Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Februari 2018

Gerakan Kelompok Intoleran Mengoyak Persatuan Bangsa

Jakarta, Siti Efi Farhati. Belakangan ini bergolak sebuah pertanyaan kritis di masyarakat: masih berfungsikah imaji kolektif kita sebagai bangsa? Fenomena gerakan-gerakan intoleran dari sekelompok orang akhir-akhir ini tampaknya ingin mengoyak-oyak persatuan dan kesatuan negeri ini.

Begitulah pertanyaan yang terlontar ketika Abdul Ghopur, Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB), Selasa (31/10) memberikan sambutan pada Harlah Ke-5 LSB, Selasa (31/10) di Gedung PBNU Jakarta.

Gerakan Kelompok Intoleran Mengoyak Persatuan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan Kelompok Intoleran Mengoyak Persatuan Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan Kelompok Intoleran Mengoyak Persatuan Bangsa

Dalam acara bertema Menggali Mitos, Membangun Etos ini, ia menjelaskan, bangsa Indonesia adalah “konsepsi kultural” dan “konsepsi politik” tentang sebuah entitas yang tumbuh berdasarkan kesadaran politik untuk merdeka dengan meletakkan individu ke dalam kerangka kerakyatan. 

“Dalam kerangka ini, setiap rakyat dipertautkan dengan suatu komunitas politik dalam kedudukan yang sederajat di depan hukum, dengan operasi atas prinsip kekariban, keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan bersama,” ujar Abdul Ghopur di depan para pemuda dan aktivis lintas pergerakan yang menghadiri acara tersebut.

Namun saat bersamaan, sambung Ghopur, Indonesia juga masih mengalami persoalan mendasar, yakni merosotnya nilai-nilai kebangsaan, nasionalisme dan semangat kemajemukan sebagai bangsa yang multikultural. 

Siti Efi Farhati

“Masih saja ada upaya pengingkaran terhadap pluralitas bangsa Indonesia yang setiap saat dapat saja muncul ke permukaan,” ungkapnya dalam kegiatan yang dibarengi dengan peluncuran buku Indonesia Ruma Kita dan Refleksi Sumpah Pemuda ke-89 ini.

Sebagai bangsa yang multietnis, ras, suku, budaya, bahasa dan agama, secara jujur kita masih belum bisa menghilangkan atau paling tidak meminimalkan apa yang disebut dengan barrier of psychology (batas psikologis/prasangka) terhadap sesama anak bangsa. 

Siti Efi Farhati

“Itulah yang kerap memunculkan konflik bernuansa SARA di negeri ini secara vertikal maupun horisontal,” tukas penulis Buku Indonesia Rumah Kita ini. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Makam, Kajian, Fragmen Siti Efi Farhati

Kamis, 01 Februari 2018

Trio Tebuireng dari Pulau Tidung

Jauh-jauh datang dari Pulau Tidung Kepulauan Seribu, Rasyad muda tak berhasil menemukan batang hidung orang yang dicarinya di Pesantren Modern Gontor Jawa Timur. Dari kampungnya ia sudah bertekad kuat belajar di pesantren yang mewajibkan setiap santri berbahasa Arab-Inggris itu.?

Waktu itu tahun di kalender Masehi tertulis 1957. Datang ke Gontor, ia diantar seorang guru asal Madiun yang mengajar di Pulau Tidung. Rasyad muda beruntung. Tak banyak orang pulau yang berkesempatan mengeyam pendidikan pesantren di Jawa Timur itu. Ayah Rasyad seorang gongsol nelayan yang cukup sukses. Dengan belajar di Gontor, ia berharap bisa mendapat pelajaran agama sekaligus umum selepas lulus dari sekolah dasar.?

Orang yang dicari Rasyad muda adalah Dja’far, pemuda sekampung yang usianya lebih tua beberapa tahun. Empat tahun sebelumnya Dja’far nyantri di Gontor. Rasyad tahu jika Dja’far sudah pindah pesantren dari beberapa santri Gontor yang ia temui. Salah satunya asal Banten. Kata mereka, Dja’far sudah pindah ke Tebuireng, pesantren yang didirikan Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdatul Ulama.?

Tinggal selama seminggu di Gontor, Rasyad muda lalu menyusul Dja’far ke Tebuireng. Ia tak sendiri. Beberapa santri asal Banten ikut pindah berangkat ke Tebuireng. “Mereka tak betah,” kata Ustad Haji Abdul Rasyad seperti dituturkan pada saya sore ini melalui telpon.

Trio Tebuireng dari Pulau Tidung (Sumber Gambar : Nu Online)
Trio Tebuireng dari Pulau Tidung (Sumber Gambar : Nu Online)

Trio Tebuireng dari Pulau Tidung

Di Jombang, dua orang sekampung ini bertemu di Pesantren Seblak, tak jauh dari pesantren Tebuireng. Sekarang ini Seblak diteruskan oleh keturunan Nyai Khoiriyyah, puteri KH Hasyim Asy’ari. Selama empat tahun, bersama ayah saya, Ustad Haji Rasyad nyantri di Seblak dan Tebuireng.?

Di Pesantren ini pula, Djafar dan Ustad Haji Abdul Rasyad muda bertemu dengan Abdul Ghani muda asal Banten. Sebelum di Tebuireng, seperti dituturkan Mawardi, putera kedua Abdul Ghani, ayahnya mondok di Pesantren milik ayah KH Maruf Amin, ketua MUI Pusat.

Saat Rasyad dan Dja’far kembali ke pulau, Ustad Haji Abdul Ghani berniat ikut serta dan hijrah ke Tidung. Di pulau Haji Abdul Rasyad memfasilitasi Ustad Haji Abdul Ghani mengajar di madrasah ibtidaiyah. Kelak trio Tebuireng ini yang mendirikan Madrasah Tsanawiyah Pulau Tidung bersama sejumlah tokoh lain pada 1969.?

Siti Efi Farhati

Kepala sekolah pertama madrasah tempat saya belajar itu adalah Ustad Haji Abdul Rasyad. Setelah itu digantikan Ustad Haji Abdul Ghani. Kini dua trio sudah “dipanggil” tuhan lebih dulu. Ustad Haji Muhammad Dja’far bin Haji Fathullah tahun 1997, Ustad Haji Abdul Ghani pada 2001. Muhammad Dja’far, Bapak saya. Abdul Ghani, kepala sekolah tsanawiyah saat saya belajar di sana sejak 1992.

Sekarang ini Ustad Haji Abdul Rasyad sehari-hari memimpin Yayasan Nurul Huda yang membawahi pengelolaan Masjid Nurul Huda, masjid utama di Tidung. Puteranya, Jihadi meneruskan kiprah ayahnya sebagai pengajar. Ia guru Sejarah Kebudayaan Islam saat saya belajar di Tsanawiyah ini.?

Puteri tertua Ustad Haji Abdul Ghani, Zakiah, juga demikian. Ia pernah menjadi guru dan kepala sekolah di Tsanawiyah dan sekarang pengawas di Madrasah Aliyah Yayasan PKU di Tidung. Seorang putranya, Ustad Mawardi, pernah memimpin Pengurus Cabang Nadhlatul Ulama Kepulauan Seribu. Ia mantan pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Cabang Ciputat (PMII) saat menjadi mahasiswa di IAIN Ciputat –sekarang UIN. Di organisasi ini pula saya pernah berkiprah. (Alamsyah M Djakfar)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Fragmen Siti Efi Farhati

Jumat, 19 Januari 2018

PMII Perkuat Kaderisasi

Pontianak, Siti Efi Farhati. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dikenal sebagai organisasi pencetak pemimpin hebat di negeri ini.?

PMII Perkuat Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Perkuat Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Perkuat Kaderisasi

Salah satu kadernya adalah, Menteri Tenaga Kerja, Muhaimin Iskandar. PMII terus mencetak pemimpin baru dengan cara memperkuat kaderisasi.

“Kita memperkuat doktrin kaderisasi. Mahasiswa yang telah melewati kaderisasi PMII, dia harus lebih peka terhadap masyarakat dan negeri ini. Kepekaan sosial inilah yang terus kita tanamkan agar kader PMII memberikan manfaat bagi negara dan bangsa,” kata Ketua Umum PB PMII, Addin Jauharuddin saat temu kader di Pondok Nelayan Pontianak, Jumat (10/5) lalu.

Siti Efi Farhati

Dijelaskan pria kelahiran Cirebon ini, PMII memiliki basis di kampus-kampus. Untuk itu, ada tiga hal yang saat ini diperkuat, yakni taat organisasi, kaderisasi, dan memperkuat basis di kampus. Masuk PMII itu berarti masuk dunia organisasi. Seorang kader PMII harus memahami seluk beluk berorganisasi.

“Kalau sudah memahami tata cara berorganisasi, di masyarakat akan mudah bergaul dan masuk ke dunia apa saja. Bukan tidak mungkin, kader PMII akan menjadi pemimpin di masyarakatnya,” ujar Addin.

Siti Efi Farhati

Salah satu kekuatan organisasi adalah militansi. Saat melakukan sebuah pergerakan untuk mencapai tujuan, diperlukan militansi dan kekompakan. Untuk mendapatkan militansi, diperlukan kaderisasi yang mantap.?

“Kemudian, kita memperkuat basis di kampus terutama yang umum. Maksudnya, PMII tidak lagi memiliki basis di kampus Islam, melainkan juga di perguruan tinggi umum. Tujuannya, PMII tak lagi membicarakan masalah agama an sich, melainkan persoalan apa saja yang dihadapi masyarakat,” beber pria yang sedang kuliah S2 di Universitas Nasional Jakarta.

Sosok kader PMII nantinya tidak hanya hebat dalam berbicara agama, melainkan juga politik, ekonomi makro, ekonomi mikro, kedokteran, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Dengan keragaman kader seperti itu akan membuat PMII semakin kuat di masyarakat.?

“Selain itu, kita juga meminta seluruh kader dalam melaksanakan agenda formal harus di kampus. Sebab, PMII basis utamanya di kampus. Jangan lari dari kampus,” instruksi Addin.?

PMII bisa dikatakan sebagai organisasi kemahasiswaan yang sangat besar di Indonesia. Hampir seluruh kampus di Indonesia ada PMII-nya. Wajar apabila pemerintah banyak menaruh harapan pada PMII untuk bisa mengkader mahasiswa jadi pemimpin hebat.

“Pemerintah telah mempercayai kita untuk menyelenggarakan ASEAN Youth Assembly. Kepercayaan tersebut sebagai wujud nyata PMII untuk pemuda dan Indonesia. Kita terus berkiprah agar bisa melahirkan pemimpin masa depan Indonesia,” tekad Addin.?

Redaktur ? ? : Mukafi Niam

Kontributor: Rosadi Jamani?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Fragmen, Kajian Islam Siti Efi Farhati

Minggu, 14 Januari 2018

Usai Bahtsul Masail, Kiai Ihya Sampaikan Amanat Ke-NU-an

Pamekasan, Siti Efi Farhati. Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kadur Kabupaten Pamekasan melangsungkan bahtsul masail, Jumat (15/12) siang. Kegiatan yang ditempatkan di Pesantren Karang Anyar Desa Pamoroh tersebut dihadiri oleh Rais Syuriyah KH Ihyauddin Yasin.

Usai Bahtsul Masail, Kiai Ihya Sampaikan Amanat Ke-NU-an (Sumber Gambar : Nu Online)
Usai Bahtsul Masail, Kiai Ihya Sampaikan Amanat Ke-NU-an (Sumber Gambar : Nu Online)

Usai Bahtsul Masail, Kiai Ihya Sampaikan Amanat Ke-NU-an

Usai bahtsul masail, Kiai Ihya menyampaikan satu amanat yang harus dijalankan oleh pengurus ranting NU yang tersebar di 10 desa yang ada di Kecamatan Kadur. Amanat tersebut berkaitan dengan kegiatan Pelatihan Kader Penggerak (PKP) NU yang diadakan oleh PCNU Kabupaten Pamekasan di Pesantren Miftahul Anwar, Jumat-Ahad (22-24/12) mendatang.

"Kami amanatkan kepada seluruh pengurus ranting untuk mengutus kader atau pengurusnya ikut PKP yang tempatnya di pesantren kami. Minimal 2 orang. Kalau bisa mendelegasikan 10 orang tiap ranting sebagai peserta PKP," tegas Kiai Ihya.

Wakil Ketua PCNU Pamekasan tersebut memohon dengan hormat kepada seluruh jajaran pengurus NU untuk bisa mengindahkan amanat tersebut. Hal itu dipandang sangat penting karena menyangkut organisasi jamiyah NU ke depan.

Siti Efi Farhati

"Agar nanti tercetak kader-kader militan dan menjadi ruhul jihad guna berjuang bersama NU," tegas Kiai Ihyauddin Yasin.

Untuk diketahui, kegiatan PKP berlaku untuk kader-kader atau calon kader-kader NU se-Kabupaten Pamekasan. Peserta nantinya tidak boleh pulang selama tiga hari.

Siti Efi Farhati

"Bagi yang sudah beristri, sampaikan dulu untuk izin menetap selama tiga hari di acara PKP. Bagi yang belum beristri, mohonlah restu kepada orangtua," tukasnya. (Hairul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Fragmen, Aswaja, Kiai Siti Efi Farhati

Sabtu, 06 Januari 2018

Peserta Bahtsul Masail Harap Berkah Masyayikh Pesantren Al-Munawwir

Yogyakarta, Siti Efi Farhati. Panitia Muktamar NU memilih pesantren Al-Munawwir Krapyak sebagai tempat forum musyawarah untuk pematangan materi bahtsul masail muktamar NU mendatang di Jombang. Mereka sengaja memilih tempat ini untuk mengambil semangat dan tabarrukan dari para kiai Krapyak.

Peserta Bahtsul Masail Harap Berkah Masyayikh Pesantren Al-Munawwir (Sumber Gambar : Nu Online)
Peserta Bahtsul Masail Harap Berkah Masyayikh Pesantren Al-Munawwir (Sumber Gambar : Nu Online)

Peserta Bahtsul Masail Harap Berkah Masyayikh Pesantren Al-Munawwir

Katib Syuriyah PBNU KH Yahya Cholil Staquf yang membuka forum bahtsul masail pra muktamar ini menyebutkan harapannya agar Allah menurunkan keberkahan para guru pesantren Al-Munawwir bagi forum penting di NU.

“Kita berharap berkah dari masyayikh ma’had Al-Munawwir ini. Pesantren ini ialah salah satu soko guru dari pesantren NU. Para kiainya cukup menentukan bangunan pemikiran NU hingga kini,” kata Gus Yahya dalam sambutan atas nama panitia di pesantren Krapyak, Sabtu (28/3) siang.

Siti Efi Farhati

Menurut salah satu pengasuh pesantren Al-Munawwir KH Hilmi Muhammad, penempatan bahtsul masail pra muktamar NU ini berawal dari insiatif santri ma’had Aly Krapyak. Mereka menginginkan pesantren mengadakan forum bahtsul masail.

“Kami sebagai pengurus pesantren lalu menyinergikan dengan PBNU yang merencanakan sidang pra muktamar. Alhamdulillah pengurus PBNU merespon positif,” kata Gus Hilmi dalam sambutan atas nama sohibul bait mewakili KH Najib Abdul Qodir

Siti Efi Farhati

Kepada peserta bahtsul masail pra muktamar, Gus Hilmi mengucapkan selamat datang. “Kami berharap forum ini mengeluarkan keputusan yang bermanfaat bagi NU dan Indonesia.”

Sementara Katib Aam PBNU KH Malik Madani mengingat pesantren Krapyak menempati posisi penting bagi kiai NU. “Bahtsul masail pertama dalam rangkaian Pra Muktamar di sini menjadi kehormatan bagi PBNU,” kata Kiai Malik yang mengakhiri sambutannya dengan surat al-Fatihah.

Peserta datang dari sejumlah pengurus cabang NU dan pengasuh pesantren di Yogyakarta dan sekitarnya. Tampak hadir Dirut BPJS, Dirjen Haji Kemenag RI yang akan memaparkan keterangan yang dibutuhkan peserta. Terlihat juga puluhan mahasiswa jurusan Perbandingan Madzhab Fakultas Syariah UIN Sunan Kalijaga. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Makam, Fragmen, Olahraga Siti Efi Farhati

Sabtu, 23 Desember 2017

Hadapi Ujian Nasional, Rajin Belajar Saja Tidak Cukup

Jombang, Siti Efi Farhati - Ibu Nyai Hj Mundjidah Wahab selaku Wakil Bupati Jombang memberikan wejangan kepada siswa dan siswi yang akan menghadapi Ujian Nasional (UN). Menurut dia, belajar yang rajin saja tidak cukup, tapi juga harus dibarengi dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT dan meminta restu orang tua.

"Belajar saja kurang," kata Ibu Mundjidah, sapaan akrabnya. Para pelajar harus juga berdoa, mendekat kepada Allah SWT agar dimudahkan dalam menjalani UN, lanjutnya di hadapan ribuan pelajar yang berkumpul di Masjid Agung Baitul Mukminin, Kota Jombang, Selasa (29/3).

Hadapi Ujian Nasional, Rajin Belajar Saja Tidak Cukup (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadapi Ujian Nasional, Rajin Belajar Saja Tidak Cukup (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadapi Ujian Nasional, Rajin Belajar Saja Tidak Cukup

Bagi Ketua PC Muslimat NU Jombang ini, istigatsah maupun doa bersama sangat mendukung kesiapan mental dalam menghadapi UN. "Tapi doa dan istigatsahnya jangan berhenti sampai di sini, tapi nanti dilanjutkan di rumah, sukur rutin shalat malam," kata putri KH Abdul Wahab Chasbullah tersebut.

Siti Efi Farhati

Yang juga harus dilakukan pelajar adalah mohon ampun dan minta doa restu kepada kedua orang tua. Karena ridla Allah bergantung kepada ridla orang tua. "Jadi kalau orang tua sudah mendoakan dan memberikan restu kepada kita, maka Allah akan memberikan kemudahan dalam segala hal termasuk menghadapi UN," kata politisi PPP ini.  

Siti Efi Farhati

UN di Jombang digelar secara serentak 4 hingga 6 April dengan menggunakan dua model, yakni UN berbasis komputer yang diikuti 19 sekolah. Rinciannya, 12 SMK (Sekolah Menengah Kejuruan), 5 SMA (Sekolah Menengah Atas), dan 2 MA (Madrasah Aliyah). Sementara 162 sekolah lainnya, menggelar UN berbasis kertas atau manual.

Sedangkan untuk jumlah peserta UN tahun ini sebanyak 20.141 orang. Mereka berasal dari 58 lembaga SMK sebanyak 8.477 peserta, 46 lembaga SMA dengan 5.997 peserta, dan 77 lembaga MA yakni 5.667 peserta. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Humor Islam, Fragmen Siti Efi Farhati

Mengkritisi Atase Agama Kedubes Arab Saudi Soal NU dan Wahabi

Pada Senin 2 Mei 2016, saya mendapat undangan untuk menghadiri Seminar Internasional atas kerja sama Atase Agama Kedubes Saudi Arabia dan STAIN Pamekasan yang menghadirkan tiga nara sumber. Pertama, Dr. Ibrahim Sulaiman An Nughemsyi (Atase Agama Kedubes Saudi Arabia). Kedua, Prof. Dr. KH Ahsin Sakho Muahammad (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta). Ketiga, KH. Syukran Makmun (Pengasuh Pesantren Darur Rahman Jakarta).

Seminar ini dibuka oleh Ketua STAIN Pamekasan Dr. Taufiqurrahman, M.Pd. sebagai Open Speaker. Kemudian dilanjutkan pemateri pertama, Prof. Dr. Akhsin Sakha yang menjelaskan tentang pemikiran Hadratus Syekh Hasyim Asyari dalam mempertahankan NKRI yang dikenal dengan Resolusi Jihad.

Kemudian, pemateri kedua, KH. Syukran Makmun yang mencoba menyinggungg konflik di Timur Tengah akibat kesalahpahaman umat antara berbagai kelompok (firqah islamiyah). Beliau juga menekankan agar konflik di Timur Tengah jangan sampai terjadi di Indonesia. Oleh karena itu toleransi inter dan antar umat beragama harus lebih ditingkatkan.

Mengkritisi Atase Agama Kedubes Arab Saudi Soal NU dan Wahabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengkritisi Atase Agama Kedubes Arab Saudi Soal NU dan Wahabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengkritisi Atase Agama Kedubes Arab Saudi Soal NU dan Wahabi

Pemateri ketiga adalah Dr. Ibrahim Sulaiman, beliau menyampaikan beberapa poin penting bahwa wahabi dan NU tidak ada perbedaan. Menurut klaim Dr. Ibrahim, bahwa beliau adalah orang yang pertama kalinya mengkaji Hadratus Syekh Hasyim Asyari pada tahun kemarin di salah satu Universitas Islam di Malang. Bahkan beliau berpendapat Hadratus Syekh Muhammad Hasyim Asyari adalah paling Wahabinya wahabi. Karena menurut beliau, Hadratus Syekh Muhammad Hasyim Asyari menolak Syiah Zaidiyah, sedangkan Wahabi masih mentolerir Syiah Zaidiyah.

Pada sesi tanya jawab, sebenarnya penulis ingin bertanya dan memberi tanggapan terhadap para nara sumber. Namun, karena penulis tidak diberi kesempatan oleh moderator dengan alasan waktu terbatas, maka penulis menyampaikannya melalui catatan-catatan sebagai berikut:

Pertama, penulis sangat setuju dengan pernyataan Prof. Dr. Ahsin Sakho bahwa Hadratus Syekh Muhammad Hasyim Asyari memandang NKRI dari segi Maqashid Syariah dengan Resolusi Jihadnya.?

Siti Efi Farhati

Kedua, Konflik di Timur Tengah bukan disebabkan terpecahnya Umat Islam karena faktor kelompok agama (firqah Islamiyah), akan tetapi perpecahan di Timur Tengah yang disebut Revolusi Timur Tengah disebabkan Al-Harakah Al-Siyasiyah (Pergerakan Politik). Berdasarkan fakta yang terjadi di Syiria, Sunni-Syiah selama bertahun-tahun hidup damai berdampingan. Begitu juga di Yaman, Tunisia, Lebanon, dan lainnya. Sehingga yang harus diwaspadai di Indonesia adalah Al-Harakah Al-Siyasiyah (Pergerakan Politik) yang akan memecah belah NKRI.

Siti Efi Farhati

Ketiga, Klaim Dr. Ibrahim Sulaiman An Nughemsyi (Atase Agama Kedubes Saudi Arabia) bahwa beliau adalah yang pertama kali mengkaji pemikiran Hadratus Syekh adalah tidak benar. Karena para kader NU sejak sekitar 2007-an sudah intens mengkaji pemikiran beliau, sehingga lahirlah beberapa buku spektakuler dan film Sang Kiai.?

Keempat, penulis sangat tidak setuju dengan pernyataan Dr. Ibrahim bahwa Hadratus Syekh Muhammad Hasyim Asyari adalah paling wahabinya wahabi. Karena ada perbedaan mendasar antara Wahabi dan pemikiran Hadratus Syekh, yaitu Wahabi adalah firqah mujassimah merupakan kelompok yang menganggap Tuhan memimiliki jism/jasad.?

Wahabi adalah pergerakan politik, sedangkan Pemikiran Hadratus Syekh dengan NU-nya adalah murni pergerakan sosial keagamaan. Wahabi sering membawa masalah furu’iyah kepada aqidah, sedangkan Hadratus Syekh tidak demikian. Bahkan dalam kitabnya Hadratus Syekh “Risalah Ahlus Sunnah Wal Jamaah (hal 9)” beliau menyatakan dengan tegas bahwa beliau menolak pemikiran Syekh Muhammad ibn Abdul Wahab sebagai pendiri Wahabi. Sehingga tuduhan bahwa Hadratus Syekh Hasyim Asyari adalah paling wahabinya wahabi adalah tidak benar.

Kelima, Dr. Ibrahim telah melakukan tahrif terhadap kitab Irsyadu al-Syari (Kumpulan Kitab Hadratus Syekh Muhammad Hasyim Asyari) dalam Risalah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah Hal. 10. Menurut Dr. Ibrahim Hadratus Syekh menolak Syiah Zaidiyah, padahal dalam kitabnya Hadratus Syekh menolak Syiah Rafidah, karena Syiah Rafidah jelas telah mencela sahabat.

Ala Kulli Hal, semoga catatan ini bisa memberi pencerahan untuk masyarakat Pamekasan pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.

?

Muhammad Taufiq, Kader NU dan Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pamekasan.

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Habib, Fragmen, Khutbah Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock