila di ruang terbuka (SPF), melakukan scrubing dan peeling (merawat kulit wajah) untuk mengelupas sel kulit mati yang sering membuat kulit wajah terlihat kusam atau gelap.

Ini Tips Pemutih Alami Cerahkan Kulit Wajah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Tips Pemutih Alami Cerahkan Kulit Wajah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Tips Pemutih Alami Cerahkan Kulit Wajah

Scrubing atau peeling maksimum digunakan seminggu dua kali, bisa juga ditambah masker bahan alami seperti bengkoang atau kentang.

“Tanpa mengurangi arti kecantikan pada umumnya, yang terpenting adalah kecantikan dalam diri kita, dan kita merasa cantik. Nantinya yang terpancar adalah apa yang kita pikirkan (cantik)," kata dr Silvy, Sabtu (30/7).

Siti Efi Farhati

Perlu diketahui, setiap individu mempunyai batas maksimum kecerahan kulit, yang artinya hasil pemutih tidak sama antara satu dan yang lain.

“Bila dipaksakan, hasilnya bukan putih, tapi patologik alias sakit,” jelasnya. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Daerah, Budaya Siti Efi Farhati

BPBD Barru Apresiasi Advokasi LPBINU soal Penanganan Bencana

Barru, Siti Efi Farhati. Dalam pembukaan kegiatan Pelatihan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dan Participatory Disaster Risk Assessment (PDRA) yang dilaksanakan oleh Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) bekerja sama dengan Department of Foreign and Trade (DFAT) Australia, Kepala pelaksana harian Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Kabupaten Barru, Abdul Kadir mengucapkan terima kasih kepada LPBINU dan BPBD Kabupaten Barru merasa terbantu oleh kegiatan-kegiatan terkait penanggulangan bencana (PB) yang telah, sedang, dan akan dilaksanakan oleh LPBINU.?

Menurut Kadir, penanggulangan bencana seharusnya dilaksanakan oleh pemerintah, masyarakat, dan pelaku bisnis. Yang menjadi persoalan utama saat ini adalah bagaimana penyelenggaraan PB dapat berlangsung secara partisipatoris. Para pihak terutama masyarakat mampu mengenali risiko dan memiliki kapasitas untuk melakukan upaya PRB. “Oleh karena itu, diperlukan banyak kegiatan seperti pelatihan untuk meningkatkan kapasitas mereka,” ujarnya.

BPBD Barru Apresiasi Advokasi LPBINU soal Penanganan Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
BPBD Barru Apresiasi Advokasi LPBINU soal Penanganan Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)

BPBD Barru Apresiasi Advokasi LPBINU soal Penanganan Bencana

Pelatihan PRB dan PDRA akan berlangsung selama 4 (empat) hari, 07-10 September 2016. Pelatihan diikuti oleh 30 peserta yang berasal dari berbagai institusi, diantaranya LPBI NU Kabupaten Barru, Fatayat NU, GP Ansor, Tokoh masyarakat, TP PKK, karang taruna, Lembaga pendidikan, dan Pelaku usaha kecil dan menengah. Mayoritas peserta merupakan masyarakat Desa Lalabata. Desa Lalabata dipilih sebagai lokasi dan praktek pelatihan dengan pertimbangan bahwa desa ini memiliki risiko tinggi terjadi bencana banjir. Hampir setiap tahun Desa Lalabata terjadi banjir akibat curah hujan yang tinggi.?

Dalam Pelatihan PRB dan PDRA ini sedikitnya akan dibahas 7 (tujuh) materi, meliputi: Konsep dasar manajemen risiko bencana; Kebijakan dan sistem Penanggulangan Bencana; Daur bencana dan tahapan dalam penyelenggaraan Penanggulangan Bencana; Kajian risiko partisipatif dan pengorganisian komunitas; Kajian Analisis Bencana (Ancaman, Kerentanan, Kapasitas, dan Risiko Bencana) dan Tindakan PRB; Pendekatan Kajian/Analisis Pengurangan Risiko Bencana dengan Teknik Participatory Disaster Risk Assessment (PDRA); dan Menakar risiko bencana partisipatif.?

Hadir sebagai narasumber, Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Barru, Abdul Kadir dan ketua PCNU Kabupaten Barru, KH. Irham Djalil, dan PP LPBI NU, Rurid Rudianto. Sedangkan bertindak sebagai trainer Pelatihan PRB dan PDRA adalah Sofyan dari Sangga Buana. Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta diharapkan memiliki pemahaman tentang konsep dan pengertian dasar penanggulangan bencana dan pengurangan risiko bencana; mampu menjelaskan upaya PRB secara komprehensif; mampu menyusun kajian risiko bencana dengan teknik PDRA; dan memiliki kemampuan dasar dalam menyusun rencana aksi pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat. Di akhir sesi, peserta didorong untuk membuat rencana aksi komunitas yang diharapkan dapat dilaksanakan secara nyata di tengah masyarakat untuk mewujudkan upaya PB dan PRB yang lebih baik. (Red: Fathoni)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Daerah, Berita Siti Efi Farhati

Kamis, 23 November 2017

Segenap Warga NTT Blokir Kemungkinan Migrasi Anggota ISIS

Kupang, Siti Efi Farhati. Kabid Humas Polda NTT AKBP Okto G Riwu meminta warga NTT untuk berjaga dari kemungkinan masuknya anggota organisasi terlarang ISIS ke wilayah Nusa Tenggara Timur. Polda NTT siap menindaklanjuti laporan pemuka agama, aktivis pemuda, unsur mahasiswa, perangkat desa hingga RT perihal gerakan mencurigakan di daerah masing-masing.

“Polda NTT dan Polres Kupang berharap masyarakat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat bersama-sama membantu mengatasi perkembangan organisasi ini. Jika ditemukan wadah ini berada di NTT, segera laporkan ke pihak keamanan setempat agar bisa diantisipasi,” kata Okto G Riwu kepada Siti Efi Farhati di Kupang, Rabu (6/8).

Segenap Warga NTT Blokir Kemungkinan Migrasi Anggota ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
Segenap Warga NTT Blokir Kemungkinan Migrasi Anggota ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

Segenap Warga NTT Blokir Kemungkinan Migrasi Anggota ISIS

Tokoh agama Islam dan ormas Islam, menurut Okto, dapat memperingatkan masyarakat melalui khutbah Jumat dan komunitasnya. Peringatan ini dimaksudkan untuk mengantisipasi dan menangkal berkembangnya pengikut ISIS.

Siti Efi Farhati

Presiden dan Kapolri sudah menyatakan ISIS sebagai paham terlarang. Karenanya, siapa saja yang mengikuti paham ini dinyatakan salah. Isis merupakan bagian organisasi terlarang dan radikal. “Jangan sampai masyarakat terpropaganda dengan aliran sesat seperti itu. Paham ? ekstrem ISIS mengajarkan bahwa orang yang berbeda dengan pemikiran ISIS itu adalah musuh.”

Siti Efi Farhati

Sementara Satuan Polres Kupang Kota tengah melakukan upaya-upaya pencegahan. Mereka malkukan pemantauan di setiap gerbang masuk dan gerbang keluar. Sejumlah pemantauan ditempatkan di pelabuhan maupun di bandara Eltari Kupang.

Ketua RT 26 RW 7 kelurahan Kayu Putih Mahmud Yunus mengimbau rekan-rekan ketua RT lainnya di Kota Kupang agar tetap memantau para pendatang baru. “Setiap RT perlu mengetahui persis pendatang baru agar ruang gerak berikut aktivitas mereka bisa terpantau,” tegas Yunus. (Ajhar Jowe/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Daerah, Pendidikan Siti Efi Farhati

Sabtu, 18 November 2017

PMII Ibnu Aqil Bantu Pengungsi Kelud Pulang ke Rumah

Malang, Siti Efi Farhati. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Ibnu Aqil mengantarkan pulang ribuan warga yang meninggalkan rumah akibat letusan gunung Kelud ke kediaman masing-masing. Bersama TNI dan Polri, aktivis PMII ini berangsur-angsur mengantar warga dangan truk yang disediakan di tiap posko di kabupaten Kediri, Ahad (23/2).

PMII Ibnu Aqil Bantu Pengungsi Kelud Pulang ke Rumah (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Ibnu Aqil Bantu Pengungsi Kelud Pulang ke Rumah (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Ibnu Aqil Bantu Pengungsi Kelud Pulang ke Rumah

Kendati banyak kehilangan harta benda akibat hancur oleh abu panas Kelud, warga tampak bahagia kembali beraktivitas di kampung halaman yang sudah beberapa hari ditinggalkan. Tetapi banyak juga yang memilih bertahan di pengungsian dengan bantuan seadanya.

Diperkirakan, jumlah rumah rusak berat sebanyak 8.622 unit, rusak sedang 5.426 unit, dan rusak ringan 5.088 unit di Kediri. Untuk itu, meski gunung Kelud statusnya turun menjadi siaga 1, namun korban tetap harus bekerja keras untuk membersihkan debu, membangun rumah untuk kemudian beraktivitas seperti biasa.

Siti Efi Farhati

Sementara di Malang fasilitas umum dan rumah warga mulai dibersihkan. Tampak pemerintah setempat memperbaiki jalan dan sarana umum lainnya.

“Meski keadaan mulai membaik, namun warga masih membutuhkan logistik yang dibutuhkan sehari-hari. Pada saat gunung meletus, beberapa warga belum sempat menyelamatkan harta bendanya,” terang Yudha kepada Siti Efi Farhati. (Diana Manzila/Alhafiz K)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Daerah, Ulama, AlaSantri Siti Efi Farhati

Kamis, 09 November 2017

Ini Tujuh Wasiat Rasulullah SAW Kepada Abu Dzar

Jandab bin Janadah, populer dengan nama Abu Dzar Al-Ghifari, termasuk sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW. Ia disebut sebagai orang yang paling baik, ramah, dan santun perangainya. ‘Ali bin Abi Thalib, sebagaimana yang dikutip Al-Mizi dalam Tahdzibul Kamal mengatakan, “Saya mendengar Rasulullah SAW berkata, ‘Setiap nabi diberikan tujuh orang (sahabat) mulia dan halus (sifat dan tabiatnya), sementara aku diberikan 14 orang yang baik lagi halus bawaannya.’” Di antara sahabat yang dimaksud Rasulullah SAW ialah Abu Dzar Al-Ghifari.

Menurut catatan sejarah, Abu Dzar pertama kali masuk Islam di Mekah, kemudian dia kembali ke kampung halamannya, dan pergi ke Madinah ketika Nabi Muhammad SAW hijrah ke sana. Sahabat ini meninggal pada tahun 32 hijriah, tepatnya masa pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan.

Ini Tujuh Wasiat Rasulullah SAW Kepada Abu Dzar (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Tujuh Wasiat Rasulullah SAW Kepada Abu Dzar (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Tujuh Wasiat Rasulullah SAW Kepada Abu Dzar

Semasa hidupnya, Rasulullah pernah berpesan tujuh hal kepada pemuda berkulit sawo matang ini. Wasiat ini terekam dalam kitab Bughyatul Bahits ‘an Zawaid Musnad Harits karya Ibnu Abi Usamah (w 282 H). Isinya berikut ini:

Siti Efi Farhati

? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?"

Siti Efi Farhati

Artinya, “Karibku? (Nabi Muhammad SAW) mewasiatkan tujuh hal kepadaku: pertama, agar aku senantiasa melihat orang yang di bawahku dan jangan sekali-kali melihat orang yang di atas; kedua, mencintai orang miskin dan mendekati mereka; ketiga, selalu berkata benar, meskipun pahit; keempat, tidak meminta-minta kepada siapapun; kelima, menjalin tali silaturahmi sekalipun mereka berpaling; keenam, tidak takut dicaci ketika berdakwah di jalan Allah, ketujuh; memperbanyak membaca la haula wa quwwata illa billah.”

Tujuh pesan yang disampaikan Nabi SAW ini tentu tidak terkhusus untuk Abu Dzar semata. Kendati wasiat ini disampaikan kepadanya, namun makna hadits ini tetap berlaku umum. Siapapun dianjurkan bahkan diwajibkan. Ini sejalan dengan kaidah, al-‘ibratu bi ‘umumil lafdzi la bi khususis sabab (yang menjadi patokan keumuman redaksi hadits, bukan konteks spesifiknya).

Dilihat dari isi wasiatnya, sebagian besar nasihat Nabi SAW ini sangat layak dijadikan panduan menjalani kehidupan. Terlebih lagi, kontennya tidak hanya berisi ibadah ritual, tapi juga berupa panduan etika, motivasi hidup, dan panduan bermasyarakat.

Misalnya, Nabi meminta untuk melihat orang yang di bawah kita dan jangan terlalu fokus pada orang yang di atas kita. Maksudnya, dalam menjalani kehidupan tentu ada yang memiliki kelebihan dan kekurangan, sering kali kita iri terhadap orang yang diberikan kelebihan, akibatnya kita malah menjadi orang yang kurang bersyukur.

Dengan memperhatikan kondisi hidup orang di bawah kita baik dari sisi ekonomi, pendidikan, maupun kesehatan, hal ini akan memupuk keprihatinan dan rasa syukur terhadap nikmat yang sudah diberikan Tuhan.

Begitu pula dengan anjuran mencintai fakir miskin dan mendekati mereka. Kita dituntut memperhatikan mereka dan memberikan sebagian kelebihan yang kita miliki? untuk membantu kehidupan mereka. Memberikan bantuan terhadap fakir miskin tersebut membuat ikatan persaudaraan dan kemanusiaan kita semakin menguat. Semoga kita dapat mengamalkan isi wasiat ini. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Daerah Siti Efi Farhati

Reorientasi Dakwah

Oleh Muhammad Zidni Nafi’

--Dakwah selama ini dipahami terlalu dipersempit. Orientasi dakwah tidak selalu untuk mengajak masyarakat agar disiplin dalam melaksanakan ritual ibadah. Tetapi dakwah juga dapat digerakkan bisa dikembangkan pada bidang-bidang kemasyarakatan, dalam konteks ini dakwah sebagai media untuk memberikan stimulan kepada masyarakat agar tergugah untuk mendidik, membangun, mengembangkan dirinya sehingga dapat memanfaatkan segala potensi dan lingkungan disekitarnya.

Muncul pertanyaan, mampukah “dakwah” menjawab problem di atas? Lazimnya, seorang tokoh agama yang sudah mempunyai wibawa sehingga masyarakat bakal meng’iya’kan apapun kata tokoh agama tersebut. Inilah salah satu peluang untuk mengajak masyarakat dengan dakwah-dakwah khusus yang membangunkan mental-mental kemandirian masyarakat.

Reorientasi Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Reorientasi Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Reorientasi Dakwah

Dakwah dan Orientasi

Dakwah dalam pengertian bahasa berarti mengajak, menyeru, memanggil. Berangkat dari pengertian bahasa itu, lalu dihubungkan dengan nash (teks) Al-Qur’an dan hadist yang berkaitan dengan dakwah Islamiah, Syaikh Ali Mahfudh dalam karyanya yang berjudul Hidayah al-Mursyidin menetapkan definisi dakwah sebagai suatu usaha mendorong (memotivasi) untuk berbuat baik, mengikuti petunjuk (Allah), menyuruh orang untuk mengajarkan kebaikan, melarang mengerjakan kejelekan, agar dia bahagia di dunia dan akhirat (KH. MA. Sahal Mahfudh, 2012: 105).

Dari situ dapat dipahami, bahwa dakwah merupakan usaha sadar untuk mengajak orang lain bagaimana untuk meraih tujuan dengan jalan berbuat baik dan meninggalkan keburukan. Melakukan dakwah pada dasarnya adalah memberikan motivasi kepada orang lain yang memerlukan perhatian. Jelas bahwa orientasi dakwah tidak lain adalah untuk tercapainya kesejahteraan dan kebahagiaan dunia hingga akhirat (sa’adatuddarain). Dalam konteks ini, tentu dakwah yang dimaksud bukanlah dakwah yang sifatnya konvensional, namun diarahkan pada dakwah-dakwah pemberdayaan masyarakat.

Siti Efi Farhati

Sayangnya, tidak banyak dari para tokoh agama yang subtansi dakwahnya memotivasi masyarakatnya dalam membangun mental dan menggiatkan usaha untuk tercapainya kemandirian sosial maupun ekonomi. Monoton, normatif bahkan dogmatis yang nampak dalam dakwah yang selama ini kebanyakan dijalankan oleh para tokoh dakwah. Padahal dakwah merupakan media yang bagus, netral dan efektif, karena langsung menyentuh dan sudah melekat dalam ritual keagamaan masyarakat.

Masyarakat sebagai sasaran utama dakwah terbawa nuansa-nuansa dakwah yang biasanya terpaku pada dimensi rohaniah. Di samping juga kelemahan masyarakat itu sendiri untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Pelaku dakwah tentu harus tahu persis kebutuhan dakwah yang dibutuhkan oleh suatu kelompok masyarakat. Begitu pula mereka harus menggali potensi-potensi (manusia, alam dan teknologi) yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang kebutuhan kelompok, baik kebutuhan jangka pendek maupun jangka panjang, maupun kebutuhan yang mendesak atau mendasar.

Berangkat dari premis-premis di atas, dapat dipahami bahwa dakwah harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat sasaran. Dalam konteks ini, KH. MA. Sahal Mahfudh atau yang akran disapa Mbah Sahal memberikan perhatian lebih dalam materi dakwah juga perlu dipilah, antara ritual keagamaan dan semangat pemberdayaan. Pemilahan materi dakwah penting untuk diperhatikan. Apabila dakwah berorientasi pada pemenuhan kebutuhan kelompok, maka dibutuhkan pendekatan yang partisipatif, bukan pendekatan teknokratis. Artinya, disamping memotivasi, masyarakat juga diajak untuk bergerak melaksanakan materi dakwah pemberdayaan yang sudah disampaikan.

Dengan pendekatan itu, kebutuhan masyarakat sasaran dakwah yang akan diberdayakan oleh para motivator dakwah (kader) akan berjalan beriringan antara materi dan praktek. Pendekatan seperti ini memerlukan monitoring yang up to date sebagaimana yang kini dikembangkan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat yang populer disebut “riset aksi”.

Dengan demikian, dakwah yang tidak dilakukan dengan perencanaan global yang turunan dari atas (top down), yang kadang-kadang sampai di bawah tidak menyelesaikan masalah. Perencanaan model top down sering mengabaikan pemetaan masalah, potensi, dan hambatan spesifik berdasarkan wilayah atau kelompok, jenis kelamin, dan sebagainya.

Siti Efi Farhati

Tipe masalah satu kelompok masyarakat lain di tempat yang berbeda. Dakwah inilah yang sekarang Sahal Mahfudh sebut dengan dakwah bil hal atau dakwah pembangunan, atau dakwah bil hikmah menurut istilah di Al-Qur’an. Seperti yang tercantum dalam surat al-Nahl ayat 25, “Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan jalan yang baik”.

Orang menyebut dakwah bil hal, barangkali merupakan koreksi dakwah selama ini yang banyak terfokus pada dakwah mimbar yang monoton dari sisi penerimaan pembicaranya, sementara dana dan daya habis untuk kegiatan semacam itu tanpa ada arti perubahan berarti.

Namun kalau melalui dakwah bil hal atau dakwah bil hikmah, apakah dakwah bil lisan atau mau’izhah hasanah ditinggalkan? Sama sekali tidak. Sebab harus tetap ada dakwah model mau’izhah hasanah. Karena dakwah yang dicontohkan Mbah Sahal seperti dakwah di atas mimbar tetap penting dalam konteks-konteks tertentu. Juga tidak ditinggalkan metode dakwah yang lainnya, misalnya mujahadah, seperti forum dialog, seminar, simposium, atau diskusi-diskusi.

Metode Penunjang

Melihat sasaran dakwah yang begitu luas, sementara perkembangan teknologi begitu pesatnya, maka dalam menjalankan dakwah juga perlu menggunakan media yang sesuai dengan selara sasaran dakwah. Jika diklasifikasikan bisa ditinjau dari umur, status sosial, tingkat pendidikan, dan kebutuhan kelompok sasaran itu sendiri. Karena dakwah yang berorientasi pada sasaran itu tidak pada ‘ruangan’ yang hampa. Ruangan sudah terisi budaya, sistem nilai, teknologi dan perundang-undangan yang sudah mengakar.

Pembangunan masyarakat adalah proses dari serangkaian kegiatan yang mengarah pada peningkatan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat. Setidaknya ada kesamaan antara keduanya. Ia sama-sama ingin mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat atau sekelompok sasaran. Dan ia sama-sama meningkatkan kesadaran dari perilaku dari perilaku tidak baik untuk berperilaku yang baik.

Pada akhirnya, dakwah yang tidak memenuhi selera sasaran dan tujuan, meskipun berjalan, tetapi ibarat berjalan di tempat, atau dengan kata lain, maju tidak, mundur bisa jadi. Hal ini karena orientasi pembangunan negara untuk kepentingan masyarakat, harus lebih diutamakan, bukannya pengembangan sumber daya manusia yang tinggi maupun penguasaan teknis hanya untuk memenuhi kebutuhan modernisasi.

Dengan kata lain, bukan modernitas yang lebih dikejar melainkan terpenuhinya rasa keadilan dalam kehidupan bermasyarakat yang harus diutamakan. Kehidupan modern yang penuh kenikmatan bagi sekelompok orang bukanlah sesuatu yang dituju Islam, melainkan kesejahteraan bagi seluruh penduduk. Prinsip ini sangat menentukan bagi keberlangsungan hidup sebuah negara (Abdurrahman Wahid, 2006: 96).

Hemat penulis, metode dan materi dakwah haruslah disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan objek itu sendiri. Dakwah bukan lagi cara orang untuk meyakinkan orang lain untuk percaya kepada Tuhan yang Haqq, tetapi untuk menggerakkan masyarakat akan menjadi hamba Allah dan warga negara yang terampil, kreatif mandiri dan mempunyai orientasi hidup yang progresif.

?

Muhammad Zidni Nafi’, alumni Ma’had Qudsiyyah Kudus, mahasiswa jurusan Tasawuf Psikoterapi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, kontributor Siti Efi Farhati Bandung.

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pendidikan, Daerah Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock