Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Februari 2018

Yenni Wahid Akrab dengan Pesantren Cirebon

Cirebon, Siti Efi Farhati. Putri kedua almarhum KH Abdurrahman Wahid mengaku akrab dengan pesantren-pesantren yang ada di Cirebon, Jawa Barat. Dia juga beberapa kali ziarah ke makam Sunan Gunungjati.

"Saya akrab dengan pesantren-pesantren di sini. Gus Dur sering mengajak saya ke Kempek, Buntet, Arjawinangun, dan Babakan," ujar Yenny yang mengenakan kerudung warna hijau.

Yenni Wahid Akrab dengan Pesantren Cirebon (Sumber Gambar : Nu Online)
Yenni Wahid Akrab dengan Pesantren Cirebon (Sumber Gambar : Nu Online)

Yenni Wahid Akrab dengan Pesantren Cirebon

"Almarhum Kiai Fuad Hasyim Buntet, Syarif Usman Yahya yang juga sudah almarhum, Kang Husen. Mereka semua teman bapak dan guru saya. Sejak kecil saya sudah ketemu kiai-kiai di Cirebon," sambungnya.

Siti Efi Farhati

Tidak hanya pesantren yang serng dikunjungi Yenni di Cirebon, tapi juga pasar kain Tegal Gubug. "Saya kalau lewat pasar kain terbesar itu, saya mampir dan belanja kerudung," pungkasnya.

Yenni datang atas nama keluarga besar NU. Dia menolak ke arena Munas untuk mengomunikasikan partainya ke kiai-kiai. "Saya ke sini sebagai warga NU dan aktivis Muslimat NU. Ndak boleh dong bawa-bawa partai ke sini," ujar Yenni sambil tersenyum.

 

Siti Efi Farhati

Penulis: Hamzah Sahal

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Berita, Habib, Syariah Siti Efi Farhati

Rabu, 24 Januari 2018

KH Fuad Affandi Serukan Santri di Jawa Hijrah ke Sunda

Bandung, Siti Efi Farhati - Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ittifaq, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, KH Fuad Affandi menyerukan kepada para santri di Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk hijrah di Jawa Barat. Ada beberapa alasan penting yang menurutnya hal itu dilakukan.

"Saya punya beberapa alasan untuk kemaslahatan bersama. Pertama, populasi santri di Jawa Timur dan Jawa Tengah itu sudah banyak. Di Jawa Timur pesantren merata. Di Jawa Tengah lumayan kuat. Sementara di Jawa Barat ini masih tergolong minim untuk sebuah populasi muslim terbesar dengan jumlah pesantren yang sedikit. Lihat saja data dari Kementerian Agama itu. Dari tahun ke tahun sama saja grafiknya. Karena itu, Jawa Barat sebenarnya butuh alumni-alumni pesantren dari Jateng dan Jatim agar hijrah di Jabar," tutur kiai yang murid Mbah Maksum Lasem tersebut kepada Senin, (1/2).

KH Fuad Affandi Serukan Santri di Jawa Hijrah ke Sunda (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Fuad Affandi Serukan Santri di Jawa Hijrah ke Sunda (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Fuad Affandi Serukan Santri di Jawa Hijrah ke Sunda

Alasan lain yang mendorong pernyataan tersebut adalah bahwa di Jawa Timur dan Jawa Tengah banyak pesantren yang anak-anak kiainya berjubel. Terkadang pesantrennya tidak berkembang tetapi jumlah kiainya dari keturunan tersebut sudah sangat banyak, belum lagi ditambah menantu dan keturunannya yang muda-muda.

"Itu sudah sering over sehingga seharusnya hijrah. Tidak perlu semua gus-gus itu menetap di rumahnya hanya karena alasan mewarisi pesantren abahnya. Selagi sudah cukup ada beberapa pewaris yang mengelola, maka tidak ada salahnya hijrah dengan niat yang tulus untuk mengamalkan ngelmunya. Mungkin di Jawa? Tengah atau Jawa Timur hanya jadi lapis kedua atau lapis ketiga, kalau pindah ke Jawa Barat bisa menjadi kiai nomor satu di masing-masing daerah," terangnya memotivasi.

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati

Ilmu di wetan, Duit di Kulon

Menurut KH Fuad Affandi, ada sejumlah manfaat jika para anak-anak kiai di Jateng dan Jatim itu hijrah ke barat. Menurutnya, rezeki akan lebih banyak karena memang secara sosiologis ngelmu di wetan, duit di kulon. Kalau mencari ilmu agama rata-rata ke Jawa Timuran, maka mencari duit bisa di Jawa Barat.

"Orang Jawa, apalagi para santri, apalagi putra-putra kiai itu punya daya mental yang tangguh. Tapi tidak akan tangguh kalau menetap di kampung halamannya. Bisa kayak kodok. Kalau orang Jawa berani hijrah mengembangkan ilmunya, biasanya terhormat. Apalagi sekarang ini sudah modern. Jalinan silaturahmi melalui transportasi dan komunikasi mudah. Bapak dan emak tidak usah bersedih kalau ada anaknya pindah ke Jawa Barat. Gus-gus juga harus berani keluar kadang. Jangan jadi pecundang hanya berani menjadi kiai di kampungnya sendiri. Jangan hanya berani mewarisi, tetapi harus mau menciptakan warisan baru. Insya Allah Gusti Allah ijabahi," papar kiai yang juga pernah nyantri di Sarang Rembang dan Sunan Drajat Lamongan ini.

Pesan KH Fuad Affandi ini tentu saja merujuk pada calon-calon kiai yang belum menikah. Sebab kalau yang sudah menikah akan repot pindah. Karena itu bagi para kiai-kiai pemimpin pondok pesantren di Jawa Timur atau Jawa Tengah, sebaiknya juga merekomendasikan alumni-alumninya, terutama anak-anak kiai agar berkenan mencari jodoh di Jawa Barat dan berani membangun pesantren di Jawa Barat.

"Saya bisa bantu fasilitasi, sekadar mengarahkan. Cari jodoh di Jawa Barat, usaha di sini, kelola masjid mushola, rintis pelan-pelan pesantren di desa-desa. Banyak desa yang kosong dari keagamaan di Jawa Barat ini. Kosong dari keilmuan agama. Tapi semuanya kembali pada semangat perjuangan. Sulit itu biasa. Kalau santri takut kesulitan lebih baik jadi teroris saja hehe....." terangnya.

Dengan? gagasan itu pula KH Fuad Affandi? perlu mengatakan bahwa memeratakan dakwah ilmu pengetahuan kaum santri juga nantinya bisa mengikis paham-paham radikal di Jawa Barat.

"Kita pewaris Nahdlatul Ulama harus mampu menjawab tantangan. Sudahlah, para gus-gus, calon kiai, alumni pesantren, cobalah melakukan pembaharuan orientasi hidup ini. Kalau tidak di Jawa Barat ya bisa juga hijrah ke luar Jawa melalui programnya Mas Menteri Marwan Jafar. Ayo kita ratakan kiai di seluruh negeri," jelasnya.[Ferli/Ismi/Alawi)



SEKILAS TENTANG KH.FUAD AFFANDI: Ia adalah seorang ulama. Pernah belajar di berbagai pesantren, antara lain di Pondok Al-Hidayah Lasem, Al-Anwar Sarang Rembang, Sunan Drajat Lamongan, dan Banjar Patroman Banjar. Dikenal sebagai ilmuwan nasional karena berbagai macam prestasi dan penghargaan untuk kaum tani dan lingkungan hidupnya. Pesantren Al-Ittifaq yang berada di Dusun Alam Endah, Ciburial, Rancabali Kabupaten Bandung itu telah dikenal sebagai pesantren yang mampu melahirkan alumni-alumni wirausahawan di bidang bisnis dan pertanian. Di pesantren itu, KH Fuad Affandi mengelola sekolah, madrasah, majelis taklim dan pertanian bersama masyarakat. Ia tergolong kiai langka karena kemampuannya mengubah tradisi kemasyarakatan yang kolot menjadi masyarakat yang berbudaya dan beradab. Sejak bukunya yang berjudul "Entreprenur Organik: Rahasia Sukses KH Fuad Affandi bersama Tarekat Sayuriahnya" beredar, banyak orang berkunjung ke pesantren Al-Ittifaq. Bahkan sekarang para kiai-kiai Jawa Timur dan Jawa Tengah sering secara khusus bersilaturahmi ke sana. Jejaring KH Fuad dalam urusan pemberdayaan pertanian dan wirausaha misalnya berlangsung dengan KHYusuf Chudlori Tegalrejo Magelang, dan KH Hasyim Affandi Temanggung Jawa Tengah. Untuk mengetahui kelengkapan informasi tentang KH Fuad Affandi dan Pesantren Al-Ittifaq, bisa menggali sumber berita dari Google.



Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Berita Siti Efi Farhati

Kamis, 18 Januari 2018

Dua Kiai Kharismatik Pimpin Shalawatan di Blitar

Blitar, Siti Efi Farhati - Nuansa Pesantren Mambaul Hikam Mantenan Udanawu Blitar, Jawa Timur, Rabu (15/6) malam, berubah jadi ingar-bingar suara lantunan shalawat Nabi Muhammad SAW seusai shalat tarawih. Di pesantren yang didirikan oleh Assyech KH Abdul Ghofur ini sedang menggelar acara Haul ke-12 KH Zubaidi Abdul Ghofur, salah satu putra dari? Mbah KH Abdul Ghofur.

Shalawatan dipandu langsung oleh dua kiai kharismatik dari Blitar, yakni KH Diya’uddin Azam-zami Zubaidi Abdul Ghofur dan KH Moh Sunhaji Nawal Karim Zubaidi Abdul Ghofur.

Dua Kiai Kharismatik Pimpin Shalawatan di Blitar (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Kiai Kharismatik Pimpin Shalawatan di Blitar (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Kiai Kharismatik Pimpin Shalawatan di Blitar

Kiai Diya’uddin, selama ini? dikenal sebagai mursyid Thariqah Naqsabandi Kholidiyah di Blitar Raya dan juga terkenal sebagai imam tarawih tercepat di dunia. Sedangkan Gus Shon, panggilan akrab Kiai Moh Sunhaji Nawal Karim, dikenal sebagai tokoh sentral Jamiyah Mughitsu Al-Mughits yakni sebuah jamiyah majelis Shalawat Nariyah dan majelis ta’lim yang memiliki massa pulahan ribu orang.

Siti Efi Farhati

Duet kakak beradik dalam satu majelis shalawat tadi malam itu menyedot perhatian jamaah. Karena jarang sekali dua orang itu bisa bertemu dalam satu majelis kegiatan. Mengingat kesibukannya masing-masing. Gus Diya’ selama ini menanganii orang-orang tua (anggota thariqah). Sedangkan Gus Shon dikenal sibuk memimpin majelis shalawat yang mayoritas anggotanya para pemuda, hampir dua hari sekali keliling ke daerah-daerah.

“Alhamdulillah dua tokoh bisa tampil satu panggung. Biasanya kan tidak bisa.Mengingat kesibukannya masing-masing,” ungkap Ustadz Moh Zakki, ketua panitia acara.

Biasanya kegiatan haul sebelumnya, panitia mengundang para habaib dari luar Kabupaten Blitar. Namun,untuk haul ke-12 tahun 2016 KH Zubaidi Abdul Ghofur, cukup menampilkan dua putra almarhum saja: Kiai Diya’uddin dan Gus Shon. “Alhamdulillah antusiasme hadirin tetap luar biasa.Terbukti ribuan jamaah tetap hadir pada kesempatan ini,”’kata Zakki.

Siti Efi Farhati

Sejak sehabis shalat tarawih halaman masjid Pesantren Mambaul Hikam sudah penuh sesak para jamaah. Mereka datang dari wilayah Blitar Raya, Tulungagung, Kediri Raya, dan sekitarnya. Acara diawali dengan pembacaan tahlil bersama, lalu dilanjutkan dengan pembacaan shalawat Nabi Muhammad SAW dengan diiringi tim shalawat dari pesantren setempat. (Imam Kusnin Ahmad/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Berita Siti Efi Farhati

Ini Pidato Kasatkornas di Apel Kebangsaan Banser Bali

Denpasar,? Siti Efi Farhati?

Apel Kebangsaan yang diadakan Pimpinan Wilayah GP Ansor Provinsi Bali di Lapangan Lumintang Denpasar, Ahad (14/5) dihadiri Kasatkornas Banser H. Alfa Isnaini. Di hadapan seribu kader Ansor dan Banser dari sembilan kabupaten dan kota se-Bali itu, Alfa merasa bangga karena banom NU itu bisa eksis di pulau dewata, pulau dengan Muslim minoritas. ?

Ini Pidato Kasatkornas di Apel Kebangsaan Banser Bali (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Pidato Kasatkornas di Apel Kebangsaan Banser Bali (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Pidato Kasatkornas di Apel Kebangsaan Banser Bali

Meski demikian, ia berpesan agar GP Ansor dan Banser terus menjunjung tinggi keharmonisan, kedamaian dan menjalin komunikasi kepada semua pihak. Dengan cara seperti itu, rajutan kebinekaan di negeri ini, termasuk di Bali, bisa seiring sejalan dengan cita cita pendiri bangsa.

"Para perumus negeri ini sepakat untuk menjadikan negeri ini sebagai negara kesatuan yang mengakui perbedaan, menggapai kesejahteraan bersama berdasarkan Pancasila. Ini sudah final, karena yang menyepakatinya juga adalah para kiai-kiai NU," tegasnya.

Jadi, lanjutnya dengan suara lantang, siapa pun yang ingin mengutak-atik NKRI dan Pancasila, maka GP Ansor dan Banser siap berhadap-hadapan dengan mereka.

Siti Efi Farhati

“Apakah kalian siap?” tanya Alfa.

"Siap!" seru peserta apel menjawab serentak.

Menyoal kelompok yang anti-Pancasila, ia terang-terangan menyebut HTI sebagai organisasi gerakan politik, bukan gerakan dakwah keagamaan. Mereka jelas ingin menggantikan Pancasila sebagai dasar negara.

"Kebebasan berpendapat boleh, tapi kalau sudah ingin mengubah dasar dan bentuk negara, maka langkah pemerintah sudah tepat untuk membubarkan HTI yang kerap mempropagandakan pemerintahan model khilafah Islamiyah," paparnya.

Siti Efi Farhati

Namun, ia juga menegaskan bahwa langkah pemerintah untuk membubarkan HTI merupakan keputusan politik, jadi ini belum cukup. Ansor Banser menginginkan yang lebih dari itu.

"Kita ingin semua gerakan pemahaman dan ajaran HTI, harus dilarang di seluruh tumpah darah Nusantara ini. Jika masih mereka ada, maka selama itu juga Banser dan Ansor akan tetap melakukan perlawanan," paparnya yang langsung disambut tepuk tangan peserta apel.

Terakhir, ia berpesan agar kader Ansor dan Banser agar tidak gampang terprovokasi oleh oknum-oknum yang menginginkan terpecahnya kesolidan Nahdlatul Ulama. (Abraham Iboy/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Berita, Syariah, Ahlussunnah Siti Efi Farhati

Kamis, 28 Desember 2017

Ribuan Penganggur Rebutan 2 Kursi CPNS Depag

Brebes, Siti Efi Farhati

Sebanyak 1004 orang mendaftar seleksi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Departemen Agama (Depag) Kabupaten Brebes. Padahal, formasi yang tersedia hanya 2 lowongan saja. Yakni untuk formasi S1 Pendidikan Agama Islam (PAI) 1 orang dan guru kelas Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) juga 1 orang.



Ribuan Penganggur Rebutan 2 Kursi CPNS Depag (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Penganggur Rebutan 2 Kursi CPNS Depag (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Penganggur Rebutan 2 Kursi CPNS Depag

Jumlah peserta seleksi peminatnya terbanyak untuk formasi guru kelas MIN. Yakni 501 orang. Mereka berasal dari lulusan D2 Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) sebanyak 221 orang, lulusan D2 PGSD 150 orang, lulusan D2 PGPAI 129 orang dan S1 PGSD 1 orang. “Sisanya, sebanyak 471 peserta merupakan peminat dari formasi S1 pendidikan PAI,” ujar Ketua Panitia Penerimaan CPNS Depag Kabupaten Brebes, Drs H Syamsudin di sela-sela Tes Tertulis CPNS di Aula Mts Negeri Model Brebes, Ahad (15/11).

Dia mengatakan, dari total peserta yang mendaftar seleksi sebanyak 1.004 orang. yang dinyatakan lolos seleksi administrasi dan mengikuti ujian tertulis sebanyak 972 orang. Sementara, sisanya tidak hadir tanpa alasan. Yang tidak hadir dinyatakan gugur. Mereka gagal karena tidak hadir dalam ujian tertulis yang dilaksanakan serentak. "Karena tidak hadir tanpa alasan dalam ujian, otomatis kami nyatakan gugur," ungkapnya.

Siti Efi Farhati

Syamsudin menduga, ketidakhadiran mereka akibat membludaknya peminat yang mencapai ribuan peserta. "Salah satu alasan peserta memilih tidak hadir dalam tes, karena merasa berat. Selain itu, mungkin juga mereka mendaftar pada CPNS Pemkab," terangnya.

Ujian CPNS itu sendiri dilaksanakan di dua tempat, yakni di MTs Negeri Model Brebes dan MAN Brebes 01. Seleksi tersebut diselenggarakan Kanwil Depag Provinsi Jateng. Sedangkan Depag kabupaten/kota hanya sebagai pelaksana ujian.

Siti Efi Farhati

Soal ujian kembali dikumpulkan ke panitia untuk didata ulang dan dimusnahkan. Sedangkan semua lembar jawab peserta, langsung dikirim ke provinsi untuk dikoreksi. “Koreksi dan hasilnya ditentukan ditingkat Wilayah dengan Persetujuan Depag Pusat,” tandasnya. (was)Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pondok Pesantren, Berita, Khutbah Siti Efi Farhati

Rabu, 27 Desember 2017

Soal Investasi Dana Haji, MUI: Pandangan Menag Sejalan Fatwa MUI

Tangerang Selatan, Siti Efi Farhati?

Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Asrorun Niam Sholeh menegaskan, pandangan Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin tentang bolehnya penggunaan dana setoran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) untuk hal-hal yang produktif sudah sesuai dengan Fatwa MUI.?

Menurut Niam, MUI telah membahas permasalahan investasi dana haji itu di dalam Forum Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa Se-Indonesia IV yang diselenggarakan di Cipasung Jawa Barat tahun 2012. Ia mengaku memimpin sidang pleno penetapan Fatwa tersebut bersama dengan KH Ma’ruf Amin.

“Forum Ijtima’ Ulama menyepakati bolehnya memproduktifkan dana haji yang disetorkan jama’ah untuk investasi sepanjang dilakukan sesuai syariah dan ada kemaslahatan,” kata Niam kepada Siti Efi Farhati di Tangerang Selatan, Sabtu (29/7) malam.

Soal Investasi Dana Haji, MUI: Pandangan Menag Sejalan Fatwa MUI (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Investasi Dana Haji, MUI: Pandangan Menag Sejalan Fatwa MUI (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Investasi Dana Haji, MUI: Pandangan Menag Sejalan Fatwa MUI

Dalam salah satu poin Keputusan Forum Ijtima’ Ulama tersebut disebutkan bahwa dana setoran jama’ah haji yang berada dalam daftar tunggu boleh digunakan atau di-tasharruf-kan untuk hal-hal yang poduktif atau memberikan keuntungan.

Namun demikian, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menambahkan, pemanfaatan setoran dana haji tersebut harus mengedepankan kepentingan dan kemaslahatan umat. “Akan tetapi harus dipastikan dilakukan sesuai ketentuan syariah dan manfaatnya kembali kepada jama’ah,” jelasnya.

Sebelumnya, Menag menyampaikan bahwa dana setoran haji boleh digunakan untuk investasi infrastruktur selama investasi tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip syariah, sesuai dengan Undang-Undang yang ada, serta memberikan kemaslahatan kepada jama’ah haji dan juga masyarakat umum. Terkait pandangan Menag ini, ada yang mendukung dan juga ada yang mempertanyakan keabsahannya baik secara Undang-Undang maupun hukum Islam. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Aswaja, Berita Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati

Jumat, 22 Desember 2017

Kaligrafi Bisa Menjadi Jembatan Perdamaian

Jakarta, Siti Efi Farhati. Seni lukis kaligrafi bisa menjadi semangat keimanan, ‘jembatan’ perdamaian dan inspirasi kelestarian manakala manusia menyadari bahwa pena adalah senjata pemusnah keingkaran dan keinginan yang berlebihan, dengan kitab suci sebagai jendela pemandu akal dan keinginan.

Demikian dikatakan pelukis kaligrafi Jauhari Abd Rosyad saat menjadi narasumber pada diskusi “Multicultural Calligraphy by Jauhari Abd Rosyad” di Kantor The Wahid Institute, Jalan Taman Amir Hamzah, Jakarta, Selasa (22/5). Hadir pula sebagai narasumber pada acara tersebut, Pelukis dan Sastrawan Acep Zamzam Nur.

Kaligrafi Bisa Menjadi Jembatan Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaligrafi Bisa Menjadi Jembatan Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaligrafi Bisa Menjadi Jembatan Perdamaian

Jauhari, begitu panggilan akrab pria yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, itu, menjelaskan, karya kaligrafi yang ia buat seluruhnya bersumber dari ayat-ayat Al-Quran. Ia mengaku ingin menyampaikan pesan-pesan perdamaian dan toleransi yang ada dalam Al-Quran kepada masyarakat.

Karena itulah, tuturnya, seni lukis kaligrafi bisa menjadi jembatan bagi upaya perdamaian. Ajaran-ajaran suci Al-Quran akan bisa terwujudkan melalui karya seni menulis indah itu.

Tak hanya itu. Menurut Jauhari, seni melukis dengan tema utama ayat-ayat Al-Quran itu, sekaligus juga mampu menumbuhkan semangat religius pada penikmatnya. “Karena semua sumbernya adalah Al-Quran, maka semangat religiusitas itu akan muncul dengan sendirinya,” pungkasnya.

Senada dengan Jauhari, Acep mengatakan, kaligrafi dengan menggunakan ayat-ayat Al-Quran sebagai sumber inspirasinya, memang bisa menimbulkan semangat religius bagi penikmat maupun pelukisnya sendiri. Namun hal itu sifatnya sangat subyektif, tergantung pada penafsiran penikmatnya.

Siti Efi Farhati

“Dalam hal ini, saya punya teori ‘Bulu Kuduk’. Misal, ketika kita melihat sebuah lukisan, apapun temanya, kemudian bulu kuduk kita berdiri, maka di situlah muncul semangat religius. Artinya juga si pelukis cukup berhasil menyampaikan pesan religius yang dimaksud,” ujar Acep.

Meski demikian, dalam diskusi yang dipandu Direktur Eksekutif The Wahid Institute Ahmad Suaedy itu, Acep mengkritik pemahaman masyarakat Indonesia tentang kaligrafi yang ia nilai salah kaprah. Menurutnya, pada dasarnya, kaligrafi adalah murni seni menulis indah dan tidak ada hubungannya dengan ajaran agama tertentu.

Kaligrafi, tambahnya, tidak terpaku pada ayat-ayat Al-Quran yang ditulis dalam huruf dan Bahasa Arab. Melainkan bisa menggunakan huruf serta bahasa mana pun. “Bisa pakai huruf Cina, Jepang, Arab, Latin, dan sebagainya. Tapi di Indonesia, kaligrafi identik dengan Arab, identik dengan Islam. Seolah-olah kaligrafi adalah Islam,” paparnya. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Anti Hoax, Berita, Doa Siti Efi Farhati

Rabu, 13 Desember 2017

Prof Machasin Kritik Tradisi Kajian Islam di Indonesia

Jakarta, Siti Efi Farhati. Direktur Pendidikan Tinggi Islam Kementrian Agama, Prof Dr Muhammad Machasin. mengakui saat ini sulit menjawab adanya kajian Islam yang serius dan berkelanjutan di Indonesia. Yang banyak dilakukan adalah pengajian di majelis taklim atau madrasah yang membuat orang faham, ngerti dan bisa mengamalkan.

“Kalau pengajian dalam pengertian membahasan topik keislaman secara serius dengan mengikuti kaidah pencarian data, analisis dan penyimpulan yang bener, ini masih langka. Indikatornya, tak muncul karya ilmiah seperti itu, kecuali untuk disertasi dan thesis,” katanya dalam diskusi Kamisan Siti Efi Farhati, (14/10).

Prof Machasin Kritik Tradisi Kajian Islam di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Prof Machasin Kritik Tradisi Kajian Islam di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Prof Machasin Kritik Tradisi Kajian Islam di Indonesia

Machasin yang juga rais syuriyah PBNU ini mengkategorikan dosen dalam perguruan tinggi Islam dalam dua kelompok. Pertama, orang yang taklid, menerima pengetahuan yang sudah ada tanpa mengkritisi, tetapi semangat keagamannya tinggi.

Siti Efi Farhati

Kedua, orang yang mau membuka diri pada ilmu modern, tetapi basis keislamannya lemah. Bisa bicara sosiologi dan lainnya, tetapi tak tahu Islam. Yang mampu menggabungkan kedua sisi ini belum banyak.

“Kita tak punya pendidikan ulama, sementara untuk menjadi ulama diperlukan pengetahuan lain. Saya sebenarnya berharap orang pesantren yang ngerti literatur Arab, dan belajar di IAIN yang tahu ilmu luarnya (sosiologi. filsafat, dll.red,” tandasnya.

Siti Efi Farhati

Jika hanya menyediakan lembaga pendidikan Islam seperti yang ada sekarang, hanya akan menyediakan kebutuhan untuk publik luas, tapi tak akan mampu menghasilkan sebuah pemikiran besar.

Perguruan tinggi yang seharusnya menjadi pusat kajian dan penelitian saat ini hanya melakukan penelitian yang sifatnya parsial sesuai dengan kemauan penyandang dana. Akhirnya perguruan tinggi juga hanya menyediakan layanan pengajian.

“Yang menggeluti betul, meneliti terus-menerus jarang, hatta Nurcholis Madjid tak menyelesaikan dengan tuntas. Biasanya antara kemampuan, kesempatan dan waktu yang cukup tidak ketemu,” terangnya.

Para dosen lebih disibukkan dengan kegiatan mengajar, mengoreksi atau melakukan penelitian kecil-kecilan. “Ulama kita waktunya habis untuk melayani masyarakat, tak sempat melakukan pemikiran. Terbukti kegiatan bahstul masail yang datang lebih banyak para santri, kiai sudah tak sempat,” tandasnya.

Di sisi lain, sekarang terdapat fenomena baru, orang yang berbicara atas nama Islam bukan hanya ulama yang sebenarnya, tetapi siapa saja bisa bicara tentang Islam, mengatasanamakan Islam yang kadangkala logikanya tidak jalan, hanya ngerti satu dua ayat lalu berdalil. Sementara orang yang ngerti dan tahu betul mungkin tidak sempat atau tak tahu bagaimana berhadapan dengan teknologi modern.

“Kalau saya melihat kemampuan banyak yang bisa, kemampuan meneliti, tetapi yang kurang orang yang sempat,” ujarnya.

Sikap Inferior

Faktor lain yang membuat pengkajian Islam di Indonesia kurang berkembang dibandingkan dengan adalah faktor historis. Sikap budaya orang Indonesia tak melahirkan orang yang berani dan mampu menghadirkan fikiran yang ssegar tentang Islam karena merasa kecil hati atau rendah diri ketika berhadapan dengan fihak lain.

“Dihadapan Yusuf Qardawi kita tak berani ngomong. Berhadapan dengan Wahbah Zuhaili juga, inferior. Kita masih merasa kalah dengan Al Azhar, bahkan adengan pesantren tak begitu terkenal dengan di Yaman,” tandasnya.

Ia menuturkan, disatu sisi, perguruan tinggi Islam di Indonesia lebih baik karena rasio antara dosen dan mahasiswa di Al Azhar 1 : 100 sementara di Indonesia lebih kecil sehingga mampu memberi pelayanan yang lebih baik pada tiap mahasiswa.



Berkutat pada Tunjangan Profesi

Yang menjadi keprihatinanya atas sikap akademisi di Indonesia adalah mereka masih berkutat pada bagaimana menaikkan tunjangan profesi, tetapi setelah itu tidak ada kenaikan kinerja dan kemampuan menghasilkan karya (bersambung). (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Quote, Berita Siti Efi Farhati

Minggu, 03 Desember 2017

BPBD Barru Apresiasi Advokasi LPBINU soal Penanganan Bencana

Barru, Siti Efi Farhati. Dalam pembukaan kegiatan Pelatihan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dan Participatory Disaster Risk Assessment (PDRA) yang dilaksanakan oleh Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) bekerja sama dengan Department of Foreign and Trade (DFAT) Australia, Kepala pelaksana harian Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Kabupaten Barru, Abdul Kadir mengucapkan terima kasih kepada LPBINU dan BPBD Kabupaten Barru merasa terbantu oleh kegiatan-kegiatan terkait penanggulangan bencana (PB) yang telah, sedang, dan akan dilaksanakan oleh LPBINU.?

Menurut Kadir, penanggulangan bencana seharusnya dilaksanakan oleh pemerintah, masyarakat, dan pelaku bisnis. Yang menjadi persoalan utama saat ini adalah bagaimana penyelenggaraan PB dapat berlangsung secara partisipatoris. Para pihak terutama masyarakat mampu mengenali risiko dan memiliki kapasitas untuk melakukan upaya PRB. “Oleh karena itu, diperlukan banyak kegiatan seperti pelatihan untuk meningkatkan kapasitas mereka,” ujarnya.

BPBD Barru Apresiasi Advokasi LPBINU soal Penanganan Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
BPBD Barru Apresiasi Advokasi LPBINU soal Penanganan Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)

BPBD Barru Apresiasi Advokasi LPBINU soal Penanganan Bencana

Pelatihan PRB dan PDRA akan berlangsung selama 4 (empat) hari, 07-10 September 2016. Pelatihan diikuti oleh 30 peserta yang berasal dari berbagai institusi, diantaranya LPBI NU Kabupaten Barru, Fatayat NU, GP Ansor, Tokoh masyarakat, TP PKK, karang taruna, Lembaga pendidikan, dan Pelaku usaha kecil dan menengah. Mayoritas peserta merupakan masyarakat Desa Lalabata. Desa Lalabata dipilih sebagai lokasi dan praktek pelatihan dengan pertimbangan bahwa desa ini memiliki risiko tinggi terjadi bencana banjir. Hampir setiap tahun Desa Lalabata terjadi banjir akibat curah hujan yang tinggi.?

Dalam Pelatihan PRB dan PDRA ini sedikitnya akan dibahas 7 (tujuh) materi, meliputi: Konsep dasar manajemen risiko bencana; Kebijakan dan sistem Penanggulangan Bencana; Daur bencana dan tahapan dalam penyelenggaraan Penanggulangan Bencana; Kajian risiko partisipatif dan pengorganisian komunitas; Kajian Analisis Bencana (Ancaman, Kerentanan, Kapasitas, dan Risiko Bencana) dan Tindakan PRB; Pendekatan Kajian/Analisis Pengurangan Risiko Bencana dengan Teknik Participatory Disaster Risk Assessment (PDRA); dan Menakar risiko bencana partisipatif.?

Hadir sebagai narasumber, Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Barru, Abdul Kadir dan ketua PCNU Kabupaten Barru, KH. Irham Djalil, dan PP LPBI NU, Rurid Rudianto. Sedangkan bertindak sebagai trainer Pelatihan PRB dan PDRA adalah Sofyan dari Sangga Buana. Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta diharapkan memiliki pemahaman tentang konsep dan pengertian dasar penanggulangan bencana dan pengurangan risiko bencana; mampu menjelaskan upaya PRB secara komprehensif; mampu menyusun kajian risiko bencana dengan teknik PDRA; dan memiliki kemampuan dasar dalam menyusun rencana aksi pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat. Di akhir sesi, peserta didorong untuk membuat rencana aksi komunitas yang diharapkan dapat dilaksanakan secara nyata di tengah masyarakat untuk mewujudkan upaya PB dan PRB yang lebih baik. (Red: Fathoni)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Daerah, Berita Siti Efi Farhati

Rabu, 29 November 2017

Ulama Setempat Tolak PLTN Jepara

Jepara, Siti Efi Farhati. Para ulama di Jepara, Jawa Tengah, menolak proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Semenanjung Muria, Jepara, karena dinilai lebih banyak madhorotnya dibanding manfaatnya. Keputusan ini sekaligus menjadi rekomendasi bagi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jakarta.

Keputusan didasarkan hasil kajian Lembaga Bahtsul Masa’il (LBM) Nahdlatul Jepara selama dua hari, 1-2 September 2007, yang diikuti oleh sejumlah kiai dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jepara.

Ulama Setempat Tolak PLTN Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama Setempat Tolak PLTN Jepara (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama Setempat Tolak PLTN Jepara

“PLTN tidak hanya menyangkut masalah energi, tapi juga lingkungan, sosial, politik, dan ekonomi. Untuk meneropong masalah tersebut, batasnya adalah manfaat dan bahaya bagi kepentingan umat,” kata Sekretaris Tim Perumus Bahtsul Masail KH Ahmad Roziqin di Kantor PCNU Jepara, Ahad (2/9).

“Dengan berbagai pertimbangan, kami memutuskan PLTN Muria haram hukumnya. Energi yang dihasilkan hanya 2-4 persen, sementara limbah radioaktifnya sangat berbahaya,” kata Kiai Ahmad yang didampingi Ketua Tim Perumus KH Kholilurahman.

Para ulama NU Jepara berharap pemerintah membatalkan rencana pembangunan PLTN Muria. Meski masi berupa rencana, PLTN nyata-nyata menimbulkan keresahan umat .

Keputusan penolakan pembangunan PLTN berlaku pada tingkat lokal, yakni PLTN Muria. “Keputusan ini akan kami rekomendasikan ke PWNU dan PBNU sebagai bahan kajian lagi,” kata Kiai Ahmad dan Kiai Kholilurahman.

Siti Efi Farhati

Ketua PBNU Ahmad Bagja di Jakarta mengatakan, PBNU akan membahas lagi persoalan PLTN Muria. "Keputusan PCNU Jepara itu kami nilai sebagai masukan atau rekomendasi,” ungkapnya.

Dalam pembahasan nanti, kata Ahmad, PBNU sepertinya tidak akan terlalu jauh sampai ke penentuan fatwa halal atau haram bagi PLTN Muria. “Kami akan kaji manfaat dan mudaratnya dari aspek agama dan ilmiah,” katanya.(ant/gpa/sam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Berita Siti Efi Farhati

Pertama, 100 Mahasiwa Ikuti Mapaba PMII di Kota Pariaman

Pariaman, Siti Efi Farhati - Mahasiswa harus menyiapkan dirinya menjadi pemimpin dan wirausahawan setelah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Karenanya selagi mahasiswa harus fokus belajar baik di dalam kampus, maupun di luar kampus.

Demikian terungkap dalam seminar nasional yang digelar Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Sumbar, Sabtu (30/9) di hall Saiyo Sakato, Pariaman.

Seminar menampilkan narasumber Ketua DPW Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Sumatera Barat Syamsul Bahri  dan Ketua GP Ansor Kabupaten Padang Pariaman Zeki Aliwardana dengan moderator Wakil Ketua II STIE Sumbar Satria Effendi Tuanku Kuning. Seminar dibuka Ketua DPRD Kota Pariaman Mardison Mahyudin.

Pertama, 100 Mahasiwa Ikuti Mapaba PMII di Kota Pariaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Pertama, 100 Mahasiwa Ikuti Mapaba PMII di Kota Pariaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Pertama, 100 Mahasiwa Ikuti Mapaba PMII di Kota Pariaman

Mardison menyampaikan, saat ini kondisi generasi muda terbelah. Di satu sisi banyak yang melakukan tindakan negatif yang merugikan diri sendiri dan masyarakat di lingkungannya. Di sisi lain, banyak pula generasi muda  bertindak positif dengan berbagai kegiatan yang bermanfaatkan. "Bagaimana kita bersama merangkul generasi muda yang bertindak negatif tersebut berubah menjadi bertindak positif dalam hidupnya," kata Mardison.

Siti Efi Farhati

Menurutnya, generasi muda yang diharapkan adalah generasi yang sehat, islami, mampu berkarya, inovatif, kreatif. Generasi muda semacam inilah yang lebih siap jadi pemimpin dan pengusaha sebagaimana tema dari seminar ini. PMII sebagai wadah organisasi mahasiswa tentu diharapkan mampu menyiapkan generasi muda yang mandiri.

Zeki Aliwardana dalam paparannya menyebutkan, pemimpin harus menjadi teladan bagi orang yang dipimpinnya. Pemimpin yang baik menggunakan kewenangannya secara cerdas dan peka sehingga menjadi sangat berwenang tanpa sewenang-wenang.

Siti Efi Farhati

"Menjadi pemimpin bukan berarti mendapatkan hak untuk memerintah. Tetapi justru kewajiban memberi teladan sehingga orang lain bisa menerima perintahnya tanpa merasa direndahkan," kata Zeki Aliwardana yang mantan Sekretaris PMII Kota Pariaman ini.

Ia menambahkan, karakteristik pribadi pemimpin yang harus memiliki kecerdasan cukup tinggi, kecakapan berkomunikasi, kecakapan mendidik, emosi terkendali, memiliki motivasi berprestasi, kepercayaan diri dan ambisi. Pemimpin yang tidak memiliki karakteristik tersebut, tidak akan pernah menjadi pemimpin sukses.

Syamsul Bahri menyebutkan, wirausahawan dan kepemimpinan saling terkait. Pemimpin yang mandiri adalah pemimpin yang mampu mengayomi orang-orang yang dipimpinnya. Wirausahawan bagaimana pun harus bermanfaat bagi lingkungannya. Begitu pula pemimpin, harus bermanfaat bagi orang di lingkungannya.

Ketua PK PMII STIE Sumbar Zulkifli mengatakan, seminar nasional dan Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) ke-X yang diikuti 100 peserta bertemakan, Melahirkan Pemimpin dan Pengusaha yang Kreatif, Inovatif Menuju Indonesia Mandiri.

"Ini Mapaba pertama di Kota Pariaman yang paling banyak pesertanya. Sehingga Ketua GP Ansor Padang Pariaman Zeki Aliwardana memberikan penghargaan kepada PK PMII STIE Sumbar yang diserahkan usai seminar menjelang sesi Mapaba dimulai," kata Zulkifli. (Armaidi Tanjung/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Olahraga, Berita Siti Efi Farhati

Selasa, 21 November 2017

LSN 2017 Akan Dibuka Wapres Ditutup Presiden

Jakarta, Siti Efi Farhati?



Liga Santri Nusantara (LSN) 2017 rencananya akan dibuka di Pinrang, Sulawesi Selatan pada 9 Agustus mendatang. Pembukaan tersebut akan dihadiri Wakil Presiden RI H. Jusuf Kalla. Sementara penutupan dilakukan di Bandung, Jawa Barat, pada Oktober yang rencananya akan dihadiri Presiden RI H. Joko Widodo.?

Hal itu dikemukan Ketua Liga Santri Nusantara (LSN) 2017 KH Abdul Ghofarrozin pada peluncuran LSN 2017 di gedung PBNU, Jakarta, Kamis malam (27/7).?

LSN 2017 Akan Dibuka Wapres Ditutup Presiden (Sumber Gambar : Nu Online)
LSN 2017 Akan Dibuka Wapres Ditutup Presiden (Sumber Gambar : Nu Online)

LSN 2017 Akan Dibuka Wapres Ditutup Presiden

Pada dua kesempatan tersebut, lanjut Ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU), Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Menteri Pemuda dan Olahraga H. Imam Nahrawi juga dijadwalkan hadir.?

Menurut dia, pelaksanaan LSN 2017 merupakan transisi penyelenggaraan secara profesional. Karena, setahun hingga dua tahun yang akan datang, ditargetkan menjadi agenda tahunan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI).?

Siti Efi Farhati

“Bukan tidak mungkin tahun-tahun ke depan, akan muncul pemain-pemain sepak bola nasional dari Liga Santri Nusantara,” katanya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Berita, Halaqoh, Santri Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati

Selasa, 14 November 2017

Ini Bahaya Laten Bagi Umat Islam Menurut Ibnu Athaillah

Umat Islam tidak boleh lengah atas bahaya laten yang mengancam mereka. Bahaya laten ini menyusup bukan di tengah-tengah umat Islam. Bahaya laten ini jauh lebih halus menyusup di dalam tubuh mereka dalam aktivitas ibadah dengan segala bentuknya (yaitu shalat, puasa, zikir, tadarus, tahfiz, sedekah, haji, umrah, dan ibadah lainnya) sebagai keterangan Ibnu Athaillah berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ini Bahaya Laten Bagi Umat Islam Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Bahaya Laten Bagi Umat Islam Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Bahaya Laten Bagi Umat Islam Menurut Ibnu Athaillah

Artinya, “Unsur nafsu pada perbuatan maksiat tampak jelas. Sedangkan unsur nafsu pada amal ibadah tersembunyi dan laten. Upaya pengobatan atas penyakit yang tersembunyi itu sulit.”

Siti Efi Farhati

Bahaya laten yang patut diwaspadai umat Islam adalah unsur nafsu yang menyusup pada aktivitas ibadah mereka. Nafsu yang suka menuntut ini pada gilirannya dapat mencelakai mereka yang tak mewaspadai bahaya laten ini. Bagaimana bisa orang beribadah menjadi celaka?

Siti Efi Farhati

Pertama kita harus pahami dahulu watak nafsu. Watak dasar nafsu cenderung berlari dari tanggung jawab. Sementara ibadah adalah tanggung jawab manusia terhadap Allah SWT sebagai tujuan dari penciptaan mereka. Tetapi ketika nafsu mengajak kita memikul tanggung jawab yang sejatinya ia tidak sukai, maka waspadalah.

Kenapa demikian? Ketika nafsu menyelinap di tengah-tengah aktivitas ibadah kita, maka sejatinya nafsu mengarahkan kita ke jalan lain, bukan menuju Allah SWT. Ini cukup menyulitkan. Pasalnya, unsur nafsu tampak terang-terangan pada perbuatan maksiat. Sedangkan untuk aktivitas ibadah, unsur nafsu biasanya menyusup, menyelinap, mendompleng, atau menunggangi sebagai keterangan Syekh Syarqawi berikut ini.

? ? ? ?) ? (? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “(Unsur nafsu pada perbuatan maksiat) seperti zina (tampak jelas) yaitu kenikmatan atas maksiat tersebut. Nafsu itu tidak memintamu mengaburkan keinginannya pada maksiat itu selain hanya untuk kenikmatanmu atas maksiat tersebut sehingga bencana dan petaka menimpamu. (Sedangkan unsur nafsu pada amal ibadah tersembunyi dan laten). Tak satupun melihat unsur nafsu itu selain mereka yang membuka mata batin. Kenapa demikian? Amal ibadah itu berat. Tetapi ketika nafsu mengajakmu beribadah–sementara kamu tak tahu unsur nafsu pada ibadah tersebut kecuali dengan ketelitian–, maka secara lahiriah ia memperlihatkan dirinya mengajakmu taqarrub kepada Allah, tetapi sejatinya yang dituju tidak lain adalah perhatian manusia kepadamu dan kemasyhuranmu sebagai orang saleh di tengah mereka. Siapa yang memerhatikan nafsunya dan mengawasi gerak batinnya, maka kebenaran sejati akan tampak padanya,” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, tanpa catatan tahun, juz II, halaman 4).

Unsur nafsu yang menyusup di dalam aktivitas ibadah menggiring pelakunya ke jalan lain, yaitu riya sebagai penyakit destruktif yang berbahaya bagi umat Islam. Pengalihan jalan ke selain jalan Allah ini yang patut dicurigai dan diwaspadai. Jangan sampai Allah murka dengan aktivitas ibadah yang disusupi nafsu. Pengalihan jalan ini biasanya berlangsung tanpa kita sadari.

Lalu bagaimana cara mengobatinya? Sejauh penyakit dan bahaya laten ini belum terdeteksi, maka upaya pengobatan sulit dilakukan sebagai keterangan Syekh Zarruq berikut ini.

?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Buat saya, (Ibnu Athaillah) berkata, kesulitan pengobatannya itu bergantung pada kadar kesamarannya karena pengobatan itu mengikuti sejauhmana pengetahuan seseorang terhadap pokok, sebab, dan sifat penyakit itu sendiri. Ketika pokok dan sebab penyakit itu belum terdeteksi dan sudah sampai pada pemeriksaan (lalu terdeteksi), maka penyakit tak mungkin diobati kecuali dengan susah payah. Salah satu penyakit laten yang menyelinap pada amal ibadah adalah riya terhadap makhluk-Nya,” (Lihat Syekh Ahmad Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 135).

Upaya preventif dari bahaya laten (nafsu yang berujung pada riya) ini harus dilakukan sejak dini. Kewaspadaan tinggi perlu dilakukan. Sementara upaya pengobatannya tidak kalah sulit. Perlu banyak zikir dengan segala lafalnya atau bimbingan dari para guru tarekat.

Namun demikian, hikmah ini tidak bertujuan untuk melemahkan semangat beribadah kita. Hikmah ini juga tidak menyarankan kita untuk berburuk sangka terhadap mereka yang gemar ibadah. Hikmah ini hanya mengingatkan kita agar selalu waspada terhadap segala penyusupan dan bahaya laten pada aktivitas ibadah kita yang dapat membuatnya rusak dan sia-sia. Hikmah ini justru mendorong kita untuk beribadah secara istiqamah di jalan menuju Allah, bukan jalan ke lain-Nya. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Berita Siti Efi Farhati

Rabu, 08 November 2017

Puslitbang Lektur Kemenag Terus Kembangkan Tesaurus Manuskrip Islam Nusantara

Jakarta, Siti Efi Farhati - Seorang calon sarjana filologi sudah tinggal menanti sidang skripsinya. Namun, ia harus mengganti skripsinya, dalam arti membuat ulang sebab naskah yang ia kaji sudah lebih dulu dikaji orang lain. Untuk menghindari hal demikian terulang, Oman Fathurrahman berijtihad untuk membuat sebuah katalog naskah daring yang tidak saja memuat identitas naskah, tetapi sampai pada berapa kali judul naskah tersebut dikutip, di buku mana dan halaman berapa dan sudah diteliti siapa saja.

Hal tersebut diceritakan oleh Muhammad Nida Fadlan, narasumber pada kegiatan Persiapan Penyusunan Manuskrip Keagamaan yang digelar oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur, Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi Kementerian Agama di Hotel Takes Mansion, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Jumat (19/5).

Puslitbang Lektur Kemenag Terus Kembangkan Tesaurus Manuskrip Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Puslitbang Lektur Kemenag Terus Kembangkan Tesaurus Manuskrip Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Puslitbang Lektur Kemenag Terus Kembangkan Tesaurus Manuskrip Islam Nusantara

Senada dengan Nida, Kabid Lektur dan Keagamaan Fakhriati menyampaikan, laman yang diberi judul Thesaurus of Indonesian Islamic Manuscripts ini dibuat pada dasarnya untuk mengumpulkan hasil-hasil penelitian tentang naskah.

Siti Efi Farhati

“Mengumpulkan hasil-hasil penelitian tentang naskah,” ujar Fahriyati.

Pada kesempatan tersebut, Nida yang juga dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menampilkan laman yang sudah lahir semenjak tahun 2010 itu, http://lektur.kemenag.go.id/naskah/. Laman tersebut sudah memuat 3118 judul. Sejak lahirnya, laman tersebut belum mengalami pembaharuan. Oleh karena itu, alumni Pondok Buntet Pesantren itu juga berharap kepada Puslitbanglektur agar laman yang sudah berusia 7 tahun itu dapat mengikuti zaman. Ia juga berharap agar thesaurus itu dapat lebih mudah diakses.

“Saya juga berharap agar thesaurus ini lebih handy. Misal dibuat aplikasinya di Playstore,” ujarnya.

Siti Efi Farhati

Laman yang juga dibidani oleh PPIM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini masih membatasi pada naskah Islam Nusantara. Naskah yang dimaksud mencakup dua bidang, yakni naskah karya ulama Nusantara dan naskah berbahasa Nusantara. (Syakirnf/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Berita, Fragmen Siti Efi Farhati

Rabu, 11 Oktober 2017

Rekor MURI Komik Terpanjang Bakal Semarakkan Puncak Hari Santri

Jakarta, Siti Efi Farhati. Kementerian Agama akan menggelar puncak peringatan Hari Santri tahun 2017 di Lapangan Simpang Lima Semarang pada 22 Oktober 2017. Peringatan ini akan dimeriahkan dengan pencatatan rekor pada Museum Rekor Indonesia (MURI) tentang pembuatan Komik Terpanjang.

Rekor MURI Komik Terpanjang Bakal Semarakkan Puncak Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Rekor MURI Komik Terpanjang Bakal Semarakkan Puncak Hari Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Rekor MURI Komik Terpanjang Bakal Semarakkan Puncak Hari Santri

“Sebanyak 31 komikus akan membuat komik terpanjang di atas kanvas sepanjang 300 meter. Pencapaian ini akan dicatat pada MURI. Rekor sebelumnya adalah komik sepanjang 207 meter di Universitas Surabaya pada 2011,” terang Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Ahmad Zayadi di Jakarta, Jumat (19/10).

Menurut Zayadi, ke-31 komikus yang akan ikut ambil bagian berasal dari Jawa Tengah selaku tuan rumah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Jawa Barat, DKI Jakarta, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, dan bahkan Malaysia. Mereka akan membuat komik yang berkisah tentang peran santri dalam sejarah Indonesia. 

Peran santri itu akan digambarkan sejak dari masuknya Islam ke Indonesia, era penjajahan, perang Jawa, perlawanan santri, berdirinya ormas Islam, hingga resolusi jihad 22 Oktober 1945 dan perang 10 November 1945.

“Kerja mereka akan dikoordinatori oleh Direktur Rumah Kartun Indonesia Abdullah Ibnu Thalhah,” ujar Zayadi, dalam siaran pers yang diterima Siti Efi Farhati.

Siti Efi Farhati

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin juga akan ikut ambil bagian dalam pembuatan komik ini. Menag akan menyumbang goresan dalam bentuk lafadz Allah. “Acara akan dimulai dari pukul 14.00 dan diperkirakan selesai menjelang magrib,” ujarnya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Berita, Cerita, Olahraga Siti Efi Farhati

Jumat, 22 September 2017

Kemenag Rekrut Serentak Penyuluh Agama Islam Non-PNS Se-Indonesia

Jakarta, Siti Efi Farhati - Kementerian Agama RI menggelar ujian tertulis dalam rangka perekrutan penyuluh agama non-PNS serentak se-Indonesia, Ahad (20/11) pagi. Pihak Kemenag RI mengadakan ujian terbuka untuk calon penyuluh agama yang dikoordinir oleh Kementerian Agama kabupaten dan kota se-Indonesia.

Kementerian Agama RI melakukan rekrutmen terbuka bagi penyuluh agama honorer untuk 2017 dengan masa kontrak tiga tahun. Penyuluh agama merupakan kepanjangan tangan dari Kantor Urusan Agama (KUA) di setiap kecamatan untuk melakukan bimbingan dan penyuluhan di masyarakat.

Kemenag Rekrut Serentak Penyuluh Agama Islam Non-PNS Se-Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Rekrut Serentak Penyuluh Agama Islam Non-PNS Se-Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Rekrut Serentak Penyuluh Agama Islam Non-PNS Se-Indonesia

Per 2017 penyuluh agama Islam non-PNS berjumlah delapan orang di setiap kecamatan. Hal ini ditetapkan oleh Dirjen Bimas H Machasin dengan surat keputusan terkait juknis pengangkatan penyuluh agama Islam non-PNS dengan nomor DJ.III/432 tertanggal 15 Juni 2016.

Siti Efi Farhati

“Kemenag Kota Jakarta Selatan membawahi sepuluh kecamatan. Dari banyak calon peserta ujian penyuluh agama Islam honorer, yang lolos 187 berkas. Tetapi dari 187 itu, yang diterima hanya 80 orang,” kata Hj Raudhoh, salah seorang penyuluh agama fungsional KUA Kebayoran Lama, Sabtu (19/11) malam.

Peserta ujian penyuluh agama Islam non-PNS untuk Kemenag Kota Jakarta Selatan mengikti ujian tertulis di Madrasah Aliyah Negeri 4, Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Ahad (20/11) pagi. Mereka menjawab 100 soal pilihan ganda yang dibagikan tim enguji dan pengawas.

Rekrutmen terbuka penyuluh agama Islam non-PNS ini bertujuan menetapkan kualifikasi dan kriteria yang digunakan dalam proses pengangkatan penyuluh agama Islam non-PNS. Selain itu rekrutmen terbuka ini bertujuan untuk merumuskan prosedur, tahapan-tahapan, dan mekanisme pengangkatan penyuluh agama Islam non-PNS. (Alhafiz K)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Tegal, Berita Siti Efi Farhati

Jumat, 01 September 2017

Peringati Harlah, Pelajar NU Kraksaan Sosialisasikan Hasil Kongres IPNU

Probolinggo, Siti Efi Farhati - Pimpinan Cabang IPNU Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo memperingati Hari Lahir (Harlah) Ke-62 IPNU di Aula Kantor PCNU Kota Kraksaan di Jalan KH Abdurrahman Wahid Kelurahan Sidomukti Kecamatan Kraksaan, Sabtu (27/2). Pada kesempatan ini mereka menyosialisasikan hasil Kongres IPNU di Boyolali beberapa bulan lalu.

Kegiatan ini diikuti oleh 200 kader di antaranya PK IPNU Pesantren Nurul Jadid Paiton, PK IPNU Pesantren Darullughah wal Karomah, PK IPNU Pesantren Zainul Hasan, dan 6 Pimpinan Anak Cabang serta 25 orang alumni IPNU Kota Kraksaan.

Peringati Harlah, Pelajar NU Kraksaan Sosialisasikan Hasil Kongres IPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Harlah, Pelajar NU Kraksaan Sosialisasikan Hasil Kongres IPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Harlah, Pelajar NU Kraksaan Sosialisasikan Hasil Kongres IPNU

Peringatan ini disemarakkan dengan istighotsah dan diakhiri dengan pemotongan nasi tumpeng dan makan nasi tumpeng bersama. Tampak hadir Ketua PCNU Kota Kraksaan H Nasrullah A Suja’i dan Ketua IPNU Kota Kraksaan Masrur Ghazali.

Siti Efi Farhati

H Nasrullah meminta para kader untuk selalu memperkuat aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Sebab saat ini sudah banyak paham-paham baru yang bertentangan dengan Aswaja.

“Para kader harus senantiasa memperkuat Aswaja di tengah maraknya paham lain di luar NU. Hal itu sangat penting sebagai benteng agar kader NU tetap berpegang teguh kepada aqidah Aswaja,” katanya.

Siti Efi Farhati

Sementara Wakil Ketua IPNU Kota Kraksaan Khairul Imam mengungkapkan, peringatan Harlah Ke-62 IPNU ini bertujuan untuk memperkuat silaturahmi antara kader dan alumni supaya ikatan keduanya semakin erat.

“Semoga melalui kegiatan ini para kader IPNU tidak melupakan sejarah berdiri dan perjuangan IPNU. Dengan demikian akan menambah semangat dan motivasi dalam menjalankan roda organisasi sebagai wadah untuk menampung aspirasi pelajar,” ungkapnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Berita Siti Efi Farhati

Kamis, 22 Juni 2017

Mengapa KH Wahab Chasbullah Layak Pahlawan Nasional?

Oleh Ahmad Baso

Almaghfurlah KH Wahab Chasbullah (lahir pada 1888 di Jombang, Jawa Timur; wafat 1971) adalah seorang kiai nasionalis, dalam pikiran dan tindakan, seorang pembela negara dan bangsa ini hidup hingga mati. Sejak nyantri di berbagai pesantren dengan sejumlah guru dan kiai. Di Mekah beliau mendirikan organisasi Sarekat Islam di tahun 1912-1914.

Pulang ke Jawa di tahun 1914, beliau aktif dalam berbagai kegiatan pergerakan nasional. Ada sejumlah organisasi yang beliau dirikan: Nahdlatul Wathan (organisasi kebangsaan bersama KH Mas Mansur), Syubbanul Wathan (gerakan pemuda kebangsaan), Nahdlatuttujjar (Gerakan Kebangkitan Para Pedagang), Tashwirul Afkar (forum pencerahan pemikiran), Islamic Studi Club bersama dokter Soetomo (pendiri Boedi Otomo), serta Komite Hijaz yang menjadi embrio berdirinya Nahdlatul Ulama (NU). Bahkan ada cabang Boedi Oetomo Surabaya yang mengikuti Tasjwiroel Afkar, dengan nama “Suryo Sumirat afdeeling [cabang] Tasjwiroel Afkar”. Suryo Sumirat adalah nama satu perhimpunan yang dibentuk oleh orang-orang Boedi Oetomo di Surabaya.

Mengapa KH Wahab Chasbullah Layak Pahlawan Nasional? (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengapa KH Wahab Chasbullah Layak Pahlawan Nasional? (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengapa KH Wahab Chasbullah Layak Pahlawan Nasional?

Itu digambarkan dengan apik oleh Kiai Saifuddin Zuhri dalam bukunya tentang karakter kosmopolit-kebangsaan sang kiai paripurna ini:

Dari pondok pesantren [tempat bergumul Kiai Wahab Chasbullah] lahirlah ide-ide yang hidup, segar dan mendapat sambutan antusias dari masyarakat, dan bukanlah ide-ide yang cuma teoritis yang mati di tengah cetusannya. Ide kebangkitan kaum ulama, ide pentingnya pengorganisasian perjuangan, ide pendekatan golongan-golongan Islam-Nasional, ide perlawanan terhadap segala bentuk penjajahan, ide mencetuskan kemerdekaan dan mempertahankannya, ide mengisi kemerdekaan, ide mempertemukan antara cita-cita dan kenyataan, dan tentu saja ide pembangunan di segala bidang, membangun karakter bangsa, membangun taraf hidup dan membangun prestasi nasional untuk kepentingan seluruh warga negara Republik Indonesia.

Ini misalnya ditunjukkan pada pendirian Nahdlatul Wathan. Kiai Wahab Chasbullah mendirikan organisasi pemuda ini untuk menggelorakan semangat nasionalisme di kalangan umat Islam. Ia bertemu dengan KH Mas Mansur, yang kemudian menjadi tokoh Muhammadiyah, dan sepakat dengan gagasan tersebut. Juga disambut baik oleh HOS Tjokroaminoto, Raden Pandji Soeroso, Soendjoto, dan KH Abdul Kahar, seorang saudagar terkemuka yang kemudian membantu pendanaannya.

Maka, berdirilah sebuah gedung bertingkat di Kampung Kawatan Gang IV, Surabaya, yang kemudian dikenal dengan perguruan Nahdlatul Wathan (Pergerakan Tanah Air). Tujuannya, untuk mendidik kader-kader muda dan membangunkan semangat nasionalisme mereka. Pada 1916, perguruan ini mendapat Rechtsperson (resmi berbadan hukum), dengan susunan pengurus: KH Abdul Kahar sebagai Direkur, KH Abdul Wahab Hasbullah sebagai pimpinan Dewan Guru dan Keulamaan dan KH Mas Mansur sebagai Kepala Sekolah dibantu KH Ridwan Abdullah.

Siti Efi Farhati

Sejak itu Nahdlatul Wathan dijadikan markas penggemblengan para pemuda. Mereka dididik untuk menjadi pemuda yang berilmu dan cinta tanah air. Setiap hendak memulai kegiatan belajar, para murid diharuskan terlebih dahulu menyanyikan lagu perjuangan kebangsaan dalam bahasa Arab, yang telah digubah oleh Kiai Wahab dalam bentuk syair seperti berikut:

Ya ahlal wathan, ya ahlal wathan....

Siti Efi Farhati

Hubbul wathan minal-iman

Wahai bangsaku, wahai bangsaku...

Cinta tanah air adalah bagian dari iman

Cintailah tanah air ini wahai bangsaku

Jangan kalian menjadi orang terjajah

Sungguh kesempurnaan dan kemerdekaan

harus dibuktikan dengan perbuatan...

Setelah Mas Manshur aktif di Muhammadiyah kemudian kepala sekolah dijabat oleh Mas Alwi mengembangkan sayap Nahdlatul Wathan di berbagai daerah. Madrasah Akhul Wathan (Saudara Setanah Air) di Semarang, Farul Wathan (Cabang Tanah Air) di Gresik dan Malang, Hidayatul Wathan (Petunjuk Tanah Air) di Jombang dan Jagalan, Ahlul Wathan (Warga Tanah Air) di Wonokromo dan Khitabul Wathan di Pacarkeling . Pendirian madrasah-madrasah kebangsaan ini tidak lain adalah sebagai bentuk upaya kaum santri untuk menumbuhkembangkan semangat nasionalisme-religius ala pesantren ke dalam jiwa putera-puteri bangsa kita.

Inilah amal dan perbuatan Kiai Wahab Chasbullah untuk bangsa ini di masa penjajahan Belanda.

Kemudian, di masa pendudukan Jepang, ide-ide yang sudah dipupuk di masa kolonial Belanda dilanjutkan pada level aksi nyata. Yakni melalui pembentukan laskar rakyat-pemuda. Mengapa beralih ke pembentukan laskar rakyat? Kiai Wahab sendiri pernah mengatakan: “Kalau kita mau keras, harus mempunyai keris!” Artinya, bahwa kita baru bisa bertindak jika kita telah mempunyai kekuatan. Kekuatan politik, kekuatan militer, dan juga kekuatan batin atau rohani, demikian yang ditulis KH Saifuddin Zuhri, menafsirkan ucapan gurunya itu.

Ide ini awalnya untuk kepentingan pertahanan rakyat dalam konteks menghadapi Perang Pasifik. Tapi niat pemerintah militer Jepang itu dimanfaatkan oleh Kiai Wahab untuk menggembleng kalangan santri dalam latihan fisik-kemiliteran untuk jaga-jaga. Kiai Wahab lalu memebri nama laskar-santri itu Laskar Hizbullah. Ini dengan memanfaatkan keterlibatan para kiai dalam rekrutmen tentara PETA di Cibarusa, Jawa Barat, tahun 1944. Sepulang dari latihan militer ini, para kiai ini kemudian mengkader pasukan-pasukan Laskar Hizbullah di daerahnya masing-masing. Laskar ini kemudian menjadi komponen utama perlawanan rakyat dan kaum santri dalam perang kemerdekaan di tahun 1945-1949.

Nah, selama dalam perang kemerdekaan itu, peranan Kiai Wahab Chasbullah tidak bisa dikesampingkan.

Peran Kiai Wahab Chasbullah dalam Resolusi Jihad

Ketika pasukan Sekutu dan Belanda tiba di Surabaya pada Oktober 1945, Presiden Soekarno menemui Hadlratusysyekh KH Hasyim Asyari menanyakan hukum membela tanah air ini. Hadlratusysyekh kemudian memanggil Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Bisri Syamsuri dan para kiai kharismatik lainnya untuk menyikapi permintaan Soekarno tersebut. Kemudian, Kiai Wahab dan sejumlah kiai mengumpulkan para ulama se-Jawa dan Madura. Mereka berkumpul di Bubutan, Surabaya, pada 22-23 Oktober 1945. Rapat dipimpin oleh Kiai Wahab Chasbullah sendiri setelah dibuka oleh Kiai Hasyim Asy’ari dengan amanah khusus tentang pentingnya jihad membela agama dan negara dan bangsa. Menurut Kiai Hasyim Latif dan Kiai Saifuddin Zuhri, rapat tersebut memang dipimpin oleh Kiai Wahab dan beliau sendiri yang mendraft teks naskah Resolusi Jihad, setelah meminta pertimbangan Kiai Hasyim Asy’ari dan para hadirin.

Rapat maraton itu kemudian melahirkan pernyataan Resolusi Jihad yang dibacakan oleh KH Hasyim Asy’ari pada 23 Oktober 1945. Isinya berupa jawaban mendeklarasikan seruan jihad fi sabilillah yang terkenal dengan istilah Resolusi Jihad. Segera setelah itu, pesantren-pesantren di Jawa dan Madura menjadi markas pasukan non regular pasukan Hizbullah dan Sabilillah dan tinggal menunggu komando.

Resolusi Jihad inilah yang kemudian mendorong semangat rakyat Surabaya untuk berjuang pada 10 November 1945. Dan Kiai Wahab disebut hadir sehari sebelumnya dalam pertemuan para tokoh nasioanlsi dalam rangka persiapan mengahdapi ultimatum tentara Inggris.

Selama revolusi kemerdekaan Kiai Wahab Chasbullah juga bergabung dalam gerakan gerilya menentang kembalinya kekuasaan Belanda. Ia menyumbangkan hartanya untuk perlengkapan militer, berhubungan dengan unit-unit grilya dan membantu mengkoordinasi rekrutmen-rekrutmen dan pelatihan terhadap santri di Jawa Timur. “With the onset of the Indonesian Revolution Wahab became involved in the guerilla movement against the returning Dutch forces. He raised money for military equipment, addressed guerilla units and helped coordinate the recruitment and training of santri in East Java”, demikian yang ditulis Fealy berdasarkan sumber dari KH Saifuddin Zuhri dan juga dari wawancara dengan KH Hasyim latif, salah seorang aktor Laskar Hizbullah di Jawa Timur, di Sepanjang, 11 September 1991. Kiai Hasyim Latif sendiri pernah menulis buku berjudul Laskar Hizbullah: Berjuang Menegakkan Negara RI (Jakarta: Lajnah Talif wan Nasyr PBNU, 1995). Buku ini juga mengungkap peranan Kiai Wahab Chasbullah selama Perang kemerdekaan.

Kiai Wahab Chasbullah juga berjasa membentuk laskar-laskar did aeraqhnya sendiri, di Jombang. Laskar Hizbullah Jombang didirikan atas desakan KH Hasyim Asy’ari kepada KH Wahab Chasbullah, akhir Agustus 1945, tak lama setelah kemerdekaan RI diproklamasikan.

Perintah K.H. Hasyim Asy’ari untuk memobilisasi pemuda di Kabupaten Jombang segera disampaikan KH Wahab Hasbullah kepada H Affandi, seorang dermawan yang pernah ditahan oleh Jepang bersama KH Hasyim Asy’ari. Kemudian H Affandi menghubungi A Wahib Wahab, putra KH Wahab Hasbullah yang menjadi Syodanco PETA. H Affandi meminta agar A Wahib Wahab bersedia memimpin Laskar Hizbullah yang akan didirikan. Ketika di Surabaya terjadi pertempuran 10 Nopember, Hizbullah Karesidenan Surabaya disatukan dalam satu divisi yang diberi nama Divisi Sunan Ampel, dipimpin oleh A Wahib Wahab. Penggabungan ini bertujuan untuk memperkokoh serta meningkatkan badan perjuangan umat Islam. (bersambung)

 

Ahmad Baso, Wakil Ketua Pengurus Pusat Lakpesdam, penulis buku NU Studies, Pesantren Studies dan Agama NU untuk NKRI

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Berita, Pendidikan, Pertandingan Siti Efi Farhati

Sabtu, 21 Januari 2017

Wagub Jateng: Saya Bangga Diakui sebagai Warga NU

Semarang, Siti Efi Farhati 



Wakil Gubernur Jawa Tengah Heru Sujatmoko menghadiri Lailatul Ijtima Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah. Sekitar 300 peserta turut hadir pada kesempatan itu. 

Wagub Jateng: Saya Bangga Diakui sebagai Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Wagub Jateng: Saya Bangga Diakui sebagai Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Wagub Jateng: Saya Bangga Diakui sebagai Warga NU

"Saya merasa bangga diakui sebagai warga NU,” katanya disembut dengan tepuk tangan meriah hadirin, di gedung PWNU, Semarang, Rabu malam (1/11).

Mantan Bupati Purbalingga itu mengaku bukan ujug-ujug ia menjadi warga NU. Ia sudah NU sejak dari kecil.

"Pak De saya itu Ketua Ranting NU di desa. Alhamdulillah berarti saya juga NU," imbuhnya.

Lailatul Ijtima sendiri merupakan kegiatan rutin setiap bulan yang diselenggarakan PWNU Jawa Tengah sebagai wadah aspirasi dan kesempatan bertemunya para pengurus dengan warga NU dari berbagai kalangan, baik pemerintahan, perusahaan, dan lain-lain.

Siti Efi Farhati

"Kita mengundang Pak Heru sebagai warga NU, bukan Pak Heru sebagai Wakil Gubernur. Alhamdulillah, sebagai warga NU yang baik, beliau kerso datang," terang Manager NU-Care Lazisnu Jawa Tengah yang Muh. Mahsun.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Wagub yang sudah menyempatkan waktu di tengah kepadatan kegiatannya. 

"Wagub yang sangat sibuk saja datang, masak kita yang tidak sangat sibuk tidak datang," lanjutnyanya 

Siti Efi Farhati

Pada kesempatan itu PWNU memberikan bantuan beasiswa kepada 10 mahasiswa dari beberapa kampus di Semarang masing-masing sebesar 1 juta rupiah, serta 2 juta rupiah sebagai modal usaha kepada keluarga kurang mampu, dan bantuan wakaf Al-Qur’an kepada tiga pondok pesantren. (Riza/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati AlaNu, Berita, Hikmah Siti Efi Farhati

Minggu, 02 Oktober 2016

STAINU Jakarta Buka Beasiswa S1 Hukum dan D3 Perbankan

Jakarta, Siti Efi Farhati. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta menyediakan beasiswa studi S1 dan D3 untuk jurusan Ahwalus Syakhsiyah (Hukum) dan Pendidikan Vokasi Perbankan Syariah. Beasiswa yang ditawarkan adalah bebas biaya studi selama satu tahun.

Seperti pers rilis yang dikirim STAINU Jakarta, dua studi itu merupakan program terbaru yang ditawarkan satu-satunya perguruan tinggi di bawah naungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

STAINU Jakarta Buka Beasiswa S1 Hukum dan D3 Perbankan (Sumber Gambar : Nu Online)
STAINU Jakarta Buka Beasiswa S1 Hukum dan D3 Perbankan (Sumber Gambar : Nu Online)

STAINU Jakarta Buka Beasiswa S1 Hukum dan D3 Perbankan

Peluncuran program beasiswa studi dua program itu antara lain menjadi pernyataan komitmen STAINU Jakarta terkait misi pendidikan yang mengarah pada keislaman, kemodernan, dan keindonesiaan.

Siti Efi Farhati

Beasiswa program ini terbuka bagi para aktivis sosial keagamaan, pengurus masjid, staf kantor urusan agama (KUA), alumni SMK jurusan Akuntansi Perbankan atau Pemasaran, marbot masjid pegiat koperasi dan baitul mal wat tamwil (BMT) yang belum berkesempatan untuk melanjutkan pendidikannya.

Menurut Ketua STAINU Jakarta HM Mujib Qulyubi, program itu diharapkan mendongkrak potensi sumber daya manusia terutama di lingkungan NU yang selama ini dinilai masih sulit mengakses pendidikan tinggi.

Siti Efi Farhati

Lebih lanjut HM Mujib mengatakan, pada prinsipnya STAINU Jakarta akan terus berusaha memberikan pelayanan terbaik serta mengembangkan pendidikan di lingkungan NU.

Batasan usia maksimal 30 puluh tahun per 1 Oktober 2013. Sedangkan persyaratan peserta mencakup surat keterangan status profesi harian peserta, fotokopi ijazah pesantren, SMK atau sekolah sederajat, fotokopi KTP. Pengiriman berkas ditujukan ke Jl Taman Amir Hamzah nomor lima, Matraman, Jakarta Pusat.

Masa pengumunan berlangsung 4-22 September 2013. Ujian bagi peserta rencananya diadakan pada 26 September. Sedangkan kelulusan peserta diumumkan dua hari setelah ujian. Untuk informasi lebih lanjut, peserta dapat mengunjungi situs STAINU Jakarta di alamat http://stainujakarta.ac.id/pengumuman/139-beasiswa-ahwal-syakhsiyah-dan-perbankan-syariah.html

 

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Berita, PonPes, Anti Hoax Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock