Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Maret 2018

Presiden Jokowi Setuju untuk Memperkuat Pendidikan Diniyah dan Pesantren

Jakarta, Siti Efi Farhati. Guna mengantisipasi perubahan di dunia yang sangat cepat, Presiden Joko Widodo (Jokowi) setuju agar pendidikan diniyah, pendidikan keagamaan di pesantren-pesantren harus diperkuat.

“Perubahan seperti ini bisa menjadikan kita baik, bisa menjadikan kita tidak baik. Inilah tugas kita mengantisipasi. Bagaimana membangun karakter-karakter anak-anak kita, yang bisa menjaga harkat bangsa ini dari arus-arus perubahan global yang begitu sangat cepatnya,” kata Presiden Jokowi saat menghadiri Penutupan Musyawarah Kerja Nasional II dan Workshop Nasional (Bimbingan Teknis) Anggota DPRD PPP Se-Indonesia, di Hotel Mercure Ancol, Jakarta, Jumat (21/7) siang.?

Presiden Jokowi Setuju untuk Memperkuat Pendidikan Diniyah dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Jokowi Setuju untuk Memperkuat Pendidikan Diniyah dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Jokowi Setuju untuk Memperkuat Pendidikan Diniyah dan Pesantren

Kepala Negara mengingatkan kepada semua pihak untuk berhati-hati, karena 5 tahun yang akan datang, kemudian 10 tahun yang akan datang akan ada perubahan yang sangat drastis.

Ia menyebutkan, ada yang namanya generasi W, generasi Y, yang sekarang baru berumur 15 tahun, berumur 20 tahun, berumur 25 tahun. Selanjutnya, Presiden menambahkan yang 5 tahun lagi akan masuk pasar, akan masuk dan men-drive, mengemudikan perubahan-perubahan itu.

“Generasi Y ini, generasi W, 10 tahun yang akan datang, mereka akan menguasai dan mempengaruhi pasar,” ujar mantan Gubernur DKI Jakarta ini.

Siti Efi Farhati

Oleh sebab itu, tutur Jokowi, sekarang saatnya kita mengisi mereka dengan sebuah karakter-karakter yang baik, sehingga perubahan itu tidak mengubah wajah keislaman kita.

“Inilah yang harus diantisipasi. Banyak dari kita yang belum sadar akan perubahan yang sangat cepat ini,” tutur mantan Wali Kota Solo, Jawa Tengah ini.

Menurut Presiden, nantinya, entah apakah ada lagi yang baca koran, mungkin sangat sedikit sekali. Presiden juga menambahkan bahwa kemungkinan tidak ada yang lihat TV lagi, karena yang namanya generasi Y, setiap hari membawa smartphone, berita juga klik di situ, berita-berita online.?

Siti Efi Farhati

Presiden juga menambahkan bahwa generasi berikutnya tidak lihat TV karena nanti yang laku adalah Netflix, video-video yang langsung bisa dilihat di dalam smartphone itu.

“Kalau kita dari sekarang tidak menyiapkan mereka, mengisi mereka dengan jiwa-jiwa yang mulia, dengan jiwa-jiwa baik. Apakah yang akan terjadi?” tanya Presiden.

Inilah, lanjutnya, yang perlu dirinya mengingatkan, menyadarkan pada kita semuanya, bahwa perubahan itu sudah di depan kita.

“Oleh sebab itu, sekali lagi, memperkuat pendidikan diniyah, memperkuat pendidikan pondok-pondok pesantren, memperkuat pendidikan keagamaan yang masih, itu menjadi kunci agar perubahan itu tidak mengubah kita,” tutur Presiden Jokowi.

Tampak hadir dalam acara tersebut antara lain, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang KH Maimoen Zubair, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Kepala Staf Kepresidenan, Teten Masduki, dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. (setkab.go.id/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Budaya, Cerita, Internasional Siti Efi Farhati

Rabu, 14 Februari 2018

Sumber Gerakan Radikal adalah Pemahaman Agama Eksklusif

Jakarta, Siti Efi Farhati. Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI Abdurrahman Masud mengatakan, sumber dari gerakan radikal adalah pemahaman Agama yang eksklusif dan tertutup.

Sumber Gerakan Radikal adalah Pemahaman Agama Eksklusif (Sumber Gambar : Nu Online)
Sumber Gerakan Radikal adalah Pemahaman Agama Eksklusif (Sumber Gambar : Nu Online)

Sumber Gerakan Radikal adalah Pemahaman Agama Eksklusif

"Eksklusivisme adalah inti dari pada gerakan radikal," katanya usai memberikan pidato kunci dalam acara Halaqah Pencegahan Anak dari Gerakan Radikal di Hotel Puri Denpasar Jakarta, Selasa (29/8).

Menurut dia, pemahaman Agama yang eksklusif atau tertutup cenderung merasa benar sendiri dan menyalahkan yang lain. Ironisnya, gelombang pemahaman Agama yang demikian semakin meningkat pada ranah anak di sekolah-sekolah.

Abdurrahman juga menyebutkan, potensi gerakan radikal yang berbasis pada pemahaman ideologis terjadi di semua agama, baik di lingkungan umat muslim maupun non-muslim.

Siti Efi Farhati

"Artinya radikalisme merupakan persoalan semua kelompok masyarakat dan seluruh umat beragama," jelasnya.

Ia berpendapat, masalah radikalisme seharusnya diselesaikan dari lingkungan terkecil atau keluarga. Baginya, keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam menghadang gerakan radikal, terutama terhadap anak-anak.

Siti Efi Farhati

"Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak-anak," tegasnya.

Selain itu, imbuh Abdurrahman, guru di sekolah juga seharusnya menjadi garda terdepan dalam memberikan pemahaman agama yang inklusif atau terbuka kepada anak didiknya.

Pengarusutamaan Islam damai dan toleran

Abdurrahman menjelaskan, ada beberapa hal yang harus dilakukan untuk mengarusutamakan Islam yang damai dan toleran di sekolah-sekolah. Pertama, membekali guru-guru agama dengan materi dan metode pembelajaran yang mengedepankan sikap moderasi.

"Hal ini dilakukan melalui pendalaman dan pemahaman aspek keagamaan tentang perdamaian, kerukunan, dan kemanusiaan," urainya.

Kedua, mengaitkan pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, dan pendidikan Pancasila dengan isu-isu baru yang lebih menyentuh kebutuhan dasar seperti kesehatan, kesetaraan gender, pemerintahan yang baik, kesejahteraan ekonomi, dan lainnya. (Muchlishon Rochmat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Cerita, Santri Siti Efi Farhati

Senin, 12 Februari 2018

Upacara Bendera Awali Makesta Pelajar NU Ampel

Boyolali, Siti Efi Farhati. Upacara bendera menjadi awal pembukaan Makesta PAC IPNU-IPPNU Ampel pada Sabtu (9/10). Dengan rancangan layaknya upacara pada umumnya, sebanyak 90 peserta dengan khidmad mengikuti upacara pembukaan Makesta yang dilaksanakan di Lapangan Mekarsari, Kaligentong, Ampel, Boyolali. Upacara tersebut sebagai bukti kecintaan pelajar NU Ampel kepada NKRI.

Upacara Bendera Awali Makesta Pelajar NU Ampel (Sumber Gambar : Nu Online)
Upacara Bendera Awali Makesta Pelajar NU Ampel (Sumber Gambar : Nu Online)

Upacara Bendera Awali Makesta Pelajar NU Ampel

Menurut koordinator kegiatan, Arif Syaiful Anwar, pembukaan Makesta PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Ampel memang dirancang berbeda untuk mengurangi kebosanan peserta Makesta.

"Biasanya pembukaan Makesta dilakukan indoor (dalam ruangan) dan monoton. Kita ingin buat upacara bendera agar suasana lebih khidmad, sehingga ghirah (semangat) pada NKRI dan NU tumbuh," tutur pria yang kerap disapa Arif tersebut.

Makesta PAC IPNU-IPPNU Ampel yang dilaksanakan pada 9-10 Desember 2017 di Gedung NU Center Ampel berhasil merekrut 90 kader baru. Sebagai PAC baru, jumlah tersebut terhitung cukup banyak. Sebelum diadakan Makesta, dibentuk terlebih dahulu koordinator kegiatan yang terdiri dari kader pelajar NU Ampel yang kemudian menjadi garda terdepan dalam pelaksanaan Makesta.

Siti Efi Farhati

Selain diberikan pengetahuan tentang NU, Aswaja, Organisasi, IPNU-IPPNU, para peserta juga dikenalkan dengan aparat penegak hukum dari Polsek Ampel. Pengenalan tersebut diberikan agar peserta mengenal dan lebih dekat dengan aparat penegak hukum di Kecamaran Ampel.

"Kita turut hadirkan bapak-bapak polisi di Polsek Ampel agar pelajar NU juga lebih dekat dengan aparatur negara," terang Arif.

Kegiatan pengenalan tersebut diwujudkan dengan pelatihan PBB oleh Polsek Ampel.

Siti Efi Farhati

"Walaupun PBB adanya di Diklatama CBP-KPP, akan tetapi materi tersebut kita sisipkan di Makesta agar CBP-KPP juga dikenal para pelajar NU Ampel," tambah Arif.

Ketua MWC NU Kecamatan Ampel, KH Umar Al Faruq mengungkapkan kebahagiaanya atas terselenggaranya Makesta ini.

"Kami sangat bahagia karena di Ampel banom IPNU-IPPNU sudah terbentuk. Kami sangat berharap agar kader IPNU-IPPNU nantinya menjadi kader militan yang akan meneruskan perjuangan NU di Ampel ini," ungkapnya.

Kegiatan makesta diakhiri dengan outbond oleh tim fasilitator PC IPNU-IPPNU Kabupaten Boyolali. (Maghfur/Kendi Setiawan)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pondok Pesantren, Cerita, Pemurnian Aqidah Siti Efi Farhati

Selasa, 06 Februari 2018

Warga Nisam Bedah Bab Puasa Kitab I’anatut Thalibin

Aceh Utara, Siti Efi Farhati. Puluhan santri dan warga Nisam memperdalam wawasan ilmu Syar’i di masjid Dayah Darut Thalibin gampong Keutapang kecamatan Nisam, Jumat (4/7) sore. Mereka mengikuti pengajian kitab "I’anatut Thalibin" yang diinisiasi Ikatan Pemuda dan Santri (Ikapas) Nisam.

Warga Nisam Bedah Bab Puasa Kitab I’anatut Thalibin (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Nisam Bedah Bab Puasa Kitab I’anatut Thalibin (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Nisam Bedah Bab Puasa Kitab I’anatut Thalibin

“Kegiatan ini antara lain bertujuan menjalin ukhuwah para pelajar, pemuda, mahasiswa, santri, dan tokoh serta ulama setempat,” ujar ketua panitia pengajian Tgk Abdul Munir.

Ayah Nurdin Keutapang mengampu pengajian yang diadakan setiap Jumat sore mulai pukul 14.30-16.00. Ulama kharismatik Aceh ini ialah salah satu alumni terbaik LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga.

Siti Efi Farhati

Selama Ramadhan ini, materi yang dibahas ialah bab puasa dari kitab syarah Fathul Mu’in. Pengajian dibagi menjadi dua sesi, pemaparan materi kitab dan tanya-jawab.

Turut hadir, para tokoh masyarakat dari perangkat kemasjidan Mns Meucat, Imum Syik, Tgk Imum, sejumlah mahasiswa STAIN Malikus Saleh Lhokseumawe, dan mahasiswa Unsyiah Banda Aceh. (Sudi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati News, Cerita, Kajian Siti Efi Farhati

Jumat, 02 Februari 2018

Innalillahi, KH Syafiq Naschan Pengasuh Pesantren An-Nur Jekulo Kudus Wafat

Kudus, Siti Efi Farhati. Suasana duka menyelimuti kota Kudus. Pada Senin (8/6) siang pukul 12.30 WIB Pengasuh Pesantren An-Nur Jekulo Kudus KH Syafiq Naschan wafat. Jenazah kiai yang juga Ketua MUI Kudus ini seketika dimakamkan hari itu pula di pemakaman umum desa setempat. 

Ribuan pelayat dari berbagai kalangan memenuhi rumah duka hingga jalan menuju makam untuk memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum.

Innalillahi, KH Syafiq Naschan Pengasuh Pesantren An-Nur Jekulo Kudus Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Innalillahi, KH Syafiq Naschan Pengasuh Pesantren An-Nur Jekulo Kudus Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Innalillahi, KH Syafiq Naschan Pengasuh Pesantren An-Nur Jekulo Kudus Wafat

Saat upacara pemberangkatan, Mustasyar PBNU KH Syaroni Ahmadi menyampaikan mauidhah hasanah sekaligus sambutan mewakili keluarga. Pada kesempatan itu, Mbah Syaroni mengajak para pelayat mendoakan almarhum sebagaimana perintah sabda Nabi.

Siti Efi Farhati

"Semoga almarhum mengakhiri masa usianya dengan menetapi iman dengan khusnul khatimah, semua amal ibadahnya diterima Allah Swt terutama ibadah hajinya," tutur Kiai Syaroni yang juga besan Almarhum.

Siti Efi Farhati

Disamping menjabat Ketua MUI Kudus, KH Syafiq Naschan semasa hayatnya juga menjadi Ketua IPHI/JHK Kudus, Ketua Yayasan Arwaniyah Kudus dan Ketua Dewan Syuro Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kudus. Ia wafat meninggalkan istri, Hj Basyiroh dan 5 anak. (Qomarul Adib/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Cerita, Hikmah, Sholawat Siti Efi Farhati

Senin, 29 Januari 2018

Banser Jatim Dikerahkan untuk Amankan Natal dan Tahun Baru

Jombang,Siti Efi Farhati. Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jombang Jawa Timur mengerahkan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) untuk membantu pengamanan malam Hari Raya Natal dan Tahun Baru 2014 di sejumlah titik. Pengamanan ini bertujuan agar masyarakat bisa merasa nyaman.

Ketua GP Ansor Jombang Zulfikar Damam Ikhwanto mengatakan, instruksi tersebut sudah diberikan kepada Kepala Satkorcab Jombang untuk membantu dalam pengamanan Tahun Baru dan Natal. "Untuk teknisnya kami berkordinasi dengan pihak kepolisian selaku penanggung jawab. Sedangkan Banser hanya membantu saja," kata Zulfikar, Ahad (21/12).

Banser Jatim Dikerahkan untuk Amankan Natal dan Tahun Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Jatim Dikerahkan untuk Amankan Natal dan Tahun Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Jatim Dikerahkan untuk Amankan Natal dan Tahun Baru

Ia menjelaskan, Banser akan diterjunkan dalam beberapa titik. Di antaranya, Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW), Gereja Bethani, Gereja Pantekosta. Semuanya masih menunggu kordinasi dengan pihak Polres Jombang. Pada intinya, Banser siap untuk membantu pengamanan. Teknis pengamanannya adalah melibatkan Banser di masing-masing PAC GP Ansor se-Kabupaten Jombang.

Siti Efi Farhati

"Nanti di PAC-PAC Ansor akan mengamankan beberap titik. Intinya di PAC Ansor yang ada gereja. Rata-rata per PAC di Jombang ada gerejanya. Dan bagi yang tidak ada gerejanya diminta untuk merapat ke gereja terdekat," jelasnya.

Zulfikar merinci, masing-masing PAC akan mengerahkan 10 Personel Banser, di Kabupaten Jombang terdapat 21 PAC atau Kecamatan. Total se-Kabupaten Jombang terdapat 210 personel pengamanan. Personel itu untuk pengamanan malam Natal.

Siti Efi Farhati

Sedangkan untuk Tahun Baru akan diterjunkan 60 Personel Banser. "Selain yang stand by ada personel Banser yang disiagakan secara mobile sebanyak 15 hingga 20 personel," jelasnya. Banser Mobile ini akan berkeliling menggunakan mobil Banser dan sepeda motor selama malam Natal dan Tahun Baru.

Zulfikar juga mengatakan, upaya tersebut dilakukan untuk menjaga toleransi antarumat beragama di Jombang. Terlebih, Jombang sendiri merupakan daerah yang majemuk. Meski didominasi oleh umat Islam namun umat? beragama lain dapat menjalankan agama dan kepercayaan masing-masing dengan tenang. Banser sebagai benteng ulama harus menjaga nuansa toleransi itu.

"Kami berharap Natal dan tahun di Kabupaten Jombang khususnya dapat berjalan kondusif," pungkas pria bertubuh tambun ini. (Syaifullah/Abdullah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Cerita, Tegal, Bahtsul Masail Siti Efi Farhati

Jumat, 26 Januari 2018

Gus Dur: Tak Boleh Ada VIP, Semua Tamu Saya VIP

Jakarta, Siti Efi Farhati. Sikap sabar, penuh pengertian, dan toleransi juga ditunjukkan oleh Gus Dur kepada putri-putrinya. Menurut Alissa, ketika ia kecil dan misalnya melakukan hal berbeda dari yang seharusnya, Gus Dur tidak pernah memberikan hukuman kepada anak-anak. Saat melakukan kesalahan, ia akan diajak ngobrol dan ditanya, “Itu tadi gimana?”

Gus Dur: Tak Boleh Ada VIP, Semua Tamu Saya VIP (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur: Tak Boleh Ada VIP, Semua Tamu Saya VIP (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur: Tak Boleh Ada VIP, Semua Tamu Saya VIP

Dalam pergaulan, Alissa mengatakan ia dan adik-adiknya tidak dibatasi harus bergaul dengan siapa atau tidak boleh bergaul dengan siapa. Padahal Gus Dur adalah kiai terkenal. Menurut Alissa, tentu saja ada ekspektasi yang berbeda dari lingkungan tentang keluarganya. 

“Beliau tidak pernah membatasi kami. Dan kami mendapatkan kekuatan dari situ,” ujar Alissa saat mengisi program ‘Gus Dur Kita’ di Radio NU Jakarta.

Siti Efi Farhati

Gus Dur memang tidak menanamkan sikap membeda-bedakan terhadap orang lain. Alissa dan melihat sendiri Gus Dur tidak pernah membedakan orang. Adalah sama sikap Gus Dur ketika ketemu dengan santri, orang muda atau tetangga.

Siti Efi Farhati

“Kami belajar itu,” tutur Alissa. “Mau dihormati atau apa, itu tidak membuat kami merasa lebih tinggi. Mereka (yang datang itu) menghormati Gus Dur, saya cuma dapat barokah. Gus Dur sendiri begitu, tidak sombong, masa kami yang cuma anak-anaknya jadi sombong?” 

Alissa menegaskan bahwa Gus Dur tidak pernah mengajarkan atau bersikap gila hormat, apalagi sok priyayi, hal yang biasanya kita temukan pada dalam keluarga pejabat atau tokoh besar. 

“Sewaktu kecil, saat ada tamu walaupun santri biasa, kalau lebih tua kami tetap cium tangan. Nggak diajarkan kalau itu bukan kiai, nggak usah cium tangan,” kata Alissa lagi.

Hal serupa - tidak membeda-bedakam kelas - juga Alissa alami saat ia melangsungkan pernikahan. Untuk menyiapkan resepsi pernikahan Alissa, Gus Dur menekankan kepada panitia dan seluruh keluarga, “Tidak  boleh ada VIP, karena tamu saya semuanya adalah VIP.”

Hal itu membuat heran banyak orang. Panitia resepsi pun banyak diprotes, karena tamu-tamu yang merupakan para pejabat, menteri, politikus dan semacamnya, Harus sama-sama antri dengan tamu-tamu yang lain, yang terdiri dari berbagai kelas sosial. 

“Waktu itu teman-teman kuliah saya sama dengan menteri,” kata Alissa terkekeh. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Cerita Siti Efi Farhati

Selasa, 16 Januari 2018

Kartini Nyantri: Inspirasi Perjuangan

Oleh Fathoni Ahmad

Selama ini RA Kartini dikenal sebagai seorang bangsawan Jawa sekaligus priyayi, cara mudah bagi orang yang pertama kali medengar namanya cukup dengan membaca gelarnya, Raden Adjeng (RA). Raden Adjeng Kartini adalah putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, Bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kiai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI.

Secara spesifik, tulisan ini tidak bermaksud membahas geneologi atau silsilah Kartini, tetapi bagaimana pemikiran revolusionernya tumbuh di tengah tradisi paternalisitik yang kental di lingkungan keluarganya. Tidak bisa dipungkiri, kuatnya paternalisitk inilah yang membuat Kartini selalu mencari jawaban dari anomali yang terjadi. Mengapa peran perempuan seolah hanya menjadi pelengkap kehidupan laki-laki? Tentang jawaban pertanyaan ini, Kartini sudah membuktikan diri dan memberi inspirasi bagi para perempuan untuk berperan sesuai dengan kemampuannya di tengah masyarakat dengan tidak menanggalkan perannya sebagai ibu di rumah tangga dan sebagai perempuan sesuai fitrahnya.

Kartini Nyantri: Inspirasi Perjuangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kartini Nyantri: Inspirasi Perjuangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kartini Nyantri: Inspirasi Perjuangan

Masuk ke topik inti bahwa selain bangsawan Jawa, Kartini ? juga seorang santri. Dia nyantri dan belajar agama kepada Kiai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang, Jawa Tengah ? yang juga dikenal dengan Mbah Sholeh Darat. Sebelum melakukan perjuangan kemerdekaan peran perempuan, pola pikir Kartini terbentuk ketika belajar ngaji kepada Kiai Sholeh Darat. Sebelumnya, kegelisahan demi kegelisahannya muncul ketika fakta yang ada masyarakat hanya bisa membaca Al-Qur’an tetapi tidak diperbolehkan memahami artinya pada zaman itu.

Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis:

Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?

Siti Efi Farhati





Siti Efi Farhati

Al-Qur’an terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Al-Qur’an tapi tidak memahami apa yang dibaca.





Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.





Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?

RA Kartini melanjutkan kegelisahannya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim kepada Ny Abendanon.

Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Qur’an, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya.





Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kita ini terlalu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya.

Sampai akhirnya Kartini bertemu dengan Kiai Sholeh Darat untuk belajar ngaji dan menanyakan berbagai hal yang menjadi kegelisahannya selama ini terkait dengan tidak diperbolehkannya masyarakat memahami isi dan makna Al-Qur’an. Fakta sejarah yang ada, ternyata kebijakan ini datang dari para penjajah dengan asumsi jika masyarakat memahami Al-Qur’an, maka jiwa merdeka akan tumbuh. Tentu hal ini akan mengancam eksistensi kolonial itu sendiri. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa tidak banyak ulama saat itu yang menerjemahkan Al-Qur’an, bukan tidak mau dan tidak mampu, tetapi harus berhati-hati dengan kebijakan Belanda itu.

Fakta sejarah pertemuan antara RA Kartini dengan Kiai Sholeh Darat memang tidak diceritakan Kartini di setiap catatan surat-suratnya. Hal ini tidak lebih karena Kartini sendiri mengkhawatirkan keselamatan Mbah Sholeh Darat karena tidak tertutup kemungkinan kaum kolonial akan mengetahuinya.

Mbah Sholeh Darat sendiri dalam pengajian yang diberikannya kepada Kartini menjelaskan tentang tafsir surat Al-Fatihah. Hal ini seperti yang diceritakan oleh cucu Mbah Sholeh Darat, Nyai Hj Fadhilah Sholeh. Dalam ceritanya, Nyai Fadhilah mengisahkan:

Takdir mempertemukan Kartini dengan Kiai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya.





Kemudian ketika berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak, RA Kartini menyempatkan diri mengikuti pengajian yang diberikan oleh Mbah Sholeh Darat. Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat al-Fatihah. RA Kartini menjadi amat tertarik dengan Mbah Sholeh Darat.





Kiai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kiai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang kiai.





Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.





Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kiai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kiai Sholeh.





“Kiai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?” Kartini membuka dialog.





Kiai Sholeh tertegun, tapi tak lama. “Mengapa Raden Adjeng bertanya demikian?” Kiai Sholeh balik bertanya.





“Kiai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al-Fatihah, surat pertama dan induk Al-Qur’an. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,” ujar Kartini.





Kiai Sholeh kembali tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan, “Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Qur’an ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al-Qur’an adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”

Dialog berhenti sampai di situ. Nyai Fadhila menulis Kiai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali berucap “Subhanallah”. Kartini telah menggugah kesadaran Kiai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam Bahasa Jawa.

Dari riwayat di atas, Kartini menemukan cahaya yang menerangi berbagai kegelapan pengetahuan dan ilmu yang selama ini melingkupinya dengan ngaji kepada Mbah Sholeh Darat. Inspirasi inilah yang membuat Kartini memberi judul buku yang berisi surat-suratnya dengan “Habis Gelap Terbitlah Terang”.

Secara historis, dalam pertemuan itu RA Kartini meminta agar Al-Qur’an diterjemahkan. Karena menurutnya, tidak ada gunanya membaca kitab suci tapi tidak memahami artinya. Namun pada saat itu pula penjajah Belanda secara resmi melarang penerjemahan Al-Qur’an. Mbah Sholeh Darat tetap melakukan penerjemahan, Beliau menerjemahkan Al-Qur’an dengan ditulis dalam huruf “Arab gundul” (pegon) sehingga tidak dicurigai dan dipahami penjajah.

Kitab tafsir dan terjemahan Al-Qur’an ini diberi nama Kitab Faidhur-Rohman, tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab pegon. Kitab ini pula yang dihadiahkannya kepada RA Kartini pada saat dia menikah dengan RM Joyodiningrat, seorang Bupati Rembang. ? Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan:

“Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya. Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari ? ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya, sebab Romo Kiai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa ? yang saya pahami.”

(Inilah dasar dari buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” yang ditulis RA Kartini, bukan dari sekumpulan surat-menyurat beliau. Dalam hal ini, substansi sejarah Kartini konon telah disimpangkan secara siginifikan). Melalui terjemahan Mbah Sholeh Darat itulah RA Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya yaitu:

“Orang-orang beriman dibimbing Allah dari gelap menuju cahaya.” (QS. Al-Baqarah: 257).

Dalam sejumlah suratnya kepada Abendanon, Kartini banyak mengulang kata “dari gelap menuju cahaya” yang ditulisnya dalam bahasa Belanda, Door Duisternis Toot Licht. Oleh Armijn Pane, ungkapan ini diterjemahkan menjadi “Habis Gelap Terbitlah Terang,” yang menjadi judul untuk buku kumpulan surat-menyuratnya.?

Surat yang diterjemahkan Kiai Sholeh adalah Al-Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Namun sayangnya penerjemahan Kitab Faidhur-Rohman ini tidak selesai karena Mbah Kiai Sholeh Darat keburu wafat.

Dari perjumpaannya dengan Mbah Sholeh Darat itu, Kartini juga banyak memahami kehidupan masyarakat yang selama ini terkungkung penjajahan sehingga banyak memunculkan sikap inferioritas terutama di kalangan perempuan. Keterbukaan pandangan dan pemikiran Kartini dari hasil kawruh (belajar) kepada Mbah Sholeh Darat inilah yang membuat langkahnya semakin mantap untuk mengubah tatanan sosial kaum perempuan dan bangsa Indonesia secara keseluruhan. Selamat Hari Kartini!

Penulis adalah Redaktur Siti Efi Farhati.

*) Tulisan ini disarikan dari berbagai sumber.

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Cerita, Pertandingan, Olahraga Siti Efi Farhati

Minggu, 14 Januari 2018

30 Grup Rebana Meriahkan Festival Simtudduror Ansor Batang

Batang, Siti Efi Farhati. Menyongsong peringatan hari lahir (Harlah) ke-81 Gerakan Pemuda Ansor yang jatuh pada 24 April mendatang, Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Batang menggelar Festival Simtudduror di halaman Masjid Agung An Nur Desa Wonobodro, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.

30 Grup Rebana Meriahkan Festival Simtudduror Ansor Batang (Sumber Gambar : Nu Online)
30 Grup Rebana Meriahkan Festival Simtudduror Ansor Batang (Sumber Gambar : Nu Online)

30 Grup Rebana Meriahkan Festival Simtudduror Ansor Batang

Festival tersebut diikuti sedikitnya 30 grup rebana yang terbagi dalam dua kategori, yaitu remaja dan dewasa. Mereka yang berlomba mengumandangkan kasidah dan shalawat dengan iringan musik rebana ini merupakan delegasi dari Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor se-Kabupaten Batang.

“Kegiatan Festival Simtudduror pada tahun 2015 ini merupakan rankaian ketiga. Puncak Harlah insyallah dilaksanakan pada tanggal 19 April 2015 di lapangan Desa Wonobodro dengan menghadirkan Habib Syeikh dari Solo,” ujar Ketua GP Ansor Kabupaten Batang, Umar Abdul Jabar.

Siti Efi Farhati

Festival berlangsung Sabtu (28/3), mulai 08.00 hingga 16.00 waktu setempat dengan dihadiri ribuan pengunjung. Setiap grup mengumandangkan lagu wajib dan pilihan yang ditentukan panitia, yaitu Mars GP Ansor dan Syubbanul Wathan.

Siti Efi Farhati

“Alhamdulilah kegiatan festival rebana ini berjalan dengan baik. Dengan kegiatan ini diharapkan mampu menjadi bagian dari syiar Islam dan penggalian potensi seni di kalangan remaja. Kami sangat bersyukur kegiatan ini mendapatkan apresiasi dan antusias yang sangat luar biasa dari  ribuan pengunjung yang hadir,” tutur ketua panitia, Mahfudz Syaifudin.  

Grup dari PAC Warungasem berhasil tampil sebagai juara 1 kategori dewasa, disusul juara 2 dan 3 dari PAC Blado dan Pecalungan. Sementara Juara 1 kategori remaja diraih delegasi PAC Bawang, disusul Wonobodro (Blado), dan Wonotunggal. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Cerita Siti Efi Farhati

Jumat, 12 Januari 2018

Presiden Jokowi Tegaskan Islam Radikal Bukan Islamnya Indonesia

Jakarta, Siti Efi Farhati. Presiden Joko Widodo dalam Halaqah Nasional Alim Ulama Mejelis Dzikir Hubbul Wathon menegaskan bahwa Islam radikal bukanlah Islam milik Indonesia.

Presiden Jokowi Tegaskan Islam Radikal Bukan Islamnya Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Jokowi Tegaskan Islam Radikal Bukan Islamnya Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Jokowi Tegaskan Islam Radikal Bukan Islamnya Indonesia

"Peran besar ulama kita untuk menyampaikan hal-hal yang berkaitan dengan Islam yang rahmatan lil alamin kepada umat, kepada santri-santri. Tuntunan yang diberikan itulah yang menjadikan kita alhamdulillah rukun, bersatu dalam keberangaman yang sangat beragam, tuntunan yang mewujudkan Islam moderat, Islam yang santun, bukan yang keras dan radikal. Islam radikal bukan Islamnya Majelis Ulama Indonesia. Islam radikal bukan Islamnya Indonesia," kata Presiden Joko Widodo di Jakarta, Kamis (13/7).

Halaqah Nasional Alim Ulama yang mengangkat tema "Memperkokoh Landasan Keislaman Nasionalisme Indonesia" dihadiri oleh Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia yang juga Rais Aam PBNU KH Maruf Amin, Wakil Rais KH Miftahul Akhyar, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, ulama sepuh KH Maimoen Zubair, Kepala Badan Intelijen Negara Budi Gunawan serta sekitar 700 ulama dari berbagai daerah di Indonesia.

"Saya yakin kerukunan, persatuan atas keberagaman di negara kita, menjadi kekaguman dunia terhadap kerukunan Indonesia. Hal itu terjadi karena kemampuan umat Islam Indonesia menerapkan Islam yang rahmatan lil alamin, bukan hanya diucapkan tapi implementasikan dalam kehidupan sehari-hari," ujar Presiden.

Siti Efi Farhati

Sekali lagi Presiden Joko Widodo berharap agar para ulama dapat terus berperan aktif menuntun umat untuk mempererat kerukuran.

"Bukan hanya di antara umat Islam sendiri, tapi juga ukhuwah islamiah kita dan lebih besar lagi ukhuwah basyariyah (persaudaraan berdasar kemanusiaan) karena takdir bangsa Indonesia untuk ditantang dalam mengelola keberagaman dan kebhinekaan kita," kata Presiden.

Presiden juga mengingatkan keuntungan bangsa Indoensia untuk hidup dalam keberagaman namun memiliki Pancasila sebagai ideologi negara dan pandangan hidup bangsa dalam menjalani langkah dan perjalanan bangsa yang majemuk.

Siti Efi Farhati

"Pancasila dengan Islam bukan untuk dipertentangkan dan dipisahkan, Pancasila adalah dasar negara, sementara Islam adalah akidah yang harus kita pedomani. Sila pertama Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, Pancasila menghormati nilai keagamaan, Pancasila berdampingan dengan Islam dan agama lain yang dianut bangsa Indonesia," kata Presiden.

Ia pun berharap agar majelis dzikir dapat berperan untuk menolong bangsa Indonesia kembali ke semangant kerja sama, tolong menolong dalam segala aspek kehidupan untuk mewujudkan Indonesia yang berdaulat, berkepribadian, adil dan makmur.

"Tidak boleh ada yang punya agenda politik tersembunyi maupun terang-terangan yang ingin meruntuhkan NKRI yang berbhineka, tidak boleh ada lagi yang punya agenda mau mengganti dasar negara yang berpancasila," kata Presiden. (Antara/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Quote, Cerita, Habib Siti Efi Farhati

Kamis, 11 Januari 2018

Muslimat NU Berikan Pemahaman Islam kepada Daiyah di Kawasan Transmigrasi

Makassar, Siti Efi Farhati - Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI dan Pimpinan Pusat Muslimat NU menyelenggarakan Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Mental bagi Daiyah Pemukiman Transmigrasi Bina Lingkup Disnakertrans Provinsi Sulawesi Selatan di Hotel Kenari Makassar, Rabu-Sabtu (17-20/2).

Panitia Penyelenggara dari PP Muslimat NU Hj Nurhayati Said Aqil Siroj menuturkan, peserta terdiri 30 muslimah yang berasal dari daerah transmigrasi dan daerah tertinggal di Sulawesi Selatan yakni Luwu Timur daerah Mahalona, Luwu Utara daerah Lantangtallang, Waja daerah Pekkai, Soppeng daerah Watu, Toraja Utara daerah Rantekaroa, Tana Toraja daerah Supi masing-masing mengutus 5 peserta.

Muslimat NU Berikan Pemahaman Islam kepada Daiyah di Kawasan Transmigrasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Berikan Pemahaman Islam kepada Daiyah di Kawasan Transmigrasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Berikan Pemahaman Islam kepada Daiyah di Kawasan Transmigrasi

Kegiatan ini terselenggara atas kesepakatan PP Muslimat NU dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi terkait dengan pengembangan wawasan keagamaan para daiyah di daerah tertinggal dan pemukiman transmigrasi, tambahnya.

Siti Efi Farhati

Hj Nurhayati mengatakan, seluruh peserta akan mendapatkan beberapa materi yakni Aqidah Aswaja, Sirah Nabawiyah, Islam dan Wawasan Kebangsaan, Hakikat, Kedudukan, dan Fungsi Manusia, Fiqih Ibadah, Tajhiz Janaiz, Fiqih Perempuan, Praktik Memandikan Jenazah, Akhlak Daiyah, Fiqih Iktilaf, Prinsip Dakwah Rahmatan Lil alamin, Kebijakan Dinakertrans Sulsel dalam Pembinaan Dai di Pemukiman Transmigrasi dan Kepemimpinan.

"Tentunya materi-materi ini bertujuan memberikan pemahaman komprehensif bagi daiyah, khususnya warga pemukiman transmigrasi terkait wacana keislaman Ahlusunnah Wal Jamaah dan nilai-nilai kebangsaan," tambahnya.

Dirjen Pengembangan Kawasan Daerah Transmigrasi Roosari Tyas Wardani mengungkapkan bahwa dalam UU No 29 tahun 2009 tentang Perubahan atas UU No 15 tahun 1997 tentang Ketransmigrasiaan, telah diamanatkan bahwa penyelenggaraan transmigrasi bertujuan (1) meningkatkan kesejahteraan transmigran dan masyarakat sekitarnya; peningkatan dan pemerataan pembangunan daerah, serta memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.

Siti Efi Farhati

Tiga tujuan ini secara eksplisit menunjukkan bahwa transmigrasi diselenggarakan sebagai upaya mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera dalam bingkai NKRI, dalam konteks pemahaman seperti itulah maka upaya peningkatan kapasitas dan kapabilitas pembina pemukiman transmigrasi dan kader daiyah menjadi hal penting, kata Roosari Tyas.

Adapun pemateri ini adalah Ketua PP Muslimat Dr Sri Mulyati, Ketua PP Muslimat NU Dra Hj Nurhayati Said Aqil Siroj, Dra Hj Haniq Rafiqoh, Drs Haryono, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sulsel Simon S Lopang, dan Ketua PW Muslimat NU Sulsel Dr Hj Nurul Fuadi. (Andy Muhammad Idris/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kiai, Pesantren, Cerita Siti Efi Farhati

Rabu, 10 Januari 2018

Empat Pilar Kekuatan NU yang Harus Dikombinasikan, Apa Itu?

Jakarta, Siti Efi Farhati. Pola relasi organisasi Nahdlatul Ulama (NU) tidak bisa sebatas mengandalkan modernisasi struktur. Memasuki abad ke-2, NU sebagai organisasi harus mampu mengkombinasi empat pilar kekuatan yang dimilikinya, nasab, sanad, struktur, dan kultur.?

Empat Pilar Kekuatan NU yang Harus Dikombinasikan, Apa Itu? (Sumber Gambar : Nu Online)
Empat Pilar Kekuatan NU yang Harus Dikombinasikan, Apa Itu? (Sumber Gambar : Nu Online)

Empat Pilar Kekuatan NU yang Harus Dikombinasikan, Apa Itu?

Empat elemen ini, merupakan penataan pola relasi yang baik organisasi NU menghadapi perkembangan zaman yang semakin dinamis dan terbuka. Sebaliknya, justru yang terjadi hari ini adalah rasa memiliki yang semakin kuat, tanpa diiringi rasa tanggungjawab.?

“Banyak pihak lebih mudah mengatasnamakan NU sebagai jalan pintas mendapat keuntungan, tanpa memikirkan dampaknya buat organisasi, termasuk warga NU,” kata Hery Haryanto Azumi, Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Wasekjen PBNU), Ahad (23/10/2016).

Ia menegaskan, hubungan nasab dan sanad, harus teraplikasi dalam bentuk tanggungjawab struktural dan kultural. Hal ini dilakukan agar setiap program kerja yang digagas bisa terukur. Terutama mengukur setiap risiko dari program kerja.?

Siti Efi Farhati

“Implikasinya terhadap masa depan organisasi NU itu juga harus dipetakan,” tegas mantan Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) ini.?

Kemudian dimana pentingnya Sanad? Ditanya demikian, Hery-demikian ia akrab disapa menambahkan, adalah menanamkan posisi pengetahuan sebagai pondasi dalam perjalanan peradaban manusia. Harapannya, ada gambaran tentang peta pengetahuan secara sektoran dan sebarannya.?

Berarti, lanjut dia, menjadi penting kekuatan sumber daya di tubuh organisasi NU. Sumber daya sosial menjadi basis legitimasi bagi keberadaan NU itu sendiri, baik itu kemarin, hari ini dan masa mendatang. “Ini perlu dukungan kemampuan sumber daya manusia pada struktur organisasi NU, sebagai pelaksana mandat sosial,” ujarnya lagi.?

Modernisasi struktur yang terjadi hari ini, tidak mengikutsertakan nasab dan sanad. Kondisi ini berbahaya dan justru bisa memicu konflik kekuatan struktural dengan kultural, Hery menambahkan.?

Seharusnya, struktur NU mampu mengakomodir kepentingan atau kebutuhan warga NU, dengan melakukan social service sebagai upaya membangun komunikasi timbal balik - simbiosis mutualisme antara jam’iyyah dengan jamaah.

Siti Efi Farhati

“Semua tidak akan berjalan baik, apabila nalar kekuasaan dan mencari keuntungan lebih dominan. Sense of belonging harus seiring dengan sense of responsibility,” tegasnya.?

Untuk itu ke depan, lanjut dia, organisasi NU harus mengintegrasikan empat kekuatan tadi, nasab, sanad, struktur dan kultur, yang fungsinya saling menguatkan. “Cara yang bisa menyatukan kekuatan itu melalui permusyawaratan ulama. Permusyawaratan ulama ini menjadi pengikat,” tandasnya. (Aras/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pesantren, Cerita, AlaNu Siti Efi Farhati

Selasa, 09 Januari 2018

Dilantik, MWCNU Tanjung Janji Giatkan Lailatul Ijtima’

Brebes, Siti Efi Farhati. Pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) Nahdlatul Ulama (NU) Kecamatan Tanjung Brebes dilantik. Kepengurusan untuk periode 2014-2019 itu mengangkat janji d ihadapan Nahdliyin (warga NU) se- Kecamatan Tanjung. Mereka merupakan hasil konferensi MWCNU pada Akhir Juli 2013 lalu.

Dilantik, MWCNU Tanjung Janji Giatkan Lailatul Ijtima’ (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilantik, MWCNU Tanjung Janji Giatkan Lailatul Ijtima’ (Sumber Gambar : Nu Online)

Dilantik, MWCNU Tanjung Janji Giatkan Lailatul Ijtima’

“Kepengurusan kami memang terlambat dilantik akibat banyaknya agenda politik dari pilkades, pileg, hingga pilpres, tapi program sebagai amanat konferensi telah berjalan dengan lancar,” tutur Ketua Tanfidziyah MWCNU Tanjung Kiai Sodikin HS usai dilantik di halaman Majelis Taklim Assidiqiyah Desa Sengon, Tanjung Brebesm, Kamis (26/6/14) malam.

Kiai Sodikin dalam programnya akan menggiatkan terus lailatul ijtima. Pasalnya, di dalam lailatul ijtima bisa menjadi benteng perkuatan paham Ahlussunah wal Jamaah. “Sesuatu yang baik, harus terus dipertahankan dengan menggelar berbagai tradisi seperti dalam NU itu ada lailatul ijtima,” katanya.

Siti Efi Farhati

Dia juga menceritakan, betapa begitu mudahnya budaya memakai iket (tutup kepala dengan kain batik) bagi orang tua Brebes dan sekitarnya hilang karena tidak ada anjuran atau fatwa yang mewajibkan orang tua untuk memakai iket.

“Begitupun dengan tradisi NU, kalau tidak ada keputusan dari para ulama untuk hukum-hukum tertentu maka akan hilang, seperti tahlil, manaqib, barzanji, istighosah dan lain-lain tradisi NU,” terangnya.

Siti Efi Farhati

Menurut Sodikin, keberadaan pengurus di desa-desa untuk menggiatkan tradisi lailatul ijtima akan lebih memperkokoh keberadaan NU dari ancaman paham lainnya.

Pelantikan dilakukan oleh Wakil Ketua PCNU Brebes Drs KH Sodikin Rachman dengan cara membaiat para pengurus. Mereka yang dilantik antara lain Rais Suriyah KH Mudris Toyib SPdI, Katib Wahidin, Tanfidziyah K Sodikin HS, Sekretaris Solikhin SPdI dan Bendahara Mafroni. Dalam kesempatan tersebut juga dilantik 18 Pengurus Ranting (PR) Se Kecamatan Tanjung.

KH Sodikin Rachman dalam kata pelantikannya menghimbau agar bersabar dalam menjalankan roda organisasi. Pasalnya, menjadi pengurus NU tidak mendapatkan gaji apapun hanya berharap mendapatkan berkah dari Allah SWT. “Jangan berharap untuk mendapatkan gaji karena memang tidak digaji, tetapi keberkahan pastilah akan datang tanpa disangka-sangka dari Yang Maha Kuasa,” tuturnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, untuk menjadikan organisasi yang sehat perlu dipatuhi tiga tanda-tanda. Pertama, siklus kepemimpinan harus berjalan sesuai dengan aturan organisasi. Bila masa khidmah pengurus lima tahun sekali harus konferensi tentunya harus dipatuhi. Meskipun pada masanya pengurus tersebut dipilih kembali.

Kedua, ada pembagian tugas yang jelas. Jangan sampai suatu organisasi hanya dipegang oleh ketuanya saja dari urusan penulisan, pegang uang sampai mencari dan membelanjakan uang untuk organisasi. “Masing pengurus bekerja sesuai tugas pokok dan fungsinya sendiri-sendiri walaupun harus diwujudkan bersama-sama,” paparnya.

Organisasi yang sehat, lanjut Sodikin, harus ada Time Schedule atau program kerja dan rentang waktu pelaksanaan yang rapi. Jangan sampai menjalankan program kagetan, contohnya lagi musim pilpres terus rame-rame bikin istighosah mendukung pilihan tertentu.

“Itu keliru, program yang benar ya yang dihasilkan saat konferensi dan direalisasikan pada waktu yang tepat,” tandasnya. (Wasdiun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Khutbah, Cerita Siti Efi Farhati

Kamis, 04 Januari 2018

Lindungi Masjid dari Pihak-pihak Penyebar Permusuhan

Makassar, Siti Efi Farhati. Ketua Pengurus Pusat Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTM-NU) KH Abdul Manan A Ghani mengingatkan para imam, khotib dan ta’mir masjid, untuk melindungi masjid dari pihak-pihak yang menyebarkan fitnah dan permusuhan, serta memecah belah umat.

"Sudah saatnya para imam dan khatib memfungsikan masjidnya sebagai pemersatu bangsa dan melindunginya dari pihak-pihak yang suka memfitnah dan memecah belah umat," ujarnya dalam kegiatan pelatihan kader penggerak (muharrik) masjid di Makassar, Selasa (9/9).

Lindungi Masjid dari Pihak-pihak Penyebar Permusuhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lindungi Masjid dari Pihak-pihak Penyebar Permusuhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lindungi Masjid dari Pihak-pihak Penyebar Permusuhan

Ia menegaskan, sejak zaman Nabi Muhammad SAW, para Sahabat, Tabiin, Tabiit Tabiin, hingga para ulama penerus dakwah Islam, masjid adalah cikal-bakal peradaban dan menjadi pusat gerakan. Di dalamnya, masjid mengelola seluruh aspek kehidupan masyarakat.

Siti Efi Farhati

"Masjid harus digerakkan sebagai penyambung-tangan rahmat Allah yang diinginkan oleh umat Islam," katanya.

Siti Efi Farhati

Kegiatan yang diikuti 150 peserta itu bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme dengan tema "ToT Anti Radikal Terorisme kepada Imam Masjid dan Khotib". Kali ini untuk wilayah Sulawesi Selatan di Makassar diselanggarakan pada Senin-Rabu, 08-10 September 2014.

Selain dari unsur NU, peserta ToT berasal dari beberapa unsur pemerintah dan organisasi kemasyarakatan. Peserta unsur pemerintah antara lain dari Kemenag dan Kesbangpol Sulawesi Selatan, BKPRMI, DDI, Muhammadiyah, dan DMI Wilayah Sulawesi Selatan.

Kegiatan tersebut juga menghadirkan motivator KH Mansur Syaerozi yang juga Wakil Ketua PP LTM-NU. Katanya, untuk menangkal berbagai paham radikal, masyarakat perlu disibukkan dengan berbagai kegiatan positif yang jelas dan maslahat untuk diri dan lingkungannya. Dalam hal ini masjid bisa dijadikan sebagai pusat berbagai kegiatan. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Halaqoh, Cerita, Makam Siti Efi Farhati

Kamis, 21 Desember 2017

Rapat Pleno PBNU Bahas Sejumlah Isu Penting

Wonosobo, Siti Efi Farhati. Rapat Pleno PBNU di Kompleks Pondok Pesantren Universitas Sains Al-Qur’an (Unsiq), Wonosobo, Jawa Tengah, Sabtu-Ahad (7-8/9) akan membahas sejumlah persoalan internal NU dan beberapa rekomendasi terkait isu-isu penting nasional dan internasional.

Rapat Pleno PBNU Bahas Sejumlah Isu Penting (Sumber Gambar : Nu Online)
Rapat Pleno PBNU Bahas Sejumlah Isu Penting (Sumber Gambar : Nu Online)

Rapat Pleno PBNU Bahas Sejumlah Isu Penting

Para peserta rapat Pleno PBNU berjumlah sekitar 130 orang yang terdiri dari pengurus PBNU dari jajaran syuriyah, tanfidziyah, mustasyar dan a’wan, serta ketua-ketua lembaga, lajnah dan badan otonom di tingkat pusat.

Para peserta rapat dibagi ke dalam empat komisi, yakni organisasi, program, penataan aset dan rekomendasi. Masing-masing komisi beranggotakan unsur syuriyah, tanfidziyah, mustasyar dan a’wan, serta ketua-ketua lembaga, lajnah dan badan otonom.

Siti Efi Farhati

Usai pembukaan Sabtu (7/9) besok, para peserta rapat akan mendengarkan laporan perkembangan NU pasca-Munas Cirebon 2012 oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Rapat kemudian dilanjutkan dengan sidang-sidang komisi.

Siti Efi Farhati

Pada komisi program akan dievaluasi sejumlah program PBNU pasca Munas Cirebon yang dilaksanakan oleh lembaga, lajnah, serta beberapa program badan otonom.

Untuk Komisi Organisasi, menurut Ketua Panitia Rapat Pleno PBNU H Arvin Hakim Thoha, akan dibahas konsep Ahlul Halli wal Aqdi, atau model pemilihan baru Rais Aam dan Ketua Umum PBNU untuk disahkan dalam Muktamar mendatang.

“Sudah disiapkan draftnya nanti insyaallah akan dibahas. Pengennya nanti di Muktamar 2015, kita tidak lagi memakai model pemilihan langsung,” katanya.

Selain itu, lanjut Arvin, akan dibahas seputar kedudukan cabang dan wilayah. Sementara ini, kepengurusan cabang dan wilayah NU masih mengikuti administrasi kepemerintahan.

“Yang sekarang ada, berapa pun jumlah warga di PWNU maupun PCNU dan sepadat apapun programnya tetap saja suaranya sama di Muktamar,” katanya.

Pada komisi rekomendasi, Rapat Pleno antara lain akan membahas sikap NU terkait pelaksanaan Pileg dan Pilpres 2014. “Untuk Capres nanti NU tidak akan menitipkan aspirasinya pada satu parpol saja. Tapi nanti ini kan dibahas dalam komisi,” pungkasnya. (A. Khoirul Anam)

Foto:Dok. Siti Efi Farhati: Dari kiri Ketua PBNU H Arvin Hakim Thoha, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Cerita Siti Efi Farhati

Jumat, 15 Desember 2017

Perlu Kesadaran Berpikir Global untuk Hadapi MEA

Bandung, Siti Efi Farhati?

Dalam rangka merayakan Dies Natalis Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung ke-48, digelar Seminar Nasional yang bertajuk ‘Inovasi dan Sinergi Institusi Pendidikan Tinggi dalam Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN’ di aula Multipurpose kampus setempat, Kamis (31/3) kemarin.

Hadir 4 Rektor perguruan tinggi besar di Jawa Barat sebagai narasumber pada Seminar Nasional tersebut, yakni Rektor UIN Sunan Gunung Djati, Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Rektor Universitas Padjajaran (Unpad).

Perlu Kesadaran Berpikir Global untuk Hadapi MEA (Sumber Gambar : Nu Online)
Perlu Kesadaran Berpikir Global untuk Hadapi MEA (Sumber Gambar : Nu Online)

Perlu Kesadaran Berpikir Global untuk Hadapi MEA

Rektor Unpad Tri Hanggono Ahmad memaparkan, dalam konteks era globalisasi yang semakin berkembang pesat, pemahaman terhadap bumi harus dibangun secara utuh. Perkembangan penduduk Bumi sekarang berkisar 7 Miliar manusia.

“Artinya kesadaran berpikir global semestinya harus kita bangun, kita punya satu Bumi. Soalnya tidak jarang kalau kita bicara global, kesannya selalu berpikir kesiapan persaingan. Hadirnya kita, khususnya sebagai umat Islam di Bumi kan harusnya menjadi umat untuk membangun kesejahteraan bagi seluruh bangsa,” papar Tri Hanggono yang mendapat kesempatan narasumber pertama.

Siti Efi Farhati

Menurut dia, salah satu hal penting dalam hubungan global yang sasarannya sulit dicapai adalah aspek partnership. Selain juga adanya kesadaran bersama masyarakat ASEAN untuk bergabung dalam hubungan sesama regional bukan hanya membicarakan wilayah.

Perkembangan perekonomian di ASEAN, Tri Hanggono menilai, akan berpengaruh pada pembangunan dunia. Sebab, potensi pembangunan dunia terlihat di negara-negara yang sedang berkembang.

“Kalau kita bisa bersinergi dengan baik di ASEAN, artinya kita bisa berkontribusi untuk pembangunan global. Upaya kita berkontribusi secara global, kita harus lebih kuat lagi,” ujarnya dihadapan ratusan mahasiswa yang memadati hampir seluruh sudut-sudut aula.

Sementara itu, Rektor UPI H Furqon menggaris bawahi pendidikan sebagai jatidiri bangsa, sehingga baginya pendidikan salah satu aspek yang menentukan masa depan bangsa Indonesia. Apalagi Indonesia akan segera menyosngsong momentum bonus demografi dimanaIndonesia akan memiliki penduduk yang didominasi usia produktif.

Siti Efi Farhati

“Pendidikan di tanah air memanfaatkan bonus demografi dengan menguasi teknologi, keterampilan untuk berkompetisi dengan negara lain, serta mempunyai karakter integritas di mata dunia. Untuk itu perlu ada kesadaran berbasis kearifan lokal, mengembangkan budaya, dan membudayakan masyarakat,” seru Furqon.

Pada kesempatan selanjutnya, Rektor ITB Kadarsah Suryadi meyakini bahwa Indonesia memiliki penduduk sangat banyak, otomatismenjadi pasar yang sangat besar serta menjadi lahan incaran dari negara-negara di ASEAN.

“Ini PR besar untuk kita, MEA tujuannya bagus untuk maju bersama masyarakat ASEAN. Tetapi kalau kita tidak memikirkan kemajuan diri kita sendiri, suatu saat kita akan ditinggalkan oleh negara-negara maju, dan suatu saat kita akan dimakan,” terangnya.

Ia berpesan 4R untuk menghadapi MEA, pertama Rasio. Semua insan itu harus menjadi insan yang pintar, maka diberikan ilmu pengetahuan lewat kuliah, penelitian dan pengabdian. Tapi rasio saja tidak cukup.Yang kedua Raga, badannya harus sehat.

Lalu pintar dan sehat akan berbahaya jika tidak mempunyai akhlak yang mulia, yakni keempat dengan Rasa. Sebab pintar, sehat dan akhlak yang mulia akan dijalankan dengan kepentingan orang banyak. Keempat adalah Religi, karena di atas semuanya adalah agama yang harus dijunjung.

“Insyaallah dengan ini semua kita akan siap menghadapi MEA,” Rektor ahli di bidang biokimia itu.

Rektor UIN H Mahmud sebagai narasumber terakhir menyimpulkan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir terhadap MEA yang digulirkan akhir tahun 2015 kemarin.Kita tak perlu khawatir kalau kita berjamaah,” jelas Rektor ahli di bidang Pendidikan Islam itu.

Menurut Mahmud, untuk menghadapi MEA diperlukan ilmu yang mumpuni, namun tetap dengan berpedoman wahyu memandu ilmu.“Jadi, semua ilmu pengatahuan harus dipandu oleh ayat-ayat Al-Quran dan Sunnah Nabi,” tegasnya. (M. Zidni Nafi’/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Doa, Nahdlatul, Cerita Siti Efi Farhati

Jumat, 01 Desember 2017

Porsema Berupaya Minimalisir Pelajar NU dari Kelompok Radikal

Jepara, Siti Efi Farhati?

Pekan Olahraga dan Seni Ma’arif (Porsema) merupakan kegiatan yang dilaksanakan LP Ma’arif NU untuk meminimalisir pelajar NU dari rongrongan kelompok radikal.?

Pernyataan itu diungkapkan Agus Sofwan Hadi, Ketua PW LP Maarif NU Jawa Tengah dalam Rapat Koordinasi Panitia Porsema X Jawa Tengah di Gedung NU Jepara, Jalan Pemuda No.51 Jepara, Selasa (14/3) kemarin.?

Porsema Berupaya Minimalisir Pelajar NU dari Kelompok Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Porsema Berupaya Minimalisir Pelajar NU dari Kelompok Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

Porsema Berupaya Minimalisir Pelajar NU dari Kelompok Radikal

Menurut Agus, dengan melakukan banyak kegiatan ruang gerak mereka tertutup. Apalagi Porsema X tingkat Jawa Tengah yang rencananya akan dilaksanakan di Jepara 18-21 Mei mendatang sudah ditunggu-tunggu oleh madrasah dan sekolah di Jawa Tengah.?

Hingga warta ini disyiarkan sudah tercatat 20-an Cabang LP Maarif yang sudah mendaftarkan diri. “Jika dihitung sekitar 2881 peserta plus official. Itu belum semuanya. Jumlah total semuanya sekitar 4000an orang lebih,” jelasnya kepada panitia lokal Jepara yang hadir.?

Bersama rombongan pengurus LP Ma’arif Jawa Tengah, ia mengucapkan terima kasih kepada LP Maarif NU Jepara, utamanya PCNU Jepara yang sudah bersedia menjadi tuan rumah pelaksanakan Porsema Jateng.?

Siti Efi Farhati

Ucapan terima kasih juga dia layangkan untuk KONI Jepara yang menurut info yang didengar adalah salah satu mitra kerjasama kegiatan Porsema tersebut.

Ke depan ia berharap Porsema menjadi even tingkat nasional. Hal itu berdasar usulan Cabang-cabang se-Jawa Tengah. Pihaknya sudah menyampaikan kepada PP LP Ma’arif NU. “Semoga tahun depan even ini sudah menjadi even nasional,” harapnya.?

Hadir dalam kesempatan itu KH Hayatun Abdullah Hadziq Ketua PCNU Jepara, Ketua LP Ma’arif NU Jepara, perwakilan KONI Jepara, pengurus LP Maarif NU Jawa Tengah dan panitia lokal. ?

Siti Efi Farhati

Usai Rakor panitia lokal dan pengurus LP Ma’arif NU Jawa Tengah melakukan audiensi dengan Bupati Jepara Ahmad Marzuqi terkait kesuksesan Porsema X Jawa Tengah. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nasional, Cerita, Bahtsul Masail Siti Efi Farhati

Jumat, 17 November 2017

Kurban Media Mengasah Kesalehan Sosial

Bogor, Siti Efi Farhati. Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bogor Ifan Haryanto mengatakan, kurban dimaksudkan untuk napak tilas tentang keteladanan, ketulusan hati, dan ketakwaan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

Kurban Media Mengasah Kesalehan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Kurban Media Mengasah Kesalehan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Kurban Media Mengasah Kesalehan Sosial

"Ritual kurban yg dilakukan oleh umat Muslim dalam peringatan Hari Raya Idul Adha bisa juga dimanfaatkan sebagai media untuk mengasah kesalehan sosial," kata Ifan usai menyerahkan hewan kurban Lazisnu Kota Bogor di kawasan Lapangan Sempit Bogor, Jumat (1/9).

Ia menyatakan, segala sesuatu yang dimiliki oleh manusia di dunia ini adalah merupakan titipan dari Allah. Oleh karena itu, orang yang dmendapatkan titipan lebih banyak hendaknya berbagi dengan mereka yang kurang mampu.

"Sudah selayaknya dalam konteks kehidupan sosial kita (yang mampu) mesti ikhlas berbagi dengan kaum yang kurang mampu dan kurang beruntung," ucapnya.

Siti Efi Farhati

Turut mendampingi Ifan, Ketua Lazisnu Kota Bogor Zimamul Adli dan segenap Pengurus Lazisnu Kota Bogor serta Keluarga Mahasiswa NU (KMNU) IPB.

Lazisnu Kota Bogor setiap tahunnya rutin menyalurkan hewan kurban ke daerah yang masyarakatnya dianggap kurang mampu. Selain kegiatan kurban, Lazisnu dan PCNU Kota Bogor juga banyak melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan yang ditujukan untuk masyarakat umum seperti santunan fakir miskin, pemberian beasiswa kepada siswa yang kurang mampu, layanan dakwah dan keagamaan, serta kegiatan lainnya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Nasional, Cerita, Bahtsul Masail Siti Efi Farhati

Tugas Lesbumi, Saatnya Kiai Nikmati Pagelaran Seni

Jepara, Siti Efi Farhati

Salah satu komunitas seni Jepara, Teater Sumeh SMK Islam Jepara turut memeriahkan agenda perdana Selapanan Ahad Legi Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Jepara, berlangsung di Gedung NU, Jl Pemuda 51 Jepara, Sabtu (20/2/2016) malam. 

Tugas Lesbumi, Saatnya Kiai Nikmati Pagelaran Seni (Sumber Gambar : Nu Online)
Tugas Lesbumi, Saatnya Kiai Nikmati Pagelaran Seni (Sumber Gambar : Nu Online)

Tugas Lesbumi, Saatnya Kiai Nikmati Pagelaran Seni

Malam itu, pegiat teater yang berjumlah enam orang mendramatisasi puisi karya Oki Setiawan berjudul Kiri-Kanan. Dramatisasi yang berdurasi 8 menit digarap apik oleh sang sutradara Oki yang juga Wakil Ketua Lesbumi Jepara ini. 

“Kiri/ kanan/ kiri/ kanan/ kiri/ kanan,” kata itu ditegaskan berulang-ulang para pemain sembari membawa senter. Secara pribadi mereka mencari arah yang dituju. 

“Arah/ kemana/ arah/ kemana/ arah/ kemana.” 

Siti Efi Farhati

“Aaaaaliran.” 

“Aku aliran A.” 

Siti Efi Farhati

“Aku aliran B.”

“Aku aliran C.”

“Aku aliran D.”

“Aku aliran mmm… apa ya? Loh ya, anu …mmmm apa ya? Enggak deh.” 

“Pilihlah sesuai pilihanmu/ pilihanmu jangan sampai salah memilih/ boleh kiri/ boleh kanan/ boleh arah mana saja/asal jangan menikung alias mengafirkan diri.

Itulah penggalan pementasan kiri-kanan yang dipersembahkan pelajar sekolah kejuruan ini. Ditanya, tentang pesan dari pentas ini, Oki menerangkan bahwa kita bebas untuk memilih sesuai dengan pilihan kita masing-masing. 

Dalam berdemokrasi, menurutnya, tidak boleh kebablasan tetapi ada aturan main yang harus ditaati. Ia yang juga menjadi pengajar di SMK Islam Jepara ini meneguhkan boleh berbeda asal tidak menyakiti satu sama lain. “Jangan mengubah Nusantara, jangan mengubah Bhinneka Tunggal Ika,” jelasnya mengutip potongan drama ini. 

Dalam kegiatan yang bersamaan dengan serah terima jabatan Lesbumi dari M Nuh Thobroni, ketua demisioner ke ketua baru Ngateman, Mustaqim Umar selaku Dewan Penasihat memberikan pekerjaan rumah (PR) kepada pengurus baru. 

“Sudah saatnya “kiai” menikmati pagelaran seni. Mereka tidak marah tetapi mendapat ilmu,” katanya. 

PR-nya, lanjut Wakil Ketua PCNU Jepara ini, Lesbumi membuat naskah, setelah positif para kiai diundang untuk menikmati pentas bareng. Untuk nilai apa yang termaktub dalam pagelaran, imbuhnya, kiai diharapkan bisa menerimanya. 

Lelaki yang kerap disapa Pak Mek ini menyebut masih ada sebagian kiai yang melarang penggunaan alat musik. Kiai misal dia hanya membolehkan main rebana. Tetapi hal ini berbeda dengan sosok Habib Luthfi yang tidak melarang bermain musik. 

Dari dua kutub yang berbeda ini, Kabid Dikmen Dikpora Jepara ini malah trenyuh ketika dirinya mengikuti sebuah diklat di Semarang belum lama ini. Pada sebuah sesi, pemateri seorang kristiani memutarkan pembacaan puisi Gus Mus tentang membaca Indonesia yang waktu itu diselenggarakan di salah satu kampus katolik. Dari pemutaran, pembacaan puisi ini mendapatkan aplous dari peserta diklat. 

Alhasil, tugas seniman yang bergerak di Lesbumi ialah menemukan kutub tradisional dan modern ini agar keduanya saling bersinergi. (Syaiful Mustaqim/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Cerita Siti Efi Farhati

Kamis, 16 November 2017

IPNU Upayakan Pelajar Bertemu Tokoh Publik

Jakarta, Siti Efi Farhati? . Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ullama (IPNU) mengupayakan pertemuan antara pelajar dengan tokoh-tokoh publik, mulai dari kalangan agamawan, politikus, birokrat, aktivis, dan pengusaha. Format pertemuan adalah diskusi dan dialog. ?

IPNU Upayakan Pelajar Bertemu Tokoh Publik (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Upayakan Pelajar Bertemu Tokoh Publik (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Upayakan Pelajar Bertemu Tokoh Publik

Ketua Umum PP IPNU Khaerul Anam Hs mengatakan, untuk upaya itu, pihaknya sudah menjadwalkan pertemuan tiap bulan sekali. “Kita sudah jadwal bagaimana supaya pelajar itu ketemu tokoh-tokoh, sekurangnya sebulan sekali,” ungkapnya di gedung PBNU, Senin (29/7).?

Menurut dia, pelajar saat ini kekurangan figur. “Karena itu mereka harus diperkenalkan dengan tokoh-tokoh, tapi tokoh yang menginspirasi. Jangan sampai hanya mengenal artis saja,” tambahnya.?

Siti Efi Farhati

Ia mengatakan, bukan berarti artis itu jelek, tetapi ingin menunjukkan bahwa tokoh-tokoh yang menginspirasi, yang mesti dikenal pelajar itu sangat banyak. Tidak hanya artis.?

Ia berharap kegiatan semacam ini ditiru cabang-cabang seluruh Indonesia, “Pelajar NU harus diisi dengan kegiatan-kegiatan diskusi. Saya mengimbau kepada rekan-rekan di cabang supaya menggiatkan kembali diskusi.”?

Siti Efi Farhati

Ia menolak jika acara pada sore tadi, yang mengundang Djoko Susanto, mantan panglima TNI, sebagai kegiatan yang mengarahkan pelajar yang merupakan pemilih pemula, kepada urusan politik.

“Bukan. Kami tidak mengarahkan pelajar ke politik. Urusan politik kami serahkan kepada orang tua saja,” tegasnya. ?

Seperti diketahui, pada Senin sore, PP IPNU menggelar diskusi bertajuk Inspiring Lecture. Narasumbernya adalah Djoko Susanto, jenderal yang digadangkan menjadi capres atau cawapres.?

Khaerul Anam kembali menegaskan kegiatan Inspiring Lecture akan berkelanjutan. “Sementara ini kami mengupayakan mempertemukan pelajar dengan pengusaha, yaitu Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Sandiaga Salahudin Uno,” pungkasnya.

Penulis: Abdullah Alawi ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Cerita Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock