Jumat, 09 Maret 2018

Yu Timah

Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta.

Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri.

Yu Timah (Sumber Gambar : Nu Online)
Yu Timah (Sumber Gambar : Nu Online)

Yu Timah

Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah. Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara.

Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati

Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa.

Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya.

Setelah emaknya meninggal Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini zaman apa. Anak itu harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga dan lagi-lagi terdampar di Jakarta . Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus. Untung di kampung kami ada pesantren kecil. Para santrinya adalah anak-anak petani yang biasa makan nasi seperti yang dijual Yu Timah.

Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di bank perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut jadi pengurus.

Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan sejak itu saya melihat Yu Timah memakai cincin emas. Yah, emas. Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.

Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah.

“Pak, saya mau mengambil tabungan,” kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.

“O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup. Bagaimana bila Senin?”

“Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.”

“Mau ambil berapa?” tanya saya.

“Enam ratus ribu, Pak.”

“Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?”

Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu.

“Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.”

Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing kurban.

“Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?”

“Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama Ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.”

“Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.”

Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.

Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri.

“Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya?” Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya. Mungkin saya juga begitu.

Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji.

?

Keterangan ilustrasi: Lukisan Affandi berjudul Pileuleuyan Ibu

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pondok Pesantren Siti Efi Farhati

Kamis, 08 Maret 2018

Presiden Jokowi Setuju untuk Memperkuat Pendidikan Diniyah dan Pesantren

Jakarta, Siti Efi Farhati. Guna mengantisipasi perubahan di dunia yang sangat cepat, Presiden Joko Widodo (Jokowi) setuju agar pendidikan diniyah, pendidikan keagamaan di pesantren-pesantren harus diperkuat.

“Perubahan seperti ini bisa menjadikan kita baik, bisa menjadikan kita tidak baik. Inilah tugas kita mengantisipasi. Bagaimana membangun karakter-karakter anak-anak kita, yang bisa menjaga harkat bangsa ini dari arus-arus perubahan global yang begitu sangat cepatnya,” kata Presiden Jokowi saat menghadiri Penutupan Musyawarah Kerja Nasional II dan Workshop Nasional (Bimbingan Teknis) Anggota DPRD PPP Se-Indonesia, di Hotel Mercure Ancol, Jakarta, Jumat (21/7) siang.?

Presiden Jokowi Setuju untuk Memperkuat Pendidikan Diniyah dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Jokowi Setuju untuk Memperkuat Pendidikan Diniyah dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Jokowi Setuju untuk Memperkuat Pendidikan Diniyah dan Pesantren

Kepala Negara mengingatkan kepada semua pihak untuk berhati-hati, karena 5 tahun yang akan datang, kemudian 10 tahun yang akan datang akan ada perubahan yang sangat drastis.

Ia menyebutkan, ada yang namanya generasi W, generasi Y, yang sekarang baru berumur 15 tahun, berumur 20 tahun, berumur 25 tahun. Selanjutnya, Presiden menambahkan yang 5 tahun lagi akan masuk pasar, akan masuk dan men-drive, mengemudikan perubahan-perubahan itu.

“Generasi Y ini, generasi W, 10 tahun yang akan datang, mereka akan menguasai dan mempengaruhi pasar,” ujar mantan Gubernur DKI Jakarta ini.

Siti Efi Farhati

Oleh sebab itu, tutur Jokowi, sekarang saatnya kita mengisi mereka dengan sebuah karakter-karakter yang baik, sehingga perubahan itu tidak mengubah wajah keislaman kita.

“Inilah yang harus diantisipasi. Banyak dari kita yang belum sadar akan perubahan yang sangat cepat ini,” tutur mantan Wali Kota Solo, Jawa Tengah ini.

Menurut Presiden, nantinya, entah apakah ada lagi yang baca koran, mungkin sangat sedikit sekali. Presiden juga menambahkan bahwa kemungkinan tidak ada yang lihat TV lagi, karena yang namanya generasi Y, setiap hari membawa smartphone, berita juga klik di situ, berita-berita online.?

Siti Efi Farhati

Presiden juga menambahkan bahwa generasi berikutnya tidak lihat TV karena nanti yang laku adalah Netflix, video-video yang langsung bisa dilihat di dalam smartphone itu.

“Kalau kita dari sekarang tidak menyiapkan mereka, mengisi mereka dengan jiwa-jiwa yang mulia, dengan jiwa-jiwa baik. Apakah yang akan terjadi?” tanya Presiden.

Inilah, lanjutnya, yang perlu dirinya mengingatkan, menyadarkan pada kita semuanya, bahwa perubahan itu sudah di depan kita.

“Oleh sebab itu, sekali lagi, memperkuat pendidikan diniyah, memperkuat pendidikan pondok-pondok pesantren, memperkuat pendidikan keagamaan yang masih, itu menjadi kunci agar perubahan itu tidak mengubah kita,” tutur Presiden Jokowi.

Tampak hadir dalam acara tersebut antara lain, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang KH Maimoen Zubair, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Kepala Staf Kepresidenan, Teten Masduki, dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. (setkab.go.id/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Budaya, Cerita, Internasional Siti Efi Farhati

Sabtu, 03 Maret 2018

GP Ansor Gumukmas Pukul Rebana

Jember, Siti Efi Farhati. Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Gumukmas kabupaten Jember, Selasa (5/5) memperingati Harlah Ke-92 NU di aula gedung MWCNU Gumukmas. Peringatan yang dirangkai dengan kegiatan rutin Majelis Dzikir dan Shalawat "Rijalul Anshor" ini, digelar sederhana namun cukup khidmat yang dipenuhi tabuhan rebana.

GP Ansor Gumukmas Pukul Rebana (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Gumukmas Pukul Rebana (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Gumukmas Pukul Rebana

Ketua GP Ansor Gumukmas Ghufron Asruri berharap Ansor dan MWCNU terus bersinergi untuk melayani dan mengadvoasi masyarakat, khususnya warga NU yang berada di tingkat ranting. 

"Mereka butuh sentuhan kita, butuh sentuhan NU dan Ansor. Mereka merupakan NU masa depan. Kalau kita tidak mengurusi pemuda-pemuda yang banyak bertebaran di desa-desa itu, masa depan NU juga akan semakin suram" ujarnya.

Siti Efi Farhati

Kepala Madrasah Ibtidaiyah Karanganyar 03 itu menambahkan, pihaknya ingin menghidupkan kantor MWCNU dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan, terutama saat bulan Ramadhan. Dengan adanya kegiatan tersebut, katanya, kantor NU bisa tampak hidup dan dapat memberi memberi manfaat.

Siti Efi Farhati

"Jangan sampai pamor kantor NU kalah dengan pamor Gereja. Kita buat nanti orang akan bertanya, gereja itu berada di sebelahnya kantor NU, bukan kantor NU di sebelahnya gereja," ungkapnya seraya menyindir, karena memang  beberapa meter dari kantor MWCNU, berdiri Gereja. 

Sementara itu Drs. KH Idris Sholeh, Rois Syuriah MWC NU Gumukmas, sangat mengapresiasi terhadap mulai menggeliyatnya kegiatan Ansor Gumukmas. Ia berjanji, kapanpun Ansor mengadakan kegiatan, dirinya  siap untuk mendampingi, "Tidak usah diundang, cukup SMS, saya siap hadir. Jiwa saya ini masih Ansor," jelasnya.

Kendati diperingati sederhana, namun yang hadir cukup banyak. Mereka adalah para tokoh masyarakat, pengurus Ranting Ansor dan NU se-Kecamatan Gumukmas, dan juga salah satu Pimpinan Wilayah GP Ansor Jawa Timur yang berdomisili di Gumukmas, Abd Rohim (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Bahtsul Masail Siti Efi Farhati

Makna Idul Fitri dan Sebuah Kemenangan

Oleh Aguk Irawan MN

Dua baris kalimat; Mohon Maaf Lahir Batin, Minal Aidin wal Faizin merupakan sebuah idiom yang biasa kita ucapkan saat menjelang atau lebaran/hari raya Idul Fitri tiba. Bahkan kata ini tidak saja diucapkan banyak jutaan muslim di? Indonesia, tapi juga mungkin jutaan kali ditulis dan begitu cepat menyebar ke perangkat eloktronik seperti HP dan Android.

Makna Idul Fitri dan Sebuah Kemenangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Idul Fitri dan Sebuah Kemenangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna Idul Fitri dan Sebuah Kemenangan

Hanya saja seringkali kita mengucapkan rangkaian idiom “Minal Aidin wal Faizin” yang seakan-akan itu terjemahannya adalah “Mohon Maaf Lahir dan Batin.” Padahal kedua idiom ini tidaklah demikian arti atau maknanya dan boleh dikatakan memiliki pesan yang berbeda, meskipun bila ditelusur dan coba dihubungkan masih saling terkait.

Siti Efi Farhati

Tetapi, jika itu terpaksa dibedakan, maka “Minal Aidin wal Faizin” lebih menyimpan arti pencapaian seorang mukmin setelah berpuasa penuh dan melawan hawa nafsunya dengan beribadah kepada Tuhannya di bulan Ramadhan (vertikal), sedangkan “Mohon Maaf Lahir Batin” lebih mengisyaratkan apa yang sedang dilakukan mukmin pasca bulan Ramadhan yaitu pada hari raya Idhul Fitri memperetat kembali hubungan sosial dengan sesama (horisontal). Maka “Minal Aidin wal Faizin” “Minal Aidin” (Semoga termasuk orang yang kembali pada kesucian) dan “wal Faizin” (semoga beroleh kemenangan setelah berdamai dan saling memaafkan).

Lebih dari itu, menurut pakar bahasa, terutama dari Ibnu Mandzur, kata fithri (fa-tha-ra) setidaknnya mencakup enam hal penting, yaitu kesucian, kekuatan, jati diri, asal usul kejadian, memakai pakaian taqwa dan dinnul Islam. Maka bila digabung kata itu menjadi Idul Fitri, artinya kita berharap akan kembali ke kesucian diri kita, kembali ke asal usul kita, kembali ke jati diri kita, kembali memakai pakaian taqwa, kembali ke kekuatan kita dan kembali ke dinnul Islam. Untuk keenam arti ini mari kita bahas satu persatu dan kita renungkan maknanya:

Siti Efi Farhati

Pertama, kata fithri atau fitrah jika diartikan suci atau kesucian, maka ia harus memenuhi tiga unsur inti, yaitu keindahan yang menggetarkan, kebenaran yang bisa diterima dan kebaikan yang bisa dibuktikan. Dari konsekwensi ini, maka kembali ke fithri artinya kita harus menciptakan keindahan (seni), menerima kebenaran dengan menambah ilmu (sains) dan berbuat baik atau amal sholeh yang melahirkan akhlaqul karimah. Itulah makna idul fithri buah dari pendidikan Ramadhan untuk mengantarkan kita menjadi seniman, ilmuwan sekaligus budiman.

Kedua, kata fithri disebut sebagai kekuatan, karena sebulan penuh shaimin dan shaimat mempunyai kekuatan untuk mengendalikan hawa nafsu. Dengan kekuatan itulah kaum Muslimin melakukan jihad akbar mengendalikan hawa nafsunya? dan ia akan menjadi kuat, makanya begitu tiba Idul Fithri, diharapkan seorang mukmin dapat kekuatan baru.

Ketiga, pengertian fithri (fitrah) jika bermakna asal kejadian ini dikaitkan dengan manusia bisa diberikan beberapa contoh, antara lain manusia berjalan dengan kakinya, melihat dengan matanya, mendengar dengan telinganya, merasa dengan hatinya dan berpikir dengan akalnya. Konsekwensi dari pengertian ini, maka kita menjadi salah jika ingin berjalan dengan tangan, melihat dengan telinga dan berpikir dengan mulut, atau salah jika kita mengukur kesalahan dan kebenaran atau kesedihan dan kebahagiaan dengan alat timbangan atau alat ukur meteran dan seterusnya, itulah fitrah.

Masih dalam pengertian fitrah sebagai asal kejadian, maka kita pun harus menempatkan hati sebagai tempatnya iman, dan bukan di akal, karena akal selalu menolak hal-hal yang tak bisa dicerna oleh indrawi, dan tugas akal hanya untuk mengukuhkan iman.

Keempat, kata fithri secara maknawi ada juga yang mentakwil dengan arti memakai pakain. Tentu yang dimaksud memakai pakaian disini adalah pakaian taqwa, sebagaimana yang disyaratkan dalam surat al-Baqarah, ayat 183, bahwa tujuan berpuasa adalah supaya kita bertaqwa. Selama Ramahdhan kita sudah menenun sepanjang hari, dan saat idul fitri itulah kita memakai pakaian taqwa agar meningkat (Syawal) jati diri kita. Dalam konteks ini kita mengingat pesan Ilahi: Janganlah kita menjadi seperti seorang perempuan dalam cerita lama, ia mengurai kembali hasil tenunanya yang rapi sehelai benang demi sehelai sehingga tercerai-berai (an-Nahl, 92). Artinya madrasah puasa selama sebulan itu harus terus kita pakai (fithri) sampai setahun mendatang, bahkan lebih.

Puasa diibaratkan seperti menenun atau menjahit pakaian ini juga seperti yang sudah dicontohkan ulat yang bertapa dalam tenunannya (kepompong), setelah selesai menenun, ia memakai sayapnya yang indah untuk terbang (kupu-kupu), atau bisa juga diibaratkan sang laba-laba yang menenun rumahnya sehelai demi helai, kemudian ia memakai (fithri) agar ia menjadi tenang hidupnya.

Kelima, kata fithri berarti jati diri. Jati diri manusia adalah sebagai khalifah, yaitu makhluk termulia, penghuni surga, tetapi dalam waktu bersamaan juga makhluk yang berlumur dosa. Kenapa? Karena ia dibekali hawa nafsu, juga dibekali hati nurani, yaitu gabungan antara hati yang tajam dan pikiran yang jernih untuk menahan diri dari dorongan nafsu hewani. Sehingga seorang mukmin dikatakan “kembali ke fitrah” itu artinya ia kembali ke jati diri, karena ia sanggup menahan hawa nafsu dengan hati-nuraninya atau sebaliknya, seorang mukmin belumlah dikatakan kembali ke fitrah bila hawa nafsunya mendorongnya untuk bersikap liar dan tak terkendali.

Keenam, jika fithri diartikan dinnul al-islam, islam secara bahasa bentuk masdar dari sa-la-ma yaitu perdamaian atau ketertundukkan. Konsekwensi dari kata damai atau tunduk ini mengandung tiga unsur inti, yaitu kita sebagai hamba harus merasa damai dengan Tuhan, yaitu harus tunduk dengan cara meninggalkan semua larangan-Nya dan menjalankan segala perintah-Nya dengan (dan) tanpa paksaan apapun. Selanjutnya, kata damai berarti kita harus bisa merangkul kembali yang bercerai berai dari sesama, menghilangkan sekat-sekat dan api permusuhan, serta menepis perbedaan-perbedaan yang mengakibatkan percikan kebencian. Ketiga berdamai dengan alam, dengan tidak terlalu mengekploitasinya, sehingga mengakibatkan kehancuran atau bencana, itulah buah dari Ramadhahan sebulan penuh.

Selain keenam makna di atas ada yang berpendapat fithri berarti futhur artinya berbuka. Artinya saat nafsu perut terbuka dan kembali merajalela, hati-hatilah dengan jati diri anda. Hati-hatilah dengan rezeki yang tidak halal, hat-hatilah dengan sikap benci yang berlebihan dan permusuhan, yang semua itu mengarah pada kehilangan jati diri kita yang sesungguhnya. Itu berarti Idul Fitri berarti momentum yang baik buat berdamai dan saling memaafkan.

Lantas ada apa maksud dari kata Faizin? Menurut Ibnu Mandzur dalam Lisanul Arabi, juga kamus Munawwir dan Mauwrid, kata faizin tercerabut dari kata faza-fauzan-faizin, yang artinya adalah na-lahu bihi fauzan, yaitu memperoleh kesuksesan atau kemenangan, bisa juga halaka wa mata, seperti kalimat wafauza arrajulu, artinya adalah seseorang telah mengalahkan atau membinaskan, bisa juga berarti an-naja atau minal makruhi; selamat dan terhindar dari sesuatu yang bahaya, dan terakhir, bisa bermakna fauza at-thariq atau bada wa dhahara (sesuatu yang nampak terang atau berkilau). Mari kita bahas satu persatu.

Pertama, adalah bermakna kesuksesan atau kemenangan. Idul Fitri dapat disebut hari raya kemenangan. Pada hari itu, karena kaum beriman yang telah menunaikan ibadah Ramadhan meraih kemenangan dan seperti dengan terlahir kembali kepada fitrah kemanusiaan yang suci dan kuat hati. Mengapa harus ada yang menang dan ada yang kalah? Karena faktanya, kita diberi nafsu, dan ini punya pesan simbolik untuk dikalahkan dan hati nurani (hati-akal) itulah alat untuk mengalahkan atau sebagai senjata perjuangan, sebagaimana yang diajarkan selama Ramadhan.

Kedua, adalah bermakna mengalahkan atau membinasakan, ini semacam sinonim dari sebuah kemenangan, sebab tidak ada kemenangan tanpa mengalahkan. Kalah dan menang adalah lawan kata. Dua sisi yang bertentangan ini adalah sifat keunggulan manusia dari makhluk yang lain (akhsanu takwin) dan kedua ini diciptakan agar manusia menjadi lebih sempurna (insan al-kamil) sebagaimana terkandung dalam Q.S. Asy-Syams ayat 8 yang menjelaskan pentingnya tazkiyatu nafs (penyempurnaan jiwa) agar kita menjadi hamba yang bertakwa (berhati-nurani) dan jauh dari? "kefasikan" (hawa nafsu kebinatangan)” dan, memang selama Ramadhan kita diajarkan bagaimana terus membunuh nafsu dan menghancurkannya, termasuk menghancurkan lemak-lemak atau virus yang bisa menimbulkan penyakit dalam tubuh kita.

Ketiga, adalah bermakna selamat dan terhindar dari sesuatu yang bahaya, sehingga nampaklah atau berkilauanlah kebaikan, kebenaran dan keindahan itu. Untuk terhidar dari bahaya dan nampaklah cahaya Islam yaitu kebaikan, kebenaran dan keindahan dibutuhkan jihad atau usaha keras, hal ini terbukti pada catatan sejarah islam yang gembilang, di bulan inilah? musuh-musuh islam bisa terkalahkan. Jika merujuk pada fakta sejarah Islam, banyak kita jumpai peristiwa kemenangan? besar terjadi mendekati idul fitri atau sepanjang bulan Ramadhan, Misalnya runtuhnya Masjid Adh-Dhirar milik orang-orang munafik. Datangnya rombongan delegasi kaum Tsaqif yang ingin masuk Islam.

Pada Ramadhan tahun ke-2 Hijriyah, terjadi peperangan besar yaitu perang Badar Al-Kubra. Peperangan ini dimenangkan oleh kaum muslimin, inilah kemenangan agung pertama pejuang-pejuang Islam dalam menentang kemusyrikan dan? kebatilan.Pada Ramadhan Tahun Ke-1393 Hijriyah atau 1973 M, kemenangan muslim atas pasukan Salib dengan merebut? kembali tanah Palestina yang sebelumnya direbut oleh Zionis Yahudi. Masih banyak peristiwa besar lain lebih dari seratus, termasuk salah satunya adalah kemerdekan Bangsa Indonesia ini yang diraih pada bulan suci Ramadhan. Selamat hari Raya Idhul Fitri 1437 H. Minal Aidzin Wal Faizin. Amin.

*Sastrawan dan Pengasuh Pesantren Kreatif Baitul Kilmah, Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kiai, Sholawat Siti Efi Farhati

Belajar dari Konflik di Timur Tengah

Oleh Imam Ma’ruf



Hari-hari ini, banyak orang menyebut dirinya nasionalis, cinta NKRI, slogan ‘saya Pancasila’ dan sejenisnya. Namun dalam praktiknya, nasionalisme yang dilakukan cenderung berbau sektarian. Nasionalisme minus atau setengah nasionalisme, nasionalisme sempit, dan ‘kurang’ menghargai perbedaan dan keragaman yang muncul di masyarakat. Bahkan lebih jauh, perilaku yang mengemuka cenderung barbar atau setidaknya intoleran.

Belajar dari Konflik di Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari Konflik di Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari Konflik di Timur Tengah

Kenapa fenomena semacam ini seolah muncul kembali? Apakah ini menunjukkan kegagalan demokrasi yang berujung pada istilah negara gagal (failed state)? Tentu kita semua perlu banyak melakukan refleksi secara mendalam. Melihat kembali kesepakatan berbangsa dan bernegara yang telah dilahirkan oleh para founding fathers negeri zamrud khatulistiwa ini. Bangsa ini pernah mengalami periode panjang dijajah dalam era kolonialisme, hingga melahirkan semangat bersama untuk merdeka. Kita juga pernah mengalami masa perpecahan dan banyak melahirkan gerakan separatis yang berbau sektarian dan SARA. Semua itu nampaknya masih belum cukup, sehingga tak jarang ‘bom waktu’ terkait sektarian begitu mudah meletup lagi.

Siti Efi Farhati

Contoh yang faktual yang layak menjadi perbincangan dan referensi adalah konflik yang terjadi di Timur Tengah. Sebuah kawasan gurun pasir yang panas, namun memiliki banyak sumber daya yang terus berpotensi menjadi lahan perebutan dan tarikan berbagai kepentingan, baik internal maupun pihak luar. Apakah ini juga masih kurang untuk menjadi penanda bahwa kalau konflik sektarian dan nasionalisme sempit yang terus berulang, bisa memicu kegagalan negeri ini?

Timur Tengah, Jalur Penghubung yang Terus Menegang

Siti Efi Farhati



Membincang fenomena konflik di Timur Tengah dari kacamata Indonesia memiliki respon yang sangat beragam. Tidak sedikit dari masyarakat yang salah paham, gagal paham, bahkan menggunakan model untuk di-copy-paste secara serampangan, meski tak sedikit pula yang memiliki cara pandang yang clear atau proporsional.

Jika di Timur Tengah, negeri asalnya, terjadinyakonflik yang memporak-porandakan negeri dilatari banyaknya kepentingan politik dan perebutan kekuasaan. Namun di Indonesia, konflikpolitikseperti di Timur Tengah itu bisa berubah menjadi sangat ideologis, dan sektarian antaragama, atau aliran keagamaan, semisal Sunni-Syi’ah atau Muslim-Kristen dan sekte serta kabilah-kabilah. Apakah ketika melihat konflik Timur Tengah harus menggunakan kacamata kuda begitu? Nampaknya perlu pembacaan lebih luas, sehingga kita bisa melihat banyak hal, yang pada gilirannya pandangan kita juga bukan hanya sektarian dan lebih jauh hanya hitam-putih.

Dari penelusuran KBBI, sektarian memiliki dua makna; pertama berkaitan dengan anggota (pendukung, penganut) suatu sekte atau mazhab; sementara makna kedua adalah picik, terkungkung pada satu aliran saja. Nah, penyempitan makna menjadi sektarian dalam membaca konflik Timur Tengah inilah yang ingin kita bahas lebih dalam.

Dari sisi sejarah, kawasan Timur Tengah memiliki akar dan menjadi salah satu peradaban tua di dunia. Sejak dulu, kawasan ini memang selalu menjadi pusat perhatian, bahkan Adam dan Hawa bertemu setelah diturunkan ke bumi juga di Timur Tengah yang dikenal, Jabal Rahmah. Muncul peradaban kuno yang populer, antara lain kebudayaan dan peradaban Mesir kuno di lembah sungai Nil, Babilonia dan Assiria di Mesopotamia yang dialiri oleh sungai Tigris (Iraq) dan Eufrat (Persia), Pegunungan Armenia (Turki), Laut Mati/Sungai Yordan dan lain-lain. Sistem-sistem sungai dan laut inilah yang memberikan nafas hidup kepada peradaban-peradaban besar itu jauh sebelum kedatangan Islam. Berikutnya ada banyak kisah yang muncul, selain Nabi dan Rasul, ada juga muncul nama-nama besar seperti Fir’aun, Namruj dan lainnya, atau versi berbeda menyebut Darius, Nebukadnezar, Sultan Saladin, dan lain-lain.

Jadi, ada banyak alasan mengapa kawasan ini dari dulu hingga kini menjadi penting, salah satunya adalah kawasan penghubung tiga benua, Asia, Afrika dan Eropa, terlebih setelah terbukanya terusan Suez. Dengan banyaknya peluang, termasuk sumberdaya, mineral, air, minyak, dan sumber transportasi serta lainnya, maka wilayah dan kawasan ini selalu menjadi perhatian. Keberagaman penduduk dan latar belakang, termasuk aliran keagamaan dan ideologi juga menjadi bagian yang begitu mudah digerakkan untuk melahirkan konflik dan tarik-menarik kepentingan. Dan pemantik sebagai ‘bensin’ paling mudah dan mungkin juga murah, di Timur Tengah sendiri adalah sentimen agama dan aliran keagamaan. Jika di Timur Tengah sudah ‘meledak’, maka efek ledakannya bisa dengan mudah merembes ke kawasan lain, termasuk tanah air, Indonesia Raya tercinta ini.

Jalur laut yang menunjukkan superioritas militer, termasuk pengangkutan ekspor minyak dari negara-negara Timur Tengah, juga menjadi cerita tambahan dari rentetan konflik. Jalur tersebut juga memberi pemasukan penghasilan negara karena hasil dari laut seperti ikan, mineral/gas, ataupun dari retribusi kapal-kapal asing yang melewati laut.

Faktor Pemicu Ketegangan



Dalam catatan Sidik Jatmika yang mengutip dari Gerald Blake soal Middle East, sebagian besar perbatasan darat di Timur Tengah sudah ditentukan sejak 1880 dan 1930, namun, soal perbatasan laut justru baru mulai ditentukan pada tahun 1960-an, dan hingga hari ini belum dapat diselesaikan secara tuntas. Berbagai perbedaan dan keragaman yang muncul, menyangkut perbatasan negara yang kecil dan besar, jalur laut yang kecil dan besar, kekayaan alam dan sumberdaya yang kecil dan besar, termasuk negara kaya-miskin, dan tingkat kemakmuran suatu negara, akan memiliki arah yang berbeda, baik secara politik maupun aspek lain dan tidak sedikit melahirkan ketegangan.

Ada banyak faktor yang menjadi pemicu ketegangan di kawasan Timur Tengah, baik secara internal kawasan, maupun pihak di luar kawasan yang juga berkepentingan. Dua poin utama bisa disebutkan: Pertama, posisi strategis kawasan ini yang menjadi penghubung bagi ekonomi, perdagangan, dan pertahanan global ketiga benua, yakni Asia, Afrika dan Eropa. Kedua, soal keanekaragaman yang memang dimiliki Timur Tengah. Beberapa keanekaragaman yang tergambar bisa disebut, antara lain:

1. Geografis Timur Tengah yang melahirkan perbedaan wilayah, ada yang luas dan sempit sehingga menjadi pemicu dominasi, termasuk juga kedekatan regional yang tak jarang memicu ketegangan, seperti kawasan Arab inti (bulan sabit); Saudi Arabia, Mesir, Kuwait, Irak, Palestina, UEA, Bahrain, Qatar, Oman dan Yordania. Kawasan Arab periferal; Libya, Sudan, Yaman, Suriah dan Libanon. Kawasan Arab maghribi; Maroko, Tunisia, Aljazair, dan Mauritania. Kawasan non-Arab; Turki, Iran, Siprus, Israel dan Afghanistan. Kawasan Asia Tengah yang merupakan eks Uni Soviet; Azarbaijan, Uzbekistan, Kazakstan dan Turkmenistan.

2. Problem kepemilikan air, baik air tawar maupun air laut. Pemicunya bisa keterbatasan akses air, semisal perbatasan, potensi kekayaan air laut, mineral, pulau-pulau, dan pendapatan yang muncul dari kepemilikan laut. Sementara air tawar bisa berupa akses air bersih, irigasi untuk lahan, juga pembangkit listrik.

3. Keanekaragaman agama, akar budaya dan suku atau kabilah. Ada warisan peradaban yang muncul di lembah sungai Nil, Tigris dan Eufrat, lalu muncul ras Semit yang melahirkan etnis Arab dan Yahudi, Aria dengan Persianya, dan Berber di Afrika Utara. Ada juga ras gabungan semisal Turki yang ada unsur Mongolia dan Kurdi yang Indo-Persia.Belum lagi pecahan dalam bentuk suku-suku dan kabilah yang juga beritu beragam. Dari sisi agama, ada Yahudi, Islam, dan Kristen, begitu juga aliran-aliran keagamaan lain. Keragaman yang bisa menjadi potensi baik sebagai sebuah kekayaan budaya ataupun sebaliknya, bisa menjadi sumber ketegangan dan konflik.

4. Keanekaragaman ekonomi dengan melihat tingkat kemakmuran suatu negara, kaya-miskin hingga kekayaan alam dan sumberdaya yang dimiliki, bisa melahirkan arah yang berbeda dan memicu ketegangan.

5. Keanekaragaman ideologi juga hadir, ada Pan Islamisme, OKIdan juga Liga Arab yang merespon munculnya negara Israel. Ada sekularisme, liberalisme, komunisme, dan juga zionisme. Ada juga ideologi yang berbasis pada ajaran agama, semisal Islam, Kristen dan Yahudi dan aliran keagamaan, semisal Sunni-Syiah dan lainnya.

Nah, berbagai keragaman, termasuk letak geografis yang berujung pada perbatasan di atas, sangat mungkin menjadi salah satu faktor pemicu ketegangan, meskipun ujungnya juga soal beda kepentingan dan sudut pandang yang bermuara pada ekpresi politik, baik perorangan, kelompok, maupun atas nama negara. Maka melihatnya tidak hanya sektarian. Ada banyak model dan kamuflase yang mengemuka dalam ketegangan di kawasan ini yang musti dibaca secara mendalam dan dari berbagai aspek. Adakalanya tidak peduli dengan agama, asal kepentingannya sama. Adakalanya ideologi menjadi basis penyatuan kepentingan. Yang jelas basis kepentingan menjadi lebih penting dan menarik untuk dilihat, sementara pemicu dan ‘bahan bakar’ konflik dan ketegangan bisa bermacam-macam.

Suasana batin atas perasaan ketidakadilan, diskriminasi atau peminggiran kelompok, ketimpangan ekonomi menjadi awal mula perasaan kecewa dengan situasi dan kondisi, dan akumulasinya bisa melahirkan protes, ketegangan dan konflik yang mencari sasaran dan target permusuhan. Dorongan pihak luar juga bisa menguatkan ketegangan, sehingga memperkeruh dan muncul pihak yang mengambil keuntungan dari situasi krisis.

Krisis Politik yang Berulang



Menurut Carl J Friedrich, politik merupakan suatu upaya atau cara untuk memperoleh atau mempertahankan kekuatan. Politik juga dapat diartikan cara untuk mencapai tujuan tertentu yang dikehendaki yang akan digunakan untuk mencapai keadaan yang diinginkan. Kehidupan berpolitik tak pernah lepas dari kehidupan sosial suatu negara. Dan masyarakat di Timur Tengah dengan didominasi oleh bangsa Arab memiliki kultur pemerintahan yang sebagian besar adalah diktator. Salah satu faktor historis yang melatari karena di wilayah tersebut dulunya bersistem kekerajaan.

Arab Spring menjadi pintu masuk berbagai pihak melakukan koreksi terhadap kepemimpinan di Timur Tengah, mulai dari Tunisia hingga menyebar ke berbagai negara di kawasan Timur Tengah. Beberapa tuntutan akibat reaksi ketidakpuasan publik Timur Tengah, ada yang menunjukkan hasil positif, namun tidak sedikit pula yang justru berakibat fatal dan melahirkan krisis dan konflik berkepanjangan. Kecepatan merespon dan kepiawaian negosiasi pemimpin di kawasan ini menjadi kunci, termasuk melihat berbagai efek dan dampak serta pengaruh para tokoh dan supporter yang menggerakkan aksi, baik secara internal maupun eksternal negara. Tidak sedikit para pemimpin yang tumbang dan harus menyerahkan mandat kepada desakan publik, semisal Tunisia, Libya, Mesir dan Yaman. Namun ada juga yang hanya melakukan reformasi internal tanpa penggulingan kekuasaan, semisal Saudi Arabia, Qatar, Bahrain dan juga Syuriah meski mengalami pergolakan yang masih berlangsung hingga saat ini.

Di Mesir misalnya, pasca tumbangnya rezim Hosni Mubarak, rakyat Mesir justru terjerumus ke dalam konflik sektarian. Konflik sektarian tersebut terjadi antara warga muslim dan kristen. Dalam konflik yang bernuansa SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan)tersebut, setidaknya terdapat beberapa orang yang menjadi korban akibat brutalnya aksi.Konflik sektarian di Mesir adalah satu contoh resistensi politik di kawasan Timur Tengah setelah revolusi berhasil dilakukan.

Pascarevolusi, umumnya tuntutan sederhana yang dikehendaki rakyat dan para elite politik adalah melangsungkan pemilihan umum secara demokratis untuk memilih kepemimpinan baru. Harapan baru tersebutlah yang menjadi suara mayoritas rakyat kawasan Timur Tengah, termasuk harapan kehidupan yang lebih baik dan demokratis.

Situasi yang sekarang terjadi di beberapa negara Timur Tengah ternyata juga berpengaruh pada kehidupan ekonomi di berbagai negara lain seperti Indonesia. Ada dua dampak yang dirasakan oleh Indonesia -dampak langsung dan tidak langsung. Kehidupan ekonomi suatu negara memang tidak pernah lepas dari hubungan antar negara. Hubungan antar negara diwujudkan dalam hubungan keilmuan, sosial, politik, diplomatik, ekonomi, budaya, pertahanan dan keamanan.

Krisis Timur Tengah juga melahirkan berbagai model dan varian yang juga sulit dibaca, kecuali pembacaan politik dan geopolitik yang melingkupi. Munculnya ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) adalah bagian dari kerumitan krisis di kawasan ini. Sebelumnya persoalan sengketa Israel-Palestina, muncul juga Al-Qaeda, hingga berbagai kelompok separatis semisal kelompok Houthi di Yaman dan gerakanseparatislain menjadi bagian dari varian krisis yang rumit.



Gelombang Demokrasi dan Nasionalisme SARA



Harapanperubahan yang lebihbaikadalahsuara yang berdengungmengiringigelombangrevolusi yang bergulir di kawasanTimur Tengah. Pemerintahan yang demokratis diharapkan mampu memberi ruang partisipasi publik yang lebih luas, meski dalam situasi transisi justru memiliki banyak kerentanan. Sebab, demokrasi yang berdampak positif membutuhkan prasyarat dan kondisi awal yang perlu diperhatikan. Kondisi dan prasyarat bagi demokrasi yang dibutuhkan antara lain; pengetahuan dan keterampilan politik yang memadai di antara penduduknya, dukungan elite politik terhadap demokrasi, tradisi rule of the law dan perlindungan terhadap hak asasi manusia yang kuat, tingkat perkembangan ekonomi tertentu, kebudayaan yang menunjang dan sebagainya.

Nah, jika prasyarat ini tidak terpenuhi, justru akan melahirkan kerentanan yang dimaksud, meski kebebasan menyatakan pendapat, pemilihan umum langsung yang jurdil (jujur dan adil) dan luber (langsung, umum, bebas, rahasia) bisa diselenggarakan. Kerentanan pada proses politik awal dan masa transisi demokrasi seringkali melahirkan berbagai konflik kepentingan,terlebih di kalangan elit. Sebab, suara demokrasi ditentukan melalui suara mayoritas, sehingga pihak minoritas akan tersingkir. Dan kaum elit yang di periode sebelumnya berkuasa, bisa jadi punya peluang yang sama, menjadi tersingkir, maka elit tersebut akan menggunakan sentimen nasionalisme SARA (suku, agama, ras dan antargolongan) untuk membangun kekuatan politik sesuai kepentingan elit. Dan cara-cara elit menarik sentimen SARA dalam proses pemenangan politik di era transisi demokrasi inilah yang mengganggu demokrasi yang diharapkan, bahkan tak sedikit melahirkan guncangan sosial-politik yang hebat.

Dalam bukunya, From Voting to Violence: Democratization and Nationalist Conflict, Jack Snyder mengungkapkan fakta keterkaitan antara demokratisasi dan konflik nasionalisme, dan itu banyak berhubungan dengan apa yang disebut nasionalisme SARA. Dasar legitimasinya diperoleh dengan cara benturan ras, agama, suku, golongan, bisa juga pengalaman sejarah, mitos dan seterusnya. SARA digunakan untuk memasukkan dan mengeluarkan orang dari term nasionalis, padahal ini bersifat rasis dan berangkat dari pemikiran yang sempit. Sementara perbedaan dan berbagai kesempitan dalam bentuk SARA tidak selayaknya menjadi basis demokrasi. Sebab demokrasi justru diharapkan melahirkan rasa nasionalisme yang tetap menghargai perbedaan dan tidak terkotak-kotak yang anti pluralisme.

Studi Snyder di atas menyebutkan, kebanyakan atau sebagian besar negara-negara yang tercebur dalam konflik SARA selama dasawarsa 1990-an adalah negara yaang sedang menuju tahapan transisi demokrasi. Lantas, bagi negara Indonesia yang dianggap sudah melampaui, tetapi masih menunjukkan situasi dan kondisi yang kurang lebih sama, adakah termasuk sebagian kecil dalam riset Snyder? Ada maksud yang disampaikan Snyder, bahwa dua tahun sebelum pecahnya konflik dan pertikaian SARA, umumnya dimulai dengan pra kondisi dengan menguatnya kemajuan parsial dalam hal kebebasan politik atau kebebasan sipil. Parsialitas yang merusak, menyempit dan rasis inilah yang menjadi penyubur bagi lahirnya nasionalisme SARA.

Beberapa contoh negara yang mengalami pecah SARA, antara lain di bekas Yugoslavia, antara orang Armenia dan orang bekas Soviet Azerbaijan, begitu juga di Burundi dengan minoritas Tutsi dan mayoritas Hutu. Begitu juga yang terakhir kasus SARA di kawasan Timur Tengah, semisal Mesir. Lantas bagaimana membuat nasionalisme SARA tidak muncul? Apakah demokrasi selalu melahirkan bahayanya yang juga semakin rumit dan membuat apriori? Nasionalisme sipil musti dikuatkan. Para elit, baik di level pemerintah (eksekutif, legislatif, yudikatif), maupun tokoh masyarakat dan ulama, bersama seluruh lapisan masyarakat saling menjaga situasi kondusif, tidak merasa terancam oleh proses demokratisasi, dan institusi politik (kelembagaan negara) yang ada juga saling menopang dan cukup kuat menampung proses ini.

Penguatan nasionalisme sipil, seperti digagas Kim Holmes misalnya, adalah upaya untuk membangun basis pemersatu bangsa dan menciptakan kesetaraan warga negara tanpa melihat jenis suku, ras, warna kulit, keturunan dan agama, sehingga demokrasi yang dijalankan akan memberi dampak positif dan mencapai cita-cita bangsa yang diharapkan. Dengan cara yang setipe ini pula, pemahaman dan cara pandang sektarian, dengan sendirinya juga akan memudar. Berbagai perbedaan kepentingan dan konflik bisa dilihat secara lebih utuh dengan mempertimbangakan berbagai faktor dan penyebab yang menjadi pemicu konflik, dari berbagai aspek dan latar belakang secara menyeluruh.

Akhirnya kedewasaan setiap warga, kesadaran berdemokrasi yang semakin dipahami, akan berujung pada kondisi check and balances dan menjadi pupuk untuk terwujudnya proses demokrasi yang terus membaik dan saling menjaga melalui kritik-konstruktif, sehingga melahirkan kran demokrasi yang menyehatkandan berujung pada kemakmuran negeri.



Penulis adalah Kepala Divisi Media dan Publikasi Lakpesdam PBNU



Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Habib, Lomba Siti Efi Farhati

Kamis, 01 Maret 2018

Tanpa Uang Sepeser Pun, Pasutri NU Ini Akan Keliling Dunia

Jakarta, Siti Efi Farhati?

Pasangan suami istri (pasutri) Hakam Mabruri (34) dan Rofingatul Islamiah (34) bertekad akan berkeliling dunia dengan sepeda yang didesain ditunggangi berdua. Ia berangkat dari Malang pada Sabtu 17 Desember 2016. Sampai di Jakarta pada Selasa (10/1).?

Tanpa Uang Sepeser Pun, Pasutri NU Ini Akan Keliling Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Tanpa Uang Sepeser Pun, Pasutri NU Ini Akan Keliling Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Tanpa Uang Sepeser Pun, Pasutri NU Ini Akan Keliling Dunia

Pasutri tersebut mengambil jalan bagian utara pulau Jawa. Di tiap kota, Hakam yang aktif di Gerakan Pemuda Ansor Malang, kerap bermalam di kantor GP ansor bersama istrinya. Tidak hanya itu, ia juga menemui tokoh agama di kota yang ia singgahi.?

Keduanya selalu melakukan perjalanan di siang hari. kemudian istirahat sore atau menjelang malam. kemudian berangkat esoak harinya.?

Menurut Hakam, ketika keduanya berangkat, di sakunya tak ada uang sepeser pun. Ia kemudian mendapat sumbangan dari Bupati Malang, ketika ia dilepas secara resmi oleh Bupati, GP Ansor dan beragam komunitas dari Stadion Kanjuruan .

Siti Efi Farhati

Ditanya disumbang berapa oleh Bupati, Hakam tidak mau menyebutkan nomialnya. Namun, yang jelas, ketika dia berangkat, tak mengantongi uang sepeser pun.?

Namun di perjalanan, dukungan dari berbagai pihak didapatkan dua pasangan tersebut, termasuk dana. Salah seorang menteri misalnya, yang secara kebetulan bertemu di kantor Pimpinan Pusat GP Ansor, Jakarta, Selasa malam (10/1), juga turut menyumbang dana.

Sampai saat ini, ia menyebtukan, dukungan dana dari berbagai pihak telah terkumpul dana sebesar 17 juta dan 600 Dollar.?

Mengenai perjalanannya, setelah sampai di Aceh, dia akan kembali ke Medan. Kemudian menyebrang ke Singapura. Lalu melanjutkan perjalanan darat ke Malaysia, Thailanda. Keduanya akan melewati jalur Asia Selatan seperti India, Neval. Terus ke barat, ke barat. Sementara ia akan mencoba sampai di Kairo, Mesir. (Abdullah Alawi)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Internasional, Quote, Ulama Siti Efi Farhati

Kultur Bumi Cendrawasih Dekat dengan Islam?

Jakarta, Siti Efi Farhati



Zakat adalah salah satu rukun Islam. Dan hal itu tidak bertentangan dengan kultur masyarakat Papua, ujar warga Kabupaten Jayawijaya, Papua, Tauluk Assho (60).

Kultur Bumi Cendrawasih Dekat dengan Islam? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kultur Bumi Cendrawasih Dekat dengan Islam? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kultur Bumi Cendrawasih Dekat dengan Islam?

Didampingi putranya, H Abu Hanifah Assho yang merupakan Ketua PC GP Ansor Jayawijaya, ia menjelaskan di daerahnya ada tradisi kurogo magasyarak yang artinya dipotong untuk berbagi.

“Itu kebiasaan setelah panen. Masyarakat di daerah kami biasa berbagi dengan cara seperti itu. Dan pembagiannya untuk siapa hingga yang berhak menerima siapa juga diatur,” kata dia, di Jakarta, Selasa (17/1).

Nama Assho menurut dia pula, terinspirasi dari Masjid Al-Aqsa, satu tempat suci agama Islam yang menjadi bagian dari kompleks bangunan suci di Kota Lama Yerusalem (Yerusalem Timur).

Siti Efi Farhati

“Saya tertarik masuk Islam karena Islam itu unik. Nilai-nilainya tidak jauh beda dengan kebudayaan kami,” papanrya.

Dalam hal pernikahan, contohnya kata Tauluk menjelaskan, juga tidak diperkenankan satu garis keluarga.

“Termasuk cara berinteraksi dengan masyarakat. Bagaimana cara makan, sama persis dengan Islam yang disyiarkan ke tempat kami,” ujar dia pula.

Siti Efi Farhati

Tauluk memeluk Islam sejak muda. Sejak itu, dirinya memperjuangkan dan mengajak masyarakat di daerah identik dengan sebutan Bumi Cendrawasih turut memeluk Islam kendati dengan sejumlah rintangan. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Internasional, Kajian Islam, Pertandingan Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock