Senin, 19 Maret 2018

Sambut Hari Santri IPNU Jatim Buka Enam Jenis Lomba Produk Kreatif

Surabaya, Siti Efi Farhati - Pimpinan Wilayah IPNU Jawa Timur menggelar ragam lomba untuk menyambut hari santri. Semua lomba tentunya menyentuh segmentasi pelajar atau santri.

"Ada enam jenis lomba yang akan kami gelar untuk menyambut hari santri ini," kata Haikal Atiq Zamzami saat ditemui di kantor PW IPNU Jatim, Sabtu (7/10).

Sambut Hari Santri IPNU Jatim Buka Enam Jenis Lomba Produk Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Hari Santri IPNU Jatim Buka Enam Jenis Lomba Produk Kreatif (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Hari Santri IPNU Jatim Buka Enam Jenis Lomba Produk Kreatif

Pertama lomba Videogram usia peserta maksimal 27 tahun. Video singkat tentang Abadikan Moment Khas Pesantrenmu dengan durasi maksimal 60 detik. Video itu harus diunggah di akun Instagram pribadi lalu mention @pwipnujawatimur dan sertakan tagar #HSNIPNUJATIM_VIDIOGRAM.

"Lomba ini ditutup tepat pada 16 Oktober 2017 tepat pukul 23.59 WIB," kata Sutamaji Ketua Panitia lomba.

Siti Efi Farhati

Kedua lomba Essay khusus santri, pelajar dan mahasiswa. Tema yang diangkat adalah ikhtiyar santri menjawab tantangan globalisasi. Karya harus orisinil. Diketik pada MS Word: kertas A4; margin 3-3-3-3; font Times New Roman; size 12; paragraf 1,5; before 0 pt; after 0 pt; karya maksimal 6 halaman.

Siti Efi Farhati

"Sertakan juga biodata dan dikirim ke alamat email lombahsn.ipnujatim@gmail.com," terang Sutamaji.

Ketiga membuat video gemakan kreasi lalaranmu. "Lalaran ini khusus Alfiyah dengan mengunakan alat musik seadanya dengan durasi maksimal 5 menit," terang wakil ketua IPNU Jatim ini. Caranya upload video ke youtube lalu coy linknya dan dikirim ke WhatsApp 081217501072 disertai dengan format keterangan pengirim.

Keempat adalah lomba Photography dengan tema Abadikan Moment Nyantrimu. Foto diunggah di Instagram dengan mention @pwipnujawatimur sertakan tagar #HSNIPNUJATIM_FOTOGRAFI batas akhir tanggal 16 Oktober 2017 pukul 23.59 WIB.

Kelima lomba puisi hari santri. Puisi harus berupa syair santri untuk negeri. Puisi harus disertakan cuplikan video durasi 60 detik. Dan keenam adalah Graphic Design Quote, ukir nasehat kiai mu lewat desain.

"10 quote terbaik akan mendapatkan hadiah uang tunai dua ratus ribu," terang Sutamaji.

"Semua pemenang akan kami undang pada puncak hari santri yang akan digelar di lapangan Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo pada tanggal 22 Oktober 2017," pungkas Haikal. (Rof Maulana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Khutbah Siti Efi Farhati

Peduli Sesama, Pelajar NU Bojonegoro Bagikan 300 Takjil

Bojonegoro, Siti Efi Farhati. Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulamadan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Kabupaten Bojonegoro membagikan 300 takjil di Pertigaan Jambean Jalan A. Yani Bojonegoro, Jawa Timur, paada Sabtu (3/8).

Peduli Sesama, Pelajar NU Bojonegoro Bagikan 300 Takjil (Sumber Gambar : Nu Online)
Peduli Sesama, Pelajar NU Bojonegoro Bagikan 300 Takjil (Sumber Gambar : Nu Online)

Peduli Sesama, Pelajar NU Bojonegoro Bagikan 300 Takjil

Ketua panitia pembagian takjil, Siti Masulah mengatakan, kegiatan tersebut sebagai ungkapan peduli sesama pelajar NU Bojonegoro terhadap umat Islam yang menjalankan ibadah puasa.

Ia menambahkan, aktivis pelajar NU Bojonegoro langsung terjun dengan masyarakat membagikan 300 takjil berupa es buah dan kurma. “300 paket takjil tersebut hanya berlangsung kurang 30 menit sudah habis dibagikan,” ungkapnya.

Siti Efi Farhati

Paket-paket itu, kata dia, dibagikan untuk pengguna jalan raya dan utamanya para tukang becak. Lokasinya di tiga lampu merah jurusan jalan A. Yani, Gajah Mada dan jurusan Driyen.

Siti Efi Farhati

"Tujuan barbagi takjil ini untuk berbagi dengan sesama, sesuai dengan tema Ramadhan bil Hikmah wal Barokah," ujarnya.

Sementara itu, ketua PC IPNU Bojonegoro Misbakhul Munir mengaku, memberikan takjil buka puasa untuk pengguna jalan yang kemungkinan tidak membawa bekal untuk terbuka. "Semoga ini bisa memberikan manfaat terhadap sesama," pungkasnya.

Redaktur    : Abdullah alawi

Kontributor: Muhammad Yazid

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sejarah Siti Efi Farhati

Selasa, 13 Maret 2018

Candra Malik: Banggalah Mencintai Indonesia

Kudus, Siti Efi Farhati - Wakil Ketua Lesbumi NU Candra Malik menghadiri acara Ngaji Budaya dalam rangka Konferensi Cabang IPNU-IPPNU Kudus di halaman SMKNU Maarif NU Kota setempat. Dengan gaya puitisnya, ia merefleksikan kebesaran bangsa Indonesia.

Mengawali ceramahnya, budayawan yang biasa disebut Gus Candra ini mengajak? supaya jangan pernah rela tanah air direbut oleh bangsa lain. Menurutnya, masih ada ancaman penjajahan dengan segala upaya daya untuk memiliki Indoneisa.

Candra Malik: Banggalah Mencintai Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Candra Malik: Banggalah Mencintai Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Candra Malik: Banggalah Mencintai Indonesia

?

"Penjajahan sesungguhnya adalah penjajahan terhadap anak-anak bangsa. Karenanya, setiap melahirkan anak bangsa supaya pastikan bahwa akar mereka adalah nusantara," katanya di hadapan ratusan pelajar NU Kudus, Jumat (12/8) malam itu.

?

Siti Efi Farhati

Gus Candra juga menegaskan keberadaan Pancasila di bumi Nusantara. Dikatakan, Pancasila sebagai gagasan besar yang menjadi pandangan hidup mampu menyelesaikan berbagai masalah bangsa. Pancasila sudah mengakar dalam diri masyarakat Indonesia sehingga tidak bisa diotak-atik oleh siapa pun.

"Pancasila bukan hanya pandangan negara atau bangsa tetapi selayaknya menjadi pandangan dunia," tegasnya lagi.

?

Siti Efi Farhati

Persoalannya, imbuh dia, Indonesia belum mencapai satu abad sehingga belum bisa disebut memiliki budaya. Untuk disebut memiliki budaya, katanya, Indonesia harus berumur seratus tahun. Indonesia baru mengarungi tradisi, mengarungi budi pekerti yang diberdayakan kehidupan sehari-hari sepanjang masa.

?

"Sejauh ini budi dan daya yang menjadi budaya kita masih menginduk Nusantra dan kita berjalan terus pada 100 tahun pertama. Sebagai generasi pertama, banggalah mencintai Indonesia dan pastikan Indonesia memiliki budaya yang luar biasa adi luhung-nya," tegasnya.

Selama memaparkan pandangannya, penampilan Gus Candra mampu memukau para pelajar. Terlebih lagi, ia menyanyikan? dua lagu yang berisi ajakan untuk mencintai Indonesia dan menghargai keberagamaan negeri ini. Kedua lagu itu masing-masing berjudul "Aku Orang Indonesia" dan "Lakum Diinukum Waliyadin". (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Amalan Siti Efi Farhati

Detik-detik Wafatnya Tokoh NU Subchan ZE

Hari Ahad 16 DzulHijjah 1392 bertepatan 21 Januari 1973, penulis mendampingi Subchan ZE keliling balad Jeddah. Di dalam mobil, penulis dengan lugu bertanya: "Di koran pak Subchan diberitakan akan kawin. Dengan siapa, Pak?". "Betul, tapi yang mau kawin itu pikiran Subchan dengan pikiran Soeharto", jawabnya.

Lalu tanya penulis: "Bagaimana dengan isu miring bahwa Pak Subchan punya hobi ke dumang, dunia remang-remang, klub malam. Kan bapak seorang tokoh NU?"

Jawabnya: "Subchan ZE Wakil Ketua MPRS-RI itu selalu berada di tempat tidak jauh dari mobil B 4 parkir. Termasuk di night club itu betul tetapi ingat, sebagai Wakil Ketua MPRS, petinggi NU, dan seorang Muslim pada dasarnya adalah Muballigh, yang harus menyampaikan pesan Rasul walau hanya seayat. Coba siapa dari para kiai dan atau dai yang berani tanpa sembunyi-sembunyi nyambang tempat remang-remang untuk antarkan nasihat, nanting kembali ke jalan yang benar. Bukankah dakwah justru lebih dibutuhkan di tempat seperti itu daripada di mesjid dan surau?”

“Harus diingat,” sambungnya, “bahwa apapun yang kita lakukan, niat adalah hal pokok. Maka bulatkan tekad bahwa segalanya diniatkan untuk ibadah pada Allah dalam berkhidmah melayani kepentingan umat. Serahkan diri artinya niatkan semuanya hanya untuk memperoleh ridlo Allah sehingga kelak bisa menemuiNya dengan hati yang damai.”

Detik-detik Wafatnya Tokoh NU Subchan ZE (Sumber Gambar : Nu Online)
Detik-detik Wafatnya Tokoh NU Subchan ZE (Sumber Gambar : Nu Online)

Detik-detik Wafatnya Tokoh NU Subchan ZE

Ia lantas mengutip ayat ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? laa yanfau maalun wa laa banuuna illaa man ata-Llaaha bi-qalbin saliim, yakni: tidak akan berguna harta dan anak keturunan kecuali siapa yang datang menemui Allah dengan hati yang damai. Dan menyampaikan petikan hadits ? ? Ad-Diinu nashiihah. Agama adalah nasihat.

“Maka nasihatku, jika nanti kamu berniat terjun kiprah di politik, tebalkan terlebih dahulu bantalanmu. Jangan heran dan jangan gamang, jika datang menerpamu isu masuk partai untuk memperkaya diri. Lihatlah nanti setelah saya istirahat panjang, apakah saya masuk NU untuk memperkaya diri ataukah benar untuk berkhidmat bagi kepentingan umat? Kini saatnya, kuingin bangun hotel di Mekkah. Kumau istirahat panjang."

Siti Efi Farhati

Subhanallah, Pak Subchan ZE ternyata bukan hanya politikus ulung, tetapi juga kiai yang mumpuni. Ketika ditanya, "Kenapa Pak Subchan tidak membalas balik serangan pihak yang mendiskreditkan?" Jawabnya: "Man satara musliman satarahulLaahu fid-dunyaa wal-aakhiroh. Siapa menutupi (cela/aib/keburukan) seseorang Muslim maka Allah menutupi (cela/aib/keburukan)-nya di dunia dan akhirat.”

Dari sejak pagi perjumpaan hari itu, penulis sudah menyampaikan keinginan teman-teman agar Pak Subchan berkenan singgah di gubuk kami di Baghdadiyah Jeddah, dekat Hotel AlAttas. Maka adalah sebuah "barokah", kebetulan ketika itu tak satu pun kamar hotel di Jeddah yang kosong, maka Pak Subchan tidak memiliki alasan untuk tidak singgah ke gubuk tempat kami para kerabat mahasiswa/alumni Timur Tengah kumpul-kumpul.

Selanjutnya, setelah qailuulah atau tidur siang sejenak, kemudian mandi sore dan shalat, seraya mengikat tali sepatu beliau bersenandung, "Yang hilang tak kan kembali..." Serta merta penulis bilang: "Wah, Pak Subchan, bisa-bisa ngalahin Bob Tutupoli!"Sambil tersenyum lebar beliau merespon: "Oh ya? Tapi janganlah.. Kasihan nanti para penyanyi bisa kehilangan job."

Siti Efi Farhati

Kemudian beliau berpamitan untuk ke Mekkah dan Medinah menggunakan mobil Mercides warna putih milik Pak Abdullah Sumbawa, didampingi Pak Faisal Rochlan (adik beliau) dan Pak Nur (pemilik Percetakan Menara Kudus). Penulis ingat persis, hari Ahad 16 DzulHijjah 1392 atau tanggal 21 Januari 1973, sudah berselang empat dasawarsa lebih, tapi rasanya seakan baru saja kemarin beliau tiga kali menoleh ke penulis dan teman-teman seraya berucap: "Selamat tinggal... Fii AmaanilLaah!"

Usai maghrib, ketika itu bersama keluarga Cak Bakrin Kafi, penulis sedang menjamu Kepala Inkopad, Pak Brigjen Djoko Basoeki sekeluarga, datanglah sahabat penulis bernama Yazid Ramli dari Mekkah membawa berita dukacita. Di luar pintu Yazid Ramli memeluk lunglai penulis yang dengan suara lirih bertanya: "Kenapa? Pak Subchan?!" Berbareng kami mengucap lirih: "Innaa lilLaahi wa innaa ilaiHi roojiuun".

Malam itu Cak Bakrin Kafi dan penulis tidak sampai hati untuk menginformasikan berita duka cita itu ke Pak Brigjen Djoko Basoeki, yang pamitan mau terbang ke Amerika untuk suatu tugas, dan keluarga terbang pulang ke Jakarta.

Musim haji tahun 1392/1973 itu Amiirul-Haj Indonesia adalah Pak Jenderal Amir Machmud, Menteri Dalam Negeri RI, Ketua Umum Golkar. Maka tentunya dapat dibayangkan, isu politik seperti apa yang sangat mungkin serta merta dapat mencuat menjelma menjadi malapetaka amat dahsyat di Indonesia. Khususnya di Jawa Timur, belahan Nusantara basis kaum santri dan Nahdliyiin. Karena itu, penulis segera mencoba-yakinkan Cak Bakrin Kafi, putra Kiai Cholil Bangkalan Madura, untuk melakukan tindakan darurat demi keamanan situasi negeri tercinta dengan menangkal kemungkinan hembusan fitnah. 

Alhamdulillah Cak Bakrin tanggap, maka malam itu juga bersama penulis ke Telkom Jeddah (musim haji buka 24 jam) mengirim dua telegram (isi berita sama, yaitu: "kilat":

"Innaa lilLaahi wa innaa ilaihi raajiuun, telah berpulang ke rahmatulah SWT almarhum haji Subchan ZE karena kecelakaan murni, ulangi karena kecelakaan murni, di Wadi Fatmah dalam perjalanan darat dari Mekkah ke Medinah. Semoga Allah SWT menerima amal ibadahnya serta mengampuni segala dosanya dan membangunkan tempat mulia di taman surgaNya, sementara ahli keluarga dan kita yang ditinggalkan tetap tabah, tawakkal dan tulus ikhlash mendoakannya disertai membaca al-faatihah. Demikian, Bakrin Kafi dan Muzammil Basyuni) masing-masing dialamatkan ke Kantor PBNU, Jl. Kramat Raya - Jakarta Pusat; dan

Keluarga Bapak Subchan ZE. AlMarhum, Jl. Banyumas No.4, Menteng, Jakarta Pusat.

Sopir Pak Subchan ZE, yaitu Syauqi Thohir Rochili, putra Pengasuh Ponpes AtTahiriyah  Kampung Melayu, Jatinegara, sempat ditahan di penjara, lalu dibebaskan atas permohonan keluarga AlMarhum. 

Subhanallah, Maha Suci Allah. Waktu itu dua sesepuh: Al-Mukarram KH. Bisri Syamsuri, Rais Aam NU (yang mengskors Pak Subchan ZE dalam kepengurusan struktural PBNU); dan Al-Mukarram KH Ali Maksum, Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogya, guru besar penulis, juga menunaikan haji bersama keluarga.

Sungguh amat mengharukan ketika di acara Tahlil di Bait Indonesia Jiyad Mekkah, Al-Mukarram Rais Aam NU meminta kesaksian para hadirin atas pernyataan beliau merehabilitasi nama harum Pak Subchan ZE rahimahullaah, dan secara eksplisit juga menyatakan mencabut keputusan skorsnya tersebut di atas. 

Dan penulis bersyukur bahwa pada malam itu Al-Mukarram KH Ali Maksum telah berkenan untuk melakukan Talqiin keesokan harinya bakda dluhur, pada acara pemakaman Almarhum di Mala Mekkah.

Allah Maha Besar lagi Maha Mendengar, Pak Subchan ZE telah memperoleh restuNya membangun "hotel"-nya di Mala Mekkah dan istirahat panjang.

 

                          ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. "Yaa ayyatuhan-nafsul-muthmainnah. Irjiii ilaa Rabbiki râdliyatan mardliyyah.. fadkhul fî ibâdî wadkhulî jannatî."

 

 

Muzammil Basyuni. Dubes RI untuk Rep. Arab Suriah 2006-2010.

Arinda, 21 Januari 2011.

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Doa, Humor Islam, AlaNu Siti Efi Farhati

Minggu, 11 Maret 2018

Muslimat NU Sukses Pecahkan Dua Rekor Muri pada Puncak Harlah

Malang, Siti Efi Farhati

Muslimat NU telah berusia genap 70 tahun. Puncak peringatan hari lahir (harlah) yang digelar di Stadion Gajayana, Kota Malang, Jawa Timur, kali ini jauh lebih meriah dibandingkan sebelumnya. Tak tanggung-tanggung dalam satu acara organisasi kaum ibu ini memecahkan dua rekor Muri (Musium Rekor Indonesia) sekaligus.

Muslimat NU Sukses Pecahkan Dua Rekor Muri pada Puncak Harlah (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Sukses Pecahkan Dua Rekor Muri pada Puncak Harlah (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Sukses Pecahkan Dua Rekor Muri pada Puncak Harlah

Pertama, lautan manusia berjilbab hijau dengan jumlah 50 ribu peserta yang dalam kurun waktu 10 detik berubah menjadi putih. Seketika Stadion kebanggaan Aremania ini menjadi putih. Tak lama dari itu, seluruh peserta secara serentak menabuh rebana mengumandangkan shalawat Nabi diiringi oleh paduan suara Muslimat dan el-Kiswah Surabaya. Seluruh pejabat yang hadir juga tak ketinggalan menabuh rebana. Aksi ini tercatat sebagai rekor kedua yang dipecahkan Muslimat NU pada acara akbar ini. Suasana Stadion Gajayana semakin semarak setelah 1941 pelajar dan santri NU se-Malang membentuk konfigurasi harlah ke-70 Muslimat NU.

Wakil Ketua Umum dan Direktur Utama MURI Aylawati Sarwono dan Senior Manager MURI Awan Rahargo hadir menyaksikan pemecahan rekor ini.

Siti Efi Farhati

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa mengatakan, agenda pemecahan rekor tidak bertujuan mencari sensasi belaka. Namun pemecahan rekor tersebut menyampaikan pesan bahwa Muslimat NU senantiasa menguatkan UKM dan industri kreatif yang diinisiasi kaum perempuan. "Kemandirian adalah ciri khas Muslimat NU," tandasnya.

Puncak Peringatan Harlah Ke-70 Muslimat NU dihadiri oleh puluhan ribu anggotanya yang tersebar di seluruh Indonesia. Harlah Ke-70 Muslimat NU yang bertema "Bersatu Mewujudkan Indonesia Damai Sejahtera" kali ini bertujuan untuk membuka sarana silaturahmi dan konsolidasi nasional Muslimat NU dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Siti Efi Farhati

Presiden Jokowi hadir bersama menteri kabinet kerja, tampak dideretan terdepan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Zulkifli Hasan, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Rais Aam PBNU KH Maruf Amin, Gubernur Jatim Soekarwo, Istri Presiden RI keempat KH Abdurrahman Wahid Sinta Nuriyah, dan Yenni Wahid. (Rof Maulana/Mahbib)

 Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Amalan, Ulama Siti Efi Farhati

MATAN, Memperkuat Islam Indonesia dan NKRI dengan Tarekat

Tangerang Selatan, Siti Efi Farhati

Negara-negara Islam di Timur Tengah saat ini tengah dilanda krisis dan konflik berkepanjangan. Seakan tak tampak lagi wajah Islam yang santun dan berkeadaban. Hari-hari selalu dihiasi dengan perang, pembunuhan, dan tragedi. Ini menunjukkan model keberagamaan Islam dan sistem yang dibangun di sana tak mampu menjawab tantangan sosial, ekonomi, dan politik yang terjadi.?

MATAN, Memperkuat Islam Indonesia dan NKRI dengan Tarekat (Sumber Gambar : Nu Online)
MATAN, Memperkuat Islam Indonesia dan NKRI dengan Tarekat (Sumber Gambar : Nu Online)

MATAN, Memperkuat Islam Indonesia dan NKRI dengan Tarekat

“Lain halnya dengan Indonesia. Negeri yang berpenghuni muslim terbesar sedunia ini, jauh lebih mampu mengamalkan ajaran Islam dengan baik dan memasukkan nilai-nilai ajaran Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” terang KH Wahfiuddin Sakam saat menyampaikan taushiyah usai pelantikan pengurus Mahasiswa Ahli al-Thariqah al-Mu’tabarah al-Nahdliyah (MATAN) Cabang Ciputat, Tangerang Selatan dan Komisariat STAINU Jakarta, UNU Indonesia, UI, IPB, UNJ, dan STIKIP Kusuma Negara, Senin (11/4) lalu.

Mengapa ini bisa terjadi? Kiai Wahfi menjelaskan, karena umat Islam Indonesia mampu menerapkan tiga pilar ajaran Islam, yaitu Iman, Islam, dan Ihsan. Ia mengibaratkan tiga pilar itu ibarat tripod yang mampu menyanggah dan tegak dengan gagah. Bila salah satu pilarnya tak lurus, maka tripod tersebut akan roboh dan tak mampu menyanggah beban.?

Tiga pilar itu jika diterjemahkan secara sederhana berarti aqidah (iman), syariah (Islam), dan tasawuf (ihsan). Ketiga pilar ini tidak bisa dipisah-pisah, tapi harus menyatu dan berdiri kokoh dalam diri seorang muslim. Hal ini sebagaimana tercermin dalam sejarah kejayaan Islam di masa lalu.?

Siti Efi Farhati

“Ketika saya melakukan ekspedisi napak tilas kejayaan Islam di Eropa dan juga Timur Tengah, saya datang ke makam-makan ulama besar dan pemikir di sana, ternyata mereka semua adalah orang sufi pengamal tarekat,” terang Kiai Wafi yang juga Mudhir JATMAN (Jamiyah Ahli al-Thariqah al-Mu’tabarah al-Nahdliyah) DKI Jakarta.?

Kebesaran Islam di Indonesia juga tak lepas dari guru-guru mursyid Tarekat. Syeikh Nawawi al-Bantani, Syekh Yasin al-Fadani, Syaikh Khotib Sambas, Syeikh Nuruddin ar-Raniri, Syeikh Abdusshamad al-Palimbangi, dan juga para wali penyebar Islam di Nusantara, semuanya adalah muslim pengamal tarekat.?

“Karena itu, Islam yang mereka ajarkan di Indonesia, tidak hanya menggunakan pendekatan fiqih-formalistik yang cederung hitam-putih, tapi juga memperkuat ajaran Islam yang santun, ramah, dan toleran terhadap perbedaan,” tegasnya.

NKRI adalah bukti nyata buah karya ulama ahli tarekat yang mampu memadupadankan ajaran Islam dalam konteks berbangsa dan bernegara. Untuk itu, supaya tiga pilar tadi dapat berdiri dengan kokoh, ajaran tarekat tidak hanya dilakukan oleh generasi tua, tapi juga harus diamalkan oleh generasi muda, yaitu para mahasiswa. Ini penting, karena korupsi dan kolusi yang memporkak-porandakan negeri ini dilakukan oleh para pejabat, yang mereka semua adalah mantan mahasiswa.?

Siti Efi Farhati

“Untuk itu, organisasi MATAN hadir di tengah-tengah kampus untuk menanamkan amalan tarekat, agar generasi muda Indoesia tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter Iman, Islam, dan Ihsan,” pungkas Kiai Wahfi. (Abdullah Ubaid/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Sunnah, Nasional, Tokoh Siti Efi Farhati

Jumat, 09 Maret 2018

Pagelaran Wayang 11 Malam Pesantren Kaliopak Dimulai

Yogyakarta, Siti Efi Farhati. Pagelarang Wayang yang diadakan Pesantren Kaliopak selama 11 Malam, dengan 11 Lakon, dan 11 Dalang, telah resmi dibuka perwakilan Gubernur DIY, GBPH Yudhoningrat, yang merupakan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata DIY, Senin (30/09) malam, di Alun-alun Utara Yogyakarta. 

Pengasuh Pesantren Kaliopak, M. Jadul Maula, dalam sambutannya mengatakan, Pagelaran Wayang tahun ini memang sedikit berbeda dengan Pagelaran Wayang pada tahun 2011 dahulu. 

Pagelaran Wayang 11 Malam Pesantren Kaliopak Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagelaran Wayang 11 Malam Pesantren Kaliopak Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagelaran Wayang 11 Malam Pesantren Kaliopak Dimulai

“Jika tahun 2011 kita mengadakan Pagelaran Wayang selama 11 malam hanya di Alun-alun saja, maka tahun ini ada permintaan dari masyarakat agar Pagelaran Wayang diadakan secara bergilir meliputi seluruh kabupaten yang ada di Yogyakarta,” ujarnya di depan penonton.

Siti Efi Farhati

Oleh karena itu, lanjutnya, Pagelaran Wayang tahun ini diadakan di lima tempat, yakni Alun-alun Utara, Lapangan Prancak Panggungharjo Sewon, Lapangan Pesantren Pandanaran, Lapangan Piyungan, dan terakhir di Puro Pakualaman saat penutupan tanggal 10 Oktober 2013 nanti.

Pria yang akrab disapa Kang Jadul itu pun menambahkan, kegiatan Milenium Kalijaga tersebut rutin akan diadakan dua tahun sekali sebagai bentuk nguri-nguri (melestarikan) dan mempelajari ajaran leluhur, khususnya Sunan Kalijaga. Oleh karenanya, ia sekaligus memohon doa restu dan dukungan dari seluruh pihak agar ke depan kegiatan tersebut tetap dapat terlaksana.

Siti Efi Farhati

Sementara itu, GBPH Yudhoningrat malam itu membacakan surat Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X. Dalam suratnya, Sultan HB X selaku Gubernur DIY begitu mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan Pesantren Kaliopak tersebut, agar seni dan budaya tetap terjaga. Selain itu, dengan adanya Pagelaran Wayang ajaran Sunan Kalijaga tersebut dipandang dapat menghibur masyarakat dengan budaya religi. 

Gubernur DIY dalam surat tersebut juga mengatakan akan pentingnya menjaga seni dan budaya sebagai warisan leluhur. Bahkan tidak hanya kelestariannya yang perlu dijaga, melainkan juga perkembangannya, karena seni dan budaya dapat mengasah ketajaman batin manusia.

Setelah membacakan surat Gubernur, acara dilanjutkan dengan penyerahan Wayang secara simbolis dari GBPH Yudhoningrat kepada Dalang Ki Suhar Cermo Djiwandono, sebagai tanda bahwa Pagelaran Wayang selam 11 malam ke depan telah resmi dibuka. 

Sebelumnya, penonton juga disuguhi penampilan Tarian dari Sulawesi Selatan yang dibawakan oleh 7 perempuan dan 2 laki-laki sebagai pengisi pra acara. (Dwi Khoirotun Nisa’/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pendidikan Siti Efi Farhati

Yu Timah

Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami. Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini sudah berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta.

Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri.

Yu Timah (Sumber Gambar : Nu Online)
Yu Timah (Sumber Gambar : Nu Online)

Yu Timah

Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah. Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu Timah perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara.

Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah tangga. Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat miskin itu.

Siti Efi Farhati

Siti Efi Farhati

Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa.

Tapi Yu Timah bertahan. Dan nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya.

Setelah emaknya meninggal Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini zaman apa. Anak itu harus cari makan. Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga dan lagi-lagi terdampar di Jakarta . Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah kembali hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi bungkus. Untung di kampung kami ada pesantren kecil. Para santrinya adalah anak-anak petani yang biasa makan nasi seperti yang dijual Yu Timah.

Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa menabung di bank perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut jadi pengurus.

Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan hingga Rp 250 ribu. Dan sejak itu saya melihat Yu Timah memakai cincin emas. Yah, emas. Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah persoalan mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.

Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah.

“Pak, saya mau mengambil tabungan,” kata Yu Timah dengan suaranya yang kecil.

“O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah tutup. Bagaimana bila Senin?”

“Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.”

“Mau ambil berapa?” tanya saya.

“Enam ratus ribu, Pak.”

“Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?”

Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu.

“Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.”

Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya. Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli kambing kurban.

“Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus ribu. Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi, apakah niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?”

“Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama Ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi daging kurban.”

“Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.”

Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.

Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri.

“Kapankah Yu Timah mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya?” Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu tidak mengubah watak orangnya. Mungkin saya juga begitu.

Ah, Yu Timah, saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji, namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu malah kamu belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur sebelum kamu naik haji.

?

Keterangan ilustrasi: Lukisan Affandi berjudul Pileuleuyan Ibu

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Pondok Pesantren Siti Efi Farhati

Kamis, 08 Maret 2018

Presiden Jokowi Setuju untuk Memperkuat Pendidikan Diniyah dan Pesantren

Jakarta, Siti Efi Farhati. Guna mengantisipasi perubahan di dunia yang sangat cepat, Presiden Joko Widodo (Jokowi) setuju agar pendidikan diniyah, pendidikan keagamaan di pesantren-pesantren harus diperkuat.

“Perubahan seperti ini bisa menjadikan kita baik, bisa menjadikan kita tidak baik. Inilah tugas kita mengantisipasi. Bagaimana membangun karakter-karakter anak-anak kita, yang bisa menjaga harkat bangsa ini dari arus-arus perubahan global yang begitu sangat cepatnya,” kata Presiden Jokowi saat menghadiri Penutupan Musyawarah Kerja Nasional II dan Workshop Nasional (Bimbingan Teknis) Anggota DPRD PPP Se-Indonesia, di Hotel Mercure Ancol, Jakarta, Jumat (21/7) siang.?

Presiden Jokowi Setuju untuk Memperkuat Pendidikan Diniyah dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden Jokowi Setuju untuk Memperkuat Pendidikan Diniyah dan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden Jokowi Setuju untuk Memperkuat Pendidikan Diniyah dan Pesantren

Kepala Negara mengingatkan kepada semua pihak untuk berhati-hati, karena 5 tahun yang akan datang, kemudian 10 tahun yang akan datang akan ada perubahan yang sangat drastis.

Ia menyebutkan, ada yang namanya generasi W, generasi Y, yang sekarang baru berumur 15 tahun, berumur 20 tahun, berumur 25 tahun. Selanjutnya, Presiden menambahkan yang 5 tahun lagi akan masuk pasar, akan masuk dan men-drive, mengemudikan perubahan-perubahan itu.

“Generasi Y ini, generasi W, 10 tahun yang akan datang, mereka akan menguasai dan mempengaruhi pasar,” ujar mantan Gubernur DKI Jakarta ini.

Siti Efi Farhati

Oleh sebab itu, tutur Jokowi, sekarang saatnya kita mengisi mereka dengan sebuah karakter-karakter yang baik, sehingga perubahan itu tidak mengubah wajah keislaman kita.

“Inilah yang harus diantisipasi. Banyak dari kita yang belum sadar akan perubahan yang sangat cepat ini,” tutur mantan Wali Kota Solo, Jawa Tengah ini.

Menurut Presiden, nantinya, entah apakah ada lagi yang baca koran, mungkin sangat sedikit sekali. Presiden juga menambahkan bahwa kemungkinan tidak ada yang lihat TV lagi, karena yang namanya generasi Y, setiap hari membawa smartphone, berita juga klik di situ, berita-berita online.?

Siti Efi Farhati

Presiden juga menambahkan bahwa generasi berikutnya tidak lihat TV karena nanti yang laku adalah Netflix, video-video yang langsung bisa dilihat di dalam smartphone itu.

“Kalau kita dari sekarang tidak menyiapkan mereka, mengisi mereka dengan jiwa-jiwa yang mulia, dengan jiwa-jiwa baik. Apakah yang akan terjadi?” tanya Presiden.

Inilah, lanjutnya, yang perlu dirinya mengingatkan, menyadarkan pada kita semuanya, bahwa perubahan itu sudah di depan kita.

“Oleh sebab itu, sekali lagi, memperkuat pendidikan diniyah, memperkuat pendidikan pondok-pondok pesantren, memperkuat pendidikan keagamaan yang masih, itu menjadi kunci agar perubahan itu tidak mengubah kita,” tutur Presiden Jokowi.

Tampak hadir dalam acara tersebut antara lain, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang KH Maimoen Zubair, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Kepala Staf Kepresidenan, Teten Masduki, dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. (setkab.go.id/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Budaya, Cerita, Internasional Siti Efi Farhati

Sabtu, 03 Maret 2018

GP Ansor Gumukmas Pukul Rebana

Jember, Siti Efi Farhati. Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Gumukmas kabupaten Jember, Selasa (5/5) memperingati Harlah Ke-92 NU di aula gedung MWCNU Gumukmas. Peringatan yang dirangkai dengan kegiatan rutin Majelis Dzikir dan Shalawat "Rijalul Anshor" ini, digelar sederhana namun cukup khidmat yang dipenuhi tabuhan rebana.

GP Ansor Gumukmas Pukul Rebana (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Gumukmas Pukul Rebana (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Gumukmas Pukul Rebana

Ketua GP Ansor Gumukmas Ghufron Asruri berharap Ansor dan MWCNU terus bersinergi untuk melayani dan mengadvoasi masyarakat, khususnya warga NU yang berada di tingkat ranting. 

"Mereka butuh sentuhan kita, butuh sentuhan NU dan Ansor. Mereka merupakan NU masa depan. Kalau kita tidak mengurusi pemuda-pemuda yang banyak bertebaran di desa-desa itu, masa depan NU juga akan semakin suram" ujarnya.

Siti Efi Farhati

Kepala Madrasah Ibtidaiyah Karanganyar 03 itu menambahkan, pihaknya ingin menghidupkan kantor MWCNU dengan menyelenggarakan berbagai kegiatan, terutama saat bulan Ramadhan. Dengan adanya kegiatan tersebut, katanya, kantor NU bisa tampak hidup dan dapat memberi memberi manfaat.

Siti Efi Farhati

"Jangan sampai pamor kantor NU kalah dengan pamor Gereja. Kita buat nanti orang akan bertanya, gereja itu berada di sebelahnya kantor NU, bukan kantor NU di sebelahnya gereja," ungkapnya seraya menyindir, karena memang  beberapa meter dari kantor MWCNU, berdiri Gereja. 

Sementara itu Drs. KH Idris Sholeh, Rois Syuriah MWC NU Gumukmas, sangat mengapresiasi terhadap mulai menggeliyatnya kegiatan Ansor Gumukmas. Ia berjanji, kapanpun Ansor mengadakan kegiatan, dirinya  siap untuk mendampingi, "Tidak usah diundang, cukup SMS, saya siap hadir. Jiwa saya ini masih Ansor," jelasnya.

Kendati diperingati sederhana, namun yang hadir cukup banyak. Mereka adalah para tokoh masyarakat, pengurus Ranting Ansor dan NU se-Kecamatan Gumukmas, dan juga salah satu Pimpinan Wilayah GP Ansor Jawa Timur yang berdomisili di Gumukmas, Abd Rohim (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Bahtsul Masail Siti Efi Farhati

Makna Idul Fitri dan Sebuah Kemenangan

Oleh Aguk Irawan MN

Dua baris kalimat; Mohon Maaf Lahir Batin, Minal Aidin wal Faizin merupakan sebuah idiom yang biasa kita ucapkan saat menjelang atau lebaran/hari raya Idul Fitri tiba. Bahkan kata ini tidak saja diucapkan banyak jutaan muslim di? Indonesia, tapi juga mungkin jutaan kali ditulis dan begitu cepat menyebar ke perangkat eloktronik seperti HP dan Android.

Makna Idul Fitri dan Sebuah Kemenangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Idul Fitri dan Sebuah Kemenangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna Idul Fitri dan Sebuah Kemenangan

Hanya saja seringkali kita mengucapkan rangkaian idiom “Minal Aidin wal Faizin” yang seakan-akan itu terjemahannya adalah “Mohon Maaf Lahir dan Batin.” Padahal kedua idiom ini tidaklah demikian arti atau maknanya dan boleh dikatakan memiliki pesan yang berbeda, meskipun bila ditelusur dan coba dihubungkan masih saling terkait.

Siti Efi Farhati

Tetapi, jika itu terpaksa dibedakan, maka “Minal Aidin wal Faizin” lebih menyimpan arti pencapaian seorang mukmin setelah berpuasa penuh dan melawan hawa nafsunya dengan beribadah kepada Tuhannya di bulan Ramadhan (vertikal), sedangkan “Mohon Maaf Lahir Batin” lebih mengisyaratkan apa yang sedang dilakukan mukmin pasca bulan Ramadhan yaitu pada hari raya Idhul Fitri memperetat kembali hubungan sosial dengan sesama (horisontal). Maka “Minal Aidin wal Faizin” “Minal Aidin” (Semoga termasuk orang yang kembali pada kesucian) dan “wal Faizin” (semoga beroleh kemenangan setelah berdamai dan saling memaafkan).

Lebih dari itu, menurut pakar bahasa, terutama dari Ibnu Mandzur, kata fithri (fa-tha-ra) setidaknnya mencakup enam hal penting, yaitu kesucian, kekuatan, jati diri, asal usul kejadian, memakai pakaian taqwa dan dinnul Islam. Maka bila digabung kata itu menjadi Idul Fitri, artinya kita berharap akan kembali ke kesucian diri kita, kembali ke asal usul kita, kembali ke jati diri kita, kembali memakai pakaian taqwa, kembali ke kekuatan kita dan kembali ke dinnul Islam. Untuk keenam arti ini mari kita bahas satu persatu dan kita renungkan maknanya:

Siti Efi Farhati

Pertama, kata fithri atau fitrah jika diartikan suci atau kesucian, maka ia harus memenuhi tiga unsur inti, yaitu keindahan yang menggetarkan, kebenaran yang bisa diterima dan kebaikan yang bisa dibuktikan. Dari konsekwensi ini, maka kembali ke fithri artinya kita harus menciptakan keindahan (seni), menerima kebenaran dengan menambah ilmu (sains) dan berbuat baik atau amal sholeh yang melahirkan akhlaqul karimah. Itulah makna idul fithri buah dari pendidikan Ramadhan untuk mengantarkan kita menjadi seniman, ilmuwan sekaligus budiman.

Kedua, kata fithri disebut sebagai kekuatan, karena sebulan penuh shaimin dan shaimat mempunyai kekuatan untuk mengendalikan hawa nafsu. Dengan kekuatan itulah kaum Muslimin melakukan jihad akbar mengendalikan hawa nafsunya? dan ia akan menjadi kuat, makanya begitu tiba Idul Fithri, diharapkan seorang mukmin dapat kekuatan baru.

Ketiga, pengertian fithri (fitrah) jika bermakna asal kejadian ini dikaitkan dengan manusia bisa diberikan beberapa contoh, antara lain manusia berjalan dengan kakinya, melihat dengan matanya, mendengar dengan telinganya, merasa dengan hatinya dan berpikir dengan akalnya. Konsekwensi dari pengertian ini, maka kita menjadi salah jika ingin berjalan dengan tangan, melihat dengan telinga dan berpikir dengan mulut, atau salah jika kita mengukur kesalahan dan kebenaran atau kesedihan dan kebahagiaan dengan alat timbangan atau alat ukur meteran dan seterusnya, itulah fitrah.

Masih dalam pengertian fitrah sebagai asal kejadian, maka kita pun harus menempatkan hati sebagai tempatnya iman, dan bukan di akal, karena akal selalu menolak hal-hal yang tak bisa dicerna oleh indrawi, dan tugas akal hanya untuk mengukuhkan iman.

Keempat, kata fithri secara maknawi ada juga yang mentakwil dengan arti memakai pakain. Tentu yang dimaksud memakai pakaian disini adalah pakaian taqwa, sebagaimana yang disyaratkan dalam surat al-Baqarah, ayat 183, bahwa tujuan berpuasa adalah supaya kita bertaqwa. Selama Ramahdhan kita sudah menenun sepanjang hari, dan saat idul fitri itulah kita memakai pakaian taqwa agar meningkat (Syawal) jati diri kita. Dalam konteks ini kita mengingat pesan Ilahi: Janganlah kita menjadi seperti seorang perempuan dalam cerita lama, ia mengurai kembali hasil tenunanya yang rapi sehelai benang demi sehelai sehingga tercerai-berai (an-Nahl, 92). Artinya madrasah puasa selama sebulan itu harus terus kita pakai (fithri) sampai setahun mendatang, bahkan lebih.

Puasa diibaratkan seperti menenun atau menjahit pakaian ini juga seperti yang sudah dicontohkan ulat yang bertapa dalam tenunannya (kepompong), setelah selesai menenun, ia memakai sayapnya yang indah untuk terbang (kupu-kupu), atau bisa juga diibaratkan sang laba-laba yang menenun rumahnya sehelai demi helai, kemudian ia memakai (fithri) agar ia menjadi tenang hidupnya.

Kelima, kata fithri berarti jati diri. Jati diri manusia adalah sebagai khalifah, yaitu makhluk termulia, penghuni surga, tetapi dalam waktu bersamaan juga makhluk yang berlumur dosa. Kenapa? Karena ia dibekali hawa nafsu, juga dibekali hati nurani, yaitu gabungan antara hati yang tajam dan pikiran yang jernih untuk menahan diri dari dorongan nafsu hewani. Sehingga seorang mukmin dikatakan “kembali ke fitrah” itu artinya ia kembali ke jati diri, karena ia sanggup menahan hawa nafsu dengan hati-nuraninya atau sebaliknya, seorang mukmin belumlah dikatakan kembali ke fitrah bila hawa nafsunya mendorongnya untuk bersikap liar dan tak terkendali.

Keenam, jika fithri diartikan dinnul al-islam, islam secara bahasa bentuk masdar dari sa-la-ma yaitu perdamaian atau ketertundukkan. Konsekwensi dari kata damai atau tunduk ini mengandung tiga unsur inti, yaitu kita sebagai hamba harus merasa damai dengan Tuhan, yaitu harus tunduk dengan cara meninggalkan semua larangan-Nya dan menjalankan segala perintah-Nya dengan (dan) tanpa paksaan apapun. Selanjutnya, kata damai berarti kita harus bisa merangkul kembali yang bercerai berai dari sesama, menghilangkan sekat-sekat dan api permusuhan, serta menepis perbedaan-perbedaan yang mengakibatkan percikan kebencian. Ketiga berdamai dengan alam, dengan tidak terlalu mengekploitasinya, sehingga mengakibatkan kehancuran atau bencana, itulah buah dari Ramadhahan sebulan penuh.

Selain keenam makna di atas ada yang berpendapat fithri berarti futhur artinya berbuka. Artinya saat nafsu perut terbuka dan kembali merajalela, hati-hatilah dengan jati diri anda. Hati-hatilah dengan rezeki yang tidak halal, hat-hatilah dengan sikap benci yang berlebihan dan permusuhan, yang semua itu mengarah pada kehilangan jati diri kita yang sesungguhnya. Itu berarti Idul Fitri berarti momentum yang baik buat berdamai dan saling memaafkan.

Lantas ada apa maksud dari kata Faizin? Menurut Ibnu Mandzur dalam Lisanul Arabi, juga kamus Munawwir dan Mauwrid, kata faizin tercerabut dari kata faza-fauzan-faizin, yang artinya adalah na-lahu bihi fauzan, yaitu memperoleh kesuksesan atau kemenangan, bisa juga halaka wa mata, seperti kalimat wafauza arrajulu, artinya adalah seseorang telah mengalahkan atau membinaskan, bisa juga berarti an-naja atau minal makruhi; selamat dan terhindar dari sesuatu yang bahaya, dan terakhir, bisa bermakna fauza at-thariq atau bada wa dhahara (sesuatu yang nampak terang atau berkilau). Mari kita bahas satu persatu.

Pertama, adalah bermakna kesuksesan atau kemenangan. Idul Fitri dapat disebut hari raya kemenangan. Pada hari itu, karena kaum beriman yang telah menunaikan ibadah Ramadhan meraih kemenangan dan seperti dengan terlahir kembali kepada fitrah kemanusiaan yang suci dan kuat hati. Mengapa harus ada yang menang dan ada yang kalah? Karena faktanya, kita diberi nafsu, dan ini punya pesan simbolik untuk dikalahkan dan hati nurani (hati-akal) itulah alat untuk mengalahkan atau sebagai senjata perjuangan, sebagaimana yang diajarkan selama Ramadhan.

Kedua, adalah bermakna mengalahkan atau membinasakan, ini semacam sinonim dari sebuah kemenangan, sebab tidak ada kemenangan tanpa mengalahkan. Kalah dan menang adalah lawan kata. Dua sisi yang bertentangan ini adalah sifat keunggulan manusia dari makhluk yang lain (akhsanu takwin) dan kedua ini diciptakan agar manusia menjadi lebih sempurna (insan al-kamil) sebagaimana terkandung dalam Q.S. Asy-Syams ayat 8 yang menjelaskan pentingnya tazkiyatu nafs (penyempurnaan jiwa) agar kita menjadi hamba yang bertakwa (berhati-nurani) dan jauh dari? "kefasikan" (hawa nafsu kebinatangan)” dan, memang selama Ramadhan kita diajarkan bagaimana terus membunuh nafsu dan menghancurkannya, termasuk menghancurkan lemak-lemak atau virus yang bisa menimbulkan penyakit dalam tubuh kita.

Ketiga, adalah bermakna selamat dan terhindar dari sesuatu yang bahaya, sehingga nampaklah atau berkilauanlah kebaikan, kebenaran dan keindahan itu. Untuk terhidar dari bahaya dan nampaklah cahaya Islam yaitu kebaikan, kebenaran dan keindahan dibutuhkan jihad atau usaha keras, hal ini terbukti pada catatan sejarah islam yang gembilang, di bulan inilah? musuh-musuh islam bisa terkalahkan. Jika merujuk pada fakta sejarah Islam, banyak kita jumpai peristiwa kemenangan? besar terjadi mendekati idul fitri atau sepanjang bulan Ramadhan, Misalnya runtuhnya Masjid Adh-Dhirar milik orang-orang munafik. Datangnya rombongan delegasi kaum Tsaqif yang ingin masuk Islam.

Pada Ramadhan tahun ke-2 Hijriyah, terjadi peperangan besar yaitu perang Badar Al-Kubra. Peperangan ini dimenangkan oleh kaum muslimin, inilah kemenangan agung pertama pejuang-pejuang Islam dalam menentang kemusyrikan dan? kebatilan.Pada Ramadhan Tahun Ke-1393 Hijriyah atau 1973 M, kemenangan muslim atas pasukan Salib dengan merebut? kembali tanah Palestina yang sebelumnya direbut oleh Zionis Yahudi. Masih banyak peristiwa besar lain lebih dari seratus, termasuk salah satunya adalah kemerdekan Bangsa Indonesia ini yang diraih pada bulan suci Ramadhan. Selamat hari Raya Idhul Fitri 1437 H. Minal Aidzin Wal Faizin. Amin.

*Sastrawan dan Pengasuh Pesantren Kreatif Baitul Kilmah, Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Kiai, Sholawat Siti Efi Farhati

Belajar dari Konflik di Timur Tengah

Oleh Imam Ma’ruf



Hari-hari ini, banyak orang menyebut dirinya nasionalis, cinta NKRI, slogan ‘saya Pancasila’ dan sejenisnya. Namun dalam praktiknya, nasionalisme yang dilakukan cenderung berbau sektarian. Nasionalisme minus atau setengah nasionalisme, nasionalisme sempit, dan ‘kurang’ menghargai perbedaan dan keragaman yang muncul di masyarakat. Bahkan lebih jauh, perilaku yang mengemuka cenderung barbar atau setidaknya intoleran.

Belajar dari Konflik di Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari Konflik di Timur Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari Konflik di Timur Tengah

Kenapa fenomena semacam ini seolah muncul kembali? Apakah ini menunjukkan kegagalan demokrasi yang berujung pada istilah negara gagal (failed state)? Tentu kita semua perlu banyak melakukan refleksi secara mendalam. Melihat kembali kesepakatan berbangsa dan bernegara yang telah dilahirkan oleh para founding fathers negeri zamrud khatulistiwa ini. Bangsa ini pernah mengalami periode panjang dijajah dalam era kolonialisme, hingga melahirkan semangat bersama untuk merdeka. Kita juga pernah mengalami masa perpecahan dan banyak melahirkan gerakan separatis yang berbau sektarian dan SARA. Semua itu nampaknya masih belum cukup, sehingga tak jarang ‘bom waktu’ terkait sektarian begitu mudah meletup lagi.

Siti Efi Farhati

Contoh yang faktual yang layak menjadi perbincangan dan referensi adalah konflik yang terjadi di Timur Tengah. Sebuah kawasan gurun pasir yang panas, namun memiliki banyak sumber daya yang terus berpotensi menjadi lahan perebutan dan tarikan berbagai kepentingan, baik internal maupun pihak luar. Apakah ini juga masih kurang untuk menjadi penanda bahwa kalau konflik sektarian dan nasionalisme sempit yang terus berulang, bisa memicu kegagalan negeri ini?

Timur Tengah, Jalur Penghubung yang Terus Menegang

Siti Efi Farhati



Membincang fenomena konflik di Timur Tengah dari kacamata Indonesia memiliki respon yang sangat beragam. Tidak sedikit dari masyarakat yang salah paham, gagal paham, bahkan menggunakan model untuk di-copy-paste secara serampangan, meski tak sedikit pula yang memiliki cara pandang yang clear atau proporsional.

Jika di Timur Tengah, negeri asalnya, terjadinyakonflik yang memporak-porandakan negeri dilatari banyaknya kepentingan politik dan perebutan kekuasaan. Namun di Indonesia, konflikpolitikseperti di Timur Tengah itu bisa berubah menjadi sangat ideologis, dan sektarian antaragama, atau aliran keagamaan, semisal Sunni-Syi’ah atau Muslim-Kristen dan sekte serta kabilah-kabilah. Apakah ketika melihat konflik Timur Tengah harus menggunakan kacamata kuda begitu? Nampaknya perlu pembacaan lebih luas, sehingga kita bisa melihat banyak hal, yang pada gilirannya pandangan kita juga bukan hanya sektarian dan lebih jauh hanya hitam-putih.

Dari penelusuran KBBI, sektarian memiliki dua makna; pertama berkaitan dengan anggota (pendukung, penganut) suatu sekte atau mazhab; sementara makna kedua adalah picik, terkungkung pada satu aliran saja. Nah, penyempitan makna menjadi sektarian dalam membaca konflik Timur Tengah inilah yang ingin kita bahas lebih dalam.

Dari sisi sejarah, kawasan Timur Tengah memiliki akar dan menjadi salah satu peradaban tua di dunia. Sejak dulu, kawasan ini memang selalu menjadi pusat perhatian, bahkan Adam dan Hawa bertemu setelah diturunkan ke bumi juga di Timur Tengah yang dikenal, Jabal Rahmah. Muncul peradaban kuno yang populer, antara lain kebudayaan dan peradaban Mesir kuno di lembah sungai Nil, Babilonia dan Assiria di Mesopotamia yang dialiri oleh sungai Tigris (Iraq) dan Eufrat (Persia), Pegunungan Armenia (Turki), Laut Mati/Sungai Yordan dan lain-lain. Sistem-sistem sungai dan laut inilah yang memberikan nafas hidup kepada peradaban-peradaban besar itu jauh sebelum kedatangan Islam. Berikutnya ada banyak kisah yang muncul, selain Nabi dan Rasul, ada juga muncul nama-nama besar seperti Fir’aun, Namruj dan lainnya, atau versi berbeda menyebut Darius, Nebukadnezar, Sultan Saladin, dan lain-lain.

Jadi, ada banyak alasan mengapa kawasan ini dari dulu hingga kini menjadi penting, salah satunya adalah kawasan penghubung tiga benua, Asia, Afrika dan Eropa, terlebih setelah terbukanya terusan Suez. Dengan banyaknya peluang, termasuk sumberdaya, mineral, air, minyak, dan sumber transportasi serta lainnya, maka wilayah dan kawasan ini selalu menjadi perhatian. Keberagaman penduduk dan latar belakang, termasuk aliran keagamaan dan ideologi juga menjadi bagian yang begitu mudah digerakkan untuk melahirkan konflik dan tarik-menarik kepentingan. Dan pemantik sebagai ‘bensin’ paling mudah dan mungkin juga murah, di Timur Tengah sendiri adalah sentimen agama dan aliran keagamaan. Jika di Timur Tengah sudah ‘meledak’, maka efek ledakannya bisa dengan mudah merembes ke kawasan lain, termasuk tanah air, Indonesia Raya tercinta ini.

Jalur laut yang menunjukkan superioritas militer, termasuk pengangkutan ekspor minyak dari negara-negara Timur Tengah, juga menjadi cerita tambahan dari rentetan konflik. Jalur tersebut juga memberi pemasukan penghasilan negara karena hasil dari laut seperti ikan, mineral/gas, ataupun dari retribusi kapal-kapal asing yang melewati laut.

Faktor Pemicu Ketegangan



Dalam catatan Sidik Jatmika yang mengutip dari Gerald Blake soal Middle East, sebagian besar perbatasan darat di Timur Tengah sudah ditentukan sejak 1880 dan 1930, namun, soal perbatasan laut justru baru mulai ditentukan pada tahun 1960-an, dan hingga hari ini belum dapat diselesaikan secara tuntas. Berbagai perbedaan dan keragaman yang muncul, menyangkut perbatasan negara yang kecil dan besar, jalur laut yang kecil dan besar, kekayaan alam dan sumberdaya yang kecil dan besar, termasuk negara kaya-miskin, dan tingkat kemakmuran suatu negara, akan memiliki arah yang berbeda, baik secara politik maupun aspek lain dan tidak sedikit melahirkan ketegangan.

Ada banyak faktor yang menjadi pemicu ketegangan di kawasan Timur Tengah, baik secara internal kawasan, maupun pihak di luar kawasan yang juga berkepentingan. Dua poin utama bisa disebutkan: Pertama, posisi strategis kawasan ini yang menjadi penghubung bagi ekonomi, perdagangan, dan pertahanan global ketiga benua, yakni Asia, Afrika dan Eropa. Kedua, soal keanekaragaman yang memang dimiliki Timur Tengah. Beberapa keanekaragaman yang tergambar bisa disebut, antara lain:

1. Geografis Timur Tengah yang melahirkan perbedaan wilayah, ada yang luas dan sempit sehingga menjadi pemicu dominasi, termasuk juga kedekatan regional yang tak jarang memicu ketegangan, seperti kawasan Arab inti (bulan sabit); Saudi Arabia, Mesir, Kuwait, Irak, Palestina, UEA, Bahrain, Qatar, Oman dan Yordania. Kawasan Arab periferal; Libya, Sudan, Yaman, Suriah dan Libanon. Kawasan Arab maghribi; Maroko, Tunisia, Aljazair, dan Mauritania. Kawasan non-Arab; Turki, Iran, Siprus, Israel dan Afghanistan. Kawasan Asia Tengah yang merupakan eks Uni Soviet; Azarbaijan, Uzbekistan, Kazakstan dan Turkmenistan.

2. Problem kepemilikan air, baik air tawar maupun air laut. Pemicunya bisa keterbatasan akses air, semisal perbatasan, potensi kekayaan air laut, mineral, pulau-pulau, dan pendapatan yang muncul dari kepemilikan laut. Sementara air tawar bisa berupa akses air bersih, irigasi untuk lahan, juga pembangkit listrik.

3. Keanekaragaman agama, akar budaya dan suku atau kabilah. Ada warisan peradaban yang muncul di lembah sungai Nil, Tigris dan Eufrat, lalu muncul ras Semit yang melahirkan etnis Arab dan Yahudi, Aria dengan Persianya, dan Berber di Afrika Utara. Ada juga ras gabungan semisal Turki yang ada unsur Mongolia dan Kurdi yang Indo-Persia.Belum lagi pecahan dalam bentuk suku-suku dan kabilah yang juga beritu beragam. Dari sisi agama, ada Yahudi, Islam, dan Kristen, begitu juga aliran-aliran keagamaan lain. Keragaman yang bisa menjadi potensi baik sebagai sebuah kekayaan budaya ataupun sebaliknya, bisa menjadi sumber ketegangan dan konflik.

4. Keanekaragaman ekonomi dengan melihat tingkat kemakmuran suatu negara, kaya-miskin hingga kekayaan alam dan sumberdaya yang dimiliki, bisa melahirkan arah yang berbeda dan memicu ketegangan.

5. Keanekaragaman ideologi juga hadir, ada Pan Islamisme, OKIdan juga Liga Arab yang merespon munculnya negara Israel. Ada sekularisme, liberalisme, komunisme, dan juga zionisme. Ada juga ideologi yang berbasis pada ajaran agama, semisal Islam, Kristen dan Yahudi dan aliran keagamaan, semisal Sunni-Syiah dan lainnya.

Nah, berbagai keragaman, termasuk letak geografis yang berujung pada perbatasan di atas, sangat mungkin menjadi salah satu faktor pemicu ketegangan, meskipun ujungnya juga soal beda kepentingan dan sudut pandang yang bermuara pada ekpresi politik, baik perorangan, kelompok, maupun atas nama negara. Maka melihatnya tidak hanya sektarian. Ada banyak model dan kamuflase yang mengemuka dalam ketegangan di kawasan ini yang musti dibaca secara mendalam dan dari berbagai aspek. Adakalanya tidak peduli dengan agama, asal kepentingannya sama. Adakalanya ideologi menjadi basis penyatuan kepentingan. Yang jelas basis kepentingan menjadi lebih penting dan menarik untuk dilihat, sementara pemicu dan ‘bahan bakar’ konflik dan ketegangan bisa bermacam-macam.

Suasana batin atas perasaan ketidakadilan, diskriminasi atau peminggiran kelompok, ketimpangan ekonomi menjadi awal mula perasaan kecewa dengan situasi dan kondisi, dan akumulasinya bisa melahirkan protes, ketegangan dan konflik yang mencari sasaran dan target permusuhan. Dorongan pihak luar juga bisa menguatkan ketegangan, sehingga memperkeruh dan muncul pihak yang mengambil keuntungan dari situasi krisis.

Krisis Politik yang Berulang



Menurut Carl J Friedrich, politik merupakan suatu upaya atau cara untuk memperoleh atau mempertahankan kekuatan. Politik juga dapat diartikan cara untuk mencapai tujuan tertentu yang dikehendaki yang akan digunakan untuk mencapai keadaan yang diinginkan. Kehidupan berpolitik tak pernah lepas dari kehidupan sosial suatu negara. Dan masyarakat di Timur Tengah dengan didominasi oleh bangsa Arab memiliki kultur pemerintahan yang sebagian besar adalah diktator. Salah satu faktor historis yang melatari karena di wilayah tersebut dulunya bersistem kekerajaan.

Arab Spring menjadi pintu masuk berbagai pihak melakukan koreksi terhadap kepemimpinan di Timur Tengah, mulai dari Tunisia hingga menyebar ke berbagai negara di kawasan Timur Tengah. Beberapa tuntutan akibat reaksi ketidakpuasan publik Timur Tengah, ada yang menunjukkan hasil positif, namun tidak sedikit pula yang justru berakibat fatal dan melahirkan krisis dan konflik berkepanjangan. Kecepatan merespon dan kepiawaian negosiasi pemimpin di kawasan ini menjadi kunci, termasuk melihat berbagai efek dan dampak serta pengaruh para tokoh dan supporter yang menggerakkan aksi, baik secara internal maupun eksternal negara. Tidak sedikit para pemimpin yang tumbang dan harus menyerahkan mandat kepada desakan publik, semisal Tunisia, Libya, Mesir dan Yaman. Namun ada juga yang hanya melakukan reformasi internal tanpa penggulingan kekuasaan, semisal Saudi Arabia, Qatar, Bahrain dan juga Syuriah meski mengalami pergolakan yang masih berlangsung hingga saat ini.

Di Mesir misalnya, pasca tumbangnya rezim Hosni Mubarak, rakyat Mesir justru terjerumus ke dalam konflik sektarian. Konflik sektarian tersebut terjadi antara warga muslim dan kristen. Dalam konflik yang bernuansa SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan)tersebut, setidaknya terdapat beberapa orang yang menjadi korban akibat brutalnya aksi.Konflik sektarian di Mesir adalah satu contoh resistensi politik di kawasan Timur Tengah setelah revolusi berhasil dilakukan.

Pascarevolusi, umumnya tuntutan sederhana yang dikehendaki rakyat dan para elite politik adalah melangsungkan pemilihan umum secara demokratis untuk memilih kepemimpinan baru. Harapan baru tersebutlah yang menjadi suara mayoritas rakyat kawasan Timur Tengah, termasuk harapan kehidupan yang lebih baik dan demokratis.

Situasi yang sekarang terjadi di beberapa negara Timur Tengah ternyata juga berpengaruh pada kehidupan ekonomi di berbagai negara lain seperti Indonesia. Ada dua dampak yang dirasakan oleh Indonesia -dampak langsung dan tidak langsung. Kehidupan ekonomi suatu negara memang tidak pernah lepas dari hubungan antar negara. Hubungan antar negara diwujudkan dalam hubungan keilmuan, sosial, politik, diplomatik, ekonomi, budaya, pertahanan dan keamanan.

Krisis Timur Tengah juga melahirkan berbagai model dan varian yang juga sulit dibaca, kecuali pembacaan politik dan geopolitik yang melingkupi. Munculnya ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) adalah bagian dari kerumitan krisis di kawasan ini. Sebelumnya persoalan sengketa Israel-Palestina, muncul juga Al-Qaeda, hingga berbagai kelompok separatis semisal kelompok Houthi di Yaman dan gerakanseparatislain menjadi bagian dari varian krisis yang rumit.



Gelombang Demokrasi dan Nasionalisme SARA



Harapanperubahan yang lebihbaikadalahsuara yang berdengungmengiringigelombangrevolusi yang bergulir di kawasanTimur Tengah. Pemerintahan yang demokratis diharapkan mampu memberi ruang partisipasi publik yang lebih luas, meski dalam situasi transisi justru memiliki banyak kerentanan. Sebab, demokrasi yang berdampak positif membutuhkan prasyarat dan kondisi awal yang perlu diperhatikan. Kondisi dan prasyarat bagi demokrasi yang dibutuhkan antara lain; pengetahuan dan keterampilan politik yang memadai di antara penduduknya, dukungan elite politik terhadap demokrasi, tradisi rule of the law dan perlindungan terhadap hak asasi manusia yang kuat, tingkat perkembangan ekonomi tertentu, kebudayaan yang menunjang dan sebagainya.

Nah, jika prasyarat ini tidak terpenuhi, justru akan melahirkan kerentanan yang dimaksud, meski kebebasan menyatakan pendapat, pemilihan umum langsung yang jurdil (jujur dan adil) dan luber (langsung, umum, bebas, rahasia) bisa diselenggarakan. Kerentanan pada proses politik awal dan masa transisi demokrasi seringkali melahirkan berbagai konflik kepentingan,terlebih di kalangan elit. Sebab, suara demokrasi ditentukan melalui suara mayoritas, sehingga pihak minoritas akan tersingkir. Dan kaum elit yang di periode sebelumnya berkuasa, bisa jadi punya peluang yang sama, menjadi tersingkir, maka elit tersebut akan menggunakan sentimen nasionalisme SARA (suku, agama, ras dan antargolongan) untuk membangun kekuatan politik sesuai kepentingan elit. Dan cara-cara elit menarik sentimen SARA dalam proses pemenangan politik di era transisi demokrasi inilah yang mengganggu demokrasi yang diharapkan, bahkan tak sedikit melahirkan guncangan sosial-politik yang hebat.

Dalam bukunya, From Voting to Violence: Democratization and Nationalist Conflict, Jack Snyder mengungkapkan fakta keterkaitan antara demokratisasi dan konflik nasionalisme, dan itu banyak berhubungan dengan apa yang disebut nasionalisme SARA. Dasar legitimasinya diperoleh dengan cara benturan ras, agama, suku, golongan, bisa juga pengalaman sejarah, mitos dan seterusnya. SARA digunakan untuk memasukkan dan mengeluarkan orang dari term nasionalis, padahal ini bersifat rasis dan berangkat dari pemikiran yang sempit. Sementara perbedaan dan berbagai kesempitan dalam bentuk SARA tidak selayaknya menjadi basis demokrasi. Sebab demokrasi justru diharapkan melahirkan rasa nasionalisme yang tetap menghargai perbedaan dan tidak terkotak-kotak yang anti pluralisme.

Studi Snyder di atas menyebutkan, kebanyakan atau sebagian besar negara-negara yang tercebur dalam konflik SARA selama dasawarsa 1990-an adalah negara yaang sedang menuju tahapan transisi demokrasi. Lantas, bagi negara Indonesia yang dianggap sudah melampaui, tetapi masih menunjukkan situasi dan kondisi yang kurang lebih sama, adakah termasuk sebagian kecil dalam riset Snyder? Ada maksud yang disampaikan Snyder, bahwa dua tahun sebelum pecahnya konflik dan pertikaian SARA, umumnya dimulai dengan pra kondisi dengan menguatnya kemajuan parsial dalam hal kebebasan politik atau kebebasan sipil. Parsialitas yang merusak, menyempit dan rasis inilah yang menjadi penyubur bagi lahirnya nasionalisme SARA.

Beberapa contoh negara yang mengalami pecah SARA, antara lain di bekas Yugoslavia, antara orang Armenia dan orang bekas Soviet Azerbaijan, begitu juga di Burundi dengan minoritas Tutsi dan mayoritas Hutu. Begitu juga yang terakhir kasus SARA di kawasan Timur Tengah, semisal Mesir. Lantas bagaimana membuat nasionalisme SARA tidak muncul? Apakah demokrasi selalu melahirkan bahayanya yang juga semakin rumit dan membuat apriori? Nasionalisme sipil musti dikuatkan. Para elit, baik di level pemerintah (eksekutif, legislatif, yudikatif), maupun tokoh masyarakat dan ulama, bersama seluruh lapisan masyarakat saling menjaga situasi kondusif, tidak merasa terancam oleh proses demokratisasi, dan institusi politik (kelembagaan negara) yang ada juga saling menopang dan cukup kuat menampung proses ini.

Penguatan nasionalisme sipil, seperti digagas Kim Holmes misalnya, adalah upaya untuk membangun basis pemersatu bangsa dan menciptakan kesetaraan warga negara tanpa melihat jenis suku, ras, warna kulit, keturunan dan agama, sehingga demokrasi yang dijalankan akan memberi dampak positif dan mencapai cita-cita bangsa yang diharapkan. Dengan cara yang setipe ini pula, pemahaman dan cara pandang sektarian, dengan sendirinya juga akan memudar. Berbagai perbedaan kepentingan dan konflik bisa dilihat secara lebih utuh dengan mempertimbangakan berbagai faktor dan penyebab yang menjadi pemicu konflik, dari berbagai aspek dan latar belakang secara menyeluruh.

Akhirnya kedewasaan setiap warga, kesadaran berdemokrasi yang semakin dipahami, akan berujung pada kondisi check and balances dan menjadi pupuk untuk terwujudnya proses demokrasi yang terus membaik dan saling menjaga melalui kritik-konstruktif, sehingga melahirkan kran demokrasi yang menyehatkandan berujung pada kemakmuran negeri.



Penulis adalah Kepala Divisi Media dan Publikasi Lakpesdam PBNU



Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Habib, Lomba Siti Efi Farhati

Kamis, 01 Maret 2018

Tanpa Uang Sepeser Pun, Pasutri NU Ini Akan Keliling Dunia

Jakarta, Siti Efi Farhati?

Pasangan suami istri (pasutri) Hakam Mabruri (34) dan Rofingatul Islamiah (34) bertekad akan berkeliling dunia dengan sepeda yang didesain ditunggangi berdua. Ia berangkat dari Malang pada Sabtu 17 Desember 2016. Sampai di Jakarta pada Selasa (10/1).?

Tanpa Uang Sepeser Pun, Pasutri NU Ini Akan Keliling Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Tanpa Uang Sepeser Pun, Pasutri NU Ini Akan Keliling Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Tanpa Uang Sepeser Pun, Pasutri NU Ini Akan Keliling Dunia

Pasutri tersebut mengambil jalan bagian utara pulau Jawa. Di tiap kota, Hakam yang aktif di Gerakan Pemuda Ansor Malang, kerap bermalam di kantor GP ansor bersama istrinya. Tidak hanya itu, ia juga menemui tokoh agama di kota yang ia singgahi.?

Keduanya selalu melakukan perjalanan di siang hari. kemudian istirahat sore atau menjelang malam. kemudian berangkat esoak harinya.?

Menurut Hakam, ketika keduanya berangkat, di sakunya tak ada uang sepeser pun. Ia kemudian mendapat sumbangan dari Bupati Malang, ketika ia dilepas secara resmi oleh Bupati, GP Ansor dan beragam komunitas dari Stadion Kanjuruan .

Siti Efi Farhati

Ditanya disumbang berapa oleh Bupati, Hakam tidak mau menyebutkan nomialnya. Namun, yang jelas, ketika dia berangkat, tak mengantongi uang sepeser pun.?

Namun di perjalanan, dukungan dari berbagai pihak didapatkan dua pasangan tersebut, termasuk dana. Salah seorang menteri misalnya, yang secara kebetulan bertemu di kantor Pimpinan Pusat GP Ansor, Jakarta, Selasa malam (10/1), juga turut menyumbang dana.

Sampai saat ini, ia menyebtukan, dukungan dana dari berbagai pihak telah terkumpul dana sebesar 17 juta dan 600 Dollar.?

Mengenai perjalanannya, setelah sampai di Aceh, dia akan kembali ke Medan. Kemudian menyebrang ke Singapura. Lalu melanjutkan perjalanan darat ke Malaysia, Thailanda. Keduanya akan melewati jalur Asia Selatan seperti India, Neval. Terus ke barat, ke barat. Sementara ia akan mencoba sampai di Kairo, Mesir. (Abdullah Alawi)

Siti Efi Farhati

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Internasional, Quote, Ulama Siti Efi Farhati

Kultur Bumi Cendrawasih Dekat dengan Islam?

Jakarta, Siti Efi Farhati



Zakat adalah salah satu rukun Islam. Dan hal itu tidak bertentangan dengan kultur masyarakat Papua, ujar warga Kabupaten Jayawijaya, Papua, Tauluk Assho (60).

Kultur Bumi Cendrawasih Dekat dengan Islam? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kultur Bumi Cendrawasih Dekat dengan Islam? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kultur Bumi Cendrawasih Dekat dengan Islam?

Didampingi putranya, H Abu Hanifah Assho yang merupakan Ketua PC GP Ansor Jayawijaya, ia menjelaskan di daerahnya ada tradisi kurogo magasyarak yang artinya dipotong untuk berbagi.

“Itu kebiasaan setelah panen. Masyarakat di daerah kami biasa berbagi dengan cara seperti itu. Dan pembagiannya untuk siapa hingga yang berhak menerima siapa juga diatur,” kata dia, di Jakarta, Selasa (17/1).

Nama Assho menurut dia pula, terinspirasi dari Masjid Al-Aqsa, satu tempat suci agama Islam yang menjadi bagian dari kompleks bangunan suci di Kota Lama Yerusalem (Yerusalem Timur).

Siti Efi Farhati

“Saya tertarik masuk Islam karena Islam itu unik. Nilai-nilainya tidak jauh beda dengan kebudayaan kami,” papanrya.

Dalam hal pernikahan, contohnya kata Tauluk menjelaskan, juga tidak diperkenankan satu garis keluarga.

“Termasuk cara berinteraksi dengan masyarakat. Bagaimana cara makan, sama persis dengan Islam yang disyiarkan ke tempat kami,” ujar dia pula.

Siti Efi Farhati

Tauluk memeluk Islam sejak muda. Sejak itu, dirinya memperjuangkan dan mengajak masyarakat di daerah identik dengan sebutan Bumi Cendrawasih turut memeluk Islam kendati dengan sejumlah rintangan. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Internasional, Kajian Islam, Pertandingan Siti Efi Farhati

Beri Penguatan Aswaja, Kiai Agus Ungkap Kalam Hikmah Imam Syafi’i

Tasikmalaya, Siti Efi Farhati. PAC GP Ansor Kawalu, Tasikmalaya, Jawa Barat mengadakan Pendidikan Penguatan Pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), Ahad (19/2) lalu di Yayasan Al-Marufi Cibeuti Kota Tasikmalaya. Kegiatan ini dihadiri oleh Rais NU Kawalu KH Agus Harun Ghoni, didampingi Ketua PC GP Ansor Kota Tasik Ricky Assegaf.

Beri Penguatan Aswaja, Kiai Agus Ungkap Kalam Hikmah Imam Syafi’i (Sumber Gambar : Nu Online)
Beri Penguatan Aswaja, Kiai Agus Ungkap Kalam Hikmah Imam Syafi’i (Sumber Gambar : Nu Online)

Beri Penguatan Aswaja, Kiai Agus Ungkap Kalam Hikmah Imam Syafi’i

Dalam sambutannya, KH Agus Harun Ghoni mengutip mutiara dalam Kitab Ar-Risalah halaman 71 karya besar Imam as-Syafii yang berbunyi:

"Barangsiapa yang mempelajari al-Qur`an maka agunglah kedudukannya, barangsiapa yang berpikir (belajar) fiqih maka mulialah kehormatannya, barangsiapa yang menulis al-Hadits maka kuatlah argumentasinya, barangsiapa yang berpikir (belajar) tata bahasa maka lembutlah perangainya, dan barangsiapa yang tidak menjaga dirinya maka ilmunya tidak dapat memberi manfaat baginya."

Kiai Agus berpesan kepada Kader Ansor dan kiai muda NU agar jangan berhenti mencari ilmu walaupun sibuk dan gudangnya ilmu agama itu ada di pesantren.

Siti Efi Farhati

"Ansor harus kenal pasantren, jangan berhenti ngaji sesulit dan sesibuk apapun. Karena sudah semestinya sebagai pergerakan pemuda Islam mewarisi tradisi keilmuan pesantren. Belajar dengan kesabaran, membaca dengan ketekunan, kemudian mencatat dengan ketelitian. Ingat nasihat Imam Syafii Barangsiapa yang tak pernah mengecap kehinaan dalam mencari ilmu walau hanya sebentar, akan meminum kehinaan kebodohan pada sisa hidupnya,” kata Kiai Agus.

Pada kesempatan ini, Pimpinan Pondok Pesantren al-Marufi Cibeuti ? itu juga memotivasi agar mencari ilmu itu jangan hanya dipahami, akan tetapi harus mulai diabadikan dalam sebuah karya yang tercatat.

"Belajarlah kemudian sampaikan! Perhatikan Ulama terdahulu, mereka harus menempuh perjalanan panjang untuk mencari ilmu. Setelahnya mereka ikat (ilmu itu) dalam bentuk karya tulisan pada lembaran-lembaran kertas menggunakan pena yang dicelupkan ke tinta persis yang diadopsi santri di pesantren. Akan tetapi lihat hasilnya, sampai saat ini ilmunya dalam bentuk kitab dimanfaatkan terus oleh kita semua,” ujarnya.

Disamping taat pada semua fatwa para ulama, tambahnya, Ansor juga harus bisa membentengi warga Nahdliyyin, karena saat ini sepertinya ada kelompok yang ingin kiai dengan warga NU tidak akur.?

Dia mengajak untuk bersama menjaga marwah NU dengan kembali mengamalkan nilai-nilai agama serta menanamkan sikap cinta tanah air, seperti yang telah dilakukan para Kiai-Kiai NU terdahulu dalam merawat tradisi agama dalam bingkai NKRI.?

Siti Efi Farhati

Penguatan Keaswajaan ini diikuti oleh oleh kader-kader Ansor dan 50 kiai muda NU perwakilan tiap Kecamatan se-Kota Tasikmalaya. Selama kegiatan mereka mendapatkan materi dari Direktur Aswaja Center Tasikmalaya Yayan Bunyamin yang juga Pimpinan Pesantren Rahmat Semesta. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Habib, Pemurnian Aqidah Siti Efi Farhati

Rabu, 28 Februari 2018

Bagikan 1000 Takjil, PMII Sidoarjo Ajak Masyarakat Tingkatkan Ibadah

Sidoarjo, Siti Efi Farhati

Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sidoarjo, Jawa Timur, membagikan seribu takjil gratis kepada para pengguna jalan di perempatan Jalan Ahmad Yani Sidoarjo, Senin (27/6).

Selain membagikan takjil, aktivis muda NU ini juga mengajak masyarakat Sidoarjo serta para pengguna jalan untuk tetap meningkatkan ibadah pada 10 hari terakhir Ramadhan.

Bagikan 1000 Takjil, PMII Sidoarjo Ajak Masyarakat Tingkatkan Ibadah (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagikan 1000 Takjil, PMII Sidoarjo Ajak Masyarakat Tingkatkan Ibadah (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagikan 1000 Takjil, PMII Sidoarjo Ajak Masyarakat Tingkatkan Ibadah

Ketua Umum PC PMII Sidoarjo Muhammad Mahmuda menyatakan, melalui momentum malam Lailatul Qadar, seluruh kader dan pengurus PMII yang masih berproses di komisariat agar senantiasa berbagi kepada sesama.

Siti Efi Farhati

"Kami ingin mengingatkan masyarakat supaya terus beribadah di bulan Ramadhan khususnya pada malam Lailatul Qadar. Dan bagi-bagi takjil ini semoga bisa membantu para penggunan jalan yang belum menyempatkan berbuka puasa dan masih berada dalam perjalanan," terang Mahmuda.

Siti Efi Farhati

Salah satu pengendara, Mulyono mengatakan bahwa dengan adanya takjil yang dibagikan oleh mahasiswa ini, dirinya bisa menyegerakan berbuka puasa. "Alhamdulillah, terima kasih takjilnya. Akhirnya saya mendapatkan kesunnahan berbuka puasa," puji Mulyono. (Moh Kholidun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Anti Hoax, Aswaja, Sholawat Siti Efi Farhati

Mengenal Lebih Dekat KH Said Aqil Siroj

Tak kenal maka tak sayang. Barangkali peribahasa itu tepat untuk menggambarkan keadaan Indonesia akhir-akhir ini, dimana orang tak hanya tak kenal dan tak sayang, tetapi bahkan justru memfitnah, membenci dan memaki, dengan orang yang belum dikenalnya di media. Tak terkecuali, berbagai fitnah, berita palsu (hoax) dan makian yang dialamatkan kepada Prof Dr KH Said Aqil Siradj, MA, Ketua Umum Ormas Islam terbesar di dunia: Nahdlatul Ulama (NU).

Untuk itu, tulisan ini sedikit mengupas profil beliau, sosok santri yang dulu pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia (MWA UI) itu dinobatkan oleh Republika sebagai Tokoh Perubahan Tahun 2012 karena kontribusinya dan komitmennya dalam mengawal keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan berperan aktif dalam perdamaian dunia, khususnya di kawasan Timur Tengah.?

***

Mengenal Lebih Dekat KH Said Aqil Siroj (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenal Lebih Dekat KH Said Aqil Siroj (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenal Lebih Dekat KH Said Aqil Siroj

Ketika usia negara ini masih belia – delapan tahun – dan para pendiri bangsa baru beberapa tahun menyelesaikan “status kemerdekaan” Indonesia di Konferensi Meja Bundar (KMB) pada 1949, di sebuah desa bernama Kempek, Palimanan, Cirebon, Jawa Barat, senyum bahagia KH Aqil Siroj mengembang. Tepat pada 3 Juli 1953, Pengasuh Pesantren Kempek itu dianugerahi seorang bayi laki-laki, yang kemudian diberi nama Said.

Siti Efi Farhati

Said kecil kemudian tumbuh dalam tradisi dan kultur pesantren. Dengan ayahandanya sendiri, ia mempelajari ilmu-ilmu dasar keislaman. Kiai Aqil sendiri – Ayah Said – merupakan ? putra Kiai Siroj, yang masih keturunan dari Kiai Muhammad Said Gedongan. Kiai Said Gedongan merupakan ulama yang menyebarkan Islam dengan mengajar santri di pesantren dan turut berjuang melawan penjajah Belanda.?

“Ayah saya hanya memiliki sepeda ontel, beli rokok pun kadang tak mampu. Dulu setelah ayah memanen kacang hijau, pergilah ia ke pasar Cirebon. Zaman dulu yang namanya mobil transportasi itu sangat jarang dan hanya ada pada jam-jam tertentu,” kenang Kiai Said dalam buku Meneguhkan Islam Nusantara; Biografi Pemikiran dan Kiprah Kebangsaan (Khalista: 2015).

Setelah merampungkan mengaji dengan ayahanda maupun ulama di sekitar Cirebon, dan umur dirasa sudah cukup, Said remaja kemudian belajar di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur yang didirikan oleh KH Abdul Karim (Mbah Manaf). Di Lirboyo, ia belajar dengan para ustadz dan kiai yang merawat santri, seperti KH Mahrus Ali, KH Marzuki Dahlan, dan juga Kiai Muzajjad Nganjuk.

Siti Efi Farhati

Setelah selesai di tingkatan Aliyah, ia melanjutkan kuliah di Universitas Tribakti yang lokasinya masih dekat dengan Pesantren Lirboyo. Namun kemudian ia pindah menuju Kota Mataram, menuju Ngayogyokarta Hadiningrat. Di Yogya, Said belajar di Pesantren Al-Munawwir, Krapyak dibawah bimbingan KH Ali Maksum (Rais Aam PBNU 1981-1984). Selain mengaji di pesantren Krapyak, ia juga belajar di IAIN Sunan Kalijaga, yang ketika itu KH Ali Maksum menjadi Guru Besar di kampus yang saat ini sudah bertransformasi menjadi UIN itu.

Ia merasa belum puas belajar di dalam negeri. Ditemani istrinya, Nurhayati, pada tahun 1980, ia pergi ke negeri kelahiran Nabi Muhammad SAW: Makkah Al-Mukarramah. Di sana ia belajar di Universitas King Abdul Aziz dan Ummul Qurra, dari sarjana hingga doktoral. Di Makkah, setelah putra-putranya lahir, Kang Said – panggilan akrabnya – harus mendapatkan tambahan dana untuk menopang keluarga. Beasiswa dari Pemerintah Saudi, meski besar, dirasa kurang untuk kebutuhan tersebut. Ia kemudian bekerja sampingan di toko karpet besar milik orang Saudi di sekitar tempat tinggalnya. Di toko ini, Kang Said bekerja membantu jual beli serta memikul karpet untuk dikirim kepada pembeli yang memesan.

Keluarga kecilnya di Tanah Hijaz juga sering berpindah-pindah untuk mencari kontrakan yang murah. “Pada waktu itu, bapak kuliah dan sambil bekerja. Kami mencari rumah yang murah untuk menghemat pengeluaran dan mencukupkan beasiswa yang diterima Bapak,” ungkap Muhammad Said, putra sulung Kang Said.

Dengan keteguhannya hidup ditengah panasnya cuaca Makkah di siang hari dan dinginnya malam hari, serta kerasnya hidup di mantan “tanah Jahiliyyah” ini, ia menyelesaikan karya tesisnya di bidang perbandingan agama: mengupas tentang kitab Perjanjian Lama dan Surat-Surat Sri Paus Paulus. Kemudian, setelah 14 tahun hidup di Makkah, ia berhasil menyelesaikan studi S-3 pada tahun 1994, dengan judul: Shilatullah bil-Kauni fit-Tashawwuf al-Falsafi (Relasi Allah SWT dan Alam: Perspektif Tasawuf). Pria yang terlahir di pelosok Jawa Barat itu mempertahankan disertasinya – diantara para intelektual dari berbagai dunia – dengan predikat Cumlaude.

Ketika bermukim di Makkah, ia juga menjalin persahabatan dengan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). “Gus Dur sering berkunjung ke kediaman kami. Meski pada waktu itu rumah kami sangat sempit, akan tetapi Gus Dur menyempatkan untuk menginap di rumah kami. Ketika datang, Gus Dur berdiskusi sampai malam hingga pagi dengan Bapak,” ungkap Muhammad Said bin Said Aqil. Selain itu, Kang Said juga sering diajak Gus Dur untuk sowan ke kediaman ulama terkemuka di Arab, salah satunya Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki.?

Setelah Kang Said mendapatkan gelar doktor pada 1994, ia kembali ke tanah airnya: Indonesia. Kemudian Gus Dur mengajaknya aktif di NU dengan memasukkannya sebagai Wakil Katib ‘Aam PBNU dari Muktamar ke-29 di Cipasung. Ketika itu, Gus Dur “mempromosikan” Kang Said dengan kekaguman: “Dia doktor muda NU yang berfungsi sebagai kamus berjalan dengan disertasi lebih dari 1000 referensi,” puji Gus Dur. Belakangan, Kang Said juga banyak memuji Gus Dur. “Kelebihan Gus Dur selain cakap dan cerdas adalah berani,” ujarnya, dalam Simposium Nasional Kristalisasi Pemikiran Gus Dur, 21 November 2011 silam.

Setelah lama akrab dengan Gus Dur, banyak kiai yang menganggap Kang Said mewarisi pemikiran Gus Dur. Salah satunya disampaikan oleh KH Nawawi Abdul Jalil, Pengasuh Pesantren Sidogiri, Pasuruan, ketika kunjungannya di kantor PBNU pada 25 Juli 2011. Kunjungan waktu itu, merupakan hal yang spesial karena pertama kalinya kiai khos itu berkunjung ke PBNU – di dampingi KH An’im Falahuddin Mahrus Lirboyo. Kiai Nawawi menganggap bahwa Kang Said mirip dengan Gus Dur, bahkan dalam bidang ke-nyelenehan-nya.?

“Nyelenehnya pun juga sama,” ungkap Kiai Nawawi, seperti dikutip Siti Efi Farhati. “Terus berjuang di NU tidak ada ruginya. Teruslah berjuang memimpin, Allah akan selalu meridloi,” tegas Kiai Nawawi kepada orang yang diramalkan Gus Dur menjadi Ketua Umum PBNU di usia lebih dari 55 tahun itu.

Menjaga NKRI dan mengawal perdamaian dunia

Pada masa menjelang kemerdekaan, tepatnya pada tahun 1936, para ulama NU berkumpul di Banjarmasin untuk mencari format ideal negara Indonesia ketika sudah merdeka nantinya. Pertemuan ulama itu menghasilkan keputusan yang revolusioner: (1) negara Darus Salam (negeri damai), bukan Darul Islam (Negara Islam); (2) Indonesia sebagai Negara Bangsa, bukan Negara Islam. Inilah yang kemudian menginspirasi Pancasila dan UUD 1945 yang dibahas dalam Sidang Konstituante – beberapa tahun kemudian. Jadi, jauh sebelum perdebatan sengit di PPKI atau BPUPKI tentang dasar negara dan hal lain sebagainya, ulama NU sudah terlabih dulu memikirkannya.

Pemikiran, pandangan dan manhaj ulama pendahulu tentang relasi negara dan agama (ad-dien wa daulah) itu, terus dijaga dan dikembangkan oleh NU dibawah kepemimpinan Kang Said. Dalam pidatonya ketika mendapat penganugerahan Tokoh Perubahan 2012 pada April 2013, Kiai Said menegaskan sikap NU yang tetap berkomitmen pada Pancasila dan UUD 1945. “Muktamar (ke-27 di Situbondo-pen) ini kan dilaksanakan di Pesantren Asembagus pimpinan Kiai As’ad Syamsul Arifin. Jadi, pesantren memang luar biasa pengaruhnya bagi bangsa ini. Meski saya waktu itu belum menjadi pengurus PBNU,” kata Kiai Said, mengomentari Munas Alim Ulama NU 1983 dan Muktamar NU di Situbondo 1984 yang menurutnya paling fenomenal dan berdampak dalam pandangan kebangsaan.

Sampai kini, peran serta NU dalam hal kebangsaan begitu kentara kontribusinya, baik di level anak ranting sampai pengurus besar, di tengah berbagai rongrongan ideologi yang ingin menggerogoti Pancasila sebagai dasar negara. Hal ini tercermin dalam berbagai kegiatan dan program NU yang selalu mengarusutamakan persatuan dan kesatuan bangsa. Dalam konteks ini, Kiai Said sangat berpengaruh karena kebijakan PBNU selalu diikuti kepengurusan dibawahnya – termasuk organisasi sayapnya.

Salah satu peran yang cukup solutif, misalnya, ketika beliau menaklukkan Ahmad Mushadeq – orang yang mengaku sebagai Nabi di Jakarta dan menimbulkan kegaduhan nasional – lewat perdebatan panjang tentang hakikat kenabian (2007). “Alhamdulillah, doa saya diterima untuk bertemu ulama, tempat saya bermudzakarah (diskusi). Sekarang saya sadar kalau langkah saya selama ini salah,” aku Mushadeq. Disisi lain, Kang Said juga mengakui kehebatan Mushadeq. “Dia memang hebat. Paham dengan asbabun nuzul Al-Qur’an dan asbabul wurud Hadits. Hanya sedikit saja yang kurang pas, dia mengaku Nabi, itu saja,” jelas Kiai Said seperti yang terekam dalam Antologi NU: Sejarah, Istilah, Amaliah dan Uswah (Khalista & LTN NU Jatim, Cet II 2014).

Kiai yang mendapat gelar Profesor bidang Ilmu Tasawuf dari UIN Sunan Ampel Surabaya ini bersama pengurus NU juga membuka dialog melalui forum-forum Internasional, khususnya yang terkait isu-isu terorisme, konflik bersenjata dan rehabilitasi citra Islam di Barat yang buruk pasca serangan gedung WTC pada 11 September 2001. Ia juga kerapkali membuat acara dengan mengundang ulama-ulama dunia untuk bersama-sama membahas problematika Islam kontemporer dan masalah keumatan.

Pada Jumat, 7 Maret 2014, Duta Besar Amerika untuk Indonesia Robert O. Blake berkunjung ke kantor PBNU. Ia menginginkan NU terlibat dalam penyelesaian konflik di beberapa negara. “Kami berharap NU bisa membantu penyelesaian konflik di negara-negara dunia, khususnya di Syria dan Mesir. NU Kami nilai memiliki pengalaman membantu penyelesaian konflik, baik dalam maupun luar negeri,” kata Robert, seperti dilansir Siti Efi Farhati. “Sejak saya bertugas di Mesir dan India, saya sudah mendengar bagaimana peran NU untuk ikut menciptakan perdamaian dunia,” imbuhnya.

Raja Yordania Abdullah bin Al-Husain (Abdullah II) juga berkunjung ke PBNU. Ia ditemui Kiai Said, meminta dukungan NU dalam upaya penyelesaian konflik di Suriah. “Di Timur Tengah, tidak ada organisasi masyarakat yang bisa menjadi penengah, seperti di Indonesia. Jika ada konflik, bedil yang bicara,” ungkap Kiai Said.

Selain itu, menguapnya kasus SARA di Indonesia belakangan juga kembali marak muncul ke permukaan. “Munculnya kerusuhan bernuansa agama memang sangat sering kita temukan. Hal ini menunjukkan bahwa bangsa Indonesia harus terus belajar pentingnya toleransi dan kesadaran pluralitas. Sikap toleransi tersebut dibuktikan oleh Kaisar Ethiopia, Najashi (Negus) ketika para sahabat ditindas oleh orang-orang Quraisy di Mekkah dan memutuskan untuk hijrah ke Ethiopia demi meminta suaka politik kepadanya. Kaisar Negus yang dikenal sebagai penguasa beragama Nasrani itu berhasil melindungi para sahabat Nabi Muhammad SAW dari ancaman pembunuhan kafir Quraisy,” tulis Kiai Said dalam Dialog Tasawuf Kiai Said: Akidah, Tasawuf dan Relasi Antarumat Beragama (Khalista, LTN PBNU & SAS Foundation, Cet II, 2014).

Menghadapi potensi konflik horisontal itu, NU juga tetap mempertahankan gagasan Darus Salam, bukan Darul Islam, yang terinspirasi dari teladan Nabi Muhammad dalam Piagam Madinah. Dalam naskah tersebut, nabi membuat kesepakatan perdamaian, bahwa muslim pendatang (Muhajirin) dan muslim pribumi (Anshar) dan Yahudi kota Yastrib (Madinah) sesungguhnya memiliki misi yang sama, sesungguhnya satu umat. Yang menarik, menurut Kiai Said, Piagam Madinah – dokumen sepanjang 2,5 halaman itu – tidak ? menyebutkan kata Islam. Kalimat penutup Piagam Madinah juga menyebutkan: tidak ada permusuhan kecuali terhadap yang dzalim dan melanggar hukum. “Ini berarti, Nabi Muhammad tidak memproklamirkan berdirinya negara Islam dan Arab, akan tetapi Negara Madinah,” terang Kiai Said.

Selain itu, menurutnya, faktor politis juga kerapkali mempengaruhi, bukan akidah atau keyakinan. “Seperti di masa Perang Salib, faktor politis dan ekonomis lebih banyak menyelimuti renggangnya keharmonisan kedua umat bersaudara tersebut di Indonesia. Dengan demikian, kekeruhan hubungan Islam-Kristen tidak jarang dilatarbelakangi nuansa politis yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan agama itu sendiri,” ungkapnya, dalam buku Tasawuf Sebagai Kritik Sosial: Mengedepankan Islam sebagai Inspirasi bukan Aspirasi.

***

Ditengah agenda Ketua Umum PBNU yang sedemikian padat, Kiai Said dewasa ini diterpa berbagai fitnah, hujatan dan bahkan makian dari urusan yang remeh-temeh sampai yang menyangkut urusan negara. Ia dituduh agen Syiah, Liberal, antek Yahudi, pro Kristen, dan fitnah-fitnah lain oleh orang yang sempit dalam melihat agama dan konsep kemanusiaan dan kebangsaan.?

Meski demikian, ia toh manusia biasa – yang tak luput dari salah, dosa dan kekurangan – bukan seorang Nabi. Artinya, kritik dalam sikap memang wajar dialamatkan, tetapi tidak dengan hujatan, fitnah, dan berita palsu, melainkan dengan kata yang santun. Terkait hal ini, dalam suatu kesempatan ia memberi tanggapan kepada para haters-nya. Bukannya marah, Kiai Said justru menganggap para pembenci dan pemfitnah itu yang kasihan. Dan sebagai orang yang tahu seluk beluk dunia tasawuf, tentu dia sudah memaafkan, jauh sebelum mereka meminta maaf atas segenap kesalahan. Wallahu a’lam.

Ahmad Naufa Khoirul Faizun, Kader Muda NU dan Kontributor Siti Efi Farhati asal Purworejo, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Siti Efi Farhati Jadwal Kajian, Kajian Sunnah, Aswaja Siti Efi Farhati

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Siti Efi Farhati sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Siti Efi Farhati. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Siti Efi Farhati dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock