Tampilkan postingan dengan label Jadwal Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jadwal Kajian. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Februari 2018

Mengenal Lebih Dekat KH Said Aqil Siroj

Tak kenal maka tak sayang. Barangkali peribahasa itu tepat untuk menggambarkan keadaan Indonesia akhir-akhir ini, dimana orang tak hanya tak kenal dan tak sayang, tetapi bahkan justru memfitnah, membenci dan memaki, dengan orang yang belum dikenalnya di media. Tak terkecuali, berbagai fitnah, berita palsu (hoax) dan makian yang dialamatkan kepada Prof Dr KH Said Aqil Siradj, MA, Ketua Umum Ormas Islam terbesar di dunia: Nahdlatul Ulama (NU).

Untuk itu, tulisan ini sedikit mengupas profil beliau, sosok santri yang dulu pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia (MWA UI) itu dinobatkan oleh Republika sebagai Tokoh Perubahan Tahun 2012 karena kontribusinya dan komitmennya dalam mengawal keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan berperan aktif dalam perdamaian dunia, khususnya di kawasan Timur Tengah.?

***

Mengenal Lebih Dekat KH Said Aqil Siroj (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenal Lebih Dekat KH Said Aqil Siroj (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenal Lebih Dekat KH Said Aqil Siroj

Ketika usia negara ini masih belia – delapan tahun – dan para pendiri bangsa baru beberapa tahun menyelesaikan “status kemerdekaan” Indonesia di Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 1949, di sebuah desa bernama Kempek, Palimanan, Cirebon, Jawa Barat, senyum bahagia KH Aqil Siroj mengembang. Tepat pada 3 Juli 1953, Pengasuh Pesantren Kempek itu dianugerahi seorang bayi laki-laki, yang kemudian diberi nama Said.

Siti Efi Farhati

Said kecil kemudian tumbuh dalam tradisi dan kultur pesantren. Dengan ayahandanya sendiri, ia mempelajari ilmu-ilmu dasar keislaman. Kiai Aqil sendiri – Ayah Said – merupakan ? putra Kiai Siroj, yang masih keturunan dari Kiai Muhammad Said Gedongan. Kiai Said Gedongan merupakan ulama yang menyebarkan Islam dengan mengajar santri di pesantren dan turut berjuang melawan penjajah Belanda.?

“Ayah saya hanya memiliki sepeda ontel, beli rokok pun kadang tak mampu. Dulu setelah ayah memanen kacang hijau, pergilah ia ke pasar Cirebon. Zaman dulu yang namanya mobil transportasi itu sangat jarang dan hanya ada pada jam-jam tertentu,” kenang Kiai Said dalam buku Meneguhkan Islam Nusantara; Biografi Pemikiran dan Kiprah Kebangsaan (Khalista: 2015).

Setelah merampungkan mengaji dengan ayahanda maupun ulama di sekitar Cirebon, dan umur dirasa sudah cukup, Said remaja kemudian belajar di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur yang didirikan oleh KH Abdul Karim (Mbah Manaf). Di Lirboyo, ia belajar dengan para ustadz dan kiai yang merawat santri, seperti KH Mahrus Ali, KH Marzuki Dahlan, dan juga Kiai Muzajjad Nganjuk.

Siti Efi Farhati

Setelah selesai di tingkatan Aliyah, ia melanjutkan kuliah di Universitas Tribakti yang lokasinya masih dekat dengan Pesantren Lirboyo. Namun kemudian ia pindah menuju Kota Mataram, menuju Ngayogyokarta Hadiningrat. Di Yogya, Said belajar di Pesantren Al-Munawwir, Krapyak dibawah bimbingan KH Ali Maksum (Rais Aam PBNU 1981-1984). Selain mengaji di pesantren Krapyak, ia juga belajar di IAIN Sunan Kalijaga, yang ketika itu KH Ali Maksum menjadi Guru Besar di kampus yang saat ini sudah bertransformasi menjadi UIN itu.

Ia merasa belum puas belajar di dalam negeri. Ditemani istrinya, Nurhayati, pada tahun 1980, ia pergi ke negeri kelahiran Nabi Muhammad SAW: Makkah Al-Mukarramah. Di sana ia belajar di Universitas King Abdul Aziz dan Ummul Qurra, dari sarjana hingga doktoral. Di Makkah, setelah putra-putranya lahir, Kang Said – panggilan akrabnya – harus mendapatkan tambahan dana untuk menopang keluarga. Beasiswa dari Pemerintah Saudi, meski besar, dirasa kurang untuk kebutuhan tersebut. Ia kemudian bekerja sampingan di toko karpet besar milik orang Saudi di sekitar tempat tinggalnya. Di toko ini, Kang Said bekerja membantu jual beli serta memikul karpet untuk dikirim kepada pembeli yang memesan.

Keluarga kecilnya di Tanah Hijaz juga sering berpindah-pindah untuk mencari kontrakan yang murah. “Pada waktu itu, bapak kuliah dan sambil bekerja. Kami mencari rumah yang murah untuk menghemat pengeluaran dan mencukupkan beasiswa yang diterima Bapak,” ungkap Muhammad Said, putra sulung Kang Said.

Dengan keteguhannya hidup ditengah panasnya cuaca Makkah di siang hari dan dinginnya malam hari, serta kerasnya hidup di mantan “tanah Jahiliyyah” ini, ia menyelesaikan karya tesisnya di bidang perbandingan agama: mengupas tentang kitab Perjanjian Lama dan Surat-Surat Sri Paus Paulus. Kemudian, setelah 14 tahun hidup di Makkah, ia berhasil menyelesaikan studi S-3 pada tahun 1994, dengan judul: Shilatullah bil-Kauni fit-Tashawwuf al-Falsafi (Relasi Allah SWT dan Alam: Perspektif Tasawuf). Pria yang terlahir di pelosok Jawa Barat itu mempertahankan disertasinya – diantara para intelektual dari berbagai dunia – dengan predikat Cumlaude.

Ketika bermukim di Makkah, ia juga menjalin persahabatan dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). “Gus Dur sering berkunjung ke kediaman kami. Meski pada waktu itu rumah kami sangat sempit, akan tetapi Gus Dur menyempatkan untuk menginap di rumah kami. Ketika datang, Gus Dur berdiskusi sampai malam hingga pagi dengan Bapak,” ungkap Muhammad Said bin Said Aqil. Selain itu, Kang Said juga sering diajak Gus Dur untuk sowan ke kediaman ulama terkemuka di Arab, salah satunya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki.?

Setelah Kang Said mendapatkan gelar doktor pada 1994, ia kembali ke tanah airnya: Indonesia. Kemudian Gus Dur mengajaknya aktif di NU dengan memasukkannya sebagai Wakil Katib ‘Aam PBNU dari Muktamar ke-29 di Cipasung. Ketika itu, Gus Dur “mempromosikan” Kang Said dengan kekaguman: “Dia doktor muda NU yang berfungsi sebagai kamus berjalan dengan disertasi lebih dari 1000 referensi,” puji Gus Dur. Belakangan, Kang Said juga banyak memuji Gus Dur. “Kelebihan Gus Dur selain cakap dan cerdas adalah berani,” ujarnya, dalam Simposium Nasional Kristalisasi Pemikiran Gus Dur, 21 November 2011 silam.

Setelah lama akrab dengan Gus Dur, banyak kiai yang menganggap Kang Said mewarisi pemikiran Gus Dur. Salah satunya disampaikan oleh KH Nawawi Abdul Jalil, Pengasuh Pesantren Sidogiri, Pasuruan, ketika kunjungannya di kantor PBNU pada 25 Juli 2011. Kunjungan waktu itu, merupakan hal yang spesial karena pertama kalinya kiai khos itu berkunjung ke PBNU – di dampingi KH An’im Falahuddin Mahrus Lirboyo. Kiai Nawawi menganggap bahwa Kang Said mirip dengan Gus Dur, bahkan dalam bidang ke-nyelenehan-nya.?

“Nyelenehnya pun juga sama,” ungkap Kiai Nawawi, seperti dikutip Siti Efi Farhati. “Terus berjuang di NU tidak ada ruginya. Teruslah berjuang memimpin, Allah akan selalu meridloi,” tegas Kiai Nawawi kepada orang yang diramalkan Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU di usia lebih dari 55 tahun itu.

Menjaga NKRI dan mengawal perdamaian dunia

Pada masa menjelang kemerdekaan, tepatnya pada tahun 1936, para ulama NU berkumpul di Banjarmasin untuk mencari format ideal negara Indonesia ketika sudah merdeka nantinya. Pertemuan ulama itu menghasilkan keputusan yang revolusioner: (1) negara Darus Salam (negeri damai), bukan Darul Islam (Negara Islam); (2) Indonesia sebagai Negara Bangsa, bukan Negara Islam. Inilah yang kemudian menginspirasi Pancasila dan UUD 1945 yang dibahas dalam Sidang Konstituante – beberapa tahun kemudian. Jadi, jauh sebelum perdebatan sengit di PPKI atau BPUPKI tentang dasar negara dan hal lain sebagainya, ulama NU sudah terlabih dulu memikirkannya.

Pemikiran, pandangan dan manhaj ulama pendahulu tentang relasi negara dan agama (ad-dien wa daulah) itu, terus dijaga dan dikembangkan oleh NU dibawah kepemimpinan Kang Said. Dalam pidatonya ketika mendapat penganugerahan Tokoh Perubahan 2012 pada April 2013, Kiai Said menegaskan sikap NU yang tetap berkomitmen pada Pancasila dan UUD 1945. “Muktamar (ke-27 di Situbondo-pen) ini kan dilaksanakan di Pesantren Asembagus pimpinan Kiai As’ad Syamsul Arifin. Jadi, pesantren memang luar biasa pengaruhnya bagi bangsa ini. Meski saya waktu itu belum menjadi pengurus PBNU,” kata Kiai Said, mengomentari Munas Alim Ulama NU 1983 dan Muktamar NU di Situbondo 1984 yang menurutnya paling fenomenal dan berdampak dalam pandangan kebangsaan.

Sampai kini, peran serta NU dalam hal kebangsaan begitu kentara kontribusinya, baik di level anak ranting sampai pengurus besar, di tengah berbagai rongrongan ideologi yang ingin menggerogoti Pancasila sebagai dasar negara. Hal ini tercermin dalam berbagai kegiatan dan program NU yang selalu mengarusutamakan persatuan dan kesatuan bangsa. Dalam konteks ini, Kiai Said sangat berpengaruh karena kebijakan PBNU selalu diikuti kepengurusan dibawahnya – termasuk organisasi sayapnya.

Salah satu peran yang cukup solutif, misalnya, ketika beliau menaklukkan Ahmad Mushadeq – orang yang mengaku sebagai Nabi di Jakarta dan menimbulkan kegaduhan nasional – lewat perdebatan panjang tentang hakikat kenabian (2007). “Alhamdulillah, doa saya diterima untuk bertemu ulama, tempat saya bermudzakarah (diskusi). Sekarang saya sadar kalau langkah saya selama ini salah,” aku Mushadeq. Disisi lain, Kang Said juga mengakui kehebatan Mushadeq. “Dia memang hebat. Paham dengan asbabun nuzul Al-Qur’an dan asbabul wurud Hadits. Hanya sedikit saja yang kurang pas, dia mengaku Nabi, itu saja,” jelas Kiai Said seperti yang terekam dalam Antologi NU: Sejarah, Istilah, Amaliah dan Uswah (Khalista & LTN NU Jatim, Cet II 2014).

Kiai yang mendapat gelar Profesor bidang Ilmu Tasawuf dari UIN Sunan Ampel Surabaya ini bersama pengurus NU juga membuka dialog melalui forum-forum Internasional, khususnya yang terkait isu-isu terorisme, konflik bersenjata dan rehabilitasi citra Islam di Barat yang buruk pasca serangan gedung WTC pada 11 September 2001. Ia juga kerapkali membuat acara dengan mengundang ulama-ulama dunia untuk bersama-sama membahas problematika Islam kontemporer dan masalah keumatan.

Pada Jumat, 7 Maret 2014, Duta Besar Amerika untuk Indonesia Robert O. Blake berkunjung ke kantor PBNU. Ia menginginkan NU terlibat dalam penyelesaian konflik di beberapa negara. “Kami berharap NU bisa membantu penyelesaian konflik di negara-negara dunia, khususnya di Syria dan Mesir. NU Kami nilai memiliki pengalaman membantu penyelesaian konflik, baik dalam maupun luar negeri,” kata Robert, seperti dilansir Siti Efi Farhati. “Sejak saya bertugas di Mesir dan India, saya sudah mendengar bagaimana peran NU untuk ikut menciptakan perdamaian dunia,” imbuhnya.

Raja Yordania Abdullah bin Al-Husain (Abdullah II) juga berkunjung ke PBNU. Ia ditemui Kiai Said, meminta dukungan NU dalam upaya penyelesaian konflik di Suriah. “Di Timur Tengah, tidak ada organisasi masyarakat yang bisa menjadi penengah, seperti di Indonesia. Jika ada konflik, bedil yang bicara,” ungkap Kiai Said.

Selain itu, menguapnya kasus SARA di Indonesia belakangan juga kembali marak muncul ke permukaan. “Munculnya kerusuhan bernuansa agama memang sangat sering kita temukan. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia harus terus belajar pentingnya toleransi dan kesadaran pluralitas. Sikap toleransi tersebut dibuktikan oleh Kaisar Ethiopia, Najashi (Negus) ketika para sahabat ditindas oleh orang-orang Quraisy di Mekkah dan memutuskan untuk hijrah ke Ethiopia demi meminta suaka politik kepadanya. Kaisar Negus yang dikenal sebagai penguasa beragama Nasrani itu berhasil melindungi para sahabat Nabi Muhammad SAW dari ancaman pembunuhan kafir Quraisy,” tulis Kiai Said dalam Dialog Tasawuf Kiai Said: Akidah, Tasawuf dan Relasi Antarumat Beragama (Khalista, LTN PBNU & SAS Foundation, Cet II, 2014).

Menghadapi potensi konflik horisontal itu, NU juga tetap mempertahankan gagasan Darus Salam, bukan Darul Islam, yang terinspirasi dari teladan Nabi Muhammad dalam Piagam Madinah. Dalam naskah tersebut, nabi membuat kesepakatan perdamaian, bahwa muslim pendatang (Muhajirin) dan muslim pribumi (Anshar) dan Yahudi kota Yastrib (Madinah) sesungguhnya memiliki misi yang sama, sesungguhnya satu umat. Yang menarik, menurut Kiai Said, Piagam Madinah – dokumen sepanjang 2,5 halaman itu – tidak ? menyebutkan kata Islam. Kalimat penutup Piagam Madinah juga menyebutkan: tidak ada permusuhan kecuali terhadap yang dzalim dan melanggar hukum. “Ini berarti, Nabi Muhammad tidak memproklamirkan berdirinya negara Islam dan Arab, akan tetapi Negara Madinah,” terang Kiai Said.

Selain itu, menurutnya, faktor politis juga kerapkali mempengaruhi, bukan akidah atau keyakinan. “Seperti di masa Perang Salib, faktor politis dan ekonomis lebih banyak menyelimuti renggangnya keharmonisan kedua umat bersaudara tersebut di Indonesia. Dengan demikian, kekeruhan hubungan Islam-Kristen tidak jarang dilatarbelakangi nuansa politis yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan agama itu sendiri,” ungkapnya, dalam buku Tasawuf Sebagai Kritik Sosial: Mengedepankan Islam sebagai Inspirasi bukan Aspirasi.

***

Ditengah agenda Ketua Umum PBNU yang sedemikian padat, Kiai Said dewasa ini diterpa berbagai fitnah, hujatan dan bahkan makian dari urusan yang remeh-temeh sampai yang menyangkut urusan negara. Ia dituduh agen Syiah, Liberal, antek Yahudi, pro Kristen, dan fitnah-fitnah lain oleh orang yang sempit dalam melihat agama dan konsep kemanusiaan dan kebangsaan.?

Meski demikian, ia toh manusia biasa – yang tak luput dari salah, dosa dan kekurangan – bukan seorang Nabi. Artinya, kritik dalam sikap memang wajar dialamatkan, tetapi tidak dengan hujatan, fitnah, dan berita palsu, melainkan dengan kata yang santun. Terkait hal ini, dalam suatu kesempatan ia memberi tanggapan kepada para haters-nya. Bukannya marah, Kiai Said justru menganggap para pembenci dan pemfitnah itu yang kasihan. Dan sebagai orang yang tahu seluk beluk dunia tasawuf, tentu dia sudah memaafkan, jauh sebelum mereka meminta maaf atas segenap kesalahan. Wallahu a’lam.

Ahmad Naufa Khoirul Faizun, Kader Muda NU dan Kontributor Siti Efi Farhati asal Purworejo, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Jadwal Kajian, Kajian Sunnah, Aswaja Siti Efi Farhati

Rabu, 31 Januari 2018

Ternyata Olahraga sebagian dari Iman

Pada buku “Dongeng Enteng ti Pasantren,” Rahmatullah Ading Afandie atau biasa disingkat RAF menceritakan bagaimana pentingnya olahraga. Tidak main-main, menurut dia, berdasarkan ucapan ajengan (istilah kiai di Sunda), menyebut olahraga sebagai bagian dari iman. ?



Ternyata Olahraga sebagian dari Iman (Sumber Gambar : Nu Online)
Ternyata Olahraga sebagian dari Iman (Sumber Gambar : Nu Online)

Ternyata Olahraga sebagian dari Iman



"Ari olahraga teh, eta sabagian tina iman. Ku Gusti Allah urang teh dipaparin badan. Tah eta badan teh ku urang kudu diriksa, sangkan sehat. Salian ti ku dahar, ngariksa badan teh kudu ku olah-raga, sangkan sehat." (halaman 45). (Olahraga itu sebagian dari iman. Allah telah memberi kita badan. Pemberian itu harus dijaga supaya sehat. Selain dengan makan, badan harus dijaga dengan olahraga agar sehat).

Makanya pada buku tersebut dikisahkan, ajengan turut serta dalam permainan sepak bola bersama santrinya. Ia memakai sarung yang digulung lebih atas dari biasanya sehingga kelihatan celana sontognya (celana) yang panjangnya sampai ke betis, biasa digunakan di pesantren-pesantren Sunda.

Siti Efi Farhati

Pernah aejengan tersebut bermain sepak bola. Pada sebuah insiden, ia tersungkur hingga ke pinggir lapangan oleh pemain lawan, yaitu santrinya sendiri. Ajengan sampai menderita sakit beberapa hari.?

Santri yang melakukan tindakan itu dimarahi santri senior. Bahkan isteri ajengan sampai mendatangi santri tersebut dan memarahinya. Lalu bola milik santri itu disitanya. Ajengan juga sempat marah kepada pelaku.?

Tapi beberapa hari kemudian, Ajengan meminta maaf kepada pelaku. Menurutnya, dia dan santri itu sama-sama pemain di lapangan. Dan itulah risikonya ketika bermain sepak bola. (halaman 44)



Siti Efi Farhati



“Malah basa tas ngaji, Ajengan kungsi mundut hampura ka Si Atok. Saurna, ‘Atok hampura ana, harita make ngambek, padahal ana oge nyaho, yen anta harita teu ngahaja ngadupak ana.’" (Selepas mengaji, Ajengan meminta maaf kepada Si Atok (santri yang menjatuhkannya saat bermain sepak bola). Ajengan berkata, ‘Mohon maaf ya, waktu itu saya sempat marah. Padahal saya tahu, kamu tidak sengaja melakukannya).”

Dari peristiwa itu, RAF menilai seorang ajengan itu sportif.?

Tentang olahraga, menurut ajengan tersebut bermanfaat dalam dua hal. “Saur Ajengan keneh, ari maen-bal teh saenyana mah, ngalatih lahir jeung batin. Lahirna atuh badan jadi sehat, batinna atuh pikiran jadi cageur. (halaman 45).

Menurut RAF, pikiran ajengan semacam itu seperti perkataan ahli-ahli olahraga modern. Hanya berbeda kalimat dan cara menyampaikan sementara maksudnya adalah "mens sana in corpore sano" (jiwa yang sehat berada pada badan yang sehat). (halaman 45).

Padahal ajengan tersebut, sebagaimana dikisahkan pada bagian buku tersebut tidak mengenyam perguruan tinggi. RAF menjelaskan profil ajengan seperti berikut:?

“Ajengan tidak pernah sekolah, tak pernah mendapat didikan universitas. Tapi aku yakin, ajengan yang tinggal di kampung itu orang pintar, orang yang otodidak. Caranya dia mengajar, meski dia tidak mendapatkannya dari buku, tapi mudah dimengerti. Meski sering membentak, tapi disegani santri-santrinya. Malahan jadi payung bagi orang-orang kampungnya. Penemuannya asli, bukan dari buku orang lain. Meski begitu, tetap dalam dan mengandung kebenaran. Luas pemikirannya, luhur penemuannya. Singkatnya, bukan orang mentah. Tidak banyak sekarang juga aku menemukan orang seperti ajengan. Pedoman dia, “Tafakur sejam, lebih berguna daripada shalat berjumpalitan enam puluh hari tanpa tafakur.” (halaman 8).

Sekadar diketahui, buku “Dongeng Enteng dar Pesantren” merupakan kumpulan cerpen yang ditulis Rahmatullah Ading Afandie sering disingkat RAF. Ia lahir di Ciamis 1929 M. Pada zaman Jepang pernah nyantri di pesantren Miftahul Huda Ciamis.?

Buku tersebut diterbitkan tahun 1961 dan memperoleh hadiah dari LBBS di tahun yang sama. Menurut Adun Subarsa, buku tersebut merupakan cerpen otobiografis dan dapat digolongkan ke dalam kesusastraan Sunda modern sesudah perang.?

Pada tahun 1976, RAF muncul dengan sinetron Si Kabayan di TVRI, tapi dihentikan karena dianggap terlalu tajam. Ketika TVRI cabang Bandung dibuka, RAF muncul lagi dengan sinetron Inohong di Bojongrangkong. (Abdullah Alawi)

? ?

? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kajian Sunnah, Jadwal Kajian Siti Efi Farhati

Jumat, 19 Januari 2018

Borong Piala MAPSI, Hadiah Hari Santri dari SD Ta’mirul Islam

Solo, Siti Efi Farhati



Tim lomba Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Seni Islami (MAPSI) Kecamatan Laweyan berhasil menjadi juara umum tingkat Kota Surakarta, Jawa Tengah. Perlombaan berlangsung di SDN Kemasan, Surakarta, Rabu (11/10).

Keberhasilan Laweyan, tak lepas dari kontribusi para siswa SD Ta’mirul Islam yang memborong 10 piala, masing-masing 8 piala juara 1, dan sepasang  juara 2 dan 3.

Borong Piala MAPSI, Hadiah Hari Santri dari SD Ta’mirul Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Borong Piala MAPSI, Hadiah Hari Santri dari SD Ta’mirul Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Borong Piala MAPSI, Hadiah Hari Santri dari SD Ta’mirul Islam

Juara 1 masing-masing disumbangkan dari cabang kaligrafi putri, khitobah putra dan putri, cerita islami putri, kewirausahaan putri, LKTI putri, tilawah putra dan rebana. Sedangkan juara 2 dan 3 disumbang dari cabang cerita islami putra dan kaligrafi putra.

Kepala Sekolah SD Ta’mirul Islam Surakarta Aris Paryanto mengatakan, pihaknya sangat bangga dengan prestasi yang telah diraih anak didiknya. Raihan sukses ini, sekaligus juga menjadi hadiah yang indah dalam memperingati Hari Santri yang diperingati tanggal 22 Oktober mendatang.

“Anak-anak sangat serius saat latihan ketika persiapan lomba. Saya ucapkan selamat kepada anak-anak yang telah meraih prestasi di MAPSI tingkat Kecamatan Laweyan ini,” ujar Aris, saat ditemui usai lomba.

Siti Efi Farhati

Aris berharap kesuksesan ini dapat berlanjut di MAPSI tingkat provinsi. “Tantangan di tingkat provinsi tentu bakal lebih sulit. Kita harap anak-anak bisa kembali mendulang sukses,” kata Aris.

Siti Efi Farhati

MAPSI tingkat Provinsi Jawa Tengah, selanjutnya bakal digelar di Kabupaten Sukoharjo, awal November mendatang. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sejarah, Jadwal Kajian, Internasional Siti Efi Farhati

Rabu, 17 Januari 2018

NU Care-LAZISNU Bagi-bagi Ratusan Ta’jil bagi Pengguna Jalan

Jakarta, Siti Efi Farhati

NU Care-LAZISNU (Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah) mengadakan pembagian ta’jil melalui kegiatan Ta’jil on The Road yang untuk pertama kalinya digelar pada Rabu (8/6) sore. Lokasi Ta’jil on The Road pada hari ketiga Ramadhan tahun ini adalah di sekitar perempatan lampu merah Universitas YAI-Salemba, Jakarta Pusat.

NU Care-LAZISNU Bagi-bagi Ratusan Ta’jil bagi Pengguna Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Care-LAZISNU Bagi-bagi Ratusan Ta’jil bagi Pengguna Jalan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Care-LAZISNU Bagi-bagi Ratusan Ta’jil bagi Pengguna Jalan

Sebanyak 400 paket ta’jil dibagikan kepada warga dan pengguna kendaraan bermotor yang melintas. Program ini bertujuan untuk memberikan kemudahan bagi warga yang masih berada di perjalanan pada saat atau mendekati waktu berbuka puasa tiba.

Ta’jil on The Road akan diadakan beberapa kali dalam bulan Ramadhan tahun ini, dengan lokasi yang berbeda-beda.

Siti Efi Farhati

Dalam Ta’jil on The Road selain melakukan pembagian ta’jil, NU Care-LAZISNU juga mengampanyekan beberapa program lain, salah satunya gerakan “Ayo Bangun 1000 Pondok Pesantren Kobong untuk Indonesia Hebat”.

Siti Efi Farhati

Seperti diberitakan sebelumnya, gerakan tersebut juga bagan dari cara NU Care LAZISNU dalam mengajak warga untuk turut serta membangun pondok pesantren kobong sebagai pesantren khas yang banyak terdapat di Provinsi Banten. (Kendi Setiawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Jadwal Kajian, Santri, RMI NU Siti Efi Farhati

Sabtu, 13 Januari 2018

NU Kutuk Teror Bom di Masjid Al-Rawdah Mesir

Mataram, Siti Efi Farhati. Ketua Pengurus Harian Tanfidziyah PBNU H. Robikin Emhas menegaskan, Nahdlatul Ulama mengutuk keras pengeboman kepada umat Islam yang melakukan Shalat Jumat di Masjid Al-Rawdah, Markaz Bir El-Abd, Kota El-Arish, Sinai Utara, Mesir, Jumat (24/11).

Tindakan yang menewaskan 300 orang lebih dan meluluhlantakkan rasa kemanusiaan itu, menurutnya, tidak bisa dibenarkan, dengan alasan dan dalih apapun.

NU Kutuk Teror Bom di Masjid Al-Rawdah Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Kutuk Teror Bom di Masjid Al-Rawdah Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Kutuk Teror Bom di Masjid Al-Rawdah Mesir

“Siapa pun yang melakukakannya, apa pun latar belakangnya, atas nama apa pun motifnya, itu adalah tindakan terkutuk. Tidak bisa dibenarkan! Biadab!” tegas Ketua Panitia Musyawarah Nasional (Munas) Alim Aluma dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama, di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Ahad (26/11).

Menurut alumnus Pondok Pesantren Qiyamul Manar Gresik dan Pondok Pesantren Miftahul Huda Gading Malang ini, seluruh warga Nahdlatul Ulama mengungkapkan duka sedalam-dalam atas korban yang meninggal dan terluka dalam peristiwa itu.

“NU berduka, karena itu, PBNU mengimbau warga dan pengurus NU agar membacakan Al-Fatihah dan melakukan Shalat Ghaib untuk korban teror bom Mesir,” lanjut Advokat Konstitusi ini. 

Siti Efi Farhati

Ia menambahkan, NU meminta kepada Presiden Mesir untuk menangkap pelaku teror bom itu dan menghukum mereka seberat-beratnya. Juga memberantas kelompoknya hingga ke akar-akarnya.  

NU juga meminta kepada Pemerintah Indonesia, jika diperlukan, harus segera mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Mesir.

“Makanya, jika diperlukan pemerintahan Jokowi perlu pro aktif memberi bantuan kemanusiaan,” harap Managing Director pada ART PARTNER Law Firm tersebut.

Peristiwa tragis di Mesir ini adalah bukti nyata perlunya Islam Nusantara diarus-utamakan di seluruh penjuru dunia. Islam yang tidak memperhadapkan agama dengan negara. Islam yang menjadikan budaya sebagai infrastruktur agama. Islam yang ramah, moderat dan menghormati keragaman. Islam wasathiyyah.

Siti Efi Farhati

“Mari jadikan Islam Nusantara sebagai solusi perdamaian dunia,” pungkas Robikin Emhas. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sunnah, Jadwal Kajian Siti Efi Farhati

Senin, 08 Januari 2018

NU Surabaya Kawal Raperda Minuman Beralkohol Sampai Tuntas

Surabaya, Siti Efi Farhati - Pengurus NU Surabaya mengapresiasi sikap DPRD dan pimpinan serta anggota pansus yang menanggapi positif aspirasi warga yang dibawa oleh aksi simpatik nahdliyin. Mereka berharap pihak DPRD Surabaya dan pemkot setempat mewujudkan kota perjuangan ini bebas dari miras melalui otoritas yang dimiliki.

"Semoga komitmen yang telah dinyatakan DPRD Surabaya di hadapan umum tadi betul-betul diwujudkan sampai disahkannya raperda pelarangan mihol di Surabaya," lanjut Ketua NU Surabaya H Ahmad Muhibbin Zuhri saat dihubungi Siti Efi Farhati melalui akun media sosialnya, Senin (25/4).

NU Surabaya Kawal Raperda Minuman Beralkohol Sampai Tuntas (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Surabaya Kawal Raperda Minuman Beralkohol Sampai Tuntas (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Surabaya Kawal Raperda Minuman Beralkohol Sampai Tuntas

Pengurus NU Surabaya berharap semua anggota DPRD memiliki sensitifitas terhadap problem moral dan sosial masyarakat. Mereka, menurut pengurus NU Surabaya, tidak boleh main-main dalam menetapkan kebijakan yang berhubungan dengan kemaslahatan warga Surabaya.

NU bersama warga surabaya akan terus mengawal raperda mihol dan perumusan kebijakan lainnya yang terkait dengan kemaslahatan warga kota.

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati

"Ini semua merupakan panggilan peran NU sebagai jam‘iyah diniyah dan ijtimaiyah yang fokus pada kemaslahatan umat Islam, bangsa, dan Negara Kesatuan RI (riayah syuunil ummah)," pungkas dosen UIN Sunan Ampel itu. (Rof Maulana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pesantren, Jadwal Kajian Siti Efi Farhati

Minggu, 07 Januari 2018

Muslim Amerika Bersuara Tuntut Persamaan Hak

Jakarta, Siti Efi Farhati. Dari Ferguson ke New York, bendera Palestina dan tanda-tanda yang bertuliskan slogan Arab melawan rasisme dan "Ittihad" (kesatuan) muncul di banyak protes yang mengutuk pembunuhan oleh polisi terhadap Michael Brown dan Eric Garner. Di satu sisi, mereka menggambarkan perjuangan umum bahwa banyak orang Arab, Muslim dan Afrika-Amerika mencari keadilan terhadap profil rasial, prasangka dan diskriminasi. Di sisi yang lain, mereka berusaha menjembatani kesenjangan yang untuk waktu yang lama telah membuat komunitas ini terpisah.

Meskipun Arab-Amerika dan Muslim yang berimigrasi ke Amerika Serikat tidak berperan dalam perjuangan hak-hak sipil untuk Afrika-Amerika tahun 1960-an dan seterusnya, mereka vokal dan aktif dalam demonstrasi yang terjadi di Amerika Serikat saat ini. Beberapa organisasi Muslim Arab-Amerika dan aktivis independen di berbagai kota AS berusaha meningkatkan kesadaran ini atau menyelenggarakan berbagai pertemuan. Demikian dilaporkan oleh Al Arabiya News.

Muslim Amerika Bersuara Tuntut Persamaan Hak (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslim Amerika Bersuara Tuntut Persamaan Hak (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslim Amerika Bersuara Tuntut Persamaan Hak

9-11, panggilan bangun

Siti Efi Farhati

Margari Aziza Hill, salah satu pendiri dan aktivis "Muslim Arc" organisasi yang didedikasikan untuk memerangi rasisme, mengatakan kepada Al-Arabiya News bahwa serangan 11 September 2001 adalah "panggilan untuk bangun" bagi masyarakat Arab dan Muslim. Kebijakan yang terkait dengan pengawasan masjid di Amerika Serikat atau memata-matai organisasi mahasiswa Muslim, memaksa lebih "keterlibatan pro-aktif dalam isu-isu yang berkaitan dengan kebebasan sipil" dari masyarakat.

Siti Efi Farhati

"Ini telah menekankan bahwa kita adalah bagian dari permadani yang sama dalam perjuangan ini" kata Aziza Hill, menjelaskan pergeseran narasi menarik dan fokus pada isu-isu internasional sebelum 9/11, menjadi "upaya mengatasi diskriminasi dan rasisme ". Pengawasan masjid dan memata-matai kelompok-kelompok mahasiswa Muslim adalah beberapa dari banyak upaya "anti-terorisme" yang dilakukan oleh Departemen Kepolisian New York (NYPD). Di satu sisi, itu telah "menciptakan empati yang lebih besar di masyarakat dengan apa yang terjadi di Ferguson" kata Aziza-Hill, menambahkan.

Lebih dari tiga juta orang Amerika Arab tinggal di Amerika Serikat saat ini, dan sekitar dua juta Muslim menurut PEW. FBI telah mencatat 130 kejahatan kebencian terhadap Muslim di AS pada tahun 2012, berbanding dengan hanya 32 kejahatan kebencian pada tahun 1999.

Pergeseran juga terjadi di arah lain, dimana umat Islam "tidak lagi dianggap sebagai orang asing" di Amerika Serikat melainkan "sebagai minoritas dengan serangkaian keprihatinan dan perjuangan." Lebih dari seperempat umat Islam di Amerika Serikat adalah Afrika-Amerika, dan tokoh-tokoh kunci dalam masyarakat AS seperti mantan aktivis Malcolm X, petinju terkenal Muhammad Ali dan Muslim pertama Kongres Keith Allison berasal dari komunitas ini.

Lagu akrab untuk Palestina

Peristiwa Ferguson merupakan sesuatu yang akrab terutama bagi orang-orang keturunan Palestina, kata Warren David, seorang aktivis seumur hidup dalam komunitas Arab-Amerika dan presiden "Arab Amerika." Banyak Palestina-Amerika yang telah "melihat langsung penindasan di Barat dan Gaza, memprotes pembunuhan Michael Brown dan Eric Garner", David mengatakan Al Arabiya News.

Jaringan Komunitas AS Palestina dan Komite Solidaritas St Louis Palestina adalah dua dari banyak organisasi Arab-Amerika dan Muslim yang sedang aktif dengan protes di kota-kota besar di Amerika Serikat saat ini. Aktivis Palestina Amerika Bassem Masri telah menggelar acara live streaming di Ferguson. "Generasi baru dari Arab-Amerika telah berasimilasi lebih baik di Amerika Serikat" kata David, meskipun bahwa perjuangan melawan prasangka dan diskriminasi "telah bersama kami untuk waktu yang lama", ia menambahkan.

Warren David mengingatkan kisah Vincent Jen Chin, Cina-Amerika yang dipukul dalam serangan berbasis rasial di Detroit pada tahun 1982. Chin, meskipun bukan orang Jepang, adalah korban dari prasangka terhadap mobil Jepang yang penjualannya kemudian telah mengalahkan mobil Detroit. Alex Odeh adalah nama lain korban dari prasangka anti-Arab di California. Odeh, seorang aktivis Palestina, tewas dalam bom yang dipasang di dekat pintu kantornya pada tahun 1985.

Perjuangan melawan tindakan polisi sudah akrab dengan hati banyak pemuda Arab yang tinggal di Amerika Serikat dan yang melarikan diri dari rezim otoriter di negara asal mereka. Aziza-Hill membandingkan gambaran Ferguson dengan yang ia saksikan di "Kairo dalam protes terhadap kondisi hidup pada tahun 2007 dan 2008" dan yang harus berhadapan dengan polisi yang dilengkapi persenjataan berat.

David dan Aziza-Hill melihat masalah di AS, namun, mereka menilai lebih dalam daripada sekedar gejala penyebab tindakan polisi. Meskipun melakukan reformasi kepolisian adalah penting, mereka berdua berpendapat titik masalah bersifat struktural dalam pendidikan, pelatihan antar-budaya dan dialog, dan kemiskinan sebagai penyebab diskriminasi ras dan prasangka. Untuk saat ini, komunitas Muslim dan Arab bergandengan tangan dengan komunitas Afrika-Amerika sebagai salah satu langkah dalam perjalanan panjang ke arah yang lebih baik dalam persamaan hak bagi komunitas tersebut. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Jadwal Kajian, Humor Islam Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock