Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Maret 2018

Muslimat NU Sukses Pecahkan Dua Rekor Muri pada Puncak Harlah

Malang, Siti Efi Farhati

Muslimat NU telah berusia genap 70 tahun. Puncak peringatan hari lahir (harlah) yang digelar di Stadion Gajayana, Kota Malang, Jawa Timur, kali ini jauh lebih meriah dibandingkan sebelumnya. Tak tanggung-tanggung dalam satu acara organisasi kaum ibu ini memecahkan dua rekor Muri (Musium Rekor Indonesia) sekaligus.

Muslimat NU Sukses Pecahkan Dua Rekor Muri pada Puncak Harlah (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Sukses Pecahkan Dua Rekor Muri pada Puncak Harlah (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Sukses Pecahkan Dua Rekor Muri pada Puncak Harlah

Pertama, lautan manusia berjilbab hijau dengan jumlah 50 ribu peserta yang dalam kurun waktu 10 detik berubah menjadi putih. Seketika Stadion kebanggaan Aremania ini menjadi putih. Tak lama dari itu, seluruh peserta secara serentak menabuh rebana mengumandangkan shalawat Nabi diiringi oleh paduan suara Muslimat dan el-Kiswah Surabaya. Seluruh pejabat yang hadir juga tak ketinggalan menabuh rebana. Aksi ini tercatat sebagai rekor kedua yang dipecahkan Muslimat NU pada acara akbar ini. Suasana Stadion Gajayana semakin semarak setelah 1941 pelajar dan santri NU se-Malang membentuk konfigurasi harlah ke-70 Muslimat NU.

Wakil Ketua Umum dan Direktur Utama MURI Aylawati Sarwono dan Senior Manager MURI Awan Rahargo hadir menyaksikan pemecahan rekor ini.

Siti Efi Farhati

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa mengatakan, agenda pemecahan rekor tidak bertujuan mencari sensasi belaka. Namun pemecahan rekor tersebut menyampaikan pesan bahwa Muslimat NU senantiasa menguatkan UKM dan industri kreatif yang diinisiasi kaum perempuan. "Kemandirian adalah ciri khas Muslimat NU," tandasnya.

Puncak Peringatan Harlah Ke-70 Muslimat NU dihadiri oleh puluhan ribu anggotanya yang tersebar di seluruh Indonesia. Harlah Ke-70 Muslimat NU yang bertema "Bersatu Mewujudkan Indonesia Damai Sejahtera" kali ini bertujuan untuk membuka sarana silaturahmi dan konsolidasi nasional Muslimat NU dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Siti Efi Farhati

Presiden Jokowi hadir bersama menteri kabinet kerja, tampak dideretan terdepan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Zulkifli Hasan, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Rais Aam PBNU KH Maruf Amin, Gubernur Jatim Soekarwo, Istri Presiden RI keempat KH Abdurrahman Wahid Sinta Nuriyah, dan Yenni Wahid. (Rof Maulana/Mahbib)

 Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Amalan, Ulama Siti Efi Farhati

Kamis, 01 Maret 2018

Tanpa Uang Sepeser Pun, Pasutri NU Ini Akan Keliling Dunia

Jakarta, Siti Efi Farhati?

Pasangan suami istri (pasutri) Hakam Mabruri (34) dan Rofingatul Islamiah (34) bertekad akan berkeliling dunia dengan sepeda yang didesain ditunggangi berdua. Ia berangkat dari Malang pada Sabtu 17 Desember 2016. Sampai di Jakarta pada Selasa (10/1).?

Tanpa Uang Sepeser Pun, Pasutri NU Ini Akan Keliling Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Tanpa Uang Sepeser Pun, Pasutri NU Ini Akan Keliling Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Tanpa Uang Sepeser Pun, Pasutri NU Ini Akan Keliling Dunia

Pasutri tersebut mengambil jalan bagian utara pulau Jawa. Di tiap kota, Hakam yang aktif di Gerakan Pemuda Ansor Malang, kerap bermalam di kantor GP ansor bersama istrinya. Tidak hanya itu, ia juga menemui tokoh agama di kota yang ia singgahi.?

Keduanya selalu melakukan perjalanan di siang hari. kemudian istirahat sore atau menjelang malam. kemudian berangkat esoak harinya.?

Menurut Hakam, ketika keduanya berangkat, di sakunya tak ada uang sepeser pun. Ia kemudian mendapat sumbangan dari Bupati Malang, ketika ia dilepas secara resmi oleh Bupati, GP Ansor dan beragam komunitas dari Stadion Kanjuruan .

Siti Efi Farhati

Ditanya disumbang berapa oleh Bupati, Hakam tidak mau menyebutkan nomialnya. Namun, yang jelas, ketika dia berangkat, tak mengantongi uang sepeser pun.?

Namun di perjalanan, dukungan dari berbagai pihak didapatkan dua pasangan tersebut, termasuk dana. Salah seorang menteri misalnya, yang secara kebetulan bertemu di kantor Pimpinan Pusat GP Ansor, Jakarta, Selasa malam (10/1), juga turut menyumbang dana.

Sampai saat ini, ia menyebtukan, dukungan dana dari berbagai pihak telah terkumpul dana sebesar 17 juta dan 600 Dollar.?

Mengenai perjalanannya, setelah sampai di Aceh, dia akan kembali ke Medan. Kemudian menyebrang ke Singapura. Lalu melanjutkan perjalanan darat ke Malaysia, Thailanda. Keduanya akan melewati jalur Asia Selatan seperti India, Neval. Terus ke barat, ke barat. Sementara ia akan mencoba sampai di Kairo, Mesir. (Abdullah Alawi)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Internasional, Quote, Ulama Siti Efi Farhati

Selasa, 13 Februari 2018

Tidak Ada Alasan bagi Umat Islam Taati Terorisme

Bandar Lampung, Siti Efi Farhati

Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Lampung bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menggelar Dialog Pelibatan Masyarakat Dalam Pencegahan Terorisme melalui Persepektif Hukum di Provinsi Lampung.

Tidak Ada Alasan bagi Umat Islam Taati Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Tidak Ada Alasan bagi Umat Islam Taati Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Tidak Ada Alasan bagi Umat Islam Taati Terorisme

“Bila ditarik kesimpulan bahwa akar masalah ekstrimisme tidak tunggal bahkan saling berkaitan, karena itu cara penangananya juga tidak bisa dilakukan dengan metode tunggal,” ujar Koordinator Staff Ahli BNPT, Anwar Sanusi, di Bandar Lampung, Rabu (2/11).

Karena itu, kata Anwar menambahkan, harus banyak aspek, persepektif, dan metodologi. “Bila diibaratkan sebuah penyakit, ekstrimisme ini termasuk penyakit yang sudah mengalami komplikasi. Setelah melihat bahwa kegiatan dan aksi terorisme diharamkan oleh hukum agama dan hukum negara, maka tidak ada alasan bagi kita, khususnya umat Islam untuk taat pada hukum tersebut,” ujar dia lagi.

Akan tetapi, imbuhnya, ada beberapa orang yang terlibat dalam perkara terorisme karena ketidaktahuannya.

Siti Efi Farhati

“Seseorang menjadi teroris tidak hanya karena satu variabel tetapi karena beberapa variable, seperti ekonomi, pendidikan, minus pemahaman keberagamaan, dendam, dan lain sebagainya. Akhirnya mereka banyak dimanfaatkan untuk melakukan aksi kejahatan terorisme,” ujar dia pula.

Pada kegiatan tersebut, mantan Kepala Instruktur Perakitan Bom Jamaah Islamiyah, Ali Fauzi yang merupakan saudara kandung dari Amrozi dan Ali Imron tampil sebagai pembicara.

Siti Efi Farhati

Dalam sejumlah kegiatan untuk menanggulangi terorisme, Ali mengatakan selama ini masyarakat Indonesia selalu berprasangka, jika BIN, TNI dan Polisi yang bermain dari aksi terorisme. Tapi penilaian itu salah.

Kelompok tersebut menurut Ali Fauzi, ingin merubah Negara Indonesia menjadi negara yang sesuai kehendak mereka. Sehingga bagi kelompok tersebut, semua yang tidak sejalan dengan paham dan keyakinan mereka salah dan kafir, termasuk pemerintah.

Sejumlah aktivis Nahdlatul Ulama (NU) Lampung hadir pada kegiatan itu, antara lain Ketua PCNU Pesawaran yang juga Wakil Ketua Hipsi Lampung Muhammad Salamus Sholihin mewakili Ketua H Karim, penggiat Gusdurian Lampung WD Fatchurrahman Syam, kader PMII yang juga koordinator Aliansi Pers Mahasiswa (APM) Lampung Imam Gunawan. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Ulama Siti Efi Farhati

Minggu, 28 Januari 2018

Gus Yusuf: Serukan Damai Dunia lewat Seni

Magelang, Siti Efi Farhati. Pengasuh pesantren API Tegalrejo KH M Yusuf Chudlori mengadakan pertemuan bersama tokoh lintas agama dan sejumlah seniman Magelang. Mereka menggelar acara Suran Tegalrejo Jamasan Alam dengan pertunjukan beragam kesenian di halaman studio Fast FM Tegalrejo, Rabu (18/11) malam.

Panitia Penyelenggara Sholahuddin Ahmed  mengatakan, Suran Tegalrejo kali ini merupakan yang ke-7. Pada pertemuan kali ini, sejumlah kesenian ditampilkan seperti Obros dari Salaman Magelang, pementasan grup musik Jodho Kemil, pementasan wayang Gunung, pementasan ketoprak ringkes Tjap Tjonthong, kesenian dari Mantran Ngablak, dan Wonolelo Bandongan Magelang.

Gus Yusuf: Serukan Damai Dunia lewat Seni (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Yusuf: Serukan Damai Dunia lewat Seni (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Yusuf: Serukan Damai Dunia lewat Seni

"Ada yang istimewa, Ketoprak diramaikan oleh pelawak kondang Marwoto Kewer, Den Baguse Ngarso. Untuk orasi budaya oleh oleh presiden lima gunung Sutanto Mendut. Sedangkan doa dan seruan damai oleh Gus Yusuf," papar Udin di sela acara.

Siti Efi Farhati

Sementara Gus Yusuf mengatakan, hari ini masyarakat sedang bersedih di saat musibah demi musibah terjadi silih berganti baik bencana asap hingga aksi kekerasan termasuk kekerasan di Paris beberapa hari lalu. Meskipun lokasinya jauh, namun bila tidak segera menghentikan, kekerasan tidak menutup kemungkinan juga akan terjadi di antara warga kita.

“Sebab itu, kegiatan ini menjadi momentum untuk  seruan dari masyarakat gunung untuk menghentikan aksi kekerasan dan terus-menerus mengampanyekan perdamaian. Kita tidak bosan menyerukan perdamaian, sebagaimana mereka yang tidak pernah bosan untuk melakukan tindak kekerasan," kata Gus Yusuf.

Siti Efi Farhati

Acara cukup semarak, warga Tegalrejo dan sekitarnya antusias mengikuti acara itu. Tampak hadir Pendeta Lereng Merapi Romo Kirjito, Tokoh Tionghoa Yefta Tandio, Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Sukirman dan Om Bam. (Ahsan Fauzi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Ulama, Olahraga, PonPes Siti Efi Farhati

Jumat, 26 Januari 2018

FPDIP Ajukan Usul Hak Interpelasi Impor Beras

Jakarta, Siti Efi Farhati. Sebanyak 27 anggota Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (FPDIP) mengajukan usul hak interpelasi impor beras 210 ribu ton yang akan dilakukan pemerintah dalam waktu dekat ini. Surat pengajuan usul tersebut disampaikan kepada Wakil Ketua DPR RI Zaenal Maarif, Rabu (13/9).

PDIP menganggap keputusan pemerintah untuk mengimpor beras akan menghambat program pengentasan kemiskinan terutama bagi masyarakat yang tinggal di pedesaan dan bekerja sebagai petani atau buruh tani.

"Tidak ada alasan bagi pemerintah untuk melakukan impor beras saat ini," kata jurubicara FPDIP Ganjar Pranowo di gedung MPR/DPR RI, Senayan, Jakarta.

FPDIP Ajukan Usul Hak Interpelasi Impor Beras (Sumber Gambar : Nu Online)
FPDIP Ajukan Usul Hak Interpelasi Impor Beras (Sumber Gambar : Nu Online)

FPDIP Ajukan Usul Hak Interpelasi Impor Beras

Padahal putusan Komisi IV telah mewanti-wanti pemerintah agar pengadaan beras diperoleh dari dalam negeri. Dikatakan, kondisi pertanian juga sedang menggembirakan. Petani sedang panen dan diperkirakan akan surplus. Musim tanam (MT) II pada awal 2007 telah memasuki masa panen raya.

Pihak pimpinan DPR berjanji akan segera menindaklanjuti surat pengajuan FPDIP. Usulan itu, akan dibawa ke rapat Bamus pada Kamis besok untuk menentukan apakan surat tersebut akan diteruskan ke sidang paripurna atau tidak.

Siti Efi Farhati

FPDIP sendiri, kata Arya Bima, salah seorang anggotanya, yakin hak interpelasi kali ini akan sukses dan mendapat dukungan dari fraksi-fraksi besar seperti PKB, PAN, dan PPP sebagaimana dalam pengajuan hak interpelasi sebelumnya.

Sementara itu Pemerintah tetap kukuh dengan rencana mengimpor beras tersebut dan sudah menentukan pembagiaannya. Beras impor akan diarahkan masuk ke wilayah Indonesia timur dengan alasan daerah setempat membutuhkannya.

Demikian Deputi Menteri Koordinator Perekonomian bidang Pertanian, Perikanan dan Kelautan, Bayu Krisnamurti, usai rapat tim teknis perberasan di Kantor Menko Perekonomian, di Jakarta, Selasa (12/9) kemarin, seperti dikutip Kantor Berita Antara.

Siti Efi Farhati

Dikatakan Bayu, kecuali Jawa Tengah, tidak ada penolakan resmi dari pemerintah daerah tingkat satu untuk menolak impor beras. (nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Ulama Siti Efi Farhati

Minggu, 21 Januari 2018

Majmu’ah al-Masa’il al-Fiqhiyyah, Kitab Ulama Aceh untuk Sultan Maldives

Pada katalog naskah-naskah yang tersimpan di Perpustakaan Masjidil Haram (Maktabah al-Haram al-Makkî), Makkah, KSA, saya menemukan naskah bernomor (?) dengan judul “Majmû’ah Masâ’il Fiqhiyyah fî al-Fiqh al-Syâfi’î”. Isi naskah tersebut berisi himpunan fatwa ulama-ulama madzhab Syafi’i lintas generasi yang menjawab beberapa permasalahan hukum, ditulis dalam bahasa Arab, dengan jumlah keseluruhan 172 halaman.

Yang menarik perhatian saya dari naskah tersebut adalah keberadaannya yang ditulis (disalin) oleh seseorang yang diidentifikasi sebagai orang Nusantara (Jâwî) asal Aceh (Âsyî), yaitu Syaikh Muhammad Thâhir al-Jâwî al-Âsyî.

Majmu’ah al-Masa’il al-Fiqhiyyah, Kitab Ulama Aceh untuk Sultan Maldives (Sumber Gambar : Nu Online)
Majmu’ah al-Masa’il al-Fiqhiyyah, Kitab Ulama Aceh untuk Sultan Maldives (Sumber Gambar : Nu Online)

Majmu’ah al-Masa’il al-Fiqhiyyah, Kitab Ulama Aceh untuk Sultan Maldives

Dalam keterangan yang dituliskan Syaikh Muhammad Thâhir al-Jâwî al-Âsyî pada halaman akhir naskah, bahwa kitab “Majmû’ah al-Masâ’il” ini ia tulis untuk (bagi) seorang yang bergelar Sultan dan bernama Hasan Nûruddîn anak dari Sultan Hasan ‘Izzuddîn.

Tertulis di sana;

Siti Efi Farhati

? ? ? ? (?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (?) ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Siti Efi Farhati

(Telah selesai kitab dari permasalahan-permasalahan fikih. Pemiliknya adalah Tuan Kita yang allamah dan fahhamah, yang masyhur nan cerdas, yang mencintai para fakir miskin, ialah Tuan Kita Sultan Hasan Nûruddîn anak dari Sultan Hasan ‘Izzuddîn, semoga Allah mengampuni(nya) dan kedua orang tuanya. Penulisnya adalah seorang yang fakir lagi hina, yang remeh, lemah, dan banyak dosa, ialah Muhammad Thâhir orang Jawi [Nusantara] dari Aceh [Âsyî] negerinya).

Sekilas kemudian saya pun mencari data tentang siapakah sosok Syaikh Muhammad Thâhir al-Jâwî al-Âsyî, sang penulis naskah (kâtib al-kitâb), demikian juga sosok Sultan Hasan Nûruddîn bin Sultan Hasan ‘Izzuddîn, sang pemilik naskah (shâhib al-kitâb).

Saya berusaha menanyakan sosok Muhammad Thâhir al-Âsyî ini kepada sahabat saya dari Aceh, al-Fadhil Masykur Aceh, kolektor muda naskah-naskah keislaman dari Aceh, karena tidak ada data siapa sosok tersebut, selain tak ada kolofon yang menginformasikan kapan naskah ini ditulis. Saya juga mengirimkan gambar halaman terakhir manuskrip ini kepada beliau.

Ternyata jawaban yang saya dapatkan dari beliau sangat mengejutkan, bahwa buyut beliau dari jalur ibu juga bernama Muhammad Thâhir al-Âsyî dan pernah lama bermukim di Makkah, yang kemudian menjadi ulama besar di Pedir, Aceh, setelah kepulangannya. Di Aceh, beliau dikenal dengan nama Muhammad Thahir Tiro (Tengku Chik [Syik] Cot Plieng Tiro), yang masih sepupu Syaikh Muhammad Samman Tiro (Teungku Chik Di Tiro, w. 1891 M).

Kembali ke keterangan dan data yang terdapat pada naskah.

Yang menarik di sini justru adalah sosok “Sultan Hasan Nûruddîn ibn Sultan Hasan ‘Izzuddîn” yang tertulis dalam naskah sebagai “shâhib al-kitâb” (pemilik kitab), di mana Syaikh Muhammad Thâhir al-Âsyî menulis (salin) kitab “Majmû’ah al-Masâ’il al-Fiqhiyyah” untuk sultan tersebut.

Kedua sosok di atas, yaitu Syaikh Muhammad Thâhir al-Âsyî dan Sultan Hasan Nûruddîn, bisa dipastikan hidup satu zaman. Hal ini ditandai dengan penyebutan “Tuan Sultan Kami” (maulânâ al-sulthân) oleh sang penyalin naskah, hal yang menunjukkan adanya hubungan antara kedua sosok tersebut.

Setelah dilakukan penelusuran, didapati sosok “Sultan Hasan Nûruddîn (bergelar Sultan ‘Imâduddîn VI) putra Sultan (Pangeran) Hasan ‘Izzuddîn putra Sultan ‘Imâduddîn IV” adalah sultan Kesultanan Islam Maldives, sebuah negara kepulauan di Samudera India. Sultan Hasan Nûruddîn lahir pada tahun 1863 M dan memerintah Kesultanan Maldives sepanjang tahun 1893-1903 M dengan gelar “Sultan Haji Muhammad Imaaduddeen VI Iskandar Sri Kula Sundara Kattiri Buwana Maha Radun” (http://www.royalark.net/Maldives/maldive16.htm).

Sultan Hasan Nûruddîn (Sultan ‘Imâduddîn VI) dicatat menguasai bahasa Urdu, Persia, dan Arab dengan sangat baik. Beliau juga telah melaksanakan ibadah haji dan dikenal sebagai sultan yang taat, mencintai ilmu pengetahuan, dan menghormati ulama. Dalam naskah salinan Syaikh Muhammad Thâir al-Âsyî, sosok Sultan Hasan Nûruddîn (Sultan ‘Imâduddîn VI) disebut sebagai sosok yang “memiliki pengetahuan agama yang luas, yang masyhur nan cerdas, juga yang mencintai para fakir miskin”.

Pada tahun 1903 M beliau diturunkan dari singgasananya oleh penjajah Inggris, lalu eksil ke Mesir hingga wafat di sana pada tahun 1932 dan dikuburkan di Kairo.

Keterangan yang terdapat dalam naskah ini sangat menarik dan berharga, karena akan menghantarkan kita pada babakan sejarah baru yang cukup mengejutkan, yaitu adanya “jaringan intelektual ulama Nusantara (Aceh)—Kesultanan Maldives”. Naskah “Majmû’ah al-Masâ’il al-Fiqhiyyah” yang kini tersimpan di Perpustakaan Masjidil Haram Makkah ini menjadi data sejarah yang sangat mahal keberadaanya, yang menegaskan sebuah fakta bahwa “telah ada seorang ulama Aceh bernama Muhammad Thâhir al-Âsyî yang menuliskan sebuah kitab dan dipersembahkan untuk seorang Sultan Malvies bernama Sultan Hasan Nuruddîn (Sultan ‘Imâduddîn VI)”.

Nah, siapakah sosok Syaikh Muhammad Thâhir al-Jâwî al-Asyî yang terdapat merupakan penulis naskah ini?

Saya mendapatkan data lain dari sebuah manuskrip yang diberikan oleh al-Fadhil Masykur Aceh, yang tertulis nama penyalinnya adalah (juga) “Syaikh Muhammad Thâhir al-Âsyî”, yang tak lain adalah buyut beliau. Yang mengejutkan, isi manuskrip yang diberikan oleh al-Fadhil Masykur Aceh itu sama jenis dan model tulisannya dengan manuskrip yang saya temukan di Makkah, juga isi kandungan naskah “Aceh” yang sama dengan naskah “Makkah”, yaitu kumpulan fatwa ulama madzhab Syafi’i atas pelbagai permasalahan hukum Islam.

Jadi, apakah benar sosok Syaikh Muhammad Thâhir al-Jâwî al-Asyî ini adalah Teungku Muhammad Tahir Tiro (Tengku Chik [Syik] Cot Plieng Tiro), seorang ulama besar dari Plieng Aceh? (A. Ginanjar Sya’ban)



Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Ulama, Nusantara Siti Efi Farhati

Senin, 11 Desember 2017

Ketahuilah, NU itu Kebangkitan Pencerahan

Kairo, Siti Efi Farhati. Faizin yang merupakan seorang “pencerita” Masisir (Masyarakat Indonesia yang ada di Mesir) mengungkapkan tentang pembacaan orang Barat terkait Nahdlatul Ulama. Salah satunya pembacaan Naipul dalam bukunya Among the Believers.

Ketahuilah, NU itu Kebangkitan Pencerahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketahuilah, NU itu Kebangkitan Pencerahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketahuilah, NU itu Kebangkitan Pencerahan

Menurut pria yang akrab dipanggil Walang Gustiyala, ini pengistilahan atau permainan semiotika yang sederhana dari Naipaul dalam menerjemahkan kata nahdlah bukan diartikan sebagai resurrection atau kebangkitan dari kematian, reborn atau lahir kembali.

“Namun diartikan sebagai renaissance. Orang Arab lebih mengartikan ashlut tanwir, atau pencerahan,” katanya pada diskusi selepas nonton film Sang Kiai, di aula sekretariat PCINU Mesir, Kairo, Jumat 14 Maret.

Siti Efi Farhati

Faizin melanjutkan, ini yang dikatannya menjadi semacam tantangan yang berat bagi NU, karena kebanyakan mereka mengistilahkan NU dengan renaissance of religious scholar atau kebangkitan yang mencerahkan dari sarjana agama.

Hal ini juga bisa ditemui dalam buku Unholy War karangan John Esposito, yang menempatkan Gus Dur sebagai seorang yang membangkitkan kembali peran ulama-ulama dalam membangun kebangsaan.

Siti Efi Farhati

Namun yang menjadi titik tekan Mas Walang adalah dari semiotika sederhana yang disampaikan Naipaul, NU dengan santrinya harus mampu mengemban amanat yang begitu besar sebagai renaissance itu, sebagaimana pula yang Gus Dur harapkan. Bukan malah terjurumus dalam nilai-nilai eksklusif dan ekstrem.

Bedah film tersebut digelar oleh Lembaga Seni dan Kebudayaan Nahdlatul Ulama (LSBNU) PCINU Mesir bekerjasama dengan Tebuireng Center Kairo. (Mabda Dzikara/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pesantren, News, Ulama Siti Efi Farhati

Jumat, 08 Desember 2017

Islamophobia dalam Perspektif Komunikasi

Oleh Hagie Wana



Akhir-akhir ini kita sering menjumpai kampanye melawan Islamophobia di media sosial. Gerakan ini giat disuarakan oleh kelompok yang merasa menjadi “sasaran” dari Islamophobia tersebut. Kini muncul kampanye berupa meme, foto, atau bentuk posting-an lainnya yang sedang digandrungi masyarakat cyber yang mengajak masyarakat Muslim, khususnya generasi muda untuk tidak ragu mengenakan jilbab syar’i, memanjangkan janggut, memakai celana cingkrang atau sebagainya dan menegaskan bahwa hal-hal tersebut bukanlah pakaian teroris.

Islamophobia dalam Perspektif Komunikasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Islamophobia dalam Perspektif Komunikasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Islamophobia dalam Perspektif Komunikasi

Fenomena yang menjangkiti sebagian besar masyarakat, bahkan termasuk umat Islam sendiri adalah memberikan stigma negatif terhadap mereka yang kental berpenampilan syar’i (seperti cadar, gamis, atau janggut panjang). Misalnya saja seorang muslimah yang berhijab syar’i—apalagi bercadar—sulit untuk diterima bekerja di dunia perkantoran. Di bank yang berlabel “syariah” pun rasanya tidak pernah kita jumpai teller/karyawan yang berhijab syar’i. Atau ada seorang pria yang mengenakan peci dan berjanggut lebat kadang mendapat “perhatian lebih” dari orang-orang di sekelilingnya apabila sedang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan. Kemudian ada orang yang sungkan dan ragu untuk membeli makanan hanya karena penjualnya memakai gamis dan sorban. Di beberapa negara maju, konon mereka yang memiliki nama dengan unsur bahasa Arab yang kental, agak sulit untuk mengurusi dokumen administrasi di wilayahnya. Seperti yang dialami rekan penulis, ia menceritakan pernah sampai diintrogasi oleh otoritas sebuah bandara karena memiliki nama yang kearab-araban. Atau berbagai contoh lain yang menggambarkan Islamophobia.

Fenomena ini sudah umum terjadi, atau bahkan mungkin kita sendiri terlibat didalamnya, entah sebagai orang yang menaruh curiga terhadap mereka yang berpenampilan syar’i, ataupun sebagai pihak yang menjadi sasaran dari kecurigaan tersebut. Kemudian banyak pula kita dapati postingan berbagai teori-teori yang mencoba menjelaskan fenomena ini. Ada yang mengatakan bahwa Islamophobia adalah bagian dari konspirasi zionis. Ada juga yang mengatakan bahwa Islamophobia adalah isu yang diembuskan oleh Barat untuk menghancurkan generasi Muslim, dan lain sebagainya.

Siti Efi Farhati

Lalu betulkah Islamophobia adalah bagian dari konspirasi? Betulkah ketakutan terhadap simbol-simbol Islam yang kerap diidentikan dengan terosisme adalah isu yang diembuskan oleh Barat? Dan teori lainnya yang menunjukkan bahwa ketakuan terhadap simbol-simbol Islam dimunculkan orang-orang non Islam.

Siti Efi Farhati

Berbicara kemungkinan, teori-teori di atas mungkin saja betul. Dan memang dapat diterima secara logis. Namun tidakkah kita sadari bahwa terkadang ketakutan terhadap simbol agama Islam terkadang dibuat oleh orang Islam itu sendiri? Ada pihak yang tidak terima ketika simbol-simbol Islam seperti cadar dan lain-lain disebut sebagai kostum teroris, namun di sisi lain “ketidakterimaan” mereka tidak dibarengi dengan langkah yang konkret. Hal ini bisa kita amati dari sikap mereka yang terkadang apatis atau bahkan cenderung mendukung aksi-aksi teror di saat masyarakat luas mengutuk aksi terorisme, atau sikap lainnya yang “melawan arah” lalu balik menuduh bahwa yang tidak sejalan dengan mereka adalah anti-Islam, perilaku kafir dan lain sebagainya.

Dalam perspektif ilmu komunikasi, apa yang kita tampilkan adalah pernyataan kita. Kemudian penampilan kita akan dipersepsi berbeda-beda oleh orang lain. Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi (Rakhmat:2015) dan persepsi seseorang boleh jadi sesuai, boleh juga tidak sesuai dengan kepribadian aslinya.

Mereka (orang non-Muslim atau mungkin umat Islam sendiri) yang phobia dengan simbol-simbol Islam tidak sepenuhnya salah karena itu persepsi mereka berdasarkan pengalaman yang mereka alami sendiri. Oleh sebab itu upaya nyata melawan Islamophobia adalah dengan cara menampilkan perilaku pribadi muslim yang humanis, fleksibel, atau istilah santri mengatakan shahih likulli zaman wa makan (relevan dengan segala kondisi) kemudian membuktikan bahwa pakaian syar’i bukanlah pakaian teroris dapat direfleksikan dengan upaya menolak segala bentuk kekerasan/aksi teror yang mengatasnamakan agama. Jika sudah berada di barisan depan dalam menolak aksi teror, akankah publik masih mencap bahwa yang berpenampilan syar’i adalah teroris?

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Dakwah Dan Komunikasi UIN SGD Bandung



Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Ulama, Nasional, Aswaja Siti Efi Farhati

Kamis, 30 November 2017

Walikota dari PKS "Masuk" NU

Jakarta, Siti Efi Farhati

Mantan Menteri Kehutanan Republik Indonesia ke-6 Nur Mahmudi Ismail, politikus Indonesia dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang sukses diusung oleh partainya sebagai Walikota Depok periode 2006-2011 kini Mulai mendekati mendekati warga Nahdliyin. Pria kelahiran Kediri, 11 November 1961 ini banyak mengunjungi pengajian-pengajian yang diselenggarakan oleh warga NU.



Walikota dari PKS Masuk NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Walikota dari PKS Masuk NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Walikota dari PKS "Masuk" NU

Salah satunya adalah pengajian umum yang diselenggarakan di Masjid Al-Munawwaroh Kompleks Pesantren Ciganjur, Jl. Warung Silah No. 10 Jakarta Selatan. Nur Mahmudi Ismail hadir dan diperkenalkan diri sebagai Walikota Depok, meskipun Ciganjur bukan termasuk wilayah Kota Depok. "Mungkin dia ingin masuk lagi ke NU," celetuk salah seorang peserta pengajian kepada Siti Efi Farhati saat Nur Mahmudi sedang memberikan semacam testimoni.

Dalam penyataannya, Nur Mahmudi menjelaskan bahwa, sebagai pemimpin seorang Muslim harus memiliki jiwa amanah, agar masyarakat yang dipimpin dapat merasa tenteram dan tidak terancam. Seorang pemimpin juga harus menunjukkan karakter kuat untuk melindungi seluruh rakyatnya.

Siti Efi Farhati

Pengajian umum yang dihadirinya kali ini, juga dihadiri oleh tokoh-tokoh Nahdliyin, di antaranya adalah Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Masdar Farid Masudi, KH Lukman Hakim selaku perwakilan Pengasuh Pesantren Ciganjur yang juga pemimpin umum Majalah Sufi, KH Zainuddin MZ selaku pembicara dan Zanuba "Yenny" Arifah Chafsoh, puteri KH Abdurrahman Wahid Pengasuh Pesantren Ciganjur. (min)Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Hadits, Pahlawan, Ulama Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati

Kumpulan Khutbah Nasehat Hidup dari KH M. Ma’ruf Irsyad

Kitab Ihkamu Habli Al-Widad adalah kumpulan dari sebagian khutbah almarhum almagfurillah KH M. Maruf Irsyad Kudus yang disampaikannya saat khutbah Jumat di berbagai masjid. Buku khutbah ini berisikan nasehat-nasehat serta ilmu tentang bagaimana seseorang menjadi hamba Allah subhanahu wa taala, baik sebagai pribadi atau sebagai bagian dari mahluk sosial. Di dalamnya juga dibahas bagaimana berkeyakinan, bersikap serta berperilaku dalam kaitan amaliyah ibadah maupun hubungan keseharian dengan sesama. Selain itu, ada juga tema bagaimana cara agar bisa memposisikan antara akal dan hati dalam memahami agama serta fadoilul amal.

KH M. Maruf Irsyad (wafat1431 H/ 2010 M) merupakan ulama asal Kudus yang selalu mendermakan waktunya untuk membimbing masyarakat sekitarnya. Kesehariannya selain mengajar di pesantrennya, PP Raudlotul Mutaallimin Jagalan 62 Kudus, juga sibuk membagikan ilmunya kepada santri-santri tak kurang dari enam madrasah di sekitar Kudus.

? ?

Kumpulan Khutbah Nasehat Hidup dari KH M. Ma’ruf Irsyad (Sumber Gambar : Nu Online)
Kumpulan Khutbah Nasehat Hidup dari KH M. Ma’ruf Irsyad (Sumber Gambar : Nu Online)

Kumpulan Khutbah Nasehat Hidup dari KH M. Ma’ruf Irsyad

Setiap bab dalam buku khutbah ini dengan didukung dalil, baik dari Al-Quran, hadits ataupun pendapat para ulama sebagai rujukan. Setiap tema dijabarkan secara runtut dan jelas dengan bahasa yang lugas, jelas, dan memahamkan bagi para pendengarnya.?

Dari apa yang tertulis dalam buku ini tidak semuanya persis seperti apa yang pernah ia sampaikan dalam khutbah yang sesungguhnya, karena dalam berkhutbah ia sering kali membuat catatan khutbah disampaikan secara lepas namun tidak keluar dari pokok tema pokok.

Siti Efi Farhati

Banyak ilmu yang bisa didapat dalam buku ini, yaitu ilmu haliyah, yaitu berupa ilmu yang berkaitan dengan hati agar menemukan ketenangan hidup dalam rangka menggapai ridha ilahi. Ilmu dan amal yang dibahas berkaitan dengan perbuatan anggota badan, baik yang bersifat ibadah ataupun kegiatan sosial di tengah masyarakat, bagaimana menciptakan tatanan sosial yang baik di tengah perbedaan dan kemajemukan khalayak umum.

Contoh yang dibahas dalam khutbah ini mengambil teladan dari sejarah para nabi, para sahabat dan orang orang shaleh agar umat Islam senantiasa mengikuti jejak langkah dari tokoh-tokoh terpuji dan mengambil pelajaran dari perbuatan tercela.

Siti Efi Farhati

Ada beberapa pokok nasihat yang bisa didapatkan dalam buku ini. Sebagaimana dalam halaman 25 yang menggambarkan sembilan bintang Ahlussunnah wal Jamaah. Keterangan ini juga sering disampaikannya dalam berbagai majelis pengajian.

Selain itu ada beberapa tema yang diangkat dalam kitab ini, diantaranya adalah puasa Ramadhan dan keutamaannya, hari Arafah, hari Asyura, Hari Jumat dan fadhilahnya, dan lain-lain.

Semoga kitab ini menjadi jariyah ilmu penyusunnya, serta kita dapat mengambil hikmah dan mengamalkan dari apa yang disampaikannya sebagai bentuk tanggung jawab pengetahuan. Dan semoga KH M. Maruf Irsyad mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah Subhanahu wa Taala.

Data Buku

Judul ? ? ? ? ? ? ? : Ihkam Habli Al-Widad fi Ad-Durus al-Mustafadati min Makhthuth Al-Khuthob Al-Minbariyyah li asy-Syaikh Muhammad Maruf Irsyad

ISBN ? ? ? ? ? ? ? ? : 978-602-60536-5-7

Penyusun ? ? ? ? : Nanal Ainal Fauz

Tebal ? ? ? ? ? ? ? ? : 101 hal.

Penerbit ? ? ? ? ? : Yayasan Turats Ulama Nusantara

Cet ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : I, 2017

Peresensi ? ? ? ? : Hasan Mafik, alumnus PP Raudlotul Mutaallimin Jagalan 62 Kudus dibawah asuhan KH. M. Maruf Irsyad

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Ulama, Syariah Siti Efi Farhati

Senin, 27 November 2017

Memaknai Ramadhan sebagai Bulan Muhasabah

Oleh Muhammad Qomarudin



Pertengahan Ramadhan ini, bangsa Indonesia kembali diguncang nestapa. Momentum bulan Ramadhan sebagai bulan sakral nan suci bagi kaum Muslimin untuk menjalankan ibadah teriringi oleh ujian yang begitu berat. Bencana banjir dan tanah longsor kembali mengguncang 16 kabupaten/kota di Jawa Tengah yang meliputi? Purworejo, Banjarnegara, Kendal, Sragen, Purbalingga, Banyumas, Sukoharjo, Kebumen, Wonosobo, Pemalang, Klaten, Magelang, Wonogiri, Cilacap, Karanganyar, dan kota Solo. Bencana tersebut mengakibatkan 35 orang meninggal dunia, 25 orang hilang, dan ratusan rumah rusak (Jawa Pos, 20 Juni 2016).

Memaknai Ramadhan sebagai Bulan Muhasabah (Sumber Gambar : Nu Online)
Memaknai Ramadhan sebagai Bulan Muhasabah (Sumber Gambar : Nu Online)

Memaknai Ramadhan sebagai Bulan Muhasabah

Bencana alam di atas adalah secuil dari bukti tanda kebesaran Allah SWT. Peristiwa memilukan tersebut merupakan sunnatullah yang menyimpan berbagai hikmah dan pelajaran di dalamnya. Salah satu hikmah tersebut adalah kewajiban kita untuk terus menjaga alam dengan sebaik-baiknya agar tidak terjadi kerusakan di muka bumi sebagaimana Firman Allah SWT dalam Ar Ruum: 41, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah SWT menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Siti Efi Farhati

Ayat di atas secara implisit menyadarkan kita akan berlakunya hukum timbal balik yang terjadi secara alamiah di muka bumi ini. Jika kita menjaga alam sebagai salah satu makhluk Allah SWT dengan baik, maka ia akan memberikan respon yang baik bahkan lebih baik kepada kita. Begitu juga sebalikanya.

Satu hal hikmah yang bisa kita raih dari bencana alam di Jawa Tengah ini adalah terjadi pada bulan Ramadhan yang notabene banyak dari kaum Muslimin sedang menjalankan ibadah dengan porsi lebih semangat. Itulah kekuasaan Allah SWT. Bencana apa pun, kapan pun dan dimana pun merupakan hak prerogratif sekaligus bukti rahasia Allah SWT sebagai pencipta makhluk (Al-Khaliq) dan sang penguasa jagad raya (Al-Mulk). Tidak ada satu pun makhluk di muka bumi ini yang dapat menyamai atau menandingi kebesaran Allah SWT. Kita sebagai hamba-Nya dapat menjadikannya sebagai bahan evaluasi dan introspeksi diri.

Siti Efi Farhati

Jika itu terjadi, maka akan muncul berbagai pertanyaan reflektif dan evaluatif sebagai berikut. Seberapa besar rasa syukur kita kepada Allah SWT atas segala nikmat dan karunia yang tercurah? Seberapa besar tekad kita dalam beribadah dalam bulan yang penuh maghfirah ini? Seberapa luas upaya kita dalam berkasih sayang kepada makhluk di sekitar kita?

Tiga pertanyaan di atas seharusnya dapat menjadi bahan pijakan untuk mengevaluasi sejauh mana diri kita dalam memaknai Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Kita pun mahfum, keistimewaan bulan Ramadhan sangatlah besar dan tiada bandingnya. Ia bak samudra dan limpahan air di atasnya dapat diibaratkan sebagai pahala yang terlimpah luas. Pada fase awal, Rasulullah SAW mengabarkan bahwa dengan “hanya” merasa gembira dalam menyambut Ramadhan saja dapat menghindarkan diri dari api neraka, apalagi bila kita mampu melewatinya dengan ibadah yang baik pula. Sungguh luar biasa pesona Ramadhan tersebut.

Namun terkadang diri ini alpa, ada beberapa hal yang salah dalam pola pikir kita dalam memaknai Ramadhan. Kita sering melabeli Ramadhan sebagai bulan untuk bermalas-malasan. Wajar memang, dengan berpuasa, energi dan fungsi organ tubuh terasa lebih lemah sehingga berdampak pada perilaku bermalas-malasan dalam beraktivitas. Karena hal itulah, sering kita mendapati banyak dari kita menjadikan tempat-tempat strategis untuk menabung pahala seperti masjid dan mushala digunakan hanya untuk sekadar tidur-tiduran. Ironi memang, maka berlaku produktif dalam memanfaatkan setiap detik Ramadhan dengan perilaku yang benar merupakan pilihan terbaik bagi kita.

Ramadhan bukan hanya menganjurkan kita untuk beribadah, baik sunah maupun wajib, ia juga memberikan kita makna besar untuk mengorelasikan hablum minallah (interaksi individual dengan Allah SWT) dan hablum minannas (interaksi sosial dengan makhluk) secara seimbang. Hal ini memanglah benar adanya. Mengingat dr. Ratib an-Nabusi, ulama terkemuka Suriah pernah mengatakan, ibadah formal (syar’iyah) seseorang tidak diterima selama ibadah interaktif (ta’amuliyah) tidak benar.? ? ? ? ?

Pada pekan awal Ramadhan ini, kita mendapati pro kontra tentang larangan berjualan pada siang hari. Maka di sinilah diperlukan kesadaran hati dan kepekaan jiwa dari semua pihak yang berkepentingan. Seberapa manfaat dan madarat dari setiap aturan perlu dikaji ulang secara rasional dan sistematis. Maka menghargai—seseorang yang tidak berkewajiban puasa—juga menjadi titik poin yang patut mendapatkan perhatian. Inilah bentuk apresiasi pada makna keberagaman yang tercipta di negeri ini secara turun temurun.

Pada perkembangan selanjutnya di pertengahan bulan Ramadhan, bangsa ini, terutama kaum muslimin kembali diuji dengan adanya pemberitaan tentang penodaan agama Islam yang dilakukan oleh oknum remaja di Banyuwangi dan Tulungagung. Kedua daerah tersebut ada di wilayah Jawa Timur. Keduanya menggunakan jejaring sosial Facebook sebagai media untuk menjalankan aksi kejinya.

Lantas, bagaimanakah kita menyikapi fenomena ini? Rentetan kasus dan bencana alam yang datang silih berganti menunjukkan betapa besar cinta Allah SWT yang tercurah kepada umat Islam. Maka berlaku penuh kesabaran adalah jalan yang ditempuh dalam melewati fase ini. Bersabar bukan berarti pasif akan tetapi justru lebih aktif dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bukankah kesabaran dapat mendatangkan pertolongan dari setiap kesusahan? Jika hal ini terlaksana, bukan tidak mungkin akan tercipta pribadi muslim yang tegar, taat dan berakhlakul karimah.

Bagaimanakah cara menumbuhkan kasih sayang kepada sesama manusia? Marilah kita belajar dari cara Rasulullah SAW dalam menyayangi keluarganya. Rasulullah SAW dikenal sebagai pribadi yang ringan tangan dan murah senyum. Hal itulah yang menjadikan beliau disegani tidak hanya oleh sahabatnya, tetapi juga musuh-musuhnya sehingga dengan kewibawaan dan kesederhanaanya, beliau mampu meluluhkan hati kaum kafir sehingga mereka berbondong-bondong masuk Islam. Adapun bentuk kasih sayang Rasulullah SAW termaktub dalam QS Ali Imran (159) yang berbunyi “maka berkat rahmah Allah SWT engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentu mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah SWT mencintai orang yang bertawakal”

Marilah kita jadikan kembali Ramadhan ini sebagai bulan intropkesi (syahrul muhasabah) untuk merenungi makna setiap langkah kita dalam meniti kehidupan di muka bumi sebagai bekal untuk akhirat nanti sehingga kita bisa berlaku adil dalam beribadah maupun kepada sesama.? Semoga!

Penulis adalah Alumnus Pondok Pesantren Attanwir Talun, Sumberrejo, Bojonegoro, Jawa Timur; Pengurus Bidang Kaderisasi PC IPNU Bojonegoro



Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pertandingan, Ulama Siti Efi Farhati

Kisah Penggembala Unta dan Pencari Guru Sufi

Di dalam cerita sufi dikisahkan tentang adanya seorang yang berminat kepada tasawuf. Dari seorang temannya dia mendengar tentang adanya guru sufi yang agung. Karena itu, dia pergi ke sana dengan menyewa seekor unta dari seorang penggembala.

Singkat cerita, setelah menempuh perjalanan yang berat dan lama, akhirnya sampailah dia ke rumah sang guru. Ternyata, orang yang akan dijadikan gurunya itu justru bersikap sangat hormat kepada si penggembala unta, sampai-sampai si penyewa unta itu terheran-heran.

Kisah Penggembala Unta dan Pencari Guru Sufi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Penggembala Unta dan Pencari Guru Sufi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Penggembala Unta dan Pencari Guru Sufi

“Saya datang untuk berguru kepada Anda, tetapi sikap Anda kepada penggembala unta layaknya kepada seorang guru saja,” kata si penyewa unta itu tanpa menutupi kekesalannya. Sang guru, yakni si tuan rumah itu, menjelaskan bahwa si penggembala unta itu memang tidak lain adalah gurunya sendiri.

Cerita seperti itu banyak sekali di dalam tasawuf. Tetapi sebetulnya bukan monopoli tradisi sufisme, sebab hampir semua budaya mengarah ke situ. Dalam pepatah Melayu, misalnya, dikatakan, “Makin berisi, padi makin merunduk.” Idenya ialah tentang sikap rendah hati, seperti ditampakkan oleh si penggembala unta dalam cerita di atas, yang ternyata adalah gurunya guru sufi.

Siti Efi Farhati

Di kalangan ulama ada pandangan bahwa tidak ada yang tahu seorang wali kecuali wali. Maka kalau kita mengatakan bahwa seseorang itu wali, maka efeknya seolah- olah kita mengklaim diri kita sendiri sebagai wali (orang suci). Dalam hal ini, ungkapan Ali ibn Abi Thalib sangat bagus ketika menggambarkan kesucian, “Sebaikbaik kesucian adalah menyembunyikan kesucian itu.”

Siti Efi Farhati

Dalam paham keagamaan sehari-hari, kita juga mengenal ada yang disebut sebagai orang-orang yang suci, tempat-tempat yang suci, dan waktu-waktu yang suci. Secara implisit, konsep kesucian itu juga sering kali dikaitkan dengan sejumlah ritual dalam Islam, misalnya zakat, sedekah, wudhu, dan lain-lain; konsep ini juga terkait dengan istilah-istilah seperti subh, quds, mash, dan lain-lain. (Red: Mahbib)

Dikutip dari Ensiklopedi Nurcholish Madjid (Jilid 3), 2012 (Jakarta: Yayasan Abad Demokrasi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Ulama, Meme Islam Siti Efi Farhati

Minggu, 26 November 2017

Lazis NU Santuni Korban Banjir di Kamal Muara

Jakarta, Siti Efi Farhati. Musim hujan dan tingginya pasang air laut yang diperkirakan akibat pemanasan global telah membuat banyak warga yang tinggal di pantai. Para penduduk yang tinggal di Kamal Muara selama dua minggu ini terpaksa hidup ditengah-tengah banjir.

Untuk membantu meringankan penderitaan warga Kamal Muara, khususnya di RW 01 dan RW 04 Kamal Pelelangan, Lazis NU mengirimkan bantuan sembako yang terdiri dari 56 dus indomie, 105 dus aqua, 90 potong sarung dan 4 kardus susu bayi.

Bantuan tersebut diterima oleh Takmir Masjid Al Huda Sahlani pada Sabtu siang (8/12). “Kami sangat berterima kasih atas bantuan yang diberikan oleh NU,” katanya.

Lazis NU Santuni Korban Banjir di Kamal Muara (Sumber Gambar : Nu Online)
Lazis NU Santuni Korban Banjir di Kamal Muara (Sumber Gambar : Nu Online)

Lazis NU Santuni Korban Banjir di Kamal Muara

Sumbangan sebanyak satu truk tersebut ditempatkan di Masjid Al Huda yang selanjutnya akan dibagi-bagikan kepada warga yang masing kebanjiran. Warga juga sudah mendapatkan pengobatan gratis dari sebuah partai, namun belum ada respon yang memadai dari pemerintah.

Dikatakan oleh Rais Ranting NU Kamal Muara ini bahwa  banjir sebenarnya merupakan hal yang sering terjadi saat air laut pasang, namun kali ini merupakan banjir tertinggi yang dialaminya sejak tahun 1975 ketika ia mulai menetap disana.

“Kami harap pemerintah segera membuat tanggul-tanggul agar air laut tidak masuk karena tanggul yang ada sudah banyak yang rusak,” harapnya.

Siti Efi Farhati

Saat banjir, biasanya warga mengungsi ke Masjid, namun kali ini masjid pun ikut banjir dengan ketinggian selutut orang dewasa sehingga warga terpaksa kembali mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. SMP terpaksa diliburkan untuk digunakan sebagai tempat pengungsian sementara gedung SD dan Madrasah libur tiga hari karena kebanjiran.

Di daerah-daerah yang lebih rendah, banjir masih setinggi lutut, namun untuk lokasi yang lebih tinggi banjir hanya tinggal di jalanan dan tidak masuk dalam rumah. Warga juga sudah pulang ke rumahnya masing-masing dan beraktifitas seperti biasanya. (mkf)

Siti Efi Farhati



Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Ubudiyah, Halaqoh, Ulama Siti Efi Farhati

Sabtu, 18 November 2017

PMII Ibnu Aqil Bantu Pengungsi Kelud Pulang ke Rumah

Malang, Siti Efi Farhati. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Ibnu Aqil mengantarkan pulang ribuan warga yang meninggalkan rumah akibat letusan gunung Kelud ke kediaman masing-masing. Bersama TNI dan Polri, aktivis PMII ini berangsur-angsur mengantar warga dangan truk yang disediakan di tiap posko di kabupaten Kediri, Ahad (23/2).

PMII Ibnu Aqil Bantu Pengungsi Kelud Pulang ke Rumah (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Ibnu Aqil Bantu Pengungsi Kelud Pulang ke Rumah (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Ibnu Aqil Bantu Pengungsi Kelud Pulang ke Rumah

Kendati banyak kehilangan harta benda akibat hancur oleh abu panas Kelud, warga tampak bahagia kembali beraktivitas di kampung halaman yang sudah beberapa hari ditinggalkan. Tetapi banyak juga yang memilih bertahan di pengungsian dengan bantuan seadanya.

Diperkirakan, jumlah rumah rusak berat sebanyak 8.622 unit, rusak sedang 5.426 unit, dan rusak ringan 5.088 unit di Kediri. Untuk itu, meski gunung Kelud statusnya turun menjadi siaga 1, namun korban tetap harus bekerja keras untuk membersihkan debu, membangun rumah untuk kemudian beraktivitas seperti biasa.

Siti Efi Farhati

Sementara di Malang fasilitas umum dan rumah warga mulai dibersihkan. Tampak pemerintah setempat memperbaiki jalan dan sarana umum lainnya.

“Meski keadaan mulai membaik, namun warga masih membutuhkan logistik yang dibutuhkan sehari-hari. Pada saat gunung meletus, beberapa warga belum sempat menyelamatkan harta bendanya,” terang Yudha kepada Siti Efi Farhati. (Diana Manzila/Alhafiz K)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Daerah, Ulama, AlaSantri Siti Efi Farhati

Jumat, 17 November 2017

Ekspedisi Cheng Ho dan Islam Nusantara di Halalbihalal PBNU

Jakarta, Siti Efi Farhati. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar halalbihalal yang disambung dengan seminar Ekspedisi Cheng Ho dan Islam Nusantara, Selasa (28/7) di lantai 8 Gedung PBNU Kramat Raya Jakarta. Untuk mempertajam wawasan tentang Cheng Ho, turut dihadirkan Guru Besar Universitas Nanking, Jiangsu, Tiongkok, Profesor Chi Min Tan dan Pakar Islam Nusantara, Agus Sunyoto.

Ekspedisi Cheng Ho dan Islam Nusantara di Halalbihalal PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ekspedisi Cheng Ho dan Islam Nusantara di Halalbihalal PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ekspedisi Cheng Ho dan Islam Nusantara di Halalbihalal PBNU

Halalbihalal ini dihadiri juga oleh seluruh jajaran PBNU serta jajaran Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk Indonesia yang diwakili oleh Atase Kebudayaan yang mempunyai nama Muslim, Muhammad Ali.

Ketum PBNU, KH Said Aqil Siroj dalam sambutannya menegaskan, bahwa Cheng Ho mempunyai peran strategis dalam dunia maritim di Nusantara. Selain itu turut menyebarluaskan Islam, Cheng Ho yang datang sebanyak 7 kali ke Nusantara berhasil menciptakan semacam tol laut dan membangun beberapa pelabuhan, misal di Semarang.

Siti Efi Farhati

“Kemudian Cheng Ho juga singgah di Cirebon dengan membawa tentara muslim serta tentara Tionghoa sekaligus. Tumbuhlah bangsa Tionghoa di daerah ini, sehingga Sunan Gunung Jati pun menyunting seorang puteri keturunan bangsa Tionghoa bernama Ontin,” paparnya di hadapan para hadirin yang memadati aula lantai 8.

Siti Efi Farhati

Pengaruh Tionghoa, terang Kang Siad, juga sampai hingga ke selatan Cirebon, yakni di daerah Kuningan. “Nama daerah ini diambil karena penduduknya memang kulitnya putih kekuning-kuningan seperti halnya orang-orang Tiongkok,” jelas Kiai asal Cirebon ini.

Sementara itu, Atase Kebudayaan Tiongkok yang mempunyai nama muslim Muhammad Ali menuturkan, bahwa NU bukan hanya organisasi besar, tapi juga memapunyai peran besar pula untuk negara Indonesia bahkan dunia.?

“Sejarah serta budaya Tiongkok dan Indonesia saling terkait lewat Laksamana Cheng Ho ini. Sebab itu, kita mempunyai kerja sama maritim dengan sinergi yang baik,” ungkapnya dalam bahasa Mandarin yang diterjemahkan.

Dalam acara yang disambung dengan peluncuran pesawat Lion Air berlogo Muktamar NU ini, turut hadir Guru Besar Psikologi Islam, Achmad Mubarok, Ketua PP GP Ansor, Nusron Wahid, Menristek Dikti, M Nasir, Ketum PKB, Muhaimin Iskandar, dan Bos Lion Group, Rusdi Kirana. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nahdlatul, Ulama Siti Efi Farhati

Minggu, 12 November 2017

Muslimat Kab. Probolinggo Dukung Program Kartanu

Probolinggo, Siti Efi Farhati. Pimpinan Cabang (PC) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Probolinggo saat ini tengah berupaya untuk ikut mensukseskan program Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama (Kartanu). Upaya tersebut akan diwujudkan dengan cara turut memberikan dukungan dan berpartisipasi penuh terhadap pelaksanaan program Kartanu.

Muslimat Kab. Probolinggo Dukung Program Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat Kab. Probolinggo Dukung Program Kartanu (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat Kab. Probolinggo Dukung Program Kartanu

Sekretaris PC Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Hikmatun Hasanah kepada Siti Efi Farhati, Jum’at (8/2) mengatakan program Kartanu ini merupakan program NU yang diselenggarakan dengan tujuan untuk pembuatan database (sensus) warga NU, mengantisipasi terhadap pihak luar dan memberikan kontribusi finansial ke organisasi serta memberi data pendukung untuk program-program NU.

”Dengan mensukseskan program Kartanu, berarti kita turut mendukung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam upaya menata ulang keanggotaan NU yang tersebar di seluruh pelosok tanah air. Apa yang telah dicanangkan PBNU dalam upaya mendata ulang warga Nahdliyin wajib kami dukung,” ungkapnya.

Siti Efi Farhati

Menurut Hikmatun Hasanah, demi mensukseskan program Kartanu ini segenap pengurus Muslimat NU di semua tingkatan rutin melakukan sosialisasi kepada segenap warga Nahdliyin. Bahkan, pengurus Muslimat NU selalu mengambil inisiatif untuk memulai pemotretan untuk memberikan contoh dan motivasi kepada warga Nahdliyin.

Siti Efi Farhati

“Manfaat Kartanu ini sekarang banyak sekali, mulai dari untuk mengetahui jumlah keanggotaan NU di masing-masing tingkatan NU. Kartanu sangat penting untuk dimiliki oleh warga Nahdliyin sebagai bukti resmi warga NU. Apalagi Kartanu merupakan bentuk legalitas dan apresiasi kita kepada NU,” jelasnya.

Dikatakan Hikmatun Hasanah, pendataan melalui Kartanu ini memiliki arti yang sangat penting untuk penguatan organisasi dan warga NU. Selain itu, keberadaan Kartanu ini dimaksudkan untuk menangkal dan membentengi warga NU dari budaya luar yang tidak sesuai dengan amaliah NU. Apalagi sebagai organisasi yang kuat, NU harus tahu jumlah anggota dan seluruh warga Nahdliyin di wilayahnya.

”Melalui program Kartanu ini kami berharap nantinya bisa lebih menjaga ukhuwah Nahdliyah dan membesarkan NU dengan sesama warga NU serta mampu memproteksi transnasional akibat pemahaman yang salah,” pungkasnya.

 

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor : Syamsul Akbar

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Khutbah, Ulama, Pendidikan Siti Efi Farhati

Sabtu, 11 November 2017

Jelang Copa Amerika, Chaves Ingatkan Oposisi untuk Tidak Buat Keributan

Caracas, Siti Efi Farhati. Presiden Venezuela Hugo Chaves, Minggu (17/6), mengingatkan pihak oposisi untuk tidak membuat keributan menjelang Copa Amerika dengan melakukan aksi turun jalan yang dinilainya dapat menimbulkan kemacetan lalu lintas.



Jelang Copa Amerika, Chaves Ingatkan Oposisi untuk Tidak Buat Keributan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Copa Amerika, Chaves Ingatkan Oposisi untuk Tidak Buat Keributan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Copa Amerika, Chaves Ingatkan Oposisi untuk Tidak Buat Keributan

Chaves mendesak pemerintahannya termasuk angkatan bersenjata dan badan intelijen negara untuk menetralisir berbagai upaya yang dapat mengganggu turnamen sepak bola itu, yang menurut rencana akan diselenggarakan di Venezuela mulai 26 Juni hingga 15 Juli mendatang.

"Rencana ini terus berkembang. Kami sedang meredamnya, namun mereka tidak akan menyerah," ungkap Chaves saat berbicara dalam siaran radio dan televisi setiap minggunya dan menambahkan, pihaknya tidak akan membiarkan pihak oposisi untuk menekannya.

Siti Efi Farhati

Saat berada di Los Llanos, jantung kota Venezuela, Chaves membaca sebuah kolom surat kabar VEA yang menyatakan bahwa kelompok-kelompok radikal "sedang menginginkan sektor transportasi untuk menyeru pemogokan nasional...dan merencanakan serangkaian protes yang bertepatan dengan Copa Amerika untuk menciptakan keributan nasional dan internasional."

Copa Amerika yang akan digelar di Venezuela tahun ini juga mendatangkan tim dari Amerika Serikat (AS) dan Meksiko sebagai tim-tim tamu undangan.

Siti Efi Farhati

Presiden Chaves tidak menjelaskan secara gamblang rencana-rencana oposisi atau kelompok mana yang terlibat, namun dia merujuk sebuah kolom surat kabar yang menunjukkan adanya "konspirasi" di balik aksi protes mahasiswa belakangan ini atas keputusan Chaves menutup sebuah stasiun televisi RCTV (Radio Caracas Television).

Sumber AP melaporkan, pemerintah Venezuela telah menghabiskan dana senilai satu juta dolar untuk membangung dua stadion baru, mempercantik tujuh stadion yang lain dan merenovasi bandara serta wilayah-wilayah sekitar untuk menyambut perhelatan akbar Copa Amerika.

Chaves mengungkapkan, turnamen ini akan menjadi sebuah "peristiwa bersejarah", namun dia menyesali tidak bisa hadir dalam upacara pembukaan karena harus melakukan layatan ke luar negeri. (dar)Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kyai, Pemurnian Aqidah, Ulama Siti Efi Farhati

Sambut Harlah NU, Ansor Way Kanan Bekam Gratis 90 Warga

Way Kanan, Siti Efi Farhati. Nahdlatul Ulama (NU) akan berusia 90 tahun pada 31 Januari 2016. Warga NU Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung, bersiap merayakan di 14 kecamatan yang ada.

Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) melalui intruksi Ketua Pengurus Cabang NU (PCNU) Way Kanan KH Nur Huda akan menggelar serangkaian acara serentak berkaitan dengan amaliah-amaliah Aswaja.

Sambut Harlah NU, Ansor Way Kanan Bekam Gratis 90 Warga (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Harlah NU, Ansor Way Kanan Bekam Gratis 90 Warga (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Harlah NU, Ansor Way Kanan Bekam Gratis 90 Warga

"Sementara masih diinventarisir setiap MWC akan menggelar apa. Adapun Gerakan Pemuda Ansor, sebagai rencana tindak lanjut berlatih bekam, akan menggratiskan warga sejumlah 90 orang untuk hijamah atau mengeluarkan darah kotor secara gratis pada harlah NU," ujar Ketua PC GP Ansor Way Kanan Gatot Arifianto di Blambangan Umpu, Jumat (8/1).

Siti Efi Farhati

Organisasi pemuda NU di daerah yang dipimpin Pj Bupati Albar Hasan Tanjung ini dalam beberapa kesempatan mengajarkan pengobatan bekam kepada kader. Antara lain di PAC Pakuan Ratu yang juga diikuti kader dari PAC Negeri Agung dan selanjutnya akan diikuti kader PAC Kasui, Rebang Tangkas dan Banjit.

Siti Efi Farhati

"Rasullullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Hendaklah kalian semua melakukan pengobatan bekam ditengah tengkuk, karena sesungguhnya hal itu merupakan obat dari 72 macam penyakit’. Bekam bagi 90 warga secara gratis tersebut akan digelar PAC Pakuan Ratu yang dipimpin sahabat Bakti Ghozali," ujar pemilik gelar adat Lampung Ratu Ulangan itu lagi.

PCNU Way Kanan pada Ahad (10/1) akan menggelar rapat akbar dengan seluruh badan otonom dan lembaga NU setempat di kantor NU, Kampung Tiuh Balak I, Kecamatan Baradatu untuk membahas perayaan Harlah NU. (Disisi Saidi Fatah/Mahbib)

Foto: Kader Gerakan Pemuda Ansor Pakuan Ratu dan Negeri Agung belajar bekam di Klinik Bulan Medical Center Pimpinan dr Yusuf J Mustofa Dok GP Ansor Way Kanan

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Bahtsul Masail, Ahlussunnah, Ulama Siti Efi Farhati

Kamis, 02 November 2017

Apple Store Sediakan Aplikasi Gratis Baca Qur’an dengan Benar

Jakarta, Siti Efi Farhati. Sebuah aplikasi Al-Qur’an terbaru untuk membantu orang membaca Qur’an dengan benar sekarang tersedia di Apple App Store.

Aplikasi yang dinamakan “Membaca dengan Benar” dikembangkan oleh the Qur’an Recital and Memorization Society di Jeddah dan dilaunching baru-baru ini oleh Menteri Urusan Pembinaan Islam dan Wakaf Saudi Arabia Sheikh Saleh bin Abdulaziz bin Mohammed Al Al-Sheikh.

Apple Store Sediakan Aplikasi Gratis Baca Qur’an dengan Benar (Sumber Gambar : Nu Online)
Apple Store Sediakan Aplikasi Gratis Baca Qur’an dengan Benar (Sumber Gambar : Nu Online)

Apple Store Sediakan Aplikasi Gratis Baca Qur’an dengan Benar

Abdul Aziz Hanafi, kepala organisasi tersebut di Jeddah, mengatakan Apple bersedia bekerjasama dan menyambut software tersebut. “Aplikasi ini tersedia secara bebas di app store, bagi mereka yang menggunakan iPad, iPhone and iMac computer. Siapapun dapat menggunakan software ini,” jelasnya. 

Dia mengatakan, software ini akan merekam bacaan Qur’an ayat tertentu, yang kemudian dikirim ke website milik milik organisasi tersebut, dimana seorang guru akan mereview bacaan tersebut, lalu memberikan panduan. Pengguna akan menerima umpan balik dalam 30 menit.

Siti Efi Farhati

Untuk sementara software ini hanya tersedia dalam versi Arab “Kami bermaksud memperluas aplikasi ini dalam banyak bahasa dalam berbagai platform dalam waktu singkat. Akan tersedia versi Inggris, Urdu, Tagaloc, Mynmar, dan Turki.

Siti Efi Farhati

“Juga akan tersedia dalam platform Adroid, sehingga dapat didownload di smartphone Samsung, Nokia dan Sony,” katanya.

Dalam wawancaranya dengan Arab News, dia mengatakan, 1000 orang telah lulus dalam kursus ini. “Komunitas kita adalah sebuah organisasi payung yang terdiri dari 170 organisasi lain dari berbagai bagian di Arab Saudi dan dengan beberapa universitas,” katanya.

Komunias ini dikenal sebagai “khayrukum,” atau “mereka yang terbaik.” Frasa ini diambil dari perkataan Rasulullah “Yang terbaik diantara kamu adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkan kepada yang lain.” 

Dia mengatakan bahwa organisasinya mengajar 53.000 dalam tingkatan nasional, termasuk 15-20 ribu anak-anak ekspatriat yang tidak  dapat berbahaya Arab. (islam.ru/mukafi niam)

Foto: Islam.ru

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Ulama Siti Efi Farhati

Minggu, 29 Oktober 2017

SBY akan Buka Munas dan Konbes Alim Ulama NU

Jakarta, Siti Efi Farhati. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan kesediaannya untuk hadir dan membuka kegiatan Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Alim Ulama Nahdlatul Ulama, yang diagendakan digelar September mendatang.

SBY akan Buka Munas dan Konbes Alim Ulama NU (Sumber Gambar : Nu Online)
SBY akan Buka Munas dan Konbes Alim Ulama NU (Sumber Gambar : Nu Online)

SBY akan Buka Munas dan Konbes Alim Ulama NU

"Tadi saya sampaikan, yang dulu-dulu Munas Konbes NU yang hadir adalah Wakil Presiden. Tapi tadi saya juga menyampaikan kali ini jika berkenan Presiden yang hadir, dan Alhamdulillah beliau bersedia," ungkap Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, usai bertemu dengan SBY di Istana Negara, Selasa kemarin (29/5).

Kang Said, demikian Kiai Said disapa dalam kesehariannya, menemui SBY di Istana Negara dengan didampingi oleh Sekjen PBNU H. Marsudi Syuhud dan Ketua Panitia Munas dan Konbes Alim Ulama H. Dedi Wahidi. Mendampingi Presiden dalam kesempatan ini Mensesneg Sudi Silalahi, Menag Suryadharma Ali, dan Seskab Dipo Alam.

?

Siti Efi Farhati

Kiai Said menjelaskan, tema Munas kali ini yaitu Kembali ke Khittah Indonesia 1945: Meningkatkan Khidmah NU Menuju Indonesia yang Berdaulat, Adil dan Makmur.

Siti Efi Farhati

?

Di kesempatan yang sama PBNU juga menyampaikan akan digelarnya Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) NU di Pontianak pada tanggal 3 Juli mendatang yang rencananya akan dibuka Wakil Presiden RI ? Boediono.

Penulis: Emha Nabil Haroen

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Ulama, AlaNu Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock