Tampilkan postingan dengan label Warta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Warta. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 Januari 2018

Tiga PCNU di NTT Terancam Gagal Ikut Muktamar

Kupang, Siti Efi Farhati. Ketua Pengurus Wilayah Nadhlatul Ulama (PWNU) Nusa Tenggara Timur? Jamal Ahmad mengungkapkan, tiga Pengurus Cabang NU (PCNU) terancam gagal mengikuti Muktamar Ke-33 NU pada Agustus mendatang lantaran masa kepengurusan yang kadaluarsa.

Tiga PCNU di NTT Terancam Gagal Ikut Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga PCNU di NTT Terancam Gagal Ikut Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga PCNU di NTT Terancam Gagal Ikut Muktamar

Sampai saat ini ketiga PCNU itu belum melakukan Konferensi Cabang (Konfercab) sebagai ajang pergantian pemimpin. Jamal mengingatkan, bila amanah organisasi untuk Konfercab belum terlaksana maka pihaknya tidak bisa mengikutsertakan mereka dalam perhelatan yang yang bakal digelar di Jombang, Jawa Timur itu.

Ia mengatakan, dari total 19 PCNU se-NTT, 16 di antaranya sudah melaksanakan Konfercab, sesuai data surat permohonan yang masuk di sekretriat PWNU NTT. PCNU yang belum masuk surat permohonan antara lain PCNU Sikka, PCNU Manggarai Barat, dan PCNU Ngada.

Siti Efi Farhati

Jamal mengimbau PCNU yang telah purna masa kepengurusan sesegera mungkin melakukan pemilihan rais dan ketua. ”Jika tidak maka akan berdampak pada keikutsertakan dalam muktamar nanti. Kita akan berikan surat pemberitahuan ulang,” ujarnya.

Kepala Sekretariat PWNU Abdul Syukur SH membenarkan, hingga kini belum ada lagi surat permohanan yang masuk di sekretariat PWNU NTT. “Sejauh ini, belum ada surat masuk,” kata Syukur di Sekretariat PWNU NTT di Jalan W CH Oematan, Kelurahan Kelapa Lima, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, Rabu (24/3). (Ajhar Jowe/Mahbib)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Warta, Halaqoh Siti Efi Farhati

Islam Aswaja di Indonesia Memasuki Darurat Media

Surabaya, Siti Efi Farhati. Dunia memasuki tantangan baru yakni dengan masuk di era televisi dan internet. Sebaran informasi dan dakwah yang akan mempengaruhi khalayak sangat ditentukan dari dua media ini. Bila gagal menguasai, maka Islam Aswaja benar-benar terancam.

"Jangan heran kalau banyak kalangan berlomba menguasai internet dan televisi. Hal itu dilakukan karena keduanya sebagai sarana efektif dalam mencari keuntungan dan mempengaruhi masyarakat," kata H A Hakim Jayli, Ahad (8/11).

Islam Aswaja di Indonesia Memasuki Darurat Media (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam Aswaja di Indonesia Memasuki Darurat Media (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam Aswaja di Indonesia Memasuki Darurat Media

Direktur TV9 Surabaya ini mengemukakan, banyak kalangan yang memiliki prinsip bahwa memiliki jamaah itu tidak terlalu penting. "Menguasai televisi dan internet saja sudah cukup dalam mempengaruhi pola pikir dan pandangan terhadap berbagai persoalan," kata Mas Hakim, sapaan akrabnya.

Siti Efi Farhati

Ia kemudian membandingkan dengan jamaah dan jamiyah NU yang memiliki kepengurusan hingga anak ranting dan jamaah yang demikian besar. "Tapi kalau dalam siaran TV dan internet kita kalah, maka jangan salahkan umat kalau mereka berbeda haluan," sergahnya.

Hakim Jayli menggugah sejumlah penerbit dan pegiat buku di tingkat pesantren dan NU untuk bersama membuat tayangan yang mampu mengimbangi tayangan di sejumlah TV dan internet. "Kita kaya khazanah pengetahuan, banyak tokoh ulama dan kiai, tradisi yang juga sarat dengan nilai keislaman, tapi sangat jarang yang menvisualkan dan menyebarkannya lewat internet maupun TV," terangnya.

Siti Efi Farhati

Karenanya, hal mendesak yang harus terus digalakkan adalah bagaimana generasi muda NU dan pesantren memiliki keterampilan dan keinginan untuk mengunggah khazanah luhur yang ada di komunitasnya dengan memanfaatkan dua media tersebut.

"Kita boleh marah dengan tayangan sejumlah TV dan sebaran berita di internet yang menyerang Ahlussunnah wal Jamaah," katanya. Namun marah saja tidak bisa memberikan solusi bila tidak diimbangi dengan menyebarkan konten yang menguatkan Aswaja, lanjutnya.

Karenanya, di sinilah pentingnya mengkonsolidir media-media NU dalam menghadapi tantangan dan problematika global. "Kata kuncinya adalah networking agar khazanah pesantren dan NU dapat dioptimalkan penyebarannya di sejumlah media, baik televisi maupun internet.

Baginya, inilah yang harus segera dilakukan karena Islam di Indonesia telah memasuki era darurat media, lanjutnya.

Peringatan tersebut disampaikan Hakim Jayli saat menjadi narasumber sarasehan dan musyawarah penerbit pesantren dan nahdliyin Jawa Timur. Kegiatan diselenggarakan PW Lembaga Talif wan Nasyr NU (PW LTN NU Jatim) di Museum NU Surabaya. (Ibnu Nawawi/Mahbib)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Nasional, Warta Siti Efi Farhati

Selasa, 16 Januari 2018

Hari Kartini, Guru Aliyah An-Nawawi Berlomba Lipat Stagen

Purworejo, Siti Efi Farhati. Momentum Hari Kartini yang jatuh pada 21 April selalu diperingati banyak kalangan dengan pelbagai macam cara. Pihak Madrasah Aliyah An-Nawawi Berjan kabupaten Purworejo sendiri memilih untuk mengadakan perlombaan melipat kain stagen selain upacara penghormatan.

Hari Kartini, Guru Aliyah An-Nawawi Berlomba Lipat Stagen (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Kartini, Guru Aliyah An-Nawawi Berlomba Lipat Stagen (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Kartini, Guru Aliyah An-Nawawi Berlomba Lipat Stagen

Sekolah yang terintegrasi dengan pesantren ini memiliki cara cukup unik dalam memperingati peringatan Hari Kartini; dengan upacara dan aneka perlombaan. Tak seperti upacara biasanya, pada upacara Kartini yang digelar di halaman sekolah tersebut, seluruh petugas termasuk pembina upacaranya adalah perempuan.

"Para petugas upacara mengenakan pakaian adat Jawa kecuali petugas paskibra. Petugas tersebut bukan hanya pelajar, namun juga dewan guru perempuan juga terlibat menjadi petugas," terang Kepala MA An-Nawawi H Muslihin Madiani di sela-sela kegiatan, Selasa (21/4).

Siti Efi Farhati

Usai upacara, sebanyak 40 dewan guru perempuan mengikuti perlombaan menggulung stagen sepanjang kurang lebih delapan meter. Perlombaan yang dilaksanakan menggunakan sistem setengah kompetisi ini juga dilangsungkan di halaman sekolah dengan disaksikan dan dimeriahkan oleh seluruh siswa.

"Tradisi menggunakan stagen itu kini mulai punah. Perempuan-perempuan masa kini sudah jarang yang telaten menggunakannya. Mereka cenderung memilih stagen instan yang banyak dijual di pasaran," kata Muslihin.

Siti Efi Farhati

Melalui perlombaan tersebut, sambung Muslihin, pihaknya berupaya mengampanyekan dan mengajarkan para siswanya untuk mengenal stagen sebagai khazanah budaya lokal.

"Semangat mengenali kebudayaan lokal itulah yang ingin kami sampaikan dan ajarkan kepada masyarakat khususnya para siswa kami," tandasnya. (Lukman Hakim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Warta, Kajian Sunnah Siti Efi Farhati

Senin, 08 Januari 2018

Anwar Zahid Sebut Negara Kiai Republik Indonesia

Purworejo, Siti Efi Farhati

Doa dan ikhtiar kiai menjadi wasilah kedaulatan NKRI menjadi tema ceramah Pengasuh Pondok Pesantren Attarbiyah Islamiyah Assyafiiyah Bojonegoro Jawa Timur KH Anwar Zahid saat mengisi pengajian Majlis Roudlotul Jannah di Senepo, Kutoarjo, Purworejo, Jawa Tengah.

NKRI merupakan kepanjangan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun pada pengajian tersebut, Kiai Anwar menyebutnya sebagai kepanjangan dari Negara Kiai Republik Indonesia.

Anwar Zahid Sebut Negara Kiai Republik Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Anwar Zahid Sebut Negara Kiai Republik Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Anwar Zahid Sebut Negara Kiai Republik Indonesia

“Maka jangan sembarangan dengan para kiai. Tanpa kiai, Indonesia sulit merdeka. Doa dan ikhtiar mereka hingga hari ini terbukti menjadi wasilah kedaulatan NKRI," kata Kiai Anwar disambut tepuk tangan dan tawa jamaah.

Majlis Roudlotul Jannah pimpinan Ita Megasavitri setiap malam Rabu Legi menggelar pengajian rutin dengan menghadirkan mubaligh dari berbagai daerah, termasuk dari luar wilayah Kabupaten Purworejo.

Siti Efi Farhati

Untuk diketahui, Ita Meigavitri merupakan perempuan berdarah Tionghoa, asal Kutoarjo. Sulung dari enam bersaudara ini adalah orang pertama dari keluarga besarnya yang masuk Katolik sebelum akhirnya masuk Islam. Orang tuanya semula menganut Konghucu. (Muhammad Ghufron/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati Warta Siti Efi Farhati

Sabtu, 06 Januari 2018

BNPT: Radikalisme Masuki Ruang Intelektual

Jakarta, Siti Efi Farhati. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komisaris Jenderal Polisi Suhardi Alius menegaskan radikalisme saat ini sudah masuk keruang-ruang intelektualitas para mahasiswa.

BNPT: Radikalisme Masuki Ruang Intelektual (Sumber Gambar : Nu Online)
BNPT: Radikalisme Masuki Ruang Intelektual (Sumber Gambar : Nu Online)

BNPT: Radikalisme Masuki Ruang Intelektual

"Radikalisme bukan hanya karena kemiskinan, kebodohan, kekecewaan, ketidakadilan tetapi sudah terpapar di kaum intelektual," katanya ketika memberikan kuliah umum di Sekolah Pascasarjana Universitas Pancasila di Jakarta, Jumat (2/9) malam.

Mantan Kepolisian Resor (Kapolres) Depok, Jawa Barat itu mengatakan bahwa pola perekrutan radikalisme sudah semakin canggih hanya dalam waktu dua jam seseorang sudah bisa dicuci otaknya untuk bisa melakukan hal-hal yang radikal.?

Sejumlah perguruan tinggi ternama di Indonesia sudah dimasuki oleh paham-paham radikalisme, sehingga perlu pengawasan yang intensif. Para mahasiswa yang berprestasi juga sudah dimasuki paham radikalisme. "Saya mengimbau para dosen, dekan dan juga rektor serta para guru dan kepala sekolah agar terus memantau kegiatan mahasiswa dan siswa terutama yang bersifat eksklusif," katanya.

Siti Efi Farhati

Suhardi juga mengatakan para kelompok radikalisme memanfaatkan media sosial untuk melakukan propaganda pemahamannya. Mereka memanfaatkan dunia maya untuk memberikan indoktrinasi paham radikalisme kapada masyarakat. Untuk itu, menurut dia, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) berperan aktif agar bisa mencegah paham radikalisme berkembang melalui media sosial.

Sementara itu, Rektor Universitas Pancasila (UP) Wahono Sumaryono mengatakan untuk menangkal paham radikalisme, maka perlu terus menjaga nilai-nilai luhur Pancasila. "Dan di kampus kami siap membentengi dari paham-paham radikalisme," ujarnya.

Ia menimpali, ancaman besar bangsa ada tiga yaitu terorisme, narkoba dan korupsi. Ini semua perlu penanganan kita semua secara bersama-sama. Untuk itu, menurutnya, setiap penerimaan mahasiswa baru pihaknya memberikan kuliah umum yang tentunya berguna bagi para mahasiswa dalam memperkaya wawasannya.

"Kemarin mahasiswa S1 diberi kuliah umum tentang narkoba, sekarang Sekolah Pascasarjananya tentang terorisme. Ini semua berguna bagi para mahasiswa," jelasnya.

Siti Efi Farhati

Wahono mengaku Universitas Pancasila juga mengambil tanggung jawab untuk menyadarkan para mahasiswa tentang kondisi bangsa Indonesia. Untuk itu, dia berharap, Universitas Pancasila menjadi salah satu komponen bangsa yang bisa mencegah radikalisme dan juga narkoba. Sekolah Pascasarjana Universitas Pancasila menerima mahasiswa sebanyak 274 orang atau meningkat dibandingkan tahun lalu yang mencapai 240 mahasiswa. (Antara/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Warta, Budaya Siti Efi Farhati

Senin, 18 Desember 2017

AGH Sanusi Baco: Umat Moderat Ditandai Tiga Ciri

Makassar, Siti Efi Farhati?



Rais Syuriyah NU Sulawesi Selatan Anregurutta KH M Sanusi Baco menjelaskan dakwah wasathiyah, artinya moderat. Secara bahasa berada pada dua sisi, tidak berlebih-lebihan.

AGH Sanusi Baco: Umat Moderat Ditandai Tiga Ciri (Sumber Gambar : Nu Online)
AGH Sanusi Baco: Umat Moderat Ditandai Tiga Ciri (Sumber Gambar : Nu Online)

AGH Sanusi Baco: Umat Moderat Ditandai Tiga Ciri

“Al-wasathiyah bisa dipahami sebagai umat wasathiyah yang berarti umat Islam,” katanya pada Halaqah Dakwah Wasathiyah An Nahdliyah yang digelar PWNU Sulawesi Selatan di auditorium KH Muhyiddin Zain Universitas Islam Makassar, Sabtu (20/5).

Menurut AGH Sanusi, wasathiyah ditandai dengan 3 sifat yakni, umat yang adil, umat yang selalu menegakkan kebenaran, dan umat yang selalu menjaga keseimbangan dalam segala hal.

“Salah satu definisi keadilan adalah keseimbangan antara kewajiban dan hak. Kalau keduanya seimbang, maka itulah umat wasathiyah. Orang yang memiliki sifat wasathiyah biasanya adalah orang pemurah. Jadi orang-orang NU itu semuanya pemurah,” ungkapnya disambut tawa hadirin.

Siti Efi Farhati

Dalam berdakwah pun, NU senantiasa dengna pendekatan wasathiya, menjaga keseimbangan, menyebarkan nilai-nilai toleransi, serta selalu menganjurkan untuk menjaga persatuan dan kesatuan Republik Indonesia.

Pemateri halaqah di antaranya Guru Besar UIN Alauddin yang juga Ketua Lembaga Dakwah NU Sulsel, M. Ghalib, Katib Syuriyah NU Sulsel KH Ruslan, Rais Syuriyah NU Makassar KH Baharuddin HS, Ketua PW Muslimat NU Sulsel Majdah Agus Arifin Numang dan salah satu Mubaligh NU Makassar Ust. Amirullah Amri. (Andy Muhammad Idris/Abdullah Alawi)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Ahlussunnah, Warta, Daerah Siti Efi Farhati

Jumat, 15 Desember 2017

GP Ansor Pejarakan Gelar Syukuran Selametan Desa

Buleleng, Siti Efi Farhati. Setiap kepala keluarga di lingkungan Pejarakan kecamatan Gerokgak kabupaten Buleleng, Bali, membawa nasi tumpeng dalam upacara selametan desa di masjid Baiturrahim Pejarakan, pada Selasa (24/6) malam. Upacara yang digagas GP Ansor Pejarakan ini diawali dengan pembacaan tahlil.

GP Ansor Pejarakan Gelar Syukuran Selametan Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Pejarakan Gelar Syukuran Selametan Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Pejarakan Gelar Syukuran Selametan Desa

Selametan desa ini diadakan untuk mensyukuri kondisi desa yang aman dan damai. Ketua GP Ansor Abdul Karim Abraham mengatakan dalam sambutannya bahwa acara ini menjadi media untuk mengenang para leluhur umat Islam yang menyebarkan desa pertama kali di desa ini.

“Para pendahulu muslim desa Pejarakan telah banyak melakukan hubungan antarumat beragama yang harmonis. Terbukti, hingga sekarang tidak pernah terjadi konflik antaragama Islam dan Hindu,” kata Karim.

Siti Efi Farhati

Di desa ini, umat Hindu yang mayoritas menghargai kami yang minoritas. Sedangkan Islam yang minoritas dapat bergaul secara baik dengan umat Hindu yang mayoritas, ujar Karim.

Sebelum makan nasi tumpeng bersama, Selametan Desa disudahi dengan taushiyah agama oleh Habib Ja’far Al Jufri dari Situbondo. (Abraham Iboy/Alhafiz K)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Syariah, Warta, Santri Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock