Tampilkan postingan dengan label Makam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 Februari 2018

Spiritualitas Pembeda Unusia dengan Kampus Lain

Jakarta, Siti Efi Farhati

Ada orang yang beriman, tetapi tidak berilmu. Juga ada orang berilmu, sayangnya tidak beriman. Padahal Allah SWT mengangkat derajat orang-orang yang beriman sekaligus berilmu. Beriman sekaligus berilmu itulah yang menjadi cita-cita Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia).

Demikian disampaikan Rektor Unusia Prof Dr Ir Maksoem Machfoedz pada? ceramah ilmiah berjudul “Spiritualisasi Keilmuan” dalam rangka Dies Natalis Ke-1 Unusia di Aula Utama Unusia, Jalan Taman Amir Hamzah, Menteng Jakarta Pusat, Rabu (15/6).

Spiritualitas Pembeda Unusia dengan Kampus Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Spiritualitas Pembeda Unusia dengan Kampus Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Spiritualitas Pembeda Unusia dengan Kampus Lain

Peringatan ulang tahun pertama Unusia mengambil tema “Menuju Kampus Bermutu”. Dalam ceramahnya, Prof Maksoem pun mengambil analogi keilmuan yang ingin dikembangkan Unusia dengan spirit ibadah puasa.

Siti Efi Farhati

Pelaksanaan ibadah puasa harus mampu mengendalikan hawa nafsu. Bagi mahasiswi hendaknya menghindari perguncingan, dan mahasiswa harus mampu menjaga pandangan mata yang dapat mengundang syahwat. Puasa jangan sampai hanya mendatangkan derita lapar dan dahaga. Karena puasa bertujuan menjadikan manusia bertakwa.

Ketakwaan dapat dilihat dari beberapa dimensi, yaitu ubudiyah dan pembentukan karakter. Salah satu bentuk karakter takwa adalah keadilan. Keadilan mendekatkan pula kepada ketakwaan. Keadilan harus ditegakkan, walaupun berkaitan dengan orang terdekat, juga tidak peduli kaya atau miskin. Keadilan harus pula diaplikasikan melalui sikap kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Siti Efi Farhati

Prof Maksoem menegaskan semua tujuan itu dikaji, dibentuk dan diwujudkan dalam program studi-program studi yang diselenggarakan di Unusia. Adalah tantangan bagi keberadaan program studi humaniora dengan aneka pendekatan keilmuannya untuk menerjemahkan cita-cita dan amanat spiritual keadilan. Sudah tiba waktunya dipertanyakan eksistensi keilmuan Hukum ketika ketidakadilan justru menjadi raja diraja. Pertanyaan yang sama juga menjadi tantangan serius bagi Ilmu Psikologi, Sosiologi, Komunikasi sampai Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Penting direnungkan, lanjut Prof Maksoem, bahwa krisis ekonomi merupakan kegagalan keilmuan ekonomi baik dari sisi manajemen maupun akuntansinya. Tantangan keilmuan ekonomi adalah menerjemahkan ekonomi yang berkeadilan. Ilmu ekonomi yang selama ini diterapkan hanya memperhatikan keuntungan uang.

Menurut Prof Maksoem ilmu teknik juga sama saja, bahkan cenderung menjadi hamba kapitalis. “Pernahkah kita berpikir ada lulusan Sistem Informasi yang pro rakyat kecil? Umumnya mereka sangat pro kapitalisme dan liberalisme,” kata Prof Maksoem.

Setiap ada warga yang miskin, selalu yang disalahkan adalah kaum miskin tersebut. Kaum miskin dipersalahkan karena kalah bersaing, tidak belajar, dan dianggap pantas saja ada fakir miskin.

Prof Maksoem berasumsi, bila Allah tidak menyaratkan perhatian orang muslim terhadap kaum miskin, kira-kira apa ada puasa wajib? Bila tidak ada kepentingan dengan fakir miskin bisa jadi puasa Ramadhan tidak wajib. Karena salah satu hikmah berpuasa adalah membangun simpati dan empati kepada kaum miskin.

Puasa juga tidak lengkap apabila tidak ada kewajiban membayar zakat. Membayar zakat haruslah kepada orang yang berhak, salah satunya fakir miskin.

Prof Maksoem mendorong mahasiswa Unusia semua jurusan menjadi ilmuwan yang tidak hanya intelektual, tetapi ilmuwan yang bertindak untuk kemaslahatan umat. Ilmuan seperti itulah yang oleh Allah disebut ulama. Yakni mereka yang dengan ilmunya—ilmu apa pun, tidak harus ilmu agama—dapat memberikan manfaat bagi orang lain. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Makam, Nahdlatul Ulama, Pertandingan Siti Efi Farhati

Selasa, 20 Februari 2018

Gerakan Kelompok Intoleran Mengoyak Persatuan Bangsa

Jakarta, Siti Efi Farhati. Belakangan ini bergolak sebuah pertanyaan kritis di masyarakat: masih berfungsikah imaji kolektif kita sebagai bangsa? Fenomena gerakan-gerakan intoleran dari sekelompok orang akhir-akhir ini tampaknya ingin mengoyak-oyak persatuan dan kesatuan negeri ini.

Begitulah pertanyaan yang terlontar ketika Abdul Ghopur, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB), Selasa (31/10) memberikan sambutan pada Harlah Ke-5 LSB, Selasa (31/10) di Gedung PBNU Jakarta.

Gerakan Kelompok Intoleran Mengoyak Persatuan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan Kelompok Intoleran Mengoyak Persatuan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan Kelompok Intoleran Mengoyak Persatuan Bangsa

Dalam acara bertema Menggali Mitos, Membangun Etos ini, ia menjelaskan, bangsa Indonesia adalah “konsepsi kultural” dan “konsepsi politik” tentang sebuah entitas yang tumbuh berdasarkan kesadaran politik untuk merdeka dengan meletakkan individu ke dalam kerangka kerakyatan. 

“Dalam kerangka ini, setiap rakyat dipertautkan dengan suatu komunitas politik dalam kedudukan yang sederajat di depan hukum, dengan operasi atas prinsip kekariban, keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan bersama,” ujar Abdul Ghopur di depan para pemuda dan aktivis lintas pergerakan yang menghadiri acara tersebut.

Namun saat bersamaan, sambung Ghopur, Indonesia juga masih mengalami persoalan mendasar, yakni merosotnya nilai-nilai kebangsaan, nasionalisme dan semangat kemajemukan sebagai bangsa yang multikultural. 

Siti Efi Farhati

“Masih saja ada upaya pengingkaran terhadap pluralitas bangsa Indonesia yang setiap saat dapat saja muncul ke permukaan,” ungkapnya dalam kegiatan yang dibarengi dengan peluncuran buku Indonesia Ruma Kita dan Refleksi Sumpah Pemuda ke-89 ini.

Sebagai bangsa yang multietnis, ras, suku, budaya, bahasa dan agama, secara jujur kita masih belum bisa menghilangkan atau paling tidak meminimalkan apa yang disebut dengan barrier of psychology (batas psikologis/prasangka) terhadap sesama anak bangsa. 

Siti Efi Farhati

“Itulah yang kerap memunculkan konflik bernuansa SARA di negeri ini secara vertikal maupun horisontal,” tukas penulis Buku Indonesia Rumah Kita ini. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Makam, Kajian, Fragmen Siti Efi Farhati

Minggu, 11 Februari 2018

Pesantren Harus Kembali Pada Seni dan Budaya

Cirebon, Siti Efi Farhati

Pada mulanya pesantren dan seni budaya memiliki hubungan yang sangat erat, terlebih pada zaman Walisongo, seni dan budaya justru dijadikan sebagai media dakwah dan syi’ar agama Islam, hanya saja dalam perjalanan sejarahnya, pesantren dan seni budaya semakin memiliki jarak dan tampak kurang harmonis.?

Demikian ungkap Raffan S. Hasyim, direktur Pusat Studi Budaya dan Manuskrip Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) Cirebon saat berkesempatan menjadi pembicara dalam pembukaan pekan Griya Seni dan Gallery di Brana Cafe, Cirebon. Senin (20/5).

Pesantren Harus Kembali Pada Seni dan Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Harus Kembali Pada Seni dan Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Harus Kembali Pada Seni dan Budaya

“Di Cirebon sendiri, justru sejarah pendirian pesantren tidak bisa terlepas dari rutinitas keraton sebagai pusat kebudayaan, Sunan Gunung Jati sebagai juru dakwah menjadikan seni tradisi dan budaya Kacirebonan sebagai alat syi’ar yang dinilai strategis. Meski dalam perjalanannya, penjajah Belanda turut andil besar dalam kesan pemisahan antara seni budaya dan pesantren tersebut,” ungkap Raffan.

Siti Efi Farhati

Lebih lanjut lagi Raffan menambahkan, meskipun terkesan sulit untuk meleburkan kembali antara seni budaya dengan pesantren, namun secara perlahan hal tersebut mulai tampak menggembirakan, beberapa pesantren di Cirebon sudah tidak begitu tabu untuk mengenal bahkan mementaskan seni seperti wayang dan lain-lain.

“Saya menaruh harapan kepada generasi muda agar dapat menghangatkan kembali hubungan seni budaya Cirebon dengan pesantren, karena memang sebenarnya kedua aspek terebut merupakan penguat identitas bangsa yang tidak bisa dipisahkan,” tambah Filolog yang sedang menempuh gelar doktor di Univeritas Padjajaran Bandung ini.

Siti Efi Farhati

Diskusi budaya yang bertema Seni Budaya Cirebon Sebagai Pintu Kebangkitan Budaya Nusantara ini merupakan sesi pembuka dari serangkaian kegiatan kebudayaan yang akan dilangsungkan dalam sepekan mendatang. Selain diskusi, acara ini juga dilengkapi dengan pameran fotografi bertema seni dan budaya, dan juga dihadiri oleh puluhan santri, mahasiswa, tokoh budayawan, penggiat seni, dan masyarakat umum

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Sobih Adnan

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Budaya, Makam Siti Efi Farhati

Senin, 05 Februari 2018

Dubes Jerman Ingin Belajar Islam ala NU

Jakarta, Siti Efi Farhati. Dubes Jerman untuk Indonesia Georg Witschel mengunjungi kantor PBNU jalan Kramat Raya, Kamis (5/11) sore. Kepada pengurus PBNU, Georg menyampaikan keresahan bahwa Islam yang hari ini sering dikaitkan dengan kekerasan, membuat resah negara-negara di mana Islam baru berkembang seperti Jerman.

Dubes Jerman Ingin Belajar Islam ala NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Dubes Jerman Ingin Belajar Islam ala NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Dubes Jerman Ingin Belajar Islam ala NU

Menurutnya, Jerman adalah negara eropa di mana perkembangan agama Islam sangat pesat. Meski tak sereligius Indonesia, lebih dari 2000 masjid sudah berdiri di Jerman, menandakan negara ini bukanlah sekuler. Sebab itu Duta Besar Jerman untuk Indonesia bersilaturahmi ke kantor PBNU dalam rangka belajar kepada Indonesia khususnya NU terkait cara berislam.

Dubes Jerman mengatakan bahwa Islam yang ada di Indonesia tidak seperti yang ada di Timur Tengah. Di sini Islam tidak hanya dapat bersinergi dengan sesama Islam tetapi non Islam bahkan negara. Di sisi lain NU juga menjadi garda depan dalam membela kelompok-kelompok minoritas tidak hanya muslim juga non muslim. Sebab itu kita ingin belajar dari NU. “Jerman memunyai kesamaan dengan Indonesia, bahwa kebebasan beragama dilindungi oleh negara,” katanya.

Siti Efi Farhati

Di kesempatan yang sama Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengawali pernyataan bahwa NU mengecam kekerasan baik sesama Islam maupun sebaliknya. NU bukanlah Islam Arab, Timur Tengah ataupun Barat. “NU menghargai keberagaman, melindungi minoritas, dan menjaga tradisi seperti yang diterapkan Rasulullah dalam Piagam Madinah,” sambungnya.

Siti Efi Farhati

Di akhir pertemuan Dubes Jerman meminta izin kepada PBNU untuk bersedia menjadi pembicara dalam konferensi Internasional, Desember nanti di Jakarta bersama pakar dari Maroko dan Tunisia mengenai radikalisme agama.

Sambung Kang Said, PBNU mendukung langkah pemerintah Jerman dan bersedia memberikan bantuan pendidikan mengenai cara berislam yang saling menghargai, menjaga tradisi lokal, toleran dan cinta damai. Tak hanya itu Kang Said juga menawarkan kepada para takmir masjid yang ada di Jerman untuk belajar dan menambah wawasan keislaman di perguruan tinggi milik NU. “Kita mempunyai progam studi Islam Nusantara, Islam yang menghargai nilai-nilai tradisi” tuturnya.

Rombongan disambut hangat oleh Kiai Said beserta pengurus teras PBNU. Terlihat Sekjen PBNU Helmi Faisal Z, Ketua PBNU KH Marsyudi Syuhud, Ketua PBNU KH Abdul Manan, Bendahara Umum Bina Suhendra, dan Wasekjend Imam Pituduh. Pertemuan ditutup dengan penyerahan plakat NU kepada Dubes Jerman. (Faridur Rohman/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Makam Siti Efi Farhati

Rabu, 31 Januari 2018

Yahya Staquf: Islam Nusantara itu Mu’tabar, Otentik dan Otoritatif

Jakarta, Siti Efi Farhati. Katib Syuriah PBNU KH Yahya Cholil Staquf mengatakan, dalam kajian NU, hal-hal yang menyangkut ekspresi Islam Nusantara seluruhnya adalah sah dalam pandangan ajaran agama. Dalam bahasa agama disebut mu’tabar, artinya otentik dan otoritatif.

“Ini memang Islam. Bukan bid’ah, bukan pula khurafat. Ini Islam berdasarkan kajian terhadap sumber-sumber ajaran agama. Ini sungguh-sungguh Islami,” kata Gus Yahya kepada wartawan usai memoderatori diskusi umum pra-Muktamar NU di kantor The Wahid Institute Jl Taman Amir Hamzah, Jakarta Pusat, Jumat (29/5).

Yahya Staquf: Islam Nusantara itu Mu’tabar, Otentik dan Otoritatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Yahya Staquf: Islam Nusantara itu Mu’tabar, Otentik dan Otoritatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Yahya Staquf: Islam Nusantara itu Mu’tabar, Otentik dan Otoritatif

Ditanya apakah kegiatan ini dalam rangka melawan isu Islam transnasional, semisal ISIS, Gus Yahya menjawab, sebetulnya ini mewakili perasaan publik yang terancam. “Sebetulnya itu bukan hanya ancaman bagi Indonesia. Kita merasa terancam karena kita akan kehilangan identitas dan pada saat yang sama terancam kehancuran sebagaimana yang terjadi di tempat lain,” tuturnya.

Siti Efi Farhati

Yang kedua, lanjut Gus Yahya, kekejaman ISIS merupakan ancaman global karena mereka melakukan kerusakan di berbagai tempat di mana mereka membuat propaganda. “Mana bangsa yang memperoleh kemakmuran oleh ideologi itu, semuanya hancur. Libya, Tunisia, Mesir, semuanya hancur. Kita tidak mau seperti mereka,” ujarnya.

Siti Efi Farhati

Gus Yahya berkeyakinan, bahwa sebetulnya mayoritas muslim di sana seperti muslim di Indonesia yang mengikuti madzhab Islam damai sebagaimana digambarkan utusan Grand Syeikh Al-Azhar Mesir. “Semuanya ini terancam karena ada kelompok yang memiliki ambisi politik tertentu kemudian mengatasnamakan agama yang menimbulkan kekacauan dan kerusakan,” terangnya.

Melalui diskusi tersebut, lanjut Gus Yahya, kita ingin menunjukkan Islam Nusantara untuk encourage kaum muslimin di tempat lain yang seperti kita berani menunjukkan diri. “Jadi, Islam bukan milik mereka yang radikal-radikal itu. Kita yang mu’tabar, bukan mereka,” tegasnya.

Ditanya bagaimana cara membumikan Islam Nusantara sementara berbagai gesekan masih kerap terjadi lantaran adanya pihak yang mempermasalahkan salah satu paham tertentu, bagi dia, tak paham sejarah. “Kita hidup di sini lima ratus tahun. Anda tau, Ahmadiyah itu hidup di Indonesia sudah lebih dulu daripada NU. Bahkan sejak Republik ini belum lahir. Dulu aman-aman aja. Sekarang kok ada yang teriak-teriak, siapa mereka itu,” ujarnya.

Menurut keponakan Gus Mus ini, para narasumber diskusi hendak mengkonfirmasi Islam yang mengedepankan kedamaian itulah Islam yang sejati. “Nah, Islam yang seperti itu benar-benar hidup di Indonesia,” ujarnya.

Diskusi umum bertajuk “Konsolidasi Dunia Islam Menghadapi Radikalisme dan Terorisme” tersebut menghadirkan tiga narasumber: Prof Dr Abdelmonem Fouad Othman (Utusan Khusus Grand Syeikh Al Azhar), Mohamed Aboelfadl Ahmed (Redaktur Senior Harian Al-Ahram), dan Prof Dr Rudiger Lohlker (Guru Besar Studi Islam Universitas Wina, Austria). (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Makam, Kiai Siti Efi Farhati

Jumat, 26 Januari 2018

PBNU Serukan Sholat Istisqo kepada PWNU dan PCNU Se-Indonesia

Jakarta, Siti Efi Farhati. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama mengeluarkan surat instruksi yang ditujukan kepada PWNU dan PCNU yang ada di seluruh Indonesia. Mereka meminta pengurus NU wilayah dan cabang untuk menginisiasi penyelenggaraan sholat Istisqo’ di daerahnya masing-masing.

Instruksi ini dikeluarkan mengingat bencana asap, kekeringan, dan kelangkaan hujan di berbagai daerah di Indonesia. Surat ini yang ditandatangani Rais Aam KH Ma’ruf Amin, Katib Aam KH Yahya Cholil Staquf, Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan Sekjen PBNU H Helmy Faisal Zaini.

PBNU Serukan Sholat Istisqo kepada PWNU dan PCNU Se-Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Serukan Sholat Istisqo kepada PWNU dan PCNU Se-Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Serukan Sholat Istisqo kepada PWNU dan PCNU Se-Indonesia

“Kami mengajak warga NU untuk memohon ampunan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT,” seperti dirilis dalam surat instruksi Kamis, tertanggal 7 Oktober 2015.

Siti Efi Farhati

Pengurus harian PBNU meminta pengurus PWNU dan PCNU untuk meneruskan maklumat ini kepada pengurus MWCNU dan ranting NU di daerah masing-masing. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Makam, Internasional, Santri Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati

Senin, 08 Januari 2018

100 Jemaah Haji Indonesia Dikabarkan Meninggal

Makkah, Siti Efi Farhati - Sekitar 150 ribu jemaah haji Indonesia serta jutaan jemah negara lain telah selesai menyelesaikan prosesi puncak haji, wukuf di Arafah. Seteleh menginap (mabit) di Muzdalifah, Senin (12/9), jemaah haji sudah berada di Mina untuk mabit di sana sampai dengan 14 September bagi yang mengambil nafar awal dan 15 September untuk yang nafar tsani.

Sampai dengan sehari pasca Arafah, tercatat total 100 jemaah haji Indonesia yang wafat di Saudi. Data Sistem Informasi Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Kesehatan, hari ini pukul 07.00 waktu Arab Saudi mencatat, delapan orang di antaranya, meninggal di Arafah pada 8 9 Dzulhijjah kemarin.

100 Jemaah Haji Indonesia Dikabarkan Meninggal (Sumber Gambar : Nu Online)
100 Jemaah Haji Indonesia Dikabarkan Meninggal (Sumber Gambar : Nu Online)

100 Jemaah Haji Indonesia Dikabarkan Meninggal

"Kalau yang meninggal di Arafah ada delapan orang, tapi yang wafat pada hari Arafah (9 dzulhijjah) hanya lima, yang tiga wafat di pemondokan Arafah pada 8 Dzulhijjah," demikian penjelasan Penghubung Kesehatan dr. Ramon Andreas di Daker Makkah sebagaimana dilansir di laman Kemenag.go.id

Siti Efi Farhati

Kedepalan jemaah yang wafat di Arafah: Sanipah binti Kawi Soleh (76), Sarah binti Marjuki Sere (84), Sukro bin Gimin Sali (71), Roemijatoen binti Mariso Kromorejo (69), Djumirah binti Karto Temon (82), Dimanto bin Sono Dikromo (72), Mani binti Mamak Isma (49), dan Moh. Choliq Atmowisastro bin Hanafi (71).

Siti Efi Farhati

Ditanya apakah ada penurunan jumlah jemaah wafat di Arafah, Ramon belum bisa memberikan kepastian. Hanya saja, Ramon menilai kalau jemaah haji cukup disiplin untuk tetap berada di tenda saat menjalani proses wukuf. Hal ini antara lain ditandai dengan menurunnya layanan antarjemaah haji yang tersesat jalan untuk kembali ke tenda maktabnya.

"Kalau melihat kemarin, kelihatannya jemaah kita lebih disiplin. Di tenda penerangan tidak banyak orang kesasar. Selain itu, keberadaan petugas sektor adhoc cukup efektif menjaga jemaah agar tetap berada di tendanya," ujar Ramon.

Menurut Ramon, keberadaan water fan juga cukup membantu memberi kelembaban dan mendinginkan suhu ditenda. Per hari ini, suhu udara mencapai 42 derajat celcius, sementara riil feelnya mencapai 52 derajat. Adapun kelembaban hanya 22%, ujar Ramon.

Berikut ini daftar lengkap 100 jemaah yang wafat:

1. Senen bin Dono Medjo (79). Embarkasi Surabaya (SUB) Kloter 007.

2. Siti Nurhayati binti Muhammad Saib (68). Embarkasi Aceh (BTJ) Kloter 002.

3. Martina binti Sabri Hasan (47). Embarkasi Batam (BTH) Kloter 006.

4. Khadijah Nur binti Imam Nurdin (66). Embarkasi Aceh (BTJ) Kloter 004.

5. Dijem Djoyo Kromo (53). Perempuan. Embarkasi Solo (SOC) Kloter 018.

6. Sarjono Bin Muhammad (60). Laki-laki. Embarkasi Batam (BTH) Kloter 006.

7. Oom Eli Asik (66). Perempuan. Embarkasi Jakarta-Bekasi (JKS) Kloter 003.

8. Nazar Bakhtiar bin Batiar (82). Embarkasi Padang (PDG) Kloter 001.

9. Juani bin Mubin Ben (61). Embarkasi Aceh (BTJ) Kloter 006.

10. Asma binti Mian (78). Embarkasi Padang (PDG) Kloter 001.

11. Tasniah binti Durakim Datem (73). Embarkasi Padang (PDG) Kloter 003.

12. Jamaludin bin Badri Kar (58). Embarkasi Palembang (PLM) Kloter 005.

13. Abdullah bin Umar Gamyah (68). Embarkasi Aceh (BTJ) Kloter 001.

14. Rubiyah binti Mukiyat Muntari (71). Embarkasi Surabaya (SUB) Kloter 020.

15. Muhammad Tahir bin Abdul Razak (68). Embarkasi Batam (BTH) Kloter 011.

16. Siti Maryam binti Ismail (60). Embarkasi Solo (SOC) Kloter 001.

17. Misnawar bin Kasimo Kamujo (76). Embakarsi Surabaya (SUB) Kloter 015

18. Din Azhari Nurina bin Sadid (73). Embarkasi Padang (PDG) Kloter 005.

19. Noorsi Fatimah binti M Saleh Mardiwiyono (60). Embarkasi Balikpapan (BPN) Kloter 009.

20. Muhammad Nasir bin Abdul Hamid (64). Embarkasi Batam (BTH) Kloter 010.

21. Manih binti Siyan Muhammad (71). Embarkasi Jakarta Pondok Gede (JKG) Kloter 006.

22. Joko Pramono bin H Ali Pramono (41). Embarkasi Surabaya (SUB) Kloter 26.

23. Wahono Wilik bin Walijo Kartodimejo (65). Embarkasi Batam (BTH) kloter 002.

24. Udju Sumiati binti Marhati (62). Embarkasi Jakarta - Bekasi (JKS) Kloter 038.

25. Siti Fatonah Binti Supangat Kasmungin (68). Embarkasi Surabaya (SUB) Kloter 028.

26. Imam Rifai bin Ngali (60). Embarkasi Palembang (PLM) Kloter 005.

27. Suhaimi bin kadir Abdillah (62). Embarkasi Medan (MES) Kloter 005.

28. Siti Maskanah binti Djumri (66). Embarkasi Banjarmasin (BDJ) Kloter 013.

29. Zainabon binti Umar Muhammad (71). Embarkasi Aceh (BTJ) Kloter 008.

30. Awaludin bin Abu Sahar Tanjung (58). Embarkasi Medan (MES) Kloter 011.

31. Kadiran bin Molyadi Sokaryo (71). Embarkasi Surabaya (SUB) Kloter 022.

32. Yudha Arifin bin Kasah (55). Jemaah haji khusus.

33. Abdul Hamid bin Lapewa Palewa (53). Jemaah haji khusus.

34. Roman bin H. Maeji Suhaedi (58). Embarkasi Jakarta-Bekasi (JKS) kloter 020.

35. Mochamad Subarjah bin Sumawinata R (64). Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 048.

36. Taggi bin Haseng Maggu (57). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 048

37. Saifuddin bin Buchori Abdullah (64). Embarkasi Solo (SOC) kloter 003.

38. Semi Parsinah binti Wamu Adam (65). Embarkasi Aceh (BTJ) loter 002.

39. Siti Maryam binti Haram (79). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 020.

40. Aceng bin Nuroddin Hasyim (58). Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 018.

41. Adisman Rasidin Salin bin St. Salam (63). Jemaah haji khusus.

42. Warniti binti Samadi Rimin (67). Embarkasi Solo (SOC) kloter 051.

43. Sukardi As Haryanto bin Abu Bakar (78). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 009.

44. Rukiyah bt Muhammad Arif Pane (62). Embarkasi Medan (MES) kloter 011.

45. Sumin Adinoto bn Suto Karso (73). Embarkasi Jakarta Pondok Gede (JKG) kloter 028.

46. Zahadi bin Muhayadin Asir (58). Embarkasi Palembang (PLM) kloter 007.

47. Imo binti Ahmad Umar (73). Embarkasi Lombok (LOP) kloter 006.

48. Carwit binti Karjani Sarip (51). Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 037.

49. Mukijan bin Sodimejoh Muhammad (62). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 032.

50. Siti Sarah binti Abdul Kapi (53). Embarkasi Banjarmasin (BDJ) kloter 014.

51. Abdul Sani bin H Hayani (59). Embarkasi Jakarta Pondok Gede (JKG) kloter 026.

52. Emuh Sutrisna Atmadja bin Wardi (79). Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 008.

53. Ali bin Lapantje Lakoro (77). Embarkasi Balikpapan (BPN) kloter 011.

54. Cholik bin Aguscik Usman (65). Embarkasi Palembang (PLM) kloter 005, B3343307.

55. Marfuah Amina Toyib binti Mustofa (76). Embarkasi Jakarta - Bekasi (JKS) kloter 34.

56. Nipi binti Mad Ambri Mungkar (69). Embarkasi Jakarta - Bekasi (JKS) kloter 34.

57. Hawang binti Bungku Ilham (59). Embarkasi Balikpapan (BPN) kloter 007.

58. Boniatun binti Dulkahir Kartak (60). Embarkasi Batam (BTH) kloter 17.

59. Hariri bin Mustafa M. Soleh (73). Embarkasi Jakarta - Pondok Gede (JKG) kloter 37.

60. Dain Nariya bin Satimin (69). Embarkasi Jakarta - Bekasi (JKS) kloter 29.

61. Rosid bin Kamadi Rani (63). Embarkasi Jakarta - Bekasi (JKS) kloter 061.

62. Muhammad Arifin bin Ambo Angka (58). Jemaah haji khusus

63. Zuri Mukanan bin Muhrin Kasrih (66). Jemaah haji khusus

64. Wawan Barnawi K bin Casmita (62). Embarkasi Jakarta - Bekasi (JKS) kloter 036.

65. Sikan bin Bait Sabut (59). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 005.

66. Nana Supena bin Uba R (64). Embarkasi Jakarta-Bekasi (JKS) kloter 010.

67. Budiyanto bin Lihan Suliman (57). Embarkasi kloter Surabaya (SUB) kloter 026.

68. Suhaimi bin Jamain Abdul Gafur (62). Embarkasi Padang (PDG) kloter 009.

69. Agus Slamet Riyadi bin Cokrowasito (62). Jemaah haji khusus.

70. Munawwaroh binti Muslih Simin (66). Embarkasi Jakarta-Pondok Gede (JKG) kloter 020.

71. Darmuya bin Jabar Bila (79). Embarkasi Padang kloter 011.

72. Sofyan Soleh Jamhari binti H.M Sohe (74). Embarkasi Jakarta-Pondok Gede (JKG) kloter 007.

73. Sumi binti Sahrul Towasi (80). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 003.

74. Nur Wachid bin Abdul Majid Samsul (68). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 025.

75. Sahriye binti Sulaiman Kaima (71). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 017.

76. Sulkan bin Satiman Lasijah (57). Embarkasi Solo (SOC) kloter 063.

77. Sariyana Ganing P binti Laganing (73). Jemaah haji khusus.

78. Djunaide bin Masse Bandu (71). Jemaah haji khusus.

79. Sawi bin Saidin Armidin (73). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 017.

80. Jamhari bin Arip Ardiah (83). Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 021.

81. Endah Wirdah binti Sukemi Harja. Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 038.

82. Mariyah Komar binti Umar Martawidjaja. Embarkasi Jakarta Pondok Gede (JKG) kloter 031.

83. Aen Harmaen bin Suhandi Suhatma (66). Jemaah haji khusus.

84. Ripah binti Ardja Semita (67). Embarkasi Solo (SOC) kloter 056.

85. Sumitro bin Chambali Moh. Sidik (80). Embarkasi Solo (SOC) kloter 036.

86. Nur Pudjimas Saleh bin Muhammad Nur (70). Embarkasi Jakarta-Pondok Gede (JKG) kloter 027.

87. Rasta Wangsa Mihardja bin P Sayan (80). Embarkasi Solo (SOC) kloter 053.

88. Namin bin Artamin Senang (79). Embarkasi Banjarmasin (BDJ) kloter 013.

89. Badrijanto bin Darmodipuro Kartowijoto (71). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 008.

90. Sanipah binti Kawi Soleh (76). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 030.

91. Sarah binti Marjuki Sere (84). Embarkasi Jakarta Pondok (JKG) kloter 033.

92. Sukro bin Gimin Sali (71). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 039.

93. Sangkut bin Yasin Saguk (60). Embarkasi Jakarta Pondok Gede (JKG) kloter 023.

94. Sutadji bin Taredjo Sabar (85). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 034.

95. Roemijatoen binti Mariso Kromorejo (69). Embarkasi Surabaya (SUB) kloter 028.

96. Djumirah binti Karto Temon (82). Embarkasi Solo (SOC) kloter 024.

97. Dimanto bin Sono Dikromo (72). Embarkasi Medan (MES) kloter 017.

98. Mani binti Mamak Isma (49). Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 016.

99. Jukih binti Tiyul Kemat (72) Embarkasi Jakarta Bekasi (JKS) kloter 029.

100. Moh. Choliq Atmowisastro bin Hanafi (71). Embarkasi Surabay (SUB) kloter 057. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nasional, Makam Siti Efi Farhati

Sabtu, 06 Januari 2018

Peserta Bahtsul Masail Harap Berkah Masyayikh Pesantren Al-Munawwir

Yogyakarta, Siti Efi Farhati. Panitia Muktamar NU memilih pesantren Al-Munawwir Krapyak sebagai tempat forum musyawarah untuk pematangan materi bahtsul masail muktamar NU mendatang di Jombang. Mereka sengaja memilih tempat ini untuk mengambil semangat dan tabarrukan dari para kiai Krapyak.

Peserta Bahtsul Masail Harap Berkah Masyayikh Pesantren Al-Munawwir (Sumber Gambar : Nu Online)
Peserta Bahtsul Masail Harap Berkah Masyayikh Pesantren Al-Munawwir (Sumber Gambar : Nu Online)

Peserta Bahtsul Masail Harap Berkah Masyayikh Pesantren Al-Munawwir

Katib Syuriyah PBNU KH Yahya Cholil Staquf yang membuka forum bahtsul masail pra muktamar ini menyebutkan harapannya agar Allah menurunkan keberkahan para guru pesantren Al-Munawwir bagi forum penting di NU.

“Kita berharap berkah dari masyayikh ma’had Al-Munawwir ini. Pesantren ini ialah salah satu soko guru dari pesantren NU. Para kiainya cukup menentukan bangunan pemikiran NU hingga kini,” kata Gus Yahya dalam sambutan atas nama panitia di pesantren Krapyak, Sabtu (28/3) siang.

Siti Efi Farhati

Menurut salah satu pengasuh pesantren Al-Munawwir KH Hilmi Muhammad, penempatan bahtsul masail pra muktamar NU ini berawal dari insiatif santri ma’had Aly Krapyak. Mereka menginginkan pesantren mengadakan forum bahtsul masail.

“Kami sebagai pengurus pesantren lalu menyinergikan dengan PBNU yang merencanakan sidang pra muktamar. Alhamdulillah pengurus PBNU merespon positif,” kata Gus Hilmi dalam sambutan atas nama sohibul bait mewakili KH Najib Abdul Qodir

Siti Efi Farhati

Kepada peserta bahtsul masail pra muktamar, Gus Hilmi mengucapkan selamat datang. “Kami berharap forum ini mengeluarkan keputusan yang bermanfaat bagi NU dan Indonesia.”

Sementara Katib Aam PBNU KH Malik Madani mengingat pesantren Krapyak menempati posisi penting bagi kiai NU. “Bahtsul masail pertama dalam rangkaian Pra Muktamar di sini menjadi kehormatan bagi PBNU,” kata Kiai Malik yang mengakhiri sambutannya dengan surat al-Fatihah.

Peserta datang dari sejumlah pengurus cabang NU dan pengasuh pesantren di Yogyakarta dan sekitarnya. Tampak hadir Dirut BPJS, Dirjen Haji Kemenag RI yang akan memaparkan keterangan yang dibutuhkan peserta. Terlihat juga puluhan mahasiswa jurusan Perbandingan Madzhab Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Makam, Fragmen, Olahraga Siti Efi Farhati

Kamis, 04 Januari 2018

Lindungi Masjid dari Pihak-pihak Penyebar Permusuhan

Makassar, Siti Efi Farhati. Ketua Pengurus Pusat Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTM-NU) KH Abdul Manan A Ghani mengingatkan para imam, khotib dan ta’mir masjid, untuk melindungi masjid dari pihak-pihak yang menyebarkan fitnah dan permusuhan, serta memecah belah umat.

"Sudah saatnya para imam dan khatib memfungsikan masjidnya sebagai pemersatu bangsa dan melindunginya dari pihak-pihak yang suka memfitnah dan memecah belah umat," ujarnya dalam kegiatan pelatihan kader penggerak (muharrik) masjid di Makassar, Selasa (9/9).

Lindungi Masjid dari Pihak-pihak Penyebar Permusuhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lindungi Masjid dari Pihak-pihak Penyebar Permusuhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lindungi Masjid dari Pihak-pihak Penyebar Permusuhan

Ia menegaskan, sejak zaman Nabi Muhammad SAW, para Sahabat, Tabiin, Tabiit Tabiin, hingga para ulama penerus dakwah Islam, masjid adalah cikal-bakal peradaban dan menjadi pusat gerakan. Di dalamnya, masjid mengelola seluruh aspek kehidupan masyarakat.

Siti Efi Farhati

"Masjid harus digerakkan sebagai penyambung-tangan rahmat Allah yang diinginkan oleh umat Islam," katanya.

Siti Efi Farhati

Kegiatan yang diikuti 150 peserta itu bekerjasama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme dengan tema "ToT Anti Radikal Terorisme kepada Imam Masjid dan Khotib". Kali ini untuk wilayah Sulawesi Selatan di Makassar diselanggarakan pada Senin-Rabu, 08-10 September 2014.

Selain dari unsur NU, peserta ToT berasal dari beberapa unsur pemerintah dan organisasi kemasyarakatan. Peserta unsur pemerintah antara lain dari Kemenag dan Kesbangpol Sulawesi Selatan, BKPRMI, DDI, Muhammadiyah, dan DMI Wilayah Sulawesi Selatan.

Kegiatan tersebut juga menghadirkan motivator KH Mansur Syaerozi yang juga Wakil Ketua PP LTM-NU. Katanya, untuk menangkal berbagai paham radikal, masyarakat perlu disibukkan dengan berbagai kegiatan positif yang jelas dan maslahat untuk diri dan lingkungannya. Dalam hal ini masjid bisa dijadikan sebagai pusat berbagai kegiatan. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Halaqoh, Cerita, Makam Siti Efi Farhati

Rabu, 03 Januari 2018

Pengurus Baru Muslimat NU Probolinggo Sowan ke PCNU Setempat

Probolinggo, Siti Efi Farhati. Pengurus harian Pimpinan Cabang Muslimat NU kota Probolinggo menggelar ta’arruf dan orientasi pengurus baru periode 2015-2020 di aula Kantor PCNU Probolinggo, Kedopok, Probolinggo, Sabtu (30/5). Pertemuan 43 pengurus baru ini diadakan untuk memaksimalkan peran dan fungsi program kerja ke depan.

Pengurus Baru Muslimat NU Probolinggo Sowan ke PCNU Setempat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus Baru Muslimat NU Probolinggo Sowan ke PCNU Setempat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengurus Baru Muslimat NU Probolinggo Sowan ke PCNU Setempat

“Ta’aruf dan orientasi pengurus baru Muslimat NU ini digelar dengan maksud perkenalan antara pengurus baru Muslimat NU dan pengurus harian PCNU Kota Probolinggo,” kata Wakil Sekretaris Muslimat NU Kota Probolinggo Musyarofah Ubaidi.

Dengan silaturahmi ini, koordinasi antara pengurus NU dan Banomnya dapat membangun kesinkronan program kerja.

Siti Efi Farhati

Menurut Musyarofah, kegiatan ini digelar supaya para pengurus baru Muslimat NU Kota Probolinggo bisa memahami tugas dan perannya. Dengan demikian, setiap pengurus bisa menjalankan tugas pokok dan fungsinya dengan baik.

Siti Efi Farhati

“Melalui kegiatan ini para pengurus semakin jelas akan tugas dan kewajibannya. Selain itu para pengurus baru akan semakin lebih semangat lagi dan eksis di Muslimat NU Kota Probolinggo,” harapnya.

Dalam acara ini para pengurus baru Muslimat NU Kota Probolinggo mendapatkan materi pemantapan organisasi dari beberapa narasumber yang berasal dari PCNU Kota Probolinggo.

Penyampaian peran dan fungsi pengurus diisi oleh Abdul Halim. Sementara materi keorganisasian disampaikan oleh Misbahul Munir. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pahlawan, Makam Siti Efi Farhati

Rabu, 27 Desember 2017

Menag: Perang Lawan Radikalisme Jalan Terus

Jakarta, Siti Efi Farhati. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan program deradikalisasi harus terus berjalan karena tindakan radikal berpotensi terjadi di banyak tempat di Indonesia seperti terjadinya aksi pelemparan bom molotov di sebuah gereja di Samarinda, Kalimantan Timur.

"Untuk menangkal aksi-aksi terorisme dan ekstremisme itu adalah proses yang tidak pernah selesai dan harus terus kita lakukan," kata Lukman di Jakarta, Selasa (15/11).

Menag: Perang Lawan Radikalisme Jalan Terus (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag: Perang Lawan Radikalisme Jalan Terus (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag: Perang Lawan Radikalisme Jalan Terus

Dia mengatakan Indonesia merupakan wilayah yang sangat luas berikut dengan besarnya keragaman masyarakat dan jumlah populasi yang tidak sedikit. Deradikalisasi harus tetap dilakukan dan tidak boleh berhenti.

Atas terjadinya sejumlah aksi teror di berbagai tempat di Indonesia, Lukman mengatakan dengan terjadinya ledakan di gereja baru-baru ini seharusnya menjadi pembelajaran.

Pembelajaran itu adalah supaya masyarakat tidak terprovokasi atau terpancing melakukan aksi-aksi sepihak seperti membalas atau melakukan tindakan yang dapat menimbulkan persoalan baru.

Siti Efi Farhati

"Jadi saya berharap supaya kita menyerahkan sepenuhnya kepada kepolisian untuk mereka dalam waktu yang cepat dapat mengungkap para pelaku. Dan saya yakin Polri kita memiliki kemampuan untuk itu," kata dia.

Siti Efi Farhati

Lukman mengatakan pihaknya memantau dan mencermati kejadian terkini karena di era globalilasi dan media sosial masyarkat dapat menerima informasi-informasi dengan mudah.

Informasi tersebut cenderung membanjiri publik dengan beberapa di antaranya tidak dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya.

"Oleh karena itu, tentu aparat penegak hukum kita, intelejen kita akan terus mengikuti, memantau secara ketat ke depannya," kata dia.

Terkait tindakan teror, Lukman menduga perbuatan itu dilakukan oleh pihak-pihak yang mencoba mengusik serta merusak kedamaian, kerukunan dan ketenteraman di Indonesia.

"Kami di Kemenag berupaya menjaga kerukunan umat beragama, terus berkordinasi dengan aparat penegak hukum dan juga dengan tokoh-tokoh ormas-ormas keagamaan bagaimana dapat lebih meningkatkan kemampuannya serta lebih melakukan deteksi dini kalau ada," katanya. (Antara/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Makam, Sejarah Siti Efi Farhati

Senin, 25 Desember 2017

Makesta, Pelajar NU Lasem Ikuti Pelatihan Menulis

Rembang, Siti Efi Farhati. Puluhan pelajar yang tergabung dalam Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Lasem, Kabupaten Rembang, mengikuti Pelatihan Jurnalistik dan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) di Madrasah Tsanawiyah Sunan Bonang desa Sendang Mulyo Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang Jawa Tengah, 27- 29 Juni 2015.

Acara yang dibuka dengan materi tentang Aswaja dan ke-NU-an itu dimulai pada Sabtu (27/6) pagi. Materi ini berisi tentang dalil-dalil rujukan Aswaja, prinsip Islam menurut Aswaja, sejarah kelahiran NU, makna filosofis NU, dan tentang tinjauan organisasi NU.

Makesta, Pelajar NU Lasem Ikuti Pelatihan Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)
Makesta, Pelajar NU Lasem Ikuti Pelatihan Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)

Makesta, Pelajar NU Lasem Ikuti Pelatihan Menulis

Selaku PC IPNU Lasem, M Syaiful Anam menuturkan, pihaknya memang menyiapkan materi-materi khusus tentang ke-NU-an dan jurnalistik, termasuk menyiapkan para narasumber yang berkompeten dalam bidangnya.

Siti Efi Farhati

Kegiatan pengkaderan dan pelatihan jurnalistik ini diselenggarakan dalam rangkaian acara “Gebyar Ramadan Tahun 2015”. "Dalam acara kali ini, kami mengambil tema Berpikir Kritis Menjadi Kader Kreatif dan Berkualitas. Kami berharap bibit-bibit unggul kader muda NU ini akan lebih bisa menunjukkan kreatifitas dan kualitasnya," jelas Anam.

Turut hadir menjadi narasumber dalam acara ini, M Aan Ainun Najib wartawan Muria Expose dan Ilyas Al Musthofa dari Suara Merdeka yang memberikan materi tentang jurnalistik. Sedangkan tentang Aswaja dan ke-NU-an oleh H Masum (MWC NU Sarang), dan materi tentang kepemimpinan disampaikan oleh Dhuha Aniqul Wafa.

Siti Efi Farhati

Lebih lanjut, Anam menuturkan, pihaknya akan lebih memanfaatkan pelatihan-pelatihan semacam ini, sehingga para kader muda NU ini akan lebih terpacu dan tergali potensi-potensi yang ada pada mereka.

"Kami akan melaksanakan kegiatan pelatihan jurnalistik ini secara keberlanjutan, mungkin dua bulan sekali, atau bahkan satu bulan sekali", tutup Anam. (Red: Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nasional, Makam Siti Efi Farhati

Kamis, 21 Desember 2017

Posisi Istimewa Shalat dalam Islam

Shalat merupakan ibadah yang paling utama dalam islam. Ibadah ini termasuk dalam kategori ibadah badaniyah karena ia melibatkan badan atau fisik manusia dalam pengerjaannya. Hal ini bisa kita pahami dari hadits Nabi Riwayat Ibnu Hibban (No. 258):

Posisi Istimewa Shalat dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Posisi Istimewa Shalat dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Posisi Istimewa Shalat dalam Islam

? ? ? ? - ? ? ? ? - ? ? ? ? ?: "?" ?: ? ? ?: "? ?" ?: ? ? ?: "?"

Siti Efi Farhati

“Seseorang datang pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan bertanya tentang amalan yang paling utama. Nabi berkata, ‘Shalat’. Kemudian ditanyakan, ‘Lantas apa?’ Nabi menjawab, ‘Shalat’. Kemudian ditanyakan, “Lantas apa?” Nabi menjawab, ‘Shalat’.”

Sedemikian pentingnya shalat sebagai amalan yang paling utama, sampai-sampai Nabi menjawabnya sebanyak tiga kali.

Selain sebagai ibadah yang paling utama, shalat juga memiliki potensi pahala yang sangat besar sampai-sampai Rasulullah menjanjikan bahwa shalat yang dilaksanakan dengan benar bisa melebur dosa-dosa seseorang, sebagaimana tertuang dalam hadits riwayat Bukhari (No. 505):

Siti Efi Farhati

? ? ? - ? ? ? - ?: ? ? ? - ? ? ? ? -: ? ? ? ? ? ?

Dari Abu Hurairah RA, berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Shalat 5 waktu dengannya Allah menghapus dosa-dosa (hamba-Nya).”

Hadits di atas juga didukung dengan hadits lain riwayat Muslim (No. 231):

? ? - ? ? ? - ?: ? ? ? - ? ? ? ? - "? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Dari Utsman RA, berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menyempurnakan wudhunya sebagaimana perintah Allah, maka shalat-shalat fardlu yang ia kerjakan menjadi penghapus dosa-dosanya yang terdahulu.”

Ancaman yang sangat besar juga Rasulullah berikan bagi mereka yang menyepelekan shalat, entah dengan cara sengaja mengakhirkan atau bahkan meninggalkan shalat. Rasulullah menyebut orang-orang semacam ini sebagai orang yang “melepaskan diri” dari Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana tercantum dalam hadits riwayat Ahmad (No. 421):

 ? ? ? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? - ?: "? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Dari Ummu Ayman RA, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah engkau meninggalkan shalat dengan sengaja, karena bahwasanya orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja, maka berarti ia meninggalkan diri dari lindungan Allah dan Rasul-Nya.”

Demikian pemaparan perihal posisi istimewa shalat dalam islam, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi-shawab. (Muhammad Ibnu Sahroji)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Makam, Kajian Siti Efi Farhati

Selasa, 12 Desember 2017

Pelajar NU Kota Surabaya Ikut Pantau Program Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s)

Jakarta, Siti Efi Farhati - Pelajar NU Kota Surabaya melihat beberapa kegagalan dari sejumlah target program Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s). Mereka memandang program ini tidak terlaksana dengan baik.

Menurut Wakil Ketua IPNU Kota Surabaya M Najih Arromadloni, sebagai negara yang berpartisipasi aktif dalam dunia Internasional, Indonesia memang berkomitmen untuk mencapai target pembangunan internasional sebagai salah satu jalan untuk juga memajukan kesejahteraan masyarakat.

Pelajar NU Kota Surabaya Ikut Pantau Program Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s) (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Kota Surabaya Ikut Pantau Program Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s) (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Kota Surabaya Ikut Pantau Program Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s)

Namun, kata Najih, pada pencapaian target pembangunan millenia (MDGs) sebelumnya di tahun 2000-2015 Indonesia tidak berhasil mencapai 4 target dari 8 target yang ditentukan. Kurangnya partisipasi publik adalah salah satu hal krusial yang pemerintah Indonesia evaluasi untuk lebih ditingkatkan lagi

Siti Efi Farhati

“Saat ini tujuan pembangunan dunia untuk 15 tahun ke depan telah berganti dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, Sustainable Development Goals (SDG’s). Pastinya, untuk kali ini pemerintah melalui Bappenas bertekad untuk mengutamakan keterlibatan publik dalam pencapain SDGs,” kata Najih pada sarasehan bertema Generasi Muda Surabaya Mengenal Sustainable Development Goals (SDG’s), Senin (14/3).

Siti Efi Farhati

Pada forum yang dihadiri Walikota Surabaya Tri Rismaharini, Ketua PCNU Kota Surabaya Dr Muhibbin Zuhri, dan Dosen Universitas Jember Dr Tri Candra, Najih percaya bahwa untuk SDGs kali ini perlu juga ada usaha lebih dari unsur nonpemerintah untuk berinisiatif membawa Indonesia mencapai target SDGs.

“Karena itu sarasehan ini digelar dengan target agar rekan-rekanita IPNU-IPPNU terlibat aktif dan kritis dalam mengawal pembangunan berkelanjutan.”

Sementara Tri Candra melihat adanya salah satu point dalam SDG’s yang hanya akan menguntungkan kalangan atas, yaitu pembangunan infrastruktur. Ia mengingatkan bahwa dalam meratifikasi SDG’s hendaknya dipersiapkan adanya perubahan sosial baik dalam bentuk horisontal maupun vertikal (industri).

Ketua IPNU Kota Surabaya Agus Setiawan mengingatkan bahwa perjuangan generasi muda NU harus kontekstual sebagaimana Hadlratusyaikh KH Hasyim yang di masa lalu memprioritaskan kemerdekaan, sebelum berpikir pembangunan. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pahlawan, Makam Siti Efi Farhati

Kamis, 07 Desember 2017

Radio NU Online Siaran Berita Perdana

Jakarta, Siti Efi Farhati

Radio Siti Efi Farhati yang beralamat di radio.nu.or.id terus berbenah dan berupaya meningkatkan kualitas siarannya. Usai menyediakan sejumlah rubrikasi yang kian memanjakan pendengar, kini radio berbasis internet ini mulai siaran berita.

Radio NU Online Siaran Berita Perdana (Sumber Gambar : Nu Online)
Radio NU Online Siaran Berita Perdana (Sumber Gambar : Nu Online)

Radio NU Online Siaran Berita Perdana

Siaran perdana bertajuk ”Warta Malam Nahdlatul Ulama” tersebut dimulai hari ini, Selasa (24/4), pukul 19.30 WIB, dari studio Siti Efi Farhati, gedung PBNU, Lantai 5, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat. Berita seputar NU dan lainnya akan dibacakan presenter Puti Hasni.

”Respon positif dari pendengar setia memang harus dijawab dengan peningkatan mutu. Kami merasa, selain pengajian dan hiburan, Radio Siti Efi Farhati akan lebih bermanfaat jika menyediakan pula kabar-kabar dalam bentuk suara,” kata manajer program, Mustiko Dwipoyono

Mustiko mengatakan, program siaran berita akan berlangsung rutin dalam satu minggu kecuali hari Sabtu dan Ahad. Sebagai usaha perbaikan kualitas, pihaknya akan melengkapi berbagai fasilitas dan tampilan Radio Siti Efi Farhati.

Siti Efi Farhati

Seperti diwartakan, sejak awal 2013 lalu Radio Siti Efi Farhati melengkapi tampilannya dengan sejumlah rubrik yang membantu pendengar untuk melihat program yang akan disiarkan. Kolom khusus juga dibuat guna memfasilitasi para pengunjung situs yang ingin mengunduh berbagai rekaman pengajian, video, gambar, musik, dan data lainnya.

”Kami mengajak seluruh pendengar untuk turut mendukung radio streaming ini. Saran dan kritik sangat dibutuhkan untuk kemajuan media kita bersama,”pungkasnya.

 

Siti Efi Farhati

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Makam, Fragmen, Pahlawan Siti Efi Farhati

Minggu, 26 November 2017

IPNU Jakpus Sosialisasi Kesehatan Reproduksi Remaja

Jakarta, Siti Efi Farhati . Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kota Administrasi Jakarta Pusat menggelar sosialisasi Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) serta perekrutan ketua Pusat Informasi dan Konseling (PIK) remaja masyarakat, bekerja sama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) di Kantor Kecamatan Senen Jalan Kramat Raya No.114, Senen, Jakarta Pusat, Selasa (16/11).

Acara yang dibuka oleh wakil camat Senen ini dihadiri antara lain Kepala BKKBN Jakarta Pusat Bapak, Dr. H. Sudarmaji, Ketua PPLKB Kecamatan Senen Ibu Lilis, Ketua PC IPNU Jakpus Friady Maulana, Pengurus PAC IPNU dan IPPNU Kecamatan Senen, serta perwakilan pelajar tingkat SLTA se-Kecamatan Senen.

IPNU Jakpus Sosialisasi Kesehatan Reproduksi Remaja (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Jakpus Sosialisasi Kesehatan Reproduksi Remaja (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Jakpus Sosialisasi Kesehatan Reproduksi Remaja

Proses kegiatan perekrutan ini melibatkan Pelajar NU Senen untuk membentuk PIK remaja Jalur Masyarakat (Jamas) di setiap kecamatan yang ada di Jakarta Pusat. Sugianto, anggota dari IPNU Senen, terpilih menjadi ketua PIK remaja Jamas kecamatan setempat.

Siti Efi Farhati

Friady Mulana, Pembina PIK Remaja sekaligus Ketua IPNU Jakarta Pusat, mengatakan selama ini banyak remaja yang tidak memahami permasalahan kesehatan reproduksi. Kekurangpahaman remaja terhadap permasalahan ini bisa membawa pengaruh buruk bagi kesehatan masyarakat pada umumnya.

Kesadaran ini, katanya, akan memberi pegangan kepada para remaja putra dan putri untuk peduli pada kesehatan mereka dan tidak mudah terpengaruh untuk melakukan aktivitas budaya seks bebas. “Apalagi IPNU dan IPPNU selama ini telah gencar mengumandangkan kampanye anti seks bebas di kalangan anggotanya, ujar Maulana kepada Siti Efi Farhati.

Siti Efi Farhati

Senada dengan Friady, Kepala BKKBN Jakpus Sudarmaji mengatakan, kaum remaja memang rentan terhadap serangan IMS (Infeksi Menular Seksual). Dengan sosialisasi seperti ini, akan tumbuh kesadaran untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan. Semua berharap agar masyarakat terutama kaum remaja menjaga kesehatan reproduksi mereka dan untuk tidak menikah di usia dini.

“Menikah usia dini banyak sisi negatifnya dari pada sisi positifnya.” Kata Sudarmaji. Teman-teman PIK remaja yang sudah terbentuk di tingkat kecamatan senen bisa mensosialisakan kesehatan reproduksi remaja di lingkungan mereka sendiri”. (Ansori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nasional, Makam Siti Efi Farhati

Habib Syech Imbau Anak Muda NU Tidak Abaikan Ngaji

Yogyakarta, Siti Efi Farhati. Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf yang sering disapa Habib Syech memotivasi anak-anak muda Nahdlatul Ulama (NU) agar belajar agama. Habib Syech memandang aktivitas belajar agama selain aktivitas mulia juga dapat menjauhkan dari kegiatan negatif.

Demikian penilaian anggota Banser Kulon Progo Nur Hadi terhadap kegiatan sholawat yang dihadiri Habib Syech di pesantren Krapyak, Kamis (13/8) malam.

Habib Syech Imbau Anak Muda NU Tidak Abaikan Ngaji (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Syech Imbau Anak Muda NU Tidak Abaikan Ngaji (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Syech Imbau Anak Muda NU Tidak Abaikan Ngaji

"Kegiatan ini baik untuk meningkatkan gema sholawat. Anak-anak muda akan termotivasi belajar agama. Kegiatan seperti ini juga menjaga remaja dari pergaulan bebas," ujar Nur Hadi.

Siti Efi Farhati

Kegiatan ini digelar dalam rangka memeriahkan Kemerdekaan Ke-70 RI serta memperingati Haul Ke-26 al-maghfurlah KH Ali Maksum. Sebanyak 500 Banser dari Sleman dan Kulonprogro berpartisipasi mengamankan kegiatan tersebut.

Siti Efi Farhati

"Kami berangkat dari Kulon Progo pukul 19.00 WIB, sampai di Krapyak kurang lebih pukul 20.00 WIB," kata Nur Hadi lagi.

Habib Syech melantukan sejumlah lagu, antara lain Syair Nahdlatul Ulama. Lantunan suara Habib Syech disambut koor ribuan jamaah yang memenuhi lapangan dan jalan-jalan di sekitar pesantren Krapyak. Sebagian dari mereka terlihat mengibarkan puluhan bendera merah putih dan bendera NU.

Kehadiran Habib Syech tidak saja mengundang warga NU. Puluhan pedagang aksesoris muslim seperti tasbih, peci, mukena, sajadah, kaos NU juga terlihat meramaikan jalan-jalan menuju lokasi kegiatan.

"Dalam hukum ekonomi, tempat berkumpulnya manusia adalah pasar. Kegiatan-kegiatan semacam ini semestinya memotivasi warga NU untuk juga berkegiatan ekonomi," ujar Syahdani, warga NU Yogyakarta. (Gatot Arifianto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pahlawan, RMI NU, Makam Siti Efi Farhati

Minggu, 19 November 2017

Revolusi Mental, Khayalan atau Pelaksanaan?

Oleh Gatot Arifianto



Apalagi

Revolusi Mental, Khayalan atau Pelaksanaan? (Sumber Gambar : Nu Online)
Revolusi Mental, Khayalan atau Pelaksanaan? (Sumber Gambar : Nu Online)

Revolusi Mental, Khayalan atau Pelaksanaan?

Yang bisa kita lakukan

Bila kata kehilangan makna

Kehidupan kehilangan sukma

Manusia kehilangan kemanusiaannya

Siti Efi Farhati

Agama kehilangan Tuhannya



(Penggalan sajak KH A Mustofa Bisri atau Gus Mus, "Jadi Apa Lagi?")

Siti Efi Farhati

Hasil-hasil survei internasional sering menunjukkan bahwa dalam hal baik, angka untuk Indonesia cenderung rendah, tetapi dalam hal buruk cenderung tinggi. Hingga saat ini, Indonesia masih mempunyai sejumlah permasalahan perlu dirampungkan. Hal tersebut barangkali tapi pasti, melatarbelakangi adanya gagasan Revolusi Mental. Namun bagaimana mewujudkannya dan siapa terlibat? Ataukah hanya sebatas khayalan politik, yang artinya, kurang lebih akan bernasib sebagaimana mimpi yang tak mampu melepaskan diri dari ilusi?

Berawal dari pemilihan calon presiden RI ke-7, Revolusi Mental mengemuka. Calon presiden nomor urut 2, Joko Widodo didampingi calon Wakil Presiden Jusuf Kalla bertekad mengangkat kembali karakter bangsa yang telah mengalami kemerosotan dengan secepat-cepatnya dan bersama-sama (revolusioner). Gayung bersambut, tak hanya politisi, artis, seniman hingga masyarakat menyambut antusias.

Dengan dua padanan kata itu, ada harapan tercipta perubahan bagi Indonesia yang berdasarkan data Tranparency International menunjukkan persepsi tentang tingkat korupsi di sektor publik, dari 177 negara dan dengan 177 skor, berada di rangking 114 dengan skor 32. Dan pada 2008 dicatat dalam Guinness Book sebagai negara dengan tingkat kehancuran hutan tercepat di antara negara-negara yang memiliki 90 persen dari sisa hutan di dunia atau menghancurkan luas hutan setara dengan 300 lapangan sepakbola setiap jamnya.

Begitu pula dengan persoalan lain meski dirampungkan Indonesia, seperti kemiskinan, pengelolaan sumber daya belum optimal, lemahnya penegakan hukum, kesenjangan sosial, peringkat dua penyumbang sampah plastik di laut, keamanan, perilaku konsumstif, hubungan eksploitatif antara kapitalis dan buruh, hingga maraknya peredaran narkoba.

Revolusi Mental Versus Pembiaran



Perjuangan, ujar W.S Rendra, adalah pelaksanaan kata-kata. Terpilih sebagai pemimpin bangsa, Presiden Joko Widodo harus mampu mengajak, menyemangati dan meyakinkan masyarakat Indonesia merealisasikan Revolusi Mental yang berkemungkinan mewujudkan harapan Presiden Sukarno: "Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2 ½ sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita", yang menjelang 71 tahun Indonesia merdeka, masih jauh panggang dari api.



Jika Revolusi Mental adalah pola baju, seserius apa upaya ditempuh untuk mewujudkannya menjadi pakaian siap dikenakan? Ada kecemasan Revolusi Mental tidak terealisasikan dengan baik. Ini bukan persoalan pesimis. Namun bagaimana kebijakan tegas diambil untuk menerjemahkannya! Sehingga Revolusi Mental bisa pula merealisasikan konsep tiga kekuatan yang berfungsi sebagai kesaktian bangsa atau Tri Sakti, yakni "berdaulat dalam politik", "berdikari dalam ekonomi" dan "berkepribadian dalam kebudayaan".

Adakah jalan menuju "nation building" dan "character building" yang menurut Putra Sang Fajar harus diteruskan sehebat-hebatnya demi menunjang kedaulatan politik Indonesia sudah dibangun? Dengan apa? Pendidikan yang salah kaprah dipandang sebagai tugas guru dan sekolah semata? Kebijakan tegas dan jalan mewujudkan cita-cita mulia tersebut sepertinya masih remang. Yang tampak jelas justru ketidakmungkinan terjadinya Revolusi Mental melalui pembiaran banyaknya tontonan sekaligus tuntunan murahan di televisi-televisi yang meragukan mampu membangun kreativitas dan karakter anak-anak bangsa.

Mungkinkah generasi yang melulu dijejali fiksi tanpa visi, mengabaikan "character building" akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang mampu menjawab beragam persoalan bangsa dan tantangan zaman yang akan semakin besar? Mungkinkah 1.000 guru melahirkan 1.000 murid bagus jika pahlawan-pahlawan tanpa tanda jasa sekolah kita kalah "memikat" dengan "guru-guru elektronik" yang rajin menjejali murid-murid di luar jam belajar dengan fiksi sampah? Adakah industri televisi yang tidak bervisi untuk kemajuan bangsa yang mengutamakan suplemen kapitalisme (iklan) mampu menopang tercapainya Revolusi Mental di negeri dengan jumlah pengguna narkoba mencapai 5,9 juta orang (BNN, November 2015)?

Kondisi lama itu kini ditambah lagi dengan masifnya generasi muda menjauh dari persoalan terjadi pada bangsa Indonesia. Persoalan ketahanan pangan seolah hanya tanggung jawab petani tanpa upaya tegas menyiapkan regenerasi. Generasi bangsa Indonesia hari ini lebih akrab dengan fantasi daripada sawah adalah fakta tidak dipungkiri. Mereka lebih karib dengan games, dan terkini, keranjingan berburu monster virtual.

Mengapa mereka rela menghabiskan waktu yang belum teruji bisa menempa mereka menjadi individu berkarakter sebagaimana Sukarno, Hatta, Habibi, Gus Dur atau Mbah Sadiman yang seorang diri menghijaukan 100 hektar lahan hutan Bukit Gendol dan Bukit Ampyangan sisi tenggara lereng Gunung Lawu? Mengapa pula generasi-masyarakat Republik Indonesia yang memiliki 28,59 juta penduduk miskin (BPS, Maret 2015) dengan ikhlas justru gotong-royong menyetorkan uang untuk asing? Kenapa demikian? Barangkali ada kejenuhan massal atas beragam persoalan bangsa tak kunjung rampung.

Merujuk fakta di atas, pemerintah harus bergegas menjawab persoalan itu mengingat bukan sesuatu yang remeh bagi keberlangsungan suatu bangsa di masa mendatang. 321.752 kasus kekerasan terhadap perempuan atau sekitar 881 kasus setiap hari (Komnas Perempuan, 2015) hingga riset sebanyak 68 persen siswa SD sudah pernah ikut-ikutan mengakses situs porno adalah persolan nyata dan membutuhkan penanganan serius.

Apakah pembiaran berlangsungnya hal-hal yang berlawanan dengan pembangunan karakter mampu menopang cita-cita diharapkan? Bukankah itu merupakan kemustahilan mewujudkan harapan dan gagasan baik tengah diupayakan? Apa yang akan terjadi seumpama finasial, waktu dan energi generasi bangsa tersebut dihimpun? Bukankah akan lebih bermakna dan menjadi potensi besar untuk mendukung tercapainya pembangunan nasional?

Implementasi Tepat Wujudkan Revolusi Mental



Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata "revolusi" mengacu pada kata "perubahan" yang berakar kata "ubah". Salah satu syarat mewujudkan perubahan adalah menggambarkan keuntungan masyarakat pada masa yang akan datang supaya tercapainya taraf kehidupan lebih baik. Sesuatu yang secara konsep pada mulanya diterima akal sehat. Adapun kata mental berasal dari bahasa Latin, mens atau metis yang memiliki arti jiwa, nyawa, sukma, roh, semangat. Singkatnya, mental ialah hal-hal yang berkaitan dengan psycho atau kejiwaan yang dapat mempengaruhi perilaku individu. Mental individu yang positif, tentu akan menopang terjadinya perubahan dibutuhkan masyarakat bangsa dengan baik sebagaiamana semangat Revolusi Mental. Sebaliknya?

Amerika Serikat membangun karakter masyarakatnya menggunakan waktu dengan baik, bertahap, sederhana, tapi serius dan realistis. Salah satu melalui tontonan-tuntunan (industri perfilman) yang selalu menyatakan mereka bangsa unggul, bangsa pemenang, bukan bangsa pecundang. Bukankah pertempuran Fire Base Ripcord sejatinya dimenangkan Vietnam? Namun dengan memproduksi puluhan film-film bertemakan perang Vietnam. Dari layar lebar seperti film Rambo hingga film seri "Tour of Duty", mereka mengubah fakta menjadi fiksi yang memotivasi dan menghipnotis psikologi-"mind set" masyarakatnya dengan menyatakan diri menang melawan gerilyawan Vietnam. Dalam konteks kreatif dan fiksi, hal itu bukan sesuatu yang salah karena memang bukan fakta. Dan dari upaya-upaya itu, jelas ada dampak maslahat hendak dicapai Amerika di masa mendatang.

Bagi Amerika, kreativitas tersebut adalah kesadaran pentingnya pembangunan karakter masyarakat bangsa sebagai investasi jangka panjang yang tidak mungkin selesai seperti membuat mie instans. Suatu upaya yang diam-diam mengingatkan dua hal. Pertama pemikiran Mohammad Hatta: Jatuh bangunnya negara ini, sangat tergantung dari bangsa ini sendiri. Makin pudar persatuan dan kepedulian, Indonesia hanyalah sekadar nama dan gambar seuntaian pulau di peta. Kedua QS. Ar-Raad : 11, "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri".

So, jika 90 persen produk industri televisi kita berikut pemerintah abai terhadap kemajuan bangsa melalui pembangunan karakter generasinya. Jika pemerintah tidak memiliki kebijakan tegas untuk membangun karakter generasi bangsa, barangkali tapi pasti, kita diam-diam sepakat merayakan dengan bangga kemunduran suatu bangsa.

Jalan raya panjang memang mustahil dirampungkan seorang pekerja. Tapi ribuan pekerja hanya akan menghasilkan jalan raya dengan kualitas buruk tanpa mengindahkan kesepakatan hingga tidak adanya kontrol serius, baik dan tegas dari pemimpin di lapangan. Untuk terwujud, harapan dan optimisme perlu implementasi tepat! Revolusi Mental tidak boleh kehilangan makna oleh tontonan-tuntunan murahan dan gempuran permainan asing yang mempunyai tingkat bahaya sebagaimana narkoba. Atau memang sebagai bangsa dengan penduduk Islam mayoritas di dunia, kita keberatan memahami Al-Ashr dan Ar-Raad:11? Jika demikian, mari sederhanakan, minum kopi, teh atau wedang jahe sembari membaca sajak Sebatang Lisong yang ditulis W.S Rendra 17 Agustus 1977.

Penulis adalah Nahdliyin, bergiat di Ansor, Pergunu, Lesbumi, Sarbumusi, Gusdurian, AJI dan SIEJ. Tinggal di Lampung. Twitter @sineasastra; Facebook BPUN Waykanan.Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Amalan, Makam, Pemurnian Aqidah Siti Efi Farhati

Minggu, 12 November 2017

PMII Minta Pemerintah Tak Beri Tempat Kelompok Radikal

Palu, Siti Efi Farhati?



Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Aminuddin Maruf menegaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya sangat mencintai tanah air Indonesia. Sehingga tidak ada satu kader pun yang menentang Negara Kesatuan Republik Indonesia.?

PMII Minta Pemerintah Tak Beri Tempat Kelompok Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Minta Pemerintah Tak Beri Tempat Kelompok Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Minta Pemerintah Tak Beri Tempat Kelompok Radikal

Ia menyatakan hal itu pada pembukaan Kongres ke-XIX PMII di Masjid Agung Kota Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (16 /5).?

"PMII sengaja menggelar kongres di sini untuk membuktikan bahwa jika hadir PMII tidak sejengkal tanah pun di NKRI untuk mereka-mereka yang intoleransi, untuk mereka-mereka yang akan mengubah Pancasila, untuk mereka-mereka yang mengancam kedaulatan negara," tegasnya.

Namun, kata dia, PMII tidak mau mendahului Polri yang mempunya kewenangan, serta Ansor dan Banser yang lebih senior.?

Siti Efi Farhati

"Kalau Pak Tito sudah kewalahan, kalau Banser sudah kewalahan, baru Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang maju," katanya diikuti tepuk tangan peserta kongres dan hadirin.?

Saat ini ideologi Pancasila mengalami ujian. NKRI sedang dirongrong. Oleh karena itu, Aminuddin meminta pemerintah, khususnya Presiden, agar tidak memberikan tempat kepada kelompok-kelompok radikal.?

"Kita tidak takut karena kita yang mendirikan Republik ini. Kita punya sejarah bersama-sama para ulama, bersama-sama para pejuang dengan pengorbanan darah, pengorbanan nyawa telah mengkonsensuskan bahwa Pancasila adalah dasar negara kita. NKRI harga mati bagi kita," tegas pria berkacamata ini.?

Tampak hadir pada pembukaan Kongres PMII ke-XIX Presiden Republik Indonesia Joko Widodo, Kapolri Tito Karnavian, Menristekdikti M. Natsir, Menpora Imam Nahrawi, Kepala BNP2TKI Nusron Wahid, Ketua Majelis Pembina Nasional PMII Muhaimin Iskandar dan lain-lain. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Makam Siti Efi Farhati

Jumat, 10 November 2017

Kapan Nyusul?

Saat itu Bakar yang berumur 35 tahun sedang hadir dalam pernikahan tetangganya, ia hadir sebagai perwakilan pramusaji dari karang taruna.

Ketika menyajikan makanan, ia bertemu dengan tetangganya Mbah Wiro dan bertanya, “Kar kapan nyusul nikah?”

Bakar menjawab, “Segera mbah”.

Kapan Nyusul? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapan Nyusul? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kapan Nyusul?

Keesokan harinya Bakar mendapat undangan pernikahan di tetangga kampungnya, dan saat ia hadir lagi-lagi bertemu Mbah Wiro dan bertanya, “Kapan nyusul?”

Bakar  menjawab, “Besok mbah.”

Usai pulang dari hajatan, Bakar pun pergi ke masjid dan bertemu teman-temannya yang sudah punya anak istri semua. Usai sholat Ashar, ia pun sejenak melepas lelah dan berkelakar dengan temannya, salah satu temannya bilang kalau adiknya yang masih SMA hendak menikah, tiba-tiba mbah Wiro datang dan menyeletuk, “Kapan nyusul Kar”?

Siti Efi Farhati

Bakar pun hanya tersenyum sinis sembari mengambil sandal dan berjalan pulang dengan hati kesal.

Tak beberapa lama, ada kabar duka bahwa Mbah Suryo tetangganya meninggal dunia, Bakar pun takziyah dan duduk disamping Mbah Wiro.

Bakar  yang kala itu masih kesal dengan Mbah Wiro berbisik pelan dan bertanya pada Mbah Wiro, “Mbah kapan nyusul?” (Ahmad Rosidi)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati News, IMNU, Makam Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock